Tesis Ggo 02072024
Tesis Ggo 02072024
Oleh:
011918126301
Oleh:
011918126301
ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Menyatakan bahwa bagian atau keseluruhan isi tesis saya yang berjudul:
Adalah hasil karya saya sendiri dan semua sumber baik yang dikutip manapun
yang dirujuk telah saya nyatakan dengan benar. Apabila ditemukan bukti
pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi yang telah
ditetapkan.
iii
PERSETUJUAN TESIS
Oleh:
Pembimbing 1
NIP. 196305111988121001
Pembimbing 2
Mengetahui,
iv
Prof. Dr. Irwanto, dr. Sp.A (K)
NIP. 196502271990031010
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK
KEPENTINGAN AKADEMIS
NIM : 011918126301
Beserta perangkat yang ada, dengan Hak Bebas Royalti Non Eksklusif ini,
Universitas Airlangga berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola
dalam bentuk pangkalan data (data base), merawat, dan mempublikasikan tugas
akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan
sebagai pemilih Hak Cipta.
Yang menyatakan,
v
Dimas Rangga Yudyanda, dr.
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Ta’ala atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penelitian yang
berjudul “EFEKTIVITAS KOMBINASI BONE MARROW MESENCHYMAL
STEM CELL DAN PLATELET-RICH FIBRIN UNTUK MEREGENERASI
TULANG FISIS PADA MODEL CEDERA FISIS NEW ZEALAND WHITE
RABBIT” dengan baik.
vi
UCAPAN TERIMA KASIH
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena
hanya atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan usulan
Stem Cell Dan Platelet-Rich Fibrin Untuk Meregenerasi Tulang Fisis Pada Model
Cedera Fisis New Zealand White Rabbit. Pada kesempatan ini penulis ingin
1. Prof. Dr. Mohammad Nasih, S.E., M.T., Ak., sebagai Rektor Universitas
Airlangga Surabaya
2. Prof. Dr. Budi Santoso, dr., SpOG(K) sebagai Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga Surabaya
3. Prof. Dr. Irwanto, dr., Sp.A(K) sebagai Ketua Program Studi Ilmu
Kedokteran Klinik Jenjang Magister Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga Surabaya
4. Prof. Dr. dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV
sebagai Direktur RSUD Dr Soetomo Surabaya
5. Tri Wahyu Martanto, dr., Sp.OT(K) sebagai Kepala KSM Orthopaedi dan
Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/ RSUD Dr.
Soetomo Surabaya yang memberikan kesempatan ditampilkannya usulan
penelitian ini.
6. Teddy Heri Wardhana, dr., SpOT(K) sebagai Ketua Program Studi
Orthopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/
RSUD Dr. Soetomo Surabaya yang memberikan kesempatan ditampilkannya
usulan penelitian ini
7. Prof. Dr. Komang Agung Irianto, dr., Sp.OT(K) sebagai pembimbing 1 yang
vii
telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan penelitian
ini
8. Dr. Purwati, dr., Sp.PD., K-PTI., FINASIM sebagai pembimbing 2 yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan penelitian ini.
9. Atika, S.Si., M.Kes. sebagai pembimbing statistik yang telah memberikan
bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan usulan penelitian ini.
10. Para Guru Besar dan staf pengajar KSM Orthopaedi dan Traumatologi
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/ RSUD Dr. Soetomo Surabaya,
yang memberikan bantuan, kritik, dan saran dalam penyusunan usulan
penelitian ini.
11. Bapak/ Ibu moderator dan sekretaris sidang yang memimpin dan membantu
penyajian usulan penelitian ini.
12. Teman-teman, kakak serta adek kelas PPDS Orthopaedi Traumatologi yang
mendukung, serta membantu dalam semua proses penelitian ini.
13. Orang tua, dan saudara saya yang telah bersabar serta memberi dukungan,
doa, dan semangat dalam menjalani pendidikan dan menyusun penelitian ini.
viii
RINGKASAN
Cedera physeal pada anak sering terjadi, mencakup sekitar 30% dari
semua cedera tulang dan memengaruhi lempeng pertumbuhan di dekat sendi
utama seperti lutut, pergelangan kaki, siku, dan pergelangan tangan. Cedera ini,
dua kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki, terutama mereka yang aktif
berolahraga, merusak tulang rawan lempeng pertumbuhan, sehingga
menyebabkan pertumbuhan tulang tidak normal. Perawatan saat ini berfokus pada
pencegahan, karena regenerasi tubuh yang rusak merupakan suatu tantangan.
Penelitian ini menyelidiki apakah kombinasi Mesenchymal Stem Cells (MSC) dan
Platelet-Rich Fibrin (PRF) dapat meregenerasi tulang fisik.
ix
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas MSC dan PRF
dalam regenerasi tulang fisik, sebuah bidang dengan penelitian yang terbatas.
Menggabungkan perawatan ini dapat menawarkan pendekatan baru untuk
mengatasi cedera fisik dan meningkatkan regenerasi tulang.
Dua puluh empat ekor Kelinci Putih Selandia Baru berumur 6 minggu
diaklimatisasi selama satu minggu. Bone Marrow-MSC (BM-MSC) dan PRF
telah disiapkan. Pada hari prosedur, dilakukan induksi cedera fisik pada tibia
proksimal kelinci, yang kemudian dibagi menjadi empat kelompok: Kontrol,
pengobatan MSC, pengobatan PRF, dan kombinasi pengobatan MSC dan PRF.
Setelah 4 minggu, kelinci dikorbankan dan dievaluasi secara histologi dan
imunohistokimia. Diameter batang tulang diukur menggunakan pewarnaan HE,
dan ekspresi TNFα, VEGF, dan SOX 9 dievaluasi melalui IHC. ELISA mengukur
konsentrasi TNFα, VEGF, dan SOX 9 pada jaringan yang terluka.
x
SUMMARY
Pediatric physeal injuries are common, making up about 30% of all bone
injuries and affecting the growth plates near major joints like knees, ankles,
elbows, and wrists. These injuries, twice as frequent in boys, especially those
active in sports, damage the growth plate cartilage, leading to abnormal bone
growth. Current treatments focus on prevention, as regenerating damaged physis
is challenging. This study investigates whether combining Mesenchymal Stem
Cells (MSC) and Platelet-Rich Fibrin (PRF) can regenerate physis bone.
PRF, a platelet derivative, is used for tissue regeneration due to its gel
form, which ensures localized application and acts as a scaffold for healing. PRF
is advantageous over PRP as it doesn't require anticoagulants or bovine-derived
thrombin, reducing immunological risks.
xi
Twenty-four 6-week-old New Zealand White Rabbits were acclimatized
for one week. Bone Marrow-MSC (BM-MSC) and PRF were prepared. On the
procedure day, a physis injury was induced in the proximal tibia of the rabbits,
which were then divided into four groups: Control, MSC treatment, PRF
treatment, and a combination of MSC and PRF treatment. After 4 weeks, the
rabbits were sacrificed and evaluated through histology and
immunohistochemistry. The bony bar diameter was measured using HE staining,
and TNFα, VEGF, and SOX 9 expression was evaluated via IHC. ELISA
measured TNFα, VEGF, and SOX 9 concentrations in the injured tissues.
Histopathology revealed that the MSC and PRF combination led to better
regeneration than the control, MSC alone, or PRF alone in terms of fibrous,
osteochondral, and bone union. Significant differences in SOX-9 indicators were
observed between the control and MSC groups (p=0.099) and MSC and PRF
groups (p=0.032). VEGF indicators showed significant differences between the
control and MSC-PRF groups (p=0.008) and PRF and MSC-PRF groups
(p=0.021), while TNF-α indicators showed no significant differences.
xii
ABSTRAK
Metode: Dua puluh empat ekor kelinci New Zealand White berumur 6 minggu
diaklimatisasi selama satu minggu. Bone Marrow-MSC (BM-MSC) dan PRF
telah disiapkan. Pada hari prosedur, dilakukan induksi cedera fisik pada tibia
proksimal kelinci, yang kemudian dibagi menjadi empat kelompok: Kontrol,
pengobatan MSC, pengobatan PRF, dan kombinasi pengobatan MSC dan PRF.
Setelah 4 minggu, kelinci dikorbankan dan dievaluasi secara histologi dan
imunohistokimia (IHC). Diameter batang tulang diukur menggunakan pewarnaan
HE, dan ekspresi serta konsentrasi TNFα, VEGF, dan SOX 9 dievaluasi melalui
IHC dan ELISA.
Kata Kunci: Sel Punca Mesenkim Sumsum Tulang, Fibrin Kaya Trombosit,
Cedera Fisik, Inovasi Produk
xiii
ABSTRACT
Introduction: Pediatric physeal injuries, accounting for about 30% of all bone
injuries, commonly affect major joints. Current treatments focus on prevention, as
regenerating the damaged physis is challenging. This study investigates whether a
combination of Mesenchymal Stem-Cells (MSC) and Platelet-Rich Fibrin (PRF)
can regenerate physis bone.
Results: Histopathology revealed that the MSC and PRF combination led to
better regeneration than the control, MSC alone, or PRF alone in terms of fibrous,
osteochondral, and bone union. Significant differences in SOX-9 indicators were
observed between the control and MSC groups (p=0.099) and MSC and PRF
groups (p=0.032). VEGF indicators showed significant differences between the
control and MSC-PRF groups (p=0.008) and PRF and MSC-PRF groups
(p=0.021), while TNF-α indicators showed no significant differences.
xiv
DAFTAR ISI
PERSETUJUAN TESIS.........................................................................................iv
KATA PENGANTAR............................................................................................vi
RINGKASAN.........................................................................................................ix
ABSTRAK............................................................................................................xiii
DAFTAR ISI..........................................................................................................xv
DAFTAR GAMBAR..........................................................................................xviii
DAFTAR TABEL.................................................................................................xix
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................xx
DAFTAR SINGKATAN......................................................................................xxi
BAB 1 PENDAHULUAN..................................................................................xxii
1.1 Latar Belakang...........................................................................................xxii
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................xxvi
1.3 Tujuan...................................................................................................xxvi
1.3.1 Tujuan Umum.....................................................................................xxvi
1.3.2 Tujuan Khusus....................................................................................xxvi
1.4 Manfaat................................................................................................xxvii
1.4.1 Manfaat Teoritis...........................................................................xxvii
1.4.2 Manfaat Praktis.............................................................................xxvii
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................28
2.1 Anatomi Fisis...............................................................................................28
2.2 Anatomi Vaskular Fisis................................................................................31
2.3 Proliferasi Kondrosit....................................................................................32
2.4 Cedera Fisis..................................................................................................33
2.5 Epidemiologi dan Insiden Cedera Fisis........................................................34
2.6 Mekanisme Cedera pada Fisis......................................................................35
2.7 Klasifikasi.....................................................................................................37
2.8 Pemeriksaan Penunjang................................................................................42
2.8.1 Radiologis..............................................................................................42
2.8.2 Computed Tomography.........................................................................44
2.8.3 Magetic Resonance Imaging..................................................................45
2.9 Tatalaksana Cedera Fisis..............................................................................46
2.9.1 Pendekatan Regenaratif.........................................................................47
2.9.2 Pendekatan Faktor Pertumbuhan (Gorwth Factor)...............................52
xv
2.9.3 Pendekatan Biomaterial.........................................................................59
BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL..................................................................61
3.1 Kerangka Konseptual...................................................................................61
3.2 Hipotesis Penelitian......................................................................................62
BAB 4 METODE PENELITIAN.........................................................................63
4.1 Jenis dan Rancangan Penelitian...................................................................63
4.2 Populasi, Besar Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel.........................64
4.2.1 Subjek Penelitian, Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi......................64
4.2.2 Sampel dan Besar Sampel.....................................................................65
4.2.3 Teknik Pengambilan Sampel.................................................................65
4.2.4 Unit analisis...........................................................................................66
4.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional..............................................66
4.3.1 Variabel Penelitian.................................................................................66
4.3.2 Definisi Operasional..............................................................................66
4.4 Prosedur Penelitian.......................................................................................67
4.5 Lokasi dan Waktu Penelitian........................................................................73
4.6 Analisis Statistik...........................................................................................73
BAB 5 HASIL PENELITIAN..............................................................................74
5.1 Hasil Pemeriksaan Histologi....................................................................74
5.1.1 Histologi kelompok kontrol..............................................................74
5.1.2 Histologi kelompok Mesenchymal Stem Cell...................................75
5.1.3 Histologi kelompok Platelet-rich Fibrin..........................................77
5.1.4 Histologi kelompok Mesenchymal Stem Cell dan Platelet-rich Fibrin
79
5.2 Hasil Pemeriksaan Imunohistokimia.......................................................81
5.2.1 Pemeriksaan faktor transkripsi SOX-9.............................................82
5.2.2 Pemeriksaan tumor nekrosis factor alpha (TNF-α)..........................82
5.2.3 Pemeriksaan vascular endotelial cell growth factor (VEGF)..........82
5.3 Hasil Pengolahan Data.............................................................................83
5.3.1 Data Histologi...................................................................................83
5.3.2 Data Imunohistokimia......................................................................84
BAB 6 PEMBAHASAN........................................................................................88
6.1 Histologi.......................................................................................................88
6.2 Mesenchymal Stem Cell...............................................................................89
6.3 Platelet Rich Fibrin.......................................................................................90
6.4 Kombinasi Mesenchymal Stem Cell dan Platelet Rich Fibrin.....................91
BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN................................................................92
7.1 Kesimpulan...................................................................................................92
7.2 Saran.............................................................................................................92
LAMPIRAN 1. Prosedur Penelitian.......................................................................97
LAMPIRAN 2: Analisis Data SPSS......................................................................99
LAMPIRAN 3: Izin Pelaksanaan Penelitian........................................................103
xvi
DAFTAR GAMBAR
xvii
DAFTAR TABEL
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
xix
DAFTAR SINGKATAN
xx
BAB 1
PENDAHULUAN
Cedera fisis umum terjadi pada populasi anak, yaitu sekitar 30% dari semua
(Eastwood & Gheldere, 2011a)
cedera tulang . Cedera fisis mempengaruhi lempeng
pertumbuhan anak-anak dan remaja. Cedera ini biasanya terjadi di dekat sendi
utama (lutut, pergelangan kaki, siku dan pergelangan tangan) atau dapat dijumpai
pada setiap ujung tulang panjang baik bagian distal maupun proksimal tulang.
Cedera fisis umumnya 2 kali lebih banyak terjadi pada anak laki-laki
dibandingkan dengan anak perempuan, terutama pada anak-anak yang aktif dalam
(Yogiswara et al., 2017)
kegiatan olahraga .
Perhatian utama pada cedera fisis adalah kerusakan tulang rawan di lempeng
pertumbuhan. Sepertiga dari cedera fisis akan terjadi penyembuhan pada tulang
yang melintasi fisis kartilaginosa, membentuk bony bar. Pembentukan bony bar
panjang tulang menjadi asimetris yang diikuti dengan adanya deformitas angular
berjalan yang tidak normal, nyeri punggung bawah, dan osteoartritis onset dini
(Eastwood & de Gheldere, 2011)
.
Penanganan klinis untuk cedera fisis yang ada saat ini berfokus pada
(Yu et al., 2019)
pencegahan dan tidak dapat meregenerasi fisis yang mengalami cedera
21
. Tulang rawan biasanya direseksi setelah terbentuknya bony bar dan diganti
dengan bahan interpostional seperti lemak atau semen. Bahan tersebut berfungsi
seringkali bony bar akan terbentuk kembali. Hal tersebut mendorong para
pembentukan bony bar dan juga meregenerasi tulang rawan fisis. Berbagai
seperti terapi berbasis sel, growth factors, dan biomaterial. Selain itu, penggunaan
Penggunaan MSC sendiri sudah tidak asing dalam dunia medis. Pengertian
Berbagai jenis jaringan telah diuji sebagai sumber sel yang memungkinkan untuk
berasal dari sumsum tulang, periosteum dan jaringan adiposa untuk mengetahui
Hasilnya menunjukkan bahwa MSC dari ketiga sumber jaringan secara signifikan
mampu mengoreksi varus angular serta perbedaan panjang kaki dan mencegah
dengan fibrin glue saja. Koreksi defek yang optimal secara signifikan dicapai
22
dengan menyuntikkan MSC yang diturunkan dari sumsum tulang dan periosteum,
MSC menjadi sel yang spesifik. Lingkungan yang tepat diharapkan dapat efektif
kultur sel kondrosit dari MSC, salah satunya adalah faktor pertumbuhan (growth
dapat dibagi menjadi lima kelompok famili yaitu: transforming growth factor-ß
super family (TGFß), fibroblast growth factor family (FGF), insulin-like growth
factor family (IGF), wingless family (Wnt), dan hedgehog family (HH). Famili
TGFß antara lain protein TGF-ß, bone morphogenetic protein (BMP), inhibins,
bahwa terjadi diferensiasi dari MSC menjadi bone forming cells dengan
23
pemberian PRP. Penggunaan PRP sering ditemui untuk regenerasi tulang,
berbagai jenis faktor pertumbuhan dan sitokin dari α-granules yang terdapat dalam
platelet itu sendiri. Terlepas dari kelebihan yang dimiliki, PRP memiliki beberapa
koagulopati. Kedua, PRP bersifat cair. Saat disuntikkan pada fisis yang
mengalami cedera, PRP mungkin menyebar dari lokasi kerusakan dan menjadi
(Kloping et al., 2016)
tidak efektif.
platelet generasi baru, yaitu Platelet-Rich Fibrin (PRF). Produksi PRF tidak
imunologi. Sifat PRF yang berbentuk gel akan memberikan keuntungan karena
akan lebih mudah diaplikasikan pada lokasi fisis yang mengalami cedera,
sehingga mencegah konten menyebar. Selain itu, bentuk gel ini juga akan
berfungsi sebagai scaffold untuk mengisi defek pada fisis pasca cedera.
(Kim et al., 2017)
Rich Fibrin Glue) autologus dan osteoinduced MSC memiliki potensi yang baik
24
untuk regenerasi tulang. Penelitian yang dilakukan oleh Wang et al. (2017)
regenerasi tulang kalvarial pada model kelinci dengan critical-size defects (CSD)
dan memberikan wawasan baru tentang regenerasi jaringan tulang untuk defek
(Wang et al., 2017)
tulang besar
terbatas. Selain itu hingga saat ini masih belum diketahui efektivitas MSC dan
PRF pada cedera fisis, dengan demikian penelitian ini ingin mengetahui lebih
lanjut efektivitas MSC dan PRF pada cedera fisis apakah mampu meregenerasi
tulang fisis.
untuk meregenerasi tulang fisis pada model cedera fisis new zealand white rabbit?
1.3 Tujuan
fibrin untuk meregenerasi tulang fisis pada model cedera fisis new zealand white
25
1.3.2 Tujuan Khusus
fibrin untuk meregenerasi tulang fisis pada model cedera fisis new zealand
fibrin untuk meregenerasi tulang fisis pada model cedera fisis new zealand
fibrin untuk meregenerasi tulang fisis pada model cedera fisis new zealand
1.4 Manfaat
potensi mesenchymal stem cell dan platelet-rich fibrin untuk meregenerasi tulang
fibrin dalam pencegahan pembentukan bony bar sehingga dapat menjadi acuan
dan pertimbangan dalam melakukan terapi pada pasien dengan cedera fisis.
26
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Fisis adalah struktur tulang rawan kompleks yang terdiri dari puncak
dan lembah yang terletak di antara epifisis dan metafisis di kedua ujung
(Shaw et al., 2018a)
proksimal dan distal tulang panjang (gambar 2.1) .
27
Gambar 2.1. Lokasi anatomi fisis (atau lempeng pertumbuhan) pada tulang
panjang
Kondrosit ada pada tiga zona berbeda di fisis, yaitu resting zone,
paling dekat dengan epifisis, yaitu resting zone adalah sel tulang rawan
sepenuhnya jelas. Kolagen tipe IX dan XI juga terlihat di fisis dan mutasi
28
beban tekan yang diterapkan pada fisis. Protein oligomerik tulang rawan
pada protein ini ditemukan pada beberapa bentuk displasia tulang roduksi
Misalnya, resting zone sebagian besar terbuat dari serat kolagen II yang
sejajar horizontal dan rasio sel: ECM yang rendah, proliferative zone
memiliki serat kolagen II yang sejajar secara vertikal dan rasio sel: ECM
sedang, dan hipertrofic zone sebagian besar terdiri dari kolagen X dan
rasio sel: ECM yang tinggi. Sifat struktural ini menyebabkan berbagai sifat
mekanik di seluruh fisis dan telah ditinjau di tempat lain. Secara singkat,
resting zone lebih kaku dan lebih kedap daripada zona lainnya, dan sifat
29
Fisis didukung secara perifer oleh pita fibrosa yang dikenal sebagai
Tulang rawan fisis dan artikular keduanya adalah varian dari tulang
rawan hialin, namun berbeda dalam struktur dan fungsinya. Perbedaan ini
antara kedua tulang rawan ini adalah fungsinya: fisis adalah jaringan
30
. Lebih dari 50 tahun yang lalu, Trueta dan Buhr
darah epifisis mengalami gangguan, semua kondrosit dari fisis mati, tetapi
menyediakan nutrisi untuk seluruh fisis dan suplai darah metafisis hanya
nutrisi ke dalam fisis. Transport nutrisi dari berbagai lapisan fisis juga
31
2.3 Proliferasi Kondrosit
Ihh dalam fisis dan menciptakan zona proliferasi yang diperpanjang karena
(Hosseinzadeh & Milbrandt, 2016b)
aktivasi PTHrP yang berlebihan . Mutasi
ini bertanggung jawab atas kelainan bentuk tulang yang terlihat pada
32
penyebab masalah tulang yang terlihat pada achondroplasia
(Hosseinzadeh & Milbrandt, 2016b)
. Faktor sistemik seperti insulin-like growth factor-1
tulang rawan yang relatif lunak dengan tulang keras menjadi kelemahan
Pembentukan bony bar fisis lateral atau medial dapat menyebabkan henti
Dalam kasus yang parah, bony bar dapat menyebabkan henti pertumbuhan
33
tersebut dan meminimalkan efek lebih lanjut pada potensi pertumbuhan
(Shaw et al., 2018b)
ekstremitas .
tulang anak melibatkan fisis dan 5% hingga 10% patah tulang fisis
(Jawetz et al., 2015a)
menyebabkan gangguan pertumbuhan . Sejalan
Insiden puncak cedera fisis traumatis adalah 11 sampai 12 tahun pada anak
tahun. Meyers dan Marquart menyatakan bahwa sebagian besar cedera ini
terjadi pada anak yang menginjak masa growth spurt, yaitu ketika fisis
(Meyers & Marquart., 2020a)
berada pada masa yang paling lemah .
Fraktur fisis terjadi dua kali lebih sering pada anak laki-laki daripada
lebih stabil. Ligamen dan kapsul dengan demikian mampu menahan beban
34
radiasi, iskemia, kelainan metabolik, cedera termal, neuropati sensorik,
(Jawetz et al., 2015b)
dan cedera iatrogenik .
dari lokasinya, fisis distal lebih rentan terhadap cedera daripada fisis
cedera fisis yang paling sering terjadi, yaitu sebanyak 12 kasus (52,2%),
diikuti dengan lokasi tulang lainnya seperti, distal femur 2 kasus (8,7%),
35
. Cedera pada fisis dapat mengakibatkan penghentian pertumbuhan
pada potensi pertumbuhan yang tersisa dari fisis tertentu. Pada remaja
signifikan, sedangkan pada anak yang belum mengalami pubertas, hal ini
adalah tahap pertumbuhan aktual dimana fisis terbuka lebar. Selama tahap
melindungi sendi dari cedera. Setelah penutupan fisis, terjadi patah tulang
akhirnya akan diperpanjang. Jika cedera terjadi selama fase tidak aktif,
ada perbedaan panjang tungkai yang akan terlihat. Jika cedera terlihat
36
selama fase tidak aktif, setiap hasil akan berakhir dengan pemendekan
2.7 Klasifikasi
muncul jika tidak ditangani dengan benar. Pada tahun 1963, Salter dan
37
Tipe I
epifisis. Cedera ini jarang terjadi, paling sering terlihat pada bayi sebagai patah
tulang sejak lahir atau pada anak kecil. Seringkali, displacement-nya ringan dan
periosteum tetap utuh. Prognosisnya bagus. Namun jika suplai darah terganggu,
Tipe II
Pada cedera Salter-Harris tipe II, garis fraktur memisahkan epifisis dari metafisis
tetapi fragmen metafisis (dengan ukuran yang bervariasi) tetap ada dengan epifisis
dan lapisan germinalnya. Ini adalah pola cedera fisis yang paling umum dikenali.
berkurang. Sebaliknya di sisi epifisis, periosteum tegang atau robek dan flap
penuh. Reduksi tertutup merupakan pilihan untuk menangani fisis tipe ini
38
Gambar 2.3. Salter-Harris tipe II cedera pergelangan tangan
Tipe III
Cedera Salter-Harris tipe III adalah pemisahan fisis yang terkait dengan fraktur
epifisis. Tipe ini merupakan fraktur intra-artikular. Garis fraktur melewati lapisan
germinal dari lempeng pertumbuhan dan masuk ke dalam sendi. Setiap langkah di
artikular lainnya, fraktur ini membutuhkan reduksi anatomis (terbuka) dan fiksasi
39
prognosisnya tetap baik. Contoh umum adalah fraktur Tillaux pada pergelangan
(Eastwood & Gheldere, 2011b)
kaki (Gambar 2.4) .
Gambar 2.4. Fraktur Tillaux (Salter-Harris III) (a, b dan c) pada anak laki-laki
berusia 14 tahun.
Tipe IV
Cedera Salter-Harris tipe IV adalah fraktur yang meluas dari metafisis melintasi
fisis dan meluas ke sendi. Sangat penting untuk mencapai reduksi anatomis dari
fraktur untuk mencegah perkembangan bony bar yang melintasi fisis dan untuk
pemeliharaan suplai vaskular, prognosisnya tetap baik tetapi pada pasien dengan
hasil yang buruk, pengobatan gejala sisa dapat menjadi tantangan (Gambar 2.5)
(Eastwood & Gheldere, 2011b)
.
40
Gambar 2.5. Salter-Harris tipe IV cedera pada pergelangan kaki kanan anak usia
10 tahun.
Tipe V
fisis dari gaya kompresi. Cedera ini lebih sering terjadi pada sendi engsel seperti
lutut atau pergelangan kaki. Radiografi awal normal. Lesi tetap tidak dikenali
sampai fusi fisis muncul beberapa bulan kemudian yang mengakibatkan gangguan
41
2.8 Pemeriksaan Penunjang
2.8.1 Radiologis
normal fisiologis epifisiodesis karena bony bar dan penutupan fisis normal
berikutnya dari fisis yang telah menutup. Namun, fisis tibialis proksimal
secara sentral, kemudian medial, dan fusi fisis lateral terjadi paling akhir.
Gambar 2.6. Gambaran radiologis pada pasien yang sama pada 3 waktu yang
berbeda (A, 12 tahun; B, 14 tahun, dan C, 15 tahun) menunjukkan penutupan
sentripetal dari fisis femoralis dan penutupan fisis berkembang dari posterior ke
anterior di tibia proksimal.
42
Baik dalam keadaan trauma akut ataupun kronis akibat penggunaan
keadaan cedera fisis berisiko tinggi, seperti patah tulang femoralis distal,
kelainan pertumbuhan anglar sebelum terlihat secara klinis, pada saat itu
(Jawetz et al., 2015b)
mungkin lebih mudah untuk dilakukan pembedahan .
pada tulang rawan artikular atau fisis. Pelebaran fisis, perpindahan epifisis,
fisis, dan fragmentasi adalah tanda sekunder yang penting dari cedera fisis
akut dan kronis. Pada fraktur fisis tipe 2 sampai 4, kejernihan fraktur dapat
43
terlihat pada gambaran radiologis dalam metafisis dan / atau epifisis, tetapi
lebih rinci tentang luas dan keselarasan fraktur, dimana hal ini sangat
akurat tentang lokasi dan luasnya bony bar, tetapi fibrous bars dan tingkat
dan dosis radiasi yang diberikan kepada pasien lebih tinggi CT daripada
(Jawetz et al., 2015b)
radiologis . Ketika diindikasikan secara klinis, CT
pasien anak sangat sensitif terhadap radiasi dan harapan hidup anak yang
44
pandang ekonomi, CT lebih mahal daripada radiologis. Namun CT mampu
Gambar 2.7. Gambaran CT (A) Sagital dan (B) koronal seorang anak laki-laki
berusia 10 tahun 5 bulan setelah fraktur femoralis distal dengan osseus bar
(panah) melintasi separuh lateral fisis femoralis distal, mengakibatkan angulasi
varus pada lutut
kronis, bony bar, nekrosis avaskular epifisis dan metafisis, dan henti
45
Gambaran MRI menawarkan resolusi spasial yang tinggi, kontras
radiologis dan CT, MRI lebih mahal, dan akuisisi serta pasca-pemrosesan
lebih memakan waktu, tetapi jenis evaluasi ini sangat disarankan karena
fraktur, deformitas sisa, dan waktu yang telah berlalu sejak cedera. Lokasi
lutut dan jauh dari siku. Selanjutnya, remodelling lebih besar pada anak
yang lebih muda. Lebih banyak deformitas dapat ditoleransi jika potensi
46
cedera iatrogenik pada fisis dengan pengurangan traumatis dari fraktur
Harris tipe III dan IV harus dikurangi secara anatomis dan dirawat dengan
(Eastwood & Gheldere, 2011b)
K-wires atau sekrup . Rekomendasi khusus
selama 6 bulan pada saat anak biasanya telah pulih dari gerakan sendi
garis Harris adalah representasi efektif dari fisis yang sehat dan pemulihan
pertumbuhan normal. Jika telah terjadi cedera parsial pada fisis, garis
penahan pertumbuhan akan menyatu menuju fisis. Tidak akan ada garis
total atau jika hanya ada sedikit pertumbuhan yang tersisa seperti pada
47
pembentukan bony bar dan secara bersamaan meregenerasi tulang rawan
kekurangan pendekatan saat ini dengan memulihkan tulang rawan fisis dan
cedera fisis. Gambaran umum cedera fisis saat ini menggunakan model
tingkat apoptosis yang bervariasi dan tulang rawan fisis normal tidak
48
dengan tulang rawan fisis yang aslinya.
Pada model babi, piringan sendi (discs) mirip tulang rawan yang
pembentukan bony bar pada model domba. Pada penelitian lebih lanjut,
klinis mungkin dibatasi oleh kebutuhan untuk mengisolasi sel dari jaringan
pediatrik yang sehat, sehingga menciptakan lokasi cedera sekunder. Hal ini
sel-sel dari banyak jaringan seperti tulang rawan, tulang, dan lemak. Selain
49
secara khusus memiliki kemampuan terbesar untuk meningkatkan potensi
penelitian lain telah melaporkan bahwa MSC yang berasal dari sumsum
tulang rawan, karena mereka memiliki tingkat proliferasi yang lebih tinggi
dan tingkat ekspresi gen spesifik-tulang rawan yang lebih tinggi, bila
menunjukkan bahwa jenis baru MSC ini berpotensi lebih baik daripada
fisis. Chen et al. mengamati bahwa MSC yang berasal dari periosteum
50
bony bar dan berkurangnya perbedaan panjang tungkai setelah implantasi
MSC yang diturunkan dari sinovium ke dalam model cedera fisis kelinci
(Yoshida et al., 2012)
. Selain model hewan kecil di atas, Planka et al. juga
deformitas panjang tungkai, hal ini telah dicapai terutama pada model
51
autologous dalam model cedera fisis ovine (Mccarty et al., 2010b) telah
besar.
tungkai dan angulasi serta fenotipe jaringan perbaikan tulang rawan yang
52
kepadatan sel yang lebih rendah mungkin tidak menciptakan lingkungan
hewan saat ini menunjukkan efek perbaikan yang signifikan pada angulasi,
antara 1.6 x 106 and4 x 106 tergantung pada ukuran cedera dan jenis model
(Hui et al., 2005b; Mccarty et al., 2010b)
hewan . Namun, kepadatan sel
yang optimal dan kondisi optimal untuk ekspansi in vitro MSC untuk
mencapai jumlah sel yang relevan secara klinis untuk implantasi masih
fisis bergantung pada sel eksogen atau sel endogen, sel tersebut perlu
paling banyak dipelajari untuk MSC dan sel progenitor lainnya adalah
53
Diferensiasi BM-MSC manusia menjadi sel tulang rawan zona proliferatif
telah terbukti dengan paparan berurutan dari MSC ke TGF-β3 diikuti oleh
(Shaw et al., 2018b)
BMP-2 . Pada model domba, pengobatan cedera fisis
Meskipun keunggulan dari fibrin glue dan hemostatik telah diketahui pada tahun
mengarah pada pengembangan dan penggunaan platelet rich plasma (PRP). PRP
awalnya dilaporkan pada tahun 1998 oleh Marx yang digunakan sebagai
regenerasi tulang dari defek mandibula. Temuan positif ini meningkatkan minat
dalam penggunaan PRP dalam bidang bedah mulut dan maksilofasial. Sejak saat
berbagai bidang. Hingga saat ini masih banyak studi dilakukan, termasuk aplikasi
mulai dari penyembuhan jaringan lunak, bedah kosmetik, luka bakar, jaringan
54
saraf, dan ulkus kulit kronis.
pemulihan dari berbagai jaringan dan jika diaplikasikan pada luka dapat
dapat menstimulasi migrasi dan diferensiasi sel, seperti migrasi pada sel
PRP dapat diperoleh dengan cara autologus, yaitu dari darah pasien melalui
trombosit yang lebih tinggi daripada sirkulasi darah. Berbagai penelitian yang
dilakukan pada model hewan atau pada manusia melaporkan bahwa pemberian
PRP bermanfaat untuk pengobatan ulkus kulit kronis, luka kulit akut, luka bakar,
dan operasi plastik. Efek terapeutik PRP dikaitkan dengan pelepasan faktor
pertumbuhan oleh trombosit saat aktivasi. Faktor pertumbuhan tersebut antara lain
fibroblast growth factor (FGF), insulin-like growth factor (IGF-1, IGF2), dan
platelet dapat merangsang migrasi, proliferasi, dan diferensiasi fibroblas dan sel
55
untuk mendorong kemotaksis makrofag, monosit, dan sel polimorfonuklear untuk
memodulasi inflamasi. Selain itu, jaringan fibrin yang dihasilkan setelah aktivasi
56
PRP dan PRF adalah terapi biologis canggih yang memanfaatkan
tulang.
57
Pada akhirnya, pilihan antara PRP dan PRF bergantung pada
merah yang sangat minimal. Proporsi jenis leukosit pada PRF lebih di
perifer. Kandungan VEGF pada PRF lebih sedikit dibanding dengan darah
perifer dengan jumlah yang terus menurun seiring waktu. Sedangkan darah
beberapa menit pada kebanyakan platelet dalam sampel darah yang kontak
58
menjadi fibrin oleh bantuan trombin. Gumpalan fibrin ini kemudian
diambil di bagian tengah dari tuba, antara larutan merah di bagian bawah
PRF yang baik bergantung pada kecepatan dari pengambilan darah dan
membawanya ke alat sentrifus. Jika tidak cepat, sampel darah akan segera
Perbedaan utama antara PRP dan PRF adalah pada mode gel nya.
jaringan fibrin akhir. Dimana pada PRP akan lebih pada bilateral junctions
yang lebih elastik. Pada kebanyakan keperluan terapi, sifat fleksibel dan
elastik ini lebih dibutuhkan. Selain itu, tidak adanya aditif pada PRF juga
59
Injeksi PRF telah ditemukan mampu meningkatkan proliferasi dari sel
mesenkimal. Hal ini telah dibuktikan pada tulang, sumsum tulang, periosteum,
PRF mampu merangsang sel endotelial, epitelial, dan makrofag juga ditemukan
(tulang, sumsum tulang, gusi, ligamen periodontal, dan lini sel osteosarkoma)
(Dohan Ehrenfest et al., 2010; H
jaringan. Selain itu, PRF juga memiliki efek anti inflamasi yang mampu
(Kargarpour et al., 2020)
menghambat osteoklastogenesis.
Agar sel dan molekul kondrogenik memiliki efek pada cedera fisis,
60
maka harus diberikan secara lokal oleh bahan yang dapat berfungsi
61
BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL
62
3.2 Hipotesis Penelitian
untuk meregenerasi tulang fisis pada model cedera fisis new zealand white
rabbit.
63
BAB 4
METODE PENELITIAN
tertentu, maka setelah itu dilakukan pengukuran variabel terikat pada kedua
1
1. Evaluasi TNFα
S R 2. Evaluasi VEGF
3. Evaluasi SOX9
2
64
65
Keterangan:
S : Sampel Penelitian
R : Randomisasi
rich fibrin
Subjek penelitian adalah fisis distal femoral kelinci dewasa dengan ras New
Zealand White Rabbit dengan model cedera fisis dengan kriteria inklusi sebagai
berikut:
(Supranto J, 2000) dengan satu kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan
(n-1) (t-1) ≥ 15
(n-1) (4-1) ≥ 15
n≥6
penelitian ini adalah 6, jika digunakan 4 kelompok maka jumlah total sampel
cara tertentu sehingga setiap anggota populasi atau semesta tadi memiliki
peluang yang sama untuk terpilih atau terambil. Pada penelitian ini
Unit analisis adalah model cedera fisis distal femoral kelinci yang
1. Variabel bebas : pemberian mesenchymal stem cells dan platelet rich fibrin
1. Bone Marrow Mesenchymal stem cells (BM-MSCs) adalah sel multipoten yang
diambil dari sumsum tulang (bone marrow) femur kelinci dengan dosis 2 x 10 6
sel
2. Platelet Rich Fibrin (PRF) adalah fibrin yang didapatkan dari darah vena
3. Model cedera fisis adalah fisis tulang proksimal yang dibor dengan kedalaman
5 mm
4. Bony bar adalah jaringan perbaikan tulang yang terbentuk ketika lapisan
5. New zealand white rabbit adalah jenis kelinci percobaan yang berumur 6
minggu
68
Prosedur ini diadaptasi dari Yin et al. yang menggunakan model kelinci dalam
Dua puluh empat kelinci jenis new zealand white rabbit berumur 6
dengan kuantitas 300 gram per hari dan minum ad libitum. Kotoran kelinci
identifikasi fisis dan digosok dengan yodium, etanol 70%, dan kemudian
3. Setelah proses ini, akan didapatkan tiga lapisan yang terbentuk pada
teratas yang berisi plasma seluler diambil dan lapisan tengah dapat
1. Kelinci dibius dengan ketamin (40 mg/kg) dan xylazine (10 mg/kg)
70
4. Medium yang lama dibuang dan medium diganti setiap 3 – 4 hari dibilas.
Sel mati, sel darah merah yang mungkin sudah terbentuk dan sel yang
5. Koloni kecil MSC akan terlihat pada 5 – 7 hari. Sel-sel dalam koloni akan
terus membelah dan tumbuh tetapi ada pula yang berhenti tumbuh dan
akhirnya menghilang.
kemudian sel dibilas dengan α-MEM yang tidak terisi serum dan
dan setelah beberapa menit sel akan melepaskan diri dari substrat.
7. Sisa tripsin atau EDTA diaspirasi, bila sel telah lepas dari substrat, maka
1600 rpm selama 15 menit pada suhu 10°C dalam wadah sentrifuge yang
kembali MSC.
1. Single stem cell dengan jumlah minimal 500 sampai 1000 sel
5. Analisis diferensiasi stem cell diliat dari hasil positif ekspresi marker
Daerah yang akan dilakukan perlakuan model cedera pada kelinci adalah pada
tibia tuberkel dan MCL sehingga tampak garis putih yang membedakan dengan
tulang di sekitarnya. Setelah itu dibor dengan drill bit kecil selebar 1 mm
(kecepatan bor 15.000 rpm) diarahkan tegak lurus ke poros tibialis dan sejajar
dengan memasang stopper plastik ke bor. Sebuah nylon suture knot 5-0
nonabsorbi ditempatkan di tepi lateral luka dan berfungsi sebagai penanda untuk
prosedur kedua. larutan NaCl 0,9% steril Setelah irigasi defek kemudian dibilas
dengan larutan NaCl 0,9% steril, fasia dan kulit ditutup menggunakan jahitan 3-0
dan BM MSC ke dalam defek tulang yang sudah dibentuk. Kelinci dibagi
diberikan kombinasi PRF dan BM MSC. Pemberian PRF dan BM MSC ini
flap otot dan dilanjutkan dengan penutupan luka. Seluruh hewan kemudian
evaluasi.
f. Prosedur Evaluasi
mengetahui ekspresi TNFα, VEGF, dan SOX 9. Penguji adalah ahli patologi dari
1. Pewarnaan Imunohistokimia
pemeriksaan variabel. Cara untuk mewarnai adalah jaringan yang telah disayat
preparat dimasukkan ke dalam larutan tripsin 0,025% dalam PBS (pH 7,4)
selama enam menit pada suhu 37°C. Kemudian dicuci dengan PBS tiga kali
(anti-rabbit) selama tiga puluh menit, kemudian dicuci kembali dengan PBS
antibodi sekunder selama tiga puluh menit. Kemudian dicuci dengan PBS dua
dalam streptavidin HRP label selama tiga puluh menit dan dicuci dengan PBS
menit, dicuci dengan air mengalir dan akhirnya dilakukan mounting untuk
One Way Anova jika memenuhi data parametris atau kruskall-wallis jika
memenuhi data non parametris. T-Test. Hasil analisis yang telah diperoleh
BAB 5
HASIL PENELITIAN
Dari hasil penelitian tulang fisis pada model cidera fisis pada kelompok
osteochondral union (Gambar 5.1) dan bone union (Gambar 5.2), namun tidak
Dari hasil penelitian tulang fisis pada model cidera fisis pada kelompok
Dari hasil penelitian tulang fisis pada model cidera fisis pada kelompok
79
Fibrin
81
Dari hasil penelitian tulang fisis pada model cidera fisis pada kelompok
dan bone union (Gambar 5.10), serta didapatkan adanya fibrous union
fisis yang diperiksa berupa faktor transkripsi SOX-9, tumor necrosis factor alpha
kontrol, kelompok MSC saja maupun dengan kelompok PRF saja jika
jumlah sampel lebih dari 50, sedangkan uji Saphiro-Wilk digunakan pada
jumlah sampel kurang dari 50. Pada penelitian ini didapatkan nilai p
Saphiro-Wilk lebih dari 0.05 kecuali pada kelompok data PRF dengan
indikator TNF- α. Detail nilai uji normalitas dalam penelitian ini dapat
Shapiro-Wilk
Indikator Kelompok
(n) Sig.
Kontrol 6 0,273
MSC 6 0,920
SOX_9
PRF 6 0,321
MSC-PRF 6 0,276
Kontrol 6 0,474
MSC 6 0,712
TNF-α
PRF 6 0,021
MSC-PRF 6 0,662
Kontrol 6 0,084
MSC 6 0,971
VEGF
PRF 6 0,768
MSC-PRF 6 0,506
86
BAB 6
PEMBAHASAN
6.1 Histologi
berbeda. Zona cadangan (zona germinal) adalah lapisan terdekat dengan epifisis
dan termasuk kondrosit dalam keadaan tidak aktif. Lapisan ini memiliki rasio
matriks-ke-sel yang tinggi dan memiliki jumlah serat kolagen tertinggi. Zona
Peningkatan volume sel dan aktivitas alkaline phosphatase terlihat pada kondrosit
proteoglikan, dan protein nonkolagen. Kolagen tipe II adalah tulang rawan yang
pertumbuhan, dan mutasi pada protein ini berhubungan dengan berbagai jenis
memberikan ketahanan terhadap beban tekan yang diterapkan pada fisis. Protein
oligomer tulang rawan adalah protein nonkolagen yang paling umum ditemukan
dalam fisika. Mutasi pada protein ini ditemukan pada beberapa bentuk displasia
90
union pada semua sediaan, namun hanya beberapa sampel yang didapatkan
adanya fibrous union. Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Wong,
dengan melakukan injeksi tunggal MSC intraarticular pada 40 bagian distal femur
tikus besar dengan kondisi cidera pada growth plate. Disebutkan bahwa
penyuntikan MSC tersebut dapat memicu terjadinya perbaikan growth plate dan
bahwa pemberian MSC tidak lebih superior diabandingkan PRF. Kedua nya
dianggap bahwa keduanya tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam proses
serta peran scaffold memberikan dampak pada perbaikan growth plate (Awang BS
et al., 2013). Pada studi cidera growth plate dengan menggunakan model kelinci
yang berusia 4 minggu, didapatkan adanya sudut deformitas yang lebih kecil
tanpa risiko penolakan imunologis atau infeksi oleh bahan tambahan (Kim J et al.,
2017). Pada penelitian ini didapatkan adanya gambaran osteochondral union, bone
didapatkan hasil yang lebih baik dibandingkan kontrol. Pemberian PRF juga
menunjukkan adanya hasil yang lebih baik dibandingkan pemberian MSC, namun
Hal ini sejalan dengan studi yang menunjukkan pemberian PRF pada
defek tulang dapat memicu adanya efek peningkatan regenerasi pada tulang yang
adanya risiko komplikasi yang rendah serta proses pembuatan PRF yang relatif
sederhana (Kim J et al., 2017). Studi lain juga menemukan bahwa PRF memiliki
2022).
osteochondral union, bone union, dan fibrous union pada semua sediaan. Hal ini
kontrol, MSC saja, maupun PRF saja. Selain itu, pemberian kombinasi MSC-PRF
dengan indikator SOX-9, TGF-α, dan VEGF didapatkan hasil yang lebih baik
dibandingkan kontrol. Hal ini sejalan dengan studi sistematic review pada 24
hasil yang lebih menjanjikan daripada PRF saja (Idulhaq et al., 2022).
hasil regenerasi tulang rawan yang lebih baik pada penggunaan MSC dengan
BAB 7
7.1 Kesimpulan
7.2 Saran
pada hewan coba perlu dilakukan secara cermat dengan pertimbangan adanya
proses infeksi maupun adaptasi oleh hewan coba setelah dikakukan intervensi.
DAFTAR PUSTAKA
Castro, A. B., Meschi, N., Temmerman, A., Pinto, N., Lambrechts, P., Teughels, W., &
Quirynen, M. (2017a). Regenerative potential of leucocyte- and platelet-rich
fibrin. Part A: intra-bony defects, furcation defects and periodontal plastic
surgery. A systematic review and meta-analysis. Journal of Clinical
Periodontology, 44(1), 67–82. https://doi.org/10.1111/jcpe.12643
Castro, A. B., Meschi, N., Temmerman, A., Pinto, N., Lambrechts, P.,
Teughels, W., & Quirynen, M. (2017b). Regenerative potential of
leucocyte- and platelet-rich fibrin. Part B: sinus floor elevation, alveolar
ridge preservation and implant therapy. A systematic review. Journal of
Clinical Periodontology, 44(2), 225–234.
https://doi.org/10.1111/jcpe.12658
Chang, I.-C., Tsai, C.-H., & Chang, Y.-C. (2010). Platelet-rich fibrin modulates
the expression of extracellular signal-regulated protein kinase and
osteoprotegerin in human osteoblasts. Journal of Biomedical Materials
Research Part A, 95A(1), 327–332. https://doi.org/10.1002/jbm.a.32839
Chen, F., Hui, J. H. P., Chan, W. K., Lee, E. H., & Frcs, C. (2003). Cultured
Mesenchymal Stem Cell Transfers in the Treatment of Partial Growth
Arrest. Journal of Pediatric Orthopaedics, 119260, 425–429.
Cheng, C., Lian, W., Hsiao, F. S., Liu, I., Lin, S., Lee, H., Chang, C., Xiao, G.,
Huang, H., Cheng, C., Teng-, W., Cheng, K., & Wu, S. (2012). Isolation
and Characterization of Novel Murine Epiphysis Derived Mesenchymal
Stem Cells. PLoS ONE, 7(4).
https://doi.org/10.1371/journal.pone.0036085
Chung, R., Foster, B. K., & Xian, C. J. (2011). Preclinical Studies on
Mesenchymal Stem Cell-Based Therapy for Growth Plate Cartilage Injury
Repair. Stem Cells International, 1–10.
https://doi.org/10.4061/2011/570125
Chung, R., & Xian, C. J. (2014). Mechanisms for growth plate injury repair and
potential cell-based therapies for regeneration. Journal of Molecular
Endocrinology, 53, 45–61. https://doi.org/10.1530/JME-14-0062
Chung, R., & Xian, C. J. (2020). Mechanisms for growth plate injury repair and
potential cell-based therapies for regeneration. Growth Plate Repair
Mechanism and Regeneration, 53. https://doi.org/10.1530/JME-14-0062
Dohan, D. M., Choukroun, J., Diss, A., Dohan, S. L., Dohan, A. J. J., Mouhyi,
J., & Gogly, B. (2006). Platelet-rich fibrin (PRF): A second-generation
platelet concentrate. Part I: Technological concepts and evolution. Oral
Surgery, Oral Medicine, Oral Pathology, Oral Radiology, and
Endodontology, 101(3), e37–e44.
https://doi.org/10.1016/j.tripleo.2005.07.008
Dohan Ehrenfest, D. M., Diss, A., Odin, G., Doglioli, P., Hippolyte, M.-P., &
Charrier, J.-B. (2009). In vitro effects of Choukroun’s PRF (platelet-rich
fibrin) on human gingival fibroblasts, dermal prekeratinocytes,
preadipocytes, and maxillofacial osteoblasts in primary cultures. Oral
Surgery, Oral Medicine, Oral Pathology, Oral Radiology, and
95
Hui, J. H. P., Li, L. I., Teo, Y., Ouyang, H., Ph, D., & Lee, E. (2005a).
Comparative Study of the Ability of Mesenchymal Stem Cells Derived
from Bone Marrow , Periosteum , and Adipose Tissue. Tissue
Engineering, 11(5).
Hui, J. H. P., Li, L. I., Teo, Y., Ouyang, H., Ph, D., & Lee, E. (2005b).
Comparative Study of the Ability of Mesenchymal Stem Cells Derived
from Bone Marrow , Periosteum , and Adipose Tissue. Tissue
Engineering, 11(5).
Jawetz, S. T., Shah, P. H., & Potter, H. G. (2015a). Imaging of Physeal Injury :
Overuse. Sports Health, 7(2). https://doi.org/10.1177/1941738114559380
Jawetz, S. T., Shah, P. H., & Potter, H. G. (2015b). Imaging of Physeal Injury :
Overuse. Sports Health, 7(2). https://doi.org/10.1177/1941738114559380
Kang, Y.-H., Jeon, S. H., Park, J.-Y., Chung, J.-H., Choung, Y.-H., Choung,
H.-W., Kim, E.-S., & Choung, P.-H. (2011). Platelet-Rich Fibrin is a
Bioscaffold and Reservoir of Growth Factors for Tissue Regeneration.
Tissue Engineering Part A, 17(3–4), 349–359.
https://doi.org/10.1089/ten.tea.2010.0327
Kargarpour, Z., Nasirzade, J., Strauss, F. J., Di Summa, F., Hasannia, S.,
Müller, H., & Gruber, R. (2020). Platelet‐rich fibrin suppresses in vitro
osteoclastogenesis. Journal of Periodontology, 91(3), 413–421.
https://doi.org/10.1002/JPER.19-0109
Kim, J., Ha, Y., & Kang, N. H. (2017). Effects of Growth Factors From
Platelet-Rich Fibrin on the Bone Regeneration. Journal of Craniofacial
Surgery, 28(4), 860–865. https://doi.org/10.1097/SCS.0000000000003396
Kloping, Y. P., Desnantyo, A. T., & Rehatta, N. M. (2016). The Effects of
Platelet-Rich-Plasma (PRP) Injection on Ligament Injury. Bali Medical
Journal, 5(1), 36. https://doi.org/10.15562/bmj.v5i1.174
Liang, Z.-J., Lu, X., Li, D.-Q., Liang, Y.-D., Zhu, D.-D., Wu, F.-X., Yi, X.-L.,
He, N., Huang, Y.-Q., Tang, C., & Li, H. (2018). Precise Intradermal
Injection of Nanofat-Derived Stromal Cells Combined with Platelet-Rich
Fibrin Improves the Efficacy of Facial Skin Rejuvenation. Cellular
Physiology and Biochemistry, 47(1), 316–329.
https://doi.org/10.1159/000489809
Marangoz, S., & Aksoy, M. C. (2015a). Physeal Injuries. In Doral & Karlsson
(Eds.), Sports Injuries (pp. 2625–2634). Springer.
https://doi.org/10.1007/978-3-642-36569-0
Marangoz, S., & Aksoy, M. C. (2015b). Physeal Injuries. In Doral & Karlsson
(Eds.), Sports Injuries (pp. 2625–2634). Springer.
https://doi.org/10.1007/978-3-642-36569-0
Mccarty, R. C., Gronthos, S., Zannettino, A. C., Foster, B. K., & Xian, C. J.
(2008). Characterisation and Developmental Potential of Ovine Bone
Marrow Derived Mesenchymal Stem Cells. Journal of Cellular
Physiology, 219(2), 324–333. https://doi.org/10.1002/jcp.21670
Mccarty, R. C., Xian, C. J., Gronthos, S., Zannettino, A. C. W., & Foster, B. K.
(2010a). Application of Autologous Bone Marrow Derived Mesenchymal
97
Stem Cells to an Ovine Model of Growth Plate Cartilage Injury. The Open
Orthopaedics Journal, 4, 204–210.
Mccarty, R. C., Xian, C. J., Gronthos, S., Zannettino, A. C. W., & Foster, B. K.
(2010b). Application of Autologous Bone Marrow Derived Mesenchymal
Stem Cells to an Ovine Model of Growth Plate Cartilage Injury. The Open
Orthopaedics Journal, 4, 204–210.
Meyers, A. L., & Marquart., M. J. (2020a). Pediatric Physeal Injuries
Overview. StatPearls Publishing.
Meyers, A. L., & Marquart., M. J. (2020b). Pediatric Physeal Injuries
Overview. StatPearls Publishing.
MOSESSON, M. W., SIEBENLIST, K. R., & MEH, D. A. (2006). The
Structure and Biological Features of Fibrinogen and Fibrin. Annals of the
New York Academy of Sciences, 936(1), 11–30.
https://doi.org/10.1111/j.1749-6632.2001.tb03491.x
Park, J., Frank, S., & Mark, K. Von Der. (2006). Transgene-activated
mesenchymal cells for articular cartilage repair : a comparison of primary.
The Journal of Gene Medicine, 8, 112–125.
https://doi.org/10.1002/jgm.826
Passaretti, F., Tia, M., D’Esposito, V., Pascale, M. De, Corso, M. Del,
Sepulveres, R., Liguoro, D., Valentino, R., Beguinot, F., Formisano, P., &
Sammartino, G. (2014). Growth-promoting action and growth factor
release by different platelet derivatives. Platelets, 25(4), 252–256.
https://doi.org/10.3109/09537104.2013.809060
Planka, L., Srnec, R., Rauser, P., Stary, D., Filova, E., Jancar, J., Juhasova, J.,
Kren, L., Necas, A., & Gal, P. (2012a). Nanotechnology and mesenchymal
stem cells with chondrocytes in prevention of partial growth plate arrest in
pigs. Biomed Pap Med, 156(2), 128–134.
Planka, L., Srnec, R., Rauser, P., Stary, D., Filova, E., Jancar, J., Juhasova, J.,
Kren, L., Necas, A., & Gal, P. (2012b). Nanotechnology and mesenchymal
stem cells with chondrocytes in prevention of partial growth plate arrest in
pigs. Biomed Pap Med, 156(2), 128–134.
Remelia, M. (2014). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proliferasi dan
Diferensiasi MSC ( Mesenchymal Stem Cell ) menjadi Sel Kondrosit
untuk Pengembangan. CDK, 41(12), 945–947.
Sakaguchi, Y., Sekiya, I., Yagishita, K., & Muneta, T. (2005). Comparison of
Human Stem Cells Derived From Various Mesenchymal Tissues
Superiority of Synovium as a Cell Source. American College of
Rheumatology, 52(8), 2521–2529. https://doi.org/10.1002/art.21212
Shaw, N., Erickson, C., Bryant, S. J., Virginia, L., Krebs, M. D., Hadley-miller,
N., & Payne, K. A. (2018a). Regenerative Medicine Approaches for the
Treatment of Pediatric Physeal Injuries. Tissue Engineering Part B:
Reviews, 24(2), 1–42.
Shaw, N., Erickson, C., Bryant, S. J., Virginia, L., Krebs, M. D., Hadley-miller,
N., & Payne, K. A. (2018b). Regenerative Medicine Approaches for the
Treatment of Pediatric Physeal Injuries. Tissue Engineering Part B:
Reviews, 24(2), 1–42.
98
Yin, N., Wang, Y., Ding, L., Yuan, J., Du, L., & Zhongsheng, Z. (2020).
Platelet-rich plasma enhances the repair capacity of muscle-derived
mesenchymal stem cells to large humeral bone defect in rabbits. Nature
Research, 10, 1–13. https://doi.org/10.1038/s41598-020-63496-5
Yogiswara, I. P. C., Ngurah, I. G., Aryana, W., & Physis, F. (2017).
GAMBARAN KARAKTERISTIK FRAKTUR PHYSIS PADA ANAK
USIA 0-14 TAHUN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH
DENPASAR TAHUN 2013 Program Studi Pendidikan Dokter , Bagian /
SMF Bedah Orthopaedi dan Traumatologi RSUP Sanglah Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana Ang. E-Jurnal Medika, 6(6), 6–9.
Yoshida, K., Higuchi, C., Nakura, A., Nakamura, N., & Yoshikawa, H. (2012).
Treatment of Partial Growth Arrest Using an. Journal of Pediatric
Orthopaedics, 32(3), 314–321.
Yu, Y., Rodriguez-fontan, F., Eckstein, K., Muralidharan, A., Uzcategui, A. C.,
Fuchs, J. R., Weatherford, S., Erickson, C. B., Bryant, S. J., Ferguson, V.
L., Miller, N. H., Li, G., & Payne, K. A. (2019). Rabbit Model of Physeal
Injury for the Evaluation of Regenerative Medicine Approaches. Tissue
Engineering and Regenerative Medicine, 1–10.
https://doi.org/10.1089/ten.tec.2019.0180
2. Persiapan PRF
3. Persiapan BM-MSC
101
ANOVA
Histologi
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
102
Multiple Comparisons
Dependent Variable: Histologi
Tukey HSD
Mean Difference 95% Confidence Interval
(I) Histo_KAT (J) Histo_KAT (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound
MSC PRF -.50000 .31032 .271 -1.3060 .3060
*
MSC-PRF -1.66667 .31032 .000 -2.4727 -.8606
PRF MSC .50000 .31032 .271 -.3060 1.3060
*
MSC-PRF -1.16667 .31032 .005 -1.9727 -.3606
MSC-PRF MSC 1.66667* .31032 .000 .8606 2.4727
*
PRF 1.16667 .31032 .005 .3606 1.9727
*. The mean difference is significant at the 0.05 level.
ANOVA
SOX9
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups .118 2 .059 2.988 .081
Within Groups .296 15 .020
Total .414 17
Multiple Comparisons
Dependent Variable: SOX9
Tukey HSD
Mean Difference 95% Confidence Interval
(I) IHC_KAT (J) IHC_KAT (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound
103
SOX9
a
Tukey HSD
Subset for alpha =
0.05
IHC_KAT N 1
MSC 6 .9283
MSC-PRF 6 .9577
PRF 6 1.1128
Sig. .091
Means for groups in homogeneous subsets are
displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6.000.
ANOVA
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
VEGF Between Groups .166 2 .083 2.967 .082
Within Groups .419 15 .028
Total .584 17
TNFA Between Groups .003 2 .001 .188 .830
Within Groups .105 15 .007
Total .107 17
Multiple Comparisons
Tukey HSD
Mean Difference 95% Confidence Interval
Dependent Variable (I) IHC_KAT (J) IHC_KAT (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound
VEGF MSC PRF -.12683 .09644 .409 -.3773 .1237
MSC-PRF .10783 .09644 .518 -.1427 .3583
104
VEGF
a
Tukey HSD
Subset for alpha =
0.05
IHC_KAT N 1
MSC-PRF 6 1.1103
MSC 6 1.2182
PRF 6 1.3450
Sig. .068
Means for groups in homogeneous subsets are
displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6.000.
TNFA
a
Tukey HSD
Subset for alpha =
0.05
IHC_KAT N 1
MSC 6 .5413
MSC-PRF 6 .5595
PRF 6 .5707
105
Sig. .818
Means for groups in homogeneous subsets are
displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6.000.
106