Fungsi, Kategori, Dan Peran
Fungsi, Kategori, Dan Peran
B. Klausa
Klausa adalah kelompok kata yang hanya mengandung satu predikat. Klausa adalah gabungan
kata yang terdiri dari subjek dan predikat. Sepintas, klausa terlihat mirip dengan kalimat.
Tapi, ada hal yang membedakan antara klausa dengan kalimat. Kalauklausa, tidak diakhiri
dengan intonasi akhir dan tidak memiliki tanda baca. Intonasi akhir yang dimaksud ini bisa
berupa intonasi tanya, perintah, maupun berita.
1. Klausa Bebas
Klausa bebas memiliki unsur yang lengkap, yaitu mengandung subjek dan predikat. Jenis ini
umumnya digunakan sebagai kalimat utama dan bisa berdiri sendiri tanpa adanya kata
penghubung dan keterangan lainnya. Contohnya: Adik bermain-Rara menyanyi-Gelas
terjatuh
2. Klausa Terikat
Klausa terikat tidak bisa menjadi kalimat karena tidak mengandung subjek dan predikat. Jenis
klausa ini sering disebut dengan anak kalimat dan menggunakan konjungsi atau kata
penghubung. Contohnya: Bani terbangun saat ibu sedang menyapu-Ayah bekerja di kantor-
Paman datang ke rumah
C. Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai pola inotasi
akhir terdiri atas klausa. Kalimat adalah gabungan beberapa kata yang sedikitnya mengandung
subjek dan predikat. Kalimat bisa juga terbentuk dari gabungan frasa maupun klausa. Contohnya
seperti yang sudah dijelaskan di atas tadi, ya. Kalimat diawali dengan huruf kapital, memiliki
tanda baca, dan juga intonasi akhir.
1. Kalimat Langsung
Kalimat langsung merupakan kalimat yang disampaikan secara langsung oleh orang yang
menyampaikan Kalimat langsung biasanya ditandai dengan tanda petik (“...”) dan bisa berbentuk
kalimat tanya atau kalimat perintah. Contohnya:
Adam bertanya, “Apakah kamu tahu di mana toiletnya?”
1. Berwujud frase nomina atau klausa 1. Berwujud frase nomina, frase verba, frase
2. Berada langsung di belakang predikat ajektifa, frase preposisional, atau klausa
3. Menjadi subjek akibat pemasifan kalimat 2. Berada langsung di belakang predikat jika
tidak ada objek dan di belakang objek jika
4. Dapat di ganti dengan pronominal
unsur ini hadir
3. Tidak dapat menjadi subjek akibat
pemasifan kalimat
4. Tidak dapat diganti dengan –nya kecuali
dalam kombinasi preposisi
selain di, ke, dari, akan.
Kridalaksana menyatakan bahwa berdasarkan hubungan di antara pelengkap dan subjek serta
objek, pelengkap dapat dibedakan atas :
1. Pelengkap subjek,
2. Pelengkap objek,
3. Pelengkap pengguna : nomina atau frase nomina yang melengkapi verba transitif yang secara
semantif menjadi penerima atau yang di untungkan oleh perbuatan,
4. Pelengkap pelaku : bagian klausa berupa nomina atau frase nomina yang melengkapi verba
pasif dan secara semantik merupakan pelaku,
5. Pelengkap sebab : bagian klausa berupa nomina atau frase nomina yang melengkapi verba
berkonfiks ke-an yang bermakna ‘mengalami’; atau nomina yang melengkapi verba bersruktur
ber-V-kan,
6. Pelengkap penkhususan : bagiab klausa berupa nomina atau frase nomina yang secra semantik
merupakan spesifikasi daro nomina yang terdapat dalam predikatnya (predikat itu predikat verba
denominal),
7. Pelengkap resiplokal : bagian klausa yang berupa nomina atau frase nomina yang melengkapi
verba resiplokal,
8. Pelengkap pemeri : bagian klausa yang berupa adjektiva, atau frase adjektiva numeralia, atau
frase numeralia yang menerangkan nomina dalam predikatnya.
5. Ciri-Ciri Keterangan
Keterangan merupakan fungsi sintaksis yang paling beragam dan paling mudah berpindah
letaknya. Keterangan dapat berada di akhir, awal, dan di tengah kalimat (Suparman dan Alwi).
Terdapat bermacam-macam keterangan berdasarkan maknanya dan tandanya :
a. Keterangan tempat : di, ke, dari, dalam, pada.
b. Keterangan waktu : pada, dalam, se-, sebelum, sesudah, selama, sepanjang.
c. Keterangan alat : dengan.
d. Keterangan tujuan : agar/ supaya, untuk, bagi, demi.
e. Keterangan cara : dengan, secara, dengan cara, dengan jalan.
f. Keterangan penyerta : dengan, bersama, beserta.
g. Keterangan perbandingan : seperti, bagaikan, laksana.
h. Keterangan sebab : karena, sebab.
i. Keterangan kesalinagn : saling.
j. Keterangan akibat : sehingga, sampai, akibat.
k. Keterangan alasan : berdasar hal itu, sehubungan dengan hal itu.
l. Keternagn asal : dari.
m. Keterangan kualitas : dengan.
n. Keterangan kuantitas : banyak, sedikit, cukup.
o. Keterangan modalitas : mustahil, barangkali, moga-moga.
p. Keterangan perlawanan : meskipun, walaupun.
q. Keterangan perwatasan : selain, kecuali.
r. Keterangan objek :
s. Keterangan subjek : dan
t. Keterangan syarat : jika, kalau.
Analisis kalimat berdasarkan fungsi sintaksis, dalam suatu kalimat tidak selalu berfungsi
sintaksis itu terisi, tetapi setidaknya ada konstituen pengisi subjek dan predikat. Konstituen
lainnya banyak ditentukan oleh konstituen pengisi predikat.
Contoh :
a. Dia tidur dikamar depan
S P [Link]
b. Mereka sedang belajar bahasa indonesia sekarang
S P Pel [Link]
Pola berpikir
Keluarga berencana
Tabungan berjangka
Rumah kita
Masa kini
Perbuatan itu
3. Segi Bentuk
Nomina terdiri atas dua macam :
1. Nomina yang berbentuk kata dasar,
Contoh : gambar, meja, rumah, pisau, tongkat, hukum, dll.
2. Nomina turunan.
Contoh : daratan, pendaratan, kekosongan, persatuan, meja-meja, pisau-pisau dan sebgainya.
Nomina ini dilakukan dengan :
a. Afiksasi,
b. Perulangan,
c. Pemajemukan.
Seperti yang sudah di bahas, bahwa nomina mencakup pronomina dan numeralia.
Beberapa para ahli yang berpendapat :
Pronomina adalah kata-kata petunjuk, pernyataan, atau penanya tentang sebuah substansi
dengan demikin dapat mengganti namanya (Ramlan,1991). Pronomina adalah kata yang dipakai
untuk mengacu pada nomina lain (Alwi, et. Al, 1998). Kridalaksana mengatakan, bahwa
pronominal adalah kategori yang menggantikan nomina. Nomina perawat dapat diacu dengan
pronomina dia atau ia. Jika dilihat dari segi fungsinya, dapat dikatakan bahwa pronomina
menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina, seperti subjek, objek, dan –dalam
macam kalimat tertentu- juga predikat.
Ada tiga pronomina dalam bahasa indonesia, yakni
1. Pronomina persona,
Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang, diri sendiri,
orang yang diajak bicara, orang yang dibicarakan. Ada bentuk yang bersifat eklusif, ada yang
bersifat inklusif, dan ada yang bersifat netral.
Persona Makna
Tunggal Jamak
Netral Eklusif Inklusif
Pertama Saya,aku,aku Kami Kita
ku,-ku
Kedua Engkau, kamu Kalian, kamu
anda, dikau, sekalian, anda
kau,-mu sekalian
ia,dia,beliau-
nya
Ketiga Mereka
2. Pronomina penunjuk,
Dalam bahasa indonesia ada tiga macam, yaitu :
a. Pronomina penunjuk umum,
Pronomina penunjuk umum adalah ini, itu dan anu.
Kata ini mengacu pada acuan yang dekat pada pembicara/penulis, pada masa yang akan datang
atau pada informasi yang akan di sampaikan.
Sebagai pronomina, ini dan itu ditempatkan sesudah nomina yang diwatasinya. Contoh :
Jawaban itu rumusan ini
Lamaran itu saya ini
Masalah ini mereka itu
Kata anu dipakai bila seseorang tidak dapat mengingat benar kata apa yang harus ia pakai.
Contoh :
- Tadi pagi saya membeli anu-itu yang di pakai untuk potong rambut-gunting.
- Mereka mau anu-mau pinjam kredit di bank.
b. Pronomina penunjuk tempat,
Pronomina penunjuk tempat ialah sini, situ atau sana. Perbedaan diantara tiga ada pada
pembicaraan : dekat(sini), agak jauh (situ), dan jauh (sana). Pronomina ini sering digunakan
dengan preposisi pengacu arah, di/ke/dari sehingga terdapat di/ke/dari sini, di/ke/dari situ,
di/ke/dari sana. Contoh :
- Mereka berangkat dari sini.
- Bukunya ada di situ.
- engkau mau pergi ke sana?
c. Pronomina penunjuk ihwal.
Pronomina penunjuk ihwal ialah begini dan begitu. Perbedaannya sama dengan penunjuk
lokasi : dekat (begini), jauh (begitu). Contoh :
- Bapak mengatakan begini.
- Jangan berbuat begitu lagi.
3. Pronomina penanya
Pronomina penanya adalah pronomina yang digunakan sebagai pemarkah pertanyaan. Dari segi
maknanya, yang ditanyakan dapat mengenai :
a. Orang,
b. Barang, atau
c. Pilihan.
selain pronomina, numeralia juga termasuk ke dalan nomina.
Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknyaorang,
binatang atau barang dan konsep. Dalam bahasa indonesia ada dua macam numeralia, yaitu :
1. Numeralia pokok disebut numeralia kardinal yang memberi jawaban atas pertanyaan ‘berapa?’
dan
2. Numeralia tingkat disebut numeralia ordinal yang memberi jawaban atas pertanyaan ‘ yang
keberapa?’
2. Kata Kerja (Verba)
Kata kerja (verba) adalah kata yang menyatakan tindakan. Ciri-ciri kata kerja (verba) dapat
diketahui dengan mengamati,
1. Perilaku semantis,
Verba memiliki makna inheren yang terkandung di dalamnya.
2. Perilaku sintaksis,
Verba merupakan unsur yang sangat penting dalam kalimat karena kebanyakan hal verba
berpengaruh besar terhadap unsur-unsur lainnya yang ada pada kalimat.
3. Bentuk morfologisnya.
Ketransitifan verba ditentukan oleh 2 faktor, yaitu
1) Adanya nomina yang berdiri di belakang verba yang berfungsi sebagai objek pada kalimat
aktif, dan
2) Kemungkinan objek itu berfungsi sebagai subjek pada kalimat pasif.
Secara umum verba dapat diindentifikasi dan dibedakan berdasarkan kelas kata terutama dari
adjektiva karena ciri-ciri :
a) Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau inti predikat dalam kalimat .
b) Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat
atau kualitas.
c) Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti ‘paling’.
d) Verba tidak dapat bergabung dengan kata yang menyatakan kesangatan.
Verba transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek kalimat aktif, dan
objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.
Verba taktransitif (intransitif)adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakang yang
terdapat fungsi subjek dalam kalimt pasif.
Verba taktransitif dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu verba yang berpelengkap dan verba
yang tidak berpelengkap.
Pada dasarnya, bahasa indonesia mempunyai 2 bentuk verba, yaitu :
1. Verba asal
Adalah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis,
2. Verba turunan
Adalah verba yang harus atau dapat memakai afiks bergantung pada tingkat keformalan bahasa
atau ada pada posisi sintaksisnya.
Verba turunan dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu
a) Verba yang dasarnya adalah dasar bebas tapi memerlukan afiks agar dapat berfungsi sebagai
verba .
b) Verba yang dasarnya adalah bebas yang memiliki afiks .
c) Verba yang dasarya adalah dasar terikat yang memerlukan afiks.
Verba turunan juga dapat membentuk kata berulang seperti : makan-makan, jalan-jalan, dan kata
majemuk seperti : naik haji, bertanggung jawab.
3. Kata Sifat (Adjektiva)
Kata sifat (adjektiva) adalah kata yang memberi keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu
yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Yang di tandai dengan kemungkinan untuk,
a) Bergabung dengan partikel tidak,
b) Mendampingi nomina, atau
c) Di dampingi partikel seperti lebih, sangat, agak,
d) Mempunyai ciri-ciri morfologis seperti –er- (dalam honorer), -if (dalam sensitif), -i (dalam
alami), atau
e) Dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an (dalam keadilan, keyakinan).
Kata sifat (adjektiva) juga mempunyai fungsi sebagai predikat atau adverbial kalimat yang
mengacu pada suatu keadaan. Contoh kata pemeri keadaan :
- Agaknya dia sudah mabuk
- Kakeknya sakit
- Masalah itu dikemukakannya secara sadar
Adjektiva juga mempunyai ciri yang kemungkinannya menyatakan kualitas dan tingkat
bandingan acuan nomina yang diterangkan. Perbedaan tingkat kualitas ditegaskan dengan
pemakaian kata, seperti sangat dan agak, seperti contoh :
- Orang itu sangat kuat.
- Agak jauh juga pondoknya.
Jika dilihat dari segi sintaksisnya, adjektifa dapat berfungsi sebagai atributif, predikatif, dan
adverbial. Adjektiva yang merupakan pewatas dalam frase nomina yang nominya menjadi
subjek, objek, atau pelengkap yang digunakan sebagai atributif, yang letaknya disebelah kanan
nomina. Contoh :
a. Laut biru
b. Harga mahal
c. Batu kecil
Adjektiva yang mengunakan fungsi predikat atau pelengkap dalam klausa dikatakan dipakai
secara predikatif. Contoh :
- Gedung yang baru dibangun itu sangat megah
- Setelah mereka menerima rapor, mereka pun gembira
Jika subjek atau predikat kalimat berupa frase atau klausa yang panjang, dibataskan antara
subjek atau predikat disisipkan dengan kata adalah. Contoh:
- Yang di sarankan padamu itu (adalah) baik.
- Yang setuju dengan ide itu (adalah) kurang waras.
Dari segi bentuknya, adjektiva terdiri atas :
a. Adjektiva dasar yang selalu monomorfemis.
Sebagian besar adjektiva dasar merupakan bentuk yang monomorfemis, meskipun ada yang
berbentuk perulangan semu. Misalnya:
Lebar pura-pura
Kuning sia-sia
Sehat hati-hati
b. Adjektiva turunan yang selalu polimorfemis.
Adjektiva turunan polimorfemis dapat merupakan :
1) Hasil pengafiksan dapat dilihat pada adjektiva tingkat kuatuf dengan prefiks se- dan tingkat
superlatif dengan prefiks ter-.
2) Hasil pengafiksan dengan infiks atau sisipan –em- pada nomina, adjektiva yang jumlahnya
sangat terbatas.
3) Hasil penyerapan adjektiva berafiks dari bahasa lain, seperti bahasa Arab, Belada, dan Inggris.
4. Kata Keteranagan (Adverbia)
Kata keterangan (adverbia) adalah kategori yang dapat mendampingi asjektiva, numeralia,
atau proposisi dalam kontruksi sintaksis yang menerangkan :
a. Kata kerja dalam segala fungsi.
b. Kata keadaan dalan segala fungsi.
c. Kata keterangan.
d. Kata bilangan.
e. Predikat kalimat.
Kata keterangan dapat diketahui dari a). Perilaku semantisnya, b). Perilaku sintaksisnya, c).
Bentuknya.
Berdasarkan perilaku sintaksisnya. Adverbia dapat dibedakan atas delapan bagian :
1. Adverbia kualitatif.
2. Adverbia kuantitatif.
3. Adverbia limitatif.
4. Adverbia frekuentitatif.
5. Adverbia kewaktuan.
6. Adverbia kecaraan.
7. Adverbia konstratif.
8. Adverbia keniscayaan.
5. Kata Tugas
Kata tugas adalah segala macam kata yang tidak termasuk salah satu kelas kata yang sudah di
bicarakan. Kata tugas memiliki arti gramatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Kata tugas,
seperti dan atau ke baru mempunyai ari apabila dirangkai dengan kata lain.
Ciri kata tugas, dilihat dari segi bentuk umumnya kata tugas sulit menaglami perubahan bentuk,
seperti kata dengan, telah, dari, tidak bisa mengalami perubahan.
Ciri lain kata tugas tidak bisa membentuk suatu kalimat dengan sebuah kata, misalnya : telah!,
dan!, supaya!, tetapi!,
Kata tugas dapat menjadi 5 kelompok, yaitu 1). Preposisi, 2). Konjugtor, 3). Interjegsi, 4).
Artikula, dan 5). Partikel penegas.
1) Preposisi
Preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain sehingga terbentuk frase
eksosentris direktif. Preposisi juga disebut dengan kata deoan, yang menandai berbagai
hubungan makna antara konstituen yang berada di depan preposisi.
2) Konjugtor
Konjugtor adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan lain dalam kontruksi
hipotaktis, konjugtor menghubungkan bagian-bagian ujaran yang setataran atau yang tidak
setataran.
3) Interjeksi
Interjeksi adalah kata tugas yang mengungkapkan rasa hati pembicaraan, seperti : kagum, sedih,
heran dan jijik.
Berbagai interjen yang dikelompokkan menurut perasaan yang diungkapakan:
a) Interjeksi kejijikan : bah, cih, cis, ih. Idih
b) Interjeksi kekesalan : brengsek, sialan, buset, keparat