PPK 2022 - 1
PPK 2022 - 1
Kontributor:
• Prof. Dr. dr. Hening Laswati, Sp.KFR(K) • dr. Nilla Mayasari, M.Kes, Sp.KFR(K)
• Dr. dr. Luh Karunia Wahyuni, Sp.KFR(K) • dr. Nuniek Nugrahaeni S, Sp.KFR(K)
• Dr. dr. Ratna D. Haryadi, Sp.KFR(K) • dr. Rizky Kusuma Wardhani, SpKFR(K)
• Dr. dr. Retno Setianing, Sp.KFR(K) • dr. Rwahita Satyawati, Sp.KFR(K)
• Dr. dr. Sri Mardjiati Mei Wulan, Sp.KFR(K) • dr. Siti Chandra Widjanantie, Sp.KFR(K)
• Dr. dr. Tirza Z. Tamin, Sp.KFR(K) • dr. Steven Setiono, Sp.KFR(K)
• Dr. dr. Vitriana, Sp.KFR(K) • dr. Tanti Ajoe Kesoema, Sp.KFR(K), Msi.Med
• dr. Anitta F. S. Paulus, Sp.KFR(K) • dr. AV Fanny Aliwarga, Sp.KFR
• dr. Anshory Sahlan, Sp.KFR(K), MARS • dr. Jufri Febrianto Poetra, Sp.KFR
• dr. Deddy Tedjasukmana, Sp.KFR(K), • dr. Lisa Nurhasanah, Sp.KFR
MARS, MM, MPM, SH, MH • dr. Lydia Arfianti, Sp.KFR
• dr. Ellyana Sungkar, Sp.KFR(K) • dr. Martha Kurnia Kusumawardani, Sp.KFR
• dr. I Putu Alit Pawana, Sp.KFR(K) • dr. Peggy, Sp.KFR
• dr. Indriani, Sp.KFR(K) • dr. Shinta Primasara, Sp.KFR
• dr. Irma Ruslina Defi, Sp.KFR(K), PhD • dr. Tertianto Prabowo, Sp.KFR, AIFO
• dr. Melda Warliani, Sp.KFR(K)
Asisten Editor:
dr. Brenda Tjoanda
dr. Elisabeth Tiffany
dr. Esti Puji Lestari Wigatiningrum
dr. Kristina Fianiyanti
dr. Mivanda Mahayana
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya, buku
Panduan Praktik Klinik (PPK) Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi edisi tahun 2022
dapat diselesaikan dengan baik. PPK ini adalah penyempurnaan dari buku Panduan
Praktik Klinik tahun 2019 yang telah dimiliki dan digunakan oleh PERDOSRI
sebelumnya.
Buku ini disusun dalam upaya membantu standardisasi PPK Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi (KFR) di seluruh Indonesia, sekaligus membantu pihak lain yang
memerlukan informasi mengenai pelayanan Rehabilitasi Medik di Rumah Sakit
seperti Dinas Kesehatan, BPJS, dokter umum maupun dokter spesialis lainnya.
Penyusunan buku ini didasarkan pada ilmu kedokteran yang berbasis bukti serta
kurikulum Program Pendidikan Dokter Spesialis KFR dan sesuai dengan kompetensi
para lulusannya. Mengingat bahwa ilmu kedokteran yang berkembang dengan
pesat, maka terbuka peluang untuk adanya revisi dan penambahan dari PPK, demi
pelayanan Rehabilitasi Medik yang berkualitas.
Rasa hormat dan penghargaan setingginya kepada seluruh pihak yang telah
membantu dalam penyempurnaan buku ini. Tak ada pekerjaan yang sempurna,
sehingga masih diperlukan asupan dari teman sejawat sekalian terhadap panduan
ini. Kami berharap buku panduan ini dapat memberikan manfaat dalam membantu
teman sejawat melaksanakan layanan di fasilitas kesehatan.
Prof. Dr. dr. Hening Laswati Putra, Sp.KFR(K) Dr. dr. Tirza Z. Tamin, Sp.KFR(K)
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya
penyusunan buku Panduan Praktik Klinik (PPK) Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
edisi tahun 2022 ini dengan baik. Buku PPK ini ditujukan sebagai pedoman bagi
Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dengan tujuan meningkatkan
mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
Penyusunan revisi PPK edisi tahun 2022 ini melibatkan para kontributor dari
Kelompok Studi PERDOSRI. Penentuan daftar diagnosis ditentukan berdasarkan;
kasus terbanyak yang dilayani dalam era JKN, kurikulum Ilmu Kedokteran Fisik
dan Rehabilitasi Indonesia (IKFRI) yang disusun oleh Kolegium IKFRI, serta kasus
yang dirawat bersama dengan dokter spesialis lain. Pada PPK edisi 2022 ini kami
menyertakan data informasi berbasis bukti berupa level of evidence (LoE),
khususnya dalam sub bab tatalaksana. Pencantuman data tersebut dapat menjadi
panduan dalam pemilihan jenis tatalaksana yang terbaik bagi pasien.
Buku panduan ini dibuat sesuai standar pelayanan maksimal, tetapi dalam
praktiknya dapat disesuaikan dengan kompetensi sumber daya manusia dan
kelengkapan sarana/prasarana yang tersedia di Rumah Sakit.
Kami menyadari bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini, sehingga buku ini
memerlukan perbaikan yang berkelanjutan seiring dengan perkembangan ilmu di
bidang kedokteran. Namun demikian, besar harapan kami bahwa buku PPK ini
dapat bermanfaat, demi pelayanan Rehabilitasi Medik yang berkualitas.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada para kontributor dan semua pihak
yang terlibat atas dedikasi serta kerja keras yang telah diberikan sehingga buku ini
dapat diterbitkan.
Geriatri ................................................................................................... 1
Osteoarthritis ............................................................................................. 2
Osteoporosis .............................................................................................. 7
Sindroma Dekondisi ................................................................................. 11
Demensia ................................................................................................. 16
Insomnia .................................................................................................. 22
Presbikusis .............................................................................................. 26
Gangguan Penglihatan (Presbiopia)........................................................... 29
Depresi..................................................................................................... 32
Diabetes Melitus Tanpa Komplikasi .......................................................... 36
Inaniasi .................................................................................................... 40
Metastatic Bone Disease ........................................................................... 43
Malignansi ............................................................................................... 46
Acute Confusional State/Delirium ............................................................ 49
Instabilitas dan Jatuh .............................................................................. 53
Perawatan Paliatif Pasien Geriatri ............................................................. 62
Kardiorespirasi ................................................................................... 67
Sindrom Koroner Akut.............................................................................. 68
Pre dan Pasca Bedah Pintas Arteri Koroner (BPAK) ................................... 72
Penyakit Arteri Perifer .............................................................................. 79
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) ............................................................... 82
Penyakit Jantung Bawaan Dewasa ........................................................... 85
Heart Failure ............................................................................................ 91
Deep Vein Thrombosis (DVT) .................................................................... 95
Rehabilitasi Pre dan Pasca PCI (Percutaneus Coronary Intervention)......... 98
Pre dan Pasca Tindakan Valve Replacement/Repair ............................... 104
Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) .................................................. 110
Infeksi Saluran Pernapasan Akut ........................................................... 116
Asma ...................................................................................................... 120
Pneumonia ............................................................................................. 124
Bronkiektasis ......................................................................................... 128
Pengertian
Osteoarthritis didefinisikan sebagai sekelompok kondisi heterogen yang
mengarah pada gejala dan tanda sendi yang berhubungan dengan kerusakan
integritas kartilago artikular, selain juga perubahan terkait pada tulang di
bawahnya pada batas sendi.
Anamnesis
- Nyeri sendi
- Kekakuan sendi di pagi hari < 30 menit
- Sendi bengkak
- Deformitas sendi
- Locking pada sendi
- Keterbatasan fungsional
Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi: Tanda inflamasi, deformitas, pembesaran tulang, perubahan
pola berjalan
- Palpasi: tanda inflamasi (raba hangat, nyeri tekan)
- Luas gerak sendi: keterbatasan luas gerak sendi, nyeri saat bergerak,
krepitasi, ketidakstabilan ligamen, tanda efusi
- Pemeriksaan neuromuskular: kekuatan otot, sensoris, keseimbangan
- Pemeriksaan fungsional: timed-walking test, uji pola jalan, uji risiko
jatuh, uji kualitas hidup, uji fungsi ADL
- Pemeriksaan rehabilitasi medik fungsional lain sesuai Comprehensive
Geriatric Assessment (CGA)
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan American College of Rheumatology, kriteria diagnosis untuk OA
lutut
- Tanda klinis : nyeri lutut dengan setidaknya 3 dari 6 kriteria berikut
• Usia > 50 tahun
• Kaku sendi < 30 menit
• Krepitus
• Nyeri tulang
• Pembesaran tulang
• Tidak teraba hangat pada palpasi
- Tanda klinis dan hasil laboratorium: Nyeri lutut dengan paling sedikit 5
dari 9 kriteria berikut:
Diagnosis Banding
- Rheumatoid arthritis
- Psoriatic arthritis
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ambulasi (R26.2)
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Risiko jatuh tinggi (R29.6)
Gangguan partisipasi: -
Pemeriksaan Penunjang
- Radiologi polos posisi AP, lateral dan tunnel view
- USG muskuloskeletal
- MRI
- Analisa cairan sendi
Edukasi
- Penurunan berat badan: Penurunan berat badan sangat dianjurkan
untuk pasien dengan OA lutut dan/atau pinggul yang kelebihan berat
badan atau obesitas (LoE 1a)
- Olah raga teratur yang tidak membebani sendi
- Lindungi sendi: postur tubuh seimbang dan mekanika tubuh yang sesuai
- Hindari cedera pada sendi
Prognosis Fungsional
Prognosis untuk pasien osteoarthritis tergantung pada sendi mana yang
terkena dan tingkat gejala dan gangguan fungsional. Beberapa pasien tetap
relatif tidak terpengaruh oleh osteoartritis, sementara yang lain dapat
mengalami disabilitas berat.
Indikator Medis
- Skala nyeri
- Luas gerak sendi
- Pola berjalan
Kepustakaan
1. Kolasinski SL, Neogi T, Hochberg MC, Oatis C, Guyatt G, Block J, et al. 2019 American
College of Rheumatology/Arthritis Foundation Guideline for the Management of
Osteoarthritis of the Hand, Hip, and Knee. Arthritis Rheumatol. 2020;72(2):220–33.
2. Brophy RH, Fillingham YA. AAOS Clinical Practice Guideline Summary: Management of
Osteoarthritis of the Knee (Nonarthroplasty), Third Edition. J Am Acad Orthop Surg.
2022;30(9):E721–9.
3. Kraus VB, Blanco FJ, Englund M, Karsdal MA, Lohmander LS. Call for Standardized
Definitions of Osteoarthritis and Risk Stratification for Clinical Trials and Clinical Use.
Osteoarthr Cartil [Internet]. 2015;23(8):1233–41. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4516635/pdf/nihms679742.pdf
4. Sen R, Hurley JA. Osteoarthritis. NCBI Bookshelf. A service of the National Library of
Medicine, National Institutes of Health. 2022. 1–7
Pengertian
Osteoporosis adalah gangguan tulang umum yang umum ditandai dengan
kepadatan mineral tulang yang rendah dan hilangnya massa tulang,
kerusakan mikroarsitektur, dan penurunan kualitas tulang, yang
meningkatkan kerentanan terhadap fraktur.
Anamnesis
- Lemah dan cepat lelah
- Penurunan atau peningkatan berat badan tanpa alasan
- Berdebar – debar
- Selalu lapar atau tidak napsu makan
- Sering haus
- Sering buang air kecil
- Nyeri sendi dan atau otot yang berpindah
- Rasa kebas / kesemutan
Pemeriksaan Fisik
- Imobilisasi
- Tonus otot lemah
- Hipertrofi / atrofi otot
- Gangguan koordinasi
- Gangguan keseimbangan
Uji Fungsional
- Uji kekuatan otot, jika ada evaluation using EN-TREE
- Uji gerak sendi / fleksibilitas, jika ada evaluation using Cybex
- Uji keseimbangan dan koordinasi
- Penilaian fungsi dasar pada ekstremitas superior, inferior, dan tulang
belakang (Basic assessment of musculoskeletal function)
- Comprehensive Posture analysis
- Work/physical capacity evaluation
- Disability evaluation
- Uji fungsi kandung kemih
- Uji fungsi paru
- Peak flow meter
- Uji latih jantung
- Timed-walking test
- Bicycle ergometer
- Penilaian Tangan dan kaki
Kriteria Diagnosis
-
Diagnosis Banding
- Homosisteinuria
- Hiperparatiroidism
- Osteomalasia
- renal osteodistrofi
- Mastositosis
- Multiple myeloma
- Paget disease
- Sickle cell anemia
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ambulasi (R26.2)
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Risiko jatuh tinggi (R29.6)
Gangguan partisipasi: -
Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium darah rutin, HbA-1C, GDP, GD2JPP, T3, T4, vitamin D,
kalsium,
- Dual-energy X-ray absorptiometry (DXA)
- BMD
Edukasi
- Diet cukup kalsium dan vitamin D
- Risiko jatuh
Prognosis Fungsional
Jika osteoporosis terdeteksi dini dan diobati, hasilnya baik. Namun, jika
kondisi tidak diobati, dapat menyebabkan nyeri kronis dan patah tulang.
Kepustakaan
1. Porter JL, Varacallo M. Osteoporosis. NCBI Bookshelf. A service of the National Library
of Medicine, National Institutes of Health; 2022.
2. American College of Obstetricians and Gynecologists. Osteoporosis Prevention,
Screening, and Diagnosis. Obstet Gynecol. 2021;138(3):494–506.
3. Shoback D, Rosen CJ, Black DM, Cheung AM, Murad MH, Eastell R. Pharmacological
Management of Osteoporosis in Postmenopausal Women: An Endocrine Society
Guideline Update. J Clin Endocrinol Metab. 2020;105(3):587–94.
4. Jeremiah, Michael P., Unwin, Brian K., Greenawald, Mark H.2015. Diagnosis and
Management of Osteoporosis. American Academy of Family Physicians
Definisi
Sindroma dekondisi adalah kumpulan gejala akibat menurunannya
kapasitas fungsional dari sistem multiorgan tubuh, yang diawali oleh sistem
muskoloskeletal dalam bentuk inaktiftas yang berkepanjangan dan memberi
dampak butuk terhadap sistem kardiovaskular; respirasi; kulit; gastro
intestinal; genito urinari; metabolik dan endokrin; nutrisi; neurologi; emosi;
dan intelektual
Anamnesis
- Gangguan pada sistem kardiovaskular : hipotensi ortostatik (postural),
dekondisi jantung pada saat istirahat dan aktif, perubahan
keseimbangan cairan, tromboemboli vena)
- Gangguan pada sistem respirasi : batuk, sputum kuning, kehijauan,
demam
- Gangguan pada sistem saraf pusat : perubahan afek, delirium, gangguan
sensorik, penurunan kapasitas intelektual
- Gangguan sistem musculoskeletal : kelemahan otot, atrofi otot,
kontraktur, deformitas, degenerasi rawan sendi
- Gangguan pada sistem metabolik dan endokrin
- Gangguan pada sistem gastrointestinal dan nutrisi : penurunan nafsu
makan, konstipasi, asupan cairan menurun
- Gangguan pada sistem intugumentum : luka tekan, edema, bursitis
subkutaneus
- Gangguan pada sistem genitourinaria : pada awalnya sering miksi,
inkontinesia urin, dieresis, pembentukan batu buli-buli, infeksi saluran
kemih
Pemeriksaan Fisik
- Imobilisasi
- Tonus otot lemah
- Hipertrofi/atrofi otot
- Gangguan koordinasi
- Gangguan keseimbangan
- Gangguan sensibilitas
- Gangguan fungsi pernapasan
Uji Fungsional
- Uji kekuatan otot, jika ada evaluation using EN-TREE
- Uji gerak sendi/fleksibilitas, jika ada evaluation using Cybex
Kriteria Diagnosis
Sindroma Dekondisi dengan Gangguan Hipotensi Ortostatik: Penurunan
tekanan darah sistolik sekurang – kurangnya 20 mmHg atau tekanan darah
diastolik paling sedikit 10 mmHg dalam periode kurun waktu 3 menit setelah
berdiri
Diagnosis Banding
- Imbalans elektrolit
- Fatigue
- Infeksi atau inflamasi
- Anemia
- Efek pengobatan
- Gangguan psikiatri
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Retensi sputum (R09.3)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Low endurance kardiorespirasi (Z72.3)
- Pressure ulcer (L89)
- Gangguan berkemih (R39.1)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Risiko jatuh tinggi (R29.6)
- Gangguan mobilitas (R26.8)
Gangguan partisipasi: -
Edukasi
- Diet sehat dan seimbang
- Intake cairan cukup
- Ikuti instruksi latihan dari dokter
- Hindari meningkatkan intensitas latihan terlalu cepat
Prognosis Fungsional
Sindroma Dekondisi dapat menyebabkan
- Gangguan pada Sistem Kardiovaskular
• Hipotensi ortostatik (postural)
• Dekondisi jantung pada saat istirahat dan aktif
• Perubahan keseimbangan cairan
Indikator Medis
- Tanda-tanda vital
- Transfer dan ambulasi
Kepustakaan
1. Falvey JR, Mangione KK, Stevens-Lapsley JE. Rethinking hospital-associated
deconditioning: Proposed paradigm shift. Phys Ther. 2015;95(9):1307–15.
2. Timmer, Amanda J., Unsworth, Carolyn A., Taylor, Nicholas F. 2014. Rehabilitation
interventions with deconditioned older adults following an acute hospital admission A
systematic review. Clinical Rehabilitation. Vol. 28(11) 1078–1086
3. Elsevier. Deconditioning. 2020.
Pengertian
Demensia menggambarkan penurunan keseluruhan dalam memori dan
keterampilan berpikir lainnya yang cukup parah untuk mengurangi
kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini
ditandai dengan kemunduran fungsi kognitif yang progresif dan persisten.
Anamnesis
- Perubahan dalam memori
- Perubahan orientasi
- Perubahan perilaku
- Perubahan emosi
- Perubahan pola berpikir
Pemeriksaan Fisik
- Status neurologi
- Status neuropsikologi (Mini Mental State Examination / MMSE)
- Status psikiatri (pemeriksaan deteksi depresi)
- Status fungsional (ADL, IADL, analisis aktivitas)
Uji Fungsional
- Pemeriksaan MMSE (Mini Mental State Examination) atau Montreal
Cognitive Assesment
- Pemeriksaan deteksi depresi
- Pemeriksaan ADL
- Uji kekuatan otot, jika ada evaluation using EN-TREE
- Uji gerak sendi / fleksibilitas, jika ada evaluation using Cybex
- Uji keseimbangan dan koordinasi
- Uji kognitif dan persepsi
- Uji fungsi menelan
- Uji fungsi kandung kemih
- Uji fungsi paru
- Peak flow meter
- Uji latih jantung
- Timed-walking test
- Bicycle ergometer
- Penilaian spastisitas
- Penilain fungsi menelan
- Penilaian Tangan dan kaki (Hand and Foot Assessment)
- Penilaian kapasistas fungsional
Kriteria Diagnosis
Kriteria diagnosis demensia menurut ICD-10
- G1: Terdapat bukti adanya
• Penurunan memori, yang paling jelas dalam pembelajaran informasi
baru, meskipun dalam kasus yang lebih parah, mengingat informasi
yang dipelajari sebelumnya mungkin juga terpengaruh. Gangguan
tersebut berlaku untuk materi verbal dan non-verbal. Penurunan
tersebut harus diverifikasi secara objektif dengan memperoleh riwayat
yang dapat dipercaya dari seorang informan, ditambah, jika mungkin,
dengan tes neuropsikologis atau penilaian kognitif terukur. Tingkat
keparahan penurunan, dengan gangguan ringan sebagai ambang
diagnosis, harus dinilai sebagai berikut:
o Ringan: tingkat kehilangan memori yang cukup untuk
mengganggu aktivitas sehari-hari, meskipun tidak begitu parah
sehingga tidak sesuai dengan kehidupan mandiri. Fungsi utama
yang terpengaruh adalah pembelajaran memori baru.
o Sedang: Tingkat kehilangan ingatan yang menunjukkan cacat
serius untuk hidup mandiri. Hanya materi yang sangat dipelajari
atau sangat familiar yang dipertahankan. Informasi baru
disimpan hanya sesekali dan sangat singkat. Individu tidak dapat
mengingat informasi dasar tentang di mana dia tinggal, apa yang
baru saja dia lakukan, atau nama-nama orang yang dikenalnya.
o Berat: tingkat kehilangan memori yang ditandai dengan
ketidakmampuan total untuk menyimpan informasi baru. Hanya
potongan-potongan informasi yang dipelajari sebelumnya yang
tersisa. Subjek gagal mengenali bahkan kerabat dekat.
• Penurunan kemampuan kognitif lain yang ditandai dengan
kemunduran dalam penilaian dan pemikiran, seperti perencanaan
dan pengorganisasian, dan dalam pemrosesan informasi secara
umum. Bukti untuk ini harus diperoleh bila memungkinkan dari
wawancara informan, ditambah, jika mungkin, dengan tes
neuropsikologis atau penilaian objektif kuantitatif.
o Ringan. Penurunan kemampuan kognitif menyebabkan gangguan
kinerja dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak sampai pada
tingkat yang membuat individu bergantung pada orang lain. Tugas
Diagnosis Banding
- Delirim
- Depresi
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan kelemahan otot (R52.2)
- Gangguan kognisi (R41.8)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ambulasi (R26.2)
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Risiko jatuh tinggi (R29.6)
- Problem perawatan ADL (Z72.2)
- Gangguan aktivitas pada lansia (R54)
Gangguan partisipasi: -
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan radiologi: CT scan, MRI, Functional brain imaging dengan
PET, SPECT, and fMRI
- Laboratorium: darah lengkap, LED, and BUN, electrolit, calcium dan
phosphate, fungsi liver, fungsi renal and, kadar thyroid, urine analysis,
VDRL dan Serum B, serta kadar folat.
Edukasi
- Edukasi pasien dan keluarga terkait kondisi demensia dan
konsekuensinya
- Informasi yang diperlukan sehubungan dengan apa yang kemungkinan
bisa terjadi dan bagaimana bereaksi terhadapnya.
Prognosis Fungsional
Prognosis dengan demensia buruk. Demensia seringkali merupakan kondisi
progresif. Angka kematian 1 tahun adalah 30 sampai 40% sedangkan angka
kematian 5 tahun adalah 60-65%. Pria memiliki risiko lebih tinggi daripada
wanita.
Indikator Medis
Fungsi kognitif
Kepustakaan
1. Shaji KS, Sivakumar PT, Rao GP, Paul N. Clinical Practice Guidelines for Management of
Dementia. 2018;60(Suppl 3).
2. Emmady PD, Tadi P. Dementia. NCBI Bookshelf. A service of the National Library of
Medicine, National Institutes of Health; 2022. 1–7 p.
3. Practice ACPC, Qaseem A, Snow V, Jr JTC, Forciea MA, Jr RH. Current Pharmacologic
Treatment of Dementia : A Clinical Practice Guideline from the American College of
Physicians and the American. 2008;(April 2007).
Pengertian
Insomnia adalah gangguan dengan “keluhan utama tidak puas dengan
kuantitas atau kualitas tidur,” setidaknya terkait salah satu dari: kesulitan
memulai tidur, mempertahankan tidur, dan bangun terlalu pagi; gejalanya
harus menyebabkan tekanan yang signifikan atau penurunan fungsi dan
harus terjadi setidaknya 3 malam per minggu untuk pada minimal 3 bulan;
serta semua etiologi yang memungkinkan (misalnya, Gangguan tidur primer,
komorbiditas kondisi medis atau kejiwaan) harus dipertimbangkan sebelum
membuat diagnosis ini.
Tujuan rehabilitasi insomnia adalah meningkatkan lama tidur untuk
kualitas tidur yang baik agar lebih produktif dan meningkatkan kualitas
hidup
Anamnesis
- Kesulitan memulai tidur
- Sulit mempertahankan tidur (sering terbangun saat tidur)
- Tidur tidak memuaskan
- Bangun terlalu dini
- Adanya penurunan fungsi dan produktivitas.
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan fungsi kognitif dengan Montreal Cognitive Assessment versi
Indonesia (MOCA-Ina)
- Pemeriksaan Deteksi depresi
- Uji kekuatan otot, jika ada evaluation using EN-TREE
- Uji gerak sendi/fleksibilitas, jika ada evaluation using Cybex
- Uji keseimbangan dan koordinasi
- Uji kognitif dan persepsi
- Uji fungsi komunikasi
- Uji fungsi ADL dan kualitas hidup (FIM, Barthel Index, PULSES, EQ5D)
- Pemeriksaan rehabilitasi medik fungsional lain sesuai Comprehensive
Geriatric Assessment (CGA)
- Evaluasi ICIDH / ICF
Kriteria Diagnosis
- Predominasi keluhan ketidakpuasan dengan kualitas dan kuantitas
tidur, berhubungan dengan salah satu (atau lebih) gejala-gejala berikut:
• Kesulitan untuk memulai tidur
Diagnosis Banding
- Gangguan afektif (F39)
- Gangguan kecemasan menyeluruh (F41.1)
- Skizofrenia (F20)
- Narkolepsi (G47.4)
- Sleep apnea (G47.3)
- Ensefalitis (G05.3)
- Meningitis (G03.8)
- Trauma kepala (S06)
- Tumor otak (C71.9)
- Lesi cerebrovascular (I63.9)
- Penyakit neurologis degenerative (G31.9)
- Gangguan metabolic (E88.81)
- Kondisi toksik (Z77.098)
- Abnormalitas endokrin (E34.9)
- Sindrom pasca radiasi (L59.8)
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan fungsi kognitif (R41.84)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan mobilisasi (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Problem pada Perawatan ADL (Z72.2)
- Gangguan Aktivitas pada Lansia (R54)
- Risiko Jatuh Tinggi (R29.6)
Pemeriksaan Penunjang
X-ray thorax, EEG, CT Scan kepala
Edukasi
- Mengendalikan faktor lingkungan yang mengganggu (suara, cahaya dan
suhu) terutama di kamar tidur
- Menghindari tidur siang dan makan malam yang berat
- Hindari aktivitas yang membuat tetap terjada di tempat tidur
- Tidur hanya di kamar tidur dan bukan di tempat yang lain, seperti sofa
- Modifikasi kondisi lingkungan rumah sehingga meminimalkan risiko
jatuh
- Olahraga teratur
- Kontrol pola makan
- Mengurangi penggunaan stimultan dan alcohol
Indikator Medis
- Jam/lama tidur
- Kualitas tidur
- Kognitif
- ADL
- Kualitas Hidup
Kepustakaan
1. Patel D, Steinberg J, Patel P. Insomnia in the Elderly: A Review. Journal of Clinical Sleep
Medicine. 2018 Jun 15;14(06):1017–24.
2. Edinger JD, Arnedt JT, Bertisch SM, Carney CE, Harrington JJ, Lichstein KL, et al.
Behavioral and psychological treatments for chronic insomnia disorder in adults: an
American Academy of Sleep Medicine clinical practice guideline. Journal of Clinical Sleep
Medicine. 2021 Feb;17(2):255–62.
3. D’Aurea CVR, Frange C, Poyares D, Souza AAL de, Lenza M. Physical exercise as a
therapeutic approach for adults with insomnia: systematic review and meta-analysis.
einstein (São Paulo). 2022 Jul 18;20:eAO8058.
4. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders, Fifth Edition. DSM 5.
5. Pavlova M, Latreille V. Sleep Disorders. The American Journal of Medicine
2019;132:292–9.
6. Ramar K, Olson EJ. Management of Common Sleep Disorders. Am Fam Phys, 2013.
88(4): 231-238.
7. Tramontano, M., De Angelis, S., Galeoto, G., Cucinotta, M.C., Lisi, D., Botta, R.M.,
D’ippolito, M., Morone, G. and Buzzi, M.G., 2021. Physical Therapy Exercises for Sleep
Disorders in a Rehabilitation Setting for Neurological Patients: A Systematic Review and
Meta-Analysis. Brain Sciences, 11(9), p.1176.
8. Schutte-Rodin, S., Broch, L., Buysse, D., Dorsey, C. and Sateia, M., 2008. Clinical
guideline for the evaluation and management of chronic insomnia in adults. Journal of
clinical sleep medicine, 4(5), pp.487-504.
9. Schwartz, M.S. and Andrasik, F. eds., 2017. Biofeedback: A practitioner's guide. Guilford
Publications.
Pengertian
Gangguan pendengaran pada usia lanjut atau presbikusis yaitu gangguan
pendengaran sensorineural karena faktor usia (> 60 tahun).
Anamnesis
- Riwayat penurunan fungsi pendengaran
- Waktu terjadinya (onset)
- Progress penurunan (mendadak/bertahap, cepat/perlahan)
- Adanya tinitus
- Umur > 60 tahun
- Riwayat: demam, kejang, trauma kepala
- Riwayat keluar cairan pada telinga
- Adanya gangguan keseimbangan
- Keluhan pusing berputar
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum, Tanda Vital
- Pemeriksaan pada membrane timpani didapatkan kondisi intak
- Tes bisik
- Kemampuan komunikasi
- Pemeriksaan postur
- Uji keseimbangan statik dan dinamik serta koordinasi
- Pola jalan
- Uji gerak sendi/fleksibilitas, jika ada evaluation using Cybex
- Uji kekuatan otot, jika ada evaluation using EN-TREE
- Uji Fungsi ADL dan kualitas hidup (FIM, Barthel Index, PULSES, EQ5D)
- Pemeriksaan rehabilitasi medik fungsional lain sesuai Comprehensive
Geriatric Assessment (CGA)
- Evaluasi ICIDH/ICF
Kriteria Diagnosis
Diagnosis berdasarkan :
- Anamnesis : usia > 60 tahun dengan penurunan pendengaran
- Audiometri nada murni : menunjukkan gambaran sensorineural hearing
loss bilateral pada nada tinggi
- Etiologi lain gangguan pendengaran pada orang tua telah dievaluasi dan
disingkirkan
Diagnosis Fungsional
Gangguan aktivitas:
- Gangguan mobility (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Problem pada Perawatan ADL (Z72.2)
- Gangguan Aktivitas pada Lansia (R54)
- Risiko Jatuh Tinggi (R29.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Audiometer
- Radiologi; X-ray, CT scan, MRI
Edukasi
- Menghindari kebisingan.
- Belajar membaca gerakan bibir.
- Modifikasi kondisi lingkungan rumah sehingga meminimalkan risiko
jatuh, termasuk pengaturan letak kamar diusahakan menjauhi sumber
kebisingan.
- Caregiver:
• Perlu adanya pendampingan saat melakukan aktivitas sehari-hari,
terutama untuk komunikasi dengan orang lain.
Prognosis Fungsional
- Ambulasi : independent dengan alat bantu dengar dan atau tanpa
alat bantu jalan
- Transfer : independen
- ADL : minimal dependen
- Komunikasi : Verbal (dengan menggunakan alat bantu dengar),Visual,
tulisan atau gesture pada gangguan dengar berat
Indikator Medis
- Fungsi pendengaran
- Fungsi komunikasi
- Fungsi keseimbangan
- Kualitas hidup
Kepustakaan
1. Dobie RA. Noise-Induced Hearing Loss. In: Bayley BJ ed. Head & Neck Surgery-
Otolaryngology 3ed. Vol 2. Otology and Neuro-otology. Philadelphia : JB Lippincott
Company, 2001 : 1883-91
2. Feuerstein J, Chasin M. Noise Exposure and Issue in Hearing Conservation. In : Katz J,
Medwetsky L, Burkard R, Hood L. Eds. Handbook of Clinical Audiology 6ed. Philadelphia
: Lippincott Williams & Wilkins, 2009 : 678-98.
3. Cameron, M.H., 2018. Physical agents in rehabilitation.
4. Prentice, W.E., Quillen, W.S. and Underwood, F.B., 2005. Therapeutic modalities in
rehabilitation (pp. 165-175). New York: Mcgraw-hill.
5. American College of Sports Medicine, 2013. ACSM's guidelines for exercise testing and
prescription. Lippincott williams & wilkins.
Pengertian
Berkurangnya kemampuan akomodasi mata dengan makin bertambahnya
usia. Tujuan rehabilitasi pada presbyopia adalah mengendalikan dan
mengurasi faktor risiko, dan meningkatkan fungsi yang berhubungan
dengan penglihatan dan maupun yang mempengaruhi postural.
Anamnesis
- Menanyakan usia penderita apakah lebih dari 60 tahun
- Riwayat penurunan fungsi penglihatan
- Waktu terjadinya
- Progress penurunan (mendadak/bertahap, cepat/perlahan)
- Menanyakan kepada penderita adakah gangguan untuk penglihatan
dekat dan kesulitan membaca cetakan-cetakan kecil
- Menanyakan kepada penderita apakah sering menegakan punggung atau
menjauhkan objek yang dibaca
- Menanyakan kepada penderita apakah mata mudah lelah
- Riwayat: demam, kejang, trauma kepala
- Adanya gangguan keseimbangan
- Keluhan pusing berputar
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum, Tanda vital
- Refraksi subjekti dengan kartu Snellen untuk koreksi dahulu
penglihatan jauhnya sampai dengan 6/6
- Pemeriksaan dengan kartu Jaeger dengan jarak 0,33 m atau sesuai
dengan kebutuhan pasien
- Kemampuan komunikasi
- Uji keseimbangan statik dan dinamik serta koordinasi
- Pola jalan
- Uji gerak sendi/fleksibilitas, jika ada evaluation using Cybex
- Tes Manuver Hallpike
- Uji kekuatan otot, jika ada evaluation using EN-TREE
- Uji Fungsi ADL dan kualitas hidup (FIM, Barthel Index, PULSES, EQ5D).
- Pemeriksaan rehabilitasi medik fungsional lain sesuai Comprehensive
Geriatric Assessment (CGA)
- Evaluasi ICIDH/ICF
Diagnosis Banding
- Myopia (H52.1)
- Hypermetropia (H52.03)
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan fungsi penglihatan (H53)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan mobilisasi (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Problem pada Perawatan ADL (Z72.2)
- Gangguan Aktivitas pada Lansia (R54)
- Risiko Jatuh Tinggi (R29.6)
Gangguan partisipasi
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Funduskopi
- Radiologi: X-ray, CT Scan, MRI
Prognosis Fungsional
Prognosis fungsi membaca/melihat : dapat membaca dengan penggunaan
kacamata dan aturan dalam membaca (jarak dan waktu).
Jika gangguan melihat sudah berat : mengenali benda dengan meraba/taktil,
dan mengenali orang dengan suara.
Indikator Medis
- Keluhan penglihatan
- Tajam penglihatan
- Fungsi keseimbangan
- Kualitas hidup
Kepustakaan
1. Laughton DS, Sheppard AL, Davies LN. 2016. A longitudinal study of accommodative
changes in biometry during incipient presbyopia. Ophtamic Physiol Opt 36, 33-42.
2. Riordan P. Eva. 2007. Bab 20: Optik dan Refraksi. Vaughn & Asbury Oftalmologi Umum
edisi 17. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta, Indonesia. Hal 394-395.
3. Marmamula S, Narsalah S, Shekhar K, Khanna RC. 2013. Presbyopia, spectacles use
and spectacles correction coverage for near vision among cloth weaving communitives in
Prakasm district in South India. Ophtamic Physiol Opt. 33(5); 597-603.
4. Cameron, M.H., 2018. Physical agents in rehabilitation.
5. Prentice, W.E., Quillen, W.S. and Underwood, F.B., 2005. Therapeutic modalities in
rehabilitation (pp. 165-175). New York: Mcgraw-hill.
6. American College of Sports Medicine, 2013. ACSM's guidelines for exercise testing and
prescription. Lippincott williams & wilkins.
Pengertian
Depresi adalah suasana perasaan depresi (depressed mood) yang dapat
merupakan suatu gejala penyakit lain. Sebagai suatu diagnosis, depresi
ditandai dengan perasaan tertekan, hilangnya minat terhadap suatu hal atau
kesenangan, disertai dengan perubahan selera makan, perubahan pola tidur,
perubahan berat badan, dan aktivitas psikomotor; menurunnya energi;
perasaan tidak berguna, bersalah; kesulitan dalam berpikir, konsentrasi atau
membuat keputusan; pikiran berulang tentang kematian, ide bunuh diri,
rencana bunuh diri, bahkan percobaan bunuh diri. Dicurigai depresi bila
episode tersebut terjadi dalam periode minimal 2 minggu. Pada usia lanjut,
penyebab depresi adalah karena penggunaan obat (polifarmasi), dan atau
akibat kondisi penyakit seperti stroke dan hipertiroidisme. Tujuan
rehabilitasi depresi adalah untuk perbaikan kondisi umum, meningkatkan
fungsi kognitif, peningkatkan kemandirian dalam ADL.
Anamnesis
Perasaan tertekan, hilangnya minat terhadap suatu hal atau kesenangan,
disertai dengan perubahan selera makan, perubahan pola tidur, perubahan
berat badan, dan aktivitas psikomotor, menurunnya energi, perasaan tidak
berguna, bersalah, kesulitan dalam berpikir, konsentrasi atau membuat
keputusan, pikiran berulang tentang kematian, ide/rencana bunuh diri,
keluhan-keluhan ini terjadi dalam periode minimal 2 minggu dan
menyebabkan gangguan ADL.
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan fisik umum
- Geriatric Depression Scale (GDS)
- Uji kekuatan otot, jika ada evaluation using EN-TREE
- Uji gerak sendi/fleksibilitas, jika ada evaluation using Cybex
- Comprehensive Posture analysis by posturography
- Work/physical capacity evaluation
- Uji keseimbangan statik dan dinamik serta koordinasi
- Timed-walking test
- Bicycle ergometer
- Penilaian kapasitas fungsional
- Uji Fungsi ADL dan kualitas hidup (FIM, Barthel Index, PULSES, EQ5D)
- Pemeriksaan rehabilitasi medik fungsional lain sesuai Comprehensive
Geriatric Assessment (CGA)
- Evaluasi ICIDH/ICF
Diagnosis Banding
- Delirium (F05)
- Dementia (F03)
- Gangguan mental organic (F00-09)
- Psikosis (F29)
- Gangguan penyalahgunaan obat dan alcohol (F19.10)
- Gangguan terkait penyalahgunaan zat lain (intoksikasi atau putus zat)
(F19.10)
- Gangguan panik (F41.0)
- Gangguan kecemasan umum (F41.1)
- Gangguan bipolar (F31)
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan fungsi kognitif (R41.84)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Problem pada Perawatan ADL (Z72.2)
- Gangguan Aktivitas pada Lansia (R54)
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan fungsi kognitif dengan Montreal Cognitive Assessmetn versi
Indonesia. (MOCA-Ina)
- Pemeriksaan penunjang terkait dengan penyakit primer, sesuai
kebutuhan.
Edukasi
- Observasi setiap pasien usia lanjut dengan risiko depresi
- Awasi efek samping obat, kurangi obat yang menyebabkan depresi
- Deteksi dan intervensi dini
- Partisipasi aktif keluarga
- Layanan day care di rumah sakit (day hospital) sebagai bagian dari
layanan rawat jalan usia lanjut
Indikator Medis
- Perbaikan skor GDS
- Kondisi fisik umum
- Status fungsional
- Kualitas hidup
Kepustakaan
1. Andreescu C, Reynolds CF. Late-life Depression: Evidence-based Treatment and
Promising New Directions for Research and Clinical Practice. Psychiatric Clinics of North
America. 2011 Jun;34(2):335–55.
2. MacQueen GM, Frey BN, Ismail Z, Jaworska N, Steiner M, Lieshout RJV, et al. Canadian
Network for Mood and Anxiety Treatments (CANMAT) 2016 Clinical Guidelines for the
Management of Adults with Major Depressive Disorder: Section 6. Special Populations:
Youth, Women, and the Elderly. Can J Psychiatry. 2016 Sep;61(9):588–603.
3. Knochel C, Alves G, Friedrichs B, Schneider B, Schmidt-Rechau A, Wenzler S, et al.
Treatment-resistant Late-life Depression: Challenges and Perspectives. CN. 2015 Oct
13;13(5):577–91.
4. Kawas L. Evaluation of Cognition in the Elderly Rehabilitation Patient, dalam Felsenthal
et al. Rehabilitation of The Aging and Elderly Patient. Williams & Etilkins, 1994, pg 289-
94
5. Ham RJ. Sloane : Primary Care Geriatrics, a case based approach. Mosby Year Book,
2nd ed. 1992. pg 137-59; 259-307 : 407-27
6. Burns A. Lawlor Betal, Assessment Scales in Old Age Psychiatry. Martin Dunits I. td,
1999, pg 225-32
7. Hallgren, M., Stubbs, B., Vancampfort, D., Lundin, A., Jääkallio, P. and Forsell, Y.J.E.P.,
2017. Treatment guidelines for depression: greater emphasis on physical activity is
needed. European Psychiatry, 40, pp.1-3.
Pengertian
Diabetes Melitus (DM) tipe 2, menurut American Diabetes Association (ADA)
adalah kumpulan gejala yang ditandai oleh hiperglikemia akibat defek pada
kerja insulin (resistensi insulin) dan sekresi insulin atau kedua-duanya.
Anamnesis
- Polifagi, poliuri, polidipsi
- Penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya
- Lemah, kesemutan, mata kabur,
- Disfungsi ereksi pada pria
- Pruritus vulvae pada wanita
- Luka yang sulit sembuh
- ADL yang terganggu
Pemeriksaan Fisik
- Penilaian berat badan
- Mata : penilaian visus, lensa mata buram
- Extremitas : uji sensibilitas kulit, propioseptif, dan koordinasi
- Pemeriksaan neuromuskular: Uji kekuatan otot, jika ada evaluation using
EN-TREE, Uji gerak sendi/fleksibilitas, jika ada evaluation using Cybex
Work/physical capacity evaluation, Uji gerak sendi/fleksibilitas dengan
peralatan digital, Uji keseimbangan dan koordinasi dengan peralatan
digital
- Pemeriksaan fungsional: timed-walking test, Penilaian fungsi kaki secara
komprehensif, Bicycle ergometer, uji pola jalan, uji risiko jatuh, uji
kualitas hidup, uji fungsi ADL.
- Pemeriksaan rehabilitasi medik fungsional lain sesuai Comprehensive
Geriatric Assessment (CGA)
- Evaluasi ICIDH/ICF
Kriteria Diagnosis
Kriteria diagnostik DM dan gnagguan toleransi glukosa :
- Gejala klasik DM (poliuria, polidipsia, polifagi) + glukosa plasma
sewaktu ≥ 200 mg/dL (11.1 mmol/L). Glukosa plasma sewakru
merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa
memperhatikan waktu makan terakhir ATAU
- Gejala klasik DM + Kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL. Puasa
diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam ATAU
Diagnosis Banding
- Toleransi Glukosa Terganggu (R73.0)
- Gula Darah Puasa Terganggu (R73.0)
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan sensibilitas (R20.2)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan mobilisasi (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Problem pada Perawatan ADL (Z72.2)
- Gangguan Aktivitas pada Lansia (R54)
- Risiko Jatuh Tinggi (R29.6)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Gula Darah Puasa
- Gula Darah 2 Jam Post Prandial
- Urinalisis
- Funduskopi
- Pemeriksaan fungsi ginjal
- EKG
- Radiologi: X-ray dengan rules of two, CT-scan, MRI, bone scanning, USG,
EMG
Edukasi
- Menjaga pola makan, menghindari rokok
- Olah raga teratur
- Konsumsi obat hipoglikemik teratur
- Perawatan Kaki Diabeteik
Prognosis Fungsional
- Aktivitas sehari-hari dapat dilakukan secara mandiri
- Ambulasi : mandiri tanpa alat bantu
Kepustakaan
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI Ed 4. 2006, 3.
2. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsesnsus Pengelolaan dan Pencegahan
Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2011.
3. Leung E, Wongrakpanich S, Munshi M. Diabetes Management in the Elderly. Diabetes
Spectrum. 2018;31(3):245-253.
Pengertian
Definisi malnutrisi dari European Society for Clinical Nutrition and Metabolism
(ESPEN) adalah keadaan yang disebabkan dari kurangnya penyerapan atau
asupan nutrisi yang mengarah pada komposisi tubuh yang berubah
(penurunan massa bebas lemak dan massa sel tubuh) yang menyebabkan
berkurangnya fungsi fisik dan mental dan gangguan hasil dari penyakit.
Anamnesis
- Riwayat penyakit kronis (stroke, penyakit metabolik, penyakit
kardiorespirasi)
- Riwayat gangguan muskuloskeletal pada anggota gerak atas
- Pola makan
- Perkembangan fungsi wicara
- Kekarasan fisik
- Pendidikan dan pengetahuan caregiver
- Riwayat tersedak saat makan
- Riwayat kelelahan (baik saat beraktivitas maupun pada saat istirahat)
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum
- Tanda Vital
- Kondisi oromotor
- Kondisi kulit
- BB, TB
- Motorik halus, motorik kasar
- Fungsi komunikasi dan personal sosial
- Fungsi kognisi
- Pemeriksaan neuromuskular: Uji kekuatan otot, jika ada evaluation using
EN-TREE, Uji gerak sendi/fleksibilitas, jika ada evaluation using Cybex,
Uji keseimbangan dan koordinasi dengan pemberat, pemeriksaan tonus
otot, penilaian fungsi ekstremitas dan tulang belakang pada kasus
kompleks yang memiliki pemberatdan atau komplikasi
- Pemeriksaan fungsional: uji kualitas hidup, uji fungsi ADL.
- Evaluasi ICIDH/ICF
- Evaluasi fungsi menelan
- Evaluasi adanya depresi, sebagai salah satu penyebab hilangnya nafsu
makan (dengan Geriatric Depression Scale)
- Pemeriksaan rehabilitasi medik fungsional lain sesuai Comprehensive
Geriatric Assessment (CGA)
Diagnosis Banding
- Anorexia (R63.0)
- Malnutrisi (E40-E46)
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan menelan/feeding (R63.3)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan mobilisasi (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Problem pada Perawatan ADL (Z72.2)
- Gangguan Aktivitas pada Lansia (R54)
- Risiko Jatuh Tinggi (R29.6)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium darah rutin, albumin, globulin, analisis urin dan feses
(untuk screening adanya infeksi)
- USG muskuloskeletal
- MRI
- Analisa cairan sendi
Prognosis Fungsional
ADL dapat dilakukan mandiri, bila penyebab inaniasi diketahui dan dapat
ditangani dengan baik.
Indikator Medis
- Quality of life
- Fungsi ADL
Kepustakaan
1. Lapid M, Prom M, Burton M, McAlpine D, Sutor B, Rummans T. Eating disorders in the
elderly. International Psychogeriatrics. 2010;22(04):523-536.
2. Landi F, Calvani R, Tosato M, et al. Anorexia of Aging: Risk Factors, Consequences, and
Potential Treatments. Nutrients. 2016;8(2):69.
3. Santoso B, Rochman F, Marlini A, Nuhonni S, Soebadi R, Ugahary M et al. Perdosri White
Book. Jakarta: Perdosri; 2012.
4. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014.
5. Cederholm T, Bosaeus I, Barazzoni R, Bauer J, Van Gossum A, Klek S, Muscaritoli M,
Nyulasi I, Ockenga J, Schneider SM, et al. Diagnostic criteria for malnutrition—An
ESPEN Consensus Statement. Clin. Nutr. 2015;34:335–340
Pengertian
Metastasic bone disease adalah kanker yang awalnya bermula di salah satu
bagian tubuh, seperti organ, kelenjar, atau jaringan, kemudian menyebar ke
tulang.
Anamnesis
- Nyeri tidak spesifik, biasanya saat beraktivitas atau saat beristirahat
atau di malam hari, khususnya pada pasien >50 tahun.
- Patah tulang mendadak, tanpa adanya suatu trauma (jatuh)
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan umum
- Pemeriksaan musculoskeletal: motorik halus, motorik kasar
- Pemeriksaan neuromuskular: uji kekuatan otot, jika ada evaluation using
EN-TREE, uji gerak sendi/fleksibilitas, jika ada evaluation using Cybex,
uji keseimbangan dan koordinasi dengan pemberat, pemeriksaan tonus
otot, penilaian fungsi ekstremitas dan tulang belakang pada kasus
kompleks yang memiliki pemberat dan atau komplikasi
- Pemeriksaan fungsional: uji kualitas hidup, uji fungsi ADL.
- Evaluasi ICIDH/ICF
- Evaluasi fungsi komunikasi kompleks dengan pemberat
- Pemeriksaan rehabilitasi medik fungsional lain sesuai Comprehensive
Geriatric Assessment (CGA)
Kriteria Diagnosis
Bila terdapat nyeri pada tulang / ditemukan nilai laboratorium abnormal (AP,
LDH, Hb, leukosit, trombosit, kalsium) atau ada metastasis pada bagian
tubuh lain, disarankan untuk melakukan bone scan terlebih dahulu. Apabila
dengan bone scan tidak ditemukan metastasis pada tulang, kemudian
dilakukan CT Scan atau MRI. CT Scan dengan kontras lebih disarankan.
Diagnosis Banding
- Osteoporosis (M81)
- Penyakit degeneratif
- Paget disease (M88)
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi : Tergantung pada bagian tubuh yang sakit
Gangguan partisipasi
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
Radiologi: X-ray, CT-scan, MRI dengan rules of two, Bone scanning, USG
Muskuloskeletal
Edukasi
- Prospek biologis pasien yang dapat digunakan semaksimal mungkin
- Tujuan dan keuntungan dari setiap terapi yang dilakukan
- Efek samping dari terapi
- Edukasi kepada keluarga dan kerabat pasien untuk selalu memberikan
dukungan mental, sosial dan spiritual
- Pencegahan jatuh
Prognosis Fungsional
- ADL dapat dilakukan mandiri penuh atau sebagian
- Ambulasi mandiri dengan alat bantu dan jika diperlukan dengan
supervisi
Indikator Medis
- Fungsi ADL
- Skala nyeri
Kepustakaan
1. Ahmad I, Ahmed MM, Ahsraf MF, et al. Pain Management in Metastatic Bone Disease: A
Literature Review. Cureus. 2018;10(9):e3286.
2. Santoso B, Rochman F, Marlini A, Nuhonni S, Soebadi R, Ugahary M et al. Perdosri White
Book. Jakarta: Perdosri; 2012.
3. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014.
4. Jehn CF, Diel IJ, Overkamp F, Kurth A, Schaefer R, Miller K, Luftner D. Management of
metastatic bone disease algorithms for diagnostics and treatment. Anticancer Research.
2016; 36(6) 2631- 2637
Pengertian
Malignansi adalah penyakit di mana sel-sel tertentu dalam tubuh tumbuh
tak terkendali dan dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh.
Anamnesis
Nyeri tidak spesifik, biasanya saat beraktivitas atau saat beristirahat atau
di malam hari, khususnya pada pasien >50 tahun.
Pemeriksaan Fisik
• Pemeriksaan umum, tanda vital (termasuk nyeri)
• Pemeriksaan muskuloskeletal Motorik halus, motorik kasar
• Pemeriksaan neuromuskular: Uji kekuatan otot, jika ada evaluation
using EN-TREE, Uji gerak sendi/fleksibilitas, jika ada evaluation using
Cybex, Uji keseimbangan dan koordinasi, pemeriksaan tonus otot,
penilaian fungsi ekstremitas dan tulang belakang pada kasus
kompleks yang memiliki pemberat dan atau komplikasi
• Pemeriksaan fungsional: uji kualitas hidup, uji fungsi ADL.
• Evaluasi ICIDH/ICF
• Evaluasi fungsi komunikasi kompleks dengan pemberat
• Pemeriksaan rehabilitasi medik fungsional lain sesuai Comprehensive
Geriatric Assessment (CGA)
Kriteria Diagnosis
Pada umumnya dengan biopsi.
Diagnosis Banding
Tumor
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi: Tergantung pada bagian tubuh yang sakit
Gangguan aktivitas:
- Gangguan mobilisasi (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Problem pada Perawatan ADL (Z72.2)
- Risiko Jatuh Tinggi (R29.6)
Pemeriksaan Penunjang
Radiologi: X-ray, CT-scan, MRI dengan rules of two, Bone scanning, USG
NeuroMuskuloskeletal
- Farmakologi
• Analgetik oral hingga parenteral
• Opioid
• Tatalaksana nyeri persistent hingga Interventional Pain Management
seperti blok saraf
- Alat Bantu
• Cast
• Splint
• Ortotik : Brace
• Walker
• Crutches
• Cane
Edukasi
- Biarkan pasien dapat melakukan ADL yang dapat dilakukan mandiri
seoptimal mungkin
- Penjelasan tentang tujuan dan keuntungan dari setiap terapi yang
dilakukan
- Efek samping dari terapi
- Edukasi kepada keluarga dan kerabat pasien untuk selalu memberikan
dukungan mental, sosial dan spiritual
Prognosis Fungsional
- ADL dibantu penuh
- Mobilisasi bed bound
Indikator Medis
- Fungsi ADL
- Skala nyeri
Kepustakaan
1. Balducci L, Fossa S. Rehabilitation of older cancer patients. Acta Oncologica.
2013;52(2):233-238.
2. Santoso B, Rochman F, Marlini A, Nuhonni S, Soebadi R, Ugahary M et al. Perdosri White
Book. Jakarta: Perdosri; 2012.
3. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014
4. Calman K. Quality of life in cancer patients--an hypothesis. 2019.
Pengertian
Acute Confusional State (ACS) atau delirium adalah suatu keadaan seseorang
mengalami pengurangan kemampuan untuk memelihara atensi terhadap
stimuli eksterna dan untuk mengalihkan atensi terhadap stimuli baru.
Terdapat juga gangguan proses berfikir, seperti: bicara tak ada arti (meracau),
perilaku tak relevan, atau bicara inkoheren.
Sindroma delirium, terkadang disertai dengan gangguan kesadaran dari
ringan sampai berat; mispersepsi sensori; gangguan siklus tidur-bangun;
disorientasi waktu, tempat, orang; gangguan memori; sehingga mengganggu
kemampuan kognisi pasien. Umumnya terjadi secara akut, proses dapat
hilang timbul. Pemulihan dapat terjadi dalam 1 hari atau setelah berhari-hari.
Para usia lanjut adalah kelompok yang rentan terhadap terjadinya delirium,
sebagai efek samping dari beberapa kondisi, seperti efek obat, demam,
hypoxia, infeksi, gagal organ (ginjal, hati, paru, jantung) sepsis, infeksi
saluran kemih, nyeri.
Pada usia lanjut tipe delirium lebih sering dalam bentuk tipe hipokinetik-
hipoalert dengan gejala : letargi, kurang respon terhadap stimuli, berbeda
dengan usia lebih muda, tipe delirium dalam bentuk hiperkinetik dan
hiperalert.
Anamnesis
- Dilakukan dengan panduan kriteria diagnostik
- Penelusuran tentang penyakit yang sedang diderita dan pengobatan yang
sedang dilakukan pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan fisik umum
- Pemeriksaan fisik rehabilitasi medik-fungsional
- Pemeriksaan rehabilitasi medik fungsional lain sesuai Comprehensive
Geriatric Assessment (CGA)
Kriteria Diagnosis
Menurut Confussion Assessment Method (CAM) :
Diagnosis delirium bila terdapat kriteria 1 dan 2, serta 1 diantara kriteria 3
dan 4 :
1. Terdapat perubahan akut pada status perilaku/mental, dan bersifat
hilang timbul
Diagnosis Banding
- Demensia (F02)
- Depresi (F32)
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan Ambulasi (R26.2)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan mobility (R26.8)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Problem pada Perawatan ADL (Z72.2)
- Gangguan Aktivitas pada Lansia (R54)
- Risiko Jatuh Tinggi (R29.6)
Gangguan partisipasi
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Proses skrining (penapis)
• Delirium rating scale (DRS)
• Mini mental state examination (MMSE)
- Pemeriksaan Electroencephalography (EEG)
- Pemeriksaan CT Scan Kepala
- Pemeriksaan interaksi obat (dengan menggunakan STOPP - Screening Tool
of Older Persons' Prescriptions) and START - Screening Tool to Alert to Right
Treatment)
- Pemeriksaan laboratorium dilaksanakan sesuai indikasi
• Darah lengkap
• Fungsi hepar, fungsi ginjal
• Analisa gas darah
• Glukosa
• Elektrolit
• Pemeriksaan urin dan faeces rutin
Edukasi
- Pencegahan
• Observasi setiap pasien usia lanjut dengan riwayat demensia dan
mempunyai risiko faktor ACS akibat faktor penyakit.
• Awasi efek samping obat, kurangi obat yang sebabkan delirium
• Deteksi dan intervensi dini
• Rehabilitasi dini untuk cegah sindroma dekondisi
• Nutrisi adekuat
Prognosis Fungsional
Delirium secara signifikan memperburuk prognosis suatu penyakit jika
delirium menyertai penyakit tersebut dan delirium berhubungan dengan
peningkatan mortalitas saat pulang dan pada 12 bulan awal kepulangan dari
rawat inap. Sebagian besar pasien dengan delirium selama dirumah sakit,
masih terus menunjukkan gejala sisa delirium 6 bulan dan 12 bulan pasca
rawat inap. ADL dan ambulasi dapat dilakukan mandiri jika delirium
tertangani.
Kepustakaan
1. Kawas L. Evaluation of Cognition in the Elderly Rehabilitation Patient, dalam
Felsenthal et al. Rehabilitation of the Aging and Elderly Patient. Williams &
Eilkins, 1994, pg 289-294
2. Ham RJ, Sloane : Primary Care Geriatrics, a case based approach. Mosby Year
Book, 2nd ed, 1992. pg 137-59; 259-307; 407-27
3. Burns A, Lawlor Betal, Assessment Scales in Old Age Psychiatry. Martin Dunitz.
Ltd, 1999, pg 1-32, pg 225-232
4. Siddiqi N, House AO, Holmes JD. Occurrence and outcome of delirium in
medical in-patients: a systematic literature review. Age Ageing. 2006 Jul. 35
(4):350-64.
5. Rai D, Garg RK, Malhotra HS, Verma R, Jain A, Tiwari SC, Singh MK. Acute
confusional state/delirium: An etiological and prognostic evaluation. Ann Indian
Acad Neurol. 2014 Jan;17(1):30-4.
Pengertian
Instabilitas dan jatuh merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas pada
usia lanjut. Instabilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk
mengintegrasikan informasi sensorik dan motorik pada posisi upright (tegah)
dengan mempertahankan kontrol postural. Kontrol postural adalah suatu
keadaan (statis dan dinamis) dimana tubuh dapat mempertahankan
keseimbangan dari setiap bagian tubuhnya terhadap perubahan pusat
gravitasi dengan energy expenditure yang minimal. Jatuh merupakan suatu
keadaan secara tiba-tiba dan tidak disadari yang mengakibatkan seseorang
berada di permukaan tanah, lantai, atau tingkat yang lebih rendah lainnya
tanpa disengaja.
Anamnesis
- Onset kejadian jatuh
- Keluhan mual muntah
- Pandangan kabur atau berputar
- Badan rasa tidak stabil
- Rasa takut jatuh atau kurang percaya diri saat berjalan, naik turun
tangga, transfer dari bed ke berdiri, atau aktivitas sehari-hari yang lain.
- Adanya perubahan pola jalan
- Keragu-raguan dan kekakuan saat akan berputar
- Kesulitan dalam memulai langkah
- Risiko untuk jatuh ke arah depan
- Riwayat jatuh sebelumnya
- Riwayat penyakit penyerta
- Riwayat penyakit dahulu
- Adanya penurunan fungsi dan produktivitas.
Pemeriksaan fisik
- Keadaan umum dan tanda vital
- Pemeriksaan fungsi kognitif dengan Montreal Cognitive Assessment versi
Indonesia (MOCA-Ina)
- Pemeriksaan jantung meliputi ada tidaknya aritmia, gangguan katup dan
bunyi jantung abnormal.
- Pemeriksaan penglihatan meliputi ketajaman visual, gangguan lapang
pandang, dan gangguan refraksi maupun kelainan organik lainnya.
- Pemeriksaan pendengaran
Kriteria diagnosis
- Uji menggapai fungsional ke depan
• Maximum to limit: > 32 cm (12,5 inch)
• Moderate:16,5 – 32 cm (6,5 – 12,5 inch)
• Poor: < 16,5 cm (6n5 inch)
• tidak dapat dinilai
Catatan:
• Membutuhkan kontrol tangan: ya/tidak
• Membutuhkan kursi dengan arm rest atau sandaran lengan:
ya/tidak
• Menggunakan paha untuk tumpuan mendorong: ya/tidak
Bila partisipan menggunakan tangan, maka skor tidak dapat
dibandingkan dengan nilai normatif.
Interpretasi: Skor > 8,5 detik berhubungan dengan risiko jatuh yang
tinggi pada lansia yang tinggal di masyarakat.
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan kekuatan otot (R53.1)
- Gangguan keseimbangan (R26.9)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Problem pada Perawatan ADL (Z72.2)
- Gangguan Aktivitas pada Lansia (R54)
- Risiko Jatuh Tinggi (R29.6)
Gangguan partisipasi
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Radiologi: X-ray thorax, spine, hip, knee, ankle dan CT Scan Kepala
- Laboratorium darah: darah lengkap, elektrolit, ureum, kreatinin, glukosa
darah, vitamin B12, fungsi tiroid
- Pemeriksaan lain: EKG, bone mineral density (BMD)
- Non Farmakologi:
• Terapi Latihan (LoE 1):
o Koreksi postur
o Latihan keseimbangan
o Latihan fleksibilitas
o Latihan kekuatan resistif progresif
Edukasi
- Identifikasi risiko jatuh
- Modifikasi lingkungan dan aktivitas untuk menurunkan kemungkinan
jatuh berulang, seperti pencahayaan ruangan, kondisi lantai, benda-
benda yang berserakan (mainan anak, kabel, kertas, dll), dan modifikasi
tinggi tempat. Bila mengharuskan untuk naik turun tangga,
menggunakan tape anti slip pada undakan dan memastikan adanya
pegangan tangga.
- Kontrol rutin dan konsumsi obat dari spesialis terkait sesuai anjuran bila
ada penyakit yang mendasari.
- Memakai kacamata yang sesuai dan menghindari kacamata multifokus
saat berjalan
- Pengaturan nutrisi atau diet sesuai dengan penyakit yang mendasari.
- Edukasi pada caregiver untuk melakukan pendampingan saat transfer
dan ambulasi agar menghindari jatuh berulang
- Minimal 1 tahun sekali memeriksa usia lanjut terkait dengan kejadian
jatuh, gangguan keseimbangan, pola jalan dan evaluasi uji fungsional.
- Melakukan latihan yang dianjutkan secara rutin dan berkesinambungan
(lebih disarankan group exercise).
Indikator Medis
- Fungsi keseimbangan
- Fungsi transfer
- Fungsi ambulasi
- Pola jalan
- Kognitif
- ADL
- Kualitas Hidup
Kepustakaan
1. Cameron ID, Gillespie LD, Robertson MC, et al. Interventions for pre- venting falls in
older people in care facilities and hospitals. Cochrane Database Syst Rev.
2012;12:CD005465.
2. Oliver D, Connelly JB, Victor CR, et al. Strategies to prevent falls and fractures in
hospitals and care homes and effect of cognitive impair- ment: systematic review and
meta-analyses. BMJ. 2007;334:82.
3. PERDOSRI. 2019. Buku Teknis Pelaksanaan Uji Fungsi Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi. Jakarta: PB PERDOSRI.
4. Moraes DC, Lenardt MH, Seima MD, de Mello BH, Setoguchi LS, Setlik CM. Postural
instability and the condition of physical frailty in the elderly. 2019. Rev Latino-Am
Enfermagem; 27: e3146.
5. Szewieczek J, Mazur K, Wilczyński K. Geriatric falls in the context of a hospital fall
prevention program: delirium, low body mass index, and other risk factors. CIA. 2016
Sep;Volume 11:1253–61.
6. Pilotto A, Custodero C, Maggi S, Polidori MC, Veronese N, Ferrucci L. A multidimensional
approach to frailty in older people. Ageing Research Reviews. 2020 Jul;60:101047.
7. Pasquetti P. Pathogenesis and treatment of falls in elderly. 2014. Clinical cases in mineral
and bone metabolism; 11(3): 222-225.
8. Cameron, M.H., 2018. Physical agents in rehabilitation.
9. Prentice, W.E., Quillen, W.S. and Underwood, F.B., 2005. Therapeutic modalities in
rehabilitation (pp. 165-175). New York: Mcgraw-hill.
10. American College of Sports Medicine, 2013. ACSM's guidelines for exercise testing and
prescription. Lippincott williams & wilkins.
1 Membersihkan rumah
(misalnya, menyapu, atau
membersihkan debut)
3 Memasak di dapur
5 Berbelanja di pasar
10 Berjalan cepat
13 Berjalan di keramaian
Sub total
Total /64
Skoring:
4 Nokturia/Inkontinen 3
6 Kelemahan umum 2
9 Osteoporosis 1
Jumlah
Tingkat risiko :
Pengertian
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO)
mendefinisikan perawatan paliatif sebagai berikut.
Anamnesis
- Mempunyai riwayat salah satu atau beberapa penyakit terkait
kardiovaskular, kanker, penyakit pernapasan kronis, AIDS, diabetes,
gagal ginjal, penyakit hati kronis, multiple sclerosis, penyakit Parkinson,
rheumatoid arthritis, penyakit saraf, demensia, anomali kongenital, dan
tuberkulosis yang resistan terhadap obat.
- Tidak mau makan
- Cemas
- Susah BAB
- Bingung
- Depresi
- Sulit bernapas
- Kelelahan
- Mual
- Nyeri
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan tanda vital
- Pemeriksaan umum
• Status nutrisi (pengukuran Index Masa Tubuh)
• Mata
• Mulut, gigi geligi
• Telinga Hidung Tenggorokan (adanya infeksi, serumen)
• Leher
• Jantung
• Paru
• Abdomen
- Pemeriksaan khusus
• Pemeriksaan neurologis
• Pemeriksaan muskuloskeletal
• Status lokalis (bila dicurigai terdapat trauma, deformitas atau
kelainan lokalis lainnya)
• Pemeriksaan rehabilitasi medik fungsional lain sesuai
Comprehensive Geriatric Assessment (CGA)
Kriteria Diagnosis
Penyakit yang mengancam nyawa, tidak bisa disembuhkan atau belum ada
obatnya.
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan Ambulasi (R26.2)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan mobility (R26.8)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Problem pada Perawatan ADL (Z72.2)
- Gangguan Aktivitas pada Lansia (R54)
- Risiko Jatuh Tinggi (R29.6)
Gangguan partisipasi
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan laboratorium meliputi: darah tepi lengkap dengan hitung
jenis, urinalisis, gula darah puasa dan sewaktu, funsi ginjal, fungsi hati,
albumin, elektrolit, dan lain-lain disesuaikan dengan kasus
- Rontgen Toraks
- Visual Analogue Scale (VAS)
- Barthel Index
- Penilaian kualitas hidup dengan Skala MOS 36, Sickness Impact Profile
(SIP), dan lain-lain
- Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) atau Karnofsky Performance
Status (KPS)
Edukasi
- Prospek biologis pasien yang dapat digunakan semaksimal mungkin
- Tujuan dan keuntungan dari setiap terapi yang dilakukan
- Efek saing dari terapi
- Edukasi kepada keluarga dan kerabat pasien untuk selalu memberikan
Prognosis Fungsional
- Prognosis buruk jika Skor Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) 3
atau skor Karnofsky Performance Status (KPS) 50
- Dying with Dignity
Indikator Medis
- Quality of Life
- Fungsi ADL
Kepustakaan
1. Chevile AL. Palliative Care. In: DeLisa JA, Gans BM, Walsh NE, Bockenek WL, Frontera
WR, Geiringer SR, et al. Physical Medicine & Rehabilitation: Principles and Practice. 4th
ed. Lippincott Williams & Wilkins 2005; 531-556.
2. Chun A, Morrison RS. Palliative Care. In: Halter JB, Ouslander JG, Tinetti
3. Studenski S, High KP, and Asthana S. Hazzard’s Geriatric Medicine and Gerontology. 6th
ed. New York: The McGraw-Hill 2009; 373-383.
4. Allyn Hum, Mervyn Koh. The Bedside Palliative Medicine Handbook. Tan Tock Seng
Hospital. Singapore: Armour Publishing 2013.
5. Hum A, Yee NH, Hwee PC, Koh M. The Bedside Paliative Medicine Hand Book 2nd
Edition. World Scientific Publishing, 2022.
6. Anekar AA, Cascella M. WHO Analgesic Ladder. [Updated 2022 May 15]. In: StatPearls
[Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554435/
7. World Health Organization, Palliative care (2018). Online: https://www.
who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/palliative-care
8. World Health Organization, Planning and Implementing Palliative Care Services: A Guide
for Programme Managers, World Health Organization, Geneva (2016). Online:
http://www.who.int/iris/handle/10665/250584
Pengertian
Sindrom koroner akut adalah kejadian oklusi parsial atau emboli distal
mendadak di arteri coroner dengan gambaran ekokardiografi dengan atau
tanpa elevasi segmen ST
Anamnesis
- Nyeri dada substernal
- Lama lebih dari 20 menit
- Keringat dingin
- Dapat disertai penjalaran ke lengan kiri, punggung, rahang dan ulu hati
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan tanda vital
- Pemeriksaan fisik jantung (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi)
Kriteria Diagnosis
- Memenuhi kriteria anamnesis
- Abnormalitas exercise ECG testing (perubahan ST-T)
- Abnormalitas enzim jantung (CK-CKMB), Troponin T
- Abnormalitas angiografi
Diagnosis Banding
- Miokarditis
- Perikarditis
- Gagal jantung
- Stroke
Diagnosis Fungsional
- Gangguan kebugaran kardiorespirasi
- Gangguan aktivitas kegiatan sehari-hari
- Gangguan pekerjaan
- Dekondisi
- Gangguan fungsi seksual
Pemeriksaan Penunjang
- EKG
- X-foto toraks
- Laboratorium darah
- Ekokardiografi
- Arteriografi (kateterisasi)
- Fase III
Fase ini berlangsung selamanya 3 – 6 bulan. Target rehabilitasi pada fase
ini adalah pasien mampu melakukan aktivitas 6 – 8 Mets. Program latihan
pada fase ini melanjutkan program latihan kebugaran dan dilanjutkan
dengan latihan resisten. Pada akhir fase III dilakukan treadmill test.
Tingkat Evidens
Tingkat evidens 1 dengan rekomendasi A
Edukasi
Aktivitas fisik sesuai kapasitas fungsional yang telah dicapai, modifikasi
faktor risiko dan nutrisi, mengenal dan mengetahui tanda perburukan
penyakit, melakukan home program rutin yang diberikan oleh SpKFR.
Prognosis Fungsional
Ad bonam
Indikator Medis
Jarak tempuh uji jalan 6 menit dan METs
Kepustakaan
1. Nasution A, Tulaar A, Paulus A, Aliwarga A et al. Panduan Pelayanan Klinis Kedokteran
Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta : Perdosri ;2012.
2. Giuliano C, Parmenter BJ, Baker MK, et al. Cardiac Rehabilitation for Patients With
Coronary Artery Disease: A Practical Guide to Enhance Patient Outcomes Through
Continuity of Care. Clin Med Insights Cardiol. 2017;11:1179546817710028.
Pengertian
Bedah pintas arteri koroner (BPAK) adalah sebuah teknik pembedahan yang
bertujuan untuk meningkatkan aliran darah menuju jantung.
Anamnesa
1. Pre operatif : anamnesis terhadap kondisi kardiorespirasi dan kondisi
neuro musculoskeletal
2. Pasca operatif : kondisi initial, on ventilator, off ventilator.
- Nyeri area operasi (dada dan perut)
- Mual
- Sesak
- Nyeri saat batuk
Pemeriksaan Fisik
Pre operatif elektif dan pasien stabil:
- Pemeriksaan umum (kesadaran, tanda vital, saturasi oksigen).
- Pemeriksaan kardiorespirasi (inspeksi – palpasi – perkusi – auskultasi,
terutama pola napas, ekspansi dada dan penggunaan dan retraksi otot-
otot pernapasan tambahan yang dapat menyebabkan spasme otot
tersebut).
- Pemeriksaan postur, keseimbangan (time up and go, Romberg Test,
Functional Reach Test), dan gait
- Pemeriksaan neuromuskuloskeletal.
- Evaluasi faktor risiko
Pasca operatif:
Fase I (kondisi awal, on dan off ventilator):
- Pemeriksaan umum (kesadaran, tanda vital, skala nyeri).
- Pemeriksaan kriteria stabil untuk memulai mobilisasi dan aktivitas dini
- Pemeriksaan kardiorespirasi (inspeksi – palpasi – perkusi – auskultasi,
terutama pola napas, ekspansi dada dan penggunaan dan retraksi otot-
otot pernapasan tambahan yang dapat menyebabkan spasme otot
tersebut).
- Pemeriksaan muskuloskeletal.
- Pemeriksaan neurologis.
- Pemeriksaaan kebugaran kardiorespirasi: uji jalan 6 menit (discharge
planning), sit to stand test
Kriteria Diagnosis
-
Diagnosis Banding
-
Diagnosis Fungsional
- Gangguan kebugaran kardiorespirasi
- Gangguan aktivitas kegiatan sehari-hari
- Gangguan pekerjaan
- Dekondisi
- Gangguan fungsi seksual
Pemeriksaan Penunjang
- X-foto toraks
- Laboratorium darah
- EKG
- Ekokardiografi
- Coronary angiography
Fase I
Setelah BPAK (ICU, Intermediate Ward, dan ruang rawat), tahapan latihan
berupa:
- Program rehabilitasi dilakukan selama 5 hari (tergantung kondisi medis
pasien).
- Tujuan aktivitas fungsional 3-4 METs
- Dilakukan uji jalan 6 menit sebelum pulang
Fase II
Tahapan rehabilitasi pada rawat jalan disebut dengan fase II. Fase ini dimulai
sesegera mungkin yaitu 1 minggu setelah pulang RS untuk semua pasien
baik tanpa reperfusi maupun dengan reperfusi. Program rehabilitasi
berlangsung selama 4 – 8 minggu.
Tingkat Evidens
Tingkat evidens 1 dengan rekomendasi A
Edukasi
Aktivitas fisik sesuai kapasitas fungsional yang telah dicapai, modifikasi
faktor risiko dan nutrisi, mengenal dan mengetahui tanda perburukan
penyakit, melakukan home program rutin yang diberikan oleh SpKFR.
Prognosis Fungsional
Ad bonam
Indikator Medis
MCID Jarak tempuh uji jalan: 25 meter dan peningkatan METs
Kepustakaan
1. Nasution A, Tulaar A, Paulus A, Aliwarga A et al. Panduan Pelayanan Klinis Kedokteran
Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta : Perdosri ;2012.
2. Giuliano C, Parmenter BJ, Baker MK, et al. Cardiac Rehabilitation for Patients With
Coronary Artery Disease: A Practical Guide to Enhance Patient Outcomes Through
Continuity of Care. Clin Med Insights Cardiol. 2017;11:1179546817710028.
3. Schlitt A, Wischmann P, Wienke A, et al. Rehabilitation in Patients With Coronary Heart
Disease: Participation and Its Effect on Prognosis. Dtsch Arztebl Int. 2015;112(31-
32):527–534. doi:10.3238/arztebl.2015.0527
4. Santoso B, Rochman F, Marlini A, Nuhonni S, Soebadi R, Ugahary M et al. Perdosri White
Book. Jakarta: Perdosri; 2012.
5. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014.
6. Tulaar A, Tamin T, Rachmawati M, Kumalasri, Putra Het al. Pedoman Standar Pelayan
Medik. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia.
Jakarta: Perdosri; 2019.
7. PERKI. Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Penyakit Sindrom Koroner Akut. 2018.
Pengertian
Penyakit arteri perifer adalah sindrom yang mengakibatkan obstruksi aliran
darah di arteri, terutama di pembuluh darah ekstremitas. Perkembangan
penyakit arteri perifer bersifat multifaktorial. Faktor risiko penyebab
terjadinya PAP sangat banyak diantaranya merokok, diabetes, dislipidemia,
hipertensi, dan obesitas.
Anamnesis
- Nyeri pada ekstremitas disertai kram yang dicetuskan oleh aktivitas tetapi
menghilang setelah istirahat beberapa menit (klaudikasio intermiten).
- Jarak tempuh yang dapat dicapai sebelum muncul gejala
- Dapat disertai lemah dan rasa dingin dapat disertai perubahan warna
pada ekstremitas, pertumbuhan rambut dan kuku berkurang, denyut
nadi berkurang.
- Lokasi keluhan tergantung pada sumbatan
- Ditemukan faktor risiko seperti merokok, DM, obesitas, hipertensi
- Ada riwayat keluarga memiliki penyakit stroke dan jantung koroner
Pemeriksaan Fisik
- Perubahan warna ekstremitas, terasa dingin
- Hipoperfusi
- Evaluasi derajat amplitude denyut nadi dalam skala (0-4+)
0 tidak dapat dipalpasi
1+ pulsasi yang lemah, hilang dan timbul saat perabaan, mudah sekali
hilang dengan tekanan yang
lembut
2+ butuh palpasi yang ringan, namun bila terdeteksi, pulsasi
akan lebih kuat dibandingkan pada skala +1
3+ normal
4+ pulsasi yang kuat, mudah dipalpasi, hiperaktif, dapat
mengindikasikan keadaan patologis seperti regurgitasi aorta.
Kriteria Diagnosis
Nilai Abnormal Ankle Brachial Index (> 1.40 dan atau < sama dengan 0.90)
Diagnosis Banding
- DVT
- Septic thrombophlebitis
Diagnosis Fungsional
- Gangguan mobilitas
- Gangguan nyeri
- Gangguan gait
- Gangguan kebugaran kardiorespirasi
Pemeriksaan Penunjang
- Angiografi
- USG Doppler
Edukasi
- Olahraga rutin sesuai dosis agar terbentuk sirkulasi kolateral
- Berhenti merokok
- Menjaga kesehatan kaki terutama pada penderita DM. Gunakan sepatu
yang pas kalau ada luka atau tergores cepat konsultasi dengan dokter
- Kontrol tekanan darah
- Kurangi berat badan
- Kontrol kolesterol dengan diet dan obat bila perlu
- Kontrol gula darah
Prognosis Fungsional
Dubia ad bonam
Indikator Medis
- Perbaikan skala nyeri (klaudikasio intermiten)
- Perbaikan nilai ABI
- Perbaikan nilai jarak tempuh uji jalan 6 menit
Kepustakaan
1. Mustofa S dan Sitrat C. Diagnosis dan Penatalaksanaan Penyakit Arteri Perifer. Fakultas
Kedokteran, Universitas Lampung.2021.
2. McDermott M. Exercise Rehabilitation for Peripheral Artery Disease. Journal of
Cardiopulmonary Rehabilitation and Prevention. 2018;38(2):63-69.
3. Tedjasukmana D, Putra HL.Rehabilitasi Kardiovaskuler. Perhimpunan Dokter Spesials
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta: Perdosri; 2016
4. Santoso B, Rochman F, Marlini A, Nuhonni S, Soebadi R, Ugahary M et al. Perdosri White
Book. Jakarta: Perdosri; 2012.
5. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014.
6. Tulaar A, Tamin T, Rachmawati M, Kumalasri, Putra Het al. Pedoman Standar Pelayan
Medik. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia.
Jakarta: Perdosri; 2019.
Pengertian
Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan defek jantung struktural yang
terjadi akibat perkembangan jantung embriologis yang abnormal, atau
persistensi dari beberapa bagian dari sirkulasi fetus saat lahir.
Anamnesis
- Riwayat napas pendek pada anak/bayi
- Muncul warna kebiruan pada bibir, kulit, kuku setelah melakukan
aktivitas berat
- Berat badan rendah
- Infeksi paru berulang
- Ketidakmampuan melakukan aktivitas fisik normal sesuai usianya
- Gangguan tumbuh kembang
Pemeriksaan Fisik
- Kepala: pada bayi evaluasi fontanela, pernapasan cuping hidung, warna
bibir
- Leher: evaluasi vena jugularis, arteri karotis
- Chest: inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi
- Abdomen: Asites, pembesaran liver
- Ekstremitas: denyut nadi, tanda clubbing fingers, edema, suhu kulit
- Evaluasi tumbuh kembang
- Evaluasi level aktivitas
Kriteria Diagnosis
- Adanya bukti defek jantung struktural dari hasil pemeriksaan penunjang
- PJB non sianotik: defek jantung struktural yang mengakibatkan aliran
darah dari sisi kanan ke sisi kiri jantung. PJB non sianotik antara lain
aortic stenosis, atrial septal defect (ASD), ventricular septal defect (VSD),
patent ductus arteriosus, pulmonary stenosis, atrioventricular septal defect
(AVSD).
- PJB sianotik: defek jantung struktural yang mengakibatkan aliran darah
dari sisi kiri ke sisi kanan jantung. PJB sianotik antara lain tetralogy of
fallot (TOF), tricuspid atresia, transposition of the great arteries.
Diagnosis Banding
- Trisomi 13
- Others genetic disorders
- Marfan’s syndrome
- Down’s syndrome
Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium
- EKG
- X-foto toraks
- Ekokardiografi
- TEE
- CT scan, MRI
Prognosis Fungsional
Dubia ad bonam pada gangguan yang ringan dan penanganan dini
Indikator Medis
Peningkatan hasil uji latih (tergantung indikasi dan usia)
Peningkatan kemampuan AKS (tergantung usia)
Kepustakaan
1. Manopo R, Kaunang E, Umboh A. 2018.Gambaran Penyakit Jantung Bawaan di
Neonatal Intensive Care Unit RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2013 – 2017.
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal e-Clinic (eCl), Volume
6, Nomor 2.
2. Tikkanen A, Oyaga A, Riaño O, Álvaro E, Rhodes J. Paediatric cardiac rehabilitation in
congenital heart disease: a systematic review. Cardiology in the Young. 2012;22(03):241-
250.
3. Santoso B, Rochman F, Marlini A, Nuhonni S, Soebadi R, Ugahary M et al. Perdosri White
Book. Jakarta: Perdosri; 2012.
4. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014.
5. Jalaluddin S, Faridillah A, Larasati I. Laporan Kasus : Dilemma Tumbuh Kejar Nutrisi
Pada Anak Dengan Penyakit Jantung Bawaan. Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan, Universitas Negeri Alauddin Makassar.2019.
6. Tulaar A, Tamin T, Rachmawati M, Kumalasri , Putra Het al. Pedoman Standar Pelayan
Medik. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia.
Jakarta: Perdosri; 2019.
7. B. Bjarnason-Wehrens et al. Cardiac Rehabilitation in Congenital Heart Disease in
Cardiovascular Prevention and Rehabilitation. Springer-Verlag London Limited. London.
2007
8. GuideLines for Cardiac Rehabilitation And Secondary Prevention Programs 1999.
9. Akamagwuna U, Badaly D. Pediatric cardiac rehabilitation: a review. Curr Phys Med
Rehabil Rep (2019) 7: 67-80.
Pengertian
Penyakit katup jantung adalah penyakit yang menyebabkan kelainan pada
aliran darah yang melintasi katup jantung, sehingga menyebabkan
timbulnya gangguan hemodinamik.
Anamnesis
- Dapat asimtomatik
- Kelelahan, intoleransi aktivitas fisik/olahraga, palpitasi, sesak napas saat
olahraga ringan, dan jantung berdebar debar.
- Komplikasi selanjutnya mungkin termasuk tanda-tanda gagal jantung
yang lebih parah seperti gangguaan paru-paru dan/atau nyeri dada, kaki
atau pergelangan kaki bengkak, detak jantung tidak teratur (aritmia) atau
fibrilasi atrium, hipertensi pulmonal, pembekuan darah di paru-paru,
katup jantung infeksi, atau stroke
- Riwayat perubahan progresif aktivitas harian
- Riwayat tindakan/operasi sebelumnya
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan umum kardiorespirasi (inspeksi, palpasi, perkusi,
auskultasi)
- Tanda vital
- Sianotik/tidak
- Clubbing finger* (sesuai penyakit yang mendasari)
- Postur (terkadang terdapat scoliosis)
- Tanda gejala gagal jantung
- Tanda gejala hipertensi pulmonal
- Uji Fungsi:
Uji latih kardiorespirasi (Uji jalan 6 menit, Cardiopulmonary Exercise
Testing (CPET)*)
- Evaluasi level aktivitas fisik dan kegiatan harian
- Level kualitas hidup
Kriteria Diagnosis
Adanya bukti kelainan struktural dari jantung
Diagnosis Banding
- Anemia
- Obesitas progresif
Pemeriksaan Penunjang
- Ekokardiografi 2D dan 3D (gold standard)
- Elektrokardiografi
- X-foto toraks
- Cardiovascular magnetic resonance (CMR)
- Cardiovascular computed tomography (CCT)
- Kateterisasi jantung
- Biomarker
Laboratorium : Hematokrit, hitung darah seluler, mean corpuscular volume
(MCV), serum ferritin (serum besi, saturasi besi, transferrin, dan saturasi
transferin mungkin diperlukan untuk deteksi dini defisiensi zat besi),
kreatinin, asam urat serum, profil pembekuan, BNP/NT-pro-BNP, asam
folat, dan vitamin B12 bila MCV meningkat atau normal dan feritin serum
rendah.
Fase I
Setelah Tindakan operasi (ICU, Intermediate Ward, dan ruang rawat),
tahapan latihan berupa:
- Program rehabilitasi dilakukan selama 5 hari (tergantung kondisi medis
pasien).
- Goal aktivitas fungsional 3-4 METs
- Dilakukan uji jalan 6 menit sebelum pulang
Stratifikasi Risiko
Fase III
- Fase ini berlangsung selama 3 – 6 bulan. Target rehabilitasi pada fase ini
adalah pasien mampu melakukan aktivitas 6 – 8 Mets. Program latihan
pada fase ini melanjutkan program latihan kebugaran dan di lanjutkan
dengan latihan resisten.
- Pada akhir fase III dilakukan stress testing (treadmill test/ ergocycle test/
CPET)*
*Dilakukan di rumah sakit dan atau sarana kesehatan yang memiliki Sp.KFR
konsultan Kardiorespirasi
Tingkat Evidens
Tingkat evidens 1 dengan rekomendasi A
Edukasi
- Edukasi pengurangan risiko: hindari stres terkait perjalanan/non-
perjalanan, dehidrasi, minuman beralkohol, dan lakukan tindakan
pencegah trombosis vena dalam
- Evaluasi kondisi setiap 6-12 bulan seumur hidup
- Paparan akut ketinggian >2500 m harus dihindari, pendakian bertahap
hingga 2500 m dapat ditoleransi
- Edukasi kehamilan, komplikasi terhadap ibu dan janin yang mungkin
terjadi
- Edukasi gaya hidup: merokok, narkoba, alkohol
- Paparan panas akut (sauna, bak mandi air panas, pancuran air panas)/
dingin yang ekstrim
- Edukai penggunaan kontrasepsi
Indikator Medis
Mampu melakukan aktivitas harian dengan keluhan minimal dan terkontrol,
tidak terjadi komplikasi yang lebih buruk
Kepustakaan
1. Gosal A.Karakteristik Pasien Dengan Penyakit Katup Jantung Yang Dirawat Di Cardiac
Center RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Periode 1 Januari-31 Desember 2012.
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin Makassar.2013.
2. Panduan Praktis Klinis Prosedur Tindakan. Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular (BTKV)
2016-2018 Edisi satu.
3. Toyoda Y, Boova R, Chend A et al. Mitral Valve Disease: A Guide for Patients and Their
Families. Heart and Vascular Institute.
4. Mocan M, Chiorescu R, Banc O et al. Cardiac rehabilitation protocols outcome in frail
patients undergoing transcatheter aortic valve implantation. Internal Medicine
Department, University of Medicine and Pharmacy, Cluj-Napoca.2018
5. Panduan Tatalaksana Penyakit jantung Bawaan Dewasa. PERKI. 2020. Edisi pertama.
6. GuideLines For Cardiac Rehabilitation And Secondary Prevention Programs 1999.
7. Rehabilitasi kardiovaskular, oleh Perhimpunan dokter spesialis kedokteran fisik dan
rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) 2016.
Pengertian
Heart failure atau gagal jantung yaitu suatu sindrom klinis yang kompleks
disebabkan oleh gangguan struktural dan fungsional dari pengisian ventrikel
atau gangguan pompa darah sehingga muncul gejala klinis khas berupa
sesak napas, lelah disertai tanda-tanda edema dan rales.
Kriteria Diagnosis
Kriteria Diagnosis Gagal Jantung Menurut Framingham
1. Mayor
- Bilateral moist/ronki paru
- Paroxysmal nocturnal dyspnea atau orthopnea
- Edema paru yang dibuktikan dengan radiografi
- Peningkatan tekanan vena jugularis
- Kardiomegali yang dibuktikan dengan radiografi
- S3 Gallop
- Refluks hepatojugular
2. Minor
- Edema ekstremitas
- Efusi pleura
- Hepatomegali
- Takikardia (120 kali/menit)
- Dyspnea d’effort (sesak saat aktivitas)
- Batuk malam hari
- Penurunan kapasitas vital 1/3 dari normal
Diagnosis Banding
- Pneumonia
- Asma bronkial akut
- PPOK dengan eksaserbasi akut
Diagnosis Fungsional
- Gangguan aktivitas sehari-hari
- Gangguan mobilitas
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan laboratorium: darah rutin, elektrolit dan fungsi ginjal
- X-foto toraks
- EKG
- Ekokardiografi
- MRI
- Kateterisasi jantung
- Transtorakal Ekokardiografi (TTE)
- Biomarker
Edukasi
- Edukasi jenis aktivitas sesuai hasil uji dan tahapan latihan
- Kontrol untuk obat rutin
- Diet rendah garam
Prognosis Fungsional
Dubia, tergantung tatalaksana medis dan komorbid yang menyertai
Indikator Medis
Peningkatan level aktivitas fisik, peningkatan jarak tempuh uji jalan enam
menit
Kepustakaan
1. Yancy CW, Jessup M, Bozkurt B. et al. ACCF/AHA Guideline for the Management of Heart
Failure. A Report of the American College of Cardiology Foundation/American Heart
Association Task Force on Practice Guidelines. Circ J AHA 2013;128:240-327
2. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia . Peodman tatalaksana gagal
jantung edisi ke dua .2020.
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia. Rehabilitasi
Kardiovaskular. 2016.
4. PKK. Gagal jantung. 2019.
5. Tulaar A, Tamin T, Rachmawati M, Kumalasari , Putra Het al. Pedoman Standar
Pelayanan Medik. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
Indonesia . Jakarta: Perdosri; 2019.
6. Rehabilitasi Kardiovaskuler. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi. Jakarta: Perdosri; 2016.
7. GuideLines For Cardiac Rehabilitation And Secondary Prevention Programs 1999.
Pengertian
Sebuah kondisi medis yang terjadi ketika gumpalan darah/thrombus
terbentuk pada vena dalam. Biasanya terjadi di tungkai bawah, paha, atau
panggul, namun dapat pula terjadi di lengan.
Anamnesis
- Riwayat imobilisasi, trauma, operasi sebelumnya
- Usia, riwayat keluarga
- Riwayat keganasan
- Riwayat penyakit jantung, paru, inflammatory bowel disease
- Riwayat obat-obatan berbasis estrogen seperti penggunaan kontrasepsi
hormonal atau terapi pengganti hormone
- Karakteristik nyeri
- Riwayat merokok
Pemeriksaan Fisik
- Tanda vital
- Skala nyeri
- Status lokalis:
Look : Edema, eritma kulit sekitar
Feel : Nyeri tekan, hangat
Move : nyeri saat berubah posisi, perbedaan lingkar calf
- Wells Score :
Gejala dan faktor risiko Poin
Tungkai bengkak 1
Kriteria Diagnosis
- Anamnesis
- Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan penunjang
Diagnosis Banding
- Cedera otot
- Selulitis
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Lingkup gerak sendi (M62.9)
- Kekuatan otot (M62)
- Nyeri akut (R52.1)
Gangguan aktivitas:
- Kemampuan fungsional dan perawatan diri/AKS (Z73.6)
- Lokomotor (R27.8)
- Mobilisasi (R26)
Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium: D-dimer
- USG doppler pembuluh darah
- CT angiografi
- MRI
Edukasi
- Penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin timbul
- Pencegahan posisi tertentu
- Teknik latihan dan program rehabilitasi di rumah sakit dan di rumah
- Hidrasi, kontrol berat badan
Prognosis Fungsional
- Sebagian besar DVT dapat sembuh tanpa komplikasi
- Kemungkinan DVT berulang sebesar 25%
- Sindrom pasca trombotik muncul pada 43% kasus dua tahun setelah DVT
( 30% ringan, 10% moderat, 3% berat)
Indikator Medis
Berkurang nilai VAS, mampu melakukan ambulasi dan atau aktivitas fisik
sesuai target pasien
Kepustakaan
1. Centers for Disease Control and Prevention. DVT. 2019
2. Noack F, Schmidt B, Amoury M, Stoevesandt D, GIelen S, Pflaumbaum B, et al. Feasibility
and safety of rehabilitation after venous thromboembolism. Vasc Health Risk
Manag. 2015; 11: 397–401.
3. Hillegass E, Puthoff M, Frese EM, Thigpen M, Sobush DC, Auten B, et al. Role of Physical
Therapists in the Management of Individuals at Risk for or Diagnosed With Venous
Thromboembolism: Evidence-Based Clinical Practice Guideline. Physical Therapy,
Volume 96, Issue 2, 1 February 2016, Pages 143–166.
4. Waheed SM, Kudaravalli P, Hotwagner DT. Deep Vein Thrombosis. National Library of
Medicine. Statpearls Publishing. 2021.
5. Rehabilitasi Kardiovaskuler. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi. Jakarta: Perdosri; 2016.
6. Phys Ther, Volume 96, Issue 2, 1 February 2016, Pages 143–166,
https://doi.org/10.2522/ptj.20150264
Pengertian
Prosedur diagnostik invasif non bedah dengan menggunakan kateter secara
perkutan (akses radial atau femoral)
Anamnesa
Pre tindakan: anamnesis terhadap kondisi kardiorespirasi dan kondisi neuro
muskuloskeletal
Pasca tindakan:
- Nyeri dada
- Mual
- Sesak
- Nyeri saat batuk
Pemeriksaan Fisik
Pre Tindakan elektif dan pasien stabil:
- Pemeriksaan umum (kesadaran, tanda vital, saturasi oksigen).
- Pemeriksaan kardiorespirasi (inspeksi – palpasi – perkusi – auskultasi,
terutama pola napas, ekspansi dada dan penggunaan dan retraksi otot-
otot pernapasan tambahan yang dapat menyebabkan spasme otot
tersebut).
- Pemeriksaan neuromuskuloskeletal.
Pasca Tindakan:
Program pemulihan rehabilitasi pasca PCI selama perawatan dimulai ketika
Fase I :
- Pemeriksaan umum (kesadaran, tanda vital, skala nyeri).
- Pemeriksaan kriteria stabil untuk memulai mobilisasi dan aktivitas dini
- Pemeriksaan kardiorespirasi (inspeksi – palpasi – perkusi – auskultasi,
terutama pola napas, ekspansi dada dan penggunaan dan retraksi otot-
otot pernapasan tambahan yang dapat menyebabkan spasme otot
tersebut).
- Pemeriksaan muskuloskeletal.
- Pemeriksaan neurologis.
Fase II
Seluruh evaluasi fase 1 ditambah dengan pemeriksaan kebugaran
kardiorespirasi sebagai berikut:
1. Uji Lapangan: uji jalan uji jalan 6 menit, sesuai dengan kondisi pasien,
sarana dan prasarana yang tersedia
2. Uji latih laboratorium*:
- Ergocycle (Sub-maximum, Maximum*)
- Treadmill (Sub-maximum, Maximum*)
- Cardiopulmonary Exercise Testing (CPET)*
*Dilakukan di rumah sakit dan atau sarana kesehatan yang memiliki
Sp.KFR konsultan Kardiorespirasi
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Kekuatan otot (M62)
- Nyeri akut (R52.1)
Gangguan aktivitas:
- Kemampuan fungsional dan perawatan diri/AKS (Z73.6)
- Mobilisasi (R26)
- Low endurance kardiorespirasi
Stratifikasi Risiko
- Akhir fase II dilakukan stress testing (treadmill test, ergocycle test, CPET)*
*Dilakukan di rumah sakit dan atau sarana kesehatan yang memiliki Sp.KFR
konsultan Kardiorespirasi.
Tingkat Evidens
Program rehabilitasi tersupervisi sesuai dengan guideline AHA/ACCF/SCAI
masuk kedalam kelas I tingkat evidens A
Edukasi
- Penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin timbul
- Kontrol faktor risiko dan pencegahan sekunder
Prognosis Fungsional
Bonam
Indikator Medis
Meningkatnya level aktivitas fisik dan METs, peningkatan hasil uji latih.
Kepustakaan
1. Rehabilitasi Kardiovaskuler. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi. Jakarta: Perdosri; 2016.
2. Levine GN, Bates ER, Blankenship JC, et al. ACCF/AHA/SCAI Guidelines for
Percutaneous Coronary Intervention A Report of te American College of Cardiology
Foundation/Americn Heart Association Task Force on Practice Guidelines and the Society
for Cardiovascular Angiography and Interventions. Circ AHA Journal. 2011. 124:e574-
e651.
3. O’Riordan M. Cardiac Rehabilitation After PCI Lowers Mortality. New york: Medscape.
2015
4. AACVPR. Guidelines for Cardiac Rehabilitation and Secondary Prevention Programs. 5th
edition. USA: Human Kinetics, 2013.
5. Stouffer GA and Peter K, Editor. Percutaneous Coronary Intervention. New York:
Medscape, 2015.
Pengertian
Adalah salah satu prosedur pembedahan jantung terbuka untuk
menatalaksana gangguan katup jantung berupa penggantian/perbaikan
katup
Anamnesis
- Dapat asimtomatik
- Kelelahan, intoleransi aktivitas fisik/olahraga, palpitasi, sesak napas saat
olahraga ringan, dan jantung berdebar debar.
- Komplikasi selanjutnya mungkin termasuk tanda-tanda gagal jantung
yang lebih parah seperti gangguaan paru-paru dan/atau nyeri dada, kaki
atau pergelangan kaki bengkak, detak jantung tidak teratur (aritmia) atau
fibrilasi atrium, hipertensi pulmonal, pembekuan darah di paru-paru,
katup jantung infeksi, atau stroke
- Riwayat perubahan progresif aktivitas harian
- Riwayat tindakan/operasi sebelumnya
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan umum kardiorespirasi (inspeksi, palpasi, perkusi,
auskultasi)
- Tanda vital
- Sianotik/tidak
- Clubbing finger* (sesuai penyakit yang mendasari)
- Postur (terkadang terdapat scoliosis)
- Tanda gejala gagal jantung
- Tanda gejala hipertensi pulmonal
- Uji Fungsi:
Uji latih kardiorespirasi (Uji jalan 6 menit, Cardiopulmonary Exercise
Testing (CPET)*)
- Evaluasi level aktivitas fisik dan kegiatan harian
- Level kualitas hidup
Kriteria Diagnosis
-
Diagnosis Banding
-
Diagnosis Fungsional
- Gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari
Pemeriksaan Penunjang
- Ekokardiografi 2D dan 3D (gold standard)
- Elektrokardiografi
- X-foto toraks
- Cardiovascular magnetic resonance (CMR)
- Cardiovascular computed tomography (CCT)
- Kateterisasi jantung
- Biomarker
Laboratorium : Hematokrit, hitung darah seluler, mean corpuscular volume
(MCV), serum ferritin (serum besi, saturasi besi, transferrin, dan saturasi
transferin mungkin diperlukan untuk deteksi dini defisiensi zat besi),
kreatinin, asam urat serum, profil pembekuan, BNP/NT-pro-BNP, asam
folat, dan vitamin B12 bila MCV meningkat atau normal dan feritin serum
rendah.
Fase I
Setelah Tindakan operasi (ICU, Intermediate Ward, dan ruang rawat),
tahapan latihan berupa:
- Program rehabilitasi dilakukan selama 5 hari (tergantung kondisi medis
pasien).
- Goal aktivitas fungsional 3-4 METs
- Dilakukan uji jalan 6 menit sebelum pulang
Fase II
Tahapan rehabilitasi pada rawat jalan disebut dengan fase II. Fase ini dimulai
sesegera mungkin yaitu 1 minggu setelah pulang RS untuk semua pasien
Stratifikasi Risiko
Fase III
- Fase ini berlangsung selama 3 – 6 bulan. Target rehabilitasi pada fase ini
adalah pasien mampu melakukan aktivitas 6 – 8 Mets. Program latihan
pada fase ini melanjutkan program latihan kebugaran dan di lanjutkan
dengan latihan resisten.
- Pada akhir fase III dilakukan stress testing (treadmill test/ ergocycle test/
CPET)*
*Dilakukan di rumah sakit dan atau sarana kesehatan yang memiliki Sp.KFR
konsultan Kardiorespirasi
Tingkat Evidens
Tingkat evidens 1 dengan rekomendasi A
Edukasi
- Edukasi pengurangan risiko: hindari stres terkait perjalanan/non-
perjalanan, dehidrasi, minuman beralkohol, dan lakukan tindakan
pencegah trombosis vena dalam
- Evaluasi kondisi setiap 6-12 bulan seumur hidup
- Paparan akut ketinggian >2500 m harus dihindari, pendakian bertahap
hingga 2500 m dapat ditoleransi
- Edukasi kehamilan, komplikasi terhadap ibu dan janin yang mungkin
terjadi
- Edukasi gaya hidup: merokok, narkoba, alkohol
- Paparan panas akut (sauna, bak mandi air panas, pancuran air panas)/
dingin yang ekstrim
- Edukai penggunaan kontrasepsi
Prognosis Fungsional
Dubia, luaran ditentukan oleh kerusakan struktur anatomi yang mendasari,
patofisiologi, prosedur paliatif, komplikasi sianosis dan upaya
pencegahannya.
Kepustakaan
1. Gosal A.Karakteristik Pasien Dengan Penyakit Katup Jantung Yang Dirawat Di Cardiac
Center RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Periode 1 Januari-31 Desember 2012.
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin Makassar.2013.
2. Panduan Praktis Klinis Prosedur Tindakan. Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular (BTKV)
2016-2018 Edisi satu.
3. Toyoda Y, Boova R, Chend A et al. Mitral Valve Disease: A Guide for Patients and Their
Families. Heart and Vascular Institute.
4. Mocan M, Chiorescu R, Banc O et al. Cardiac rehabilitation protocols outcome in frail
patients undergoing transcatheter aortic valve implantation. Internal Medicine
Department, University of Medicine and Pharmacy, Cluj-Napoca.2018
5. Panduan Tatalaksana Penyakit jantung Bawaan Dewasa. PERKI. 2020. Edisi pertama.
6. GuideLines For Cardiac Rehabilitation And Secondary Prevention Programs 1999.
7. Rehabilitasi kardiovaskular, oleh Perhimpunan dokter spesialis kedokteran fisik dan
rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) 2016.
8. Ribeiro PAB, Boidin M, Juneau M, Nigam A, Gayda M. High-Intensity interval training in
patients with coronary heart disease: Prescription models and perspectives. Annals of
Physical and Rehabilitation Medicine 60 (2017) 50–57
Pengertian
Penyakit paru obstruksi didefinisikan sebagai gangguan saluran napas
struktural atau fungsional yang menimbulkan perlambatan arus respirasi.
Gangguan dapat intraluminal (tumor paru, sumbatan oleh sekret, benda
asing), ekstra luminal (tumor yang menekan bronkus, jaringan penyangga
kurang misalnya emfisema), ataupun penebalan mukosa (hiperplasia &
hipertrofi), bronkitis kronik, emfisema, asma, bronkiektasis).
Anamnesis
- Batuk,
- Sesak napas,
- Riwayat masalah fungsional,
- Riwayat psikososial,
- Riwayat obat/alergi,
- Riwayat medik/operasi,
- Riwayat keluarga.
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan umum (tanda vital, saturasi oksigen, end tidal CO2*, mMRC,
Skala Borg).
- Pemeriksaan respirasi (inspeksi – palpasi – perkusi – auskultasi, terutama
pola napas, ekspansi dada dan penggunaan dan retraksi otot-otot
pernapasan tambahan yang dapat menyebabkan spasme otot tersebut).
- Pemeriksaan postur, keseimbangan (time up and go, Romberg Test,
Functional Reach Test), dan gait.
- Pemeriksaan muskuloskeletal.
- Pemeriksaan neurologis.
- Pemeriksaan fungsi:
1. Pemeriksaan kemampuan batuk: peak flow rate, peak cough flow,
Maximum Insufflation Capacity (MIC)*
2. Pemeriksaan fungsi otot napas: inspeksi, palpasi otot napas sekunder
Maximum Inspiratory Pressure (MIP)*, Maximum Expiratory Pressure
(MEP)*, USG Otot Diafragma*
3. Pemeriksaan fungsi paru: Spirometri, Single Breath Counting Test
4. Pemeriksaan kebugaran kardiorespirasi:
a. Uji Lapangan: sit to stand, uji jalan (uji jalan 6 menit, four meter gait
speed, 200 meter gait speed, Incremental Shuttle Walk Test (ISWT)),
Step Test (Harvard step test, Queen’s college, 2 minutes step test, 3
minutes step test, 6 minutes step test)
b. Uji latih laboratorium*:
Kriteria Diagnosis
Kriteria Diagnosis dan Klasifikasi
- Kriteria diagnosis
Gejala Keterangan
Sesak Progresif (sesak bertambah berat
seiring berjalannya waktu)
Bertambah berat dengan aktivitas
Menetap sepanjang hari
Dijelaskan oleh bahasa pasien
sebagai
"Perlu usaha untuk bernapas,"
Berat, sukar bernapas, terengah-
engah
Batuk kronik Hilang timbul dan mungkin tidak
berdahak.
Batuk kronik Setiap batuk kronik berdahak
berdahak dapat mengindikasikan PPOK.
Riwayat terpajan Asap rokok
faktor risiko Debu dan bahan kimia di tempat
kerja
Asap dapur
Riwayat keluarga
menderita PPOK
- Klasifikasi
Penentuan derajat dilakukan setelah pemeriksaan spirometri pasca
bronkodilator dengan nilai FEV1/FVC <0.7
Diagnosis Banding
- Asma
- Gagal jantung kongestif
- Bronkiektasis
- Tuberkulosis
- Bronkiolitis obliterans
- Panbrokiolitis difus
Diagnosis Fungsional
- Gangguan kebugaran kardiorespirasi
- Gangguan kontrol pernapasan
- Gangguan fleksibilitas atau mobilitas dinding toraks
- Gangguan kekuatan dan kebugaran otot napas dan otot perifer
- Gangguan postur
- Gangguan ambulasi/mobilitas
- Gangguan keseimbangan
- Gangguan aktivitas kegiatan sehari-hari
- Gangguan pekerjaan
- Gangguan efektivitas bersihan jalan napas
Pemeriksaan Penunjang
- Spirometri
- X-foto toraks
- CT toraks
Kriteria Penghentian
- Durasi program rehabilitasi respirasi minimal selama 8-12 minggu akan
meningkatkan kapasitas olahraga dan kualitas hidup secara signifikan.
- Latihan dihentikan bila muncul gejala SpO2<80% yang tidak bisa
diperbaiki dengan suplemen oksigen, kram otot, nyeri dada, penurunan
kesadaran, sesak napas yang tidak tertahankan.
- Pertambahan jarak pada uji jalan 6 menit sebesar 30 meter merupakan
salah satu dan bukan satu-satunya parameter perbaikan klinis yang
bermakna dalam proses rehabilitasi PPOK.
- Namun karena tujuan rehabilitasi yang paling utama adalah peningkatan
kualitas hidup, latihan akan diterminasi setelah target individual tercapai.
Target individual ini dibuat saat asesmen awal KFR dan dilakukan berkala
untuk monitoring dan evaluasi.
Tingkat Evidens
Peringkat Bukti Asesmen Disabilitas Akibat Penyakit Paru Obstruksi Kronis
Asesmen Peringkat Rekomendasi
Bukti
Sit-to-Stand Test I A
Latihan Umum
Latihan Ketahanan I A
Latihan Resistensi/Kekuatan I A
Fisioterapi Dada II B
Latihan Pernapasan I A
Nebulisasi I A
Ventilasi Non-Invasif I A
Spirometri Insentif I A
Edukasi
Latihan pernapasan ditujukan untuk mengurangi dan mengontrol sesak
napas penderita. Teknik latihan ini meliputi pernapasan diafragma, dan
pursed-lips breathing guna memperbaiki ventilasi dan mensinkronkan kerja
otot abdomen dan toraks.
Prognosis Fungsional
Ditentukan berdasarkan BODE Indeks
Kepustakaan
1. Nasution A, Tulaar A, Paulus A, Aliwarga A et al. Panduan Pelayanan Klinis Kedokteran
Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta : Perdosri ;2012.
2. Vanfleteren M, Koopman M, Spruit M, Pennings H, Smeenk F, Pieters W et al.
Effectiveness of Pulmonary Rehabilitation in Patients With Chronic Obstructive
Pulmonary Disease With Different Degrees of Static Lung Hyperinflation. Archives of
Physical Medicine and Rehabilitation. 2018;99(11):2279-2286.e3.
3. Athina Liacos, Christine F. McDonald, Ajay Mahal, Catherine J. Hill, Annemarie L. Lee,
Angela T. Burge et al. The Pulmonary Rehabilitation Adapted Index of Self-Efficacy
(PRAISE) tool predicts reduction in sedentary time following pulmonary rehabilitation in
people with chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Physiotherapy : Elsevier.
2019:105(1): 90-97.
4. Santoso B, Rochman F, Marlini A, Nuhonni S, Soebadi R, Ugahary M et al. Perdosri White
Book. Jakarta: Perdosri; 2012.
5. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014.
6. Gabriel Ortiz. Applying the 2015 Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease
(GOLD) Guidelines for the Pharmacological Management of Chronic Obstructive
Pulmonary Disease in Clinical Practice. [Cited] 12 August 2022.
7. Tulaar A, Tamin T, Rachmawati M, Kumalasari, Putra Het al. Pedoman Standar
Pelayanan Medik. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
Indonesia. Jakarta: Perdosri; 2019.
8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan
Penyakit Paru Obstruktif Kronis 2016.
9. Plant P, Owen J, Elliott M. Early Use of Non-Invasive Ventilation for Acute Exacerbations
of Chronic Obstructive Pulmonary Disease on General Respiratory Wards: a multicentre
randomised controlled trial. Lancet. 2000;355:1931-5.
10. ATS ERS. Standards for the Diagnosis and Management of Patients with COPD. 2004
Pengertian
Infeksi Saluran Pernapasan Akut sama dengan istilah dalam bahasa inggris
Acute Respiratory Infection (ARI). Penyakit infeksi akut yang menyerang salah
satu bagian dan atau lebih dari saluran napas mulai dari hidung (saluran
atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti
sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
Anamnesis
Rinore, hidung tersumbat, bersin, batuk, demam, malaise
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan umum (tanda vital, saturasi oksigen, Skala Borg).
- Pemeriksaan respirasi (inspeksi – palpasi – perkusi – auskultasi, terutama
pola napas, ekspansi dada dan penggunaan dan retraksi otot-otot
pernapasan tambahan yang dapat menyebabkan spasme otot tersebut).
- Pemeriksaan muskuloskeletal.
- Pemeriksaan neurologis.
- Pemeriksaan fungsi:
1. Pemeriksaan kemampuan batuk: peak flow rate, peak cough flow,
Maximum Insufflation Capacity (MIC)*
2. Pemeriksaan fungsi otot napas: inspeksi, palpasi otot napas sekunder
Maximum Inspiratory Pressure (MIP)*, Maximum Expiratory Pressure
(MEP)*
3. Pemeriksaan fungsi paru: Single Breath Counting Test
4. Pemeriksaan kebugaran kardiorespirasi:
- Uji Lapangan: sit to stand, uji jalan (uji jalan 6 menit, four meter gait
speed, 200 meter gait speed, Incremental Shuttle Walk Test (ISWT)), Step
Test (Harvard step test, Queen’s college, 2 minutes step test, 3 minutes
step test, 6 minutes step test)
5. Pemeriksaan khusus (bila infeksi melibatkan laring)
- Voice Handicap Index
Kriteria Diagnosis
ISPA dikatakan berulang jika dalam 1 tahun mengalami ISPA sebanyak 6 kali
atau lebih.
Diagnosis Banding
- Bronkitis alergi
- GERD
Pemeriksaan Penunjang
- X-foto toraks
- Laboratorium darah rutin
Tingkat Evidens
Peringkat Bukti Asesmen Disabilitas Akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut
Asesmen Peringkat Bukti Rekomendasi
Sit-to-Stand Test I A
Latihan Umum
Latihan Ketahanan I A
Latihan Resistensi/Kekuatan I A
Fisioterapi Dada II B
Latihan Pernapasan I A
Nebulisasi I A
Edukasi
- Proses batuk
- Sumber alergen yang menstimulasi batuk
- Teknik swallow suppression: menelan saliva/air sekuat-kuatnya saat
merasa akan batuk atau menundukkan kepala dengan dagu menempel ke
arah dada dan tekan dada dengan kedua tangan
Prognosis Fungsional
Ad bonam
Indikator Medis
- Pemeriksaan Fisik paru (perbaikan ronki dan slem)
- PCF
- Voice production
- Peningkatan jarak 6MWT dann METs
- X foto toraks (perbaikan infiltrat paru)
Kepustakaan
1. Purnama Sang Gede. 2016. Buku ajar Penyakit berbasis lingkungan. Indonesia: Gudang
Penerbit.
2. Jesenak M , Ciljakova M Rennerova Z , Babusikova E , dan Banovcin P. Recurrent
respiratory infection in children . InTech ; 2011 .
3. O’Connor R, O’Doherty J, O’Regan A, O’Neill A, McMahon C, Dunne C. Medical
management of acute upper respiratory infections in an urban primary care out-of-hours
Pengertian
Asma merupakan penyakit inflamasi (peradangan) kronik saluran napas
yang ditandai adanya mengi episodik, batuk, dan rasa sesak di dada akibat
penyumbatan saluran napas, termasuk dalam kelompok penyakit saluran
pernapasan kronik.
Anamnesis
Sesak napas disertai mengi dan batuk berulang, riwayat atopi, riwayat alergi
pada keluarga, riwayat batuk pilek (common cold/nasofaringitis akut yang
berlangsung selama lebih dari 10 hari).
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan nadi, laju pernapasan, saturasi oksigen, Skala Borg.
- Pemeriksaan respirasi
a. Inspeksi: hiperaktivitas dan spasme otot napas bantu (retraksi sela iga,
retraksi epigastrium, retraksi suprasternal), pulsus paradoksus
b. Auskultasi: wheezing bilateral terutama saat fase ekspirasi, slem
- Pemeriksaan postur dan keseimbangan
- Pemeriksaan fungsi:
1. Pemeriksaan kemampuan batuk: peak flow rate, peak cough flow
(dilakukan pada pasien yang sudah tidak dalam fase eksaserbasi)
2. Pemeriksaan fungsi otot napas: inspeksi, palpasi otot napas sekunder
3. Pemeriksaan fungsi paru: Spirometri, Single Breath Counting Test
(dilakukan pada pasien yang sudah tidak dalam fase eksaserbasi)
4. Pemeriksaan kebugaran kardiorespirasi:
a. Uji Lapangan: sit to stand, uji jalan (uji jalan 6 menit, four meter gait
speed, 200 meter gait speed, Incremental Shuttle Walk Test (ISWT)),
Step Test (Harvard step test, Queen’s college, 2 minutes step test, 3
minutes step test, 6 minutes step test)
b. Uji latih laboratorium*:
- Ergocycle (Sub-maximum, Maximum*)
- Treadmill (Sub-maximum, Maximum*)
- Cardiopulmonary Exercise Testing (CPET)*
Kriteria Diagnosis
Kriteria
Sesak napas disertai mengi dan batuk berulang, riwayat atopi, riwayat alergi
pada keluarga, riwayat batuk pilek (common cold/nasofaringitis akut yang
berlangsung selama lebih dari 10 hari). Peningkatan nadi dan laju
pernapasan, penggunaan otot bantu napas, pulsus paradoksus, wheezing.
Diagnosis Banding
- Sindrom hiperventilasi
- Obstruksi saluran napas atas dan benda asing
- Disfungsi pita suara
- PPOK
- Bronkitis kronik
- Bronkiolitis
- Interstitial lung disease
- Kondisi lain bukan respirasi (gagal jantung kongestif)
Diagnosis Fungsional
- Gangguan kebugaran kardiorespirasi
- Gangguan kontrol pernapasan
- Gangguan fleksibilitas atau mobilitas dinding toraks
- Gangguan kekuatan dan kebugaran otot napas dan otot perifer
- Gangguan spasme otot
- Gangguan postur
- Gangguan pekerjaan
- Gangguan efektivitas bersihan jalan napas
Pemeriksaan Penunjang
- X-foto toraks
- Peak flow meter
- Spirometri: FEV1, FVC, respiratory peak flow
Tingkat Evidens
Peringkat Bukti Asesmen Disabilitas Akibat Asma
Asesmen Peringkat Bukti Rekomendasi
Sit-to-Stand Test I A
Latihan Umum
Latihan Ketahanan I A
Latihan Resistensi/Kekuatan I A
Fisioterapi Dada II B
Latihan Pernapasan I A
Nebulisasi I A
Edukasi
Edukasi yang diberikan mencakup
- Mengenali dan menghindari faktor pencetus
- Kontrol teratur
- Kapan pasien berobat/mencari pertolongan
- Mengenali gejala serangan asma secara dini
- Mengetahui obat-obat pelega dan pengontrol serta cara dan waktu
penggunaannya edukasi untuk dewasa
Indikator Medis
- Pemeriksaan fisik paru: perbaikan mengi dan slem
- Peak flow rate
- Peak cough flow
- Peningkatan jarak jalan 6MWT dan METs
- Asthma control test (ACT)
Kepustakaan
1. Global Initiative for Asthma (GINA). (2016). Global Stategy for Asthma
Management and Prevention.
2. Schultz K, Seidl H, Jelusic D, Wagner R, Wittmann M, Faller H et al. Effectiveness of
pulmonary rehabilitation for patients with asthma: study protocol of a randomized
controlled trial (EPRA). BMC Pulmonary Medicine. 2017;17(1).
3. Santoso B, Rochman F, Marlini A, Nuhonni S, Soebadi R, Ugahary M et al. Perdosri White
Book. Jakarta: Perdosri; 2012.
4. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014.
5. Tulaar A, Tamin T, Rachmawati M, Kumalasari , Putra Het al. Pedoman Standar
Pelayanan Medik. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
Indonesia . Jakarta: Perdosri; 2019.
6. Perhimpunan dokter Paru Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan Asma.
2017.
Pengertian
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari
bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli,
serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas
setempat.
Anamnesis
- Sesak napas
- Demam
- Kejang
- Gelisah
- Pernapasan cepat, dangkal
- Napas cuping hidung dan pucat disekitar mulut dan hidung
- Batuk mula -mula kering menjadi produktif
- Kadang disertai muntah dan diare
- Penurunan kesadaran
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan umum (tanda vital, saturasi oksigen, tingkat kesadaran,
Skala Borg).
- Pemeriksaan respirasi (inspeksi – palpasi – perkusi – auskultasi, terutama
pola napas, ekspansi dada dan penggunaan dan retraksi otot-otot
pernapasan tambahan yang dapat menyebabkan spasme otot tersebut).
Tanda distres respirasi: retraksi interkostal dan substernal, nasal flaring,
takipnea atau apnea, expiratory grunting, sianosis dan pucat, seesaw
pattern pada abdomen dan dinding dada atau head bobbing.
- Pemeriksaan postur.
- Pemeriksaan fungsi:
1. Pemeriksaan kemampuan batuk: peak flow rate, peak cough flow,
Maximum Insufflation Capacity (MIC)*
2. Pemeriksaan fungsi otot napas: inspeksi, palpasi otot napas sekunder
Maximum Inspiratory Pressure (MIP)*, Maximum Expiratory Pressure
(MEP)*
3. Pemeriksaan fungsi paru: Single Breath Counting Test
4. Pemeriksaan kebugaran kardiorespirasi:
a. Uji Lapangan: sit to stand, uji jalan (uji jalan 6 menit, four meter gait
speed, 200 meter gait speed), Step Test (Harvard step test, Queen’s
college, 2 minutes step test, 3 minutes step test, 6 minutes step test)
5. Pemeriksaan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS)
Diagnosis Banding
- PPOK
- Asma
- Edema paru
- Bronkiektasis
- Kanker paru
Diagnosis Fungsional
- Gangguan efektivitas bersihan jalan napas
- Gangguan kontrol pernapasan
- Gangguan kebugaran kardiorespirasi
- Gangguan fleksibilitas atau mobilitas dinding toraks
- Gangguan kekuatan dan kebugaran otot napas dan otot perifer
- Gangguan pekerjaan
Pemeriksaan Penunjang
- X-foto toraks
- Laboratorium darah rutin, analisa gas darah (AGD)
Sit-to-Stand Test I A
Latihan Umum
Latihan Ketahanan I A
Latihan Resistensi/Kekuatan I A
Fisioterapi Dada II B
Latihan Pernapasan I A
Nebulisasi I A
Edukasi
- Hindari melakukan aktivitas berat untuk sementara waktu
- Minum banyak cairan untuk membantu mengencerkan lendir dan
mengurangi rasa tidak nyaman saat batuk
- Pakai masker apabila ingin bepergian atau berinteraksi dengan orang lain
agar tidak menularkan infeksi
- Hindari rokok dan minum alkohol
- Perhatikan asupan makanan
Prognosis Fungsional
Ad bonam bila infeksi telah teratasi dan tidak ada komplikasi lain
Indikator Medis
- Pemeriksaan fisik paru (perbaikan ronki dan slem)
- PCF
- Peningkatan jarak tempuh 6MWT (MCID 27m dan METs)
Kepustakaan
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid II edisi V. Jakarta: Interna Publishing; 2014.
2. José A, Dal Corso S. Inpatient rehabilitation improves functional capacity, peripheral
muscle strength and quality of life in patients with community-acquired pneumonia: a
randomised trial. Journal of Physiotherapy. 2016;62(2):96-102.
3. Momosaki R. Rehabilitative management for aspiration pneumonia in elderly patients. J
Gen Fam Med. 2017;18(1):12–15.
4. Bach JR, Altschuler E.Rehabilitation of the Patientwith Repiratory Disfunction.In:
DeLisa’s Physcical Medicine and RehabilitationPrinciples and Practice. 5thed. Lippincott
Williams &Wilkins; 2011.p. 1099-1123N.
5. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014.
6. Jain V, Vashisht R, Yilmaz G, Bhardwaj A. Pneumonia pathology. National Library of
Medicine. April 12th, 2022
Pengertian
Bronkiektasis adalah penyakit paru-paru kronis yang ditandai dengan
pelebaran saluran udara bronkial yang persisten dan seumur hidup dan
melemahnya mekanisme transportasi mukosiliar fungsi karena infeksi
berulang yang berkontribusi terhadap invasi bakteri dan mukus yang
berkumpul di seluruh pohon bronkial.
Anamnesis
- Batuk berdahak,
- Sesak napas,
- Hemoptysis,
- Nyeri dada pleuritik,
- Fatigue,
- Menurunnya berat badan,
- Riwayat masalah fungsional,
- Riwayat psikososial,
- Riwayat obat/alergi,
- Riwayat medik/operasi,
- Riwayat keluarga.
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan umum (tanda vital, saturasi oksigen, end tidal CO2*, skala
Borg).
- Pemeriksaan respirasi (inspeksi – palpasi – perkusi – auskultasi, terutama
pola napas, ekspansi dada dan penggunaan dan retraksi otot-otot
pernapasan tambahan yang dapat menyebabkan spasme otot tersebut).
- Pemeriksaan postur
- Pemeriksaan muskuloskeletal.
- Pemeriksaan fungsi:
1. Pemeriksaan kemampuan batuk: peak flow rate, peak cough flow)*
2. Pemeriksaan fungsi otot napas: inspeksi, palpasi otot napas sekunder
Maximum Inspiratory Pressure (MIP)*, Maximum Expiratory Pressure
(MEP)*
3. Pemeriksaan fungsi paru: Spirometri, Single Breath Counting Test
4. Pemeriksaan kebugaran kardiorespirasi:
a) Uji Lapangan: sit to stand, uji jalan (uji jalan 6 menit, four meter gait
speed, 200 meter gait speed, Incremental Shuttle Walk Test (ISWT)),
Step Test (Harvard step test, Queen’s college, 2 minutes step test, 3
minutes step test, 6 minutes step test)
b) Uji latih laboratorium*:
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis dan hasil pemeriksaaan radiografi
Diagnosis Banding
- Pneumonia
- Asma
- Penyakit paru obstruktif kronis
- Bronkitis
- Cystic fibrosis
- Emfisema
- Gastroesophageal reflux disease
- Tuberkulosis
- Defisiensi alfa 1 antitripsin
Diagnosis Fungsional
- Gangguan kebugaran kardiorespirasi
- Gangguan kontrol pernapasan
- Gangguan fleksibilitas atau mobilitas dinding toraks
- Gangguan kekuatan dan kebugaran otot napas dan otot perifer
- Gangguan postur
- Gangguan ambulasi/mobilitas
- Gangguan aktivitas kegiatan sehari-hari
- Gangguan pekerjaan
- Gangguan efektivitas bersihan jalan napas
Pemeriksaan Penunjang
- Spirometri
- X-foto toraks
- CT toraks
Kriteria Penghentian
- Durasi program rehabilitasi respirasi minimal selama 8-12 minggu akan
meningkatkan kapasitas olahraga dan kualitas hidup secara signifikan.
- Latihan dihentikan bila muncul gejala SpO2<80% yang tidak bisa
diperbaiki dengan suplemen oksigen, kram otot, nyeri dada, penurunan
kesadaran, sesak napas yang tidak tertahankan.
- Pertambahan jarak pada uji jalan 6 menit sebesar 30 meter merupakan
salah satu dan bukan satu-satunya parameter perbaikan klinis yang
bermakna dalam proses rehabilitasi.
- Namun karena tujuan rehabilitasi yang paling utama adalah peningkatan
kualitas hidup, latihan akan diterminasi setelah target individual tercapai.
Target individual ini dibuat saat asesmen awal KFR dan dilakukan berkala
untuk monitoring dan evaluasi.
Tingkat Evidens
Peringkat Bukti Asesmen Disabilitas Akibat Bronkiektasis
Peringkat
Asesmen Rekomendasi
Bukti
Sit-to-Stand Test I A
Latihan Umum
Latihan Ketahanan I A
Latihan Resistensi/Kekuatan I A
Fisioterapi Dada II B
Latihan Pernapasan I A
Nebulisasi I A
Spirometri Insentif I A
Edukasi
Latihan pernapasan ditujukan untuk mengurangi dan mengontrol sesak
napas penderita. Teknik latihan ini meliputi pernapasan diafragma, dan
pursed-lips breathing guna memperbaiki ventilasi dan mensinkronkan kerja
otot abdomen dan toraks.
Prognosis Fungsional
Ad bonam
Indikator Medis
- Peningkatan PCF
- Peningkatan jarak jarak 6MWT
- Peningkatan METs
- Chronic respiratory quesionnaire
Kepustakaan
1. Nasution A, Tulaar A, Paulus A, Aliwarga A et al. Panduan Pelayanan Klinis Kedokteran
Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta : Perdosri ;2012.
2. Vanfleteren M, Koopman M, Spruit M, Pennings H, Smeenk F, Pieters W et al.
Effectiveness of Pulmonary Rehabilitation in Patients With Chronic Obstructive
Pulmonary Disease With Different Degrees of Static Lung Hyperinflation. Archives of
Physical Medicine and Rehabilitation. 2018;99(11):2279-2286.e3.
Pengertian
Penyakit pleura adalah penyakit yang mempengaruhi jaringan yang
menutupi bagian luar paru-paru dan melapisi bagian dalam rongga dada.
Beberapa tipe penyakit pleura yaitu pleurisy, efusi pleura, pneumotoraks,
hemotoraks, dan tumor pleura.
Anamnesis
- Nyeri dada saat menarik napas atau batuk atau bersin
- Batuk
- Sesak napas
- Demam
- Turunnya berat badan
- Fatigue
- Pernapasan cepat, dangkal
- Peningkatan nadi
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan umum (tanda-tanda vital, saturasi oksigen, tingkat
kesadaran, skala Borg).
- Pemeriksaan nyeri lokalis area chest tube dilakukan berkala, ditentukan
causa nyeri dan dampak nyeri pada mobilitas dinding dada.
- Pemeriksaan respirasi (inspeksi – palpasi – perkusi – auskultasi, terutama
pola napas, ekspansi dada dan penggunaan dan retraksi otot-otot
pernapasan tambahan yang dapat menyebabkan spasme otot tersebut).
Tanda distres respirasi: retraksi interkostal dan substernal, nasal flaring,
takipnea atau apnea, expiratory grunting, sianosis.
- Pemeriksaan postur, ROM dan mobilitas toraks.
- Pemeriksaan fungsi:
1. Pemeriksaan kemampuan batuk: peak flow rate, peak cough flow,
2. Pemeriksaan fungsi otot napas: inspeksi, palpasi otot napas sekunder
Maximum Inspiratory Pressure (MIP)*, Maximum Expiratory Pressure
(MEP)*
3. Pemeriksaan fungsi paru sederhana: Single Breath Counting Test
4. Pemeriksaan kebugaran kardiorespirasi:
a. Uji Lapangan: sit to stand, uji jalan (uji jalan 6 menit, four meter gait
speed, 200 meter gait speed), Step Test (Harvard step test, Queen’s
college, 2 minutes step test, 3 minutes step test, 6 minutes step test)
b. Uji latih laboratorium*:
- Ergocycle (Sub-maximum, Maximum*)
- Treadmill (Sub-maximum, Maximum*)
Kriteria Diagnosis
Diagnosis Banding
- Keganasan
- TB paru
- Pneumonia
- Emboli paru
- Infeksi jamur
- Gagal jantung kongestif
Diagnosis Fungsional
- Gangguan efektivitas bersihan jalan napas
- Gangguan kontrol pernapasan
- Gangguan kebugaran kardiorespirasi
- Gangguan fleksibilitas atau mobilitas dinding toraks
- Gangguan kekuatan dan kebugaran otot napas dan otot perifer
- Gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari
- Gangguan pekerjaan
Pemeriksaan Penunjang
- X-foto toraks
- Laboratorium darah rutin, analisa gas darah (AGD)
- CT scan toraks
- Thoracentesis
- Ultrasonografi
- Biopsi
Tingkat Evidens
Peringkat Bukti Asesmen Disabilitas Akibat Penyakit Pleura
Asesmen Peringkat Bukti Rekomendasi
Sit-to-Stand Test I A
Latihan Umum
Latihan Ketahanan I A
Latihan I A
Resistensi/Kekuatan
Fisioterapi Dada II B
Latihan Pernapasan I A
Nebulisasi I A
Edukasi
- Hindari melakukan aktivitas berat untuk sementara waktu
- Minum banyak cairan untuk membantu mengencerkan lendir dan
mengurangi rasa tidak nyaman saat batuk
Prognosis Fungsional
Ad bonam bila infeksi telah teratasi dan tidak ada komplikasi lain
Indikator Medis
- Pemeriksaan fisik paru
- Perbaikan skala sesak
- X foto toraks (pengembangan paru)
- Peningkatan jarak jalan 6MWT dan METs
- ICF core set
Kepustakaan
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid II edisi V. Jakarta: Interna Publishing; 2014.
2. José A, Dal Corso S. Inpatient rehabilitation improves functional capacity, peripheral
muscle strength and quality of life in patients with community-acquired pneumonia: a
randomised trial. Journal of Physiotherapy. 2016;62(2):96-102.
3. Momosaki R. Rehabilitative management for aspiration pneumonia in elderly patients. J
Gen Fam Med. 2017;18(1):12–15.
4. Bach JR, Altschuler E.Rehabilitation of the Patientwith Repiratory Disfunction.In:
DeLisa’s Physcical Medicine and RehabilitationPrinciples and Practice. 5thed. Lippincott
Williams &Wilkins; 2011.p. 1099-1123N.
5. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014.
6. Light RW. Diagnostic principles in pleural disease. Eur Respir J. 1997 Feb;10(2):476-81.
doi: 10.1183/09031936.97.10020476. PMID: 9042652.
7. Light RW. Diagnostic principles in pleural disease. Eur Respir J. 1997 Feb;10(2):476-81.
doi: 10.1183/09031936.97.10020476. PMID: 9042652.
Pengertian
Gangguan paru restriktif ditandai dengan berkurangnya volume paru-paru,
baik karena perubahan parenkim paru-paru atau karena penyakit pleura,
dinding dada, atau alat neuromuskular.
Anamnesis
- Batuk,
- Sesak napas,
- Deformitas dinding dada,
- Riwayat penyakit neuromuskular
- Riwayat masalah fungsional,
- Riwayat psikososial,
- Riwayat obat/alergi,
- Riwayat medik/operasi,
- Riwayat keluarga.
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan umum (tanda vital, saturasi oksigen, end tidal CO2*, mMRC,
skala Borg).
- Pemeriksaan respirasi (inspeksi – palpasi – perkusi – auskultasi, terutama
pola napas, ekspansi dada dan penggunaan dan retraksi otot-otot
pernapasan tambahan yang dapat menyebabkan spasme otot tersebut).
- Pemeriksaan postur, keseimbangan (time up and go, Romberg Test,
Functional Reach Test), dan gait.
- Pemeriksaan muskuloskeletal (terutama pemeriksaan skoliosis dan
kifosis).
- Pemeriksaan neurologis (terutama untuk penyakit neuromuskular).
- Pemeriksaan fungsi:
1. Pemeriksaan kemampuan batuk: peak flow rate, peak cough flow,
Maximum Insufflation Capacity (MIC)*
2. Pemeriksaan fungsi otot napas: inspeksi, palpasi otot napas sekunder
Maximum Inspiratory Pressure (MIP)*, Maximum Expiratory Pressure
(MEP)*, USG otot diafragma*
3. Pemeriksaan fungsi paru: Spirometri, Single Breath Counting Test
4. Pemeriksaan kebugaran kardiorespirasi:
a) Uji Lapangan: sit to stand, uji jalan (uji jalan 6 menit, four meter gait
speed, 200 meter gait speed, Incremental Shuttle Walk Test (ISWT)),
Step Test (Harvard step test, Queen’s college, 2 minutes step test, 3
minutes step test, 6 minutes step test)
b) Uji latih laboratorium*:
Kriteria Diagnosis
Gangguan Oksigenasi Primer :
- Fungsi paru : VC <70%prediksi
- SpO2 <90%
Gangguan Ventilasi Primer :
- SpO2 <90%, EtCO2 <45 cmH20 (6,7 kPa)
- VC <70 % prediksi
- PCF <270 L/menit
Diagnosis Banding
Gangguan paru restriksi dapat disebabkan oleh:
1. Gangguan struktur intrinsik: idiopathic pulmonary fibrosis (IPF),
sarkoidosis, pneumonia, sistemik sklerosis, terapi radiasi, obat-obatan
tertentu.
2. Gangguan struktur ekstrinsik: skoliosis, kyphoscoliosis, obesitas,
penyakit pleura, penyakit neuromuscular (seperti distrofi muskular,
amyotrophic lateral sclerosis, dan sebagainya).
Diagnosis Fungsional
- Gangguan kebugaran kardiorespirasi
- Gangguan kontrol pernapasan
- Gangguan fleksibilitas atau mobilitas dinding toraks
- Gangguan kekuatan dan kebugaran otot napas dan otot perifer
- Gangguan postur
- Gangguan ambulasi/mobilitas
- Gangguan keseimbangan
- Gangguan aktivitas kegiatan sehari-hari
- Gangguan pekerjaan
- Gangguan efektivitas bersihan jalan napas
Pemeriksaan Penunjang
- Spirometri
- X-foto toraks
- CT toraks
Kriteria Penghentian
- Durasi program rehabilitasi respirasi minimal selama 8-12 minggu akan
meningkatkan kapasitas olahraga dan kualitas hidup secara signifikan.
- Sesi Latihan dihentikan bila muncul gejala SpO2<80% yang tidak bisa
diperbaiki dengan suplemen oksigen, kram otot, nyeri dada, penurunan
kesadaran, sesak napas yang tidak tertahankan.
Tingkat Evidens
Peringkat Bukti Asesmen Disabilitas Akibat Gangguan Paru Restriktif
Asesmen Peringkat Bukti Rekomendasi
Sit-to-Stand Test I A
Cardiopulmonary Exercise I A
Testing (CPET)
Latihan Umum
Latihan Ketahanan I A
Latihan Resistensi/Kekuatan I A
Fisioterapi Dada II B
Latihan Pernapasan I A
Nebulisasi I A
Ventilasi Non-Invasif I A
Spirometri Insentif I A
Edukasi
Latihan pernapasan ditujukan untuk mengurangi dan mengontrol sesak
napas penderita. Teknik latihan ini guna memperbaiki ventilasi dan
mensinkronkan kerja otot abdomen dan toraks.
Prognosis Fungsional
Bervariasi tergantung penyebabnya
Indikator Medis
- Normoventilasi
- Kemampuan bersihan mukus saluran napas
- Tidak ada infeksi paru/ saluran napas
- Jarak tempuh uji jalan 6 menit dan METs sesuai target fungsional
Kepustakaan
1. Nasution A, Tulaar A, Paulus A, Aliwarga A et al. Panduan Pelayanan Klinis Kedokteran
Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta : Perdosri ;2012.
Pengertian
Sindrom pasca Covid-19 adalah individu dengan riwayat Covid-19
terkonfirmasi maupun probable. Biasanya 3 bulan dari onset munculnya
gejala Covid-19 dan bertahan hingga setidaknya 2 bulan dan tidak dapat
dijelaskan dengan diagnosa alternatif lainnya.
Anamnesis
- Pasien pernah terkonfirmasi Covid-19 atau probable.
- Terdapat gejala/gangguan paru dan pernapasan yang menetap
setidaknya 2 bulan sejak awitan gejala Covid-19
- Terdapat salah satu atau lebih gejala dan/atau tanda berikut :
- Fatigue
- Sesak napas/napas berat/napas terengah-engah/lekas lelah
- Gangguan fungsi kognisi
- Secara umum mengganggu fungsi aktivitas harian
- Batuk kering atau berdahak
- Nyeri dada
- Tenggorokan sakit atau gatal
Gejala dapat persisten, fluktuatif, dan relaps seiring waktu
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan umum (tanda vital, pemeriksaan fisik paru)
- Skala sesak
- Skala nyeri
- Evaluasi kognisi
- Evaluasi aktivitas harian
- Penilaian kualitas hidup (kuesioner)
- Pemeriksaan fungsi:
1. Pemeriksaan kemampuan batuk: peak flow rate, peak cough flow
(dilakukan pada pasien yang sudah tidak dalam fase eksaserbasi)
2. Pemeriksaan fungsi otot napas: inspeksi, palpasi otot napas sekunder
3. Pemeriksaan fungsi paru: spirometri, Single Breath Counting Test
(dilakukan pada pasien yang sudah tidak dalam fase eksaserbasi)
4. Pemeriksaan kebugaran kardiorespirasi:
a. Uji Lapangan: sit to stand, uji jalan (uji jalan 6 menit, four meter gait
speed, 200 meter gait speed, Incremental Shuttle Walk Test (ISWT)),
Step Test (Harvard step test, Queen’s college, 2 minutes step test, 3
minutes step test, 6 minutes step test)
b. Uji latih laboratorium*:
- Ergocycle (Sub-maximum, Maximum*)
Kriteria Diagnosis
- Waktu minimum periode dari onset gejala (atau dari sejak terkonfirmasi
positif untuk yang tanpa gejala) adalah 3 bulan
- Durasi gejala yang muncul setidaknya 2 bulan
- Gejala berupa: gangguan kognisi, fatigue, napas pendek, nyeri, gangguan
tidur, takikardia, dll
- Gejala dapat fluktuatif, meningkat, onset baru, persisten, atau relaps
Diagnosis Banding
- Nasofaringitis atau faringitis
- Bronkitis akut
- Pneumonia bakterial
- Tuberkulosis paru
- Penyakit paru interstitial
- Emboli paru
- Gagal jantung
- Gagal ginjal
- Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
Diagnosis Fungsional
- Gangguan kontrol pernapasan
- Gangguan kekuatan otot perifer dan pernapasan
- Gangguan postur
- Gangguan kebugaran kardiorespirasi
- Gangguan aktivitas kegiatan sehari-hari
- Gangguan ambulasi/mobilitas
- Gangguan kognisi
- Retensi sputum
- Gagal napas
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium :
- Darah lengkap
- SGOT, SGPT, ureum, kreatinin
- Gula darah, HbA1c
- Pemeriksaan D-dimer, PT, APTT, fibrinogen
Tatalaksana KFR
- Kontrol pernapasan, pernapasan diafragma secara signifikan
memperbaiki usaha napas, mengurangi kepanikan pasien akibat sesak
napas.
- Latihan kardiorespirasi dengan intensitas moderate, 60% dari target
denyut jantung sesuai dengan rumus karvonen. Durasi tidak lebih dari 60
menit, 150 menit/minggu. Jenis latihan : berjalan sesuai target denyut
jantung, sepeda statis, treadmil, naik turun tangga, semua diukur dengan
target denyut jantung dan skala Borg/modifikasi Borg.
- Latihan bersihan jalan napas: Active Cycle Breathing Technique (ACBT),
Autogenic Drainage (AD), vibrasi, Postural Drainage. BIla diperlukan alat
bantu : Acapella, Flutter, chest wall Oscillation/vibration.
- Latihan spirometri insentif
- Latihan penguatan otot pernapasan
- Latihan penguatan otot perifer dan lingkup gerak sendi aktif pada
keempat ekstremitas karena adanya kelemahan otot pada ekstremitas
atas dan bawah, khususnya otot quadriceps dan hamstring. Latihan
penguatan otot dilakukan hingga 3 set dengan 10 repetisi. Latihan dengan
dumble, atau beban badan, isotonik, isokinetik, hindari kontraksi
isometrik.
- Latihan kognisi sesuai kondisi pasien
- Manajemen nyeri kronik jika dibutuhkan
Edukasi
- Kebersihan personal dan lingkungan
- Etika batuk dan bersin
- Tidak merokok
- Menggunakan masker
- Mencuci tangan teratur
- Menjaga jarak dan menghindari kerumunan
- Bila keluhan memburuk segera ke pelayanan kesehatan
- Disarankan vaksinasi influenza dan pneumokokus sesuai rekomendasi
profesi
Indikator Medis
Peningkatan jarak tempuh, uji jalan 6 menit, dan capaian METs sesuai target
aktivitas
Kepustakaan
1. Satgas Covid-19 Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2021.
2. Tulaar A, Tamin T, Rachmawati M, Kumalasari , Putra Het al. Pedoman Standar
Pelayanan Medik. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
Indonesia . Jakarta: Perdosri; 2019.
3. Ivena, Sudiyono N, Jim E, Pohan.Rehabilitasi Medik Pada Sindrom Dekondisi Pasca
Covid-19 Derajat Berat. Departemen Rehabilitasi Medik, RS Atma Jaya.Damianus
Journal of Medicine Vol 20 no 2. 2022.
4. Sutrisno, Pane R,Andrianto et al. Rehabilitasi Medik Pasca Menderita Covid-19. Ikatan
Dokter Indonesia Jawa Timur. 2021.
5. A clinical case definition of post covid-19 condition by a Delphi consensus.WHO.2021
6. Pedoman Tatalaksana Rehabilitasi COVID-19. Ed2. PB PERDOSRI. 2021
Pengertian
Komplikasi respirasi pada penyakit neuromuskular merupakan penyebab
utama morbiditas dan mortalitas. Ditandai dengan gangguan restriksi akibat
kelemahan otot pernapasan progresif. Pada akhirnya akan menyebabkan
alveolar hipoventilasi, hiperkapnia, kesulitan untuk batuk dan insufisiensi
ventilasi perfusi berujung pada gagal napas kronis sesuai perjalanan
penyakit.
Anamnesis
- Gejala kesulitan bernapas, ketidakmampuan batuk dan mengeluarkan
lendir dari saluran napas. gangguan tidur, letargi, gangguan konsentrasi
belajar dan bekerja sebagai gejala retensi CO2 kronis.
- Riwayat onset penyakit neuromuskular yang berbeda menentukan
progresivitas yang lambat atau cepat.
- Riwayat aktivitas harian
- Riwayat kemampuan batuk dan makan
Pemeriksaan Fisik
- Status generalis
- Tanda vital
- Pemeriksaan respirasi dan jantung (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi)
- Pemeriksaan saturasi oksigen dan EtCO2
- Pemeriksaan kemampuan batuk (peak cough flow dan assisted peak flow)
- Pemeriksaan kekuatan otot napas (tekanan ekspirasi maksimum, tekanan
inspiratori maksimum, sniff diaphragma imaging) dan ultrasonografi
diafragma untuk melihat gerakan diafragma)
- Pemeriksaan kapasitas vital dan maximum insufflation capacity dalam 2
posisi
- Monitoring malam hari untuk menentukan adanya hipoventilasi
nokturnal dengan pemeriksaan non invasif gas darah : kadar EtCO2,
SpO2
- Pemeriksaan fungsi menelan
- Pemeriksaan vertebral alignment
Kriteria Diagnosis
- Gejala klinis retensi CO2
- Fungsi paru: VC : <70%, VC < 15 ml/kg, >20% drops from sitting to supine
- Gas darah non invasif : SpO2 :<90% EtCO2 : >45 cmH2) (6,7kPa)
Diagnosis Banding
Penyakit paru restriksi lainnya yang tidak disebabkan oleh penyakit
neuromuskuler
Diagnosis Fungsional
- Gangguan bersihan jalan napas
- Gangguan mobilisasi
- Gangguan tidur
- Gangguan aktivitas harian
- Gangguan kekuatan otot napas dan perifer
- Gangguan ventilasi pernapasan
Pemeriksaan Penunjang
- X-foto toraks
- EKG
- Ekokardiografi
- Video fluoroscopic feeding studies (VFFS)
- Fiberoptic evaluation of swallowing (FEES)
- Spirometri
- Pemeriksaan laboratorium
- Analisa gas darah
- Polisomnografi (PSG)
Tatalaksana KFR
- Latihan air stacking exercise dengan atau tanpa glotis buatan
- Latihan glossopharyngeal breathing
- Ventilatory support: penggunaan non invasive ventilator, Intermittent
Positive Pressure Ventilation (IPPV), atau tracheostomized-IPPV.
- Tatalaksana bersihan jalan napas: manual assisted cough, mechanical in-
exsufflation (mechanical cough assist)
- Tatalaksana pemeliharaan spinal alignment dan mobilitas dinding dada
- Tatalaksana nyeri sesuai kondisi pasien, terutama pada kondisi end of life
untuk menjaga kualitas hidup di akhir usianya
- Tatalaksana gangguan menelan
- Pencegahan infeksi paru berulang
- Dukungan psikologis
- Pelatihan care giver untuk asuhan mandiri di rumah jangka panjang.
- Energi konservasi pada aktivitas harian
Prognosis Fungsional
Dubia ad malam jika kapasitas vital dibawah 0,6 L dan atau setidaknya
didapatkan satu kali episode perawatan akibat gagal napas hiperkapnia
Indikator Medis
Normoventilasi dan tidak terjadi infeksi paru
Kepustakaan
1. Boentert M, Wenninger S, Sansone VA. Respiratory Involvement in Neuromuscular
Disorders. Curr Opin Neuro; 2017 Oct;30(5):529-537.
2. Bach JR, Altschuler E.Rehabilitation of the Patientwith Repiratory Disfunction.In:
DeLisa’s PhyscicalMedicine and RehabilitationPrinciples and Practice. 5thed. Lippincott
Williams &Wilkins; 2011.p. 1099-1123N.
3. Ambrosino, N. Carpene, M. Gherardi. Chronic respiratory care for neuromuscular
diseases in adults. Eur Respir J 2009; 34: 444–451.
4. Kang SW. Pulmonary Rehabilitation in Patients with Neuromuscular Disease. Yonsei
Medical Journal.Vol. 47, No. 3, pp. 307 - 314, 2006
5. Wang Z, Wilson M, Dobler CC, Morrow AS, et all. Noninvasive Positive Pressure
Ventilation in the home. Agency for Healthcare Research and Quality (US); 2019.
6. Wang CH, Finkel RS, Bertini ES, Schroth M, Simonds A, Wong B. Consensus statement
for standard of care in spinal muscular atrophy. J Child Neurol. 2007 Aug;22(8):1027-49
Pengertian
Spina Bifida adalah kelainan kongenital berupa defek pada tulang belakang
akibat tidak menutupnya mesoderm yang membentuk neural folds pada
perkembangan embrional. Spina bifida aperta bila terjadi herniasi medulla
spinalis melalui defek tulang belakang dan kulit diatasnya, tergantung
jaringan yang ikut menonjol disebut myelocele, meningocele atau
myelomeningocele. Disebut spina bifida occulta digunakan bila tidak terdapat
kelainan pada jaringan meningen atau neural di bawah jaringan tulang yang
mengalami defek.
Rehabilitasi Spina Bifida adalah suatu upaya memaksimalkan fungsi
penderita serta mencegah terjadinya disabilitas sekunder.
Anamnesis
- Riwayat keluarga
- Riwayat perinatal terutama gangguan pada trimester pertama kehamilan
- Adanya gejala seperti:
• Deformitas tulang belakang
• Meningocele, myelocele atau meningomyelocele
• Defisit motoris dan sensoris di bawah level lesi
• Neurogenic bowel dan bladder
Pemeriksaan Fisik
- Uji fungsi :
lingkup gerak sendi, kekuatan otot, lokomotor, bladder dan bowel,
melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari (AKS)
- Hidrosefalus
- Arnold-Chiari II malformation
- Tethered spinal cord
- Gangguan neurologis sesuai tipe dan level lesi medulla spinalis yang
sangat bervariasi, sering tidak komplit atau asimetris, gejala campuran
UMN dan LMN
- Gangguan sensoris dan disfungsi otonomik dengan instabilitas vasomotor
- Defek tulang belakang dengan penonjolan myelocele atau
meningomyelocele
- Kelainan tulang belakang: skoliosis, kifosis, hiperlordosis
- Deformitas anggota gerak : kontraktur, dislokasi hip, deformitas tungkai
dan kaki
- Gangguan saluran kemih bagian atas oleh refluks vesio-uretral, dissinergi
detrusor-sfingter, distensi kandung kemih atau kelainan struktural
Kriteria Diagnosis
- Anamnesis
- Pemeriksaan Fisik
- Uji Fungsi
- Pemeriksaan penunjang
Diagnosis Banding
- Mass lesions of the cord
- Diastematomyelia
- Cord cavitation and narrowing
- Tethered cord
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Lingkup gerak sendi (M62.9)
- Kekuatan otot (M62)
- Pola jalan (R26)
- Gangguan fungsi bladder dan bowel (R39 & R19)
Gangguan aktivitas:
- Kemampuan fungsional dan perawatan diri/AKS (Z73.6)
- Lokomotor (R27.8)
- Mobilisasi (R26)
Gangguan partisipasi:
- Pendidikan (Z55)
- Rekreasi dan leisure
Pemeriksaan Penunjang
- X ray
- MRI
- USG
- EMG
- Urodinamik
Edukasi
- Penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin timbul
- Pencegahan posisi tertentu yang berlebihan
- Teknik latihan dan program rehabilitasi di rumah sakit dan di rumah
- Aktivitas kehidupan sehari-hari yang dianjurkan (mungkin anak akan
membutuhkan bantuan dalam AKS-nya)
- Pentingnya anak tetap bersekolah dan bermain dengan teman-temannya
- Penggunaan orthosis atau alat bantu yang digunakan (bila ada)
Prognosis Fungsional
- Mobilisasi : ambulasi/transfer
- 37 % bayi menunjukkan perbaikan motorik dalam waktu seminggu
sesudah lahir
- 75 % anak bisa berjalan di luar rumah dengan atau tanpa alat
bantu/tindakan bedah/ortosis/terapi dan dukungan yang cukup
- 10 % mengalami gangguan bicara dan 13,4 % mengalami gangguan
pendengaran akibat kelainan konduksi atau sensorineural
- 75 % mempunyai tingkat intelegensi yang normal (IQ > 80), makin rendah
level lesi makin tinggi tingkat intelegensi. Pada kasus hidrosefalus 50 –
60 % mempunyai intelegensi normal
Indikator Medis
WEEFIM, 6 MWT, Kesiapan Sekolah
Kepustakaan
1. Perdosri, Tatalaksana Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi pada Anak, Jakarta, 2014
2. Brea CM, Munakomi S. Spina Bifida. [Updated 2022 Feb 9]. In: StatPearls [Internet].
Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559265/
3. Copp AJ, Adzick NS, Chitty LS, Fletcher JM, Holmbeck GN, Shaw GM. Spina bifida. Nat
Rev Dis Primers. 2015;1:15007. Published 2015 Apr 30. doi:10.1038/nrdp.2015.7
4. Richterová, R. , Kolarovszki, B. , Opšenák, R. . Management of Pediatric Patients with
Spina Bifida. In: Kolarovszki, B. , Messina, R. , Blè, V. , editors. Spina Bifida and
Craniosynostosis - New Perspectives and Clinical Applications [Internet]. London:
IntechOpen; 2021 [cited 2022 Sep 15]. Available from:
https://www.intechopen.com/chapters/77003 doi: 10.5772/intechopen.97237
Pengertian
Kelainan genetik trisomi pada kromosom 21 yang dapat berupa tipe trisomi
klasik, translokasi, maupun mosaik yang dapat menyebabkan fenotip yang
berbeda. Rehabilitasi pada Sindroma Down adalah suatu upaya yang
bertujuan untuk mencapai tingkat fungsional optimal sesuai usia dan
mencegah disabilitas sekunder pada penderita dengan Sindroma Down.
Anamnesis
- Keluhan utama didapatkan keterlambatan pada semua aspek
perkembangan anak, baik motorik, bahasa, personal sosial dan kognisi.
- Faktor resiko ; usia ibu di atas 35 tahun.
- Riwayat Perinatal: berat badan lahir rendah dan ukuran kepala lebih kecil
daripada neonatus seusia, gagal nafas , hiperbilirubinemia, sepsis,
kesulitan minum.
- Riwayat Postnatal: gangguan pertumbuhan dan perkembangan
- Gangguan perkembangan motorik kasar, motorik halus, hipotonia, bicara
dan bahasa, menelan dan makan, serta kognitif.
Dapat disertai penyakit penyerta yang lain misalnya kelainan jantung
bawaan, congenital defects of the gastrointestinal tract, gangguan
penglihatan, gangguan pendengaran, obstructive sleep apnea, gangguan
hormonal, acute lymphoblastic leukemia, obesitas.
Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi :
• Pangkal hidung cenderung datar, tulang pipi tinggi sehingga membuat
wajah terlihat datar dan hidung kecil.
• Fissure palpebra miring ke atas, jarak antara kedua mata lebar
(hipertelorisme)
• Kelainan mata juling, nystagmus , katarak, gangguan visus
• Kelainan gigi dan rahang.
• Macroglossia.
• Telinga kecil bulat, morfologi sederhana, rendah, serta cuping sangat
kecil atau bahkan tidak ada.
• Leher pendek dengan lipatan kulit longgar di bagian samping dan
belakang.
• Tangan dan kaki kecil
• Lipatan palmar tunggal (simian crease) di telapak tangan, pada satu
ataupun kedua tangan,.
Kriteria Diagnosis
- Anamnesis
- Pemeriksaan Fisik
- Uji Fungsi
- Pemeriksaan penunjang: Pemeriksaan Genetik
Diagnosis Banding
- Trisomy chromosom 18
- Hipotiroid Kongenital
- Fragile X Syndrome
- Prader Will Syndrome
- CMV Kongenital
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Makan (R13)
- Berkemih (R39)
- Lokomotor (R27.8)
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan Kromosom
- Pemeriksaan Hormon Tiroid
- Pemeriksaan Radiologi, USG, CT-Scan, MRI, EMG, Echokardiografi
- Tes IQ.
Edukasi
Edukasi keluarga mengenai :
- Penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin terjadi
- Pencegahan resiko terjadi dislokasi sendi
- Teknik latihan dan program rehabilitasi
- AKS anak (mungkin anak akan membutuhkan bantuan dalam AKS nya)
- Pentingnya anak bersekolah dan bermain dengan teman-temannya
- Penggunaan ortosis dan alat bantu mobilisasi (bila perlu)
Prognosis Fungsional
Prognosis Sindroma Down bergantung pada usia, gangguan fungsi yang
diderita dan waktu saat penanganan. Umumnya Sindroma Down mempunyai
prognosis yang baik jika intervensi diberikan lebih awal dan menyeluruh.
Indikator Medis
Pediatric Evaluation of Disability Inventory (PEDI), Functional Independence
Measure for Children (WeeFIM) ,Toddler and Infant Motor Evaluation (TIME),
kesiapan sekolah
Lampiran
Milestone Chart
Sumber: https://cmdss.org/wp-content/uploads/2017/07/milestone-chart.png
Pengertian
Muscular Dystrophy adalah kelainan distrofi otot yang bersifat progresif
disebabkan abnormalitas gen yang diturunkan secara X-linked ataupun
secara autosom.
Rehabilitasi Muscular Dystrophy adalah suatu upaya mengoptimalkan fungsi
penderita serta mencegah disabilitas sekunder.
Anamnesis
Riwayat keterlambatan dan atau kemunduran motorik, hipotoni, kesulitan
menaiki tangga, sering jatuh saat berjalan, berjalan berjinjit. Kelainan
dijumpai pada anak laki – laki (Duchenne Muscular Dystrophy, Becker MD,
Fascioscapulohumeral D, Emory Dryfus MD), kelemahan otot-otot semakan
bertambah dengan bertambahnya usia, kesulitan pernafasan dan menelan
pada tingkat lanjut, gangguan tidur.
Pemeriksaan Fisik
- Uji fungsi kekuatan otot:
• Otot aksial dan proksimal lebih lemah daripada distal
• Otot ekstensor lebih lemah dari fleksor
• Otot evertor lebih lemah dari invertor
• Otot abduktor lebih lemah dari aduktor
- Uji fungsi yang lain: lingkup gerak sendi, lokomotor, kemampuan
melakukan aktivitas sehari-hari, pernafasan (spirometri), obstructive
sleep apnea syndrome (OSAS), kebugaran, kontrol postur, kualitas hidup
- Pola jalan: berjalan berjinjit, gluteus medius gait, wide base, waddling
gait
- Gower’s Sign: kesulitan bangkit dari lantai (bertumpu pada lutut dan
tangan, lutut ekstensi sementara lengan ke depan selanjutnya lengan
menumpu pada paha sementara bangkit ke posisi tegak sehingga tercapai
ekstensi hip maksimal )
- Postur tubuh: hiperlordosis lumbal, skoliosis, Scapular winging,
- Pada posisi abduksi sendi bahu 90⁰ dan siku fleksi 90⁰ terlihat linier atau
oval depresi pada lipat posterior axilla karena hipertrofi m. deltoid
superiolateral dan m. infraspinatus inferomedial
- Hipertrofi otot betis
- Hipertrofi lidah (makroglosia)
- Pada FMD: wajah tanpa ekspresi karena kelemahan otot – otot orbikularis
okuli, zygomaticus, orbicularis oris. Kesulitan menutup mata tapi bukan
ptosis.
Kriteria Diagnosis
- Anamnesis
- Pemeriksaan Fisik
- Uji Fungsi
- Pemeriksaan penunjang: creatin kinase, LDH, SGPT, radiologis
Diagnosis Banding
- Miopati kongenital lain
- Kelainan metabolik
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Kekuatan otot (M62.9)
- Lingkup gerak sendi (M25)
- Lokomotor (R27.8)
- Kontrol postur (R62)
- Pernafasan (R94.2)
Gangguan aktivitas:
- Mobilisasi (R26)
- Kemampuan fungsional dan perawatan diri/AKS (Z73.6)
- Kesulitan makan (R63.3)
Gangguan partisipasi:
- Pendidikan (Z55)
- Hobi dan rekreasi
- Aktivitas dalam lingkungan keluarga (Z60)
Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium : serum creatinin kinase (CK) pada fase awal DMD & BMD
dapat ↑ 50 – 100 x normal. Pada CMD creatinin kinase dapat normal atau
sedikit meningkat. Jenis lain meningkat moderat, Pemeriksaan DNA
(menentukan mutasi gen yang menyebabkan tipe khusus dystrophia),
biopsi otot. Pada tahap akhir CK bisa normal atau mendekati normal
- Elektrodiagnosis : EMG dan konduksi saraf
- Foto thoraks, skoliosis
- Spirometri
- EKG atau ECHO
- Tes IQ
Edukasi
- Penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin timbul
- Postur tubuh yang benar pencegahan posisi tertentu yang berlebihan
- Teknik latihan dan program rehabilitasi di rumah sakit dan di rumah
- Aktivitas kehidupan sehari-hari anak (mungkin anak akan
membutuhkan bantuan dalam AKS-nya)
- Pentingnya anak tetap bersekolah dan bermain dengan teman-temannya
- Penggunaan alat bantu mobilisasi atau orthosis yang dipergunakan (bila
perlu)
- Fungsi pernafasan
- Fungsi tidur
Prognosis Fungsional
Tahap – tahap fungsional DMD
- Berjalan dan naik tangga tanpa bantuan
- Berjalan dan naik tangga dengan bantuan “railing”
- Berjalan dan naik tangga perlahan dengan bantuan “railing” (8 langkah
perlu waktu > 25 detik)
- Berjalan tanpa bantuan dan bangkit dari kursi tetapi tidak dapat naik
tangga
Indikator Medis
WEEFIM, 6 MWT, skala the Brooke Upper Extremity Scale & Egen
Klassifikation Scale untuk anggota gerak atas, skala Vignos untuk anggota
gerak bawah, The North Star Ambulatory Assesment (NSAA), Alberta Infant
Motor Scale, Hammersmith Functional Motor Scale, Gross Motor Function
Measure, Kesiapan Sekolah
Kepustakaan
1. Perdosri, Tatalaksana Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi pada Anak, Jakarta, 2014
2. Eng G.D : Disease of the Motor Unit. In. Pediatric Rehabilitation, edited by Gabriella E.
Molnar, M.D. Baltimore, USA, 2020
3. Mc. Donald. C.M : Neuromuscular Disease. In Pediatric Rehabilitation (sixth edition),
edited by Gabriella E. Molnar, M.D., FAAPMR & Michael A Alexander, M.D., FAAP,
FAAPMR. Philadelphia, 2020.
4. Birnkrant D.J, Diagnosis and management of Duchenne muscular dystrophy. Lancet
Neurology 2018
5. Gianola S, Castellini G, Pecoraro V, Monticone M, Banfi G, Moja L. Effect of Muscular
Exercise on Patients With Muscular Dystrophy: A Systematic Review and Meta-Analysis
of the Literature. Front Neurol. 2020;11:958. doi:10.3389/fneur.2020.00958
6. Atamturk H, Atamturk A. Therapeutic effects of aquatic exercises on a boy with Duchenne
muscular dystrophy. Journal of Exercise Rehabilitation. 2018;14(5):877-82.
doi:10.12965/jer.1836408.204
7. Bartels B, Montes J, van der Pol WL, de Groot JF. Physical exercise training for type 3
spinal muscular atrophy. Cochrane Database Syst Rev. 2019;3(3):CD012120.
doi:10.1002/14651858.CD012120.pub2
8. Bergsma A, Cup EH, Geurts AC, de Groot IJ. Upper extremity function and activity in
facioscapulohumeral dystrophy and limb-girdle muscular dystrophies: a systematic
review. Disabil Rehabil. 2015;37(12):1017-1032. doi:10.3109/09638288.2014.948138
9. Pedlow K, McDonough S, Lennon S, Kerr C, Bradbury I. Assisted standing for Duchenne
muscular dystrophy. Cochrane Database Syst Rev. 2019;10(10):CD011550.
doi:10.1002/14651858.CD011550.pub2
Pengertian
Spinal Muscular Atrophy (SMA) adalah penyakit akibat kelainan yang
diturunkan secara autosom resesif, yang ditandai dengan kelemahan dan
kerusakan otot sebagai akibat degenerasi pada sel tanduk depan sumsum
tulang belakang dan nukleus motorik di batang otak dengan pengecualian
traktus piramidal.
Rehabilitasi Spinal Muscular Atrophy adalah suatu upaya mengoptimalkan
fungsi penderita serta mencegah terjadinya kelainan sekunder akibat
kelemahan otot yang terjadi.
Anamnesis
- Riwayat neonatal: kesulitan menghisap, menelan, pernafasan, kelemahan
umum, kelumpuhan, sering aspirasi makanan
- Keterlambatan tahap perkembangan
- Pola berdiri atau jalan yang menunjukkan adanya kelemahan
- Saat mulai (onset), perjalanan penyakit, distribusi kelemahan
- Riwayat keluarga: pada autosom resesif, apakah ada kelainan yang sama
pada saudara pasien atau anggota keluarga besar. Dalam hal ini orangtua
pasien tidak harus ada kelainan.
Pemeriksaan Fisik
- Uji fungsi: lingkup gerak sendi, kekuatan otot, lokomotor, kemampuan
melakukan aktivitas sehari-hari, menelan.
- Hipotonia
- Kelumpuhan simetris yang progresif, proksimal lebih dari distal, tungkai
lebih daripada lengan.
- Inspeksi: kelemahan umum pada bayi yang terlihat sebagai kurang aktif
atau tidak aktif menendang maupun meraih. Pernafasan paradoksikal.
- Pada posisi telentang: posisi ekstremitas bawah terlihat posisi “frog-leg”,
sedang ekstremitas atas terlihat posisi “jug-handle”. Pada anak yang sudah
bisa berdiri terlihat kesulitan untuk bangkit dari lantai ke posisi berdiri
(Gower’s sign). Postur berdiri hiperlordosis. Pola jalan “waddling gait” dan
saat melangkah bagian jari kaki menyentuh lantai lebih dahulu (toe
walking), menyerupai Duchenne Muscular Dystrophy. Pada beberapa kasus
ada tremor pada tangan dan jari-jari.
- Palpasi : hipotoni otot, sensori normal.
- Kekuatan otot melemah simetris, ekstremitas bawah lebih lemah dari atas.
Bagian proksimal lebih lemah dari distal.
Kriteria Diagnosis
Klasifikasi menurut Konsorsium International S.M.A berdasarkan saat mulai
penyakit, kemampuan perkembangan motorik dan kemungkinan hidup,
yaitu :
- S.M.A tipe I (berat) : “Werdnig Hoffmann Disease”
- S.M.A tipe II (sedang)
- S.M.A tipe III (ringan): “Kugelberg Welander Disease”
Diagnosis Banding
- Amyotrophic Lateral Sclerosis
- Congenital Muscular Dystrophy
- Congenital Myopathies
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Lingkup gerak sendi (M25)
- Kekuatan otot (M62.9)
- Lokomotor (R27.8)
Gangguan Aktivitas
- Kemampuan fungsional dan perawatan diri/AKS (Z73.6)
- Menelan (R13)
Gangguan Partisipasi
- Pendidikan (Z55)
Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium (Serum creatin kinase ↑2-4X normal (SMA I & II), pada SMA
III creatin kinase bisa normal), Pemeriksaan DNA, EKG atau ECHO
- Elektrodiagnosis : EMG dan konduksi saraf
- Foto thoraks
- Foto seri skoliosis
- Pemeriksaan genetik
Edukasi
- Edukasi tentang penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin
timbul
- Edukasi pencegahan posisi tertentu yang berlebihan
- Edukasi teknik latihan dan program rehabilitasi
- Edukasi keluarga mengenai AKS anak (mungkin anak akan
membutuhkan bantuan dalam AKS nya)
- Edukasi pentingnya anak tetap bersekolah dan bermain dengan teman-
temannya
- Edukasi penggunaan orthosis dan alat bantu mobilisasi (bila perlu)
Prognosis Fungsional
Pada S.M.A tipe II dan III yang mencapai usia dewasa dapat ambulasi,
sebagian besar perlu kursi roda pada usia sekitar 30 tahun. Tidak ada
masalah dalam komunikasi. Fungsi berkemih dan defekasi serta diaphragma
tidak terganggu.
Indikator Medis
WEEFIM, 6 MWT, Hammersmith Functional Motor Scale f-Expanded (HFMSE),
the Children’s Hospital of Philadelphia Infant Test of Neuromuscular Disorder
(CHOP INTEND), Revised Upper Limb Module (RULM), Kesiapan Sekolah.
Kepustakaan
1. Perdosri, Tatalaksana Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi pada Anak, Jakarta, 2014
Pengertian
Birth Brachial Plexus Injury adalah trauma pada pleksus brakialis yang terjadi
saat proses kelahiran dan melibatkan anggota gerak atas mulai dari bahu,
punggung, dada, lengan dan jari-jari. Secara klinis terbagi atas trauma
pleksus brakhialis C5, C6, C7 (Erb’s Palsy) dan trauma pleksus brakhialis
C8, T1 (Klumpke’s palsy) dan pleksus brakialis total C5,C6,C7,C8 T1.
Rehabilitasi Birth Brachial Plexus Injury adalah suatu upaya untuk
mengoptimalkan fungsi penderita serta mencegah kelainan sekunder.
Anamnesis
Bayi memiliki riwayat lahir dengan bantuan vacuum/forcep dan
menyebabkan terjadinya distosia bahu.
Pemeriksaan Fisik
Uji fungsional :
- Uji kekuatan otot:
- Uji gerak sendi/fleksibilitas
- Uji fungsi sensori
- Uji keseimbangan dan koordinasi kompleks dengan pemberat
- Penilaian fungsi ekstremitas dan tulang belakang pada kasus
- kompleks yang memiliki pemberat dan atau komplikasi
- Uji fungsi aktivitas dan kualitas hidup (Wee FIM)
- Evaluasi ICF
Bahu anak biasanya tertahan pada posisi ekstensi, internal rotasi, dan
adduksi, ekstensi siku, pronasi lengan bawah, fleksi jari-jari dan pergelangan
tangan. Paralisis rombhoid, levator scapulae, serratus anterior,
subskapularis, deltoid, supraspinatus, infraspinatus, teres minor, biceps,
brakhialis, brakhioradialis, supinator, ekstensor longus pergelangan tangan,
jari-jar dan ibu jari dapat terjadi. Kemampuan menggenggam masih ada,
tetapi dapat terjadi ganguan sensori.
Dapat dijumpai gerakan substitusi misalnya gerakan bahu diputar ke medial
dengan pronasi lengan bawah dan fleksi pergelangan tangan saat
menggenggam suatu benda. Ada kalanya ditemukan suhu yang dingin dan
warna kebiruan pada lengan. Refleks tendon menurun atau hilang.
Kriteria Diagnosis
Kelemahan pada anggota gerak atas, unilateral, flaccid
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Kekuatan otot (M62.9)
- Lingkup gerak sendi (M25)
Gangguan Aktivitas
- Kemampuan fungsional dan perawatan diri/AKS (Z73.6)
Gangguan Partisipasi
- Bermain
- Pendidikan (Z55)
- Hobi dan rekreasi
- Aktivitas dalam lingkungan keluarga (Z60)
Pemeriksaan Penunjang
Elektromiografi dan studi hantaran saraf
Radiologi: X-ray, CT-scan, MRI,
Edukasi
Edukasi orang tua dan caregiver, tentang:
- Cedera saraf pleksus brachialis, derajat beratnya cedera, serta komplikasi
yang mungkin terjadi pasca cedera pleksus brachialis
- Penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin timbul
- Positioning dan handling yang benar
- Teknik latihan dan program rehabilitasi yang dilakukan di Rumah sakit
dan di rumah
Prognosis Fungsional
Sebagian besar bayi dengan Birth Brachial Plexus Injury akan mengalami
pemulihan secara spontan dalam waktu kurang lebih 3 sampai 4,5 bulan.
Bayi yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam 6 minggu pertama
kehidupan akan membaik secara spontan hingga memiliki fungsi normal.
Namun, bayi yang tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam 4
bulan pertama kehidupan akan lebih berisiko terhadap kecacatan jangka
panjang.
Indikator Medis
WEEFIM, Perkembangan motorik halus, Nottingham Sensory Assessment,
kekuatan otot
Kepustakaan
1. Richardson JK, Craig A. Rehabilitation of Patients with Neuropathies. In: Braddom RL et
al. Physical Medicine and Rehabilitation. 4th ed, Elsevier Saunders. Philadelphia; 2012.
p. 1481
2. Werner JM, Berggren J, Loiselle J, Lee GK. Constraint-induced movement therapy for
children with neonatal brachial plexus palsy: a randomized crossover trial. Dev Med
Child Neurol. 2021;63(5):545-51. doi:10.1111/dmcn.14741
3. Elnaggar RK. Integrated Electromyography: Discriminant Analysis and Prediction of
Recovery 3 to 6 Years After Brachial Plexus Birth Injury. Pediatr Phys Ther.
2020;32(2):120-8. doi:10.1097/PEP.0000000000000684
4. Ho ES, Roy T, Stephens D, Clarke HM. Serial casting and splinting of elbow contractures
in children with obstetric brachial plexus palsy. J Hand Surg Am. 2012;35(1):84-91.
doi:10.1016/j.jhsa.2009.09.014
5. Buchanan PJ, Grossman JAI, Price AE, Reddy C, Chopan M, Chim H. The Use of
Botulinum Toxin Injection for Brachial Plexus Birth Injuries: A Systematic Review of the
Literature. Hand (N Y). 2019 Mar;14(2):150-154. doi: 10.1177/1558944718760038.
Epub 2018 Mar 13. PMID: 29529875; PMCID: PMC6436136.
Pengertian
Kelainan pada bagian posteromedial dari proksimal fisis tibia yang
menyebabkan deformitas varus, procurvatum, dan rotasi internal tibia yang
bersifat progresif.
Anamnesis
- Anak dengan obesitas, onset kurang dari usia 10 tahun pada onset awal
atau infantile Blount disease dan onset lebih dari usia 10 tahun pada onset
lambat atau adolescent Blount disease.
- Riwayat ambulasi dini sebelum usia 1 tahun.
- Anak dengan keturunan Afrika atau Afrika-Amerika atau Afro-Karibia.
Pemeriksaan Fisik
- Uji fungsional:
• Uji fungsi lokomotor pada anak menggunakan Dynamic gait analysis
(di PPK III = RS Tipe A), Functional independence measure subskala
lokomotor (di PPK II = RS Tipe B), Timed up and go test (di PPK II = RS
Tipe C, D)
• Uji fungsi kelainan angulasi pada anak Goniometer (di PPK II & III = RS
tipe A, B, C, D)
• Uji fungsi kontrol postur pada anak menggunakan Pediatric Balance
Scale (di PPK III = RS Tipe A)
• Uji fungsi lingkup gerak sendi menggunakan Goniometer (di PPK II &
III = RS tipe A, B, C, D) dan fleksibilitas menggunakan Sit and reach
test (di PPK II = RS Tipe A, B, C, D)
• Uji fungsi kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (di PPK
II & III = RS tipe C dan D) dan Hand Held Dynamometer (di PPK II & III
= RS tipe A dan B)
- Deformitas pada tibia yaitu berupa varus, procurvatum dan rotasi internal
- Pola jalan: abduksi lutut yang meningkat, beban medial pada lutut yang
meningkat
- Perbedaan panjang tungkai bawah, pada onset lambat bisa didapatkan
deformitas varus pada distal dari femur
- Penonjolan pada proksimal dari epifisis tibialis media
- Nyeri tekan jarang ditemukan
- Efusi lutut jarang ditemukan
Kriteria Diagnosis
- Anamnesis
Diagnosis Banding
- Physiologic bowing
- Congenital bowing
- Rickets
- Ollier disease
- Deformitas pada tibia proksimal yang disebabkan oleh trauma
- Deformitas pada tibia proksimal yang disebabkan oleg radiasi atau infeksi
- Osteomyelitis
- Osteogenesis imperfecta
Diagnosis Fungsional
- Gangguan fungsi lokomotor pada anak (R27.8)
- Gangguan fungsi lingkup gerak sendi dan fleksibilitas (M62.9)
- Gangguan fungsi kekuatan otot (M62)
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan radiologi: untuk skrining fase awal dari Blount disease dapat
menggunakan pemeriksaan radiografi foto polos proyeksi antero-posterior
yang menunjukkan kedua kaki dari pinggul ke pergelangan kaki, pada
pemeriksaan ini varus dapat diukur. Proyeksi antero-posterior dan lateral
menunjukan ketidakselarasan varus yang medial dari metafisis tibia,
pelebaran dan tidak teraturnya kontur dari metafisis bagian medial yang
berbentuk seperti paruh, serta subluksasi dari lateral tibia.
- Pemeriksaan MRI: gambaran MRI dapat menunjukkan informasi struktur
pada kartilago, meniscus, dan ligamen, serta suplai darah ke lempeng
pertumbuhan. Pada epifisis dari tibia dengan pemeriksaan MRI
memungkinkan unutk mengukur kemiringan dari kartilago tibia, yang
merupakan parameter yang lebih akurat daripada kemiringan tulang tibia
yang diukur pada pemeriksaan radiografi.
- Pemeriksaan CT-scan: membantu untuk merencanakan tindakan bedah
pada pasien yang memiliki abnormalitas yang kompleks dengan osifikasi
lanjut.
Edukasi
- Edukasi tentang penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin
terjadi
- Edukasi mengenai stimulasi untuk meningkatkan kemampuan Bahasa
dan bicara anak
- Edukasi pentingnya anak tetap bersekolah dan bermain dengan teman-
temannya
- Edukasi teknik latihan dan program rehabiltasi
- Edukasi penggunaan orthosis dan alat bantu mobilisasi (bila perlu)
Prognosis Fungsional
Prognosis penyakit Blount bergantung pada usia dan derajat deformitas pada
saat penanganan. Umumnya tipe infantile mempunyai prognosis yang baik
dengan tingkat kekambuhan yang rendah jika ditangani dari fase awal.
Sedangkan akan menjadi progresif bila tidak ditangani.
Indikator Medis
Modified Functional Independence Measure for Children (modified WeeFIM),
Gross Motor Function Measure (GMFM), Gillette Functional Assessment
Questionnare (Gillette FAQ), dan Gross Motor Functional Scale (GMFCS).
Kepustakaan
1. Birch J. Blount Disease. Journal of the American Academy of Orthopaedic Surgeons.
2013;21(7):408-418
2. Ferguson J, Wainwright A. Tibial bowing in children. Orthopaedics and Trauma.
2013;27(1):30-41
3. Janoyer M. Blount disease. Orthopaedics & Traumatology: Surgery & Research.
2019;105(1):S111-S121
Pengertian
Palsi serebral adalah kelumpuhan otak karena adanya lesi non-progresif
pada otak yang belum matur, mengakibatkan kumpulan gejala klinis yang
heterogen, dengan karakteristik gangguan tonus otot, refleks tendon, refleks
primitif dan reaksi postural yang menghasilkan pola gerakan abnormal.
Rehabilitasi Palsi Serebral adalah suatu upaya untuk mengoptimalkan fungsi
penderita dan mencegah disabilitas sekunder.
Anamnesis
keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
prenatal, riwayat perinatal, riwayat perkembangan motorik-kasar-halus-
komunikasi/ wicara-personal sosial, riwayat psikososial, riwayat pendidikan,
riwayat keluarga.
Pemeriksaan Fisik
- Uji Fungsi luhur, lingkup gerak sendi, kekuatan otot, lokomotor,
komunikasi, kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, menelan
- Keadaan umum, komunikasi/wicara, drooling, swallowing, chewing,
nervi kranialis lainnya, keselarasan posisi kepala terhadap leher dan
batang tubuh, dan anggota gerak .
- Kemampuan visuospasial (VFCS)
- Thorax, jantung, paru, abdomen, genitalia, tulang belakang, ekstremitas,
reflex fisiologis, tonus postural, reflex primitive, LGS, MMT reaksi tegak,
koordinasi keseimbangan, pola gerakan volunter/ involunter.
Kriteria Diagnosis
- Penampilan motorik abnormal
• Spastik (pyramidal): monoplegia, diplegia, triplegia, kuadriplegia,
hemiplegia
• Diskinetik (ekstrapiramidal): atetosis, korea, koreoatetosis, distonia,
ataksia
• Campuran: spastik-diskinetik
- Perkembangan fungsional motorik anak terlambat
- Kelainan penyerta (tidak selalu ada): gangguan visual, pendengaran,
bicara, mental retardasi, epilepsi, psikologis, disabilitas intelektual
Diagnosis penyakit sesuai topografi, tipe gangguan tonus dan etiologinya.
Misalnya: paralisis serebral spastik diplegia prenatal
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Lingkup gerak sendi (M25)
- Kekuatan otot (M62.9)
- Lokomotor (R27.8)
- Komunikasi (R47.89)
- Kognisi (R41)
- Pernafasan (R94.2)
Gangguan Aktivitas
- Kemampuan fungsional dan perawatan diri/AKS (Z73.6)
- Mobilisasi (R26)
- Kesulitan makan dan menelan (R63.3/R13)
Gangguan Partisipasi
- Pendidikan (Z55)
- Hobi dan rekreasi
- Aktivitas dalam lingkungan keluarga (Z60)
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan laboratorium (terkait kelainan/impairment)
- Pemeriksaan radiologi (terkait kelainan/impairment yang menyertai)
Edukasi
Edukasi pasien dan orang tua, caregiver, tentang:
- penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin timbul program
rehabilitasi di rumah sakit yang kesinambungan
- Edukasi teknik latihan dan program rehabilitasi di rumah yang
berkesinambungan oleh keluarga
- Edukasi penggunaan orthosis atau alat bantu yang diperlukan
- Edukasi pasien dan keluarga untuk anak melakukan AKS secara mandiri
dengan bantuan sebatas diperlukan
- Edukasi tentang pendidikan yang sesuai
Prognosis Fungsional
Prognosis tergantung tipe tampilan motorik, perkembangan reflex, dan
kemampuan kognitif.
Indikator Medis
Milestone, GMFM, GMFCS, MACS, CFCS, EDACS, Visual Function
Classification System (VFCS), WEEFIM, 6MWT, Kesiapan sekolah
Kepustakaan
1. Mathew DJ, Wilson P. Cerebral Palsy, In: Molnar GE, Alexander MA, 6rd ed, Pediatric
Rehabilitation. Philadelphia: Hanley & Belfus, 2020, 193-217.
2. Moreau NG, Bodkin AW, Bjornson K, Hobbs A, Soileau M, Lahasky K. Effectiveness of
Rehabilitation Interventions to Improve Gait Speed in Children With Cerebral Palsy:
Systematic Review and Meta-analysis. Phys Ther. 2016;96(12):1938-54.
3. Aboutorabi A, Arazpour M, Ahmadi Bani M, Saeedi H, Head JS. Efficacy of ankle foot
orthoses types on walking in children with cerebral palsy: A systematic review. Ann Phys
Rehabil Med. 2017;60(6):393-402.
4. Lintanf M, Bourseul JS, Houx L, Lempereur M, Brochard S, Pons C. Effect of ankle-foot
orthoses on gait, balance and gross motor function in children with cerebral palsy: a
systematic review and meta-analysis. Clin Rehabil. 2018;32(9):1175-88.
5. Farag SM, Mohammed MO, El-Sobky TA, ElKadery NA, ElZohiery AK. Botulinum Toxin
A Injection in Treatment of Upper Limb Spasticity in Children with Cerebral Palsy: A
Systematic Review of Randomized Controlled Trials. JBJS Rev. 2020;8(3):e0119.
6. Bonouvrié LA, Becher JG, Vles JSH, Vermeulen RJ, Buizer AI, Group IS . The effect of
intrathecal baclofen in dyskinetic cerebral palsy: the IDYS trial. Ann Neurol 2019; 86:
79–90.
Pengertian
Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) merupakan suatu kelainan bentuk
kongenital pada kaki sehingga posisi tulang terfiksasi dalam adduksi,
supinasi, varus dan equinus disertai jaringan lunak nya.
Dapat terjadi sendiri (idiopatik) atau sebagai bagian dari suatu sindrom yang
terkait dengan berbagai kelainan neurologis atau neuromuskular, antara lain
spina bifida, spinal muscular atrophy. Pada CTEV idiopatik anggota gerak atas
normal.
Rehabilitasi pada CTEV adalah suatu upaya yang bertujuan untuk mencapai
posisi optimal kaki anak dan tingkat ambulasi fungsional optimal anak
sesuai usia dan mencegah terjadinya disabilitas sekunder.
Anamnesis
- Keluhan utama
- Riwayat prenatal, perinatal dan postnatal
- Gangguan perkembangan dapat terjadi keterlambatan berdiri dan berjalan
- Gangguan pada pola jalan
Pemeriksaan Fisik
- Status Generalis,
- Inspeksi: didapatkan equinus, varus, pada tumit dan dan inversi (plantar
fleksi, adduksi, supinasi) midfoot
- Tampak lipatan kulit yang dalam pada bagian posterior dan medial dari
tumit
- atrofi otot gastrocnemius disertai pemendekan tendon achilles
- pada bayi yang baru lahir atau berusia beberapa hari dilakukan tes
provokasi dengan melakukan dorsofleksi, pemeriksaan lingkup gerak
sendi, serta pemeriksaan neurologis.
Tanda-tanda Skor
Kaki tengah
- Lipatan medial:
• Beberapa lipatan halus 0
• 2 hingga 3 lipatan ringan 0,5
• Satu lipatan dalam 1
- Batas lengkung lateral
• Lurus 0
• Deviasi di tingkat metatarsal 0,5
• Deviasi pada sendi calcaneo-cuboid 1
- Kepala lateral talus
• Bergerak sepenuhnya 0
0,5
• Sebagian mobile
1
• Tetap
Kaki belakang
- Lipatan posterior
• Beberapa lipatan halus 0
• 2-3 lipatan ringan 0,5
Satu lipatan dalam 1
- Tumit yang kosong
• Kalkaneus dengan mudah teraba 0
• Teraba tetapi dalam 0,5
• Tidak teraba 1
- Equinus kaku
• Bisa dorsofleksi 0
• Dorsofleksi mencapai posisi 0,5
netral 1
Gambar 2 Skor Pirani
• Equinus kaku
Interpretasi:
0: tidak ada deformitas, 0,5: deformitas sedang, 1: deformitas berat.
Uji fungsi:
- Uji kekuatan otot
- Uji lingkup gerak sendi / fleksibilitas
- Uji Fungsi berkemih
- Uji Fungsi kemampuan fungsi & perawatan diri/ADL
- Uji Fungsi Lokomotor
- Uji Fungsi kelainan angulasi pada anak
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Lingkup gerak sendi dan fleksibilitas (M62.9)
- Motorik kasar pada anak (F82)
- Kekuatan otot (M62)
- Kontrol postur (R62)
Gangguan aktivitas:
- Kemampuan fungsi & perawatan diri/ADL (Z73.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Radiologi: foto radiografis., USG muskuloskeletal, CT-scan, MRI.
- Analisis pola jalan dan pola gerak
Edukasi
- Penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin timbul, dan
tatalaksana pengobatan serta prognosis
- Penggunaan ortosis termasuk cara dan lama penggunaan.
- Alat bantu mobilisasi (bila ada )
- Perawatan cast di rumah
- Keterampilan teknis orang tua untuk melakukan peregangan, posisi dan
program latihan
- Potensi rekurensi/relaps setelah terapi
- AKS anak (mungkin anak akan membutuhkan bantuan dalam AKS nya)
Indikator Medis
Pirani score, Pediatric Evaluation of Disability Inventory (PEDI), Functional
Independence Measure for Children (WeeFIM).
Kepustakaan
1. Gunalan, R. et al. Pattern of Presentation and Outcome of Short-term Treatment for
Idiopathic Clubfoot / CTEV with Ponseti Method; 2016:10(3), pp. 21–25.
2. Kumari, P. Congenital Clubfoot: A Comprehensive Review’, Orthopedics and Rheumatology
Open Access Journal, 2017:8(1).
3. Batti, S. El et al. Initial treatment of congenital idiopathic clubfoot: Prognostic factors’,
Orthopaedics & Traumatology: Surgery & Research; 2016. pp. 7–11.
doi:10.1016/j.otsr.2016.07.012.
4. PB PERDOSRI. Buku Panduan Uji Fungsi & Prosedur Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi.1st ed. Jakarta: PERDOSRI; 2019.
5. Bina S, Pacey V, Barnes EH, Burns J, Gray K. Interventions for congenital talipes
equinovarus (clubfoot). Cochrane Database of Systematic Reviews. 2020(5).
6. Gelfer Y, Wientroub S, Hughes K, Fontalis A, Eastwood DM. Congenital talipes
equinovarus: a systematic review of relapse as a primary outcome of the Ponseti method.
The Bone & Joint Journal. 2019 Jun;101(6):639-45.
7. Bertinatto R, Forlin E, Wustro L, Tolotti JO, de Souza GAL. Does the Presence of Clubfoot
delay the Onset of Walking? Rev Bras Ortop (Sao Paulo). 2020 Oct;55(5):637-41. doi:
10.1055/s-0040-1709201. Epub 2020 Jun 8. PMID: 33093730; PMCID: PMC7575361.
8. Lööf E, Andriesse H, André M, Böhm S, Iversen MD, Broström EW. Gross Motor Skills in
Children With Idiopathic Clubfoot and the Association Between Gross Motor Skills, Foot
Involvement, Gait, and Foot Motion. J Pediatr Orthop. 2019 Aug;39(7):359-65. doi:
10.1097/BPO.0000000000000964. PMID: 31305379.
Pengertian
Juvenile Idiopathic Arthtitis (JIA) didefinisikan sebagai arthritis pada satu
sendi atau lebih, durasi lebih dari 6 minggu, onset sebelum umur 16 tahun,
dan tanpa ada etiologi lain yang diketahui. Saat ini International League of
Associations for Rheumatology (ILAR) membagi klasifikasi JIA menjadi 7 yang
dikategori berdasarkan jumlah sendi yang terkena, ada atau tidak adanya
manifestasi ekstra artikular, dan ada atau tidak adanya marker tambahan
seperti rheumatoid factor (RF) dan HLA-B27.
Tujuan terapi pada JIA adalah mengendalikan gejala, mencegah kerusakan
sendi, mencapai pertumbuhan dan perkembangan normal, mempertahankan
fungsi dan level aktivitas normal.
Anamnesis
- Onset <16 tahun, Arthritis (nyeri sendi) terjadi minimal 6 minggu,
- Onset subtipe diartikan sebagai manifestasi yang terjadi selama 6 bulan
pertama yaitu:
pausiartikular (arthritis yang mengenai ≤4 sendi), poliartrikular (arthritis
yang mengenai ≥5 sendi), sistemik (JIA dengan demam intermitten
dan/atau tanpa ruam rematoid).
Pemeriksaan Fisik
- Uji fungsional
• Uji fungsi kemampuan fungsional dan perawatan diri/ADL Anak
menggunakan Modified Functional Independence Measure for Children
(WeeFIM).
• Uji fungsi lingkup gerak sendi menggunakan goniometer (di PPK II & III
= RS Tipe A,B,C,D) dan fleksibilitas menggunakan sit and reach test (di
PPK II = RS Tipe A,B,C,D)
• Uji fungsi lokomotor pada anak menggunakan Dynamic gait analysis
(di PPK III = RS Tipe A), Functional independence measure subskala
lokomotor (di PPK II = RS Tipe B), Timed up and go test (di PPK II = RS
Tipe C,D)
• Uji fungsi motorik halus pada anak menggunakan Peabody
Developmental Motor Scale 2 dan milestone perkembangan motorik
halus.
• Uji fungsi kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (di PPK
II & III = RS tipe C dan D) dan Hand Held Dynamometer (di PPK II & III
= RS tipe A dan B).
Kriteria Diagnosis
Adanya kumpulan heterogen arthritis inflamasi yang tidak diketahui
etiologinya dengan onset sebelum usia 16 tahun dan durasi minimal 6
minggu, setelah menyingkirkan penyebab sinovitis lainnya.
Prinsip klasifikasi JIA yaitu menyingkirkan kategori berikut ini:
a. Psoriasis atau riwayat psoriasis pada pasien atau first-degree relative
(orang tua, saudara, atau anak pasien)
b. Artritis pada laki-laki dengan positif HLA-B27 yang terdeteksi setelah
umur 6 tahun.
c. Ankylosing spondylitis, enthesitis related arthritis, sacroilitis dengan
inflammatory bowel disease, Reiter’s syndrome, atau acute interior uveitis,
atau riwayat penyakit tersebut pada first-degree relative.
d. Terdeteksinya IgM Rheumatoid Factor setidak dalam 2 kali pemeriksaan
dengan jarak 3 bulan.
e. Adanya gejala sistemik JIA pada pasien.
Diagnosa Banding
- Septic Arthritis
- Fraktur
- Hemophilia
- Systemic lupus erythematous (SLE)
Diagnosa Fungsional
Gangguan fungsi:
- Lingkup gerak sendi dan fleksibilitas (M62.9)
- Lokomotor pada anak (R27.8)
- Motorik halus pada anak (F82.1)
- Kekuatan otot (M62)
- Kontrol postur (R62)
Gangguan aktivitas:
- Kemampuan fungsional dan perawatan diri/AKS Anak (Z73.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Factor rheumatoid (FR), ANA, HLA-B27, LED,
- X-Ray , MRI, USG Muskuloskeletal,
- Posturographic Posture Analysis (Equitest)
- Gait Analysis
Prognosis Fungsional
JIA tidak dapat dianggap sebagai penyakit jinak karena sebagian besar
pasien mengalami kerusakan struktural dan memasuki masa dewasa dengan
penyakit aktif yang persisten. Secara keseluruhan, data yang tersedia
menunjukkan bahwa JIA secara keseluruhan adalah penyakit heterogen
dengan variabilitas prognostik yang signifikan mulai dari sangat ringan
hingga sangat parah. Identifikasi awal faktor risiko prognostik yang terlibat
dalam keparahan penyakit sangat penting, karena intervensi terapeutik yang
cepat dapat memberikan hasil yang lebih baik, yakni penderita JIA dengan
penanganan yang tepat, tidak memiliki disabilitas di kehidupan sehari-hari.
Hanya sebagian kecil pasien berkembang menjadi disabilitas berat.
Indikator Medis
Pediatric Evaluation of Disability Inventory (PEDI), Functional Independence
Measure for Children (WeeFIM).
Kepustakaan
1. Azab, A. S., Hamed, S. A., & Halim, A. S. (2018). Effect of Kinesio Taping On Balance in
Children with Juvenile Idiopathic Arthritis. Life Sience Journal, 104-110.
2. Brosseau L, Toupin-April K, Wells G, et al. Ottawa Panel Evidence-Based Clinical Practice
Guidelines for Foot Care in the Management of Juvenile Idiopathic Arthritis. Arch Phys
Med Rehabil. 2016 Jul;97(7):1163-81.e14. doi: 10.1016/j.apmr.2015.11.011. Epub
2015 Dec 18. PMID: 26707409.
3. Cavallo S, Brosseau L, Toupin-April K, et al. Ottawa Panel Evidence-Based Clinical
Practice Guidelines for Structured Physical Activity in the Management of Juvenile
Idiopathic Arthritis. Arch Phys Med Rehabil. 2017 May;98(5):1018-1041. doi:
10.1016/j.apmr.2016.09.135. Epub 2016 Dec 6. PMID: 27932265.
Pengertian
Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktifitas atau Attention-
Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan perkembangan saraf
yang kompleks, kronis, dan heterogen. Ciri-ciri perilaku utamanya meliputi
tingkat inatensi, impulsif, dan hiperaktif yang tidak sesuai dengan
perkembangan.
Anamnesis
- Wawancara dengan orang tua mengenai perilaku anak.
- Laporan dari sekolah/guru mengenai gangguan tingkah laku kesulitan
belajar, kurang prestasi akademis, sering tidak masuk sekolah, sering
tidak peka terhadap rasa nyeri.
- Deteksi dini dengan corner’s test
- Tidak mampu mempertahankan konsentrasi sehingga mudah sekali
beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.
- Bila tanpa hiperaktifitas, anak tampak lamban, suka melamun, tidak
agresif, kurang bergaul
- Riwayat keluarga: kelainan yang sama, kelainan psikiatrik lain, gangguan
psikososial, sosial-ekonomi, tidak ada orang tua atau konflik keluarga.
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan untuk menyingkirkan gangguan pendengaran dan
penglihatan.
- Pemeriksaan status gizi.
- Identifikasi masalah tumbuh kembang.
- Observasi clumpsiness tidak terampil.
- Gejala tampak jelas bila anak berada dalam situasi yang tidak diawasi,
gejala tidak muncul bila melakukan aktifitas yang disukainya.
- Perilaku anak yang tidak bisa diam, berlari-lari, berjalan kesana kemari,
memanjat-manjat, banyak bicara, suara berisik.
- Perilaku tidak sabar, tidak bisa menunggu giliran, mempunyai potensi
tinggi untuk melakukan aktifitas yang membahayakan bagi dirinya
maupun orang lain.
- Uji fungsi komunikasi, eksekusi, dan aktivitas kehidupan sehari-hari
(AKS)
Diagnosis Banding
- Learning Disorder
- Anxiety disorder: Obsessive-Compulsive Disorder
- Intellectual Disability
- Autism Spectrum Disorders (ASD)
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi:
- Belajar
Gangguan Aktivitas:
- Kemampuan fungsional dan perawatan diri /AKS (Z73.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Tes psikologi: Child behavior check list & tes intelegensia
- Southern California Sensory Integration Test (SCSIT)
Tatalaksana KFR dan Tingkat Evidens
- Medikamentosa : obat stimulan (LoE Ia)
- Terapi tingkah laku dengan Applied Behaviour Analysis (ABA) (LoE Ia)
- Cognitive Behavior Modification (LoE Ia)
- Sensori integrasi (LoE II)
- Kombinasi (LoE Ia)
Edukasi
- Edukasi tentang penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin
timbul
- Edukasi teknik latihan dan program rehabilitasi
- Edukasi pentingnya anak tetap bersekolah dan bermain dengan teman-
temannya
- Kontrol teratur untuk evaluasi kemampuan kemandirian
Prognosis Fungsional
Sebanyak 30-80% tetap menunjukkan gejala gangguan pemusatan
perhatian/hiperaktifitas sampai adolescence dan 65% sampai dewasa.
Prognosis kurang baik bila terdapat perilaku progresif, IQ rendah, relasi
buruk terhadap teman. Prognosis lebih baik pada keluarga yang stabil.
Delikuensi atau kepribadian anti sosial pada masa dewasa terlihat pada 25-
40% kasus. Terdapat pula kecenderungan untuk mengonsumsi narkotika
saat dewasa.
Indikator Medis
WEEFIM, kesiapan sekolah, prestasi ademik, kemampuan komunikasi
Kepustakaan
1. Cabral MDI, Liu S, Soares N. Attention-deficit/hyperactivity disorder: diagnostic criteria,
epidemiology, risk factors and evaluation in youth. Transl Pediatr. 2020, pp 104-13.
Pengertian
Kelainan bawaan yang terjadi oleh karena tidak adanya penyatuan (fusi)
secara normal bibir atau langit-langit pada proses embrional, yang dapat
terjadi sebagian atau sempurna.
Berdasarkan derajat beratnya dapat dibagi menjadi:
a. Celah langit komplit: celah langit-langit lengkap di mana kelainan yang
terdapat pada langit-langit juga linggir alveolar dan bibir terkena baik
unilateral maupun bilateral.
b. Celah langit tidak komplit: kelainan bentuk hanya terjadi pada palatum
durum dan palatum mole
Anamnesis
- Keluhan Utama: celah pada bibir, gusi dan langit-langit kiri sejak lahir
- Riwayat Penyakit Sekarang
• Sejak kapan keluhan (dari sejak lahir atau tidak)
• Kemampuan menghisap puting ibunya.
• Keluhan tersedak
• Keluhan sesak napas
- Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit campak, cacar, asma, alergi, infeksi telinga dan
penyakit paru disangkal.
- Riwayat Pada Keluarga Dengan Celah Langit Dan Bibir
- Riwayat Kehamilan, Kelahiran, dan Perkembangan
• Usia ibu saat mengandung
• Kontrol saat mengandung
• Nutrisi saat mengandung
• Riwayat merokok, konsumsi obat-obatan lainnya, minum alkohol dan
minum jamu-jamuan selama mengandung
• Riwayat kelahiran
- Riwayat Nutrisi
• ASI sampai usia berapa
• Kemampuan menghisap puting ibunya
• Keluhan tersedak
- Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi Keluarga
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan ekstra oral
• Simetrisitas wajah
Kriteria Diagnosis
- Pemeriksaan di daerah bibir dan palatum
- Pemeriksaan bagian tubuh yang lain(apakah merupakan bagian dari
suatu sindrom). ini bersifat primer atau bagian dari suatu sindrom.
- Pemeriksaan USG di trimester kedua kehamilan
Diagnosis Banding
Perlu untuk diidentifikasi kemungkinan adanya sindroma yang mendasari
kondisi cleft palate, seperti:
- CHARGE syndrome
- Stickler syndrome
- 22q11 deletion syndromes
- Pierre Robin sequence
- Kelainan kromosomal lainnya
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi:
- Menelan (R13)
Gangguan Aktivitas:
- Komunikasi (R47.8)
- Kesulitan makan (R63.3)
Pemeriksaan Penunjang
Ultrasonografi
Edukasi
- Edukasi tentang penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin
timbul
- Edukasi pencegahan posisi tertentu yang berlebihan
- Edukasi teknik latihan dan program rehabilitasi
Prognosis Fungsional
Bayi dengan cleft palate akan mengalami beberapa kesulitan seperti
kesulitan untuk makan, gangguan pada telinga, gangguan bicara dan juga
berdampak terhadap psiko-sosial. Hal tersebut dapat menyebabkan
gangguan pertumbuhan pada anak. Namun dengan tindakan operasi dan
tatalaksana rehabilitasi sejak dini maka anak dapat memiliki kualitas hidup
yang tidak berbeda dengan anak lainnya.
Indikator Medis
Milestone menelan, kualitas artikulasi dan fonasi.
Kepustakaan
1. Phalke N, Goldman JJ. Cleft Palate. [Updated 2021 Nov 22]. In: StatPearls [Internet].
Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK563128/
2. Ven BV, Defrancq J, Defrancq E. Cleft lip surgery: A practical guide. Poland: Drukarna
WIST; 2008. p.17-21
3. Bessell A, Sell D, Whiting P, et al. Speech and language therapy interventions for children
with cleft palate: a systematic review. Cleft Palate Craniofac J. 2013;50(1). p 1-17.
Pengertian
Thalasemia merupakan salah satu jenis anemia hemolitik dan merupakan
penyakit keturunan yang diturunkan secara autosomal, yang ditandai
dengan adanya defisiensi pembentukkan rantai globin spesifik dari
hemoglobin.
Klasifikasi thalasemia secara klinis:
- Thalasemia mayor: bergejala
- Thalasemia minor: tidak bergejala
Anamnesis
- Tanda – tanda anemia: pucat, ikterik, mudah lelah, sesak nafas.
- Gangguan nafsu makan
- Perut membesar
- Kemampuan fungsional
- Riwayat transfusi darah berulang
- Riwayat keluarga dengan thalasemia dan transfusi berulang
- Riwayat tumbuh kembang dan pubertas terlambat
Pemeriksaan Fisik
- Tanda vital
- Pemeriksaan fisik umum: pucat, sklera ikterik, facies Cooley (dahi
menonjol, mata menyipit, jarak kedua mata melebar, maksila hipertrofi,
maloklusi gigi), hepatosplenomegali, gagal tumbuh, gizi kurang,
perawakan pendek, pubertas terlambat, dan hiperpigmentasi kulit
- Pemeriksaan nutrisi
- Kesulitan belajar
- Uji fungsi ADL, kebugaran kardiorespirasi
- Uji latih kardiorespirasi
Kriteria Diagnosis
Diagnosis thalasemia ditegakkan dengan berdasarkan kriteria anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan laboratorium. Pemeriksaan penunjang yang
mendukung diagnosis thalasemia antara lain temuan dari gambaran darah
tepi, elektroforesis hemoglobin, dan High Performance Liquid Chromatography
(HPLC).
Diagnosis Banding
- Anemia Defisiensi Besi
- Anemia Hemolitik
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi:
- Ketahanan kardiopulmonal
- Kognisi (R41)
Gangguan Aktivitas:
- Kemampuan fungsional dan perawatan diri /AKS (Z73.6)
Gangguan Partisipasi:
- Pendidikan (Z55)
- Bermain (Z60)
Pemeriksaan Penunjang
- Gambaran darah tepi
- Elektrophoresis hemoglobin
- Pemeriksaan laboratorium (terkait kelainan/impairmen)
- EKG
- Spirometri
Edukasi
- Edukasi terhadap diagnosis, komplikasi penyakit, gangguan fungsi yang
mungkin timbul, dan tatalaksana rehabilitasi.
- Edukasi asupan nutrisi.
- Edukasi pencegahan aktivitas yang menyebabkan sesak.
- Edukasi teknik latihan dan program rehabilitasi di rumah dan di rumah
sakit.
Prognosis Fungsional
Prognosis thalassemia secara umum tidak begitu baik karena pasien akan
memerlukan terapi terus menerus. Thalasemia mayor memiliki prognosis
yang lebih buruk karena risiko komplikasi yang lebih tinggi. Hal ini akan
sangat berpengaruh pada kualitas hidup pasien thalassemia. Memiliki
ketahanan fisik yang lemah, tekanan sosial, serta masalah dengan
Indikator Medis
Milestones, WEEFIM, 6 MWT, prestasi ademik
Kepustakaan
1. Standards of Care Guidelines for Thalasemia. Oakland:Children Hospital & Research
Centre Oakland; 2012.
2. Goldberg EK, Lal A, Fung EB. Nutrition in Thalassemia: A Systematic Review of
Deficiency, Relations to Morbidity, and Supplementation Recommendations. J Pediatr
Hematol Oncol. 2022;44(1):1-11.
3. Molazem Z, Noormohammadi R, Dokouhaki R, Zakerinia M, Bagheri Z. The Effects of
Nutrition, Exercise, and a Praying Program on Reducing Iron Overload in Patients With
Beta-Thalassemia Major: A Randomized Clinical Trial. Iran J Pediatr. 2016;26(5)
4. Adeniyi AF, Saminu KS. Local incentive spirometry improves peak expiratory flow rate in
teenage sickle cell anaemia patients: a randomized pilot trial. Afr Health Sci.
2011;11(3):303-8.
5. Anie KA, Massaglia P. Psychological therapies for thalassaemia. Cochrane Database of
Systematic Reviews 2014, Issue 3.
6. Siddiqui SH, Ishtiaq R, Sajid F, Sajid R. Quality of life in patients with thalassemia major
in a developing country. J Coll Physicians Surg Pak. 2014;24(7):477-80.
Pengertian
Osteogenesis Imperfecta (OI) atau brittle bone disease adalah suatu kelainan
jaringan ikat dan tulang yang bersifat herediter dengan manifestasi kelainan
klinis berupa kerapuhan tulang, kelemahan persendian, kerapuhan
pembuluh darah, sklera biru, serta gangguan kulit. Kelainan bentuk yang
paling ringan biasanya ditandai dengan osteoporosis prematur, penderita
bisa tidak mengalami patah tulang sampai masa dewasa, sedang untuk
kelainan OI yang berat adalah ditandai dengan fraktur multipel dengan
trauma ringan atau tanpa riwayat trauma sejak dalam kandungan.
Osteogenesis Imperfecta diturunkan secara genetik, dengan karakteristik
fragilitas tulang dan rendahnya massa tulang, mempunyai kecenderungan
mengalami fraktur multiple akibat trauma ringan sampai sedang. Kelainan
ini disebut juga brittle bone disease. Mutasi genetik yang terjadi tidak hanya
bermanifestasi sebagai kerapuhan tulang, tetapi juga berupa penipisan
kulit, deviasi struktur tulang, hipermobilitas sendi, gangguan pendengaran,
kerapuhan gigi, dan sklera biru.
Anamnesis
- Riwayat prenatal : ditemukan patah tulang panjang pada janin saat
USG
- Riwayat perinatal : adanya fraktur
- Riwayat keluarga : adanya kematian perinatal, adanya keluarga
dengan patah tulang berulang, gigi rapuh (dentinogenesis imperfecta),
sklera biru, gangguan pendengaran dini.
- Riwayat penyakit : mulai timbulnya, progresifitas, Riwayat
pertumbuhan dan adanya patah tulang berulang
Pemeriksaan Fisik
Selain patah tulang, pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan:
- Sklera dapat tampak lebih gelap dari normal, dengan warna biru atau abu-
abu
- Dentogenesis imperfekta, yang ditandai dengan gigi yang transparan,
perubahan warna, rapuh, dan dengan mudah fraktur
- Malformasi tulang, termasuk tulang rusuk yang abnormal, pectus
carinatum atau pectus excavatum, tulang-tulang panjang melengkung,
kompresi vertebral, spinal curves, skoliosis, kifosis ringan, dan bentuk
tengkorang yang abnormal
- Lingkar kepala lebih besar dari rata-rata, atau kepala relatif tampak lebih
besar dibandingkan dengan tubuh yang kecil.
Kriteria Diagnosis
Diagnosis osteogenesis imperfecta ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis
yang tampak, riwayat keluarga, dan pemeriksaan penunjang, minimal
pemeriksaan foto rontgen dan pemeriksaan laboratorium.
Osteogenesis imperfecta dibedakan menjadi osteogenesis imperfecta
kongenita yang dideteksi pada perinatal dan osteogenesis imperfecta tarda
yang dideteksi lebih lambat pada masa anak-anak.
David Sillence pada tahun 1979 membagi osteogenesis imperfecta menjadi
empat tipe berdasarkan cara pewarisan gen, manifestasi klinis, dan kesan
radiografi. Beberapa tipe tambahan ditemukan berdasarkan perbedaan
histologi. Pembagian osteogenesis imperfecta adalah sebagai berikut:
1. Osteogenesis Imperfecta Tipe I
Osteogenesis imperfecta tipe I merupakan tipe paling ringan dan paling tinggi
insidennya. Identifikasi seringkali pada waktu yang lebih lambat. Pada tipe
ini ditemukan fraktur ringan, sedikit deformitas kaki, dan kompresi vertebra
ringan. Dislokasi sendi bahu dan sendi panggul bisa ditemukan.2 Fraktur
terjadi karena trauma ringan sampai sedang dan berkurang setelah pubertas.
Sklera biasanya biru. Kehilangan pendengaran dini terjadi pada 30-60%
penderita. Tipe I bersama tipe IV dibagi menjadi subtipe A dan B,
berdasarkan disertai (A) atau tidak (B) dentinogenesis imperfecta. Kelainan
jaringan ikat lain yang mungkin terjadi yaitu kulit tipis dan mudah memar,
kelenturan sendi, dan perawakan pendek yang berhubungan dengan anggota
keluarga lain.
Diagnosis Banding
Beberapa keadaan klinis yang memiliki gejala mirip osteogenesis imperfecta
yaitu hipofosfatasia, penyakit Paget’s juvenil, riketsia, osteoporosis juvenil
idiopatik, defek metabolism vitamin D, penyakit Cushing, serta defisiensi dan
malabsoprsi kalsium
Diagnosis Fungsional
- Gangguan fungsi lingkup gerak sendi
- Gangguan fungsi kekuatan otot
- Gangguan fungsi lokomotor
- Gangguan Fungsi kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari
Edukasi
Penderita diajarkan teknik berdiri, duduk, dan berbaring untuk memproteksi
vertebra. Keadaan lingkungan harus dikondisikan seaman mungkin seperti
tidak membiarkan lantai yang licin sehingga penderita akan mudah jatuh.
Prognosis Fungsional
Osteogenesis imperfecta adalah kondisi kronis yang membatasi masa hidup
dan fungsional pasien. Bayi dengan OI tipe II biasanya meninggal dalam
beberapa bulan sampai satu tahun kehidupan. Seorang anak (kadang-
kadang) dengan radiografi tipe II dan defisiensi pertumbuhan ekstrem dapat
bertahan sampai usia remaja. Orang dengan OI tipe III memiliki rentang
hidup yang berkurang akibat penyakit paru pada anak usia dini, usia remaja,
Indikator Medis
- Brief Assessment of Motor Function (BAMF)
- Functional Independence Measure for Children (WeeFIM)
- Toddler and Infant Motor Evaluation (TIME)
- Gross Motor Function Measure (GMFM 88)
- Pediatric Evaluation of Disability Inventory (PEDI)
- Bayley Scales of Infant Development
- Children’s Assessment of Participant and Enjoyment (CAPE)
Kepustakaan
1. Mc. Donald. C.M : Neuromuscular Disease. In Pediatric Rehabilitation (sixth edition), edited
by Gabriella E. Molnar, M.D., FAAPMR & Michael A Alexander, M.D., FAAP, FAAPMR.
Philadelphia, 2020
2. Rasjad C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: PT.Yarsif Watampone, 2012. Hal 111-
112.
3. Mueller, et all. Consensus statement on physical rehabilitation in children and adolescents
with osteogenesis imperfecta. University of Cologne, Children’s Hospital, Cologne,
Germany. Orphanet Journal of Rare Diseases (2018) 13:158.
4. Shuoqi, et all. The Impact of Whole-Body Vibration Training on Bone Minerals and Lean
Mass in Children and Adolescents with Motor Disabilities: A Systematic Review and Meta-
Analysis. School of Health Science, Universiti Sains Malaysia, Kota Bharu 15000,
Malaysia. Children 2022, 9, 266.
5. Franken, et all. A Standard Set of Outcome Measures for the Comprehensive Assessment of
Osteogenesis Imperfecta. Orphanet Journal of Rare Disease. 2021; 16: 140
Pengertian
Istilah tortikolis digunakan untuk menggambarkan posisi kepala dan leher
yang tidak simetris yaitu dagu terangkat dan mengarah pada satu sisi,
kepala terputar pada sisi yang lainnya. Tortikolis didefinisikan sebagai
perubahan postur kepala dan leher akibat pemendekan otot
strenokleidomastoideus unilateral, di mana kepala akan miring ke sisi yang
mengalami kelainan dan dagu berputar ke arah yang berlawanan.
Berdasarkan waktu terjadi tortikolis dapat dibagi menjadi dua:
1. Tortikolis kongenital (Congenital Muscular Torticollis)
2. Tortikolis yang di dapat.
Anamnesis
- Kepala tidak dapat menoleh ke satu sisi
- Mulai terjadinya Onset
- Ada tidaknya tanda-tanda infeksi
- Setiap saat, sering atau hanya kadang-kadang
- Kepala dapat digerakkan ke sisi lain
- Anak rewel atau tampak kesakitan
- Benjolan di leher semakin membesar dan teraba keras serta dapat
digerakkan
- Kelainan pergerakan bola mata
- Riwayat trauma pada daerah bahu
- Riwayat kelemahan anggota gerak
- Riwayat sering muntah saat makan
- Riwayat gangguan pernafasan
- Riwayat kelainan tulang belakang
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum :
• Tanda vital
• Postur
- Inspeksi:
• Asimetri wajah
• Posisi kepala
• Massa/Hematoma di leher: bentuk, ukuran
• Webbed neck
• Visual gaze
- Palpasi:
Massa di leher (konsistensi, mobilitas, nyeri tekan)
- Gerak:
• Lingkup gerak sendi leher ke arah fleksi, ekstensi, rotasi dan lateral
bending
• Nyeri gerak
• Pergerakan bola mata ke segala arah, paresis otot superior oblik
• Strabismus
- Trunk
Deformitas : alignment, skoliosis
- Thorax
Bentuk rongga dada
- Ekstremitas
• Deformitas
• Spastisitas
• Lingkup gerak sendi
• Kekuatan otot
• Refleks fisiologis dan patologis
- Milestone perkembangan
- Uji fungsi Lingkup Gerak Sendi dan panjang otot terutama rotasi leher
ipsilateral, fleksi lateral leher kontralateral, fleksi dan ekstensi leher
Kriteria Diagnosis
- Anamnesis.
- Pemeriksaan fisik yang ditemukan adanya asimetris kepala, pemendekan
otot sternokleidomastoideus
- Uji Fungsi.
- Pemeriksaan penunjang.
Diagnosis Banding
- Tumor sternomastoid
- Tumor cervical
- Gangguan mata
- Skoliosis cervical
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi : Lingkup gerak sendi (M25)
Gangguan Aktivitas :-
Gangguan Partisipasi : Bermain
Pemeriksaan Penunjang
- Radiografi tulang leher
- Ultrasonografi muskuloskletal otot sternokleidomastoideus
- MRI Cervical
- Laboratorium penanda infeksi
Edukasi
- Penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin timbul
- Pencegahan posisi kepala yang tidak simetris
- Teknik latihan dan program rehabilitasi
Prognosis Fungsional
Tortikolis apabila tidak ditangani dapat menyebabkan gangguan postur,
kesulitan saat menyusu, dan penggunaan tangan kanan dan kiri yang tidak
seimbang, hingga keterlambatan dalam perkembangan motorik. Untuk
tortikolis, semakin dini dan semakin besar intensitas terapi yang diberikan
maka semakin pendek waktu yang dibutuhkan untuk perawatan dan
semakin tinggi kemungkinan untuk mencapai resolusi secara komplit.
Indikator Medis
Skor Cheng, milestone perkembangan, visual Gaze, lingkup gerak sendi leher
Kepustakaan
1. Wahyuni LK. Tortikolis Muskular Kongenital. Ilmu Kedokteran Fisik dan 14. Rehabilitasi
pada Anak. PERDOSRI. 2014. pp 479-496.
2. Ross KK. Congenital Muscular Torticollis. Physical Therapy for Childreen. 4th 13. ed. St
Lovis. Elsevier Saunders; 2012. pp 292-312.
3. Kaplan SL, et al. Physical therapy management of congenital muscular torticollis: a 2018
evidence-based clinical practice guideline from the APTA Academy of Pediatric Physical
Therapy. Pediatr Phys Ther 2018;30:240–90
4. Ellwood J, Draper-Rodi J, Carnes D. The effectiveness and safety of conservative
interventions for positional plagiocephaly and congenital muscular torticollis: a synthesis
of systematic reviews and guidance. Chiropr Man Therap. 2020;28(1):31.
5. Kwon DR, Park GY. Efficacy of microcurrent therapy in infants with congenital muscular
torticollis involving the entire sternocleidomastoid muscle: a randomized placebo-
controlled trial. Clin Rehabil. 2014;28(10):983-91.
6. Heidenrech E, Johnson R, Sargent B. Informing the Update to the Physical Therapy
Management of Congenital Muscular Torticollis Evidence-Based Clinical Practice
Guideline: A Systematic review. Pediatr Phys Ther. 2018;30(3):164-75.
doi:10.1097/PEP.0000000000000517.
Pengertian
Bicara umumnya mengacu pada aspek-aspek komunikasi yang melibatkan
output motorik untuk produksi suara bicara. Produksi suara ucapan
membutuhkan input fungsional dari sistem pernapasan, fonatori, dan
artikulatori.
Bahasa secara umum mengacu pada proses dimana kita menerjemahkan
dan memproses makna dalam pesan, dan dibagi menjadi tiga komponen
utama: bentuk, isi, dan penggunaan.
Anamnesis
Gangguan perkembangan bicara anak yang tidak sesuai dengan usia, bicara
tidak jelas, ada pengurangan atau penggantian huruf atau suku kata dalam
satu kata, belum mampu membuat kalimat, tidak mampu mengerti perintah,
tidak mau bersuara, gagap, suara pelan, berbicara namun tidak sesuai
dengan pertanyaan, lebih banyak menggunakan bahasa isyarat atau gerak
tubuh dalam meminta, gangguan komunikasi sosial.
Pemeriksaan Fisik
- Uji fungsional :
• Uji Fungsi Komunikasi
Uji fungsi penapisan awal dapat dilakukan dengan Parent
Developmental Questions II (PDQ II ) atau dengan Kuesioner Pra-
Skrining Perkembangan (KPSP). (LoE 4)
Penapisan gangguan komunikasi lanjutan dapat menggunakan
Clinical Linguistic and Auditory Milestone Scale (CLAMS), Early
Language Milestones (ELM) Scale 2, Peabody Picture Vocabulary Test
(PPVT-III), Grammatical Additionally, Phonology Screening (GAPS) test.
(LoE 3a)
• Uji Fungsi sensori integrasi & praksis
Sensory Integration and Praxis Test (SIPT) merupakan evaluasi
perilaku dan kemampuan belajar anak. SIPT mengevaluasi berbagai
kemampuan fungsi sensorik dan perencanaan motorik. Penyesuaian
interpretasi skor SIPT mungkin butuh dilakukan pada populasi anak
Indonesia. (LoE 3B)
Kriteria Diagnosis
- Pencapaian Milestone yang terlambat
- Dipastikan dengan pemeriksaan uji fungsi adanya gangguan pada fungsi
motorik
Diagnosis Banding
Kelainan fisik yang menyebabkan mis-artikulasi/gangguan berbicara,
gangguan pendengaran, disartria, apraksia, mutisme selektif.
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Komunikasi pada anak (R47.89)
- Sensori integrasi dan praksis (R44.8)
Gangguan Aktivitas
- Kemampuan fungsional dan perawatan diri/AKS (Z73.6)
- Kognitif (R41)
Gangguan Partisipasi
- Pendidikan (Z55)
Pemeriksaan Penunjang
- CT scan
- MRI
- MRI functional
- BERA
Edukasi
- Penyakit dan komplikasi gangguan fungsi yang mungkin timbul
- Stimulasi untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan bicara anak
- Pembatasan atau factor-faktor yang memperberat gejala, seperti screen
time, bilingual, kurangnya stimulasi
- Pentingnya anak tetap bersekolah dan bermain dengan teman-temannya
- Teknik latihan dan program rehabilitasi
Prognosis Fungsional
Prognosis berbeda-beda tergantung pada penyebab gangguan bicara. Pasien
dengan developmental language delay/maturation delay memiliki prognosis
baik dan biasanya dapat berbicara normal sesuai usia setelah memasuki usia
sekolah. Pasien dengan gangguan bicara akibat kondisi medis lainnya seperti
palsi serebral, autisme, aphasia, maupun retardasi mental memiliki
prognosis yang lebih buruk dalam kemampuan bicara sehingga
membutuhkan tata laksana aktif dan kontinu.
Indikator Medis
CFCS (Communication Function Classification System), ExPRS (Expressive
Production Rating Scale), SCQ (Social Communication Questionnaire)
Kepustakaan
1. Artha NM, Sutomo R, Gamayanti IL. Kesepakatan hasil antara kuesioner pra skrining
perkembangan, parent’s evaluation of developmental status, dan tes denver-II untuk
skrining perkembangan anak balita. Sari Pediatri. 2016;16(4):266.
2. Sansavini A, Favilla ME, Guasti MT, et al. Developmental language disorder: Early
predictors, age for the diagnosis, and diagnostic tools. A scoping review. Brain Sci.
2021;11(5):654. Published 2021 May 17. doi:10.3390/brainsci11050654
3. Jaarsveld AV, Mailloux Z, Herzberg DS. The use of the sensory integration and praxis
tests in south african children. South African Journal of Science. 2012;42(3):12-18
4. Tung LC, Lin CK, Hsieh CL, Chen CC, Huang CT, Wang CH. Sensory integration
dysfunction affects efficacy of speech therapy on children with functional articulation
disorders. Neuropsychiatr Dis Treat. 2013;9:87-92. doi:10.2147/NDT.S40499.
5. Maenner MJ, Smith LE, Hong J, Makuch R, Greenberg JS, Mailick MR. Evaluation of an
activities of daily living scale for adolescents and adults with developmental disabilities.
Disabil Health J. 2013;6(1):8-17. doi:10.1016/j.dhjo.2012.08.005
6. Rinaldi S, Caselli MC, Cofelice V, et al. Efficacy of the treatment of developmental
language disorder: A systematic review. Brain Sci. 2021;11(3):407. Published 2021 Mar
23. doi:10.3390/brainsci11030407
7. Law J, Dennis JA, Charlton JJV. Speech and language therapy interventions for children
with primary speech and/or language disorders. Cochrane Database Syst
Rev.2017;2017(1):CD012490. Published2017jan 9.doi:10.1002/14651858.CD012490
8. Santos JKDO, et al. The use of electrical stimulation in speech therapy clinical: an
integrative literature review.`Rev. CEFAC. 2015 Set-Out; 17(5):1620-31.
9. da Silva MA, Mangilli LD. Transcutaneous electrical nerve stimulation in speech therapy
rehabilitation of voice and swallowing function in adults-a systematic review. Clin Exp
Dent Res. 2021;7(6):1131-43. doi:10.1002/cre2.470
Pengertian
Keterampilan motorik adalah keterampilan untuk menggunakan otot rangka
secara efektif dan bertujuan. Perkembangan motorik adalah perkembangan
tindakan dan koordinasi anggota badan, serta perkembangan kekuatan,
kontrol postur, keseimbangan, dan keterampilan persepsi. Keterampilan
motorik kasar meliputi mengangkat kepala, berguling, duduk,
keseimbangan, merangkak, dan berjalan. Keterampilan motorik halus
meliputi kemampuan memanipulasi benda kecil, memindahkan benda dari
tangan ke tangan, dan berbagai tugas koordinasi tangan-mata.
Anamnesis
- Keterlambatan dalam berguling, duduk, merangkak, berdiri, berjalan.
- Tidak seimbang saat duduk, berdiri, berjalan. Gangguan pada pola jalan.
- Gangguan kontrol postur
- Kesulitan saat memegang objek, menulis, aktivitas sehari - hari dengan
menggunakan tangan.
Pemeriksaan Fisik
- Uji Fungsional :
• Uji fungsi kekuatan otot (LoE 2B)
- Fungsi kekuatan otot dapat diuji dengan Manual Muscle Testing (MMT)
ataupun dengan pengukuran Maximum Voluntary Contraction (MVC),
Hand held dinamometer
• Uji lingkup gerak sendi / fleksibilitas
beberapa pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mengukur
fleksibilitas anak, yaitu shoulder stretch, trunk lift (memeriksa
fleksibilitas dan muscle fitness), sit and reach (memeriksa fleksibilitas
paha dan punggung bawah).
• Uji fungsi motorik pada anak (LoE 2B)
Uji fungsi motorik dapat dilakukan menggunakan Movement
Assessment Battery for Children (MABC-2) ataupun Bruininks-
Oseretsky Test of Motor Proficiency (BOT-2). Kedua pemeriksaan ini
dapat mengidentifikasi adanya kelainan pada fungsi motorik kasar
dan halus.
• Uji fungsi kemampuan fungsional & perawatan diri/ADL anak
Pemeriksaan ADL perlu dilakukan untuk mengetahui kemampuan
anak dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan ADL
Kriteria Diagnosis
- Kemampuan motorik dibawah usia kronologis pasien
- Defisit kemampuan motorik secara signifikan dan persisten mengganggu
aktivitas kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan usia kronologis
(perawatan diri, mobilitas) dan mempengaruhi produktivitas akademik,
pravokasional, vokasional, waktu luang, dan pekerjaan.
- Defisit kemampuan motorik tidak dipengaruhi oleh gangguan medis
lainnya, neurodevelopmental, psikologis, kondisi sosial, atau latar
belakang budaya.
- Gejala timbul saat masa kanak-kanak (meskipun kondisi tidak selalu
teridentifikasi hingga remaja atau dewasa)
Diagnosis Banding
Gangguan gerak dengan etiologi yang diketahui
- Cerebral palsy
- Muscular dystrophy
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Kekuatan otot (M62)
- Motorik (F82.1)
- Kontrol postur pada anak (R62)
- Lokomotor pada anak (R27.8)
- Lingkup gerak sendi/fleksibilitas (M62.9)
Gangguan Aktivitas
- Kemampuan fungsional dan perawatan diri/AKS (Z73.6)
Gangguan Partisipasi
- Bermain
Pemeriksaan Penunjang
- X ray
- CT scan
- MRI
- Electrodiagnosis
- USG muskuloskeletal
Edukasi
- Latihan rutin diperlukan untuk memperoleh kemampuan motorik dan
diperlukan latihan alam lingkungan yang bervariasi (rumah, komunitas,
sekolah, dsb) untuk dapat diaplikasikan di kehidupan sehari-hari.
- Dukungan dari orang tua, guru, dan orang-orang yang signifikan lainnya
di lingkungan anak sangat penting dalam mencapai keberhasilan terapi.
- Mengedukasi orang tua atau guru bahwa anak memiliki kesulitan dalam
mempelajari dan memperoleh kemampuan motorik.
- Mengedukasi orang tua untuk dapat mendukung proses pembelajaran
dan latihan anak, serta mengadaptasi proses pembelajaran dan
lingkungan.
Indikator Medis
GMFCS (Gross Motor Function Classification System), Gross Motor Function
Measure (GMFM), Test of Gross Motor Development, 2nd Edition (TGMD-2)
Kepustakaan
1. Blank R, Barnett A, Cairney J, Green D, Kirby A, Polatajko H et al. International clinical
practice recommendations on the definition, diagnosis, assessment, intervention, and
psychosocial aspects of developmental coordination disorder. Developmental Medicine
& Child Neurology. 2019;61(3):242-85.
2. Manikowska F, Chen B, Jóźwiak M, Lebiedowska M. Validation of manual muscle testing
(MMT) in children and adolescents with cerebral palsy. NeuroRehabilitation.
2018;42(1):1-7.
3. Committee on Fitness Measures and Health Outcomes in Youth; Food and Nutrition
Board; Institute of Medicine; Pate R, Oria M, Pillsbury L, editors. Fitness Measures and
Health Outcomes in Youth. Washington (DC): National Academies Press (US); 2012 Dec
10. 7, Health-Related Fitness Measures for Youth: Flexibility. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK241323/
4. Artha NM, Sutomo R, Gamayanti IL. Kesepakatan hasil antara kuesioner pra skrining
perkembangan, parent’s evaluation of developmental status, dan tes denver-ii untuk
skrining perkembangan anak balita. Sari Pediatri. 2016;16(4):266.
5. Smits-Engelsman B, Vinçon S, Blank R, et al. Evaluating the evidence for motor-based
interventions in developmental coordination disorder: A systematic review and meta-
analysis. Research in Developmental Disabilities. 2018;74:72-102.
6. Collado-Garrido L, Parás-Bravo P, Calvo-Martín P, Santibáñez-Margüello M. Impact of
resistance therapy on motor function in children with cerebral palsy: A systematic review
and meta-analysis. International Journal of Environmental Research and Public Health.
2019;16(22):4513.
7. Fong S, Guo X, Liu K, Ki W, Louie L, Chung R et al. Task-specific balance training
improves the sensory organisation of balance control in children with developmental
coordination disorder: A randomised controlled trial. Scientific Reports. 2016;6(1).
8. Zanon M, Pacheco R, Latorraca C, Martimbianco A, Pachito D, Riera R.
Neurodevelopmental Treatment (Bobath) for Children With Cerebral Palsy: A Systematic
Review. Journal of Child Neurology. 2019;34(11):679-86.
9. Logosu D, Tagoe T, Adjei P. Transcutaneous electrical nerve stimulation in the
management of calf muscle spasticity in cerebral palsy: A pilot study. IBRO Neuroscience
Reports. 2021;11:194-99.
Pengertian
Keterampilan personal-sosial disusun berdasarkan empat elemen yang saling
terkait yaitu kesadaran diri, kesadaran sosial, manajemen diri dan
manajemen sosial. Perkembangan pribadi adalah kemampuan memahami
diri sendiri dan kemampuan diri. Perkembangan sosial mencakup
pemahaman tentang hubungan interaksi dengan orang lain.
Kemampuan pribadi dan sosial meliputi mengenali dan mengatur emosi,
mengembangkan empati terhadap orang lain dan memahami hubungan,
membangun dan membangun hubungan positif, membuat keputusan yang
bertanggung jawab, bekerja secara efektif dalam tim, menangani situasi yang
menantang secara konstruktif, dan mengembangkan keterampilan
kepemimpinan.
Anamnesis
- Kesulitan dalam interaksi sosial
- Sikap yang kaku
- Gangguan koordinasi visual-motor
- Hiperaktivitas
- Kesulitan untuk mengkopi secara tepat saat diberikan suatu contoh
- Gangguan keterampilan pengorganisasian
- Kesulitan dalam berpikir abstrak dan problem solving, pemikiran yang
tidak terorganisir
- Terobsesi terhadap suatu topik atau ide
- Gangguan memori jangka panjang atau pendek
- Perilaku impulsive
- Penyimpangan dalam konsep bentuk tubuh
- Lambat dalam menyelesaikan tugas
Pemeriksaan Fisik
- Uji fungsional :
• Uji fungsi kekuatan otot
• Uji fungsi gerak sendi / fleksibilitas
• Uji fungsi kemampuan fungsional & perawatan diri/ADL
• Uji fungsi komunikasi pada anak
• Uji fungsi motorik halus pada anak
• Uji fungsi sensori integrasi & praksis
Kriteria Diagnosis
- Pencapaian Milestone yang terlambat
- Dipastikan dengan pemeriksaan uji fungsi adanya gangguan pada fungsi
personal dan sosial
Diagnosis Banding
- ASD
- ADHD
- Pragmatic language impairment
- Social-emotional processing disorder (SEPD)
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Kekuatan otot (M62)
- Lingkup gerak sendi dan fleksibilitas (M62.9)
- Motorik halus pada anak (F82.1)
- Sensori integrasi dan praksis (R44.8)
- Komunikasi pada anak (R47.89)
- Kognisi (R41)
Gangguan Aktivitas
- Kemampuan fungsional & perawatan diri/AKS (Z73.6)
Gangguan Partisipasi
- Interaksi sosial
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan visual dan auditori
- EEG
Edukasi
- Kondisi penyakit dan gejalanya
- Program stimulasi yang dapat dilakukan di rumah
- Program rehabilitasi medik
Indikator Medis
Motor and Social Development (MSD), Bristol Activities of Daily Living Scale.
Kepustakaan
1. Blank R, Barnett A, Cairney J, Green D, Kirby A, Polatajko H et al. International clinical
practice recommendations on the definition, diagnosis, assessment, intervention, and
psychosocial aspects of developmental coordination disorder. Developmental Medicine
& Child Neurology. 2019;61(3):242-85.
2. Manikowska F, Chen B, Jóźwiak M, Lebiedowska M. Validation of Manual Muscle
Testing (MMT) in children and adolescents with cerebral palsy. NeuroRehabilitation.
2018;42(1):1-7.
3. Committee on Fitness Measures and Health Outcomes in Youth; Food and Nutrition
Board; Institute of Medicine; Pate R, Oria M, Pillsbury L, editors. Fitness Measures and
Health Outcomes in Youth. Washington (DC): National Academies Press (US); 2012 Dec
10. 7, Health-Related Fitness Measures for Youth: Flexibility. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK241323/
4. Artha NM, Sutomo R, Gamayanti IL. Kesepakatan Hasil antara Kuesioner Pra Skrining
Perkembangan, Parent’s Evaluation of Developmental Status, dan Tes Denver-II untuk
Skrining Perkembangan Anak Balita. Sari Pediatri. 2016. 16(4):266.
5. Calatayud J, Borreani S, Colado J, Martin F, Flandez J. Test-Retest Reliability of the
Star Excursion Balance Test in Primary School Children. The Physician and
Sportsmedicine. 2014;42(4):120-124.
Pengertian
Autism Spectrum Disorder (ASD) terjadi di awal periode pertumbuhan yang
dikarakteristikan dengan defisit pada kemampuan interaksi sosial, dan
adanya pola perilaku repetitif dan ketertarikan yang terfiksasi dan terbatas
pada suatu objek. Berdasarkan DSM-5, diagnosis ASD meliputi: Gangguan
autistik, Ganguan Asperger’s, Childhood disintegrative disorder, dan pervasive
developmental disorder not otherwise specified (PDD-NOS).
Anamnesis
- Kesulitan dalam interaksi sosial, inisiasi kontak sosial dengan cara yang
tidak biasa dan terbatas, tidak suka berbagi.
- Percakapan monolog atau bicara tangensial.
- Kesulitan menjaga kontak mata.
- Tidak mampu untuk menggunakan ataupun memahami bahasa tubuh.
- Berbicara dengan volume, intonasi, kecepatan, ritme, penekanan yang
tidak wajar.
- Kesulitan dalam membangun, menjaga, dan memahami hubungan.
- Sikap yang kaku, membutuhkan keteraturan dan kepatuhan terhadap
rutinitas yang berlebihan, dan sulit menyesuaikan dengan perubahan
- Sering melakukan gerakan, aktivitas, dan berbicara hal yang sama
berulang kali
- Terobsesi terhadap suatu topik atau ide
- Ekspresi emosi yang tidak tepat (contoh: tertawa tanpa konteks yang
jelas)
- Tidak berusaha untuk berteman dengan orang lain
Pemeriksaan Fisik
- Uji fungsional :
• Uji fungsi kemampuan fungsional & perawatan diri/ADL
• Uji fungsi komunikasi pada anak (LoE 1b)
Penilaian fungsi komunikasi pada ASD dapat menggunakan Autism
Classification System of functioning: Social Communication (ACSF:SC).
ACSF:SC merupakan sistem deskriptif yang terdiri dari 5 tingkatan
kemampuan komunikasi sosial anak dari sudut pandang hal-hal yang
mampu dilakukan anak, bukan yang tidak mampu dilakukan.
• Uji fungsi sensori integrasi & praksis. (LoE 3b)
Evaluasi perilaku dan kemampuan belajar anak dapat dilakukan
dengan Sensory Integration and Praxis Test (SIPT). SIPT mengevaluasi
Kriteria Diagnosis
Kriteria diagnosis ASD berdasarkan DSM-5 sebagai berikut: (1)
- Defisit persisten dalam komunikasi sosial dan interaksi sosial melalui
berbagai konteks. Yang harus mencakup:
• Defisit pada hubungan timbal balik sosial-emosional
• Defisit dalam komunikasi non-verbal dalam interaksi sosial
• Defisit dalam membangun, menjaga, dan memahami hubungan
- Pola perilaku yang repetitif dan terbatas terhadap perilaku, ketertarikan,
atau aktivitas. Setidaknya harus mencakup 2 dari hal di bawah ini:
• Stereotyped atau repetisi terhadap gerakan, penggunaan objek, atau
bicara.
• Memaksakan regularitas, kepatuhan yang tidak fleksibel terhadap
rutinitas, atau pola perilaku ritual.
• Ketertarikan terhadap sesuatu yang sangat terbatas dan terfiksasi
dalam intensitas yang tidak wajar.
• Hiper- atau hiporeaktivitas terhadap input sensorik atau ketertarikan
sensorik yang tidak biasa.
- Gejala muncul di awal periode perkembangan
- Gejala menyebabkan gangguan yang signifikan secara klinis dalam fungsi
sosial
- Gangguan tidak disebabkan oleh disabilitas intelektual atau
keterlambatan perkembangan global (global developmental delay).
Diagnosis Banding
- Intellectual Disability
- Social Pragmatic Communication Disorder (SPCD)
- Specific developmental disorders of speech and language
- Expressive Language Disorder
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Komunikasi pada anak (R47.89)
- Sensori integrasi dan praksis (R44.8)
- Kognisi (R41)
Gangguan Aktivitas
- Fungsi kemampuan fungsional & perawatan diri/ADL (Z73.6)
- Makan (R13)
Gangguan Partisipasi
- Interaksi sosial
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan visual dan auditori
Edukasi
- Kondisi penyakit dan gejalanya
- Program stimulasi yang dapat dilakukan di rumah
- Program rehabilitasi medik
- Pentingnya peran orang tua, keluarga, dan lingkungan dalam
perkembangan pasien.
Prognosis Fungsional
ASD merupakan kondisi yang terjadi seumur hidup pasien. Namun, dengan
intervensi yang tepat dapat meningkatkan level autonomi yang dapat dicapai
oleh individu dengan ASD secara signifikan. Beberapa prediktor untuk luaran
jangka panjang berupa IQ saat masa kanak-kanak, kemampuan
berbahasa/komunikasi sedini mungkin, dsb. Dukungan dari komunitas dan
integrasi sosial juga dibutuhkan untuk meningkatkan prognosis individu
dengan ASD.
Indikator Medis
Autism Classification System of functioning: Social Communication (ACSF:SC)
Kepustakaan
Pengertian
Laringomalasia merupakan penyebab tersering dari stridor pada bayi. Pada
laringomalasia terjadi stridor dan dispnea yang disebabkan oleh jaringan
supraglotik yang insufisien, hipotonus, atau kolaps secara pasif saat terjadi
inspirasi. Gejala laringomalasia dapat berupa stridor pada saat inspirasi dan
obstruksi jalan napas yang memburuk ketika makan, menangis, agitasi, dan
posisi supinasi.
Anamnesis
- Kesulitan bernapas dan napas berisik terutama saat makan atau
berbaring
- Tarikan dinding dada saat bernapas
- Kesulitan untuk minum/makan, sering tersedak, regurgitasi, hingga
sianosis saat makan
- Kesulitan menelan
- Berat badan sulit untuk naik atau adanya gagal tumbuh (failure to thrive)
Pemeriksaan Fisik
- Uji fungsional :
Feeding Assessment
Uji fungsi makan dapat dilakukan dengan menggunakan Early Feeding
Skills (EFS). EFS merupakan ceklis untuk menilai kesiapan dan toleransi
bayi terhadap makan. Empat hal yang diperiksa pada EFS adalah:
kemampuan untuk fokus terhadap makanan, mengorganisasi fungsi
oromotor, koordinasi pernapasan dan menelan, dan menjaga stabilitas
fisiologis.
Kriteria Diagnosis
- Stridor saat inspirasi yang memburuk dengan makan, agitasi, posisi
supine atau menangis
- Diagnosis definitif dilakukan dengan pemeriksaan flexible fiberoptic
laryngoscopy
Diagnosis Banding
- Tracheomalacia
- Bronchomalacia
- Papilomatosis laring
- Hemangioma subglotis
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Pernapasan (R94.2)
Gangguan Aktivitas
- Makan (R13)
Pemeriksaan Penunjang
- FEES
- VFSS
Edukasi
- Kondisi penyakit dan gejalanya
- Cara pemberian makan yang tepat untuk mengurangi kemungkinan
tersedak.
- Pentingnya peran orang tua, keluarga, dan lingkungan dalam
perkembangan pasien.
Prognosis Fungsional
Pada sebagian besar pasien, gejala akan hilang dengan sendirinya pada usia
12-18 bulan. Tatalaksana dengan pengaturan posisi prone saat pemberian
susu/makan dapat mengurangi masalah aspirasi.
Indikator Medis
Early Feeding Skills (EFS)
Kepustakaan
Pengertian
Stroke adalah kumpulan gejala kelainan neurologis fokal dan global yang
timbul mendadak akibat gangguan peredaran darah di otak, berlangsung
lebih dari 24 jam.
Rehabilitasi Stroke ditujukan dalam rangka melakukan penetapan gangguan
fungsi, melakukan uji fungsi dan evaluasinya untuk menganalisis serta
menetapkan gangguan fungsi akibat stroke sebagai landasan penetapan
program rehabilitasi yang holistik dan komprehensif dalam mengoptimalkan
fungsi dan mencegah disabilitas sekunder.
Anamnesis
- Gangguan kognisi, gangguan menelan, gangguan komunikasi, gangguan
fungsi sensorik, gangguan penglihatan, gangguan fungsi keseimbangan,
gangguan emosi dan perilaku, masalah psikososial yang menimbulkan
gangguan fungsional.
- Evaluasi lingkungan dan faktor personal yang dapat menghambat dan
menyokong keberhasilan program rehabilitasi.
- Gangguan mobilisasi, gangguan fungsi dalam melakukan aktivitas hidup
sehari-hari.
- Gangguan dalam berpartisipasi di kehidupan sosial, gangguan dalam
menjalankan perannya dalam kehidupan sehari-hari, gangguan dalam
kembali ke pekerjaannya dan melakukan hobinya.
Pemeriksaan Fisik
- Evaluasi status mental dan fungsi kognisi
- Uji fungsi komunikasi dan menelan
- Pemeriksaan saraf kranial,
- Pemeriksaan fungsi motorik: kekuatan otot dan tonus otot (dengan atau
tanpa alat)
- Pemeriksaan fungsi sensorik (Nottingham Sensory Assessment)
- Pemeriksaan lingkup gerak sendi
- Koordinasi motorik
- Evaluasi koordinasi dan gangguan gerak
- Evaluasi fungsi keseimbangan: uji keseimbangan komprehensif (tes
keseimbangan dengan atau tanpa alat)
- Comprehensive Posture Analysis (baik secara sederhana atau
menggunakan alat)
- Uji fungsi kardiorespirasi (dengan atau tanpa alat)
Kriteria Diagnosis
Melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan uji fungsi serta pemeriksaan
penunjang
Diagnosis Banding
Tumor otak, infeksi otak, ensefalopati
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan kognisi (R.41)
- Gangguan komunikasi (R.47.0)
- Gangguan kekuatan otot (G.81)
- Gangguan sensorik (H.93.2)
- Gangguan koordinasi (R.26)
- Gangguan kontrol postural (R.29.3)
- Gangguan keseimbangan (R.29.6)
- Gangguan menelan (R.13)
- Gangguan emosional (R.45)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan mobilisasi (R 26)
- Gangguan ADL (Z.74)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan kembali bekerja (Z55; Z56)
- Gangguan interaksi sosial (Z60)
Pemeriksaan Penunjang
CT scan, MRI, Laboratorium (sesuai indikasi)
- Farmakologi
• Medikamentosa anti spastisitas, injeksi botulinum toxin
• Obat-obat otonom terkait fungsi bladder dan bowel
Edukasi
Pencegahan komplikasi immobilisasi lama dan motivasi mengikuti program
rehabilitasi yang telah ditetapkan.
Prognosis Fungsional
Sesuai dengan luas, letak lesi otak dan kecepatan tatalaksana stroke yang
mempengaruhi jenis dan berat gangguan fungsional.
Indikator Medis
Peningkatan kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari,
kekaryaan dan kualitas hidup (Barthel Index, FIM)
Kepustakaan
1. McGlinchey, M.P., James, J., McKevitt, C. et al. The effect of rehabilitation interventions
on physical function and immobility-related complications in severe stroke—protocol for
a systematic review. Syst Rev 7, 197 (2018). https://doi.org/10.1186/s13643-018-0870-
y
2. Cotoi, Andrea. 2018. “Stroke Rehabilitation” http://www.ebrsr.com/evidence-review
diakses pada 13 Agustus 2022 pukul 11.37
Pengertian
Paralisis nervus fasialis (N.VII) perifer yang bersifat akut, umumnya
unilateral dan mempengaruhi lower motor neuron tanpa penyebab yang jelas.
Disebut juga paralisis fasial idiopatik (Idiopatic Facial Paralysis).
Rehabilitasi Bell’s Palsy ditujukan dalam rangka penetapan gangguan fungsi,
melakukan uji fungsi dan evaluasinya untuk menganalisis serta menetapkan
gangguan fungsi akibat Bell’s Palsy sebagai landasan penetapan program
rehabilitasi yang holistik dan komprehensif dalam mengoptimalkan fungsi
dan mencegah disabilitas sekunder.
Anamnesis
- Gangguan makan karena kelemahan otot (drooling)
- Gangguan pengecapan
- Keluhan lemah dan kaku pada wajah (House-Brackmann facial nerve
grading)
- Riwayat aktivitas pada malam hari di ruangan terbuka, riwayat penyakit
seperti infeksi saluran pernapasan, otitis, herpes, dll.
- Ganggauan psikososial karena masalah kosmestis akibat kelemahan
wajah
- Gangguan dalam berpartisipasi di kehidupan sosial, gangguan dalam
menjalankan perannya dalam kehidupan sehari-hari, gangguan dalam
kembali ke pekerjaannya dan melakukan hobinya
- Evaluasi lingkungan dan faktor personal yang dapat menghambat dan
menyokong keberhasilan program rehabilitasi
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan neurologis saraf kranial VII tipe perifer
- Pemeriksaan status psikososial dampak dari gangguan fungsi
- Penilaian kualitas hidup
- Analisis fungsional holistic dan komprehensif berdasarkan ICF
Kriteria Diagnosis
Paralisis pada sisi sebelah wajah dengan onset kurang dari 72 jam
Diagnosis Banding
Herpes Zooster, Ramsay Hunt Disease, Stroke
Pemeriksaan Penunjang
Elektrodiagnosis
Edukasi
- Perawatan mata: lubrikasi ocular topical dengan air mata artifisial (tetes
air mata buatan)
- Motivasi mengikuti program latihan
Prognosis Fungsional
Penyakit terkendali dengan pengobatan, gangguan fungsi akan berkurang
dalam waktu 3 minggu pada 85% pasien
Indikator Medis
- Perbaikan gangguan fungsi otot (penurunan House-Brackmann facial
nerve grading)
- Peningkatan kualitas hidup (peningkatan Facial Disability Index)
Kepustakaan
1. Maria, Anna & Pt, Gatidou & Kottaras, Anastasios & Lytras, Dimitrios & Gatidou,
Christina & Iakovidis, Paris & Gatidou, Anna & Kottaras, Ioannis. (2021). Physiotherapy
Pengertian
Nyeri pada bagian punggung yang dapat muncul dari berbagai bagian
berbeda dari tulang belakang.
Rehabilitasi dorsalgia ditujukan dalam rangka penetapan gangguan fungsi,
melakukan uji fungsi dan evaluasinya untuk menganalisis serta menetapkan
gangguan fungsi akibat dorsalgia sebagai landasan penetapan program
rehabilitasi yang holistik dan komprehensif dalam mengoptimalkan fungsi
dan mencegah disabilitas sekunder.
Anamnesis
- Onset gejala
- Karakteristik nyeri
- Derajat nyeri (Visual analogue scale atau Numeric Rating Scale)
- Pemicu, faktor yang memperberat dan meringankan nyeri (seperti
dipengaruhi posisi atau aktivitas pekerjaan)
- Gangguan sensoris
- Gangguan mobilisasi, gangguan fungsi dalam melakukan aktivitas hidup
sehari-hari
- Gangguan dalam berpartisipasi di kehidupan sosial, gangguan dalam
menjalankan perannya dalam kehidupan sehari-hari, gangguan dalam
kembali ke pekerjaannya dan melakukan hobinya
- Evaluasi lingkungan dan faktor personal yang dapat menghambat dan
menyokong keberhasilan program rehabilitasi
- Riwayat pengobatan sebelumnya
Pemeriksaan Fisik
- Uji fungsi lingkup gerak sendi
- Uji fungsi sensorik
- Uji fungsi kekuatan otot
- Pemeriksaan postur
- Pemeriksaan tonus otot dan trigger point
- Tes provokasi sesuai indikasi
- Pemeriksaan status psikososial dampak dari gangguan fungsi
Kriteria Diagnosis
Sesuai dengan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan kekuatan otot (G.81)
- Gangguan sensorik (H.93.2)
- Gangguan kontrol postural (R.29.3)
- Gangguan emosional (R.45)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan mobilisasi (R 26)
- Gangguan ADL (Z.74)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan kembali bekerja (Z55; Z56)
- Gangguan interaksi sosial (Z60)
Pemeriksaan Penunjang
- Radiologi: X-ray, CT-scan, MRI sesuai indikasi
- Electroneuromyodiagnostic (KHS, EMG, SSEP, Single Fiber)
- Musculoskeletal ultrasonografi
- Farmakologi
• Anti nyeri dan anti inflamasi
• Muscle relaxant
Edukasi
- Edukasi proper body mechanic dan ergonomis
- Motivasi untuk mengikuti program rehabilitasi
Indikator Medis
- Penurunan tingkat nyeri (VAS atau NRS)
- Perbaikan kekuatan otot
- Peningkatan kualitas hidup (FIM)
Kepustakaan
1. Kasumovic M, Gorcevic E, Gorcevic S, Osmanovic J. Cervical Syndrome - The
Effectiveness of Physical Therapy Interventions. Med Arch. 2013 Dec; 67(6): 414–417.
2. Corp N, Mansell G, Stynes S, et al. Evidence-based Treatment recommendations for neck
and low back pain across Europe: A systematic review of guidelines. European Journal
of Pain 25 (2): 275-295. 2020.
Pengertian
Penyakit neurodegeneratif kronik dan progresif yang dikarakteristikkan
secara patologis dengan adanya degenerasi saraf dopaminergik pada
substansia nigra pars kompakta dan adanya badan inklusi sitoplasmik, yaitu
badan lewy. Parkinson harus dibedakan dengan sindroma parkinson dimana
tidak ditemukan adanya badan lewy.
Anamnesis
- Sering lupa
- Gangguan keseimbangan
- Kesulitan bicara
- Kesulitan menelan
- Riwayat fungsional dan vokasional sebelumnya
- Situasi rumah dan support system
Pemeriksaan Fisik
- Evaluasi status mental dan fungsi kognisi (bila diperlukan)
- Pemeriksaan kekuatan otot, lingkup gerak sendi, postur, rigiditas.
- Evaluasi kemampuan ambulasi, bradikinesia
- Resting tremor
- Evaluasi fungsi menelan dan komunikasi
- Pemeriksaan keseimbangan
Kriteria Diagnosis
Melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis Banding
- Parkinson’s Syndrome Plus
- Parkinson’s Syndrome lainnya
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan kekuatan otot (G.81)
- Gangguan emosional (R.45)
- Gangguan kontrol postural (R.29.3)
- Gangguan menelan (R13.10)
- Gangguan gait dan mobilitas (R26.9)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) (Z.74)
Pemeriksaan Penunjang
- CT-scan dan MRI otak tidak dapat menunjukkan abnormalitas yang
konsisten.
- PET-scan dengan penggunaan 6-[18F] fluorolevodopa dapat
menunjukkan berkurangnya radioisotope di striata. Namun, PET-scan
belum dapat dianggap sebagai alat diagnostic parkinson.
Edukasi
Latihan rutin untuk memperlambat progresivitas penyakit dan
mempertahankan fungsi
Prognosis Fungsional
Tergantung dari onset, usia, respon terhadap medikamentosa, dan derajat
keparahan
Indikator Medis
Peningkatan kemampuan fungsional (Modified UDPRS)
Kepustakaan
1. Gage H, Storey L. Rehabilitation for Parkinson's disease: a systematic review of available
evidence. Clin Rehabil. 2004 Aug;18(5):463-82. doi: 10.1191/0269215504cr764oa.
PMID: 15293481.
Pengertian
Guillain-Barré Syndrome (GBS) adalah gangguan akut demielinisasi
polineuropati saraf perifer, yang bersifat self-limiting. Umumnya bersifat
reversible namun 10% akan mengalami disabilitas menetap.
Anamnesis
- Rasa kelemahan simetris dan bilateral, dimulai dari ekstremitas bawah
dan atas bagian distal progresif ke proksimal sampai dengan otot-otot
pernafasan. Dapat disertai penurunan sensorik. Gejala mencapai fase
plateau dan kemudian terjadi pemulihan bertahap dari proksimal ke
distal
- Onset progresif
- Tatalaksana medis yang sudah dilakukan: respon terhadap
farmakoterapi
- Riwayat fungsional dan vokasional sebelumnya
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan kekuatan otot ekstremitas dan trunk: Rasa kelemahan
simetris dan bilateral, dimulai dari ekstremitas bagian distal progresif ke
proksimal sampai dengan otot-otot pernafasan
- Pemeriksaan sensorik, refleks.
- Pemeriksaan fungsi pernafasan
- Pemeriksaan fungsi berkemih dan defekasi.
- Evaluasi ADL dan fungsional
- Evaluasi Prognostik (mEGOS Score)
Kriteria Diagnosis
Melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis Banding
- Acute myelopathy (misalnya disebabkan karena adanya kompresi tulang
belakang, myelitis transversa, cedera vaskular),
- Chronic inflammatory demyelinating polyneuropathy (CIDP),
- Gangguan pada neuromuscular junction
- Motor neuron disease
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan kekuatan otot (G.81)
- Gangguan sensorik (H.93.2)
Pemeriksaan Penunjang
Elektrodiagnosis, MRI
Edukasi
Proper Positioning dan motivasi mengikuti program latihan, diaphragmatic
breathing, latihan batuk efektif.
Prognosis Fungsional
- Perkembangan penyakit bervariasi sesuai dengan tingkat keparahan
penyakit. Pada kasus fulminan akan terjadi kelumpuhan maksimum
dalam beberapa hari, namun, 50% pasien mencapai puncak keparahan
penyakit sekitar 2 minggu, dan 80% pada 3 minggu. Pemulihan biasanya
dimulai dalam 2-4 minggu setelah timbulnya penyakit.
- Sindrom Guillain Barre berlangsung selama sekitar 12 minggu pada
sebagian besar pasien dan memiliki luaran yang baik pada sebagian besar
kasus. Sekitar 50% pasien memiliki sedikit sisa defisit neurologis, 15%
mengalami sisa defisit residual neurologis yang persisten, dan sekitar
80% harus menjalani rawat jalan dalam waktu 6 bulan setelah timbulnya
penyakit.
Indikator Medis
Peningkatan ADL (Barthel's index, FIM)
Kepustakaan
1. Orsini M, de Freitas MRG, Presto B, Mello MP, Reis CHM, Silveira V, Silva JG, Nascimento
OJM , Leite MAA, Pulier S, Sohler MP. Guideline for Neuromuscular Rehabilitation in
Guillain-Barré Syndrome: What can we do?. Rev Neurocienc 2010;18(4):572-580.
2. Khan F. Rehabilitation in Guillain Barre Syndrome. Australian Family Physician Vol. 33,
No. 12, December 2004.
3. Leonhard, S.E., Mandarakas, M.R., Gondim, F.A.A. et al. Diagnosis and management of
Guillain–Barré syndrome in ten steps. Nat Rev Neurol 15, 671–683 (2019).
Pengertian
Traumatic brain injury adalah cedera yang mengenai otak yang menyebabkan
terjadinya gangguan fungsi otak.
Anamnesis
- Riwayat trauma kepala dan penanganan awal
- Gangguan penurunan kesadaran
- Gangguan kognisi, gangguan menelan, gangguan komunikasi, gangguan
fungsi sensorik, gangguan penglihatan, gangguan fungsi keseimbangan,
gangguan emosi dan perilaku, masalah psikososial yang menimbulkan
gangguan fungsional
- Evaluasi lingkungan dan faktor personal yang dapat menghambat dan
menyokong keberhasilan program rehabilitasi
- Gangguan mobilisasi, gangguan fungsi dalam melakukan aktivitas hidup
sehari-hari
- Gangguan dalam berpartisipasi di kehidupan sosial, gangguan dalam
menjalankan perannya dalam kehidupan sehari-hari, gangguan dalam
kembali ke pekerjaannya dan melakukan hobinya
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan tingkat kesadaran (GCS)
- Evaluasi status mental dan fungsi kognisi (Ranchos Los Amigos Scale)
- Gangguan komunikasi
- Saraf kranial
- Sensibilitas superfisial, dalam, propioseptif, diskriminasi 2 titik,
- Pemeriksaan lingkup gerak sendi
- Kekuatan dan tonus otot : manual, dynamometer, EN Tree, Cybex
- Koordinasi motorik
- Gangguan gerak
- Gangguan keseimbangan: Uji keseimbangan dan koordinasi
komprehensif (manual, perangkat digital)
- Refleks fisiologis dan patologis
- Comprehensive Posture analysis (sederhana, posturography)
- Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari: Uji Fungsi aktivitas dan
kualitas hidup (FIM, Barthel)
- Work / physical capacity evaluation
- Uji fungsi kardiorespirasi: 6 minutes walking test, Bicycle ergometer
- Evaluasi ICIDH / ICF
Diagnosis Banding
Stroke, tumor otak, infeksi otak, ensefalopati
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan kognisi (R.41)
- Gangguan komunikasi (R.47.0)
- Gangguan kekuatan otot (G.81)
- Gangguan sensorik (H.93.2)
- Gangguan koordinasi (R.26)
- Gangguan kontrol postural (R.29.3)
- Gangguan keseimbangan (R.29.6)
- Gangguan menelan (R.13)
- Gangguan emosional (R.45)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan mobilisasi (R 26)
- Gangguan ADL (Z.74)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan kembali bekerja (Z55; Z56)
- Gangguan interaksi sosial (Z60)
Pemeriksaan Penunjang
CT scan, MRI, Laboratorium (sesuai indikasi)
Edukasi
Motivasi mengikuti program latihan, pencegahan komplikasi imobilisasi,
modifikasi lingkungan.
Prognosis Fungsional
Sesuai dengan luas, letak lesi otak, dan kecepatan tatalaksana awal.
Indikator Medis
- Perbaikan score Ranchos Los Amigos
- Peningkatan kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
dan kekaryaan (Barthel Index, FIM)
Kepustakaan
1. Robert Teasell, Nestor Bayona, Shawn Marshall, Nora Cullen, Mark Bayley, Josie
Chundamala, Jimmy Villamere, David Mackie, Laura Rees, Cheryl Hartridge, Corbin
Lippert, Maureen Hilditch, Penny Welch-West, Margaret Weiser, Connie Ferri, Pat Mccabe,
Anna Mccormick, Jo-Anne Aubut, Paul Comper, Katherine Salter, Robert Van Reekum,
David Collins, Norine Foley, Jozef Nowak, Jeff Jutai, Mark Speechley, Chelsea Hellings &
Linh Tu (2007) A systematic review of the rehabilitation of moderate to severe acquired
brain injuries, Brain Injury, 21:2, 107-112, DOI: 10.1080/02699050701201524
2. Marsh Königs, Eva A. Beurskens, Lian Snoep, Erik J. Scherder, Jaap Oosterlaan, Effects
of Timing and Intensity of Neurorehabilitation on Functional Outcome After Traumatic
Brain Injury: A Systematic Review and Meta-Analysis, Archives of Physical Medicine and
Rehabilitation, Volume 99, Issue 6, 2018, Pages 1149-1159.e1, ISSN 0003-9993,
https://doi.org/10.1016/j.apmr.2018.01.013.
Pengertian
Gangguan fungsional motorik, sensorik, dan otonom yang disebabkan oleh
kerusakan medula spinalis akibat trauma atau non trauma, dapat bersifat
komplit atau parsial (inkomplit). Gangguan fungsional yang terjadi
tergantung level dan tingkat keparahan kerusakan medula spinalis.
Anamnesis
- Onset gangguan motorik, sensorik, dan otonom (mendadak atau gradual).
- Etiologi penyebab CMS (traumatik atau non traumatik)
- Tindakan medis dan operatif yang sudah dilakukan
- Perbaikan pasca tindakan
- Gangguan fungsional yang dialami
- Riwayat fungsional dan vokasional sebelumnya
- Situasi rumah dan support system
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan neuromuskular cedera medulla spinalis sesuai dengan
kriteria ASIA untuk menentukan level cedera dan tingkat keparahan dari
cedera.
- Pemeriksaan tanda-tanda vital
- Pemeriksaan uji fungsional, antara lain:
• Uji fungsi ambulasi
• Uji fungsi respirasi
• Uji fungsi tangan
• Uji fungsi kardiovaskular
• Uji fungsi berkemih dan urodinamik
• Uji fungsi defekasi dan biofeedback
• Pemeriksaan integritas kulit
• Uji fungsi seksual
• Penilaian ADL dan kemandirian (SCIM, FIM, Barthel's index)
• Wheeling skill assessment
- Penapisan gangguan psikologis
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis Banding
Acute atau Chronic demyelinating polyneuropathy, motor neuron disease
Edukasi
Motivasi mengikuti program latihan, edukasi mengenai tanda-tanda
autonomic dysreflexia
Prognosis Fungsional
Prognosis fungsional pada CMS bergantung pada etiologi penyebab dan
tatalaksana awal pada fase akut.
Kepustakaan
1. Hongyun Huang, Wise Young, Stephen Skaper, Lin Chen, Gustavo Moviglia, Hooshang
Saberi, Ziad Al-Zoubi, Hari Shanker Sharma, Dafin Muresanu, Alok Sharma, Wagih El
Masry, Shiqing Feng. Clinical Neurorestorative Therapeutic Guidelines for Spinal Cord
Injury (IANR/CANR version 2019). Journal of Orthopaedic Translation (20) 14-24. 2020.
2. NICE guideline for spinal cord injury assessment and initial management 2016.
Pengertian
Lesi pada pleksus brakialis mulai dari C5-C8 dan T1 baik akibat trauma dan
non trauma yang terjadi secara mendadak yang menyebabkan kelemahan,
hilangnya sensasi, atau pergerakan pada bahu, lengan, atau tangan.
Rehabilitasi Cedera Pleksus Brachialis ditujukan dalam rangka melakukan
penetapan gangguan fungsi, melakukan uji fungsi dan evaluasinya untuk
menganalisis serta menetapkan gangguan fungsi akibat Cedera Pleksus
Brachialis sebagai landasan penetapan program rehabilitasi yang holistik
dan komprehensif dalam mengoptimalkan fungsi dan mencegah disabilitas
sekunder.
Anamnesis
- Kelemahan pada salah satu lengan, baal/kesemutan pada lengan, nyeri,
kulit kering
- Riwayat trauma dan non trauma sebelumnya
- Gangguan dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari
- Evaluasi lingkungan dan faktor personal yang dapat menghambat dan
menyokong keberhasilan program rehabilitasi
- Gangguan fungsi lain yang menyertai kejadian cedera pleksus brachialis
(contoh trauma kepala dan fraktur)
Pemeriksaan Fisik
- Evaluasi status mental dan fungsi kognisi (bila diperlukan)
- Pemeriksaan fungsi motorik: kekuatan otot dan tonus otot (dengan atau
tanpa alat) yang dipersyarafi oleh pleksus brachialis (otot rombhoid,
levator scapulae, serratus anterior, subskapularis, deltoid,
supraspinatus, infraspinatus, teres minor, biceps, brakhialis,
brakhioradialis, supinator, ekstensor longus pergelangan tangan, jari-jari
dan ibu jari)
- Pemeriksaan fungsi sensorik [pemeriksaan Sensory Profile dan Sensory
Processing Measure (SPM)]
- Pemeriksaan fungsi syaraf otonom (tanda-tanda Horner’s Syndrome)
- Pemeriksaan lingkup gerak sendi
- Comprehensive Posture Analysis (baik secara sederhana atau
menggunakan alat)
- Evaluasi kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari (uji fungsi
kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari dengan atau tanpa
instrument (AKS dan IAKS)
- Penilaian kualitas hidup
Kriteria Diagnosis
Melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis Banding
- Gangguan gerak lengan karena nyeri
- Kelemahan lengan karena gangguan pada sistem syaraf diluar dari
pleksus brakhialis
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan kekuatan otot (G.81)
- Gangguan sensorik (H.93.2)
- Gangguan emosional (R.45)
- Gangguan kontrol postural (R.29.3)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) (Z.74)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan kembali bekerja (Z55; Z56)
- Gangguan interaksi sosial (Z60)
Pemeriksaan Penunjang
Radiologi: X-ray, CT-scan, MRI, EMG/NCV
- Farmakologi
• Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik)
• Anti depresan
• Injeksi intraartikular, injeksi soft tissue pada kasus dengan faktor
pemberat dan atau komplikasi
Prognosis Fungsional
Tergantung dari:
- Kecepatan tatalaksana
- Tipe dan level cedera
Indikator Medis
- Peningkatan kekuatan otot berdasarkan pemeriksaan muscle chart
- Peningkatan kemampuan fungsional (Fugl Meyer Assessment, FIM)
Kepustakaan
1. De Santana Chagas AC, Wanderley D, de Oliveira Ferro JK, Alves de Moraes A, Morais de
Souza FH, da Silva Tenório A, Araújo de Oliveira D. Physical therapeutic treatment for
traumatic brachial plexus injury in adults: A scoping review. PM R. 2022 Jan;14(1):120-
150. doi: 10.1002/pmrj.12566. Epub 2021 Apr 8. PMID: 33543603.
2. Chagas, Alessandra & Wanderley, Débora & Ferro, Karinne & Alves de Moraes, Alexa &
Souza, Fernando & Tenorio, Angelica & Araújo, Daniella. (2021). Physical Therapeutic
Treatment For Traumatic Brachial Plexus Injury In Adults: A Scoping Review. PM&R. 14.
10.1002/pmrj.12566.
Pengertian
Vertigo adalah adanya sensasi gerakan atau rasa gerakan dari tubuh atau
rasa gerakan dari lingkungan sekitarnya. Vertigo ialah ilusi bergerak atau
halusinasi gerakan.
Anamnesis
- Bentuk vertigo: melayang, goyang berputar, dsb.
- Keadaan yang memprovokasi: perubahan posisi kepala dan tubuh,
keletihan, ketegangan.
- Profil waktu: Akut, paroksismal, kronik.
- Adanya gangguan pendengaran yang menyertai.
- Penggunaan obat-obatan misalnya streptomisin, kanamisin, salisilat.
- Adanya penyakit sistemik seperti anemia, penyakit jantung,hipertensi,
hipotensi, penyakit paru.
- Adanya nyeri kepala.
- Adanya kelemahan anggota gerak.
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan Mata
- Uji keseimbangan dan koordinasi komprehensif (manual, perangkat
digital): Tes Romberg
- Stepping Test
- Pemeriksaan Muskuloskeletal: Myofascial Trigger Point
- Pemeriksaan Otologik: Garputala, Audiometri, Dix Hallpike Test
- Tes Kalori
- Comprehensive Posture analysis (sederhana, posturography)
- Comprehensive Disability evaluation by special equipment: ambulation
- Uji keseimbangan dan koordinasi komprehensif (manual, perangkat
digital)
- Uji Fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM, Barthel)
- Evaluasi ICIDH / ICF
- Work/physical capacity evaluation
Kriteria Diagnosis
Melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis Banding
TIA, Menierre Disease
Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium
- Elektronistagmografi, EEG, BAEP
- Radiologi (foto rontgen)
- MRI, CT scan
Edukasi
Proper Positioning, motivasi mengikuti program latihan
Prognosis Fungsional
- Vertigo perifer: cukup baik
- Vertigo sentral: tergantung letak dan keparahan lesi sistem vestibuler
Indikator Medis
Peningkatan kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari dan
kekaryaan (Barthel Index, FIM)
Pengertian
Gangguan fungsional yang disebabkan karena pertumbuhan sel abnormal di
otak, dapat berupa tumor jinak maupun tumor ganas, tumor primer maupun
tumor metastasis dari organ lain.
Anamnesis
- Onset gejala
- Etiologi tumor otak dan tatalaksana medis atau intervensi yang telah
dilakukan
- Gangguan kognisi, gangguan menelan, gangguan komunikasi, gangguan
fungsi sensorik, gangguan penglihatan, gangguan fungsi keseimbangan,
gangguan emosi dan perilaku, masalah psikososial yang menimbulkan
gangguan fungsional
- Evaluasi lingkungan dan faktor personal yang dapat menghambat dan
menyokong keberhasilan program rehabilitasi
- Gangguan mobilisasi, gangguan fungsi dalam melakukan aktivitas hidup
sehari-hari
- Gangguan dalam berpartisipasi di kehidupan sosial, gangguan dalam
menjalankan perannya dalam kehidupan sehari-hari, gangguan dalam
kembali ke pekerjaannya dan melakukan hobinya
Pemeriksaan Fisik
- Evaluasi status mental dan fungsi kognisi
- Uji fungsi komunikasi dan menelan
- Pemeriksaan saraf kranial,
- Pemeriksaan fungsi motorik: kekuatan otot dan tonus otot (dengan atau
tanpa alat)
- Pemeriksaan fungsi sensorik (Nottingham Sensory Assessment)
- Pemeriksaan lingkup gerak sendi
- Koordinasi motorik
- Evaluasi koordinasi dan gangguan gerak
- Evaluasi fungsi keseimbangan: uji keseimbangan komprehensif (tes
keseimbangan dengan atau tanpa alat)
- Comprehensive Posture Analysis (baik secara sederhana atau
menggunakan alat)
- Uji fungsi kardiorespirasi (dengan atau tanpa alat)
- Evaluasi kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari (uji fungsi
kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari dengan atau tanpa
instrument (AKS dan IAKS)
- Penilaian kualitas hidup
Kriteria Diagnosis
Sesuai dengan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis Banding
- Stroke
- Traumatic brain injury
- Aneurisma otak
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan kognisi (R.41)
- Gangguan komunikasi (R.47.0)
- Gangguan kekuatan otot (G.81)
- Gangguan sensorik (H.93.2)
- Gangguan koordinasi (R.26)
- Gangguan kontrol postural (R.29.3)
- Gangguan keseimbangan (R.29.6)
- Gangguan menelan (R.13)
- Gangguan emosional (R.45)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan mobilisasi (R 26)
- Gangguan ADL (Z.74)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan kembali bekerja (Z55; Z56)
- Gangguan interaksi sosial (Z60)
Pemeriksaan Penunjang
- Radiologi: CT-scan, MRI, PET scan sesuai indikasi
- Videofluoroscopy swallowing study (VFSS) atau Fiberoptic Endoscopic
Evaluation of Swallowing (FEES) untuk fungsi menelan
- Urodinamik sesuai indikasi
- Farmakologi
• Medikamentosa anti spastisitas, injeksi botulinum toxin
• Obat-obat otonom terkait fungsi bladder dan bowel
Edukasi
Pencegahan komplikasi immobilisasi lama dan motivasi mengikuti program
rehabilitasi yang telah ditetapkan
Prognosis Fungsional
Prognosis kesembuhan bergantung pada etiologi penyebab dan severitas dari
etiologi tersebut. Perkembangan fungsional yang signifikan dalam 1 bulan
pertama pasca tindakan removal tumor / kemoradiasi memiliki prognosis
fungsional yang lebih baik
Indikator Medis
Peningkatan kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari dan
kekaryaan (Barthel Index, FIM)
Kepustakaan
1. Gillis TA, Yadav R, Guo Y. Rehabilitation of Patients with Neurologiv Tumors and Cancer-
Related Central Nervous System disabilities. Accessed August 13th 2022 on: https://soc-
neuro-onc.org/UploadedFiles/Levin/Levin_ch22_p470-492.pdf.
2. Thakkar P, Greenwald BD, Patel P. Rehabilitation of Adult Patients with Primary Brain
Tumors: A Narrative Review. Brain Sci. 2020 Aug; 10(8): 492.
Pengertian
Inflamasi pada meningens yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, dan
ditandai dengan nyeri kepala hebat dan demam, hipersensitif terhadap
cahaya, rigiditas otot, kejang, delirium, dan kematian.
Anamnesis
- Onset, etiologi penyebab, sakit kepala, penurunan kesadaran atau
cenderung mengantuk, riwayat kejang, kekakuan pada leher, informasi
mengenai pelaku rawat.
- Gangguan kognisi, gangguan menelan, gangguan komunikasi, gangguan
fungsi sensorik, gangguan penglihatan, gangguan fungsi keseimbangan,
gangguan emosi dan perilaku, masalah psikososial yang menimbulkan
gangguan fungsional
- Evaluasi lingkungan dan faktor personal yang dapat menghambat dan
menyokong keberhasilan program rehabilitasi
- Gangguan mobilisasi, gangguan fungsi dalam melakukan aktivitas hidup
sehari-hari
- Gangguan dalam berpartisipasi di kehidupan sosial, gangguan dalam
menjalankan perannya dalam kehidupan sehari-hari, gangguan dalam
kembali ke pekerjaannya dan melakukan hobinya
Pemeriksaan Fisik
- Evaluasi status mental dan fungsi kognisi
- Uji fungsi komunikasi dan menelan
- Pemeriksaan saraf kranial,
- Pemeriksaan fungsi motorik: kekuatan otot dan tonus otot (dengan atau
tanpa alat)
- Pemeriksaan fungsi sensorik (Nottingham Sensory Assessment)
- Pemeriksaan lingkup gerak sendi
- Koordinasi motorik
- Evaluasi koordinasi dan gangguan gerak
- Evaluasi fungsi keseimbangan: uji keseimbangan komprehensif (tes
keseimbangan dengan atau tanpa alat)
- Comprehensive Posture Analysis (baik secara sederhana atau
menggunakan alat)
- Uji fungsi kardiorespirasi (dengan atau tanpa alat)
- Evaluasi kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari (uji fungsi
kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari dengan atau tanpa
instrument (AKS dan IAKS)
- Penilaian kualitas hidup
Kriteria Diagnosis
Sesuai dengan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, uji fungsi, dan
pemeriksaan penunjang.
Diagnosis Banding
Encephalitis, meningioma, stroke
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan kognisi (R.41)
- Gangguan komunikasi (R.47.0)
- Gangguan kekuatan otot (G.81)
- Gangguan sensorik (H.93.2)
- Gangguan koordinasi (R.26)
- Gangguan kontrol postural (R.29.3)
- Gangguan keseimbangan (R.29.6)
- Gangguan menelan (R.13)
- Gangguan emosional (R.45)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan mobilisasi (R 26)
- Gangguan ADL (Z.74)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan kembali bekerja (Z55; Z56)
- Gangguan interaksi sosial (Z60)
Pemeriksaan Penunjang
- Radiologis: MRI, CT scan
- Lumbal pungsi
- EEG
- Laboratorium
- VFSS atau FEES sesuai indikasi
- Farmakologi
• Medikamentosa anti spastisitas, injeksi botulinum toxin
• Obat-obat otonom terkait fungsi bladder dan bowel
Edukasi
- Bed rest pada fase akut
- Edukasi caregiver untuk perawatan home care
- Motivasi untuk menjalani program latihan
Prognosis Fungsional
Tergantung pada etiologi penyebab meningitis dan keparahan meningitis,
usia, dan kondisi kesehatan pasien sebelumnya. Bakterial meningitis
memiliki tingkat mortalitas 15-20%
Indikator Medis
Peningkatan Barthel's index dan FIM
Kepustakaan
1. Griffiths MJ, McGill F, Solomon T. Management of acute meningitis. Clin Med (Lond).
2018;18(2):164-169. doi:10.7861/clinmedicine.18-2-164
2. Sealey RM. A specialized exercise programme for a patient suffering from eosinophilic
meningitis. International Journal of Therapy and Rehabilitation 17(3):143-149.
Pengertian
Ensefalitis adalah inflamasi pada otak akibat adanya infeksi (virus, bakteri,
jamur dan parasit.
Anamnesis
Gangguan kesadaran, sakit kepala, kaku di leher, demam,
agitasi/halunisasi, kejang, gangguan sensibilitas dan kelemahan otot
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan Kesadaran
- Pemeriksaan VAS untuk nyeri kepala
- Pemeriksaan fungsi kognitif dan komunikasi
- Pemeriksaan fungsi sensibilitas
- Pemeriksaan kelemahan otot, gangguan fleksibiltas dan gangguan
balance
- Pemeriksaan koordinasi motorik
- Pemeriksaan gangguan emosional
- Uji fungsi kardiorespirasi (dengan atau tanpa alat)
- Evaluasi kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari (uji fungsi
kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari dengan atau tanpa
instrument (AKS dan IAKS)
- Penilaian kualitas hidup
- Evaluasi kemampuan kembali bekerja
- Analisis fungsional holistic dan komprehensif berdasarkan ICF
Kriteria Diagnosis
Melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, penilaian uji fungsi, pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis Banding
Stroke, Leptospirosis, meningitis
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan kognisi (R.41)
- Gangguan komunikasi (R.47.0)
- Gangguan kekuatan otot (G.81)
- Gangguan sensorik (H.93.2)
- Gangguan koordinasi (R.26)
Pemeriksaan Penunjang
- Brain imaging : MRI/ CT images
- Lumbar puncture
- EEG
- Laboratorium darah
Edukasi
Bed rest pada fase akut, pencegahan komplikasi immobilisasi lama dan
motivasi mengikuti program rehabilitasi yang telah ditetapkan.
Prognosis Fungsional
Tergantung pada penyebab ensefalitis, tingkat keparahan dan status
kesehatan pasien.
Indikator Medis
- Peningkatan kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
dan kekaryaan (Barthel Index, FIM)
- Peningkatan fungsi kognisi (MMSE/MoCA Ina)
Kepustakaan
1. Christie S, Chan V, Mollayeva T, Colantonio A. Systematic review of rehabilitation
intervention outcomes of adult and paediatric patients with infectious encephalitis. BMJ
Open. 2018 May 14;8(5):e015928. doi: 10.1136/bmjopen-2017-015928. PMID:
29764868; PMCID: PMC5961616.
Pengertian
Entrapment neuropathy yang disebabkan oleh terjepitnya saraf medianus di
terowongan karpal pada pergelangan tangan.
Anamnesis
- Nyeri, kesemutan, kebas pada ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, sisi
radial dari jari manis, dapat menjalar ke lengan atas.
- Dapat disertai kelemahan dan gangguan koordinasi pada tangan.
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan neuromuskuler pada tangan.
- Pemeriksaan tes khusus : carpal compression test, tinnel sign, Phalen test,
prayer test
- Pemeriksaan fungsi tangan.
Kriteria Diagnosis
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, penilaian uji fungsi, pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis Banding
- Pronator terse Syndrome
- Anterior Interosseous Nerve syndrome
- Cervicobrachial syndrome
- Arthritis pergelangan tangan
- Trauma area pergelangan tangan
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan kekuatan otot (G.81)
- Gangguan sensorik (H.93.2)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z.74)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan kembali bekerja (Z55; Z56)
Pemeriksaan Penunjang
- USG Muskuloskeletal
- Elektrodiagnostik
- Rontgen pergelangan tangan
Edukasi
Motivasi untuk melakukan latihan
Prognosis Fungsional
Tergantung pada severity dan beratnya jepitan yang terjadi
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale
- DASH
Kepustakaan
1. Padua L, Coraci D, Erra C, Pazzaglia C, Paolasso I, Loreti C, Caliandro P, Hobson-
Webb LD. Carpal tunnel syndrome: clinical features, diagnosis, and management.
The Lancet Neurology. 2016 Nov 1;15(12):1273-84.
2. Talebi GA, Saadat P, Javadian Y, Taghipour M. Manual therapy in the treatment of
carpal tunnel syndrome in diabetic patients: A randomized clinical trial. Caspian
journal of internal medicine. 2018;9(3):283..
3. Peters S, Page MJ, Coppieters MW, Ross M, Johnston V. Rehabilitation following
carpal tunnel release (Review). The Cochrane database of systematic reviews. 2013
Jun; 5(6): 1-147.
Pengertian
Miasthenia Gravis (MG) adalah penyakit dimana target antibodinya adalah
neuromuscular junction dari otot rangka. Pada MG, antibodi tersebut
berikatan dengan endplate otot postsinaptik dan menyerang serta merusak
molekul postsinaptik.
Anamnesis
- Kelemahan terjadi saat aktivitas dan membaik saat istirahat
- Kelemahan bersifat simetris, kecuali otot mata
- Otot yang dikenai adalah otot yang mengontrol bola mata, otot-otot
ekspresi wajah, otot berbicara, mengunyah dan menelan, otot-otot yang
mengontrol pernafasan, leher dan anggota gerak
- Onset mendadak, intermitten
- Riwayat keluarga, riwayat penyakit terdahulu, dan riwayat pengobatan
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan saraf kranialis (ptosis, diplopia, disfagia, disfoni, dsb)
- Pemeriksaan kekuatan otot
- Uji fungsi pernapasan
- Uji fungsi endurans
- Evaluasi kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari (uji fungsi
kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari dengan atau tanpa
instrument (AKS dan IAKS)
- Penilaian kualitas hidup
- Evaluasi kemampuan kembali bekerja
- Analisis fungsional holistic dan komprehensif berdasarkan ICF
Kriteria Diagnosis
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, penilaian uji fungsi, pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis Banding
- Botulisme keterlibatan fungsi otonomik dan pupil
- Congenital miastenia syndromes
- Parese nervus cranialis
- Guillain-Barre syndrome
- Inflamatory myopathies
Pemeriksaan Penunjang
- Elektrodiagnostik (Repetitive nerve stimulation/RNS, Single-fibre
electromyography/SFEMG, KHS, EMG)
- Tes Ice Pack
- Tes Edrofonium
- Tes antibodi
- CT-Scan/MRI Thorax
- Non Farmakologis
• Terapi latihan penguatan dan aerobik
• Terapi latihan pernapasan
• Terapi latihan menelan
Edukasi
- Aktivitas sesuai toleransi
- Latihan dan maintenance endurans
Indikator Medis
- Peningkatan kekuatan otot (MMT)
- Peningkatan fungsi paru
- Peningkatan kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
dan kekaryaan (Barthel Index, FIM)
- Skor Quantitave Myasthenia Gravis (QMG)
Kepustakaan
1. Grob D, et al. 2008. Lifetime course of miasteniagravis. Muscle Nerve 37:141-49.
2. Longo, D.L., 2016. Nils E. Gilhus, MD. Myasthenia Gravis. N Engl J Med, 375, pp.2570-
81
3. Berrih-Aknin S., Le Panse R. 2014. Myasthenia gravis: a comprehensive review of immune
dysregulation and etiological mechanism. J Autoimmun; 52:90-100
4. Braddom R. Exercise for Special Population in Physical medicine and rehabilitation 5th
ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2016. Hal. 338-340
Pengertian
Nyeri menjalar diakibatkan terjepitnya saraf sciatica.
Anamnesis
- Onset nyeri
- Karakteristik nyeri: nyeri menjalar ke ekstremitas bawah, faktor pemicu
dan yang mengurangi nyeri
- Kelemahan otot,
- Riwayat inkontinensia,
- Riwayat disfungsi ereksi
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan neuromuscular ekstremitas bawah
- Pemeriksaan postur
- Uji provokasi sciatica
- Uji fungsi defekasi dan berkemih sesuai indikasi
- Keterbatasan fungsional karena nyeri, saat berdiri dan berjalan
Kriteria Diagnosis
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, penilaian uji fungsi, pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis Banding
- Tuberculosis of spine
- Muscle Spasm
Diagnosis Fungsional
- Gangguan kognitif
- Gangguan ADL
- Gangguan mood
Pemeriksaan Penunjang
- Elektrodiagnostik (KHS dan EMG)
- Radiologi: Rontgen lumbosacral
- USG Muskuloskeletal
- MRI Lumbosacral
Edukasi
Ergonomic posture, motivasi menjalani latihan
Prognosis Fungsional
Tergantung tingkat keparahan cedera saraf tepi
Indikator Medis
- Penurunan nyeri (Visual Analogue Scale)
- Peningkatan kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
dan kekaryaan (Barthel Index, FIM)
Kepustakaan
1. National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Low back pain and sciatica
in over 16s: assessment and management: NICE Guideline [NG59] 2016. Available
from https://www.nice.org.uk/guidance/ng59.
2. Parreira P, Maher C, Steffens D, Hancock M, Ferreira M. Risk factors for low back
pain and sciatica: an umbrella review. The Spine Journal 2018; 18,9:1715-1721.
3. Jensen RK, Kongsted A, Kjaer P, Koes B. Diagnosis and treatment of Sciatica. BMJ
2019;367:l6273.
Pengertian
Dysphagia adalah gangguan fungsi menelan baik di fase oral, faringeal atau
oesophageal yang disebabkan oleh berbagai etiologi, baik mekanik maupun
neurogenik
Anamnesis
- Onset serta etiologi penyebab gangguan menelan
- Tersedak atau batuk saat makan atau minum
- Drooling
- Suara serak setelah menelan
- Rasa menyangkut atau tersisa pada jalan makan
- Riwayat pneumonia berulang
- Riwayat penurunan berat badan
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan oromotor dasar (struktur, gerak, kekuatan serta koordinasi)
pada area mulut (bibir, lidah, buccal, palatum, rahang), area faring, area
esofagus saat menelan.
- Saraf kranial
- Postur
- Fungsi respirasi
- Penapisan fungsi menelan (TOR BSST / GUUS)
Kriteria Diagnosis
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, penilaian uji fungsi, pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis Banding
-
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan menelan (R.13)
- Gangguan emosional (R.45)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z.74)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan interaksi sosial (Z60)
Edukasi
- Kontrol postur saat makan
- Mengatur jenis diet yang sesuai
- Motivasi menjalani latihan
Prognosis Fungsional
Tergantung pada penyebab dysphagia dan tingkat keparahan dysphagia
Indikator Medis
- Perbaikan skor TORR BSST, GUUS
- Perbaikan skor PAS pada pemeriksaan VFFS atau FEES
Kepustakaan
1. Pisegna JM, Kaneoka A, Pearson WG, Kumar S, Langmore SE. Effects of non-invasive
brain stimulation on post-stroke dysphagia: a systematic review and meta-analysis of
randomized controlled trials. Clin Neurophysiol 2016.127:956–968.
2. Paik Nam Jong, Kim Won Seok. Recovery of swallowing. Clinical Pathways in Stroke
Rehabilitation Evidence-based Clinical Practice Recommendations.2021. 85-97.
Pengertian
Gangguan defekasi adalah semua perubahan atau terganggunya proses
evakuasi tinja akibat adanya disinergi defekasi atau propulsi defekasi yang
inadekuat.
Anamnesis
- Kondisi tidak dapat mengendalikan buang air besar.
- Onset, Frekuensi, Faktor pencetus, Komorbid
- Riwayat kebiasaan pola BAB
- Pola makan dan diet: frekuensi, durasi dan jenis makanan
- Intake cairan
- Konsistensi tinja
- Keluhan gangguan abdomen
- Tatalaksana medis yang sudah dilakukan
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum
- Pemeriksaan abdomen
- Pemeriksaan perineum/anorectal (inspeksi, palpasi, RT)
- Pemeriksaan fungsi neuromuscular
- Pemeriksaan sensorik
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik
Diagnosis Banding
- Stroke
- Traumatic Brain Injury
- Parkinson
- Dementia
- Spinal Cord Injury
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi Defekasi
Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium dasar
- Abdominal radiography
- Farmakologis
• Latihan lingkup gerak sendi dan endurans
• Modalitas listrik (Elektrostimulasi)
• Anal Pressure Biofeedback
Edukasi
• Latihan penguatan pelvic floor muscles
• Mengatur pola BAB (Bowel Habituation Program)
• Mengatur pola makan dan jenis makanan
Indikator Medis
Peningkatan kekuatan pelvic floor muscle, Peningkatan quality of life, Bristo
Stool Chart, Bowel Function Basic Data Set Form
Kepustakaan
1. Rodriguez D.M & Stiens S.A. (2021) “Neurogenic Bowel : Dysfunction and Rehabilitation”,
in Cifu, D. X. (ed.) Braddom’s Physical Medicine & Rehabilitation. six edit. Philadelphia:
Elsevier Ltd, pp. 407-430
2. Emmanuel A. Neurogenic bowel dysfunction. F1000Research 2019, 8 (F1000 Faculty
Rev):1800
Pengertian
Gangguan pada fungsi berkemih (pengisian dan pengosongan urin) yang
dapat disebabkan oleh berbagai etiologi, baik neurogenik maupun non
neurogenik.
Anamnesis
- Riwayat atau pola berkemih saat ini, buku harian berkemih
- Keluarnya urin yang tidak terkendali pada waktu yang tidak dikehendaki
tanpa memperhatikan frekuensi dan jumlahnya atau sulitnya
mengeluarkan urin pada waktu yang dikehendaki
- Tidak lampias
- Riwayat penyakit yang diderita
- Nyeri saat berkemih
- Kuesioner symptoms assessment (OABSS, IPSS, dll)
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum, tanda vital, tanda infeksi
- Palpasi kandung kemih
- Fungsi ekstremitas dan tulang belakang: sensorik, kekuatan otot,
fleksibilitas
- Fungsi refleks Anocutaneous Reflex & Bulbocavernous Reflex
- Sensibilitas (Saddle Anesthesia)
- Pemeriksaan otot dasar panggul
- Uji kognitif dan persepsi kompleks
- Uji Fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM)
- Evaluasi ICIDH / ICF
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis Medis
• Overactive bladder (ICD X : N32.81)
• Neurogenic bladder (ICD X : N31.9)
• Retensio urin (ICD X : R33.9)
• Inkontinensia urin (ICD X : R39.4)
Diagnosis Banding
–
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan radiologis sesuai indikasi
- Pemeriksaan laboratorium: urinalisa, fungsi ginjal
- USG bladder
- Simple cystometry
- Urodinamik (sesuai dengan indikasi)
- Biofeedback
- Cystoscopy
Edukasi
Motivasi mengikuti program latihan, edukasi mengenai tanda-tanda
autonomic dysreflexia
Prognosis Fungsional
Sesuai dengan etiologi
Indikator Medis
- Tidak terjadi komplikasi di urinary tract
- Perbaikan voiding diary
- Perbaikan score kuesioner Symptoms Assessment
Kepustakaan
1. https://doi.org/10.1590/S1677-5538.IBJU.2021.0098 diakses pada 13 Agustus 2022
pukul 12.58
2. published online. 2019. “Posterior tibial nerve stimulation for overactive bladder—
techniques and efficacy” doi: 10.1007/s00192-019-04186-3 diakses pada 13 Agustus
2022 pukul 13.00
3. Alka A. Bhide,corresponding author Visha Tailor, Ruwan
Pengertian
Lymphedema adalah akumulasi cairan tinggi protein dalam jaringan yang
disebabkan oleh gangguan fungsi pembuluh getah bening yang mengganggu
drainase sistem limfatik lengan atau kaki.
Anamnesis
- Bengkak pada lokasi, ukuran, tekstur, sejak kapan
- Keluhan lain : berat, sulit digerakkan, lemah, nyeri
- Riwayat penyakit yang berhubungan dengan area bengkak : trauma,
penyakit inflamasi, operasi, kemoterapi, radioterapi, dan lain-lain
- Riwayat kondisi lain pemicu bengkak : gangguan darah, gangguan
jantung, penyakit ginjal, penyakit vena, dan lain-lain
- Gejala yang mungkin berhubungan dengan penyakit keganasan
Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi : lokasi edema, perubahan kulit : tanda radang, luka, cairan
- Palpasi : kelenjar getah bening, tekstur kulit, pitting/non pitting edema
ukur lingkar edema sisi sehat dan sakit → bandingkan → tentukan
staging limfedema
- Uji fungsi KFR : lingkup gerak sendi, kekuatan otot, assemen nyeri,
lokomotor, uji fungsi tangan, uji fungsi aktivitas hidup sehari-hari, uji
kualitas hidup (EORTC)
- Evaluasi psikososialspiritual
Kriteria Diagnosis
Sesuai kriteria anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Hipoalbumin
- Deep vein thrombosis
- Lipoedema
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi:
- Gangguan mobilitas lengan/kaki sisi sakit (ICD 10 M24.5) akibat :
• Limfedema lengan/kaki, disertai
o Keterbatasan lingkup gerak sendi lengan dan bahu; serta kaki
o Kelemahan otot lengan/kaki sisi sakit
o Nyeri dengan atau tanpa penekanan pleksus saraf
Gangguan Partisipasi:
- Gangguan prevokasional dan okupasi (Z73.6)
- Gangguan leisure (Z73.2)
- Gangguan seksual pada disabilitas (R37)
- Gangguan sosial (Z73.5)
- Dukungan keluarga (Z63.8)
- Gangguan kembali bekerja (Z56)
Pemeriksaan Penunjang
- USG Color Doppler: untuk menyingkirkan trombus vena dalam dan
mengevaluasi kelainan vena
- USG: menilai karakteristik jaringan: penebalan kulit dan fibrosis jaringan
- Limfoskintigrafi; untuk mengidentifikasi insufisiensi limfatik
- Laboratorium darah: hipoalbumin, pengentalan darah
Edukasi
- Perawatan kulit : hindari luka atau gesekan pada kulit, jaga kelembapan
kulit area yang sakit
Prognosis Fungsional
Perbaikan fungsional pada limfedema tanpa penyulit : edema yang besar,
ulkus di ketiak/selangkangan/badan dengan atau tanpa metastasis kulit
atau jaringan
Indikator Medis
70% penderita kanker payudara ada perbaikan lymphedema
Kepustakaan
1. Annals of Physical and Rehabilitation Medicine 56 (2013):396-410
2. Kayiran O, et al. Lymphedema: From Diagnosis to Treatment. Turk J Surg 2017; 33:51-7
3. Fialka-Moser V, Korpan M, Varela E, et al. The role of physical and rehabilitation medicine
specialist in lymphoedema. Ann Phys Rehabil Med. 2013;56(5):396-410.
doi:10.1016/j.rehab.2013.03.002
4. Damstra RJ, Halk AB; Dutch Working Group on Lymphedema. The Dutch lymphedema
guidelines based on the International Classification of Functioning, Disability, and Health
and the chronic care model. J Vasc Surg Venous Lymphat Disord. 2017;5(5):756-765. doi:
10.1016/j.jvsv.2017.04.012.
5. Rangon FB, da Silva J, Dibai-Filho AV, Guirro RRJ, Guirro ECO. Effects of Complex
Physical Therapy and Multimodal Approaches on Lymphedema Secondary to Breast
Cancer: A Systematic Review and Meta-analysis of Randomized Controlled Trials. Arch
Phys Med Rehabil. 2022;103(2):353-63.
6. Scibilia G, Capobianco SV, Bonifacino A, Paolucci T. Breast Cancer Rehabilitation: A
Critical Review of Clinical Practice Guidelines and Evidence-based Medicine in Literature.
J Rehab Therapy. 2019;1(1):12-20
7. Cheville AL, McLaughlin SA, Haddad TC, Lyons KD, Newman R, Ruddy KJ. Integrated
Rehabilitation for Breast Cancer Survivors. Am J Phys Med Rehabil. 2019;98(2):154-64.
doi:10.1097/PHM.0000000000001017
Pengertian
Amputasi adalah hilang atau putusnya bagian tubuh, seperti jari, lengan,
atau tungkai. Amputasi bisa terjadi akibat cedera, atau bisa juga merupakan
bagian dari operasi pemotongan bagian tubuh tertentu untuk mengatasi
suatu kondisi atau penyakit.
Anamnesis
- Semua atau sebagian anggota badan hilang, sensasi phantom limb, nyeri
phantom, nyeri stump, edema dan rasa sakit akibat operasi.
- Mechanism of injury
- Riwayat amputasi
- Gangguan fungsi dan aktivitas
- Riwayat pekerjaan
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan muskuloskeletal umum
- Evaluasi penyembuhan luka, lingkup gerak sendi, kekuatan otot, dan
integritas insisional pada sisa ekstremitas
- Penilaian kekuatan dan kemampuan ekstremitas atas untuk
menggunakan alat bantu
- Penilaian potensi kerusakan kaki yang normal
- Pemeriksaan stump (bekas insisi, eritema, daerah nekrosis, neuroma)
- Uji Fungsi:
● Evaluasi ROM
● Evaluasi kekuatan otot pinggul dan lutut
● Evaluasi kontraktur
● Evaluasi postur dan gait dengan dan tanpa prosthesis
● Evaluasi ketahanan kardiorespirasi
● Evaluasi keseimbangan
● Pemeriksaan fungsi tangan
● Work analysis
● Status mental
● Analisa lingkungan rumah dan pekerjaan
- Pemeriksaan Penunjang:
● Radiografi polos pada area cedera dengan berbagai posisi spesifik
● CT Scan
● ABI
● USG
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
Congenital limb deficiency
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Nyeri (G.54.6)
- Kelemahan otot (M.62.9)
- Keterbatasan lingkup gerak sendi (M.25.6)
- Gangguan keseimbangan (R.92.6)
- Gangguan ketahanan kardiorespirasi (R.94.3, R94.2)
Gangguan aktivitas:
- Abnormalitas pola jalan dan mobilisasi (R.26)
- Limitasi aktivitas (Z.56)
Gangguan partisipasi
- Restriksi partisipasi (Z60)
Farmakologi :
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik)
- Injeksi dengan analgetik/steroid
Edukasi
- Edukasi proper positioning
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, elevasi, dan kompres
dingin.
- Proper body mechanic dan proteksi sendi.
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti:
• Latihan lingkup gerak sendi
• Latihan penguatan isometrik/isotonik dinaikan bertahap
• Latihan peregangan
Prognosis Fungsional
Untuk fungsi ambulasi dan ADL terkait dengan:
- Regio dan level amputasi (detailnya merujuk pada lower limb amputation)
- Jenis prosthesis (kosmetik atau fungsional)
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale
- Range of Motion (ROM)
- Hamilton depression rating scale
- AMPPRO: Amputee Mobility Predictor
- Functional Measures for Amputees (FMA)
- Brief Activity Measure for Upper Limb Amputees (BAM-ULA)
- Functional Measure for Amputees
Kepustakaan
1. Draicchio F, Tatarelli A, Castellano S, Poni I, Rossi P. Comparative Analysis of the
Assessment Methods of the Rehabilitative-Prosthetic Path of the Patient with Lower Limb
Prosthesis. In book: Advances in Social and Occupational Ergonomics. June 2019.
DOI:10.1007/978-3-030-20145-6_44
Pengertian
Amputasi karena kondisi pembuluh darah bertanggung jawab terhadap
sebagian besar (82%) penyebab hilangnya ekstremitas bawah. Lebih dari
setengah dari amputasi dysvascular (53,6%) berada pada tingkat
transfemoral (25,8%) dan transtibial (27,6%); dan 31% melibatkan jari kaki.
Sebagian besar amputasi terjadi pada orang berusia 60 tahun lebih. Trauma
adalah penyebab berikut yang paling umum dari amputasi ekstremitas
bawah (22%), diikuti oleh tumor (5%). Namun, pada anak usia 10 sampai 20
tahun, tumor adalah penyebab paling umum dari amputasi ekstremitas atas
dan ekstremitas bawah. Amputasi pria melebihi jumlah wanita yaitu 2.1:1
diamputasi pada penyakit dan 7.2:1 pada trauma.
Anamnesis
- Riwayat hilang semua atau sebagian anggota badannya
- Sensasi phantom limb, nyeri phantom, nyeri stump, dan rasa sakit akibat
operasi
Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi : Sebagian anggota badan hilang
- Palpasi : Pemeriksaan stump untuk memeriksa bekas insisi, eritema,
daerah nekrosis, dan neuroma
- Amputasi Transtibial (below knee) dan Syme
• Evaluasi ROM pada lutut dalam keadaan fleksi dan ekstensi
• Kekuatan otot ekstensor lutut harus lebih dari 4/5 untuk ambulasi
sukses dengan prostesis
• kontraktur fleksi lutut 10 sampai 18 derajat dapat diakomodasi
dengan prostesis transtibial.
• Kontraktur lebih dari 20 derajat memerlukan ambulasi dengan bent
socket, weight bearing melalui lutut
- Amputasi Transfemoral (above knee)
• ROM harus mencakup fleksi, ekstensi, adduksi, dan abduksi pinggul.
• Prostesis transfemoral dapat mengakomodasi kontraktur fleksi hip
sampai 20 derajat, bila lebih dapat membuat fitting prostetik dan
ambulasi sulit.
• Kekuatan harus bernilai 4/5 atau lebih pada fleksi-ekstensi dan
abduksi pinggul
• Evaluasi gait dengan prosthesis
Diagnosis Banding
Residual Limb Pain
- Edema
- Neuroma
- Incision
• Post surgical
• Infeksi
• Bone Overgrowth
- Iskemia
- Phantom Pain
- Sympathetic Pain
- Radikulopati
Amputasi
- Amputasi Kongenital
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan fleksibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan ambulasi (R26.2)
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Risiko jatuh (R29.6)
- Gangguan keseimbangan (R.27.8)
Gangguan partisipasi :
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- EMG dan nerve conduction studies untuk menyingkirkan kelainan
radikulopati atau penyakit lainnya pada phantom limb
- Radiografi polos untuk menilai bone overgrowth pada pasien muda
- Rehabilitasi
• Latihan prostetik setelah stump matur/matang
• Okupasi terapi untuk mengidentifikasikan assistive device yang
diperlukan dan mendorong kemandirian
- Farmakologi
• Analgetik : non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik (LoE 1a,
2)
• Suplemen : vitamin dan mineral
• Topikal : anti radang/NSAID (LoE 1a)
Edukasi
- Perawatan puntung
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti daerah puntung
• Latihan lingkup gerak sendi
• Latihan penguatan isometrik/isotonik
Prognosis Fungsional
Prognosis untuk amputasi tergantung penyebab dari amputasi dan penyakit
penyerta.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale : FIM, BARTHEL
- Range of Motion (ROM)
- Kekuatan otot (MMT)
- Kualitas hidup : SF-36
Kepustakaan
1. Gittler M. Lower Limb Amputations, In : Frontera W, Silver J, Rizzo T, Eds. Essential of
Physical Medicine and Rehabilitation 2nd Edition. Elsevier Inc. Philadelphia. 2008. p
599-604
2. Gitter A, Bosker G. Upper and Lower Extremity Prosthetics, In : DeLisa JA, at al (eds).
Physical Medicine & Rehabilitation Principles and Practice 4th ed. Lippincort William &
Wilkins, Philadelphia: 2005. P 2017-2050 l
3. Esquenazi,I, Kwasniewski M; Lower Limb Amputations: Epidemiology and Assessment;
https://now.aapmr.org/lower-limb-amputations-epidemiology-and-
assessment/#:~:text=Definition,or%20proximal%20to%20the%20ankle.
Pengertian
- Inflamasi tendon dan selubung pembungkus tendon otot abductor pollicis
longus dan extensor pollicis brevis (di kompartemen pertama pergelangan
tangan) karena penggunaan yang berulang.
- Tujuan rehabilitasi: mengurangi nyeri dan mengoptimalkan fungsi
pergelangan tangan dan mencegah keterbatasan aktivitas dan partisipasi
pasien
- Epidemiologi : wanita > laki-laki, usia 35-55 tahun.
Anamnesis
- Keluhan nyeri pada pergelangan tangan ketika menggenggam dan
mengekstensikan ibu jari, atau digambarkan sebagai nyeri pada
penekanan di area tersebut, yang persisten selama beberapa minggu atau
bulan.
- Keluhan lainnya dapat berupa kekakuan atau nyeri seperti neuralgia,
namun sangat jarang terjadi parestesia pada area distribusi nervus
radialis.
- Biasanya terdapat riwayat penggunaan pergelangan tangan dan ibu jari
yang berlebihan dan berulang pada pekerjaan rumah tangga dan hobi,
misalnya penggunaan telepon genggam, bermain piano, merajut, dsb.
Pemeriksaan Fisik
- Nyeri tekan dan bengkak pada area sekitar prosesus styloideus radii
- Tes Finkelstein positif
- Penurunan kekuatan menggenggam dan menjimpit karena nyeri atau
“disuse” sekunder karena nyeri
- Keterbatasan fisik menggunakan International Classification of Function:
● Gangguan Body structure and Body function
● Keterbatasan aktivitas sehari-hari
● Penghambatan partisipasi pada kegiatan sosial, olahraga rekreasional
dan profesional
● Gangguan tidur karena nyeri
Pemeriksaan Penunjang
- USG Muskuloskeletal
- Foto polos pergelangan tangan untuk menyingkirkan penyebab lain
- Laboratorium untuk menyingkirkan penyebab lain
- Perbaikan gejala setelah injeksi anestetik lokal pada kompartemen
pertama pergelangan tangan
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Diagnosis Banding
- Carpal Joint arthritis
- Triscaphoid arthritis
- Intersection syndrome
- Radial nerve injury
- Ganglion cyst
- Cervical radiculopathy
- Scaphoid fracture
- Carpal tunnel syndrome
- Radioscaphoid arthritis
- Kienböck disease
- Extensor pollicis longus tenosynovitis
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Nyeri (M25.5)
- Gangguan kekuatan otot (M25.5)
- Gangguan lingkup gerak sendi (M25)
- Gangguan hand function (M25.839)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z73.6)
- Gangguan tidur karena nyeri (Z72.820)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan kembali bekerja (Z56.6)
Farmakologi:
- NSAIDS (Dosis: sesuai pilihan NSAID) (LoE 2)
- Interventional Pain Management (IPM): (LoE 1)
● Injeksi kortikosteroid (20-40mg triamcinolone acetate)
● Anestesi lokal (lidocain 2%)
● Regenerative therapy: proloterapi (dextrose 12.5%, tiap 2-3 bulan)
(LoE 2)
- Rujuk untuk tindakan operasi (pre dan post rehabilitation program)
Edukasi
- Pada tahap awal pengobatan yang dilakukan adalah dengan terapi
konservatif.
- Menghindari pekerjaan yang menggunakan jari-jari, khususnya ibu jari.
Hal ini dapat membantu penderita dengan mengistirahatkan (imobilisasi)
kompartemen dorsal pertama pada ibu jari agar edema lebih lanjut dapat
dicegah.
- Idealnya, immobilisasi ini dilakukan sekitar 4-6 minggu.
- Latihan hand function
Prognosis Fungsional
Hand function baik
Kepustakaan
1. Awan, W. A., Babur, M. N., & Masood, T. (2017). Effectiveness of therapeutic ultrasound
with or without thumb spica splint in the management of De Quervain’s disease. Journal
of Back and Musculoskeletal Rehabilitation, 30(4), 691–697. doi:10.3233/bmr-160591
2. De Jong RN. The Neurologic Examination revised by AF.Haerer, 8 th ed, JB Lippincott,
Philadelphia. 2019
3. Goel R, Abzug JM. de Quervain's tenosynovitis: a review of the rehabilitative options.
Hand (N Y). 2015 Mar;10(1):1-5. doi: 10.1007/s11552-014-9649-3. PMID: 25762881;
PMCID: PMC4349843
4. Homayouni, K., Zeynali, L., & Mianehsaz, E. (2013). Comparison between kinesio taping
and physiotherapy in the treatment of de quervain’s disease. Journal of Musculoskeletal
Research, 16(04), 1350019. doi:10.1142/s021895771350019x
5. Huisstede BM, Coert JH, Fridén J, Hoogvliet P. 2014. Consensus on a multidisciplinary
treatment guideline for de Quervain disease: results from the European HANDGUIDE
study. American Physical Therapy Association
6. Saaiq M. Management Outcome of de Quervain's Disease with Corticosteroid Injection
Versus Surgical Decompression. Arch Bone Jt Surg. 2021 Mar;9(2):167-173. doi:
10.22038/abjs.2020.47822.2359. PMID: 34026933; PMCID: PMC8121040
7. Haghighat, S., Vahdatpour, B., & Ataei, E. (2021). The Effect of Extracorporeal
Shockwave Therapy on de Quervain Tenosynovitis; a Clinical Trial. Shiraz E-Medical
Journal, In Press. https://doi.org/10.5812/semj.106559
8. Sadeque, A. B. M., Salek, A. K., Khan, M., Ahmed, B., Rahman, H., & Hasan, M. I. (2019).
Comparison of Analgesic Effects of UST with NSAIDs and without NSAIDs in Patients
with De Quervain’s Disease. TAJ: Journal of Teachers Association, 32, 25–32.
https://doi.org/10.3329/taj.v32i1.42685
9. Sharma R, Aggarwal AN, Bhatt S, Kumar S, Bhargava SK. Outcome of low level lasers
versus ultrasonic therapy in de Quervain's tenosynovitis. Indian J Orthop. 2015 Sep-
Oct;49(5):542-8. doi: 10.4103/0019-5413.164050. PMID: 26538761; PMCID:
PMC4598546.
10. Chen H, Yuan A. (548) Prolotherapy treatment for Dequervain's Tenosynovitis and
Intersection Syndrome. The Journal of Pain. 2015;16(4):S113.
Pengertian
- Cedera pada jaringan fibrokartilagenus yang melapisi kedua permukaan
tulang yang bersendi, yaitu antara femur dan tibia.
- Fungsi utama meniscus adalah untuk mendistribusikan beban yang
diterima lutut dan meningkatkan stabilitas.
- Tujuan rehabilitasi: mengurangi nyeri, mencegah disabilitasi sekunder,
mencegah keterbatasan aktivitas dan partisipasi serta mengoptimalkan
fungsi setelah cedera termasuk kembali kompetisi pada atlet
Anamnesis
- Nyeri pada saat aktivitas yang membutuhkan gerakan memfleksikan
lutut
- Biasanya terjadi kondisi lutut terkunci secara mekanik
- Jika terjadi lutut terkunci secara mekanik dan hilangnya kemampuan
ekstensi lutut penuh atau curiga “bucket handle tear”
- Pembengkakan sendi lutut 1 hari setelah cedera
- Keterbatasan aktivitas dan partisipasi yang disebabkan keterbatasan
mobilisasi
Pemeriksaan Fisik
- Evaluasi pola jalan (gait): antalgic gait atau pemendekan fase stance dan
ekstensi sendi lutut pada sisi yang sakit
- Nyeri sendi saat palpasi, terutama pada area posteromedial atau lateral
- Efusi sendi lutut pada sekitar separuh penderita cedera meniskus
- Atrofi otot quadriceps setelah cedera beberapa minggu
- Pemeriksaan neurologis termasuk sensasi dan reflex tendon dalam batas
normal
- Tes “bounce-home” yang positif
- Tes McMurray positif (58% kasus)
- Tes Kompresi Apley positif (45% kasus) (hasil pemeriksaan fisik kurang
dapat diandalkan apabila terdapat cedera ligamen cruciatum anterior
secara bersamaan)
Pemeriksaan Penunjang
- MRI
- USG muskuloskeletal
- Foto polos sendi lutut 2 posisi
- Arthroscopy
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Diagnosis Banding
- Cedera ligamen Cruciatum anterior atau posterior
- Cedera ligamen Collateral medial
- Osteoarthritis
- Tendinitis Poplitea
- Lesi osteokhondrotik
- Nyeri patellofemoral
- Sindrom penjepitan bantalan lemak
- Arthritis inflamatori
- Fraktur Fiseal
- Tumor
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Nyeri (M25.5)
- Gangguan kekuatan otot (M25.5)
Edukasi
Tatalaksana konservatif dilakukan sesuai dengan fase yang dialami .
Prognosis Fungsional
Prognosis fungsional pasca 1 tahun tata laksana cedera meniskus sangat
memuaskan dengan 90% kasus.
Kepustakaan
1. Gulcan Harput, Hande Guney-Deniz, John Nyland, Yavuz Kocabey, Postoperative
rehabilitation and outcomes following arthroscopic isolated meniscus repairs: A
systematic review, Physical Therapy in Sport, Volume 45, 2020, Pages 76-85, ISSN 1466-
853X, https://doi.org/10.1016/j.ptsp.2020.06.011
2. Kopf S, Beaufils P, Hirschmann MT, et al. Management of traumatic meniscus tears: the
2019 ESSKA meniscus consensus. Knee Surg Sports Traumatol Arthrosc.
2020;28(4):1177-1194. doi:10.1007/s00167-020-05847-3
3. Sherman, S. L., DiPaolo, Z. J., Ray, T. E., Sachs, B. M., & Oladeji, L. O. (2020). Meniscus
Injuries: A Review of Rehabilitation and Return to Play. Clinics in sports medicine, 39(1),
165–183. https://doi.org/10.1016/j.csm.2019.08.004
4. Spang III RC, Nasr MC, Mohamadi A, et al. Rehabilitation following meniscal repair: a
systematic review. BMJ Open Sport & Exercise Medicine 2018;4:e000212. doi:10.1136/
bmjsem-2016-000212
5. Malliaropoulos N, Kiritsi O, Tsitas K, Christodoulou D, Akritidou A, Del Buono A, Maffulli
N. Low-level laser therapy in meniscal pathology: a double-blinded placebo-controlled
trial. Lasers Med Sci. 2013 Jul;28(4):1183-8. doi: 10.1007/s10103-012-1219-8. Epub
2012 Oct 24. PMID: 23093133.
6. Mezhov V, Teichtahl AJ, Strasser R, Wluka AE, Cicuttini FM. Meniscal pathology - the
evidence for treatment. Arthritis Res Ther. 2014;16(2):206. doi: 10.1186/ar4515. Epub
2014 Mar 20. PMID: 25167471; PMCID: PMC4060175.
7. Swart, N. M., van Oudenaarde, K., Reijnierse, M., Nelissen, R. G. H. H., Verhaar, J. A. N.,
Bierma-Zeinstra, S. M. A., & Luijsterburg, P. A. J. (2016). Effectiveness of exercise therapy
for meniscal lesions in adults: A systematic review and meta-analysis. Journal of Science
and Medicine in Sport, 19(12), 990–998. doi:10.1016/j.jsams.2016.04.003
8. VanderHave KL, Perkins C, Le M. Weightbearing Versus Nonweightbearing After Meniscus
Repair. Sports Health. 2015 Sep-Oct;7(5):399-402. doi: 10.1177/1941738115576898.
Epub 2015 Mar 10. PMID: 26502413; PMCID: PMC4547112.
9. Bhan K. Meniscal Tears: Current Understanding, Diagnosis, and Management. Cureus.
2020 Jun 13;12(6):e8590. doi: 10.7759/cureus.8590. PMID: 32676231; PMCID:
PMC7359983.
10. Lee, Yong Seuk MD, PhD; Lee, O-Sung MD; Lee, Seung Hoon MD. Return to Sports After
Athletes Undergo Meniscal Surgery: A Systematic Review. Clinical Journal of Sport
Medicine: January 2019 - Volume 29 - Issue 1 - p 29-36 doi:
10.1097/JSM.0000000000000500
Pengertian
- Nyeri yang dirasakan di daerah punggung bagian bawah yaitu di antara
iga terbawah sampai lipatan gluteal
- Epidemiologi
● 60-90 % insiden dalam seluruh hidup
● 5% insiden tahunan
● Insiden pada pria sama dengan wanita
● Pada usia 60 th: wanita lebih banyak dari pria
● Pada sekitar 50% - 80% orang dewasa yang bekerja terjadi LBP tiap
tahunnya
- Tujuan rehabilitasi: kontrol nyeri, mencegah komplikasi, serta
mengoptimalkan aktivitas dan partisipasi
Anamnesis
- Nyeri:
● Lokasi
● Karakteristik
● Tingkat keparahan
● Waktu: onset, durasi, frekuensi
● Faktor pemicu
- Pekerjaan
- Aktivitas sehari-hari
- Perlu perhatian khusus jika didapati hal-hal berikut (red flags):
- Back pain pada usia < 18 tahun dan usia > 55 th
- Riwayat trauma
- Nyeri progresif pada malam hari
- Riwayat keganasan
- Riwayat pengobatan dengan steroid
- Drug abuse, HIV infection
- Penurunan berat badan
- Penyakit sistemik
- Lingkup gerak sendi terbatas dan persisten
- Nyeri yang intens dengan gerakan minimal
- Inkontinensia
- Kelemahan motorik
Pemeriksaan Fisik
- Observasi
● Postur (anterior, posterior, lateral)
Diagnosis Banding
- Pembagian Nyeri Punggung bawah menurut Alberta Canada :
● Spondylogenik
● Nyeri neurogenik
● Nyeri punggung bawah vaskulogenik
● Nyeri punggung bawah viserogenik
● Nyeri punggung bawah psikogenik
- Menurut American College of Physicians snd the American Pain Society :
● NPB non spesifik.
● NPB karena gangguan neurologis (stenosis kanal dan radikulopati)
● NPB yang disebabkan oleh penyakit spinal yang serius (red flags).
- Nyeri punggung bawah dengan kategori red flags :
- Neoplasma/karsinoma
- Infeksi
- Fraktur vertebra
- Sindrom kauda equina
- NPB dengan kelainan neurologik berat
- NPB dengan sindroma radikuler
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Nyeri (R52.9)
- Gangguan kekuatan otot (M25.5)
- Gangguan lingkup gerak sendi (M25)
- Gangguan ketahanan kardiorespirasi (Z72.3)
- Gangguan keseimbangan (R26.81)
- Resiko jatuh tinggi (R29.6)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z73.6)
- Gangguan tidur karena nyeri (Z72.820)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan kembali bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium
- Radiologi: X-ray, CT-Scan, MRI, EMG
- Invasif :
● Dry needling (2 kali seminggu, selama 3 minggu) (LoE 1)
● Wet needling
● Interventional Pain Management (IPM):
o Injeksi Steroid (Epidural, Lumbar Interlaminar, Caudal Epidural,
Transforaminal) (dengan/tanpa USG atau C-arm Guided) (LoE 1)
o Intervensi Facet Joint (Medial Branch Block, radiofrequency, Intra-
articular facet joint steroid injection) (Dengan / tanpa USG atau C-
arm Guided) (LoE 2)
o Injeksi Sacroilliac Joint (Level: Insufficient)
o Injeksi intraartikular, injeksi jaringan lunak pada kasus dengan
faktor pemberat dan atau komplikasi (LoE 1)
- Farmakologi:
● Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik (Dosis
sesuai pemilihan obat) (LoE 1)
● Antidepresan (dosis sesuai pemilihan obat) (LoE 1)
Prognosis Fungsional
Tergantung etiologi dan beratnya defisit neurologis.
Kepustakaan
1. Kreiner DS, et. al. Guideline summary review: an evidence-based clinical guideline for the
diagnosis and treatment of low back pain. Spine J. 2020 Jul;20(7):998-1024. doi:
10.1016/j.spinee.2020.04.006. Epub 2020 Apr 22. Erratum in: Spine J. 2021 Feb 24;
PMID: 32333996.
2. Andrade, R., Duarte, H., Pereira, R., Lopes, I., Pereira, H., Rocha, R., & Espregueira-
Mendes, J. (2016). Pulsed electromagnetic field therapy effectiveness in low back pain: A
systematic review of randomized controlled trials. Porto Biomedical Journal, 1(5), 156–
163. https://doi.org/10.1016/j.pbj.2016.09.001
3. Yue L, Sun MS, Chen H, Mu GZ, Sun HL. Extracorporeal Shockwave Therapy for Treating
Chronic Low Back Pain: A Systematic Review and Meta-analysis of Randomized
Controlled Trials. Biomed Res Int. 2021 Nov 15;2021:5937250. doi:
10.1155/2021/5937250. PMID: 34840977; PMCID: PMC8617566.
4. Uzunkulaoğlu A, Güneş Aytekin M, Ay S, Ergin S. The effectiveness of Kinesio taping on
pain and clinical features in chronic non-specific low back pain: A randomized controlled
clinical trial. Turk J Phys Med Rehabil. 2018 May 15;64(2):126-132. doi:
10.5606/tftrd.2018.1896. PMID: 31453502; PMCID: PMC6657767.
5. Sawant, R., & Shinde, S. (2019). Effect of hydrotherapy based exercises for chronic
nonspecific low back pain. Indian Journal of Physiotherapy and Occupational Therapy -
An International Journal, 13, 133. https://doi.org/10.5958/0973-5674.2019.00027.3
Pengertian
- Tension Type Headache (TTH) merupakan suatu tipe sakit kepala yang
bersifat bilateral, intensitasnya sedang/moderat, dan digambarkan
seperti sensasi tertekan atau diremas yang tidak dipengaruhi oleh
aktivitas.
- Tujuan rehabilitasi: mencegah keterbatasan aktivitas dan partisipasi
Anamnesis
- Nyeri tersebar secara difus, intensitas nyerinya mulai dari ringan sampai
sedang.
- Waktu berlangsungnya nyeri kepala selama 30 menit hingga 1 minggu
penuh. Nyeri timbul sesaat atau terus menerus.
- Lokasi nyeri pada awalnya dirasakan pasien pada leher bagian belakang
kemudian menjalar ke kepala bagian belakang selanjutnya menjalar ke
bagian depan. Selain itu, nyeri ini juga dapat menjalar ke bahu.
- Sifat nyeri kepala dirasakan seperti berat di kepala, pegal, rasa kencang
pada daerah bitemporal dan bioksipital, atau seperti diikat di sekeliling
kepala. Nyeri kepalanya tidak berdenyut.
- Pada nyeri kepala ini tidak disertai mual ataupun muntah.
- Pada TTH yang kronis biasanya merupakan manifestasi konflik psikologis
yang mendasarinya seperti kecemasan dan depresi.
Pemeriksaan Fisik
- Myofascial Trigger Point Syndrome: didapatkan jumping sign, taut band
(+)
- Pasien yang mengalami TTH terlihat tidak nyaman tetapi secara
keseluruhan tidak mengganggu kapasitas fungsional.
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis
banding
- CT-Scan, MRI
- Laboratorium
Kriteria Diagnosis
Kriteria Diagnosis TTH Episodik Infrekeuen:
- Paling tidak terdapat 10 episode serangan dengan rata-rata < 1
hari/bulan (<12 hari/tahun) dan memenuhi kriteria B-D
- Nyeri Kepala berlangsung dari 30 menit sampai 7 hari
- Nyeri kepala paling tidak terdapat 2 gejala khas:
● Lokasi bilateral
● Menekan/megikat (tidak berdenyut)
● Intensitas ringan atau sedang
● Tidak diperberat oleh aktivitas rutin seperti berjalan atau naik tangga
- Tidak didapatkan:
● Mual atau muntah (bisa anoreksia)
● Lebih dari satu keluhan: fotofobia atau fonofobia
- Tidak ada yang lebih sesuai dengan diagnosis lain dari ICHD-3
Disebut sebagai nyeri kepala TTH Episodik frekuen bila terjadi sedikitnya 10
episode yang timbul selama 1–14 hari/bulan selama paling tidak 3 bulan (12–
180 hari/tahun) atau TTH kronik bila nyeri kepala timbul > 15 hari per bulan,
berlangsung > 3 bulan (≥180 hari/tahun).
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Nyeri (R52.9)
- Gangguan kekuatan otot (M25.5)
- Gangguan lingkup gerak sendi (M25)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z73.6)
- Gangguan tidur karena nyeri (Z72.820)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan kembali bekerja (Z56.6)
Edukasi
- Keluarga ikut meyakinkan pasien bahwa tidak ditemukan kelainan fisik
dalam rongga kepala atau otaknya dapat menghilangkan rasa takut akan
adanya tumor otak atau penyakit intrakranial lainnya.
- Keluarga ikut membantu mengurangi kecemasan atau depresi pasien,
serta menilai adanya kecemasan atau depresi pada pasien
- Konservasi energi dan penyerdehanaan kerja, latihan relaksasi
- Koreksi postur
Prognosis Fungsional
Nyeri kepala pada tension type headache dapat tertangani dengan
tatalaksana yang adekuat. Rekurensi nyeri berkisar 30-40%.
Kepustakaan
1. Diagnosis dan Penatalaksanaan Nyeri kepala, Konsensus Nasional V Pokdi Nyeri Kepala
Perdossi, 2016.
2. Gildir S, Tüzün EH, Eroğlu G, Eker L. A randomized trial of trigger point dry needling
versus sham needling for chronic tension-type headache. Medicine (Baltimore). 2019
Feb;98(8):e14520. doi: 10.1097/MD.0000000000014520. PMID: 30813155; PMCID:
PMC6408118.
3. The International Classification of Headache Disorders 3th.Ed., 2013
4. Chowdhury D. Tension type headache. Ann Indian Acad Neurol. 2012 Aug;15(Suppl
1):S83-8. doi: 10.4103/0972-2327.100023. PMID: 23024570; PMCID: PMC3444224.
5. Victoria Espí-López G, Arnal-Gómez A, Arbós-Berenguer T, González ÁAL, Vicente-
Herrero T. Effectiveness of Physical Therapy in Patients with Tension-type Headache:
Literature Review. J Jpn Phys Ther Assoc. 2014;17(1):31-38. doi:
10.1298/jjpta.Vol17_005. PMID: 25792906; PMCID: PMC4316547.
6. Ashina, S., Mitsikostas, D. D., Lee, M. J., Yamani, N., Wang, S.-J., Messina, R., … Lipton,
R. B. (2021). Tension-type headache. Nature Reviews Disease Primers,
7(1). doi:10.1038/s41572-021-00257-2
7. Price J, Rushton A, Tyros I, Tyros V, Heneghan NR. Effectiveness and optimal dosage of
exercise training for chronic non-specific neck pain: A systematic review with a narrative
synthesis. PLoS One. 2020 Jun 10;15(6):e0234511. doi: 10.1371/journal.pone.0234511.
PMID: 32520970; PMCID: PMC7286530.
Pengertian
Suatu penyakit yang idiopatik, progresif, yang menyebabkan keterbatasan
ROM bahu aktif maupun pasif. Penyakit ini melewati 3 fase, biasanya
berlangsung 1-2 tahun. Fasenya yaitu; fase freezing, frozen, dan thawing.
Anamnesis
Gejala sesuai dengan perkembangan penyakit:
- Tahap pertama atau freezing stage
Tahap ini ditandai dengan nyeri di setiap kali sendi bahu digerakkan,
sehingga membuat pergerakannya terbatas. Periode ini berlangsung 6–9
bulan.
- Tahap kedua atau frozen stage
Tahap kedua ditandai dengan mulai berkurangnya nyeri, tetapi sendi
bahu menjadi semakin kaku dan sulit digerakkan. Periode ini bisa
berlangsung selama 4 bulan sampai 1 tahun.
- Tahap ketiga atau thawing stage
Tahap ketiga ditandai dengan pergerakan bahu yang mulai membaik.
Tahap ini umumnya terjadi selama 6 bulan sampai 2 tahun.
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan muskuloskeletal komprehensif
- Analisa postur yang komprehensif
- Pemeriksaan status lokal :
● Look: kontusio, ekimosis, edema
● Feel: nyeri tekan
● Move: nyeri gerak sepanjang ROM pasif dan aktif, nyeri spontan/ saat
istirahat
- Pemeriksaan neurologis, termasuk sensibilitas (light touch, pinprick, two-
point discrimination), proprioseptif
- Special test : Drop arm test, empty can, impingement sign, pain arch, speed
test, neer test, yergason test, hawkin test, apprehension test, tes relokasi,
TOS test, Appley scratch test, Speed Test, Yergason Test, lift off test,
Hawkin Test
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis Banding
- Tendinitis degeneratif
- Tendinitis kalsifikasi
- Tendinitis bisipitalis
- Bursitis subakromialis
- Ruptur rotator cuff
- Subluksasi sendi glenohumoral
- Sindroma thoracic outlet
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi
- Nyeri (R52)
- Gangguan kekuatan otot (M25.5)
- Gangguan lingkup gerak sendi (M25)
- Gangguan ketahanan kardiorespirasi
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z73.6)
- Gangguan transfer dan ambulasi
Gangguan partisipasi:
Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium
- Radiografi polos pada posisi berdiri AP-tunnel view.
- USG Muskuloskeletal
- MRI
• Fase III :
o Latihan peregangan dapat dilakukan untuk meregangkan kapsul
glenohumeral inferior, anterior, dan posterior. Latihan peregangan
ini dapat diberikan 2 kali sehari, 10-15 repetisi, dan hold 10 detik
o Latihan penggunaan resistance band atau bahkan free weight dan
mesin beban. Latihan penguatan otot rotator cuff, latihan kontrol
postur, dan latihan otot deltoid dan dada iberikan 3 kali sehari, 5-
10 repetisi, hold 6 detik
• Latihan dengan virtual reality: Latihan menggunakan game durasi 30
menit – 1 jam/sesi, 3 hari/minggu. Latihan untuk lingkup gerak sendi
bahu. (LoE 2)
- Orthosis (shoulder brace, dinamic splinting) (LoE 3)
Farmakologi:
• Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik)
• Anti depresan
• Invasive interventional treatment
o Injeksi steroid /analgetik intraartikular (LoE 1)
o Hidrodilatasi (tiap minggu selama 4 minggu) (LoE 1)
o Regeneratif therapy: Proloterapi, PRP (setiap 2 minggu, total 3 kali)
(LoE 1)
o Injeksi blok saraf suprascapularis (LoE 1)
o Dry needling dan Wet needling (infilitrasi trigger points) (LoE 3)
Edukasi
Edukasi untuk rutin menjalankan latihan rutin di rumah seperti :
• Latihan pendulum (codman pendulum exercise)
• Latihan dengan menggunakan handuk dan tongkat
• Latihan gerakan dengan rambatan jari-jari tangan pada dinding rumah
• Konservasi energi dan penyerdehanaan kerja, latihan relaksasi
Prognosis Fungsional
Frozen shoulder akan pulih sepenuhnya dengan waktu dan kepatuhan
terhadap tatalaksama yang adekuat. Meski demikian, beberapa penelitian
telah menunjukan keluhan nyeri dan kekakuan bahu jangka panjang jika
penanganan inadekuat.
Kepustakaan
1. Cho, Chul-Hyun et al. “Treatment Strategy for Frozen Shoulder.” Clinics in orthopedic
surgery vol. 11,3 (2019): 249-257. doi:10.4055/cios.2019.11.3.249
2. Wong CK, Levine WN, Deo K, Kesting RS, Mercer EA, Schram GA, Strang BL. Natural
history of frozen shoulder: fact or fiction? A systematic review. Physiotherapy. 2017
Mar;103(1):40-47. doi: 10.1016/j.physio.2016.05.009. Epub 2016 Jun 21. PMID:
27641499.
3. Jain TK, Sharma NK. The effectiveness of physiotherapeutic interventions in treatment
of frozen shoulder/adhesive capsulitis: a systematic review. J Back Musculoskelet
Rehabil. 2014;27(3):247-73. doi: 10.3233/BMR-130443. PMID: 24284277.
4. Zreik NH, Malik RA, Charalambous CP. Adhesive capsulitis of the shoulder and diabetes:
a meta-analysis of prevalence. Muscles Ligaments Tendons J 2016; 6:26
5. Zhang R, Wang Z, Liu R, Zhang N, Guo J, Huang Y. Extracorporeal Shockwave Therapy
as an Adjunctive Therapy for Frozen Shoulder: A Systematic Review and Meta-
analysis. Orthopaedic Journal of Sports Medicine. February 2022.
doi:10.1177/23259671211062222
6. Mohamed AA, Jan YK, El Sayed WH, Wanis MEA, Yamany AA. Dynamic scapular
recognition exercise improves scapular upward rotation and shoulder pain and disability
in patients with adhesive capsulitis: a randomized controlled trial [published correction
appears in J Man Manip Ther. 2020 Jun 10;:1]. J Man Manip Ther. 2020;28(3):146-158.
doi:10.1080/10669817.2019.1622896
7. Shakeri H, Keshavarz R, Arab AM, Ebrahimi I. Clinical effectiveness of kinesiological
taping on pain and pain-free shoulder range of motion in patients with shoulder
impingement syndrome: a randomized, double blinded, placebo-controlled trial. Int J
Sports Phys Ther. 2013 Dec;8(6):800-10. PMID: 24377066; PMCID: PMC3867073.
8. Ünlü B, Çalış FA, Karapolat H, Üzdü A, Tanıgör G, Kirazlı Y. Efficacy of platelet-rich
plasma injections in patients with adhesive capsulitis of the shoulder. Int Orthop.
2021;45(1):181-190. doi:10.1007/s00264-020-04518-9
9. Saltychev M, Laimi K, Virolainen P, Fredericson M. Effectiveness of Hydrodilatation in
Adhesive Capsulitis of Shoulder: A Systematic Review and Meta-Analysis. Scand J Surg.
2018;107(4):285-293. doi:10.1177/1457496918772367
Pengertian
Cedera pada kompleks acromioclavikular dibagi menjadi VI tingkatan
Grade of AC CC Ligament Clavicle Displacement Treatment
Ligament
Injury
displacement
Anamnesis
- Riwayat trauma pada bahu atau sendi acromioklavikular. Pasien
melakukan olahraga seperti sepakbola, ski menuruni bukit.
- Nyeri pada bagian anterior bahu. Nyeri menjalar sampai ke dasar leher
dan trapezius atau otot deltoid atau sampai ke lengan dengan pola
radikular.
- Nyeri pada saat gerakan menyilangkan lengan melewati dada (seperti
hendak mengambil sesuatu dari saku baju) atau ketika gerakan lengan
ke belakang (seperti memakai kaos).
- Nyeri juga saat fleksi bahu (meraih sesuatu melewati kepala) atau ketika
lengan diadduksikan melewati dada.
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan pada leher dan bahu
- Pemeriksaan status lokal:
• Inspeksi: daerah yang meninggi pada sendi acromioklvikular, depresi
scapula, edema .
• Palpasi: nyeri tekan, nyeri ROM aktif, nyeri saat fleksi bahu yang
ekstrim, nyeri saat bahu di fleksikan secara aktif atau pasif.
Kriteria Diagnosis
Pada anamnesis didapatkan nyeri, keterbatasan lingkup gerak sendi aktif
dan pasif. Pemeriksaan fisik mencakup inspeksi, palpasi, pemeriksaan
khusus muskuloskeletal.
Diagnosis Banding
- Fraktur
- Dislokasi sendi
- Cedera saraf perifer
- Osteoartritis
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Radiografi polos pada area cedera dengan berbagai posisi spesifik
- CT Scan
- USG muskuloskeletal
- MRI
Farmakologi
- NSAID
- Injeksi intraartikular dengan kombinasi anestesi lokal dan kortikosteroid
dapat mengurangi nyeri dengan cepat dan lebih lama berkurang nyerinya.
Edukasi
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, elevasi, dan kompres
dingin.
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti:
• Latihan lingkup gerak sendi
• Latihan penguatan isometrik/isotonik dinaikan bertahap
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale : FIM, BARTHEL
- Fungsi sendi bahu (DASH, SPADI)
- Range of Motion (ROM)
- Kekuatan otot (MMT)
- Kualitas hidup : SF-36
Kepustakaan
1. Rizzo TD. Acromioclavicular Injuries. In : Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD (eds).
Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation, second edition. Saunders publishing,
Philadephia; 2008 : 41-8
2. Finnoff JT. Musculoskeletal Disorders of Upper Limb. In : Braddom RL (ed). Physical
Medicine and Rehabilitation, fourth edition, Elsevier Saunders publishing, Philadelphia;
2011:817-42
3. Klaiman MD, Fink K. Upper Extremity Soft Tissues Injuries. In : Frontera WR, DeLisa JA
(eds). DeLisa’s Physical Medicine & Rehabilitation fifth edition, Lippincott
Williams&Wilkins, Philadelphia; 2010:907-2
4. Li X, Ma R, Bedi A. et al,; Current Concepts Review Management of Acromioclavicular
Joint Injuries, The Journal Of Bone And Joint Surgery; 2014
Pengertian
Neuropati Ulna pada pergelangan tangan adalah jebakan saraf ulnaris yang
ditemukan pada pergelangan tangan di dalam terowongan yang dibentuk
oleh tulang pisiformis dan hamatum beserta hook-nya (pisohamate hiatus),
yang kemudian berhubungan dengan aponeurosis yang membentuk atap
dari kanal Guyon.
Tujuan PPK ini adalah untuk mengoptimalkan fungsi dan mencegah
disabilitas sekunder.
Anamnesis
Simptom kebas atau nyeri bervariasi tergantung cabang terminal mana pada
saraf ulna dan percabangan terminal mana yang terkena (gambar 1). Penting
untuk membedakan gejala terjebaknya saraf ulnaris pada pergelangan
tangan dan pada terjebaknya saraf ulna pada siku yang lebih sering terjadi.
- Kelemahan otot-oto tangan dan jari, atrofi otot
- Gangguan sensori pada jari 4-5
- Nyeri tangan
- Kesulitan penggunaan fungsional tangan jika lebih berat
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Ulnar neuropathy at the elbow (or elsewhere), G56. 21
- Thoracic outlet syndrome (typically lower trunk or medial cord), G54.0
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi:
- Gangguan kekuatan otot (M25.5)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z73.6)
- Gangguan gerak dan mobilisasi (R26)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Radiografi polos (melihat fraktur hamate atau tulang karpal lainnya,
MCP, distal radius)
- MRI
- CT-angiografi
- USG muskuloskeletal
- EMG
Tatalaksana KFR dan Tingkat Evidens
Non-Farmakologi
- Initial: istirahat dan hindari tauma apalagi jika kemungkinan penyebab
adalah okupasi atau repetisi
- Ergonomik
- Modalitas:
● Hot/Cold Pack, Superficial Heat (15-20 menit)
● Diathermy (US, MWD, SWD)
Dosis US: 0,5-4W/cm2, durasi 5-10 menit
Dosis MWD/SWD: intensitas sesuai pasien, durasi 15-20 menit
● Low Level Laser Therapy (LLLT) / High Intencity Laser (HIL) (dosis
100mW – 12 Watt), durasi sesuai kondisi penyakit
● Targeted Radiofrequency- Therapy (TR-T)
● Pulsed Magnetic Field,
● Radial Shock Wave Therapy/Extracorporeal Shock Wave (dosis 2000-
3000 shots 3 sesi berturut-turut dengan selang 1 minggu)
● TENS/IF (durasi 15-20 menit)
- Taping
- Latihan terapeutik (Therapeutic Exercises) : latihan fungsi tangan, latihan
ADL, latihan motorik halus, latihan penguatan
Farmakologi:
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik)
- Antidepresan
- Antiepileptik
- Nerve block dengan injectate lidocaine, steroid, prolotherapy, PRP
(landmark guided/USG Guided)
Edukasi
- Proper body mechanic dan proteksi tendon dan sendi.
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah
Prognosis Fungsional
Tipe dan beratnya lesi pada saraf ulna pada pergelangan tangan sangat
menentukan profnosis. Jika kerusakan motor akson berat akan terjadi
kelemahan dan atrofi pada otot yang diinervasi saraf ulna pada tangan dan
menyebabkan pasien tidak dapat melakukan pekerjaan sederhana karena
kurangnya kekuatan menggengam. Bisa juga terjadi nyeri kronis sehingga
sangat terganggu, mirip seperti complex regional pain sehingga bisa terjadi
depresi dan ketergantungan obat.
Indikator Medis
- Uji Fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM, Barthel, PULSES, ADL)
- Disabilities of the Arm, Shoulder and Hand (DASH) Outcome Measure
Kepustakaan
1. Perdosri. Panduan Pelayanan Klinis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta: PT
Adhitama Multi Kreasindo; 2012
2. HAnada E, Keplinger FS, Gupta N. Knee Bursitis. In Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD
(eds) Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation – Musculoskeletal Disorders, Pain
and Rehailitation, third edition. Elsevier Saunders publishing, Philadephia; 2015: 369-
372
3. Hegmann KT (Ed) Knee Disorders. American College of Occupational and Environmental
Medicine: 2019: 151-154
Pengertian
Merupakan perubahan degeneratif yang terjadi pada tulang servikal (diskus,
corpus vertebra, sendi Luschka dan sendi facet). Penyakit ini memiliki insiden
tahunan lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita dan puncaknya sekitar
50-54 tahun. Mekanisme yang mendasari penyakit ini adalah multifaktor.
Genetik, proses menua (aging), dan faktor gesekan mungkin semuanya
memainkan peranan penting. Diyakini bahwa degenerasi dari diskus
mengakibatkan distribusi beban menjadi abnormal, dan selanjutnya
mengarah pada serangkaian perubahan struktur dari komponen tulang
belakang. Segmen C5-7, biasanya menunjukkan perubahan degeneratif lebih
cepat dan lebih parah dibanding segmen C1-4.
Anamnesis
- Nyeri leher (axial pain) dan keterbatasan gerak (terutama saat
hiperekstensi & fleksi lateral)
- Kekakuan dan spasme otot paraspinal
- Nyeri radikular sesuai dengan radiks (akar) saraf yang terlibat dan
mengikuti distribusi dermatom
- Nyeri menjalar ke kepala area Nuchae ataupun Occipital (degeneratif
sendi servikal atas)
- Nyeri menjalar ke regio upper trapezius (degeneratif sendi servikal bawah)
- Kelemahan otot mengikuti distribusi miotom
- Paraestesia/hipestesia sesuai dengan distribusi dermatom
- Nyeri otot trapezius, paraspinal dan interscapula juga bisa didapatkan
- Keterbatasan fungsional
- Jenis pekerjaan
- Pola aktivitas harian
- Faktor pemberat aktivitas fisik
- Lingkungan rumah
- Kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik
- Hobi
- Aktivitas olahraga
Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi : keabnormalan postur tulang servikal, lengkung lordosis
servikal berkurang, ketidaksimetrisan postur tampak
anterior & posterior.
- Uji Fungsi
• Evaluasi nyeri: Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale,
Face Scale, FLACC, McGill Questionaire
● Uji fungsi ADL (FIM, Barthel)
● Uji kapasitas fungsional (Neck Disability Index/ NDI)
● Uji fungsi kualitas hidup (SF-36)
● Comprehensive Posture analysis by posturography
● Work/physical capacity evaluation
● Disability evaluation
Pemeriksaan Penunjang
- Foto polos servikal; terlihat osteofit, spondilotik, degenerasi diskus,
hipertrofi vertebra (AP, Lateral), terlihat foramina intervertebra dan neural
foramina (oblique)
- MRI : melihat kelainan pada jaringan lunak (soft tissue), hiperintensitas
pada T2-weighted
- CT-Scan : dapat memberikan visualisasi yang baik komponen tulang
servikal dan sangat membantu bila ada proses akut.
- USG Doppler : melihat aliran a.vertebralis
- Elektrodiagnostik : menjelaskan lokasi lesi saraf, tingkat keparahan
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan nyeri (R52)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
Gangguan partisipasi :
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Farmakologi :
- Analgetik, NSAID termasuk COX-2 inhibitor (LoE 3, 4)
- Tricyclic antidepressants: amitriptyline, nortriptyline (LoE 3, 4)
- Muscle relaxants: eperisone, diazepam (LoE 2, 4)
- Injeksi kortikosteroid melalui epidural, 4-6 bulan perjalanan penyakit
(LoE 2, 3)
Edukasi
- Edukasi pasien meliputi penjelasan penyakit, resiko penyakit, self-
management program
- Proper neck mechanic
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti:
● Latihan lingkup gerak sendi
● Latihan penguatan isometrik
● Latihan peregangan
● Ergonomic posture, relaksasi
Prognosis Fungsional
- Hendaya pada gerakan leher sehingga membatasi pandangan ke atas dan
kemampuan kepala dan leher untuk melihat ke samping. Pertimbangkan
untuk aktivitas mengemudi, bekerja dengan menunduk, berenang dan
kegiatan lainnya.
- Perubahan motorik dan sensorik indera dapat mengganggu kemampuan
memegang, tulisan tangan, atau aktivitas motorik halus (fine motor)
lainnya.
- Kekuatan menggenggam ekstensor pergelangan tangan, aktivitas motorik
halus, stabilitas bahu dapat dipengaruhi jika terjadi gangguan pada
radiks saraf servikal.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale : FIM, BARTHEL
- Range of Motion (ROM)
- Kekuatan otot (MMT)
- Kualitas hidup : SF-36
Pengertian
Sekumpulan gejala berupa nyeri tengkuk, nyeri yang menjalar, rasa
kesemutan yang menjalar, spasme otot yang disebabkan karena perubahan
struktural kolumna vertebra servikalis akibat perubahan degeneratif pada
diskus intervertebralis, atau pada ligamentum flavum. Nyeri servikal dapat
disebabkan oleh beberapa hal seperti: proses infeksi, perubahan degeneratif,
trauma, tumor dan kelainan sistemik. Salah satu penyebab nyeri servikal
adalah radikulopati. Berbagai keadaan yang menyebabkan perubahan
struktur anatomi tulang leher dapat menimbulkan keluhan radikulopati.
34% dari populasi mengalami nyeri servikal, 14% diantaranya mengalami
lebih dari 6 bulan. Lebih sering pada populasi usia diatas 50 tahun.
Anamnesis
- Nyeri di tengkuk
- Nyeri menjalar sampai ke lengan
- Kesemutan
- Keterbatasan gerak
- Keterbatasan fungsional
- Jenis pekerjaan
- Pola aktivitas harian
- Faktor pemberat aktivitas fisik
- Lingkungan rumah
- Kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik
- Hobi
- Aktivitas olahraga
Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi : posisi kepala tertekuk menjauhi sisi yang sakit, keabnormalan
postur tulang servikal, lengkung lordosis servikal berkurang,
ketidaksimetrisan postur tampak anterior & posterior.
- Palpasi : Nyeri tekan, kekakuan, spasme otot, keterbatasan lingkup gerak
sendi (ROM) servikal (pada satu ataupun beberapa segmen dan bidang),
nyeri gerak pada berbagai bidang (fleksi, ekstensi dan rotasi).
- Movement : Nyeri gerak (+)
- Tes sensorik & motorik
- Spesial Tes : Spurling (+), Distraksi (+)
Uji Fungsi
- Evaluasi nyeri: Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face
Scale, FLACC, McGill Questionaire
Pemeriksaan Penunjang
- Foto polos servikal : penting untuk mendeteksi adanya subluksasi,
fraktur, maupun proses degeneratif.
- CT Scan : dapat memberikan visualisasi yang baik komponen tulang
servikal dan sangat membantu bila ada proses akut.
- MRI : sebagai pemeriksaan penunjang pilihan untuk regio servikal. Dapat
mendeteksi kelainan pada ligamentum, diskus, medula spinalis, radiks
saraf dan tulang vertebra.
- EMG : membantu mengetahui apakah gangguan neurogenik atau tidak,
menentukan level dari iritasi radiks, membedakan lesi radiks dan lesi
saraf perifer, membedakan adanya iritasi atau kompresi radiks.
Diagnosis Banding
Neurologi
- Myelopati servikal
- Tumor (spinal, Pancoast)
- Syringomelia
- Motor neuron disease
- Herpes zozter
- Brachial plexopathy
- Peripheral nerve entrapment (median, ulnar, radial)
Muskuloskeletal
- Shoulder disease
- Spondylosis servikal
- Nyeri myofacial
- Penyakit inflamasi
- Infeksi
- Tumor
- Tendinitis
Lain-lain
- Iskemia jantung
Gangguan aktivitas :
- Gangguan ambulasi (R26.2)
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Risiko jatuh (R29.6)
- Gangguan keseimbangan (R.27.8)
Gangguan partisipasi :
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Farmakologi :
- Analgetik, NSAID (LoE 3, 4)
- Muscle relaxants: eperisone, diazepam (LoE 2, 4)
- Vitamin B12
Prognosis Fungsional
- Tergantung dari beratnya masalah.
- Beberapa keterbatasan biasanya terjadi karena nyeri.
- Hendaya pada gerakan leher sehingga membatasi pandangan ke atas dan
kemampuan kepala dan leher untuk melihat ke samping. Pertimbangkan
untuk aktivitas mengemudi, bekerja dengan menunduk, berenang dan
kegiatan lainnya.
- Perubahan motorik dan sensorik indera dapat mengganggu kemampuan
memegang, tulisan tangan, atau aktivitas motorik halus (fine motor)
lainnya.
- Kekuatan menggenggam ekstensor pergelangan tangan, aktivitas motorik
halus, stabilitas bahu dapat dipengaruhi jika terjadi gangguan pada
radiks saraf servikal.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale : FIM, BARTHEL
- Range of Motion (ROM)
- Kekuatan otot (MMT)
- Kualitas hidup : SF-36
Kepustakaan
Pengertian
Myalgia: Nyeri otot atau nyeri tekan otot yang biasanya tersebar dan/atau
dengan penyebab tidak spesifik.
Cervicalgia: Nyeri yang terjadi disekitar leher, dapat menyebar ke kepala,
tubuh atau lengan.
Tujuan PPK ini adalah untuk mengoptimalkan fungsi dan mencegah
disabilitas sekunder.
Anamnesis
- Nyeri lokal dan dapat disertai penjalaran
- Nyeri saat ditekan
- Kekakuan
- Rasa sakit memburuk dengan gerakan tertentu dan biasanya muncul
malam hari atau setelah aktivitas.
- Nyeri terasa lebih menonjol dan dapat disertai kekakuan saat berjalan
pada pagi hari
- Tingkat keparahan
- Faktor pemicu
- Pekerjaan, aktivitas sehari-hari yang terganggu
- Riwayat olahraga/cedera/trauma
Pemeriksaan Fisik
- Evaluasi nyeri: Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face
Scale, FLACC, McGill Questionaire
- Look:
• Postur : anterior, posterior, lateral
• Deformitas tulang belakang
• Kulit: psoriasis, atau penyakit vaskular yang menimbulkan nyeri
• Pola jalan
- Feel:
• Tulang
• Otot: trigger point, spasme, tonus
- Move:
• Nyeri gerak
• Uji Fungsi Lingkup Gerak Sendi dan Fleksibilitas merujuk ke buku
Uji Fungsi dan Prosedur :
o ROM Spine: forward flexion, extension, side bending, rotation
o Ekstremitas
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Cervical fracture atau dislokasi
- Cervical discogenic pain
- Cervical herniated disc, radiculopathy
- Cervical facet syndrome
- Fibromyalgia
- Thyroid myopathy
- Neuropati
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi:
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan kekuatan otot (M25.5)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z73.6)
- Gangguan gerak dan mobilisasi (R26)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Radiografi polos
- CT Scan
- MRI
- EMG
- Laboratorium
Farmakologi:
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik)
- Anti depresan
- Botox
- Injeksi intraartikular, injeksi soft tissue (baik dengan landmark guided
atau USG guided) pada kasus dengan faktor pemberat dan atau
komplikasi dengan injectate steroid (LoE 2), prolotherapy, PRP
- Facet Block, Nerve Block, Radiofrequency (bantuan USG/C-Arm)
Tingkat Evidens
- Latihan fisik: Level 1
- Injeksi kortikosteroid: Level 2
- Laser terapi : Level 2
- TENS: Level 1b
Prognosis Fungsional
Cervicalgia dan myalgia ringan tanpa faktor pemberat akan membaik dalam
waktu 6 minggu dan biasanya prognosis fungsional juga baik karena ini
bukan kondisi cedera permanen. Ada kemungkinan bahwa level nyeri diawal
dan beratnya gangguan ROM akan berpengaruh pada prognosis fungsi.
Kondisi lain seperti usia lanjut, pendidikan rendah, level pekerjaan yang
rendah, kondisi preeksisting seperti adanya nyeri leher atau nyeri punggung
bawah, riwayat cedera whiplash juga ada hubungan dengan keluaran
fungsional yang tidak baik.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale
- Range of Motion (ROM)
- Uji Fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM, Barthel, PULSES, ADL)
- Lower Extremity Functional Scale (LEFS)
- Kualitas Hidup
Kepustakaan
1. Astokorki A, Mauger A. Transcutaneous electrical nerve stimulation reduces exercise-
induced perceived pain and improves endurance exercise performance. European Journal
of Applied Physiology. 2017;117(3):483-492.
2. Geneen L, Moore R, Clarke C, Martin D, Colvin L, Smith B. Physical activity and exercise
for chronic pain in adults: an overview of Cochrane Reviews. Cochrane Database of
Systematic Reviews. 2017.
3. Yan J, Zhang X. A randomized controlled trial of ultrasound-guided pulsed
radiofrequency for patients with frozen shoulder. Medicine. 2019;98(1):e13917.
4. Santoso B, Rochman F, Marlini A, Nuhonni S, Soebadi R, Ugahary M et al. Perdosri White
Book. Jakarta: Perdosri; 2012.
5. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014.
6. PB Perdosri. Panduan Pelayanan Klinis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta. 2016
Pengertian
Plantar fasciitis adalah cedera akibat robekan mikro (microtears) yang
berulang pada origo fascia plantaris.
Tujuan PPK ini adalah untuk mengoptimalkan fungsi dan mencegah
disabilitas sekunder.
Anamnesis
- Adanya nyeri tumit
- Karakter
- Tingkat keparahan
- Waktu muncul
- Faktor pemicu
- Pekerjaan, aktivitas sehari-hari yang terganggu
- Riwayat olahraga/cedera/trauma
Pemeriksaan Fisik
- Evaluasi nyeri: Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face
Scale, FLACC, McGill Questionaire
- Look:
• Antalgic gait, dengan pemendekan pada fase stance di sisi yang sakit.
• Bengkak
• Dapat ditemukan kemerahan
- Feel:
Palpasi menunjukkan adanya nyeri (tenderness) pada daerah munculnya
fascia di tuberkulum kalkanealis medial, tendernes dapat juga di
sepanjang plantar fascia.
- Move:
• Nyeri gerak
• Keterbatasan ROM saat dorsofleksi akibat plantar fascia yang
mengalami kekakuan serta kekakuan tendon achilles.
• Uji Fungsi Lingkup Gerak Sendi dan Fleksibilitas merujuk ke buku Uji
Fungsi dan Prosedur
• Uji Kekuatan Otot merujuk ke buku Uji Fungsi dan Prosedur
- Pemeriksaan neurologis tampak normal
- Uji Fungsi Activity Daily Living (ADL) /Aktivitas Kehidupan
Sehari-hari (AKS) merujuk ke buku Uji Fungsi dan Prosedur
Diagnosis Banding
- Rheumatoid Arhrtitis
- Ankylosing Spondilitis
- Gout
- Osteomalacia
- Osteoporosis
- Ostheroarthritis
- Nerve entrapment: Tarsal tunnel Syndome, Entrapment of medial calcaneal
branch of posterior tibial nerve
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi:
- Gangguan kekuatan otot (M25.5)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z73.6)
- Gangguan gerak dan mobilisasi (R26)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Radiografi polos
- MRI
- USG Muskuloskeletal: ketebalan fascia dan fat pad
Farmakologi :
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik)
- Injeksi Plantar Fascia dan atau Nerve Block (baik dengan landmark guided
atau USG guided) pada dengan injeksi lidocaine, steroid (LoE 1),
prolotherapy, PRP
Edukasi
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, elevasi, dan kompres
dingin.
- Proper body mechanic dan proteksi tendon dan sendi.
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah.
- Penggunaan dan pemilihan alas kaki.
Prognosis Fungsional
Pasien tanpa pengobatan dan terus berada dalam kondisi nyeri biasanya
akan memberat sehingga menganggu ADL dan menyebabkan kerusakan dan
degenerasi fascia yang ireversibel.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale
- Range of Motion (ROM)
- Uji Fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM, Barthel, PULSES, ADL)
- Lower Extremity Functional Scale (LEFS)
Kepustakaan
1. Hansen PA, Willick SE. Musculoskeletal Disorders of the Lower Limb. In : Braddom RL
(ed). Physical Medicine and Rehabilitation, fourth edition, Elsevier Saunders publishing,
Philadelphia; 2011: 843-870
Pengertian
Drop foot adalah ketidakmampuan kaki dan jari kaki untuk melakukan
dorsofleksi. Penyebab drop foot dapat dikategorikan menjadi : kelainan saraf
perifer, saraf spinal, saraf pusat, kelainan otot, dan kelainan anatomi
(muskuloskeletal). Dapat juga karena gabungan beberapa penyebab. Drop
foot bisa juga oleh karena cedera lokal atau merupakan gejala dari suatu
penyakit sistemik.
Anamnesis
- Kesulitan mengangkat pergelangan kaki bagian depan dan jari kaki
(dorsofleksi) atau foot drop
- Kelemahan otot dorsofleksi, tebal atau mati rasa pada kaki, kesemutan
- Spasme otot-otot plantar fleksi
- Riwayat jatuh, gangguan pola jalan
- Keterbatasan fungsional
- Jenis pekerjaan
- Pola aktivitas harian
- Faktor pemberat aktivitas fisik
- Lingkungan rumah
- Kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik
- Hobi
- Aktivitas olahraga
Pemeriksaan Fisik
- Berat badan, tinggi badan, Indeks Massa Tubuh
- Foot drop gait, rasa nyeri, kelemahan atau atropi otot dorsofleksi,
sensibilitas menurun atau tidak ada dan spasme otot-otot plantar fleksi
- Pola jalan: steppage gait/ footdrop gait (kaki diseret, atau tidak ada
heelstrike)
- Pemeriksaan refleks
- Pemeriksaan sensorik
- Deformitas tulang
- Evaluasi nyeri bila ada
- Uji Fungsi
● Uji fungsi ADL (FIM, Barthel)
● Uji fungsi keseimbangan, resiko jatuh
● Uji fungsi kualitas hidup (SF-36)
● Comprehensive Posture analysis by posturography
● Work/physical capacity evaluation
● Disability evaluation
Kriteria Diagnosis
- Secara klinis didapatkan ketidakmampuan dorsofleksi ankle karena
kelemahan otot dorsiflexors
- Penyebab drop foot dapat dikategorikan dalam kelainan saraf pusat, saraf
spinal, saraf perifer, kelainan otot, atau kelainan anatomi yang
menyebabkan kompresi saraf. Dapat juga karena gabungan beberapa
penyebab.
Diagnosis Banding
- Flail foot
- Stroke, spastisitas plantar fleksor
- Fraktur
- Kontraktur
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan kelemahan otot (M62)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan ambulasi (R26.2)
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Risiko jatuh (R29.6)
- Gangguan keseimbangan (R.27.8)
Gangguan partisipasi :
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Farmakologi :
- Vitamin, Neurotropik
- Analgesik apabila ada nyeri
Edukasi
- Edukasi tentang penyakit, kemungkinan penyebab, prognosis
- Pencegahan risiko jatuh
- Kepatuhan latihan di rumah
- Memasang dan melepas orthosis
- Foot care pada gangguan sensibilitas
Prognosis Fungsional
- Tergantung penyebab dasar dari Drop foot, derajat kerusakan saraf, dan
viabilitas dari otot yang terlibat
- Keterbatasan fungsi mobilisasi bila tidak dilakukan manajemen yang
sesuai. Dapat mempengaruhi fungsi dalam partisipasi sosial
- Apabila dilakukan restorasi fungsi saraf dan otot, diharapkan dapat
mencapai fungsi ambulasi dengan gait yang aman, stabil sehingga
mencegah risiko jatuh
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
Kepustakaan
1. Nori SL, Stretanski MF. Foot Drop. [Updated 2022 Jun 25]. In: StatPearls [Internet].
Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554393/
2. Gil-Castillo, J., Alnajjar, F., Koutsou, A. et al. Advances in neuroprosthetic management
of foot drop: a review. J NeuroEngineering Rehabil 17, 46 (2020).
3. Carolus AE, Becker M, Cuny J, Smektala R, Schmieder K, Brenke C. The
Interdisciplinary Management of Foot Drop. Dtsch Arztebl Int. (2019). May
17;116(20):347-354.
4. Prenton S, Hollands KL, Kenney LP. Functional electrical stimulation versus ankle foot
orthoses for foot-drop: A meta-analysis of orthotic effects. J Rehabil Med. 2016 Oct
5;48(8):646-656.
5. Esquenazi A, Talaty M. Gait Analysis : Technology and Clinical Applications. In :
Braddom RL (ed). Physical Medicine and Rehabilitation, fourth edition, Elsevier Saunders
publishing, Philadelphia; 2011: 99-116
6. Available from: (www.dynasplint.com/glossary/term/foot-drop,
http://www.livestrong.com/ article/424679-rehabilitation-of-foot-drop)
Pengertian
Merupakan cedera pada mekanisme ekstensor dari jari-jari tangan. Lebih
sering terjadi daripada cedera fleksor karena letaknya yang lebih superfisial.
Dapat berakibat terjadinya ketidakmampuan mengekstensikan jari-jari,
extensor lag, kekakuan sendi, dan nyeri.
Anamnesis
- Riwayat trauma (baru atau berulang)
- Posisi jari pada saat cedera terjadi
- Nyeri (source, site, onset, characteristic, radiation, alleviating, aggraviating)
- Ketidakmampuan menggerakkan jari ke arah ekstensi
Pemeriksaan Fisik
- Observasi pada tangan keadaan istirahat (pada jari yang terjadi lesi akan
tampak posisinya lebih fleksi)
- ROM aktif dan pasif (dievaluasi pada tiap jari)
- Kekuatan menggenggam dan kekuatan ekstensi jari dapat diukur dengan
dynamometer
- Pemeriksaan sensibilitas (light touch, pinprick, two-point discrimination)
- Efek tenodesis
- Uji Fungsi
● Evaluasi ROM
● Evaluasi kontraktur
● Pemeriksaan fungsi tangan (power grip dan pinch)
● Kemampuan menulis dan memanipulasi benda kecil
- Pemeriksaan Penunjang
● Radiografi polos pada area cedera dengan berbagai posisi spesifik
● CT Scan
● MRI
● MRA
● USG Muskuloskeletal
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Fraktur dislokasi
- Dislokasi sendi
Diagnosis Fungsional
- Nyeri (R52.9)
- Kelemahan otot (M62.8)
- Keterbatasan lingkup gerak sendi (M.25.6)
- Gangguan fungsi tangan akibat deformitas fleksi (M21.2)
- Limitasi aktivitas dan restriksi partisipasi (Z.56, Z60)
Tatalaksana konservatif dan pemberian bidai /splint pada cedera zona I dan
zona II. Cedera akut pada zona III dan VIII biasanya diperlukan perbaikan
bedah dan untuk cedera kronik dilakukan tinjauan bedah.
- Zona I (deformitas Mallet)
Terjadi deformitas fleksi dari distal interfalang (DIP). Pada luka tertutup,
dilakukan imobilisasi sendi DIP pada posisi ekstensi penuh atau sedikit
ekstensi selama 6 minggu (tidak boleh hiperekstensi), biasanya
menggunakan stack splint (dilepas hanya saat mandi). Jika setelah 7
minggu tidak terjadi perubahan posisi ekstensor, dilakukan latihan pasif
ROM 10 repetisi/jam , aktif ROM dapat dikerjakan setelah 8 minggu. Pada
deformitas mallet yang kronik dimana tidak dilakukan pengobatan
apapun selama 3 minggu, maka dapat dipasang splint selama 8 minggu
sebelum dilakukan latihan ROM.
- Zona II
Perawatan luka dan splint digunakan selama 7-10 hari, diikuti gerakan
aktif jika tendon yang terputus <50%, bila >50% dilakukan perbaikan
primer dan dilanjutkan dgn splint selama 6 minggu.
- Zona III (deformitas Boutonniere)
Muncul 10-14 hari setelah kejadian. Hilang atau lemahnya gerakan aktif
ekstensi dari sendi PIP. Pada luka tertutup, diberikan splint 4-6 minggu
pada sendi PIP, posisi ekstensi dengan MCP dan sendi pergelangan
tangan dibiarkan bebas. Pada zona III, tindakan operatif dilakukan, jika
terjadi:
Farmakologi :
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik)
- Injeksi dengan analgetik/steroid
Rujuk untuk pembedahan : dilakukan bila terapi konservasi gagal pada zona
I dan II atau cedera terjadi pada zona III sampai VIII. Program rehabilitasi
yang dilakukan adalah tatalaksana seperti di atas (pasca pembedahan)
Tingkat Evidens
- Latihan fisik : Level 1
- Splinting : Level 1
Edukasi
- Edukasi proper positioning
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, elevasi, dan kompres
dingin.
- Proper body mechanic dan proteksi tendon dan sendi.
Prognosis Fungsional:
- Dengan rekonstruksi segera sesudah cedera dan rehabilitasi yang
adekuat, fungsional jari kembali normal sebesar 74,9%-92%. Hasil yang
paling baik bila cedera di ibu jari dan zona TV, sedangkan hasil terburuk
bila cedera pada jari IV dan zona 3.
- Bila melibatkan multidigit atau multiinjury pada beberapa zona memiliki
prognosis yang buruk
- Early active mobilization setelah prosedur tendon repair zona 5 sampai 8
mencegah adesi di sekitar regio repair, sehingga hasil pasca rekonstruksi
menjadi lebih baik dan pemulihan lebih cepat terjadi.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale
- Range of Motion (ROM)
- Sollerman Hand Function Test
Kepustakaan
1. Brault JS, Umphrey GL. Extensor Tendon Injuries. In : Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD
(eds). Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation 2nd ed. Saunders publishing,
Philadephia; 2008 : 139-44
2. Klaiman MD, Fink K. Upper Extremity Soft-Tissues Injury. In : Frontera WR, DeLisa JA
(eds). Physical Medicine & Rehabilitation Principles and Practice 5th ed. Lippincort
William & Wilkins, Philadelphia: 2010. p 907-22 l
3. Ng CY, Chalmer J, Macdonald DJ, Mehta SS, Nuttall D, Watts AC. Rehabilitation
regimens following surgical repair of extensor tendon injuries of the hand-a systematic
review of controlled trials. J Hand Microsurg. 2012 Dec;4(2):65-73.
Pengertian
Cedera traumatis pada tendon fleksor digitorum superfisialis dan tendon
fleksor digitorum profundus yang dapat disebabkan oleh laserasi atau
trauma.
Terjadi pada pekerjaan yang sering memindahkan barang, menggunakan
pisau, atau mencuci piring, orang-orang dengan reumatoid artritis dan atlit.
Regio potensial terjadinya dibagi menjadi 5 zona.
Klasifikasi zona
- Zona I : basis insersio tendon pada phalangs distal sampai phalangs
media
- Zona II : bagian tengah phalangs medial sampai lipatan palmar distal
- Zona III : lipatan palmar distal sampai bagian distal dari ligamentum
transversal carpal
- Zona IV : ligamentum transversal carpal
- Zona V : lipatan pergelangan tangan sampai musculotendineus junction
dari tendon fleksor
Anamnesis
- Riwayat cedera terbuka, seperti sayatan, di sisi telapak tangan,
pergelangan tangan, atau lengan bawah
- Ketidakmampuan untuk menekuk satu atau lebih sendi jari
- Nyeri ketika mencoba menekuk jari
- Nyeri di sepanjang jari di sisi telapak tangan
- Mati rasa di ujung jari
Pemeriksaan Fisik
- Riwayat mekanisme cedera
- Inspeksi :Observasi tangan pada posisi istirahat
- Palpasi dan pergerakan
• Jika sudah terjadi keparahan, jari-jari berada pada posisi ekstensi.
• Periksa gerakan aktif fleksi pada tiap sendi jari
• Jika pergelangan tangan diekstensikan secara pasif, jari-jari
seharusnya berada pada posisi fleksi. Pada kelainan ini jari-jari akan
tetap pada posisi ekstensi.
• Evaluasi kekuatan fleksi setiap jari dengan MMT atau dynamometer.
• Untuk mengetahui fungsi FDP : fleksikan sendi DIP dengan sendi PIP
tetap ekstensi, jika terdapat cedera pada FDP, pasien tidak dapat
memfleksikan sendi DIP.
• Periksa sensasi terutama pada luka tendon terbuka.
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Laserasi tendon parsial
- Anterior interosseous injury
- Trigger finger (stenosing tenosynovitis)
- Median nerve injury
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan fleksibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan ADL (Z74.1)
Gangguan partisipasi :
- Gangguan bekerja (Z56.6)
PemeriksaanPenunjang
- Radiografi jari yang terkena (AP dan lateral)
- USG Muskuloskeletal
- MRI
Non Farmakologi
- Modalitas Fisik : (LoE 1b, 1a, 3)
• Modalitas Listrik (TENS, ES, biofeedback)
• Modalitas dingin (Cryotherapy)
• Modalitas panas (paraffin baths)
Farmakologi
- Analgetik : non-opioid, opioid, ko-analgetik (LoE 1a, 2)
- Suplemen : vitamin dan mineral
- Topikal : anti radang/NSAID (LoE 1a)
- Injeksi kortikosteroid (bila terjadi tenosynovitis)
Edukasi
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, elevasi, dan kompres
dingin.
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti:
• Latihan lingkup gerak sendi
• Latihan penguatan isometrik/isotonik dinaikan bertahap
Prognosis Fungsional
Berkurangnya gerakan sendi, kelemahan otot, dan nyeri berakibat pada
kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale : FIM, BARTHEL
- Fungsi sendi bahu (DASH, SPADI)
- Range of Motion (ROM)
- Kekuatan otot (MMT)
- Kualitas hidup : SF-36
Kepustakaan
1. Brault JS, Umphrey GL. Flexor Tendon Injuries. In : Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD
(eds). Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation 2nd ed. Saunders publishing,
Philadephia; 2008 : 145-8
Pengertian
Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah suatu kondisi ruptur annulus
fibrosus sehingga nukleus pulposus menonjol (bulging) dan menekan
medulla spinalis ke arah kanalis spinalis, atau bila mengarah ke dorsolateral
menekan saraf spinalis sehingga menimbulkan rasa nyeri. HNP mempunyai
banyak sinonim antara lain : Hernia Diskus Intervertebralis, Rupture Disc,
Slipped Disc, Prolapsed Disc dan sebagainya. HNP dapat terjadi di sepanjang
tulang belakang (spine), paling sering pada daerah lumbar dan dapat
menyebabkan nyeri punggung bawah dan lumbar radiculopathy.
Anamnesis
- Nyeri dan kualitas nyeri (lokasi, onset/waktu, karakteristik, adanya
penjalaran sesuai dermatom, faktor yang memperberat, faktor yang
meredakan)
- Kelemahan otot
- Gangguan sensoris : tebal, kesemutan
- Riwayat gangguan berkemih dan buang air besar
- Riwayat gangguan seksual, misal disfungsi erektil pada pria
- Anamnesis red flags
- Keterbatasan fungsional, anamnesis yellow flags
- Jenis pekerjaan
- Pola aktivitas harian
- Faktor pemberat aktivitas fisik
- Lingkungan rumah
- Kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik
- Hobi
- Aktivitas olahraga
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan muskuloskeletal dan saraf perifer
- Pola jalan
- Asimetri pinggang atau pelvis yang satu lebih tinggi dari yang lain
- Evaluasi gerakan pinggang dan gejala radikular (nyeri menjalar ke
ekstremitas bawah).
- Luas gerak sendi spine dan ektremitas bawah
- Manual muscle testing (MMT) sesuai myotome
- Tes spesifik : Straight Leg Raising (SLR) posisi duduk dan supine,
bowstring sign, femoral nerve stretch test, dan sacroiliac dan hip
maneuvers
- Pemeriksaan rektal dan perianal
Uji Fungsi
- Evaluasi nyeri: Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face
Scale, FLACC, McGill Questionaire
- Uji fungsi ADL (FIM, Barthel)
- Uji kapasitas fungsional (Oswestry Disability Index/ ODI)
- Uji fungsi kualitas hidup (SF-36)
- Uji fungsi keseimbangan
- Comprehensive Posture analysis by posturography
- Work/physical capacity evaluation
- Disability evaluation
Pemeriksaan Penunjang
- Studi elektrodiagnosis: pemeriksaan konduksi saraf (nerve conduction
studies/NCS), rekam otot (electromyography/ EMG), dan Somatosensory-
evoked potentials/SSEP
- Foto polos berguna untuk menyingkirkan kemungkinan bony injury atau
metastatik. Dapat melihat celah diskus tetapi tidak kanalis spinalis atau
akar saraf
- MRI, myelography, CT scan sangat bermakna jika dihubungkan dengan
gambaran klinis, dicurigai adanya tumor atau pada kasus yang
memerlukan tindakan operasi. Juga berguna untuk menemukan lokasi
patologis untuk injeksi steroid epidural.
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Spondylolisthesis
- Fraktur vertebra
- Sindroma Piriformis
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan ambulasi (R26.2)
Farmakologi :
- Analgesik : parasetamol, NSAIDs, pelemas otot (LoE 2)
- Intervensi nyeri : Injeksi steroid epidural (LoE 2, 3), radiofrekuensi,
percutaneous lumbar discectomy (LoE 3)
Edukasi
- Edukasi pasien meliputi penjelasan penyakit, resiko penyakit, self-
management program
- Proper back mechanic
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti:
• Latihan lingkup gerak sendi
• Latihan penguatan isometrik
• Latihan peregangan
• Ergonomic posture, relaksasi
Prognosis Fungsional
- Tergantung dari beratnya masalah.
- Beberapa keterbatasan biasanya terjadi karena nyeri. Berdiri dan
berjalan mungkin terbatas, duduk mungkin tidak.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale : FIM, BARTHEL
- Range of Motion (ROM)
- Kekuatan otot (MMT)
- Kualitas hidup : SF-36
Kepustakaan
1. Woon WW, Koch J. Herniated discs: when is surgery necessary?. EFORT Open Rev
2021;6:526-30.
2. Arts MP, Kuršumović A, Miller LE, Wolfs JFC, Perrin JM, et al. Comparison of treatments
for lumbar disc herniation: Systematic review with network meta-analysis. Medicine:
February 2019 - Volume 98 - Issue 7 - p e14410
3. Furlan AD, Malmivaara A, Chou R, Maher CG, Deyo RA, Schoene M, et al. Editorial Board
of the Cochrane Back, Neck Group. 2015 Updated Method Guideline for Systematic
Reviews in the Cochrane Back and Neck Group. Spine. 2015 Nov; 40(21):1660-73
4. Kreiner DS, Hwang SW, Easa JE, Resnick DK, Baisden JL, Bess S, et al; North American
Spine Society. An evidence-based clinical guideline for the diagnosis and treatment of
lumbar disc herniation with radiculopathy. Spine J. 2014 Jan;14(1):180-91.
5. Roelofs PD, Deyo RA, Koes BW, Scholten RJ, van Tulder MW. Nonsteroidal anti-
inflammatory drugs for low back pain: an updated Cochrane review. Spine. 2008 Jul
15;33(16):1766-74
6. Delisa JA, Weinstein S M. Low Back Pain. In : DeLisa JA, at al (eds). Physical Medicine &
Rehabilitation Principles and Practice 4th ed. Lippincort William & Wilkins, Philadelphia:
2005. p 654-68
Pengertian
Skoliosis idiopatik adalah kelainan bentuk tulang belakang yang paling
sering. Sesuai dengan definisi skoliosis idiopatik adalah kurva kearah lateral
dari tulang belakang lebih dari 10 derajat, yang terjadi pada anak yang sehat,
yang mana tidak dikenali etiologi yang ada. Skoliosis Idiopatik dibagi menjadi
tiga kategori, tergantung pada usia di mana pertama kali terdeteksi
kelainannya :
1. Infantile idiophatic scoliosis: onset dimulai usia 0-3 tahun
2. Juvenile idiophatic scoliosis: pertama kali tampak diantara usia 4-9 tahun
3. Adolescent idiophatic scoliosis: onset pada usia 10-18 tahun
Anamnesis
- Pegal di punggung
- Punggung terlihat bengkok
- Ada punuk atau tonjolan di punggung ketika membungkuk
- Sesak napas bila aktivitas fisik berat
- Riwayat keluarga ada yang skoliosis
- Riwayat menarche pada perempuan, munculnya tanda kelamin sekunder
pada laki-laki
Pemeriksaan Fisik
- Look: asimetri bahu, asimetri mammae, asimetri scapula, asimetri lipatan
lemak, rib hump, asimetri panggul
- Feel: spasme otot paraspinal
- Move: nyeri gerak, keterbatasan lingkup gerak sendi
- Chest expansion
- Leg-length discrepancy
Assessment Fungsional
- Penilaian fungsi muskuloskeletal (ekstremitas dan tulang belakang)
secara komprehensif
- Skoliometer untuk menilai rotasi vertebra
- Evaluasi nyeri: Visual analogue scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale,
FLACC, McGill Questionaire
- Work/physical capacity evaluation
- Uji fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM, Barthel, PULSES, ADL)
- Evaluasi ICF
Pemeriksaan Penunjang
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.
Diagnosis Banding
- Scoliosis congenital
- Scoliosis neuromuscular
- Scoliosis postural
Diagnosis Fungsional
- Gangguan postur (R29.3)
- Nyeri (R52)
- Keterbatasan lingkup gerak sendi (M25)
- Gangguan pengembangan dada
- Gangguan psikologis (Poorer body image, greater unhappiness, lower self-
esteem, high-risk behaviors, depresi)
Rujuk untuk pembedahan : pada skoliosis berat dengan sudut Cobb diatas
500
Tingkat Evidens
Edukasi
- Proper body mechanic
- Rutin menggunakan brace bila ada indikasi pemakaian (23 jam sehari
secara bertahap)
- Rutin menjalankan latihan di rumah seperti:
• Latihan lingkup gerak sendi dan peregangan
• Latihan penguatan
Prognosis Fungsional
Mencegah progresivitas sehingga tidak jatuh ke kriteria operasi.
Kepustakaan
1. Negrini et al. 2016 SOSORT guidelines: orthopedic and rehabilitation treatment of
idiopathic scoliosis during growth In Scoliosis and Spinal Disorders.2018; 13:3
Pengertian
Sprain dan strain pergelangan kaki adalah cedera ekstremitas bawah yang
paling umum terjadi saat rekreasi dan berolahraga terutama yang melibatkan
berlari atau melompat. Sprain pergelangan kaki melibatkan peregangan atau
robeknya ligamen pergelangan kaki. 85% terjadi pada aspek lateral
pergelangan kaki, yaitu ligamentum anterior dan ligamentum talofibular
calcaneofibular. 5% sampai 10% lainnya adalah cedera syndesmotic atau
sprain pergelangan kaki tinggi, yang melibatkan robekan parsial dari
ligamentum tibiofibular anterior distal. Cedera syndesmotic dihubungkan
dengan trauma yang lebih berat dengan pemulihan yang lebih panjang dan
mungkin memerlukan operasi.
Cedera ligamen dikategorikan menjadi tiga tingkatan:
- Tingkat I adalah robekan parsial tanpa kelemahan dan hanya edema
ringan. Hanya terjadi sprain ringan pada talofibular anterior dengan
ankle drawer test dan talar tilt test yang negatif.
- Tingkat II adalah robekan parsial dengan laksitas ringan dan nyeri
sedang, nyeri tekan, dan instabilitas. Terdapat gangguan pada kompleks
ligamentum lateral dan sprain calcaneofibular dengan ankle drawer test
positif dan talar tilt test negatif.
- Tingkat III adalah ruptur komplit yang mengakibatkan pembengkakan
yang cukup besar, rasa sakit meningkat, laksitas yang signifikan, dan
sering instabilitas sendi. Didapatkan ankle drawer test dan talar tilt test
yang positif.
Anamnesis
- Sensasi atau bunyi “pop” pada saat cedera
- Nyeri dan nyeri tekan di atas ligamen yang cedera
- Kesulitan weight bearing pada pergelangan kaki yang terluka dan
ambulasi
- Pembengkakan di sekitar daerah cedera dan dapat melaporkan adanya
ekimosis setelah beberapa hari
- Penurunan fungsi dan lingkup gerak sendi bersama dengan instabilitas
lebih sering terlihat di cedera kelas II dan kelas III
- Mungkin ada gejala sensorik di wilayah saraf peroneal superfisial atau
dalam.
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Sprain pergelangan kaki tinggi, sprain syndesmotic
- Fraktur osteochondral dari kubah talar
- Neurapraxia dari saraf peroneal komunis, superfisial, atau dalam
- Fraktur dari prossessus lateral talus (snowboarder fracture)
- Avulsi atau fraktur ujung fibula
- Fraktur pangkal metatarsal kelima
- Cedera tendon peroneus
- Instabilitas sendi subtalar
- Impingement posterior atau fraktur os trigonum
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
Gangguan partisipasi :
PemeriksaanPenunjang
- Radiografi pergelangan kaki
- Stress radiographs
- MRI
Farmakologi
Analgesik atau anti-inflamasi
- Analgetik : non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik
(LoE 1a, 2)
- Suplemen : vitamin dan mineral
- Topikal : anti radang/NSAID (LoE 1a)
- Intervensi nyeri : injeksi kortikosteroid lokal (LoE 1a), injeksi PRP
Edukasi
- Menjaga berat badan
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, rest, dan kompres
dingin
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti:
• Latihan lingkup gerak sendi
• Latihan penguatan isometrik/isotonik dinaikan bertahap
• Latihan peregangan
Prognosis Fungsional
Prognosis untuk ankle sprain/strain tergantung pada ligamen mana yang
terkena dan tingkat gejala dan gangguan fungsional. Beberapa pasien tetap
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale : FIM, BARTHEL
- Range of Motion (ROM)
- Kekuatan otot (MMT)
- Kualitas hidup : SF-36
Kepustakaan
1. Krabak BJ, Baima J. Ankle Sprain, In : Frontera W, Silver J, Rizzo T, Eds. Essential of
Physical Medicine and Rehabilitation 2nd Edition. Elsevier Inc. Philadelphia. 2008. p
421-26
2. Malanga GA, Nadler SF, Bowen JE, Feinberg JH, Hyman GS. Sports Medicine, In : DeLisa
JA, at al (eds). Physical Medicine & Rehabilitation Principles and Practice 4th ed.
Lippincort William & Wilkins, Philadelphia: 2005. p 1413-36
3. Eric TC, Kelly CM. Borg-Stein J, Ankle Sprains: Evaluation, Rehabilitation, and
Prevention, Current Sports Medicine Reports. 2019
Pengertian
Epikondilitis merupakan inflamasi atau nyeri yang terjadi pada regio
epikondilus lateral atau medial.
Pada epikondilitis lateral (tennis elbow) terjadi inflamasi degeneratif kelompok
otot ekstensor, sedangkan pada epikondilitis medial (golfer elbow) terjadi
pada kelompok otot fleksor.
Tujuan PPK ini adalah untuk mengoptimalkan fungsi dan mencegah
disabilitas sekunder
Anamnesis
- Nyeri lokal
- Nyeri saat tekan
- Pembengkakan pada sisi yang terkena.
- Rasa sakit memburuk dengan gerakan fleksi dan biasanya muncul
malam hari atau setelah aktivitas.
- Nyeri terasa lebih menonjol dan dapat disertai kekakuan saat berjalan
pada pagi hari.
- Tingkat keparahan
- Pekerjaan, aktivitas sehari-hari yang terganggu
- Riwayat olahraga/cedera/trauma
Pemeriksaan Fisik
- Evaluasi nyeri: Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face
Scale, FLACC, McGill Questionaire
- Look:
● Bengkak
● Dapat ditemukan kemerahan
- Feel:
● Nyeri tekan pada daerah epicondylus lateral atau medial
- Move:
● Nyeri gerak
● Pada tennis elbow, nyeri meningkat saat ekstensi pergelangan tangan
melawan tekanan terutama bila siku pada posisi ekstensi, lengan
bawah pronasi, pergelangan tangan deviasi ke radial dan tangan
menggenggam
● Pada golfer elbow, nyeri meningkat saat fleksi pergelangan tangan
melawan tahanan
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Posterior interosseous nerve syndrome
- Bone infection or tumors
- Ulnar or median neuropathy around the elbow
- Osteoarthritis
- Triceps tendinitis
- Degenerative arthrosis
- Elbow synovitis
- Lateral ligament instability
- Radial head fracture
- Bursitis
- Collateral ligament tears
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi:
- Gangguan kekuatan otot (M25.5)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z73.6)
- Gangguan gerak dan mobilisasi (R26)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- USG
- MRI
- Arthrography
Farmakologi:
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik), analgetik
topikal (LoE 2)
- Injeksi soft tissue (baik dengan landmark guided atau USG guided) dengan
injectate lidocaine, steroid (LoE 2), prolotherapy, PRP
Edukasi
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, elevasi, dan kompres
dingin.
- Proteksi tendon dan sendi.
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah
Prognosis Fungsional
Kemungkinan pada kondisi memanjang dimana epikondilitis tidak ditangani
dapat terjadi nyeri kronik, terganggug fungsi lengan, dan kemungkinan
kontraktur elbow.
Pada umumnya, kondisi epikondilitis muda dan dapat berhasil jika ditangani
pada fase akut.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale
Kepustakaan
1. Perdosri. Panduan Pelayanan Klinis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta: PT
Adhitama Multi Kreasindo; 2012
2. Weiss LD, Weiss JM. Lateral Epicondylitis In Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD (eds)
Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation – Musculoskeletal Disorders, Pain and
Rehailitation, third edition. Elsevier Saunders publishing, Philadephia; 2015: 113-115
3. Weiss LD, Weiss JM. Medial Epicondylitis In Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD (eds)
Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation – Musculoskeletal Disorders, Pain and
Rehailitation, third edition. Elsevier Saunders publishing, Philadephia; 2015: 116-118
4. Bisset L, Coombes B, Vincenzino B. Tennis Elbow. BMJ Clin Evid. 2011; 2011: 1117.
Pengertian
Cedera ligamen krusiatum anterior adalah cedera pada ligamen krusiatum
anterior yang mengakibatkan terjadinya translasi anterior dan medial os tibia
terhadap os femur.
Anamnesis
- Bunyi pop/snap daerah lutut saat tungkai bawah mengalami
hiperekstensi/rotasi dan sense giving away (rasa gamang) untuk
melakukan aktivitas olah raga terutama melompat, berlari yang
menimbulkan kurangnya rasa percaya diri atlet
- Nyeri dan bengkak 2-3 jam setelah cedera
- Jalan menjadi pincang, sehingga atlet tidak bisa melanjutkan
pertandingan
- Rasa terkunci pada lutut dan gerakan terbatas, harus dicurigai robekan
meniskus
Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi : Edema pada lutut
- Palpasi :
• Drawer test
• Lachman test (grade 1, 2, 3)
• Pivot shift test
- Uji Fungsi
• Visual analogue scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
• Uji fungsi sendi lutut
• Uji fungsi ADL (FIM, Barthel)
• Uji fungsi kualitas hidup (SF-36)
• Evaluasi kerja dan kapsitas fungsional
- Uji khusus lain yang perlu dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis
banding lain adalah:
• Posterior cruciate ligament test
• Medial/lateral collateral ligament test
• Mc Murray test
• Appley’s compression/grinding and distraction test
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan ambulasi (R26.2)
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Risiko jatuh (R29.6)
- Gangguan keseimbangan (R.27.8)
Gangguan partisipasi :
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Foto polos lutut
- MRI
- Arthroskopi diagnostik
Farmakologi
- Analgetik : non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik (LoE 1a, 2)
- Suplemen : vitamin dan mineral
- Topikal : anti radang/ NSAID (LoE 1a)
Prognosis Fungsional
Prognosis untuk pasien tergantung pada berat dan ringan robekan ligamen
dan keterlibatan meniskus.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale : FIM, BARTHEL
- Skala fungsional sesuai regio sendi (KOOS, WOMAC)
- Range of Motion (ROM)
- Kekuatan otot (MMT)
- Kualitas hidup (SF-36)
- Limb Symmetry Index (LSI)
Kepustakaan
1. De Palma’s Connoly JF. Injuries of the Soft Tissues and Bone Element of the Knee Joint.
In : The Management of Fractures and Dislocations. Philadelphia, 1981. 1589-91.
2. Magee DJ. The Knee in Orthopedic Physical Assesment. Philadelphia. 1987. 227-89.
3. Hoppenfeld S. Physical Examination of The Spine and Extremities. Appleton Century
Croft. New York. 1967. 185-95.
4. Inklaar H. Revalidatie Protocol VKB Plastik. Sport Medisch Centrum. 2000
5. Tamin TZ. Pemeriksaan dan Penatalaksanaan Anterior Cruciate Ligament Injury (ACL
Injury). Sport Medical Rehabilitation Training. Jakarta. 2001. L
6. van Melick N, van Cingel REH, Brooijmans F,et al. Evidence-based clinical practice
update: practice guidelines for anterior cruciate ligament rehabilitation based on a
systematic review and multidisciplinary consensus, Br J Sports Med 2016;50:1506–
1515.
Pengertian
Cedera atau robekan ligamen krusiatum posterior (PCL) mewakili 5% sampai
20% dari semua cedera ligamen lutut. Fungsi utama PCL adalah untuk
menahan perpindahan posterior tibia pada femur. PCL juga bertindak
sebagai penahan sekunder dari rotasi tibialis eksterna. Bersama dengan ACL,
berfungsi dalam mekanisme “screw-home” dari lutut dimana tibia meluncur
ke posisi spesifiknya pada gerakan ekstensi lutut terminal.
Secara umum, robekan PCL terjadi pada trauma lutut yang sedang dalam
posisi fleksi. Tetapi dapat juga diakibatkan saat posisi lutut hiperekstensi
dan rotasi lutut pada kaki yang menapak kuat atau pada hiperfleksi paksa.
Cedera PCL umumnya terjadi dengan tambahan cedera lainnya (misalnya,
robekan ACL, robekan ligamen kolateral, dan cedera meniskus). Angka
kejadian cedera PCL lebih banyak pada pria.
Gejala sisa jangka panjang dari ketidakstabilan posterior lutut dapat
menyebabkan arthritis degeneratif.
Klasifikasi Cedera Ligamen Krusiatum Posterior
Kelas Definisi Laksitas (mm)
- I PCL sebagian robek <5
- II PCL sebagian robek 5-9
- III PCL benar-benar robek >10
- IVa PCL dan LCL cedera posterolateral >12
- IVb PCL dan MCL cedera posterolateral >12
- IVc PCL dan cedera ACL >15
Catatan: Kelas I hingga III adalah cedera yang terisolasi; kelas IV adalah
cedera gabungan. ACL ligamen krusiatum anterior; LCL, ligamen kolateral
lateral; MCL, ligamen kolateral medial, PCL, ligamen krusiatum posterior.
Anamnesis
- Terjatuh dengan lutut fleksi atau mengalami benturan pada lutut bagian
anterior ketika tertekuk (misalnya, pada dashboard mobil).
- Beberapa mendengar bunyi “pop” pada saat cedera.
- Nyeri di sepanjang daerah medial dan patellofemoral dari lutut,
- ketidakstabilan, dan ketidakmampuan untuk menahan berat badan dan
berjalan.
- Pembengkakan ringan sampai hebat.
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Robekan ligament krusiatum anterior
- Hiperlaxity pada lutut
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan ambulasi (R26.2)
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Risiko jatuh (R29.6)
- Gangguan keseimbangan (R.27.8)
Gangguan partisipasi :
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Foto polos
- Stress radiographs
- MRI
- Artroskopi diagnostik
Farmakologi
- Analgetik : non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik (LoE Ia, II)
- Suplemen : vitamin dan mineral
- Topikal : anti radang/ NSAID (LoE Ia)
Uji Fungsi
- Visual analogue scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- Uji fungsi sendi lutut
- Uji fungsi ADL (FIM, Barthel)
- Uji fungsi kualitas hidup (SF-36)
- Evaluasi kerja dan kapsitas fungsional
Edukasi
- Program proteksi dan konservasi sendi
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, rest, dan kompres
dingin
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri
berkurang) seperti:
• Latihan lingkup gerak sendi
• Latihan penguatan isometrik/isotonik dinaikan bertahap
• Latihan peregangan
Prognosis Fungsional
Prognosis untuk pasien tergantung pada berat dan ringan robekan ligamen
dan keterlibatan meniscus.
Kepustakaan
1. Curtis C, Bienkowski P, Micheli LJ. Posterior Cruciate Ligament Sprain. In : Frontera
WR, Silver Jk, Rizzo TD (eds) Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation, second
edition, Saunders publishing, Philadephia; 2008 : 381-6
2. Brukner P, Khan K. Clinical Sports Medicine. Sydney : Mc Graw Hill, 2000.
3. Peterson L, Renstrom R. Sports Injuries : Their Prevention and treatment. Singapore :
Kyodo Shing Loong Printing Industries, 1986.
4. McKeag DB, Moeller Jl, editor. ACSM’S Primary Care Sports Medicine. 2nd ed.
Philadelpia : Lippincot Williams & Wilkins, 2007.
5. Andrews JR, Harrelson GL, Wilk KE. Physical Rehabilitation of the Injured Athlete. 3rd.
ed. Philadephia : WB Saunders, 2004.
6. Safran MR, McKeag DB, VanCamp SP. Manual of Sports Medicine. Philadelpia :
Lipincott-Raven Publishers,1998. L
7. Pache S, Aman ZS, Kennedy M; Posterior Cruciate Ligament: Current Concepts Review;
THE ARCHIVES OF BONE AND JOINT SURGERY, 2018
Pengertian
Inflamasi atau penjepitan pada otot-otot rotator cuff (supraspinatus,
infraspinatus, subscapularis, dan teres minor) di acromion, ligamen
coracoacromial, sendi acromioclavicular dan prosessus coracoid.
Tujuan PPK ini adalah untuk Mengoptimalkan fungsi dan mencegah
disabilitas sekunder
Anamnesis
- Nyeri pada bahu bagian posterolateral dan dapat menjalar sampai otot
deltoid.
- Nyeri tumpul dan terutama pada malam hari
- Nyeri bertambah pada saat melakukan aktivitas (abduksi bahu >90
derajat)
- Nyeri bertambah berat pada gerakan kontraksi eksentrik dan pada saat
tidur miring ke sisi yang sakit
- Tingkat keparahan
- Waktu
- Faktor pemicu
- Pekerjaan, aktivitas sehari-hari yang terganggu
- Riwayat olahraga/cedera/trauma
Pemeriksaan Fisik
- Evaluasi nyeri: Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face
Scale, FLACC, McGill Questionaire
- Look : Postur, bandingkan dengan sisi sebelah, atrofi otot,
- Feel : Nyeri pada tuberositas mayor humeri, bursa subacromial, atau
caput longum biseps
- Move:
● Nyeri gerak (fleksi, abduksi)
● Nyeri pada saat internal rotasi bahu (bahu abduksi 90 derajat, siku
fleksi 90)
● Gerakan scapulothorakal yang abnormal
● Uji Fungsi Lingkup Gerak Sendi dan Fleksibilitas merujuk ke buku Uji
Fungsi dan Prosedur
● Uji Kekuatan Otot merujuk ke buku Uji Fungsi dan Prosedur
- Test Khusus Bahu:
● Tes drop arm
● Impingement sign
● Apprehension test
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Rotator cuff tear
- Glenolabral tear
- Muscle strain
- Subacromial bursitis
- Bicipital tendinopathy
- Myofascial pain
- Fracture
- Acromioclavicular sprain
- Tumor
- Myofascial or vascular thoracic outlet syndrome
- Cervical radiculopathy
- Traumatic or atraumatic brachial plexus disease (e.g.,
- Parsonage-Turner [acute brachial neuritis])
- Suprascapular neuropathy
- Thoracic outlet syndrome
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi:
- Gangguan kekuatan otot (M25.5)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z73.6)
- Gangguan gerak dan mobilisasi (R26)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- USG Musculoskeletal
- Rontgen bahu
- MRI
- EMG (menyingkirkan radikulopati servikal)
- Injeksi test anestesi subacromial
Farmakologi:
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik), topical
analgetik
- Injeksi intraartikular, injeksi soft tissue, nerve block (baik dengan
landmark guided atau USG guided) dengan injectate lidocaine, steroid,
prolotherapy, PRP
Edukasi
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, elevasi, dan kompres
dingin.
- Proper body mechanic dan proteksi tendon dan sendi.
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah
Prognosis Fungsional
Risiko terbesar pada tendinopathy roattor cuff yang tidak ditangani adalah
robekan tendon atau munculnya robekan labrum. Dengan memanjangnya
gangguan gerak dan kekuatan serta adanya instabilitas, bisa terjadi
acromion menjadi ‘hooking’. Jika nyeri berkepanjangan dan gerakan bahu
yang berkurang, maka akan terjadi adhesive capsulitis
Kepustakaan
1. Perdosri. Panduan Pelayanan Klinis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta: PT
Adhitama Multi Kreasindo; 2012
2. .Bowen JE, Malanga GA. Rotato Cuff Tendinopathy. In Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD
(eds) Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation – Musculoskeletal Disorders,
Pain and Rehailitation, third edition. Elsevier Saunders publishing, Philadephia; 2015:
80-84
Pengertian
Kondisi yang ditandai dengan nyeri, bengkak, dan nyeri tekan pada daerah
tendon achilles dan sekitar tendonnya.
Tujuan PPK ini adalah untuk mengoptimalkan fungsi dan mencegah
disabilitas sekunder.
Anamnesis
- Nyeri dan nyeri tekan pada area tendon Achilles terutama saat
beraktivitas
- Nyeri biasanya muncul di daerah apex tendon Achilles
- Tingkat keparahan
- Waktu
- Faktor pemicu
- Pekerjaan, aktivitas sehari-hari yang terganggu
- Riwayat olahraga/cedera/trauma
Pemeriksaan Fisik
- Evaluasi nyeri: Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face
Scale, FLACC, McGill Questionaire
- Look:
● Antalgic gait, dengan pemendekan pada fase stance di sisi yang
sakit.
● Dapat ditemukan bengkak terlokalisasi pada daerah Achilles
● Dapat ditemukan kemerahan
● Abnormal foot posture (pes planus atau cavus)
- Feel: Nyeri tekan tajam saat palpasi
- Move:
● Nyeri gerak
● Teraba tegang pada tendon Achilles, dengan kaki dorsoflexi < 90°
● Tegang pada otot hamstring
● Uji Fungsi Lingkup Gerak Sendi dan Fleksibilitas merujuk ke buku Uji
Fungsi dan Prosedur
● Uji Kekuatan Otot, bisa ditemukan kelemahan otot panggul dan
ekstremitas bawah (merujuk ke buku Uji Fungsi dan Prosedur)
● Thompson test yaitu menekan bagian belakang betis dengan hasil
positif berupa plantar flexi untuk membedakan dengan ruptur
tendon
- Pemeriksaan neurologis tampak normal
- Uji Fungsi Activity Daily Living (ADL) /Aktivitas Kehidupan
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Haglund deformity
- Retrocalcaneal bursitis
- Adventitial bursitis
- Achilles tendon rupture
- Tibial stress fracture
- Medial gastrocnemius tear
- S1 (L5) radiculopathy
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi:
- Gangguan kekuatan otot (M25.5)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z73.6)
- Gangguan gerak dan mobilisasi (R26)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- USG Muskuloskeletal
- Radiografi polos
- MRI
Farmakologi:
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik), analgetik
topikal
- Injeksi intraartikular, injeksi soft tissue (baik dengan landmark guided
atau USG guided) dengan injectate lidocaine, steroid, prolotherapy, PRP
Edukasi
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, elevasi, dan kompres
dingin.
- Proper body mechanic dan proteksi tendon dan sendi.
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah
Prognosis Fungsional
Gejala yang kronis menyebabkan kelemahan dan pada akhirnya dapat terjadi
ruptur pada Tendon Achilles. Nyeri yang kronis juga menyebabkan
ketidakseimbangan rantai kinetic sehingga terjadi abnormalitas gait.
Gangguan gait dapat menyebabkan terjadi nyeri lutut, nyeri panggul, nyeri
forefoot sampai nyeri pungung bawah.
Kembali pada aktivitas normal biasanya 6-12 minggu, tergantung jenis
aktivitas, beratnya cedera.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- Range of Motion (ROM)
- Uji Fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM, Barthel, PULSES, ADL)
- Lower Extremity Functional Scale (LEFS)
Kepustakaan
1. Perdosri. Panduan Pelayanan Klinis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta: PT
Adhitama Multi Kreasindo; 2012
2. Stretanski MF. Achilles Tendinopathy. In Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD (eds)
Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation – Musculoskeletal Disorders, Pain and
Rehailitation, third edition. Elsevier Saunders publishing, Philadephia; 2015: 419-422
3. Silbernagel KG, Hanlon S, Sprague A. Current Clinical Concepts: Conservative
Management of Achilles Tendinopathy. J Athl Train. 2020 May; 55(5): 438–447.
Pengertian
Bursitis pada lutut adalah proses inflamasi pada bursa di regio sendi lutut
dan merupakan kelainan klinis yang dapat menyebabkan gangguan
fungsional. Pada regio ini terdapat sebelas bursa, terdapat tiga bursa yang
berhubungan dengan sendi lutut, yaitu kuadriseps atau suprapatelar,
poplitea dan gastroknemius medial; dan empat bursa berhubungan dengan
patella, yaitu prepatellar superfisialis dan dalam, dan infrapatellar
superficialis dan dalam. Sedangkan dua lainnya berhubungan dengan
ligamentum kolateral dari lutut.
Tujuan PPK ini adalah untuk mengoptimalkan fungsi dan mencegah
disabilitas sekunder.
Anamnesis
- Nyeri lokal
- Nyeri saat tekan
- Pembengkakan pada sisi yang terkena.
- Rasa sakit memburuk dengan gerakan fleksi dan biasanya muncul
malam hari atau setelah aktivitas.
- Nyeri terasa lebih menonjol dan dapat disertai kekakuan saat berjalan
pada pagi hari.
- Tingkat keparahan
- Pekerjaan, aktivitas sehari-hari yang terganggu
- Riwayat olahraga/cedera/trauma
Pemeriksaan Fisik
- Evaluasi nyeri: Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face
Scale, FLACC, McGill Questionaire
- Look:
• Antalgic gait, dengan pemendekan pada fase stance di sisi yang sakit.
• Bengkak
• Dapat ditemukan kemerahan
- Feel:
• Nyeri tekan saat palpasi berhubungan dengan bursa yang terkena
• Peningkatan temperatur.
• Jika bursa menempel pada sendi lutut, dapat terjadi efusi.
- Move:
• Nyeri gerak
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Infection (e.g., septic knee)
- Arthritis (osteoarthritis, rheumatoid arthritis, psoriatic arthritis)
- Tumor
- Patellar fracture
- Meniscal tear
- Collateral ligament sprain or tear
- Saphenous nerve entrapment
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi:
- Gangguan kekuatan otot (M25.5)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan ADL (Z73.6)
- Gangguan gerak dan mobilisasi (R26)
Gangguan partisipasi:
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Pemeriksaan Penunjang
- USG Muskuloskeletal
- Radiografi polos
- MRI
- Aspirasi cairan dan analisis
Farmakologi:
- Analgetik (NSAIDs [LoE 1], opioid, muscle relaxant, ko-analgetik),
analgetik topikal
- Antidepresan
- Botox
- Aspirasi (jika diperlukan)
- Injeksi soft tissue (baik dengan landmark guided atau USG guided) dengan
injectate lidocaine, steroid, prolotherapy, PRP
Edukasi
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, elevasi, dan kompres
dingin.
- Proper body mechanic dan proteksi tendon dan sendi.
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah
Prognosis Fungsional
Bisa terjadi komplikasi seperti nyeri kronis, dekondisi, disuse muscle atrophy
dan kontraktur fleksi pada lutut. Semua ini menyebabkan kemampuan
berjalan dan instabilitas postural, terutama jika pada orang tua.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale
- Range of Motion (ROM)
- Uji Fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM, Barthel, PULSES, ADL)
Kepustakaan
1. Perdosri. Panduan Pelayanan Klinis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Jakarta: PT
Adhitama Multi Kreasindo; 2012
2. Hanada E, Keplinger FS, Gupta N. Knee Bursitis. In Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD
(eds) Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation – Musculoskeletal Disorders, Pain
and Rehailitation, third edition. Elsevier Saunders publishing, Philadephia; 2015: 369-
372
3. Hegmann KT (Ed) Knee Disorders. American College of Occupational and Environmental
Medicine: 2019: 151-154
Pengertian
Instabilitas glenohumeral meliputi subluksasi bahu, yaitu sebagian caput
humeri bergeser dari fosa glenoid; dan dislokasi bahu, yaitu seluruh caput
humeri bergeser dari fosa glenoid. Definisi instabilitas sendi bahu adalah rasa
tidak nyaman (discomfort) pada sendi bahu dan merasa sendi “lepas”
(looseness), bergeser (slipping), atau “going out”
Anamnesis
- Nyeri saat diam ataupun bergerak merupakan gejala awal.
- Perasaan sendi bergeser, kelemahan saat melakukan gerakan diatas
kepala juga sering dikeluhkan
- Frekuensi munculnya keluhan rasa instabilitas
- Kemungkinan penyebab : trauma, non trauma
- Bila “going out” ke arah depan, belakang, atau bawah
- Derajat keparahan
- Keterbatasan fungsional
- Jenis pekerjaan
- Pola aktivitas harian
- Faktor pemberat aktivitas fisik
- Kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik
- Hobi
- Aktivitas olahraga
Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi dilakukan dari segala arah (anterior, posterior, dan lateral).
Deformitas, atrofi otot sekitar, asimetri bahu dan winging scapula.
- Palpasi pada jaringan lunak dan tulang dilakukan secara sistematis
meliputi otot-otot rotator cuff, tendon otot biceps, dan region
subacromion.
- Dilakukan pemeriksaan lingkup gerak sendi aktif dan pasif.
- Pemeriksaan kekuatan otot ditujukan untuk menilai adakah kelemahan
pada otot-otot spesifik seperti rotator cuff dan otot stabilisator scapula.
- Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan termasuk manuver load and shift
untuk menilai pergeseran ke arah anterior dan posterior; sulcus sign
untuk menilai laksitas caput humeri inferior; dan tes kompresi O’Brien
untuk menilai robekan pada labrum superior, tes apprehension, anterior
drawer
Pemeriksaan Penunjang
- Radiografi standar
- USG muskuloskeletal
- MR Arthrography
- MRI
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Sindroma Hypermobility
- Ehlers-Danlos syndrome
- Sindroma Marfan
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
Gangguan partisipasi :
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Farmakologi :
- Analgesik atau anti-inflamasi pada fase akut
- Injeksi anestetik atau kortikosteroid pada regio subacromial dapat
membantu mengurangi gejala yang tidak dapat diminimalisir dengan
program rehabilitasi saja
Edukasi
- Hindari bahu pop out, pencegahan cidera ulang
- Penggunaan sendi bahu yang proper
- Latihan rutin dan tepat
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale : FIM, BARTHEL
- Fungsi sendi bahu (DASH, SPADI)
- Range of Motion (ROM)
- Kekuatan otot (MMT)
- Kualitas hidup : SF-36
Kepustakaan
1. Hegedus EJ, Michener LA, Seitz AL. Three Key Findings When Diagnosing Shoulder
Multidirectional Instability: Patient Report of Instability, Hypermobility, and Specific
Shoulder Tests. J Orthop Sports Phys Ther. 2020 Feb;50(2):52-54
2. Dhir J, Willis M, Watson L, Somerville L, Sadi J. Evidence-Based Review of Clinical
Diagnostic Tests and Predictive Clinical Tests That Evaluate Response to Conservative
Rehabilitation for Posterior Glenohumeral Instability: A Systematic Review. Sports
Health. 2018;10(2):141-145.
3. Jaggi A, Alexander S. Rehabilitation for Shoulder Instability – Current Approaches The
Open Orthopaedics Journal, 2017, 11, (Suppl-6, M13) 957-971
4. Cools AM, Borms D, Castelein B, Vanderstukken F, Johansson FR. Evidence-based
rehabilitation of athletes with glenohumeral instability. Knee Surgery, Sports
Traumatology, Arthroscopy : Official Journal of the ESSKA. 2016 Feb;24(2):382-389
5. Plancher KD, Lipnick SL. Analysis of evidence-based medicine for shoulder instability.
Arthroscopy. 2009 Aug;25(8):897-908
6. Micheo WF, Ramos E. Glenohumeral Instability. In : Frontera WR, Silver Jk, Rizzo TD
(eds) Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation, second edition, Saunders
publishing, Philadephia; 2008 : 63-70
7. Brukner P, Khan K. Clinical Sports Medicine. Sydney : Mc Graw Hill, 2000.
8. Peterson L, Renstrom R. Sports Injuries : Their Prevention and treatment. Singapore :
Kyodo Shing Loong Printing Industries, 1986.
Pengertian
Ligamen collateral sendi lutut merupakan ligamen yang penting untuk
stabilisasi sendi lutut serta mencegah terjadinya varus dan valgus.
Klasifikasi berdasarkan cedera ligamen :
- Grade I : nyeri tekan terlokalisir, tanpa laxitas jelas/bermakna
- Grade II : nyeri tekan menyeluruh tanpa laxitas jelas/bermakna
- Grade III : terhentinya gerak ligamen lengkap dengan celah sendi > 10
mm pada kondisi stress ligamen (ligamen diregangkan berlebihan)
Anamnesis
- Nyeri lateral dan medial lutut
- Nyeri yang muncul juga disertai dengan sensasi knee locking.
Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi : Deformitas valgus / varus, tanda radang
- Palpasi : Nyeri tekan, bengkak, kerusakan jaringan sekitar, efusi dapat
terjadi.
- Gerakan : Nyeri gerak, instabilitas sendi
- Tes khusus :
• Tes Abduction stress pada 30° menunjukkan cedera ligamen collateral
medial
• Tes Adduction stress pada 30° menunjukkan cedera ligamen collateral
lateral
• Tes Eksternal rotasi recurvatum
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Iliotibial Band Syndrome
- Meniscus Injuries
- Tibial Plateau Fractures
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan partisipasi :
- Gangguan bekerja (Z56.6)
PemeriksaanPenunjang
- Foto Polos : mendeteksi adanya avulsi dan fraktur tibial plateau.
- USG Muskuloskeletal dapat menggambarkan kondisi ligamen
- MRI : melihat kerusakan ligamen
Rehabilitasi
Tujuan dari rehabilitasi pada lutut dengan cedera ligamen collateral adalah
untuk mengembalikan lingkup gerak sendi, meningkatkan stabilitas, dan
membebaskan aktivitas dari nyeri. Latihan kontraksi isometrik otot
quadriceps dan stimulasi listrik dapat dimulai 24-48 jam setelah cedera
untuk mengurangi bengkak pada jaringan sekitar dan atrofi otot. Latihan
ROM dan stretching dapat dimulai pada hari pertama.
Latihan aerobik dapat diberikan dengan menggunakan ergometer, sepeda
statis, renang (latihan akuatik dengan menggerak-gerakkan kaki).
Rehabilitasi pada fase selanjutnya yaitu dengan meningkatkan aktivitas
olahraga spesifik. Mengkombinasi latihan closed dan open kinetic chain.
Biasanya pasien yang mengalami cedera ligamen collateral ringan dapat
kembali ke aktivitasnya setelah 3-4 minggu. Pasien dengan cedera ligamen
collateral sedang hingga berat dapat kembali beraktivitas setelah 8-12
Farmakologi
- Analgetik : non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik (LoE 1a, 2)
- Suplemen : vitamin dan mineral
- Topikal : anti radang/NSAID (LoE 1a)
Uji Fungsi
- Visual analogue scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- Uji fungsi sendi lutut
- Uji fungsi ADL (FIM, Barthel)
- Uji fungsi kualitas hidup (SF-36)
- Evaluasi kerja dan kapasitas fungsional
Edukasi
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, rest, dan kompres
dingin (RICE)
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti:
• Latihan lingkup gerak sendi
• Latihan penguatan isometrik/isotonik dinaikan bertahap
• Latihan peregangan
Prognosis Fungsional
Prognosis untuk pasien tergantung pada berat dan ringan robekan ligamen
kolateral.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale : FIM, BARTHEL
- Skala fungsional sesuai regio sendi (KOOS, WOMAC)
- Range of Motion (ROM)
- Kekuatan otot (MMT)
- Kualitas hidup (SF-36)
- Limb Symmetry Index (LSI)
Kepustakaan
1. Akuthota V, Lento P. Collateral Ligament Sprain. In : Frontera WR, Silver Jk, Rizzo TD
(eds) Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation, second edition, Saunders
publishing, Philadephia; 2008 : 319-24
2. Brukner P, Khan K. Clinical Sports Medicine. Sydney : Mc Graw Hill, 2000.
3. Peterson L, Renstrom R. Sports Injuries : Their Prevention and treatment. Singapore :
Kyodo Shing Loong Printing Industries, 1986.
4. McKeag DB, Moeller Jl, editor. ACSM’S Primary Care Sports Medicine. 2nd ed.
Philadelpia : Lippincot Williams & Wilkins, 2007.
5. Andrews JR, Harrelson GL, Wilk KE. Physical Rehabilitation of the Injured Athlete. 3rd.
ed. Philadephia : WB Saunders, 2004.
6. Safran MR, McKeag DB, VanCamp SP. Manual of Sports Medicine. Philadelpia :
Lipincott-Raven Publishers, 1998 l
7. Vosoughi F, Dogahe RR, Abbas Nuri A,et al. CURRENT CONCEPTS REVIEW : Medial
Collateral Ligament Injury of the Knee: A Review on Current Concept and Management;
THE ARCHIVES OF BONE AND JOINT SURGERY, 2021
Pengertian
Fraktur adalah diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik.
Anamnesis
- Nyeri bersifat lokal, diperburuk dengan pergerakan, penurunan fungsi
pada bagian yang terkena.
- Riwayat trauma
Pemeriksaan Fisik
- Look: Tanda radang, fraktur terbuka/tertutup, deformitas
- Feel: Nyeri tekan, krepitasi, leg length discrepancy
- Move: Nyeri gerak, keterbatasan lingkup gerak sendi
- Gangguan fungsi ekstremitas atas/bawah
- Gangguan fungsi sensoris
Asesmen Fungsional
- Penilaian fungsi muskuloskeletal (ekstremitas dan tulang belakang)
secara komprehensif
- Visual analogue scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC, McGill
Questionaire
- Uji kekuatan otot menggunakan :
• Hand-held dynamometer
• NK table
• EN Tree
• Isokinetic dynamometer
• Hand grip strength
- Work/physical capacity evaluation
- Uji gerak sendi/fleksibilitas dengan peralatan digital
- Uji keseimbangan dan koordinasi (Balance board, Time up and Go Test, Star
Excursion Balance Test, Stork test balance)
- Timed-walking test
- Bicycle ergometer
- Uji fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM, Barthel, PULSES, ADL)
- Evaluasi ICF
Pemeriksaan Penunjang
- Radiografi polos pada area cedera dengan berbagai posisi spesifik
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.
Diagnosis Banding
- Cedera saraf perifer
- Strain
- Sprain
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Nyeri (R52.2)
- Kelemahan otot (M62)
- Keterbatasan lingkup gerak sendi (M25)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan ambulasi (R26.2)
- Gangguan keseimbangan (R.27.8)
- Gangguan ADL dan partisipasi (Z72.2, Z74.1)
Edukasi
- Pencegahan risiko jatuh
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, elevasi, dan kompres
dingin.
- Edukasi penyesuaian tahapan weight-bearing dan fase bone healing
- Proper body mechanic dan proteksi sendi.
- Rutin menjalankan latihan di rumah seperti:
• Latihan lingkup gerak sendi dan peregangan
• Latihan penguatan isometrik/isotonik dinaikan bertahap
Prognosis Fungsional
Mampu kembali melakukan ADL maupun ambulasi.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC, McGill
Questionaire
- ADL Scale
- Range of Motion (ROM)
- Knee injury and Osteoarthritis Outcome Score (KOOS)
- International Knee Documentation Committee (IKDC)
- Lysholm knee rating system
- Tegner Activity Score
- Foot and Ankle Outcome Score (FAOS)
- Foot function indeks
- Shoulder Pain And Disability Index (SPADI)
- Disabilities Of Arm, Shoulder, And Hand (DASH)
- Hand function
Pengertian
Fraktur tulang belakang adalah diskontinuitas tulang pada sepanjang tulang
belakang tanpa disertai dengan defisit neurologis.
Anamnesis
- Nyeri bersifat lokal, diperburuk dengan pergerakan, penurunan fungsi
pada bagian yang terkena.
- Riwayat trauma (baru atau berulang).
- Nyeri (Source/site, Onset, Characteristic, Radiation, Alleviating, Timing,
Exacerbating, Severity)
- Mechanism of injury
- Gangguan fungsi dan aktivitas.
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan fisik umum.
- Postur
- Look: Tanda radang, jejas, deformitas
- Feel: Nyeri tekan, spasme
- Move: Nyeri gerak, keterbatasan lingkup gerak sendi
- Pemeriksaan neurologis, termasuk kekuatan otot, sensibilitas (light touch,
pinprick, two-point discrimination), proprioseptif, refleks patologis dan
fisiologis dan gangguan ekskretori.
- Gait analysis
- Uji Fungsi
• Posture analysis
• Disability evaluation
• Uji kekuatan otot (dengan manual muscle testing)
• Uji gerak sendi / fleksibilitas
• Uji keseimbangan dan koordinasi dasar
• Uji ketahanan kardiorespirasi
• Uji Fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM, Barthel, PULSES, ADL,
SF-36)
- Asesmen
• Penilaian fungsi muskuloskeletal (ekstremitas dan tulang belakang)
secara komprehensif
• Visual analogue scale (VAS)
• Uji kekuatan otot menggunakan :
o EN Tree
Pemeriksaan Penunjang
- Radiografi polos pada area cedera dengan berbagai posisi spesifik
- CT-Scan
- MRI
- USG Muskuloskeletal
- Laboratorium : kadar vitamin D 25-OH
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.
Diagnosis Banding
• Spinal cord injury
• Osteoporosis tulang belakang
• Spondilitis
• Keganasan
• Degenerative Spine
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Nyeri (R52.2)
- Kelemahan otot (M62)
- Keterbatasan lingkup gerak sendi (M25)
- Ketahanan kardiorespirasi (R94.3, R94.2)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan ambulasi (R26.2)
- Gangguan keseimbangan (R.27.8)
- Gangguan ADL dan partisipasi (Z72.2, Z74.1)
Farmakologi :
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik)
- Suplemen : Vitamin dan mineral
Tingkat Evidens
- Laser terapi : Level 2
- Latihan fisik : Level 1a
- Comparison of management with or without orthosis : level 1b
- Advantages and disadvantages of early mobilization : level 3
Edukasi
- Pencegahan risiko jatuh
- Pada fase akut, positioning, log rolling
- Edukasi tahapan bone healing dan program rehabilitasi medik
- Proper body mechanic dan proteksi sendi.
- Rutin menjalankan latihan di rumah seperti:
• Latihan lingkup gerak sendi dan peregangan
• Latihan penguatan isometrik/isotonik dinaikkan bertahap
Prognosis Fungsional
Mampu melakukan ADL secara mandiri
Kepustakaan
1. Gavin MT, Avinash GP, Alexander JG. Orthotic Management of Spinal Dysfunction and
Instability, In : Orthotics and Prosthetics in Rehabilitation 2nd edition. Saunders-Elsevier.
2000. p 397-425
2. Ulrich J. Spiegl, Klaus Fischer, Jörg Schmidt, Jörg Schnoor, Stefan Delank. The
Conservative Treatment of Traumatic Thoracolumbar Vertebral Fractures. A Systematic
Review. Dtsch Arztebl Int 2018; 115: 697–704
Pengertian
Imobilisasi adalah keadaan di mana seseorang mengalami keterbatasan
gerak sebagai akibat adanya gangguan pada organ tubuh. Keterbatasan
gerak fisik pada sistem muskuloskeletal ini sebagai perubahan fisiologis
tubuh akibat dari periode waktu masa imobilisasi, yaitu: atrofi otot,
kontraktur sendi, osteoporosis, gangguan keseimbangan, risiko jatuh.
Anamnesis
- Nyeri
- Kelemahan otot, otot mengecil
- Kekakuan sendi
- Jatuh, gangguan keseimbangan
- Jenis pekerjaan
- Pola aktivitas harian
- Faktor pemberat aktivitas fisik
- Lingkungan rumah
- Kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik
- Hobi
- Status mental
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum dan tanda vital
- Fungsi jantung
- Fungsi paru
- Body mass index (BMI)
- Status integumen
- Pemeriksaan Luas Gerak Sendi (LGS), deformitas, kontraktur
- Pemeriksaan kekuatan otot manual (manual muscle testing/ MMT)
- Postur
Uji Fungsi
- Muscle strength evaluation using EN Tree
- Muscle strength evaluation using Cybex
- Comprehensive Posture analysis by posturography
- Work / physical capacity evaluation
- Disability evaluation
- Uji fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM, Barthel, SF-36)
- Uji fungsi kognisi : MMSE
- Penilaian risiko jatuh
Pemeriksaan Penunjang
- X-ray
- CT scan
- USG Muskuloskeletal
- EMG, NCV, SSEP
- MRI
- Laboratorium (darah dan urin)
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Giant geriatric syndrome
- Keganasan
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan ambulasi (R26.2)
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Risiko jatuh tinggi (R29.6)
Gangguan Partisipasi :
- Keterbatasan aktivitas rekreasi dan olahraga
- Penghambatan partisipasi pada kegiatan sosial
Farmakologi :
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik)
- Suplemen : vitamin dan mineral
- Terapi spastisitas
- Penanganan infeksi, perawatan luka pada ulkus dekubitus
- Injeksi dengan analgetik/steroid kecuali cedera tendon (landmark atau
USG-guided)
Edukasi
- Positioning, turning berkala, perubahan posisi
- Proper body mechanic dan proteksi sendi, konservasi energi
- Ergonomic di rumah
- Motivasi untuk remobilisasi, latihan aktif lingkup gerak sendi,
peregangan, penguatan, kebugaran, ambulasi (weight bearing)
- Pemeriksaan kulit secara berkala
- Motivasi untuk sedapat mungkin meningkatkan kemampuan mandiri
dalam ADL
- Kegiatan rekreasi
- Menjaga nutrisi
Prognosis Fungsional
Prognosis pasien dengan imobilisasi tergantung dari penyakit atau kondisi
yang mendasarinya dan gangguan fungsional. Apabila penyakit atau kondisi
yang mendasarinya dapat segera dapat diatasi dan gangguan fungsional
tidak berat maka disabilitas dapat diminimalkan sesuai kapasitas fungsional
yang masih ada, bahkan dapat kembali ke fungsi sebelum terjadi imobilisasi.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale : FIM, BARTHEL
- Range of Motion (ROM)
- Kekuatan otot (MMT)
- Kualitas hidup : SF-36
Kepustakaan
1. Kortebein P. Physical Inactivity: Physiologic Impairments and Related Clinical
Conditions. In: DeLisa JA, Gans BM, Walsh NE, editors. Physical Medicine &
Rehabilitation: Principles and Practice. 6th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2020.
2. Cortes OL, Delgado S, Esparza M. Systematic review and meta-analysis of experimental
studies: in-hospital mobilization for patients admitted for medical treatment. J Adv Nurs.
2019; January 22
3. Tulaar A, Ratnawati A, Aliwarga A, Paulus A, Santoso B, Tinduh D et al. White Book
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Edisi 2. Jakarta: PB Perdosri; 2019. ISBN: 978-602-
6490-21-6
4. Falvey JR, Mangione KK, Stevens-Lapsley JE. Rethinking Hospital-Associated
Deconditioning: Proposed Paradigm Shift. Phys Ther. 2015 Sep;95(9):1307-15.
5. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014
6. Halar EM, Bell KR. Physical Inactivity: Physiological and Functional Impairments and
Their Treatment. Dalam: Frontera WR, DeLisa JA, et al. DeLisa’s Physical Medicine and
Rehabilitation. Principles and Practice. 5th ed. Vol.II. Philadelphia. Lippincott Williams
& Wilkins, a Wolters Kluwer, 2010.
7. Kortebein P. Rehabilitation for hospital-associated deconditioning. Am J Phys Med
Rehabil 2009;88:66–77
8. Hendry C.Tong, Christopher M. Brammer. Deconditioning and bedrest. Dalam :
Christopher M. Brammer M. Catherine Spires, penyunting. Manual of physical Medicine
and Rehabilitation. Philadelphia : Hanley & Belfus Inc; 2002 h/221-29
Pengertian
Rheumatoid arthritis merupakan suatu penyakit inflamasi kronik yang
secara primer mengenai persendian, namun dapat juga terlihat gambaran
ekstra artikular. Umumnya bersifat simetris dan menyerang persendian di
bagian perifer. Prevalensinya sekitar 1% pada populasi kulit putih, dan lebih
sering pada wanita sekitar 2 sampai 2,5 kali dibanding laki-laki. Insidensi
pada usia dekade ketiga dan keempat.
Anamnesis
- Kekakuan di pagi hari 30-60 menit (dapat terjadi hingga beberapa jam)
- Nyeri dan bengkak pada sendi
- Berkurangnya fungsi sendi
- Biasanya mengenai > 4 sendi (tersering pada jari, kaki, pergelangan
tangan, dan lutut)
- Malaise
Pemeriksaan Fisik
Setiap sendi diperiksa akan adanya:
- Pembengkakan pada PIP
- Subluksasi MCP dengan deviasi ulnar
- Boutonniere deformity (fleksi PIP dan hiperekstensi DIP)
- Swan neck deformity (hiperekstensi PIP dan fleksi DIP
- Inflamasi
- ROM berkurang, ROM pasif lebih baik daripada ROM aktif
- Krepitasi
- Nodul
- Efusi
- Uji Fungsi
• Evaluasi nyeri: Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale,
Face Scale, FLACC, McGill Questionaire
● Evaluasi kekuatan otot dengan EN Tree
● Evaluasi kekuatan otot dengan Cybex
● Uji gerak sendi/fleksibilitas
● Uji keseimbangan dan koordinasi komprehensif menggunakan
perangkat digital
● Penilaian fungsi komprehensif pada ekstremitas superior, inferior,
dan tulang belakang (comprehensive assesment of musculosceletal
function)
● Pemeriksaan fungsi tangan
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Crystal-induced arthritis
- Gout
- Pseudogout
- Spondyloarthropaties
- Psoriatic arthritis
- Ankylosing spondylitis
- Enteropathic arthritis
Diagnosis Fungsional
- Nyeri (R52, R25.5)
- Keterbatasan lingkup gerak sendi (M.25.6)
- Gangguan fungsi tangan (M20.0)
- Gangguan keseimbangan (R.92.6)
- Gangguan ambulasi dan transfer (R26.2)
- Limitasi aktivitas ADL dan restriksi partisipasi (Z.56, Z60)
Farmakologi :
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik)
- Anti depresan
Tingkat Evidens
- USG: Level IIb
- Latihan fisik : Level Ia
- Edukasi psikososial: Level Ia
- Injeksi kortikosteroid: Level Ia
Edukasi
- Edukasi proper positioning
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, rest, dan kompres
dingin.
- Proper body mechanic dan proteksi sendi.
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti:
• Latihan lingkup gerak sendi
• Latihan penguatan isometrik/isotonik dinaikan bertahap
• Latihan peregangan
• ergonomic posture, ekstensi, dan relaksasi
Prognosis Fungsional
Disabilitas fungsional penderita RA lebih tinggi daripada non-RA.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- Range of Motion (ROM)
- Hand Function
- ADL Scale
- Hamilton depression rating scale
- Kualitas hidup
Kepustakaan
1. Joe GO, Hicks JE, Gerber LH. Rehabilitation of Patients with Rheumatic Disease. In:
Frontera WR, DeLisa JA (eds). Physical Medicine & Rehabilitation Principles and Practice
5th ed. Lippincot William & Wilkins, Philadelphia: 2010. P 1015-1076
2. Williams FH. Rheumatoid Arthritis. In: Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD (eds). Essential
of Physical Medicine and Rehabilitation 3rd ed. Saunders Publishing, Philadelphia; 2015:
813-819
3. Smolen JS, Landewé RBM, Bijlsma JWJ, Burmester GR, Dougados M, Kerschbaumer A,
et al. EULAR recommendations for the management of rheumatoid arthritis with
synthetic and biological disease-modifying antirheumatic drugs: 2019 update. Ann
Rheum Dis. 2020 Jun 1;79(6):685
4. Myasoedova E, Davis, JM III, Achenbach SJ, Matteson EL, Crowson CS.Trends in
Prevalence of Functional Disability in Rheumatoid Arthritis Compared to the General
Population. Mayo Clin Proc. 2019 Jun; 94(6): 1035–1039.Published online 2019 May
1. DOI: 10.1016/j.mayocp.2019.01.002
Pengertian
Perubahan patologis pada kaki dan tungkai bawah penderita diabetes
sebagai akibat komplikasi diabetes yang tidak terkontrol.
Anamnesis
- Identitas,
- Faktor resiko yang ada kaitannya dengan terjadinya ulkus
- Gejala/keluhan neuropati
- Riwayat ulkus sebelumnya
- Informasi tentang lingkungan dan pekerjaan
- Keadaan psikososial
Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi : apakah ada maserasi, paronychia, kalus, kulit kering,
deformitas Claw toes, hammer toes, dll
- Pemeriksaan sensoris: sensasi raba ringan, pinprick, rasa panas dingin,
Semmes Weinstein monofilamen
- Pemeriksaan vaskularisasi kaki: dengan meraba pulsasi a. poplitea dan
a. dorsalis pedis, Ultrasound doppler, Angiografi Ankle Brachial Index (ABI)
- Pemeriksaan muskuloskeletal ekstremitas bawah
- Refleks tendon achilles dan patella
- Lingkup gerak sendi tungkai dan kaki
- Kekuatan otot tungkai dan kaki
- Uji Fungsi
● Evaluasi MMT dan ROM dengan EN Tree, Cybex
● Pemeriksaan neuromuskuler
● Evaluasi gait dan postur
● Uji fungsi keseimbangan
● Timed-walking test
● Uji fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM, Barthel, PULSES, ADL)
- Pemeriksaan Penunjang
● Radiografi polos pada kaki dengan berbagai posisi spesifik
● USG Doppler
● Angiografi ABI
● EMG
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Trauma
- Acute Charcot arthropathy
- Fraktur
- Thrombosis
- Venous Stasis
- Metabolic Neuropathies
- Vasculitis neuropathies
Diagnosis Fungsional
- Gangguan nyeri akibat diabetik neuropathy (E.10.4)
- Abnormalitas pola jalan dan mobilisasi (R.26)
- Gangguan keseimbangan (R.92.6)
- Gangguan sensibilitas (R.20.0, R.20.1)
- Limitasi aktivitas dan restriksi partisipasi (Z.56, Z60)
Farmakologi:
- Neurotropik oral
- Pengendalian kondisi metabolik
- Biakan kuman
- Antibiotika tepat guna
- Perbaikan sirkulasi darah
Preamputasi :
- Medical rehabilitation team counseling with patient and family
- Psychological counseling
- Asesmen fungsi pulmoner, kardiovaskular dan muskuloskeletal
- Activity daily living evaluation
- Program latihan (Exercise program)
Pasca amputasi :
- Pencegahan komplikasi pasca bedah (Prevent post operative complication)
- Perbaikan penyembuhan luka (Improve wound healing)
- Pembalutan puntung (Bandage stump)
- Exercise
Tindakan Pencegahan :
berdasarkan kategori Wagner grade 0 dan berdasarkan kategori resiko
Tingkat Evidens
- Laser therapy: Level 1b
- USD: Level 2
- Phototherapy: Level 1b
- Latihan fisik : Level 1
- Sepatu koreksi : Level 1
Edukasi
- Edukasi perawatan kaki
- Menjaga kebersihan kaki & memotong kuku
- Tidak memakai sepatu yang sempit
- Menjaga kelembaban kulit kaki
- Menghindari luka
Prognosis Fungsional
Terkait dengan komplikasi dan derajat komplikasinya
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- Wagner Classification
- Barthel Index
Kepustakaan
1. Dillingham TR, Braza DW. Management of the Patient with a Foot at Risk: Peripheral
Arterial Disease and Diabetes. In : Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD (eds). Essentials of
Physical Medicine and Rehabilitation 2nd ed. Saunders publishing, Philadephia; 2008 :
673-78
2. Knapton S, Pandeean G. Lower Limb Peripheral Vascular Disease. In : Braddom RL (ed).
Physical Medicine and Rehabilitation, fourth edition, Elsevier Saunders publishing,
Philadelphia; 2011: 1347-70
3. van Netten JJ, Lazzarini PA, Armstrong DG, Bus SA, Fitridge R, Harding K, Kinnear E,
Malone M, Menz HB, Perrin BM, Postema K, Prentice J, Schott KH, Wraight PR. Diabetic
Foot Australia guideline on footwear for people with diabetes. J Foot Ankle Res. 2018 Jan
15;11:2.
4. Ronaldo H. Cruvinel Júnior RHC, Ferreira JSSP, Beteli RI, da Silva EQ. Foot-ankle
functional outcomes of using the Diabetic Foot Guidance System (SOPeD) for people with
diabetic neuropathy: a feasibility study for the single-blind randomized controlled
FOotCAre (FOCA) trial I.March 2021.DOI:10.1186/s40814-021-00826-y
Pengertian
Luka bakar adalah cedera pada kulit atau jaringan organik lainnya yang
terutama disebabkan karena panas, radiasi, radioaktif, listrik, friksi atau
kontak dengan bahan kimia.
Anamnesis
- Riwayat kontak benda panas, api, kimia, listrik, atau radiasi
- Kedalaman luka, luasnya luka
Pemeriksaan Fisik
- Derajat I: Luka sampai lapisan epidermis, kulit tampak hiperemi, eritema,
perabaan hangat, tidak ada bula, nyeri
- Derajat II: Luka sampai lapisan dermis, kulit tampak hiperemi, eritema,
perabaan hangat, ada bula, sangat nyeri
- Derajat III: Luka sampai lapisan dermis, tampak putih/coklat, tidak
nyeri, ada scarring dan kontraktur
- Derajat IV: Luka sampai semua lapisan kulit, lemak, otot, dan tulang;
tampak hitam, ada eskar, tidak nyeri, ada amputasi
- Luas luka bakar (Rule of Nines)
- Pemeriksaan neurologis
- Pemeriksaan muskuloskeletal
- Pemeriksaan kardiorespirasi
- Uji Fungsi
• Evaluasi nyeri: Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale,
Face Scale, FLACC, McGill Questionaire
• Evaluasi kekuatan otot
• Uji gerak sendi/fleksibilitas
• Uji keseimbangan dan koordinasi komprehensif menggunakan
perangkat digital
• Penilaian fungsi komprehensif pada ekstremitas superior, inferior,
dan tulang belakang (comprehensive assesment of musculosceletal
function)
• Bicycle ergometer
• Evaluasi kapasitas fungsional
• Uji kardiorespirasi
• Uji fungsi aktivitas dan kualitas hidup (FIM, Barthel, PULSES, ADL)
• Evaluasi disabilitas
• Evaluasi ICF
• Status mental
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
-
Diagnosis Fungsional
- Nyeri (R52.9)
- Keterbatasan lingkup gerak sendi (M.25.6)
- Gangguan fungsi tangan akibat kontraktur (M24.4, M62.4)
- Gangguan transfer dan ambulasi (R.26.3)
- Limitasi aktivitas dan restriksi partisipasi (Z.56, Z60)
Farmakologi :
- Analgetik
- Suplementasi
Prognosis Fungsional
Dengan program rehabilitasi yang baik, prognosis fungsional luka bakar
tanpa komplikasi baik.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- Range of Motion (ROM)
- Hand Function
- ADL Scale
- Hamilton depression rating scale
- Kualitas hidup
Kepustakaan
1. Serghiou MA, Nisczak J. Parry I, Li-Tsang CW, Van den Kerchove E, Smales S, et al. One
world one burn rehabilitation standard. Burns. 2016; 42(5):1047-58
2. Schneider JC, Spires MC. Burn Rehabilitation. In: Frontera WR, DeLisa JA (eds). Physical
Medicine & Rehabilitation Principles and Practice 5th ed. Lippincot William & Wilkins,
Philadelphia: 2010.
3. Ryan CM, Parry I, Richard R. Functional outcomes following burn injury, J Burn Care
Res. 2017 May/Jun;38 (3):e614-e617. DOI: 10.1097/BCR.0000000000000537.
4. DeBruler D, Zbinden J, Baumann M, Blackstone B, Malara M, Bailey J et al. Early
cessation of pressure garment therapy results in scar contraction and thickening. PLOS
ONE. 2018;13(6):e0197558.
Pengertian
Obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebihan dan abnormal
yang menimbulkan resiko berkembangnya penyakit yang mengancam
kesehatan.
Anamnesis
- Usia (menopause)
- Asupan gizi
- Physical activity level
- Riwayat obesitas genetik atau didapat
- Riwayat konsumsi obat-obatan (steroid, KB hormonal, anti depresan)
- Riwayat pengobatan dan intervensi
Pemeriksaan Fisik
- Berat badan
- Indeks Massa Tubuh (IMT)
- Skin fold thickness
- Waist circumference (lingkar pinggang)
- Neck Circumference
- Rasio lingkar pinggang panggul
- Analisa Komposisi Tubuh (Bioimpedance analysis/BIA)
- Uji Fungsi
● Evaluasi kebugaran kardiorespirasi
● Evaluasi lingkup gerak sendi
● Evaluasi keseimbangan
● Evaluasi kualitas hidup
- Pemeriksaan Penunjang
● Laboratorium
● Rontgen
● EKG
Kriteria Diagnosis
Diagnosis Banding
-
Diagnosis Fungsional
- Intoleransi terhadap latihan (Z.72.3)
- Penurunan lingkup gerak sendi (M.25.6)
- Gangguan mobilisasi: berjalan, bergerak (R.26)
- Kesulitan bergerak dari posisi terlentang (Z.74.0)
- Gangguan emosi (R45.8)
Edukasi
- Edukasi proper body mechanic
- Perubahan pola makan
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah seperti:
● Latihan peregangan
● Latihan aerobik
● Latihan penguatan otot
● Latihan keseimbangan
Prognosis Fungsional
Terkait dengan komplikasi dan derajat komplikasinya
Indikator Medis
- Indeks massa tubuh
- Waist circumference
- Range of Motion (ROM)
- Berg Balance Scale
- Timed up and go
- VO2max
- METs
- SF-36
Pengertian
Cedera pada sistem muskuloskeletal yang sering dialami terutama pada
kasus degeneratif ataupun saat berolahraga. Cedera dapat dibagi menjadi
dua, yaitu akut saat trauma langsung ataupun kronik yang disebabkan
penggunaan otot, tendon maupun ligament yang berlebih
Cedera dikategorikan menjadi tiga tingkatan:
- Tingkat I adalah robekan parsial tanpa kelemahan dan hanya edema
ringan.
- Tingkat II adalah robekan parsial dengan laksitas ringan dan nyeri
sedang, nyeri tekan, dan instabilitas.
- Tingkat III adalah ruptur komplit yang mengakibatkan pembengkakan
yang cukup besar, rasa sakit meningkat, laksitas yang signifikan, dan
sering instabilitas sendi.
Anamnesis
- Riwayat trauma (baru atau berulang).
- Nyeri (letak, onset, karakteristik, penjalaran, faktor peringan dan
pemberat, waktu, keparahan) dan bengkak.
- Mekanisme cedera
- Gangguan fungsi dan aktivitas.
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan muskuloskeletal komprehensif
- Analisa postur yang komprehensif
- Analisa gait dan gerak
- Pemeriksaan status lokal :
● Look: kontusio, ekimosis, edema
● Feel: nyeri tekan
● Move: nyeri gerak sepanjang ROM pasif dan aktif, nyeri spontan/ saat
istirahat
- Pemeriksaan neurologis, termasuk sensibilitas (light touch, pinprick, two-
point discrimination), proprioseptif
- Special test :
● Drop arm test, impingement sign, pain arch, apprehension test, tes
relokasi, TOS test, Appley scratch test, Speed test, Yergason test, lift off
test, Hawkin test
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis Banding
- Fraktur dislokasi
- Dislokasi sendi
- Cedera saraf perifer
- Osteoartritis
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi:
- Nyeri (M25.5)
- Kelemahan otot (M62.81)
- Keterbatasan lingkup gerak sendi (M25)
- Gangguan keseimbangan (R26.81)
Gangguan aktivitas:
- Gangguan transfer dan ambulasi (R26.8)
- Gangguan ADL dan partisipasi (Z72.2, Z74.1)
- Resiko Jatuh Tinggi (R29.6)
Pemeriksaan Penunjang
- Radiografi polos pada area cedera dengan berbagai posisi spesifik
- CT Scan
- USG muskuloskeletal
- MRI
Farmakologi
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik) (LoE 1)
● Invasive interventional treatment :
o Injeksi kortikosteroid/analgetik dengan dan tanpa landmark-
guided (kecuali cedera tendon) (LoE 1)
o Regenerative therapy (PRP, Prolotherapy, Stem Cell) (LoE 1)
o Dry Needling, Wet Needling (LoE 1)
- Rujuk untuk tindakan Operasi (pre dan post operative rehabilitation
program)
Edukasi
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, elevasi, dan kompres
dingin.
- Proper body mechanic dan proteksi sendi
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti:
● Latihan lingkup gerak sendi
● Latihan penguatan isometrik/ isotonik dinaikan bertahap
● Latihan keseimbangan
● Latihan aerobik
Prognosis Fungsional
Pasien cedera jaringan lunak yang mendapat tatalaksana adekuat memiliki
prognosis fungsional yang baik.
Kepustakaan
1. Cantrell W, Swinehart S, Johnson C, Strnad G, Obuchowski N, Cox C, Spindler K. The
Impact of Aspiration and Corticosteroid Injection after ACL Injury on Post-
Reconstruction Infection Rate (161). Orthop J Sports Med. 2021 Oct 29;9(10
suppl5):2325967121S00286.
2. Sonnery-Cottet B, Daggett M, Fayard JM, Ferretti A, Helito CP, Lind M, Monaco E, de
Pádua VBC, Thaunat M, Wilson A, Zaffagnini S, Zijl J, Claes S. Anterolateral Ligament
Expert Group consensus paper on the management of internal rotation and instability
of the anterior cruciate ligament - deficient knee. J Orthop Traumatol. 2017
Jun;18(2):91-106. doi: 10.1007/s10195-017-0449-8. PMID: 28220268; PMCID:
PMC5429259.
3. Rachmi A, Tulaar A, Ratnawati A, Paulus A, Aliwarga A, Sari D et al. Pedoman Standar
Pengelolaan Disabilitas Berdasarkan Kewenangan Pemberi Pelayanan Kesehatan.
Jakarta: Perdosri; 2014.
4. Ludwig Ombregt, 3 - Connective tissue, Editor(s): Ludwig Ombregt, A System of
Orthopaedic Medicine (Third Edition), Churchill Livingstone, 2013, Pages 29-51.e3
5. Santoso B, Rochman F, Marlini A, Nuhonni S, Soebadi R, Ugahary M et al. Perdosri White
Book. Jakarta: Perdosri; 2012.
6. Hou, Zc., Huang, Hs., Ao, Yf. et al. The effectiveness and sustainiability of supervised
balance training inchronic ankle instability with grade III ligament injury; a one-year
prospective study. J Foot Ankle Res 15, 9 (2022). https://doi.org/10.1186/s13047-022-
00514-x
Pengertian
Terpisahnya serabut tendon/ligamen sehingga fungsinya terganggu. Ruptur
pada tendon dan ligamen disebabkan oleh cedera akut ataupun kronik yang
berhubungan dengan proses penuaan dan cedera olahraga.
Anamnesis
- Riwayat trauma (baru atau berulang)
- Nyeri (letak, onset, karakteristik, penjalaran, faktor peringan dan
pemberat, waktu, keparahan) dan bengkak.
- Mekanisme cedera
- Gangguan fungsi dan aktivitas
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan muskuloskeletal komprehensif
- Analisa postur yang komprehensif
- Analisa gait dan gerak
- Pemeriksaan status lokal :
● Look: kontusio, ekimosis, edema
● Feel: nyeri tekan
● Move: nyeri gerak sepanjang ROM pasif dan aktif, nyeri spontan/ saat
istirahat
- Pemeriksaan neurologis, termasuk sensibilitas (light touch, pinprick, two-
point discrimination), proprioseptif
- Special test :
• Drop arm test, impingement sign, pain arch, apprehension test, tes
relokasi, TOS test, Appley scratch test, Speed test, Yergason test, lift off
test, Hawkin test
• Tennis elbow dan golfer elbow
• Fair test, Thompson test, Iliotibial band provocative test
• Drawer test, Lachman test, sag test, pivot shift test, quadriceps active
test, valgus/varus test, McMurray test, Appley’s compression/ grinding
and distraction test
• Ankle valgus/ varus stress test, talar tilt test
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksan penunjang
Diagnosis Banding
- Fraktur dislokasi
- Dislokasi sendi
- Cedera saraf perifer
- Osteoartritis
- Reumatoid artritis
Pemeriksaan Penunjang
- Radiografi polos pada area cedera dengan berbagai posisi spesifik
- CT Scan
- MRI, MRA
- USG Muskuloskeletal
Diagnosis Fungsional
- Nyeri (M25.5)
Farmakologi:
- Analgetik (non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik) (LoE 1)
• Invasive interventional treatment :
o Biophysical agent (PRP, prolotherapy) (LoE 1)
o Stem cell therapy (LoE 1b)
o Dry needling, wet needling (LoE 1)
Edukasi
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, elevasi, dan kompres
dingin.
- Proper body mechanic dan proteksi sendi.
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti:
● Latihan lingkup gerak sendi
● Latihan penguatan isometrik/isotonik dinaikan bertahap
● Latihan keseimbangan
● Latihan aerobik
Prognosis Fungsional
Pasien ruptur tendon/ligamen yang mendapat tatalaksana bedah dan
rehabilitasi medik yang adekuat memiliki prognosis fungsional yang baik.
Tatalaksana yang inadekuat memiliki tingkat kekambuhan hampir 40%.
Pengertian
Gonarthrosis atau osteoarthritis (OA) lutut adalah penyakit yang mengenai
seluruh persendian pada lutut (whole joint disease), termasuk degradasi
tulang rawan, remodelling tulang, osteofit, inflamasi sinovial, yang dapat
menyebabkan nyeri, kekakuan sendi, edema, dan hilangnya fungsi sendi
yang normal.
Anamnesis
- Nyeri dan bengkak pada sendi
- Kaku pagi hari kurang dari 1 jam
- Sendi terasa locking
- Perubahan bentuk sendi
- Keterbatasan fungsional
- Jenis pekerjaan
- Pola aktivitas harian
- Faktor pemberat aktivitas fisik
- Lingkungan rumah
- Kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik
- Hobi
- Aktivitas olahraga
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum dan tanda vital
- Body Mass Index (BMI)
- Postur
- Panjang tungkai
- Status lokalis :
● Inspeksi: deformitas, tanda radang, atrofi otot, nodul
● Palpasi: nyeri tekan sendi, tanda radang, krepitasi, efusi
- Pemeriksaan Luas Gerak Sendi (LGS)
- Pemeriksaan kekuatan otot manual (manual muscle testing/MMT)
- Pemeriksaan khusus stabilitas sendi : ligamen, meniskus
- Pemeriksaan alignment dan deformitas sendi
Uji Fungsi
- Evaluasi nyeri: Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face
Scale, FLACC, McGill Questionaire
- Uji gerak sendi/fleksibilitas dengan peralatan digital
- Uji keseimbangan dan koordinasi
- Uji kekuatan otot menggunakan :
Pemeriksaan Penunjang
- X-ray
- USG Muskuloskeletal
- MRI
- Laboratorium darah
- Analisa cairan sendi
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan American College of Rheumatology, kriteria diagnosis untuk OA
lutut
- Tanda klinis : nyeri lutut dengan setidaknya 3 dari 6 kriteria berikut
• Usia > 50 tahun
• Kaku sendi < 30 menit
• Krepitus
• Nyeri tulang
• Pembesaran tulang
• Tidak teraba hangat pada palpasi
- Tanda klinis dan hasil laboratorium: Nyeri lutut dengan paling sedikit 5
dari 9 kriteria berikut:
• Usia lebih dari 50 tahun
• Kekakuan kurang dari 30 menit
• Krepitus
• Nyeri tulang
• Pembesaran tulang
• Suhu kulit tidak hangat
• Laju endap darah (LED) kurang dari 40mm/jam
• Faktor rematoid kurang dari 1,40
• Analisa cairan sendi dengan tanda-tanda OA
Diagnosis Banding
- Rheumatoid Arthritis
- Gout Arthritis
- Gonitis TB
- Pseudogout
- Psoriatic arthritis
- Enteropathic arthritis
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
- Gangguan kelemahan otot (M62)
- Gangguan spasme otot (R25.2)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan ambulasi (R26.2)
- Gangguan mobilitas (R26.8)
- Gangguan ADL (Z74.1)
- Risiko jatuh (R29.6)
- Gangguan keseimbangan (R.27.8)
Gangguan partisipasi :
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Farmakologi :
- Analgetik : non-opioid, opioid, muscle relaxant, ko-analgetik (LoE 1a, 2)
- Suplemen : vitamin dan mineral
- Topikal : anti radang/ NSAID (LoE 1a)
- Intervensi nyeri : dry needling, infiltrasi trigger point, injeksi kortikosteroid
lokal (LoE Ia), injeksi hyaluronic acid intraarticular (LoE 1a, 1b, 2), injeksi
blok saraf, injeksi regenerative medicine
Edukasi
- Proper body mechanic
- Program proteksi dan konservasi sendi
- Menjaga berat badan
- Pada fase akut, pasien diminta untuk imobilisasi, rest, dan kompres
dingin
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti:
● Latihan lingkup gerak sendi
● Latihan penguatan isometrik/isotonik dinaikan bertahap
● Latihan peregangan
● Ergonomic posture, relaksasi
Prognosis Fungsional
Prognosis untuk pasien osteoarthritis tergantung pada sendi mana yang
terkena dan tingkat gejala dan gangguan fungsional. Beberapa pasien tetap
relatif tidak terpengaruh oleh osteoarthritis, sementara yang lain dapat
mengalami disabilitas berat, sehingga membutuhkan bantuan saat
melakukan ADL dan memakai alat bantu jalan saat ambulasi, bahkan
sampai membutuhkan kursi roda.
Indikator Medis
- Visual Analogue Scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- ADL Scale : FIM, BARTHEL
- Skala fungsional sesuai regio sendi (KOOS, WOMAC)
- Range of Motion (ROM)
Kepustakaan
1. Kolasinski SL, Neogi T, Hochberg MC, Oatis C, Guyatt G, Block J, et al. 2019 American
College of Rheumatology/Arthritis Foundation Guideline for the Management of
Osteoarthritis of the Hand, Hip, and Knee. Arthritis & Rheumatology Vol. 72, No. 2,
February 2020, pp 220–233.
2. Dobson F, Hinman RS, Hall M, Marshall CJ, Sayer T, Anderson C, et al. Reliability and
measurement error of the Osteoarthritis Research Society International (OARSI)
recommended performance-based tests of physical function in people with hip and knee
osteoarthritis. Osteoarthritis Cartilage 2017;25:1792–6
3. Imamura M, Alamino S, Hsing WT, Alfieri FM, Schmitz C, Battistella LR. Radial
extracorporeal shock wave therapy for disabling pain due to severe primary knee
osteoarthritis. J Rehabil Med. 2017 Jan 19;49(1):54-62.
4. Fernandes L, Hagen KB, Bijlsma JW, et al. EULAR recommendations for the non-
pharmacological core management of hip and knee osteoarthritis. Ann Rheum Dis 2013;
72 :1125–35.
5. Hochberg MC, Altman RD, April KT, Benkhalti M, Guyatt G, McGowan J, et al. American
College of Rheumatology 2012 rec- ommendations for the use of nonpharmacologic and
pharmacologic therapies in osteoarthritis of the hand, hip, and knee. Arthritis Care Res
(Hoboken) 2012;64:465–74.
6. Tuncer T, Fatih H, Kacar C, Altan L, et al. Evidence-Based Recommendations for the
Management of Knee Osteoarthritis: A Consensus Report of the Turkish League Against
Rheumatism. Turk J Rheumatol 2012;27(1):1-17
7. Sitik TP, Foye PM, Stiskal D, Nadler RR. Osteoarthritis. In : DeLisa JA, Gans BM, Walsh
NE, editors. Physical Medicine & Rehabilitation: Principles and Practice. 5th ed.
Philadelphia: Lippincort William & Wilkins; 2010
8. Wilkins AN, Phillips EM. Knee Osteoarthritis, In : Frontera W, Silver J, Rizzo T, Eds.
Essential of Physical Medicine and Rehabilitation 2nd Edition. Elsevier. Philadelphia.
2008. pp 781-809
9. Zhang W, Moskowitz W, Nuki G, Abramson S, Altman RD, et al. OARSI recommendations
for the management of hip and knee osteoarthritis, Part I: Critical appraisal of existing
treatment guidelines and systematic review of current research evidence. OsteoArthritis
and Cartilage (2007) 15, 981-1000.
Pengertian
- Trigger finger atau stenosing flexor tenosynovitis/ tenovaginitis adalah
adanya hambatan gerakan (gliding) dari tendon fleksor jari saat melewati
pulley yang disebabkan oleh impingement mekanik (seperti iritasi dan
penebalan lapisan pembungkus tendon). Hal ini akan menyebabkan rasa
nyeri, sensasi snapping, clicking, terkunci, dan gangguan fungsi tangan.
- Lokasi tersering adalah pada level A1 pulley.
- Apabila mengenai ibu jari disebut trigger thumb (M65.31).
Anamnesis
- Nyeri pada telapak tangan, sesuai level pulley (A1 s.d A5)
- Benjolan, pembengkakan pada telapak tangan
- Sensasi kaku, terkunci atau popping pada sendi-sendi jari dan ibu jari.
Sensasi kaku dirasa lebih berat apabila terjadi inaktifitas, misalnya saat
bangun pagi hari
- Nyeri pada saat membengkokkan atau meluruskan jari
- Pada kasus berat, jari tidak dapat diluruskan bahkan dengan bantuan
sekali pun
- Keterbatasan fungsional
- Jenis pekerjaan
- Pola aktivitas harian
- Faktor pemberat aktivitas fisik
- Lingkungan rumah
- Kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik
- Hobi
- Aktifitas olahraga
- Anamnesis faktor risiko seperti diabetes
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum dan tanda vital
- Status lokalis :
Inspeksi: deformitas, tanda radang, atrofi otot, nodul
Palpasi: nyeri tekan, nodul, tanda radang
- Pemeriksaan lingkup gerak tangan dan jari jemari
Uji Fungsi
- Visual analogue scale (VAS), Numeric Rating Scale, Face Scale, FLACC,
McGill Questionaire
- Uji fungsi tangan : grasp, grip, pinch, tip
- Uji fungsi ADL (FIM, Barthel)
Pemeriksaan Penunjang
- USG Muskuloskeletal: adanya gambaran cairan hipoechoic yang
meregangkan selubung tendon dengan gambaran inflamasi pada tendon,
bisa juga didapatkan gambaran penebalan selubung tendon, kista
- Foto polos pergelangan tangan untuk menyingkirkan penyebab lain
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Dupuytren contracture
- Diabetic cheiroarthropathy
- Metacarpophalangeal joint sprain
- Calcific peritendinitis
- Noninfectious tenosynovitis
- Infectious tenosynovitis
- Rheumatoid arthritis
- Osteoarthritis
- Crystalline arthropathy
Diagnosis Fungsional
Gangguan fungsi :
- Gangguan nyeri (R52.2)
- Gangguan flexibilitas (M62.9)
Gangguan aktivitas :
- Gangguan ADL (Z74.1)
Gangguan partisipasi :
- Gangguan bekerja (Z56.6)
Farmakologi :
- Obat-obatan : NSAIDS (LoE 1b, 2)
- Injeksi anestetik lokal dan kortikosteroid (LoE 1a)
Edukasi
- Penjelasan mengenai perjalanan penyakit dan komplikasinya
- Edukasi pasien meliputi penjelasan penyakit, resiko penyakit, self-
management program, modifikasi aktifitas, ergonomi
- Edukasi untuk rutin menjalankan latihan di rumah (jika nyeri berkurang)
seperti:
• Latihan lingkup gerak sendi
• Latihan peregangan
Prognosis Fungsional
- Hendaya fungsional ibu jari akibat penjepitan mekanik atau nyeri.
- Aktivitas sehari-hari yang terganggu adalah berpakaian, mengancingkan
baju, hobi seperti bowling, golf, merajut, dan menjahit.
- Pekerja pabrik yang banyak menjalankan aktivitas menarik atau
mendorong secara berulang berada pada resiko terkena penyakit ini.
Kepustakaan
Pengertian
Kanker payudara adalah keganasan payudara yang melibatkan sistem epitel
lobus dan duktus payudara.
Anamnesis
- Cairan dari puting, luka atau benjolan pada payudara dan atau ketiak
- Keluhan gangguan fungsi : nyeri pada payudara dan atau lengan; lengan
bengkak dan atau sulit digerakan
- Keluhan pada kasus lanjut/penyebaran: nyeri tulang, sulit berjalan, sulit
menelan, sulit berbicara, sulit berpikir, keluhan bernapas, baring lama
- Riwayat keluarga: faktor risiko tinggi
Pemeriksaan Fisik
- Payudara, aksila : benjolan, luka, cairan
- Pemeriksaan Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR) sesuai fase
tindakan:
• Pemeriksaan sebelum (prehabilitation) dan segera setelah tindakan
kanker (acute cancer care rehabilitation):
○ Inspeksi: edema lengan sisi sakit
○ Palpasi: ukuran lingkar lengan (edema : > 2cm)
○ Uji fungsi lingkup gerak sendi lengan sisi sakit
○ Uji fungsi kekuatan otot lengan sisi sakit
○ Asesmen nyeri
• Pemeriksaan KFR pada kasus sub-akut (rehabilitation after acute
cancer care) : pemeriksaan diatas ditambah dengan pemeriksaan
sesuai masalah
○ Evaluasi alat bantu jalan
○ Uji dekondisi
○ Uji fungsi kardiorespirasi
○ Uji ambulasi dan keseimbangan
○ Uji fungsi sensibilitas
○ Uji fungsi lengan dan tangan
• Pemeriksaan KFR pada kasus kronis (chronic cancer care
rehabilitation): pemeriksaan di atas ditambah dengan pemeriksaan
sesuai masalah dan progresivitas kanker (metastasis otak, tulang,
dan paru)
○ Evaluasi ortosis
○ Uji fungsi lokomotor
○ Uji fungsi komunikasi
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan darah
- Rontgen toraks
- Bone scan, Spot foto
- CT scan / MRI (sesuai indikasi)
- USG Doppler (sesuai indikasi)
- Limfografi (sesuai indikasi)
Kriteria Diagnosis
Sesuai kriteria anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis Banding
- Sarcoma payudara
- Limfoma Payudara
- Mastitis granulomatosa
- Mastitis Tuberkulosa
- Phyloideus tumor
Diagnosis Fungsional
Gangguan Fungsi :
- Gangguan mobilitas lengan sisi sakit (ICD 10 M24.5) et causa:
• Keterbatasan lingkup gerak sendi bahu (ICD 10 M24.5) pada :
pascaoperasi, fibrosis pascaradiasi, gangguan pada payudara dan
area sekitarnya (ulkus, tumor)
• Pembengkakan lengan sisi sakit/limfedema (ICD10 I97.2 / I89.0)
• Kelemahan otot lengan sisi sakit (ICD10 G81, ICD10 M62.81)
• Nyeri (ICD10 M79.6, G60, G89.3) : pascaoperasi, axillary cord
syndrome, ulkus payudara, penekanan pleksus brachialis dengan
atau tanpa lengan bengkak
- Nyeri (ICD10 G60, G89.3, M79.6, M54) et causa :
• Pascaoperasi, axillary cord syndrome, ulkus payudara, penekanan
pleksus brachialis dengan atau tanpa lengan bengkak
• Metastasis tulang dengan atau tanpa cedera medula spinalis
Gangguan Aktivitas :
- Gangguan fungsi lengan atas
- Gangguan aktivitas sehari-hari (Z73.6)
- Gangguan ambulasi (R26)
Gangguan Partisipasi:
- Gangguan prevokasional dan okupasi (Z73.6)
- Gangguan leisure (Z73.2)
- Gangguan seksual pada disabilitas (R37)
- Gangguan sosial (Z73.5)
Edukasi
- Penyakit dan komplikasi
- Pencegahan terjadinya disabilitas
- Pencegahan perburukan fungsi/disabilitas
- Teknik latihan dan program rehabilitasi
- Penggunaan orthosis dan alat bantu mobilisasi (bila perlu)
Prognosis Fungsional
Aktivitas fisik akan memperbaiki prognosis fungsional dan kualitas hidup
sesuai kemampuan yang ada, sebelum masuk stadium/fase lanjut penyakit
kanker (fase akhir kehidupan).
Indikator Medis
- 80% penderita kanker payudara tidak ada keterbatasan gerak lengan
sisi sakit
- 70% penderita kanker payudara ada perbaikan lymphedema
- 80% penderita kanker payudara terdapat peningkatan aktivitas fisik
- 80% penderita kanker payudara mengalami perbaikan pada gangguan
neuropati perifer pasca kemoterapi
- 90% nyeri terkontrol