KONSEP DAN DESAIN INTERIOR MICE
(Disusun untuk memenuhi tugas Desain Interior Boga)
Dosen Pengampu:
Dra. Fatma Tresno Ingtyas, M.S
Dosen Pengampu:
Dra. Fatma Tresno Ingtyas, M.Si
Aditiya Pratama Daryana, S.Par., M.M
Disusun Oleh:
Alya Gita Diah Mazyunah (5223342009)
Naila Rahmadania Tanjung (52233442007)
DESAIN INTERIOR BOGA A
PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan mini riset ini dengan tepat waktu. penulis
mengucapkan terimakasih kepada Dosen pengampu mata kuliah Desain Produk yaitu ibu Dra.
Fatma Tresno Ingtyas, M.Si dan Bapak Aditya Pratama Daryana, S.Par, M.M. karena telah
memberikan penulis arahan dan bimbingan dalam mengerjakan makalah tersebut sehingga
sangat membantu bagi penulis.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan pembaca. penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik,
saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah penulis buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun orang yang
membacanya.
Medan, 22 Oktober 2024
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................i
DAFTAR ISI ...............................................................................................................................ii
BAB I: PENDAHULUAN .........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................................1
1.2 Rumusan masalah.............................................................................................................2
1.3 Tujuan ..............................................................................................................................2
1.4 Manfaat ............................................................................................................................2
BAB II: KAJIAN PUSTAKA ....................................................................................................3
2.1 Konsep dan Desain dari Meeting ....................................................................................3
2.2 Konsep dan Desain dari Intencif ......................................................................................3
2.3 Konsep dan Desain dari Conferences ..............................................................................3
2.4 Konsep dan Desain dari Exhibition..................................................................................
BAB III: PENUTUP ...................................................................................................................5
3.1 Kesimpulan ......................................................................................................................5
3.2 Saran..................................................................................................................................5
BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................................6
4.1 Hasil Pembahasan ............................................................................................................6
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................11
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) merupakan jenis kegiatan Event
Management dalam industri pariwisata yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan konsumen
dalam bidang jasa. Menurut Pendit (1999, p. 25) MICE diartikan sebagai wisata konvensi,
dengan batasan: usaha jasa konvensi, perjalanan insentif, dan pameran merupakan usaha dengan
kegiatan memberi jasa pelayanan bagi suatu pertemuan sekelompok orang (negarawan,
usahawan, cendikiawan, dan sebagainya) untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan
dengan kepentingan bersama.
Menurut Noor (2013, p. 8), event merupakan suatu kegiatan yang diselenggarakan untuk
memperingati hal-hal penting sepanjang hidup manusia, baik secara individu atau kelompok
yang terikat secara adat, budaya, tradisi, dan agama yang diselenggarakan untuk tujuan tertentu
serta melibatkan lingkungan masyarakat yang diselenggrakan pada waktu tertentu.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Kemasan yang digunakan pada produk tersebut?
2. Apakah kemasan dan rasa pada produk tersebut sudah sesuai?
3. Solusi apa yang diberikan dari permasalahan yang ditemukan?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui desain produk kemasan yang digunakan pada produk tersebut
2. Untuk mengetahui keamanaan dalam penggunan kemasan produk
3. Untuk mengetahui solusi dari permasalahan yang didapat.
3
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Definisi dan Konsep Desain Interior dari Meeting
2.1.1 Definisi Meeting
Meeting adalah istilah bahasa inggris yang berarti rapat, pertemuan atau persidangan.
Meeting merupakan suatu kegiatan yang termasuk di dalam MICE.
Menurut Kesrul (2004:8), Meeting Suatu pertemuan atau persidangan yang
diselenggarakan oleh kelompok orang yang tergabung dalam asosiasi, perkumpulan atau
perserikatan dengan tujuan mengembangkan profesionalisme, peningkatan sumber daya
manusia, menggalang kerja sama anggota dan pengurus, menyebarluaskan informasi terbaru,
publikasi, hubungan keksasyarakatan.
Menurut Kesrul (2004:3), "Meeting adalah suatu kegiatan kepariwisataan yang
aktifitasnya merupakan perpaduan antara leisure dan business, biasanya melibatkan orang secara
bersama-sama".
Meeting merupakan salah satu cara berkomunikasi dalam sebuah organisasi. Di sebuah
perusahaan, rapat juga berfungsi untuk membantu para manajer dalam memantau kinerja
operasional anak buahnya, atau dalam melakukan koordinasi dengan bawahan atau tim yang lain.
Walaupun demikian penting, meeting juga kadang menjadi kegiatan yang menyita energi dan
banyak waktu. Ini terjadi jika rapat tidak berjalan efektif.
Efektivitas dan keberhasilan sebuah rapat, secara langsung dipengaruhi oleh kecermatan
pemimpin rapat dan peserta rapatnya. Sering kali sebuah rapat tidak menghasilkan keputusan
atau kesimpulan apa-apa. Rapat yang tidak menghasilkan keputusan, merupakan rapat yang tidak
didukung dengan perencanaan yang baik.
4
2.1.2 Konsep Desain Interior Meeting
Konsep interior meeting merupakan desain yang merujuk pada pengaturan ruang yang
digunakan untuk pertemuan, baik formal maupun informal, dengan tujuan untuk mendukung
efektivitas komunikasi, kolaborasi, dan pengambilan keputusan diantara peserta lainnya.
Ruang meeting juga harus dirancang dengan sedemikian rupa dengan
mempertimbangkan elemen yang dapat memengaruhi suasana dan produktivitas, seperti:
1) Tata Letak Ruang
Tata letak ruang termasuk juga pengaturan fisik yang memengaruhi interaksi dan
efektivitas pertemuan. Contohnya seperti:
Boardroom Style
Merupakan meja Panjang yang berada di tengah yang dapat mendukung diskusi.
U-Shape
Merupakan tata letak ruang yang berbentuk U yang dapat memudahkan presentasi dan
diskusi secara lebih terbuka.
Theater Style
Merupakan ruang yang dikhususkan untuk presentasi dengan penonton yang banyak.
2) Pencahayaan
Pencahayaan yang baik, baik alami maupun buatan, penting dapat menciptakan kesan
atau suasana yang nyaman dan produktif.
3) Akustik
Merupakan material yang digunakan untuk meredam suara dan dapat mengurangi
kebisingan, sehingga peserta dapat mendengar dengan jelas.
4) Teknologi
5
Merupakan fasilitas audio-visual yang mendukung, seperti proyektor, layar, dan koneksi
internet yang kuat, untuk mendukung presentasi dan komunikasi.
5) Estetika
Desain visual dan warna yang menciptakan suasana profesional dan menginspirasi
kreativitas.
Ching & Binggeli (2012: 36) menjelaskan bahwa desain interior adalah suatu kegiatan
merencanakan, menata dan merancang ruang di dalam sebuah bangunan arsitektural. Proses
desain interior menghasilkan tatanan fisik arsitektural dapat memenuhi kebutuhan dasar akan
sarana bernaung dan berlindung; tatanan fisik tersebut juga menentukan langkah sekaligus
mengatur bentuk aktivitas manusia di dalamnya; memelihara aspirasi dan mengekspresikan ide-
ide yang menyertai segala tindakan; mempengaruhi penampilan ruang, perasaan dalam ruang dan
kepribadian manusia ketika beraktivitas dalam ruang.
Dalam merancang konsep dan interior ruang meeting, beberapa elemen utama perlu
diperhatikan untuk menciptakan suasana yang mendukung produktivitas, kolaborasi, dan
kenyamanan. Ada beberapa konsep dan ide interior untuk ruang meeting:
1. Konsep Modern Minimalis
Konsep Modern Minimalis adalah gaya desain yang menekankan kesederhanaan,
fungsionalitas, dan tampilan bersih. Menggunakan palet warna netral (putih, abu-abu, beige)
dengan sedikit aksen warna lembut, konsep ini menghadirkan ruangan yang lapang dan teratur.
Furnitur memiliki desain sederhana dan fungsional, dengan garis lurus dan tanpa hiasan
berlebihan. Dekorasi diletakkan minimal, dan pencahayaan alami dimaksimalkan untuk
menciptakan suasana terang, rapi, dan modern.
6
2. Konsep Industrial
Konsep Industrial adalah gaya desain yang menonjolkan elemen mentah dan material kasar,
seperti dinding bata ekspos, logam, dan kayu alami. Desain ini mengedepankan tampilan ruang
terbuka dengan struktur bangunan yang terlihat, seperti pipa, kabel, dan langit-langit tinggi. Palet
warna yang digunakan cenderung gelap dan netral (abu-abu, hitam, cokelat), menciptakan kesan
kokoh dan maskulin. Furnitur yang digunakan biasanya simpel, fungsional, dan terbuat dari
bahan logam atau kayu kasar, memberikan kesan yang kuat dan autentik.
3. Konsep Open and Collaborative Space
Konsep Open and Collaborative Space adalah desain ruang yang terbuka tanpa banyak sekat,
memfasilitasi interaksi dan kolaborasi. Ruangan ini biasanya menggunakan dinding kaca atau
partisi transparan untuk menciptakan kesan luas. Furnitur yang dipilih bersifat fleksibel dan
mudah diatur ulang untuk mendukung diskusi kelompok. Elemen seperti meja besar bersama,
papan tulis, dan area santai sering ditambahkan untuk menciptakan suasana kerja yang nyaman,
terbuka, dan produktif.
4. Konsep Smart Meeting Room
Konsep Smart Meeting Room adalah desain ruang meeting yang terintegrasi dengan
teknologi canggih untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Ruangan ini dilengkapi
dengan perangkat seperti proyektor, layar interaktif, dan sistem audio yang dapat dioperasikan
secara nirkabel. Pencahayaan dapat disesuaikan untuk menciptakan suasana yang tepat, dan
sistem konektivitas yang baik memungkinkan presentasi dan kolaborasi jarak jauh. Dengan
desain modern dan fungsional, ruang ini mendukung berbagai format pertemuan, dari diskusi
formal hingga brainstorming kreatif.
7
5. Konsep Nature-Inspired (Biophilic Design)
Konsep Nature-Inspired atau Biophilic Design adalah pendekatan desain yang
mengintegrasikan elemen alam ke dalam ruang untuk meningkatkan kesejahteraan penghuni.
Ciri utamanya meliputi penggunaan material alami seperti kayu dan batu, pencahayaan alami
dari jendela besar, serta penambahan tanaman hidup. Warna dan tekstur yang terinspirasi dari
alam, serta desain yang memungkinkan pemandangan ke luar juga menjadi fokus utama. Konsep
ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang nyaman, segar, dan harmonis, serta dapat
meningkatkan produktivitas dan mengurangi stres.
2.2 Konsep dan Desain dari Intensif
8
DAFTAR PUSTAKA
BAB_I.pdf
http://inccantb.com/pengertian-mice-meeting-incentive-conference-exhibition-definisi- bentuk-dan-faktor-
yang-dipertimbangkan-dalam-pelaksanaan-mice.html
Abdul Hamid, M. A., Balwi, M. K., & Othman, M. F. (2006). Reka Cipta & Inovasi dalam Perspektif
Kreativiti. Johor, Malaysia: Penerbit Universiti Teknologi Malaysia Press.
Abercrombie, S. (1990). A Philosophy of Interior Design. New York: Harper & Row.
Adenan, K., Budi, B. S., & Wibowo, A. S. (2012, Juli). Karakter Visual Arsitektur Karya A.F. Aalbers di
Bandung (1930-1946)-Studi Kasus: Kompleks Villa’s dan Woonhuizen. Jurnal Lingkungan Binaan
Indonesia, 1(1), 63-74.
https://repo.isi-dps.ac.id/4698/1/Pengantar%20Konsep%20Desain%20Interior%20A5.pdf
Lee, S. (2019). Meeting Architecture: A Manifesto for Facilitation. New York: Facilitators Press.