MAKALAH KONSEP KEGAWATDARURATAN DAN KONSEP TRIAGE
Dosen pengampu : Setiyawan [Link].,Ns.,[Link].
Disusun Oleh :
1. AISYAH SHOFI WULANDARI (S23101)
2. AZIZZAH AYU NURHAFFIDA (S23110)
3. FEBRIANA YUNITA WARDANI (S23117)
4. IYURI (S23121)
5. MAYA SAULA (S23124)
6. MUTIARA KINASIH (S23126)
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA
FAKULTAS ILMU KESEHATANUNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2023/2024
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Penggunaan istilah triage ini sudah lama berkembang. Konsep awal triage modern yang
berkembang meniru konsep pada jaman Napoleon dimana Baron Dominique Jean Larrey
(1766 – 1842), seorang dokter bedah yang merawat tentara Napoleon, mengembangkan dan
melaksanakan sebuah system perawatan dalam kondisi yang paling mendesak pada tentara
yang datang tanpa memperhatikan urutan kedatangan mereka. System tersebut memberikan
perawatan awal pada luka ketika berada di medan perang kemudian tentara diangkut ke
rumah sakit/tempat perawatan yang berlokasi di garis belakang. Sebelum Larrey menuangkan
konsepnya, semua orang yang terluka tetap berada di medan perang hingga perang usai baru
kemudian diberikan perawatan.
Penggunaan awal kata “trier” mengacu pada penampisan screening di medan perang.
Kini istilah tersebut lazim digunakan untuk menggambarkan suatu konsep pengkajian yang
cepat dan terfokus dengan suatu cara yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya
manusia, peralatan serta fasilitas yang paling efisien terhadap hamper 100 juta orang yang
memerlukan pertolongan di unit gawat darurat (UGD) setiap tahunnya. Berbagai system
triage mulai dikembangkan pada akhir tahun 1950-an seiring jumlah kunjungan UGD yang
telah melampaui kemampuan sumber daya yang ada untuk melakukan penanganan segera.
Tujuan triage adalah memilih atau menggolongkan semua pasien yang datang ke UGD dan
menetapkan prioritas penanganan.
B. Rumusan masalah :
1. Definisi konsep kegawatdaruratan
2. Kualifikasi Tenaga Kesehatan di Instalasi Gawat Darurat
3. Standar pelyanan kegawatdaruratan
4. Apa yang dimaksut Triage?
5. Apa saja tujuan Triage?
6. Apa saja prinsip Triage?
7. Apa saja macam – macam Triage?
8. Pemeriksaan apa yang dapat dilakukan denganTriage?
C. Tujuan penulisan :
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan dapat memberikan informasi kepada pembaca mengenai
Triage
2. Tujuan Khusus
1. Mampu menjelaskan tentang Triage.
2. Mampu menjelaskan tujuan Triage
3. Mampu menjelaskan prisnsip dasar Triage
4. Mampu menjelaskan macam – macam Triage
5. Mampu melaksanakan Triage
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Konsep Kegawatdaruratan
Gawat artinya mengancam nyawa, sedangkan darurat adalah perlu mendapatkan
penanganan atau tindakan segera untuk menghilangkan ancaman nyawa korban. Jadi, gawat
darurat adalah keadaan yang mengancam nyawa yang harus dilakukan tindakan segera untuk
menghindari kecacatan bahkan kematian korban (Hutabarat & Putra,2016).Penanganan
kegawatdaruratan adalah perawatan individu dari segala usia dengan perubahan kesehatan
fisik atau emosional yang dirasakan secara aktual yang tidak terdiagnosis atau memerlukan
intervensi lebih lanjut.
Asuhan pada pasien dengan kegawatdaruratan bersifat episodik, primer, biasanya
akut, dan terjadi dalam berbagai keadaan. Tenaga medis di instalasi gawat darurat merawat
semua usia dan populasi di berbagai spektrum penyakit dan pencegahan cedera lebih lanjut,
penyelamatan nyawa, dan tindakan pencegahan kecacatan. Praktik penanganan
kegawatdaruratan membutuhkan perpaduan unik antara asesmen umumdan khusus,
intervensi, dan keterampilan manajemen. Perilaku profesional yang melekat dalam praktik
penanganan kegawatdaruratan memerlukan perolehan dan penerapan pengetahuan dan
keterampilan
12 khusus, akuntabilitas dan tanggung jawab, komunikasi, otonomi, dan hubungan
kolaboratif dengan orang lain (Howard & Steinmann, 2010).
B. Kualifikasi Tenaga Kesehatan di Instalasi Gawat Darurat
1) Dokter
2. Pelayanan Kegawatdaruratan di Rumah Sakit harus mempunyai
3. Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP).
Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) Pelayanan Kegawatdaruratan meliputi:
a) Dokter terlatih yaitu dokter umum yang memiliki kompetensi untuk melakukan
pelayanan kegawatdaruratan.
b) Dokter Spesialis adalah dokter spesialis-subspesialis disiplin ilmu tertentu yang
memiliki kompetensi melalui pelatihankegawatdaruratan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
c) Dokter Spesialis Kedokteran Emergensi (Emergency Medicine), yaitu dokter yang
sudah menjalani program pendidikan dokter spesialis emergensi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Perawat
Perawat yang bekerja di unit Pelayanan Kegawatdaruratan adalah perawat yang memiliki
kompetensi kegawatdaruratan yang diperoleh melalui pelatihan kegawatdaruratan
terstandar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (KMK No 856 Tahun
2009).
4. Tenaga Kesehatan Lain dan Tenaga Non Kesehatan Kebutuhan jenis dan jumlah
tenaga kesehatan dan tenaga nonkesehatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan
Pelayanan Kegawatdaruratan dan tingkat kemampuan Fasilitas Pelayanan Kesehatan
(KMK No 856 Tahun 2009).
C. Standar Pelayanan Kegawatdaruratan
Menurut Kepmenkes RI No 856 Tahun 2009, setiap Rumah Sakit wajib memiliki
pelayanan gawat darurat yang memiliki kemampuan sebagai berikut.
1) Melakukan pemeriksaan awal kasus-kasus gawat darurat.
2) Melakukan resusitasi dan stabilitasi (life saving).
3) Pelayanan di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit harus dapat memberikan
pelayanan 24 jam dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu.
4) Berbagai nama untuk instalasi/unit pelayanan gawat darurat di rumah sakit
diseragamkan menjadi Instalasi Gawat Darurat (IGD).
5) Rumah Sakit tidak boleh meminta uang muka pada saat menangani kasus gawat
darurat.
6) Pasien gawat darurat harus ditangani paling lama 5 (lima) menit setelah sampai di
IGD.
7) Organisasi Instalasi Gawat Darurat (IGD) didasarkan pada organisasi multidisiplin,
multiprofesi dan terintegrasi, dengan struktur organisasi fungsional yang terdiri dari
unsur pimpinan dan unsur pelaksana, yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan
pelayanan terhadap pasien gawat darurat di Instalasi Gawat Darurat (IGD), dengan
wewenang penuh yang dipimpin oleh dokter.
8) Setiap Rumah sakit wajib berusaha untuk menyesuaikan pelayanan gawat
daruratnya minimal sesuai dengan klasifikasi berikut.
Adapun ketentuan pelayanan di IGD Rumah Sakit sesuai tingkatan
klasifikasi pelayanan di atas antara lain terdiri dari:
a) Pelayanan Instalasi Gawat Darurat Level IV sebagai standar minimal untuk Rumah
Sakit Kelas
b) Pelayanan Instalasi Gawat Darurat Level III sebagai standar minimal untuk Rumah
Sakit Kelas
c) Pelayanan Instalasi Gawat Darurat Level II sebagai standar minimal untuk Rumah
Sakit Kelas
d) Pelayanan Instalasi Gawat Darurat Level I sebagai standar minimal untuk Rumah
Sakit Kelas
D. Definisi Triage
Triage berasal dari bahasa prancis yaitu “Trier” yang berarti membagi kedalam
tiga kelompok ( department of emergency medicine Singapore general hospital (DEM
SHG), 2005 ). System ini di kembangkan di medan pertempuran dan di gunakan bila
terjadi bencana. Di medan pertempuran, triage digunakan untuk menentukan prioritas
penangan pada perang dunia I. klasifikasi ini digunakan oleh militer perang , untuk
mengindentifikasi dan melakukan penanganan pada tentara korban perang yang
mengalami luka ringan dengan tujuan setelah dilakukan tindakan penganganan dapat
kembali ke medan perang.
Trige adalah suatu proses penggolongan pasien berdasarkan tipe dan tingkat
kegawatan kondisinya (zimmermann dan herr, 2006). Triage juga di artikan sebagai
suatu tindakan pengelompokkan penderita berdasarkan pada beratnya cedera yang di
prioritaskan ada tidakny gangguan pada airway (A), Breathing (B), dan circulation
(C), dengan mempertimbangkan sarana, sumber daya mnusia, dan probabilitas hidup
penderita
A. Tujuan Triage
1. Menginisiasi atau melakukan intervensi yang cepat dan tepat kepada pasien
2. Menetapkan area yang paling tepat untuk dapat melaksanakan pengobatan
lanjutan
3. Memfasilitasi alur pasien melalui unit gawat darurat dalam proses
penanggulangan/pengobatan gawat darurat
Sistem Triage dipengaruhi oleh :
1. Jumlah tenaga profesional dan pola ketenagaan
2. Jumlah kunjungan pasien dan pola kunjungan pasien
3. Denah bangunan fisik unit gawat darurat
2.1 Prinsip Triage
“Time Saving is Life Saving (waktu keselamatan adalah keselamatan hidup), The
Right Patient, to The Right Place at The Right Time, with The Right Care Provider”.
1. Triase seharusnya dilakukan segera dan tepat waktu
Kemampuan berespon dengan cepat terhadap kemungkinan penyakit yang
mengancam kehidupan atau injuri adalah hal yang terpenting di departemen
kegawatdaruratan.
2. Pengkajian seharusnya adekuat dan akurat
Ketelitian dan keakuratan adalah elemen yang terpenting dalam proses interview.
3. Keputusan dibuat berdasarkan pengkajian
Keselamatan dan perawatan pasien yang efektif hanya dapat direncanakan bila
terdapat informasi yang adekuat serta data yang akurat.
4. Melakukan intervensi berdasarkan keakutan dari kondisi
Tanggung jawab utama seorang perawat triase adalah mengkaji secara akurat seorang
pasien dan menetapkan prioritas tindakan untuk pasien tersebut. Hal tersebut
termasuk intervensi terapeutik, prosedur diagnostic dan tugas terhadap suatu tempat
yang diterima untuk suatu pengobatan.
5. Tercapainya kepuasan pasien
a. Perawat triase seharusnya memenuhi semua yang ada di atas saat menetapkan hasil
secara serempak dengan pasien
b. Perawat membantu dalam menghindari keterlambatan penanganan yang dapat
menyebabkan keterpurukan status kesehatan pada seseorang yang sakit dengan
keadaan kritis.
c. Perawat memberikan dukungan emosional kepada pasien dan keluarga atau temannya.
2.1 Klasifikasi Triage
A. Triage di Rumah Sakit
1) Tipe 1 : Traffic Director or Non Nurse
a. Hampir sebagian besar berdasarkan system triage
b. Dilakukan oleh petugas yang tak berijasah
c. Pengkajian minimal terbatas pada keluhan utama dan seberapa sakitnya
d. Tidak ada dokumentasi
e. Tidak menggunakan protocol
2) Tipe 2 : Cek Triage Cepat
a. Pengkajian cepat dengan melihat yang dilakukan perawat beregistrasi atau
dokter
b. Termasuk riwayat kesehatan yang berhubungan dengan keluhan utama
c. Evaluasi terbatas
d. Tujuan untuk meyakinkan bahwa pasien yang lebih serius atau cedera
mendapat perawatan pertama
3) Tipe 3 : Comprehensive Triage
a. Dilakukan oleh perawat dengan pendidikan yang sesuai dan berpengalaman
b. 4 sampai 5 sistem kategori
c. Sesuai protocol
E. Klasifikasi Triage
Keadaan yang mengancam nyawa / adanya
gangguan ABC dan perlu tindakan segera,
Gawat darurat (P1)
misalnya cardiac arrest, penurunan kesadaran,
trauma mayor dengan perdarahan hebat
Keadaan mengancam nyawa tetapi tidak
memerlukan tindakan darurat. Setelah
Gawat tidak darurat (P2) dilakukan resusitasi maka ditindaklanjuti oleh
dokter spesialis. Misalnya : pasien kanker
tahap lanjut, fraktur, sickle cell dan lainnya
Gawat tidak darurat (P2) Keadaan mengancam nyawa tetapi tidak
memerlukan tindakan darurat. Setelah
dilakukan resusitasi maka ditindaklanjuti oleh
dokter spesialis. Misalnya : pasien kanker
tahap lanjut, fraktur, sickle cell dan lainnya
Gawat darurat (P1) Keadaan yang mengancam nyawa / adanya
gangguan ABC dan perlu tindakan segera,
misalnya cardiac arrest, penurunan kesadaran,
trauma mayor dengan perdarahan hebat
B. Triage Tingkat Prioritas (Labeling)
Prioritas I (MERAH) Mengancam jiwa atau fungsi vital, perlu
resusitasi dan tindakan bedah segera,
mempunyai kesempatan hidup yang besar.
Penanganan dan pemindahan bersifat segera
yaitu gangguan pada jalan nafas, pernafasan
dan sirkulasi. Contohnya sumbatan jalan
nafas, tension pneumothorak, syok hemoragik,
luka terpotong pada tangan dan kaki, combutio
(luka bakar tingkat II dan III > 25 %
Mengancam jiwa atau fungsi vital, perlu
resusitasi dan tindakan bedah segera,
mempunyai kesempatan hidup yang besar.
Penanganan dan pemindahan bersifat segera
yaitu gangguan pada jalan nafas, pernafasan
Prioritas I (MERAH)
dan sirkulasi. Contohnya sumbatan jalan
nafas, tension pneumothorak, syok
hemoragik, luka terpotong pada tangan dan
kaki, combutio (luka bakar tingkat II dan III
> 25 %
Potensial mengancam nyawa atau fungsi
vital bila tidak segera ditangani dalam jangka
waktu singkat. Penanganan dan pemindahan
Prioritas II (KUNING) bersifat jangan terlambat. Contoh : patah
tulang besar, combutio (luka bakar) tingkat II
dan III < 25 %, trauma thorak / abdomen,
laserasi luas, trauma bola mata.
Prioritas III (HIJAU) Perlu penanganan seperti pelayanan biasa,
tidak perlu segera. Penanganan dan
pemindahan bersifat terakhir. Contoh luka
superficial, luka-luka ringan.
Kemungkinan untuk hidup sangat kecil, luka
sangat parah. Hanya perlu terapi suportif.
Prioritas 0 (HITAM)
Contoh henti jantung kritis, trauma kepala
kritis.
C. Triage Tingkat Keakutan
Pemeriksaan fisik rutin (misalnya memar
Kelas I
minor) dapat menunggu lama tanpa bahaya
Kelas II Nonurgen / tidak mendesak (misalnya ruam,
gejala flu) dapat menunggu lama tanpa bahaya
Semi-urgen / semi mendesak (misalnya otitis
Kelas III
media) dapat menunggu sampai 2 jam sebelum
pengobatan
Urgen / mendesak (misalnya fraktur panggul,
Kelas IV
laserasi berat, asma); dapat menunggu selama 1
jam
Gawat darurat (misalnya henti jantung, syok);
Kelas V
tidak boleh ada keterlambatan pengobatan ;
situasi yang mengancam hidup
F. Alur Triage
1. Pasien datang diterima petugas / paramedic UGD
2. Diruang triase dilakukan anamneses dan pemeriksaan singkat dan cepat (selintas)
untuk menentukan derajat kegawatannya oleh perawat.
3. Bila jumlah penderita / korban yang ada lebih dari 50 orang, maka triase dapat
dilakukan di luar ruang triase (di depan gedung IGD)
4. Penderita dibedakan menurut kegawatannya dengan memberi kode warna :
5. Segera – Immediate (MERAH). Pasien mengalami cedera mengancam jiwa yang
kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera. Misalnya : Tension
pneumothorax, distress pernafasan (RR<30x/menit), perdarahan internal, dsb
6. Tunda – Delayed (KUNING). Pasien memerlukan tindakan definitive tetapi tidak ada
ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan laserasi terkontrol, fraktur tertutup pada
ekstremitas dengan perdarahan terkontrol, luka bakar <25% luas permukaan tubuh,
dsb.
7. Minimal (HIJAU). Pasien mendapat cidera minimal, dapat berjalan dan menolong diri
sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya : laserasi minor, memar dan lecet, luka
bakar superfisial.
8. Expextant (HITAM). Pasien mengalami cidera mematikan dan akan meninggal meski
mendapat pertolongan. Misalnya : luka bakar derajat 3 hampir diseluruh tubuh,
kerusakan organ vital, dsb.
9. Penderita/korban mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan warna : merah,
kuning, hijau, hitam.
10. Penderita/korban kategori triase merah dapat langsung diberikan pengobatan diruang
tindakan UGD. Tetapi bila memerlukan tindakan medis lebih lanjut, penderita/korban
dapat dipindahkan ke ruang operasi atau dirujuk ke rumah sakit lain.
11. Penderita dengan kategori triase kuning yang memerlukan tindakan medis lebih lanjut
dapat dipindahkan ke ruang observasi dan menunggu giliran setelah pasien dengan
kategori triase merah selesai ditangani.
12. Penderita dengan kategori triase hijau dapat dipindahkan ke rawat jalan, atau bila
sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka penderita/korban dapat diperbolehkan
untuk pulang.
13. Penderita kategori triase hitam (meninggal) dapat langsung dipindahkan ke kamar
jenazah
D. Dokumentasi Triage
1. Waktu dan datangnya alat transportasi
2. Keluhan utama
3. Pengkodean prioritas atau keakutan perawatan
4. Penentuan pemberi perawatan kesehatan yang tepat
5. Penempatan di area pengobatan yang tepat (missal : cardiac versus trauma, perawatan
minor vs perawatan kritis)
6. Permulaan intervensi (missal : balutan steril, es, pemakaian bidai, prosedur diagnostic
seperti pemeriksaan sinar X, EKG, GDA, dll
7.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Sistem triage ini digunakan untuk menentukan prioritas penanganan kegawat
daruratan. Sehingga perawat benar-benar memberikan pertolongan pada pasien yang
sangat membutuhkan, dimana keadaan pasien sangat mengancam nyawanya, namun
dengan penanganan secara cepat dan tepat, dapat menyelamatkan hidup pasien tersebut.
Tidak membuang wakunya untuk pasien yang memang tidak bisa diselamatkan lagi, dan
mengabaikan pasien yang membutuhkan.
B. Saran
Untuk pengembangan lebih lanjut maka penulis memberikan saran yang dapat
membantu kelancaran praktek Triage Keperawatan di masa yang akan datang, yaitu :
Perlunya penambahan pendidikan perawat dalam memahami Triage untuk membantu
perawat di lingkungan kerjanya.
Perlunya penambahan pelatihan cara Triage untuk meningkatkan prosentase
keberhasilan kesembuhannya.
DAFTAR PUSTAKA
1. ENA, 2005. Emergency Care. USA : WB Saunders Company
2. Iyer, P. 2004. Dokumentasi Keperawatan : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan.
Jakarta : EGC
3. Oman, Kathleen S. 2008. Panduan Belajar Keperawatan Emergensi. Jakarta : EGC
4. Kartikawati Dewi N. Buku Ajar Dasar – Dasar Keperwatan Gawat Darurat (2011).
Jakarta. Salemba Medika