0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
213 tayangan34 halaman

Makalah Gout

Makalah ini membahas tentang Gout Arthritis, penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar asam urat dalam darah, yang dapat menyebabkan nyeri sendi dan peradangan. Prevalensi penyakit ini tinggi di Indonesia, terutama pada pria di atas 45 tahun, dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan. Penatalaksanaan meliputi pengobatan farmakologis dan non-farmakologis untuk mengontrol kadar asam urat dan mengurangi gejala.

Diunggah oleh

khalisah.th2002
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
213 tayangan34 halaman

Makalah Gout

Makalah ini membahas tentang Gout Arthritis, penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar asam urat dalam darah, yang dapat menyebabkan nyeri sendi dan peradangan. Prevalensi penyakit ini tinggi di Indonesia, terutama pada pria di atas 45 tahun, dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan. Penatalaksanaan meliputi pengobatan farmakologis dan non-farmakologis untuk mengontrol kadar asam urat dan mengurangi gejala.

Diunggah oleh

khalisah.th2002
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN

GOUT ARTHRITIS (ASAM URAT)

NAMA KELOMPOK 4 :

1. NOVITA RAMADHANY 2411102411153


2. MITA AYU LESTARI 2411102411155
3. IRFAN ALISYA’BANI 2411102411164
4. SYAKHILA ARMAVIA SANTI 2411102411173
5. MUHAMMAD DEVRI 2411102411175
6. RIDWANSYAH 2411102411180
7. DARNIATI 2411102411181
8. NURKHALISAH 2411102411185

PROGRAM STUDI ALIH JENJANG KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR

2025
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit asam urat dalam dunia medis disebut gout arthritis
merupakan penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar asam urat
dalam darah. Tingginya kadar asam urat dalam darah yang melebihi batas
kadar normal menyebabkan nyeri persendian, nyeri pada bagian tubuh
tertentu dan menyebabkan peradangan sendi (Haryani & Misniarti, 2020).
Gout Arthritis merupakan penyakit yang mengakibatkan penumpukan
asam urat yang berlebihan di dalam tubuh karena peningkatan produksi
asam urat, penurunan sekresi oleh ginjal atau peningkatan konsumsi
makanan yang kaya purin. Penyakit asam urat di dunia berdasarkan WHO
mencapai 20 % dari jumlah penduduk di dunia (Widelia Welkriana &
Redyansya Putra, 2017).
Negara Indonesia adalah negara terbesar keempat di dunia dengan
populasi asam urat 35% penderita dan banyak tirade pada pria diatas 45
tahun. Prevalensi asam urat umur 65-74 tahun sebanyak 51,9% dan usia 75
tahun sebesar 54,8%. Prevalensi kasus penderita penyakit sendi di Provinsi
Kalimantan Tengah pada tahun 2018 dengan jumlah kasus 179.200
(Riskesdas, 2018). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Kotawaringin Barat tahun 2022 dari Januari-September berjumlah 376
kasus. Kasus Gout Arthritis tertinggi di tahun 2022 terjadi diwilayah Kerja
Puskesmas Natai Pelingkau dengan jumlah 65 kasus (Dinas Kesehatan
Kotawaringin Barat, 2022).
Kadar asam urat yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan sendi,
penyakit jantung, batu ginjal, gagal ginjal dan menyebabkan nyeri. Rasa
nyeri disebabkan karena terbentuknya timbunan kristal monosodium urat
monohidrat (MSUM). Rasa nyeri pada asam urat ditemukan pada sendi
jempol jari kaki, sendi pergelangan, sendi kaki, sendi lutut dan sendi siku.
Sendi yang terserang asam urat akan membengkak dan kulit biasanya akan
berwarna merah, dan muncul benjolan pada sendi (tofus), nyeri yang tidak
ditangani dengan segera dapat menyebabkan kecacatan pada kegiatan
perharinya dan menurunkan aktivitas fisik (Radharani, 2020).
Menurut penelitian usia menjadi salah satu faktor yang sangat
berpengaruh terhadap kadar asam urat. Bertambahnya usia menyebabkan
kadar asam urat menjadi semakin tinggi, terutama pada laki-laki. Laki-laki
lebih sering terserang penyakit asam urat, dimulai dari usia pubertas
hingga usia (40-50) tahun, sedangkan pada perempuan persentase asam
urat meningkat ketika sudah mengalami masa menopause. Jenis kelamin
menjadi faktor penyebab terjadinya asam urat, hal ini disebabkan karena
laki-laki tidak memiliki hormon (estrogen) yang membantu pembuangan
kadar asam urat lewat urin. Serta pola hidup laki-laki yang tidak baik
seperti memiliki kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol yang
dapat menyebabkan resiko terserang asam urat menjadi lebih tinggi.
Secara Epidemiologi asam urat lebih banyak terjadi pada laki-laki
dibandingkan dengan perempuan, prevalensi asam urat pada laki-laki
sebesar 5,9% dan perempuan 2% (Ida, 2019).
Dampak terjadinya asam urat adalah penderita mengalami
kelemahan, sakit ataupun nyeri ketika beraktivitas terutama pada sendi dan
anggota gerak, gejala ini cenderung parah pada orang di bawah usia 30
tahun (Widyalestari, 2020). Komplikasi lain yang dapat timbul akibat
asam urat adalah peningkatan purin sehingga kadar asam urat menjadi
naik, hal ini dapat menyebabkan nyeri pada persendian hingga
pembengkakan. Penatalaksanaan pada penderita arthritis gout umumnya
difokuskan untuk mengontrol peningkatan kadar asam urat (uric acid)
yang terjadi dalam tubuh sehingga efek nyeri yang ditimbulkan menurun
dan berkurang (Antoni et al., 2020).
Asam Urat perlu mendapatkan penanganan yang tepat seperti
melakukan istirahat yang cukup hingga memodifikasi diet rendah purin.
Penggunaan obat misal, Indometasin 200mg/hari ataupun diklofenak
150mg/hari asalkan tidak ada kontraindikasi pada penderita (Nurarif,
2019). Upaya yang bisa dilakukan oleh penderita asam urat guna
membantu menurunkan peningkatan kadar asam urat yang terjadi dalam
tubuh sehingga efek nyeri yang ditimbulkan menurun dan berkurang yaitu
secara farmakologi dan non farmakologi (Setiawan dan Nur, 2020).
B. Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh peningkatan kadar asam urat terhadap kesehatan, dan
apa saja upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala asam urat?
C. Tujuan Umum
Menganalisis pengaruh peningkatan kadar asam urat terhadap kesehatan
dan mengetahui upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala
asam urat.
D. Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan kadar
asam urat.
2. Menganalisis gejala-gejala yang timbul akibat peningkatan kadar asam
urat.
3. Mengetahui upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi gejala
asam urat.
E. Manfaat
1. Memberikan informasi tentang pengaruh peningkatan kadar asam urat
terhadap Kesehatan.
2. Membantu masyarakat untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi peningkatan kadar asam urat.
3. Memberikan informasi tentang upaya yang dapat dilakukan untuk
mengurangi gejala asam urat.
4. Membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya
menjaga kesehatan dan mengurangi risiko peningkatan kadar asam
urat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Penyakit
1. Definisi Gout Arthritis
Penyakit Asam Urat atau dalam dunia medis disebut penyakit
Pirai/penyakit (Arthritis Gout) adalah penyakit sendi yang disebabka
n oleh tingginya asam urat didalam darah. Kadar asam urat yang ting
gi di dalam darah melebihi batas normal menyebabkan penumpukan a
sam urat di dalam persendian dan organ tubuh lainnya. Penumpukan
asam urat inilah yang membuat sendi sakit, nyeri, dan meradang. Pad
a kasus yang parah, penderita penyakit ini tidak bisa berjalan, persend
ian terasa sangat sakit jika bergerak, mengalami kerusakan pada sendi,
dan cacat (Sutanto, 2013).
Gout adalah penyakit yang diakibatkan gangguan metabolism
e purin yang ditandai dengan hiperurisemi dan serangan sinopitis aku
t berulang-ulang. Penyakit ini paling sering menyerang pria usia perte
ngahan sampai lanjut usia dan wanita pasca Mennnnnnnnnuse (Nurar
if, 2015).
2. Etiologi
Secara garis besar penyebab terjadinya asam urat (Gout) diseb
abkan oleh faktor primer dan faktor sekunder, faktor primer 99% nya
belum diketahui (idiopatik). Namun, diduga berkaitan dengan kombi
nasi faktor genetik dan faktor hormonal yang menyebabkan gangguan
metabolisme yang dapat mengakibatkan peningkatan produksi asam
urat atau bisa juga disebabkan oleh kurangnya pengeluaran asam urat
dari tubuh. Faktor sekunder, meliputi peningkatan produksi asam urat,
terganggunya proses pembuangan asam urat dam kombinasi kedua p
eyebab tersebut (Susanto, 2013).
Menurut Prasetyono 2012, berikut beberapa penyebab muncul
nya asam urat :
a. Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat purin. Tu
buh manusia sebenarnya sudah menyediakan 85% senyawa purin
untuk kebutuhan sehari- hari. Ini berarti, kebutuhan tubuh akan p
urin yang berasal dari makanan hanya sekisar 15%. Jika lebih dar
i 15% maka tubuh akan kelebihan zat ini.
b. Mengkonsumsi alkohol juga dapat meningkatkan resiko terkena
penyakit asam urat. Sebab, alkohol menyebabkan pembuangan as
am urat lewat urin menjadi berkurang, sehingga asam urat tetap b
ertahan dalam peredaran darah dan penumpukan persendian.
3. Manifestasi Klinis
Menurut Hadibroto (2009), penyakit ini umumnya ditandai de
ngan rasa nyeri hebat yang tiba-tiba menyerang sebuah sendi pada sa
at tengah malam, biasanya pada ibu jari kaki (sendi) metatarsofalange
al pertama atau jari kaki (sendi tarsal). Jumlah sendi yang meradang k
urang dari empat (oligoartritis), dan serangannya di satu sisi (unilater
al). Kulit berwarna kemerahan, terasa panas, bengkak, dan sangat nye
ri. Pembengkakan sendi umumnya terjadi secara asimetris (satu sisi t
ubuh). Berikut beberapa tanda dan gejala asam urat:
a. Sendi terasa nyeri, ngilu, linu, kesemutan, bahkan membengkak
berwarna kemerahan (meradang).
b. Biasanya, persendian terasa nyeri saat pagi hari (baru bangun ti
dur) atau malam hari.
c. Rasa nyeri pada sendi terjadi berulang-ulang.
d. Yang diserang biasanya sendi jari kaki, jari tangan, lutut, tumit,
pergelangan tangan, dan siku.
e. Pada kasus yang parah, persendian terasa sangat sakit saat berg
erak, bahkan penderita sampai tidak bisa jalan. Tulang di sekita
r sendi juga bisa kropos atau mengalami pengapuran tulang
4. Patofisiologi
Kelainan pada sendi metatarsofangeal terjadi akibat ditemuka
n penimbunan Kristal pada membrane sinovia dan tulang rawan artik
ular. Pada fase lanjut akan terjadi erosi tulang rawan, proliverasi sino
via dan pembentukan panus, erosi kistik tulang serta perubahan gout
sekunder. Selanjutnya, terjadi tofus dan fibrosis serta ankilosis pada t
ulang kaki.
Adanya gout pada sendi kaki menimbulkan respon lokal, siste
mik dan psikologis. Respon inflamasi lokal menyebabkan kompresi s
araf sehingga menimbulkan respon nyeri. Degenerasi kartilago sendi
dan respon nyeri menyebabkan gangguan mobilitas fisik. Peningkata
n metabolism menyebabkan pemakaian energy berlebih sehingga klie
n cenderung mengalami malaise, anoreksia dan status nutrisi klien tid
ak seimbang. Pembentukan panus pada pergelangan kaki menyebabk
an masalah citra tubuh dan prognosis penyakit menimbulkan respons
ansietas (Muttaqim,2012)
5. Pathway

6. Penatalaksanaan
Menurut Helmi (2013), sasaran terapi gout arthritis yaitu mem
pertahankan kadar asam urat dalam serum dibawah 6 mg/dl dan nyeri
yang diakibatkan oleh penumpukan asam urat. Tujuan terapi yang ing
in dicapai yaitu mengurangi peradangan dan nyeri sendi yang dtimbul
kan oleh penumpukan kristal monosodium urat monohidrat. Kristal te
rsebut ditemukan pada jaringan kartilago, subkutan dan jaringan parti
cular, tendon, tulang, ginjal serta beberapa tempat lainnya. Selain itu t
erapi gout juga bertujuan untuk mencegah tingkat keparahan penyakit
lebih lanjut karena penumpukan kristal dalam medulla ginjal akan me
nyebabkan Chronic Urate Nephropathy serta meningkatkan resiko ter
jadinya gagal ginjal. Terapi obat dilakukan dengan mengobati nyeri y
ang timbul terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan pengobatan
dan penurunan kadar asam urat dalam serum darah.
a. Terapi Farmakologis
Pengobatan arthritis gout dilakukan antara lain :
1) Nonsteroid Anti-inflammatory Drugs (NSAID). Terdapat be
berapa NSAID, namun tidak semua memiliki infektifitas dan
keamanan yang baik untuk terapi gout akut.
2) Colchicine. Colchicine tidak direkomendasikan untuk terapi
jangka panjang gout akut. Colchicine hanya digunakan sela
ma saat kritis untuk mencegah serangan gout.
3) Corticosteroid. Kortikosteroid sering digunakan untuk meng
hilangkan gejala gout akut dan akan mengontrol serangan.
4) Probenecid. Digunakan terutama pada kondisi insufisiensi gi
njal GFR <50ml/min.
5) AllopurinoL. Sebagai penghambat xantin oksidase, allopurin
ol segera menurunkan plasma urat dan konsentrasi asam urat
disaluran urin, serta mamfasilitasi mobilisasi benjolan.
6) Uricosuric. Obat ini memblok reabsorbsi tubular dimana urat
disaring sehingga mengurangi jumlah urat metabolic, mence
gah pembentukan benjolan baru dan memperkecil ukuran be
njolan yang telah ada.
Apabila intervensi dan diagnosis gout arthritis dilakukan pad
a fase awal, intervensi ortopedi jarang dilakukan. Pembedah
an dengan bedah dilakukan pada kondisi gout arthritis kronis.
b. Terapi Non-Farmakologisn
1) Diet dibagi para penderita gangguan asam urat mempunyai s
yarat-syarat sebagai berikut :
a) Pembatasan urin. Apabila telah terjadi pembengkakan se
ndi, maka penderita TA gangguan asam urat harus melak
ukan diet bebas purin.
b) Kalori sesuai dengan kebutuhan. Jumlah asupan kalori h
arus benar disesuaikan dengan kebutuhan tubuh berdasa
rkan pada tinggi dan berat badan.
c) Tinggi karbohidrat. Karbohidrat kompleks seperti nasi, s
ingkong, roti, dan ubi sangat baik dikonsumsi oleh pend
erita asam urat karena akan meningkatkan pengeluaran a
sam urat melalui urine.
d) Rendah protein. Protein terutama yang berasal dari hew
an dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Su
mber makanan yang mengandung protein hewani dalam
jumlah yang tinggi misalnya daging kambing, ayam, ika
n, hati, keju, udang, telur.
e) Rendah lemak. Lemak dapat menghambat ekskresi asam
urat melalui urine.
f) Makanan yang digoreng, bersantan, serta margarine dan
mentega sebaiknya dihindari.
g) Tinggi Cairan. Konsumsi cairan yang yang banyak dapa
t membantu membuang asam urat melalui urin. Oleh kar
ena itu, disarankan untuk menghabiskan minum minima
l sebanyak 2,5 liter atau 10 gelas satu hari.
h) Tanpa alkohol. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa
kadar asam urat mereka yang mengkonsumsi alkohol le
bih tinggi, dibandingkan mereka yang tidak mengkonsu
msi alkohol. Hal ini dikarenakan alkohol akan meningka
tkan asam laktat. Asam laktat ini akan menghambat pen
geluaran asam urat dari tubuh.
2) Menurut teori Andarmoyo (2013) manajemen non farmakolo
gi gout arthritis yaitu diantaranya dengan mengajarkan tekni
k distraksi, relaksasi, bimbingan antisipasi, dan terapi kompr
es hangat. Kompres hangat merupakan tindakan keperawata
n dengan memberikan kompres hangat yang digunakan untu
k memenuhi rasa nyaman dan mengurangi rasa nyeri tindaka
n ini digunakan untuk klien yang mengalami nyeri (Hidayat,
2012).
7. Komplikasi
Menurut Rotschild (2013), komplikasi dari arthritis gout meli
puti severe degenerative arthritis, infeksi sekunder, batu ginjal dan fra
ktur pada sendi. Sitokin, kemokin, protease, dan oksidan yang berper
an dalam proses inflamasi akut juga berperan dalam proses inflamasi
kronis sehingga menyebabkan sinovitis kronis, dekstruksi kartilago, d
an erosi tulang. Kristal monosodium urat dapat mengaktifkan kondro
sit untuk mengeluarkan IL-1, merangsang sintesis nitric oxide dan ma
triks metalloproteinase yang nantinya menyebabkan dekstruksi kartila
go, kristal monosodium urat mengaktivasi osteoblas sehingga mengel
uarkan sitokin dan menurunkan fungsi anabolic yang nantinya berkon
tribusi terhadap kerusakan juxta artikular tulang.
Gout Arthritis telah lama diasosiasikan dengan peningkatan re
siko terjadinya batu ginjal. Penderita dengan gout arthritis membentu
k batu ginjal karena urin memiliki pH rendah yang mendukung terjad
inya asam urat yang tidak terlarut. Terdapat tiga hal yang signifikan k
elainan pada urin yang digambarkan pada penderita dengan uric acid
nepbrolithiasis yaitu hiperurikosuria (disebabkan karena peningkatan
kandungan asam urat dalam urin), rendahnya pH (yang mana menuru
nkan kelarutan asam urat), dan rendahnya volume urin (menyebabkan
peningkatan konsentrasi asam urat pada urin).

B. Konsep Asuhan Keperawatan


Pengkajian merupakan tahap pertama dalam keperawatan dimana
informasi dikumpulkan dari beberapa sumber untuk memastikan serta
mengevaluasi kesehatan klien. Pada kasus lansia gout arthritis, fokus
pengkajian keperawatann adalah sebagai berikut:
1. Identitas klien
Identitas klien seperti nama klien, jenis kelamin, usia, alamat,
keyakinan klien, dan tanggal pengkajian.
2. Status kesehatan sekarang
a) Keluhan utama
Klien gout artritis melaporkan mengalami
ketidaknyamanan pada beberapa sendi, termasuk tumit, siku,
pergelangan tangan, jari pada kaki dan tangan, lutut, dan
pergelangan kaki (Untari & Sulastri, 2021). Metode PQRST
dapat digunakan perawat untuk mendapatkan data pengkajian
dari klien yang lengkap tentang nyeri.
1) Provoking Incident: peradangan adalah hal yang menjadi
factor pretifitasi nyeri.
2) Quality Of Pain: klien menggambarkan nyeri yang
dirasakan bersifat menusuk.
3) Region, Radiation, Relief: rasa nyeri didapat menyebar
atau menjalar, dan terjadi pada sendi yang mengalami
masalah.
4) Severity (scale) Of Pain: nyeri yang dirasakan berada
pada skala berapa (1-10) Atau bagaimana tingkat
keparahan atau intensitas nyeri?
5) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah
bertambah buruk pada malam hari atau pada siang hari.
b) Riwayat penyakit sekarang
Keluhan nyeri pada persendian yang berlangsung lebih dari
3 bulan dan dirasakan berulang kali (Tim Pokja SDKI DPP
PPNI, 2017).
c) Riwayat penyakit dahulu
Gagal ginjal kronis merupakan faktor pendukung dalam
nyeri kronis yang dialami oleh lansia dengan gout arthritis.
Perlu mengkaji adanya permasalahan lain seperti apakah klien
pernah dirawat dengan masalah yang sama. Penggunaan
alkohol berlebih, konsumsi obat diuretik serta mengkonsumsi
makanan mengandung purin tinggi harus dikaji.
d) Riwayat penyakit keluarga
Dalam riwayat penyakit keluarga kaji apakah ada keluarga
yang mengalami gout arthritis ataupun penyakit sendi lainnya.
3. Pola Fungsi Kesehatan Menurut Gordon (Nuryanti, 2019)
a) Pola Manajemen Kesehatan
Mengkaji apakah klien memeriksakan dirinya saat nyeri
berlangsung. Tanyakan pada klien bagaimana cara mengatasi
nyeri jika gout arthritisnya kambuh. Klien dengan gout arthritis
biasanya dianjurkan untuk mengkonsumsi obat allopurinol
yang berfungsi untuk menghambat pembentukan asam urat.
b) Pola Nutrisi
Periksa riwayat gizi klien untuk melihat apakah klien sering
mengkonsumsi makanan yang kaya akan purin. Jeroan dan
kacangkacangan adalah salah satu makanan yang paling sering
dikonsumsi oleh kalangan klien dengan asam urat.
c) Pola Eliminasi
Apakah ada perubahan atau gangguan pada kebiasaan BAK
dan BAB.
d) Pola Aktivitas dan Latihan
Pada klien gout arthritis biasanya kesulitan menyelesaikan
aktivitas sehari-harinya karena gangguan pada anggota gerak
seperti kaki dan tangan ketika nyeri yang dirasakan kambuh.
e) Pola Istirahat dan Tidur
Biasanya klien akan mengalami sulit tidur, dirinya merasa
terganggu akan nyeri yang menimbulkan rasa tidak nyaman.
Klien yang menderita nyeri di area tubuh tertentu mungkin
mengalami gangguan pada kebiasaan tidur dan istirahatnya,
termasuk pola tidur dan waktu tidur yang tidak teratur.
f) Pola Kognitif
Menjelaskan tentang klien dengan gout arthritis cenderung
mengalami nyeri. Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh
akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada
gambaran diri.
Paliatif / Provokatif (apa kira-kira penyebab rasa nyeri?)
Qualitatif (Sejauh mana keluhan nyeri dirasakan?, Apa
sensasinya?, seberapa sering itu terjadi? misalnya: seperti
ditusuktusuk, tertekan, atau tertimpa benda berat, dll.). Regio
(tempat di mana keluhan nyeri dialami?, Apakah sudah meluas
ke daerah baru atau daerah di mana ia sudah menyebar?)
Savety (skala nyeri, GCS untuk gangguan kesadaran, atau
pengukuran relevan lainnya dapat digunakan untuk melihat
skala keparahan keluhan.) Time (Kapan pertama kali
menemukan atau mengalami keluhan rasa nyeri?, seberapa
sering merasakan atau mengalami keluhan nyeri?, apakah
terjadi dengan cepat atau lambat?, akut atau jangka panjang?)
g) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Menggambarkan sikap terhadap diri dan persepsi terhadap
identitas diri, harga diri, gambaran diri, peran diri, ideal diri dan
harga diri.
h) Pola Hubungan dan Peran
posisi dan hubungan klien dengan keluarga, tetangga, dan
komunitas mereka di daerah tempat mereka tinggal.
i) Pola Reproduksi Seksual
Menjelaskan perasaan puas atau masalah yang dimiliki
dengan seksualitas. Selanjutnya, evaluasi dilakukan terhadap
pengaruh penyakit terhadap seksualitas.
j) Pola Koping
Toleransi Stres Menginterpretasikan bagiamana pola atau
metode yang digunakan klien saat dirinya mengalami stress,
meliputi: interaksi dengan orang terdekat, menangis dsb.
k) Pola Nilai dan Kepercayaan
Penurunan fungsi tubuh, perubahan kondisi kesehatan, dan
ketidaknyamanan sendi yang dapat menghambat klien
menyelesaikan kegiatan ibadah dan mengganggu rutinitas
ibadah
4. Pemeriksaan fisik (Head to toe)
a) Integumen.
Lansia yang mengalami proses penuaan akan terjadi perubahan
warna kulit, pigmentasi kulit, ada lesi atau tidak, edema atau
tidak kelembapan
b) Kepala.
Kaji kesimetrisan, warna rambut, kebersihan rambut, apakah
ada lesi atau tidak.
c) Mata.
Kaji jarak penglihatan, warna konjungtiva, warna sklera, warna
pupil, pakai kacamata atau tidak.
d) Hidung.
Kaji kesimetrisan, kebersihan, ada alergi atau tidak.
e) Telinga.
Kaji adakah penurunan pendengaran, apakah menggunakan
alat bantu pendengaran, kebersihan telinga.
f) Mulut, tenggorokan.
Kaji warna membran mukosa bibir, ada nyeri telan atau tidak,
apakah ada lesi dalam mulut atau tidak, pola sikat gigi.
g) Leher.
Pada leheri tidak adanya gangguan namun pengkajian di
lakukan untuk mendeteksi ada tidaknya nyeri tekan pada leher.
h) Jantung dan thorak
Kaji adakah nyeri tekan pada dada, kesimetrisan kembang
kempis, bentuk dada.
i) Abdomen.
Perawat perlu mengkaji apakah ada perubahan pola makan
jenis makanan, nafsu makan, dan pola BAB.
j) Genetalia.
Kaji adakah lesi pada genetalia, pola BAK, adakah nyeri saat
BAK.
k) Muskuloskeletal.
Pada lansia gout arthritis ditemukan adanya edema anomali
atau kelainan bentuk di daerah sendi kecil tangan atau
pergelangan kaki. Penyusutan, atrofi otot yang disebabkan oleh
tidak aktif karena peradangan sendi, ketidaknyamanan tekanan
pada sendi yang terkena, dan kelainan mekanis dan fungsional
pada sendi yang menghasilkan rasa sakit saat menggerakkan
sendi yang terkena semuanya dimungkinkan oleh degenerasi
serat otot. Kelemahan fisik yang mengganggu tugas sehari-hari
adalah umum di antara klien.
Keluhan nyeri sendi pada lutut dan pergelangan kaki pada
lansia dengan masalah gout arthritis yang berlangsung lebih
dari 3 bulan, sehingga menyulitkan mereka untuk melakukan
tugas sehari-hari, tampak meringis menahan nyeri, bersikap
protektif (misalnya posisi menghindari nyeri), tampak waspada
(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
5. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan dapat didefinisikan sebagai keputusan
klinik mengenai respon pasien ,keluarga dan masyarakat
disekitarnya terkait gangguan kondisi kesehatan pasien baik aktual
maupun risiko yang ditemukan berdasarkan hasil proses pengkajian
dan pemeriksaan fisik pada pasien (Safira, 2019).
Beberapa diagnosis keperawatan yang dapat timbul pada pasien
gout arthritis menurut Doenges (2019) adalah :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis
(inflamasi).
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri.
c. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar
informasi.
6. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan dapat diartikan sebagai fase perencanaan
tindakan yang akan dilakukan dalam pemberian asuhan
keperawatan dengan tujuan meningkatkan status kesehatan pasien
(Lingga, 2019).
Berdasarkan standar luaran keperawatan Indonesia (SLKI) (2019)
dan standar intervensi keperawatan Indonesia (SIKI) (2018) adapun
intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan
beberapa diagnosis keperawatan yang sudah dirumuskan
sebelumnya adalah :
Diagnosis SLKI SIKI
Keperawatan (SDKI)
Nyeri akut Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri
berhubungan dengan (L.08066) (I.08238)
agen pencedera Setelah dilakukan Observasi
fisiologis (inflamasi) tindakan keperawatan 1.1 Identifikasi lokasi,
(D. 0077) selama (… x 24 jam) karakteristik, durasi,
diharapkan masalah frekuensi, kualitas,
nyeri akut teratasi intensitas nyeri
dengan kriteria hasil : 1.2 Identifikasi skala
a. Keluhan nyeri nyeri
b. Meringis Terapeutik
c. Gelisah 1.3 Berikan teknik
d. Sikap protektif nonfarmakologi untuk
e. Kesulitan tidur mengurangi rasa nyeri
f. Ketegangan otot 1.4 Ajarkan teknik
g. Pupil dilatasi nonfarmakologi untuk
h. Berfokus pada diri mengurangi rasa nyeri
sendiri Edukasi
i. Menarik diri 1.5 Jelaskan strategi
Keterangan : meredakan nyeri
(1) Meningkat 1.6 Anjurkan
(2) Cukup Meningkat memonitor nyeri
(3) Sedang secara mandiri
(4) Cukup Menurun 1.7 Kolaborasi
(5) Menurun pemberian analgesic
Gangguan mobilitas Mobilitas Fisik Dukungan Mobilisasi
fisik berhubungan (L.05042) (I.05173)
dengan nyeri Setelah dilakukan Observasi
(D.0054) tindakan keperawatan 2.1 Identifikasi adanya
selama (… x 24 jam) nyeri atau keluhan
diharapkan masalah fisik lainnya
gangguan mobilitas 2.2 Identifikasi
fisik teratasi dengan toleransi fiisik
kriteria hasil : melakukan pergerakan
a. Nyeri Terapeutik
b. Kaku sendi 2.3 Fasilitasi
c. Gerakan terbatas melakukan
d. Kelemahan fisik pergerakan, jika perlu
e. Gerakan tidak 2.4 Fasilitasi aktivitas
terkoordinasi mobilisasi dengan alat
Keterangan : bantu (mis. pagar
(1) Meningkat tempat tidur)
(2) Cukup meningkat 2.5 Libatkan keluarga
(3) Sedang untuk membantu
(4) Cukup menurun pasien dalam
(5) Menurun meningkatkan
f. Pergerakan pergerakan
ekstremitas Edukasi
g. Kekuatan otot 2.6 Jelaskan tujuan
h. Rentang gerak dan prosedur
(ROM) mobilisasi
Keterangan : 2.7 Anjurkan
(1) Menurun mobilisasi dini
(2) Cukup menurun 2.8 Ajarkan mobilisasi
(3) Sedang sederhana yang harus
(4) Cukup meningkat dilakukan (mis. duduk
(5) Meningkat di tempat tidur, duduk
di sisi tempat tidur,
pindah dari tempat
tidur ke kursi)
Defisit pengetahuan Tingkat Pengetahuan Edukasi Kesehatan
berhubungan dengan (L.12111) Setelah (I.12383)
kurang terpapar dilakukan tindakan Observasi
informasi (D.0111) keperawatan selama 3.1 Identifikasi
(… x 24 jam) kesiapan dan
diharapkan masalah kemampuan menerima
defisit pengetahuan informasi
dapat teratasi dengan 3.2 Identifikasi faktor-
indikator : faktor yang dapat
a. Perilaku sesuai meningkatkan dan
anjuran menurunkan motivasi
b. Verbalisasi minat perilaku hidup bersih
dalam belajar dan sehat
c. Kemampuan Terapeutik
menjelaskan 3.3 Sediakan materi
pengetahuan tentang dan media pendidikan
suatu topik kesehatan
d. Kemampuan 3.4 Jadwalkan
menggambarkan pendidikan kesehatan
pengalaman sesuai dengan
sebelumnya yang kesepakatan
sesuai dengan topik 3.5 Berikan
1. Perilaku sesuai kesempatan untuk
dengan pengetahuan bertanya
Keterangan : Edukasi
(1) Menurun 3.6 Ajarkan perilaku
(2) Cukup menurun hidup bersih dan sehat
(3) Sedang
(4) Cukup meningkat
(5) Meningkat

7. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan dapat di definisikan sebagai bentuk
pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang sudah dibuat
sebelumnya oleh perawat dan ditujukan untuk dilakukan kepada
pasien yang sudah dikaji dan dibuat perencanaan tindakannya
(Napitu, 2020).
Definisi atau perngertian lain dari implementasi keperawatan
yaitu proses mengelola dan mewujudkan perencanaan keperawatan
yang telah disusun sebelumnya setelah dilakukan pengkajian dan
penetapan diagnosis keperawatan (Napitu, 2020).
8. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan dapat didefinisikan sebagai proses
melakukan pengkajian respon pasien setelah diberikan tindakan
keperawatan dan melakukan pengkajian ulang terkait asuhan
keperawatan yang telah diimplementasikan dengan indikator hasil
yang sudah ditetapkan apakah tercapai atau tidak (Damanik, 2019).
Evaluasi keperawatan sendiri perlu dilakukan secara rutin atau
berkala dengan tujuan menentukan intervensi keperawatan yang
sudah diberikan apakah efektif atau tidak dan apa rencana
keperawatan selanjutnya yang harus dilakukan seperti
dilakukannya revisi atau perbaikan rencana pemberian asuhan
keperawatan atau justru harus dihentikannya pemberian intervensi
keperawatan yang sebelumnya sudah direncanakan dengan acuan
kondisi kesehatan pasien, toleransi tubuh pasien dan status
kesehatan pasien termasuk perkembangan kondisi pasien
(Damanik, 2019).

C. Satuan Acara Penyuluhan (SAP)


SATUAN ACARA PENYULUAHAN
GOUT (ASAM URAT)
Pokok bahasan : Gout (asam urat)
Tempat : UMKT
Sasaran : Lansia
Waktu :

A. Latar belakang
Asam urat merupakan salah satu masalah kesehatan yang berhubung
an dengan persendian dan pergerakan. Oleh karenanya apabila persendi
an terkena asam urat maka pergerakan menjadi terbatas, dan lama-lama
bila dibiarkan akan menjadi tofi dimana terjadi penumpukan kristal-kris
tal disekitar jaringan sehingga jika dilihat dari luar seperti ada daging ya
ng menonjol terutama pada daerah persendian. Hal tersebut, biasanya te
rjadi pada orang dewasa.
Kelebihan asam urat disebabkan karena proses pemasukan makanan
yang banyak mengandung purin atau karena proses pengeluaran purin l
ewat urin yang kurang. Ketika ditanyakan pada salah satu penderita asa
m urat mengaku kadang-kadang mengeluh sakit dan merasakan linu-lin
u pada pinggang sampai bawah kaki bila mau tidur atau istirahat pada m
alam hari. Biasanya asam urat mengenai sendi ibu jari, tetapi bisa juga p
ada tumit, pergelangan kaki dan tangan atau siku.
Pada masyarakat banyak ditemui keluhan-keluhan tersebut namun te
rkadang masyarakat langsung berpresepsi bahwa menderita penyakit as
am urat karena kondisinya mirip seperti keluhan tersebut. Maka dari itu
di adakan penyuluhan tentang asam urat agar masyarakat mengerti sakit
atau keluhan-keluhan yang dirasakan benar-benar karena menderita pen
yakit asam urat atau terkena penyakit lainnya. Selain itu, diadakannya p
enyuluhan agar masyarakat dapat mencegah atau mengurangi kadar asa
m uratnya.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x45 menit keluarga
mampu memahami tentang Gout (asam urat).
2. Tujuan khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan mengenai Gout (asam urat), diha
rapkan keluarga mampu :
1. Keluarga mampu menjelaskan penegertian gout
2. Keluarga mampu menjelaskan penyebab gout
3. Keluarga mampu menjelaskan tanda dan gejala gout
4. Keluarga mampu menyebutkan komplikasi gout
5. Keluarga mampu menjelaskan diet tentang gout
6. Keluarga mampu menjelaskan cara perawatan gout
C. Pelaksanaan kegiatan
Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
Media
1. Leaflet
Waktu
Hari/tanggal :
Pukul :
Tempat : UMKT
Setting tempat

Pemateri

Fasilitator

Audien
Pengorganisasian
Pemateri
Fasilitator
Materi penyuluhan
1. Penegrtian gout
2. Penyebab gout
3. Tanda dan gejala
4. Komplikasi asam urat
5. 7 prinsip diet asam urat
6. Makanan yang harus dihindari bagi penderita asam urat
7. Cara perawatan asam urat
Kegiatan penyuluhan

Tahap kegia
No waktu Kegiatan penyuluhan sasaran media
tan
1 pembukaan 5 men  Mengucapkan sa  Menjawab sal Kata/kalimat
it lam am
 Memperkenalkan  Mendengarkan
diri dan menimak
 Menyampaikan t  bertanya
ujuan
 Menyampaikan p
okok pembahasa
n
2 pelaksanaan 25 me  menjelaskan pen  Menjawab sala Kata kata/ka
nit egrtian gout m limat
 menjelaskan peny  Mendengarkan
ebab gout dan menimak
 menjelaskan tand  bertanya
a dan gejala
 menjelakan komp
likasi gout
 menjelaskan mak
anan yang dihind
ari
 menjelaskan cara
pencegahan gout
 menjelaskan cara
perawatan gout
3 penutup 10 me  memberikan kese  Menjawab sala Kata kata/ka
nig mpatan bertanya m limat
 melakukanm eval  Mendengarkan
uasi dan menimak
 menyampaikan k  Bertanya
esimpulan  Menjawab sala
 mengakhiri perte m
muan

MATERI
A. Definisi (Asam Urat)
Penyakit Pirai (gout) atau Arthritis Gout adalah penyakit yang di seb
abkan oleh tumpukan asam/kristal urat pada jaringan, terutama pada
jaringan sendi. Gout berhubungan erat dengan gangguan metabolism
e purin yang memicu peningkatan kadar asam urat dalam darah (hipe
rurisemia), yaitu jika kadar asam urat dalam darah lebih dari 7,5 mg/
dl. Catatan: kadar normal asam urat dalam darah untuk pria adalah 8
mg/dl, sedangkan untuk wanita adalah 7 mg/dl (Junaidi, 2013).
Gout adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan penumpukan a
sam urat yang nyeri pada tulang sendi, sangat sering ditemukan pada
kaki bagian atas, pergelangan dan kaki bagian tengah. (Merkie, Carri
e. 2005).
Gout bisa diartikan sebagai sebuah penyakit dimana terjadi penumpu
kan asam urat dalam tubuh secara berlebihan, baik akibat produksi y
ang meningkat, pembuangan yang menurun, atau akibat peningkatan
asupan makanan kaya purin. Gout ditandai dengan serangan berulan
g arthritis (peradangan sendi) yang akut, kadang-kadang disertai pem
bentukan kristal natrium urat besar yan
dinamakan tophus, deformitas (kerusakan) sendi secara kronis dan ci
dera (Naga, 2012).
Jadi dapat disimpulkan bahwa Gout merupakan penyakit metebolik y
ang ditandai dengan penumpukan asam urat yang nyeri pada tulang s
endi yang umumnya lebih banyak menyerang pada laki-laki.
B. Penyebab
Menurut sustrani (2005), faktor yang berpengaruh sebagai penyebab
asam urat adalah
1. Faktor keturunan
2. Diet tinggi protein dan makanan kaya senyawa purin lainnya se
perti daging, makanan laut, kacang-kacangan, bayam, jamur da
n kembang kol.
3. Akibat konsumsi alkohol berlebihan
4. Hambatan dari pembuangan asam urat karena penyakit tertentu,
terutama gangguan ginjal.
5. Penggunaan obat tertentu yang meningkatkan kadar asam urat,
terutama diuretika (furosemida dan hidroklorotiazida).
6. Penggunaan antibiotika berlebihan.
7. Penyakit tertentu pada darah seperti leukimia dan polisitomia.
8. Faktor lain seperti stres, diet ketat, cidera sendi, darah tinggi da
n olah raga berlebihan.
Menurut Carter (dalam Arina Malya, 2003) penyebab dari gout
adalah
1. Diit tinggi purin
2. Konsumsi minumam beralkohol
3. Pengaruh obat-obatan terhadap kadar asam urat dengan efe
k yang ditimbulkanya dapat menghambat ekskresi asam urat
dalam ginjal (seperti : aspirin, diuretik)

C. Tanda dan Gejala


Menurut Mutia Sari (2010 : 33) biasanya asam urat mengenai sendi i
bu jari, tetapi bisa juga pada tumit, pergelangan kaki dan tangan atau
sikut. Kebanyakan asam urat muncul sebagai serangan kambuhan. P
enyakit ini timbul dari kondisi hiperurikemi, yaitu keadaan di mana k
adar asam urat dalam darah di atas normal.
Kadar asam urat normal pada pria berkisar 3,5 - 7 mg/dL, sedangkan
pada wanita 2,6 - 6 mg/dL. Serangan asam urat biasanya timbul seca
ra mendadak/akut, kebanyakan menyerang pada malam hari. Jika asa
m urat menyerang, sendi-sendi yang terserang tampak merah, mengk
ilat, bengkak, kulit diatasnya terasa panas disertai rasa nyeri yang sa
ngat hebat, dan persendian sulit digerakan. Serangan pertama asam u
rat pada umumnya berupa serangan akut
yang terjadi pada pangkal ibu jari kaki, dan seringkali hanya satu sen
di yang diserang. Namun, gejala-gejala tersebut dapat juga terjadi pa
da sendi lain seperti pada tumit, lutut, siku
dan lain-lain. Asam urat yang berlebih kemudian akan terkumpul pad
a persendian sehingga menyebabkan rasa nyeri atau bengkak. Kadan
g-kadang, kita pun sering merasa nyeri atau pegal-pegal dan sejenisn
ya. Anda bisa memastikan apakah Anda terkena asam urat atau tidak
dengan cara mengetahui gejala-gejala asam urat. Adapun gejala-gejal
anya, yaitu:
1. Kesemutan dan linu.
2. Nyeri terutama malam hari atau pagi hari saat bangun tidur.
3. Sendi yang terkena asam urat akan terlihat bengkak, kemerahan
panas, dan nyeri luar biasa pada malam dan pagi.
4. Terasa nyeri pada sendi terjadi berulang-ulang kali.
5. Yang diserang biasanya sendi jari kaki, jari tangan, dengkul, tu
mit, pergelangan tangan serta siku.
6. Pada kejadian kasus yang parah, persendian terasa sangat sakit
saat akan bergerak.
7. Selain nyeri sendi, asam urat yang tinggi dapat menyebabkan b
atu ginjal serta dalam jangka waktu lama, akan merusak ginjal s
ecara permanen hingga diperlukan cuci darah seumur hidup. Ka
dar asam urat yang tinggi ternyata juga berhubungan dengan ke
jadian diabetes mellitus (kencing manis) dan hipertensi.
8. Selain itu, gejala asam urat juga bisa terlihat dari keadaan tubuh
tidak sehat seperti demam, menggigil, dan rasa tidak enak bada
n. Gejala asam urat lain seperti denyut jantung yang sangat cep
at bisa juga terjadi. Gejala asam urat umumnya akan muncul pa
da usia pertengahan untuk pria, sedangkan pada wanita gejala a
sam urat akan mulai muncul setelah menopause. Serangan asa
m urat berupa gejala awal yang terasa pada persendian biasany
a akan berlangsung selama beberapa hari dan kemudian me
nghilang sampai dengan serangan berikutnya. Gejala asam urat
harus benar-benar diwaspadai untuk menghindari serangan asa
m urat yang lebih parah.
Menurut Khomsam A.S. Harliawati (2008) gejala serangan asa
m urat ditandai dengan nyeri dan pembengkakan pada ibu jari s
ampai ke jari-jari lainnya. Biasanya, rasa nyeri yang hebat terse
but berlangsung selama 24 jam. Selanjutnya, berangsur berkura
ng sampai menghilang dalam waktu 3-7 hari. Jika kadar asam u
rat serangan pertama tidak diturunkan menjadi normal, akan ter
jadi serangan selanjutnya dan bersifat menahun. Nyeri yang dis
ebabkan asam urat mengakibatkan kesulitan gerak sehingga me
ngganggu aktivitas sehari-hari. Tirnbulnya serangan kedua dan
selanjutnya sulit diprediksi. Namun, dari berbagai penelitian di
kemukakan bahwa semakin tinggi kadar asam urat, semakin ser
ing juga terjadi serangan nyeri dengan berbagai komplikasi. Ser
angan pun tidak hanya di ibu jari tangan, tetapi menyebar ke pe
rgelangan kaki, lutut, siku, telinga, sendi kecil lain pada tangan,
dan otot. Nyeri akan semakin bertambah t saatengah malam. Se
ndi yang terserang akan tampak merah, mengilat, bengkak, kuli
t di atasnya terasa panas, dan persendian sulit digerakkan. Selai
n itu, badan menjadi demam, kepala terasa sakit, nafsu makan b
erkurang, dan jantung berdebar. (Silvia 2009).
D. Komplikasi
Komplikasi di kemudian hari, seperti benjolan pada bagian tubuh tert
entu, kerusakan tulang dan sendi sehingga dapat pincang,peradangan
tulang,kerusakan ligamen dan tendon (otot ), batu ginjal, kerusakan g
injal, dan tekanan darah tinggi (hipertensi).
E. Makanan yang Dianjurkan dan Dihindari Oleh Penderita Gout
a. Makanan yang dianjurkan
1. Konsumsi makanan yang mengandung potasium tingg
i seperti kentang, yogurt, dan pisang.
2. Konsumsi buah yang banyak mengandung vitamin C, seperti je
ruk, pepaya dan strawberry.
3. Contoh buah dan sayuran untuk mengobati penyakit asam urat:
buah naga, belimbing wuluh, jahe, labu kuning, sawi hijau, saw
i putih, serai dan tomat.
4. Perbanyak konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi, singko
ng, roti dan ubi.
5. Kurangi konsumsi karbohidrat sederhana jenis fruktosa seperti
gula, permen, arum manis, gulali dan sirup.
b. Makanan yang dihindari
1. Jeroan: ginjal, limpa, babat, usus, hati, paru dan otak.
2. Seafood: udang, cumi-cumi, sotong, kerang, remis, tiram, kepiti
ng, ikan teri, ikan sarden.
3. Ekstrak daging seperti abon dan dendeng.
4. Makanan yang sudah dikalengkan (contoh: kornet sapi, sarden).
5. Daging kambing, daging sapi, daging kuda.
6. Bebek, angsa dan kalkung
7. Kacang-kacangan: kacang kedelai (termasuk tempe, tauco, onc
om, susu kedelai), kacang tanah, kacang hijau, tauge, melinjo, e
mping.
8. Sayuran: kembang kol, bayam,asparagus, buncis,
jamur kuping, daun singkong, daun pepaya, kangku
ng.
9. Keju, telur, krim, es krim, kaldu atau kuah daging yang kental.
10. Buah-buahan tertentu seperti durian, nanas dan air kelapa.
11. Makanan yang digoreng atau bersantan atau dimasak dengan m
enggunakan margarin/mentega.
12. Makanan kaya protein dan lemak.
13. Selain beberapa pantangan di atas, penderita penyakit asam urat
juga harus selalu banyak minum air putih apalagi bagi mereka y
ang mempunyai penyakit batu ginjal. Dengan banyak minum ai
r putih akan sangat membantu ginjal untuk mengeluarkan krista
l asam urat dari dalam tubuh melalui urine.
F. Cara Pencegahan Bagi Penderita Gout (Asam Urat)
1. Diit yang baik untuk mencegah asam urat dengan cara menghin
dari atau mengurangi makanan yang tinggi kadar asam urat, dia
ntaranya : Berprotein tinggi khususnya protein hewani, seperti :
sarden, kerang, seafood
2. Mengkonsumsi makanan yang mengandung basa, seperti susu,
kentang, jeruk.
3. Hindari penggunaan obat-obatan: diuretic, aspirin.
4. Memeriksa kesehatan terutama kesehatan sendi dan tulang.
G. Cara Perawatan Gout (Asam Urat) Secara Mandiri
Perawatan yang dapat dilakukan berupa tindakan sewaktu terjadi ser
angan, pengobatan dokter dan perawatan sendiri setelah memperoleh
diagnosa.Bila anda mengalami serangan gout secara tiba-tiba, lakuka
n tindakan darurat, berikut:
1. Istirahatkan sendi agar cepat sembuh. Beri kompres dingin (pla
stik berisi es) beberapa jam sekali selama 15 samapai 20 menit
pada sendi yang nyeri untuk mengurangi nyeri akibat radang. K
alau perlu masukkan kaki yang bengkak ke dalam ember berisi
air es. Selimut atau kain lain yamg menempel pada sendi yang
nyeri, karena lokasi tersebut sedang dalam keadaan yang sensiti
f.
2. Minum obat pereda sakit (analgesik biasa) untuk menghilangka
n rasa nyeri.
3. Minum banyak air (lebih dari 3,5 liter atau 8-10 gelas sehari) u
ntuk membantu mengeluarkan asam urat dari tubuh melalui uri
n.
4. Hindari penggunaan obat-obatan: diuretic, aspirin.
5. Hindari kecemasan.

Referensi

Khomsun A. S. Halinawati. 2008. ]erapi Lus untuk rematik dan @sam [rat, Detak
an W. Jakarta : Puspa Swara, Anggota IKAPI

Mansjoer, A.. 2004 Eapita TelektaEedokteran. Edisi Ketiga,Jilid Sa


tu. Jakarta :Media Aeskulapius

Saraswati S., 2009. Miet Tehat untuk ^enyakit @sam [rat, Miahetes, Bipertensi da
n Ttroke, Detakan 0, Jogjakarta : A Plus Books

Sari M. 2010. Tehat dan Huaar tanpa @sam [rat, detakan 0. Nopember, Araska Pu
blisher

Smeltzer, SC & Bare, BG, 2002, Huku @jar keperawatan medikal bedah Hrunne
r & Tuddarth, Edisi 8 Vol 2, EGC, Jakarta.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gout adalah salah satu penyakit artritis yang disebabkan oleh metabolisme
abnormal purin yang ditandai dengan meningkatnya kadar asam urat dalam
darah. Hal ini diikuti dengan terbentuknya timbunan Kristal berupa garam urat
di persendian yang menyebabkan peradangan sendi pada lutut dan atau jari.
Penyebab tingginya asam urat darah (hiperurisemia) termasuk genetika,
obesitas, dan obat-obatan tertentu.
Etiologi dari artritis gout meliputi usia, jenis kelamin, riwayat medikasi,
obesitas, konsumsi purin dan alkohol. Pria memiliki tingkat serum asam urat
lebih tinggi daripada wanita, yang meningkatkan resiko mereka terserang
artritis gout. Perkembangan artritis gout sebelum usia 30 tahun lebih banyak
terjadi pada pria dibandingkan wanita. Namun angka kejadian artritis gout
menjadi sama antara kedua jenis kelamin setelah usia 60 tahun. Prevalensi
artritis gout pada pria meningkat dengan bertambahnya usia dan mencapai
puncak antara usia 75 dan 84 tahun.
Gambaran klinis artritis gout terdiri dari artritis gout asimptomatik, artritis
gout akut, interkritikal gout, dan gout menahun dengan tofus. Nilai normal
asam urat serum pada pria adalah 5,1 ± 1,0 mg/dl, dan pada wanita adalah 4,0 ±
1,0 mg/dl. Nilai-nilai ini meningkat sampai 9-10 mg/ dl pada seseorang dengan
artritis gout.
Diet pada penyakit gout disebut dengan diet rendah purin. Diet rendah purin
terbagi menjadi 2 bagian yaitu diet rendah purin I dan diet rendah purin II. Jenis
bahan makanan yang ama dikonsumsi pada penderita gout seperti nasi,
singkong, tepung beras, buah-buahan, dan lain sebagainya

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Hadibroto,dkk. 2009.Asam Urat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama


Helmi, Zairin. 2013. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: Medi
ka Salemba MAN
Hidayat, R. 2012. Gout Dan Hiperurisemia. Departemen Ilmu Penyakit Da
lam. Jakarta: Graha Imu.N
Muttaqim, Arif. 2012. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gan
gguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta: EGC
Nuratif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperaw
atan Berdasarkan Diagnosis Medis & NANDA. Yogyakarta:
Medication.
Prasetyono, D.S. 2012. Daftar Tanda Dan Gejala Ragam Penyakit. Yogyak
arta: FlashBooks.
Susanto, Teguh. 2013. Asam Urat Deteksi, Pencegahan, Pengobatan Yogya
karta: Buku Pintar.
Haryani, S., & Misniarti. (2020). Metode penelitian kuantitatif,
kualitatif dan R&D. Jurnal Keperawatan Raflesia, 21–30.
https://doi.org/10.35816/jiskh.v12i1.919
Welkriana, P. W., Halimah, H., & Putra, A. R. (2017). Pengaruh Frekuensi
Minum Kopi Terhadap Kadar Asam Urat
Darah. BIOEDUKASI: Jurnal Pendidikan Biologi, 8(1), 83-
89.
Sabrawi, G. A. (2022). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Kepatuhan Diet Rendah Purin Pada Penderita Gout
Arthritis Di Wilayah Kerja Puskesmas Arut Selatan
Kabupaten Kotawaringin Barat (Doctoral dissertation,
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BORNEO
CENDEKIA MEDIKA PANGKALAN BUN).
Radharani, R. (2020). Kompres Jahe Hangat dapat Menurunkan Intensitas
Nyeri pada Pasien Gout Artritis. Jurnal Ilmiah Kesehatan
Sandi Husada, 9(1), 573-578.
Ida Ayu Made Sri Arjani1 , Nyoman Mastra , I Wayan Merta (2019).
Gambaran Kadar Asam Urat Dan Tingkat Pengetahuan
Lansia Di Desa Samsam Kecamatan Kerambitan
Kabupaten Tabanan. Jurnal kesehatan Poltekkes Denpasar.
LESTARI, SRI WIDYA. "GAMBARAN KADAR ASAM URAT PADA
USIA 50 TAHUN KEATAS DI RSU. BUNDA
THAMRIN." (2020).
Antoni, A., Pebrianthy, L., Harahap, D.M., Suharto, S., & Pratama, M. Y.
(2020). Pengaruh Penggunaan Kompres Kayu Manis
terhadap Penurunan Skala Nyeri pada Penderita Arthritis
Gout di Wilayah Kerja Puskesmas Batunadua. Jurnal
Kesehatan Global, 3(1), 26.
Setiawan, M. T., & Nur, H. A. (2020). Pemberian Kompres Kayu Manis
Untuk Menurunkan Nyeri Penderita Arthritis Gout di
Wilayah Puskesmas Jepang Kecamatan Mejobo Kabupaten
Kudus. Jurnal Profesi Keperawatan (JPK), 7(2).
Untari, I., Sulastri. (2021). Perawatan lansia Dengan Nyeri Akibat Gout.
Nuha Medika Yogyakarta, pp 1-57. Yogyakarta.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan
Indonesia Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta:
Dewan Pengurus PPNI
Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan
Indonesia (SLKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat
Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia (SIKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat
Indonesia
Nuryanti, A. (2020). Uji Coba Instrumen Pengkajian Keperawatan
Medikal Bedah Berbasis Pola Fungsional Kesehatan
Gordon. Jurnal Keperawatan, 9(2), 1-10.
Safira, N. (2019). Konsep Perencanaan Keperawatan.
Doenges, M. E. (2019). Nurse's pocket guide: Diagnoses, prioritized
interventions, and rationales. FA Davis.
Beatrik lingga. (2019). Jurnal PENINGKATAN MUTU PERAWAT DAN
ASUHAN KEPERAWATAN MELALUI EVALUASI
KEPERAWATAN.
Napitu, J. (2020). Pengaruh Perencanaan Keperawatan Terhadap Kepuasan
Pasien.
DAMANIK, E. T. M. (2019). Potensi evaluasi keperawatan dijadikan
rekomendasi dalam memberikan asuhan keperawatan di
masa yang mendatang.

Anda mungkin juga menyukai