DINAMIKA KEPENDUDUKAN DI INDONESIA
Kekuatan suatu negeri sama sekali tidak
terletak pada besar atau kecilnya jumlah
penduduk dan luas - sempitnya negerinya,
tetapi pada nilainya dalam menguasai ilmu
pengetahuan. Pramoedya Ananta Toer
Pernahkah kalian menghitung jumlah penduduk yang ada di Indonesia? Tentu
menjadi hal yang sulit dilakukan mengingat Indonesia adalah negara kepulauan.
Lantas, bagaimana sih cara yang dapat digunakan untuk mengetahui jumlah
penduduk di Indonesia?
Nah, pasti kalian tidak asing lagi dengan gambar di atas, dan setiap orang
memilikinya. Yups betul sekali, siapa sih yang gak punya akte kelahiran. Nah akte
kelahiran ini merupakan salah satu data hasil registrasi penduduk ketika terjadi
kelahiran. Bukan hanya kelahiran aja nih yang diregistrasi, ternyata ketika terjadi
kematianpun, harus dilaporkan lho atau misalkan kita pindah ke suatu wilayah,
kitapun juga harus mengurus surat pindah. Buat apa kita harus melakukannya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, yuks cari tahu pada pembelajaran kali ini!
Kompetensi Dasar
KD. 3.5. Menganalisis Dinamika Kependudukan Di Indonesia Untuk Perencanaan
Pembangunan
KD. 4.5. Menyajikan data kependudukan dalam bentuk peta, tabel, grafik, dan/
atau gambar
Indikator Pencapaian Kompetensi
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan kamu dapat menganalisis dinamika
dan masalah kependudukan di Indonesia. Adapun hal-hal yang akan kamu pelajari
pada materi ini adalah sebagai berikut:
1. Sumber data kependudukan
2. Kuantitas dan Analisis Demografi
3. Kualitas Penduduk
4. Mobilitas Penduduk
5. Permasalahan Penduduk dan Solusinya
A. Sub tema 1 : Sumber Data Kependudukan
Pre Test Sub Tema 1: Sumber Data Kependudukan (5 soal )
Link Google Form :
1. Sumber Data Kependudukan
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak, yaitu berdasarkan
data Badan Pusat Satistik (BPS) tercatat jumlah penduduk di Indonesia pada tahun
2020 sebanyak 270,20 juta jiwa. Jumlah tersebut mengalami peningkatan 32,56
juta jiwa dibandingkan data sensus penduduk tahun 2010. Artinya dalam kurun
waktu 10 tahun, jumlah penduduk Indonesia meningkat sebanyak 13,7%. Karena
negara kita berbentuk kepulauan menjadikan penduduknya tersebar di hampir
semua pulau. Persebarannyapun tidak merata, penduduk terpusat di pulau- pulau
besar seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku
dan Papua. Untuk lebih jelasnya coba perhatikan gambar di bawah ini!
Sumber : Katalog Potret Sensus Penduduk 2020
Berdasarkan gambar di atas, dapat kita ketahui bahwa jumlah penduduk
Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa yaitu sebanyak 56,10% dari seluruh
penduduk Indonesia. Penduduk yang bertempat tinggal di Pulau Sumatra yaitu
21,68%, Kalimantan 6,15%, Sulawesi 7,36%, Bali dan Nusa Tenggara 5,54 %,
sedangkan Maluku dan Papua 3,17% dari jumlah penduduk Indonesia (bps.go.id).
Dari mana sih kita dapat mengetahui data tersebut?
Nah, untuk mendapatkan data tentang kependudukan, ada tiga cara yang dapat
dilakukan, yaitu sebagai berikut:
a. Sensus Penduduk
Sensus penduduk menurut Badan Pusat Statistik (BPS) adalah perhitungan
jumlah penduduk secara periodik. Data yang di peroleh biasanya tidak hanya
meliputi jumlah orang, tetapi juga fakta mengenai misalnya jenis kelamin,
usia, bahasa dan lain-lain yang di anggap perlu.
Tujuan dilaksanakannya sensus menurut BPS adalah sebagai berikut:
1) Menyediakan data jumlah, komposisi, distribusi, dan karakteristik
penduduk Indonesia menuju satu data kependudukan Indonesia
2) Menyediakan parameter demografi dan proyeksi penduduk yang yang
meliputi fertilitas, mortalitas, dan migrasi), serta karakteristik penduduk
lainnya untuk keperluan proyeksi penduduk dan indikator SDGs
(Sustainable Development Goals) atau pembangunan berkelanjutan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa, tujuan diadanyannya sesnsus penduduk
adalah untuk mengetahui :
1) Jumlah penduduk
2) Penyebaran penduduk
3) Tingkat perkembangan penduduk
4) Kualitas penduduk
5) Komposisi penduduk
Sensus penduduk dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sensus de jure dan
sensus de facto.
1) Sensus de jure adalah pencatatan data kependudukan kepada penduduk
yang benar-benar bertempat tinggal di wilayah tersebut yang ditandai
dengan kepemilikan identitas resmi, seperti KTP atau kartu keluarga
(KK).
2) Sensus de facto adalah pencatatan data kependudukan yang dilakukan
kepada setiao penduduk yang berada pada wilayah terebut saat dilakukan
sensus penduduk.
Berdasarkan data BPS, untuk sensus penduduk tahun 2020, cara yang
dilakukan untuk pengmpulan data penduduk yaitu sebagai berikut:
1) CAWI (Computer Aided Web Interviewing) yaitu pengisian informasi
kependudukan secara mandiri melalui aplikasi web
2) CAPI (Computer Assisted Personal Interviewing) yaitu petugas sensus
melakukan wawancara data kependudukan dengan mengisikan kuesioner
elektronik yang telah disiapkan melalui HP
3) PAPI (Pencil and Paper Interviewing) yaitu petugas sensus melakukan
wawancara data kependudukan menggunakan kuesioner kertas.
Pelaksanaan sensus penduduk yaitu dengan mengisikan data kependudukan
yang dapat dilakukan menggunakan dua metode, yaitu sebagai berikut:
1) House holder, yaitu pengisian data kependudukan yang dilakukan oleh
kepala rumah tangga atau anggota keluarga
2) Canvasser, yaitu pengisian data kependudukan yang dilakukan oleh
petugas sensus.
Dalam perkembangannya, pelaksanaan sensus penduduk tahun 2020
menggunakan metode kombinasi, yaitu menggunakan data registrasi yang
relevan dengan sensus sbagai prelist ketika pelaksanaan sensus di lapangan
yang kemudian pada tahap berikutnya akan dilengkapi dengan sampel survei.
b. Registrasi Penduduk
Registrasi penduduk merupakan pencatatan data kependudukan yang
dilakukan oleh petugas pemerintah setempat yang meliputi pencatatan data
kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, migrasi, dan perubahan
pekerjaan. Pencatatan data penduduk ini sangat mudah dilakukan karena
dapat dicatat dari kantor urusan negara terendah seperti RW, RT, Kelurahan,
Kecamatan, dan seerusnya.
Akan tetapi, pelaksanaan registrasi penduduk di Indonesia masih mempunyai
kelemahan-kelemahan seperti kelengkapan datanya kurang yang disebabkan
oleh rendahnya pengetahuan penduduk tentang manfaat registrasi penduduk.
c. Survei Penduduk
Pengertian survei penduduk menurut Musliadi (2017) yaitu pencacahan
penduduk dengan teknik mengambil contoh daerah untuk dicacah keadaan
penduduknya. Manfaat dari survei penduduk adalah untuk melengkapi data
hasil sensus penduduk dan registrasi penduduk yang belum lengkap.
Pada umumnya survei penduduk cakupan wilayahnya terbatas dengan sistem
sampel pengambilan informasi lebih luas dan mendalam.
Video
Post Test Sub Tema 1 Sumber Data Kependudukan (10 soal)
Link Google Form :
B. Sub tema 2 : Kuantitas dan Analisis Demografi
Pre Test Sub Tema 1: Kuantitas dan Analisis Demografi (5 soal )
Link Google Form :
Indonesia menempati urutan keempat di seluruh dunia jika dilihat dari
jumlah penduduknya, setelah Tiongkok yang memiliki jumlah penduduk
1.417.930202 jiwa, India dengan jumlah penduduk 1.362.483.155 jiwa, dan
Amerika Serikat dengan jumlah penduduk 328.103.403 jiwa. Amatilah tabel
jumlah penduduk dunia berikut ini!
Tabel 1. Jumlah Penduduk Dunia Tahun 2019
No Negara Jumlah Penduduk (Jiwa)
1. Tiongkok 1.417.930202
2. India 1.362.483.155
3. Amerika Serikat 328.103.403
4. Indonesia 268.369.114
5. Brazil 211.744.015
6. Pakistan 202.981.850
7. Nigeria 198.786.640
8. Bangladhes 167.343.001
9. Rusia 143.924.909
10. Mexico 131.659.624
Sumber: Worldometers, 2019 dalam https://tumoutounews.com
Tabel di atas menggambarkan jumlah atau kuantitas orang yang mendiami
suatu wilayah. Nah..siapa sih yang dikatakan penduduk dalam suatu negara?
Penduduk menurut BPS adalah semua orang yang berdomisili di wilayah
geografis Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan atau mereka yang
berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan untuk menetap (bps.go.id).
Dengan demikian, penduduk Indonesia terdiri atas warga negara Indonesia dan
warga negara asing, kecuali para diplomat atau perwakilan negara asing di
Indonesia.
a. Jumlah penduduk
Jumlah penduduk menggambarkan seluruh penduduk yang berdomisili
di Indonesia. Data ini diperoleh dari sensus, survei, dan registrasi penduduk.
Sensus Penduduk 2020 (SP2020) mencatat penduduk Indonesia pada bulan
September 2020 sebanyak 270,20 juta jiwa. Sejak Indonesia
menyelenggarakan Sensus Penduduk yang pertama kali yaitu pada tahun
1961, jumlah penduduk Indonesia selalu mengalami kenaikan. Hasil SP2010
dibandingkan dengan SP2020 menunjukkan penambahan jumlah penduduk di
Indonesia sebanyak 32,56 juta jiwa atau rata-rata sebanyak 3,26 juta jiwa
setiap tahunnya.
Dalam kurun waktu 10 tahun, laju pertambahan penduduk Indonesia
sebesar 1,25% poin pertahun. Terdapat perlambatan laju pertambahan
penduduk sebesar 0,24% jika dibandingkan dengan data sensus penduduk
periode 2000-2010 yakni sebesar 1,49%
Berikut merupakan grafik perbandingan jumlah penduduk Indonesia
berdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 1961, 1971, 1980, 1990, 2000,
2010, dan 2020.
Grafik 1. Jumlah Penduduk Indonesia Tahun 2020
Jumlah Penduduk
Grafik Jumlah Penduduk Indonesia
300
250
200
150
100
50
0
SP1961 SP1971 SP1980 SP1990 SP2000 SP2010 SP2020
Sumber : data BPS
Pada pelaksanaan SP2020 tercatat sebanyak 91,32% atau sekitar 246,74
juta jiwa penduduk Indonesia berdomisili sesuai dengan Katu Keluarga (KK),
dan sisanya tidak seuai dengan KK. Jumlah ini menggambarkan banyaknya
penduduk indonesia yang bermigrasi ke wilayah lain.
b. Pertumbuhan penduduk di Indonesia
1) Pertumbuhan Penduduk
Sumber gambar : Katalog potret sensus penduduk 2020
Pertumbuhan penduduk dapat menggambarkan perubahan jumlah
penduduk, bisa bertambah dan juga bisa berkurang. Ada dua faktor yang
memengaruhi pertumbuhan penduduk, yaitu faktor alami yang terdiri dari
kelahiran dan kematian, serta faktor nonalami yaitu migrasi.
Pertumbuhan penduduk akan memengaruhi terhadap komposisi
penduduk yang biasaya dipresentasikan pada piramida penduduk. Selan itu,
pertumbuhan penduduk juga menggambarkan kuantitas sumber daya manusia
yang merupakan salah satu aset pembangunan. Pertumbuhan penduduk yang
tinggi memiliki dampak positif yaitu diharapkan kedepannya, negara tersebut
memiliki kuantitas dan kualitas penduduk usia produktif (15-64 th) tinggi.
Penduduk yang berkualitas dapat menjadi penunjan pembangunan diberbagai
sektor.
Akan tetapi, angka pertumbuhan penduduk tinggi menimbulkan berbagai
dampak negatif, seperti kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan semakin
meningkat sehingga mengakibatkan berkurangnya lahan, ditambah lagi ketika
meningkatnya jumlah penduduk usia produktif dengan kesempatan kerja yang
sangat terbatas serta meningkatnya partisipasi angkatan kerja wanita
menyebabkan peningkatan pengangguran.
Pertumbuhan penduduk dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu
a) Cepat, apabila pertumbuhan penduduk 2% lebih dari jumlah penduduk tiap
tahun
b) Sedang, apabila pertumbuhan penduduk antara 1% – 2%
c) Lambat, apabila pertumbuhan penduduk antara 1% atau kurang
Pertumbuhan penduduk dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pertumbuhan
penduduk alami dan pertumbuhan penduduk total.
a) Pertumbuhan Penduduk Alami
Pertumbuhan penduduk alami adalah perubahan jumlah penduduk yang
dipengaruhi oleh faktor kelahiran dan kematian.
Rumus pertumbuhan penduduk alami adalah sebagai berikut:
Pt = ( L – M )
Keterangan :
Pt = pertumbuhan penduduk
L = jumlah kelahiran
M = jumlah kematian
Contoh soal
Berdasarkan hasil survei penduduk kota A pada tahun 2019, terdapat
kelahiran sejumlah 967.000 jiwa sedangkan jumlah kematiannya adalah
659.000 jiwa. Hitunglah pertumbuhan penduduk alami kota A!
Jawab : Pt = ( L- M)
= ( 967.000 – 659.000 )
= 308.000 jiwa
Jadi pertambahan penduduk alami wilayah tersebut sebesar 308.000 jiwa.
b) Pertumbuhan Penduduk Total
Pertumbuhan penduduk total adalah perubahan jumlah penduduk yang
dipengaruhi oleh faktor kelahiran, kematian, dan migrasi.
Rumus pertumbuhan penduduk total adalah sebagai berikut:
Pt = ( L – M ) + ( I – E )
Keterangan :
Pt = pertumbuhan penduduk
L = jumlah kelahiran
M = jumlah kematian
I = jumlah imigrasi
E = jumlah emigrasi
Contoh soal
Jumlah penduduk wilayah B pada pertengahan tahun 2017 sebesar
30.000.000 jiwa. Pada pertengahan tahun 2017 terdapat kelahiran
1.500.000 jiwa dan kematian 700.000 jiwa. Jumlah migrasi masuk
(imigrasi) pada tahun tersebut sebesar 25.000 jiwa dan migrasi keluar
(emigrasi) sebesar 20.000 jiwa. Hituunglah Pertumbuhan penduduk total
wilayah tersebut!
Jawab :
Pt =(L–M)+(I–E)
= (1.500.000 – 700.000) + ( 25.000 - 20.000 )
= 800.000 + 5000
= 805.000 jiwa
Jadi pertambahan penduduk total wilayah tersebut sebesar 805.000 jiwa.
Nah.., dari data pertambahan penduduk total, dapat diketahui angka
pertumbuhan penduduknya, yaitu dengan rumus
Untuk soal di atas, jika kita hitung angka pertumbuhan penduduknya adalah
sebagai berikut:
=
= 2,68%
Jadi pertumbuhan penduduk di wilayah B tergolong cepat.
2) Faktor –faktor Pertumbuhan Penduduk
Faktor yang memengaruhi pertumbuhan penduduk adalah sebagai
berikut:
a) Kelahiran
Kelahiran atau disebut juga natalitas/ fertilitas merupakan salah satu
unsur kependudukan yang bersifat menambah jumlah penduduk.
Menurut BPS, proses kelahiran adalah proses lahirnya janin dari dalam
kandungan ibu ke dunia ketika janin berusia 5 bulan (22 minggu)
keatas, bila lahirnya janin kurang dari 5 bulan dinamakan abortus/
keguguran.
Kelahiran bayi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu lahir hidup dan
lahir mati. Lahir hidup (Live birth) menurut WHO adalah peristiwa
keluarnya atau terpisahnya suatu hasil konsepsi dari rahim ibunya,
tanpa memperdulikan lama kehamilan, dan setelah itu bayi bernapas
atau menunjukan tanda-tanda kehidupan yang lain seperti detak
jantung, denyut nadi tali pusat dipotong atau masih melekat dengan
plasenta oleh karena itu suatu kematian harus didahului suatu kelahiran
hidup. Sedangkan lahir mati (still birth) adalah kelahiran bayi yang
tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan ketika dilahirkan.
Dasar pengukuran kelahiran, antara lain sebagai berikut:
(1) Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR)
Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR) adalah banyaknya
kelahiran pada tahun tertentu per 1000 penduduk pada pertengahan
tahun yang sama.
Rumus yang digunakan adalah
Keterangan :
B : Jumlah kelahiran selama 1 tahun
P : Jumlah penduduk pertengahan tahun
Kegunaan dari data CBR yaitu untuk mengetahui tingkat kelahiran
di suatu daerah tertentu pada waktu tertentu. Tingkat kelahiran
kasar dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu tinggi, sedang, dan
rendah.
(a) Tinggi, jika tingkat kelahiran kasar suatu daerah lebih dari 30
jiwa
(b) Sedang, jika tingkat kelahiran kasar suatu daerah antara 20-30
jiwa
(c) Rendah, jika tingkat kelahiran kasar suatu daerah kurang dari
20 jiwa
Contoh soal :
Berdasarkan hasil registrasi penduduk tahun 2016 di wilayah X
menunjukan data-data sebagai berikut:
Jumlah kelahiran di wilayah X sebanyak 25.000 jiwa, sedang jumlah
penduduk pada pertengahan tahun 2016 sebanyak 1.000.000 jiwa.
Berapakah angka kelahiran kasar di wilayah X tersebut?
Jawab :
=
= 25 jiwa
(2) Angka Kelahiran menurut Umur (Age Specific Birth Rate/ ASBR)
Angka Kelahiran menurut Umur (ASBR) adalah banyaknya
kelahiran per 1000 wanita pada kelompok usia tertentu antara 15-
49 tahun. ASBR merupakan indikator kelahiran yang
memperhitungkan perbedaan fertilitas dari wanita usia subur
menurut umurnya. Pola ASFR membentuk huruf U terbalik.
Rumus yang digunakan adalah
Keterangan :
ASBR = Angka Kelahiran pada kelompok umur tertentu
Bx = jumlah bayi lahir pada wanita kelompok umur
tertentu
Px = jumlah penduduk wanita kelompok tertentu
1000 = konstanta
Kegunaan data ASBR adalah sebagai data dasar untuk proyeksi
penduduk, mengetahui jumlah penduduk menurut usia dan jenis
kelamin dimasa yang akan datang. Pengetahuan tentang ASFR
berguna untuk pelaksanaan program KB dan peningkatan pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Variabel lain untuk menyususn
indikator ini didapat dari Sensus Penduduk, SUPAS, Registrasi vitasl
dan SDKI.
Contoh soal :
Hasil registrasi penduduk tahun 2016 menunjukan data sebagai berikut
:
1) Jumlah penduduk pertengahan tahun 2016 = 1.000.000 jiwa
2) Jumlah penduduk perempuan usia 15-49 tahun 2016 = 750.000
jiwa.
3) Jumlah kelahiran tahun 2016 = 25.000 jiwa
Hitunglah tingkat kelahiran umum penduduk tahun 2016!
Jawab :
=
= 33,33 jiwa
= 33 jiwa
Jadi jumlah kelahiran penduduk wilayah tersebut pada tahun 2016
adalah 33 jiwa per 1000 penduduk.
b) Kematian
Tingkat kematian adalah jumlah kematian setiap seribu penduduk tiap
tahun. Data kematian bersifat mengurangi data jumlah penduduk.
Angka Kematian Anak mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan
yang langsung mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Dengan melihat
Angka Kematian Anak yang tinggi maka diindikasikan terjadi keadaan
salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri dan kebersihan yang buruk,
tingginya prevalensi penyakit menular pada anak, atau kecelakaan
yang terjadi di dalam atau di sekitar rumah (Budi Utomo, 1985).
Menurut PBB dan WHO, kematian adalah hilangnya semua tanda-
tanda kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah
kelahiran hidup. Still birth dan keguguran tidak termasuk dalam
pengertian kematian. Perubahan jumlah kematian (naik turunnya) di
tiap daerah tidaklah sama, tergantung pada berbagai macam faktor
keadaan. Besar kecilnya tingkat kematian ini dapat merupakan
petunjuk atau indikator bagi tingkat kesehatan dan tingkat kehidupan
penduduk di suatu wilayah.
Konsep-konsep lain yang terkait dengan pengertian mortalitas adalah:
(1) Neo-natal death adalah kematian yang terjadi pada bayi yang
belum berumur satu bulan.
(2) Lahir mati (still birth) atau yang sering disebut kematian janin
(fetal death) adalah kematian sebelum dikeluarkannya secara
lengkap bayi dari ibunya pada saat dilahurkan tanpa melihat
lamanya dalam kandungan.
(3) Post neo-natal adalah kematian anak yang berumur antara satu
bulan sampai dengan kurang dari satu tahun.
(4) Infant death (kematian bayi) adalah kematian anak sebelum
mencapai umur satu tahun.
Dasar pengukuran kematian adalah angka kematian kasar dan
kematian menurut umur
a) Angka Kematian Kasar ( Crude Death Rate / CDR )
Angka Kematian Kasar ( Crude Death Rate / CDR ) adalah angka
yang menunjukkan banyaknya kematian untuk setiap 1000 orang
penduduk pada pertengahan tahun yang terjadi pada suatu daerah
pada waktu tertentu.
Rumus yang digunakan adalah
Keterangan :
CDR = angka kematian kasar
D = jumlah penduduk yang meninggal dunia
P = jumlah penduduk
Angka kematian kasar dapat dibedakan menjadi tiga golongan,
yaitu tinggi, sedang, dan rendah.
(1) Tinggi, jika angka kematian kasar suatu daerah 20 jiwa per 1000
jiwa penduduk
(2) Sedang, jika angka kematian kasar suatu daerah 10 – 20 jiwa per
1000 jiwa penduduk
(3) Rendah, jika angka kematian kasar suatu daerah kurang dari 10
jiwa per 1000 jiwa penduduk
Angka ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai
keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang
bersangkutan. Apabila dikurangkan dari Angka Kelahiran Kasar
akan menjadi dasar perhitungan pertumbuhan penduduk alamiah.
Contoh soal
Hasil registrasi penduduk tahun 2016 menunjukan data-data
sebagai berikut:
- Jumlah penduduk pada pertengahan tahun 2016 sebanyak
1.000.000 jiwa
- Jumlah kematian sepanjang tahun sebanyak 35.000 jiwa
Hitunglah angka kematian kasar di kota tersebut!
Jawab :
= 35 jiwa
Jadi angka kematian kasar di kota tersebut adalah 35 jiwa per 1000
penduduk dan termasuk dalam kategori tinggi.
b) Angka Kematian menurut Umur (Age Specific Death Rate /ASDR )
Angka yang menunjukkan banyaknya kematian pada kelompok
usia tertentu untuk setiap 1000 orang penduduk pada kelompok
usia tertentu tersebut yang terjadi pada suatu daerah pada
waktu tertentu.
Rumus yang digunakan adalah
ASDR = QUOTE
Keterangan :
ASDR = angka kematian menurut kelompok usia
Di = jumlah penduduk yang meninggal dunia pada usia tertentu
Pi = jumlah penduduk pada usia tertentu
k = konstanta (1.000)
Contoh soal :
Hasil registrasi penduduk pada tahun 2016 menunjukan data
sebagai berikut
- Jumlah penduduk pada pertengahan tahun 2016 sejumlah
1.000.000 jiwa
- Jumlah penduduk berusia 60-64 tahun sejumlah 1.500 jiwa
- Jumlah kematian penduduk berusia 60-64 tahun sejumlah 10
jiwa.
Hitunglah ASDR nya!
Jawab :
ASDR =
= 6.67 atau 7 jiwa
Jadi angka kematian menurut kelompok usia sebesar 7 jiwa per
1000 penduduk
Angka Kematian Menurut Usia dapat dimanfaatkan untuk
mengetahui dan menggambarkan derajat kesehatan masyarakat
dengan melihat kematian tertinggi pada golongan umur, untuk
membandingkan taraf kesehatan masyarakat di berbagai
wilayah dan merupakan komponen untuk menghitung angka
harapan hidup.
c) Migrasi
Menurut Rozy Munir, migrasi adalah perpindahan penduduk dengan
tujuan menetap dari suatu tempat ke temapat lain melampaui batas
politik atau negara atau batas administratif atau batas bagian dalam
suatu negara. Migrasi sering diartikan sebagai perpindahan yang relatif
permanen dari suatu daerah ke daerah lain.
Dalam arti luas, definisi tentang migrasi adalah tempat tinggal
mobilitas penduduk secara geografis yang meliputi semua gerakan
(movement) penduduk yang melintasi batas wilayah tertentu dalam
periode tertentu pula (Mantra, 1980).
Jenis-jenis migrasi antara lain:
(1) Migrasi antarnegara/ internasional (International Migration)
Merupakan perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara
lain. Migrasi yang merupakan masuknya penduduk ke suatu negara
disebut imigrasi (immigration) sedangkan sebaliknya jika migrasi
itu merupakan keluarnya penduduk dari suatu negara didebut
emigrasi (emigration). Sedangkan kembalinya imigran ke negara
asalnya disebut remigrasi
(2) Migrasi Internal (Intern Migration), yaitu perpindahan yang terjadi
dalam satu negara, misalnya antarpropinsi, antar kota/kabupaten,
migrasi perdesaan ke perkotaan atau satuan administratif lainnya
yang lebih rendah daripada tingkat kabupaten, seperti kecamatan,
kelurahan dan seterusnya. Jenis migrasi yang terjadi antar unit
administratif selama masih dalam satu negara. Yang termasuk
dalam migrasi internal antara lain:
(a) Transmigrasi (Transmigration)
Yaitu pemidahan dan kepindahan penduduk dari suatu daerah
untuk menetap ke daerah lain yang ditetapkan di dalam wilayah
Republik Indonesia guna kepentingan pembangunan negara
atau karena alasan yang dipandang perlu oleh Pemerintah.
(b) Urbanisasi (Urbanization)
Yaitu perpindahan penduduk dari desa menuju ke kota
(c) Migrasi Ulang-alik (Commuter)
Yaitu orang yang setiap hari meninggalkan tempat tinggalnya
pergi ke kota lain untuk bekerja atau berdagang dan sebagainya
tetapi pulang pada sore harinya.
Rozy Munir (1981), mengatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi migrasi ada dua faktor yaitu faktor pendorong dan
faktor penarik.
1) Faktor-faktor pendorong yang menyebabkan penduduk bermigrasi
a) Makin berkurangnya sumber-sumber alam
b) Menyempitnya lapangan pekerjaan di tempat asal, karena
masuknya teknologi yang menggunakan mesin-mesin.
c) Adanya tekanan atau diskriminasi politik, agama, suku, di
daerah asal
d) Tidak cocok lagi dengan adat budaya/kepercayaan di daerah
asal
e) Alasan pekerjaan atau perkawinan yang menyebabkan tidak
bias mengembangkan karier pribadi
f) Bencana alam baik banjir, kebakaran musim kemarau atau
adanya wabah penyakit
2) Faktor-faktor penarik yang menyebabkan penduduk melakukan
migrasi
a) Adanya rasa superior di tempat yang baru atau kesempatan
untuk memasuki lapangan pekerjaan yang cocok
b) Kesempatan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik
c) Kesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi
d) Keadaan lingkungan dan keadaaan hidup yang menyenangkan
e) Tarikan dari orang yang diharapkan sebagai tempat berlindung
f) Adanya aktivitas kota besar, tempat-tempat hiburan, pusat
kebudayaan
c. Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk menurut BPS adalah banyaknya penduduk per satuan
luas. Kegunaannya adalah sebagai dasar kebijakan pemerataan penduduk
dalam program transmigrasi. Kepadatan penduduk sangat erat kaitannya
dengan kemampuan suatu wilayah dalam mendukung kehidupan
penduduknya. Kemampuan tersebut tidaklah sama antara wilayah yang satu
dengan wilayah yang lain, sehingga persebaran penduduk di suatu wilayah
tidaklah merata, terbukti penduduk Indonesia terpusat di Pulau Jawa. Angka
kepadatan penduduk menunjukan rata-rata jumlah penduduk tiap 1
kilometer persegi. Semakin besar angka kepadatan penduduk menunjukan
bahwa semakin padat penduduk yang mendiami wilayah tersebut.
Kepadatan penduduk dibagi menjadi 3 jenis:
1) Kepadatan Penduduk Kasar (Crude Population Density), yaitu
menunjukkan banyaknya jumlah penduduk untuk setiap kilometer
persegi luas wilayah. Luas wilayah yang dimaksud yaitu luas seluruh
wilayah baik untuk wilayah terbangun maupun nonterbangun. Kepadatan
penduduk kasar merupakan ukuran persebaran penduduk yang umum
digunakan, karena selain data dan cara penghitungannya sederhana,
ukuran ini sudah distandarisasi dengan luas wilayah. Rumus yang
digunakan adalah sebagai berikut
Contoh soal:
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan di Kecamatan Banjarsari tersaji
data sebagai berikut:
- Jumlah penduduk pada tahun 2010 sebanyak 2.570.100 jiwa
- Luas wilayah Kecamatan Banjarsari adalah 14,81 km²
Hitunglah kepadatan penduduk di Kecamatan Banjarsari tahun 2010 !
Jawab :
2) Kepadatan Fisiologis (Physiological Density), yang menyatakan
banyaknya penduduk untuk setiap kilometer persegi wilayah lahan
yang ditanami (cultivable land). Rumus yang digunakan adalah sebagai
berikut
Contoh soal :
Hasil survei di Kota Sukoharjo pada tahun 2015 menunjukan data sebagai
berikut:
Jumlah penduduk = 5.750.100 jiwa
Luas lahan pertanian = 2.363 km²
Hitunglah kepadatan penduduk fisiologisnya!
Jawab :
3) Kepadatan Agraris (Agriculture Density), menunjukkan banyaknya
penduduk petani untuk setiap kilometer persegi wilayah cultivable
land. Ukuran ini menggambarkan intensitas pertanian dari petani
terhadap lahan yang mencerminkan efisiensi teknologi pertanian dan
intensitas tenaga kerja pertanian. Rumus yang digunakan adalah sebagai
berikut
Contoh soal
Data kepadatan penduduk digunakan untuk mengetahui konsentrasi
penduduk di suatu wilayah. selain itu, dapat digunakan sebagai acuan dalam
rangka mewujudkan pemerataan dan persebaran penduduk (program
transmigrasi).
d. Komposisi Penduduk
Data kependudukan hasil dari sensus, registrasi, dan survei penduduk pasti
terdiri dari berbagai indikator kependudukan, sehingga diperlukan
pengelomokan variabel data untuk memudahkan dalam menganalisis data
sesuai dengan kebutuhannya. Pengelompokan data penduduk tersebut
menghasilkan komposisi penduduk.
Jenis-jenis komposisi penduduk menurut ciri-ciri sosial, antara lain komposisi
penduduk menurut umur dan jenis kelamin, pendidikan, serta mata
pencaharian.
1) Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin
Komposisi penduduk menurut umur dapat dibedakan menjadi tiga
kelompok yaitu penduduk usia belum produktif (0 – 14 th), penduduk usia
produktif/ kerja ( 15- 64 th) dan penduduk tidak produktif ( > 65 th).
Sedangkan komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat dibedakan
menjadi laki-laki dan perempuan. Komposisi ini dipresentasikan pada
piramida penduduk.
Piramida penduduk suatu wilayah terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu
(a) Piramida penduduk muda ( kerucut, limas atau ekspansif )
Piramida ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk dalam
kelompok usia muda yang menunjukkan bahwa angka kelahirannya
tinggi, angka kematian penduduknya juga tinggi, sehingga angka
harapan hidupnya rendah. Contoh : Nigeria, India, Indonesia, dan
Brazil
Gambar Piramida Penduduk muda
Sumber : https://ilmugeografi.com/ilmu-sosial/piramida-penduduk
(b) Piramida penduduk tetap ( stasioner atau granat )
Piramida ini menunjukkan tingkat kelahiran dan kematian yang
seimbang serta pertumbuhan penduduknya stabil. Contoh : Swedia,
Belanda, dan negara-negara Skandinavia
Gambar Piramida Penduduk Stasioner
Sumber : https://ilmugeografi.com/ilmu-sosial/piramida-penduduk
(c) Piramida penduduk tua ( batu nisan atau kontrktif )
Piramida ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduknya adalah
penduduk usia tua atau yang sudah tidak produktif sehingga angka
ketergantungan atau dependency rationya tinggi, ditambah lagi angka
kelahiran pada negara penganut piramida ini mengalami penurunan,
sedangkan angka kematiannya rendah. Contoh : Inggris, Perancis, dan
Amerika Serikat.
Gambar Piramida Penduduk Tua
Sumber : https://ilmugeografi.com/ilmu-sosial/piramida-penduduk
Data komposisi penduduk berdasarkan usia dan jenis kelamin, dapat
digunakan untuk menghitung berapa perbandingan antara laki-laki dan
perempuan di suatu wilayah serta menghitung berapa angka
ketergantungan penduduk belum dan tidak produktif terhadap penduduk
yang usia produktif.
1) Sex ratio
Sex ratio yaitu menunjukkan perbandingan antara jumlah penduduk
laki-laki dan jumlah penduduk peremuan di suatu wilayah. Rumus
yang digunakan yaitu sebagai berikut.
2) Ratio Ketergantungan (Dependency Ratio)
Ratio Ketergantungan ini menunjukkan perbandingan antara jumlah
penduduk umur 0 – 14 tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65
tahun keatas dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15-64 tahun.
Rumus yang digunakan yaitu sebagai berikut.
Xxxxx
Dependency Ratio Hasil
Provinsi Proyeksi Penduduk
2020 2015 2010
ACEH 53,6 54,8 56,3
SUMATERA UTARA 55,3 56,3 58,0
SUMATERA BARAT 54,8 55,8 57,7
RIAU 49,7 51,5 54,1
JAMBI 44,5 47,3 50,8
SUMATERA SELATAN 48,4 49,7 51,3
BENGKULU 46,2 47,9 51,3
LAMPUNG 48,6 49,5 51,1
KEP. BANGKA 44,9 46,2 48,6
BELITUNG
KEP. RIAU 46,4 49,7 46,8
DKI JAKARTA 42,0 39,9 37,4
JAWA BARAT 46,4 47,7 49,9
JAWA TENGAH 47,7 48,1 49,9
DI YOGYAKARTA 45,6 44,9 45,8
JAWA TIMUR 43,9 44,3 46,2
BANTEN 45,3 46,4 48,6
BALI 43,3 45,6 47,3
NUSA TENGGARA 52,2 53,8 55,8
BARAT
NUSA TENGGARA 63,4 66,7 70,6
TIMUR
KALIMANTAN BARAT 49,7 50,8 52,7
KALIMANTAN TENGAH 43,3 46,2 50,4
KALIMANTAN SELATAN 47,7 48,6 49,3
KALIMANTAN TIMUR 44,5 46,2 48,6
KALIMANTAN UTARA - - -
SULAWESI UTARA 46,4 46,6 47,9
SULAWESI TENGAH 49,7 50,6 52,7
SULAWESI SELATAN 51,3 52,9 56,0
SULAWESI TENGGARA 58,0 60,5 63,4
GORONTALO 47,5 48,6 51,7
SULAWESI BARAT 53,8 56,0 60,5
MALUKU 58,2 59,7 63,1
MALUKU UTARA 56,0 58,5 61,3
PAPUA BARAT 47,1 49,9 53,6
PAPUA 43,7 47,5 53,8
INDONESIA 47,7 48,6 50,5
Ratio ketergantungan dapat digunakan untuk mengukur keadaan
ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju ataupun
berkembang. Ratio Ketergantungan yang semakin tinggi
menunjukkan bahwa semakin tinggi beban yang ditanggung oleh
penduduk dengan usia produktif biaya hidup penduduk yang belum
dan sudah tidak produktif. Dan sebaliknya, semakin rendah angk
ketergantungan, semakin rendah pula beban yang ditanggung oleh
penduduk produktif atas penduduk belum dan tidak lagi produktif.
a. Komposisi penduduk menurut pendidikan
Komposisi penduduk menurut pendidikan suatu negara dapat dilihat dari
Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk seperti yang tersaji pada tabel
Tabel Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2020
Angka Partisipasi Sekolah ( A P S )
Provinsi
7-12 13-15 16-18 19-24
ACEH 99,84 98,49 83,27 32,50
SUMATERA UTARA 99,44 97,04 78,21 26,98
SUMATERA BARAT 99,61 96,60 83,68 35,96
RIAU 99,53 95,53 77,42 28,35
JAMBI 99,82 96,41 72,37 23,75
SUMATERA SELATAN 99,71 94,61 70,91 18,45
BENGKULU 99,78 97,49 79,72 29,99
LAMPUNG 99,74 95,24 71,34 21,04
KEP. BANGKA BELITUNG 99,70 93,34 67,75 17,47
KEP. RIAU 99,55 98,82 84,62 19,71
DKI JAKARTA 99,64 98,34 72,11 25,01
JAWA BARAT 99,66 94,45 67,74 22,84
JAWA TENGAH 99,73 96,37 70,14 22,41
DI YOGYAKARTA 99,89 99,45 88,95 51,81
JAWA TIMUR 99,54 97,68 73,05 25,81
BANTEN 99,40 95,77 68,76 21,60
BALI 99,57 98,21 82,96 28,67
NUSA TENGGARA BARAT 99,52 98,32 77,64 25,97
NUSA TENGGARA TIMUR 98,57 95,25 75,52 29,52
KALIMANTAN BARAT 98,60 92,90 68,96 24,05
KALIMANTAN TENGAH 99,49 94,86 66,92 24,26
KALIMANTAN SELATAN 99,48 93,04 69,38 24,63
KALIMANTAN TIMUR 99,73 99,07 81,88 29,71
KALIMANTAN UTARA 98,94 96,52 76,08 23,82
SULAWESI UTARA 99,59 95,27 74,12 23,18
SULAWESI TENGAH 98,38 93,13 75,89 27,58
SULAWESI SELATAN 99,25 93,34 70,89 34,51
SULAWESI TENGGARA 99,10 94,98 74,50 31,76
GORONTALO 98,92 91,80 71,43 31,04
SULAWESI BARAT 98,33 90,07 69,84 23,24
MALUKU 99,50 97,43 79,87 38,59
MALUKU UTARA 99,04 97,15 76,83 31,36
PAPUA BARAT 97,89 96,87 81,51 31,52
PAPUA 82,99 80,48 64,83 23,23
INDONESIA 99,26 95,74 72,72 25,56
Sumber : www.bps.go.id
Sumber : BPS, Susenas Maret 2020
Angka Partisipasi Sekolah 2020
Angka Partisipasi Murni
Komposisi penduduk menurut mata pencaharian
Penduduk 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan Utama tahun 2020
2020
No. Lapangan Pekerjaan Utama
Februari Agustus
A Pertanian, Kehutanan dan Perikanan
38,956,801 38,224,371
B Pertambangan dan Penggalian
1,342,568 1,352,236
C Industri Pengolahan
18,709,441 17,482,849
Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas dan
D
Udara Dingin 343,830 303,551
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah dan
E Daur Ulang, Pembuangan dan Pembersihan
463,359 490,984
Limbah dan Sampah
F Konstruksi
8,116,426 8,066,497
Perdagangan Besar Dan Eceran; Reparasi
G
dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor 24,773,768 24,702,695
H Transportasi dan Pergudangan
5,509,153 5,591,941
Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan
I
Makan Minum 9,059,188 8,543,794
J Informasi dan Komunikasi
962,935 933,273
K Jasa Keuangan dan Asuransi
1,819,735 1,557,927
L Real Estat
426,483 393,665
MN Jasa Perusahaan
1,824,699 1,796,755
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan
O
Jaminan Sosial Wajib 5,435,306 4,569,946
P Jasa Pendidikan
7,110,557 6,028,610
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
2,219,080 2,005,522
RSTU Jasa Lainnya
6,219,537 6,409,568
Total
133,292,866 128,454,184
Sumber : www.bps.go.id
Komposisi Penduduk Menurut Generasi
Pada sensus 2020 yang lalu, penduduk Indonesia juga dikelompokkan
berdasarkan generasi. Adapun Komposisi Penduduk berdasarkan generasi dapat
diamati pada diagram berikut ini
Sub tema 3
Kualitas Penduduk
Keberhasilan suatu negara dapat dilihat dari kualitas penduduknya pada berbagai
sektor pembangunan, seperti pendidikan, kesehatan, mata pencaharian, dan
pendapatan. Semakin tinggi atau baiknya kualitas penduduk maka akan semakin
tinggi tingkat kesejahteraan penduduk suatu negara.
- Kualitas Penduduk berdasarkan pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk
mengukur kualitas penduduk di suatu wilayah. Semakin tinggi tingkat
pendidikan yang ditempuh penduduk, diharapkan semakin baik kualitas
penduduknya. sebaliknya, semakin rendah tingkat pendidikan penduduk
suatu wilayah menunjukkan rendahnya kualitas penduduknya. kualitas
penduduk di suatu wilayah jika dilihat dari segi pendidikannya, tentu saja
dilihat dari berbagai sektor penunjang, seperti sarana prasarana
pendidikan, tenaga pendidik dan kependidikan, serta kesadaran penduduk
akan pentingnya pendidikan.
Berdasarkan data BPS, kualitas penduduk jika dilihat dari pendidikannya,
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penduduk yang buta huruf dan melek
huruf. Penduduk yang melek huruf dapat dikelompokkan menjadi
kelompok tidak sekolah, tidak tamat Sekolah Dasar, tamat Sekolah Dasar,
tamat Sekolah Menengah Pertama, tamat Sekolah Menengah Atas, dan
tamat Akademi/ Perguruan Tinggi dengan berbagai jenjangnya.
- Kualitas penduduk berdasarkan kesehatan
Kesehatan juga merupakan salah satu indikator penilaian kualitas
penduduk. Semakin tingki tingkat kesehatan penduduk di suatu wilayah
menandakan bahwa kualitas penduduk di wilayah tersebut semakin baik.
Dan sebaliknya, semakin rendah tingkat kesehatan penduduk suatu
wilayah menandakan rendah pula kualitas penduduknya. Tinggi rendahnya
tingkat kesehatan suatu wilayah dapat dilihat dari tinggi rendahnya angka
kematian kasar, angka kematian bayi, dan angka harapan hidup penduduk
yang dipengaruhi oleh faktor makanan, lingkungan, fasilitas kesehatan,
dan ketersediaan tenaga medis.
Suatu wilayah dapat dikatakan memiliki kualitas penduduk tinggi jika
dilihat dari faktor kesehatannya apabila wilayah tersebut memiliki angka
kematian kasar dan kematian bayi rendah, serta angka harapan hidupnya
tinggi. Namun, apabila suatu wilayah memiliki angka kematian kasar dan
kematian bayi tinggi serta angka harapan hidupnya rendah, maka wilayah
tersebut dapat dikatakan memiliki kualitas penduduk rendah.
Angka Harapan Hidup adalah Rata-rata tahun hidup yang masih akan
dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x, pada suatu
tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkngan
masyarakatnya. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut
XXXXXX
Angka Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja
pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya,
dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka Harapan
Hidup yang rendah di suatu daerah harus diikuti dengan program
pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya termasuk kesehatan
lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan
kemiskinan.
Pembangunan yang telah dicapai oleh Indonesia selama ini memberikan
dampak yang positif dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat, salah
satunya tercermin dari peningkatan usia harapan hidup penduduk
Indonesia. Konsekuensi dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk
Indonesia adalah terjadinya peningkatan persentase penduduk lanjut usia
atau lansia (60 tahun ke atas). Persentase penduduk lansia Indonesia
meningkat menjadi 9,78 persen di tahun 2020 dari 7,59 persen pada 2010
berdasarkan hasil SP2010. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada tahun
2020 Indonesia berada dalam masa transisi menuju era ageing population
yaitu ketika persentase penduduk usia 60 tahun keatas mencapai lebih dari
10 persen.
Indikator lain untuk menilai kualitas penduduk dari aspek kesehatan
adalah angka kematian bayi (infant mortality rate / IMR). IMR
menunjukan jumlah bayi meninggal dunia dari seribu bayi yang lahir
hidup pada periode tahun tertentu. Rumus yang digunakan adalah sebagai
berikut
Keterangan :
IMR = angka kematian bayi
Do = jumlah kematian bayi
B = jumlah kelahiran hidup
K = konstanta 1000
- Kualitas penduduk berdasarkan mata pencaharian
Mata pencaharian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian
kualitas penduduk suatu wilayah, tetapi dalam hal ini bukan jenis mata
pencahariannnya, tetapi lebih kepada penggunaan teknologi dalam
menunjang mata pencaharian penduduk tersebut.
Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang mata pencaharian
penduduknya beragam, terlebih sekarang ini dengan semakin majunya
IPTEK, mengharuskan penduduk untuk mengikuti perkembangannya
dalam menjalankan pekerjaannya. Sekarang ini, mata pencaharian
penduduk Indonesia sudah tidak lagi terfokus pada bidang pertanian saja,
tetapi mata pencaharian pada bidang digital, seperti Youtuber, Conten
Creator, hingga selebgram menjadi mata pencaharian yang sedang trend
sekarang ini.
Kualitas penduduk jika dilihat dari mata pencahariannya, dapat dilihat dari
kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Semakin berkualitas SDMnya
maka semakin baik kualitas mata pencahariannya yang berdampak pada
semakin tingginya pendapatan perkapita penduduk.
- Kualitas penduduk berdasarkan pendapatan perkapita
Pendapatan perkapita dapat digunakan untuk mengukur taraf hidup
seseorang. Semakin tinggi pendapatan, semakin tinggi pula taraf hidupnya.
Dan sebaliknya, semakin rendah pendapatan, semakin rendah pula taraf
hidup seseorang. Taraf hidup seseorang berkaitan erat dengan pendapatan
perkapita negara yang dipengaruhi oleh besar kecilnya pendapatan
ekonomi nasional dalam satu tahun atau yang disebut GNP (Gross
National Product) .
Bank dunia menaikkan status Indonesia dari middle income menjadi
upper middle income country per 1 Juli 2020. Kenaikan tersebut diberikan
setelah berdasarkan assessment organisasi tersebut yang menyatakan
bahwa pendapatan perkapita Indonesia tahun 2019 naik menjadi USD
4.050 (Rp. 57,1 juta) dari posisi sebelumnya USD 3.840 (Rp. 54,1 juta) di
tahun 2018 (http:// Liputan6)
Kualitas penduduk berdasarkan indeks pembangunan manusia (IPM)
IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil
pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan
sebagainya.
IPM diperkenalkan oleh United Nations Development Programme
(UNDP) pada tahun 1990 dan dipublikasikan secara berkala dalam laporan
tahunan Human Development Report (HDR).
IPM dibentuk oleh 3 (tiga) dimensi dasar:
1) Umur panjang dan hidup sehat
2) Pengetahuan
3) Standar hidup layak
IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam
upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk).
IPM dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu
wilayah/negara.
Bagi Indonesia, IPM merupakan data strategis karena selain sebagai
ukuran kinerja Pemerintah, IPM juga digunakan sebagai salah satu
alokator penentuan Dana Alokasi Umum (DAU).
Subtema 4
Permasalahan penduduk dan solusinya
Banyaknya jumlah penduduk di Indonesia didukung oleh negara kita yang
berbentuk kepulauan kerap kali menimbulkan permasalahan, baik secara
kuantitatif maupun kualitatif. Adapun permasalahan kependudukan di Indonesia
antara lain sebagai berikut:
- Masalah kualitatif
Masalah kependudukan jika dilihat dari segi kualitatif dapat dilihat dari
beberapa sektor, seperti pendidikan, kesehatan, mata pencaharian, dan
indeks pembangunan manusia.
a) Masalah Pendidikan
Pendidikan masih menjadi masalah kependudukan di Indonesia.
Menurut survei yang dilakukan oleh PISA (Program for International
Students Assessment) pada tahun 2018 menunjukkan terdapat 3
permasalahan utama yang menjadi isu dan harus diatasi yaitu:
- Besarnya persentase siswa berprestasi rendah
- Tingginya persentase siswa mengulang kelas
- Tingginya ketidakhadiran siswa di kelas
Selain itu, salah satu tantangan dalam pembangunan pendidikan
sebagaimana yang diulas dalam narasi RPJMN 2020 -2024 adalah
adanya revolusi industri 4.0. Semakin berkembangnya teknologi digital
dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pembelajaran baik di sekolah
maupun di rumah, yaitu Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) seperti yang
saat ini dilakukan selama pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung
sejak Maret 2020. PPJ saat ini juga mendatangkan masalah baru,
terlebih kegiatan tersebut harus dilakukan tanpa persiapan sehingga
banyak sekolah-sekolah dan tenaga pendidik merasa tidak siap untuk
melaksanakan PJJ tersebut. Selain itu, kondisi tiap sekolah dan
siswapun berbeda, seperti kurang lengkapnya sarana prasarana ( laptop,
HP, wifi) menjadi kendala utama dalam pembelajaran PJJ Covid-19
ini. Permasalahan lain pendidikan di Indonesia yaitu menurunnya
Angka Partisipasi Sekolah (APS) yang menggambarkan ukuran daya
serao sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah, serta
kerusakan sarana prasarana pendidikan terlebih sudah 1 tahun ini tidak
lagi di gunakan untuk proses belajar mengajar di sekolah selama
pandemi Covid-19 ini. Berikut merupakan data kerusakan sekolah
yang ada di Indonesia berdasarkan hasil sensus tahun 2020
Tabel
b) Masalah Kesehatan
Kesehatan juga masih menjadi salah satu permasalahan yang ada di
Indonesia. Faktor yang mempengaruhi masih tingginya permasalahan
kesehatan di Indonesia yaitu bisa dilihat dari faktor makanan,
lingkungan, fasilitas kesehatan, dan ketersediaan tenaga medis yang
belum merata di seluruh wilayah Indonesia.
Angka kematian juga bisa menjadi indikator rendahnya tingkat
kesehatan di Indonesia,
c) Masalah Mata Pencaharian
Bahas tentang pengangguran
d) Masalah Pendapatan
Faktor pendapatan yang dipengaruhi oleh mata pencaharian sangat erat
kaitannya dengan faktor kualitas penduduk yang lain, seperti
pendidikan dan kesehatan.
Kesenjangan pendidikan di Indonesia masih berbanding lurus dengan
tingkat pendapatan penduduk. Semakin tinggi tingkat pendapatan
rumah tangga, maka semakin terbuka luas untuk melanjutkan
pendidikan yang lebih tinggi. Sebaliknya penduduk yang
berpenghasilan rendah, memiliki kesempatan kecil untuk melanjutkan
pendidikan yang lebih tinggi, mengingat pendidikan “gratis” di
Indonesia belum merata hingga perguruan tinggi. Berdasarkan hasil
Susenas tahun 2020 menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan
pendidikan antarpenduduk yang tinggal di rumah tangga dengan status
ekonomi berbeda. Kesenjangan yang paling besar terlihat pada jenjang
Perguruan Tinggi (PT) kelompok umur 19-24 tahun, yaitu pada Kuintil
I (Status ekomoni rumah tangga terendah), Angka Partisipasi Kasar /
AKP PT hanya sebesar 13,38%, sedangkan Kuintil 5 (status ekonomi
rumah tangga tertinggi) AKP PT mencapai 46,89%.
Tingkat pendapatan juga berpengaruh terhadap sektor kesehatan
penduduk di Indonesia. Semakin tinggi pendapatan seseorang,
kesempatan untuk mendapatkan fasilitas kesehatan seperti obat-obatan,
sarana prasarana kesehatan yang modern dan canggih, serta pelayanan
kesehatan yang memadai akan sangat mudah didapatkan. Berbeda
dengan penduduk yang kurang mampu, mereka yang menggunakan
fasilitas kesehatan dengan KIS (Kartu Indonesia Sehat) akan berbeda
pelayanannya dengan penduduk yang menggunakan fasilitas kesehatan
berbayar.
- Masalah kuantitatif
Selain masalah kualitatif, masalah kuantitatif di Indonesia juga dari segi
kuantitatif yang meliputi jumlah penduduk besar, pertumbuhan penduduk
yang besar, persebaran penduduk tidak merata. Permasalahan tersebut
berkesinambungan satu sama lain. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti tingginya angka kelahiran penduduk yang mengakibatkan
bertambahnya jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun. Fenomena
tersebut menjadikan pertumbuhan penduduk di Indonesia cukup tinggi
yaitu 1,25% pada tahun Selain itu, semakin membaiknya kesehatan
masyarakat mengakibatkan angka harapan hidup penduduk Indonesia juga
semakin tinggi sehingga jumlah penduduk Indonesia usia produktif dan
lansia masih cukup tinggi. 2010-2020. Namun, dengan jumlah penduduk
yang mencapai 270,20 juta jiwa belum tersebar di seluruh wilayah
Indonesia yang berbentuk kepulauan dan masih terpusat di Pulau Jawa.
Untuk itu, pekerjaan rumah bagi Pemerintah untuk memeratakan
persebaran penduduk Indonesia masih sangat panjang, karena Pemerintah
harus menyamakan terlebih dahulu pembangunan diberbagai sektor,
seperti pendidikan, kesehatan, dan perekonomian agar nantinya
kesejahteraan penduduk merata.