Anda di halaman 1dari 7

PETA GEOLOGI TEKNIK LEMBAR YOGYAKARTA Oleh : M. Wafid A.

Novianto, Djadja, Wahyudin dan Hermawan Keadaan Umum Daerah pemetaan mencakup seluruh Daerah Tingkat II di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta kecuali Kabupaten Gunung Kidul (yaitu pada bagian barat saja karena bagian timur kabupaten ini masuk pada lembar peta Klaten) juga beberapa Kabupaten daerah Tingkat II Propinsi Jawa Tengah yaitu Kabupaten Purworejo di sebelah barat, Kabupaten Magelang dan Banjar negara di sebelah Utara, dan Kabupaten Boyolali dan Klaten di sebelah timur daerah pemetaan. Daerah yang dipetakan ini secara geografis terletak pada koordinat 11000 11030 Bujur Timur dan 730 810 Lintang Selatan dengan luas 3.000 km2 yang tercakup dalam 7 lembar peta topografi pada skala 1: 50.000 yaitu lembar Panggang (5018-I), lembar Bantul (5019-II), lembar Wates (5019-III), lembar Yogyakarta (5019-I), lembar Purworejo (5019-IV), lembar Muntilan (5020-II), dan lembar Salaman (5020-III). Geomorfologi, berdasarkan kondisi morfologi yang terbentuk oleh faktor endogen dan eksogen, maka Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya dapat dibagi menjadi 6 satuan geomorfologi, yaitu : Satuan Dataran ; Satuan Perbukitan Rendah ; Satuan Perbukitan Sedang ; Satuan Perbukitan Tinggi (Pegunungan) ; Satuan Kaki Lereng Gunung Merapi ; Satuan Tubuh Gunung Merapi Kondisi Geologi, berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta (Wartono Raharjo dkk., 1995) ini terdiri dari beberapa satuan batuan, yaitu : Endapan Permukaan : Aluvium (Qa) ; Koluvium (Qc), Batuan Vulkanik : Endapan Kerucut Abu (Qcc) ; Kubah Lava, Leleran Puncak dan Leleran Lereng (Qdf) ; Endapan Vulkanik ; G. Merbabu (Qme) ; Endapan G. Sumbing Muda (Qsm) ; Endapan G. Sumbing Tua (Qsmo) ; Dasit (d) ; Endapan Vulkanik Merapi Muda (Qmi) ; Endapan Vulkanik Merapi Tua (Qmo) ; Breksi Vulkanik (Qb), Endapan Tersier : Formasi Sentolo (Tmps) ; Formasi Jonggrangan (Tmj) ; Formasi Kebobutak (Tmok) ; Formasi Nanggulan ; (Teon) ; Formasi Wonosari (Tmpw) ; Formasi Kepek (Tmpk) ; Formasi Sambipitu (Tms) ; Formasi Nglanggran (Tmn) ; Formasi Semilir (Tmse), Batuan Terobosan : Andesit (a) ; Dasit (da) ; Diorit (dr) Kebencanaan Geologi, kebencanaan geologi adalah kebencanaan yang disebabkan oleh faktorfaktor geologi yang dapat menyebabkan kendala-kendala secara teknis. Secara umum potensi kebencanaan geologi di daerah Yogyakarta dan sekitarnya adalah : Bahaya Gunung Merapi, Bahaya lempung mengembang, Kerentanan terhadap kejadian longsoran. Pemetaan Geologi Teknik Penyebaran Formasi Geologi Teknik pada skala 1: 100.000 ini didasarkan pada penyebaran formasi geologi (batuan), tingkat kekuatan batuan (berdasar uji Schmidt Hammer) dan berdasarkan pada dominasi satuan batuan yang ada di permukaan pada formasi tersebut. Penamaan Formasi Geologi Teknik disesuaikan dengan nama Formasi Geologi yang telah di petakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi dengan simbol litologi berdasarkan pada dominasi batuan atau soil yang ada dan dengan pewarnaan berdasarkan tingkat kekuatan, kekerasan atau kepadatannya. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka penyebaran formasi geologi teknik untuk lembar peta Yogyakarta pada skala 1 : 100.000 adalah sebagai berikut: Pasir dan Lempung Aluvium (Qa); Terdiri dari pasir, lempung, lanau dan kerikil. Formasi ini didominasi oleh pasir dan lempung. Pasir berwarna abu-abu kecoklatan, berukuran halus-sedang, mengandung kerikil. Lempung berwarna abu-abu kehitaman, plastisitas tinggi. Secara umum di permukaan pasir bersifat lepas dan lempung bersifat lunak. Di beberapa tempat, nilai tekanan konus (CPT) berkisar antara 5 - 40 kg/cm2 .Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,64-2,89, n=1,22-2,12 g/cm3, n=11,11-59,56%, grup simbol SP-CH-MH, c=0,01-0,18 kg/cm2, =10,94o-34,2o

Pasir Koluvium (Qc); Terdiri dari pasir, lempung, lanau dan kerikil. Formasi ini didominasi oleh pasir. Pasir berwarna coklat kehitaman, berukuran halus-kasar, gradasi sedang. Secara umum di permukaan, pasir bersifat agak padat. Pasir Tufa Endapan Kerucut Abu (Qcc); Terdiri dari tufa dan breksi tufa. Tufa umumnya melapuk sedang hingga kuat, berwarna kuning kecoklatan, ukuran butir pasir halus, agak padu dan mudah hancur. Breksi tufa umumnya melapuk sedang berwarna coklat tua, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu. Formasi ini di permukaan didominasi oleh tufa dengan kepadatan umumnya sedang. Kubah Lava G. Merbabu, Leleran Lereng (Qdf); Terdiri dari leleran lava yang bersusunan andesit dari G. Merbabu pada lereng selatan. Lava umumnya melapuk ringan, berwarna kelabu terang, tekstur halus, masif dan sebagian struktur vesikuler. Formasi ini di permukaan didominasi oleh lava yang secara umum mempunyai kekerasan adalah keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir lanauan, abu-abu kecoklatan, ketebalan rata-rata 1,5 m. Breksi Lahar dan LavaGunungapi Merbabu (Qme); Terdiri dari breksi lahar dan lava yang bersusunan andesit. Breksi lahar umumnya melapuk sedang, berwarna coklat tua, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu. Lava umumnya melapuk ringan, berwarna kelabu terang, tekstur halus, masif dan sebagian struktur vesikuler. Formasi ini di permukaan didominasi oleh lava yang secara umum mempunyai kekerasan adalah keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir lanauan, coklat kehitaman, agak padat, ketebalan rata-rata 1-1,5 m. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,714, n=1,542 g/cm3, n=31,95%, grup simbol SM, c=0,04 kg/cm2, =31,49o. Pasir Tufa Gunung Sembing Muda (Qsm); Terdiri dari pasir tufaan, tuf pasiran dan breksi tufa. Pasir tufaan umumnya melapuk sedang berwarna coklat abu-abu, berupa lapisan pasir kasar kerikilan. Pasir sedang dan pasir halus kerikilan bersifat lepas dan mudah hancur. Breksi tufa umumnya melapuk sedang berwarna coklat tua, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu. Tufa umumnya melapuk sedang, berwarna kuning kecoklatan, ukuran butir pasir halus, agak padu dan mudah hancur. Formasi ini di permukaan didominasi oleh pasir tufa dengan kekeraasan umumnya sedang. Di beberapa tempat, nilai tekanan konus (CPT) berkisar antara 10 - 45 kg/cm2 . Tanah penutup umumnya berupa pasir hingga pasir halus, coklat kehitaman, agak padat hingga lepas, ketebalan berkisar antara 1 hingga 1,5 m. Breksi Endapan Gunung Sembing Tua (Qsmo); Terdiri dari breksi andesit, aglomerat dan tufa. Breksi andesit umumnya melapuk sedang berwarna kuning kecoklatan, komponen batuan andesitik (4 - 45 cm) agak segar, menyudut tanggung, tertanam pada masadasar pasir tufa berbutir kasar, agak padat sebagian mudah hancur. Aglomerat umumnya melapuk kuat, berwarna putih keabuan, agak padu, mudah hancur, komponen batuan andesitik (5-30 cm) terkungkung dalam masadasar pasir kasar, agak padat. Tufa umumnya melapuk sedang hingga kuat, berwarna kuning kecoklatan, ukuran butir pasir halus, agak padu dan mudah hancur. Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi dengan kekerasan umumnya keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir hingga pasir lanauan, coklat kehitaman, agak padat hingga lepas, ketebalan berkisar antara 1 hingga 1,5 m. Lava Dasit (d); Terdiri dari lava dasit-andesit yang berupa kubah lava dan leleran. Lava andesit umumnya melapuk ringan berwarna abu-abu tua, padu, bertekstur kasar dan porfiritik, terkekarkan cukup intensif dan terisi oleh mineral kuarsa. Formasi ini di permukaan didominasi oleh lava dengan kekerasan umumnya sangat keras. Tanah penutup umumnya berupa lanau pasiran berkerikil, coklat kemerahan, teguh-kaku, ketebalan ratarata 1 m. Breksi Lahar Endapan Longsoran Merapi (na); Terdiri dari leleran breksi lahar dari Gunung Merapi. Breksi lahar umumnya melapuk sedang, berwarna coklat tua, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak

padu. Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi lahar yang secara umum mempunyai kekerasan adalah keras. Pasir Tufa Endapan Vulkanik Merapi Muda (Qmi); Terdiri dari pasir tufa, abu, aglomerat dan leleran lava tak terpisahkan. Pasir tufa umumnya melapuk sedang berwarna coklat abu-abu, berupa lapisan pasir kasar kerikilan. Pasir sedang dan pasir halus kerikilan bersifat lepas dan mudah hancur. Aglomerat umumnya melapuk kuat, berwarna coklat keabuan, agak padu, mudah hancur, komponen batuan andesitik (5-20 cm), masadasar pasir kasar, agak padat. Leleran lava umumnya bersifat andesitik, melapuk ringan berwarna abu-abu tua, padu, bertekstur kasar dan porfiritik, terkekarkan cukup intensif dan terisi oleh mineral kuarsa. Formasi ini di permukaan didominasi oleh pasir tufa dengan kekeraasan umumnya sedang. Di beberapa tempat, nilai tekanan konus (CPT) berkisar antara 5-45 kg/cm2 (bagian selatan) dan antara 20-145 kg/cm2 (bagian tengah) Tanah penutup umumnya di bagian selatan berupa lanau pasiran, coklat kelabu, lunak, plastisitas sedang, ketebalan antara 0,5 hingga 1,3 m, sedangkan di bagian tengah berupa pasir hingga pasir lanauan, coklat, agak padat hingga lepas. Breksi Vulkanika Endapan Gunungapi Merapi Tua (Qmo); Terdiri dari breksi vulkanik, aglomerat dan lava yang bersusunan andesit. Breksi vulkanik umumnya melapuk sedang, berwarna coklat kehitaman, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu. Aglomerat umumnya melapuk sedang, berwarna kecoklatan , agak padu, mudah hancur, komponen batuan andesitik (5-30 cm) terkungkung dalam masadasar pasir kasar, agak padat. Lava umumnya melapuk ringan, berwarna kelabu terang, tekstur halus, masif dan sebagian struktur vesikuler. Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi vulkanik yang secara umum mempunyai kekerasan adalah keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir sedang hingga pasir lanauan, abuabu kecoklatan, ketebalan rata-rata 1m. Breksi Vulkanik (Qb); Terdiri dari breksi yang bersifat andesitik, lava, batupasir tufaan dan breksi lahar. Breksi andesit umumnya melapuk sedang berwarna kuning kecoklatan, komponen batuan andesitik (4 - 45 cm) agak segar, menyudut tanggung, tertanam pada masadasar pasir tufa berbutir kasar, agak padat sebagian mudah hancur. Lava andesit umumnya melapuk ringan berwarna abuabu tua, padu, bertekstur kasar dan porfiritik, terkekarkan cukup intensif dan terisi oleh mineral kuarsa. Batupasir tufaan umumnya melapuk sedang berwarna coklat abu-abu, berupa lapisan pasir kasar. Breksi lahar umumnya melapuk sedang, berwarna coklat tua, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu. Batugamping Formasi Sentolo (Tmps); Terdiri dari batugamping dan batupasir napalan. Batugamping umumnya melapuk sedang, berwarna putih keabuan, berlapis, padu, terdapat nodulnodul kalsit. Batupasir napalan umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu kecoklatan, berlapis, berbutir sedang-kasar, terdiri dari tufa dan fragmen batuan, agak padu. Formasi ini di permukaan didominasi oleh batugamping dengan kekerasan umumnya sedang. Di beberapa tempat, nilai tekanan konus (CPT) berkisar antara 5-25 kg/cm2. Tanah penutup umumnya berupa lempung, coklat kehitaman, lunak, ketebalan tanah penutup sekitar 1 m. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,693, n=1,499 g/cm3, n=26,12%, grup simbol CH, c=0,1 kg/cm2, =28,81o. Konglomerat Formasi Jonggrangan (Tmj); Terdiri dari konglomerat, napal tufaan dan batupasir gampingan. Konglomerat umumnya melapuk ringan hingga sedang, berwarna coklat keabuan, terdiri dari masadasar pasir sedang, agak padu, ukuran butir komponen kerikil-kerakal (2-30 cm) berbentuk membulat tanggung-menyudut tanggung. Napal tufaan umumnya melapuk sedang, berwarna abu kecoklatan, padu. Batupasir gampingan umumnya melapuk sedang, abu-putih kecoklatan, padu, ukran butir sedang hingga kasar. Formasi ini di permukaan didominasi oleh konglomerat dengan kekerasan umumnya keras hingga sangat keras. Breksi Formasi Kebobutak (Tmok); Terdiri dari breksi, tufa, dan aglomerat. Breksi umumnya melapuk sedang berwarna merah kecoklatan, komponen batuan andesitik (5-30 cm) agak segar menyudut tanggung, tertanam pada masadasar pasir tufa berbutir kasar, agak padat sebagian mudah hancur. Tufa umumnya melapuk sedang, berwarna kuning kecoklatan, batuan dasitik dan andesitik, berukuran butir pasir sedang, agak padu. Aglomerat umumnya melapuk kuat, berwarna

putih keabuan, agak padu, mudah hancur, komponen batuan andesitik (5-20 cm) tertanam dalam masadasar pasir kasar, agak padat. Batu lanau umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu kecoklatan sebagian menyerpih dan mudah hancur. Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi dengan kekerasan umumnya keras. Dibeberapa tempat nilai tekanan konus (CPT) berkisar antara 5-40 kg/cm2. Tanah penutup umumnya berupa lanau, coklat kehitaman, lunak, plastisitas tinggi, ketebalan rata-rata 1,5 m. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,716, n=1,33 g/cm3, n=28,51%, grup simbol MH, c=0,14 kg/cm2, =26,79o. Batupasir Formasi Nanggulan (Teon); Terdiri dari batupasir yang bersisipan dengan lignit dan napal pasiran. Batupasir umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu kecoklatan, berlapis, berbutir sedang-kasar, agak padu. Formasi ini di permukaan didominasi oleh batupasir dengan kekerasan umumnya keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir, coklat keabuan, agak padat hingga lepas, ketebalan rata-rata 1 meter. Batugamping Formasi Wonosari (Tmpw); Terdiri dari batugamping dan batupasir tufaan. Batugamping umumnya melapuk sedang, berwarna putih keabuan, berlapis, padu, terdapat nodulnodul kalsit. Batupasir tufaan umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu kecoklatan, berlapis, berbutir sedang-kasar, terdiri dari tufa dan fragmen batuan, agak padu. Formasi ini di permukaan didominasi oleh batugamping dengan kekerasan umumnya sedang. Tanah penutup umumnya berupa lempung lanauan, coklat kehitaman, lunak, ketebalan rata-rata 1,5 m. Napal Formasi Kepek (Tmpk); Terdiri dari napal dan batugamping berlapis. Napal umumnya melapuk sedang, berwarna putih keabuan, berlapis, padu, terdapat nodul-nodul kalsit. Batugamping umumnya melapuk sedang, berwarna abu-abu keputihan, berlapis, padu. Formasi ini di permukaan didominasi oleh napal dengan kekerasan umumnya sedang. Tanah penutup umumnya berupa lempung lanauan, coklat kehitaman, lunak, ketebalan rata-rata 1 m. Tufa Formasi Sambipitu (Tms); Terdiri dari perselang-selingan lapisan tufa, serpih, batulanau dan konglomerat. Tufa umumnya melapuk ringan, berwarna kuning keabuan, ukuran butir pasir halus, padu. Serpih umumnya melapuk ringan, putih kelabu, padu. Batulanau umumnya sedang, berwarna abu-abu kecoklatan, sebagian menyerpih. Konglomerat umumnya melapuk ringan, berwarna coklat keabuan, terdiri dari masadasar pasir sedang, sangat padu, ukuran butir komponen kerikil-kerakal (2-30 cm) berbentuk membulat tanggung-menyudut tanggung. Formasi ini di permukaan didominasi oleh tufa dengan kekerasan umumnya keras. Tanah penutup umumnya berupa lempung, coklat kehitaman, lunak plastisitas tinggi, ketebalan rata-rata 1 m. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,758, n=1,683 g/cm3, n=29,78%, grup simbol CH, c=0,14 kg/cm2, =21,8o. Breksi Vulkanik Formasi Nglanggran (Tmn); Terdiri dari breksi vulkanik, breksi aliran, aglomerat, lava dan tufa. Breksi vulkanik umumnya melapuk sedang berwarna coklat tua, komponen terdiri dari tufa dan batuan andesitik, agak segar berukuran hingga 40 cm, menyudut tanggung, agak padu. Breksi aliran umumnya melapuk sedang, berwarna coklat tua, komponen tufa dan batuan agak segar yang berukuran pasir kasar hingga kerakal, menyudut sampai membulat tanggung, agak padu. Aglomerat umumnya melapuk sedang, berwarna putih keabuan, padu sebagian mudah hancur, komponen batuan andesitik, agak segar, menyudut tanggung (10-25 cm) tertanam dalam masadasar pasir sedang-kasar, padat. Lava umumnya melapuk ringan, berwarna kelabu terang, tekstur halus, masif dan sebagian struktur vesikuler. Tufa umumnya melapuk sedang, berwarna kuning kecoklatan, berukuran butir pasir halus, agak padu. Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi vulkanik yang secara umum mempunyai kekerasan adalah keras. Tanah penutup umumnya berupa pasir hingga pasir lanauan, coklat kehitaman, padat hingga agak lepas, ketebalan berkisar antara 1-2 m. Breksi Tufa Formasi Semilir (Tmse); Terdiri dari breksi tufa, tufa dan batulempung tufaan. Breksi tufa umumnya melapuk sedang berwarna coklat tua, komponen terdiri dari tufa dan batuan

andesitik, agak segar berukuran hingga 40 cm, menyudut tanggung, agak padu dan sebagian mudah hancur. Tufa umumnya melapuk sedang, berwarna kuning kecoklatan, batuan dasitik dan andesitik, berukuran butir pasir sedang, agak padu. Batu lempung tufaan umumnya melapuk sedang berwarna putih kecoklatan, agak padu. Formasi ini di permukaan didominasi oleh breksi tufa dengan kekerasan umumnya keras. Tanah penutup umumnya berupa lanau , merah kecoklatan, teguh, plastisitas tinggi, ketebalan rata-rata 1 m. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah pada beberapa lokasi mempunyai nilai antara lain : Gs=2,646, n=1,606 g/cm3, n=34,36%, grup simbol MH, c=0,14 kg/cm2, =28,37o. Andesit (a); Merupakan rangkaian intrusi batuan andesit yang tersingkap jelas pada puncakpuncak perbukitan G. Telu dan G. Kukusan di bagian selatan hingga G. Pencu di bagian utara. Andesit berwarna abu-abu kehijauan, berkomposisi antara hipersten hingga andesit-augithornblenda dan trakiandesit. Kekerasan umumnya sangat keras. Hasil pelapukan berupa lanau, berwarna coklat kehitaman, palstisitas sedang, lunak. Dasit (da); Merupakan intrusi batuan beku dasit yang menerobos andesit. Hasil pelapukan berupa lanau lempingan, berwarna coklat kehitaman, palstisitas sedang, lunak. Diorit (dr); Merupakan intrusi batuan beku diorit hornblenda. Kekerasan umumnya sangat keras. Hasil pelapukan berupa lanau lempungan, berwarna abu-abu kecoklatan, palstisitas sedang, lunak. Analisis Geologi Teknik, dibahas tentang beberapa analisis yang dilakukan baik dari hasil laboratorium Mekanika Tanah, laboratorium Kimia Mineral, maupun data-data hasil pengujian peralatan dilapangan dengan ditunjang oleh hasil pengamatan lapangan selama melakukan pemetaan. Penilaian Zona Kemampuan Geologi Teknik (ZKGT) Lembar Yogyakarta Berdasar pada beberapa parameter yang dicoba untuk ditumpangtindihkan (overlay) yaitu aspek kebencanaan geologi yang meliputi: bahaya letusan dan aliran lahar gunung Merapi, potensi lempung mengembang, dan kerentanan terhadap kejadian longsoran ; aspek kelerengan yang berorientasi pada workability pada peta dasar (base map) sebaran formasi geologi teknik, maka dapat dibuat zona kemampuan geologi teknik dengan pembagian sebagai berikut: Zona I : Daerah Kemampuan Geologi Teknik Sangat Rendah Pada zona ini relatif tidak dijumpai adanya kendala kebencanaan beraspek geologi. Pada daerah ini kelerengan sangat rendah (0 - 8) sehingga dari sudut workability rekayasa teknik dapat dengan mudah untuk dilakukan. Untuk perencanaan rekayasa teknik pada lokasi tapak harus dilakukan penyelidikan dan penelitian detail atau lebih rinci pada zona ini dan perlu diperhatikan aspek lingkungan dan morfologi terutama sepanjang pantai selatan daerah pemetaan lebih utama lagi adalah di sekitar pantai Parang Tritis. Zona II : Daerah Kemampuan Geologi Teknik Rendah Pada zona ini dijumpai beberapa kendala kebencanaan beraspek geologi dan keteknikan. Kendala beraspek geologi adalah berupa potensi terlanda aliran lahar dari aktivitas gunung Merapi di bagian hilir kali Boyong, disamping itu terdapatnya beberapa daerah yang rentan untuk terjadi longsoran. Pada daerah ini juga terdapat potensi lempung mengembang. Kelerengan di daerah ini adalah rendah menengah (8 - 30) sehingga dari sudut workability rekayasa teknik terdapat sedikit kendala untuk dilakukan. Untuk perencanaan rekayasa teknik pada lokasi tapak harus dilakukan penyelidikan dan penelitian detail atau lebih rinci pada zona ini dan perlu diperhatikan aspek lingkungan dan morfologi serta antisipasi terhadap aspek kebencanaan geologi maupun stabilisasi tanah pada daerah dengan potensi lempung mengembang. Zona III : Daerah Kemampuan Geologi Teknik Menengah Pada zona ini dijumpai beberapa kendala kebencanaan beraspek geologi dan keteknikan yang lebih besar. Kendala beraspek geologi yang ada berupa potensi terlanda aliran lahar dari aktivitas gunung Merapi pada beberapa aliran sungai antara lain kali Batang bagian hilir, Krasak, Boyong, Kuning, Opak dan Gendol, disamping itu daerah yang rentan untuk terjadi longsoran lebih luas. Pada daerah ini juga terdapat potensi lempung mengembang. Kelerengan di daerah ini adalah menengah tinggi (30 - 70) sehingga dari sudut workability rekayasa teknik terdapat cukup kendala untuk dilakukan. Untuk perencanaan rekayasa teknik pada lokasi tapak harus dilakukan penyelidikan dan

penelitian detail atau lebih rinci pada zona ini dan perlu diperhatikan aspek lingkungan dan morfologi serta antisipasi terhadap aspek kebencanaan geologi maupun stabilisasi tanah pada daerah dengan potensi lempung mengembang. Zona IV : Daerah Kemampuan Geologi Teknik Tinggi Pada zona ini dijumpai beberapa kendala kebencanaan beraspek geologi dan keteknikan yang lebih besar. Kendala beraspek geologi yang ada berupa potensi terlanda aliran lahar dari letusan dari aktivitas gunung Merapi pada beberapa aliran sungai antara lain kali Pabelan, Blongkeng, Batang, Krasak, Boyong, Kuning, Opak dan Gendol, disamping itu daerah yang rentan untuk terjadi longsoran lebih luas. Kelerengan di daerah ini adalah menengah tinggi (30 - > 70) sehingga dari sudut workability terdapat kendala cukup besar untuk dilakukan rekayasa teknik. Untuk perencanaan rekayasa teknik pada lokasi tapak harus dilakukan penyelidikan dan penelitian detail atau lebih rinci pada zona ini dan perlu diperhatikan aspek lingkungan dan morfologi serta antisipasi terhadap aspek kebencanaan geologi maupun stabilisasi tanah pada daerah dengan potensi lempung mengembang. Khusus pada daerah rawan bahaya letusan gunung Merapi rekayasa teknik hampir bisa dikatakan tidak dapat dilakukan kecuali untuk kepentingan pemantauan dan penanggulangan aspek kebencanaan tersebut antara lain pembuatan saluran pengarah aliran lahar, pos-pos pemantauan aktivitas gunungapi dan bangunan-bangunan teknik penunjangnya. Kesimpulan Dan Saran Kesimpulan Penyebaran formasi geologi teknik dapat dibedakan kedalam 24 (duapuluh empat) formasi geologi teknik dengan masing-masing litologi dominasi dan kekuatan (strength)nya, secara umum formasi geologi teknik di lembar ini didominasi oleh hasil pengendapan aktivitas gunung Merapi muda (Qme) yang didominasi oleh pasir tufa. Dari hasil pemboran teknik pada beberapa lokasi didapat harga N SPT > 60 pada kedalaman yang bervariasi (lihat lampiran log bor teknik), yaitu pada kedalaman 27 meter (BMI), kedalaman 8 12 meter (BMII), kedalaman 4 30 meter (BMIII). Dari sudut pandang tingkat pelapukan secara umum kondisi batuan beku di daerah pemetaan telah mengalami tingkat pelapukan lanjut (completely weathered) dengan tanah pelapukan yang cukup tebal sampai ketebalan 3 meter yaitu pada batuan terobosan diorit di gunung wungkal Godean dan dasit di desa Wonorejo, sedangkan pada andesit tingkat pelapukan bervariasi antara sedikit melapuk (slightly weathered) sampai melapuk lanjut (completely weathered) dengan tebal tanah pelapukan antara beberapa centimeter sampai 1 meter hal ini dapat diamati di desa Pokoh. Faktor kebencanaan beraspek geologi di daerah pemetaan yang dapat dikenali adalah: Daerah rentan terjadi longsoran, Daerah bahaya letusan dan aliran lahar dari aktivitas gunung Merapi, Daerah berpotensi terjadinya lempung mengembang (expansive clay). Kondisi lereng yang cukup terjal sampai pada kemiringan > 70 yang dipandang dari sudut workability sulit untuk dilakukan rekayasa teknik. Saran Peta geologi teknik dari hasil pemetaan yang disajikan dalam laporan ini adalah peta pada skala 1 : 100.000 sehingga informasi yang didapat dan dilaporkan adalah bersifat umum, sehingga pembuatan zona kemampuan geologi teknik inipun hanya bersifat umum. Oleh karena itu jika akan dilakukan rekayasa teknik pada daerah-daerah yang ada pada peta geologi teknik maupun peta zona kemampuan geologi teknik lembar Yogyakarta ini harus dilakukan penelitian dan penyelidikan geoteknik yang lebih rinci dan detail dengan pengambilan contoh batuan dan tanah serta titik uji peralatan lapangan yang lebih rapat sehingga didapat informasi yang lebih akurat dan tepat. Akan tetapi sebagai informasi awal, peta geologi teknik dan peta zona kemampuan geologi teknik pada skala 1 : 100.000 ini dapat dipakai sebagai acuan dan arahan untuk penentuan lokasi tapak pada skala yang lebih besar. Sebagai pelengkap informasi dalam laporan ini bagi pelaku rekayasa teknik yang akan melakukan kegiatan penelitian dan penyelidikan geoteknik lanjutan, disarankan untuk memperhatikan dan mencermati beberapa hal dibawah ini:

Adanya potensi kebencanaan beraspek geologi yang cukup banyak didaerah pemetaan yang harus diadakan penelitian secara lebih detail yaitu: Daerah berpotensi mengalami kembang kerut mineral lempung atau lempung mengembang (expansive soils) yang cukup besar di daerah pemetaan. Dari dua lokasi contoh tanah pada formasi Sentolo (Tmps) yang dianalisa, kandungan mineral montmorillonit yang didapat cukup besar ( > 50 %). Dari hal demikian tersebut, maka dianjurkan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut dengan mengambil beberapa contoh tanah pada lokasi yang lebih banyak dan representatif pada formasi tersebut. Tidak menutup kemungkinan adanya potensi yang sama pada formasi formasi tersier dengan kandungan endapan volkanik marine di daerah pemetaan. Adapun dalam rekayasa teknik, pada daerah yang berpotensi mengalami kembang kerut mineral lempung yang besar harus dilakukan stabilisasi tanah baik secara mekanik maupun kimiawi. Daerah rawan bencana gunungapi Merapi terutama bahaya letusan yang harus dihindari dari kawasan hunian yang terbagi kedalam beberapa kelas antara lain daerah terlarang, daerah bahaya I dan daerah bahaya II (hal ini akan lebih proporsional dan didapat informasi yang lebih detail dari Direktorat Volkanologi cq. Seksi gunung Merapi). Daerah rawan dan rentan terhadap kejadian longsoran terutama pada zona kerentanan menengah dan kerentanan tinggi. Dengan pembuatan peta Zona Kemampuan Geologi Teknik Lembar Yogyakarta Skala 1 : 100.000 ini diharapkan para perencana dan perekayasa teknik dapat lebih mudah untuk memlilih lokasi tapak (site) dan mengetahui kendala-kedala geologi yang potensiil di daerah pemetaan tersebut.