Refarat Implant Cochlea
Refarat Implant Cochlea
IMPLANT COCHLEA
DISUSUN OLEH:
Maftilah Fitriana Nur N 111 23 011
PEMBIMBING KLINIK:
dr. Bastiana, M.Kes., Sp.THT-KL
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL 1
HALAMAN PENGESAHAN 2
2
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN 4
1.1 LATAR BELAKANG 4
1.2 TUJUAN 5
BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI NASAL 6
2.1 ANATOMI 6
2.2 FISIOLOGI 11
2.3 EMBRIOLOGI 15
2.4 HISTOLOGI 21
BAB III RHINITIS ATROPICANS 23
3.1 DEFINISI 23
3.2 ETIOLOGI 24
3.3 PATOFISIOLGI 24
3.4 EPIDEMIOLOGI 28
3.5 DIAGNOSIS 29
3.5.1 ANAMNESIS 29
3.5.2 PEMERIKSAAN FISIK 30
3.5.3 PEMERIKSAAN PENUNJANG 36
3.6 DIAGNOSIS BANDING 40
3.7 TERAPI DAN TATALAKSANA 41
3.8 PROGNOSIS 44
ALGORITMA 46
RINGKASAN 47
DAFTAR PUSTAKA 48
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gangguan pendengaran berdasarkan definisi menurut World Health Organization (WHO)
adalah keadaan saat seseorang tidak mampu mendengar suara pada salah satu atau kedua telinga
secara sebagian atau keseluruhan. Menurut derajatnya, gangguan pendengaran dibagi berdasarkan
ambang pendengaran dalam desibel (dB). Derajat gangguan pendengaran terbagi atas
derajatringan (20-<35 dB) hingga total (>95 dB). Pada seseorang yang memiliki gangguan
pendengaran derajat ringan hingga sedang disebut sebagai sulit mendengar, sedangkan untuk
3
kondisi dimana seseorang dengan gangguan pendengaran derajat berat hingga sangat berat
menggunakan istilah tuli1
Ada beberapa tipe dari gangguan pendengaran, yaitu: gangguan pendengaran konduktif,
gangguan pendengaran sensori-neural, gangguan pendengaran campuran, neuropati auditorius, dan
gangguan pendengaran sentral. Tipe gangguan yang paling sering ditemukan disebabkan oleh
gangguan pada telinga tengah (konduktif)atau defisit sensorineural1
Secara global, lebih dari 1,5 milyar orang mengalami gangguan pendengaran derajat tertentu
termasuk di dalamnya diperkirakan 430 juta mengalami gangguan pendengaran derajat sedang atau
lebih berat. Di Indonesia, menurut Sistem Informasi Management Penyandang Disabilitas
didapatkan bahwa jumlah orang dengan gangguan pendengaran pada data penyandang disabilitas
berdasarkan ragam disabilitas berjumlah 13.802 orang. Sekitar satu dari tujuh anak memiliki
setidaknya sedikit gangguan pendengaran (> 15 dB) dalam frekuensi bicara, dan 8,9% anak-
anak kemungkinan memiliki gangguan pendengaran frekuensi bicara sensorineural >15 dB1
Implan koklea merupakan pilihan untuk rehabilitasi pasien dengan gangguan pendengaran
sensorineural. Implan koklea berupa protesis stimulus elektronik yang bekerja untuk
mengembalikan fungsi sel rambut bagian dalam yang hilang dengan mengubah sinyal akustik
menjadi rangsangan listrik untuk aktivasi serabut saraf pendengaran. Implan koklea adalah
stimulator saraf kranial efektif yang pertama, sehingga alat ini merevolusi manajemen
rehabilitasi gangguan pendengaran sensorineural permanen pada orang dewasa dan anak.
Keberhasilan implan koklea berkaitan dengan pengenalan bahasa lisan dan keterampilan pemahaman
pada anak-anak sudah dikenal secara luas1
Pada tahun 1990, Makanan dan Obat-obatan Administrasi (FDA) telah menyetujui usia
pemasangan implan koklea sejak usia 12 bulan. Ada banyak penelitian sebelumnya yang menunjukkan
hubungan positif yang signifikan antara deteksi dini masalah pendengaran, pemasangan implan koklea
dan perkembangan bahasa dan bicara. Penggunaan implan koklea juga memberikan kemampuan
pendengaran yang lebih baik dibandingkan penggunaan alat bantu dengar (ABP). Faktor transmisi suara
berperan dimana melalui implan koklea, transmisi suara dilakukan rangsangan listrik pada saraf
pendengaran, sambil melalui penggunaan ABP, sinyal akustik yang dihasilkan oleh ABP dikirim ke
otak melalui sel-sel rambut di koklea yang bermasalah. Dengan ini, kualitas sinyal yang diterima untuk
diproses terputus dan terbatas2
1.2 Tujuan
Penulisan refarat ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan terkait Implant
Cochlea
4
5
BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGi
1. Telinga Luar
A. Heliks,
B. Antiheliks,
C. Fossa segitiga,
D. Fossa skapoid,
E. Scapha,
F. Tragus,
G. Antitragus
6
H. Lobule4
Liang telinga (ear canal) dibentuk oleh tulang rawan dan tulang temporal. Ukurannya
sekitar 4 cm dari telinga terluar ke membran timpani atau yang disebut sebagai gendang telinga.
Lengkungan tersebut berguna untuk mencegah benda asing mencapai gendang telinga. Selain
struktur tersebut, ada beberapa saraf sensorik di bagian telinga luar, seperti saraf aurikular, saraf
oksipital, saraf trigeminal, facial, dan vagus. Saraf trigeminal, facial, dan vagus merupakan
bagian dari saraf cranial yang langsung terhubung ke otak, sedangkan saraf aurikular dan
oksipital adalah komponen dari saraf tulang belakang4.
2. Telinga Tengah
7
tulang yang ada di liang telinga. Di bagian tengah kerucut atau titik cekungannya disebut
dengan umbo. Sementara pada membran di sekeliling umbo ini terdiri dari dua bagian yang
berbeda yang disebut pars flaccida dan pars tensa. Ada tiga saraf sensorik pada membran
timpani, yaitu4:
a. Saraf auriculotemporal,
b. Saraf intermedius, dan
c. Cabang aurikularis dari saraf vagus.
B. Saluran Eustachius
Saluran Eustachius adalah bagian telinga yang menghubungkan telinga tengah dengan
hulu kerongkongan dan hidung (nasofaring). Fungsinya untuk menyamakan tekanan di
telinga tengah. Tekanan yang seimbang diperlukan untuk transfer gelombang suara yang
tepat. Di sisi lain, beberapa kondisi medis bisa terjadi bila terdapat masalah pada telinga
tengah4.
3. Telinga Dalam
Sesuai namanya, telinga bagian dalam berada di bagian terdalam dari anatomi telinga.
Fungsinya untuk membantu keseimbangan tubuh dan menjadi bagian dalam pendengaran. Di
telinga dalam terdapat tiga bagian utama, yaitu koklea, saluran semisirkular, dan vestibular.
Berikut masing-masing penjelasannya4 :
A. Koklea
Koklea (Cochclea) adalah bagian telinga dalam yang berbentuk seperti cangkang siput
dan berperan penting dalam proses pendengaran. Bagian ini mengubah getaran suara
menjadi sinyal saraf dan menyalurkannya ke dalam otak melalui saraf koklea. Koklea dibagi
menjadi dua ruang oleh membran. Masing-masing ruang dalam koklea berisi penuh dengan
cairan yang bergetar ketika suara masuk. Ini menyebabkan rambut rambut kecil yang
melapisi membran bergetar dan mengirimkan sinyal saraf ke otak4.
B. Saluran Semisirkula
Saluran semisirkular (labirin) terdiri dari tiga saluran atau tabung kecil yang terhubung.
Ini merupakan bagian telinga dalam yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan. Masing-
masing saluran dalam semisirkular berisi cairan yang dilapisi dengan rambut-rambut kecil.
Saat kepala bergerak, cairan di saluran mengalir dan menggerakkan rambut. Rambut ini
mengirimkan sinyal ke otak melalui saraf vestibular. Otak kemudian mengirimkan pesan ke
otot-otot tubuh untuk membantu Anda tetap seimbang4.
8
C. Vestibular
Vestibular merupakan bagian penghubung antara koklea dan saluran semisirkular.
Bersama saluran semisirkular, bagian ini juga berperan dalam menjaga keseimbangan tubuh
Anda. Pada bagian telinga dalam, kondisi medis juga bisa muncul. Salah satunya adalah
labirinitis yaitu ketika labirin mengalami peradangan. Selain itu, gangguan pendengaran
sensorineural juga bisa terjadi ketika telinga bagian dalam, tepatnya koklea dan/atau saraf
koklea, mengalami gangguan4.
Daun telinga menangkap energi suara sebagai gelombang, yang kemudian dikirim
melalui tulang atau udara ke koklea untuk memulai proses pendengaran. Pendengaran
terjadi dalam tiga tahap, yang masing-masing melibatkan transfer energi fisik dalam bentuk
stimulus suara ke organ pendengaran, konversi atau transduksi energi fisik itu ke organ
penerima, dan pengiriman impuls saraf ke korteks pendengaran4.
Aurikula berfungsi untuk mengetahui arah dan lokasi suara dan membedakan tinggi
rendah suara. Aurikula bersama MAE dapat menaikkan tekanan akustik pada MT pada
frekuensi 1,5 – 5 kHz yaitu daerah frekuensi yang meningkatkan tenaga pergerakan 1,3 kali,
selain itu luas daerah permukaan MT 55 milimeter persegi sedangkan daerah permukaan
stapes rata- rata 3,2 milimeter persegi. Rasio perbedaan 17 kali lipat ini dibandingkan 1,3
kali dari dari sistem pengungkit, penting untuk presepsi bicara, selanjutnya gelombang
bunyi ini diarahkan ke MAE menyebabkan naiknya tekanan akustik sebesar 10-15 dB pada
MT. MAE adalah tabung yang terbuka pada satu sisi tertutup pada sisi yang lain. MAE
meresonansi ¼ gelombang. Frekuensi resonansi ditentukan dari panjang tabung, lengkungan
tabung tidak berpengaruh4.
Gelombang suara kemudian diteruskan ke MT dimana pars tensa MT merupakan
medium yang ideal untuk transmisi gelombang suara ke rantai osikular. Hubungan MT dan
sistem osikuler menghantarkan suara sepanjang telinga telinga tengah ke koklea. Tangkai
maleus terikat erat pada pusat membran timpani, maleus berikatan dengan inkus, inkus
berikatan dengan stapes dan basis stapes berada pada foramen ovale. Sistem tersebut
sebenarnya menyebabkan penekanan sekitar 22 kali pada cairan koklea4.
Hal ini diperlukan karena cairan memiliki inersia yang jauh lebih besar dibandingkan
udara, sehingga dibutuhkan tekanan besar untuk menggetarkan cairan, selain itu didapatkan
mekanisme reflek penguatan, yaitu sebuah reflek yang timbul apabila ada suara yang keras
yang ditransmisikan melalui sistem osikuler ke dalam sistem saraf pusat, reflek ini
menyebabkan konstraksi pada otot stapedius dan otot tensor timpani. Otot tensor timpani
menarik tangkai maleus ke arah dalam sedangkan otot stapedius menarik stapes ke arah luar.
9
Kondisi yang berlawanan ini mengurangi konduksi osikular dari suara berfrekuensi rendah
dibawah 1 000 Hz. Fungsi dari mekanisme ini adalah untuk melindungi koklea dari getaran
merusak disebabkan oleh suara yang sangat keras , menutupi suara berfrekuensi rendah pada
lingkungan suara keras dan menurunkan sensivitas pendengaran pada suara orang itu
sendiri4.
11
Gambar 2.4 Tahapan Embriogenesis
Perkembangan prenatal adalah peristiwa yang menarik dan mengagumkan. Itu dimulai
dengan satu sel — zigot (sel telur yang dibuahi) dan memuncak setelah 9 bulan (38 minggu atau 266
hari) dengan organisme kompleks — bayi baru lahir — yang terbuat dari miliaran sel. Ini
melibatkan proses yang disebut morfogenesis, yang meliputi pembelahan sel, transformasi atau
spesialisasi, migrasi, dan bahkan pemrograman kematian sel (apoptosis). Selama morfogenesis,
faktor genetik atau lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan normal bayi dan menyebabkan
anomali kongenital. Jadi embriologi membantu kita tidak hanya dalam pemahamandasar pemikiran
struktur dan fungsi masing-masing sistem tubuh tetapi juga dalam memahami faktor-faktor yang
bertanggung jawab untuk menyebabkan anomali kongenital. Apresiasi faktor-faktor ini dapat
membantu para dokter dalam mencegah dan mengobati anomali tersebut. Perkembangan manusia
berlangsung secara berurutan atau berkesinambungan melalui periode atau masa5.
A. Periode Zygot (Sejak pembuahan samapai akhir minggu kedua) atau Periode Germinal5.
1. Dua pekan pertama setelah pembuahan5.
2. Telur yang baru saja dibuahi disebut zigot5.
3. Terjadi pembelahan sel secara cepat dalam zigot melalui proses mitosis. Zigot berisi
blastosis, yang menjadi embrio, dan trofoblas, lapisan luar sel.yang menyediakan nutrisi
bagi embrio5.
4. Bentuk zigot sebesar kepala peniti tidak berubah karena tidak mempunyai sumber makanan
dari luar, hidupnya dipertahankan kuning telur5.
5. Dengan berjalannya zigot dari tuba fallopi turun ke uterus, terjadi banyak pembelahan dan
zigot terbagi menjadi lapisan luar dan lapisan dalam5.
6. Lapisan luar kemudian berkembang menjadi placenta (ari-ari), tali pusar, dan selanjutnya
pembungkus janin, lapisan dalam berkembang menjadi manusia baru5.
7. Sekitar sepuluh hari setelah pembuahan, zigot tertanam di dalam dinding uterine.Tahap
zygot adalah tahapan pertama dalam kehamilan yang berlangsung selama dua minggu
setelah terjadi pembuahan atau konsepsi. Tahap zygot disebut sebagai tahapan germinal.
Pada tahapan ini terjadi pembentukan zygot (sel tunggal) kemudian terjadi pembelahan-
pembelahan sel dan melekatnya zygot ke dinding kandungan yang disebut implantation.
Pemisahan sel dimulai ketika lapisan dalam dan luar sel terbentuk. Lapisan dalam sel yang
12
berkembang menjadi embrio disebut blastosit dan lapisan luar yang berkembang untuk
menyediakan gizi dan dukungan bagi embrio disebut fropoblast. Pada masa zygot ini sudah
terbentuk jenis kelamin dan ciri fisik calon bayi yang akan lahir. Periode Embrio (Akhir
minggu kedua sampai akhir bulan kedua berdasarkan perhitungan bulan) Atau Periode
Embrionik5.
B. Dua hingga delapan pekan setelah pembuahan. Dimulai setelah blastosis (kini disebut
embrio) tertanam di dalam dinding rahim5.
C. Diferensiasi sel semakin intensif dan organ-organ terbentuk5.
D. Embrio berkembang menjadi manusia dalam bentuk kecil5.
E. Terjadi perkembangan besar, mula-mula dibagian kepala dan terakhir pada anggota tubuh5.
F. Semua bagian tubuh yang penting, baik bagian luar maupun bagian dalah sudah dibentuk5.
G. Embrio mulai bergerak di dalam uterus, dan terjadi gerakan-gerakan spontan dari anggota
tubuh5.
H. Pada tahap ini, pemisahan sel terjadi lebih banyak dan membentuk suatu massa sel yang disebut
embrio. Embrio ini menjadi cikal bakal terbentuknya organ-organ tubuh janin (organogenesis)
yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu;
1). Endoderm embrio: lapisan dalam sel yang akan berkembang menjadi sistem pencernaan
dan pernapasan. Endoderm menghasilkan bagian dalam tubuh5.
2). Mesoderm embrio: lapisan tengah sel yang berkembang menjadi saluran peredaran
darah, tulang, otot, sistem pembuangan kotoran dan sistem reproduksi. Mesoderm
menghasilkan organ-organ yang mengelilingi bagian tubuh5.
3). Ectoderm embrio: lapisan paling luar sel yang berkembang menjadi sistem syaraf, alat
indra (mata, telinga, hidung) dan bagian kulit seperti rambut dan kuku. Ectoderm
menghasilkan bagian-bagian permukaan5.
4). Placenta (ari-ari), tali pusar dan selaput pembungkus janin berkembang keduanya
melindungi dan memberikan makan embrio. Sistem pendukung embrio tersebut yaitu:
a). Ari-ari (plasenta): sistem dukungan yang terdiri dari lapisan berbentuk piring
yang didalamnya berisi pembuluh darah ibu dan anak yang saling mengkait tetapi
tidak bersatu satu sama lain5.
b) Tali pusar: sistem dukungan yang mengandung dua pembuluh nadi dan satu
pembuluh vena yang menghubungkan bayi dengan ari-ari. Molekul- molekul kecil
seperti udara, air, garam makanan dari darah ibu, sedangkan karbondioksida dan
kotoran pencernaan dari darah embrio5.
13
5). Pada akhir bulan kedua pranatal, berat embrio rata-rata 1 ¼ ons dan panjangnya 1 ½ inc.
Periode Janin ( akhir bulan kedua perhitungan menurut bulan sampai lahir) atau Periode
Fetus/ Fetal
a. Fetus (awal bulan ke-3-9 bulan) merupakan terakhir dalam pembentukan janin
yang berlangsung dari awal bulan ke-3 sampai 9 bulan kandungan. Pada masa ini,
janin berkembang cepat dan mulai terlihat jelas bagian-bagian tubuhnya5.
b. Bulan ke-3 Usia 3 bulan panjang mencapai 3 inci dan berat 1 ons. Pada masa ini,
janin berkembang cepat dan bergerak aktif, membuka dan menutup mulut serta
menggerakkan kepala. Bagian- bagian tubuh luar seperti hidung, kelopak mata.
Dagu sudah terbentuk jelas5.
c. Bulan ke-4 Usia 4 bulan panjangnya 5,5 inci dan beratnya 4 ons. Pada usia ini
gerakan refleks seperti menendang semakin kuat dan dan dapat dirasakan oleh
ibu5.
d. Bulan ke-5 Usia 5 bulan panjangnya 10-12 inci dan beratnya 0,5-1 pon. Struktur
kulit terbentuk. Jari kaki dan trangan sudah jelas, sering berganti posisi dalam
kandungan5.
e. Bulan ke-6 Usia 6 bulan panjangnya sekitar 14 inci. beratnya antara 1-1,2 ons.
Mata dan kelopak mata mulai jelas, refleks menggenggam pernapasan mulai
muncul walaupun belum beraturan rambut tumbuh5.
f. Bulan ke-7 Usia 7 bulan beratnya 2,5- 3 pon. Panjangnya mencapai 14-17 inci5.
g. Bulan ke-8 Usia 8 bulan katas, panjang dan beratnya semakin meningkat
terutama saat menjelang kelahiran5.
a). Terjadi perubahan pada bagian-bagian tubuh yang telah terbentuk, baik dalam
bentuk/rupa maupun perubahan aktivisi dan terjadi perubahan dalam fungsi. Tidak
tampak bentuk-bentuk baru pada ini5
6). Pada akhir bulan ketiga, beberapa organ dalam cukup berkembang sehingga dapat mulai
berfungsi. Denyut jantung janin dapat diketahui sekitar minggu kelima belas5.
7). Pada akhir bulan keempat terjadi ledakan pertumbuhan pada tubuh bagian bawah dan
ibu mulai merasakan gerakan bayi di dalam kandungannya5.
8). Pada akhir bulan kelima, berbagai organ dalam telah menepati posisi hampir seperti posisi
di dalam tubuh dewasa5.
9). Sel-sel saraf, yang ada sejak minggu ketiga, jumlahnys meningkat pesat selama
bulanbulan kedua, ketiga dan keempat. Apakah peningkatan pada saat ini akan terus
14
berlangsung atau tidak bergantung pada kondisi di dalam tubuh ibu seperti kekurangan
gizi yang sebaliknya mempengaruhi perkembangan sel saraf terutama dalam bulanbulan
terakhir periode pranatal5.
2.3.HISTOLOGI
Gambar 9: Penampang koronal pada usia 8 minggu. Pada usia 8 minggu, tonjolan mesenkim pada
dinding hidung lateral telah terbentuk dan rongga hidung dikelilingi oleh kapsul tulang rawan.
Pada gambar ini, konsisten dengan histologi pada usia 8 minggu, turbinat inferior (1), turbinat
tengah (2), uncinate primordial (3), infundibulum yang belum sempurna (4), dan kapsul tulang
rawan di sekitarnya (5) terlihat jelas.
Gambar 10: Penampang koronal pada usia 10 minggu. Pada usia 10 minggu, kapsul kartilago semakin
meluas ke dalam tonjolan mesenkim untuk menentukan struktur rongga hidung. Turbinat inferior (1)
terbentuk dari maksiloturbinal. Proses uncinate (2), turbinat tengah (3), dan turbinat superior (4)
15
masing-masing terbentuk dari etmoturbinal pertama, kedua, dan ketiga. Meatus yang terkait dapat
dilihat di bawah setiap turbinat yang belum sempurna.3
Gambar 11: Penampang koronal pada usia 14 minggu. Bulla ethmoid (4) dan proses uncinate (3)
terlihat jelas; ketiga turbinat primordial, proses uncinate, bulla ethmoid, dan septum hidung (5)
didukung oleh tulang rawan yang memanjang dari kapsul hidung; dan infundibulum ethmoid (6)
memanjang secara inferolateral ke dalam prekursor tulang rahang atas, membentuk sinus maksila
yang belum sempurna (7). Turbinat inferior (1) dan turbinat tengah (2).3
16
BAB III
IMPLANT COCHLEA
Implan koklea merupakan perangkat elektronik yang mempunyai kemampuan menggantikan fungsi
koklea untuk meningkatkan kemampuan mendengar dan berkomunikasi pada pasien tuli saraf berat dan
total bilateral. lmplan koklea sudah mulai dimanfaatkan semenjak 25 tahun yang lalu dan berkembang pesat
di negara maju. Implantasi koklea pertama kali dikerjakan di lndonesia pada bulan Juli 2002. Selama 4
tahun terakhir telah dilakukan implantasi koklea pada 27 anak dan 1 orang dewasa. lmplan koklea yang
paling mutakhir saat ini mempunyai 24 buah saluran (channel)7
Untuk sebagian pasien tersebut dianjurkan pemakaian implan koklearis. Implan koklearis dirancang
untuk pasien-pasien dengan tuli sensorineural yang berat. Pada pasien demikian, fungsi sel-sel rambut
mengalami gangguan sementara saraf akustikus masih berfungsi dengan baik. Telah dikembangkan
beberapa jenis implan koklearis. Semua alat ini merniliki empat komponen yang sama: sebuah mikrofon
untuk menangkap bunyi, suatu prosesor mikroelektronik untuk mengubah bunyi menjadi sinyal listrik,
suatu sistem transrnisi untuk menyampaikan sinyal-sinyal pada komponen-komponen implan, dan suatu
elektroda yang panjang dan rarnping yang diselipkan ke dalam skala timpani sampai ke jangkauan terdalam
dari koklearis. Elektroda dimaksudkan untuk menyampaikan rangsangan listrik langsung pada serabut-
serabut sarafakustikus pada satu atau beberapa tempat. Beberapa alat hanya memiliki elektroda dengan
saluran tunggal sementara yang lainnya memiliki banyak saluran8
lndikasi pemasangan implan koklea adalah keadaan tuli saraf berat bilateral atau tuli total bilateral
(anak maupun dewasa) yang tidak / sedikit mendapat manfaat dengan alat bantu dengar konvensional, usia
12 bulan sampai 17 tahun, tidak ada kontraindikasi medis dan calon pengguna mempunyai perkembangan
kognitif yang baik. Sedangkan kontra indikasi pemasangan implan koklea antara lain tuli akibat kelainan
pada jalur saraf pusat (tuli sentral), proses penulangan koklea, koklea tidak berkembang. Perangkat implan
17
koklea terdiri dari : (1) Komponen luar : Mikrofon, Speech Processor, kabel penghubung mikrofon dengan
speech processor, transmitter, (2) Komponen dalam : receiver, multi chanel electrode7
lmpuls suara ditangkap oleh mikrofon dan diteruskan menuju speech processor melalui kabel
penghubung. Speech processor akan melakukan seleksi informasi suara yang sesuai dan mengubahnya
menjadi kode suara yang akan disampaikan ke transmiter. Kode suara akan dipancarkan menembus kulit
menuju receiver atau stimulator. Pada bagian ini kode suara akan diubah menjadi sinyal listrik dan akan
dikirim menuju elektroda-elektroda yang sesuai di dalam koklea sehingga menimbulkan stimulasi serabut-
serabut saraf. Pada speech processor terdapat sirkuit listrik khusus yang berfungsi meredam bising
lingkungan7
Untuk mendapatkan hasil optimal dari implantasi koklea perlu dilakukan persiapan yang matang
mencakup konsultasi dengan orang tua untuk memperoleh informasi tentang riwayat penyakit anak serta
harapan orang tua terhadap implantasi koklea. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan THT, radiologik
(CT scan untuk melihat keadaan koklea), laboratorium darah. Tes pendengaran yang harus dilakukan antara
lain Behavioral Obseruation Audiometry (BOA), timpanometri, OAE, BERA dan ASSR (Auditory Steady
Sfate Response) bila diperlukan serta audiometri nada murni untuk anak yang lebih besar dan kooperatif.
Tes kemampuan wicara dan berbahasa perlu dinilai sebelum menggunakan ABD. Sebelum operasi
dianjurkan untuk menggunakan ABD selama 8 - 10 minggu bersamaan dengan terapi audio verbal untuk
menilai manfaatnya. Tes psikologi dilakukan untuk menilai kemampuan anak untuk belajar setelah
dilakukan implantasi koklea7
Switch on yaitu pengaktifan alat, dilakukan 2 - 4 minggu pasca bedah. Pemeriksaan CT Scan pasca
bedah untuk menilai keadaan elektroda yang telah terpasang di dalam koklea. Pada anak yang tidak
kooperatif data awal dapat diperoleh dengan melakukan NRT (Neural Respons Telemetry) terlebih dahulu
kemudian menetapkan C (comfoftable) level yaitu suara keras yang dapat ditoleransi tanpa menimbulkan
rasa sakit dan f (threshold) level suara terkecil yang dideteksi. Yang dimaksud dengan pemetaan (mapping)
adalah proses untuk menetapkan dan mengatur sejumlah aliran listrik yang disampaikan ke koklea. Program
yang dibuat disimpan pada speech processor dan jumlahnya tergantung pada jenis implan yang digunakan
dan berbeda untuk setiap orang. Selanjutnya anak mengikuti program terapi audio verbal secara teratur
disertai pemetaan berkala. Keberhasilan implantasi koklea ditentukan dengan menilai kemampuan
mendengar, pertambahan kosakata dan pemahaman bahasa7
18
Meskipun implantasi koklea sukses luas, perangkat tersebut berpotensi memicu FBR yang kuat di
dalam telinga bagian dalam. Beberapa peneliti telah mengkategorikan kerusakan yang disebabkan oleh
implan koklea menjadi komponen akut dan tertunda. Cedera akut pada telinga bagian dalam meliputi
trauma bedah di lokasi pemasangan, kerusakan pada koklea di sepanjang jalur elektroda, atau gangguan
homeostasis cairan koklea. Sensitivitas koklea yang luar biasa bergantung pada potensi endokoklea (EP)
yang memerlukan lingkungan yang sangat terspesialisasi. Operasi CI menyebabkan gangguan homeostasis
cairan koklea melalui berbagai mekanisme termasuk: 1) trauma pada ligamen spiral dan stria vaskularis
yang penting untuk mempertahankan EP, 2) kerusakan yang tidak disengaja pada membran basilar yang
mengakibatkan pencampuran perilimfe dan endolimfe dengan perubahan EP yang dihasilkan. Pada
komponen yang tertunda, host merespons biomaterial dari susunan elektroda yang menimbulkan FBR yang
bermanifestasi sebagai respons inflamasi yang kuat dari aktivasi makrofag dan migrasi fibroblas yang
akhirnya menghasilkan pembentukan kapsul fibrosa yang mengelilingi implant. Dengan menggunakan
spektroskopi sinar-X dispersif-energi, baik platinum maupun silikon dari elektroda telah diidentifikasi
sebagai bahan benda asing yang difagositosis oleh sel positif CD163 sebagai bagian dari respons benda
asing dalam selubung fibrosa yang mengelilingi elektroda. Tingkat keparahan respons inflamasi bervariasi;
pada beberapa pasien, hanya terjadi fibrosis ringan, sementara pada pasien lain, granuloma benda asing
yang kuat dan pembentukan tulang baru yang luas telah dijelaskan9
Rangkaian cara kerja obat untuk mengurangi gejala FBR pasca CI (Cochlear Implant)9 :
19
20
Faktor risiko infeksi: (1) Usia saat operasi CI kurang dari 2 tahun dan lebih dari 65 tahun; (2)
Imunosupresi; (3) Riwayat kebocoran CSF spontan atau traumatis; (4) Adanya prostesis bedah saraf; dan
(4) Riwayat meningitis. Faktor risiko lainnya lebih berhubungan langsung dengan telinga: (5) Malformasi
telinga bagian dalam dan (6) Riwayat operasi telinga (stapedotomi).10
Adapun komplikasi dari CI antara lain :
1. Infeksi kulit
Komplikasi luka operasi dapat terjadi dan berpotensi merusak. Komplikasi ini dapat
membahayakan kesehatan dan pendengaran pasien. Sebagai prosedur rawat jalan dengan
risiko yang relatif rendah, tingkat komplikasi medis, seperti kerusakan luka, di antara
penerima CI diperkirakan sebesar 2,66%–4%. Dalam situasi yang jarang terjadi, komplikasi
luka CI mungkin memerlukan pencabutan alat. Komplikasi ini dapat terjadi segera atau
bahkan bertahun-tahun setelah operasi dan meliputi infeksi, luka kolaps, hematoma, atau
pembentukan seroma. Mekanisme yang mendasari komplikasi luka bedah ini kurang
dipahami. Manajemen perioperatif dan teknik bedah dapat memengaruhi penyembuhan luka
CI. AOM rekuren dapat berperan dalam penyemaian dasar luka dan predisposisi terhadap
infeksi luka CI pediatrik. Ketebalan kulit kepala merupakan faktor tingkat pasien yang
signifikan yang juga dapat memengaruhi komplikasi luka dewasa dan pediatrik. Reaksi
benda asing juga merupakan mekanisme yang diusulkan untuk kerusakan luka dan dapat
berhubungan dengan reaksi terhadap CI itu sendiri atau terhadap bahan jahitan yang
digunakan untuk mengamankan CI. Olsen et al. menemukan tingkat infeksi luka bedah
10% pada pasien dewasa dan bahwa Staphylococcus aureus , seringkali dengan
pembentukan biofilm, adalah patogen utama yang terlibat dalam komplikasi ini10
2. Koleasteatoma
21
Pasien jarang mengalami kolesteatoma setelah pemasangan CI. Kondisi ini dapat
disebabkan oleh kerusakan pada membran timpani dan/atau EAC selama operasi. Perawatan
terdiri dari eksplantasi CI di lokasi infeksi dan pembentukan biofilm, selain konversi ke
dinding kanal di rongga mastoid dan eksisi seluruh lesi. Penting untuk mempertahankan
hanya susunan elektroda di dalam koklea dan membuang sisa perangkat untuk menjaga
patensi koklea dan menghindari fibrosis. Reimplantasi CI harus dilakukan sesegera
mungkin, setelah pengendalian infeksi, dikombinasikan dengan petrosektomi subtotal10
3. Kelumpuhan wajah perifer
Kelumpuhan Wajah Perifer (PFP) merupakan salah satu komplikasi terburuk yang dapat
terjadi dalam operasi telinga. Saat membuka mastoid untuk mengangkat tumor atau
mengobati infeksi, meskipun tidak diinginkan, PFP dapat menjadi komplikasi iatrogenik
dari prosedur tersebut. Namun, dalam operasi CI, pada pasien dengan anatomi normal, PFP
dapat menjadi bencana. Insiden PFP rendah (0,4% hingga 0,7%).10
Neuropati/dissinkroni auditori (AN/AD) adalah suatu bentuk gangguan pendengaran yang ditandai
dengan kehilangan pendengaran sensorineural sedang hingga berat, progresif atau sementara, di mana
fungsi sel-sel luar dipertahankan, tetapi aktivitas saraf aferen di saraf pendengaran dan jalur pendengaran
sentral terganggu. Insiden AN diperkirakan sebesar 10% hingga 14% dari anak-anak yang didiagnosis
dengan SNHL berat hingga sangat berat. Dalam evaluasi audiologis, respons emisi otoakustik dapat
menunjukkan aktivitas koklea preneural normal yang ditemukan tetapi respons yang ditimbulkan dari jalur
pendengaran umumnya tidak ada. Respons mikrofonik koklea (yang dihasilkan oleh polarisasi dan
depolarisasi sel-sel rambut luar koklea) juga disajikan11
Gangguan jalur pendengaran ditunjukkan oleh tidak adanya atau distorsi parah potensial listrik dari
saraf pendengaran (potensial aksi gabungan) dan respons batang otak pendengaran (ABR). Ada beberapa
hipotesis untuk menjelaskan AN/AD yang mungkin dihasilkan oleh lesi pada sel-sel rambut bagian dalam
koklea, pada sinaps antara sel-sel ini dan serabut saraf pendengaran Tipe 1, dan pada saraf pendengaran itu
sendiri. Secara klinis pasien menunjukkan skor diskriminasi bicara lebih buruk daripada yang diprediksi
oleh audiologi nada murni dengan respons yang buruk terhadap amplifikasi alat bantu dengar11
Insiden AN diperkirakan sebesar 10% hingga 14% dari anak-anak yang didiagnosis dengan SNHL
berat hingga sangat parah. Riwayat alamiahnya mungkin progresif atau sementara. Bahkan dalam kasus
kehilangan pendengaran ringan, mereka yang mengalami onset prelingual sering kali tidak
mengembangkan kemampuan bicara. Alat bantu dengar dalam kasus ini jarang bermanfaat. Namun, implan
koklea masih diperdebatkan karena jika lokasi lesi adalah koklea, maka melewati sel-sel rambut bagian
dalam dengan stimulasi langsung saraf kranial VIII akan menghasilkan hasil yang baik, tetapi jika kondisi
patologis terletak pada saraf itu sendiri, seperti demielinisasi saraf kranial VIII, maka stimulasi listrik
22
mungkin diharapkan mengalami keterbatasan yang sama seperti stimulasi akustik. Mempertimbangkan
kemungkinan kedua ini, banyak dokter sangat konservatif tentang implantasi koklea sebagai pilihan untuk
neuropati pendengaran. Buss et al. melaporkan hasil untuk 4 anak dengan AN yang memiliki data bicara
pasca-implan yang sebanding dengan populasi anak umum yang menerima implan11
RINGKASAN
Implan koklea merupakan pilihan untuk rehabilitasi pasien dengan gangguan pendengaran sensorineural.
Implan koklea berupa protesis stimulus elektronik yang bekerja untuk mengembalikan fungsi sel
rambut bagian dalam yang hilang dengan mengubah sinyal akustik menjadi rangsangan listrik untuk
aktivasi serabut saraf pendengaran. Untuk sebagian pasien tersebut dianjurkan pemakaian implan
koklearis. Implan koklearis dirancang untuk pasien-pasien dengan tuli sensorineural yang berat. Pada
pasien demikian, fungsi sel-sel rambut mengalami gangguan sementara saraf akustikus masih berfungsi
dengan baik. Perangkat implan koklea terdiri dari : (1) Komponen luar : Mikrofon, Speech Processor, kabel
penghubung mikrofon dengan speech processor, transmitter, (2) Komponen dalam : receiver, multi chanel
electrode. Untuk mendapatkan hasil optimal dari implantasi koklea perlu dilakukan persiapan yang matang,
pj—ii[ emeriksaan fisik meliputi pemeriksaan THT, radiologik (CT scan untuk melihat keadaan koklea),
laboratorium darah. Tes pendengaran yang harus dilakukan antara lain Behavioral Obseruation Audiometry
(BOA), timpanometri, OAE, BERA dan ASSR (Auditory Steady Sfate Response) bila diperlukan serta
audiometri nada murni untuk anak yang lebih besar dan kooperatif
DAFTAR PUSTAKA
23
1. Soentpiet, C. M., Palandeng, O. E., & Pelealu, O. C. (2022). Efektivitas Implan Koklea pada
Anak. Jurnal Biomedik: JBM, 14(1), 67-75.
2. Yusoff, Y. M., UMAT, C., & Mukari, S. Z. (2017). Profil penerima implan koklea kebangsaan bagi
kanak-kanak bermasalah pendengaran pralingual di Malaysia. Jurnal Sains Kesihatan
Malaysia, 15(2), 153-162.
3. Wen, C., Zhao, X., Li, Y. et al. 2022. A systematic review of newborn and childhood hearing
screening around the world: comparison and quality assessment of guidelines. BMC Pediatrics.
22(160).
4. Untari, S., Susanti, M.M., Kodiya, N.M., Himawati, L. 2023. Buku ajar anatomi dan fisiologi. Jawa
Tengah: Penerbit NEM
5. Ananda, C.R., Nindhiawati, N., Puspita, N.A., Pinasti, P.R.E., Ariani, L.D.D. 2024. Analisis
Anatomi dan Fisiologi Sistem Indera Pendengaran. Student Research Journal. 2(3): 41-49
6. Atika, N.F., Iofersia, A., Maryam, R., Yarni, L. 2023. Perkembangan masa Pranatal. Jurnal ilmiah
sains dan teknologi. 1(3): 117-127
7. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung,
Tenggorok, kepala & Leher. UI Publishing: Jakarta. 2022.
8. Adams, G.L., Boies, L.R., Hilger, P.A., (2013), Boies: Buku Ajar Penyakit THT Ed 6. EGC, Jakarta.
9. Rahman MT, Chari DA, Ishiyama G, Lopez I, Quesnel AM, Ishiyama A, Nadol JB, Hansen MR.
Cochlear implants: Causes, effects and mitigation strategies for the foreign body response and
inflammation. Hear Res. 2022 Sep 1;422:108536. doi: 10.1016/j.heares.2022.108536
10. Tsuji RK, Hamerschmidt R, Lavinsky J, Felix F, Silva VAR. Brazilian Society of Otology task force
- cochlear implant ‒ recommendations based on strength of evidence. Braz J Otorhinolaryngol. 2025
Jan-Feb;91(1):101512. doi: 10.1016/j.bjorl.2024.101512.
11. Sampaio AL, Araújo MF, Oliveira CA. New criteria of indication and selection of patients to
cochlear implant. Int J Otolaryngol. 2015;2015:573968.
24
LAMPIRAN
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51