0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan51 halaman

Skripsi Asbudiman

Proposal ini membahas hubungan antara tingkat pengetahuan perawat dengan manajemen Airway, Breathing, dan Circulation pada pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Haji Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengetahuan perawat terhadap penanganan kegawatdaruratan yang dapat menyelamatkan nyawa pasien. Data yang dikumpulkan menunjukkan pentingnya kecepatan dan ketepatan dalam penanganan pasien gawat darurat untuk mengurangi angka kematian dan morbiditas.

Diunggah oleh

ubee7298
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan51 halaman

Skripsi Asbudiman

Proposal ini membahas hubungan antara tingkat pengetahuan perawat dengan manajemen Airway, Breathing, dan Circulation pada pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Haji Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengetahuan perawat terhadap penanganan kegawatdaruratan yang dapat menyelamatkan nyawa pasien. Data yang dikumpulkan menunjukkan pentingnya kecepatan dan ketepatan dalam penanganan pasien gawat darurat untuk mengurangi angka kematian dan morbiditas.

Diunggah oleh

ubee7298
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT


DENGAN MANAJEMEN AIRWAY, BREATHING DAN
CIRCULATION PADA PASIEN INSTALASI GAWAT
DARURAT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
HAJI MAKASSAR

OLEH
ASBUDIMAN
NIM : P2116213

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN GRAHA EDUKASI


PROGAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
MAKASSAR
2013
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL...................................................................................i

HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ii

DAFTAR ISI...............................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................1

A. Latar Belakang.......................................................................1

B. Rumusan Masalah.................................................................8

C. Tujuan Penelitian...................................................................9

D. Manfaat Penelitian.................................................................9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................11

A. Instalasi Gawat Darurat........................................................11

B. Tinjauan Teori Tentang Perawat IGD...................................15

C. TInjauan Teori Tentang Pengetahuan..................................21

D. Triase...................................................................................25

E. Manajemen Airway, Breathing dan Circulation....................26

BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFENISI

OPERASIONAL........................................................................37

A. Kerangka Konsep.................................................................37

B. Hipotesis Penelitian..............................................................38

C. Defenisi Opersional Variabel................................................38

BAB IV METODE PENELITIAN.............................................................39

A. Desain Penelitian.................................................................39

B. Lokasi dan Waktu Penelitian................................................40

iii
C. Populasi dan Sampel Penelitian...........................................40

D. Instrumen Penelitian............................................................42

E. Teknik Pengolahan Data......................................................43

F. Etika Penelitian....................................................................45

DAFTAR PUSTAKA................................................................................47

iv
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rumah sakit merupakan instansi pelayanan yang memberikan

pelayanan personal bersifat utama meliputi pelayanan rawat inap,

rawat jalan, dan gawat darurat. Instalasi Gawat Darurat (IGD)

merupakan instalasi yang memberikan pelayanan pertama kali pada

pasien yang mengalami ancaman mortalitas dan abnormalitas secara

terpadu (kemenkes, 2010), yang merupakan pintu pertama masuknya

pasien gawat darurat sehingga diperlukan perawat Instalasi Gawat

Darurat yang memiliki kemampuan mengatasi kegawatdaruratan pasien

untuk segera memberikan penanganan agar dapat menyelamatkan nyawa

pasien dan mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut (UU No. 44,

2009).

Instalasi Gawat Darurat merupakan salah satu unit pelayanan di

rumah sakit yang memberikan pelayanan pertama selama 24 jam pada

pasien dengan ancaman kematian dan kecacatan secara terpadu dengan

melibatkan berbagai multidisiplin ilmu dan multi profesi termasuk

pelayanan keperawatan (Kemenkes RI, 2011) Kondisi gawat darurat

merupakan suatu keadaan seseorang secara tiba tiba dalam keadaan

gawat atau akan menjadi gawat dan terancam anggota badannya

dan jiwanya (akan menjadi cacat atau mati) bila tidak mendapatkan

1
2

pertolongan segera (Kemenkes RI, 2011). IGD menyediakan

penanganan pertama bagi pasien yang menderita sakit dan cedera

yang dapat mengancam nyawa. Pasien yang masuk ke IGD rumah sakit

sangat membutuhkan pertolongan yang cepat, maka perlu adanya

standar atau acuan dalam memberikan suatu tindakan gawat darurat

sesuai dengan kompetensi dan kemampuannya sehingga dapat

menjamin keberhasilan penanganan gawat darurat dengan response

time yang cepat dan penanganan yang tepat (Kemenkes RI, 2019).

Penanganan pasien gawat darurat mempunyai fisolofi yaitu Time

Saving is Life Saving, yang mengandung arti seluruh tindakan yang

dilakukan di ruang gawat darurat harus benar-benar efektif dan efisien,

semakin cepat penanganan semakin besar kesempatan untuk

menyelamatkan nyawa, dalam hitungan menit saja pasien dapat

kehilangan nyawa, berhenti nafas 2-3 menit dapat mengakibatkan

kematian yang fatal (Sutawijaya, 2009 dalam Surtiningsih et al, 2016).

Response Time adalah kecepatan penanganan pasien, dihitung

sejak pasien datang sampai dilakukan penanganan. Response Time

atau waktu tanggap adalah kecepatan waktu penanganan yang dimulai

dari pasien datang ke IGD sampai pasien mendapatkan tindakan awal

akibat masalah kesehatan yang dialami (Kemenkes RI, 2019) Kecepatan

dan ketepatan pertolongan yang diberikan pada pasien yang datang ke

IGD memerlukan standar sesuai dengan kompetensi dan

kemampuannya sehingga dapat menjamin suatu penanganan gawat


3

darurat dengan response time yang cepat dan penanganan yang tepat.

Waktu tanggap adalah waktu dari saat penerima panggilan telepon

sampai unit operasional tiba di lokasi kejadian yang membutuhkan

penanganan (Jaldell et al., 2014).

Waktu tanggap pelayanan merupakan gabungan dari waktu

tanggap saat pasien tiba didepan pintu rumah sakit sampai

mendapat tindakan medis dari petugas instalansi gawat darurat

(Kemenkes RI, 2019). Waktu tanggap pelayanan dapat dihitung

dengan hitungan menit dan sangat dipengaruhi oleh berbagai hal baik

mengenai jumlah tenaga maupun komponen-komponen lain yang

mendukung seperti layanan laboratorium, radiologi, farmasi dan

administrasi. Waktu tanggap dikatakan tepat waktu atau tidak

terlambat jika waktu yang diperlukan tidak melebihi waktu yang

diperlukan dan tidak melebihi waktu rata-rata standar yang ada

(Haryatun & Sudaryanto, 2018). Dimana salah satu bagian rumah

sakit yang memberikan pelayanan berdasarkan waktu tanggap yaitu

Instalasi Gawat Darurat.

Kecepatan dan ketepatan pertolongan yang diberikan kepada

pasien yang datang ke IGD memerlukan standar sesuai dengan

kompetensi dan kemampuan sehingga dapat menjamin suatu

penanganan kegawatdaruratan dengan respon time yang cepat dan

penanganan yang tepat. Waktu tanggap darurat harus dimanfaatkan


4

oleh perawat dan dokter untuk memenuhi prosedur utama dalam

penanganan kasus gawat darurat pasien yang disebut prosedur ABCD

(Airway, Breathing, Circulation dan Disability). Airway merupakan

penanganan pada saluran pemafasan yang terhambat karena adanya

penyakit atau terjadi kecelakaan. Breathing mempunyai arti

penanganan terhadap kemampuan paru-paru dalam memompa udara

dan circulation adalah penanganan terhadap kemampuan jantung

dalam memompa darah ke seluruh tubuh, sedangkan disability adalah

penanganan terhadap kemungkinan terjadinya cacat permanen akibat

kecelakaan. Prosedur ABCD harus dilakukan secara cepat dan tepat,

karena apabila rentang waktu tanggap semakin lama maka peluang

keselamatan pasien akan semakin kecil terutama pada pasien dengan

masalah Airway, Breathing dan Circulation.

Triage adalah suatu proses yang mana korban digolongkan menurut

tipe dan tingkat kegawatan kondisinya dengan kata lain pengelompokan

korban yang berdasarkan atas berat ringannya trauma penyakit serta

kecepatan penanganan atau pemindahannya. (Badan diklat PPNI DPA j

atim, 2018). Triase adalah sistem seleksi dan pemilihan pasien dalam

menentukan tingkat kegawatan dan prioritas penanganan pasien lebih

lanjut (Kemenkes RI, 2011 ). Triage adalah proses pengambilan

keputusan yang kompleks dalam rangka menentukan pasien mana

yang berisiko meninggal, berisiko mengalami kecacatan, atau berisiko


5

memburuk keadaan klinisnya apabila tidak mendapatkan penanganan

medis segera, dan pasien mana yang dapat dengan aman menunggu.

Berdasarkan definisi ini, proses Triage diharapkan mampu menentukan

kondisi pasien yang memang gawat darurat, dan kondisi yang berisiko

gawat darurat (Habib et al., 2016)

Suatu kondisi gawat darurat pasien dapat terjadi dalam hitungan

menit, nafas berhenti dalam waktu 2-3 menit selanjutnya akan berakibat

yang fatal dan berujung kematian (Sutawijaya, 2009). (Maatilu dkk, 2014)

dalam penelitiannya membuktikan waktu tanggap perawat pada

penanganan pasien gawat darurat yang memanjang dapat menurunkan

usaha penyelamatan pasien selanjutnya terjadinya perburukan kondisi

pasien, dimana lebih dari 5 menit sebanyak (56. 7%) dan kurang dari 5

menit sebanyak (43,3%). Jika waktu tanggap lambat akan berakibat

pada kondisi pasien seperti rusaknya organ-organ dalam atau komplikasi,

kecacatan bahkan kematian, dan apabila waktu tanggap cepat maka akan

berdampak positif yaitu mengurangi beban pembiayaan, tidak terjadi

komplikasi dan berkurangnya angka mortalitas dan morbiditas.

Jumlah Pasien Instalasi Gawat Darurat RSUD Haji Makassar yang

membutuhkan penanganan Live Seafing pada tahun 2022 adalah dapat

dilihat dari data berikut:


6

KEMAMPUAN MENANGANI LIFESEAVING ANAK DAN DEWASA


IGD RUMAH SAKIT UMUM DAERAH HAJI MAKASSAR
TAHUN 2022

JUMLAH JUMLAH
PASIEN PASIEN YANG
MENDAPATKAN MEMBUTUHKA (%) 3/4 X
NO BULAN
PELAYANAN N PELAYANAN 100
LIVE SAVING LIVE SAVING
DI IGD DI IGD
1 Januari 5 5 100%
2 Februari 5 5 100%
3 Maret 15 15 100%
4 April 9 9 100%
5 Mei 8 8 100%
6 Juni 5 5 100%
7 Juli 3 3 100%
8 Agustus 10 10 100%
Septembe 7 7 100%
9
r
10 Oktober 4 4 100%
11 November 5 5 100%
12 Desember 6 6 100%
JUMLAH 82 82 100%
Sumber Data : Rekam Medis RSUD Haji Makassar tahun 2022

Berdasarkan Rekam Medis RSUD Haji Makassar diperoleh data

kunjungan pasien yang masuk Instalasi Gawat darurat dan memerlukan

bantuan penanganan Live Seafing tahun 2022 adalah 82 pasien.

Jumlah Pasien Instalasi Gawat Darurat pada RSUD Haji Makassar

yang meninggal dunia ≤ 24 jam pada tahun 2022 adalah dapat dilihat dari

data berikut:
7

JUMLAH KEMATIAN IGD RSUD HAJI MAKASSAR


PROVINSI SULAWESI SELATAN
TAHUN 2022

JUMLAH
JUMLAH SELURUH
N
BULAN KEMATIAN PASIEN YANG (%) 3/4 X 100
O
≤ 24 JAM DITANGANI DI
IGD
1 Januari 5 965 0.5
2 Februari 5 973 0.5
3 Maret 5 752 0.7
4 April 6 641 0.9
5 Mei 8 865 0.9
6 Juni 6 918 0.7
7 Juli 6 905 0.7
8 Agustus 0 1237 0
Septembe 11 1249 0.9
9
r
10 Oktober 10 1341 0.7
11 November 10 1191 0.8
12 Desember 10 1084 0.9
JUMLAH 82 - -
Sumber Data : Rekam Medis RSUD Haji Makassar tahun 2022

Berdasarkan Rekam Medis RSUD Haji Makassar diperoleh data

jumlah pasein yang kematian Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum

Daerah Haji Makassar ≤ 24 Jam adalah sebanyak 82 pasien pada tahun

2022. Dimana pada bulan September memiliki jumlah kematian pasien

IGD terbanyak yaiut 11 pasien dari total pasien yang masuk IGD RSUD

Haji Makassar 1.249 Pasien atau 0.9%.

Berdasarkan data yang diperoleh tahun 2023 total kunjungan 3677

dari total kunjungan IGD tahun 2017, didapatkan sebanyak 2097 (57%)
8

pasien masuk di IGD dengan kasus Dispnoe, dimana kasus Dispnoe

sangat emergency, berkaitan dengan system pemafasan, kecepatan

penanganan tenaga kesehatan sangat penting sekali terutama pada

prosedur ABC, apabila rentang waktu tanggap semakin lama dilakukan

maka peluang keselamatan pasien akan semakin kecil terutama pada

pasien dengan masalah Airway, Breathing dan Circulation. Rentang waktu

tanggap semakin cepat akan mendapatkan manfaat kelangsungan hidup

pasien sehingga meminimalkan resiko mortalitas dan morbiditas untuk

pasien.

Belum ada penelitian spesifik yang menjelaskan tentang jumlah

kunjungan di Instalasi Gawat Darurat dengan penelitian tentang masalah

Airway, Breathing dan Circulation di Rumah Sakit Umum Daerah Haji

Makassar. Berdasarkan hasil gambaran yang di paparkan di atas, maka

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Hubungan tingkat

pengetahuan perawat dengan manajemen Airway, Breathing dan

Circulation pada pasien Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum

Daerah Haji Makassar.

B. Rumusan Masalah

Tenaga kesehatan mempunyai peran dan tanggung jawab yang

sangat besar di rumah sakit, oleh karena itu pengetahuan perawat

dalam menangani pasien serta manajemen manajemen (ABC) Airway,

Breathing dan Circulation dalam penanganan kepada pasien

kegawatdaruratan berperan penting dalam kelangsungan hidup


9

pasien, maka peneliti tertarik membahas masalah “Hubungan Tingkat

Pengetahuan Perawat dengan Manajemen Airway, Breathing dan

Circulation pada Pasien di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum

Daerah Haji Makassar”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui

Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat dengan Manajemen

Airway, Breathing dan Circulation pada Pasien di Instalasi Gawat

Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui karakteristik tenaga kesehatan di Instalasi

Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar.

b. Untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Perawat mengenai

Airway, Breathing dan Circulation pada Pasien di Instalasi

Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat bagi Tenaga kesehatan IGD

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk tenaga

kesehatan dalam pelaksanaan pelayanan kegawatdaruratan

secara cepat, tepat, akurat dan sesuai kompetensi tenaga

kesehatan sehingga angka kecacatan, kematian, dan komplikasi

dapat menurun.
10

2. Manfaat Bagi Rumah Sakit

Hasil penelitian ini dapat di gunakan sebagai bahan masukan

bagi menejemen Rumah Sakit Pam untuk acuan dalam membuat

kebijakan terkait dengan standar operasional prosedur yang

diberikan di IGD.

3. Manfaat Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan dan

referensi guna meningkatkan mutu Pendidikan terutama pada

pengetahuan peran perawat terhadap Tingkat Pengetahuan

Perawat mengenai Airway, Breathing dan Circulation pada Pasien

di Instalasi Gawat Darurat.

4. Manfaat Bagi Peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini sangat berguna untuk menambah informasi

bam bagi ilmu pengetahuan guna menambah pengetahuan

dan wawasan tentang Airway, Breathing dan Circulation tenaga

kesehatan dalam penanganan kegawatdaruratan.

5. Manfaat Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini sangat penting bagi pasien dan

keluarga pasien dengan mengetahui tentang Airway,

Breathing dan Circulation yang diberikan oleh tenaga

kesehatan IGD sehinggaa keluarga tidak cemas, lebih

percaya terhahadap tenaga kesehatan IGD dan tidak terdapat

kesalah pahaman terhadap pelayanan yang diberikan


11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Instalasi Gawat Darurat (IGD)

1. Pengertian Instalasi Gawat Darurat

IGD atau Instalasi Gawat Darurat, adalah tempat pelayanan

untuk orang yang membutuhkan tindakan medis segera guna

penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut (UU

No. 44, 2009). Instalasi Gawat Darurat adalah Instalasi pelayanan

dirumah sakit yang memberikan pelayanan pertama selama 24 jam

pada pasien dengan ancaman kematian dan kecacatan secara

terpadu dengan melibatkan berbagai multidisiplin ilmu dan multi profesi

termasuk pelayanan keperawata (Kemenkes RI, 2011 ).

IGD adalah unit pelayanan yang dipimpin oleh seorang kepala

instalasi, berada di bawah pembinaan Kepala Seksi Pelayanan dan

Penunjang Medik dan berkoordinasi dengan Seksi Keperawatan dalam

hal SDM keperawatan dan asuhan keperawatan di IGD serta

bertanggung jawab kepada Direktur Rumah Sakit melalui Kepala

Seksi Pelayanan dan Penunjang Medik (Bandung, 2014). Kementerian

Kesehatan telah mengeluarkan kebijakan mengenai Standar Instalasi

Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit yang tertuang dalam (Kemenkes

RI, 2011) untuk mengatur standarisasi pelayanan gawat darurat di

rumah sakit. Guna meningkatkan kualitas IGD di Indonesia perlu

11
12

komitmen Pemerintah Daerah untuk membantu Pemerintah Pusat

dengan ikut memberikan sosialisasi kepada masyarakat bahwa dalam

penanganan kegawatdaruratan dan life saving tidak ditarik uang muka

dan penanganan gawat darurat harus dilakukan < 5 (lima) menit

setelah pasien sampai di IGD.

2. Persyaratan Sarana Ruang IGD

Persyaratan bangunan IGD menurut (Kemenkes RI, 2011)

agar tercapai sesuai dengan standart pelayanan IGD diantaranya:

a. Persyaratan Fisik Bangunan :

1) Luas bangunan ruang IGD disesuaikan dengan beban kerja RS

yang memperhitungkan bila terjadi bencana massal

2) Lokasi gedung IGD harus berada dibagian depan RS, mudah

dijangkau oleh masyarakat dengan tanda yang jelas

3) Harus mempunyai pintu masuk dan keluar yang berbeda

dengan pintu utama (alur masuk kendaraan/pasien tidak sama

dengan alur keluar) kecuali pada klasifikasi IGD level I dan II.

4) Ambulans/k:endaraan darurat yang membawa pasien harus

dapat sampai di depan pintu yang areanya terlindung dari panas

dan hujan Pintu IGD harus dapat dilalui oleh brankar.

5) Memiliki area khusus parkir ambulans yang bisa menampung

lebih dari 2 ambulans (sesuai dengan beban RS)


13

6) Susunan ruang harus sedemikian rupa sehingga arus pasien

dapat lancar, dapat menampung korban bencana sesuai

dengan kemampuan RS.

7) Area dekontaminasi ditempatkan di depan/diluar IGD atau

terpisah dengan IGD.

8) Ruang Triage harus tersedia 2 (dua) brankar atau lebih

9) Tersedia ruang tunggu untuk keluarga pasien IGD.

10)Apotik IGD yang buka 24 jam.

11)Tersedia ruang istirahat bagi petugas shift IGD (dokter dan

perawat)

b. Persyaratan sarana

1) Ruang penerimaan terdiri dari ruang tunggu, ruang admistrasi,

ruang triase, ruang informasi dan komunikasi

2) Ruang tindakan terdiri dari ruang resusitasi, ruang tindakan

bedah, ruang non bedah, ruang anak, ruang kebidanan

3) Ruang operasi.

3. Pelayanan Instalasi Gawat Darurat

Pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit

pastinya membutuhkan pertolongan yang cepat dan tepat untuk itu

perlu adanya suatu standar dalam memberikan pelayanan gawat

darurat sesuai dengan kompetensi dan kemampuannya sehingga

dapat menjamin suatu penanganan gawat darurat dengan response

time yang cepat dan penanganan yang tepat. Semuanya dapat


14

tercapai dengan meningkatkan mutu, sarana, prasarana, sumberdaya

manusia dan manajemen Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit sesuai

dengan standar. Berdasarkan (Kemenkes RI, 2011). Setiap Rumah

Sakit wajib memiliki pelayanan gawat darurat yang memiliki

kemampuan:

a. Setiap Rumah sakit wajib memiliki pelayanan gawat darurat yang

memiliki kemampuan.

b. Pelayanan di IGD RS harus dapat memberikan pelayanan 24 jam

dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu.

c. Berbagai nama untuk instalasi/Unit Gawat Darurat RS

diseragamkan menjadi Instalasi Gawat Darurat (IGD).

d. Rumah Sakit tidak boleh meminta uang muka pada saat

menangani kasus gawat darurat.

e. Korban gawat darurat harus ditanggani paling lama 5 menit

setelah sampai IGD.

f. Organisasi Instalasi Gawat darurat didasarkan pada organisasi

multidisiplin, dan terintergrasi dengan struktur organisasi fungsional

yang berdiri dari unsur pimpinan dan unsur pelaksana yang

bertanggung jawab dalam pelaksanaan pelayanan terhadap

pasien gawat darurat di IGD dengan kewenangan penuh yang

dipimpin oleh Dokter.

g. Setiap Rumah Sakit wajib berusaha untuk menyesuaikan

pelayanan gawat darurat minimal sesuia dengan klasifikasinya.


15

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelayanan Gawat Darurat

Prinsip utama dalam pelayanan di IGD adalah response time,

baik berdasarkan standar nasional maupun standar intemasional.

Pelayanan di IGD memerlukan organisasi yang baik,

pembiayaan dan sumber pembiayaan, SDM yang baik dan terlatih

profesional, serta mengikuti perkembangan teknologi pada pelayanan

medis.

(Maryuani, Anik, 2009) dalam Eko Widodo (2015) mengatakan

ada beberapa faktor yang mempengaruhi asuhan keperawatan

gawat darurat, yaitu kondisi kegawatan seringkali tidak terprediksi

baik kondisi klien maupun jumlah klien yang datang ke ruang

gawat darurat, keterbatasan sumber daya dan waktu, adanya saling

ketergantungan yang sangat tinggi di antara profesi kesehatan yang

bekerja di ruang gawat darurat, diberikan untuk semua usia dan sering

dengan data dasar yang sangat mendasar, tindakan yang diberikan

harus cepat dan dengan ketepatan yang tinggi. Beberapa aspek utama

yang mendukung pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat.

B. Tinjauan Teori Tentang Perawat IGD

1. Pengertian Perawat

Menurut Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014, perawat

adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan

keperawatan yang sesuai dan memenuhi syarat di suatu negara untuk

memberikan pelayanan keperawatan yang diperlukan untuk


16

peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pemberian

pelayanan kepada orang sakit sebagai otorisasi penanggung jawab.

Perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan

keperawatan lanjutan yang diakui secara nasional (Ganida, 2017).

Menurut jenjang pendidikan yang ditempuh perawat,

perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan

formal di bidang keperawatan sekurang-kurangnya setara dengan

diploma (D3) atau sarjana (S1 ), di dalam maupun di luar negeri,

yang program pendidikan sesuai dengan standar keperawatan dan

diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. sesuai Keputusan Menteri

Kesehatan No. HK.02.0/Menkes/148/1 Tahun 2010 tentang

Kewenangan dan Pelaksanaan Praktik Keperawatan (Ganida, 2017).

2. Fungsi Perawat Ruang Kritis

Petugas krisis memainkan beberapa peran dan bekerja

berdasarkan keadaan manfaat krisis, kemampuan utama adalah

kemampuan bebas dan kemampuan bebas terkait dengan pengaturan

perawatan. Kemampuan berikutnya adalah kemampuan yang

diandalkan, yang merupakan kemampuan yang sepenuhnya atau

sampai batas tertentu ditunjuk dari pemanggilan lain. Kemampuan

ketiga adalah kemampuan kooperatif, khususnya berpartisipasi

untuk saling membantu dalam program kesejahteraan (petugas

medis adalah individu dari kelompok kesejahteraan, untuk

situasi ini petugas dikenang karena kemampuan gratis, dengan


17

alasan bahwa serta memberikan perhatian kepada pasien. , mereka

juga fokus pada orang yang dicintai pasien. Salah satu pekerjaan

petugas medis adalah sebagai guru dengan mengurangi tingkat

ketegangan keluarga Petugas memberikan data kepada keluarga

dengan memahami pertimbangan yang diberikan kepada pasien

(Firmansyah, 2021).

Peristiwa krisis bisa menimpa siapa saja, kapan saja dan di

mana saja. Kondisi saat ini menuntut kesiapan pekerja kesejahteraan

untuk bergerak sesuai kemampuannya. Salah satu panggilan

kesejahteraan yang bertanggung jawab atas administrasi pasien krisis

adalah perawat medis. Undang-undang Keperawatan Nomor 28 Tahun

2014 telah mengatur bahwa tenaga medis bertanggung jawab untuk

menangani pasien dalam keadaan krisis. Peraturan Menteri

Kesehatan. (Permenkes) Nomor 26 Tahun 2019 berperan

mengarahkan peran penolong dalam krisis. Dengan uraian sebagai

berikut :

a. Dalam situasi darurat untuk pertolongan pertama, staf perawat

dapat, dalam kompetensinya, mengambil tindakan medis dan

memberikan obat-obatan sesuai dengan ketentuan hukum.

b. Pertolongan pertama dimaksudkan untuk menyelamatkan nyawa

pasien dan mencegah cedera lebih lanjut.

c. Pemberian pertolongan pertama ditujukan untuk menghilangkan

rasa sakit dan menstabilkan kondisi pasien.


18

d. Kegawatdaruratan adalah keadaan yang mengancam nyawa atau

kecacatan pasien.

e. Kedaruratan diputuskan oleh perawat sesuai dengan hasil

pengkajian berbasis pengetahuan perawat.

f. Kegawatdaruratan adalah penilaian terhadap kondisi pasien.

g. Perawat harus merujuk pasien ke dokter atau fasilitas perawatan

kesehatan setelah perawatan awal (Firmansyah, 2021).

3. Peran Perawat IGD

Peran perawat adalah seperangkat tindakan yang diharapkan

dari seseorang yang lain berdasarkan konsidi sosialnya. Ketika

seorang perawat berperan begitu berharap yaitu perannya sebagai

perawat. Berdasarkan konsorsium ilmu kesehatan dari hasil lokakarya

keperawatan tahun 1983, terdapat 4 peranan perawat yaitu:

a. Peran perawat sebagai penyedia: Peran keperawatan ini

memberikan perawatan langsung dan tidak langsung kepada

pasien sebagai individu, keluarga dan masyarakat dengan

menggunakan pendekatan pemecahan masalah yang dikenal

sebagai proses keperawatan yang dikenal sebagai peran perawat.

b. Peran Perawat sebagai Perawat : Sebagai pendidik, perawat

berperan dalam pendidikan individu, keluarga, kelompok dan

masyarakat, serta tenaga kesehatan yang menjadi tanggung

jawabnya.
19

c. Tugas petugas medis sebagai direktur administrasi keperawatan:

Untuk situasi ini petugas memainkan peran dan kewajiban

dalam mengawasi administrasi keperawatan dan pelatihan sesuai

keperawatan dewan di dalam sistem pandangan dunia

keperawatan. Sebagai supervisor, petugas medis menyaring dan

menjamin sifat asuhan keperawatan atau administrasi serta

menyusun dan mengendalikan kerangka administrasi keperawatan.

Pada umumnya, informasi petugas tentang kemampuan, posisi,

tingkat kekuasaan, dan kewajiban sebagai pelaksana tidak

ditambah penelitian.

d. Peran perawat sebagai peneliti dan pengembang pelayanan

keperawatan Sebagai peneliti dan pengembang pelayanan

keperawatan, perawat diharapkan mampu mengidentifikasi

masalah penelitian, menerapkan prinsip dan metode

4. Kriteria Perawat yang Bekerja di IGD

a. Kemampuan anamnesa dengan cepat dan tepat

Anamnesis yang cepat dan akurat akan memandu pasien

pada pengobatan yang tepat sehingga nyawa pasien dapat

terselamatkan. Tidak hanya cepat, tetapi juga harus akurat.Salah

satu jenis riwayat yang harus dikuasai oleh perawat ICU adalah

riwayat berdasarkan ABCDE (Airway-Breathing-Circulation-

Exposure).
20

b. Kemampuan menilai kesadaran pasien

Salah satu kemampuan yang harus digerakkan oleh

petugas medis ruang dasar adalah kemampuan untuk mensurvei

kesadaran pasien, mengingat sebagian besar pasien yang

masuk ke ruang dasar adalah pasien dengan kondisi dasar dan

sering disertai efek samping penurunan kesadaran. Seorang

pasien dikatakan memiliki perhatian penuh jika ia memiliki reaksi

mata yang hebat, reaksi verbal yang hebat, dan reaksi

perkembangan yang hebat.

c. Kemampuan melakukan tindakan penyelamatan nyawa

Perawat kritis diharuskan untuk mempunyai skill berupa

pertolongan untuk menyelamatkan nyawa. Tindakan

penyelamatan nyawa biasanya dilakukan berdasarkan analisis

penyebab, apakah terdapat gangguan di ABCDE (Airway –

Breathing – Circulation – Diagnosis – Exposure). Tindakan

penyelamatan nyawa haruslah dilakukan dengan cekatan dan

cepat, mengingat pasien yang berada di ruang kritis merupakan

pasien yang gawat darurat yang keselamatan nyawanya

bergantung pada ketepatan dan kecepatan tindakan

d. Kemampuan untuk berkomunikasi secara efisien efektif

Perawat krits juga tenaga kesehatan yang lain diberi tuntutan

agar mempunyai skill interaksi yang baik juga tepat. Hampir

tidak ada waktu untuk percakapan santai di ruang kritis. Setiap


21

percakapan hamper selalu terjadi bersamaan dengan pengelolaan

aktivitas pasien, sehingga perawat perawatan intensif dapat

berkomunikasi secara efektif dan efisien (Ganida, 2017).

C. Tinjauan Teori Tentang Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari “tahu” ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu terjadi

melalui panca indera manusia yakni penglihatan, pendengaran,

penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan sangat dipengaruhi dengan

tingkat pendidikan dimana semakin tinggi tingkat pendidikan maka orang

tesebut akan memiliki wawasan semakin luas pula pengetahuannya.

Namun bukan berarti seseorang yang memiliki pendidikan rendah

mempunyai pengetahuan yang rendah pula, mengingat peningkatan

pengetahuantidak hanya diperoleh dari dari pendidikan formal saja akan

tetapi dapat pula diperoleh melalui pendidikan non formal (Notoatmojo,

2007).

1. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan memiliki tingkatan yang tercakup dalam domain

kognitif menurut Hastings Bloom & Madaus (1956) dalam Djali

(2008), di bagi dalam 6 (enam) tingkatan yaitu:

a) Pengetahuan (knowledge)

Menekan pada proses mental dalam mengingat dan

mengungkapkan kembali infomasi-informasi yang telah diperoleh


22

secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh

sebelumnya.

b) Pemahaman (comprehension)

Seseorang untuk bisa hafal dan dan memahami makna yang

terkandung misalnya: dapat menjelaskan suatu gejala, dapat

mengintepretasikan suatu konsep, memberikan contoh, merinci,

membandingkan, serta merangkum atau menyimpulkan.

c) Penerapan (application)

Adalah keahlian berpikir lebih tinggi dari pada pemahaman.

Penerapan merupakan kemampuan menggunakan hokum, teori,

prinsip, aturan maupun metode yang dipelajari pada sitiasu yang

baru dan kongkrit. Contohnya kata kerja yang digunakan yaitu

mengaplikasikan, menghitung dan menunjukkan.

d) Analisis (Analysis)

Merupakan keahlian untuk menganalisa suatu situasi, atau

pengetahuan menurut komponen yang lebih kecil dan memahami

hubungan diantara bagian satu dengan yang lain. Contoh kata

kerja yang digunakan adalah membandingkan, menganalisa dan

mengklasifikasikan.

e) Sintesis (synthesis)

Kemampuan untuk mengintegrasikan bagian- bagian yang terpisah

menjadi keseluruhan yang terpadu, atau menghubungkan bagian-

bagian sehingga terbentuk pola yang berhubungan secara logis,


23

atau mengutip kesimpulan dari peristiwa-peristiwa yang

ada hubungannya satu dengan yang lainnya. Contoh kata

kerja yang digunakan adalah : merumuskan, menghasilkan dan

mengorganisasikan.

f) Evaluasi (evaluation)

Kemampuan membuat pertimbangan (penilaian) terhadap suatu

situasi, nilai-nilai atau ide-ide. Kemampuan ini merupakan

kemampuan tertinggi dari kemampuan lainnya. Untuk dapat

membuat suatu penilaian, seseorang harus dapat memahami,

menerapkan, menganalisis dan mensistesis terlebih dahulu. Contoh

kata kerja yang digunakan adalah: menafsirkan, menilai, dan

memutuskan.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Adapun faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan antara lain:

a. Faktor Intemal

1) Pendidikan

Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan

seseorang. Secara umum, seseorang yang berpendidikan

lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas

dibandingkan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih

rendah (Notoatmojo, 2007).

2) Pengalaman

Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun

orang lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat


24

memperluas pengetahuan seseorang, pengalaman merupakan

sebagai sumber pengetahuan merupakan suatu cara untuk

memperoleh pengetahuan yang sebenamya dengan cara selalu

mengulang pengetahuan tersebut dalam memecahkan masalah

yang dihadapi di masa lalu (Notoatmojo, 2007).

3) Usia

Usia berpengaruh terhadap pola pikir dan juga daya tangkap

seseorang. umur semakin berkembang pula pemikirannya.

Sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik

(Djaali, 2007).

b. Faktor Ekstemal

1) Faktor Fasilitas

Fasilitas yang berfungsi sebagai sumber informasi yang dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio,

televisi, majalah, dan intemet (Notoatmojo, 2007).

2) Sosial Budaya

Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat

mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi

(Notoatmojo, 2007).

3) Lingkungan

Lingkungan merupakan sesuati yang ada disekitar individu,

baik lingkungan social. biologis maupun fisik. Lingkungan

sangat berpengaruh terhadap penyerapan pengetahuan ke


25

dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut karena

adanya interaksi timbal balik yang tidak akan direspon sebagai

pengetahuan oleh sikap individu (Notoatmojo, 2007).

D. Triase

Triase merupakan suatu tindakan untuk mengelompokkan penderita

berdasarkan beratnya cedera diutamakan dengan ada tidaknya gangguan

pada A (airway), B (breathing), dan C (circulation). Penderita mengalami

gangguan jalan napas (Airway) harus mendapatkan prioritas penanganan

pertama dengan mengingat adanya gangguan jalan napas yaitu penyebab

tercepat kematian pada penderita. Triase mencakup rujukan oleh

penderita yang mendapatkan tempat perawatan (Pusbankes 118, 2015).

Berdasarkan (Pusbankes 118, 2015), mempunyai 2 jenis keadaan

triase yang dapat terjadi yaitu:

1. Multiple Casualties

Jumlah penderita dan beratnya trauma tidak melampaui

kemampuan rumah sakit. Hal ini, penderita dengan adanya masalah

yang mengancam jiwa dan multi trauma akan mendapatkan prioritas

penanganan (Musliha, 2010).

2. Mass Casualties

Jumlah penderita dan beratnya trauma melampaui kemampuan

rumah sakit. Penderita kemungkinan survival yang terbesar,

membutuhkan waktu, perlengkapan dan tenaga yang paling sedikit

akan mendapatkan prioritas lebih dahulu (Musliha, (2010).


26

Apabila pasien IGD mengalami kesadaran menurun, seperti lakukan

resusitasi, bebaskan jalan nafas (Airway), jaga fungsi pemafasan

(Breathing), Circulation (tidak terjadi hipotensi, sistolik >90 mmHg, nadi,

suhu (tidak terjadi pireksia). Keseimbangan cairan, elektrolit dan nutrisi

dengan kalori >50℅ normal. Jaga kebersihan gas darah, kebersihan

kandung kemih perlu pasang kateter, kelancaran jalur intravena, ubah

posisi untuk cegah dekubitus, posisi kepala ditinggikan 30 derajat,

pasang selang nasogastrik pada hari ke 2, kecuali kontra indikasi yaitu

fraktur basis kranii, infus cairan isotonis dan berikan oksigen sesuai

indikasi.

E. Manajemen Airway, Breathing dan Circulation

Semua prosedur penanganan gawat darurat dengan kejadian

trauma, maka langkah pertama yang dilakukan sejak detik pertama

pasien masuk instalasi gawat darurat adalah pemeriksaan secara cepat

dan efisien disebut sebagai primary survey. Dasar dari pemeriksaan

primary survey adalah ABCD, yaitu Airway (jalan nafas), Breathing

(pemafasan), Circulation (sirkulasi darah), Disability (status neurologi)

(Wahjoepramono, (2005).

1. Manajemen Airway

Airway Manajemen merupakan suatu hal yang terpenting dalam

melakukan resusitasi dan membutuhkan ketrampilan khusus dengan

penanganan keadaan gawat darurat. Oleh sebab itu, hal yang pertama

harus segera dinilai adalah kelancaran jalan nafas, meliputi


27

pemeriksaan jalan nafas yang dapat disebabkan oleh benda asing,

fraktur manibula atau maksila, fraktur laring (Dewi, 2013 dalam

Setyawan, 2015).

Adapun gangguan jalan nafas (airway) terjadi dikarenakan lidah

yang jatuh kebelakang. Ketika cedera tidak ada di daerah cervikal,

dengan posisi kepala ekstensi, jika tidak membantu maka akan

dilakukan pemasangan pipa orofaring atau pipa endotrakeal dan

dilakukan pembersihan dibagian mulut dengan adanya lendir, darah,

muntahan, atau gigi palsu (Wahjoepramono, (2005). Gangguan airway

ini juga dapat timbul secara mendadak dan total, perlahan-lahan dan

secara berulang (Dewi, 2013 dalam Setyawan, 2015).

Bebasnya jalan nafas paling terpenting bagi kecukupan

ventilasi dan oksigenasi. Ketika penderita tidak mampu dalam

mempertahankan jalan nafas, oleh karena itu, patensi jalan nafas

harus segera dipertahankan dengan cara buatan, diantaranya:

reposisi, chin lift, jaw thrust, atau melakukan penyisipan airway

orofaringeal serta nasofaringeal (Smith, Davidson, Sue, 2007). Dalam

usaha untuk membebaskan jalan nafas harus segera melindungi

pada vertebra servikal.

Hal ini dapat dimulai dengan melakukan chin lift atau jaw thrust.

Pada pasien yang dapat berbicara, dianggap bahwa jalan nafasnya

bersih, walaupun penilaian terhadap airway harus tetap dilakukan.

Pasien dengan gangguan kesadaran atau Glasgow Coma Scale < 8 ini
28

memerlukan pemasangan airway definitif. Adanya gerakan motorik

yang tidak bertujuan dalam mengindikasikan diperlukan pada airway

definitif. Teknik-teknik dalam mempertahankan airway:

a) Head tilt

Ketika pasien tidak sadar, sebaiknya dibaringkan dalam posisi

terlentang dan horizontal, kecuali pada pembersihan jalan nafas

dimana bahu dan kepala penderita harus segera direndahkan

dengan posisi semilateral untuk memudahkan drainase lendir,

muntah atau benda asing. Kepala diekstensikan dengan cara

meletakkan satu tangan di bawah leher penderita pada dahi depan

penderita sambil mendorong atau menekanke belakang. Posisi ini

tetap dipertahankan dengan berusaha dalam memberikan inflasi

bertekanan positif secara intermittena (Alkatri, 2007).

b) Chin Lift

Salah satu tangan pada jari-jemari diletakkan bawah rahang,

dengan hati-hati kemudian diangkat keatas untuk membawa dagu

ke arah depan. Ibu jari yang sama, dengan ringan akan

menekan pada bibir di bagian bawah untuk membuka mulut, ibu

jari juga diletakkan di belakang gigi seri (incisor) bagianbawah

secara bersamaan, dagu secara hati-hati diangkat. Manuver chin

lift akan menyebabkan hiperekstensi leher.

Manuver dapat berguna pada korban yang mengalami trauma

karena tidak membahayakan oleh pasien dengan patahnya ruas


29

tulang leher atau mengubah patah tulang tanpa cedera spinal

menjadi patah tulang dengan cedera spinal.

c) Jaw Thrust

Ketika penolong berada disebelah atas kepala penderita,

kedua tangan pada mandibula, jari kelingking dan manis kanan

maupun kiri berada pada angulus mandibula, jari tengah serta

telunjuk kanan maupun kiri yang berada pada mentum mandibula.

Selain itu, mandibula ini diangkat ke atas melewati molar pada

maxila (Arifin, 2012).

d) Oropharingeal Airway (OPA)

Salah satu pada indikasi yaitu Airway orofaringeal digunakan

untuk membebaskan jalan nafas pada pasien yang kehilangan

refleks jalan nafas bagian bawah (Krisanty, 2009). Diantaranya

teknik ini yaitu posisikan kepala pasien lurus dengan tubuh,

pilih ukuran pipa orofaring sesuai dengan pasien. Dalam hal ini

dilakukan dengan cara menyesuaikan ukuran pipa orofaring dari

tragus (anak telinga) sampai ke sudut bibir. Masukkan pada pipa

orofaring dengan tangan kanan.

Pada lengkungan menghadap ke atas (arah terbalik),

kemudian masukkan ke dalam rongga mulut. Setelah itu, ujung

pipa mengenai palatum durum putar pipa ke arah 180 derajat dan

dorong pipa dengan cara melakukan jaw thrust maupun kedua ibu

jari tangan tersebut menekan sambil mendorong pada pangkal pipa


30

orofaring secara hati-hati sampai bagian yang keras dari pipa

orofaring. Periksa dan pastikan jalan nafas bebas, (Lihat, rasa,

dengar). Fiksasi pipa orofaring dengan cara diplester di bagian

pinggir atas maupun bawah pangkal pipa dan rekatkan plester

sampai ke pipi pasien (Arifin, 2012).

e) Nasopharingeal Airway

Salah satu pada indikasi airway nasopharingeal ini disukai

dibandingkan dengan airway orofaring pada pasien dalam

memberikan respon, oleh karena itu, dapat diterima dan lebih kecil

kemungkinan dapat merangsang muntah (ATLS, 2004).

Diantaranya teknik ini yaitu posisikan kepala pasien lurus dengan

tubuh, Pilihlah ukuran pipa nasofaring sesuai dengan cara

menyesuaikan ukuran pada pipa nasofaring dari lubang hidung

sampai tragus (anak telinga).

Pada pipa nasofaring akan diberikan pelicin dengan jelly

(gunakan kasa yang sudah di beri jelly). setelah itu, masukkan

pipa naso-faring dengan cara tangan kanan memegang pangkal

pipa nasofaring, lengkungan menghadap ke arah mulut bagian

bawah. Masukkan ke dalam rongga hidung secara perlahan sampai

batas pangkal pipa dandipastikan jalan nafasnya bebas (lihat,

dengar, rasa) (Arifin, 2012).

Jika pemafasannya membaik, jaga agar jalan nafas tetap

terbuka dan periksa dengan cara harus dinilai Menurut Pusbankes

118, (2015) :
31

1) Lihat (Look) yaitumelihat pergerakan naik turunnya dada

yang simetris, jika tidak simetris maka perlu dicari kelainan

intra-thorakal atau fail chest. Amati frekuensi nafas terlalu cepat

maupun lambat.

2) Dengar (Listen) yaitu mendengar adanya suara pemafasan

pada auskultasi kedua paru, vesikuler normal atau suara

menghilang, adanya rhonkhi yang menjadi petunjuk kelainan

intra-thorakal.

3) Rasakan (Feel) yaitu merasakan adanya hembusan nafas.

2. Breathing

Oksigen terpenting bagi kehidupan. Sel-sel tubuh memerlukan

pasokan konstan O2 digunakan untuk menunjang reaksi kimiawi

penghasil energi dan menghasilkan CO2 yang harus dikeluarkan

secara terus menerus (Dewi, 2013). Terbukanya airway yaitu

langkah awal yang tepenting untuk pemberian oksigen konsenterasi

tinggi (nonrebreather mask 11-12 liter/menit). Oksigenasi menunjukkan

pengiriman oksigen sesuai ke jaringan ini untuk memenuhi kebutuhan

metabolik, efektivitas ventilasi dapat dinilai secara klinis (Krisanty,

2009).

Gangguan pemafasan (breathing) terjadi adanya gangguan

bersifat sentral maupun perifer. Kelainan perifer disebabkan karena

akibat dari adanya aspirasi atau trauma dada yang menyebabkan

pneumothorax atau gangguan gerakan pemafasan. Hal ini terjadi


32

karena kerusakan pusat napas di otak (Wahjoepramono, 2005).Oleh

sebab itu, hal yang pertama harus segera dinilai yaitu perhatikan

kontrol servikal in-line immobilisasi dengan buka leher dan dada

penderita, tentukan dengan laju dan dalamnya pemafasan, lakukan

inspeksi dan palpasi leher dan thoraks untuk mengenali

kemungkinan deviasi trakhea, espansi thoraks yang simetris,

perhatikan pemakaian otot-otot tambahan dan tanda-tanda cedera,

lakukan perkusi thoraks untuk menentukan redup atau hipersonor dan

auskultasi pada thoraks bilateral (Greenberg 2005 dalam Arsani,

2011). Disamping itu, nilai PaO2 yang direkomendasikan >75 mmHg

dan kadar PaCO2 yaitu 35-38 mmHg (Arifin, (2013).

Ketika pemafasan tidak adekuat, ventilasi dengan menggunakan

teknik bag-valve-face-mask ini cara yang lebih efektif jika dilakukan

oleh dua orang dimana kedua tangan dari salah satu petugas (ATLAS,

2004).

Adapun cara untuk melakukan pemasangan face-mask

(Arifin, 2012) :

a. Posisikan kepala lurus dengan tubuh

b. Pilih ukuran yang sesuai ketika sungkup muka dapat menutupi

hidung dan mulut pasien, tidak ada kebocoran

c. Letakkan sungkup muka bagian yang lebar di bagian mulut

d. Jari kelingking tangan kiri penolong diposisikan pada angulus

mandibula, jari manis dan tengah memegang rumus mandibula, ibu

jari dan telunjuk memegang serta memfiksasi sungkup muka.


33

e. Gerakan tangan kiri ke penolong untuk mengekstensikan seikit

kepala pasien.

f. Pastikan tidak ada kebocoran dari sungkup muka yang telah

dipasangkan.

g. Jika kesulitan, gunakan dengan kedua tangan secara bersama-

sama (tangan kanan dan kiri memegang mandibula dan sungkup

muka bersama-sama.

h. Pastikan jalan nafas bebas (lihat, dengar, rasa).

i. Jika yang digunakan AMBU-BAG, maka tangan kiri memfiksasi

sungkup muka, sedangkan tangan kanan digunakan untuk

memegang bag (kantong) resevoir sekaligus pompa nafas bantu

(squeeze-bag).

Pusbankes 118, (2015), Ventilasi dengan bag Valve Mask (BVM)

memiliki konsentrasi oksigen pada pemakaian BVM, yaitu :

a. (Tanpa tambahan oksigenyaitu oksigen dari udara kamar (21%)

b. Tambahkan oksigen yaitu maksimal tergantung aliran oksigen

(50%).

c. Kantong cadangan yaitu penderita rusaha bemafas dengan

diberikan nafas bantuan (assisted ventilation) (100%).

3. Circulation (Jalan Sirkulasi)

Perdarahan merupakan salah satu penyebab kematian setelah

truma (Krisanty, 2009). Gangguan sirkulasi (circulation) terjadi karena

cedera otak, dan faktor ekstra kranial. Gangguan ini terjadi kondisi
34

hipovolemia yang mengakibatkan pendarahan luar, atau ruptur organ

dalam abdomen, trauma dada, tamponade jantung atau

pneumothoraks dan syok septik. (Wahjoepramono, (2005).

Pada shock hipovolemik ini dibatasi dengan tekanan darah

kurang dari 90 mmHg dan dapat mengalami penurunan tekanan darah

yang berpengaruh terhadap tingkat kinerja otak (Arifin, 2013) Oleh

sebab itu, hal yang pertama harus segera dinilai adalah

mengetahui sumber perdarahan ekstemal dan intemal, tingkat

kesadaran, nadi dan periksa wama kulit dan tekanan darah

(Greenberg 2005 dalam Arsani, 2011& ATLS 2004), yaitu:

a. Tingkat kesadaran yaitu ketika volume darah menurun perfusi otak

juga berkurang yang dapat menyebabkan penurunan tingkat

kesadaran.

b. Wama Kulit, yaitu berupa wajah yang keabu-abuan dan kulit

ekstremitas yang pucat merupakan tanda hipovolemia.

c. Nadi adalah pemeriksaan nadi yang dilakukan pada nadi

terbesar seperti a. femoralis dan a. karotis (kanan kiri), untuk

kekuatan nadi, kecepatan dan irama

Dalam keadaan darurat yang tidak tersedia alat-alat, maka

secara cepat dapat memperkirakan tekanan darah dengan meraba

pulsasi (Dewi, 2013), yaitu :


35

a. Ketika teraba pulsasi pada arteri radial, maka tekanan darah

minimal 80 mmHg sistol

b. Ketika teraba pulsasi pada arteri brachial, maka tekanan darah

minimal 70 mmHg sistol

c. Ketika teraba pulsasi pada arteri femoral, maka tekanan darah

minimal 70 mmHg sistol

d. Ketika teraba pulsasi pada arteri carotid, maka tekanan darah

minimal 60 mmHg sistol

Pengelolaan dalam mengontrol perdarahan, Greenberg dalam

Arsani, 2011 antara lain :

a. Penekanan langsung pada sumber perdarahan ekstemal

Perdarahan ekstemal segera dihentikan dengan penekanan pada

luka. Cairan resusitasi yang dipakai yaitu Ringer Laktat atau NaCl

0,9% adanya dua jalur dari intra vena. Pemberian cairan jangan

diragukan, karena cedera sekunder akibat dari hipotensi lebih

berbahaya terhadap cedera otak dibanding edema pada otak

akibat adanya pemberian cairan yang berlebihan.

b. Kenali perdarahan intemal, kebutuhan untuk intervensi bedah

serta konsultasi pada ahli bedah

c. Pasangkan kateter IV 2 jalur ukuranterbesar sekaligus

mengambil sampel darah untuk pemeriksaan rutin, kimia darah,


36

tes kehamilan (pada wanita usia subur), golongan darah dan

cross-match serta Analisa Gas Darah (BGA).

d. Berikan cairan kristaloid telah dihangatkan dengan tetesan

tercepat, pasangkan PSAG/bidai pneumatik untuk mengontrol

perdarahan pada pasien fraktur pelvis.

e. Fraktur pelvis yang mengancam nyawa, cegah adanya

hipotermia dengan posisi tidur yaitu kepala diposisikan datar, cegah

head down (kepala lebih rendah dari leher) karena dapat

menyebabkan bendungan vena di kepala serta menaikkan tekanan

intracranial.
37

BAB III

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFENISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep

PASIEN Respon Time


IGD < 5 Menit
Manajemen
ABC
Tingkat
Pengetahuan  Airway
Perawat  Breathing
 Circulation

Lama Triase
2 – 5 Menit
 Baik
 Cukup
 Kurang

Keterangan :

= diteliti

= tidak diteliti

Gambar : Kerangka Konsep

37
38

B. Hipotesis Penelitian

1. HO: Tidak ada hubungan antara antara pemahanan perawat

dengan manajemen ABC (Airway, Breathing, Circulation) terkait

tingkat penanganan pasien gawat darurat di RSUD Haji Makassar.

2. Ha: Terdapat hubungan antara antara pemahanan perawat

dengan manajemen ABC (Airway, Breathing, Circulation) terkait

tingkat penanganan pasien gawat darurat di RSUD Haji Makassar.

C. Defenisi Operasional Variabel

NO VARIABEL DEVENISI OPERASIONAL


1. Tingkat  Pengetahuan merupakan hasil dari
Pengetahuan tahu seseorang terhadap objek melalui
indera yang dimilikinya yakni indra
pendengaran, indra penciuman, indra
penglihatan, indra penciuman, dan
indera peraba.
 Tingkat Pengetahuan memiliki 6
tingkatan yaitu :
- Pengetahuan (Knowledge)
- Pemahaman (comprehension)
- Penerapan (application)
- Analisis (Analysis)
- Sintesis (synthesis)
- Evaluasi (evaluation)
2 Manajemen ABC  Airway dan Breathing adalah tindakan
(Airway, Breathing yang dilakukan untuk membuka jalan
dan Circulation) nafas agar terbebas dari semua hal
yang menutup (partial or total block)
secara manual maupun dengan alat
dan dilanjutkan dengan pemberian
pentilasi
 Circulation adalah tindakan yang
dilakukan untuk memastikan sirkulasi
darah pasien lancar.
39

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan rencana penelitian yang dirancang

dengan matang sehingga peneliti mendapatkan jawaban dari pertanyaan

dalam penelitian ini (Setiadi, 2007). Metode penelitian yang digunakan

dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Penelitian deskriptif

dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya bertujuan untuk

melihat gambaran fenomena (termasuk kesehatan) yang terjadi di dalam

suatu populasi tertentu (Notoatmodjo, 2010) .

Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar memiliki berbagai

fasilitas kesehatan dan ruangan perawatan yang salah satunya Instalasi

Gawat Darurat. Menurut data rekam medis tahun 2022, rata-rata pasien

yang masuk di IGD kurang lebih 7-10 pasien perhari dan data kunjungan

pasien sekitar 300 pasien perbulan. Dimana pasien yang masuk ke IGD

terdiri dari pasien emergensi dan non-emergensi, yang memiliki fasilitas

ruang ruang Triage, ruang resucitasi, ruang Tindakan, Nurse Stasion,

ruang Dokter dan perawat, Ruang Observasi. Bed triage ada 2 dan bed

Tindakan ada 5, Bed resusitasi 1, total keseluruan ada 8 Bed, yang

mana dilengkapi dengan peralatan emergency (Emergency KIT, ECG

monitor pasien, Defibilator).

39
40

B. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

1. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian dilaksanakan di IGD Rumah Sakit Umum

Daerah Haji Makassar yang beralamat l. Dg. Ngeppe, Balang Baru,

Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilakukan selama 1 bulan mulai dari tanggal 3

Maret 2024 sampai dengan 5 April 2024. Data primer diambil dengan

obeservasi/ pengamatan langsung pada responden selama 1 bulan

dengan pembagian shiff yaitu 10 hari shiff pagi, 10 hari shiff sore,

10 hari siff malam, kemudian dilanjut pengolahan data.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri dari obyek

subjek (misalnya manusia, klien, pasien) yang memenuhi kriteria

yang telah ditetapkan oleh peneliti (Sugiyono, 2017). Populasi

dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan yang bertugas

di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Haji

Makassar selama 30 shiif jaga yang kemudian dibagi menjadi 3 shiff,

shiff jaga pagi 10 shiff jaga sore 10, shiff jaga malam 10. Dimana

yang bertugas jaga per shiif 2 – 4 orang.


41

2. Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah bagian dari populasi terjangkau yang

dapat dipergunakan sebagai subjek atau target penelitian melalui

sampling (Nursalam, 2015). Sampel pada penelitian ini adalah tenaga

kesehatan yang sedang melaksanakan shift jaga di Instalasi Gawat

Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar. Formasi

tenaga kesehatan di ruang IGD berjumlah 14 petugas dengan

kualifikasi pendidikan dokter umum 4, Ners. keperawatan 4, diploma

keperawatan 6 dan rata-rata sudah mengikuti pelatihan kegawat

daruratan antara lain (Advance Cardiac life support /ACLS, Advance

Trauma Life Support /ATLS, Basci Life Support /BCLS, Basic Trauma

Life support / BTLS, Penanggulangan Perderita gawat Darurat

/PPGD).

3. Teknik Sampling

Teknik sampling pada penelitian ini adalah nonprobability

sampling dengan cara Total sampling. Total sampling adalah teknik

untuk menentukan jumlah sampel dimana jumlah sampel sama

dengan jumlah populasi. Alasan mengambil Total sampling Karena

jumlah populasi yang kurang dari 100 maka dijadikan semua

sampel penelitian (Sugiyono, 2017). Pada penelitian ini sampel

yang digunakan adalah tenaga kesehatan (dokter dan perawat) yang

sedang siff jaga di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum

Daerah Haji Makassar.


42

4. Kriteria Sampel Penelitian

Penentuan kriteria sampel sangat membantu peneliti dalam

mengurangi bias dari hasil penelitian. Kriteria sampel dapat dibagi

menjadi 2 bagian (Notoatmodjo, 2012) adalah:

a. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah suatu karakteristik yang diperlukan secara

umum sebagai subjek penelitian dari suatu populasi yang akan

diteliti (Nursalam, 2015). Kriteria inklusi penelitian ini adalah:

Tenaga kesehatan yang bertugas di IGD bertugas jaga dan

bersedia berpartisipasi dalam penelitian.

b. Kriteri Eksklusi

Kriteria eksklusi adalah krakteristik populasi yang mengeluarkan

subjek karena memenuhi kriteria inklusi dari studi karena

alasan tertentu (Nursalam, 2015). Kriteria eksklusi pada

penelitian ini adalah:

1) Tenaga kesehatan yang tidak masuk kerja/cuti/ izin.

2) Tenaga kesehatan yang sedang mengikuti pelatihan

3) Tenaga kesehatan yang tidak bersedia untuk menjadi

responden.

D. Instrumen Penelitian

Alat survei adalah peralatan untuk mengumpulkan informasi yang

pastinya sesuai dengan jenis survei peneliti. Pada penelitian ini, kuesioner

digunakan sebagai alat survei dalam penelitian ini. Menurut (Masturoh,


43

2018) kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang berisi pertanyaan

atau pemyataan dari peneliti untuk dijawab oleh responden.

E. Teknik Pengelola Data

1. Pengolahan data

Merujuk pendapat (Masturoh, 2018) mengolah data memiliki

beberapa proses diantaranya:

a. Editing

Pengolahan merupakan tahap memeriksa informasi yang sudah

disatukan. Pemrosesan dilakukan karena data yang masuk

tidak atau mungkin tidak memenuhi persyaratan.

b. Coding

Mengoding merupakan tugas mengubah data dalam

bentuk karakter menjadi data dalam bentuk numerik.

c. Processing

Pengolahan merupakan tahap pengisian semua pertanyaan

dengan benar dan pengkodean jawaban responden ke dalam

kuesioner dalam aplikasi komputer pengolah data.

d. Cleaning Data

Pembersihan data adalah pemeriksaan ulang data yang

dimasukkan dengan benar atau bahwa terjadi kesalahan selama

entri data.
44

2. Analisis Data

Analisa data adalah tindakan setelah informasi dari semua

responden atau sumber yang berbeda telah dikumpulkan (Sugiono,

2018). Tinjauan ini, informasi yang telah dikumpulkan kemudian akan

ditangani dan dipecah menggunakan metode yang terukur. Proses

penyampaian informasi dan penanganan informasi menggunakan

pemrograman PC dengan memanfaatkan program Microsoft Excel dan

SPSS.

a. Analisis Univariat

Merupakan proses pengolahan data dalam bentuk grafik atau

tabel Nursalam (2014). Analisis ini untuk menghitung distribusi

dari frekuensi sehingga diketahui gambaran dari karakteristik

responden. Variabel respon yang termasuk dalam klasifikasi

berupa umur dan jenis kelamin. Sedangkan variabel kategorik pada

penelitian ini yaitu pendidikan terakhir, pelatihan, lama kerja dan

kompetensi perawat terkait pengkajian primer (primary survey).

b. Analisa Bivariat

Analisa bivariat untuk menganalisis faktor yang berhubungan

antara 2 variabel yang diduga berkorelasi Notoatmojo (2010).

Analisa bivariat pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

faktor yang berhubungan dengan kompetensi perawat terkait

pengkajian primer (primary survey). Sebelum kedua variabel

dilakukan uji statistik, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data


45

menggunakan chi square 2 x 2. Peneliti ingin mengetahui faktor

yang berhubungan dengan kompetensi perawat terkait pengkajian

primer (prmary survey). Kedua variabel masuk ke dalam jenis skala

yang sama yaitu ordinal.

c. Analisa Multivariat

Analisa Multivariat bertujuan untuk melihat sejauh mana

dampak dari semua faktor bebas pada faktor terikat.

Investigasi informasi dengan kambuh dihitung menggunakan

program.

F. Etika Penelitian

Etik penelitian adalah sesuatu yang begitu penting pada

penelitian, dengan demikian sebelum mengarahkan pemeriksaan, peneliti

awalnya melakukan permohonan izin di bidang keperawatan. Eksplorasi

ini hanya melibatkan responden yang akan dilibatkan secara

sengaja, tidak dipaksakan dan peneliti juga menerapkan standar moral

dalam memimpin penelitian ini untuk melindungi responden dari berbagai

kekhawatiran dan efek yang muncul selama latihan penelitian (Nursalam,

2015), yakni:

1. Informed Consent (Persetujuan Responden)

Informed Consent adalah sebuah perjanjian antara peneliti dan

responden penelitian dengan melampirkan formulir yang menyatakan

bahwa sampel siap menjadi responden. Informed consent diberikan

sebelum penelitian dilaksanakan caranya menyodorkan formulir


46

persetujuan agar jadi responden. Maksud dari informed consent

merupakan cara responden memahami maksud dan tujuan penelitian,

namun responden belum menghendaki sehingga peneliti

diharuskan menghargai hak responden.

2. Anonymity (Tanpa Nama)

Anomity merupakan bentuk kerahasiaan responden dan peneliti

sangat tidak dianjurkan untuk mencantumkan nama responden.

Dengan demikian, responden survei hanya dimintai untuk

memberitahukan kode/inisial yang itu adalah huruf awal responden.

Contohnya (M).

3. Beneficience (Manfaat)

Pada suatu penelitian harus mendapatkan keuntungan yang

maksimal untuk sasaran eksplorasi, jikalau responden tau tingkatan

cemasnya dengan demikian subjek riset bisa melakukan pencegahan

atau memberatnya tingkat cemas menggunakan banyak

upaya. Penelitian ini sangat baik karena dalam penelitian ini hanya

pertanyaan yang diberikan sebagai polling dan tidak ada

perawatan atau pemeriksaan yang lakukan.

4. Confidentially (Kerahasiaan)

Identitas responden adalah rahasia peneliti yang diberikan

penjaminnan oleh peneliti. Untuk keperluan pelaporan hasil penelitian,

hanya beberapa bagian data yang dipaparkan yang merupakan


47

hasil penelitian. Untuk informasi yang tidak diperlukan akan disimpan

dan tidak dipaparkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z., & Wahyuningsih, S. (2018). Kemampuan Perawat Dalam


Penatalaksanaan ABC (Airway, Breathing, Circulation)
Terhadap Keberhasilan Penanganan Kegawatdaruratan
Maternitas di ICU. The Indonesian Journal of Health Science,
April, 88. https://doi.org/10.32528/ijhs. v0i0.1527

Arif Mahrur, Isma yuniar, S. (2012). Jumal Ilmiah Kesehatan


Keperawatan, Volume12, No. 1 Februari 2016, 12(1), 36-43.

Habib, H., Sulistio, S., Unit, E., Mangunkusumo, C., Mulyana, R. M., &
Albar, I. A. (2016). Triase Modem Rumah Sakit dan Aplikasinya
di Indonesia Triase
Haryatun, N., & Sudaryanto, A. (2018). Perbedaan Waktu Tanggap
Tindakan Keperawatan Pasien Darurat RSUD Dr . Moewardi.
Berita Ilmu Keperawatan, 1(2), 69-74

Hem S, Wahyu Risma, R. N. (2015). Gambaran pengetahuan peran


perawat dalam ketetapan waktu tanggap penanganan kasus gawat
darurat di IGD RSUD Karanganyar.

Jaldell, H., Lebnak, P., & Arnompetchsathapom, A. (2014). Time Is


Money How Much the Monetary Value of Response Time for
Thai Ambulance Emergency Services. Value in Health, 17(5),
555-560.

Kemenkes RI. (2011). Pedoman Standar Pelayanan Instalasi Gawat


Darurat. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Maatilu, V., Mulyadi, & Malara, R. T. (2014). Faktor-Faktor Yang


Berhubungan Dengan Response Time Perawat Pada
Penanganan Pasien Gawat Darurat..

Maryuani, Anik, dan Y. (2009). Asuhan Kegawatdaruratan. Jakarta:


Trans Info Media Medis.
48

Musliha. (2010). Keperawatan gawat darurat Plus Contoh Askep


Dengan Pendekatan NANDA NIC NOC.

Notoatmodjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


cipta.

Notoatmodjo. (2012). Metodologi penelitian Kesehatan (Edisi revi).


Jakarta: Reneka Cipta.

Nursalam. (2015). IlmuKeperawatan Pendekatan Praktis. Jakarta:


Salemba Medika.

Setiadi. (2007). Konsep dan Penelitian Riset Keperawatan (Cetakan 1).


Jogyakarta: Graha Ilmu.

Sugiyono. (2017). Statiska untukpenelitian. Bandung: alfabeta.

Sutawijaya. (2009). Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta:


Aulia Publishing.

Anda mungkin juga menyukai