Sharing Session Jasa Marga - Contingency Plan
Sharing Session Jasa Marga - Contingency Plan
2
PER-2/MBU/03/2023 merupakan omnibus law BUMN sebagai upaya penataan
regulasi dan simplifikasi dari peraturan menteri BUMN
4
Konten pengaturan terkait penerapan manajemen risiko di dalam Permen
BUMN No. PER-2/MBU/03/2023
Sumber: PER-2/MBU/01/ 2023
I
Ketentuan Umum
Tujuan: Melindungi dan Menciptakan Nilai Bagi BUMN
II III IV
Kebijakan Manajemen Risiko
Perencanaan, Penerapan, Pemantauan dan Pelaporan Manajemen Risiko
Penerapan Manajemen Risiko secara efektif: 1) Evaluasi Manajemen Risiko
Peran Direksi & Dewan Komisaris 2) Kebijakan Laporan Manajemen Risiko
dan Prosedur 3) Proses Manajemen Risiko 4) Ketentuan tentang penyesuaian dan Triwulanan, Semesteran, Tahunan,
Pengendalian Intern Transisi BUMN terhadap Permen maks 1 Insidental
tahun
Wewenang Kementerian BUMN dalam Integrasi pada Proses Perencanaan
penerapan Manajemen Risiko BUMN Filosofi comply or explain dari BUMN Strategis dan Kontrak Manajemen
Kategori BUMN: BUMN Konglomerasi dan BUMN Wewenang Deputi untuk pemantauan dan Hal-hal lain yang diatur dalam Kepmen
Individu evaluasi penerapan Manajemen Risiko
Klasifikasi Intensitas Risiko BUMN: Sistemik A, V
Sistemik B, Signifikan, dan Netral
Ketentuan Penutup
Organ Pengelola Risiko BUMN beserta Tugas,
Wewenang dan Tanggung Jawabnya Penyesuaian penerapan Permen dan
Taksonomi Risiko konvergensi dari Permen lain
Menyusun strategi risiko Menyusun profil risiko, yang Menyusun contingency plan Memenuhi Menambahkan Melakukan
yang memuat (1) risk antara lain memuat peristiwa yang terdiri dari recovery organ indikator penilaian
appetite statement; (2) risk risiko, Key Risk Indicator dan plan dan recovery options pengelola penguatan tingkat
capacity, risk appetite, risk threshold-nya sebagai early serta resolution plan risiko sesuai penerapan Kesehatan
tolerance, risk limit; dan (3) warning signal, dan penilaian PERMEN 2 manajemen BUMN melalui
metrik strategi risiko efektivitas kontrol KBUMN 2023 risiko dalam corporate
KPI Direksi rating
Sumber : APS KBUMN Bagian C.9 dan Juknis Sumber : APS KBUMN Bagian H.1 dan Juknis Sumber : APS KBUMN Bagian C.6 Sumber : APS KBUMN Sumber : APS KBUMN Sumber : APS KBUMN
Permen BUMN 2 Permen BUMN 2 Timeline : Juni 2024 Bagian C.2 Bagian H.2 Bagian G.13
Timeline : Setiap penyusunan RJP dan RKAP Timeline : Setiap penyusunan RKAP dan sesuai Timeline: 24 Mar 2024 Timeline: Setiap Timeline: Mei 2024
Permen BUMN 2 (Maret 2024) penyusunan RKAP dan
sesuai Permen BUMN 2
(Maret 2024)
Menyusun perencanaan dan Melakukan Penilaian Indeks Menyusun Laporan Penerapan Pemantauan Risiko yang antara lain memuat Loss
menerapkan struktur, Kematangan Risiko (Risk Event Database, hasil internal control testing, hasil stress testing, perhitungan
proses, dan hasil tata kelola Maturity Index) 2024 komposit risiko
terintegrasi
Sumber : APS KBUMN Bagian H.1 dan Juknis Sumber : APS KBUMN Bagian H.3 Sumber : Juknis Permen BUMN 2
Permen BUMN 2 Timeline : TW III 2024 Timeline : Triwulanan, Tahunan, dan Insidental
Timeline : Setiap penyusunan RKAP dan sesuai
Permen BUMN 2 (Maret 2024)
Peraturan Menteri BUMN RI APS untuk RKAP Tahun 2024 APS untuk RKAP Tahun 2025
Nomor PER-2/MBU/03/2023 Nomor S-491/MBU/09/2023 Nomor S-468/MBU/09/2024
Salah satu poin penting dalam Bagi BUMN Sistemik A di luar dari BUMN HIMBARA, wajib • BUMN Sistemik A diwajibkan untuk menyusun rencana darurat
PER-2/MBU/03/2023 sebagai menyusun rencana darurat (contingency plan) dengan (contingency plan) sebagaimana diatur dalam PER-
berikut: ketentuan, di antaranya: 2/MBU/03/2023 dan APS KBUMN dan disampaikan kepada
1. Ringkasan eksekutif KBUMN setiap tahun paling lambat setiap akhir bulan Juni
Pasal 67 ayat (1) huruf e: 2. Gambaran umum perusahaan setelah memperoleh persetujuan Dewan Komisaris/Dewan
“Kebijakan Manajemen Risiko … 3. Strategi rencana aksi (recovery plan) dan opsi pemulihan Pengawas serta pengesahan dari pemegang saham pengendali
paling sedikit memuat: (recovery options) serta opsi resolusi (resolution plan) • Berdasarkan APS No. S-468/MBU/09/2024 terdapat perluasan
penyusunan rencana darurat terhadap kedaruratan (contingency) kewajiban penyusunan contingency plan antara lain terhadap:
(contingency plan) dalam kondisi 4. Strategi pengungkapan rencana aksi (recovery plan) 1. BUMN Sistemik B
terburuk (worst case scenario)” terhadap kedaruratan (contingency) kepada pihak internal 2. Anak Perusahaan dari BUMN Sistemik A
dan pihak eksternal dengan menetapkan tata kelola fungsi Disamping itu terdapat perluasan cakupan indikator yaitu
penyediaan informasi, sistem informasi manajemen, dan indikator operasional yang harus dipertimbangkan dalam
kerangka komunikasi. penyusunan contingency plan
8 Sumber: Peraturan Menteri BUMN RI Nomor PER-2/MBU/03/2023; APS untuk RKAP Tahun 2025 Nomor S-468/MBU/09/2024
Sejarah dari penyusunan Recovery and Resolution Plan
Krisis keuangan global 2008 memberikan dampak signifikan terhadap sistem keuangan global. Dana talangan besar-
besaran oleh regulator dikeluarkan untuk mencegah krisis. Untuk mencegah terulangnya krisis dan keluarnya dana
talangan, regulator memerintahkan bank untuk mengembangkan Recovery dan Resolution Plan.
9
Overview contingency plan
Suatu Rencana Pemulihan akan dipicu ketika suatu Menetapkan kerangka kerja
Memberikan keyakinan kepada
perusahaan menghadapi situasi stress yang ekstrem. Preventif: dan langkah-langkah yang
pihak berwenang bahwa
Rencana tersebut merinci langkah-langkah yang Menyelamatkan akan diambil oleh
perusahaan dapat pulih dari
dirancang untuk menjaga keberlanjutan perusahaan perusahaan perusahaan untuk pulih dari
situasi stress yang ekstrem
sebagai perusahaan yang berkelanjutan. situasi stress
Presentation title
10
Contigency plan berdasarkan aspirasi pemegang saham BUMN
Contingency Action
Business As Usual
Recovery Plan Resolution Plan
Memitigasi situasi yang buruk atau mencegah Memitigasi krisis dan melakukan recovery:
Manajemen risiko yang berkelanjutan: terjadinya krisis: Menstabilkan kondisi perusahaan pada saat kejadian
Identifikasi dan mitigasi risiko-risiko utama Memitigasi potensi situasi krisis menggunakan krisis dengan memantau indikator-indikator recovery
langkah-langkah contingency dan menerapkan opsi-opsi recovery
Indikator Contingency
BUMN Sistemik A wajib melakukan pembaharuan contingency plan secara berkala, disertai dengan hasil pengujian (stress testing) atas
seluruh indikator yang telah ditetapkan
Sumber: Materi Sosialisasi Aspirasi Pemegang Saham (Kementerian BUMN); APS untuk RKAP Tahun 2024 Nomor S-491/MBU/09/2023; APS untuk RKAP Tahun 2025 S-468/MBU/09/2024
11
Overview terkait
Stress Testing
Konsep dasar stress testing
Best
Tingkat
Probabilitas
Worst
(Low) Dampak (High)
i) Revenue at risk;
ii) Net income at risk;
i) Postur proyeksi keuangan;
iii) Equity at risk;
Output iv) Cashflow at risk;
ii) Financial ratio yang ditetapkan pada indikator
v) Indikator kinerja perusahaan: permodalan, dalam recovery plan.
likuiditas, rentabilitas, portofolio.
Tujuan dari disusunnya contingency plan (rencana darurat) agar Manajemen dapat melakukan rencana aksi untuk memulihkan kondisi BUMN ataupun kegiatan penanganan
atau penyelesaian BUMN yang ditetapkan sebagai perusahaan gagal (default). Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN No. PER-2/MBU/03/2023 dan Aspirasi Pemegang
Saham dari Kementerian BUMN yang dikombinasikan dengan pengalaman kami, akan digunakan kerangka contingency plan dengan ilustrasi sebagai berikut:
i. Ringkasan Eksekutif
iii. Strategi rencana aksi (recovery plan) dan iv. Strategi pengungkapan rencana aksi (recovery
ii. Gambaran Umum Perusahaan
rencana resolusi (resolution plan) plan) terhadap kedaruratan (contingency)
Kondisi dan profil perusahaan Indikator yang digunakan dalam rencana aksi
(recovery plan) meliputi indikator operasional,
keuangan, dan lainnya Tata kelola fungsi penyediaan informasi
Jaringan kantor dan anak perusahaan
Pemicu terjadinya tingkat kedaruratan (trigger
Struktur korporasi anak perusahaan level) dari setiap indikator
termasuk kepemilikan sampai dengan ultimate
shareholders dan perusahaan terelasi (sister
Kajian opsi pemulihan (recovery options) dan
company) Sistem informasi manajemen
penilaian kelayakan dari setiap opsi pemulihan
Tujuan dari disusunnya contingency plan (rencana darurat) agar Manajemen dapat melakukan rencana aksi untuk memulihkan kondisi BUMN ataupun kegiatan penanganan
atau penyelesaian BUMN yang ditetapkan sebagai perusahaan gagal (default). Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN No. PER-2/MBU/03/2023 dan Aspirasi Pemegang
Saham dari Kementerian BUMN yang dikombinasikan dengan pengalaman kami, akan digunakan kerangka contingency plan dengan ilustrasi sebagai berikut:
i. Ringkasan Eksekutif
iii. Strategi rencana aksi (recovery plan) dan iv. Strategi pengungkapan rencana aksi (recovery
ii. Gambaran Umum Perusahaan
rencana resolusi (resolution plan) plan) terhadap kedaruratan (contingency)
Kondisi dan profil perusahaan Indikator yang digunakan dalam rencana aksi
(recovery plan) meliputi indikator operasional,
keuangan, dan lainnya Tata kelola fungsi penyediaan informasi
Jaringan kantor dan anak perusahaan
Pemicu terjadinya tingkat kedaruratan (trigger
Struktur korporasi anak perusahaan level) dari setiap indikator
termasuk kepemilikan sampai dengan ultimate
shareholders dan perusahaan terelasi (sister
Kajian opsi pemulihan (recovery options) dan
company) Sistem informasi manajemen
penilaian kelayakan dari setiap opsi pemulihan
17 Topik pembahasan
Gambaran Umum Perusahaan di PT Jasa Marga
Jaringan kantor dan anak Struktur korporasi perusahaan Keterkaitan usaha baik secara intra-
Profil Legalitas perusahaan yang dicantumkan terdiri dari: group maupun eksternal
adalah yang menguraikan hubungan sebagai
memiliki salah satu kriteria: 17 (tujuh belas) Anak berikut:
Visi dan Misi Perusahaan
Berkontribusi dalam aktivitas
1 5 (lima) Entitas Asosiasi Hubungan Keuangan
pencapaian laba
Struktur Kepemilikan dan 2 (dua) Ventura
Menanggung risiko besar dalam
Bersama Kesepakatan Dukungan
skenario terburuk yang dapat
Struktur Kepengurusan dan 2 membahayakan kelangsungan 6 (enam) Anak Perusahaan Keuangan Intra-Group
Organisasi usaha perusahaan secara di bawah Kepemilikan PT
konsolidasi JTT, 2 (dua) Entitas Asosiasi
Penyertaan Modal
Aktivitas Bisnis Utama dan JTT dan 2 (dua) Ventura
Penunjang Tidak dapat dibubarkan atau Bersama JTT
3 ditutup tanpa memicu risiko yang
Eksposur Utang
besar terhadap perusahaan 2 (dua) Anak Perusahaan di
Rencana Bisnis
bawah Kepemilikan PT JMRB
Berperan penting bagi stabilitas dan 2 (dua) Aset Keuangan
4 Eksposur Piutang
sektor industri BUMN berada JMRB
Strategi Pengelolaan Risiko
Melakukan aktivitas operasional
dan aktivitas pengelolaan risiko 1 (satu) Aset Keuangan PT Kewajiban Produk dan/atau Jasa
Anak Perusahaan 5 yang mendukung langsung JMTO yang Signifikan kepada Mitra
pelaksanaan fungsi bisnis Bisnis Utama
perusahaan 12 (dua belas) aset
Sumber: keuangan yang dimiliki
Laporan Tahunan 2023 Jasa Marga Sumber:
17 (Seluruh) Anak
Draf RJPP 2025-2029 Laporan Keuangan Anak Perusahaan 2023,
Perusahaan masuk dalam Laporan Keuangan Audited Konsolidasi, dan
RKAP 2024 Sumber:
PER-2/MBU/03/2023 dan Juknis terkait Jaringan Material Laporan Keuangan Audited 2024 TW1 Kuesioner Pefindo
18
Jaringan Kantor
dan Anak Perusahaan
Jaringan Kantor dan Anak Perusahaan
Threshold Jaringan Kantor dan Anak Perusahaan
Threshold Kriteria
No Kriteria Indikator Utama Threshold
Realisasi Laba terhadap Laba
1 Berkontribusi dalam aktivitas pencapaian laba >5%
Konsolidasi
Menanggung risiko besar dalam skenario terburuk yang dapat membahayakan kelangsungan Opex+Capex terhadap Opex+Capex
2 > 5%
usaha perusahaan secara konsolidasi Konsolidasi
3 Tidak dapat dibubarkan atau ditutup tanpa memicu risiko yang besar terhadap perusahaan Penyertaan Saham Persentase > 50%
Signifikansi
4 Berperan penting bagi stabilitas sektor industri BUMN berada Pangsa Pasar Kualitatif
peran
Relevansi
Melakukan aktivitas operasional dan aktivitas pengelolaan risiko yang mendukung langsung
5 Dependency Assessment Kualitatif aktivitas
pelaksanaan fungsi bisnis perusahaan
operasional
Kontribusi terhadap Laba Memberikan gambaran Penilaian akurat terkait Fokus pada aktivitas pencapaian
Konsolidasi signifikansi anak perusahaan pengaruh anak perusahaan laba berdasarkan target
dalam aspek pendapatan grup terhadap profitabilitas grup
Mengukur pengaruh anak
Tidak menggambarkan kontribusi
perusahaan dalam Tidak menggambarkan Tidak menggambarkan aktivitas dari segi ukuran terhadap total laba
menghasilkan profitabilitas anak perusahaan pencapaian pendapatan grup
pendapatan total induk
Catatan: Catatan: Catatan:
Mengukur pendapatan saja dinilai kurang Direkomendasikan karena Perbandingan dengan target RKAP saja
relevan menggambarkan efisiensi anak menggambarkan efisiensi anak usaha tidak menggambarkan kontribusi anak
usaha dalam pencapaian laba grup usaha terhadap grup
Kriteria 2 Menanggung risiko besar dalam scenario terburuk yang dapat membahayakan kelangsungan usaha perusahaan secara konsolidasi
OPSI 1 OPSI 2
Mengukur biaya yang diperlukan untuk pemeliharaan asset Mengukur biaya yang diperlukan untuk memperbaiki asset
dalam scenario terburuk. Pendekatan menggunakan Biaya anak perusahaan dalam scenario terburuk. Pendekatan ini
Opex terhadap Opex Konsolidasi. menggunakan jumlah historical capex dan biaya opex terhadap
Total Capex dan Opex consolidated.
Rumus:
Rumus:
Capex (Historical) + Opex
Biaya Opex
Biaya Opex Konsolidasi Biaya Capex (Historical) + Opex
Konsolidasi
Catatan: Catatan:
Mengingat adanya perbedaan aktivitas usaha anak grup, Opsi ini dinilai lebih relevan mengingat pertumbuhan asset Perusahaan
mempertimbangkan beban operasional saja dinilai kurang memadai diiringi dengan semakin besarnya operasional
Kriteria 3 Tidak dapat dibubarkan atau ditutup tanpa memicu risiko yang besar terhadap perusahaan
OPSI 1 OPSI 2
Mengukur posisi strategis anak perusahaan berdasarkan jumlah Mengukur posisi strategis anak perusahaan berdasarkan
penyertaan saham persentasi kepemilikan
Memberikan gambaran integrasi anak perusahaan terhadap Persentase kepemilikan yang signifikan mencerminkan derajat
struktur permodalan kepentingan anak perusahaan
Jumlah kepemilikan saham Persentase kepemilikan saham tidak selalu mencerminkan peranan
strategis dalam struktur grup
Catatan: Catatan:
Memperhitungkan nominal penyertaan saham tidak menunjukkan Opsi ini lebih direkomendasikan karena menunjukkan signifikansi
signifikansi kepemilikan anak perusahaan kepemilikan Perusahaan anak.
Kriteria 5 Melakukan aktivitas Operasional dan aktivitas Pengelolaan Risiko yang mendukung langsung pelaksanaan fungsi bisnis perusahaan
Kriteria 4 Kriteria 5
Peran dan Fungsi Anak Perusahaan (Kualitatif)
Dependency Assessment – Kualitatif
Catatan: Catatan:
Pendekatan kualitatif dinilai cukup untuk menentukan peran anak Pendekatan kualitatif dinilai cukup untuk menentukan kesesuaian
usaha yang memiliki aktivitas bisnis yang selaras dengan aktivitas peran anak usaha dalam kegiatan operasional dan bisnis terhadap
bisnis induk induk
Skenario dalam cakupan stress testing adalah suatu kondisi buruk yang dapat mengancam keberlangsungan usaha. Skenario yang digunakan bersifat tidak
terduga namun dapat terjadi. Selanjutnya setelah dilakukan penentuan skenario, dilakukan pelaksanaan stress testing. Stress testing tidak mencakup seluruh
risiko finansial dan dampak kerugian, melainkan hanya mencakup kondisi dimana perusahaan menghadapi gangguan finansial secara ekstrem.
Panduan EBA Fungsi dari stress test adalah untuk menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan dalam skenario tertentu yang berpotensi
dan POJK 14/2017 mengancam keberlanjutan perusahaan, serta menggambarkan efektivitas recovery dan resolution plan.
No. Kriteria Skenario Stress berdasarkan European Banking Authority (EBA) 2014
1. Skenario harus setidaknya meliputi tiga jenis skenario, yaitu market-wide, idiosyncratic, dan combined scenario.
2. Skenario harus didasarkan pada peristiwa yang paling relevan bagi perusahaan atau grup terkait, dengan mempertimbangkan
faktor-faktor lainnyayang relevan, seperti model bisnis dan pendanaan, kegiatan dan struktur perusahaan, ukuran atau
keterhubungannya dengan perusahaan/lembaga lain atau sistem keuangan secara umum, dan terutama, kerentanan atau
kelemahan yang teridentifikasi dari perusahaan atau grup tersebut.
3. Peristiwa yang terjadi dalam skenario akan mengancam kegagalan perusahaan atau kelompok tersebut, kecuali langkah
pemulihan diimplementasikan dengan tepat waktu.
4. Skenario harus didasarkan pada peristiwa yang tidak biasa, tapi mungkin terjadi.
5. Setiap skenario harus mencakup, jika relevan, penilaian terhadap dampak peristiwa pada setidaknya masing-masing aspek berikut
dari perusahaan atau grup terkait:
a. Modal yang tersedia;
b. Likuiditas yang tersedia;
c. Profil risiko;
d. Profitabilitas;
e. Operasional; dan
f. Reputasi.
No. Kriteria Skenario Stress berdasarkan European Banking Authority (EBA) 2014
6. Dalam merancang skenario berdasarkan peristiwa market-wide, harus diperhitungkan:
a. Penurunan kondisi makroekonomi;
b. Penurunan likuiditas yang tersedia di pasar;
c. Peningkatan risiko negara dan arus keluar modal yang umum dari negara tempat beroperasi yang signifikan bagi perusahaan
atau grup tersebut;
d. Pergerakan yang merugikan dalam harga aset di satu atau beberapa pasar.
Tujuan dari disusunnya contingency plan (rencana darurat) agar Manajemen dapat melakukan rencana aksi untuk memulihkan kondisi BUMN ataupun kegiatan penanganan
atau penyelesaian BUMN yang ditetapkan sebagai perusahaan gagal (default). Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN No. PER-2/MBU/03/2023 dan Aspirasi Pemegang
Saham dari Kementerian BUMN yang dikombinasikan dengan pengalaman kami, akan digunakan kerangka contingency plan dengan ilustrasi sebagai berikut:
i. Ringkasan Eksekutif
Kondisi dan profil perusahaan Indikator yang digunakan dalam rencana aksi
(recovery plan) meliputi indikator operasional,
keuangan, dan lainnya Tata kelola fungsi penyediaan informasi
Jaringan kantor dan anak perusahaan
Pemicu terjadinya tingkat kedaruratan (trigger
Struktur korporasi anak perusahaan level) dari setiap indikator
termasuk kepemilikan sampai dengan ultimate
shareholders dan perusahaan terelasi (sister
Kajian opsi pemulihan (recovery options) dan
company) Sistem informasi manajemen
penilaian kelayakan dari setiap opsi pemulihan
29 Topik pembahasan
Keterkaitan skenario stress, stress testing, indikator, dan trigger level
Skenario dan Dampak Kondisi Stress Indikator & Trigger Level Recovery Option
Option Obstacles/Mitigants
Likuiditas Action D O2
Scenario B Profitability
Market-wide requirements Pemulihan Action E
Crisis
Rentabilitas O3
Action F
Action H
Scenario C
Combined Perbaikan
Operational analysis B. Operasional Action I O4
30
Metodologi penyusunan trigger level untuk setiap indikator
Penentuan indikator yang akan digunakan untuk aktivasi opsi recovery adalah berdasarkan regulasi yang berlaku serta frekuensi pemantauan. Penentuan trigger
level merujuk pada Surat Menteri BUMN Nomor S-468/MBU/09/2024 Tanggal 30 September 2024 Tentang Aspirasi Pemegang Saham/Menteri untuk
Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan Tahun 2025 dimana trigger level terbagi menjadi 3 fase yang terdiri dari “Pencegahan”, “Pemulihan”, dan
“Perbaikan”.
Dasar Penentuan Frekuensi
Indikator Trigger Level Untuk Trigger Level Pemantauan
Average Value of Historical
Pencegahan : 1,00 ≤ X ‹ 1,50 kali
Data
Range between
Debt to Equity Ratio Average & Internal Monthly
Pemulihan: 1,50 ≤ X ‹ 2,00 kali
(DER) Threshold
DER Realisasi
2 Analysis Data
1,8
PT XYZ
1,5 1,26 Peer
Internal Industry Regulation
1 1,23 0,98 Highest Lowest Average
1,25 Threshold Avg
0,98
0,92
0,5
1,80 0,92 1,35 ≥ 2,00 2,27 ≥ 2,50
0
2016 2018 2020 2022 2024 2026
Opsi Recovery akan teraktivasi ketika trigger level “Pencegahan” tersentuh selama frekuensi pemantauan 2x secara
berturut-turut
31
Metodologi dalam Pengembangan Stress Test
Keseluruhan prosedur stress test digunakan untuk mengidentifikasi berbagai Stress test bertujuan untuk memperkirakan seberapa besar kekuatan atau
kejadian yang berpotensi memicu opsi recovery atau resolusi untuk kapasitas yang dimiliki oleh opsi recovery dan resolution ketika dilaksanakan.
Perusahaan.
Definisi Skenario dan Kebutuhan dalam Stress Test Berdasarkan EBA dan OJK
Definisi Skenario
Skenario dalam cakupan stress testing adalah suatu kondisi buruk yang dapat mengancam keberlangsungan usaha. Skenario yang digunakan bersifat tidak
terduga namun dapat terjadi . Kegiatan Stress Test tidak mencakup semua kerugian dan risiko finansial, melainkan hanya kondisi dimana perusahaan
menghadapi gangguan finansial secara ekstrem 1.
Panduan EBA Fungsi dari Stress Test adalah untuk menggambarkan kondisi keuangan sebuah perusahaan dalam skenario tertentu yang
dan POJK 14/2017 berpotensi mengancam keberlanjutan perusahaan 2, serta menggambarkan efektivitas recovery dan resolution plan.
Market-wide Idiosyncratic
Kegagalan pihak penting berelasi Kegagalan pihak rekanan
Tujuan dari disusunnya contingency plan (rencana darurat) agar Manajemen dapat melakukan rencana aksi untuk memulihkan kondisi BUMN ataupun kegiatan penanganan
atau penyelesaian BUMN yang ditetapkan sebagai perusahaan gagal (default). Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN No. PER-2/MBU/03/2023 dan Aspirasi Pemegang
Saham dari Kementerian BUMN yang dikombinasikan dengan pengalaman kami, akan digunakan kerangka contingency plan dengan ilustrasi sebagai berikut:
i. Ringkasan Eksekutif
iii. Strategi rencana aksi (recovery plan) dan iv. Strategi pengungkapan rencana aksi (recovery
ii. Gambaran Umum Perusahaan
rencana resolusi (resolution plan) plan) terhadap kedaruratan (contingency)
Kondisi dan profil perusahaan Indikator yang digunakan dalam rencana aksi
(recovery plan) meliputi indikator operasional,
keuangan, dan lainnya Tata kelola fungsi penyediaan informasi
Jaringan kantor dan anak perusahaan
Pemicu terjadinya tingkat kedaruratan (trigger
Struktur korporasi anak perusahaan level) dari setiap indikator
termasuk kepemilikan sampai dengan ultimate
shareholders dan perusahaan terelasi (sister c
Kajian opsi pemulihan (recovery options) dan
company) Sistem informasi manajemen
penilaian kelayakan dari setiap opsi pemulihan
37 Topik pembahasan
Ilustrasi aktivitas opsi pemulihan (1/2)
38
Ilustrasi aktivitas opsi pemulihan (1/2)
EBA secara spesifik mengatur terkait dengan kriteria pengembangan recovery plan yang ideal, yang meliputi 3 (kriteria) yaitu completeness
(kelengkapan), quality (kualitas), dan credibility (kredibilitas)
Hal yang perlu diperhatikan untuk memenuhi kriteria Hal yang perlu diperhatikan untuk memenuhi kriteria Hal yang perlu diperhatikan untuk memenuhi kriteria
ini adalah: ini adalah: ini adalah:
a. Kelengkapan data dan informasi yang digunakan a. Kejelasan dari recovery plan yang dikembangkan, a. Integrasi antara recovery plan dengan tata kelola
dalam pengembangan recovery plan, mencakup mencakup deskripsi, definisi, asumsi, dan perusahaan secara umum, proses internal dari
struktur organisasi, kondisi bisnis, atau situasi referensi yang digunakan. perusahaan, dan kerangka manajemen risiko.
keuangan sejak pengajuan terakhir rencana b. Relevansi informasi yang digunakan untuk b. Kecukupan dari recovery options yang
pemulihan mengembangkan recovery plan dan yang terdapat dikembangkan di dalam recovery plan. Opsi yang
b. Kelengkapan metode analisis yang dilakukan di dalam recovery plan tersebut, seperti informasi dikembangkan memungkinkan Perusahaan untuk
dalam pengembangan recovery plan terkait risiko, hambatan, dampak, dan lain menanggapi berbagai skenario tekanan keuangan
c. Kelengkapan skenario stress yang digunakan yang sebagainya. dengan cepat dan efektif.
menjadi dasar dari pengembangan recovery plan c. Konsistensi dari recovery plan, yang berarti c. Recovery plan yang dikembangkan bersifat
d. Kelengkapan dari indikator yang digunakan untuk aktivitas yang sudah didefinisikan bisa realistis untuk dilaksanakan saat kondisi krisis
setiap recovery options diimplementasikan pada kondisi terjadinya terjadi.
skenario stress.
39
Kajian yang perlu dilakukan atas opsi pemulihan
Kajian Opsi Pemulihan berdasarkan Berikut merupakan pendekatan EY dalam melakukan kajian opsi pemulihan yang telah disesuaikan
berdasarkan dokumen APS:
APS
Indikator Kajian Opsi Pemulihan Yang Diusulkan1
Penentuan Urutan Opsi Pemulihan Mapping APS Data yang Dibutuhkan (Non-Exhaustive)
Kajian opsi pemulihan (recovery a. Dampak finansial atau kualitatif (iii), (v) 1. Informasi preseden pelaksanaan opsi
options) dilakukan berdasarkan: yang didapatkan dari 2. Data existing terkait utang, aset, tarif,
pelaksanaan opsi pemulihan dan lain sebagainya yang relevan
i. Urutan pilihan dengan opsi
ii. Penilaian kelayakan dari setiap b. Estimasi durasi pelaksanaan opsi (iv), (v) 1. Informasi preseden pelaksanaan opsi
pemulihan 2. Kebijakan/prosedur pelaksanaan
opsi pemulihan aktivitas yang serupa dengan
pelaksanaan opsi (jika ada)
iii. Penilaian terhadap dampak dari
setiap opsi pemulihan c. Risiko dari pelaksanaan opsi (ii) 1. Informasi terkait risiko yang perlu
pemulihan dipertimbangkan untuk melaksanakan
iv. Penilaian terhadap jangka waktu opsi
yang diharapkan untuk d. Hambatan dan kesiapan (ii), (v) 1. Informasi potensi hambatan dan
pelaksanaan opsi pemulihan operasional pelaksanaan opsi mitigasi hambatan atas hambatan
pemulihan terkait
v. Efektivitas dari setiap opsi 2. Informasi kesiapan operasional yang
mencakup kesiapan input
pemulihan
data/informasi, personil/grup, dan
stakeholder yang terlibat
Disclaimer: Hasil Penentuan Urutan Opsi Pemulihan diharapkan dapat membantu perusahaan dalam memilih opsi yang akan dijalankan terlebih dahulu.
Namun, pelaksanaan opsi pemulihan pada akhirnya akan kembali kepada keputusan dari manajemen.
Page 40 Sumber: 1) APS No S-491/MBU/09/2023 & APS No. S-468/MBU/09/2024 untuk Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan Tahun 2024 & 2025,
Private and confidential – Draft for internal discussion
EY Approach
Ilustrasi aktivitas opsi pemulihan (1/2)
Penjualan aset tetap adalah proses di mana sebuah perusahaan atau entitas lainnya menjual aset fisik yang dimiliki untuk mendapatkan dana tunai atau nilai
dalam bentuk lainnya. Aset tetap adalah aset yang dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan untuk mendukung operasi bisnis perusahan dan diharapkan dapat
memberikan manfaat ekonomi dalam jangka waktu yang panjang, seperti tanah, bangunan, peralatan, mesin, atau kendaraan. Nilai dampak yang diperoleh
Perusahaan jika menjalankan opsi ini adalah sebesar Rp24,42 Miliar.
No Urutan Aktivitas Pelaksanaan Opsi Owner Waktu
1 Mengidentifikasi potential asset yang dapat dijual. Corporate Planning & Portfolio Management
Group ± 1 bulan
Procurement & Fixed Asset Group
2 Melakukan estimasi nilai aset untuk menetapkan harga yang sesuai. Corporate Finance & Investor Corporate Finance & Investor Relations
Relations Group bekerja sama dengan Accounting & Tax Group dapat meminta jasa KJPP sebagai Group
± 1 bulan
penilai independen apabila dibutuhkan. Accounting & Tax Group
Procurement & Fixed Asset Group
3 Menginisiasi Rapat Direksi untuk mempertimbangkan opsi penjualan aset tetap. Rapat Direksi Direksi
membahas aset yang akan dijual sesuai dengan analisis estimasi aset tetap yang telah dilakukan oleh Procurement & Fixed Asset Group
± 2 bulan
KJPP. Accounting & Tax Group ;Concession
Business Planning
4 Setelah disetujui Direksi, Procurement and Fixed Asset Group dapat memulai melakukan pemasaran Procurement & Fixed Asset Group
dan menentukan penawaran yang terbaik dari buyer. Corporate Communication & Community Corporate Communication & Community
Development ± 1 bulan
Development dapat menggunakan berbagai jenis media pemasaran seperti iklan di media cetak, media
sosial, dan lain-lain.
5 Melanjutkan proses penjualan dan penyelesaian dokumen apabila Procurement and Fixed Asset Group Procurement & Fixed Asset Group
telah menemukan pembeli yang sesuai. Procurement and Fixed Asset Group akan menginformasikan Accounting & Tax Group ± 1 bulan
kepada Accounting & Tax Group untuk melakukan pembukuan penjualan aset tetap tersebut.
Total waktu implementasi opsi ± 6 bulan
Risiko Implementasi Hambatan Implementasi Kesiapan Operasional
1. Potensi tidak memperoleh persetujuan dari RUPS 1. Proses mencari buyer membutuhkan 1. Membutuhkan persetujuan pemegang saham
2. Potensi tidak menemukan buyer untuk melakukan transaksi waktu yang cukup panjang dan 2. Membutuhkan keterlibatan unit/fungsi terkait
3. Potensi tidak dapat menemukan penawaran harga yang sesuai proses yang cukup kompleks 3. Membutuhkan data dan informasi yang relevan
4. Potensi tidak mendapatkan hasil penjualan yang sesuai dengan 2. Rentan terhadap volatilitas pasar 4. Membutuhkan kebijakan/prosedur yang formal
kebutuhan dana untuk mendukung pelaksanaan opsi
Page 41 5. Potensi timbulnya citra negatif akibat pelaksanaan opsi pemulihan
41
Ilustrasi aktivitas opsi pemulihan (2/2)
Opsi Pemulihan :
Nilai Dampak* 1 2 3
Penjualan Aset Tetap
Nilai Dampak =
Setiap opsi recovery perlu dilakukan penilaian untuk prioritisasi pelaksanaan
(3x25%) + (2x25%) + (1x25%) + (1x25%) = 1,75 sebagai kajian dan penilaian kelayakan dari opsi recovery yang telah
*) Nilai pada tabel ini merupakan ilustrasi ditentukan. Opsi recovery yang memiliki nilai/skala dampak tertinggi akan
42 menjadi opsi recovery yang didahulukan (prioritas).
Ilustrasi Hasil Analisis Kelayakan Dampak Opsi Recovery
No Opsi Recovery Risiko Hambatan dan Dampak Finansial Durasi Waktu Nilai Urutan
Kesiapan Operasional Pelaksanaan Dampak Opsi
Permodalan
1 Write-down dan/atau Konversi Instrumen Utang 2 1 3 3 2,25 1
2 Divestasi atas Kepemilikan Perusahaan Anak/Terelasi 1 2 3 1 1,85 2
3 Menerbitkan Saham dengan Hak Memesan Efek Terlebih
2 2 1 1 1,5 3
Dulu/HMETD
4 Setoran Modal dari Pemegang Saham Pengendali (PSP) 2 2 1 1 1,5 4
Likuiditas
1 Penerbitan/Perpanjangan Pinjaman Jangka Pendek dan
3 2 2 3 2,45 1
Menengah
2 Restrukturisasi Kredit (Utang) 3 1 3 2 2,3 2
3 Penerbitan Instrumen Utang 3 2 2 2 2,25 3
4 Menghentikan dan/atau Menunda Konstruksi 1 2 1 3 1,65 4
Rentabilitas
1 Peningkatan Aktivitas Penagihan Piutang 3 2 2 3 2,45 1
2 Penjualan Aset Tetap 3 2 1 2 1,95 2
3 Peningkatan/Penyesuaian Tarif Jalan Tol 2 1 2 2 1,75 3
4 Program Efisiensi Biaya Konsolidasi 3 1 1 2 1,7 4
Kualitas Aset
1 Program Efisiensi Biaya Anak Perusahaan 3 2 1 3 2,15 1
2 Reprioritisasi Inisiatif Strategis 2 1 2 3 1,95 2
3 Restrukturisasi Kredit (Piutang) 3 1 1 2 1,7 3
*) Urutan pelaksanaan opsi berdasarkan skoring dari 5 kriteria analisis kelayakan dampak, dan merupakan rekomendasi. Dalam pelaksanaannya di lapangan akan dikembalikan ke masing-masing
Perusahaan untuk menentukan prioritisasi pelaksanaan opsi.
Komponen kunci contingency plan
Tujuan dari disusunnya contingency plan (rencana darurat) agar Manajemen dapat melakukan rencana aksi untuk memulihkan kondisi BUMN ataupun kegiatan penanganan
atau penyelesaian BUMN yang ditetapkan sebagai perusahaan gagal (default). Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN No. PER-2/MBU/03/2023 dan Aspirasi Pemegang
Saham dari Kementerian BUMN yang dikombinasikan dengan pengalaman kami, akan digunakan kerangka contingency plan dengan ilustrasi sebagai berikut:
i. Ringkasan Eksekutif
iii. Strategi rencana aksi (recovery plan) dan iv. Strategi pengungkapan rencana aksi (recovery
ii. Gambaran Umum Perusahaan
rencana resolusi (resolution plan) plan) terhadap kedaruratan (contingency)
Kondisi dan profil perusahaan Indikator yang digunakan dalam rencana aksi
(recovery plan) meliputi indikator operasional,
keuangan, dan lainnya Tata kelola fungsi penyediaan informasi
Jaringan kantor dan anak perusahaan
Pemicu terjadinya tingkat kedaruratan (trigger
Struktur korporasi anak perusahaan level) dari setiap indikator
termasuk kepemilikan sampai dengan ultimate
shareholders dan perusahaan terelasi (sister
Kajian opsi pemulihan (recovery options) dan
company) Sistem informasi manajemen
penilaian kelayakan dari setiap opsi pemulihan
44 Topik pembahasan
Komponen inti rencana resolusi (Resolution Plan) berdasarkan APS
Ketentuan dalam Penetapan opsi resolusi untuk penanganan atau penyelesaian perusahaan yang ditetapkan sebagai perusahaan gagal (default) atau
APS 1) pailit
Perusahaan Gagal Kondisi gagal ditentukan berdasarkan ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial. Pada umumnya,
(Default) kondisi gagal diakui oleh pemangku kepentingan tertentu.
Status hukum yang ditetapkan melalui proses peradilan kepada Perusahaan yang tidak mampu membayar utangnya atau saat
Pailit
diajukan permohonan pailit oleh Menteri Keuangan (PKPU atau UU Kepailitan)
- Merupakan indikator kuat dari masalah keuangan Saat pengadilan memutuskan bahwa perusahaan tidak mampu
serius dan potensi insolvabilitas membayar utang dan memenuhi syarat-syarat lain sesuai dengan
- Terjadi untuk kasus 5 Perusahaan BUMN undang-undang yang berlaku.
Arahan dalam APS Tahapan Pengembangan Dokumen yang Diperlukan Data yang diperlukan
1 Trigger Level terjadinya resolusi Penetapan dari Manajemen Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Penetapan dari Manajemen
Strategi pengungkapan rencana aksi Pengembangan Tata Kelola Tanggung Jawab dan
Fungsi Penyediaan Informasi Struktur Organisasi Wewenang
(Recovery Plan) terhadap kedaruratan
4 (Contingency) dan pihak eksternal dengan Identifikasi Sistem Informasi Layanan Informasi
Manajemen Sistem Informasi Manajemen Perusahaan
menetapkan tata Kelola fungsi penyediaan
informasi, sistem informasi manajemen, Pengembangan Kerangka Kerangka Komunikasi
Kerangka Komunikasi Perusahaan
47 dan kerangka komunikasi Komunikasi Perusahaan
Struktur Kelompok Usaha Anak Perusahaan Material Informasi Keuangan Lini Bisnis Material Fungsi Ekonomi Penting
Analisis Bisnis
Deksripsi struktur usaha yang Deskripsi seluruh anak Deskripsi analisis indikator Deskripsi seluruh lini Deskripsi fungsi ekonomi yang
Strategis
terkait dengan BUMN, sampai perusahaan dan jenis keuangan dan rasio keuangan bisnis, definisi, kontribusi lini dijalankan, konsentrasi pasar,
dengan ultimate shareholders usahanya, kontribusi laba terhadap laba, materialitas, waktu pengalihan, hambatan
dan perusahaan terelasi (sister konsolidasi, materialitas, dan dan informasi Lini Bisnis pengalihan, dan rencana ke
company) rencana terhadap perusahaan Material berdasarkan analisis depan Lini Bisnis Material yang
anak ketika resolusi materialitas mendukung
Strategi Resolusi
Financial Interconnectedness Critical Shared Service (CSS) CSS Non-IT Internal Keterkaitan Kritikal dengan CSS IT Eksternal
IT Internal Pihak Eksternal
Analisis Bisnis
dalam hubungan keuangan penentuan CSS IT yang penentuan CSS non-IT yang Informasi keterkaitan kritikal fungsi ekonomi dan Lini Bisnis
BUMN dengan kelompok usaha disediakan dan digunakan disediakan dan digunakan BUMN dengan pihak eksternal di Material yang didukung, entitas
dan sebaliknya sendiri oleh BUMN (in-house), sendiri oleh BUMN (in-house), luar kelompok usaha. penyedia, serta informasi
serta yang diterima dari dan serta yang diterima dari dan mengenai ada atau tidaknya
diberikan ke kelompok usaha diberikan ke kelompok usaha kontrak/perjanjian
Identifikasi Aset yang Dapat Identifikasi Kewajiban yang Identifikasi Calon BUMN/Anak Opsi Resolusi Potensi Hambatan
Dialihkan Dapat Dialihkan Perusahan BUMN Penerima Pelaksanaan Opsi Resolusi
Opsi Resolusi
Sumber Daya Manusia Kritikal Aset Operasional Kritikal Keberlangsungan CSS Akses terhadap CFMI
Keberlangsungan
Resolution Option
Deskripsi mengenai SDM Deskripsi mengenai aset Deskripsi mengenai CSS, Deskripsi mengenai CFMI,
Usaha
kritikal, fungsi ekonomi dan operasional kritikal BUMN potensi pengakhiran kontrak potensi pengakhiran kontrak
Lini Bisnis Material yang beserta lokasi aset tersebut saat BUMN gagal, rencana saat BUMN gagal, rencana
didukung, kompetensi SDM untuk memastikan kesinambungan akses,
kritikal, dan mitigasi apabila kesinambungan CSS ketika transfer layanan serta
SDM kritikal tidak tersedia resolusi, dan entitas pengganti hambatannya
dan Sistem Informasi
Strategi Komunikasi
Tujuan dari disusunnya contingency plan (rencana darurat) agar Manajemen dapat melakukan rencana aksi untuk memulihkan kondisi BUMN ataupun kegiatan penanganan
atau penyelesaian BUMN yang ditetapkan sebagai perusahaan gagal (default). Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN No. PER-2/MBU/03/2023 dan Aspirasi Pemegang
Saham dari Kementerian BUMN yang dikombinasikan dengan pengalaman kami, akan digunakan kerangka contingency plan dengan ilustrasi sebagai berikut:
i. Ringkasan Eksekutif
iii. Strategi rencana aksi (recovery plan) dan iv. Strategi pengungkapan rencana aksi (recovery
ii. Gambaran Umum Perusahaan
rencana resolusi (resolution plan) plan) terhadap kedaruratan (contingency)
Kondisi dan profil perusahaan Indikator yang digunakan dalam rencana aksi
(recovery plan) meliputi indikator operasional,
keuangan, dan lainnya Tata kelola fungsi penyediaan informasi
Jaringan kantor dan anak perusahaan
Pemicu terjadinya tingkat kedaruratan (trigger
Struktur korporasi anak perusahaan level) dari setiap indikator
termasuk kepemilikan sampai dengan ultimate
shareholders dan perusahaan terelasi (sister
Kajian opsi pemulihan (recovery options) dan
company) Sistem informasi manajemen
penilaian kelayakan dari setiap opsi pemulihan
50 Topik pembahasan
Strategi Pengungkapan Rencana Aksi
Berdasarkan dokumen APS, terdapat persyaratan untuk mengembangkan Strategi Pengungkapan Rencana Aksi dengan tujuan untuk
memastikan bahwa semua rencana dan tindakan yang diambil oleh Perusahaan bersifat transparan, terkelola dengan baik, dan dikomunikasikan
secara efektif kepada semua pemangku kepentingan. Terlebih lagi mengingat bahwa rencana aksi merupakan suatu opsi korporasi yang dilakukan
saat Perusahaan berada di dalam kondisi krisis, sehingga suatu Strategi Pengungkapan yang komprehensif perlu dikembangkan. Strategi
pengungkapan rencana aksi (recovery plan) terhadap kedaruratan yang mencakup tata kelola fungsi penyediaan informasi, sistem informasi
manajemen, dan kerangka komunikasi juga perlu dikembangkan.
Tata Kelola Fungsi Penyediaan Informasi Sistem Informasi Manajemen Kerangka Komunikasi
Tata kelola fungsi penyediaan informasi berisi Sistem informasi manajemen merupakan sistem Kerangka komunikasi merupakan suatu prosedur
struktur dan prosedur yang memastikan bahwa yang dirancang untuk mengumpulkan, yang dirancang untuk memastikan bahwa
informasi yang relevan, akurat, dan tepat waktu menyimpan dan mengelola data yang diperlukan informasi yang penting disampaikan secara jelas
tersedia bagi pemangku kepentingan yang relevan untuk pengambilan keputusan dalam Perusahaan. dan konsisten kepada semua pemangku
baik dalam kondisi BAU (Aman dan Waspada), Dalam konteks rencana aksi, data tersebut terkait kepentingan baik internal maupun eksternal untuk
Siaga, dan Recovery Plan Triggers. dengan hasil pemantauan setiap indikator dalam mendukung partisipasi yang konstruktif dari
aspek rencana aksi. seluruh pihak.
Mengintegrasikan tata kelola fungsi penyediaan informasi, sistem informasi manajemen, dan kerangka komunikasi dalam strategi pengungkapan rencana aksi
bertujuan untuk membangun lingkungan yang transparan dan akuntabel. Ini memastikan bahwa semua tindakan dan rencana organisasi didokumentasikan
dengan baik, dikelola secara efisien, dan dikomunikasikan secara efektif, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan dan partisipasi pemangku kepentingan.
51
Sistem Informasi Manajemen
Dalam mendukung proses pemantauan dan implementasi Rencana Aksi Jasa Marga, Tim Recovery Management dapat menggunakan Sistem Informasi Manajemen Perusahaan saat ini.
Sistem tersebut diharapkan dapat mendukung dalam pemantauan indikator aspek Rencana Aksi yang meliputi aspek permodalan, likuiditas, rentabilitas dan kualitas aset. Sistem
Informasi Manajemen dapat didukung oleh sistem inti perusahaan atau sistem pendukung lainnya. Selain itu, seluruh Divisi, Departemen dan Unit Bisnis terkait harus mendukung untuk
menyediakan informasi secara tepat waktu dan akurat untuk memastikan pemantauan, evaluasi, stress test dan implementasi Rencana Aksi berjalan dengan baik.
52 : Start/End : Input/Output : Proses (Manual) 1: Data Keuangan diinput oleh Divisi/Unit terkait ke dalam SAP system
2: Periode Pelaporan Keuangan disesuaikan dengan kebutuhan Jasa Marga
Kerangka Komunikasi
Kerangka komunikasi berisi deskripsi singkat dan kesimpulan mengenai penerima informasi, saluran komunikasi, langkah-Langkah yang dilakukan dan PIC yang menyampaikan informasi.
*) Jika ada RQM: Risk and Quality, Health, Safety, & Environment Group; CCO: Corporate Communication &
53 Community Development; OMM: Operation & Maintenance Management Group; HC: Human Capital
Tata Kelola Fungsi Penyediaan Informasi
Contoh pengerjaan kertas kerja - Governance of Information Provision (GIP)
Petunjuk/ Diisi dengan nomor Informasi mengenai unit kerja yang menyediakan informasi yang Informasi mengenai rincian tugas dan wewenang unit kerja penyedia
Keterangan urut. diperlukan dalam menyusun Resolution Plan. informasi dalam menyusun Resolution Plan.
54
Ilustrasi usulan tata kelola penyediaan informasi Contingency Plan
Tata kelola fungsi penyediaan informasi Rencana Aksi menjabarkan struktur dan tanggung jawab dari para pihak yang terlibat dalam proses pelaksanaan Rencana Aksi, yang
mencakup proses pemantauan dan eskalasi dalam proses pengambilan keputusan.
Pemegang Menyetujui implementasi opsi pemulihan jika
Saham dibutuhkan persetujuan Rapat Umum
Pemegang Saham Pengendali (PSP) Persetujuan
PSP Pengendali Pemegang Saham (RUPS).
55
Sistem Informasi Manajemen
Contoh pengerjaan kertas kerja - Management Information System (MIS)
SLA Penyediaan
Informasi yang Lokasi Penyedia
Layanan yang Mendukung MIS Sumber Data MIS Penyedia Jasa MIS Informasi dalam
Disediakan oleh MIS (Negara)
No. MIS
Untuk dilengkapi/divalidasi oleh PT Jasa Marga (Persero)
D.2.1 D.2.2 D.2.3 D.2.4 D.2.5 D.2.6
Jenis Data Numerik Teks Teks Teks Teks Teks Teks
Diisi dengan nomor Aplikasi yang mendukung MIS. Sumber data MIS Informasi yang Pihak yang Negara yang Jumlah hari
urut. (Aplikasi atau sistem disediakan MIS, seperti menyediakan menjadi lokasi (SLA) yang
lainnya yang menjadi rincian aset dan layanan MIS, dari penyedia tercantum dalam
Input untuk MIS). kewajiban yang baik internal layanan. ketentuan
dialihkan. maupun internal/SOP
eksternal. perusahaan tert
penyediaan
Petunjuk/ informasi dalam
Keterangan MIS. Dapat diisi
N/A apabila
perusahaan
tidak memiliki
SLA terkait
penyediaan
informasi dalam
MIS.
1 SAP (Enterprise Resource Seluruh Aspek Bisnis Sistem pengendalian Eksternal Indonesia 10 hari
Planning) terkait biaya dan anggaran
perusahaan dengan
Contoh menyediakan ruang
integrasi bagi seluruh
proses bisnis
56
Kerangka Komunikasi
Contoh pengerjaan kertas kerja - Communication and Information Plan (CFW)
57
Key Success Factor
dalam Penyusunan
Contingency Plan
Key Insights dalam Penyusunan Contingency Plan untuk Anak Perusahaan
Sistemik A
Penyusunan skenario krisis yang diawali dengan acuan ke skenario di Induk Perusahaan yang relevan di Anak Perusahaan
67
Terima Kasih
Page 68
EY | Building a better working world EY refers to the global organization, and may refer to one or more, of the
member firms of Ernst & Young Global Limited, each of which is a separate legal
entity. Ernst & Young Global Limited, a UK company limited by guarantee, does
not provide services to clients. Information about how EY collects and uses
EY exists to build a better working world, helping personal data and a description of the rights individuals have under data
to create long-term value for clients, people and protection legislation are available via ey.com/privacy. EY member firms do not
practice law where prohibited by local laws. For more information about our
society and build trust in the capital markets. organization, please visit ey.com.
Enabled by data and technology, diverse EY © 2025 PT Ernst & Young Indonesia.
A member firm of Ernst & Young Global Limited.
teams in over 150 countries provide trust All Rights Reserved
through assurance and help clients grow,
transform and operate. In line with EY's commitment to minimize its impact on the environment, this
document has been printed on paper with a high recycled content.
Working across assurance, consulting, law, This material has been prepared for general informational purposes only and is not intended to be relied
strategy, tax and transactions, EY teams ask upon as accounting, tax or other professional advice. Please refer to your advisors for specific advice.