Anda di halaman 1dari 29

PEDOMAN

MANAJEMEN RISIKO

PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR


Edisi 2013
PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO
PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
i
DAFTAR ISI

KEBIJAKAN MANAJEMEN RISIKO i
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Ruang Lingkup, Maksud dan Tujuan 1
1.3. Dasar Pelaksanaan Pengelolaan Risiko 1
1.4. Istilah dan Definisi 2

BAB II PRINSIP DAN KERANGKA KERJA MANAJEMEN RISIKO 5


2.1. Prinsip-prinsip Manajemen Risiko 5
2.2. Kerangka Kerja Manajemen Risiko 6
2.2.1. Mandat dan Komitmen 7
2.2.2. Perencanaan Kerangka Kerja Manajemen Risiko 8
2.2.2.1. Pemahaman Organisasi dan Konteksnya 8
2.2.2.2. Kebijakan Manajemen Risiko 8
2.2.2.3. Akuntabilitas 9
2.2.2.4. Integrasi ke dalam Proses Organisasi 9
2.2.2.5. Sumber Daya 9
2.2.2.6. Sistem Komunikasi dan Mekanisme Pelaporan 10
2.2.3. Penerapan Manajemen Risiko 13
2.2.3.1. Penerapan Kerangka Kerja Manajemen Risiko 13
2.2.3.2. Penerapan Proses Manajemen Risiko 14
2.2.4. Monitoring dan Review Kerangka Kerja Manajemen Risiko 14
2.2.5. Perbaikan Berkelanjutan Kerangka Kerja Manajemen Risiko 15

BAB III PROSES MANAJEMEN RISIKO 16


3.1. Proses Manajemen Risiko 16
3.2. Komunikasi dan Konsultasi 16
3.3. Menentukan Konteks 17
3.4. Assessment Risiko 19
3.5. Identifikasi Risiko 19
3.6. Analisis Risiko 19
3.7. Evaluasi Risiko 20
3.8. Mitigasi/Perlakuan Risiko 21
3.9. Pemantauan dan Pengkajian (Monitoring & Review) 21
3.10. Dokumentasi dan Pelaporan Manajemen Risiko 22
3.11 Risk Based Audit 23
3.12 Penyiapan Kompetensi Instansi 24

BAB IV PENUTUP 25

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perusahaan berusaha memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada pemegang saham dan
stakeholder, tetapi dalam praktik bisnis, unsur ketidakpastian baik berasal dari lingkungan
internal maupun eksternal dapat memberi pengaruh terhadap pencapaian tujuan perusahaan.
Unsur-unsur ketidakpastian menjadi semakin besar akibat perubahan iklim bisnis yang semakin
cepat dan kompleks. Unsur ketidakpastian merupakan risiko bisnis yang tidak mungkin dihindari,
namun harus dikelola melalui suatu mekanisme yang dinamakan manajemen risiko.
Perusahaan yang mampu mengelola risiko dengan baik dipandang sebagai memiliki
kemampuan sensitif untuk mendeteksi risiko, memiliki fleksibilitas untuk merespon risiko
dan menjamin kapabilitas sumber daya untuk melakukan tindakan guna mengurangi tingkat
risiko, sedangkan yang tidak dapat mengelola risiko dengan baik akan menyebabkan terjadinya
pemborosan sumber dana dan waktu serta tidak tercapainya tujuan perusahaan.

1.2 Ruang Lingkup, Maksud dan Tujuan


Implementasi manajemen risiko pada seluruh aktivitas usaha yang dilaksanakan
perusahaan senantiasa berbasis pada risiko yang dikendalikan secara optimal, sehingga
diharapkan tidak menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Pada beberapa kasus, dilakukan upaya
untuk memanfaatkan risiko menjadi peluang yang dapat meningkatkan keuntungan perusahaan.
Pedoman Manajemen Risiko merupakan panduan bagi PT Pupuk Kalimantan Timur
(selanjutnya disebut Pupuk Kaltim) dalam penerapan manajemen risiko dan diharapkan dapat
memberikan pemahaman bagi seluruh karyawan mengenai substansi Kebijakan Manajemen
Risiko yang telah ditetapkan Direksi sebagai acuan penerapan manajemen risiko bagi seluruh unit
kerja. Dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan karakteristik risiko dan cara penanganannya.

1.3 Dasar Pelaksanaan Pengelolaan Risiko


1. Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (selanjutnya disebut RUPS) Pupuk Kaltim pertanggal
5 Juni 2012, untuk menerapkan Praktik Good Corporate Governance mengacu pada Keputusan
Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan
Praktik Good Corporate Governance pada BUMN dan untuk menerapkan Manajemen Risiko
menggunakan Framework SNI ISO 31000:2011 (selanjutnya disebut ISO 31000).
2. Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER01/MBU/2011 tentang Praktik Penerapan Good
Corporate Governance pada Badan Usaha Milik Negara pada Pasal 25:
a. Direksi, dalam setiap pengambilan keputusan/ tindakan harus mempertimbangkan risiko
usaha;
b. Direksi wajib membangun dan melaksanakan program manajemen risiko korporasi secara
terpadu yang merupakan bagian dari pelaksanaan program Good Corporate Governance;
c. Pelaksanaan program manajemen risiko dapat dilakukan, dengan:
1) Membentuk unit kerja tersendiri yang ada dibawah Direksi;
2) Memberi penugasan kepada unit kerja yang ada dan relevan untuk menjalankan fungsi
manajemen risiko;
d. Direksi wajib menyampaikan laporan profil manajemen risiko dan penanganannya
bersamaan dengan laporan berkala perusahaan.
3. SK Direktur Utama PT Pupuk Kalimantan Timur Nomor 40/DIR/VII/2013 tanggal 08 Juli 2013
tentang Kebijakan Penerapan Good Corporate Governance di seluruh lingkup perusahaan.
4. Surat Edaran SE Nomor SE-03/II/2013 tanggal 4 Februari 2013 tentang Kebijakan dan Pedoman
Manajemen Risiko PT Pupuk Indonesia (Persero) dan Anak Perusahaan.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
1
1.4 Istilah dan Definisi
Istilah dan definisi yang digunakan mengacu pada istilah dan definisi yang tercantum pada
ISO Guide 73:2009 (selanjutnya disebut ISO Guide 73) Risk Management Vocabulary.
Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerancuan, kesalahpahaman dari berbagai macam istilah
dan definisi yang digunakan. Penetapan istilah dan definisi disesuaikan dengan kebutuhan peng-
gunaan dalam pedoman, sebagai berikut:
1. Assessment Risiko adalah keseluruhan proses yang meliputi identifikasi risiko, analisa risiko dan
evaluasi risiko (ISO Guide 73 definisi 3.4.1);
2. Dampak (Consequence) adalah akibat dari suatu peristiwa yang mempengaruhi sasaran (ISO
Guide 73 definisi 3.6.1.3);
3. Identifikasi Risiko adalah suatu proses untuk melakukan inventarisasi risiko pada setiap
aktivitas yang dilaksanakan;
4. Indikasi adalah tanda/gejala/sinyal/ciri dari risiko yang akan terjadi;
5. Kebijakan Manajemen Risiko adalah pernyataan terhadap keseluruhan maksud dan arah
manajemen risiko organisasi (ISO Guide 73 definisi 2.1.2);
6. Kemungkinan (Likelihood) adalah kesempatan/kemungkinan sesuatu terjadi
(ISO Guide 73 definisi 3.6.1.1);
Catatan :
Perlu dibedakan antara likelihood dengan probability. Terminologi probabilitas adalah
istilah matematik, terutama statistik, sehingga dalam praktiknya perlu diperhatikan
kaidah-kaidah matematik terkait. Istilah likelihood atau kemungkinan adalah istilah yang
lebih umum dan tidak terkait dengan kaidah matematik, sehingga dalam menentukan
ukurannya dapat lebih bebas, baik subyektif, kualitatif ataupun kuantitatif, frekuensi atau
juga dengan probabilitas (selama kaidah matematiknya dipenuhi).
7. Kerangka Kerja Manajemen Risiko adalah sekumpulan perangkat organisasi
yang menyediakan landasan bagi perencanaan, penerapan, monitor dan review serta perbaikan
berkelanjutan manajemen risiko bagi seluruh organisasi (ISO Guide 73 definisi 2.1.1);
8. Komunikasi dan Konsultasi adalah proses yang berulang dan berkelanjutan antara
organisasi dengan para pemangku kepentingannya (stakeholders) yang saling
memberikan, berbagi informasi serta melakukan dialog terkait dengan pengelolaan risiko
(ISO Guide 73 definisi 3.2.1);
9. Kriteria Risiko adalah kerangka acuan untuk mengukur besaran risiko yang akan dievaluasi
(ISO Guide 73 definisi 3.3.1.3);
10. Manajemen Risiko adalah upaya organisasi yang terkoordinasi untuk mengarahkan dan
mengendalikan risiko (ISO GUIDE 73 definisi 2.1);
11. Matriks Risiko (Risk Matrix) adalah alat untuk menggambarkan peristiwa risiko dengan
menggunakan rentang dampak dan rentang kemungkinan;
12. Menetapkan Konteks adalah proses untuk menentukan batasan dan parameter eksternal dan
internal yang harus dipertimbangkan dalam mengelola risiko dan menentukan lingkup serta
kriteria risiko dalam kebijakan manajemen risiko (ISO Guide 73 definisi 2.4);
13. Paparan (Exposure) adalah suatu keadaan dimana suatu organisasi dan/atau
pemangku kepentingan menjadi bagian dari atau terlibat dalam satu peristiwa (ISO Guide 73
definisi 3.6.1.2);
14. Pemangku Kepentingan (Stakeholders) adalah setiap orang atau organisasi yang
dapat mempengaruhi atau dipengaruhi, atau menganggap dirinya dapat dipengaruhi oleh suatu
keputusan atau kegiatan (ISO Guide 73 definisi 3.2.1.1);
15. Pemantauan (Monitoring) adalah suatu proses yang dilakukan secara terus
menerus untuk memeriksa, mengawasi dan melakukan pengamatan secara kritis untuk dapat
mengidentifikasi terjadinya perubahan dari tingkat kinerja atau sasaran yang ingin dicapai dari
pelaksanaan pengelolaan risiko (ISO Guide 73 definisi 3.8.2.1);
16. Pemilik Risiko (Risk Owner) adalah orang atau suatu entitas yang mempunyai akuntabilitas
dan kewenangan untuk mengelola suatu risiko (ISO Guide 73 definisi 3.5.1.5);
PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO
PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
2
17. Penanganan adalah langkah-langkah yang diambil manajemen untuk mengurangi risiko jika
tindakan pengendalian belum memadai atau langkah-langkah yang telah direncanakan dan
akan dilakukan apabila risiko benar-benar terjadi;
18. Pengendalian adalah upaya-upaya untuk merubah risiko (ISO Guide 73 definisi 3.8.1.1);
19. Pengkajian (Review) adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menentukan suatu
kesesuaian, kecukupan, dan efektifitas suatu obyek, proses atau cara yang digunakan dalam
mencapai sasaran (ISO Guide 73 definisi 3.8.2.2);
Catatan:
Review dapat dilakukan terhadap kerangka kerja manajemen risiko, proses manajemen risiko,
perlakuan risiko ataupun pengendalian risiko.
20. Peristiwa (Event) adalah suatu kejadian atau perubahan yang terjadi pada suatu kondisi atau
lingkungan tertentu (ISO Guide 73 definisi 3.5.1.3);
21. Perlakuan Risiko adalah proses untuk merubah risiko (ISO Guide 73 definisi 2.1);
Catatan:
Pada dasarnya upaya perlakuan risiko dilakukan melalui pengurangan kemungkinan terjadinya
risiko dan/atau mengurangi dampak risiko, bila risiko tersebut terjadi.
22. Probabilitas (Probability) adalah ukuran suatu kemungkinan terjadinya suatu yang
dinyatakan dalam angka 0 dan 1, dimana angka 0 menyatakan tidak mungkin terjadi dan angka
1 menyatakan pasti terjadi (ISO Guide 73 definisi 3.6.1.4);
23. Profil Risiko adalah gambaran atau uraian dari suatu kelompok risiko (ISO Guide 73
definisi 3.8.2.5);
Catatan:
Kelompok risiko dapat berisikan risiko-risiko yang terkait dengan seluruh organisasi atau hanya
sebagian dari organisasi atau dari suatu proyek/proses.
24. Proses Manajemen Risiko adalah penerapan secara sistematik kebijakan manajemen,
prosedur dan praktik manajemen dalam pelaksanaan tugas untuk melakukan komunikasi
dan konsultasi; menetapkan konteks; melakukan identifikasi; menganalisis; mengevaluasi;
memperlakukan, memantau dan mengkaji risiko (ISO Guide 73 definisi 3.1.);
25. Rencana Manajemen Risiko adalah pola atau skema dalam kerangka manajemen risiko
yang menunjukkan pendekatan yang akan diterapkan dalam mengelola risiko antara lain,
pendekatan yang digunakan, komponen-komponen manajemen termasuk teknik manajemen
risiko yang digunakan, sumber daya yang akan dipakai dalam mengelola risiko (ISO Guide 73
definisi 2.1.3);
26. Risiko (Risk) adalah dampak dari ketidakpastian pada sasaran (ISO Guide 73 definisi 1.1);
Catatan :
a) Dampak adalah suatu penyimpangan dari yang diharapkan, dapat positif ataupun negatif;
b) Sasaran dapat mempunyai berbagai macam aspek;
c) Risiko kerap dinyatakan dengan mengacu potensi suatu peristiwa dan dampak atau
kombinasi dari keduanya;
d) Risiko sering disebut sebagai dampak suatu peristiwa dan digabungkan dengan
kemungkinan terjadinya peristiwa tersebut;
e) Ketidakpastian adalah keadaan, walaupun hanya sebagian, dari ketidakcukupan
informasi tentang, pemahaman atau pengetahuan terkait dengan suatu peristiwa, dampak
dan kemungkinan terjadinya.
27. Risiko Eksternalistik adalah potensi penyimpangan hasil pada eksposur korporat dan strategis,
dan bisa berdampak pada potensi penutupan usaha, karena pengaruh dari faktor eksternal.
Yang termasuk faktor eksternal, antara lain: reputasi, lingkungan, sosial dan hukum;
28. Risiko Keuangan adalah risiko yang disebabkan karena fluktuasi target keuangan atau ukuran
moneter perusahaan karena gejolak berbagai variabel makro. Ukuran keuangan dapat berupa
arus kas, laba perusahaan, dan pertumbuhan penjualan;
29. Risiko Operasional adalah potensi penyimpangan dari hasil yang diharapkan karena
tidak berfungsinya suatu sistem, SDM, teknologi atau faktor lain. Risiko operasional bisa
PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO
PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
3
terjadi pada dua tingkatan: teknis dan organisasi. Pada tataran teknis, risiko bisa terjadi apabila
sistem informasi yang tidak memadai, kesalahan mencatat dan pengukuran risiko yang tidak
akurat & tidak memadai. Pada tataran organisasi, risiko operasional bisa muncul karena sistem
pemantauan & pelaporan, sistem prosedur dan kebijakan tidak berjalan;
30. Risiko Strategis adalah dampak risiko saat ini dan masa depan terhadap pendapatan atau
modal yang timbul dari keputusan bisnis yang merugikan atau kekurang tanggapan terhadap
perubahan lingkungan bisnis;
31. Risiko Tersisa (Residual Risk) adalah risiko yang masih tersisa setelah dilakukan perlakuan risiko
(ISO Guide 73 definisi 3.8.1.6);
32. Sasaran adalah target/tujuan/segala sesuatu yang ingin dicapai oleh perusahaan dengan
kaidah-kaidah spesifik, dapat diukur, disepakati, realistis dan ada batas waktu;
33. Selera Risiko (Risk Appetite) adalah jumlah dan jenis risiko yang siap ditangani atau diterima
oleh organisasi (ISO Guide 73 definisi 3.7.1.2);
34. Sumber Risiko adalah segala sesuatu yang baik sendiri ataupun bersama-sama
mempunyai potensi yang melekat (intrinsik) untuk menimbulkan terjadinya risiko (ISO Guide
73 definisi 3.5.1.2);
35. Toleransi Risiko (Risk Tolerance) adalah kesiapan organisasi atau pemangku kepentingan
untuk menanggung risiko setelah perlakuan risiko dalam upaya mencapai sasaran (ISO Guide
73 definisi 3.7.1.3).
Catatan :
Toleransi risiko dapat dipengaruhi oleh persyaratan hukum dan peraturan perundangan.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
4
BAB II
PRINSIP DAN KERANGKA KERJA MANAJEMEN RISIKO
2.1 Prinsip-Prinsip Manajemen Risiko
Manajemen Risiko Pupuk Kaltim menerapkan prinsip dan kerangka kerja sesuai dengan ISO 31000,
sebagai berikut:
1. Manajemen Risiko menciptakan nilai tambah
Manajemen risiko memberikan kontribusi melalui peningkatan kemungkinan
pencapaian sasaran perusahaan secara nyata, selain itu, juga memberikan perbaikan
dalam aspek keselamatan, kesehatan kerja, kepatuhan terhadap peraturan perundangan,
perlindungan lingkungan hidup, persepsi publik, kualitas produk reputasi, corporate
governance, efisiensi operasi, dan lain-lain.
2. Manajemen Risiko adalah bagian terpadu dari proses organisasi
Manajemen risiko merupakan bagian yang tidak berdiri sendiri dan tidak terpisahkan dari
kegiatan proses organisasi dalam mencapai sasaran.
3. Manajemen Risiko adalah bagian dari pengambilan keputusan
Manajemen risiko membantu para pengambil keputusan untuk mengambil keputusan atas
dasar pilihan-pilihan yang tersedia dengan informasi selengkap mungkin.
Manajemen yang berwenang wajib memberikan keputusan penanganan atas risiko yang
terjadi dan segera melaksanakan contigency plan yang telah direncanakan. Keputusan harus
dipilih apabila hal yang dikhawatirkan memang terjadi dan segera dilaksanakan berdasarkan
alternatif yang tersedia. Alternatif ini dilaporkan dalam laporan yang dikirimkan ke Departemen
Kepatuhan & Manajemen Risiko.
4. Manajemen Risiko secara khusus menangani ketidakpastian
Manajemen risiko secara khusus menangani aspek ketidakpastian dalam proses
pengambilan keputusan dan memperkirakan bagaimana sifat ketidakpastian dan bagaimana
cara penanganannya.
5. Manajemen Risiko bersifat sistematik, terstruktur dan tepat waktu
Manajemen risiko bersifat sistematik, terstruktur dan tepat waktu untuk memberikan
kontribusi terhadap efisiensi dan konsistensi sehingga hasilnya dapat diperbandingkan dan
memberikan perbaikan.
Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko bertanggung jawab memastikan manajemen
risiko terlaksana secara sistematik, terstruktur dan tepat waktu.
6. Manajemen Risiko berdasarkan pada informasi yang terbaik
Informasi dan masukan yang digunakan dalam proses manajemen risiko didasarkan pada
sumber informasi yang tersedia, seperti pengalaman, observasi, perkiraan, penilaian ahli dan
data lain yang tersedia.
Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko berfungsi sebagai fasilitator dengan tugasnya
mendukung dan membantu proses pengumpulan informasi, termasuk didalamnya proses
dokumentasi dan pemutakhiran informasi pada form register risiko.
7. Manajemen Risiko adalah khas untuk penggunanya (Tailored)
Manajemen risiko diselaraskan dengan konteks internal dan eksternal perusahaan, sasaran
perusahaan dan profil risiko perusahaan.
8. Manajemen Risiko mempertimbangkan faktor manusia dan budaya
Penerapan manajemen risiko haruslah menemukenali kapabilitas perusahaan, persepsi dan
tujuan masing-masing individu didalam serta diluar perusahaan, khususnya yang menunjang
atau menghambat sasaran perusahaan.
Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko wajib mensosialisasikan dan memfasilitasi
penerapan budaya sadar risiko di Pupuk Kaltim.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
5
9. Manajemen Risiko bersifat transparan dan inklusif
Untuk memastikan bahwa manajemen risiko tetap relevan dan terkini, para
pemangku kepentingan dan pengambil keputusan pada setiap tingkatan organisasi Pupuk
Kaltim dilibatkan secara efektif. Keterlibatan ini juga memungkinkan para pemangku kepentin-
gan terwakili dengan baik dan mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pendapat serta
kepentingannya, terutama dalam merumuskan kriteria risiko.
Pemegang Saham, Dewan Komisaris, Direksi, General Manager, Manager dan Key Person yang
ditunjuk wajib mengidentifikasi berbagai risiko yang dapat mempengaruhi sasaran dari lingkup
tugas & tanggung jawab dan ukuran keberhasilannya serta cara pengendalian dan penanganan
risikonya.
Proses inputing risiko wajib mencantumkan secara transparan data-data masalah yang terjadi
dalam unit kerja dan/atau kompartemennya terutama yang melibatkan semua pihak dalam
Perusahaan.
Risk Owner wajib memperkirakan kemungkinan terjadinya risiko dan besarnya dampak yang
ditimbulkan dari setiap risiko yang dilaporkan ke Departemen kepatuhan & Manajemen Risiko.
10. Manajemen Risiko bersifat dinamis, berulang dan responsif terhadap perubahan
Tugas manajemen untuk memastikan bahwa manajemen risiko senantiasa memperhatikan,
merasakan dan tanggap terhadap perubahan.
Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko berfungsi sebagai fasilitator dalam proses
monitoring dan review serta membantu mendeteksi proses penyesuaian terhadap perubahan
yang terjadi.
11. Manajemen Risiko harus memfasilitasi perbaikan berkelanjutan dan peningkatan organisasi
Manajemen Pupuk Kaltim harus senantiasa mengembangkan dan menerapkan perbaikan
strategi manajemen risiko serta meningkatkan kematangan pelaksanaan manajemen risiko.
Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko memonitoring penerapan dari aktivitas
pengendalian dan penanganan risiko unit kerja dengan klinik berkala.

2.2 Kerangka Kerja Manajemen Risiko


Pupuk Kaltim menetapkan kerangka kerja manajemen risiko yang menjadi dasar dalam
pelaksanaan seluruh kegiatan manajemen risiko di seluruh tingkatan organisasi. Kerangka kerja
pada Gambar. 2.1 Kerangka Kerja Manajemen Risiko Pupuk Kaltim membantu organisasi dalam
mengelola risiko secara efektif dan akan memastikan bahwa informasi risiko yang lengkap &
memadai yang diperoleh dari proses manajemen risiko dapat digunakan sebagai landasan dalam
pengambilan keputusan.

Gambar. 2.1 Kerangka Kerja Manajemen Risiko Pupuk Kaltim


PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO
PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
6
2.2.1 Mandat dan Komitmen
Fungsi mandat dan komitmen tercermin dalam tugas dan tanggung jawab
masing-masing entitas perusahaan, dimana penanggung jawab utama dalam penerapan
manajemen risiko adalah Direksi. Peran dan tanggung jawab seluruh pihak yang terkait dalam
penerapan manajemen risiko, sebagai berikut:
1. Pemegang Saham & Komisaris
a. Pemegang Saham memberikan arahan kepada Direksi untuk mengelola risiko perusahaan
melalui Rapat Umum Pemegang Saham;
b. Komisaris mengawasi dan memberikan saran perbaikan terhadap Direksi atas penerapan
Kebijakan Manajemen Risiko.
2. Direksi
Tugas dan tanggung jawab Direksi dalam melaksanakan fungsi Mandat dan Komitmen adalah
sebagai berikut:
a. Menetapkan Kebijakan, Pedoman, dan Prosedur Penerapan Manajemen Risiko yang akan
dikaji ulang dua (2) tahun sekali atau jika terdapat perubahan yang signifikan;
b. Memasukkan Manajemen Risiko dalam KPI (Key Person Indicator) Perusahaan;
c. Memastikan sasaran manajemen risiko selaras dengan RJPP dan RKAP;
d. Menetapkan risk appetite dan risk tolerance yang digunakan sebagai ukuran kriteria level
risiko;
e. Bertanggung jawab atas penerapan Kebijakan Manajemen Risiko;
f. Mengembangkan manajemen risiko menjadi budaya perusahaan pada seluruh jenjang
jabatan organisasi perusahaan;
g. Memastikan pelaksanaan peningkatan kompetensi sumber daya manusia yang terkait
dengan manajemen risiko;
h. Memastikan bahwa unit kerja yang dibentuk untuk mengelola manajemen risiko telah
berfungsi secara independen;
i. Melaksanakan koordinasi proses penerapan manajemen risiko secara terintegrasi di
Perusahaan (enterprise-wide level);
j. Bertanggung jawab terhadap pengelolaan risiko dan penerapan manajemen risiko
diseluruh kegiatan/proses bisnis Perusahaan;
k. Mengarahkan dan menetapkan tindak lanjut mitigasi risiko yang perlu dilakukan terhadap
risiko yang telah terindentifikasi;
l. Berkomitmen dan berpartisipasi atas terselenggaranya diskusi panel manajemen risiko
minimal satu (1) kali setahun yang difasilitasi oleh Departemen Kepatuhan & Manajemen
Risiko;
m. Melaksanakan evaluasi Kebijakan Manajemen Risiko minimal dua (2) tahun sekali untuk
memastikan :
1. Keakuratan metodologi Assessment risiko;
2. Kecukupan implementasi sistem manajemen risiko;
3. Ketepatan kebijakan, prosedur dan penetapan risk appetite/risk tolerance yang
digunakan sebagai ukuran kriteria level risiko.
3. General Manager
General Manager memeriksa, menandatangani laporan Manajemen Risiko (MR) unit kerja
dibawah koordinasinya dan menyusun risiko operasional serta risiko strategis kompartemen-
nya disertai langkah-langkah mitigasi risiko, antara lain sebagai berikut:
a. Melakukan review atas laporan manajemen risiko dari Departemen dalam koordinasi
Kompartemen;
b. Memberikan arahan dalam mitigasi risiko;
c. Menyusun risiko operasional yang ditangani Kompartemen;
d. Menyusun risiko strategis yang dihadapi perusahaan sebagai hasil kajian cascading risiko;

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
7
e. Mengirim laporan risiko butir c dan d kepada Direksi dan tembusannya kepada
Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko;
f. Mengawasi mitigasi risiko yang dilakukan oleh unit kerja.
4. Satuan Pengawasan Internal (SPI)
a. Mengevaluasi ketaatan dan efektivitas penerapan manajemen risiko dengan melakukan
audit secara obyektif dan independen;
b. Menggunakan hasil manajemen risiko sebagai dasar pemeriksaan (audit berbasis risiko).
5. Unit Kerja
a. Melaksanakan manajemen risiko sesuai dengan Kebijakan, Pedoman dan Prosedur
Penerapan Manajemen Risiko yang telah ditetapkan oleh Direksi.
b. Manager bertanggung jawab mengelola risiko di unit kerjanya masing-masing
melalui proses penerapan manajemen risiko dimulai dari identifikasi, analisis & evaluasi,
penanganan risiko, pemantauan, serta pengkomunikasian & pengkonsultasian. Dalam
pelaksanaannya, Manager dibantu oleh key person unit kerja.
c. Melaporkan realisasi tindak lanjut pengendalian risiko dan segala peristiwa yang
menyebabkan kerugian pada unit kerjanya periode tiga (3) bulanan kepada Departemen
Kepatuhan & Manajemen Risiko.
6. Unit Manajemen Risiko
a. Menyusun dan mengusulkan Kebijakan Manajemen Risiko, Pedoman, dan Prosedur
Penerapan Manajemen Risiko kepada Direksi.
b. Menyusun dan mengusulkan Risk Appetite dan Risk Tolerance yang digunakan sebagai
ukuran kriteria level risiko.
c. Memastikan pelaksanaan proses identifikasi, pengelolaan dan pemantauan risiko disetiap
unit kerja.
d. Melakukan kompilasi risiko setiap unit kerja menjadi Profil Risiko Perusahaan secara
keselurahan.
e. Melakukan pemantauan bersama perwakilan unit kerja/ Pemilik Risiko/ Key person
terhadap posisi risiko secara keseluruhan.
7. Seluruh Karyawan
Setiap karyawan mempunyai peran dalam mewujudkan manajemen risiko yang efektif dan
secara aktif berpartisipasi mengidentifikasi risiko potensial yang ada di lingkungannya dan
membantu melaksanakan tindakan mitigasi risiko.

2.2.2 Perencanaan Kerangka Kerja Manajemen Risiko


2.2.2.1 Pemahaman Organisasi dan Konteksnya
Pupuk Kaltim mendefinisikan parameter dasar tentang risiko yang harus dikelola dan
menyediakan pedoman bagi keputusan dalam kajian manajemen risiko yang lebih terinci bagi
keseluruhan proses manajemen risiko yang meliputi kegiatan :
1. Menentukan konteks eksternal : meliputi stakeholders dan lingkungan makro;
2. Menentukan konteks internal : meliputi segala sesuatu dalam proses bisnis perusahaan

2.2.2.2 Kebijakan Manajemen Risiko


Kebijakan Manajemen Risiko ditetapkan oleh Direksi dalam bentuk komitmen manajemen
terhadap penerapan manajemen risiko dan sasaran yang ingin dicapai dalam penerapan
manajemen risiko serta keefektifannya dievaluasi tiga (3) tahun sekali.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
8
2.2.2.3 Akuntabilitas
Proses Manajemen Risiko melibatkan banyak pihak dalam organisasi. Tanggung jawab dalam
proses Manajemen Risiko dituangkan dalam Gambar. 2.2 Akuntabilitas Proses Manajemen
Risiko Pupuk Kaltim.

Ketetangan :
R : Responsible : Siapa yang
mengerjakan
A : Accountable : Siapa yang
membuat keputusan akhir
Ya atau Tidak
C : Consulted : Siapa yang harus
diajak konsultasi sebelum
kegiatan dilanjutkan
I : Informed : Siapa yang harus
diberi informasi

Gambar. 2.2 Akuntabilitas Proses Manajemen Risiko Pupuk Kaltim

2.2.2.4 Integrasi ke dalam Proses Organisasi


Manajemen Pupuk Kaltim mendukung seluruh kegiatan manajemen risiko dan
mengkaitkannya pada kegiatan perusahaan meliputi proses bisnis, perencanaan strategi,
penyusunan rencana bisnis dan investasi dengan melibatkan Departemen Kepatuhan &
Manajemen Risiko.

2.2.2.5 Sumber Daya


Pengelolaan risiko melibatkan seluruh tingkatan dalam organisasi Pupuk Kaltim. Oleh
karena itu dibentuk unit kerja yang bertanggung jawab mengkoordinasikan seluruh kegiatan
manajemen risiko agar penerapan manajemen risiko menjadi lebih efektif, yaitu Departemen
Kepatuhan & Manajemen Risiko.
Bentuk organisasi Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko adalah sebagaimana
dijelaskan pada Gambar. 2.3 Organisasi Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko.

KOMISARIS

KOMITE PEMANTAU
KOMITE/ORGAN
MANAJEMEN RISIKO,
DEKOM YANG
NOMINASI &
BERKAITAN
REMUNERASI
DIREKTUR UTAMA

SEKRETARIS
SPI
PERUSAHAAN

DEPARTEMEN
KEPATUHAN &
MANAJEMEN RISIKO

Gambar. 2.3 Organisasi Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
9
Manager Kepatuhan & Manajemen Risiko membawahi dua Kepala Bagian yaitu Kepala
Bagian Manajemen Risiko dan Kepala Bagian Keefektifan Proses & Kepatuhan serta beberapa
Staf fungsional dengan berbagai disiplin ilmu dan keahlian yang bertugas secara kelompok
berdasarkan fungsi kegiatannya.

Secara operasional, Manager Kepatuhan & Manajemen Risiko bertanggung jawab dan
melaporkan hasil kegiatannya kepada Sekretaris Perusahaan serta ditugaskan secara
khusus selaku penanggung jawab atas pelaksanaan manajemen risiko di perusahaan. Dalam
menjalankan fungsinya harus bersifat independen baik terhadap unit kerja operasional
maupun terhadap unit kerja yang melaksanakan fungsi pengawasan (Satuan Pengawasan
Intern).
Syarat personil Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko, adalah sebagai berikut :
1) Mempunyai kompetensi dan kemampuan analisis yang tinggi;
2) Menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran, dan bersifat obyektif;
3) Memahami proses bisnis Pupuk Kaltim dan sistem yang berlaku di perusahaan secara
terintegrasi;
4) Memahami pengetahuan tentang Manajemen Risiko secara komprehensif dan selalu
mengikuti perkembangan ilmunya;
5) Mampu melakukan sosialisasi dan mengembangkan budaya risiko kepada seluruh
karyawan;
6) Mampu menjadi pendorong/mitra kerja bagi unit kerja operasional maupun unit kerja yang
melaksanakan fungsi pengawasan (SPI) untuk senantiasa mengkomunikasikan pelaksanaan
aktivitas dalam rangka pengelolaan risiko.
Peningkatan kompetensi dilakukan Departemen Kepatuhan & Manajemen
Risiko dengan mewajibkan personilnya memahami ISO 31000 secara mendalam serta melatih
kemampuan berkomunikasi melalui berbagai macam pelatihan dan workshop berkala yang
diusulkan ke Departemen Diklat dan Manajemen Pengetahuan.

2.2.2.6 Sistem Komunikasi dan Mekanisme Pelaporan


1) Sistem Pelaporan
Sistem pelaporan atas kegiatan penerapan manajemen risiko, sebagai berikut :
a) Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko menerima Laporan Manajemen Risiko
Unit Kerja yang disusun secara tertulis sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan
dalam Buku Petunjuk Pelaksanaan Manajemen Risiko. Laporan Unit Kerja setingkat
Departemen harus diketahui oleh General Manager terkait sedangkan untuk Unit Kerja
setingkat Kompartemen laporan disampaikan kepada direktur terkait dan tembusan
kepada Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko;
b) Laporan Manajemen Risiko Unit Kerja dianalisis, dievaluasi dan dikompilasi oleh
Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko lalu disusun menjadi Laporan Manajemen
Risiko Perusahaan;
c) Laporan Manajemen Risiko Perusahaan disampaikan secara berkala oleh Departemen
Kepatuhan & Manajemen Risiko kepada Direksi untuk dikaji dalam rapat Direksi bersama
Grade I;
d) Laporan Manajemen Risiko Perusahaan dilaporkan oleh Direksi kepada Pemegang
Saham dan tembusan kepada Komisaris.

Laporan Manajemen Risiko harus berisi informasi penting, komprehensif, obyektif, jelas,
lengkap, ringkas, konsisten dan konstruktif serta dilaporkan tepat waktu kepada Direksi
yang akan digunakan untuk menyusun perencanaan ke depan, pengambilan keputusan
yang strategis serta pengendalian operasi dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan
secara keseluruhan.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
10
Mekanisme pelaporan sebagaimana pada Gambar. 2.4 Mekanisme Pelaporan Manajemen
Risiko Pupuk Kaltim dan petunjuk penyusunan laporan secara keseluruhan diatur secara
rinci dalam Prosedur Penerapan Manajemen Risiko.

2) Jenis Laporan
Beberapa laporan yang harus dibuat/wajib dalam rangka penerapan manajemen risiko
adalah sebagai berikut :
a) Laporan yang dibuat oleh Unit Kerja disampaikan kepada Departemen Kepatuhan &
Manajemen Risiko, terdiri atas:
1. Laporan Profil Risiko Unit Kerja, yang memuat Register Risiko, Peta Risiko,
Penanganan Risiko, Rencana dan Jadwal Penanganan Risiko, Pemantauan dan
Penelaahan Risiko;

KOMISARIS PEMEGANG SAHAM

LAPORAN RISIKO
PERUSAHAAN
RAPAT DIREKSI & GRADE I
DIREKSI

DRAF LAPORAN RISIKO


PERUSAHAAN GENERAL MANAGER

SEKRETARIS

UNTUK PENGESAHAN LAPORAN


PERUSAHAAN

DEPARTEMEN
KEPATUHAN &
MANAJEMEN RISIKO LAPORAN RISIKO KOMPARTEMEN
(OPERASI DAN STRATEGIS)

LAPORAN RISIKO UNIT


KERJA/ TIMPROYEK

TIM UNIT
PROYEK KERJA

Gambar. 2.4 Mekanisme Pelaporan Manajemen Risiko Pupuk Kaltim.

2. Laporan Peristiwa Risiko Unit Kerja, yang akan menjadi database risiko Perusahaan.
Laporan ini memuat tentang peristiwa/kegagalan yang terjadi;
3. Laporan Kejadian Luar Biasa di Unit Kerja.
4. Laporan Produk dan Aktivitas Baru Unit Kerja, Laporan terhadap produk dan aktivitas
baru ini memuat antara lain:
a. Nama produk/aktivitas baru;
b. Uraian singkat proses produk dan aktivitas baru;
c. Kemungkinan risiko terekspos atas produk/aktivitas baru.

b) Laporan Penerapan Manajemen Risiko yang dibuat oleh Departemen Kepatuhan dan
Manajemen Risiko, terdiri atas:
1. Laporan Profil Risiko Perusahaan
Laporan profil risiko disusun untuk mengetahui seluruh jenis risiko yang ada di
perusahaan. Dari hasil identifikasi risiko yang telah pernah terjadi atau yang mungkin
akan terjadi, disusun dalam suatu daftar risiko yang telah dikelompokkan berdasarkan
suatu klasifikasi risiko sesuai dengan tipe/karakteristik risiko. Daftar risiko ini disusun
secara terpadu antara lain, meliputi: indikasi risiko termasuk peristiwa risiko yang
PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO
PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
11
pernah terjadi, nama dan uraian risiko, penyebab risiko, konsekuensi risiko, peringkat
risiko, likelihood dan consequence risiko, mitigasi risiko, biaya mitigasi dan Person In
Charge serta jadwal penyelesaian. Format dan cara penyusunan Daftar Risiko diatur
tersendiri dalam Prosedur Penerapan Manajemen Risiko.
Seluruh risiko yang terdapat dalam daftar risiko dilaporkan dalam Laporan Profil Risiko.
Laporan Profil Risiko terdiri dari tingkat risiko dan trend disajikan secara komparatif
dibandingkan dengan posisi sebelumnya. Laporan Profil Risiko antara lain, meliputi:
a. Jenis/nama risiko;
b. Penilaian tingkat risiko dan trendnya per posisi akhir periode pelaporan
sebelumnya dan periode pelaporan berjalan;
c. Uraian singkat mengenai tingkat dan trend risiko;
d. Uraian singkat mengenai pelaksanaan penilaian risiko perusahaan oleh
Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko;
e. Tindak lanjut hasil penilaian risiko perusahaan;
f. Ringkasan Peta Risiko perusahaan.

2. Laporan Produk dan Aktivitas Baru


Apabila perusahaan melakukan kegiatan pengembangan usaha
yang kemudian menghasilkan produk dan/atau aktivitas baru, maka perusahaan
diwajibkan untuk mengungkapkan risiko yang melekat pada setiap penerbitan produk
dan aktivitas baru tersebut. Laporan terhadap produk dan aktivitas baru ini meliputi
hal-hal sebagai berikut:
a. Laporan action plan untuk produk dan aktivitas baru yang pertama kali diterbitkan;
b. Laporan penyusunan kebijakan dan prosedur untuk produk dan aktivitas baru yang
baru pertama kali diterbitkan, antara lain:
(1) Sistem dan prosedur;
(2) Identifikasi seluruh risiko;
(3) Masa uji coba metode pengukuran dan pemantauan risiko.
Jangka waktu penyampaian laporan produk dan aktivitas baru, adalah segera setelah
produk dan aktivitas baru tersebut efektif dilaksanakan, sebagaimana diatur dalam
Prosedur Penerapan Manajemen Risiko.

3. Laporan Kejadian Luar Biasa


Apabila diperoleh suatu informasi tentang adanya suatu kondisi
yang berpotensi menimbulkan kerugian yang signifikan atau membahayakan bagi
perusahaan misalnya: terjadinya krisis moneter, kenaikan yang cukup signifikan
pada nilai tukar Dollar Amerika (US$) terhadap Rupiah (Rp) yang sebelumnya tidak
diperkirakan atau tidak diketahui, dan lain-lain.
Laporan yang harus dibuat oleh Direksi disampaikan kepada Komisaris, yaitu Laporan
Pelaksanaan Kebijakan Manajemen Risiko, antara lain:
a) Profil Risiko Perusahaan;
b) Informasi Produk dan Aktivitas Baru;
c) Laporan Kejadian Luar Biasa;
d) Laporan Kegiatan Penerapan Manajemen Risiko.

Laporan ini memuat rencana dan realisasi kegiatan kerja yang


disusun secara terpadu mencakup sasaran/target yang akan dicapai dalam
penerapan manajemen risiko, strategi pencapaian sasaran, jangka waktu
pelaksanaan kegiatan, uraian kegiatan penerapan manajemen risiko,
permasalahan yang ada dalam penerapan manajemen risiko dan
penyelesaian permasalahannya dilihat dari segi struktur organisasi/uraian tugas,
kebijakan, kesiapan sumber daya manusia, dan sistem informasi manajemen, serta
PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO
PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
12
rencana penyelesaian permasalahan dari risiko-risiko yang telah diidentifikasi dan
menjadi prioritas, antara lain meliputi :
a) Jenis risiko
b) Tindakan perbaikan
c) Batas waktu penyelesaian
d) Informasi lainnya yang diperlukan
Pembuatan laporan kegiatan penerapan manajemen risiko ini disampaikan secara
berkala sesuai ketentuan dalam Prosedur Penerapan Manajemen Risiko.

3) Periode Pelaporan
Periode pelaporan dan batas waktu penyampaian laporan ditetapkan, sebagai berikut :
a) Laporan Profil Risiko Unit Kerja dilaporkan oleh Unit Kerja setiap tiga (3) bulan sekali
kepada Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko;
b) Laporan Peristiwa Risiko Unit Kerja, akan menjadi database risiko Perusahaan.
Waktu pelaporannya disampaikan segera dan selambat-lambatnya satu (1) bulan
setelah diperoleh informasi atau disesuaikan dengan tingkat kebutuhannya setelah
evaluasi dan dikaji;
c) Laporan Profil Risiko Perusahaan disajikan secara komparatif dengan posisi
sebelumnya, dan dilaporkan secara berkala setiap tiga (3) bulan, kecuali terhadap risiko
yang signifikan;
d) Laporan Produk dan Aktivitas Baru (bila ada) segera dilaporkan yaitu
selambat-lambatnya satu (1) bulan setelah produk dan aktivitas baru tersebut efektif
dilaksanakan;
e) Laporan Kejadian Luar Biasa, yaitu apabila terdapat suatu kondisi baik
internal maupun eksternal yang berpotensi menimbulkan kerugian yang signifikan
atau bahkan dapat membahayakan kelangsungan hidup perusahaan harus segera
dilaporkan. Waktu pelaporannya disampaikan segera dan selambat-lambatnya
satu (1) bulan setelah diperoleh informasi atau disesuaikan dengan tingkat
kebutuhannya, karena perlu evaluasi dan kajian yang mendalam;
f) Laporan Kegiatan Penerapan Manajemen Risiko disusun 1 (satu) tahun sekali, dan
disampaikan oleh Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko kepada Direksi
selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum berakhirnya tahun berjalan.

2.2.3 Penerapan Manajemen Risiko


2.2.3.1 Penerapan Kerangka Kerja Manajemen Risiko
Mekanisme penerapan manajemen risiko (Gambar. 2.5 Mekanisme Penerapan Manajemen
Risiko Pupuk Kaltim) dimulai dari:
1) Rapat Direksi dan Grade I membahas agenda sebagai berikut:
a) Pengukuran dan Pemetaan Risiko dengan melakukan evaluasi tingkat/besaran risiko;
b) Merencanakan pengendalian dan pembahasan penanganan risiko strategis, yaitu risiko
yang penanganannya harus dilakukan secara lintas direktorat;
c) Hasil pembahasan berupa penanganan risiko perusahaan.
2) Direktur Utama melakukan review dan/atau memberikan persetujuan atas
Laporan Penerapan Manajemen Risiko Perusahaan, selanjutnya menyampaikan Laporan
Manajemen Risiko Perusahaan dan tindakan penanganannya kepada Pemegang Saham
dan tembusan kepada Dewan Komisaris;
3) SPI melakukan audit atas penerapan Manajemen Risiko dan melaporkannya kepada Direksi
dengan tembusan kepada Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko;
4) Unit Kerja mengusulkan anggaran biaya/investasi disertai program mitigasi risiko yang
berisi kajian risiko dan anggaran biaya/investasi yang diperlukan untuk menangani
risiko kepada Departemen Anggaran dengan tembusan ke Departemen Kepatuhan &
Manajemen Risiko untuk kemudian dilaporkan kepada Direksi untuk pengambil keputusan.
PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO
PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
13
2.2.3.2 Penerapan Proses Manajemen Risiko
Penerapan proses manajemen risiko secara rinci dijelaskan pada Bab III.

2.2.4 Monitoring dan Review Kerangka Kerja Manajemen Risiko


Untuk memastikan bahwa manajemen risiko efektif dan menunjang kinerja organisasi maka
manajemen organisasi hendaknya:
1) Menetapkan ukuran kinerja;
2) Mengukur kemajuan penerapan manajemen risiko secara berkala dibandingkan dengan
rencana awal;
3) Meninjau secara berkala apakah kerangka kerja manajemen risiko, kebijakan risiko, dan
rencana penerapan masih tetap sesuai dengan konteks internal dan eksternal organisasi;
4) Memastikan apakah kebijakan risiko dipatuhi, memantau bagaimanakah penerapan rencana
manajemen risiko dan kepatuhan dalam menyampaikan laporan risiko secara berkala;
5) Memantau efektivitas kerangka kerja manajemen risiko.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
14
2.2.5 Perbaikan Berkelanjutan Kerangka Kerja Manajemen Risiko
Hasil monitoring dan review harus ditindaklanjuti untuk perbaikan berkelanjutan dari
kerangka kerja manajemen risiko, kebijakan risiko, dan rencana manajemen risiko. Tindak
lanjut ini diharapkan akan meningkatkan dan memperbaiki manajemen risiko serta budaya
risiko Pupuk Kaltim.
Gambar. 2.5Mekanisme
Gbr. 2.5 MekanismePenerapan
Penerapan Manajemen
ManajemenRisiko
RisikoPupuk
PupukKaltim
Kaltim

Komite/Organ
Komite Pemantau Komisaris &
Departemen Kom DEKOMRisiko,
Manaj. Yang
SPI Departemen Direksi Pemegang
K&MR partemen Nominasi
Berkaitan&
Remunerasi Saham
Proses Penetapan Kebijakan

Usulan Penetapan
Kebijakan Risk Evaluasi dan
Kebijakan, Risk
Appetite, dan Persetujuan
Appetite dan
Risk Tolerance Risk Tolerance

Identifikasi
Risiko
Pemantauan

Analisa &
Evaluasi
Risiko

Perlakuan
Risiko

Laporan MR Laporan MR
AUDIT PENERAPAN MANAJEMEN RSIKO PERUSAHAAN

Departemen Departemen

Pengesahan
Laporan MR
Departemen
Dibawah
Koordinasi GM

Proses
manajemen
risiko
Kompartemen
Proses Pelaksanaan Manajemen Risiko

Identifikasi
Risiko

Analisa &
Evaluasi
Risiko

Perlakuan
Risiko

Laporan MR
Kompartemen Pengesahan
Laporan MR
Kompartemen
Dibawah
Koordinasi
Laporan Risiko Direktur
Unit Kerja

Pembahasan Laporan
/Persetujuan Manajemen
Kompilasi Laporan Risiko
Risiko Manajemen Perusahaan
Risiko
Perusahaan Evaluasi dan
serta Saran Atas
Rencana Penerapan
Laporan Risiko
Penanganan Manajemen
Perusahaan
Risiko Risiko
Perusahaan Perusahaan

Penanganan
Risiko
Perusahaan

LHA
Penerapan MR

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
15
BAB III
PROSES MANAJEMEN RISIKO

3.1 Proses Manajemen Risiko


Proses yang dilaksanakan dalam penerapan manajemen risiko berlangsung secara
terus menerus dalam satu siklus yang dijabarkan dalam 7 (tujuh) tahapan (Gambar. 3.1
Siklus Manajemen Risiko Pupuk Kaltim) yang harus dikelola dengan baik agar dapat membantu
perusahaan untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, sehingga perusahaan
dapat tetap bertahan dan berkembang dalam berbagai situasi dan kondisi serta menjadikan
perusahaan memiliki struktur bisnis yang kuat dalam menghadapi setiap tantangan yang ada.

3.9.MONITORING DAN
REVIEW
Gambar. 3.1 Siklus Manajemen Risiko Pupuk Kaltim

3.2 Komunikasi dan Konsultasi


Komunikasi dan konsultasi merupakan pertimbangan penting pada setiap langkah proses
manajemen risiko. Sangat penting untuk mengembangkan suatu rencana komunikasi dengan
stakeholder baik internal maupun eksternal pada tahap-tahap awal proses. Rencana tersebut
harus mengarah pada isu-isu menyangkut risiko itu sendiri maupun proses untuk mengelolanya.

Komunikasi dan konsultasi meliputi dialog dua arah diantara para stakeholder, dijelaskan pada
Gambar. 3.2 Proses Komunikasi & Konsultasi Manajemen Risiko Pupuk Kaltim.
Komunikasi internal dan eksternal yang efektif sangat penting untuk meyakinkan
bahwa penanggung jawab pengimplementasian manajemen risiko dan pihak-pihak lain yang
berkepentingan memahami dasar pengambilan keputusan dan mengapa tindakan-tindakan
tertentu diperlukan.
Persepsi terhadap risiko dapat berbeda karena perbedaan asumsi dan konsep serta kebutuhan,
isu (issue) dan perhatian stakeholder sehubungan dengan risiko atau isu (issue) yang didiskusikan.
Persepsi dan alasan-alasan stakeholder dalam akseptabilitas suatu risiko yang memiliki dampak
signifikan terhadap keputusan yang diambil diidentifikasi dan didokumentasikan.
Ketetangan :
R : Responsible : Siapa yang
mengerjakan
A : Accountable : Siapa yang membuat
keputusan akhir Ya atau Tidak
C : Consulted : Siapa yang harus
diajak konsultasi sebelum kegiatan
dilanjutkan
I : Informed : Siapa yang harus diberi
informasi

Gambar. 3.2 Proses Komunikasi & Konsultasi Manajemen Risiko Pupuk Kaltim

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
16
3.3 Menentukan Konteks
3.3.1 Strategi Penetapan Konteks
Menentukan konteks dilakukan untuk mendefinisikan parameter dasar tentang risiko yang harus
dikelola, dan untuk menyediakan pedoman bagi keputusan dalam kajian manajemen risiko yang
lebih terinci, yang meliputi kegiatan:
1) Konteks eksternal dan Internal adalah lingkungan eksternal dan internal dimana organisasi
tersebut mengupayakan pencapaian sasaran yang ditetapkannya.
2) Konteks manajemen risiko adalah konteks dimana manajemen risiko diterapkan
3) Menentukan kriteria risiko :
a) Kriteria Likelihood

Gambar. 3.3 Kriteria Likelihood Pupuk Kaltim

b) Kriteria Consequence

Gambar. 3.4 Kriteria Consequence Pupuk Kaltim

Kriteria consequence ditetapkan dengan mempertimbangkan pengaruh risiko yang


berimplikasi pada
a. Strategi dan atau aktivitas perusahaan dan
b. Kepentingan stakeholder.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
17
c) Toleransi & Selera Risiko (RiskTolerance & Risk Appetite)
Secara umum risk appetite Pupuk Kaltim berada dalam batasan cakupan risiko medium-down
dalam peta risiko, ditunjukkan pada Gambar. 3.5 Peta Risiko Pupuk Kaltim.

Gambar. 3.5 Peta Risiko Pupuk Kaltim

Kewenangan dan tanggung jawab dalam pengelolaan risiko


1. Risiko yang berada di atas garis risk tolerance dan berada di level risiko mulai dari 16 sampai
dengan 25 menjadi perhatian penuh Direksi dalam pengelolaannya.
2. Level risiko di atas garis risk tolerance sampai lebih kecil dari 16 menjadi perhatian penuh
General Manager dan Direksi.
3. Risiko di bawah garis risk tolerance sepenuhnya dalam tanggung jawab pengelolaan ditingkat
operasional.

Penetapan konteks dapat mengacu pada


1. Visi dan Misi Perusahaan
2. RJP (Rencana Jangka Panjang)
3. RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan)
4. KPI (Key Performance Indicator) Direksi s/d KPI Departemen.
Penetapan konteks memudahkan identifikasi dan proses-proses selanjutnya.
Proses Identifikasi dilakukan bersamaan dengan saat penyusunan RKAP tahun berjalan sehingga
menunjukan penerapan Risk Based Budgeting.

3.3.2 Kebijakan Penetapan Kategori Risiko


Kategori risiko secara garis besar terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu:
a. Berdasarkan fungsi bidang
Kategori risiko ditetapkan berdasarkan fungsi dan bidang yang meliputi minimal
1. Fungsi Produksi
2. Fungsi Pemasaran
3. Fungsi Pengadaan
4. Fungsi Distribusi
5. Fungsi Pengembangan
6. Fungsi Teknologi Informasi
7. Fungsi Keuangan
8. Fungsi Pengawasan
9. Fungsi SDM
10. Fungsi Umum
11. Fungsi Hukum dan Reputasi
12. Fungsi Lingkungan dan Kesehatan Keselamatan Kerja
13. Fungsi Manajemen Risiko
PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO
PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
18
b. Berdasarkan dampak risiko
1. Risiko Strategis adalah dampak risiko saat ini dan masa depan terhadap pendapatan
atau modal yang timbul dari keputusan bisnis yang merugikan atau kekurang tanggapan
terhadap perubahan lingkungan bisnis.
2. Risiko Tinggi adalah risiko yang jika dampak terjadinya adalah 5 (lima) maka tingkat risiko
yang diperoleh adalah tinggi.
3. Risiko Strategis dan atau Tinggi menjadi fokus pengelolaan perusahaan yang juga akan
disampaikan kepada pemegang saham.

3.4 Assesment Risiko


Assesment risiko dilakukan oleh seluruh unit kerja mulai dari unit kerja setingkat
Kompartemen sampai dengan Departemen setiap periode tiga (3) bulanan. Key person sebagai
perwakilan manajemen risiko di unit kerja bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Assesment
risiko antara lain, meliputi : identifikasi risiko, analisis risiko dan evaluasi risiko. Jika unit kerja
kesulitan dalam melakukan proses Assesment risiko, Departemen Kepatuhan & Manajemen akan
memberi bimbingan sampai dapat melakukan proses secara mandiri.

3.5 Identifikasi Risiko


Identifikasi komprehensif dengan menggunakan proses sistematis yang terstruktur, secara dalam,
luas dan harus mencakup semua risiko, baik risiko yang berada dalam kendali Pupuk Kaltim
maupun risiko yang di luar kendali Pupuk Kaltim.
Identifikasi dilakukan pada sumber risiko, area dampak risiko, penyebabnya dan potensi
akibatnya. Teknik Identifikasi yang digunakan, disesuaikan dengan kemampuan, sasaran, dan jenis
risiko yang dihadapi. Alat identifikasi yang dapat digunakan antara lain Brainstorming dan Risk
Breakdown Structure (RBS). Dokumen utama yang dihasilkan dalam proses ini adalah Daftar Risiko
(Risk Register).

3.6 Analisis Risiko


Tujuan analisis risiko adalah melakukan analisis dampak dan kemungkinan
semua risiko yang dapat menghambat tercapainya sasaran organisasi dan menyediakan data
untuk membantu langkah evaluasi dan mitigasi risiko. Analisis risiko mencakup pertimbangan
dan mengkombinasikan estimasi terhadap consequence dan likelihood didalam konteks untuk
mengambil tindakan pengendalian.
Analisis risiko dapat berupa analisis kualitatif, semi kuantitatif, kuantitatif
atau kombinasi diantaranya, tergantung pada informasi risiko dan data yang tersedia. Analisis
kualitatif dapat digunakan pertama kali untuk mendapatkan indikasi umum mengenai level risiko.
Selanjutnya dilakukan analisis kuantitatif yang lebih spesifik.
Jenis-jenis analisis risiko tersebut adalah sebagai berikut:
1) Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif menggunakan istilah atau skala deskriptif untuk menggambarkan besaran
konsekuensi yang potensial dan likelihood bahwa konsekuensi akan terjadi.
Analisis kualitatif digunakan:
a) Sebagai suatu aktivitas penyaringan awal untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang
memerlukan analisis yang lebih rinci;
b) Ketika level risiko tidak memungkinkan dilakukannya analisis yang lebih penuh karena faktor
waktu dan sumberdaya; atau
c) Ketika data numerik tidak memadai bagi suatu analisis kuantitatif.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
19
2) Analisis Semi Kuantitatif
Dalam analisis semi kuantitatif, skala kualitatif seperti diuraikan di atas diberi nilai tertentu.
Angka yang dialokasikan kepada masing-masing uraian tidak harus mengandung hubungan
yang akurat dengan besaran yang sebenarnya dari consequence dan likelihood. Angka-angka
dapat dikombinasikan dengan salah satu dari sekian formula yang disajikan oleh sistem yang
digunakan untuk keperluan prioritisasi, dicocokkan dengan sistem yang dipilih untuk menunjuk
angka-angka dan mengkombinasikannya.
Tujuannya untuk memperoleh prioritisasi yang lebih detail dari pada yang
biasanya diperoleh dalam analisis kualitatif, tidak untuk memberikan nilai realistis suatu risiko
seperti dihasilkan dalam analisis kuantitatif. Terkadang layak untuk mempertimbangkan bahwa
likelihood terdiri dari dua elemen, biasanya merujuk kepada likelihood sebagai frekuensi paparan
dan probabilitas.

Perhatian harus dipusatkan ketika terjadi situasi dimana hubungan antara kedua elemen tidak
sepenuhnya independen, misalnya terdapat hubungan yang kuat antara frekuensi eksposure
dengan probabilitas.

3) Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif menggunakan nilai angka (daripada menggunakan skala deskriptif seperti
digunakan dalam analisis kualitatif dan semi kuantitatif) baik untuk consequence maupun untuk
likelihood, dengan menggunakan data dari berbagai sumber. Kualitas analisis tergantung pada
akurasi dan kelengkapan nilai numerik yang digunakan.
Consequence dapat diestimasi dengan pembuatan model outcome dari suatu atau beberapa
peristiwa, atau dengan ekstrapolasi hasil kajian eksperimen atau data masa lalu. Consequence
dinyatakan dalam satuan moneter (mata uang), kriteria teknik (satuan pengukuran) atau
manusia (kematian/cedera) atau kriteria lainnya. Dalam beberapa kasus, diperlukan lebih dari
satu nilai numerik untuk menentukan konsekuensi pada waktu, tempat, kelompok atau situasi
yang berbeda.
Likelihood biasanya dinyatakan sebagai probabilitas, frekuensi atau kombinasi antara paparan
dan probabilitas.

3.7 Evaluasi Risiko


Evaluasi risiko merupakan pembandingan antara level risiko yang ditemukan selama
proses analisis dengan kriteria risiko yang ditetapkan sebelumnya. Dalam evaluasi risiko, level
risiko dan kriteria risiko harus diperbandingkan dengan menggunakan basis yang sama. Hasil dari
evaluasi risiko adalah daftar prioritas risiko untuk tindakan lebih lanjut. Jika risiko-risiko masuk
dalam kategori rendah atau risiko yang dapat diterima, maka risiko-risiko tersebut diterima
dengan sedikit perlakuan lanjutan. Risiko-risiko yang rendah atau dapat diterima harus dipantau
dan ditelaah secara periodik untuk menjamin bahwa risiko-risiko tersebut tetap dapat diterima.
Risiko dikatakan memiliki tingkat yang dapat diterima bila :
1) Level risiko rendah sehingga tidak perlu penanganan khusus;
2) Tidak tersedia penanganan untuk risiko;
3) Biaya penanganan termasuk biaya asuransi lebih tinggi dari manfaat yang diperoleh bila risiko
tersebut diterima;
4) Peluang dari adanya risiko tersebut lebih besar dari ancamannya.
Langkah evaluasi memastikan bahwa tidak semua risiko yang teridentifikasi memerlukan rencana
pengendalian lebih lanjut. Hasil dari analisis risiko akan disampaikan kepada penanggung jawab
tertinggi pengelola risiko di unit kerja untuk dilakukan validasi.
Hasil validasi akan digunakan untuk menetapkan rencana langkahlangkah sistem pengendalian
untuk menurunkan kemungkinan terjadinya risiko maupun untuk menurunkan dampak terjadinya
risiko.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
20
3.8 Mitigasi/Perlakuan Risiko
Risiko-risiko yang telah tersaring pada langkah evaluasi, selanjutnya dibuat rencana pengendalian
lebih lanjut, langkah ini disebut mitigasi risiko. Langkah mitigasi risiko meliputi pengidentifikasian
opsi untuk menangani risiko, menaksir opsi tersebut, menyiapkan rencana perlakuan risiko dan
mengimplementasikan rencana perlakuan risiko.
Mitigasi risiko dibedakan menjadi dua jenis yaitu pengendalian dan penanganan.
1) Pengendalian
Pengendalian adalah upaya-upaya untuk merubah risiko. Pengendalian biasanya
merupakan upaya-upaya yang telah dimiliki dan bersifat rutin untuk mengantisipasi terjadinya
risiko. Contoh pengendalian dapat dalam bentuk prosedur, WI, dsb.
2) Penanganan
Penanganan adalah upaya-upaya yang akan dilakukan sebagai langkah baru untuk
memperlakukan risiko karena upaya-upaya yang sudah ada belum memadai.

Opsi perlakuan risiko secara umum meliputi


1. Menghindari risiko (risk avoidance), berarti tidak melaksanakan atau meneruskan kegiatan
yang menimbulkan risiko tersebut.
2. Mengurangi risiko (risk reduction), yaitu perlakuan risiko untuk mengurangi kemungkinan
terjadinya atau mengurangi paparan dampaknya, atau mengurangi keduanya.
3. Transfer risiko (risk sharing) , yaitu suatu tindakan untuk mengurangi kemungkinan timbulnya
risiko melalui antara lain: asuransi, outsourcing, subcontracting, tindak lindung, transaksi
nilai mata uang asing, dll.
4. Menerima risiko (risk acceptance), yaitu tidak melakukan perlakuan apapun terhadap risiko
tersebut.
Dokumen utama yang dihasilkan dari tahapan identifikasi, analisis, evaluasi, dan mitigasi/
perlakuan risiko adalah berupa Daftar Risiko (Risk Register).

3.9 Pemantauan dan Pengkajian (Monitoring & Review)


Pemantauan terus-menerus sangat penting untuk meyakinkan bahwa rencana manajemen
tetap relevan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi likelihood dan consequence suatu
outcome mungkin berubah, sama seperti faktor-faktor yang mempengaruhi kesesuaian dan biaya
berbagai opsi perlakuan. Oleh karena itu perlu secara reguler dilakukan pengulangan siklus proses
manajemen risiko. Tingkat risiko dan efektivitas tindakan pengendalian dipantau secara
triwulanan (per 3 bulan) dan dilakukan bersama dengan proses assesment risiko dan
penyampaian profil manajemen risiko unit kerja.
Pengkajian merupakan bagian integral rencana perlakuan risiko. Departemen
Kepatuhan & Manajemen Risiko menjadi fasilitator dalam tahapan pengkajian ini. Pengkajian
dilakukan sebanyak minimal satu (1) kali dalam setahun dalam bentuk diskusi panel. Pertemuan
dilakukan dengan mengundang General Manager (GM) dan dihadiri oleh Direksi. Masing-masing
GM mengungkapkan isu risiko yang menjadi perhatian utama di masing-masing kompartemennya.
Risiko-risiko yang telah dipaparkan akan dipilih dan disaring menjadi risiko yang menjadi perhatian
utama perusahaan.
Kompartemen juga melakukan pengkajian terhadap risiko-risiko yang berada di
wilayahnya. Pertemuan dilakukan dengan mengundang Departemen-departemen terkait serta
jika berkesempatan dapat menghadirkan Direktur terkait juga. Hasil pengkajian oleh GM akan
disampaikan pada diskusi panel ditingkat Direksi. Hal-hal yang diperoleh dari hasil pemantauan
risiko menjadi bahan pengkajian lebih lanjut untuk memperbaiki dan menyesuaikan berbagai
tindakan terhadap risiko untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi penanganan risiko.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
21
3.10 Dokumentasi dan Pelaporan Manajemen Risiko
Mekanisme dokumentasi dan pelaporan proses manajemen risiko unit kerja dibagi menjadi dua
sebagai berikut:
1) Departemen
Mekanisme pelaporan Manajemen Risiko untuk Departemen digambarkan pada
Gambar. 3.6 Alur Pelaporan MR Departemen. Hasil assesment manajemen risiko
Departemen disahkan oleh Manager dan dikirimkan kepada GM untuk review. Setelah
GM menyetujui laporan disampaikan ke Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko.
Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko melakukan review untuk pemenuhan
persyaratan laporan dan selanjutnya disimpan ke database serta disiapkan untuk proses
berikutnya. Jika belum memenuhi persyaratan, laporan akan dikembalikan kepada unit kerja
untuk direvisi.
Gambar. 3.6 ALUR PELAPORAN MR DEPARTEMEN
Gbr. 3.6 ALUR PELAPORAN MR DEPARTEMEN

PENANGGUNG
ALUR PROSES DOKUMEN PENGENDALI
JAWAB

MULAI

Mengusulkan draft Draft Laporan MR


Key Person Departemen
laporan MR

Pembuatan
Manager Laporan MR Laporan MR Departemen
Departemen

Tidak
Setuju

Ya

Mengetahui/
Laporan MR Departemen
General Manager Persetujuan Lap
disetujui General Manager
MR Departemen

Setuju
Tidak
Ya

Laporan MR yang telah di


Reviu Laporan MR review dan akan
Manager K&MR
Departemen dipublikasi

Tidak
Setuju

Ya

Data Laporan MR
Bahan Lap.
Departemen
MR
Perusahaan
Kabag MR

SELESAI

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
22
2) Kompartemen
Mekanisme pelaporan Manajemen Risiko untuk Kompartemen digambarkan pada
Gambar. 3.7 Alur Pelaporan MR Kompartemen. Hasil assesment manajemen
risiko Kompartemen disahkan oleh GM dan dikirimkan kepada Direktur terkait untuk
dikaji ulang. Setelah Direktur menyetujui, laporan disampaikan ke Departemen Kepatuhan
& Manajemen Risiko untuk dikaji terhadap pemenuhan persyaratan laporan akan disimpan
ke database dan disiapkan untuk proses berikutnya. Jika belum memenuhi persyaratan,
laporan akan dikembalikan kepada unit kerja untuk direvisi.

Gbr. 3.7Gambar. 3.7 ALURMR


ALUR PELAPORAN PELAPORAN MR
KOMPARTEMEN KOMPARTEMEN
PENANGGUNG ALUR PROSES DOKUMEN
JAWAB PENGENDALI

Mulai

Laporan Risiko
Strategis dan Lap. MR
Kompartemen
General Manager Laporan MR
Kompartemen

Direktur
Departemen
K&MR

Dep. K&MR melakukan


Manager K&MR kompilasi laporan MR
Kompartemen
Diskusi Panel
Direktur & GM Tidak

Dep. K&MR Memfasilitasi


penyelenggaraan Diskusi
Manager K&MR OK Panel Direksi & GM

Ya
Menyusun Laporan MR
Ke Holding
Manager K&MR
Bahan Laporan Menyerahkan Ke Direksi
MR Ke Holding
.

Selesai

Departemen Kepatuhan & Manajemen Risiko melakukan analisis, evaluasi serta membuat
kompilasi atas daftar risiko untuk Laporan Manajemen Risiko Perusahaan yang diajukan ke-
pada Direksi sebagai bahan rapat Direksi

3.11 Risk Based Audit


Hasil proes Manajemen Risiko Unit Kerja yang difokuskan pada penetapan risiko-risiko terpilih,
akan disampaikan kepada SPI atau internal audit untuk dijadikan dasar dalam penetapan PKPT
(Program Kerja Pemeriksaan Tahunan) berikutnya.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
23
3.12 Penyiapan Kompetensi Instansi
Unit kerja harus membangun kompetensinya dalam manajemen risiko pada 3 (tiga) elemen
berikut:
1. Para pengambil keputusan
2. Infrastruktur
3. Sistem dan proses

Untuk penyiapan Kompetensi, Unit Kerja Manajemen Risiko dapat bekerjasama


dengan Direktorat SDM untuk melakukan pelatihan internal/eksternal khusus kepada para
pengambil keputusan/pemilik risiko. Hal ini dimaksudkan agar para pengambil keputusan
memiliki pemahaman yang sama tentang manajemen risiko.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
24
BAB IV
PENUTUP

Penerapan manajemen risiko di PT Pupuk Kalimantan Timur didukung oleh sistem dokumentasi
manajemen risiko dengan urutan tingkatan sebagai berikut:
1) Kebijakan Manajemen Risiko, yang memuat tentang ketentuan umum sebagai payung
penerapan manajemen risiko.
2) Pedoman Manajemen Risiko, yang memuat tentang penjabaran Kebijakan Manajemen Risiko.
3) Prosedur Penerapan Manajemen Risiko, yang memuat tentang tahapan proses dan penanggung
jawab dalam penerapan manajemen risiko.
4) Petunjuk Pelaksanaan Manajemen Risiko yang menjadi petunjuk teknis bagi setiap unit kerja
dalam menerapkan manajemen risiko.
5) Rekaman manajemen risiko antara lain register risiko, laporan triwulanan manajemen risiko unit
kerja, laporan manajemen risiko perusahaan PT Pupuk Kalimantan Timur.

PEDOMAN MANAJEMEN RISIKO


PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR
25
Kantor Pusat & Pusat Produksi :
Jl. James Simandjuntak No.1
Bontang Utara 75313 Kalimantan Timur, INDONESIA
Tel. 0548 - 41202, 41203 Fax. 0548 - 41616, 41626

simeri.pupukkaltim.com
gcg.pupukkaltim.com
www.pupukkaltim.com
www.pktbersih.com