Anda di halaman 1dari 30

MIRZA HELTOMI 08310196 PEMBIMBING:

dr. Farid Wajdi, Sp. THT-KL

Trauma maksilofasial merupakan trauma fisik yang dapat mengenai jaringan keras dan lunak wajah. Trauma maksilofasial ini dibagi atas fraktur pada organ yang terjadi yaitu: 3
Fraktur Fraktur Fraktur Fraktur Fraktur tulang tulang tulang tulang tulang hidung zigoma dan arkus zigoma maksila (mid Fasial) orbita mandibula

Kelainan kelainan seperti disebut diatas,


mengharuskan kita untuk melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap, trauma maksilofasial dapat menjadi kasus yang kompleks diperlukan keterlibatan multispesialis dalam manajementnya

Penatalaksanaan kegawatdaruratan pada trauma maksilofasial oleh dokter umum hanya mencakup bantuan hidup dasar (Basic Life Support)
berguna menurunkan tingkat kecacatan dan kematian pasien penanganan selanjutnya di rumah sakit.

Oleh karena itu para dokter umum harus mengetahui prinsip dasar ATLS (Advance

Trauma Life Support

A. ANATOMI MAKSILOFASIAL

Tulang tulang wajah utama adalah


rahang atas (os maxilla), rahang bawah (os mandibula), tulang frontal, tulang hidung, dan tulang zigoma

Trauma maksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan sekitarnya. Fraktur adalah hilang atau putusnya kontinuitas jaringan keras tubuh. fraktur yang terjadi pada tulang-tulang wajah yaitu
orbitozigomatikus nasal, maksila dan mandibula

Penyebab utama maksilofasial bervariasi, mencakup


kecelakaan lalu lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olahraga, dan trauma akibat senjata api

Trauma maksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu


trauma jaringan keras wajah trauma jaringan lunak wajah.

Fraktur maksilofasial mencangkup trauma pada jaringan keras wajah yang terdiri dari:
Os Nasal Os arkus Zygomaticum OS mandibula (Dentis, Os Alveolus) Os Maxilla OS orbita

Pada fraktur kompleks zigoma :


Pemeriksaan klinis dilakukan dalam dua pemeriksaan yakni
secara ekstra oral dan intra oral.

Pemeriksaan fraktur komplek zigomatikus


foto rontgen submentoverteks, proyeksi waters dan CT scan.11

Pada fraktur maksila :


Pemeriksaan klinis pada fraktur Le Fort I dan II yakni
ekstra oral dan intra oral foto rontgen dengan proyeksi wajah anterolateral..

Pemeriksaan klinis pada fraktur Le Fort III dilakukan


secara ekstra oral dengan visualisasi. foto rontgen proyeksi wajah anterolateral, foto wajah polos dan CT scan.10,11

Pada fraktur mandibula :


Pemeriksaan klinis pada fraktur mandibula dilakukan yakni secara
ekstra oral dengan visualisasi dan palpasi. intra oral, pemeriksaan dilakukan secara visualisasi dan palpasi. foto rontgen proyeksi oklusal dan periapikal, panoramik tomografi ( panorex ) dan helical CT. 11

Pada fraktur nasal : Pada fraktur tulang hidung, tulang yang mengalami dislokasi tampak tidak simetris. Fraktur ini dapat disertai fraktur septum nasi. Pemeriksaan dilakukan dengan visualisasi dan palpasi.

- Visualisasi : deformitas tulang hidung, laserasi, epistaksis, bentuk garis hidung yang tidak normal (deviasi septum), ekhimosis. -Palpasi : luka robek, oedem, hematom, nyeri tekan, tulang hidung yang bergerak, krepitasi.

Indikasi operasi pada fraktur tulang wajah


terdapat gangguan fungsi Terdapat gangguan estetik.

Fraktur zygomatikus
Secara elektif Fraktur arkus bisa dengan pendekatan Gillies Klasik

Fraktur Maxilla
Pada fraktur Le Fort I : arch bar,
fiksasi maksilomandibular, dan suspensi kraniomandibular yang didapatkan dari pengawatan sirkumzigomatik

fraktur Le Fort II sama dengan fraktur Le Fort I.


perbedaannya adalah perlu dilakukan perawatan fraktur nasal dan dasar orbita juga.

Fraktur Le Fort III: arch bar, fiksasi maksilomandibular,


pengawatan langsung bilateral pada sutura zigomatikofrontalis suspense kraniomandibular pada prosessus zigomatikus ossis frontalis

Fraktur Mandibula Ada dua cara penatalaksanaan


cara tertutup / konservatif terbuka / pembedahan.