Anda di halaman 1dari 165

PENGANTAR

SOSIOLOGI
SATRIA HUTAMA PP
F1C01413

APA ITU SOSIOLOGI ?


SOSIOLOGI adalah
Ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbalbalik antargejala sosial dan antara gejala sosial dengan
gejala nonsosial (PITIRIM SOROKIN)
Ilmu yang mempelajari hubungan antarmanusia dalam
kelompok (ROUCEK dan WARREN)
Ilmu yang mempelajari interaksi sosial dan hasilnya,
yaitu organisasi sosial (WF. OGBURN dan MF.
NIMKOFF)
Ilmu yang mempelajari struktur dan proses
kemasyarakatan yang stabil (JAA. VAN DOORN dan CJ.
LAMMERS)
Ilmu yang mempelajari struktur dan proses sosial,
terutama perubahan sosial (SELO SOEMARDJAN dan
SOELAEMAN SOEMARDI)

MENGAPA MUNCUL SOSIOLOGI


?
Menurut BERGER dan BERGER, pemikiran
sosiologis berkembang manakala
masyarakat menghadapi ancaman terhadap
hal-hal yang dianggap sudah seharusnya
(threats to the taken-for-granted world)
CONTOHNYA:
Disintegrasi
Reformasi Martin Luther
Munculnya kapitalisme (akhir abad xv)
Revolusi Industri (abad xviii)
Revolusi Prancis

PARA PERINTIS
SOSIOLOGI

AUGUSTE COMTE (1798-1857)


COMTE dianggap sebagai Bapak Sosiologi, dia orang
yang pertama kali memberi nama sosiologi. Sosiologi
berasal dari kata socius (bahasa Romawi) yang artinya
kawan, dan logos (bahasa Yunani) yang berarti kata
atau berbicara
COMTE dalam bukunya Course de Philosophie
Positive mengemukakan pandangannya bahwa sejarah
manusia akan melewati 3 tahapan: teologis, metafisis,
dan positivis (disebut Hukum Tiga Tahap/ The Law of
Human Progress/ The Three Stages Law)
COMTE dianggap sebagai perintis positivisme. Cirinya,
objek yang dikaji faktual, bermanfaat, mengarah ke
kepastian dan kecermatan. Caranya, pengamatan,
perbandingan, eksperimen, metode historis

KARL MARX (1818-1883)


Sumbangan utama MARX bagi sosiologi adalah teori
kelas. Dalam buku yang ditulisnya bersama
FRIEDRIECH ENGELS The Communist Manifesto,
dijelaskan bahwa sejarah masyarakat manusia adalah
sejarah perjuangan kelas: dari masyarakat komunal
purba, masyarakat feodal, masyarakat kapitalis,
masyarakat sosialis, hingga masyarakat komunis
Meskipun ramalan MARX tidak pernah terwujud, namun
pemikirannya tentang stratifikasi sosial dan konflik tetap
berpengaruh

EMILE DURKHEIM (1858-1917)


Dalam buku The Division Labor in Society, ia
mengemukakan bahwa dalam masyarakat, pembagian
kerja (diferensiasi, spesialisasi) semakin berkembang
sehingga solidaritas mekanis (yang diikat collective
conscience) berubah menjadi solidaritas organis
(dasarnya saling ketergantungan dengan pijakan hukum
dan akal)
Dalam buku Rules of Sociological Method, DURKHEIM
mengemukakan bahwa yang harus dipelajari dalam
sosiologi adalah fakta sosial: cara berfikir, cara
bertindak, cara merasakan, yang berasal dari
masyarakat dan mengendalikan individu

LANJUTAN
CIRI-CIRI FAKTA SOSIAL :
Bersifat eksternal (ada di luar individu)
Bersifat memaksa (coercive)
Bersifat umum (tersebar luas dalam masyarakat)
Contohnya: hukum, moral, adat istadat, cara
berpakaian, arsitektur, dll.
Buku Suicide merupakan usaha DURKHEIM
menerapkan metode yang telah dirintisnya untuk
menjelaskan gejala bunuh diri dengan
menggunakan teknik distribusi frekuensi dan
tabulasi silang

MAX WEBER (1864-1920)


Dalam buku The Protestant Ethic and The Spirit
of Capitalism, WEBER mengemukakan
tesisnya yang terkenal mengenai keterkaitan
antara etika Protestan dan perkembangan
kapitalisme di Eropa Barat. Ada reinterpretasi
terhadap pre-destiny dari yang bersifat outerworldly (katolisisme) ke yang bersifat innerworldly (protestantisme, khususnya aliran calvin)

CIRI CALVINISME: bekerja adalah calling atau


panggilan, sehingga orang harus bekerja keras,
tekun, hemat, dan hidup sederhana (asketis)

POKOK BAHASAN SOSIOLOGI


PANDANGAN PARA PERINTIS
EMILE DURKHEIM
Fakta sosial: yakni cara berfikir, cara bertindak, dan cara
berperasaan yang berasal dari luar individu dan
mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan
individu
MAX WEBER
Tindakan sosial: yakni tindakan yang dilakukan dengan
mempertimbangkan perilaku orang lain dan berorientasi
pada perilaku orang lain. Tindakan sosial memiliki
makna subjektif bagi pelakunya intersubjektivitas dan
intrasubjektivitas. Ini harus difahami melalui verstehen
(memahami), yakni put ones self imaginatively in the
place of the actor and thus sympathetically to participate
in this experiences.

LANJUTAN
PANDANGAN PARA AHLI SOSIOLOGI MASA KINI
C. WRIGHT MILLS
Menurut MILLS, khayalan sosiologis (sosiological
imagination) memungkinkan kita memahami
sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan
hubungan antara keduanya. Instrumennya:
personnel troubles of milieu dan public issues of
social structure. Misalnya: pengangguran, KDRT,
dsb.
Pokok bahasan sosiologi adalah kaitan antara
personnel troubles dengan public issues yang
seringkali melibatkan antagonisme dan kontradiksi

LANJUTAN
PETER L. BERGER
Menurutnya, ahli sosiologi bertujuan
memahami masyarakat, namun karena
things are not what they seem, maka
seorang sosiolog harus seeing through the
facades of social structures. Caranya
debunking motif (unmasking/ debunk =
membongkar kepalsuan)
Menurut Berger, masalah sosiologis tidak
sama dengan masalah sosial objek
kajian sosiologi tidak hanya perceraian,
pelacuran, kemiskinan, dll, tapi juga
perkawinan yang sukses, kemakmuran, dst.

PEMBAGIAN SOSIOLOGI
Menurut RANDALL COLLINS, sosiologi dipilah
menjadi:
SOSIOLOGI MIKRO: menganalisis apa yang
dilakukan, dikatakan, dan dipikirkan manusia
dalam laju pengalaman sesaat
Misalnya: perilaku orang saat berpapasan di
jalan
SOSIOLOGI MAKRO: menganalisis proses
sosial skala besar dan jangka panjang
Misalnya: perubahan sosial di Jogjakarta

pembeda keduanya: faktor ruang dan waktu

KEBUDAYAAN
DAN

MASYARAKAT

PENDAHULUAN
MASYARAKAT adalah sekelompok orang yang
hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
Oki, tidak ada masyarakat tanpa kebudayaan,
dan tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat
MELVILLE J. HERKOVITS memandang
kebudayaan sebagai sesuatu yang bersifat
superorganik: kebudayaan tetap eksis meskipun
anggota masyarakat pendukungnya bergantiganti (lahir-mati)

APA ITU KEBUDAYAAN ?


KEBUDAYAAN adalah kompleks yang
mencakup pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, serta
kemampuan-kemampuan dan kebiasaankebiasaan yang diperoleh manusia sebagai
anggota masyarakat (EB. TYLOR)
SELO SOEMARDJAN dan SOELAEMAN
SOEMARDI mendefinisikan kebudayaan
sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia

UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN
Unsur kebudayaan menurut KLUCKHOHN dalam
Universal Categories of Culture meliputi:
Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian,
perumahan, peralatan rumah tangga, senjata, alat
produksi, alat transportasi)
Mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi (pertanian,
peternakan, sistem produksi, distribusi, konsumsi)
Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi
politik, sistem hukum, sistem perkawinan)
Bahasa (lisan maupun tertulis)
Kesenian (seni rupa, seni tari, seni suara, seni gerak,...)
Sistem pengetahuan
Religi (sistem kepercayaan, agama,...)

KEBUDAYAAN
Terkait dengan hubungan antarmanusia,
kebudayaan merupakan design for living
(RALPH LINTON) atau blue print for
behavior yang menetapkan aturan
mengenai apa yang harus, seharusnya,
selayaknya dilakukan atau tidak dilakukan

UNSUR NORMATIF
UNSUR NORMATIF KEBUDAYAAN :
UNSUR PENILAIAN (valuational
elements): baik-buruk, benar-salah,
menyenangkan-tidak menyenangkan
UNSUR PERINTAH (prescriptive
elements): boleh-tidak boleh, perintahlarangan
UNSUR KEPERCAYAAN (cognitive
elements): selamatan, upacara, ritual

KEBUDAYAAN SEBAGAI
SISTEM NORMA
KEBUDAYAAN menyangkut aturan yang
harus diikuti bersifat normatif
KEBUDAYAAN menentukan cara
bertindak, cara berpikir, dan cara merasa
yang dikenal dan diikuti secara umum oleh
para anggota masyarakat

KLASIFIKASI NORMA
MASYARAKAT
WILLIAM GRAHAM SUMNER dalam bukunya
Folkways, mengklasifikasikan norma-norma
masyarakat berdasarkan daya paksanya terhadap para
anggota masyarakat sbb:
KEBIASAAN (folkways): cara yang lazim dan wajar serta
dilakukan berulang-ulang dalam melakukan sesuatu
oleh sekelompok orang
Contoh: berjabat tangan, cara makan,

TATA KELAKUAN (mores): gagasan yang kuat tentang


salah dan benar yang menuntut tindakan tertentu dan
melarang yang lain
Contoh: tabu, orang Banyumas tidak boleh bepergian
pada hari Sabtu Paing,

LANJUTAN
LEMBAGA SOSIAL (social institution): sistem hubungan
sosial yang terorganisasi yang mewujudkan nilai-nilai
dan tata cara umum tertentu untuk memenuhi
kebutuhan dasar masyarakat
Contoh: lembaga keluarga, agama, pemerintahan,
pendidikan, ekonomi

HUKUM (law): tata kelakuan yang terkodifikasi


sanksinya jelas
Contoh: KUHP, UU Kesehatan, UU Perlindungan
Anak,
NILAI (value): gagasan tentang apakah pengalaman
berarti atau tidak berarti
Contoh: nilai tentang virginitas, perempuan ideal,

KEBUDAYAAN DAN
KEPRIBADIAN
Setiap masyarakat memberikan pengalaman tertentu
yang tidak diberikan masyarakat lain kepada para
anggotanya
Timbul konfigurasi kepribadian yang khas dari para
anggota masyarakat tersebut disebut MODAL
PERSONALITY (DU BOIS)
Sebagian besar ciri kepribadian dimiliki oleh sebagian
besar anggota masyarakat tersebut KEBUDAYAAN
MODAL. Misalnya, orang Jawa halus dan tidak suka
terus terang, sementara orang Batak.
Kebudayaan modal hanya berlaku pada masyarakat
sederhana dengan kebudayaan yang solid

RELATIVISME KEBUDAYAAN
FUNGSI DAN ARTI SUATU UNSUR adalah
berhubungan dengan lingkungan/ keadaan
kebudayaannya. Oki, kita tidak bisa menganalisis
kelompok kebudayaan lain dengan motif,
kebiasaan, dan nilai-nilai kita RELATIVISME
KEBUDAYAAN
CONTOH:
Bagi masyarakat Indonesia hamil sebelum menikah
adalah buruk, sementara bagi masyarakat suku
Bontoc di Filipina adalah baik sebagai bukti bahwa
wanita tersebut subur
Bagi orang Madura, melakukan pembunuhan
dalam carok adalah mulia karena membela harga
diri dan kehormatan, namun menurut KUHP adalah
kriminal

ETNOSENTRISME DAN
XENOSENTRISME
ETNOSENTRISME adalah kecenderungan setiap
kelompok untuk menekankan keunggulan
kebudayaannya. Kebudayaan sendiri menjadi patokan
baik-buruk, benar-salah, tinggi-rendah, berharga-tidak
berharga,...
CONTOH: menyebut diri sebagai orang terpilih (Yahudi),
ras unggul (Jerman), sementara yang lain dianggap
kafir, barbar, tidak beradab, terbelakang,...
XENOSENTRISME adalah pandangan yang lebih
menyukai hal-hal yang berbau asing gagasan,
produk, gaya sendiri dianggap inferior
CONTOH: McDonald lebih prestisius dibanding Mbok
Berek

SOSIALISASI

CHILDREN LEARN WHAT THEY LIVE


(by DOROTHY LAW NOLTE)
If a child lives with criticism, he learns to condemn
If a child lives with hostility, he learns to fight
If a child lives with ridicule, he learns to be shy
If a child lives with shame, he learns to feel guilty
If a child lives with tolerance, he learns to be
patient
If a child lives with encouragement, he learns to be
confident

LANJUTAN
If a child lives with fairness, he learns justice
If a child lives with security, he learns to
have faith
If a child lives with approval, he learns to like
himself
If a child lives with acceptance and
friendship, he learns to find love in the
world

ANAK BELAJAR DARI


KEHIDUPANNYA
Jika anak dibesarkan dengan celaan,
dia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan
permusuhan, dia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan
cemoohan, dia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan
penghinaan, dia belajar menyesali diri

LANJUTAN
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar
menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia
belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar
menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik
perlakuan,
dia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia
belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan
persahabatan, dia belajar menemukan cinta
dalam kehidupan

PENDAHULUAN
Menurut PETER L. BERGER, berbeda
dengan makhluk lain yang seluruh
perilakunya dikendalikan naluri (instinct),
manusia tidak dibekali naluri yang
lengkap. Oki, manusia mengembangkan
kebudayaan untuk mengisi kekosongan
yang tidak diisi naluri. Kebudayaan harus
dipelajari oleh setiap anggota baru
masyarakat melalui sosialisasi

APA ITU SOSIALISASI ?


SOCIALIZATION is a process by which a child
learns to be a participant member of society
(PETER L. BERGER)
Yang dipelajari melalui sosialisasi adalah
peranan-peranan (roles). PERANAN adalah
perilaku yang diharapkan dari seseorang yang
memiliki status tertentu. STATUS adalah posisi
seseorang dalam suatu kelompok dalam
hubungannya dengan kelompok lain

TEORI SOSIALISASI
(1)
GEORGE HERBERT MEAD
Menurut MEAD, setiap anggota baru
masyarakat harus mempelajari perananperanan yang ada dalam masyarakat
pengambilan peran (role taking). Dalam
proses ini, orang belajar mengetahui
peran yang harus dijalankannya dan yang
harus dijalankan orang lain

TAHAP-TAHAPNYA
TAHAP BERMAIN (play stage): pada tahap ini
seorang anak meniru berbagai peran (ayah, ibu,
guru,) tanpa memahaminya
TAHAP PERMAINAN (game stage): pada tahap
ini anak sudah tahu peran yang harus
dijalankannya dan peran orang lain
TAHAP PENGAMBILAN PERAN (role taking):
pada tahap ini anak sudah dapat mengambil
peran orang lain (generalized others)
Dalam tahap awal sosialisasi, ada orang-orang
penting dalam proses sosialisasinya (significant
others), misalnya ayah, ibu, guru, tokoh idola,...

TEORI SOSIALISASI (2)


CHARLES HORTON COOLEY
Menurut COOLEY, konsep diri (selfconcept) seseorang berkembang melalui
interaksinya dengan orang lain lookingglass self (diri seseorang memantulkan
apa yang dirasakannya sebagai
tanggapan masyarakat terhadapnya)

TAHAP-TAHAPNYA
Persepsi kita tentang bagaimana kita
dipandang orang lain
Persepsi kita tentang penilaian mereka
mengenai bagaimana kita dipandang
orang lain
Perasaan kita tentang penilaian-penilaian
tersebut

AGEN-AGEN SOSIALISASI
FULLER dan JACOBS mengidentifikasi agenagen sosialisasi utama, yakni :
KELUARGA (nuclear maupun extended family)
merupakan agen sosialisasi pertama dan utama
( tahap bermain)
TEMAN BERMAIN (peer group): agen
sosialisasi pada tahap permainan
SEKOLAH
MEDIA MASSA: saat ini terutama televisi
sebagai the first god (Jalaluddin Rakhmat) atau
the first evil ???

MACAM-MACAM SOSIALISASI
BERGER dan LUCKMANN memilah menjadi :
SOSIALISASI PRIMER (primary socialization):
sosialisasi pertama yang dijalani individu
semasa kecil melalui mana dia menjadi anggota
masyarakat
SOSIALISASI SEKUNDER (secondary
socialization): proses berikutnya yang
memperkenalkan individu yang telah
disosialisasi ke dalam sektor baru dari dunia
objektif masyarakatnya

SOSIALISASI SEKUNDER (1)


Salah satu bentuk sosialisasi sekunder
adalah RESOSIALISASI, yang didahului
DESOSIALISASI. Dalam desosialisasi,
individu mengalami pencabutan diri yang
dimilikinya, sedangkan dalam resosialisasi
individu diberi suatu diri yang baru
terjadi dalam total institution seperti
penjara, rumah sakit jiwa (GOFFMAN)

SOSIALISASI SEKUNDER (2)


Bentuk sosialisasi sekunder yang lain
adalah ANTICIPATORY SOCIALIZATION,
yakni bentuk sosialisasi sekunder yang
mempersiapkan seseorang untuk peranan
baru (ROBERT K. MERTON)
CONTOH: Akabri, Akmil, West Point, ...

POLA-POLA SOSIALISASI
JAEGER memilahnya menjadi:
REPRESSIVE SOCIALIZATION: menekankan
penggunaan hukuman terhadap kesalahan.
Cirinya penekanan pada hukuman dan imbalan,
menuntut kepatuhan anak, komunikasi satu arah,
nonverbal dan berisi perintah, tekanannya pada
keinginan orangtua, keluarga sebagai significant
other
PARTICIPATORY SOCIALIZATION:
penekanannya pada interaksi, komunikasi lisan,
anak menjadi pusat sosialisasi, kebutuhan anak
penting, keluarga sebagai generalized other

INTERAKSI
SOSIAL

PENDAHULUAN

INTERAKSI SOSIAL merupakan


hubungan sosial yang dinamis
menyangkut hubungan antarindividu,
antarkelompok, atau antara individu
dengan kelompok

YANG MENDASARI
INTERAKSI SOSIAL DIDASARI OLEH
BERBAGAI FAKTOR, MELIPUTI:
IMITASI (peniruan)
SUGESTI (pandangan individu yang
diterima orang lain)
IDENTIFIKASI (kecenderungan dan
keinginan seseorang untuk seperti orang
lain)
SIMPATI (ketertarikan seseorang pada
pihak lain)

SYARAT INTERAKSI SOSIAL


Suatu interaksi sosial hanya mungkin
terjadi apabila memenuhi dua syarat:
Ada KONTAK SOSIAL (social contact)
Ada KOMUNIKASI (communication)

INTERAKSIONISME SIMBOLIK
(1)
INTERAKSIONISME SIMBOLIK (symbolic
interactionism)
merupakan salah satu pendekatan untuk
mempelajari interaksi sosial. Pendekatan ini
bersumber pada pemikiran HERBERT MEAD.
Mengikuti pemikiran MEAD, HERBERT
BLUMER mengemukakan tiga pokok pikiran
interaksionisme simbolik, yakni:
Bahwa manusia bertindak (act) terhadap
sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning)
yang dimiliki sesuatu tersebut baginya

INTERAKSIONISME SIMBOLIK
(2)
Bahwa makna yang dimiliki sesuatu
tersebut berasal atau muncul dari interaksi
sosial antarindividu
Bahwa makna diperlakukan atau diubah
melalui proses penafsiran (interpretative
process) yang digunakan orang dalam
menghadapi sesuatu yang dijumpainya

DEFINISI SITUASI
Konsep DEFINI SITUASI (THE DEFINITION OF
SITUATION) berasal dari William Isac Thomas.
Menurutnya, seseorang tidak langsung
memberikan reaksi manakala dia mendapat
rangsang dari luar. Tindakan seseorang selalu
didahului tahap penilaian dan pertimbangan.
Rangsangan dari luar diseleksi melalui proses yang
disebutnya definisi atau penafsiran situasi. Dalam
proses ini, individu memberikan makna atas
rangsang yang diterimanya.
Menurut WI Thomas, if people define things as real,
they will be real in their cosequences (jika orang
mendefinisikan situasi sebagai nyata, maka
akibatnya akan nyata)

DRAMATURGI (1)
all the worlds a stage and all the men and women
merely players
(SHAKESPEARE)

ERVING GOFFMAN dalam bukunya The


Presentation of Everyday Life mengemukakan
pemikirannya tentang interaksi sosial.
Menurutnya, individu yang berjumpa dengan
orang lain akan mencari informasi mengenai
orang yang dijumpainya atau menggunakan
informasi yang dimilikinya, antara lain untuk
mendefinisi situasi

LANJUTAN
Dalam setiap perjumpaan masing-masing pihak
membuat pernyataan (EXPRESSION) dan pihak
lain memperoleh kesan (impression)

Expression dibedakan menjadi EXPRESSION


GIVEN (pernyataan yang diberikan) dan
EXPRESSION GIVEN OFF (pernyataan yang
dilepaskan). Keduanya bisa saling mendukung
(mengucapkan turut bela sungkawa dengan
muka sedih) atau bertentangan (mengucapkan
terima kasih dengan wajah cemberut)

BENTUK INTERAKSI SOSIAL


(1)
GILLIN dan GILLIN memilahnya menjadi:
PROSES ASOSIATIF, yang terbagi
menjadi akomodasi, asimilasi, dan
akulturasi
PROSES DISOSIATIF, meliputi
persaingan, pertikaian (konflik)

BENTUK INTERAKSI SOSIAL


(2)
KIMBALL YOUNG membedakannya
menjadi:
OPOSISI, yang mencakup persaingan
(competition) dan pertikaian (conflict)
KERJA SAMA (co-operation) yang
menghasilkan akomodasi
DIFERENSIASI yang menghasilkan
sistem pelapisan sosial

PENGENDALIAN
SOSIAL,
KONFORMITAS,
DAN PENYIMPANGAN

PENGANTAR
Setiap anggota baru masyarakat disosialisasi
agar berperilaku sesuai dengan harapan
masyarakat KONFORMITAS

KONFORMITAS, menurut JOHN M. SHEPARD,


merupakan bentuk interaksi sosial yang di
dalamnya seseorang berperilaku terhadap orang
lain sesuai dengan harapan kelompok (the type
of social interaction in which an individual
behaves toward others in ways expected by the
group)

KETERTIBAN SOSIAL
Jika semua orang berperilaku konformis, maka
terjadi KETERTIBAN SOSIAL (social order),
yakni sistem kemasyarakatan, hubungan, dan
kebiasaan yang berlangsung secara lancar guna
mencapai tujuan masyarakat
perlu pengendalian sosial (social control),
yakni berbagai cara yang digunakan masyarakat
untuk menertibkan anggotanya yang
membangkang
(PETER L. BERGER)

CARA PENGENDALIAN SOSIAL


SOSIALISASI
Orang dikendalikan terutama dengan
menyosialisasikan mereka sehingga mereka
menjalankan peran sesuai dengan yang
diharapkan. Sosialisasi membentuk kebiasaan,
keinginan, dan adat istiadat mendarah daging
(internalized)
TEKANAN SOSIAL (social pressure)
Pada semua masyarakat manusia selalu ada
kecenderungan menyesuaikan diri dengan
keinginan kelompok. Pengendalian sosial
terutama lahir dari kebutuhan individu akan
penerimaan sosial

LANJUTAN
KEKUATAN
Dalam masyarakat yang lebih kompleks,
kekuatan diperlukan untuk menjamin
berlangsungnya ketertiban sosial
Namun tidak ada sosialisasi yang sempurna
PENYIMPANGAN SOSIAL

APA ITU PENYIMPANGAN


SOSIAL ?
PENYIMPANGAN SOSIAL (social deviation)
merupakan perilaku yang oleh sejumlah besar
orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di
luar batas toleransi (JAMES VAN DER
ZANDEN)
PENYIMPANGAN TIDAK MELEKAT PADA
PERILAKU TERTENTU, melainkan tergantung
dari definisi sosial atasnya.
Misalnya: pembunuhan, sexual intercourse, ...

LANJUTAN
PENYIMPANGAN ADA YANG DAPAT
DITERIMA ADA YANG DITOLAK.
Misalnya: Copernicus, Galileo Galilei, RA.
Kartini (penyimpangan yang dapat diterima),
Jack The Ripper, Robot Gedhek, Sumanto
(penyimpangan yang ditolak)
PENYIMPANGAN RELATIF (ex: naik motor
tidak berhelm standar) dan
PENYIMPANGAN MUTLAK (ex: merampok)
PENYIMPANGAN TERHADAP BUDAYA
NYATA ATAU BUDAYA IDEAL

LANJUTAN
PENYIMPANGAN BERSIFAT ADAPTIF:
penyimpangan merupakan ancaman sekaligus
alat pemelihara stabilitas sosial perilaku
menyimpang merupakan salah satu cara
menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan
sosial (COSER)
Penyimpangan yang sudah setengah
melembaga (semi-institutionalized) melahirkan
NORMA-NORMA PENGHINDARAN terjadi
apabila norma yang ada melarang suatu
perbuatan yang ingin sekali diperbuat oleh
banyak orang (ex: beli SIM, cafe sebagai tempat
kencan)

TEORI PENYIMPANGAN (1)


DIFFERENTIAL ASSOCIATION (EDWIN H.
SUTHERLAND)
Seperti halnya perilaku konformis,
penyimpangan dipelajari melalui proses alih
budaya (cultural transmission). Namun yang
dipelajari adalah subkultur menyimpang (deviant
subculture) salah pergaulan

TEORI PENYIMPANGAN (2)


LABELING THEORY atau TEORI
PEMBERIAN CAP (EDWIN M. LEMERT)
Orang menjadi penyimpang karena proses
labeling yang diberikan masyarakat: mulamula orang melakukan penyimpangan
(primary deviation) dicap sebagai
penyimpang mendefinisikan dirinya
sebagai penyimpang mengulangi
penyimpangan (secondary deviation)
deviant lifestyle deviant career

TEORI PENYIMPANGAN (3)


TEORI ADAPTASI INDIVIDU (ROBERT K.
MERTON)
Perilaku menyimpang merupakan refleksi
tidak adanya kaitan antara aspirasi yang
ditetapkan budaya dengan cara-cara yang
dibenarkan untuk mencapainya

TIPOLOGI CARA-CARA
ADAPTASI INDIVIDU
(ROBERT K.MERTON)
No
1
2
3
4
5

Cara adaptasi
Konformitas
Inovasi
Ritualisme
Retretisme
Pemberontakan

Tujuan budaya
+
+
+/-

Cara yang melembaga


+
+
+/-

TEORI PENYIMPANGAN (4)


TEORI FUNGSIONAL (EMILE DURKHEIM)
Kejahatan (penyimpangan) perlu bagi
masyarakat agar moralitas dan hukum dapat
berkembang secara normal
TEORI KONFLIK (KARL MARX)
Apa yang merupakan perilaku menyimpang
didefinisikan oleh kelompok yang berkuasa
untuk melindungi kepentingan mereka sendiri

STATUS
DAN

PERANAN

PENDAHULUAN
Salah satu perhatian para ahli sosiologi adalah
struktur sosial (social structure). STRUKTUR
SOSIAL adalah pola perilaku yang berulangulang yang menciptakan hubungan antarindividu
dan antarkelompok dalam masyarakat
(KORNBLUM)
Dalam membahas struktur sosial, ada dua
konsep penting di dalamnya: STATUS dan
PERANAN

APA ITU STATUS DAN


PERANAN ?
STATUS (status) adalah posisi seseorang dalam
suatu kelompok atau posisi suatu kelompok
dalam hubungannya dengan kelompok lain
Menurut RALPH LINTON, status is a collection
of rights and duties
PERANAN (roles) adalah perilaku yang
diharapkan dari seseorang yang memiliki status
tertentu a dynamic aspect of status (RALPH
LINTON)

ASPEK DALAM PERAN


Seseorang tidak dapat mengisi suatu peran
dengan senang dan sukses tanpa
disosialisasikan untuk menerima bahwa peran
tersebut berguna, memuaskan, dan sesuai. Oki,
dalam mempelajari peran, sekurangnya harus
melibatkan dua aspek :
Kita harus belajar melaksanakan kewajiban dan
menuntut hak
Kita harus memiliki sikap perasaan dan
harapan-harapan sesuai peran-peran tersebut

PERILAKU PERAN
PERILAKU PERAN adalah peran yang sesungguhnya
dilakukan oleh orang yang memiliki status tertentu.
Perilaku peran mungkin tidak sesuai atau berbeda
dari peran yang diharapkan
CONTOH: dosen penjadi PK, mahasiswa menjadi
PSK
Pakaian seragam, tanda pangkat, gelar, upacara
keagamaan, adalah ALAT BANTU PERILAKU PERAN
menyebabkan orang lain mengharapkan dan
merasakan perilaku yang diperlukan peran tersebut
dan mendorong si aktor berperan sesuai tuntutan
peran
CONTOH: polisi berseragam lebih berwibawa
daripada polisi preman

MANAJEMEN KESAN
Sebagian perilaku peran merupakan
pemeranan peran tanpa sadar karena
sudah terinternalisasi (internalized)
sebagai hasil sosialisasi yang panjang.
Namun beberapa perilaku peran
merupakan upaya sangat sadar untuk
memproyeksikan citra diri, menciptakan
kesan yang diinginkan orang lain
impression management (manajemen
kesan) (ERVING GOFFMAN)

MACAM-MACAM STATUS
STATUS YANG DIBERIKAN (ascribed status):
status yang diberikan masyarakat kepada individu
terlepas dari kualitas dan usaha individu, dibawa
sejak lahir
CONTOH: gelar kebangsawanan, ras, etnis,
gender, kebangsaan, agama, usia,...
STATUS YANG DIPERJUANGKAN (achieved
status): status yang menuntut kualitas tertentu yang
harus diraih melalui persaingan dan usaha pribadi,
perlu diperjuangkan
CONTOH: tingkat pendidikan, kekayaan,
kekuasaan,...

STRATIFIKASI
SOSIAL

APA ITU
STRATIFIKASI SOSIAL ?
STRATIFIKASI SOSIAL (social
stratification) adalah pembedaan anggota
masyarakat berdasarkan status yang
dimilikinya kelas sosial

KELAS SOSIAL
KELAS SOSIAL (Social Class)
merupakan subkultur yang memiliki sikap,
kepercayaan, nilai, dan norma perilaku yang
berbeda dibanding kelas sosial lainnya
ditentukan oleh kedudukan sosial
ekonominya dalam masyarakat (kekayaan,
penghasilan, pekerjaan, pendidikan, identifikasi
diri, keturunan, partisipasi kelompok, dan
pengakuan orang lain)

MACAM-MACAM STRATIFIKASI
BERDASARKAN CARA MEMPEROLEH:
STATUS YANG DIPEROLEH (ascribed status):
Usia (age stratification), misalnya putra mahkota
umumnya adalah putra tertua, sistem senioritas
dalam pekerjaan, dsb
Jenis kelamin (sex stratification), misalnya status lakilaki dianggap lebih tinggi dibanding perempuan
Keagamaan (religious stratification), misalnya kasta
Etnis (ethnic stratification), misalnya di Israel warga
Arab dan Palestina hak-haknya tidak setara
dibanding warga Yahudi
Ras (racial stratification), misalnya di AS warga kulit
hitam masih dianggap sebagai the second class

LANJUTAN
Status yang diraih (achieved status):
Pendidikan (educational stratification)
Pekerjaan (occupational stratification)
Kekayaan (economic stratification)

LANJUTAN
BERDASARKAN KETERBUKAAN SISTEM
STRATIFIKASI (J. MILTON YINGER):
STATUS TERTUTUP, apabila setiap anggota
masyarakat tetap berada pada status yang
sama dengan orangtuanya
STATUS TERBUKA, apabila setiap anggota
masyarakat menduduki status yang berbeda
dari status orangtuanya (bisa lebih rendah atau
lebih tinggi)

MOBILITAS SOSIAL
MOBILITAS SOSIAL (social mobility) berarti
perpindahan status dalam strtatifikasi sosial
Mobilitas dapat terjadi pada kekuasaan,
privilese, maupun prestise (RANSFORD)
Mobilitas vertikal mengacu pada mobilitas ke
atas atau ke bawah (RANSFORD), sementara
mobilitas lateral mengacu pada perpindahan
geografis antara lingkungan setempat, kota, dan
wilayah (GIDDENS)
Dapat terjadi mobilitas sosial intragenerasi
atau antargenerasi

DIMENSI STRATIFIKASI SOSIAL

KARL MARX: dimensi ekonomi


MAX WEBER: dimensi ekonomi, sosial,
dan politik

MENGAPA TERJADI
STRATIFIKASI ?
Stratifikasi memang dibutuhkan demi
kelangsungan hidup masyarakat
Stratifikasi timbul karena dalam
masyarakat berkembang pembagian kerja
yang memungkinkan terjadinya perbedaan
kekayaan, kekuasaan, dan prestise

APA DAMPAK STRATIFIKASI?

Perbedaan stratifikasi menyebabkan


perbedaan gaya hidup (WEBER); perilaku
(BENDIX dan LIPSET); selera: pakaian,
perabotan, hiburan, makanan, minuman,
bacaan, lukisan, musik, permainan,
kegiatan (OGBURN dan NIMKOFF)

SIMBOL STATUS
Menurut PETER L. BERGER, orang selalu
memperlihatkan kepada orang lain apa yang
telah diraihnya dengan memakai simbol
simbol status
CONTOH: cara menyapa, gaya bicara, bahasa,
pakaian, perhiasaan,...
Dalam setiap masyarakat pakaian paling tidak
memiliki tiga fungsi: manfaat, estetika, dan
simbol status (BARBER dan LOBEL)

STRATIFIKASI
DAN PELUANG HIDUP
Dalam buku Class, Status, and Power, BENDIX dan LIPSET
merangkum berbagai pemikiran tentang perbedaan perilaku
kelas. Perbedaan kelas melahirkan perbedaan:
Fertilitas (NOTENSTEIN)
Tingkat harapan hidup bayi waktu lahir (MAYER dan
HAUSER)
Kestabilan keluarga (HOLLINGSHEAD)
Kesehatan mental (GREEN)
Perilaku seks (KINSLEY, POMEREY, MARTIN)
Kehidupan beragama (POPE)
Mode (BARBER dan LOBEL)
Sikap politik (SAEBER)

CARA MENGURANGI
KETIDAKSAMAAN
Di negara-negara liberal melalui equality
of opportunity
Ex: pengenaan pajak progresif, di AS
melalui kesamaan peluang untuk meraih
american dreams ( rat race)
Di negara-negara komunis melalui prinsip
sama rata sama rasa
Di Indonesia ???

KELOMPOK
SOSIAL

KELOMPOK SOSIAL (1)


Menurut ROBERT K. MERTON, KELOMPOK
SOSIAL (social group) adalah sekelompok
orang yang berinteraksi sesuai dengan polapola yang telah mapan yang ditandai :
Sering terjadi interaksi
Pihak-pihak yang berinteraksi mendefinisikan
diri sebagai anggota kelompok
Pihak-pihak yang berinteraksi didefinisikan
orang lain sebagai anggota kelompok

KELOMPOK SOSIAL (2)


ROBERT BIERSTENDT dengan menggunakan
tiga kriteria (ada-tidaknya organisasi, hubungan
sosial antaranggota, dan kesadaran jenis)
membagi kelompok menjadi:
KELOMPOK ASOSIASI (assocional group):
kelompok yang memenuhi ketiga kriteria (ex:
Korpri)
KELOMPOK SOSIAL (social group): kelompok
yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis
dan ada hubungan sosial antaranggota tapi
tidak ada organisasi (ex: kelompok pertemanan,
kekerabatan)

LANJUTAN
KELOMPOK KEMASYARAKATAN
(societal group): kelompok yang hanya
memiliki kesadaran jenis (ex: laki-laki
perempuan)
KELOMPOK STATISTIK (statistical
group): kelompok yang tidak memenuhi
ketiga kriteria (ex: kelompok balita, wulan,
...)

KELOMPOK SOSIAL (3)


Emile Durkheim dalam bukunya The Division of Labor in Society
memilah kelompok berdasarkan solidaritas yang mendasarinya
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Solidaritas mekanis
Pembagian kerja rendah
Kesadaran kolektif tinggi
Hukum represif
Individualitas rendah
Konsensus terhadap norma
Komunitas menghukum
penyimpang (deviant)
Interdependensi rendah
Bersifat pedesaan

No
1
2
3
4
5
6
7
8

Solidaritas organis
Pembagian kerja tinggi
Kesadaran kolektif rendah
Hukum restitutif
Individualitas tinggi
Konsensus nilai abstrak
Badan kontrol sosial
menghukum penyimpang
Interdependensi tinggi
Bersifat perkotaan

KELOMPOK SOSIAL (4)


FERDINAND TONNIES memilah kelompok
menjadi:
GEMEINSCHAFT (community): gemeinschaft of
life (perkawinan), gemeinschaft by blood (trah,
kekerabatan), gemeinschaft of place (Ikatan
Mahasiswa Ngawi), gemeinschaft of mind
(Kagama, Iluni, Ikafu,..)
GESSELSCHAFT (society)
CHARLES HORTON COOLEY
memperkenalkan konsep primary group
(kelompok yang ditandai oleh pergaulan dan
kerjasama tatap muka yang intim); sementara
ELLSWORTH FARRIS menciptakan konsep
secondary group

KELOMPOK SOSIAL (5)


WG. SUMNER menyatakan di kalangan
anggota kelompok-dalam (in-group, wegroup) dijumpai persahabatan, kerjasama,
keteraturan dan kedamaian; sementara
hubungan antara in-group dengan
kelompok-luar (out-group/ other-group)
ditandai kebencian, permusuhan, perang
ROBERT K. MERTON memperkenalkan
konsep membership group dan reference
group

KELOMPOK SOSIAL (6)


KINLOCH mengklasifikasikan kelompok
menurut:
Ciri fisiologis
Ex: jenis kelamin, usia, ras
Kebudayaan
Ex: kelompok etnik, agama
Kriteria ekonomi
Ex: kaya - miskin
Perilaku
Ex: cacat mental, cacat fisik, cacat sosial

KELOMPOK SOSIAL (7)


TALCOTT PARSONS memperkenalkan
perangkat variable pola (pattern variables),
yakni seperangkat dilema universal yang
dihadapi dan harus dipecahkan seorang pelaku
dalam setiap situasi sosial. Ada lima perangkat
dilema:
AFFECTIVITY AFFECTIVE NEUTRALITY:
ada-tidaknya rasa sayang-benci dalam suatu
interaksi (kakak-adik, suami-istri >< atasanbawahan)
SPECIFICITY DIFFUSENESS: kekhususankekaburan (orangtua-anak >< guru-murid)

LANJUTAN
UNIVERSALISM PARTICULARISM: dipakaitidaknya ukuran universal (guru-murid ><
orangtua-anak)
QUALITY PERFORMANCE: yang penting
faktor bawaan lahir atau prestasi (seks, usia,
hubungan kekerabatan >< prestasi)
SELF-ORIENTATION COLLECTIVE
ORIENTATION (hubungan dagang ><
rohaniawan

JARAK SOSIAL

BOGARDUS menemukan konsep JARAK


SOSIAL (social distance) untuk mengukur
kadar kedekatan atau penerimaan yang
kita rasakan terhadap kelompok lain

HUBUNGAN
ANTARKELOMPOK

KONSEP-KONSEP DASAR
KINLOCH mendefinisikan KELOMPOK
MAYORITAS sebagai kelompok kekuasaan
yang menganggap dirinya normal, sedangkan
kelompok lain (MINORITAS) sebagai tidak
normal dan lebih rendah (tidak dikaitkan dengan
jumlah)
BERGHE mendefinisikan RAS (race) sebagai
kelompok yang didefinisikan secara sosial
berdasarkan kriteria fisik. Sementara BANTON
mendefinisikan RAS sebagai suatu tanda
peranan (role sign) berdasarkan perbedaan fisik

LANJUTAN
Menurut FRANCIS, KELOMPOK ETNIK (ethnic
group) merupakan sejenis komunitas yang
menampilkan persamaan bahasa, adat
kebiasaan, wilayah, sejarah, sikap, dan sistem
politik (= kebudayaan)
BERGHE mendefinisikan RASISME sebagai
kepercayaan bahwa ciri tertentu yang dibawa
sejak lahir dikaitkan dengan ada-tidaknya ciri
dan kemampuan sosial tertentu sehingga
diskriminasi dibenarkan di tingkat praksis
(perilaku) disebut RASIALISME

KONSEP HUBUNGAN
ANTARKELOMPOK

HUBUNGAN ANTARKELOMPOK
(intergroup relations) adalah hubungan
antarkelompok yang mempunyai ciri-ciri
khusus

DIMENSI HUBUNGAN
ANTARKELOMPOK
KINLOCH memilah dimensi hubungan
antarkelompok menjadi:
Dimensi sejarah
Dimensi sikap (prasangka, stereotip)
Dimensi institusi (apartheid, WNI keturunan)
Dimensi gerakan sosial (Ku Klux Klan)
Dimensi perilaku (diskriminasi)
Dimensi perilaku kolektif (demonstrasi, huruhara)

DIMENSI SEJARAH (1)

DIMENSI SEJARAH diarahkan pada masalah


tumbuh-kembangnya hubungan antarkelompok
(kapan, bagaimana)
Menurut NOEL, stratifikasi etnik (juga ras, agama,
kebangsaan) hanya dapat terjadi jika ada
etnosentrisme, persaingan, dan perbedaan
kekuasaan
Menurut RANDALL COLLINS, yang mengawali dan
melandasi eksploitasi laki-laki atas perempuan
adalah kekuatan fisik
Menurut PARSONS, stratifikasi jenis kelamin
berkembang seiring industrialisasi

DIMENSI SEJARAH (2)


Menurut BANTON, kontak antara dua
kelompok ras dapat mengambil pola:
AKULTURASI: kebudayaan kedua
kelompok ras berbaur dan terpadu
DOMINASI: suatu kelompok ras
menguasai yang lain
PATERNALISME: dominasi kelompok ras
pendatang atas pribumi di mana penduduk
pribumi tetap di bawah penguasa pribumi,
tapi penguasa pribumi tunduk terhadap
penguasa asing

LANJUTAN
INTEGRASI: pola hubungan yang
mengakui adanya perbedaan ras dalam
masyarakat tapi tidak memberikan makna
penting atasnya
PLURALISME: seperti integrasi, tapi
memberikan arti penting terhadap
kemajemukan

DIMENSI SIKAP (1)


PRASANGKA (prejudice): sikap
bermusuhan yang ditujukan kepada
kelompok tertentu atas dasar dugaan
bahwa kelompok tersebut punya ciri-ciri
yang tidak menyenangkan. Prasangka
bersifat tidak rasional dan berada di
bawah sadar sehingga sukar diubah
CONTOH: prasangka Jawa-Sunda, JogjaSolo, Pribumi-Tionghoa, dsb.

DIMENSI SIKAP (2)


STEREOTIPE: citra kaku tentang suatu
kelompok ras atau budaya tanpa
memperhatikan kebenaran citra tersebut
(ex: orang Batak kasar, orang Yahudi
licik,...). JANOWITZ dan BETTELHEIM
memilah strereotipe menjadi:
THE SUPEREGO STEREOTYPE: bahwa
suatu kelompok memiliki karakter seperti
ambisius, rajin, gigih, cerdas meski juga
licik (ex: orang Yahudi di AS, orang Cina di
Asia, orang India di Afrika)

LANJUTAN
THE ID STEREOTYPE: bahwa suatu
kelompok memiliki karakter malas, bodoh,
tidak bertanggung jawab, dll (ex:
pandangan orang Malaysia terhadap
orang Indon, kulit putih terhadap negro di
AS, Tionghoa terhadap pribumi di
Semarang)

DIMENSI PERILAKU
DISKRIMINASI : perlakuan yang berbeda terhadap
orang yang dikelompokkan kategori khusus
jarak sosial (KORNBLUM)
CONTOH: kasus Sari Club Bali
RANSFORD memilah diskriminasi menjadi:
Diskriminasi individual
Diskriminasi institusi

LANJUTAN...
Prasangka sering melahirkan diskriminasi, tapi tidak selalu
demikian. Sebaliknya, ada kalanya diskriminasi tidak selalu
didahului prasangka. Menurut BANTON, diskriminasi
mewujudkan jarak sosial. Dengan menggunakan skala jarak
sosial (social distance scale), ilmuwan sosial dapat
mengukur jarak sosial antarkelompok (BOGARDUS)
SKALA JARAK SOSIAL memuat sejumlah pertanyaan
mengenai kesediaan seseorang untuk menikah, berteman,
bekerja bersama di kantor, bertetangga, sekadar kenal, tidak
tinggal sekawasan, dan tidak tinggal senegara dengan orang
lain.

LANJUTAN
FRUSTRATION-AGRESSION
THEORY : orang akan melakukan
agresi jika usahanya memperoleh
kepuasaan terhalang. Jika agresi
tidak dapat ditujukan kepada pihak
yang menghalangi usahanya, maka
agresi itu dialihkan (displaced) ke
kambing hitam /scapegoat (BANTON)

DIMENSI INSTITUSI
WHITE SUPREMACY: ideologi rasisme yang
menganggap kulit putih lebih unggul daripada
kulit berwarna
DISFRANCHISEMENT: kebijakan mencabut hak
pilih warga kulit hitam
APARTHEID: kebijakan segregasi spasial
antarwarga berdasar warna kulit
REVERSE DISCRIMINATION: kebijakan
memberi kuota tertentu bagi kelompok minoritas
(di AS)

DIMENSI GERAKAN SOSIAL


Hubungan antarkelompok sering
melibatkan gerakan sosial, baik yang pro
perubahan maupun yang pro status quo

CONTOH :
Black Panthers di Amerika Serikat dan
ANC di Afrika Selatan
Gerakan Ku Klux Klan di Amerika Serikat
bagian selatan

DIMENSI PERILAKU KOLEKTIF


Hubungan antarkelompok tidak jarang
berujud perilaku kolektif: gerakan, protes,
demonstrasi, huru-hara
CONTOH: kasus Sampit, Poso, Ambon,
Tasikmalaya, peristiwa Mei 1997, dll.

INSTITUSI
SOSIAL

APA ITU INSTITUSI SOSIAL?


Menurut SOERJONO SOEKANTO,
INSTITUSI SOSIAL merupakan himpunan
norma-norma dari berbagai tingkatan yang
berkisar pada suatu kebutuhan pokok di
dalam kehidupan masyarakat
LEMBAGA KEMASYARAKATAN

BENTUK INSTITUSI SOSIAL


Menurut SOERJONO SOEKANTO, bentuk
institusi sosial meliputi:
BENTUK KONKRIT: asosiasi
CONTOH: bentuk khusus peraturan perkuliahan
dan persyaratan akademis yang berlaku di
beberapa universitas
BENTUK ABSTRAK: institusi
CONTOH: serangkaian norma pendidikan tinggi
yang bersifat umum

INSTITUSI SOSIAL
KOENTJARANINGRAT menerjemahkan social
institution sebagai PRANATA SOSIAL, yakni
sistem tata kelakuan. Tujuannya untuk
memenuhi kebutuhan khusus dalam kehidupan
masyarakat. Di dalamnya terdapat empat
komponen:
SISTEM NORMA
KELAKUAN BERPOLA
PERSONAL PENDUKUNG PRANATA
PERALATAN YANG DIGUNAKAN

SISTEM NORMA
SISTEM NORMA adalah penampilan dari
suatu orientasi nilai budaya tertentu yang
menghasilkan berbagai tingkatan norma
berdasarkan kekuatan mengikatnya
GILLIN dan GILLIN memilah sistem norma
menjadi:
CARA (usage)
KEBIASAAN UMUM (folkways)
TATA KELAKUAN (mores)
ADAT (custom)

LANJUTAN
CARA: norma yang paling lemah karena tanpa
sanksi masyarakat (ex: cara makan/minum)
KEBIASAAN UMUM: perbuatan berulang yang
diikuti banyak orang (ex: menghormati orangtua)
TATA KELAKUAN: merupakan norma pengatur;
sanksi lebih tegas dan keras sehingga
memunculkan rasa bersalah bagi yang
melanggar (ex: larangan pergaulan bebas)
ADAT: norma yang paling kuat karena
memberikan sanksi moral berdosa dan sanksi
masyarakat; dapat dihukum dengan beragam
hukuman, yang terberat pengucilan (ex:
larangan kumpul kebo)

KELAKUAN BERPOLA
KELAKUAN BERPOLA menggambarkan
adanya suatu pola tertentu dalam tindakan
seseorang atau sekelompok orang. Pola
menunjuk pada kejadian/ kegiatan yang
dilakukan secara berulang dalam bentuk yang
sama; diwariskan secara turun-temurun, namun
dapat bergeser sesuai orientasi nilai budaya
yang berlaku
CONTOH: cara berpakaian, cara mendidik anak,
cara menghormati orangtua/guru

PERSONAL PENDUKUNG
PRANATA
PERSONAL PENDUKUNG PRANATA
adalah pembentuk/pelaksana norma.
Norma tertentu akan terwujud apabila ada
pendukungnya yang memelihara,
mengembangkan, dan melestarikan.
Mereka pula yang menentukan
keberadaan lembaga sosial tersebut

PERALATAN YANG DIGUNAKAN


PERALATAN YANG DIGUNAKAN
merupakan bagian integral dari cara
mewujudkan kegiatan
CONTOH: agar kuliah cepat selesai
SKS

FUNGSI INSTITUSI SOSIAL


FUNGSI INSTITUSI SOSIAL meliputi:
Memberi pedoman bertingkah laku
Menjaga keutuhan masyarakat
Memberi pegangan kepada masyarakat untuk
mengadakan sistem kontrol sosial
Apabila suatu lembaga sosial sudah tidak diikuti
lagi kelakuan berpolanya dikatakan telah terjadi
DISINTEGRASI
CONTOH: memudarnya lembaga patron-klien di
desa digantikan nilai-nilai komersial

TIPOLOGI INSTITUSI SOSIAL


GILLIN dan GILLIN memilah institusi sosial dari
beberapa sudut:
PERKEMBANGAN: crescive dan enacted
institutions
SISTEM NILAI YANG DITERIMA
MASYARAKAT: basic dan subsidiary institutions
SUDUT PENERIMAAN MASYARAKAT:
approved/ social sanctioned dan unsanctioned
institutions
FAKTOR PENYEBARANNYA: general dan
restricted institutions
FUNGSI: operative dan regulative institutions

TIPOLOGI LEMBAGA SOSIAL (1)


MENURUT PERKEMBANGANNYA:
CRESCIVE INSTITUTIONS: merupakan
lembaga paling primer yang tidak sengaja
dibentuk/ tumbuh
CONTOH: agama, hak milik
ENACTED INSTITUTIONS: merupakan
lembaga yang sengaja dibentuk untuk
memenuhi tujuan tertentu dan didukung negara
CONTOH: lembaga hutang piutang, lembaga
pendidikan,

TIPOLOGI LEMBAGA SOSIAL (2)


MENURUT SISTEM NILAI YANG DITERIMA
MASYARAKAT:
BASIC INSTITUTIONS: lembaga sosial yang
penting untuk memelihara perkembangan dan
mempertahankan tata tertib dalam masyarakat,
keluarga, sekolah, negara
SUBSIDIARY INSTITUTIONS: lembaga yang
kurang penting karena hanya ditujukan untuk
rekreasi

TIPOLOGI LEMBAGA SOSIAL (3)


MENURUT SUDUT PENERIMAAN
MASYARAKAT:
APPROVED/ SOCIAL SANCTIONED
INSTITUTIONS: lembaga yang diterima
masyarakat
CONTOH: sekolah, perusahaan,
UNSANCTIONED INSTITUTIONS:
lembaga yang ditolak masyarakat
CONTOH: kriminalitas

TIPOLOGI LEMBAGA SOSIAL (4)


MENURUT FAKTOR PENYEBARANNYA:
GENERAL INSTITUTIONS: merupakan
lembaga yang diikuti oleh hampir semua
manusia di dunia
CONTOH: agama, kepercayaan
RESTRICTED INSTITUTIONS: lembaga
yang lebih terbatas
CONTOH: agama Islam, agama Kristen,

TIPOLOGI LEMBAGA SOSIAL (5)


MENURUT FUNGSINYA:
OPERATIVE INSTITUTIONS: lembaga yang
menghimpun pola-pola/ tata cara yang
diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga ybs
CONTOH: lembaga industri, pertanian
REGULATIVE INSTITUTIONS: lembaga yang
berfungsi mengawasi lembaga adat istiadat/ tata
kelakuan yang tidak menjadi bagian mutlak dari
lembaga tsb
CONTOH: lembaga-lembaga hukum (kepolisian,
kejaksaan, kehakiman)

INSTITUSI UTAMA
ADA LIMA INSTITUSI UTAMA DALAM
MASYARAKAT:
KELUARGA
PENDIDIKAN
AGAMA
EKONOMI
POLITIK

INSTITUSI KELUARGA
TIPE KELUARGA:
SISTEM KONSANGUINAL (menekankan
pentingnya ikatan darah, seperti umumnya
masyarakat Cina dan Jepang) dan
SISTEM KONJUGAL (menekankan
pentingnya hubungan perkawinan, seperti
umumnya masyarakat Barat)
KELUARGA BATIH (nuclear family) dan
KELUARGA LUAS (extended family)

ATURAN PERKAWINAN
INCEST TABOO: larangan hubungan
perkawinan dengan keluarga yang sangat dekat
CONTOH: larangan kawin antarsaudara
kandung, semarga (Batak, Minang)
BENTUK PERKAWINAN:
MONOGAMI (1 lk dengan 1 pr dalam waktu sama)
dan POLIGAMI (1 lk dengan >1 pr/poligini; 1 pr
dengan >1 lk/poliandri dalam waktu yang sama)
EKSOGAMI (larangan kawin dengan anggota
kelompok) dan ENDOGAMI (kewajiban kawin dengan
anggota kelompok)

LANJUTAN
ATURAN TENTANG KETURUNAN:
patrilineal, bilateral, matrilineal, keturunan
rangkap
POLA MENETAP: pola patrilokal, matripatrilokal, patri-matrilokal, bilokal,
neolokal, avuncolokal

FUNGSI KELUARGA
HORTON dan HUNT mengidentifikasi beberapa
fungsi keluarga:
Fungsi pengaturan seks
Fungsi reproduksi
Fungsi sosialisasi
Fungsi afeksi
Fungsi definisi status
Fungsi perlindungan
Fungsi ekonomi

INSTITUSI PENDIDIKAN
FUNGSI INSTITUSI PENDIDIKAN:
FUNGSI MANIFES: mempersiapkan
anggota masyarakat untuk mencari
nafkah, mengembangkan bakat,
melestarikan kebudayaan, menanamkan
ketrampilan, dll.
FUNGSI LATEN: pemupukan keremajaan,
pengurangan kontrol orangtua,
bertahannya sistem kelas sosial

INSTITUSI AGAMA
EMILE DURKHEIM: agama merupakan suatu
sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan
dan praktik yang berhubungan dengan hal yang
suci, yang mempersatukan semua orang yang
beriman ke dalam suatu komunitas: umat
ROBERT BELLAH: di luar institusi agama
dikenal adanya himpunan kepercayaan dan
ritual yang disebut civil religion (ex: pemujaan
pemimpin politik, bendera, lagu kebangsaan)
LIGHT, KELLER dan CALHOUN: unsur-unsur
dasar yang dijumpai pada agama yaitu
kepercayaan agama, simbol agama, praktik
agama, umat agama, dan pengalaman agama

FUNGSI AGAMA
FUNGSI AGAMA MELIPUTI:
FUNGSI MANIFES: berkaitan dengan
doktrin, ritual, dan aturan perilaku dalam
agama
FUNGSI LATEN: fungsi integrasi dan
disintegrasi masyarakat

AGAMA DAN PERUBAHAN


SOSIAL
AGAMA SEBAGAI PENGHAMBAT
PERUBAHAN SOSIAL
CONTOH: MARX beranggapan agama
merupakan candu bagi rakyat false
conciousness
AGAMA SEBAGAI PENDORONG PERUBAHAN
SOSIAL
CONTOH: etika Protestan sebagai pendorong
berkembangnya kapitalisme (WEBER), peran
ulama di Indonesia melawan penjajah Belanda,
peran rohaniawan Katholik melawan para
diktator di Amerika Latin

AGAMA DAN INSTITUSI LAIN


AGAMA DAN TRADISI: masuknya agama
Katholik ke Flores menghilangkan kebiasaan
poligami di masyarakat
AGAMA DAN POLITIK: munculnya partai-partai
politik berbasis agama (PKB, PAN, PKS, PPP,
PBB, PDS,)
AGAMA DAN EKONOMI: etika Protestan dan
kapitalisme, bank syariah,
AGAMA DAN PENDIDIKAN: MI, MTs, MAN,
SMA Bruderan, UMP,

INSTITUSI EKONOMI
IDEOLOGI EKONOMI:
KAPITALISME: merupakan sistem ekonomi yang
didasarkan pada pemilikan pribadi atas sarana produksi
dan distribusi untuk kepentingan pencarian laba pribadi
ke arah pemupukan modal melalui persaingan bebas.
Menurut ADAM SMITH prinsip dasar masyarakat
kapitalis adalah private property, profit motive, free
competitive
SOSIALISME: merupakan sistem ekonomi yang
bertujuan merombak masyarakat ke arah persamaan
hak dan pembatasan terhadap hak milik pribadi melalui
penguasaan alat produksi dan distribusi komoditas oleh
negara

INSTITUSI POLITIK
Menurut KORNBLUM, institusi politik
merupakan perangkat aturan dan status
yang mengkhususkan diri pada
pelaksanaan kekuasaan dan wewenang
CONTOH: lembaga eksekutif, legislatif,
yudikatif, militer, keamanan nasional,
partai politik

KEKUASAAN DAN DOMINASI


Menurut WEBER, KEKUASAAN adalah
kemungkinan memaksakan kehendak
terhadap perilaku orang lain
Kekuasaan dominasi. DOMINASI terjadi
bila yang berkuasa memiliki wewenang
untuk berkuasa berdasarkan aturan yang
berlaku

TIPE DOMINASI
DOMINASI KHARISMATIK: keabsahan
didasarkan pada kepercayaan bahwa
sang pemimpin memiliki kemampuan yang
luar biasa (ex: Soekarno, Gandhi, Tito, dll)
DOMINASI TRADISIONAL (ex: Sri Sultan
HB IX, Ratu Elizabeth, )
DOMINASI LEGAL RASIONAL (ex: SBY,
George Bush,)

PERILAKU
KOLEKTIF DAN
GERAKAN
SOSIAL

APA ITU PERILAKU KOLEKTIF ?


PERILAKU KOLEKTIF (collective
behavior) merupakan perilaku yang:
Dilakukan oleh sejumlah orang
Tidak bersifat rutin
Merupakan tanggapan atas rangsangan
tertentu
merupakan perilaku menyimpang yang
bersifat kolektif

APA ITU KERUMUNAN ?


Menurut LE BON, KERUMUNAN atau
crowd merupakan sekumpulan orang yang
mempunyai ciri-ciri baru yang berbeda
sama sekali dengan ciri-ciri individu yang
membentuknya
kumpulan orang tersebut menjadi
organized crowd atau psychological
crowd, menjadi mahluk tunggal yang
tunduk pada HUKUM KESATUAN
MENTAL KERUMUNAN (THE LAW OF
THE MENTAL UNITY OF CROWDS)

PERILAKU KERUMUNAN
Menurut HERBERT BLUMER, ada beberapa tipologi
perilaku kerumunan:
KERUMUNAN SAMBIL LALU (casual crowd)
Contoh: kerumunan penonton bakul jamu
KERUMUNAN KONVENSIONAL (conventional crowd)
Contoh: seminar, pertemuan ilmiah, sarasehan,...
KERUMUNAN EKSPRESIF (expressive crowd)
Contoh: kerumunan penonton Nidji or Linkin Park
KERUMUNAN BERTINDAK (acting crowd)
Contoh: pengeroyokan maling ayam

FAKTOR PENYEBAB
PERILAKU KERUMUNAN
Menurut LE BON, faktor-faktor penyebab
perilaku kerumunan adalah
Karena kebersamaannya dengan orang lain,
individu menjadi ANONIM sehingga rasa
tanggung jawab yang mengendalikan dirinya
lenyap
PENULARAN (contagion): dalam kerumunan
tiap perasaan dan tindakan bersifat menular
SUGGESTIBILITY: dalam kerumunan, individu
mudah dipengaruhi, percaya, dan taat

TEORI PERILAKU KERUMUNAN


TEORI PENULARAN (Contagion Theory):
anggota kerumunan hanya mengikuti naluri,
tidak rasional, dan tidak mampu mengendalikan
perilaku (LE BON)
EMERGENT NORM THEORY: dalam interaksi
yang tidak ada aturannya, sering muncul aturan
baru yang diikuti anggota kerumunan (TURNER
dan KILLIAN)
TEORI KONVERGENSI (Convergence Theory):
perilaku kerumunan muncul dari sejumlah orang
yang mempunyai dorongan, maksud, dan
kebutuhan serupa (HORTON dan HUNT)

APA ITU GERAKAN SOSIAL ?


GERAKAN SOSIAL (social movement)
merupakan perilaku kolektif yang ditandai
kepentingan bersama dan tujuan jangka
panjang, yaitu mengubah atau mempertahankan
masyarakat atau institusi di dalamnya. Caracara yang digunakan berada di luar institusi
CONTOH: Gerakan Mahasiswa Pro-Reformasi
1997

GERAKAN SOSIAL (1)


David Aberle dengan menggunakan kriteria tipe perubahan yang
dikehendaki (individual/sosial) dan besarnya perubahan yang diinginkan
(sebagian/menyeluruh), membedakan empat klasifikasi gerakan sosial
Tipe perubahan yang diinginkan
Tipe
Individual
3. Sosial
perubahan yg Sebagian
1. Alternatives
Reformative
dikehendaki
movements
movements
Menyeluruh 2. Redemptive
4. Transformative
movements
movements
Contoh : 1. Granat, GAM, Gerakan Anti-Rokok
2. Pertobatan
3. Angkatan 66
4. Revolusi Kebudayaan di Cina

GERAKAN SOSIAL (2)


KORNBLUM memilah gerakan sosial menurut tujuan
yang hendak dicapai, dan memilahnya menjadi:
REVOLUTIONARY MOVEMENT: tujuannya
transformasi menyeluruh tatanan sosial. Contoh:
Revolusi Kemerdekaan RI
REFORMIST MOVEMENT: tujuannya mengubah
sebagian institusi dan nilai. Contoh: Boedi Oetomo,
Sarekat Islam,...
CONCERVATIVE MOVEMENT: tujuannya
mempertahankan institusi dan nilai masyarakat. Contoh:
Stop Equal Rights Agreements (Gerakan Antifeminis)
REACTIONARY MOVEMENT: tujuannya kembali ke
institusi dan nilai lama Contoh: Ku Klux Klan

GENDER DAN
KETIDAKADILAN
GENDER

PENDAHULUAN

Begitu seorang anak dilahirkan, pada saat yang


sama dia memperoleh TUGAS DAN BEBAN
GENDER (gender assignment) dari lingkungan
budaya masyarakatnya. Beban gender ini
sangat tergantung pada nilai-nilai budaya
masyarakat. Dalam masyarakat patriarkal dan
androsentris, anak laki-laki lebih dominan
dibanding anak perempuan MALE
DOMINATED SOCIETY

JENIS KELAMIN
Istilah gender seringkali dikacaukan dengan
konsep jenis kelamin, padahal keduanya
berbeda
JENIS KELAMIN (sex) adalah pembagian lakilaki dan perempuan yang ditentukan secara
biologis, terutama terkait dengan fungsi
reproduksi laki-laki dan perempuan bersifat
permanen, tidak dapat dipertukarkan, kodrati
(divine creation)
CONTOH: laki-laki memiliki penis, kala menjing,
menghasilkan sperma; perempuan memiliki
payudara, vagina, ovum, dapat menstruasi,
hamil, melahirkan...

GENDER
GENDER (gender) adalah sifat yang
dilekatkan kepada laki-laki dan perempuan
yang dikonstruksikan secara sosial dan
kultural bisa dipertukarkan, tidak bersifat
universal, berbeda antartempat, antarwaktu,
antarkelas (social construction)
CONTOH: laki-laki aktif, agresif,
independen, rasional, kasar, dsb,
sementara perempuan halus, lembut, pasif,
dependen, cengeng, dsb.

MENGAPA LAKI-LAKI BERBEDA


DARI PEREMPUAN ?
TEORI NATUR (NATURE)
Perbedaan peran laki-laki dan perempuan
bersifat KODRATI. Anatomi biologis lakilaki dan perempuan menjadi dasar
penentuan peran sosial
CONTOH: karena perempuan hamil,
melahirkan, dan menyusui, maka
perempuan dianggap lebih tepat di sektor
domestik

LANJUTAN
TEORI PENGASUHAN (NURTURE)
Perbedaan peran antara laki-laki dan
perempuan tidak ditentukan oleh faktor
biologis, melainkan HASIL KONSTRUKSI
MASYARAKAT
melahirkan PERAN GENDER (gender
role), yakni seperangkat harapan tentang
perilaku yang pantas/ tidak pantas
dilakukan seseorang dalam masyarakat
berdasarkan identitas gender yang
dimilikinya (KESSLER dan MCKENNA)

KETIDAKADILAN GENDER
Sejarah PERBEDAAN GENDER (gender
differences) terjadi melalui proses yang panjang:
ia dibentuk, disosialisasikan dan diperkuat
secara sosial dan kultural, bahkan melalui
ajaran agama. Akhirnya perbedaan gender
dianggap sebagai divine creation (ketentuan
Tuhan/kodrat)
Perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi
masalah sepanjang tidak melahirkan
KETIDAKADILAN GENDER (gender
inequalities), tapi kenyataannya tidak demikian.
Ketidakadilan gender merugikan laki-laki dan
(terutama) perempuan

MANIFESTASI KETIDAKADILAN
GENDER
...laki-laki dan perempuan memang
berbeda, tapi tidak boleh
dibeda-bedakan...
Ada beberapa manifestasi ketidakadilan
gender, namun semuanya saling berkaitan
dan saling mempengaruhi. Manifestasi
ketidakadilan gender ini meliputi:

MARGINALISASI
MARGINALIZATION (proses peminggiran
ekonomi/pemiskinan) karena dia perempuan.
Sumbernya antara lain kebijakan pemerintah,
tafsir agama, tradisi, bahkan asumsi ilmu
pengetahuan
CONTOH: Revolusi Hijau, hukum waris, UU
Perkawinan (perempuan sebagai pengelola
rumah tangga sehingga kalau bekerja dia
rawan PHK, diupah rendah,...) feminization
of poverty

SUBORDINASI
SUBORDINATION (anggapan tidak
penting/penomorduaan): adanya
anggapan bahwa perempuan emosional
dan tidak rasional menyebabkan mereka
dianggap tidak layak memimpin
CONTOH: rendahnya proporsi anggota
dewan perempuan perlu affirmative
action

STEREOTIP
STEREOTYPING (pelabelan negatif)
CONTOH: adanya anggapan perempuan
dandan untuk menarik perhatian laki-laki,
jika terjadi perkosaan misalnya, korban
disalahkan (blaming the victim)

BEBAN GANDA
DOUBLE BURDEN (beban ganda):

perbedaan gender melahirkan


pembagian kerja: laki-laki di sektor
publik, perempuan di sektor domestik.
Ketika perempuan masuk ke sektor
publik, dia tetap bertanggung jawab atas
tugas rumah tangga

KEKERASAN
VIOLENCE (kekerasan): kekerasan yang
disebabkan bias gender disebut genderrelated violence
CONTOH: perkosaan (termasuk marital rape),
kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sunat
perempuan (genital mutilation), pelacuran,
pornografi, pemaksaan sterilisasi KB (enforced
sterilization), menyentuh bagian tubuh
perempuan tanpa kerelaan yang bersangkutan
(molestation), pelecehan seksual (sexual
harassment)