Anda di halaman 1dari 37

CEDERA KEPALA BERAT

DISUSUN OLEH :
TOMI EKO PRASETYO
1061050199
PEMBIMBING :
DR. ROBERT SINURAT, SP. BS

Cedera kepala traumatis umumnya didefinisikan

sebagai gangguan terhadap otak dari kekuatan


eksternal yang menyebabkan kerusakan sementara
atau permanen terhadap fungsional , psikososial ,
atau kemampuan fisik.

cedera kepala dibagi menjadi dua periode : cedera

kepala primer dan sekunder .


Cedera kepala primer adalah kerusakan fisik
parenkim ( jaringan, pembuluh ) yang terjadi selama
peristiwa traumatik , sehingga menggeser dan
mengkompresi jaringan otak di sekitarnya .
Cedera kepala sekunder merupakan hasil dari
proses kompleks, mengikuti dan komplikasi cedera
kepala primer di jam dan hari berikutnya

Berdasarkan berat ringannya, cedera kepala dibagi

menjadi cedera kepala ringan , sedang dan berat.


Cedera kepala berat didefinisikan sebagai trauma
kepala terkait dengan Glasgow Coma Scale ( GCS )
skor 3 sampai 8 , adalah masalah besar dan
menantang dalam kedokteran perawatan kritis.1

EPIDEMIOLOGI
Cedera kepala -> 40 % dari semua kematian akibat

cedera akut di Amerika Serikat .


Sekitar 52.000 kematian AS per tahun dari cedera
kepala.
Dalam sebuah studi cedera kepala berat , angka
kematian di cedera kepala berat sekitar 33 % .
Angka kematian pria -wanita untuk cedera kepala adalah
3,4 : 1.
Risiko tertinggi untuk individu berusia 15-24 tahun .
Dua puluh persen dari cedera kepala terjadi pada
kelompok usia anak . Angka yang lebih tinggi pada anakanak usia 0-4 tahun.3

Etiologi
Penyebab umum dari cedera kepala berat bervariasi

sesuai dengan jenis kelamin, usia , ras , dan lokasi


geografis .
1. kecelakaan kendaraan bermotor adalah penyebab
utama dari cedera kepala pada populasi
2. Jatuh adalah penyebab utama kedua cedera
kepala . Jatuh menyumbang 20-30 % dari semua
cedera kepala .
3. Cedera kepala yang berhubungan dengan
pekerjaan merupakan sekitar 45-50 % dari semua
cedera kepala .

Anatomi dan embriologi


Anatomi kulit kepala terdiri dari lima lapisan :
Kulit ( A1 )
jaringan ikat padat ( A1 )
aponeurosis ( A2 , 3 dan 4)
jaringan ikat longgar ( A7 )
perikranium ( periosteum dari kubah tengkorak , A7)

Lapisan meningen :
Duramater ( A12 ) adalah lapisan terluar dan tebal
dari meningen.
Arachnoidmater ( A13 ) terletak di dalam
duramater , dipisahkan oleh ruang subdural yang
hanya interval kapiler.
Piamater ( A14 ) melekat erat ke permukaan otak
dan sumsum tulang belakang .

Gambar 1 .
Diseksi Kulit Kepala dan Tengkorak 4

Embryologi
Jaringan saraf , termasuk otak dan sumsum tulang

belakang , muncul dari lapisan ektodermal , yang


diidentifikasi dalam diskus embrionik pada minggu
kedua setelah pembuahan .
Jaringan ectodermal itu segera menebal untuk
membentuk lempeng saraf simetris, yang merupakan
cikal bakal dari otak dan sumsum tulang belakang .
Otak depan segera membagi menjadi telencephalon dan
diencephalon dari mana vesikel optik muncul secara
bilateral. Otak belakang (rhombencephalon ) juga
membagi menjadi bagian rostral , metencephalon , dan
medulla oblongata .

PATOFISIOLOGI
Pada umumnya cedera kepala merupakan akibat

salah satu atau kombinasi dari dua mekanisme dasar


yaitu kontak bentur dan guncangan lanjut.
Cedera kontak bentur terjadi bila kepala
membentur atau menabrak suatu objek atau
sebaliknya, sedangkan cedera guncangan lanjut yang
sering kali dikenal sebagai cedera akselerasi
deselerasi , merupakan akibat dari peristiwa
guncangan kepala yang hebat.

PATOFISIOLOGI
Suatu benturan pada kepala dapat mengakibatkan

dua macam jejas. Yaitu jejas lokal yang terjadi di


tempat atau dekat benturan, dan jejas yang terjadi di
tempat lain.
Lesi lokal akibat benturan meliputi fraktur linier dan
depresi tulang tengkorak, hematom epidural,
kontusi kup (coup contussion), intra serebral
hematom yang merupakan perkembangan kontusi
kup, subdural hematom yang merupakan tumpahan
intraserebral hematom ke dalam rongga subdural
dan beberapa fraktur basis cranii.

PATOFISIOLOGI
Fenomena kontak juga dapat menimbulkan jejas

bukan di lokasi benturan. Hal ini bisa melalui dua


mekanisme yaitu distorsi otak dan gelombang kejut.
Kedua hal inilah yang dapat menyebabkan terjadinya
fraktur tengkorak di tempat yang jauh dari lokasi
benturan, fraktur basis cranii serta kontusi
konterkup.

Gejala klinis

pingsan,
mengantuk beberapa jam

setelah cedera,
cairan bening keluar dari
hidung atau telinga
perdarahan dari telinga,
memar di belakang telinga,
tanda kerusakan tengkorak
atau cedera kepala penetrasi,
kesulitan dalam berbicara
sakit kepala terus-menerus,
muntah karena cedera,

kesulitan memahami apa

yang dikatakan orang


kesulitan membaca atau
menulis, melihat,
kesulitan keseimbangan atau
kesulitan berjalan,
hilangnya kekuasaan atau
sensasi di bagian tubuh ,
kelemahan umum kejang ,
amnesia,
perubahan emosi atau
perilaku yang tidak biasa

Pemeriksaan Fisik
Dalam evaluasi klinis cedera kepala berat, perlu
diperhatikan hal hal sebagai berikut :
Cedera daerah kepala ekstrakranial : laserasi, perdarahan,
otorre, rinorre, racoons eyes ( ekhimosis periorbital), atau
battles sign ( ekhimosis retroaurikuler)
Cedera daerah spinal,
Cedera daerah thoraks ,
Cedera daerah abdomen ,
Cedera daerah pelvis ,
Cedera ekstrimitas yang menyertai.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan pada penderita cedera kepala yang
masih memiliki kesadaran yang bagus meliputi
pemeriksaan neurologis lengkap, sedangkan pada
penderita yang kesadarannya menurun pemeriksaan
yang diutamakan adalah yang dapat memberikan
pedoman dalam penanganan di UGD , yaitu :
tingkat kesadaran dinilai dengan GCS ( Glasgow
Coma Scale) ,
kekuatan fungsi motorik,
ukuran pupil, dan
gerakan bola mata.

GCS ( Glasgow Coma Scale)


Membuka mata
Spontan
Terhadap suara
Dengan rangsang
nyeri
Tidak ada reaksi
Respon verbal
Baik, tidak ada
disorientasi
Kacau
Tidak tepat
Mengrang
Tidak ada jawaban

Skor
4
3
2
1
Skor
5
4
3
2
1

Respon motorik

Skor

Menurut perintah

Melokalisasi nyeri

Reaksi menghindar

Reaksi fleksi

Reaksi ekstensi

Tidak ada reaksi

Kekuatan fungsi motorik


5 = normal
4 = menurun tapi masih mampu melawan tahanan

pemeriksa
3 = mampu melawan gravitasi
2 = mampu menggeser ekstrimitas
1 = mampu bergerak tapi tidak mampu menggeser
0 = tidak ada gerakan sama sekali

Ukuran pupil,
membandingan antara kanan dan kiri dan

responnya terhadap cahaya


Salah satu gejala dini dari herniassi lobus temporal
adalah dilatasi dan perlambatan respon cahaya
pupil.
Dalam hal ini adanya kompresi maupun distorsi
saraf okulomotorius sewaktu kejadian herniasi
tentorial unkal akan mengganggu sinyal eferen
untuk kontriksi pupil.

Pemeriksaan Penunjang
foto polos kepala,
angigorafi cerebral,
CT Scan kepala,
MRI kepala

Foto polos kepala


Foto polos kepala / otak memiliki sensitivitas dan

spesifitas yang rendah dalam mendeteksi


perdarahan intrakranial.

Angiografi cerebral
Meskipun merupakan prosedur yang invasif,

pemeriksaan ini cenderung bermanfaat untuk


memperkirakan adanya dignosis adanya suatu
hematom / perdarahan intrakranial beserta
penanganannya, khususnya di mana belum
tersedianya CT Scan otak.

CT Scan kepala
CT Scan kepala merupakan standar baku untuk

mendeteksi perdarahan intrakranial.


Semua pasien dengan GCS < 15 sebaiknya menjalani
pemeriksaaan CT Scan

CT Scan kepala
sedangkan pada pasien dengan GCS 15, CT Scan dilakukan
hanya dengan indikasi tertentu seperti :

nyeri kepala hebat,

Amnesia

Adanya tanda tanda

Adanya riwayat cedera

fraktur basis kranii


muntah lebih dari 2
kali
Penderita lansia (usia >
65 tahun)

yang berat

Gambar : Intraserebral hematom pada CT Scan

MRI kepala

MRI adalah teknik pencitraan yang lebih sensitif


dibandingkan CT Scan; kelainan yang tidak tampak
pada CT Scan dapat dilihat oleh MRI.

Subdural Hematom

Penatalaksanaan Darurat
Survei utama untuk mengamankan stabilitas kondisi

umum. Jika skor GCS adalah 8 atau kurang , adalah


tepat untuk mengamankan jalan napas dengan
intubasi endotrakeal. Sangat tepat untuk melindungi
tulang belakang leher selama prosedur .
Pada evaluasi utama , adalah tepat untuk memeriksa
tanda-tanda neurologis, khususnya ; GCS, pupil , dan
hemiparesis .

Penatalaksanaan Darurat
Evaluasi sekunder untuk pemeriksaan dekat cedera.
Jika gangguan kesadaran parah dengan skor GCS 8 atau

kurang , penurunan cepat dalam tingkat kesadaran, CT


dilakukan pada awal evaluasi sekunder .
Sangat tepat untuk memeriksa hal - hal berikut selama
penilaian sekunder kepala :
( a) Cedera dan fraktur depresi tersembunyi di bawah
rambut
( b ) Mata hitam Atau tanda Battle karena fraktur dasar
tengkorak
( c ) luka Okular atau orbital
( d )Kebocoran cairan serebrospinal melalui meatus
auditori eksternal atau lubang hidung

Penatalaksanaan definitif
Peningkatan kepala

Elevasi kepala berguna untuk kontrol ICP , dan sudut kepala


sering disesuaikan dengan 30 derajat .
Terapi Hiperventilasi

Jika tidak ada peningkatan ICP ( < 20 mmHg ) , adalah tepat


untuk mempertahankan PaCO2 pada 25 mmHg atau lebih
dengan intubasi endotrakeal dan respirasi dikendalikan . 9
Jika ICP tidak dapat dikendalikan pada 20 mmHg atau kurang
bahkan dengan mengurangi PaCO2 30-35 mmHg , PaCO2
dapat dikurangi menjadi 25-30 mmHg , tetapi tepat untuk
menghentikan hiperventilasi pada tingkat ini secepat mungkin
.

Penatalaksanaan definitif
Mannitol
Pemberian manitol berguna untuk kontrol ICP .

Dosis efektif biasanya 0,25-1,0 g / kg

Penatalaksanaan definitif

Prosedur Terapi untuk peningkatan tekanan


intrakranial
Jika ICP tetap di 15-25 mmHg atau kurang , kepala
elevasi , pemberian diuretik osmotik dan
hiperventilasi ( PaCO2 30-35 mmHg ) yang
direkomendasikan .

Penatalaksanaan definitif
Antikonvulsan
Antikonvulsan dapat diberikan kepada pasien
sebagai berikut:
Pasien menunjukkan CT normal dengan lesi
parenkim
Pasien dengan epilepsi awal
pasien muda
Fenitoin , karbamazepin , zonisamide , dan
fenobarbital sering digunakan

Indikasi Bedah dan Prosedur


Midline shift >5mm
Fraktur > 1 tabula
Perdarahan >25cc

Prognosis berhubungan dengan derajat


kesadaran saat tiba di rumah sakit10
GCS saat tiba

Mortalitas

15

1%

8-12

5%

<8

40 %

TERIMAKASIH