Anda di halaman 1dari 69

Referat

RUAM PADA ANAK

Pembimbing :
dr. Hj. Nurvita Susanto, Sp. A
dr. H. Budi Risjadi, Sp. A, M.Kes

oleh :
Rannissa Puspita Jayanti
Ruam umumnya
Ruam adalah istilah menyebabkan daerah-
umum yang menggambarkan
perubahan pada warna dan daerah kulit menjadi merah
susunan kulit.
atau benjolan pada kulit,
.
yang juga mungkin menjadi

gatal dan/atau lunak.

Ruam dibagi menjadi dua yaitu lesi primer (timbul dari


kulit yang sebelumnya normal) dan lesi sekunder
(perubahan pada lesi primer)
LESI PRIMER
LESI SEKUNDER
VIRUS

R Measles
Varicella / chickenpox
Rubella

U
Roseolla
Erythema infectiosum
Enterovirus
BAKTERI

A Scarlet fever
Scalded skin syndrome

M
Toxic shock syndrome

JAMUR,
Meningococcemia
PROTOZOA,
Rocky mountain spotted fever
CACING, DLL pox
Rickettsial
TAMPILAN RUAM (1)

Petekie
Petekie/ /Purpura
Purpura
Virus: Bakteri :
Enterovirus Sepsis (meningococcal,
Atypical measles gonococcal, pneumococcal,
Hemorrhagic fever virus Haemophilus influenzae)
Hemorrhagic varicella Endokarditis
Congenital rubella Pseudomonas aeruginosa
CMV Rickettsia
HIV Rocky Mountain spotted
fever
Endemic typhus
Ehrlichiosis
TAMPILAN RUAM (2)

Makula
Makula/ /Makulopapular
Makulopapular
Virus: Bakteri : Lain-lain:
Roseola ( HHV-6 ) Streptokokus Grup A (demam Early Rocky Mountain
Virus Epstein-Barr skarlet) spotted fever
Adenovirus Mycoplasma pneumoniae Typhus
Campak Arcanobacterium hemolyticus
Rubella Secondary syphilis
Fifth disease Leptospirosis
(parvovirus) Pseudomonas
Enterovirus Infeksi Meningokokus (awal)
HIV Salmonella
Dengue virus Lyme disease
Listeria monocytogenes
TAMPILAN RUAM (3)

Vesikel,
Vesikel,Bula,
Bula,Pustul
Pustul
Virus: Bakteri : Lain-lain:
Herpes simplex Staphylococcal scalded skin Toxic epidermal
Varicella zoster syndrome necrolysis
Coxsackie virus A and Staphylococcal bullous Erythema multiforme
B impetigo (Stevens-Johnson
ECHO (enteric Group A streptococcus syndrome)
cytopathogenic human impetigo Rickettsial pox
orphan) virus
TAMPILAN RUAM (4)

Eritema
EritemaNodusum
Nodusum
Virus: Bakteri :
Virus Epstein-Barr Streptokokus Grup A
Hepatitis B Tuberkulosis
Yersinia
Cat-scratch disease
TAMPILAN RUAM (5)

Eritroderma
EritrodermaDifus
Difus
Bakteri : Lain-lain:
Demam Skarlet (Streptokokus Grup Jamur: (Candida albicans)
A)
Toxic shock syndrome
(Staphylococcus aureus)
Staphylococcal scalded skin
ANAMNESIS
ANAMNESIS
Data demografis:
Exposures atau pajanan:
Gambaran dari ruam
Riwayat Kesehatan sebelumnya
Gambaran gejala prodromal
(1)
Diagnosis Banding Masa Prodromal

Campak Sebelum ruam: demam tinggi 3-4 hari, konjungtivitis, batuk pilek
(morbili/measles) Enantema di mukosa pipi (bercak Koplik)

Rubella Anak: tidak spesifik.


(campak Jerman) Remaja & dewasa (1-4 hari sebelum ruam): demam ringan, sakit kepala, nyeri
tenggorok, kemerahan konjungtiva, pembesaran KGB servikal, suboksipital,
postaurikular.
Forscheimer spot (makula/petekia pd palatum molle)
Demam skarlatina demam,nyeri tenggorokan selama 2-3 hari. Dalam 12
24 jam timbul ruam
Meningococcemia nyeri tenggorokan, 2-8 jam kemudian diikuti dengan
demam tinggi, nausea, mialgia, nyeri kepala dan diare,
kaku kuduk
Roseola infantum Demam mendadak tinggi 3-4 hr (sampai 39,4-41,2oC) turun (Normal),
(eksantema subitum) limfadenopati servikal
Gambaran gejala prodromal
(2)
Diagnosis Banding Masa Prodromal

Demam Chikungunya Demam tinggi mendadak (1-6 hr), sakit kepala, fotofobia ringan, mialgia,
artralgia

Varisela Anak: sering tidak ada. Remaja & dewasa: demam, sakit kepala, lemas,
anoreksia (2-3 hr)

Infeksi enterovirus Demam subfebris, hilang saat timbul ruam


Demam Tifoid Demam: step-ladder temperature chart. Nyeri kepala, malaise, anoreksia,
gejala gastrointestinal (diare, obstipasi, lidah kotor)

SSSS Demam & iritabilitas terjadi bersama ruam shg tidak


di temukan gejala prodromal
STSS Demam tinggi, nyeri kepala, batuk, muntah, diare,
syok
PEMERIKSAANFISIK
PEMERIKSAAN FISIK
Tanda vital
Keadaan umum
Pembesaran kelenjar dan lokasi
Lesi konjungtiva, mukosa, genital
Pembesaran hepar dan lien
Artritis
Disfungsi neurologis
Gambaran ruam
Lokasi ruam
Eksantema yang berhubungan
Karakteristik erupsi
Diagnosis kulit/eksantema (1)
Karakteristik eksantema
Banding
Campak Makulopapular eritematosa berbatas jelas, gatal(-).
Leherbelakang telingamukameluas ke
bawah(sentrifugal)melibatkan dada, perut, punggung
dan ekstremitasseluruh tubuh dalam 3 hari. pada
hari ke 5-6 deskuamasi, ruam menjadi kehitaman
dan mengelupasmenghilang setelah 1-2 minggu.
Rubella Warna merah muda. Mulai timbul dimuka
menyebar seluruh tubuh scr kraniokaudal dlm 24-48
jam.Memudar hr ke-2 (muka), 3 (tubuh), 4
(ekstremitas): tanpa deskuamasi.
Roseola Warna merah muda, diskrit makulopapular, 1-3 mm.
infantum Timbul pertama di dada&punggung muka &
ekstremitas. Menghilang dlm 2 hr. tidak
meninggalkan bekas berupa pigmentasi atau
deskuamasi
Infeksi Makulopapular, diskrit, tidak gatal, menyeluruh.
enterovirus Menghilang tanpa deskuamasi. Echovirus-9: petekie.
Coxsakie (penyakit tangan-kaki & mulut): vesikel di
mulut membesar jd luka, eksantema di tangan,
kaki, perineum.
Campak

Rubella
Eksantema subitum (roseola
infantum)

Infeksi enterovirus

Meningococcemia
Diagnosis Karakteristik eksantema
Banding
Varisela 1. Evolusi cepat: makula-papula- vesikula teardrop-pustul-
krusta (8-12 jam)
2. Distribusi terutama bagian sentral badan (sentrifugal)
3. Berbagai stadia eksantema pd satu saat di suatu area
badan
4. Erupsi juga di kulit kepala & selaput mukosa
SSSS Kulit tampak halusSetelah 1-2 hari berkerut mudah
Demam Petekiae/ruam
mengelupas makulopapular
(Nikolskys pd tubuhhari
sign), nyeri2-3 & ekstremitas
Chikunguny kering&berkrustaPenyembuhan10-14hr
segera setelah demam.
a
Demam Rose spot (ruam makulopapular, merah, 1-5 mm). Sering
Tifoid di abdomen, toraks, ekstremitas & punggung. Muncul hr
ke 7-10, selama 2-3 hr.
Demam punctiform, berwarna merah->pucat bila
skarlatina ditekan.didahului didaerah lipatan (leher, ketiak &
inguinal). Pipi merah,di sekitar mulut pucat (circumoral
pallor).lipatan hyperpigmentasi garis melintang
(Pastias line), bertahan sampai ruam
menghilangsandpaper deskumasi setelah hari
ketiga
Varicella zoster

Demam Skarlatina

SSSS
Tanda Patognomonik
Diagnosis Masa Prodromal
Banding
Campak Bercak Koplik

papul warna putih atau


abu-abu kebiruan di
atas dasar bergranulasi
atau eritematosa

Rubella Pembesaran KGB (retroaurikular & oksipital),


Forscheimer spot, yaitu makula atau petekie pada
pallatum molle
Demam Strawberry tongue, tonsilitis eksudativa atau
skarlatina membranosa

Roseola Nagayanas spot pada pallatum molle dan uvula


Infantum
PEMERIKSAANPENUNJANG
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah rutin
C-Reactive Protein
Mikrobiologi: preparasi Tzanck
Serologi: anti streptolisin O (ASTO)
Pemeriksaan Penunjang (1)
Diagnosis Hasil Uji Laboratorium
Banding
Campak Leukopeni, pe titer antibodi (IgM & IgG) muncul
bersama 12 hari setelah infeksi & mencapai puncak
setelah 21 hr. isolasi virus dari darah, urin, atau sekret
nasofaring.
Rubella Leukopenia. Usap tenggorok: isolasi virus. Pe titer
antibodi 4x pd uji HI (dimulai 24-48 jam setelah erupsi,
puncak hr ke 6-12)
Meningococce Pewarnaan Gram pd darah, cairan serebrospinal:
mia Meningococcus.
Roseola 24-36 jam I panas: leukositosis (16.000-20.000/mm3)
infantum dg pe neutrofil, hr ke 3-4: leukopenia (3.000-
SSSS Kultur dari kulit
5.000/mm3). dan cairan bula.
Neutropeni & limfositosis reaktif.
Serologi: IgM (5-7 hr stlh infeksi). PCR untuk deteksi
Pemeriksaan Penunjang (2)
Diagnosis Hasil Uji Laboratorium
Banding
Infeksi Isolasi virus Echo & Coxsakie di feses, usap tenggorok, &
enterovirus cairan serebrospinal. Peningkatan antibodi netralisasi thd
virus ini (konfirm diagnosis)
Varisela Isolasi virus (3-5 hr)
Demam Neutralizing & HI antibodi (sampel yg dikumpulkan 2
Chikungunya minggu/setelah onset demam). Complement fixing
antibody berkembang lebih lambat.
Demam Leukopeni (jarang < 3000/ul), limfositosis relatif. Abses
Tifoid piogenik leukositosis 20.000-25.000/ul. Trombositopenia
(bbrp minggu)
Uji serologi Widal, isolasi S. typhi dari darah (dx pasti)
Demam Biakan usap tenggorok : Streptokokus hemolitikus grup A.
skarlatina Peningkatan ASTO (anti streptolisin-O)
Diagnosis banding eksantema
akut

Berdasarkan
Riwayat penyakit & data imunisasi pasien
Gambaran gejala masa prodromal
Gambaran karakteristik rash (ruam),
lokasi, pola penyebaran
Gejala patognomonik/ciri tertentu
Hasil laboratorium uji diagnostik

Pendekatan diagnostik eksantema akut. Dalam: Soedarmo SS, dkk. Buku ajar
infeksi & pediatri tropis. Ed kedua. Jakarta: IDAI; 2010.
Tatalaksana
Diagnosis Banding Tatalaksana
Campak cairan dan kalori yang cukup,vitamin A 2 x
200.000 IU dengan interval 24 jam dan
simptomatik, dengan antipiretik, antitusif,
ekspektoran dan antikonvulsan bila kejang.
campak dengan penyulit perlu dirawat
inap
Rubella suportif
Eksantema Subitum Tidak ada terapi spesifik ,dapat sembuh
(roseola infantum) sempurna hanya dg simptomatik
Demam Skarlatina Penisilin per oral/IV, eritromisin / sefalosporin
sedini mungkin&terapi suportif
Infeksi Enterovirus Tidak ada terapi spesifik

SSSS Suportif, mencegah sepsis, balans cairan dan


elektrolit. Antibiotik resisten penisilinase.

Meningococcemia Inisial terapi ampisilin dan kloramfenikol /


sefalosporin generasi ketiga. Setelah hasil
kultur positif penisilin G 250.000 300.000
U/kg/hari dibagi dalam 6 kali pemberian
RASH DISEASES
MEASLES/RUBEOLA/
MEASLES/ RUBEOLA/CAMPAK/
CAMPAK/
MORBILI
MORBILI
Measles/ Rubeola/ Campak/ Morbili

Etiologi : Morbillivirus (fam.


Paramixoviridae)
Masa inkubasi : 14-21 hari
Masa penularan : 2 hari
sebelum gejala prodromal
sampai 4 hari timbulnya erupsi.
Cara penularan melalui droplet
Measles/ Rubeola/ Campak/ Morbili
Manifestasi klinis
Masa prodromal antara 2-4 hari
ditandai dengan demam 38,4-
40,6oC, koriza, batuk,
konjungtivitis, bercak Koplik
Bercak koplik timbul 2 hari
sebelum dan sesudah erupsi kulit,
terletak di mukosa bukal posterior.
Demam sangat tinggi saat ruam
merata dan menurun cepat setelah
Koplik spots
2-3 hari timbulnya eksantema
Measles/ Rubeola/ Campak/ Morbili
Manifestasi klinis
Eksantema timbul pada hari ke 3-4 masa prodromal,
memudah setelah 3 hari dan menghilang setelah 6-7 hr
Erupsi di mulai dari belakang telinga perbatasan
rambut kepala seluruh badan
Eksantema berupa papul eritematosa berbatas jelas dan
kemudian berkonfluensi menjadi bercak yang lebih
besar, tidak gatal dan kadang disertai purpura
Bercak menghilang disertai hiperpigmentasi kecoklatan
dan deskuamasi ringan menghilang setelah 7-10 hari
Measles/ Rubeola/ Campak/ Morbili
Diagnosis
Manifestasi dan tanda patognomonik koplik spots
Isolasi virus dari darah, urin, dan sekret nasofaring
Komplikasi
Otitis media, mastoiditis, pneumonia, ensefalomielitis
Terapi
Suportif
Pemberian vitamin A 2x200.000 IU dgn interval 24 jam
Pecegahan
Vaksin MMR
SCARLETFEVER
SCARLET FEVER
(SCARLATINA)
(SCARLATINA)
Scarlet Fever (Scarlatina)
Etiologi : streptococcus beta
hemolyticus grup A
Masa inkubasi : 1-7 hari,
rata rata 3 hari
Cara penularan : melalui
droplet dari pasien yang
terinfeksi atau karier
Fokus infeksi : faring dan
tonsil, jarang pada luka
operasi atau lesi kulit.
Scarlet Fever (Scarlatina)
Manifestasi klinis
Gejala prodromal berupa demam,
nyeri tenggorokan, muntah, nyeri
kepala, malaise dan mengigil.
Dalam 12-24 jam timbul ruam
Tonsil membesar dan eritem,
palatum dan uvula terdapat eksudat
putih keabu-abuan Strawberry tongue
Lidah terdapat eritema dan edema
seperti gambaran strawberry tongue
Ruam berupa erupsi punctiform
berwarna merah yg menjadi pucat
bila ditekan
Scarlet Fever (Scarlatina)
Manifestasi klinis
Pada dahi dan pipi tampak merah dan
terdapat circumoral pallor
Saat kemerahan menghilang kulit tampak
sandpaper dan menjadi deskuamasi setelah
hari ketiga
Diagnosis
Manifestasi klinis
Kultur bakteri dari sekret nasofaring
Circumoral pallor
Serologis, peningkatan kadar anti streptolisin
O (ASTO)
Scarlet Fever (Scarlatina)
Komplikasi
Abses tonsil, otitis media, bronkopneumonia
Komplikasi lanjut demam rematik dan GNA
Terapi
Pilihan pertama
Penisilin V, 125-250 mg/kali, 3x/hari PO selama 10 hari
Long acting benzahine penicillin G 600.000 i.m. dosis tunggal
Keadaan berat diberikan secara IV dosis dapat sampai 400.000
IU/kgBB/hari
Pilihan kedua
Eritromisin : 20-40 mg/kgBB/hr p.o. selama 10 hari
Linkomisin : 40 mg/kgBB/hr p.o
Klindamisin : 30 mg/kgBB/hr p.o
Sefadroksil monohidrat : 15 mg/kgBB/hr p.o
RUBELLA(GERMAN
RUBELLA (GERMANMEASLES)
MEASLES)
Rubella (German Measles)
Etiologi : Rubivirus (fam.
Togaviridae), virus RNA
Masa inkubasi : 14-21 hari
Masa penularan :
Sejak akhir masa inkubasi
sampai 5 hari setelah timbulnya
ruam. Cara penularan melalui
droplet
Rubella (German Measles)
Manifestasi Klinis
Masa prodromal 1-5 hari ditandai dengan
demam subfebris, malaise, anoreksia,
konjungtivitis ringan, koriza, nyeri
tenggorokan, batuk dan limfadenopati.
Demam berkisar 38-38,7oC.
Enantema (Forscheimer spots) timbul pada Forscheimer
periode prodromal, setelah itu muncul bercak spots
pinpoint atau lebih besar, warna merah muda,
tampak pada palatum mole sampai uvula.
Terdapat limfadenopati generalisata
Eksantema berupa makulopapular, eritematosa,
diskret.
Rubella (German Measles)
Diagnosis
Manifestasi klinis yaitu prodromal ringan, ruam
menghilang dalam 3 hari, limfadenopati retroaurikular
dan suboksipital
Isolasi virus, virus ditemukan pada faring 7 hari
sebelum dan 14 hari sesudah timbulnya ruam
Serologis dapat dideteksi mulai hari ke tiga timbulnya
ruam
Pencegahan
Vaksin MMR
ERITEMAINFEKSIOSUM
ERITEMA INFEKSIOSUM
ERITEMA INFEKSIOSUM
Etiologi: Parvovirus humanus
B 19
Cara penularan: Melalui alat
rumah tangga dan droplet
Masa inkubasi: 5-16 hari (rata-
rata 8 hari).
ERITEMA INFEKSIOSUM
Manifestasi klinis:
Eksantema pada pipi: papuleritematosa, pucat pada
penekanan. Gambaran "slappedcheek". Kulit pada lesi terasa
hangat dan bertahan sampai 4-5 hari.
Dimulai 1-4 hari timbulnya bercak pada wajah, timbul
makula/papula/urtika eritematosa terutama pada ekstensor
ekstremitas dan menyebar dan kebokong badan, lesi
berkonfluensi dan terjadi penyembuhan yang ireguler
sehingga memberikan gambaran retikuler/ anyaman.
Eksantema berlangsung selama 1-6 minggu dan hilang timbul.
ROSEOLAINFANTUM
ROSEOLA INFANTUM
(EXANTHEMASUBITUM)
(EXANTHEMA SUBITUM)
ROSEOLA INFANTUM (EXANTHEMA
SUBITUM)
Etiologi : Human Herpes Virus 6 (HHV
6)
Manifestasi klinis:
Demam tinggi mendadak 40 40,6 C
Terdapat koriza, konjungtivitis dan
batuk
Ruam pertama kali di punggung,
menyebar ke leher, ekstremitas, dan
muka
Ruam makulopapular tidak
berdeskuamasi
VARISELLAZOSTER
VARISELLA ZOSTERVIRUS
VIRUS
(CHICKENPOX)
(CHICKEN POX)
Varisella Zoster (Chicken Pox)
Etiologi : Varicella zoster virus
Masa inkubasi : 14-27 hari
Masa penularan : 2 hari sebelum dan 5 hari sesudah erupsi
(droplet/kontak langsung)
Varisella Zoster (Chicken Pox)
Manifestasi klinis
Masa prodromal 2- 3 hari ditandai dengan demam, malaise, batuk,
coryza dan nyeri tenggorokan serta gatal.
Eksantema berawal dari lesi makulopapular vesikel berbentuk
teardrop 2 hari kemudian pustul dan krusta
Penyumbuhan total terjadi selama 16 hari
Varisella Zoster (Chicken Pox)
Diagnosis
Tzanck smear
Direct fluorescent assay (DFA)
Polymerase chain reaction (PCR)
Biopsi kulit
Varisella Zoster (Chicken Pox)
Penatalaksanaan
Edukasi
Lesi masih berbentuk vesikel diberi bedak agar tidak pecah
Vesikel yang sudah pecah diberi salep antibiotik mencegah
infeksi sekunder
Antipiretik dan analgetik (selain aspirin)
Kuku jari di potong mencegah infeksi akibat garukan
Obat Antivirus
Neonatus : Asiklovir 500mg/m2 IV tiap 8 jam selama 10 hr
Anak (2-12 th): Asiklovir 4 x 20mg/kgBB/hari oral selama
5 hari
HANDFOOT
HAND FOOTMOUTH
MOUTH
DISEASE(HFMD)
DISEASE (HFMD)
HAND FOOT MOUTH DISEASE (HFMD)

Etiologi : Coxsackie virus A 16


Penularan : droplet
Manifestasi klinis
Panas subfebris, anoreksia, malaise, nyeri tenggorokan
timbul 1-2 hari sebelum enantem
Enantem: mukosa bukal, lidah, dapat menyebar hingga
palatum uvula, pilar anterior tonsil
Lesi enantem berawal dari vesikel 4-8 mm krusta
Eksantem: vesiko pustul bula, dapat terasa gatal / nyeri
ECZEMAHERPETICUM
ECZEMA HERPETICUM
Eczema Herpeticum
Etiologi : Virus herpes simplex
Manifestasi klinis
Lesi vesikel bergerombol dasar eritematous
pustul pecah menjadi ulkus yang ditutupi
krusta berwarna kuning
Lesi dapat terasa gatal / nyeri
STAPHYLOCOCCAL
STAPHYLOCOCCAL
SCALDEDSKIN
SCALDED SKINSYNDROME
SYNDROME
Staphylococcal Scalded Skin Syndrome
Etiologi : Staphylococcus aureus
Fokus infeksi: faringitis purulen, rinitis, conjunctivitis, luka/infeksi umbilikal pada
neonatus
Gejala prodormal: demam dan iritable
Lesi kulit
Ruam makula eritem pertama kali di sekitar mulut dan hidung kulit
sandpaper
Lesi pada daerah fleksor (lipat paha, leher, aksila)
Nikolsky sign + krusta
MOLLUSCUM
MOLLUSCUM
CONTAGIOSUM
CONTAGIOSUM
Molluscum Contagiosum
Etiologi : Virus pox
Tidak terdapat gejala prodromal
Lesi kulit
Erupsi berupa papul berbentuk kubah disertai umbilikasi ditengahnya, warna
merah seperti daging dan translusen
Lesi tersebar atau berkelompok
Terapi: kuretase, krioterapi, obat kertolitik
INFEKSIVIRUS
INFEKSI VIRUSDENGUE
DENGUE
Infeksi Virus Dengue
Etiologi : virus dengue
Manifestasi klinis :
Setelah masa inkubasi penderita demam tinggi, flush
faced, lemas
3 hari pertama tidak tampak ruam jelas, tampak warna
kulit kemerahan dan dapat terjadi perdarahan spontan
Ruam petekie turunnya trombosit dalam darah tepi
Gejala sistemik lain seperti pembesaran hepar dan
adanya kebocoran plasma
Infeksi Virus Dengue
Terdapat 3 fase yang terjadi :
Fase febrile
demam mendadak tinggi, nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, nyeri sendi,
kemerahan pada wajah dan eritema kulit.
Gejala nonspesifik : nausea, anoreksia, muntah
Leukopenia, trombosit dan hematokrit dalam batas normal
Berlangsung selama 2-7 hari
Fase kritis
Suhu tubuh mulai menurun
Terhadi pada hari ke 3-7 sejai mulai sakit, berlangsung 24-48jam
Permeabilitas kapiler dengan hematokrit trombosit
Bisa terjadi perembesan plasma syok hingga kematian
Fase pemulihan
Perbaikan keadaan umum
Nafsu makan pulih, hemodinamik stabil, diuresis cukup
Berlangsung selama 48-72 jam
Daftar Pustaka
Soedarmo SSP, Herry G, Sri Rezeki SH, Hindra IS. Buku Ajar Infeksi &

Pediatri Tropis. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2012.

Anonim. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak,

RSUP. Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo. Jakarta. 2007.

Behrman, RE; Kleigman, RM; Arvin, AM. Ilmu Kesehatan Anak Nelson.

Vol 2 edisi 15. Jakarta: EGC, 2000

Mancini AJ. Skin infections and exanthems. Dalam: Rudolph CD, Rudolph

AM, Hostetter MK, Lister G, Siegel NJ, editor. Rudolphs pediatrics. Edisi

kedua puluh satu. Mc-Graw Hill. New York, 2002; 1217-31.

Cherry JD. Cutaneous manifestations of systemic infections. Dalam:

Feigin R, Cherry JD, editor. Textbook of pediatric infectious diseases.

Volume 1. Edisi ketiga. WB Saunders Company. Philadelphia; 755-82.


Daftar Pustaka
Lembo RM. Fever and rash. Dalam: Kliegman RM, Greenbaum LA, Lye PS, editor.

Practical strategies in pediatric diagnosis and therapy. Edisi kedua. Elsevier Saunders.

Philadelphia, 2004; 997-1015.

Pomeranz AJ, Busey SL, Sabnis S, Behrman RE, Kliegman RM. Pediatric decision-making

strategies to accompany Nelson textbook of pediatrics. Edisi keenam belas. WB

Saunders Company. Philadelphia, 2002; 224-9.

Garg A, Levin NA, Bernhard JD. Structure of skin lesions and fundamentals of clinical

diagnosis. Dalam: Wollf K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editor.

Fitzpatricks dermatology in general medicine. Edisi ketujuh. Mc-Graw Hill Medical. New

York, 2008; 23-40.

Sanders CV. Approach to the diagnosis of the patient with fever and rash. Dalam:

Sanders CV, Nesbitt LT, editor. The skin and infection. Williams & Wilkins. Baltimore,

1995; 296-304.

Krugman S, Katz SL, Gershon AA, Wilfert CM. Diagnosis of acute exanthematous disease.

Dalam: Krugman S, Katz SL, Gershon AA, Wilferr CM. Infectious disease of children. Edisi

ke-9. St Louis : Mosby Yearbook. 1992


Terima
kasih