Anda di halaman 1dari 60

Psikiatri Forensik

K E PA N I T E R A A N K L I N I K I L M U K E S E H ATA N J I WA
R U M A H S A K I T P U S AT A N G K ATA N DA R AT
G AT O T S O E B R O T O
PERIODE 14 MARET 2016 16 APRIL 2016
PENGERTIAN

Merupakan sub-spesialisasi ilmu kedokteran


yang menelaah mental manusia dan berfungsi
membantu hukum dan peradilan.
Merupakan titik singgung antara ilmu
kedokteran dan ilmu hukum, selain ilmu hukum
kedokteran.
Banyak yg menganggap psikiatri forensik,
cabang ilmu kedokteran forensik.
Psikiatri forensik merupakan cabang dari
psikiatri.
Forensik digambarkan sbg pemanfaatan atau
aplikasi cabang ilmu kedokteran ini (psikiatri)
untuk keperluan hukum.
Psikiatri (kedokteran) forensik berfungsi sbg
pemberi bantuan dlm hukum bersifat aktif.
Ilmu hukum kedokteran, dokter dan ilmu
kedokteran berkedudukan sbg objek telaah yg
bersifat pasif.
Kegiatan utama psikiatri forensik adalah

pembuatan Visum et Repertum


Psychiatricum.

Saat ini yang paling banyak adalah pembuatan


Visum et Repertum Psychiatricum untuk kasus
pidana
Kasus-kasus Hukum

Pidana Perdata Kasus lain

Terperiksa Pembatalan Kompetensi


sebagai kontrak untuk
pelaku Pengampuan diinterview
Terperiksa (curatelle) Kelayakan
sebagai Hibah untuk maju
korban Perceraian sidang
Adopsi
Fungsi VeRP

Membantu menentukan apakah terperiksa mengalami

gangguan jiwa dengan upaya menegakkan diagnosis

Membantu menentukan kemungkinan adanya hubungan

antara gangguan jiwa pada terperiksa dengan peristiwa


hukumnya.

Membantu menentukan kemampuan bertanggung jawab

pada terperiksa

Membantu menentukan cakap tidaknya terperiksa bertindak

dalam lalu lintas hukum.


Pasal 44 ayat 1 dan 2

1. Barang siapa mengerjakan sesuatu perbuatan,


yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya
karena kurang sempurna akalnya atau karena
sakit berubah akal tidak boleh dihukum.
2. Jika nyata perbuatan itu tidak dapat
dipertanggungkan kepadanya karena kurang
sempurna akalnya atau karena sakit berubah
akal, maka Hakim boleh memerintahkan
menempatkan ia di rumah sakit gila selama-
lamaya satu tahun untuk diperiksa.
Alat Bukti

Pasal 184 (1) KUHAP, antara lain :


1). Keterangan saksi
2). Keterangan ahli
3). Alat bukti surat
4). Alat bukti petunjuk
5). Alat bukti terdakwa.
KETERANGAN AHLI

1. Keterangan ahli adalah keterangan yang


diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian
khusus tentang hal yang diperlukan untuk
membuat terang suatu perkara pidana guna
kepentingan pemeriksaan (KUHAP Ketentuan
Umum pasal 1 butir 28)
2. Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli
nyatakan di sidang pengadilan (KUHAP pasal 186).

3. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai


ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli
lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi
keadilan. (KUHAP pasal 179 ayat 1)
KETERANGAN AHLI

Keterangan ahli Kedokteran jiwa ada dua bentuk yaitu :

Surat keterangan ahli kedokteran jiwa (VeRP ) yang

didahului sebutan PRO JUSTITIA yang dibuat dalam


bentuk menurut pedoman yang ditetapkan dan terikat
sumpah jabatan dokter Indonesia.

Keterangan ahli Kedokteran Jiwa lisan yang dinyatakan

dalam sidang pengadilan dibawah sumpah.


UU NO 36/2009 TENTANG KESEHATAN

Pasal 150 Ayat (1)

Pemeriksaan kesehatan jiwa untuk kepentingan


penegakan hukum (VeRP) hanya dapat
dilakukan oleh dokter Spesialis Kejiwaan pada
fasilitas pelayanan kesehatan
Alur pembuatan VeRP
Pelaku/korban tindak pidana Institusi Pelayanan Kesehatan

BAP (berita acara Observasi 2 minggu***
pemeriksaan) Polisi
Psikiater + tim pemeriksa
Diduga menderita kelainan (psikolog, dll)
jiwa*
Pemeriksaan tambahan
Surat Permohonan
pembuatan VeRP** Penyusunan VeRP

Institusi pelayanan kesehatan
* MINTA PENDAPAT AHLI

Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat


minta pendapat orang ahli atau orang yang
memiliki keahlian khusus. (KUHAP pasal 120 ayat
1)
Tersangka atau terdakwa berhak untuk
mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau
seseorang yang memiliki keahlian khusus guna
memberikan keterangan yang menguntungkan
bagi dirinya. (KUHAP pasal 65)
Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan
duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta
keterangan ahli dan dapat pula minta agar
diajukan bahan baru oleh yang
berkepentingan.(KUHAP pasal 180 ayat 1).
**YANG BERHAK MENJADI PEMOHON

Penyidik ( KUHAP pasal 120 ) : Polisi, KPK


Penuntut umum dalam hal tindak pidana
khusus ( pasal 120, pasal 284) : Jaksa, KPK
Hakim pengadilan (pasal 180 ayat 1)
Tersangka/terdakwa/korban melalui pejabat
sesuai dengan tingkatan proses pemeriksaan
(pasal 65, pasal 180 ayat 1,2,3,4)

Penasehat hukum/pengacara melalui pejabat


sesuai dengan tingkatan proses pemeriksaan (
pasal 180 ayat 1,2)
***JANGKA WAKTU OBSERVASI

UU Kesehatan Jiwa tahun 1965 :

jangka waktu observasi antara 3 minggu sampai 6


bulan, yang didasarkan pada kemungkinan penyesuaian
diri (adaptasi) terperiksa pada lingkungan perawatan.
KUHAP berdasarkan atas Hak Asasi Manusia

yang masa penahanan tidak boleh melebihi 90


hari maka jangka waktu observasi harus
diperpendek.
Pedoman pembuatan VeRP dari Direktorat
Kesehatan Jiwa menyesuaikan jangka
waktu observasi dengan yang ditentukan
KUHAP.
Tatacara Permintaan VeRP

Surat permintaan tertulis dari penegak hukum (pemohon)

yang ditujukan kepada sarana yankeswa pemerintah

Berisi : - identitas lengkap pemohon

- identitas lengkap tersangka

- alasan permintaan VeRP

- berita acara pemeriksaan (BAP)


Tersangka diobservasi selama-lamanya 14 hari dan dapat
diperpanjang bila diperlukan dengan persetujuan tertulis
pemohon, dengan memperhatikan masa tahanan.

Permohonan surat perpanjangan observasi dilakukan


secara resmi dan tertulis

Selama diobservasi, tersangka mendapat penjagaan dari


pihak pemohon dan tidak diperkenankan menerima
kunjungan kecuali dengan persetujuan kepala sarana
yankeswa
Selama observasi tidak dilakukan terapi, kecuali

dalam keadaan darurat medik tertentu.

Selama proses observasi, tersangka dilarang dibawa

keluar dari sarana yankeswa kecuali untuk


pemeriksaan penunjang medis.
Setelah proses observasi selesai, terperiksa harus
dibawa kembali oleh instansi pemohon dan VeRP
harus diserahkan dalam 7 hari pasca observasi
selesai.

Pembiayaan ditanggung oleh instansi pemohon


atau keluarga tersangka.
Pemeriksaan dalam pembuatan
Visum et Repertum
Psychiatricum
PEMERIKSAAN FISIK

Seluruh
keadaan
fisik

Penampilan
Neurologis
umum

Sistem
Organ
Pemeriksaan psikiatrik : kontak psikis, dll.
rangkaian pemeriksaan
yang terdiri dari Pemeriksaan afektif
pemeriksaan pada fungsi
psikomotor, afektif, dan alam perasaan dasar
kognitif. stabilitas emosi
Pemeriksaan fungsi ekspresi dan emosional
psikomotor : empati, dan sebagainya.
kesadaran
sikap
tingkah laku
Pemeriksaan kognitif :
persepsi dan gangguan persepsi
daya ingat
dugaan taraf kecerdasan
kemampuan membatasi dan membedakan fakta, data, dan ide
(discriminative judgement )
kemampuan menilik diri sendiri (discriminative insight)
ada tidaknya kelainan pada isi pikiran, dan
keadaan mutu pikiran.
Pemeriksaan tambahan : evaluasi psikologis, pemeriksaan
laboratories, pemeriksaan radiologi, EEG, CT scan dll,
pemeriksaan psikiatri forensik

1. Pemeriksaan kemampuan bertanggung jawab


a. Tahap kemampuan menyadari tindakan
Seharusnya pelaku dapat mempersepsi kemudian
menginterpretasi dan mengambil konklusi dari
suatu stimulus. Kesadaran disini dinilai dengan
pemeriksaan kesadaran.
b. Tahap memahami tindakan
Stimulus respons menelaah nilai dan resiko
terhadap diri dan lingkungan ( discriminative insight
) alternative respon yang mempertimbangkan
baik-buruk,tinggi-rendah, dosa-pahala
(discriminative judgement)
c. Tahap pemilihan dan pengarahan tindakan
Seseorang yang normal dan mampu bertanggung
jawab akan bebas mempertimbangkan dan memilih
respons yang kemudian akan bebas mengarahkan
respons yang dipilih sebagai suatu tindakan.
No Tingkah laku/ perbuatan Kompetensi
pertanggungjawaban
disadari dipahami direncanakan

1. + + + Bertanggung jawab

2. + + - Bertanggung jawab

3. + + impulsif Diragukan tanggung


jawabnya
4. + + Terpaksa Diragukan tanggung
jawabnya
5. + - - Tidak dapat bertanggung
jawab
6. - - - Tidak dapat bertanggung
jawab
2. Pemeriksaan Kompetensi (cakap) dalam lalu
lintas hukum

tindakan yang mungkin akan dilakukan oleh si


terperiksa terutama yang bersangkutan dengan
hartanya atau dalam hubungannya dengan
hubungan sosial yang memiliki konsekuensi
yuridis.
disebut pemeriksaan prognostik dimana
tindakan diperkirakan akan segera dilakukan
sesudah pemeriksaan
Pada gangguan jiwa yang dapat sembuh
(reversible), penentuan kompetensi tidak begitu
berarti. Pada gangguan jiwa yang menetap
(irreversible), maka akan berlanjut pada kasus-
kasus pengampuan, hibah atau pewarisan dan
sebagainya.
3. Penetuan hubungan sebab-akibat (kausalitas)
antara suatu kondisi dengan timbulnya
gangguan jiwa.
Kasus- kasus yang memerlukan pemeriksaan ini
adalah
Kasus yang terperiksa adalah korban
Kasus ganti rugi pada gangguan jiwa atau cacat
jiwa akibat suatu kondisi kerja.
4. kompetensi untuk ditanya (competence to be
interviewed) dan kelayakan untuk diajukan di
siding pengadilan ( fitness to stand trial)
Seseorang (terperiksa) akan diajukan ke
pengadilan harus memenuhi syarat-syarat
berikut:
Apakah sidang dapat dilaksanakan
(applicable)? Sidang dapat dilaksanakan
apabila terperiksa dapat menaati peraturan
ketertiban sidang.
Apakah sidang tidak berbahaya ( harmful) bagi
terperiksa? Sidang tidak dapat dilaksanakan
apabila suasana sidang terlalu menekan sehingga
terperiksa dapat menjadi sakit atau bahkan
meninggal
Apakah sidang bermanfaat ( beneficial)?
Diharapkan dalam sidang, terperiksa mengerti
akan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan
dapat mengungkapkan pendapatnya dan
dimengerti orang lain.
Pengampunan / Curatelle

Keadaan saat seorang dewasa dianggap


tidak cakap untuk bertindak dalam lalu
lintas hukum sehingga harus ditempatkan
dibawah tanggung jawab orang lain

Orang yang
Orang yang diampu =
mengampu =
Curandus
Pengampu/Curator
Kasus-kasus yang sering dimintakan
pengampuan misal :

Penderita demensia
Gangguan mental berat seperti psikotik

Epilepsi
Pemeriksaan psikiatri forensik
dilakukan untuk menentukan sejauh
mana kompetensi orang yang akan
diampu dalam mengambil keputusan
akan harta maupun dirinya
Penilaian kompetensi untuk kepentingan
pengampuan meliputi beberapa metode:

Wawancara klinis secara detail dengan pasien, keluarga


termasuk profesional yang terlibat dalam penilaian nilai-
nilai tujuan dan keinginan dari pasien serta kondisi mental
Penilaian kognitif berdasarkan performa
Penilaian kapasitas spesifik yang dibutuhkan berdasarkan
performa
Sebelum penilaian kompetisi dilakukan hal-hal
berikut :

Referal clarification
Menentukan isu spesifik yang dipertanyakan, mis ; harta

Menentukan kualifikasi seseorang apakah mampu atau tidak


menjadi pengampu
General assesment planning
Mendapatkan inform consent untuk evaluasi yang dilakukan
Setelah penilaian kompetensi dilakukan hal-hal
berikut:

Sintesis data dan mengkonsumsikan temuan:


Bagaimana data bisa diolah untuk mengambil kesimpulan

Menentukan apa yang harus dimasukkan ke dalam laporan

Menentukan kepada siapa hasil dari laporan harus


dikomunikasikan
Follow up evaluasi
Menelusuri dampak dari evaluasi

Membuat rekomendasi dari intervensi


Penceraian

Hal-hal yang penting untuk dilakukan


pemeriksaan psikiatri forensik pada suatu kasus
penceraian adalah kemampuan penyesuaian sosial
pada pasangan, kapasitas bekerja pada pasangan
dan potensi seksual
Penilaian Laik Kerja
Pemeriksaan psikiatri forensik yang dilakukan
sebagai persyaratan penerimaan suatu institusi kerja
/ institusi pendidikan tertentu
Pemeriksaan yang
dilakukan

pemeriksaan psikiatrik menyeluruh dan


pemeriksaan status mental oleh dokter spesialis
kedokteran jiwa melalui wawancara psikiatrik
dengan fokus pada riwayat pekerjaan / riwayat
pendidikan dan masalah performa di tempat kerja /
di tempat pendidikan sebelumnya
Pemeriksaan meliputi riwayat penyakit medis,
riwayat gangguan psikiatri
Tes psikologi tambahan yang ditentukan seperti
Minnesota Multiphasic Personality Inventory
(MMPI) dan Neurocognitive Test (NCT)
Hasil pemeriksaan berupa Surat Keterangan
Kesehatan Jiwa yang kesimpulannya adalah
ditemukan / tidak ditemukan tanda / gejala
gangguan jiwa
Selain menegakkan ada atau tidaknya suatu
diagnosis gangguan jiwa tertentu, pemeriksaan ini
meliputi pemeriksaan terhadap berbagai faktor
psikologis spt :
Kemampuan kognitif
Kecepatan
Ketekunan
Keandalan
Kesadaran dan motivasi
Fungsi interpersonal
Kejujuran dan kepercayaan
Toleransi terhadap tekanan
Bila terdapat gangguan jiwa

dokter wajib menyebutkan opininya sejauh mana


gangguan jiwa yang dialami dapat menganggu
kemampuan dalam bekerja / studi, serta wajib
menyebutkan gangguan pad faktor psikologis
spesifik yang ditemukan termasuk di dalamnya
tilikan dan daya nilai
Adopsi

Permintaan pembuatan Surat Keterangan Sehat


Jiwa untuk kepentingan adopsi diminta oleh
calon orang tua angkat kepada pengadilan
negeri di tempat anak yang akan diangkat itu
berada.

Bila calon orang tua angkat


berstatus menikah maka
sekurang-kurangnya sudah
menikah selama lima tahun
Isi
motivasi yang mendasari
permohonan
mengangkat anak, serta
pengambaran kemungkinan
kehidupan anak tersebut di
masa yang akan datang

Pengadilan negeri
Calon orang tua angkat
kemudian akan
harus membawa dua
memintakan
orang saksi yang
pemeriksaan kapasitas
mengetahui seluk beluk
orang tua kepada calon
pengangkatan anak
orang tua angkat kepada
tersebut
dokter
Penilaian kapasitas orang tua untuk
kepentingan adopsi terdiri atas pemeriksaan :

Kemampuan bertanggung jawab untuk merawat


dan memberikan perlindungan terhadap anak
Fungsi reflektif calon orang tua angkat
Kemampuan membentuk ikatan dengan anak
Emotional availability
Kemampuan untuk mewariskan nilai-nilai budaya
dan nilai-nilai sosialnya
Kemampuan meregulasi perilaku
Gangguan psikiatri
Contoh Visum et Repertum Psychiatricum
Nama Sarana Pelayanan Kesehatan Jiwa

demi keadilan (pro justitia)

Visum et Repertum Psychiatricum


No :..

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama :
Pangkat/NIP/NRP :
Jabatan :
Tempat dan alamat observasi:
Atas permintaan tertulis dari :

Nama :
Pangkat/NIP/NRP :
Jabatan :
Instansi :
Alamat :
No surat :
Tanggal :
Perihal :

Telah melakukan pemeriksaan dan observasi kesehatan


jiwa (psikiatri) pada tanggal ( ditulis dengan huruf)s/d
tanggal (ditulis dengan huruf)
terhadap.........................................
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Agama :
Alamat :
Pendidikan :
Status perkawinan :
Pekerjaan :
Status terperiksa : tersangka/terdakwa/korban/
narapidana
Tuduhan :
Laporan Hasil Pemeriksaan
1. Anamnesis didapat dari :
a. berita acara pemeriksaan dari kepolisian
b. autoanamnesis (terperiksa)
c. alloanamnesis (berbagai sumber)
2. Hasil pemeriksaan dan observasi psikiatrik

3. Hasil pemeriksaan fisik

4. Pemeriksaan penunjang
5. Kesimpulan :
a. ada/tidaknya gangguan jiwa (diagnosis dan deskripsi)
b. Apakah prilaku pelanggaran hukum merupakan
gejala/bagian dari gangguan jiwa.
c. Ada tidaknya unsur-unsur kemampuan bertanggung
jawab berdasarkan :
i. Apakah terperiksa mampu dan memahami resiko
tindakannya?
ii. Apakah terperiksa mampu memaksudkan suatu
tujuan dengan sadar?
iii. Apa pemeriksa mampu mengarahkan kemauan/
tujuan tindakannya?
6. Saran:

7. Penutup
demikianlah Visum et Repertum Psychiatricum ini dibuat
mengingat sumpah sewaktu menerima jabatan.

Tempat / tanggal (dengan huruf)


Dokter yang memeriksa

NIP/NRP
Terima kasih