Anda di halaman 1dari 18

STANDAR DAN

SISTEM MONITORING
Nilai Ambang Batas
Biological Exposure Indices
Sistem Monitoring Bahan-Bahan Beracun

Wakhyono Budianto, SKM.MSi.


• Tingkat pemaparan zat/bahan kimia berbahaya di lingkungan kerja
harus ditentukan secara kualitatif dan/atau kuantitatif melalui
berbagai teknik, misalnya dengan pengambilan sampel udara dan
menganalisisnya.
• Selain penentuan tingkat bahaya zat/bahan di lingkungan kerja, perlu
juga ditetapkan kondisi-kondisi pemaparan: lama, jalan masuk, jenis
dan tingkat aktifitas fisik pekerja, dsb.
• Setelah ddapatkan gambaran lengkap dan menyeluruh dari
pemaparan, kemudian dibandingkan dengan standar yang berlaku.
• Standar-standar kesehatan kerja dapat berupa ambang batas
pemaparan yang ditetapkan melalui studi intensif yang
menghubungkan pemaparan dan efek-efek kesehatan terhadap
manusia.
• NAB atau Threshold Limit Values (TLV) adalah contoh standar
kesehatan kerja.
NILAI AMBANG BATAS (NAB)
• NAB adalah kadar dimana pekerja sanggup menghadapi/
menerima dengan tidak menunjukkan penyakit atau kelainan
dalam pekerjaan mereka sehari-hari untuk waktu 8 jam sehari
dan 40 jam seminggu.
• Kadar maksimum diperkenankan (KTD)/Maximum Allowable
Concentration (MAC) adalah nilai tertinggi dari kadar yang tidak
menimbulkan gangguan kesehatan.
• KTD lebih menekankan efek akut, sedangkan NAB menunjukkan
kadar yang manusia dapat bereaksi fisiologis terhadap suatu zat.
• NAB merupakan jalan keluar dari kenyataan bahwa di tempat
kerja tidak mungkin diusahakan bebas dari bahan-bahan kimia
sama sekali (no exposure level).
• NAB ditentukan untuk setiap zat kimia yang dipakai di industri
dan berada dalam udara lingkungan kerja.
Kegunaan NAB
 Sebagai kadar standar untuk perbandingan
 Pedoman untuk perencanaan proses produksi dan
perencanaan teknologi pengendalian
 Substansi bahan yang lebih dengan yang kurang
beracun
 Membantu menentukan gangguan kesehatan,
timbulnya penyakit-penyakit dan hambatan-
hambatan efisiensi kerja akibat faktor kimiawi
Kategori NAB

• Threshold Limit Value – Time Weighted Average (TLV-


TWA), yaitu konsentrasi rata-rata untuk 8 jam kerja yang
normal sehari dan 40 jam seminggu, dimana hampir
seluruh pekerja mungkin terpapar berulang-ulang, hari
demi hari, tanpa timbulnya gangguan yang merugikan.
• Threshold Limit Value – Short Term Exposure Limit (TLV-
STEL), yaitu konsentrasi dimana pekerja-pekerja dapat
terpapar terus menerus untuk jangka pendek (15 menit)
tanpa mendapat gangguan berupa (1) iritas, (2) kerusakan
jaringan yang menahun atau tidak dapat kembali, dan (3)
narkosis derajat tertentu dimana dapat meningkatkan
kecelakaan atau mengurangi efisiensi kerja.
• Threshold Limit Value – Ceiling (TLV-C), yaitu konsentrasi
yang tidak boleh dilampaui setiap saat.
Contoh NAB (TLV-TWA):

• Karbon monoksida 50 ppm 55 mg/m3


• Benzene 10 ppm 32 mg/m3
• Karbon dioksida 5000 ppm 9000 mg/m3
• Ammonia 25 ppm 17 mg/m3
• Sulfur dioksida 2 ppm 5 mg/m3
• Nitrogen dioksida 3 ppm 6 mg/m3
• Debu - 10 mg/m3
• Asbestos:
- amosite 0,5 serat/cm3
- chrysotile 2 serat/cm3
- crocidolite 0,2 serat/cm3
INDEKS PEMAPARAN BIOLOGIS

 Indeks Pemaparan Biologis adalah parameter


penting selain NAB untuk menentukan
penyerapan zat-zat kimia ke dalam tubuh
manusia.
 IPB merupakan pelengkap dari evaluasi-evaluasi
bahaya lingkungan kerja.
 Pemaparan biologis merupakan penilaian
keseluruhan pemaparan terhadap zat-zat kimia
yang ada di tempat kerja melalui pengukuran
faktor-faktor penentu (determinans) yang sesuai,
dalam spesimen biologis yang berasal dari
pekerja pada waktu tertentu.
INDEKS PEMAPARAN BIOLOGIS
 Faktor-faktor penentu tersebut dapat berupa zat
kimia itu sendiri atau metabolitnya, ataupun
karakteristik dari perubahan biokimiawi yang
disebabkan oleh zat kimia tersebut.
 Spesimen-spesimen biologis tersebut dapat
berupa air seni, darah, udara pernafasan, atau
spesimen biologis lainnya yang berasal dari
pekerja terpapar.
 Hasil pengukuran kemudian dibandingkan
dengan standar berupa Indeks Pemaparan
Biologis, yang merupakan nilai-nilai acuan yang
digunakan sebagai panduan dalam mengevaluas
bahaya-bahaya kesehatan yang potensial dalam
praktek kesehatan lingkungan kerja.
MONITORING BAHAN-BAHAN BERACUN

• Pemantauan atau monitoring terhadap kualitas udara


lingkungan kerja sangat diperlukan.
• 3 langkah konsep pokok dalam pengendalian lingkungan
kerja:
▫ Recognition (pengenalan masalah)
▫ Evaluation (penilaian, pengukuran)
▫ Controling (upaya pengendalian)
• Pada ketiga langkah tersebut, monitoring dalam bentuk
pengukuran dan analisis sangat diperlukan untuk
mengetahui dan menilai, macam dan besarnya
kontaminasi bahan kimia yang ada di lingkungan kerja
 Data monitoring dapat dipakai untuk:
◦ Mengetahui ada tidaknya kontaminasi bahan
kimia di area kerja
◦ Memberikan peringatan dini adanya bahan
kimia berbahaya
◦ Kuantifikasi kontaminan, kemudian
dibandingkan dengan standar/NAB
◦ Memperkirakan dampak yang mungkin terjadi
terhadap pekerja
◦ Membantu menilai efektifitas upaya
pengendalian
 Dalam teknik monitoring kita harus
memperhatikan 2 macam variabel:
◦ Definite variable
 Sifat-sifat fisik bahan kimia
 Berat jenis
 Keadaan proses (tertutup, terbuka,
penyemprotan, penggilingan, dll)
◦ Undefinite variable
 Kondisi cuaca/iklim, khususnya instalasi udara
terbuka/ventilasi
 Kondisi kerja (perubahan tempat kerja, jarak
pekerja, ketatarumahtanggaan)
 Kondisi proses kebetulan (permulaan, akhir,
pembersihan, pengisian bahan baku, dsb)
Contoh diagram strategi
monitoring

SOURCE EMISSION
MONITORING
WORKING
AREA SPREAD
Inhalation
Ingestion
Skin contact

EFFECT OF
WORKER
HEALTH

- Intoxication
- Occup. desease
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

 Sampai batas tertentu, pejabat yg berwenang dpt


memberikan pedoman berdasarkan PUUan tentang
pengembangan zat yang kurang berbahaya.
 Kadang-kadang dapat dihindari secara menyeluruh
pemakaian zat berbahaya.
 Contoh:
 penggantian fosfor kuning pada korek api dengan fosfor
merah.
 Penukaran bahan anti letup timbaltetraetil dengan timbal
tetrametil yang kurang toksik, atau dengan bahan anti letup
yang bebas timbal.
 Penggantian detergen yang mencemari lingkungan

 Pelarangan zat tertentu tidak dapat secara mutlak.


 Peraturan yang ketat untuk mendorong industri
mengembangkan alternatif.
PENGENDALIAN BAHAN TOKSIK
1. Pengendalian secara legislatif

• Menekankan pada pelaksanaan


PUUan sampai peraturan
pelaksanaan teknisnya.

• Yang terpenting adalah


penetapan nilai-nilai maksium
pemajanan zat toksik,
pengaturan limbah industri
serta sanitasi dan higiene
lingkungan
2. Pengendalian secara Administrasi

Cara ini menekankan pada pengaturan jam kerja,


jam istirahat dan lembur.

Disamping itu juga ditetapkan persyaratan


tenaga kerja seperti jenis kelamin, batas umur
dan tingkat kesehatan.
3. Pengendalian secara teknologi
 Pengendalian ini mengandung  Aspek lingkungan kerja
2 aspek, yaitu aspek teknik mengutamakan pada
produksi dan aspek lingk kerja. pengamanan lingkungan
 Aspek teknik produksi, kerjanya, bukan kepada
bahannya.
berdasarkan penemuan-
penemuan baru, suatu zat  Misalnya dilakukan dengan
toksik harus dihentikan membuat sistem ventilasi yang
pembuatannya atau baik, penurunan konsentrasi
polutan dengan cara
disubstitusi oleh bhn yg lebih
mengabsorbsi zat tsb,
aman.
pencegahan kontak polutan
 Pengendalian juga dapat dengan tubuh menggunakan
dilakukan dengan cara APD, dan dengan memperbaiki
mengisolasi atau sanitasi dan higiene lingkungan
mengendalikannya dari jarak kerja
jauh.
 Dilakukan
dengan melakukan pemeriksaan
kesehatan terhadap yang terlibat dalam
pemakaian pelarut organik.

 Pemeriksaan dilakukan sebelum bekerja, deteksi


awal kelainan atau gangguan kesehatan, disertai
upaya promotif dan rehabilitatif.

 Perlu
juga dilakukan upaya Pendidikan
Kesehatan yang ditujukan untuk mendidikan
masy, khususnya pekerja agar mereka mampu
menolong dirinya sendiri untuk hidup sehat
dengan menekankan pada segi pencegahan.
 Upayapendidikan kesehatan dilakukan
dengan mengadakan penyuluhan tentang
bahaya kesehatan dan gejala-gejala
keracunan zat toksik serta upaya
pencegahannya.

 Peningkatan pengetahuan tentang sanitasi


dan higiene lingkungan kerja, P3K, gizi, cara
kerja yang benar dan sebagainya perlu
ditingkatkan.

 Nilai-nilai
batas pemaparan/pemajanan
perlu dipahami dengan baik