Anda di halaman 1dari 26

ETIKA KRISTEN

(PAK Prodi Kedokteran)

Pdt. Stefanus Christian Haryono, MACF


 Etimologi: ethos (Yunani):
1. kandang
2. ‘kebiasaan’/ ‘kelakuan menurut adat’
3. ‘penilaian normatif’
 ‘Penilaian normatif’ menunjuk pada
mores, moral/ moralitas.
 Etika dan moral digunakan silih berganti.
 Etika diandaikan mampu menyediakan
penyelesaian yang menentukan dan
tegas pada setiap masalah moral.
Etika:
 Sarana orientasi bagi upaya manusia
untuk menjawab pertanyaan
fundamental: ‘bagaimana Saya harus
hidup dan bertindak?’
 Membantu agar kita dapat lebih mampu
mempertangungjawabkan kehidupan.
 Pemikiran sistematis tentang moralitas
yang dihasilkan melalui pemikiran
mendasar dan kritis.
 Mengapa etika diperlukan?
1. Masyarakat yang semakin plural dan global.
Menimbulkan banyak kebngngan mana
yang
diikuti?
2. Hidup di masa transformasi ekonomi,
sosial,
intelektual, budaya dan sosial.
3. Proses perubahan yang membuat situasi
menjadi keruh.
4. Perlunya kemantapan iman.
 Tolok ukur etika
Kristen adalah pribadi
dan karya Yesus
Kristus sendiri.
 Karl Barth: “Allah tidak
hanya mengakui
manusia sebagai
miliknya tapi juga
bertanggung jawab
atasnya.”
 Anugerah Allah
menjadi tolok ukur.
 Relasi kasih antara
Allah dan anakNya
adalah langsung,
bukan hukum-
hukumNya. Bdk. 10 Ecce Homo !
Perintah Allah &
Hukum Kasih.
“Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu,
dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu
manusia seperti dirimu sendiri.”
(Matius 22 : 37 & 39)

 Etika Kristen berarti mengenal kehendak


Allah, mendengarkan perintah Allah dan
menerima anugerah Allah yang
memungkinkan juga ketaatan padaNya.
 Matius 12:9-15a  Sabat vs
menyembuhkan orang sakit.
 Manusia sebagai sentral etika ada pada
dua ranah konsep yaitu kebebasan &
takdir (predestinasi).
 Kehidupan bukan nasib yang harus
diterima begitu saja melainkan
merupakan tantangan yang menuntut
keberanian dan rasa tanggung jawab.
 Efesus 1:4-5 “Allah telah memilih … Dalam
kasih Ia telah menentukan kita … untuk menjadi
anak-anakNya sesuai kerelaan kehendakNya.”
 Kebebasan mengandung kesanggupan
ntuk memenuhi kemampuan-kemampuan
kita yang paling baik dan untuk menuju
ke arah kemanusiaan yang sejati.
“ … kamu telah dipanggil untuk merdeka …”
(Galatia 5:13a)
 Kebebasan Kristen:
a. Bebas dari hasrat kurang luhur (I Kor 6:12;

Gal 5:13b). Kebebasan yang seenaknya


mengakibatkan perbudakan sedangkan
kebebasan yang benar melepaskan dari
hasrat
egois mengarah pada kesejatian hidup
luhur &
manusiawi.
b. Bebas dari hambatan lahiriah. Kebebasan
tidak tergantung pada faktor-faktor
lahiriah.
Kebebasan bathiniah menjadi utama
kendati
keadaan lahiriah kurang menyenangkan.
 Kebebasan sedemikian membuat kesediaan
melayani orang lain (bukan self-centered).
 Kebebasan Kristen adalah kebebasan untuk
mengabdi pada Kristus.
 Kebebasan bukan MILIK melainkan
PANGGILAN sehingga kehidupan ini
dikembangkan.
Polarisasi Eksistensi
Manusia:
a. Polarisasi JASMANI dan ROHANI
* pembandingan yang berat sebelah:
idealisme
(Plato: inti manusia ialah jiwa dan tubuh
sebagai penjara) & naturalisme (Russel:
manusia bagian dari dunia alami belaka).
* polarisasi tunggal antara tubuh dan jiwa.
b. Polarisasi PRIBADI dan SOSIAL
* keunikan setiap pribadi termasuk
tatanan
genetiknya.
* eksistensi manusia adalah eksistensi
dalam
perelesian.
* dikotomi pemikiran Barat vs Timur.
* keseimbangan polarisasi tetap melekat
dalam
hidup manusia.
c. Polarisasi BERKEMBANG dan TERBATAS
* perjalanan sejarah manusia, Auflarung
menjadi tonggak perkembangan.
* pandangan tradisional berubah 
perubahan
mengubah ‘citra manusia’.
* untuk berkembang membutuhkan
kesadaran
akan keterbatasan supaya tetap memiliki
sifat
manusiawi dan keterbatasan tanpa
perkembangan manusia akan stagnan.
Tiga Pola Etika:
1. HETERONOMI
Heteros (yang lain)  Frans Magnis-
Suseno:
“Moralitas heteronomi berarti bahwa orang
mentaati peraturan tetapi tanpa melihat nilai
atau maknanya … Heteronomi ini
merendahkan manusia, membuatnya
menjadi takut, tidak bebas, buta terhadap
nilai-nilai dan tanggungjawab … Kemampuan
tertinggi manusia yaitu kemampuan untuk
bertanggungjawab, untuk memakai akal budi
dan kebebasannya … dilumpuhkan. Inisiatif
dan keberanian moral tidak diberi ruang.
Moralitas menjadi hukum.”
2. OTONOMI
Autos (diri sendiri)  Budaya
modern mencita-citakan pribadi
yang bebas, otonom dan mandiri,
yang tidak tergantung pada orang
lain maupun tradisi dan kebiasaan.
‘Asal tidak merugikan orang lain,
kamu boleh berbuat menurut
kemauanmu sendiri.’
3. THEONOMI
Theos (Tuhan)  adanya relasi yang
menekankan kita pada Allah.
Karl Bart: kedaulatan Allah tidak
dapat diartikan seolah-olah Ia
memerintah dan manusia sebagai
boneka atau budak melainkan menjadi
sahabat yang memilihNya secara
bebas.
Bagi Bart, konsep theonomi tidak
meniadakan melainkan menegakkan
unsur-unsur kebebasan dan tanggung
jawab.
Dietriech Bonhoeffer: “Perintah Allah
adalah pembolehan untuk hidup sebagai
manusia di hadapan Allah … Pembolehan
dan kebebasan justru timbul semata-
mata dari perintah Allah sendiri … dan
menjad mungkin dan hanya mellaui dan
di dalam perintah Alah … membolehkan
aliran kehidupan untuk mengalir dengan
bebas.”
Bagi Bonhoeffer, pembolehan tidak
membiarkan kita hidup dengan
sewenang-wenang (egois) melainkan
memanggil kita untuk hidup penuh
kesadaran bahwa kesejatian manusia
berintikan relasi dengan Allah.
 Etika Kristen tidak berarti
berlawanan dengan kebebasan dan
pemenuhan kemanusiaan.
 Kepatuhan pada Allah membebaskan
kita untuk menemukan sifat-sifat
kemanusiaan yang tulen, dan
memerdekakan kita agar dapat
menjalankan hidup yang penuh dan
kreatif.
 Diskusikan:
Faktor-faktor apa yang diperlukan
dalam pengambilan keputusan etis?
Pengambilan Keputusan
Etis:
 Suara hati menjalankan fungsi: 1.
Pernyataan yang menentukan nilai
(value): a. orang menangkap (melalui
pengalaman) nilai-nilai yang menjadi
sasaran perbuatan kita; menjelaskan
secara rasional; b. mempertimbangkan
nilai-nilai berdasarkan prioritas.
 2. Keputusan untuk bertindak dan
memiliki keberanian mengambil resiko.
 Pertimbangan-pertimbangan mengambil
keputusan:
1. Setiap keputusan harus diambil sesuai suara
hati / bathin.
2. Suara bathin bukan ‘suatu yang kosong’
melainkan perlu terus menerus disesuaikan
dengan yang obyektif  memperhatikan
berbagai informasi, argumen,
pertimbangan.
3. Jika telah mengambil keputusan yang salah
maka wajib mengubah sejauh itu mungkin.
4. Manakala keputusan memang harus diambil
sekalipun belum jelas seratus persen,
seandainya itu keputusan yang salah maka Saya
bertanggungjawab.
 Hati nurani dapat salah maka perlu dikembangkan:
a. Kematangan hati nurani menyentuh ranah
kognisi & afeksi. Suara hati dipengaruhi oleh
pengertian dan kepribadian seseorang. Mendidik
suara hati  terus menerus bersikap terbuka, mau
belajar dan mengerti seluk-beluk masalah yang
dihadapi, memahami pertimbangan-pertimbangan
etis dan memperbarui pandangan-pandangan kita.
b. Suara hati tidak dapat disamakan
dengan suara Allah. Suara hati dapat
keliru, suara Allah tidak dapat keliru.
Diperlukan pengalaman transendensi,
Allah yang mengatasi seluruh ciptaan
termasuk otonomi manusia.
c. Menggali kembali warisan kearifan
lokal yang mengandung nilai-nilai
keluhuran dan melakukan re-
interpretasi bagi kehidupan sekarang.
 Tiga prinsip dasar dalam melakukan
tindakan etis:
1. Prinsip Sikap Baik.
Prinsip ini mendahului dan
mendasari semua prinsip moral
lainnya  hendaknya memang
sudah menjadi sikap dasar manusia.
Bersikap baik tidak hanya sejauh
berguna bagi Saya melainkan
terhadap orang lain juga.
2. Prinsip Keadilan
Memberikan kepada siapa saja apa
yang menjadi haknya karena semua
orang memiliki nilai yang sama
sebagai manusia. Perlakukan yang
sama dalam situasi yang sama
dengan menghormati hak-haknya.
Keadilan menuntut agar kita jangan
mau mencapai tujuan-tujuan
(termasuk yang baik), dengan
melanggar hak seseorang.
3. Prinsip Hormat Terhadap Diri Sendiri
Prinsip ni mengajarkan agar tidak
membiarkan diri disalahgunakan.
Manusia wajib untuk selalu
memperlakukan diri sebagai sesuatu
yang bernilai bagi dirinya sendiri.
Hanya orang yang kepribadiannya
kuat dan mantap yang dapat
mengorbankan diri bagi orang lain,
tanpa kehilangan harga diri.
 Prinsip keadilan & hormat terhadap
diri sendiri merupakan syarat
pelaksanaan sikap baik. Sedangkan
prinsip sikap baik menjadi dasar
mengapa seseorang bersedia untuk
bersikap adil.