Anda di halaman 1dari 15

TANTANGAN PANCASILA

SEBAGAI SISTEM ETIKA


KELOMPOK 1

RADJA BOY – GLORIA


SILITONGA – FELIX LEMUEL –
MICHELLE CANTIKA – FERDY
RATTU
Latar Belakang
• Istilah “etika” berasal dari bahasa Yunani, “Ethos” yang artinya
tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan,
adat, watak, perasaan, sikap, dan cara berpikir. Secara etimologis,
etika berarti ilmu tentang segala sesuatu yang biasa dilakukan atau
ilmu tentang adat kebiasaan. Dalam arti ini, etika berkaitan dengan
kebiasaan hidup yang baik, tata cara hidup yang baik, baik pada diri
seseorang maupun masyarakat. Kebiasaan hidup yang baik ini
dianut dan diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain.
Dalam artian ini, etika sama maknanya dengan moral.Etika adalah
hal yang sangat diperlukan dalam menjalankan kehidupan
berbangsa dan bernegara, karena dengan memiliki etika maka kita
mampu menjalankan kehidupan bernegara dengan lancar.
Pancasila sebagai sistem etika merupakan jalan hidup bangsa
Indonesia dan juga merupakan struktur pemikiran yang disusun
untuk memberikan tuntunan atau panduan kepada setiap warga
negara Indonesia dalam bersikap dan bertingkah laku.
Aliran-Aliran Etika
• Etika Keutamaan (Etika Kebajikan)
Adalah teori yang mempelajari keutamaan
(virtue), artinya mempelajari tentang perbuatan
manusia itu baik atau buruk. Etika kebajikan ini
mengarahkan perhatiannya kepada keberadaan
manusi, lebih menekankan pada “Saya harus
menjadi orang yang bagaimana ?”. Beberapa watak
yang terkandung dalam nilai keutamaan adalah baik
hati, ksatria, belas kasih, terus terang, bersahabat,
murah hati, bernalar, percaya diri, penguasaan diri,
sadar, suka bekerja bersama, berani, santun, jujur,
terampil, adil, setia, bersahaja, disiplin, mandiri,
bijaksana, peduli, dan toleran.
• Etika Teleologis
Adalah teori yang menyatakan bahwa hasil dari tindakan
moral menentukan nilai tindakan atau kebenaran tindakan
dan dilawankan dengan kewajiban. Seseorang yang mungkin
berniat sangat baik atau mengikuti asas – asas moral yang
tertinggi, akan tetapi hasil tindakan moral itu berbahaya atau
jelek, maka tindakan tersebut dinilai secara moral sebagai
tindakan yang tidak etis. Etika teleologis ini menganggap nilai
moral dari suatu tindakan dinilai berdasarkan pada
efektivitas tindakan tersebut dalam mencapai tujuannya.
Etika teleologis ini juga menganggap bahwa di dalamnya
kebenaran dan kesalahan suatu tindakan dinilai berdasarkan
tujuan akhir yang diinginkan. Aliran-aliran etika teleologis,
meliputi eudaemosisme, hedonism, utilitarianisme.
• Etika Deontologis
Adalah teori etis yang bersangkutan dengan
kewajiban moral sebagai hal yang benar dan
bukannya membicarakan tujuan atau akibat.
Etika Pancasila
• Etika Pancasila adalah cabang filsafat yang
dijabarkan dari sila-sila Pancasila untuk mengatur
perilaku kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara di Indonesia. Oleh karena itu, dalam etika
Pancasila terkandung nilai – nilai ketuhanan,
kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.
Kelima nilai tersebut membentuk perilau manusia
Indonesia dalam semua aspek kehidupannya. Sila
ketuhanan mengandung dimensi moral berupa nilai
spiritualitas yang mendekatkan diri manusia kepada
Sang Pencipta, ketaatan kepada nilai agama yang
dianutnya.
Etika Pancasila
• Pentingnya Pancasila sebagai sistem etika terkait dengan problem yang
dihadapi bangsa Indonesia sebagai berikut :
1. Banyaknya kasus korupsi yang melanda Negara Indonesia sehingga
dapat melemahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
2. Masih terjadinya aksi terorisme yang mengatasnamakan agama
sehingga dapat merusak semangat toleransi dalam kehidupan antar
umat beragama, dan meluluhkantahkan semangat persatuan atau
mengancam disintegrasi bangsa.
3. Masih terjadinya pelanggaran HAM dalam kehidupan bernegara.
4. Kesenjangan antara kelompok masyarakat kaya dan miskin masih
menandai kehidupan masyarakat Indonesia.
5. Ketidakadilan hukum yang masih mewarnai proses peradilan di
Indonesia.
6. Banyaknya orang kaya yang tidak bersedia membayar pajak dengan
benar.
DINAMIKA & TANTANGAN PANCASILA
SEBAGAI SISTEM ETIKA
• Sejak terjadinya krisis multidimensi, muncul ancaman
yang serius terhadap persatuan dan kesatuan bangsa
dan terjadinya kemunduran dalam pelaksanaan etika
politik, yang melatarbelakangi munculnya TAP MPR No.
VI Tahun 2001 tentang etika kehidupan berbangsa.
Krisis multi dimensi mengakibatkan terjadinya konflik
sosial yang berkepanjangan , demonstrasi di mana-
mana, munculnya keinginan rakyat untuk integrasi
bangsa, dan lain-lain. Hal ini akibat dari menurunnya
sikap sopan santun dan budi luhur dalam pergaulan
sosial, menurunnya tingkat kejujuran dan amanah
dalam kehidupan berbangsa, pengabaian terhadap
ketentuan hukum dan peraturan yang disebabkan oleh
faktor-faktor dari dalam maupun luar negeri.
DINAMIKA & TANTANGAN PANCASILA
SEBAGAI SISTEM ETIKA
• Faktor-faktor dari dalam negeri antara lain :
1. Melemahnya penghayatan dan pengamalan ajaran agama di kalangan
aparatur, serta munculnya pemahaman ajaran agama yang sempit dan keliru.
2. Sistem sentralisasi pemerintah di masa lalu yang megakibatkan terjadinya
penumpukan kekuasaan di pusat dan pengabaian kepentingan daerah.
3. Tidak berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas kebhinekaan
dan kemakmuran dalam kehidupan berbangsa.
4. Terjadinya ketidak-adilan ekonomi dalam lingkup yang luas dan dalam
kurun waktu yang panjang, sehingga melewati ambang batas kesabaran
masyarakat.
5. Kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagai pemimpin
bangsa.
6. Tidak berjalannya penegakan hukum secara optimal, dan lemahnya
kontrol sosial dalam mengendalikan perilaku yang menyimpang dari etika.
7. Terjadinya pembatasan kemampuan budaya lokal, daerah dan nasional
dalam merespons pengaruh negatif dari budaya luar.
8. Meningkatnya prostitusi, pornografi, perjudian, serta pemakaian,
peredaran dan penyelundupan narkotika.
DINAMIKA & TANTANGAN PANCASILA
SEBAGAI SISTEM ETIKA
• Sementara faktor-faktor dari luar negeri
meliputi :
1. Pengaruh globalisasi kehidupan.
2. Makin kuatnya intensitas intervensi
kekuatan global dalam perumusan kebijakan
nasional.
DINAMIKA & TANTANGAN PANCASILA
SEBAGAI SISTEM ETIKA
• Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengacu
kepada norma-norma agama dan cita-cita kesatuan
dan persatuan bangsa, kemandirian, keunggulan
dan kejayaan bangsa. Perhatian terhadap nilai-nilai
tersebut oleh setiap aparatur sangat erat kaitannya
dengan latar belakang agama, sejarah, budaya dan
perkembangan kondisi sosial dan lingkungan hidup
seseorang. Trend dalam pengembangan etika
pemerintahan tampaknya dipicu oleh permasalahan
yang relatif sama yaitu korupsi. Dalam hal ini di
negara mana pun tidak ada yang menghalalkan
korupsi, termasuk menerima suap.
DINAMIKA & TANTANGAN PANCASILA
SEBAGAI SISTEM ETIKA
• Banyak kasus di berbagai negara maju di Asia,
Eropa dan Amerika, di mana salah seorang Pejabat
Tinggi Negara harus mengundurkan diri dari
jabatan, karena terbukti melakukan korupsi atau
menerima suap. Selain itu, Kode Etik lain yang juga
sama antara lain : larangan membocorkan rahasia
negara, mendahulukan kepentingan pribadi
daripada kepentingan negara dan masyarakat, dan
kewajiban untuk mematuhi dan melaksanakan
ketentuan hukum dan peraturan perundang-
undangan, serta ketentuan lain yang berlaku.
DINAMIKA & TANTANGAN PANCASILA
SEBAGAI SISTEM ETIKA
• Dapat disimpulkan bahwa keberhasilan
pemerintahan banyak dipengaruhi oleh sikap
dan perilaku pemerintah dan elit politik itu
sendiri. Jika pelaksana pemerintahan memiliki
pola tingkah laku yang baik, jujur, amanah dan
dapat dipercaya, maka sudah barang tentu hasil
dari pekerjaannya itu dapat diwujudkan dengan
baik, karena tidak ada kecurangan. Apa yang
dikerjakan sesuai dengan amanah rakyat dan
dapat dipertanggungjawabkan.
KESIMPULAN
• Perlunya Pancasila sebagai sistem etika dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara bertujuan untuk :
a. Memberikan landasan etik moral bagi seluruh
komponen bangsa dan menjalankan kehidupan
kebangsaan dalam berbagai aspek.
b. Menentukan pokok-pokok etika kehidupan
berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
c. Menjadi kerangka acuan dalam mengevaluasi
pelaksaan nilai-nilai etika dan moral dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
KESIMPULAN
• Pancasila sangat diperlukan sebagai sistem etika untuk
memberikan pedoman dan arahan agar setiap tindakan yang
dilakukan oleh masyarakat Indonesia berpedoman pada sikap
moral yang berlandaskan Pancasila. Setiap tindakan yang
dilakukan oleh masyarakat Indonesia sebagai cerminan dari
pelaksaan Pancasila sebagai sistem etika dapat diamalkan
dengan melaksanakan setiap pengamalan di setiap butir
Pancasila. Dalam melaksanakan kehidupan, tentunya kita
akan mengalami banyak tantangan, begitu pula tantangan
Pancasila sebagai sistem etika. Tantangan dibuat untuk
dimenangkan, begitu pula dengan tantangan Pancasila
sebagai sistem etika. Jika kita sudah menerapkan etika di
setiap butir Pancasila, maka tantangan Pancasila sebagai
sistem etika dapat terselesaikan.