Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

Pendidikan keWarganegaraan
pancasila sebagai pandangan pembangunan
teknologi

Nama Kelompok :
1.
2.
3.
4.
5.

RIZKY DYAH MAULIDIA (1532010041)


I KOMANG KUSUMA PUTRA (1532010048)
NUR ROKHIM (1532010056)
VERINA DEBBY ERYANI (1532010057)
SITOK E SPO GA NGERTI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
JAWA TIMUR
2015

Kata Pengantar
Setinggi puji sedalam syukur kehadirat Allah, karena semata atas berkat dan
karunia nya lah akhirnya salah satu tugas mata kuliah tentang Pancasila telah selesai.
Adapun

makalah ini berisi tentang Pancasila Sebagai Pandangan

Pembangunan Teknologi. Layaknya segala sesuatu yang ada di bumi ini, tidaklah ada
yang sempurna. Begitu juga kiranya dengan makalah ini, masih banyak memiliki
kekurangan. Untuk itu, segala unjuk saran dan kritik yang membangun sangat kami
harapkan. Agar dimasa yang akan datang kami bisa mempersembahkan yang lebih
baik dan lebih berguna untuk kita semua. Akan tetapi mudah-mudahan makalah ini
sedikitnya memberikan manfaat untuk kita semua. Amiiin.

Daftar Isi

Kata Pengantar
Daftar Isi

BabI
Pendahuluan
Rumusan Masalah

BabII
Pembahasan
Nilai-nilai Pancasila Sebagai Motivator Perkembangan IPTEK
Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan IPTEK
Nilai Pancasila sebagai Dasar Pengembangan Teknologi
Konsep Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan IPTEK
Bab III
Penutup
Kesimpulan

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Nilainilai Pancasila sesungguhnya telah tertuang secara filosofis-ideologis dan
konstitusional di dalam UUD 1945 baik sebelum amandemen maupun setelah
amandemen. Nilainilai Pancasila ini juga telah teruji dalam dinamika kehidupan
berbangsa pada berbagai periode kepemimpinan Indonesia. Hal ini sebenarnya
telah menjadi kesadaran bersama bahwa Pancasila merupakan tatanan nilai yang
digali dari nilai-nilai dasar budaya bangsa Indonesia, yaitu kelima sila
yang merupakan kesatuan yang bulat dan utuh sehingga pemahaman dan
pengamalannya harus mencakup semua nilai yang terkandung di dalamnya.
Hanya saja perlu diakui bahwa meski telah terjadi amandemen hingga ke-4,
namun dalam implementasi Pancasila masih banyak terjadi distorsi dan
kontroversi yang menyebabkan praktek kepemimpinan dan pengelolaan bangsa
dan Negara cukup memprihatinkan.
Bukti-bukti empiris menunjukkan hampir semua inovasi teknologi merupakan
hasil dari suatu kolaborasi, apakah itu kolaborasi antar-pemerintah, antaruniversitas, antar-perusahaan, antar-ilmuwan, atau kombinasi dari semuanya.
Aktivitas ini pun relatif belum terfasilitasi dengan baik dalam beberapa kebijakan
pemerintah. Rendahnya knowledge sharing dan aliansi strategis antar beberapa
lembaga menjadi penunjang pula bagi rendahnya invensi dan inovasi teknologi di
Indonesia. Ide tentang technopreunership sesungguhnya sudah banyak digulirkan
oleh beberapa lembaga di Indonesia. Namun semua itu belum secara efektif
memberikan sumbangan bagi pengembangan, penumbuhan dan penerapan
teknologi yang efektif di Indonesia.

Sesungguhnya ada permasalahan yang cukup substansial, yaitu rendahnya


komitmen para pakar untuk memajukan teknologi Indonesia secara integral dan
berdaya saing. Pemahaman yang tidak cukup tinggi tentang nilai-nilai ideologis
Pancasila mendorong kecenderungan mudahnya para ahli bidang teknologi untuk
di bajak maupun hijrah ke Negara lain dan melupakan pertumbuhan teknologi di
Indonesia.
Permasalahan diatas lah yang perlu dipecahkan. Bagaimana peningkatan
pemahaman ideologi Pancasila dapat mendorong bagi tumbuhnya inovasi dan
invensi teknologi (IPTEK) di Indonesia. Terjadinya masalah itu bagi negara asal
tentunya membawa implikasi negatif yang tidak sedikit, seperti kondisi di mana
kurangnya tenaga terlatih dan terdidik dari suatu negara, serta terjadinya ketidak
seimbangan pertumbuhan ekonomi yang sulit untuk diprediksi. Selain itu, brain
drain dapat juga membawa pengaruh rendahnya kesejahteraan terhadap
lingkungan di mana para tenaga terdidik tersebut berasal. Pemahaman yang lebih
baik tentang ideologi diharapkan dapat mengubah brain drain menjadi brain
gain atau reversed brain drain (ADB, 2005). Kondisi ini akan memacu
produktivitas perekonomian negara asal, selain juga jaringan keilmuan dan
pemasaran yang kuat dan tersebar hampir di seluruh negara-negara maju yang
pernah mereka huni sebelumnya.
Selain dari segi SDM bidang teknologi, secara nasional terlihat kontribusi
teknologi terhadap pembangunan perekonomian nasional (sebagaimana tercermin
dari nilai Total Factor Productivity) yang rendah dan sering dikaitkan dengan
alokasi anggaran Negara yang kecil dalam mendukung kegiatan riset. Walaupun
faktanya memang alokasi anggaran tersebut masih rendah, tetapi rendahnya
kontribusi teknologi juga disebabkan karena ketidakpaduan (mismatch) antara
teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan dan problema nyata yang
dihadapi publik dan para pengguna teknologi. Hasil riset atau teknologi domestik
yang diadopsi oleh pengguna untuk menghasilkan barang/jasa yang dibutuhkan
masyarakat masih sangat rendah.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut dapat dirumuskan masalah sebagai

berikut :
1. Apa nilai-nilai Pancasila dalam motivator perkembangan IPTEK?
2. Bagaimana nilai Pancasila sebagai dasar perkembangan IPTEK ?
3. Bagaimana dengan konsep-konsep dasar sosiologi ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Nilai-nilai Pancasila Sebagai Motivator Perkembangan IPTEK
Secara konstitusional di dalam Pembukaan UUD Proklamasi 1945. Kedudukan
nilai filsafat Pancasila di dalam Pembukaan UUD tersebut, berfungsi sebagai
dasar negara dan ideologi negara; sekaligus sebagai asas kerohanian negara dan
sebagai perwujudan jiwa bangsa. Dengan demikian, identitas dan integritas
(nasional) Indonesia ialah nilai filsafat Pancasila.
Nilai-nilai Pancasila juga menjadi sumber motivasi bagi perkembangan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) nasional dalam mencerdaskan bangsa yang
mempunyai nilai-nilai Pancasila tinggi serta menegakkan kemerdekaan secara
utuh, kedaulatan dan martabat nasional dalam wujud negara Indonesia yang
merdeka, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia , Pancasila sebagai
terkandung dalam UUD Proklamasi 45 seutuhnya. Karenanya, secara filosofisideologis dan konstitusional, NKRI dapat dinamakan (dengan predikat) sebagai
sistem kenegaraan Pancasila yang sejajar dan analog dengan berbagai sistem
kenegaraan bangsa-bangsa modern dan canggih.
Kedudukan nilai Pancasila (sistem ideologi Pancasila) dengan demikian
berfungsi

juga sebagai asas normatif-filosofis-ideologis-konstitusional bangsa;

menjiwai dan melandasi cita budaya dan moralpolitik nasional, sebagai terjabar
dalam UUD Proklamasi yang memandu kehidupan bangsa Indoensia dalam
integritas NKRI sebagai sistem kenegaraaan Pancasila. Maknanya, integritas nilai
Pancasila secara konstitusional imperatif memberikan asas budaya dan moral
politik nasional Indonesia serta membangun bangsa yang memiliki ilmu
pengetahuan tinggi dan menguasai berbagai teknologi (IPTEK) guna memenuhi
kehidupan masyarakat.

B. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan IPTEK

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) pada hakekatnya merupakan hasil


kreatifitas rohani (jiwa) manusia. Atas dasar kreatifitas akalnya, manusia
mengembangkan IPTEK untuk mengolah kekayaan alam yang diciptakan Tuhan
YME.
Tujuan dari IPTEK ialah untuk mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan
harkat dan martabat manusia, maka IPTEK pada hakekatnya tidak bebas nilai,
namun terikat nilai nilai. Pancasila telah memberikan dasar nilai nilai dalam
pengembangan IPTEK, yaitu didasarkan moral ketuhanan dan kemanusiaan yang
adil dan beradab.
C. Nilai Pancasila sebagai Dasar Pengembangan Teknologi

Pancasila bukan merupakan ideologi yang kaku dan tertutup, namun justru
bersifat reformatif, dinamis, dan antisipatif. Dengan demikian Pancasilan mampu
menyesuaikan dengan perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) yaitu dengan tetap memperhatikan dinamika aspirasi
masyarakat. Kemampuan ini sesungguhnya tidak berarti Pancasila itu dapat
mengubah nilai-nilai dasar yang terkandung, tetapi lebih menekan pada
kemampuan dalam mengartikulasikan suatu nilai menjadi aktivitas nyata dalam
pemecahan masalah yang terjadi (inovasi teknologi canggih). Kekuatan suatu
ideologi itu tergantung pada kualitas dan dimensi yang ada pada ideologi itu
sendiri (Alfian, 1992). Ada beberapa dimensi penting sebuah ideologi, yaitu:
1. Dimensi Reality.
Yaitu nilai-nilai dasar yang terkandung di dalam ideologi tersebut secara
riil berakar dalam hidup masyarakat atau bangsanya, terutama karena
nilai-nilai dasar tersebut bersumber dari budaya dan pengalaman
sejarahnya.

2. Dimensi Idealisme.
Yaitu nilai-nilai dasar ideologi tersebut mengandung idealisme yang
memberi harapan tentang masa depan yang lebih baik melalui pengalaman
dalam praktik kehidupan bersama dengan berbagai dimensinya.
3. Dimensi Fleksibility.

Maksudnya dimensi pengembangan Ideologi tersebut memiliki kekuasaan


yang

memungkinkan

dan

merangsang

perkembangan

pemikiran-

pemikiran baru yang relevan dengan ideologi bersangkutan tanpa


menghilangkan atau mengingkari hakikat atau jati diri yang terkandung
dalam nilai-nilai dasarnya.
Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu hal-hal yang terpenting dalam
perkembangan ilmu dan teknologi. Perkembangan IPTEK saat ini dan di masa yang
akan datang itu sangat cepat.
Pada umumnya para pakar sepakat bahwa ciri utama yang melatarbelakangi
sistem atau model manapun dari suatu perkembangan IPTEK dan masyarakat
modern, adalah derajat rasionalitas yang tinggi dalam arti bahwa kegiatan-kegiatan
dalam masyarakat demikian terselenggara berdasarkan nilai-nilai dan dalam pola-pola
yang objektif dan efektif, ketimbang yang sifatnya primordial, seremonial atau
tradisional. Derajat rasionalitas yang tinggi itu digerakkan oleh perkembanganperkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, nilai-nilai pancasila
itu sangat mendorong dan mendasari akan perkembangan dari ilmu pengetahuan dan
teknologi yang baik dan terarah. Dengan Nilai-nilai Pancasila tersebut, perlu menjadi
kesadaran masyarakat bahwa untuk meningkatakan IPTEK di Indonesia itu, sejak dini
masayarakat harus memiliki dan memegang prinsip dan tekad yang kukuh serta
berlandaskan pada Nilai-nilai Pancasila yang merupakan kepribadian khas Indonesia.
Di sini letak tantangan bagi Indonesia, yaitu mengembangkan kehidupan bangsa
yang berbasis IPTEK tanpa kehilangan jati diri (nilai-nilai Pancasila). Hal ini berarti
ada nilai-nilai dasar yang ingin dipertahankan bahkan ingin diperkuat. Nilai-nilai itu
sudah jelas, yaitu Pancasila. Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, yang bagi bangsa
Indonesia adalah mutlak. Jika diikuti pandangan-pandangan sekular dunia Barat, yang
ilmunya dipelajari dan jadi rujukan para cendekiawan, sepertinya berjalan
berlawanan.

Dalam

masyarakat

modern

yang

berbasisi

IPTEK,

terlihat

kecenderungan lunturnya kehidupan keagamaan. Jadi, ini bukan tantangan yang


sederhana, tetapi penting, karena landasan moral, segenap imperative moral, dan

konsep mengenai kemanusiaan, keadilan, dan keberadaban, adalah keimanan dan


ketakwaan. Dari dalam dan dari luar bangsa Indonesia akan menghadapi tantangantantangan terhadap sistem demokrasi yang dianut dan ingin ditegakkan, yang sesuai
dengan kondisi sosialkultural bangsa yang demikian majemuk dan latar belakang
historis bangsa.
D. Konsep Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan IPTEK
Dalam upaya mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan harkat dan
martabatnya maka manusia mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
(IPTEK). IPTEK pada hakikatnya merupakan suatu hasil kreatifitas rohani
manusia.

Unsur

jiwa

(rohani)

manusia

meliputi

akal,

rasa

dan

kehendak. Akal merupakan potensi rohaniah manusia yang berhubungan dengan


intelektualitas, rasa merupakan

hubungan

dalam

bidang

estetis

dan kehendak berhubungan dengan bidang moral (etika).


Atas dasar kreatifitas akalnya itulah maka manusia mengembangkan IPTEK
untuk mengolah kekayaan alam yang disediakan oleh Tuhan yang Maha Esa.
Oleh karena itu tujuan yang esensial dari IPTEK adalah semata-mata untuk
kesejahteraan umat manusia. Dalam masalah ini pancasila telah memberikan
dasar-dasar nilai bagi pengembangan IPTEK demi kesejahteraan hidup manusia.
Pengembangan IPTEK sebagai hasil budaya manusia harus didasarkan pada
moral ketuhanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab dari sila-sila yang
tercantum dalam pancasila.
Pancasila yang sila-silanya merupakan suatu kesatuan yang sistematis
haruslah menjadi sistem etika dalam pengembangan IPTEK.
1. Sila ketuhanaan yang maha esa.
Sila ini mengklomentasikan ilmu pengetahuan, menciptakan sesuatu
berasarkan pertimbangan antara rasional dan irasional, antara akal, rasa
dan kehendak. Berdasarkan sila ini IPTEK tidak hanya memikirkan apa
yang ditemukan dibuktikan dan diciptakan tetapi juga dipertimbangkan
maksudnya dan akibatnya apakah merugikan manusia disekitarnya atau
tidak. Sila ini menempatkan manusia di alam semesta bukan sebagi

pusatnya melainkan sebagai bagian yang sistematik dari alam yang


diolahnya (T.Jacob, 1986).
Contoh perkembangan IPTEK dari sila ketuhanan yang maha esa
adalah ditemukannya teknologi transfer inti sel atau yang dikenal dengan
teknologi kloning yang dalam perkembangannya pun masih menuai
kotroversi. Persoalannya adalah terkait dengan adanya intervensi
penciptaan yang semestinya dilakukan oleh Tuhan YME. Bagi yang
beragama muslim, pada surat An-naaziaat ayat 11-14 diisyaratkan
adannya suatu perkembangan teknologi dalam kehidupan manusia yang
mengarahkan pada kehidupan kembali dari tulang belulang. apakah (akan
dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang
hancur lumat?, mereka berkata kalau demikian itu adalah suatu
pengembalian yang merugikan. Sesungguhnya pengembalian itu hanya
satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di
permukaan bumi.
2. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab
Memberikan dasar-dasar moralitas

bahwa

manusia

dalam

mengembangkan IPTEK haruslah bersifat beradab. IPTEK adalah sebagai


hasil budaya manusia yang beradab dan bermoral. Oleh karena itu
pengembangan IPTEK harus didasarkan pada hakikat tujuan demi
kesejahteraan manusia. IPTEK bukan untuk kesombongan, kecongkakan
dan keserakahan manusia namun harus diabdikan demi peningkatan harkat
dan martabat manusia.
3. Sila persatuan Indonesia
Mengklomentasikan universal dan internasionalisme (kemanusiaan) dr
sila-sila lain. Pengembangan IPTEK diarahkan demi kesejahteraan umat
manusia termasuk di dalamnya
Pengembangan

IPTEK

kesejahteraan bangsa Indonesia.

hendaknya

dapat

mengembangkan

rasa

nasionalisme, kebesaran bangsa serta keluhuran bangsa sebagai bagian


dari umat manusia di dunia.
Contohnya seperti lima website yang telah mempermudah gerakan
revolusi di abad 21 ini. Ada Wikileaks, Facebook, Twitter, Blog, dan

Video Sharing. Terkait dengan sila persatuan Indonesia GERAKAN 100%


CINTA INDONESIA dan Gerakan 1000000 facebookers Dukung tetap
bayar pajak adalah bentuk dari sekian banyaknya gerakan-gerakan social
network yang menpersatukan pemikiran bangsa Indonesia.
4. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan
Artinya mendasari pengembangan IPTEK secara demokratis. Artinya
setiap orang haruslah memiliki kebebasan untuk mengembangkan IPTEK.
Selain itu dalam pengembangan IPTEK setiap orang juga harus
menghormati dan menghargai kebebasan oranglain dan harus memiliki
sikap terbuka. Artinya terbuka untuk dikritik, dikaji ulang maupun
dibandingkan dengan penemuan teori-teori lainnya.
Contoh dalam kasus ini adalah ketika santer beredar kabar mengenai
akan dibangunnya reaktor nuklir di Indonesia. Beramai-ramai seluruh
aliansi dari berbagi daerah memberikan pernyataan pro atau kontranya
mereka terhadap rencana pembangunan ini. Bahkan melalui jejaring sosial
facebook muncul gerakan TOLAK PEMBANGUNAN REAKTOR
NUKLIR di INDONESIA. Hal seperti inilah yang seharusnya menjadi
bahan permusyawarahan bagi para elit politik beserta rakyatnya sehingga
mencapai suatu kebijakan yang bijaksana demi kemaslahatan bangsa
Indonesia sendiri.
5. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Contoh dari sila kelima ini adalah ditemukannya varietas bibit unggul
padi Cilosari dari teknik radiasi. Penemuan ini adalah hasil buah karya
anak bangsa. Diharapkan dalam perkembangan swasembada pangan ini
nantinya akan mensejahterakan rakyat Indonesia dan memberikan rasa
keadilan setelah ditingkatkannya jumlah produksi sehingga pada
perjalanannya rakyat dari berbagai golongan dapat menikmati beras
berkualitas dengan harga yang terjangkau.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Untuk dapat terjadi perkembangan IPTEK yang baik dan terarah maka yang
dapat mendukung perkembangan IPTEK tersebut melainkan dengan didasari oleh
nilai-nilai Pancasila, ada hal-hal yang perlu kita ketahui sbb:
1. Nilai-nilai Pancasila menjadi sumber motivasi bagi perkembangan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) nasional dalam mencerdaskan bangsa
yang mempunyai nilai-nilai Pancasila tinggi serta menegakkan kemerdekaan
secara utuh, kedaulatan dan martabat nasional dalam wujud negara Indonesia
yang merdeka
2. Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar Perkembangan IPTEK karena Nilai-nilai
pancasila itu sangat mendorong dan mendasari akan perkembangan dari ilmu
pengetahuan dan teknologi yang baik dan terarah. Dengan Nilai-nilai
Pancasila tersebut, perlu menjadi kesadaran masyarakat bahwa untuk
meningkatakan IPTEK di Indonesia itu, sejak dini masyarakat harus memiliki
dan memegang prinsip dan tekad yang kukuh serta berlandaskan pada Nilainilai Pancasila yang merupakan kepribadian khas Indonesia.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA