Anda di halaman 1dari 17

MATERI KE-V

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

A. PENGERTIAN FILSAFAT
Pancasila sebagai falsafah Indonesia akan ditinjau melalui arti, objek,
dan tujuan filsafat umum dan selanjutnya memasuki bidang falsafah hidup
bangsa Indonesia.
Secara etimologi, filsafat adalah istilah atau kata yang berasal dari
bahasa Yunani, yaitu philosophia. Kata itu terdiri dari dua kata yaitu philo,
philos, philein, yang mempunyai arti cinta/ pecinta/ mencintai dan sophia yang
berarti kebijakan, kearifan, hikmah, hakikat kebenaran. Jadi secara harafiah
istilah filsafat adalah cinta pada kebijaksanaan atau kebenaran yang hakiki.
Berfilsafat berarti berpikir sedalam-dalamnya (merenung) terhadap
sesuatu secara metodik, sistematik, menyeluruh dan universal untuk mencari
hakikat sesuatu. Dengan kata lain, filsafat adalah ilmu yang paling umum yang
mengandung usaha mencari kebijaksanaandan cinta akan kebijakan.

Ada tiga faktor yang mendorong manusia untuk berfilsafat yaitu :


1. Keheranan, sebagian filsuf berpendapat bahwa adanya kata heran
merupakan asal dari filsafat. Rasa heran itu akan mendorong untuk
menyelidiki.
2. Kesangsian, merupakan sumber utama bagi pemikiran manusia yang
akan menuntun pada kesadaran. Sikap ini sangat berguna untuk
menemukan titik pangkal yang kemudian tidak disangsikan lagi.
3. Kesadaran akan keterbatasan, manusia mulai berfilsafat jika ia
menyadari bahwa dirinya sangat kecil dan lemah terutama bila
dibandingkan dengan alam sekelilingnya. Kemudian muncul kesadaran
akan keterbatasan bahwa diluar yang terbatas pasti ada sesuatu yang
tidak terbatas.

Pada umumnya terdapat dua pengertian filsafat yaitu filsafat dalam arti
proses dan filsafat dalam arti produk. Selain itu, ada pengertian lain, yaitu
filsafat sebagai ilmu dan filsafat sebagai pandangan hidup. Disamping itu,
dikenal pula filsafat dalam arti teoritis dan filsafat dalam arti praktis.

1
Pancasila dapat digolongkan sebagai filsafat dalam arti produk, filsafat
sebagai pandangan hidup, dan filsafat dalam arti praktis. Hal itu berarti
Pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pegangan
dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari dan
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi bangsa
Indonesia dimanapun mereka berada.
Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia pada hakikatnya
adalah sebagaimana nilai-nilainya yang bersifat fundamental menjadi suatu
sumber dari segala sumber hukum dalam negara Indonesia, menjadi wadah
yang fleksibel bagi faham-faham positif untuk berkembang dan menjadi dasar
ketentuan yang menolak faham-faham yang bertentangan seperti Atheisme dan
segala bentuk kekafiran tak beragama, Kolonialisme, Diktatorisme, Kapitalis,
dan lain-lain.

Filsafat dapat di klasifikasikan sebagai berikut:


1. Filsafat sebagai produk yang mencakup pengertian.
a. Filsafat sebagai jenis pengetahuan, ilmu, konsep, pemikiran-
pemikiran dari para filsuf pada zaman dahulu yang lazimnya
merupakan suatu aliran atau sistem filsafat tertentu, misalnya
rasionalisme, materialisme, pragmatisme dan lain sebagainya.
b. Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia
sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat. Jadi manusia mencari suatu
kebenaran yang timbul dari persoalan yang bersumber pada akal
manusia.
2. Filsafat Sebagai Suatu Proses
a. Bentuk suatu aktivitas berfilsafat, dalam proses pemecahan suatu
permaslahan dengan menggunakan suatu cara dan metode tertentu
yang sesuai dengan objeknya.

Ada beberapa cabang- cabang filsafat:


Yang dimaksud dengan cabang adalah bagian yang termasuk kedalam ilmu
filsafat dan memiliki konsep dasar filsafat tersendiri, yaitu:

2
a. Metafisika, cabang filsafat yang membahas dan melukiskan hal-hal yang
bereksistensi di balik fisis, yang meliputi bidang-nidang ontologi, kosmologi,
dan antropologi scara keseluruhan.
b. Epistimologi, cabang filsafat yang berkaitan dengan permasalahan hakikat
dari ilmu pada ilmu pengetahuan.
c. Meodolohi, adalah filsafat yang membahas persoalan hakikat metode dan
metodologi dalam ilmu pengetahuan.
d. Logika, cabang filsafat yang berkaitan dengan persoalan cara berfikir atau
filsafat berfikir, tentang rumus/dalil dan penalaran tentang hal yang benar
dan tidak benar, yang baik dan yang buruk.
e. Estetika, cabang filsafat yang berkaitan dengan permasalahan pemecahan
konsep-konsep yang mengandung nilai keindahan dalam hal-hal yang
bersifat estetik.
f. Etika, cabang filsafat yang berkaitan dengan moralitas, juga tingkah laku
manusia/tindakan-tindakan manusia.

B. PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT


Sebagai suatu sistem, Pancasila merupakan kesatuan dari bagian-
bagian. Dalam hal ini, tiap-tiap sila dari pancasila antara satu dengan lainnya
saling berkaitan, berhubungan, dan saling melengkapi. Pada hakikatnya
merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh serta tidak terpisahkan
diantara sila-silanya.
Namun, sila pertama, Ketuhanan Yang Mahan Esa memiliki kedudukan
yang tinggi dan luas dibanding keempat sila yang lain. Jadi, dari lima sila yang
ada, satu sila yang posisi nya istimewa, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa,
karena sila ini terletak diluar ciptakan akal manusia (Hazairin 1983:15).
Secara berurutan, Pancasila berada dalam bentuk piramid dengan
tatanan yang hierarchis. Dalam susunan hierarchis dab piramida itu,
Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis dari kemanusiaan
(perikemanusiaan), persatuan Indonesia (kebangsaan), kerakyatan dan
keadilan sosial. Sebaliknya, Ketoehanan Yang Maha Esa adalah Ketoehanan
yang berperi kemanusiaan, berpersatuan (berkebangsaan), berkerakyatan,
dan berkeadilan sosial. Dengan demikian, tiap-tiap sila didalam nya
mengandung sila dari lain-lainnya (Notonagoro 1959:60)

3
Lima kesatuan sila-sila pancasila, yaitu:
1. Pancasila Sebagai Jati diri Bangsa Indonesia
Kedudukan dan fungsi Pancasila harus dipahami sesuai dengan
konteksnya, misalnya Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa
Indonesia, sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia, sebagai
ideologi bangsa dan negara Indonesia.
Seluruh kedudukan dan fungsi Pancasila itu bukanlah berdiri secara
sendiri-sendiri namun bilamana dikelompokan maka akan kembali pada dua
kedudukan dan fungsi Pancasila yaitu sebagai dasar filsafat negara dan
pandangan hidup bangsa Indonesia.
Pancasila pada hakikatnya adalah sistem nilai (value system) yang
merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur kebudayaan bangsa Indonesia
sepanjang sejarah, yang berakar dari unsur-unsur kebudayaan luar yang
sesuai sehingga secara keseluruhannya terpadu menjadi kebudayaan
bangsa Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari proses terjadinya Pancasila yaitu
melalui suatu proses yang disebut kausa materialisme karena nilai-nilai
dalam Pancasila sudah ada dan hidup sejak jaman dulu yang tercermin
dalam kehidupan sehari-hari.
Pandangan yang diyakini kebenarannya itu menimbulkan tekad bagi
bangsa Indonesia untuk mewujudkan dalam sikap dan tingkah laku serta
perbuatannya. Di sisi lain, pandangan itu menjadi motor penggerak bagi
tindakan dan perbuatan dalam mencapai tujuannya. Dari pandangan inilah
maka dapat diketahui cita-cita yang ingin dicapai bangsa, gagasan kejiwaan
apa saja yang akan coba diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.

2. Rumusan Kesatuan Sila-Sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem


Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan suatu
sistem filsafat. Pengertian sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian
yang saling berhubungan, saling bekerjasama untuk satu tujuan tertentu dan
secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh. Lazimnya sistem
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Suatu kesatuan bagian-bagian
b. Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri

4
c. Saling berhubungan dan saling ketergantungan
d. Kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama
(tujuan sistem)
e. Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks.
Pada hakikatnya setiap sila Pancasila merupakan suatu asas
sendiri-sendiri, fungsi sendiri-sendiri namun demikian secara keseluruhan
adalah suatu kesatuan yang sistematis dengan tujuan (bersama) suatu
masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Pancasila yang terdiri atas bagian-bagian yaitu sila-sila pancasila
setiap sila pada hakikatnya merupakan suatu asas sendiri. Fungsi sendiri-
sendiri namun secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang
sistematis.
1) Susunan Kesatuan Sila-sila Pancasila yang bersifat Organis
2) Susunan Pancasila yang bersifat Hierarkhis dan berbentuk Piramidal
3) Rumusan Hubungan Kesatuan Sila-sila Pancasila yang saling mengisi
dan saling Mengkualifikasi.
4) Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai suatu system filsafat.

3. Susunan Kesatuan Sila-sila Pancasila yang Bersifat Organis


Kesatuan Sila-sila Pancasila yang bersifat organis pada hakikatnya
secara filosofis bersumber pada hakikat dasar ontologis manusia sebagai
pendukung dari inti, dari sila-sila Pancasila yaitu hakikat manusia
monopluralis yang memiliki unsur-unsur susunan kodrat, jasmani rohani, sifat
kodrat, individu makhluk sosial, dan kedudukan kodrat sebagai pribadi berdiri
sendiri dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

4. Susunan Pancasila yang Bersifat Hierarkis dan Berbentuk Piramidal


Piramidal digunakan untuk menggambaran hubungan hierarki sila-sila
Pancasila dalam urut-urutan luas (kwantitas) dan juga dalam hal isi sifatnya
(kwalitas). Jika dilihat dari intinya urut-urutan lima sila menunjukkan suatu
rangkaian tingkat dalam luasnya dan isi sifatnya merupakan pengkhususan
dari sila-sila di mukanya.

5
5. Rumusan hubungan Kesatuan Sila-sial Pancasila yang Saling Mengisi dan
Saling Mengkualifikasi
Kesatuan sila-sila Pancasila yang Majemuk Tunggal hierarkis Piramidal
juga memiliki sifat saling mengisi dan saling mengkualifikasi. Hal ini
dimaksudkan bahwa dalam setiap sila terkandung nilai keempat nilai lainnya,
atau dengan kata lain setiap sila dikualifikasi oleh keempat sila lainnya.

C. KEGUNAAN FILSAFAT DAN FILSAFAT PANCASILA


Kegunaan teoritik bahwa dengan mempelajari filsafat orang menjadi
bertambah pengetahuannya. Ia akan lebih mampu mempelajari segala
sesuatu dengan cara yang baik, mendalam, dan lebih luas. Juga lebih mudah
menjawab sesuatu yang diinginkan pihak lain secara lebih mendalam dan
mudah diterima dengan baik.
Kegunaan praktik bahwa ajaran filsafat dapat dipraktikan dalam kehidupan
sehari-hari, seperti halnya logika, estetika, dan etika.
Logika akan mengajarkan kepada kita agar lebih dapat berfikir rasional,
teratur, dan sistematik sehingga mudah mengambil kesimpulan yang benar.
Kesimpulan tidak akan salah bila kita mendasarkan diri kepada aturan-aturan
yang benar dan telah ditentukan dengan pasti.
Estetika mengajarkan kegunaan nilai seni yang sangat berharga, seni
melalui keindahan tampil dan berperan dalam berbagai kegiatan manusia,
termasuk menimbulkan daya tarik karena keindahan (musik, nyanyian,
pakaian, lukisan, berbahasa, dan bunga-bunga di halaman rumah).
Etika, bagian filsafat yang mempelajari tingkah laku dan perbuatan
manusia yang baik atau buruk. Oleh karena itu, mempelajari eika sangat
berguna, termasuk didalamnya mengajarkan moral, kesusilaam, sopan
santun, maupun norma yang baik.
Bagi manusia Indonesia, filsafat pancasila sangat berguna, selain
manusia sebagai perorangan juga sebagai warga suatu masyarakat bangsa
dalam mendukung cita-cita ataupun tujuan nasional karena filsafat Pancasila
adalah landasan dasarnya, juga landasan dasar berfikir segenap bangsa dan
negara Indonesia.

6
Di samping itu, secara khusus bangsa Indonesia berani mempertahankan
eksistensi Pancasila bagi nusa dan bangsa serta akan menjaga kelestarian
kelangsungan hidup bangsa dan negara Republik Indonesia dalam membela
kebenaran dan kepentingan demokrasi bagi kehidupan bersama yang
dilandasi oleh nilai persatuan dan kesatuan.

D. PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP


Pancasila adalah suatu pandangan hidup atau ideologi yang mengatur
hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia
dengan masyarakat atau bangsanya, dan manusia dengan alam
lingkungannya. Alasan-alasan prinsip yang menjadikan Pancasila sebagai
pandangan hidup, yaitu:
1. Mengakui adanya kekuatan gaib diluar diri manusia yang menjadi pencipta
serta pengatur serta penguasa alam semesta
2. Keseimbangan dalam hubungan, keserasia dan untuk menciptakannya
perlu pengendalian diri
3. Dalam mengatur hubungan peranan dan kedudukan bangsa sangat
penting: persatuan dan kesatuan sebagai bangsa merupakan nilai sentral
4. Kekluargaan, gotong royong, kebersamaan serta musyawarah untuk
mufakat dijadikan sendi dalam kehidupan bersama
5. Kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bersama

E. FILSAFAT PANCASILA BAGI BANGSA DAN NEGARA INDONESIA


Keberadaan Pancasila telah terbukti mampu mempersatukan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari perpecahan. Dengan konsep
Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila menjadi nilai rujukan kebersamaan atas
beragam budaya dan etnis dari Sabang sampai Merauke. Dari kenyataan
inilah maka fungsi dan peranan pancasila meliputi:
1. Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia
2. Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia
3. Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia
4. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia
5. Pancasila sebagai perjanjian luhur Indonesia

7
6. Pancasila sebagai pandangan hidup yang mempersatukan bangsa
Indonesia
7. Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia
8. Pancasila sebagai moral pembangunan
9. Pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila

F. KESATUAN SILA-SILA PANCASILA SEBAGAI SUATU SISTEM FILSAFAT


Apabila kita bicara tentang filsafat, ada dua hal yang patut diperhatikan,
yaitu filsafat sebagai metode dan filsafat sebagai suatu pandangan, keduanya
sangat berguna untuk memahami Pancasila. Di sisi lain, kesatuan sila-sila
Pancasila pada hakikatnya bukanlah hanya merupakan kesatuan yang
bersifat formal logis saja namun juga meliputi kesatuan dasar ontologis, dasar
epistemologi dan dasar aksiologis dari sila-sila Pancasila.
Filsafat Pancasila adalah refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila
sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa dengan tujuan untuk
mendapatkan pokok-pokok pengertian secara mendasar dan menyeluruh.
Kelima sila pancasila bukan berdiri sendiri melainkan memiliki satu
kesatuan dasar ontologis, dasar ontologis pancasila pada hakikatnya adalah
manusia yang memiliki hakekat mutlak monopluralis, oleh karma itu hakekat
dasar ini juga disebut antropologis.
Sebagaimana yang dijelaskan pada ayat ayat pancasila:
Bahwa yang berketuhanan yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil
dan beradab, yang berpersatuan, yang kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusawaratan/perwakilan serta yang berkeadilan sosial
pada hakikatnya adalah manusia.
Hal hal yang mutlak sebagai pendukung pokok sila - sila pancasila,
yaitu terdiri atas kodrat, raga dan jiwa jasmani dan rohani. Sifat kodrat manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial serta barkedudukan sebagai
makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk tuhan yang maha esa.
Berdasarkan urain tersebut maka hakekat kesatuan sila-sila pancasila
yang bertingkat dan berbentuk pyramidal dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Sila pertama ketuhanan yang maha esa mendasari dan menjiwai semua
sila-sila pancasila yang lainnya.

8
2. Sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab didasari dan dijiwai oleh
sila-sila lainnya hal ini dijelaskan bahwa manusia adalah sebagai subyek
pendukung pokok negara dan negara adalah dari, oleh dan untuk manusia.
3. Sila ketiga persatuan indonesia didasari dan dijiwai oleh sila-sila pancasila
lainnya yang maknanya hakikat persatuan didasari dan dijiwai oleh sila
ketuhanan dan kemanusiaan.
4. Sila keempat adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan dan perwakilan. Makna pokok sila keempat adalah
kerakyatan yaitu kesesuaiannya dengan hakikat rakyat.
5. Sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia memiliki makna
pokok keadilan yaitu hakikatnya kesesuaian dengan hakikat adil.

Pembahasan filsafat dapat dilakukan secara deduktif (dengan mencari


hakikat Pancasila serta menganalisis dan menyusunnya secara sistematis
menjadi keutuhan pandangan yang komprehensif dan secara induktif (dengan
mengamati gejala-gejala sosial budaya masyarakat, merefleksikannya dan
menarik arti dan makna yang hakiki dari gejala-gejala itu). Dengan demikian,
filsafat Pancasila akan mengungkapkan konsep-konsep kebenaran yang bukan
saja ditujukan pada bangsa Indonesia, melainkan bagi manusia pada
umumnya.
Filsafat Pancasila Mencakup sistematika sebagai berikut:
1. Aspek Ontologis
Ontologi menurut Runes, adalah teori tentang adanya keberadaan atau
eksistensi. Sementara Aristoteles, menyebutnya sebagai ilmu yang
menyelidiki hakikat sesuatu dan disamakan artinya dengan metafisika. Jadi
ontologi adalah bidang filsafat yang menyelidiki makna yang ada (eksistensi
dan keberadaan), sumber ada, jenis ada, dan hakikat ada, termasuk ada
alam, manusia, metafisika dan kesemestaan atau kosmologi.
Dasar ontologi Pancasila adalah manusia yang memiliki hakikat mutlak
monopluralis, oleh karenanya disebut juga sebagai dasar antropologis.
Subyek pendukungnya adalah manusia, yakni: yang berketuhanan, yang
berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang berkerakyatan dan yang
berkeadilan pada hakikatnya adalah manusia.

9
Hal yang sama juga berlaku dalam konteks negara Indonesia,
Pancasila adalah filsafat negara dan pendukung pokok negara adalah
rakyat (manusia).

2. Aspek Epistemologi
Epistemologi adalah bidang/cabang filsafat yang menyelidiki asal,
syarat, susunan, metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Pengetahuan
manusia sebagai hasil pengalaman dan pemikiran, membentuk budaya.
Bagaimana manusia mengetahui bahwa ia tahu atau mengetahui bahwa
sesuatu itu pengetahuan menjadi penyelidikan epistemologi.
Dengan kata lain, adalah bidang/cabang yang menyelidiki makna dan nilai
ilmu pengetahuan, sumbernya, syarat-syarat dan proses terjadinya ilmu,
termasuk semantik, logika, matematika dan teori ilmu.
Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya adalah suatu
sistem pengetahuan. Dalam kehidupan sehari-hari Pancasila menjadi
pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas
alam semesta, manusia, masyarakat, bangsa, dan negara tentang makna
hidup serta sebagai dasar bagi manusia Indonesia untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan.
Pancasila dalam pengertian seperti itu telah menjadi suatu sistem cita-
cita atau keyakinan-keyakinan (belief system) sehingga telah menjelma
menjadi ideologi (mengandung tiga unsur yaitu :
a. logos (rasionalitas atau penalaran),
b. pathos (penghayatan), dan
c. ethos (kesusilaan).

3. Aspek Aksiologi
Aksiologi mempunyai arti nilai, manfaat, pikiran dan atau ilmu/teori.
Menurut Brameld, aksiologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki :
a. tingkah laku moral, yang berwujud etika,
b. ekspresi etika, yang berwujud estetika atau seni dan keindahan,
c. sosio politik yang berwujud ideologi.

10
Kehidupan manusia sebagai mahluk subyek budaya, pencipta dan
penegak nilai, berarti manusia secara sadar mencari memilih dan
melaksanakan (menikmati) nilai. Jadi nilai merupakan fungsi rohani jasmani
manusia. Dengan demikian, aksiologi adalah cabang fisafat yang
menyelidiki makna nilai, sumber nilai, jenis nilai, tingkatan nilai dan hakikat
nilai, termasuk estetika, etika, ketuhanan dan agama.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dikemukakan pula bahwa
yang mengandung nilai itu bukan hanya yang bersifat material saja tetapi
juga sesuatu yang bersifat nonmaterial/rokhaniah. Nilai-nilai material relatif
mudah diukur yaitu dengan menggunakan indra maupun alat pengukur
lainnya, sedangkan nilai rohaniah alat ukurnya adalah hati nurani manusia
yang dibantu indra manusia yaitu cipta, rasa, karsa serta keyakinan
manusia.
Dari ketiga bidang yakni Ontologi, Epistemologi, dan Axiologi inilah
asas-asas fundamental nilai ajaran filsafat Pancasila melandasi dan
memberikan pedoman bagaimana antar hubungan manusia dan
keselamatan

G. PERBANDINGAN FILSAFAT PANCASILA DENGAN FILSAFAT LAINNYA


Filsafat Pancasila merupakan refleksi kritis dan rasional tentang
Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan bahwa budaya bangsa
dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertian secara mandasar
dan menyeluruh. Adapun perbandingan Filsafat Pancasila dengan Filsafat
lainnya yaitu sebagai berikut:
1. Filsafat Komunisme
Filsafat ini tidak mementingkan adanya hal-hal ketuhanan. Semua hal
diatur oleh satu kelompok yang paling berkuasa. Dalam filsafat ini, semua
kebebasan dihapuskan.
Semua hal diatur oleh penguasa tunggal sehingga sumber dari segala
sumber hukum yang berlaku tidak berasal dari suara rakyat, namun dari
penguasa tunggal yang ada dimana filsafat komunis itu berada.

11
2. Filsafat Liberalisme
Dalam hal ini, semua hal tidak memiliki batasan, sehingga memungkinkan
adanya benturan-benturan dalam masyarakat. Tidak ada yang mengatur
tentang penanggulangan benturan-benturan tersebut,. masyarakat hanya
akan menegur bila merasa teranggu oleh orang lain, namun apabila tidak
merasa terganggumaka mereka cenderung untuk bersikap masa bodoh.

3. Filsafat Individualisme
Filsafat ini lebih cenderung lebih kekehidupan masing-masing orang
dimana antara orang yang saru dengan orang yang lain tidak mempunya
ikatan sosial atau dengan kata lain, mereka berdiri masing-masing. Tidak
terdapat kebersamaan, persatuan atau tujuan bersama.

12
SOAL

1) Pengertian sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling


berhubungan, saling bekerjasama untuk satu tujuan tertentu dan secara
keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh. Sebutkan cirri-ciri system
tersebut!
Jawab:
Ciri-ciri dari suatu sistem adalah:
a. Suatu kesatuan bagian-bagian
b. bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri
c. saling berhubungan dan saling ketergantungan
d. kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama
(tujuan sistem)
e. terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks.

2) Sebutkan tiga faktor yang mendorong manusia untuk berfilsafat!


Jawab:
Ada tiga faktor yang mendorong manusia untuk berfilsafat yaitu :
a. Keheranan
b. Kesangsian
c. Kesadaran akan keterbatasan

3) Apakah yang dimaksud dengan aspek aksiologis dan sebutkan cabang-


cabang yang diselidikinya?
Jawab:
Aksiologi mempunyai arti nilai, manfaat, pikiran dan atau ilmu/teori. Menurut
Brameld, aksiologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki:
a. tingkah laku moral, yang berwujud etika
b. ekspresi etika, yang berwujud estetika atau seni dan keindahan
c. sosio politik yang berwujud ideologi.

13
4) Jelaskan hakekat kesatuan sila-sila pancasila yang bertingkat dan berbentuk
pyramidal!
Jawab:
Hakekat kesatuan sila-sila pancasila yang bertingkat dan berbentuk pyramidal
dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. sila pertama, ketuhanan yang maha esa mendasari dan menjiwaii
semua sila-sila pancasila yang lainnya. Hal tersebut berdasarkan pada
hakekat bahwa pedukung pokok Negara adalah masalah.
b. sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradap di dasari dan di jiwai
oleh sila-sila lainnya hal ini di jelas kan bahwa manusia adalah sebagai
subyek pendukung pokok negara dan negara adalah dari, oleh dan
untuk manusia.
c. sila ketiga, persatuan indonesia didasari dan di jiwai oleh sila-sila
pancasila lainnya yang maknanya hakikat persatuan didasari dan
dijiwai oleh sila ketuhanan dan kemanusiaan.
d. sila keempat, adalah kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permuyawaratan dan perwakilan.makna pokok
sila keempat adlah kerakyatan yaitu kesesuaiannya dengan hakikat
rakyat.
e. sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia memilikii
makna pokok keadilan yaitu hakikatnya kesesuaian dengan hakikat
adil.

5) Jelaskan perbandingan Filsafat Pancasila dengan Filsafat lainnya!


Jawab
a. Filsafat Komunisme
Filsafat ini tidak mementingkan adanya hal-hal ketuhanan.
Semua hal diatur oleh satu kelompok yang paling berkuasa. Dalam
filsafat ini, semua kebebasan dihapuskan.
Semua hal diatur oleh penguasa tunggal sehingga sumber dari
segala sumber hukum yang berlaku tidak berasal dari suara rakyat,

14
namun dari penguasa tunggal yang ada dimana filsafat komunis itu
berada.
b. Filsafat Liberalisme
Dalam hal ini, semua hal tidak memiliki batasan, sehingga
memungkinkan adanya benturan-benturan dalam masyarakat. Tidak
ada yang mengatur tentang penanggulangan benturan-benturan
tersebut,. masyarakat hanya akan menegur bila merasa teranggu oleh
orang lain, namun apabila tidak merasa terganggumaka mereka
cenderung untuk bersikap masa bodoh.

c. Filsafat Individualisme
Filsafat ini lebih cenderung lebih kekehidupan masing-masing
orang dimana antara orang yang saru dengan orang yang lain tidak
mempunya ikatan sosial atau dengan kata lain, mereka berdiri masing-
masing. Tidak terdapat kebersamaan, persatuan atau tujuan bersama.

15
Daftar Isi

http://cecepsuhardiman.blogspot.co.id/2013/06/pancasila-sebagai-sistem-filsafat.html
Heri Herdiawanto dan Jumanta Hamdayana, 2010, cerdas, kritis, dan aktif
berwarganegara (pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi) Erlangga:
Jakarta
Prof. Dr. Kaelan, Memaknai Pancasila, secara filosofis, 2014, paradigm Yogyakarta

Drs. Sunoto, 2010, mengenal filsafat pancasila melalui pendekatan metafisika,


logika, dan etika. Yogyakarta, PT.Hanindita graham widya

16
Pertanyaan waktu diskusi:
1. Perbedaan Ideologi dan Filsafat?
2. Apa saja cabang-cabang filsafat? (jwbn ada dalam makalah)
3. Apa yang dimaksud dengan hakekat kesatuan sila-sila pancasila yang bertingkat
dan berbentuk pyramidal? (jwbn ada dalam makalah)
4. Implementasi pancasila sebagai pandangan hidup di lingkungan kampus? (jwbn
ada dalam makalah)
5. Apa kegunaan filsafat secara praktik maupun teoritik? (jwbn ada dalam makalah
yang digarisbawahi)

17