Anda di halaman 1dari 17

Kelompok 3

Arba’ah robby mansyur


Arnetta mayasavira p
Didik irawan
Diska puspita
Nila sovya huda
Nisrina rosyada
Rohmatul aimah
Infeksi virus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegepti – jenis
nyamuk yang juga menularkan demam berdarah dan cikungunya.
Nyamuk tersebut menyebarkan virus Zika dengan cara mengisap
virus dari orang yang terinfeksi, kemudian menularkannya ke
orang yang sehat.
Nyamuk Aedes aegypti mengambil dan membawa virus Zika dari
manusia yang telah terinfeksi virus tersebut. Melalui gigitannya,
nyamuk Aedes aegypti menyebarkan virus Zika kembali kepada
manusia yang belum terinfeksi.
virus Zika juga dapat ditularkan dari ibu ke janin di dalam
kandungannya. Infeksi virus Zika saat kehamilan dikaitkan dengan
risiko keguguran dan mikrosefali, yaitu kelainan yang membuat
otak tidak berkembang secara sempurna dan yang berpotensi
fatal. Untuk penularan virus Zika melalui proses menyusui belum
pernah ditemukan, sehingga dokter tetap menganjurkan ibu yang
terinfeksi untuk tetap menyusui bayinya.

Selain itu, virus Zika juga dapat ditularkan melalui tranfusi darah
dan hubungan seksual. Namun, kasus seperti ini jarang terjadi.
1. Metrasa gatal hampir di semua bagian tubuh
2. Demam
3. Kepala sakit dan pusing
4. Mengalami nyeri sendi dan bengkak pada persendian
5. Nyeri otot
6. Mata menjadi merah
7. Merasa sakit di bagian punggung
8. Nyeri di bagian belakang mata
9. Muncul bintik merah dipermukaan kulit
Tidak ada terapi spesifik untuk penyakit virus Zika; pengobatan ditujukan
sebagai terapi suportif dan simptomatis. Beberapa langkah dalam tatalaksana
kasus adalah sebagai berikut:
• Melakukan pengobatan terhadap gejala klinis kasus dengan obat-obatan
yang sesuai.
• Rumah sakit yang merawat kasus penyakit virus Zika harus memastikan
kembali bahwa rumah sakit telah bebas vektor dengan cara melakukan PSN
3M Plus secara intensif.
• Pada pasien hamil yang positif terinfeksi virus Zika harus digali informasi
usia kehamilan, taksiran persalinan, pasangan seksualnya, dan dilakukan
monitoring perkembangan janin melalui pemeriksaan USG untuk mendeteksi
adanya kelainan. Persalinan harus dilakukan di rumah sakit rujukan
regional/provinsi/nasional, sehingga dapat dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut pada bayi yang dilahirkan, seperti kemungkinan bayi terinfeksi dan
lahir pada masa viremia atau memiliki kelainan bawaan dan atau
gangguan neurologis.
Virus Zika pertama kali ditemukan pada 1947 di hutan Zika,
Uganda, saat sejumlah peneliti dari Yellow Fever Researcher
Institute mengisolasi seekor monyet makaka rhesus yang telah
positif mengidap virus ini.
Kemudian, virus ini melakukan kontak pertama dengan manusia berkat survei
serologi yang dilakukan di Uganda dan Nigeria. Hasil survei tersebut
menunjukkan dari 84 orang di semua umur, 50 orang terbukti memiliki antibodi
terhadap Zika dengan 40 orang berumur di atas 40 tahun.
Aedes aegypti betina adalah agen utama dalam persebaran Zika. Keberadaan
spesies yang telah melintasi hampir seluruh dunia ini mempercepat peredaran
Zika. Ditambah mobilitas manusia yang makin cepat, nyamuk ini dapat
ditemukan di seluruh dunia. Termasuk di negara-negara di utara ekuator yang
sejatinya bukan habitat ideal bagi nyamuk.
Sejalan dengan persebaran ‘sang kurir’, virus Zika berkembang sedemikian
rupa sehingga penularannya tak lagi bersumber dari gigitan nyamuk semata.
Transfusi darah, transplantasi organ, hubungan seks, dan kehamilan merupakan
cara lain virus ini berlipat ganda.
Meskipun demikian, sejumlah penyebab tadi belum semua dipastikan
sepenuhnya bertanggung jawab atas penularan virus Zika.
Pada tahun 1951-1983, virus ini mulai menginfeksi manusia. Laporan
tersebut datang dari beberapa negara Afrika seperti Mesir, Gabon,
Sierra Leone, Tanzania, dan Uganda.
Selain di Afrika, pada periode tersebut, penyebaran virus Zika telah
mencapai daratan dan semenanjung Asia seperti India, Pakistan,
Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Persebaran Zika mulai mengancam masyarakat global semenjak
mewabah di benua Amerika, terutama Brazil pada 2015. Pada kasus
yang ditemukan di Brasil, peneliti menduga virus Zika berevolusi hingga
menyebabkan microcephaly pada bayi yang baru lahir.
Dilaporkan terdapat 56 kasus Zika di Singapura, dan sampai
saat ini total seluruh kasus Zika di dunia sudah mencapai 11,110
sejak Januari 2016. Menteri Kesehatan Indonesia Nila Moeloek
mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada kasus Zika yang
ditemukan di Indonesia (www.detik.com, 31/08/2016), namun
sebagai negara dengan iklim tropis, Indonesia memiliki potensi
yang tinggi terserang virus ZIka.
Pemerintah diminta untuk segera mengintensifkan langkah-
langkah penanganan virus Zika. Salah satunya dengan
menyiapkan anggaran yang mencukupi. "Komisi IX meminta
pemerintah untuk mempersiapkan anggaran yang cukup dalam
perang melawan zika," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Saleh
Partaonan Daulay dalam keterangan tertulis, Minggu
(4/9/2016). "Karena kasusnya baru, anggaran yang dimiliki
kemenkes sejauh ini masih diperuntukkan untuk menangani
penyakit menular lainnya. Belum termasuk, anggaran untuk
menangani dan menanggulangi virus Zika," tambah Saleh. Saleh
mengatakan, sebaran virus zika sudah semakin meningkat dan
merebak ke negara-negara tetangga.
Terakhir, Malaysia telah mengonfirmasi bahwa virus itu telah
ditemukan di negara tersebut. "Data terakhir, di Singapura sudah
ada 185 pasien terinfeksi virus zika. Begitu juga di Malaysia.
Dengan kondisi ini, pemerintah tidak boleh lagi berleha-leha,"
ucap Anggota Fraksi Partai Amanat Nasional ini. Sejauh ini,
persebaran virus zika diketahui lebih banyak melalui nyamuk
aedes agepty. Di tengah musim penghujan seperti sekarang ini,
perkembangbiakan nyamuk dikhawatirkan akan mempermudah
persebaran virus tersebut.
Saleh meminta agar Kemenkes melakukan penelitian khusus terkait virus zika.
Balitbang kemenkes diminta untuk mengundang para pakar dan ahli kesehatan
untuk berpartisipasi. Pasalnya, sampai sejauh ini pengobatan terhadap pasien
yang terjangkit virus zika belum ditemukan. Indonesia sebagai negara besar
tentu harus melakukan inisiasi penelitian dalam konteks perlindungan
masyarakat. "Beberapa waktu lalu, kemenkes berhasil melakukan penelitian
dalam menyediakan vaksin flu burung. Kita mengharapkan, hal yang sama
bisa dilakukan dalam penanganan virus Zika," ucap Saleh. Sementara anggota
Komisi IX DPR Muhammad Iqbal menilai, Kemenkes harus memberikan informasi
dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai virus zika. "Virus Zika itu seperti
apa, apa yang harus dilakukan masyarakat agar terhindar dari virus zika ini
misalnya dengan membersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal dan hal-hal
lainnya yg bisa dilakukan," ucap Iqbal. Selain itu, lanjut Iqbal, kementeian
kesehatan juga harus memberikan informasi kepada masyarakat bahaya dari
virus zika, khususnya bagi ibu hamil. Sebab, virus ini dapat menimbulkan cacat
bagi janin "Tentu saja harapan kita dengan adanya informasi ini masyarakat
lebih mengetahui dan dapat mengantisipasi," ucap politisi Partai Persatuan
Pembangunan ini