Anda di halaman 1dari 19

OTOPSI

• PENDAHULUAN
• DEFINISI
• TATALAKSANA OTOPSI
• CARA OTOPSI
• PEMBEDAHAN MAYAT
• PERAWATAN MAYAT SETELAH OTOPSI
• TEKNIK OTOPSI

A. Pendahuluan
Otopsi berasal dari kata oto dan opsis. Pengertian otopsi ialah suatu pemeriksaan terhadap tubuh mayat untuk kepentingan
tertentu, meliputi pemeriksaan bagian luar dan bagian dalam dengan menggunakan cara-cara yang dapat dipertanggung jawabkan
secara ilmiah oleh ahli yang berkompetensi.

B. Definisi
Dikenal 3 macam otopsi, yakni :

1. Otopsi Anatomik adalah otopsi yang dilakukan untuk kepentingan pendidikan, yaitu dengan mempelajari susunan
tubuh manusia yang normal

2. Otopsi Klinik adalah otopsi yang dilakukan terhadap jenazah dari penderita penyakit yang dirawat dan kemudian
meninggal dunia di rumah sakit.
3. Otopsi Forensik ialah yang dilakukan untuk kepentingan peradilan, yaitu membantu penegakan hukum dalam rangka
menemukan kebenaran materil.
Otopsi

Anatomik : untuk
kepentingan pendidikan

Klinik : dilakukan
terhadap jenazah dari
penderita penyakit
yang dirawat dan
kemudian meninggal
dunia di rumah sakit

Forensik : Kepentingan
Peradilan
Gamabar 14.1 Bagan Jenis Otopsi
(Idries AM. Pedoman ilmu kedokteran forensik. Jakarta, 2008)
Kegunaan otopsi forensik pada hakekatnya adalah membantu penegak hukum untuk
menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya, yakni :

1. Membantu menentukan cara kematian (manner of death = mode of dying), yaitu :


a. Pembunuhan
b. Bunuh Diri
c. Kecelakaan.
2. Membantu mengungkapan proses terjadinya tindak pidana yang menyebabkan kematian, yaitu :
a. Kapan dilakukan
b. Dimana dilakukan
c. Senjata, benda atau zat kimia apa yang digunakan
d. Sebab kematian (cause of death)
3. Membantu mengungkapakan identitas jenazah
4. Membantu mengungkapakan pelaku kejahatan.
C. Tata Laksana Otopsi

Penatalaksanaan otopsi forensik diatur di dalam KUHAP, yang pada prinsipnya otopsi baru boleh dilakukan jika ada
surat permintaan tertulis dari penyidik dan setelah keluarga diberi tahu serta memahaminya, atau setelah 2 hari dalam
hal keluarga tidak menyetujui otopsi atau keluarga tidak ditemukan. Sebagaimana disebutkan di dalam pasal 134
KUHAP bahwa penyidik yang meminta otopsi mempunyai kewajiban untuk memberitahukan keinginannya kepada
keluarga.
Sebelum otopsi dimulai, beberapa hal perlu mendapat perhatian:

1. Apakah surat-surat yang berkaitan dengan otopsi yang akan dilakukan telah lengkap?

2.Apakah mayat yang akan diotopsi benar- benar adalah mayat yang dimaksudkan dalam surat yang bersangkutan?

3. Kumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian selengkap mungkin.

4. Periksalah apakah alat- alat yang diperlukan telah tersedia.

Dalam melakukan otopsi forensik, beberapa hal pokok perlu diketahui:


1. Otopsi harus dilakukan sedini mungkin.
2. Otopsi harus dilakukan lengkap.
3. Otopsi dilakukan sendiri oleh dokter.
4. Pemeriksaan dan pencatatan seteliti mungkin.
 
D. Sebab, Cara, dan Mekanisme Kematian.
 
1. Sebab mati adalah penyakit atau cedera/ luka yang bertanggung jawab atas terjadinya kematian.

2. Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab kematian. Cara kematian wajar
(natural death) bila akibat suatu penyakit semata-mata.

3. Cara kematian tidak wajar (unnatural death) bila akibat kecelakaan, bunuh diri dan pembunuhan.

4. Mekanisme kematian adalah gangguan fisiologik dan atau biokimiawi yang ditimbulkan oleh
penyebab kematian sedemikian rupa sehingga seseorang tidak dapat terus hidup
E. Cara Otopsi
Cara melakukan otopsi klinik dan otopsi forensik kurang lebih sama, yaitu:
1. Pemeriksaan luar.
2. Pemeriksaan dalam, Terdiri atas:
a. Incision (pengirisan)
b. Pengeluaran organ dalam
c. Pemeriksaan tiap-tiap organ satu per satu
d. Pengembalian organ tubuh ke tempat semula
e. Menutu dan menjahit kembali
3. Pemeriksaan penunjang.
4. Teknik otopsi, terbagi atas Teknik Virchow, Rokitansky, Letulle, dan Ghon.
5. Peralatan untuk otopsi.
a. Kamar otopsi
b. Meja otopsi
c. Peralatan otopsi
d. Pemeriksaan untuk pemeriksaan tambahan
e. Peralatan tulis menulis dan fotografi
6. Pemeriksaan luar. Sistematika pemeriksaan adalah:
a. Label mayat
b. Tutup mayat
c. Bungkus mayat
d. Pakaian mayat
e. Perhiasan mayat
f. Benda di Samping mayat
7. Tanda kematian.
a. Lebam mayat
b. Kaku mayat
c. Suhu tubuh mayat
d. Pembusukan
e. Lain-lain
8. Identifikasi umum.
9. Identifikasi Khusus.
a. Rajah/tato
b. Jaringan perut
c. kapalan (Callus)
d. Kelainan pada kulit
e. Anomali dan cacat pada tubuh
10. Pemeriksaan rambut.
11. Pemeriksaan mata.
12. Pemeriksaan daun telinga dan hidung.
13. Pemeriksaan terhadap mulut dan rongga mulut.
14. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan.
15. Lain-lain.
16. Pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan/luka.
a. Letak luka e. Tepi luka i. Ukuran luka
b. Jenis luka f. Sudut luka j. Saluran luka
c. Arah luka g. Dasar luka k. Lain-lain
d. Arah luka h. Sekitar luka
17. Pemersiksaan terhatap patah tulang.
F. Pembedahan Mayat.
 
1. Mayat yang akan dibedah diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan
(diganjal) dengan sepotong balik kecil. Dengan demikian, kepala akan berada dalam
fleksi maksimal dan daerah leher tampak jelas.

2. Insisi kulit dilakukan mengikuti garis pertengahan badan mulai di bawah dagu,
diteruskan kearah umbilicus dan melingkari umbilicus disisi kiri dan seterusnya kembali
mengikutan garis pertengahan badan sampai di daerah simpisis pubis.

3. Pada daerah leher, insisi hanya mencapai kedalaman setebal kulit saja. Pada daerah
dada, insisi kulit sampai kedalamn mencapai permukaan depan tulang dada (Sternum)
sedangkan mulai di daerah epigastrium, sampai menembus ke dalam rongga perut.

4. Insisi bebentuk hurus I di atas merupakan insisi yang paling ideal untuk suatu
pemeriksaan bedah mayat forensic. Pada keadaan tertentu, bila tidak mengganggu
kepentingan pemeriksaan, atas indikasi
G. Perawatan Mayat Setelah Otopsi

1.Setelah otopsi selesai, semua organ tubuh dimasukkan kedalam rongga tubuh.
2.Lidah dikembalikan ke dalam rongga mulut sedangkan jaringan otak dikembalikan ke
dalam rongga tengkorak
3.Jahitkan kembali tulang dada dan iga yang dilepaskan pada saat membuka rongga dada.
4.Jahitlah kembali dengan rapi menggunakan benang yang kuat, mulai dari bawah dagu
sampai ke daerah simfisis.
5.Atap tengkorak diletakkan kembali pada tempatnya dan difiksasi dengan menjahit otot
temporalis, baru kemudian kulit kepala dijahit dengan rapi.
6.Bersihkan tubuh mayat dari darah sebelum mayat diserahkan kembali pada pihak
keluarga.
H. Teknik Otopsi

1. Otopsi pada Dugaan Kematian Akibat Emboli Udara


Terbukanya pembuluh darah akibat trauma, kadangkala dapat menyebabkan timbulnya
semboli udara. Dikenal 2 jenis emboli udara berdasarkan letak dari emboli tersebut, emboli udara
vena (=emboli udara paru) dan emboli udara arterial (=emboli udara sistemik)
Untuk membuktikan terdapatnya emboli udara, perlu dilakukan teknik otopsi yang khusus,
menyimpang dari teknik otopsi rutin. Pada dasarnya, pembuktian dilakukan dengan
memperlihatkan adanya udara dalam sistem vena atau arteri dengan membuka arteri atau vena
tersebut di bawah permukaan air.

2. Otopsi pada Kematian dengan Pneumotoraks


Pada kekerasan yang mengenai daerah dada, dapat terjadi patah tulang iga yang
mengakibatkan tertusuknya paru dan selanjutnya menimbulkan pneumotoraks. Dalam hal
demikian, pembuktian dapat dilakukan dengan mudah, yaitu dengan cara membuka rongga dada
di bawah permukaan air untuk melihat keluarnya gelembung udara.

3.Otopsi pada Dugaan Kematian Akibat Emboli Lemak


Kematian akibat emboli lemak dapat terjadi pada kasus trauma tumpul terhadap jaringan
lemak atau patah tulang panjang pada orang dewasa. Diagnosa emboli lemak dapat ditegakkan
bila dalam pembuluh darah dapat ditemukan butir lemak ini (fat globule). Untuk melihat ini,
dilakukan pemeriksaan histopatologik dengan pewarnaan khusus untuk lemak, misalnya SUDAN
III.
4. Otopsi pada Kasus Dengan Kelainan pada leher
Untuk dapat melihat kelainan pada leher dengan lebih baik, perlu
diusahakan agar daerah leher bersih dari kemungkinan terdapatnya
“genangan” darah. Untuk itu dilakukan usaha agar darah yang terdapat
dalam pebuluh darah leher dapat dialirkan ke tempat lain.

5.Otopsi pada Mayat Bayi Biru Baru Lahir


Pada kematian mayat bayi yang baru dilahirkan, perlu pertama-tama
ditentukan apakah bayi lahir hiidup atau mati. Seorang bayi dinyatakan lahir
hidup apabila ada pemeriksaan mayatnya dapat dibuktikan bahwa bayi telah
bernafas. Bayi yang telah bernafas akan memberikan ciri di bawah ini :

a.rongga dada yang telah mengembang.


b.paru telah mengembang.
c.uji apung paru memberikan hasil positif.
d.Pemeriksaan mikroskopik memberikan gambaran paru yang telah
bernafas.
Untuk menentukan usia dalam kandungan (gestational age) mayat
bayi, dapat dilakukan pemeriksaan terhadap pusat penulangan.
6. Otopsi pada Kasus Pembunuhan Anak

Pembunuhan anak merupakan tindak pidana yang khusus, yaitu Pembunuhan


yang dilakukan oleh seorang ibu terhadap anak kandungnya, pada saat dilahirkan atau
beberapa saat setelah itu, karena takut diketahui orang bahwa ia telah melahirkannya.
Pemeriksaan korban pembunuhan anak, pertama-tama harus dibuktikan bahwa korban
lahir hidup. Untuk ini pemeriksaan ditujukan terhadap telah bernafasnya paru korban.
Pemeriksaan berikutnya dititikberatkan pada penyebab kematian, yang terjadi sebagai
akibat tindak kekerasan. Pada kasus pembunuhan anak yang ditemukan di jakarta,
pembunuhan biasanya dilakukan dengan cara pembekapan, penyumbatan, pencekikan,
atau pengikatan leher.

Untuk memenuhi syarat waktu dilakukannya pembunuhan, yaitu pada saat


dilahirkannya atau tidak berapa lama setelah itu, pemeriksaam ditujukan terhadap
sudah atau belum ditemukannya tanda perawatan pada bayi.
Pada tindak pidana pembunuhan bayi, faktor psikologi ibu baru melahirkan
diperhitungkan sebagai faktor yang meringankan. Pemeriksaan terhadap maturitas,
viabilitas bayi diperlukan bila pada pemeriksaan didapati keraguan akan hal lahir
hidup atau lahir mati. Pada bayi-bayi yang lahir immature atau non viable,
kemungkinan lahir hidup tentunya lebih kecil dibandingkan dengan bayi matur dan
viable.
7.Otopsi pada Kasus Kematian Akibat Kekerasan

Pemeriksaan terhadap luka :

1.Penyebab luka;
2.Arah kekerasan;
3.Cara terjadinya luka;
4.Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati.
a.kecelakaan lalu lintas:
1.luka akibat kekerasan pertama oleh kendaraan (first impact);
2.luka akibat terjatuh;
3.luka akibat tertindas (rollover)
b.kecelakaan terbakar
Pada tubuh yang terbakar intravital, akan ditemukan luka bakar yang menunjukkan
reaksi vital jaringan terhadap panas berupa eritema, vesikel atau bula. Tanda
intravitalis lain adalah ditemukannya gejala dalam saluran pernafasan dan
pencernaan serta peningkatan kadar COHb dalam darah.

c. kecelakaan akibat benda bermuatan listrik


Adanya luka masuk lisrik hanya apabila persentuhan tersebut menghasilkan cukup
panas. Luka tampak sebagai bagian tengah berwarna coklat kehitaman, kering dan
menekung dikelilingi oleh tepi yang meninggi. Sekitar luka terdapat daerah pucat
berbentuk halo yang dikelilingi oleh kulit yang himperemis.
d. kecelakaan akibat tembakan senjata api
Pada umumnya, luka tembak masuk hanya terdiri dari satu luka saja. Pada pemerikasaan penting
ditentukan arah masuknya anak peluru yang dapat diketahui dari bentuk kelim lecet yang terjadi.
Dari morfologi luka tembak masuk, dapat dibedakan luka tembak masuk yang diakibatkan oleh
tembakan senjata api yang dilepaskan dari berbagai jarak.

1.Luka tembak masuk jarak jauh,


2.Luka tembakn masuk jarak dekat,
3.Luka tembak masuk jarak sangat dekat,
4.Luka tembak tempel.

Kematian akibat pembunuhan menggunakan kekerasan :

1.Dapat dilakukan dengan benda tumpul, benda tajam, maupun senjata api.
2.Pembunuhan dengan kekerasan tumpul, luka dapat terdiri dari luka memar, luka lecet maupun
luka robek. Perhatikan adanya luka tangkis yang terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah.
3.Pembunuhan dengan kekerasan tajam, perhatikan bentuk luka, tepi luka, sudut luka, keadaan
sekitar luka serta lokasi luka. Cari kemungkinan terdapatnya luka tangkis di daerah ekstensor
lengan bawah serta telapak tangan.
4.Luka biasanya terdapat beberapa buah, distribusi tidak teratur.
5.Pembunuhan dengan senjata api, penembakan dapat dilakukan dari berbagai jarak dan luka
yang ditemukan dapat merupakan luka tembak masuk jarak dekat, sangat dekat atau jarak jauh
dan jarang luka tembak nempel.
e.bunuh diri dengan kekerasan

1.Pada seseorang yang bunuh diri dengan jalan menjatuhkan diri dari
ketinggian/menabrakkan diri pada kendaraan akan ditemukan luka akibat kekerasan tumpul.

2.Pada seseorang yang bunuh diri dengan benda tajam, luka mengelompokkan pada tempat
tertentu antara lain pergelangan tangan, leher atau daerah prekodial. Luka beberapa buah
yang berjalan kurang lebih sejajar dan dangkal (luka percobaan) dengan sebuah luka yang
mematikan.

3.Pada seseorang yang bunuh diri dengan senjata api, luka berupa luka tembak tempel yang
menempati lokasi pelipis, rongga mulut atau dada sebelah kiri.

4.Pada otopsi kasus dengan luka menebus ke dalam tubuh, misalnya tembakan senjata api
atau tususkan senjata tajam, perlu ditentukan arah serta jalannya saluran luka dalam tubuh
mayat
8.Otopsi Kasus Kematian Akibat Asfiksia Mekanik

Pada kematian mayat, akan ditemukan tanda asfiksi berupa lebam mayat yang gelap dan
luas, bendungan bola mata, busa halus pada lubang hidung, mulut dan saluran nafas, bendungan
pada alat dalam, serta Trdieu spot.
Peristiwa yang menjadi penyebab dan tanda-tandanya :

a.Mati akibat pembekapan.


b. Mati akibat penyumbatan.
c.Mati akibat pencekikan.
d.Mati akibat penjeratn.
e.Mati tergantung.
f.Mati akibat dada tertekan.

9.Otopsi pada Kematian Akibat Tenggelam

Pada kasus ini mati tenggelam, harus dibuktikan masuknya air ke dalam paru bagian distal.
Caranya dengan memeriksa kadar elektrolik darah dari jantung kiri dibandingkan jantung kanan,
karena tenggelam akan menimbulkan terjadinya osmotik cairan tempat tenggelam. Dapat juga
dilakukan pemeriksaan diatome melalui pemeriksaan getah paru.
Pada mayat dapat ditemukan kedua paru mengembang berisi air, juga lambung dan benda asing
yang tertelan. Selain itu, terdapat gambaran cutis anserina akibat kontraksi mm.errector pilli.
Bila mayat terendam cukup lama, bisa ditemukan kulit telapak tangan dan kaki yang keriput
(washer woman hand). Bila ada cadaveric spams bisa ditemukan benda atau tumbuhan air yang
tergenggam.
10. Otopsi pada Kasus Kematian Akibat Racun
Pada dugaan mati akibat racun, pertama kali harus dicium bau yang keluar dari tubuh mayat
karena hidung pemeriksa dapat beradaptasi jika berlama-lama bersama mayat. Setelah itu, perlu
dilakukan pemeriksaan laboraturium toksikologi untuk pemastian racun penyebab.
a.Kematian akibat keracunan insektida;
b.Kematian akibat gas CO;
c.Kematian akibat sianida;
d.Kematian akibat keracunan barbiturat;
e.Kematian akibat narkotika;
f.Kematian akibat keracunan arsenikum.

11.Otopsi pada Kasus Kematian Mendadak


Mati mendadak adalah kematian yang terjadi dalam waktu relatif singkat pada orang yang
sebelumnya tampak sehat, dan kematian yang tidak/belum jelas sebabnya. Untuk penyebabnya harus
selalu diingat kemungkinan terjadinya keracunan yang memerlukan pemeriksaan toksikologi.
Penyebabnya mati mendadak biasanya menyangkut sistem kardiovaskular (SKV), pernafasan
dan susunan saraf pusat (SSP). Diagnosa pasti sering kali memerlukan pemeriksaan Histo PA berbagai
organ tubuh.

12.Otopsi pada Kematian Akibat Tindak Pidana Abortus


Biasa terjadi pada wanita yang mengalami abortus tersebut. Terjadi pendarahan karena ruptur
uteri akibat kekerasan yang ditimbulkan oleh pengurutan dengan tangan atau alat yang membuat
perforasi uterus. Selain pendarahan, kematian juga dapat akibat emboli udara saat pembuluh darah atau
sinus marginalis terbuka. Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan menemukan udara dalam bilik
jantung kanan atau vena cava inferior.
REFERENSI

Apuranto H. Buku Ajar Ilmu kedokteran Forensik dan medikolegal. Bagian ilmu
kedokteran forensik dan medikolegal fakultas kedokteran universitas
airlangga surabaya. Edisi ketiga. 2007.
Dahlan S. Ilmu kedokteran forensik pedoman bagi dokter dan penegak hukum.
Badan penerbit universitas diponegoro semarang. 2008.
Idries, A M. Pedoman ilmu kedokteran forensik edisi pertama. Sagung seto. 1997.