Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

HUBUNGAN KONSUMSI TEH DAN KOPI DENGAN


PENINGKATAN TEKANAN INTRAOKULER

Disusun oleh:
Fabella Khairina Pertiwi
Aurina Imah Haryoko
Enrika Tunjung Puspita
Juniar Faiz Musafich
Prima Ufiyantama AS

Pembimbing:
dr. Iman Krisnugroho Sp. M

KEPANITERAAN KLINIK MATA


RSUD KOTA SALATIGA
PERIODE 30 SEPTEMBER 2019– 02 SEPTEMBER 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

LEMBAR PERSETUJUAN

Referat dengan judul:

“HUBUNGAN KONSUMSI TEH DAN KOPI DENGAN PENINGKATAN TEKANAN INTRAOKULER”

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing sebagai syarat

untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik Mata di Rumah Sakit Umum Daerah


Kota Salatiga

Pada Hari , Tanggal Oktober 2019

Salatiga, Oktober 2019

Pembimbing,

(dr. Iman Krisnugroho Sp.M)

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul “Hubungan
konsumsi teh dan kopi dengan peningkatan tekanan intraokuler” tepat pada waktunya.
Penyusunan referat ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan dalam
menempuh kepaniteraan klinik di bagian Mata di RSUD Kota Salatiga. Penulis
mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada:
1. dr. Iman Krisnugroho Sp.M selaku pembimbing dalam penyusunan referat.
2. Seluruh staff mata RSUD Kota Salatiga
3. Rekan kepaniteraan staff mata RSUD Kota Salatiga.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, hal tersebut tidak lepas
dari segala keterbatasan kemampuan yang peneliti miliki. Oleh karena itu bimbingan dan
kritik yang membangun dari semua pihak sangatlah diharapkan.

Salatiga, Oktober 2019

Penulis

3
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN..................................................................................................ii
KATA PENGANTAR...........................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................5
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................................6
2.1 Tekanan Intraokuler.....................................................................................................6
A. Definisi......................................................................................................................6
B. Faktor Resiko.............................................................................................................6
C. Metode Pengukuran Tekanan Intraokuler..................................................................8
2.2 Kafein.........................................................................................................................11
A. Definisi....................................................................................................................11
B. Efek Konsumsi Kafein.............................................................................................11
C. Hubungan Kafein dengan Tekanan Intraokuler.......................................................11
D. Patofisiologi Peningkatan Tekanan Intraokuler.......................................................13
BAB III PENUTUP.............................................................................................................14
A. Kesimpulan...............................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................15

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tekanan intraokular (TIO) adalah suatu tekanan pada bola mata yang diakibatkan
dari adanya kecepatan produksi aqueous humor, tahanan terhadap aliran keluarnya dari
mata dan tekanan vena episklera. Tekanan intraokular merupakan salah satu indikator
untuk menilai penyakit glaukoma. Tekanan intraokular yang lebih dari 20 mmHg pada
salah satu atau kedua mata tanpa disertai kerusakan saraf optik dan hilangnya lapangan
pandang disebut sebagai hipertensi okular. Keadaan ini merupakan faktor resiko
terjadinya penyakit glaukoma (Vaughan & Asbury, 2004). Studi prospektif selama 20
tahun terakhir menunjukkan sekitar 0.5 – 1 % pasien dengan peningkatan TIO akan
berkembang menjadi glaukoma dalam kurun waktu 5-10 tahun. Hipertensi okular
memiliki prevalensi 10-15 kali lebih besar untuk insidensi glaukoma (Allingham, et al.,
2005).
Kafein merupakan salah satu faktor risiko meningkatnya tekanan darah. Kafein
merupakan senyawa alkaloid derivat xantin yang mengandung gugus metil (Chandra,
et al., 2011). Konsumsi kafein rata-rata di dunia adalah 70 miligram per hari bagi orang
yang dikategorikan bukan pecandu. Di Amerika Serikat, kafein rata-rata dikonsumsi
sebanyak 211 miligram per hari dan paling banyak dikonsumsi adalah minuman kopi,
sedang di Inggris dan Asia kafein paling banyak dikonsumsi adalah teh dan Inggris
adalah konsumsi kafein tertinggi yaitu 444 mg per hari (Donovan & Devane, 2001).
Secangkir kopi (236 mililiter) mengandung 135 – 150 miligram kafein.
Mekanisme kerja kafein terhadap sistem saraf pusat dapat meningkatkan kesadaran dan
mengurangi kelelahan. Sedangkan terhadap sistem kardiovaskuler, kafein dapat
bersifat inotropik dan kronotropik positif dan dapat menurunkan tekanan darah karena
sifatnya yang merelaksasi otot polos perifer (Katzung, 2007).

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tekanan Intraokuler


A. Definisi
Tekanan intraokular adalah suatu tekanan pada bola mata yang diakibatkan
dari adanya kecepatan produksi aqueous humor, tahanan terhadap aliran keluarnya
dari mata dan tekanan vena episklera.
Tekanan intraokular (TIO) merupakan parameter penting dalam diagnosis dan
tindak lanjut pada glaukoma. Sementara tonometri aplanasi Goldmann adalah
metode yang digunakan untuk pemeriksaan TIO, beberapa faktor, termasuk kornea
yang dapat mempengaruhi akurasi pemeriksaan (Pierre, et al., 1999).
B. Faktor Resiko

1) Usia
Efek meningkatnya usia terhadap tekanan intraokular sebagian dapat akibat
dari peningkatan tekanan darah, peningkatan nadi, dan obesitas. Dengan
peningkatan usia pengeluaran aliran aqueous humor menurun. Lebih dari 10%
tekanan intraokular meningkat pada usia 60 tahun (Hollows & Graham, 1966).

2) Jenis Kelamin

Belum ada penelitian yang membuktikannya sehingga tidak menunjukkan


perbedaan berarti. Namun, dilaporkan wanita memiliki TIO yang lebih tinggi
dibandingkan pria, terutama pada usia diatas 40 tahun dikarenakan faktor
hormonal seperti menopause.

3) Variasi Diurnal

Pada malam hari, karena perubahan posisi dan berdiri menjadi\ berbaring,
terjadi peningkatan episklera sehingga tekanan intraokular meningkat. Kondisi
ini kembali normal pada siang hari sehingga tekanan intraokular kembali
turun (Doshi, et al., 2010). Variasi normal antara 2 – 6 mmHg dan mencapai
tekanan tertinggi saat pagi hari, sekitar pukul 5-6 pagi (Simmons, 2007).
4) Genetik
Tekanan Intraokular memiliki kecenderungan lebih tinggi pada keluarga
yang menderita glaukoma Glaukoma mengakibatkan ketidakseimbangan antara
proses produksi dan ekskresi atau aliran keluar aqueous humor disertai

6
peningkatan TIO.

5) Ras
Pada orang kulit hitam, seperti Afrika mempunyai tekanan intraokular yang
lebih tinggi dibandingkan orang kulit putih. Namun hal ini belum dapat
dipastikan apakah ini faktor genetik atau lingkungan.
6) Aliran Darah ke Badan Siliar
Penurunan aliran plasma yang sedikit menuju prosesus siliaris tidak
menurunkan produksi aqueous humor secara bermakna. Tetapi vasokonstriksi
yang kuat mengurangi laju aliran aqueous humor.
7) Gangguan Refraksi
Adanya hubungan antara miopia tinggi dengan peninggian tekanan
intraokular, dimana dengan bertambahnya panjang sumbu bola mata dapat
menyebabkan meningkatnya TIO. Beberapa teori telag didiskusikan bagaimana
tekanan intraokuli dapat menjadi salah satu faktor awal glaucomatous damage.
Teori terjadinya glaukoma belum diketahui dengan pasti, tetapi ada dua teori
diantaranya: teori mekanis adanya penekanan axon nervus optikus dan teori
iskemik dengan adanya disfungsi pembuluh darah (Anon., 2005-2006).

7
C. Metode Pengukuran Tekanan Intraokuler

Tonometer adalah alat yang mengeksploitasi sifat fisik mata untuk


mendapatkan tekanan intraokular tanpa perlu mengkanulasi mata (Tasman, 2004).
Sifat fisik kornea normal memberi batasan keakuratan tonometer untuk mengukur
tekanan intraokular, dan sejumlah usaha telah dilakukan untuk mendesign
tonometer yang dapat diaplikasikan juga pada konjungtiva atau pada kelopak mata
(Tasman, 2004).
Metode – metode tonometri:
1) Tonometer Schiotz
Tonometer Schiotz merupakan tonometer indentasi untuk mengukur
besarnya indentasi kornea yang dihasilkan oleh beban atau gaya yang telah
ditentukan. Keuntungan menggunakan alat ini adalah kesederhanaannya,
alat yang praktis bagi bukan spesialis mata, untuk mengukur tekanan bola
mata pada pasien yang disangkakan glaukoma dalam keadaan darurat
(Anon., 1998). Plunger (tabung penampung) yang diletakkan pada kornea
akan menekan bola mata ke dalam dan mendapat perlawanan tekanan dari
dalam bola mata, keseimbangan tekanan tergantung pada beban tonometer.
Beban 5.5 gram dipasang di ujung atas plunger. Jika mata kencang,
diberikan beban tambahan 7.5 dan 10 gram pada plunger untuk menaikkan
gaya pada kornea.
Nilai skala pada tonometer dikonversikan dengan tabel tonometer
Schiotz untuk mengetahui tekanan bola mata dalam mmHg.
Pada tekanan >20 mmHg dicurigai glaukoma, jika tekanan >25 mmHg
pasien menderita glaukoma.

Gambar 2. Tonometer Schiotz

8
2) Tonometer Applanasi Goldmann
Tonometer yang dipasang pada lampu celah (slitlamp), untuk
mengukur besarnya beban yang diperlukan untuk meratakan apeks kornea
dengan beban standart. Pemeriksaan ini untuk mendapatkan tekanan
intraokular dengan menghilangkan pengaruh kekakuan sklera (scleral
rigidity). Pada skala tonometer aplanasi dipasang tombol tekanan 10
mmHg. Penilaian tonometer aplanasi melalui biomikroskop terlihat
gambaran dua semi lingkaran yang berukuran sama dimana sisi dalam
kedua semi lingkaran atas dan bawah saling bertemu dan sejajar. Nilai yang
terbaca pada tombol cakra tonometer dikalikan 10 untuk mendapat nilai
dalam mmHg (milimeter air raksa). Jika tekanan intraokular >20 mmHg
sudah dianggap menderita glaukoma.

Gambar 3. Tonometer Applanasi Goldmann

3) Tonometer Perkins
Tonometer Perkins adalah sebuah tonometer aplanasi mekanik portabel
sehingga dapat digunakan dalam berbagai posisi, keakuratannya sama baik
dalam posisi vertical maupun horizontal. Tonometer ini memiliki
mekanisme yang mirip dengan tonometer Goldmann sehingga gambaran
yang dijumpai pun sama dengan gambaran Goldmann.

9
Gambar 4. Tonometer Perkins

4) Tonometer non Kontak

Tonometer non kontak menggunakan semburan udara sebagai pengganti


prisma untuk meratakan kornea, sehingga tidak ada kontak langsung antara
mata dengan alat yang dapat mencegah penularan penyakit. Pengukuran
tekanan intraokular dengan alat tonometer non kontak sangat singkat, dan
hasil pengukuran tampil secara digital pada layar (Kanski, 2000; Vaughan
& Asbury, 2004).

Gambar 5. Tonometer non kontak

5) Tono Pen
Merupakan tonometer portabel dengan sumber energi dari baterai.
Keunggulan menggunakan tono pen ini selain portabel, alat ini lebih teliti.
Hasil pengukuran tampil secara digital. Namun, harga tono pen lebih mahal
dibandingkan tonometer Schiotz sehingga jarang dijumpai di klinik dan
bagian gawat darurat.

Gambar 6. Tono Pen

10
2.2 Kafein
A. Definisi
Kafein ialah alkaloid yang tergolong dalam methylxanthine bersama senyawa
tefilin dan teobromin, berlaku sebagai perangsang sistem saraf pusat. Pada keadaan
asal, kafein ialah serbuk putih yang pahit dengan rumus kimianya C6H10O2, dan
struktur kimianya 1,3,7- trimetilxantin (Ganiswara, 1995).
Kafein ialah senyawa kimia yang dijumpai secara alami di didalam makanan,
contohnya biji kopi, teh, biji kelapa, buah kola (cola nitide) guarana, dan mate.
Teh adalah sumber kafein yang lain, dan mengandung setengah dari kafein yang
dikandung kopi. Beberapa tipe teh yaitu teh hitam mengandung lebih banyak
kafein dibandingkan jenis teh yang lain. Teh mengandung sedikit jumlah
teobromine dan sedikit lebih tinggi theophyline dari kopi.

B. Efek Konsumsi Kafein


1. Efek Jangka Pendek Kafein
Mencapai jaringan dalam waktu 5 (lima) menit dan tahap puncak mencapai
darah dalam waktu 50 menit, frekuensi pernafasan, urin, asam lemak dalam
darah, asam lambung bertambah disertai peningkatan tekanan darah. Kafein
juga dapat merangsang otak (7.5- 150 miligram) dapat meningkatkan aktifitas
neural dalam otak serta mengurangi keletihan), dan dapat memperlambat waktu
tidur (Riley, 2001).

2. Efek Jangka Panjang Kafein


Pemakaian lebih dari 650 miligram dapat menyebabkan insomnia kronik,
gelisah, dan ulkus. Efek lain dapat meningkatkan denyut jantung dan berisiko
terhadap penumpukan kolesterol, menyebabkan kecacatan pada anak yang
dilahirkan (Hoeger, et al., 2002).
C. Hubungan Kafein dengan Tekanan Intraokuler

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya di latar belakang bahwa mekanisme


kafein dalam mempengaruhi peningkatan tekanan intraokular sampai saat ini masih
tidak jelas, karena efek farmakologis kafein pada proses seluler bervariasi (Kang, et
al., 2011). Sebelum menyebabkan tingginya tekanan intraokular, kafein terlebih
dahulu meningkatkan tekanan darah, kemudian berefek pada peningkatan aqueous
humor. Terjadi peningkatan tekanan darah kemudian meningkatkan tekanan

11
hidrostatik dalam pembentukan air dari plasma dalam jaringan kapiler proses silia
sehingga berefek pada saraf optik yang kemudian meningkatkan tekanan
intraokular.
Kafein juga diduga menurunkan aliran darah ke makula, kepala saraf
optik dan koroidretina yang membuat saraf optik menjadi lebih rentan
terhadap peningkatan TIO. Pengaruh kafein dalam aliran air tidak jelas,
namun mungkin kafein mengurangi arus keluar dengan mengurangi
pergerakan otot polos melalui blokade reseptor adenosin, sehingga akan
terjadi penutupan pori-pori trabekula dan kanalis Schlemm yang kemudian
terjadi hambatan aliran vena ekstraokular ke arus keluar aqueous humor, sinus
kavernosus (jalur trabekular). Bila terjadi hambatan pengaliran keluar akan
terjadi penimbunan cairan bilik mata di dalam bola mata sehingga tekanan
bola mata meninggi atau glaukoma. Namun ada bukti di beberapa jurnal
bahwa kafein dapat meningkatkan TIO dengan meningkatkan pembentukan
aqueous humor dengan menghambat phospodiesterase (Kang, et al., 2011).
Dengan menghambat phospodiesterase menghasilkan tingginya
intraselular cAMP pada badan siliar dan membentuk aqueous humor yang
tinggi yang bertanggungjawab terhadap meningkatnya TIO. Asupan kafein
yang sangat tinggi menunjukkan respon meningkatnya risiko primary open
angle glaucoma dengan TIO tinggi. Beberapa pendukung untuk kemungkinan
ambang batas dosis kafein dengan efek akut yaitu mengkonsumsi kafein rata –
rata lima atau lebih cangkir kopi berkafein per hari selama beberapa tahun,
yang konsisten dengan penelitian mekanistik yang menunjukkan bahwa tinggi
kadar kafein dalam satu hingga tiga cangkir kopi, menyebabkan kenaikan
sementara tekanan intraokular 1 – 4 mmHg yang berlangsung selama kurang
lebih 2 jam (Kang, et al., 2011).

12
D. Patofisiologi Peningkatan Tekanan Intraokuler

Kafein

Kopi Teh

Penurunan Mengurangi Menghambat Rangsang Peningkatan


denyut lelah phospodieste vagal tekanan
nadi/jantung rase darah

Tingkat intraselular
yang tinggi di cAMP
badan siliaris

Memungkinkan
meningkatkan
produksi aqueous
humor

Peningkatan
Mengkonsumsi tekanan hidrostatik
obat sulfat

Peningkatan
Degenerasi makula Tekanan
Intraokular

Pasca Operasi Glaukoma

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tekanan intraokular (TIO) adalah suatu tekanan pada bola mata
yang diakibatkan dari adanya kecepatan produksi aqueous humor, tahanan
terhadap aliran keluarnya dari mata dan tekanan vena episklera. Tekanan
intraokular merupakan salah satu indikator untuk menilai penyakit
glaukoma
Kafein ialah senyawa kimia yang dijumpai secara alami di didalam
makanan, contohnya biji kopi, teh, biji kelapa, buah kola (cola nitide)
guarana, dan mate. Teh adalah sumber kafein yang lain, dan mengandung
setengah dari kafein yang dikandung kopi. Beberapa tipe teh yaitu teh
hitam mengandung lebih banyak kafein dibandingkan jenis teh yang lain.
Teh mengandung sedikit jumlah teobromine dan sedikit lebih tinggi
theophyline dari kopi.
Kafein merupakan salah satu faktor risiko meningkatnya tekanan
darah. Mekanisme kerja kafein terhadap sistem saraf pusat dapat
meningkatkan kesadaran dan mengurangi kelelahan. Sedangkan terhadap
sistem kardiovaskuler, kafein dapat bersifat inotropik dan kronotropik
positif dan dapat menurunkan tekanan darah karena sifatnya yang
merelaksasi otot polos perifer.

Sebelum menyebabkan tingginya tekanan intraokular, kafein terlebih


dahulu meningkatkan tekanan darah, kemudian berefek pada peningkatan
aqueous humor. Terjadi peningkatan tekanan darah kemudian
meningkatkan tekanan hidrostatik dalam pembentukan air dari plasma
dalam jaringan kapiler proses silia sehingga berefek pada saraf optik yang
kemudian meningkatkan tekanan intraokular.

Kafein juga diduga menurunkan aliran darah ke makula, kepala saraf


optik dan koroidretina yang membuat saraf optik menjadi lebih rentan
terhadap peningkatan TIO.

14
DAFTAR PUSTAKA

Allingham, R. et al., 2005. Shields' Textbook of Glaucoma. Philadelphia: Lippincot


Williams & Wilkins.
Anon., 1998. Web Review of Ophthalmology. [Online] Available at:
http://www.Glaucoma-Comprehensive Review
Anon., 2005-2006. American Academy of Ophthalmology. In: Basic and Clinical
Science Course. s.l.:s.n., pp. 3-88.
Arnaud, M. J., 1999. Caffeine: Chemistry and Physiological Effect. Encyclopedia of
Human Nutrition, edited by M. J. Sadler, J. J. Stain and B. Caballero, pp. 206-
214.
Aziz, N. A. A. et al., 2015. Coffee Intake and Progression of Glaucoma.
Berger, A., 1988. Clinical Pharmacology of Caffeine. Annual Review of Medicine, pp.
41:277-288.
Blanco, A., Costa, V. & Wilson, R., 2002. In: Handbook of Glaucoma. London:
Martin Dunitz, pp. 17-20.
Chandra, P., Gaur, A. & Varma, S., 2011. Effect of caffein on the intraocular pressure
in patients with primary open angle glaucoma. Clinical Ophthalmology, 15
November.pp. 1623-1629.
Chandrasekaran, S., Rochtchina, E. & Mitchell, P., 2005. Effects of caffeine on
intraocular pressure: the Blue Mountains Eye Study. Journal of Glaucoma, pp.
14: 504-507.
Chawla, J., 2011. Neurologic Effects of Ceffeine. [Online] Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/1182710
Departemen Kesehatan, 2010. Gangguan penglihatan masih menjadi masalah
kesehatan. [Online].
Donovan, J. & Devane, C., 2001. Psychopharmacology Bulletin. A Primer Caffeine
Pharmacology and Its Drug Interactions in Clinical Psychopharmacology, pp.
35(10): 31-44.
Doshi, A., Liu, J. & Weinreb, R., 2010. Glaucoma is a 24/7 Disease. In: The
Glaucoma Book. USA: Springer, pp. 55-58.
Ganiswara, S., 1995. Farmakologi dan Terapi, Edisi IV. In: UI, Departemen
Farmakologi dan Terapeutik FK. Jakarta: s.n., pp. 207-209.
Ganong, W., 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 20. Jakarta: EGC.
Guyton, A. & Hall, J., 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC
Heijl, A. et al., 2002. Reduction of intraocular pressure and glaucoma progression:
results from the Early Manifest Glaucoma Trial. Archives of Ophthalmology,
pp. 120: 1268-79.
Hoeger, W., Turner, L. & Hafen, B., 2002. Wellness: Guidelines for a Healthy
Lifestyle. 3rd ed.. Belmont, CA: Wadsworth Group.
Hollows, F. & Graham, P., 1966. Brit. J. Ophthal. In: Intra-ocular Pressure,
Glaucoma, Glaucoma Suspect in A Defined Population. s.l.:s.n., p. 570.
Ilechie, A. & Tetteh, S., 2011. Acute effects of consumption of energy drinks on
intraocular pressure and blood pressure. Clinical Optometry, pp. 3: 5-12.
Ilyas, S., 2008. Penuntun Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta: FKUI.
James, B., Chew, C. & Bron, A., 2006. Lecture Notes Oftalmologi. Edisi
Kesembilan.. Jakarta: Erlangga Medical Series.
Kang, J. et al., 2011. Caffeine Consumption and the Risk of Primary Open – Angle
Glaucoma: A Prospective Cohort Study. Invest Ophthalmol Vis Sci.

15
Kanski, J., 2000. Butterworth Heinemann. In: The Glaucoma in Clinical
Ophthalmology Edition 4. British: s.n., pp. 188-190.
Katzung, B., 2007. In: Basic and Clinical Pharmacology 10th Edition. Boston:
McGraw Hill, pp. 590-2.
Kwon, Y., Fingert, J., Kuehn, M. & Alward, W., 2009. In: Mechanisms of Disease,
Primary Open-Angle Glaucoma. N Engl: J Med 360, pp. 1113-1124.
Lee, K.-H., 2009. Medical students use caffeine for 'academic purpose'. SA Fam
Pract, pp. 51(4): 322-327.
Li, M. et al., 2011. The effect of caffein on intraocular pressure: a systematic review
and meta-analysis. Graede's Archive of Clinical and Experimental
Ophthalmology, pp. 249: 435-442.
Morrison, J., Pollack, I., Freddo, T. & Toris, C., 2003. Anatomy and physiology of
aqueous humor formation. In: Glaucoma science and practice. New York .
Stuttgart: Thieme, pp. 24-77.
Nawrot, P. et al., 2001. Effect of Caffeine on Human Health. Food Addictive and
Contaminants, pp. 1-30.
Nehlig, A., 2010. Is Caffeine a Cognitive Enhancer?. Journal of Alzheimer Disease,
pp. 20:S85-S94.
Notoadmojo, S., 2010. Metodologi Penelitian dan Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Pasquale, L. & Kang, J., 2009. Lifestyle, Nutrition and Glaucoma. J. Glaucoma, pp.
1-11.
Pasquale, L., Wiggs, J., Willett, W. & Kang, J., 2012. The Relationship between
Caffeine and Coffee Consumption and Exfoliation Glaucoma or Glaucoma
Suspect: A Prospective Study in Two Cohorts, pp. 6427-32.
Pierre, R., Thomas, R. & Mermound, A., 1999. Arch Ophthamol. In: Chorneal
Thickless in Ocular Hypertension, Primary Open-Angle Glaucoma, and
Normal Tension Glaucoma. s.l.:s.n., pp. 14-16.
Putra & Hermanto, 2003. Kandungan Kafein di Dalam Makanan/Minuman, s.l.:
Universitas Sumatra Utara.
Putri, B. W., 2015. Efek Akut Konsumsi Kopi Berkafein Terhadap Peningkatan
Tekanan Intraokuler Pada Mahasiswa Jurusan Kedokteran Universitas
Jenderal Soedirman, s.l.: dokumen.tips.
Riley, M. R., 2001. Drug-Analysis Vol.1. 55 ed. s.l.:St. Louis: Facts and Comparison.
Riordan-Eva, P. & Whitcher, J., 2010. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum Edisi
17 (D. Susanto, penerjemah). Jakarta: EGC. (Buku asli diterbitkan 2008).
Salmon, J., 2008. Glaukoma. In: Oftalmologi Umum Vaughan & Asbury. Jakarta:
EGC, pp. 212-224.
Simmons, S., 2007. Intraocular Pressure and Aqueous Humor Dynamics. In:
Glaucoma. Singapore: American Academy of Ophthalmology, pp. 17-29.
Sloane, E., 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: ECG.
Solomon, 2002. Aqueous Humor Dynamics. [Online] Available at:
http://www.nyee.edu/pdf/solomonaqhumor.pdf
Spaeth, G., Harris, A. & Sergott, R., 1994. Color doppler analysis of ocular vessel
blood velocity in normal-tension glaucoma. Am J Ophthalmol, pp. 118: 642-9.
Stamper, R., Lieberman, M. & Drake, M., 2009. Becker - Shaffer's Diagnosis and
Therapy of the Glaucomas 8th Edition.. UK: Mosby Elseiver.
Sunaryo, 2005. Perangsangan susunan saraf pusat. In: Farmakologi dan terapi FKUI.
Jakarta: Gaya Baru, pp. h.231-33.
Tasman, W., 2004. In: Tonometry in Duane's Clinical Ophthalmology, Chapter 47,
Volume 3. New York: Lippincott Williams and Wilkins, pp. 1-7.

16
Vaughan, D. & Asbury, T., 2004. In: Tonometri pada Ofthalmologi Umum, Chapter
2, Edisi 14. Jakarta: Widya Medika, pp. 39-41.
Weinreb, R., Brandt, J., Garway-Heath, D. & Medeiros, F., 2007. Intraocular
Pressure Consensus Series 4. USA, Canada: Kugler Publications.
Yanagi, M. et al., 2011. Vascular risk factors in glaucoma. Clinical and Experimental
Ophthalmology, pp. 39: 252-258.
Yoshida, M. et al., 2003. Association of life-style with intraocular pressure in middle-
aged and older Japanese residents. The Japanese Journal of Ophthalmology,
pp. 47: 191-198.

17