DASAR HUKUM K3
ANGGOTA KELOMPOK
• Yolanian Bernika Maritim (191910301060 )
• Baby Citra Nusantari Wardana(191910301062)
• Nurul Dwi Hartanti (191910301064 )
• Brillian Istana Audio (191910301070)
• Deviana Putri Rahayu Fauzie (191910301098)
• Retno Dumilah (191910301103)
• Ika Ajeng Nurlaili (191910301109)
• Avinda Devianti (191910301138)
• Endah Aprilia Kriswidyo Pratiwi (191910301139 )
• Anisa Nur Pratiwi (191910301146 )
PERATURAN PERUNDANGAN DIBIDANG KESELAMATAN KERJA
1. Undang-undang UAP Stoomordonantie stb. 225 Tahun 1930.
2. Peraturan UAP Stoomverodeming stb. 339 Tahun 1930.
3. PP No. 01 Tahun 1973 tentang pengawasan atas peredaran, penyimpanan dan peredaran
pestisida.
4. PP No. 50 tahun 2012 tentang Penerapan SMK3
5. Permenakertrans No.01/MEN/1978 tentang K3dalam pengangkutan dan penebangan
kayu.
6. Permenakertrans No.01/MEN/1980 tentang K3pada Konstruksi Bangunan.
7. Permenakertrans No.04/MEN/1980 tentangsyarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan AP AR.
PERATURAN PERUNDANGAN DIBIDANG KESELAMATAN KERJA
7. Permenakertrans No.01/MEN/1982 tentang Bejana Tekan.
8. Permenakertrans No.02/MEN/1982 tentang Kwalitas Juru Las.
9. Permenakertrans No.02/MEN/1984 tentang Instansi Alarm Kebakaran Automatic.
10.Permenaker No.04/MEN/1985 tentang Pesawat Tenaga dan Produksi.
11.Permenaker No.05/MEN/1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut.
12.Permenaker No.04/MEN/1987 tentang P2K3 dan Ahli K3.
13.Permenaker No.01/MEN/1988 tentang Kwalifikasi dan Syarat-syarat Operator Pesawat Uap.
14.Permenaker No.01/MEN/1989 tentang Kwalifikasi dan Syarat-syarat Operator Keran Angkat.
PERATURAN PERUNDANGAN DIBIDANG KESELAMATAN KERJA
15.Permenaker No.02/MEN/1989 tentang Pengawasan Instalasi Pengatur Petir.
16.Kepmenaker No.51/MEN/1999 tentang NAB Faktor Fisik di Tempat Kerja.
17.Kepmenaker No.186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat
Kerja.
18.Kepmenaker No. Kep. 13/MEN/2011 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya.
19.Kepmenakertrans No.Kep.75/MEN/2002 tentang Pemberlakuan SNI mengenai
PUIL 2008 di Tempat Kerja.
20.SKB Menaker dengan Mentri PU No.174/MEN/1986 dan No.104/KPB/1986 tentang K3
di Tempat Kegiatan Konstruksi.
21.Permenakertrans No. Per.09/MEN/VII/2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat
Angkat dan Angkut.
BIDANG KESEHATAN KERJA
1.Permenaker No.07/MEN/1964 tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan dan
Penerangan di Tempat Kerja.
2. Permenakertrans No.01/MEN/1976 tentang Kewajiban Latihan Hiperkes
bagi Dokter Perusahaan.
3.Permenakertrans No.01/MEN/1979 tentang Kewajiban Latihan Hiperkes
dan K3 bagi Tenaga Paramedis.
4.Permenakertrans No.02/MEN/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga
Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.
5. Permenakertrans No.01/MEN/1984 tentang Kewajiban Melapor Akibat
Kerja.
6.Permenakertrans No.03/MEN/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja.
BIDANG KESEHATAN KERJA
7. Permenaker No.01/MEN/1998 tentang Program TPK Manfaat Lebih Baik dari
Jamsostek.
8. Permenaker No.03/MEN/1998 tentang Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan.
9. Kepmenakertrans No.227/KEP/II/20088 tentang Pengangkatan dan
Pemberhentian Dokter Penasehat.
10.Permenakertrans No.Per.25/MEN/XII/2008 tentang Pedoman Diagnosis dan
Penilaian Cacat Karena Kecelakaan Kerja dan PAK
11.Permenakertrans No. Per.15/MEN/2008 Tentang P3K.
12.Permenakertrans No.Per.08/MEN/VII/2012 tentang Alat Pelindung Diri (APD).
13.Kepmenakertrans No.Kep.609/V/2012 tentang Pedoman Penyelesaian
Kecelakaan Kerja dan PAK. Penyelenggaraan
UU NO 1 TAHUN 1970 TENTANG
KESELAMATAN KERJA
Mempertimbangkan:
a. bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas
keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan
hidup
b. bahwa setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu
terjamin pula keselamatannya;
c. bahwa untuk menciptakan keamanan dan keselamtan perlu adanya
norma-norma perlindungan kerja;
d. bahwa pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam
Undang-undang tentang umum tentang keselamatan kerja
Syarat syarat tentang Kesehatan dan keselamatan
kerja
a. Mencegah ,mengurangi, dan memberi pertolongan pada kecelakaan
b. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja.
c. Mencegah dan menimbulkan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik maupun psychis, peracunan,
infeksi dan penularan.
d. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik.
e. Memelihara kebersihan dan , kesehatan
f. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan muat, perlakuan dan penyimpanan barang.
KEWAJIBAN DAN HAK TENAGA KERJA
• Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai
pengawas dan atau ahli keselamatan kerja;
• Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan;
• Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan
kesehatan kerja yang diwajibkan;
• Meminta pada pengurus agar dilaksanakan semua syarat
keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan;
KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB
PENGURUS PERUSAHAAN
• Memasang semua gambar keselamatan kerja pada tempat-tempat
yang mudah dilihat
• Menyediakan secara cuma-cuma, semua alat perlindungan diri
yang diwajibkan pada tenaga kerja
• Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua
tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya, dalam
pencegahan kecelakaan
• Pengurus diwajibkan memeriksakan semua tenaga kerja yang
berada di bawah pimpinannya secara berkala pada dokter
KETENTUAN DAN SANKSI
• SANKSI PIDANA
Undang-Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja,
dalam pasal 15 ayat (2) menyatakan bahwa “Pelanggaran
terhadap Peraturan Perundang-undangan di bidang Norma K3
dapat dikenakan ancaman pidana hukuman kurungan selama-
lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp.
100.000,- (Seratus ribu rupiah).”
KETENTUAN DAN SANKSI
• SANKSI ADMINISTRATIF
Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dalam pasal 190 :
- Ayat (1) “ Menteri atau Pejabat ditunjuk mengenakan sanksi administratif atas pelanggaran Pasal 87
Undang- undang ini serta peraturan pelaksanaannya.”
- Ayat (2) : “ Sanksi Administratif berupa :
a. Teguran
b. Peringatan Tertulis
c. Pembatasan Kegiatan Usaha
d. Pembekuan Kegiatan Usaha
e. Pembatalan Persetujuan
f. Pembatalan Pendaftaran
g. Penghentian sementara atau tetap alat produksi
h. Pencabutan Ijin
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN NO 3 TAHUN 1992
TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA
• Pembangunan nasional bertujuan memperluas kesempatan kerja
untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi tenaga kerja. Namun
kemampuan bekerja dapat hilang karena berbagai risiko yaitu
kecelakaan, sakit, hari tua, dan meninggal dunia.
• Oleh karena itu, untuk menanggulangi risiko-risiko tersebut,
Undangu ndang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial
Tenaga Kerja mengatur pemberian jaminan kecelakaan kerja,
jaminan pemeliharaan kesehatan, jaminan hari tua dan jaminan
kematian.
TUJUAN DIBENTUKNYA UU NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA
• Pada dasarnya program ini menekankan pada perlindungan bagi
tenaga kerja yang relatif mempunyai kedudukan yang lebih
lemah. Oleh karena itu pengusaha memikul tanggung jawab
utama, dan secara moral pengusaha mempunyai kewajiban
untuk meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan tenaga
kerja.
BENTUK PERLINDUNGAN JAMINAN
SOSIA TENAGA KERJA
•Bentuk perlindungan yang wajib di laksanakan oleh setiap
pengusaha, yaitu mengenai pemeliharaan dan peningkatan
kesejahteraan dalam bentuk jaminan social tenaga kerja dengan
berasaskan usaha bersama, kekeluargaan dan kegotong royongan
SISTEM PENGUPAHAN
• sistem pengupahan dapat dikatakan baik jika sistem pengupahan
itu mampu memuaskan kebutuhan dasar pekerja, sebanding
dengan perusahaan lain dibidang yang sama,memiliki sifat adil
dalam perusahaan, dan menyadari fakta bahwa kebutuhan
setiap orang adalah berbeda.
ASPEK-ASPEK DALAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA
•JAMINAN KECELAKAAN KERJA
Untuk menanggulangi hilangnya sebagian atau seluruh penghasilannya
yang diakibatkan oleh kematian atau cacad karena kecelakaan kerja, maka
perlu adanya jaminan Kecelakaan Kerja.
• JAMINAN KEMATIAN
Tenaga Kerja yang meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja akan
mengakibatkan terputusnya penghasilan. Oleh karena itu, diperlukan
Jaminan Kematian dalam upaya meringankan beban keluarga
ASPEK-ASPEK DALAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA
•JAMINAN HARI TUA
Jaminan Hari Tua memberikan kepastian penerimaan penghasilan yang
dibayarkan sekaligus dan atau berkala pada saat tenaga kerja mencapai usia
55 (lima puluh lima) tahun
•JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN
Pemeliharaan kesehatan dimaksudkan untuk meningkatkan kesehatan
tenaga kerja sehingga dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Oleh
karena, upaya penyembuhan memerlukan dana yang tidak sedikit dan perlu
adanya jaminan pemeliharaan kesehatan
MANFAAT JAMINAN KESELAMATAN
KERJA
• manfaat jaminan sosial tenaga kerja pada hakikatnya nya bersifat
dasar, untuk menjaga harkat dan martabat tenaga kerja. dengan
memanfaatkan dasar tersebut pembiayaannya dapat ditekan
seminimal mungkin sehingga dapat dijangkau oleh setiap usaha
dan tenaga kerja.
DUNDANG – DUNDANG NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG JASA KONSTRUKSI
KETENTUAN UMUM
1. Jasa konstruksi adalah layanan jasa konsultasi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa
pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa konsultansi pengawasan pekerjaan konstruksi;
2. Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan beserta
pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, dan tata lingkungan untuk mewujudkan
suatu bangunan
3. Pengguna jasa adalah orang perseorangan atau badan sebagai pemilik pekerjaan/proyek yang
memerlukan layanan jasa konstruksi;
4. Penyedia jasa adalah orang perseorangan atau badan yang kegiatan usahanya menyediakan
layanan jasa konstruksi;
5. Kegagalan bangunan adalah keadaan bangunan, yang setelah diserahterimakan oleh penyedia jasa
kepada pengguna jasa, menjadi tidak berfungsi baik pemanfaatannya yang menyimpang sebagai
akibat kesalahan penyedia jasa dan/atau pengguna jasa
KETENTUAN UMUM
7. Forum jasa konstruksi adalah sarana komunikasi dan konsultasi antara
masyarakat jasa konstruksi dan Pemerintah
8. Registrasi adalah suatu kegiatan untuk menentukan kompetensi profesi keahlian
dan keterampilan tertentu,
9. Perencana konstruksi adalah penyedia jasa orang perseorangan atau badan usaha
yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang perencanaan jasa konstruksi
10. Pelaksana konstruksi adalah penyedia jasa orang perorangan atau badan usaha
yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang pelaksanaan jasa konstruksi
11. Pengawas konstruksi adalah penyedia jasa orang perorangan atau badan usaha
yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang pengawasan jasa konstruksi
TUJUAN
• memberikan arah pertumbuhan dan perkembangan jasa
konstruksi untuk mewujudkan struktur usaha yang kokoh, andal,
berdaya saing tinggi, dan hasil pekerjaan konstruksi yang
berkualitas;
• mewujudkan tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi yang
menjamin kesetaraan kedudukan antara pengguna jasa dan
penyedia jasa dalam hak dan kewajiban, serta meningkatkan
kepatuhan pada Undang-undangyang berlaku;
USAHA JASA KONSTRUKSI
• BAGIAN 1
Membahas tentang jenis, bentuk, bidang usaha
1. Jenis usaha jasa konstruksi terdiri dari usaha perencanaan konstruksi, usaha pelaksanaan konstruksi,
dan usaha pengawasan konstruksi
2. Usaha perencanaan konstruksi memberikan layanan jasa perencanaan dalam pekerjaan konstruksi
yang meliputi rangkaian kegiatan mulai dari studi pengembangan sampai dengan penyusunan
dokumen
• BAGIAN 2
Membahas tentang persyaratan usaha keahlian dan keterampilan
Perencana konstruksi, pelaksana konstruksi, dan pengawas konstruksi yang berbentuk badan usaha harus :
a. memenuhi ketentuan tentang perizinan usaha yang meliputi sertifikat, klasifikasi, dan kualifikasi
perusahaan jasa konstruksi.
USAHA JASA KONSTRUKSI
• BAGIAN 3
Tanggungjawab professional
1) Badan usaha harus bertanggung jawab terhadap hasil
pekerjaannya.
• BAGIAN 4
Pengembangan usaha
1) Mengartikan pengembangan usaha untuk mewujudkan struktur
usaha yang kokoh dan efisien
PENGIKAT PEKERJAAN KONSTRUKSI
• BAGIAN 1 (Para pihak dalam pekerjaan konstruksi)
a. pengguna jasa;
b. penyedia jasa.
•Bagian 2 ( Pengikatan Para Pihak )
a. Pengikatan mencakup membuat dokumen tentang
pemilihan penyedia jasa yang memuat ketentuan-
ketentuan secara lengkap
PENYELENGGARAAN PEKERJAAN
KONSTRUKSI
• (1) Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi meliputi tahap
perencanaan dan tahap pelaksanaan beserta pengawasannya yang
masing-masing tahap dilaksanakan melalui kegiatan penyiapan,
pengerjaan, dan pengakhiran.
• (2) Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi wajib memenuhi
ketentuan tentang keteknikan, keamanan, keselamatan dan
kesehatan kerja, perlindungan tenaga kerja, serta tata lingkungan
setempat untuk menjamin terwujudnya tertib penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi.
KEGAGALAN BANGUNAN
1. Pengguna jasa dan penyedia jasa wajib bertanggung jawab atas kegagalan
bangunan.
2. Kegagalan bangunan yang menjadi tanggung jawab penyedia jasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan terhitung sejak penyerahan
akhir pekerjaan konstruksi dan paling lama 10 (sepuluh) tahun.
Jika terjadi kegagalan bangunan yang disebabkan karena kesalahan
perencana atau pengawas konstruksi, dan hal tersebut terbukti menimbulkan
kerugian bagi pihak lain, maka perencana atau pengawas wajib bertanggung
jawab dan dikenakan ganti rugi.
PERAN MASYARAKAT
• Masyarakat berhak untuk :
a) melakukan pengawasan untuk mewujudkan tertib pelaksanaan
jasa konstruksi;
b) memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang dialami
secara langsung
PEMBINAAN
1. Pemerintah melakukan pembinaan jasa konstruksi dalam bentuk
pengaturan, pemberdayaan, dan pengawasan.
2. Pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
dengan penerbitan peraturan perundang-undangan dan standar-
standar teknis.
3. Pemberdayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
terhadap usaha jasa konstruksi dan masyarakat
4. Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk menjamin
terwujudnya ketertiban jasa konstruksi
PENYELESAIAN SENGKETA DI LUAR
PENGADILAN
••Bagian 1
Pasal
dapat 36
sengketa , Penyelesaian
jasa
ditempuh konstruksi
melalui
pengadilan
pengadilan
••Bagian 2 atau di luar
Pasal
luar 37,
sengketa Penyelesaian
jasa
pengadilan konstruksi
dapat di
ditempuh
masalah
pekerjaan untuk
yang masalah-
timbul
konstruksi dalam
••Bagian 3
Masyarakat
akibat yang
penyelenggaraan
pekerjaan berhak dirugikan
mengajukan
kepengadilangugatan
SANKSI DAN KETENTUAN
• Penyelenggara pekerjaan konstruksi dapat dikenai sanksi
adminitrasif dan/atau Pidana atas pelanggaran Undang
• Pada saat berlakunya Undang-undang ini, maka ketentuan
peraturan perundang-undangan yang mengatur hal yang sama
dan bertentangan dengan ketentuan Undang-undang ini,
dinyatakan tidak berlaku
UU NO 13 TAHUN 2003 KESELAMATAN
DAN KESEHATAN KERJA
Pasal 86
• (1) Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh
perlindungan atas: a. keselamatan dan kesehatan kerja; b. moral dan
kesusilaan; dan c. perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat
manusia serta nilai-nilai agama.
• (2) Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh maka perlu adanya
keselamatan dan kesehatan kerja.
• (3) Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2)
dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Pasal 87
• (1) Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem
manajemen perusahaan.
• (2) Ketentuan mengenai penerapan sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Bagian kedua
sanksi administrative
pasal 190
• (1) Menteri atau pejabat yang ditunjuk mengenakan sanksi administratif atas pelanggaran ketentuan-ketentuan
sebagaimana diatur dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 15, Pasal 25, Pasal 38 ayat (2), Pasal 45 ayat (1), Pasal 47 ayat
(1), Pasal 48, Pasal 87, Pasal 106, Pasal 126 ayat (3), dan Pasal 160 ayat (1) dan ayat (2) undang-undang ini serta
peraturan pelaksanaannya.
• (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berupa:
a. teguran;
b. peringatan tertulis;
c. pembatasan kegiatan usaha;
d. pembekuan kegiatan usaha;
e. pembatalan persetujuan;
f. pembatalan pendaftaran;
g. penghentian sementara sebagian atau seluruh alat produksi;
h. pencabutan ijin.
• (3) Ketentuan mengenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih
lanjut oleh Menteri
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG NO 33
TAHUN 1977 ASURANSI SOSIAL TENAGA KERJA