Anda di halaman 1dari 6

PATHWAY DBD

TERINFEKSI NYAMUK DENGUE DEMAM 3-7 HARI TIDAK ADA ISPA INFEKSI DENGUE BUKAN INFEKSI DENGUE LIHAT SPM DEMAN

TROMBOSITOPENIA (+/-) HT NORMAL KLINIS ANAK BAIK/TAMPAK SAKIT RINGAN

TROMBOSITOPENIA HT MENINGKAT, BELUM HEMOKONSENTRASI

TROMBOSITOPENIA HEMOKONSENTRASI

ADA KEDARURATAN

DEMAM DENGUE TIDAK PERLU KONTROL LABORATORIUM

RAWAT JALAN KONTROL UNTUK CEK TROMBOSIT DAN HEMATOKRIT

RAWAT INAP DBD

HEMATOKRIT MENINGKAT/ HEMOKONSENTRASI

RAWAT INAP

Kematian Akibat DBD Berkurang Tapi Jumlah Kasus Naik Turun December 23, 2011 by yakkum2011 Penyebab demam berdarah adalah nyamuk demam berdarah. Nyamuk demam berdarah lebih kita kenal dengan nama nyamuk aedes aegypti. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, lebih dari 80% dari mereka yang terinfeksi virus dengue diam-diam akan menularkan penyakit tanpa gejala atau hanya sakit ringan. Namun, ada risiko 5% dari kematian untuk pasien-pasien yang penyakitnya semakin berkembang dalam tubuh (mungkin karena tidak dirawat intensif) atau dikenal sebagai dengue shock syndrome (DSS). Banyak faktor yang mempengaruhi pasien demam berdarah semakin parah. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah dikenal di Indonesia sebagai penyakit yang endemis terutama bagi anak-anak. Di Indonesia DBD timbul sebagai wabah untuk pertama kalinya di Surabaya pada tahun 1968. Sampai saat ini DBD dilaporkan dari 26 propinsi dan telah meyebar dari daerah perkotaan ke daerah pedesaaan dan selama tahun 1974 sampai 1982 dilaporkan sebanyak 3500-7800 kasus dengan "Case Fatality Rate" 3,9 %. Penyebab penyakit ini ialah virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti sebagai faktor utama, disamping nyamuk Aedes Albopictus. Wabah penyakit demam berdarah yang sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia beberapa tahun yang lalu di Indonesia perlu mendapat perhatian. Begitu pula vektor Aedes aegypti yang terdapat baik di daerah pedesaan maupun di perkotaan memberi resiko timbulnya wabah penyakit di masa yang akan datang. Untuk mengatasi masalah penyakit demam berdarah di Indonesia telah puluhan tahun dilakukan berbagai upaya pemberantasan vektor, tetapi hasilnya belum optimal. Kejadian luar biasa (KLB) masih sering terjadi secara teoritis ada empat cara untuk memutuskan rantai penularan DBD ialah melenyapkan virus, isolasi penderita, mencegah gigitan nyamuk (vektor) dan pengendalian vektor. Untuk pengendalian vektor dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara kimia dan pengelolaan lingkungan, salah satunya dengan cara pembersihan sarang nyamuk (PSN). Pengendalian vektor dengan cara kimia hanya memberikan perlindungan terhadap pindahnya penyakit yang bersifat sementara dan dilakukan hanya apabila terjadi letusan wabah. Cara ini memerlukan dana yang tidak sedikit serta mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan. Untuk itu diperlukan cara lain yang tidak menggunakan bahan kimia diantaranya melalui peningkatan partisipasi masyarakat untuk pengendalian vektor dengan dilakukannya PSN. Jakarta, Dibanding tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, angka kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia tahun ini cenderung berkurang. Namun angka kejadian orang tertular penyakit yang diperantarai nyamuk ini selalu naik turun. Kementerian Kesehatan melalui Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) mengungkap hingga November 2011 telah terjadi 404 kasus kematian akibat DBD di

31 provinsi. Angka ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 1.358 kasus di 33 provinsi. Penurunan ini mengikuti tren yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, yang makin menurun sejak pertama kali kasus DBD di Indonesia ditemukan tahun 1968. Jika diambil persentasenya, tingkat kematian DBD tahun 2011 adalah 0,82 persen sedangkan tahun lalu masih 0,87 persen. Kasus penularan DBD sebenarnya juga mengalami penurunan dibanding tahun lalu, dari 65,70/100.000 penduduk menjadi 20.86/100.000 penduduk. Namun dibandingkan tahuntahun sebelumnya, grafiknya tidak selalu turun, melainkan sangat bervariasi kadang tinggi kadang rendah. Perlu dipahami bahwa DBD bukan hanya menjadi masalah di Indonesia saja, tetapi juga di seluruh ASEAN dan beberapa negara yang lain. Bukan Indonesia saja yang naik turun, kara Dirjen P2PL, Prof Tjandra Yoga Aditama dalam jumpa pers di Kemenkes, Jumat (23/12/2011). Data November 2011 menunjukkan, 5 provinsi dengan Insiden Rate (IR) atau angka penularan paling tinggi sepanjang tahun 2011 adalah sebagai berikut. 1. Bali (81,08 kasus/100.000 penduduk) 2. DKI Jakarta (72,24 kasus/100.000 penduduk) 3. Kepulauan Riau (49,70 kasus/100.000 penduduk) 4. Sulawesi Tengah (47,37 kasus/100.000 penduduk) 5. NAD (45,81 kasus/100.000 penduduk) Selain itu, sepanjang tahun 2011 juga tercatat 4 provinsi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD yakni Sumatera Utara, Riau, Jambi dan Maluku. KLB ditetapkan jika muncul kasus yang sebelumnya tidak ada, atau terjadi peningkatan kasus sebanyak 2 kali atau lebih dalam periode 1 bulan. Upaya yang dilakukan Kemenkes antara lain dengan meningkatkan sosialisasi Program 3MPlus yang terdiri atas menguras, menutup dan mengubur tempat-tempat yang bisa digenangi air. Sebagai tambahannya adalah memelihara ikan pemakan jentik atau menebar larvasida. (up/ir) Jakarta, Kompas - Dengan jumlah kematian sekitar 1.317 orang tahun 2010, Indonesia menduduki urutan tertinggi kasus demam berdarah dengue di ASEAN. Untuk itu, Indonesia bekerja sama dengan negara-negara anggota ASEAN dalam membasmi penyakit DBD. Kalau sebuah negara kasus DBD-nya tinggi, negara-negara lain takut tertular. Karena itu, masalah DBD menjadi masalah bersama negara anggota ASEAN, kata Rita Kusriastuti, Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2), Kementerian Kesehatan, kepada wartawan, Jumat (18/2).

Berdasarkan data P2B2, jumlah kasus DBD di Indonesia tahun 2010 ada 150.000 kasus. Menurut Rita, potensi penyebaran DBD di antara negara-negara anggota ASEAN cukup tinggi mengingat banyak wisatawan keluar masuk dari satu negara ke negara lain. Dibandingkan wilayah lain, negara-negara Asia Tenggara paling serius terkena dampak DBD, kata Rita. Dalam pertemuan para Menteri Kesehatan se-ASEAN, disepakati untuk mengurangi risiko transmisi demam berdarah. Strategi utama yang dilakukan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya demam berdarah dan cara pencegahannya. Sebagai Ketua Bidang Kesehatan ASEAN 2011, Indonesia berencana meluncurkan hari demam berdarah se-ASEAN (ASEAN Dengue Day) yang disepakati setiap tanggal 15 Juni. Tujuan dari peluncuran ASEAN Dengue Day ini adalah meningkatkan komitmen nasional dan antarnegara anggota ASEAN pada upaya pengendalian demam berdarah, baik pencegahan, penanggulangan, hingga tata laksana sehingga angka kejadian dan kematian akibat DBD bisa ditekan. Kasus DBD di Indonesia, menurut Rita, paling banyak terjadi di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung.

MATARAM, KOMPAS.com - Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Nusa Tenggara Barat (NTB) mengimbau masyarakat, khususnya warga di Kabupaten Lombok Utara (KLU), mewaspadai kemungkinan terjadinya wabah penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan cikungunya akibat gigitan nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus. Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. H Mochammad Ismail kepada wartawan di Mataram, Selasa, mengatakan, berdasarkan hasil penelitian di sejumlah kecamatan di KLU tingkat populasi nyamuk cukup tinggi termasuk nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus yang menyebabkan penyakit DBD dan cikungunya. "Selama Februari terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) cikungunya di dua kecamatan di KLU, yakni Kecamatan Tanjung dan Gangga, dengan 456 kasus dan setelah ditangani kini semakin berkurang," katanya didampingi sejumlah Kepala Bidang (Kabid) di lingkungan Dinkes NTB. Selain di dua kecamatan di KLU, kasus cikungunya juga terjadi di Kecamatan Lingsar, Gunungsari dan Sekotong, namun jumlahnya tidak terlalu banyak. Ia mengatakan, meningkatnya jumlah penderita cikungunya di KLU tersebut kemungkinan akibat berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus pada genangan air di sawah atau kebun saat musim hujan sekarang ini. Untuk mencegah kian meluasnya wabah ckungunya di KLU telah dilakukan abatisasi dam pengasapan (fogging) di tempat-tempat yang banyak ditemukan vektor nyamuk tersebut guna mencegah perkembangbiakan jentik-jentik nyamuk dan pembersihan lingkungan. Ia mengatakan, KLB cikungunya di KLU tidak sampai menyebabkan penderita meninggal dunia, namun meresahkan karena mengakibatkan kaki lemas dan terjadi lumpuh selama beberapa hari. Sementara kasus DBD di NTB dalam kurun waktu lima tahun (2004-2008) tertinggi pada tahun 2005 yang mencapai 1.062 kasus, tercatat 15 orang meninggal dunia, meningkat dibandingkan dengan tahun 2004 sebanyak 805 kasus, 16 orang meninggal dunia. Sedangkan pada 2006 menurun menjadi 623 kasus, empat meninggal dunia, dan kembali meningkat pada 2007 sebanyak 720 kasus, dua orang meninggal dunia. Pada 2008 meningkat lagi menjadi 777 kasus, empat orang meninggal dunia. "Karena itu, kami akan terus berkoordinasi dengan kabupaten/kota untuk mencegah munculnya wabah DBD maupun cikungunya dengan melakukan abatisasi dan pengasapan serta mengajak masyarakat untuk membersihkan lingkungan terutama genangan air yang menjadi tempat berkembangbiaknya jentik nyamuk," katanya menambahkan.

KBRN, Mataram : Pemerintah Provins Nusa Tenggara Barat (NTB) meminta masyarakat waspada terhadap kemungkinan timbulnya penyakit akibat cuaca buruk yang terjadi sejak beberapa hari terakhir ini pada Januari 2012. Selain ditekankan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana, masyarakat NTB juga senantiasa antisipasi terhadap timbulnya berbagai macam penyakit akibat musim penghujan, himbau Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan NTB, I Made Suadnya, Selasa (10/1). Dikatakannya, potensi timbulnya berbagai macama penyakit saat ini cukup besar, terlebih lagi dengan kondisi cuaca yang kurang menentu. Akibat cuaca seperti itu sangat memungkinkan terjadinya peningkatan populasi nyamuk, baik nyamuk Aides Aigipti maupun nyamuk Aedes Albofiktus. Kedua jenis nyamuk itu masing-masing akan menimbulkan penyakit yang berbeda, dimana gigitan nyamuk Aides Aigipti menjadi penyebab penyakit Demam Berdarah Dangue (DBD), sementara virus nyamuk Aedes Albofiktus menjadi penyebab penyakit Cikungunya, jelasnya. Suadnya menyebutkan, selain penyakit yang disebabkan oleh nyamuk, penyakit diare juga berpotensi besar menjangkiti warga masyarakat yang tidak biasa hidup bersih. Made Suadnya menambahkan, terjadinya perubahan musim dari musim kemarau menjadi musim hujan seperti saat ini menjadi pemicu makin meningkatnya jumlah kasus penyakit di Nusa Tenggara Barat. Bahkan untuk penyakit tertentu seperti DBD dan Diare diprediksi akan mengalami peningkatan signifikan pada Januari hingga Maret 2012 mendatang. Sementara itu, Dinas Kesehatan NTB terus berupaya menekan angka berbagai jenis penyakit dengan memotivasi masyarakat untuk selalu melaksanakan pola hidup bersih dan sehat dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan pola 3M atau Menguras, Menutup penampungan air dan Menimbun barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. (A. Yani/DS/BCS)