Anda di halaman 1dari 60

MAKALAH GENESA BAHAN GALIAN MINERAL ZEOLIT

OLEH: ARY RICARDO OBEN DANNA P. SANDY DANIEL T. LENGA DENI SIOH FELTRINO LANGGA JUAN JULIO WICAKSONO MARIA B. OKY MARIA D. HERA MARIANA D. MANEK MARTINUS G. NIRON PASCA B.S. NINU SELVI A. SAUDALE SILVIA WELIA FONI SIMPLISIUS IKU TRI SANDY TUNGGAL YURDIANA KOLIMON 0806103304 0906102624 0906102625 0906102626 0906102630 0906102639 0906102643 0706103118 0906102644 0906102646 0906102596 0906102653 0906102655 0906102656 0906102660 0906102663

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS SAINS & TEKNIK UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG 2011

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan penyertaan-Nya, pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Genesa bahan galian dan batu bara mengenai mineral zeolit ini dengan baik dan bisa di serahkan tepat pada waktunya. Penulis pun ingin mengucapkan terima kasih kepada pak DR. Herry Z. Kotta, S.T, M.T selaku dosen untuk mata kuliah Genesa bahan galian dan batu bara yang telah memberikan tugas makalah ini, karena pada kenyataanya melalui sangatlah bermanfaat bagi penulis dalam memahami bagaimana pemanfaatan mineral zeolit ini dengan baik dan benar. Penulis pun menyadari bahwa makalah yang dibuat ini masih terlalu jauh dari kesempurnaan oleh karena itu harap untuk di maklumi. Namun kiranya makalah ini bisa bermanfaat menambah pengetahuan bagi kita semua.

Kupang, 20 Juni 2011

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................... i DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang 1.2 .Tujuan & manfaat penulisan 1.3. Rumusan masalah 1 2 2

ii iii
IV

BAB II. PEMBAHASAN


2.1. Mineral Zeolit 2.2. Morfologi & Sistem Kristal Zeolit 2.3. Pengaktifan mineral zeolit 2.4. Crude Palm Oil (CPO) 2.5. Komposisi Mineral Zeolit 2.6. Pembentukan Mineral Zeolit 2.7. Perbedaan Zeolit Alam & Zeolit Sintesis 2.8. Pengolahan dan Pemanfaatan Mineral Zeolit 2.9. Potensi Zeolit Alam Di Indonesia 3 4 8 10 13 23 27 29 52

BAB III. PENUTUP


3.1. Kesimpulan 3.2. Saran 53 54 55

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Rangka zeolit yang terbentuk dari ikatan 4 atom O dengan 1 atom Si (Bell, 2001) 4 Gambar 2.2. Kerangka utama zeolit Gambar 2.3. Ukuran kristal zeolit Gambar 2.4. Struktur karoten Gambar 2.5. Struktur karoten Gam bar 2.6. Proses Alterasi Gambar 2.7. Proses Zeoponik Gambar 2.8. Pengaruh penggunaan zeolit dalam bidang pertanian dan perkebunan Gambar 2.9. Skematik proses pervaporasi Gambar 2.10. Diagram blok sistem pengukuran ultrasonic Gambar 2.11. Bagan pengujian Gambar 2.12. Skematik pengujian membran dalam proses pervaporasi Gambar 2.13. Penggunaan zeolit dalam kehidupan sehari-hari Gambar 2.14. Perkembangan Penggunaan Zeolit di dunia Gambar 2.15. Sebaran zeolit alam di Indonesia dan komposisi mineralnya 5 7 12 12 24 34 34 39 44 46 49 51 51 52

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Nama mineral zeolit dan rumus kimianya 1966) 1966) Tabel 2.4. Jenis-Jenis Mineral Zeolit Beserta Rumus Kimianya Tabel 2. 5. Proses-proses dalam pembuatan zeolit sintetis (Lefond, 1983) Tabel 2.6. Contoh penggunaan zeolit sintetis 14 16 16 18 29 29 Tabel 2. 2. Komposisi dan formula dari zeolit yang bertipe kalsik (Deer,1963 dalam Hay, Tabel 2.3. Komposisi dan formula zeolit yang bertipe alkalik (Deer, 1963 dalam Hay,

24

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yang dapat kita amati langsung dengan dekat maka banyak hal-hal yang dapat pula kita ketahui dengan cepat dan jelas. Salah satu diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan tersusun oleh beberapa jenis batuan yang berbeda satu sama lain. Dari jenisnya batuan-batuan tersebut dapat digolongkan menjadi 3 jenis golongan. Mereka adalah batuan beku (igneous rocks), batuan sediment (sedimentary rocks), dan batuan metamorfosa/malihan (metamorphic rocks). Batuan-batuan tersebut berbeda-beda materi penyusunnya dan berbeda pula proses terbentuknya. Kita tahu bahwa batuan adalah gabungan dari dua atau lebih mineral. Mineral adalah senyawa alami yang terbentuk melalui proses geologis. Istilah mineral dapat mempunyai bermacam-macam makna sukar untuk mendefinisikan mineral dan oleh karena itu kebanyakan orang mengatakan, bahwa mineral ialah satu frase yang terdapat dalam alam. Demikian pula suatu mineral memiliki bentuk kristalnya masing-masing sesuai dengan proses terbentuknya dan komposisinya. Salah satu contoh mineral yang ada, yaitu Zeolit. Zeolit merupakan senyawa alumino-silikat hidrat terhidrasi dengan unsur utama yang terdiri dari kation alkali dan alkali tanah terutama Ca, K dan Na, dengan rumus umum (LmAlx Sig O2nH2O) di mana L adalah logam. Sifat umum dari zeolit adalah kristal yang agak lunak dengan warna putih coklat atau kebiru-biruan. Senyawaan kristalnya berwujud dalam sruktur tiga dimensi yang tak terbatas dan memiliki rongga-rongga yang saling 6

berhubungan membentuk saluran ke segala arah dengan ukuran saluran tergantung dari garis tengah logam alkali ataupun alkali tanah yang terdapat pada srukturnya. Di mana rongga-rongga tersebut akan terisi oleh air yang disebut air kristal. Jadi, zeolit merupakan senyawa alumino silikat terhidrasi yang terdiri dari tetrahedral (Si, Al) dan dikelilingi oleh atomatom O dalam ikatan tiga dimensi. Mineral zeolit yang paling umum dijumpai adalah (Na,K) 2O, Al2O310SiO28H2O. Perbandingan antara atom Si dan Al yang bervariasi akan menghasilkan banyak jenis atau spesies zeolit yang terdapat di alam. Penggunaan zeolit pada umumnya didasarkan pada sifat-sifat kimia dan fisika zeolit, seperti penyerap, penukar kation dan katalis. 1.2. Tujuan & Manfaat Penulisan Tujuan dan manfaat penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang proses pembentukan hingga proses pengolahan dan pemanfaatan mineral zeolit. 1.3. Rumusan Masalah 1. Apa itu mineral zeolit? 2. Bagaimana proses pembentukan mineral zeolit? 3. Bagaimana Pengolahan & Pemanfaatan mineral zeolit?

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Mineral Zeolit Semenjak awal tahun 1940-an, ilmuwan Union Carbide telah memulai penelitiannya untuk mensintesis zeolit dan mereka berhasil mensintesis zeolit A dan X murni pada tahun 1950. Penemuan zeolit di dunia dimulai dengan ditemukannya Stilbit pada tahun 1756 oleh seorang ilmuwan bernama A. F. Constedt. Constedt menggambarkan kekhasan mineral ini ketika berada dalam pemanasan terlihat seperti mendidih karena molekulnya kehilangan air dengan sangat cepat. Sesuai dengan sifatnya tersebut maka mineral ini diberi nama zeolit yang berasal dari dua kata Yunani, zeo artinya mendidih dan lithos artinya batuan (Kirk-Othmer, 1981). Diberi nama zeolit karena sifatnya yaitu mendidih dan mengeluarkan uap jika dipanaskan (Dyer ,1994). Pada tahun 1784, Barthelemy Faujas de Saint seorang profesor geologi Perancis menemukan sebuah formulasi yang cantik hasil penelitiannya tentang zeolit yang dipublikasikan dalam bukunya Mineralogie des Volcans. Akhirnya berkat jasanya, pada tahun 1842 zeolit baru tersebut dinamai Faujasit. Zeolit merupakan senyawa alumino-silikat hidrat terhidrasi dengan unsur utama yang terdiri dari kation alkali dan alkali tanah terutama Ca, K dan Na, dengan rumus umum (LmAlx Sig O2nH2O) di mana L adalah logam. Sifat umum dari zeolit adalah kristal yang agak lunak dengan warna putih, coklat, atau kebiru-biruan, berat jenisnya 2-2,4. Zeolit alam terbentuk dari reaksi antara batuan tufa asam berbutir halus dan bersifat riolitik dengan air pori atau air meteorik. Penggunaan zeolit adalah untuk bahan baku pembersih limbah cair dan rumah tangga, untuk industri pertanian, peternakan, perikanan, industri kosmetik, industri farmasi, dan lain-lain. Mineral alam zeolit yang merupakan senyawa alumino-silikat dengan struktur sangkar terdapat di Indonesia seperti Bayah,Banten,Cikalong, Tasikmalaya, Cikembar, Sukabumi, Nanggung, Bogor, dan Lampung dalam 8

jumlah besar dengan bentuk hampir murni dan harga murah. Mineral zeolit mempunyai struktur framework tiga dimensi dan menunjukkan sifat penukar ion, sorpsi molecular sieving dankatalis sehingga memungkinkan digunakan dalam pengolahan limbah industri dan limbah nuklir. Zeolit juga ditemukan sebagai bantuan endapan pada bagian tanah jenis basalt dan komposisi kimianya tergantung pada kondisi hidrotermal linkungan lokal, seperti suhu, tekanan uap air setempat dan komposisi air tanah lokasi kejadiannya. Hal itu menjadikan zeolit dengan warna dan tekstur yang sama mungkin berbeda komposisi kimianya bila diambil lokasi yang berbeda, disebabkan karena kombinasi mineral yang berupa partikel halus dengan impuritis lainnya.Pada dasarnya zeolit merupakan mineral yang terdiri dari kristal alumuno silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensi. Zeolit biasanya ditulis dengan rumus kimia oksida atau berdasarkan satuan sel kristal Mc/n{(AlO2)c(SiO2)d}b H2O 2.2. Morfologi & Sistem Kristal Zeolit Zeolit berbentuk kristal aluminosilikat terhidrasi yang mengandung muatan positif dari ion-ion logam alkali dan alkali tanah dalam kerangka kristal tiga dimensi (Hay, 1966), dengan setiap oksigen membatasi antara dua tetrahedra (Gambar 2.1).

Gambar 2.1. Rangka zeolit yang terbentuk dari ikatan 4 atom O dengan 1 atom Si (Bell, 2001)

Zeolit pada dasarnya memiliki tiga variasi struktur yang berbeda yaitu: a. b. Struktur seperti rantai (chain-like structu re), dengan bentuk kristal Struktur seperti lembaran (sheet-like structu re), dengan bentuk kristal platy 9 acicular dan prismatic, contoh: natrolit. atau tabular biasanya dengan basal cleavage baik, contoh: heulandite.

c.

Struktur rangka, dimana kristal yang ada memiliki dimensi yang hampir Zeolit mempunyai kerangka terbuka, sehingga memungkinkan untuk yang

sama, contoh: kabasit. melakukan adsorpsi Ca bertukar dengan 2(Na,K) atau CaAl dengan (Na,K)Si. Morfologi dan struktur kristal yang terdiri dari rongga-rongga berhubungan ke segala arah menyebabkan permukaan zeolit menjadi luas. Morfologi ini terbentuk dari unit dasar pembangunan dasar primer yang membentuk unit dasar pembangunan sekunder dan begitu seterus nya. Seperti halnya mineral kuarsa dan felspar, maka mineral zeolit mempunyai struktur kristal 3 dimensi tetrahedra silikat (SiO4 ) yang biasa disebut tectosilicate. Dalam struktur ini sebagian silikon (tidak bermuatan atau netral) kadang-kadang diganti oleh aluminium bermuatan listrik, sehingga muatan listrik kristal zeolit tersebut bertambah. Kelebihan muatan ini biasanya diimbangi oleh kation-kation logam K, Na, dan Ca yang menduduki tempat tersebar dalam struktur zeolit alam yang bersangkutan. Dalam susunan kristal zeolit terdapat dua jenis molekul air, yaitu molekul air yang terikat kuat dan molekul air yang bebas. Berbeda dengan struktur kisi kristal kwarsa yang kuat dan pejal, maka struktur kisi kristal zeolit terbuka dan mudah terlepas. Volume ruang hampa dalam struktur zeolit cukup besar kadangkadang mencapai 50 Angstrom, sedangkan garis tengah ruang hampa tersebut bermacam-macam, berkisar antara 2A hingga lebih dari 8A, tergantung dari jenis mineral zeolit yang bersangkutan. Dibawah ini struktur stereotip clinoptilolit yang menjadi precursor dalam penelitian ini.
-4

Gambar 2.2. Kerangka utama zeolit

Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal inilah yang menjadi dasar penggunaan mineral zeolit sebagai bahan penyaring 10

(molecular sieving). Molekul zat yang disaring yang ukurannya lebih kecil dari ukuran garis tengah ruang hampa mineral zeolit dapat melintas, sedangkan yang berukuran lebih besar akan tertahan atau ditolak. Kapasitas atau daya saring mineral zeolit tergantung dari volume dan jumlah ruang hampanya. Makin besar jumlah ruang hampa, maka makin besar pula daya saring zeolit alam yang bersangkutan. Mineral zeolit mempunyai struktur
-4 tiga dimensi tetrahedral (SiO4 ) yang biasa disebut tektosilikat, dimana

masing-masing berhubungan dengan ion silicon sebagai pusatnya, sehingga masing-masing atom oksigen terdapat diantara atom silicon dan aluminium. Setiap atom terikat oleh dua struktur yang tetrahedral. Struktur yang hanya terdiri dari silicon dan oksigen ini bersifat netral. Dalam struktur zeolit terdapat pergantian silicon bervalensi empat dengan aluminium bervalensi tiga. Dalam struktur ini sebahagian silicon (tidak bermuatan listrik atau netral ) dapat diganti oleh aluminium (bermuatan listrik) sehingga muatan listrik zeolit tersebut bertambah. Kelebihan muatan ini biasanya diimbangi oleh kation logam, seperti K, Na, Ca, yang menduduki tempat-tempat tersebar struktur Kristal mineral zeolit. Pada zeolit terjadi pergantian maksimum Si perbandingan 1:1,
+4 +3

dalam

oleh Al

dengan

sedangkan pergantian maksimum 1: 5, seperti yang

terdapat pada zeolit jenis modernit. Setiap tetrahedral oksigen adalah unit pembangun primer. Unit pembangun sekunder terbentuk dari penggabungan tetrahedral oksigen, membentuk cincin lingkar 4, 6 dan 8 atau gabungan 2 cincin lingkar 6 dan dua cincin lingkar 4. Struktur kisi Kristal zeolit terbuka dan mudah lepas. Volume ruang kosong dalam struktur zeolit cukup besar, kadang-kadang mencapai 50A , sedang garis ruang tengah kosong tersebut bermacam-macam, berkisar 2A hingga lebih besar dari 8A , tergantung dari jenis mineral zeolit yang bersangkutan. Volume dan ukuran garis tengah ruang kosong dalam kisi-kisi Kristal inilah yang menjadi dasar penggunaan mineral zeolite sebagai bahan penyaring molekul (molekul sieving).
0 0 0

11

Gambar 2.3. Ukuran kristal zeolit

2.2.1. Daya serap Dalam keadaan normal maka ruang-ruang rongga dalam Kristal zeolit terisi oleh molekul air bebas yang membentuk bulatan di sekitar kation. Bila Kristal tersebut dipanaskan selama beberapa jam, biasanya pada temperatur 200-300 C, tergantung dari jenis mineral zeolitnya, maka molekul-molekul air pada rongga-rongga tersebut berfungsi akan keluar, sehingga zeolit yang bersangkut an dapat sebagai penyerap gas atau cairan. Daya serap mineral zeolit tergantung dari jumlah ruang kosong dan luas permukaan. Molekul air yang terdapat dalam ronggarongga saluran masuk yang diperkirakan dapat mencapai jumlah 1025% dari berat zeolitnya bila dikeluarkan, maka molekul-molekul yang mempunyai garis tengah lebih kecil dari saluran masuk pada zeolit, akan dapat diserap kebagian permukaan dari pusat rongga tersebut. Molekul- molekul yang lebih besar dari saluran rongga , tidak akan dapat masuk kedalamnya. Kemampuannya menyerap berdasarkan selektifitas ukuran garis tengah ruang kosong molekul, juga pemilihan molekul-molekul zat yang diserap. Distribusi dari muatan yang tidak lazim didalam rongga yang sudah didehidrasi menyebabkan beberapa bahan dengan dua kutub (dipole) akan dapat diserap. Apabila ada dua molekul atau lebih yang dapat melintasi saluran rongga, tetapi karena adanya pengaruh kutub 12
0

atau hubungan antara molekul-molekul zeolit itu sendiri dengan zat-zat yang diserap, maka hanya satu buah saja yang diloloskan sedang yang lain ditahan atau ditolak. Hal ini merupakan suatu sifat yang tidak terdapat pada penyerapan oleh bahan jenis lain. CO2 yang polar akan lebih disukai untuk diserap oleh zeolit dibandingkan dengan CH4 yang bukan polar. Molekul yang berkutup atau tidak jenuh diterima daripada yang tidak berkutup atau jenuh. 2.3. Pengaktifan mineral zeolit Pengaktifan zeolit dimaksudkan sebagai suatu usaha untuk memodifikasi keadaan pada struktur kerangka atau non kerangka zeolit sehingga diperoleh sifat-fisika- kimia zeolit yang diinginkan. Pada zeolit alam, pengaktifan memberikan efek pencucian atau penghilangan komponen pengotor yaitu (impurities) dari mineral zeolit. Pengaruh pengaktifan zeolit, dapat memurnikan zeolite dari komponen

pengotor, menghilangkan jenis

kation logam tertentu dan molekul air yang terdapat dalam rongga, atau memperbesar volume pori, sehingga memiliki kapasitas yang lebih tinggi. Oleh sebab itu zeolit alam perlu diaktifkan terlebih dahulu sebelum digunakan, untuk mempertinggi daya kerjanya. Pengaktifan zeolit dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain: 1. 2. 3. Pemanasan dalam jangka waktu dan suhu tertentu. Mengubah atau mempertukarkan kation yang dapat dipertukarkan Mengubah ratio perbandingan Si/Al dengan perlakuan dealuminasi

2.3.1. Pengaktifan dengan Pemanasan Pemanasan terhadap zeolit alam bertujuan untuk mengeluarkan air atau garam pengotor dari dalam rongga-rongga kristal zeolit. struktur Kemampuan atau sifat pertukaran kation zeolit teruatama selektifitas dan kapasitas pertukarannya akan sangat ditentukan oleh kristalnya. Pemakaian panas terlalu tinggi menyebabkan terjadinya pelepasan aluminium dari struktur kerangka tetrahedral zeolit. Menurut Barrer (1982) aktifasi pemanasan yang terlalu OH tinggi pada akan struktur 13 menyebabkan terjadinya dehidroksilasi gugus

zeolit. Akibat gugus hidroksil. zeolit tersebut

terjadinya pemutusan ikatan Si-O-Al, menyebabkan Akibatnya bila terjadi kerusakan pada struktur maka kemempuan pada jenis mempertukarkan kation dan terhadap mineral zeolitnya kestabilan kandungan

pembentukan gugus siloksan (Si-O-Al) dan aluminium yang miskin

adsorbsinya berkurang/menurun. Kestabilan zeolit temperatur tergantung

(perbandingan Si dengan Al, dan kation yang terdapat dalam zeolit). Umumnya zeolit dengan silika lebih banyak mempunyai
0

yang lebih besar. Clinoptilolit alam yang kaya akan kalsium rusak pada temperature 500 C, jika kationnya diganti dengan kalium, maka akan tetap utuh pada temperature 800 C. komposisi kation yang berbeda dan perbandingan Si dan Al yang berbeda dan perbandingan Si dengan Al yang berbeda pada beberapa zeolit alam menyebabkan kestabilannya pada temperature yang berbeda- beda. Seperti modernit yang stabil pada 800-1000 C sedangkan philipsit stabil pada 360-400 . 2.3.2. Pengaktifan dengan Pengasaman Yang kedua aktivasi zeolit secara kimia dengan tujuan untuk membersihkan permukaan pori, membuang senyawa pengotor dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. Proses aktivasi zeolit dengan perlakuan asam HCl pada konsentrasi 0,1N hingga 1N menyebabkan zeolit mengalami dealuminasi dan dekationisasi yaitu keluarnya Al dan kation-kation dalam kerangka zeolit. Aktivasi asam menyebabkan terjadinya dekationisasi yang menyebabkan bertambahnya luas permukaan zeolit karena berkurangnya pengotor yang menutupi pori-pori zeolit. Luas permukaan yang bertambah diharapkan penjerapan. meningkatkan Tingginya kemampuan Al zeolit dalam dalam kerangka proses zeolit kandungan
0 0 0

menyebabkan kerangka zeolit sangat hidrofilik. Sifat hidrofilik dan polar dari zeolit ini merupakan hambatan dalam kemampuan meningkatkan penjerapannya. Proses aktivasi dengan asam dapat
+

kristalinitas, keasaman dan luas permukaan. Setiap oksigen dalam ikatan ini cenderung akan mengikat H membentuk OH atau gugus 14

silanol yang bersifat polar. Ion hydrogen pada gugus hidroksilini siap dipertukarkan dengan kation lain. Pada keadaan netral atau agak asam, dapat terjadi hidrolisis akan menyebabkan kenaikan pada pH dengan reaksi : SiO2 Keadaan
-

+ H2O yang

SiOH demikian akan

+ OH

-+

menyebabkan

kapasitas

pertukarannya meningkat. Pada harga konsentrasi tertentu, asam juga menghidrolisa aluminium dari kerangka zeolit yang menyebabkan struktur menjadi rusak. Bila proses dealuminasi dilakukan berlebihan maka akhirnya Si(OH)4 mudah berpolimerisasi dan terjadi pemisahan gugus OH (dehidroksilasi), membentuk Si O-Si yang merupakan ikatan yang kuat. Hasil dari proses dealuminasi zeolit ini berbentuk silica gel, seperti pada pemanasan yang terlalu tinggi dan terbentuk bahan amorf sebagai bahan akhir. Secara umum konse ntrasi larutan asam serta jenis asam yang dipergunakan di dalam aktivasi akan mempengaruhi sifat pertukaran dan struktur kristal dari mineral zeolit. Berdasarkan kelarutan di dalam Asam Klorida (HCl), Bogda nova dan Belitsky (1968) membagi zeolit dalam empat kelompok :sangat resisten, resisten, sedikit resisten, sedang klinoptilolit resisten. Keadaan ini merupakan sifat dari struktur Kristal dan ratio Si/Al yang dimiliki oleh masing-masing jenis zeolit tersebut. 2.4.Crude Palm Oil (CPO) Minyak sawit tersusun dari unsur-unsur C, H, dan O. Minyak sawit ini terdiri dari fraksi padat dan fraksi cair dengan perbandingan yang seimbang. Penyusun fraksi padat terdiri dari asam lemak jenuh antara lain asam miristat (1%), asam palmitat (45%), dan asam stearat. Sedangkan fraksi cair terdiri dari asam lemak tidak jenuh yang terdiri dari asam oleat (39%) dan asam linoleat (11%). Komposisi tersebut ternyata agak berbeda jika dibandingka n dengan minyak nabati inti sawit dan minyak kelapa. 15

Kandungan minor dalam minyak sawit berjumlah kurang lebih 1%, antara lain terdiri dari karoten, tokoferol, sterol, alkohol, triterpen, fosfolida. Dua unsur yang pertama di sebut, yaitu karoten dan tokoferol mempunyai nilai lebih dibandingkan unsur yang lain karena kedua unsur itu diketahui meningkatkan kemantapan minyak terhadap oksidasi. Dengan kata lain, keberadaan kedua unsur itu dalam suatu jenis minyak menyebabkan minyak relatif tidak mudah tengik. Selain itu karoten mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai bahan obat anti kanker. Sedangkan tokoferol dimanfaatkan sebagai sumber vitamin E. Minyak sawit yang digunakan sebagai produk pangan biasanya dihasilkan dari minyak sawit maupun minyak inti sawit melalui proses fraksinasi, rafinasi, dan hidrogenasi. Dewasa ini, produksi CPO Indonesia sebagian besar difraksinasi sehingga dihasilkan fraksi olein cair dan fraksi stearin padat. Dari nilai gizinya, pengggu naan minyak sawit sebagai minyak goreng sangat menguntungkan. Adanya karoten dan tokoferol yang terkandung di dalamnya menyebabkan minyak sawit ini perlu dikembangkan sebagai sumber vitamin. Selain itu, minyak sawit dapat dikatakan sebagai minyak goreng non-kolesterol (kadar kolesterolnya rendah). Minyak sawit sebagai bahan dalam industri farmasi, terutama dikaitkan dengan kandungan karoten dan tokoferol. Karoten, atau dikenal juga sebagai pigmen warna jingga, menyebabkan warna minyak sawit menjadi kuning jingga. Warna minyak sawit yang demikian ini kurang di sukai konsumen, sehingga dalam proses nya, karoten ini biasa nya di buang. Padahal sebenarnya karoten menyimpan potensi yang cukup berharga karena para peneliti berhasil membuktikan bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai obat kanker paru-paru dan payudara. Kandungan karoten dalam minyak sawit mencapai 0,25-1,26 ppm. Sedangkan kandungan karoten dalam CPO berkisar antara 500-700 ppm, yang terdiri dari 36% karoten dan 54% karoten. Selain obat anti kanker, karoten juga merupakan sumber provitamin A yang cukup potensial. Karoten yang terdiri dari karoten dan karoten ini, tersimpan di dalam daging buah kelapa sawit.

16

Gambar 2.4. Struktur karoten

Gambar 2.5. Struktur karoten

karoten merupakan provitamin A (bahan pembentuk vitamin A) dalam proses metabolisme minyak, biasanya di dalam tubuh. Dalam proses pembuatan telah berhasil karoten dibuang. Namun, sekarang

ditemukan metode baru proses pengolahan sehingga karoten terpisah dari minyak sawit. (stearin) dan Dalam proses pengolahan tersebut, minyak sawit yang fase cair (olein) pada proses fraksinasi. Untuk mengandung karoten antara 600-1000 ppm dipisahkan menjadi fase padat mempermudah pemisahan kedua bentuk minyak sawit tersebut, dilakukan proses degumming yaitu pengeluaran gum dari minyak. Selanjutnya, minyak didinginkan akhirnya pada suhu lemak 18-20 C sehingga asam lemak tidak jenuh (olein) meningkat,
o

jenuh akan nya dan kandungan

mengkristal. Akibatnya, karoten tidak dapat larut di dalam asam karotennya menjadi sekitar 80%.

Tahap berikutnya adalah pemisahan karoten dari minyak dengan pemucatan dan ekstraksi karoten dari bahan pemucat. Pemucatan dalam metode lama dilakukan pada suhu 90 C dengan konsentrasi bahan pemucat 22,5% (bahan pemucat yang biasanya di pakai adalah karbon aktif dan tanah pemucat). Penggunaan metode ini mengakibatkan kerusakan karoten. Dengan metode yang telah diperbaharui, pemucatan dilakukan pada suhu 50 C selama satu jam, konsentrasi bahan pemucat yang digunakan sebesar 10%. Selanjutnya dilakukan penyaringan. Perubahan metode ini mengakibatkan karoten tidak rusak dan minyak sawit tetap diperoleh. 17
o o

Selanjutnya karoten yang terkandung dalam tanah pemucat diekstraksi secara bertahap. Langkah pertama adalah melunakkan tanah pemucat dengan aseton, dan perbandingan penambahannya adalah 1:1. Untuk

melapaskan karoten dilakukan penyabunan dengan tambahan larutan KOH atau alcohol sebanyak 12,5%. Setelah itu, karoten yang terlepas diambil dengan cara menambahkan petroleum eter secukupnya dan diaduk. Dengan cara destilasi, karoten yang terdapat pada petroleumeter dikristalkan. 2.5. Komposisi Mineral Zeolit Mineral zeolit merupakan sekelompok mineral yang terdiri dari beberapa jenis (species) mineral. Secara umum mineral zelolit mempunyai rumus kimia sebagai berikut: Mx/n(AlO2)x(SiO2)y.H2O

dimana : n = valensi dari kation logam w = bilangan molekul air per unit cell zeolit x dan y = bilangan total tetrahedral per unit cell dan perbandingan x /y selaku berkisar 1 sampai 5. Berdasarkan hasil analisa kimia total, kandungan unsur-unsur zeolit dinyatakan sebagai oksida SiO2, Al2O3, CaO, MgO, Na2O, K2O dan Fe2O3. Akan tetapi di alam tergantung pada komponen bahan induk dan keadaan lingkungannya, maka perbandingan Si/Al dapat bervariasi, dan juga unsur Na, Al, Si, sebagian dapat disubstitusikan oleh unsur lain. Parameter kimia yang penting dari zeolit adalah perbandingan Si/Al, yang menunjukkan persentase Si yang mengisi di dalam tetrahedral, jumlah kation monovalen dan divalen, serta molekul air yang terdapat didalam saluran kristal. Perbedaan kandungan atau perbandingan Si/Al akan berpengaruh terhadap ketahanan zeolit terhadap asam atau pemanasan. Ikatan ion Al-Si-O adalah pembentuk struktur kristal sedangkan logam alkali adalah kation yang mudah tertukar (exchangeable cation). Jumlah molekul air menunjukka n jumlah pori-pori atau volume ruang kosong yang terbentuk bila unit sel kristal tersebut dipanaskan. 18

Hingga kini sudah 40 jenis (species) mineral zeolit yang telah diketahui. Dari jumlah tersebut, hanya 20 jenis saja yang diketahui terdapat dalam bentuk sedimen, terutama dalam bentuk piroklastik. Nama dan rumus kimia mineral zeolit yang terdapat dalam piroklastik (tufa) tercantum dalam tabel.
Tabel 2.1. Nama mineral zeolit dan rumus kimianya

NO

Nama Mineral 1 Analsim 2 Kabasit 3 Klinoptilolt 4 Erionit 5 Paujasit 6 Perrierit 7 Wairakit 8 Yugawaralit 9 Pillipsit 10 11 12 13 14 15 Epistilbit Gismondin Connardit Harmotom Natrolit Scolecit

Rumus kimia unit sel Na16(Al16Si16O96).16H2O (Na2Ca)6(Al12Si24O72).40H2O (Na4K4)(Al8Si40O96).24H2O (Na7Ca5K)9(Al9Si27O72).27H2O (Na58(Al58Si134O384).18H2O (Na2Mg2)(Al6Si30O72).18H2O Ca(Al2Si4O12).2H2O Ca(Al2Si4O12).6H2O (Na,K)10(Al10Si22O64).20H2O (Ca,Na2)3(Al6Si18O48).16H2O (Na,Ca2,K2)4(Al8,Si8O48).16H2O (Na2Ca)(Al4Si6O20).5H2O (Ba,Na2)2(Al4Si12O32).12H2O Na4(Al4Si6O20).4H2O Ca2(Al4Si6O20).6H2O

2.5.1. Penggolongan Mineral Zeolit Secara umum sifat mineral zeolit dapat digolongkan menjadi: 1. Berdasarkan cara dan lingkungan terbentuknya zeolit a. Zeolit yang terbentuk pada temperatur yang tinggi, dimana pada masing-masing temperatur tertentu akan terbentuk jenis zeolit tertentu pula. Yang termasuk dalam grup ini adalah akibat dari proses magmatik primer, proses metamorfosa kontak, hidrotermal, dan regional. b. Zeolit yang terbentuk didekat permukaan lingkungan sedimentasinya dengan perubahan proses kimia merupakan faktor 19

utama. Yang termasuk grup ini adalah sebagai akibat pengaruh pergerakan air tanah, pelapukan ataupun karena sifat alkalin. c. d. 2. Zeolit yang terbentuk pada suhu rendah pada lingkungan Zeolit yang terbentuk sebagai akibat dari terbentuknya craters di Berdasarkan rasio Si/Al Zeolit secara umum dibedakan dalam tipe yang calcic dan alkaliarich, dengan komposisi yang berbeda, berikut komposisi dan formula dari zeolit. Selain jenis zeolit alam, ada zeolit jenis lain yaitu zeolit sintetis. Zeolit sintetis dibuat dengan rekayasa yang sedemikian rupa sehingga mendapat kan karakter yang sama dengan zeolit alam. Zeolit sintetis sangat bergantung pada jumlah Al dan Si, sehingga ada 3 kelompok zeolit sintetis: a. Zeolit silika rendah dengan perbandingan Si/Al adalah 1:5, memiliki konsentrasi kation paling tinggi, dan mempunyai sifat adsorpsi yang optimum,. Zeolit jenis ini banyak mengandung Al, berpori, mempunyai nilai ekonomi tinggi karena efektif untuk pemisahan dengan kapasitas besar. Volume porinya dapat mencapai 0,5 cm3 tiap cm3 volume pengendapan laut. lingkungan dasar laut yang menghasilkan fase hidrotermal.

zeolit. Contoh zeolit silika rendah adalah zeolit A dan X. b. Zeolit silika sedang, Jenis zeolit modernit mempunyai perbandingan Si/Al = 5 sangat stabil, maka diusaha kan membuat zeolit Y dengan perbandingan Si/Al = 1-3. Contoh zeolit sintetis jenis ini adalah zeolit omega, Mordernit, Erionit, Klinoptilolit, zeolit Y.

Tabel 2. 2. Komposisi dan formula dari zeolit yang bertipe kalsik

20

(Deer,1963 dalam Hay, 1966)

Nama Stilbit Kabasit Heuland Epistilbi Filipsit Gismond Laumo nt Skolesit Thomso Wairakit

Kation Ca, Na dominan Ca, Na Ca, Na Ca, Na Ca, Na Ca, Na Ca Ca Ca, Na Ca

Rumus kimia Ca0,5AlSiM2,63,5 O7,29,2 8-3,5H2 O Ca0,5AlSi1,73,0 O5,48,0 7-4H2 O Ca0,5AlSi2,73,7 O7,49,42,5-3,1H2 O Ca0,5AlSi2,43,2 O7,88,42,6-2,8H2 O Ca0,5 AlSi1,32,2 O4,66,41,7-2,4H2 O Ca0,5AlSi11,2 O44,42-2,2H2 O Ca0,5AlSi2 O62H2 O Ca0,5AlSi1.5 O51.5H2 O Ca0,5AlSi11.1 O49,2 2H2 O Ca0,5AlSi2 O6H2 O

Massa 2,18 jenis 2,08 2,18 2,25 2,0-2,3 2,1-2,2 2,29 2,27 2,37 2,265

Tabel 2.3. Komposisi dan formula zeolit yang bertipe alkalik (Deer, 1963 dalam Hay, 1966)

Nama Faujasit Klinoptilo Mordenit Erionit Kabasit Filipsit Gonardit Analsim Natrolit

Kation Na, Ca dominan K, Na, Ca Na, Ca Na, K, Ca Na, Ca K, Na, Ca Na, Ca Na Na

Rumus kimia NaAlSi2,4 O7,2 4.6H2 O NaAlSi4,25 O10,412 3,5-4H2 O NaAlSi4,55 O1112 3,2-3,5H2 O NaAlSi33,5 O893-3,4H2 O NaAlSi1,73 O5,482,7-4H2 O NaAlSi1,33,4 O4,68,8 1,7-3,3H2 O NaAlSi1,11,4 O4,44,8 1,2-1,3H2 O NaAlSi 22,8 O67,6 1-1,3H2 O NaAlSi1,5 O5 H2 O

Massa 1.92 jenis 2.13-2.17 2.12 2.07 2.08 2.0-2.3 2.27 2.26 2.24

c. Zeolit silika tinggi, dengan perbandingan kadar Si/Al antara 10:100, bahkan lebih. Zeolit jenis ini sangat higroskopis dan menyerap molekul non polar sehingga baik untuk digunakan sebagai katalisator asam untuk hidrokarbon. Zeolit jenis ini misalnya zeolit ZSM-5, ZSM-11, ZSM-21, ZSM-24. 3. Berdasarkan bahan baku pemanfaatannya a. Zeolit alam merupakan jenis-jenis zeolit yang tersedia di alam. Pada saat ini dikenal sekitar 40 jenis zeolit alam, meskipun yang mempunyai nilai komersial ada sekitar 12 jenis, diantaranya klinoptilolit, mordernit, filipsit, kabasit dan erionit. Pada umumnya, zeolit dibentuk oleh reaksi dari air pori dengan berbagai material seperti gelas, silika. Bentukan zeolit poorly cristalline clay, plagioklas, ataupun

mengandung perbandingan yang besar dari M2+ dan H+ pada Na+, 21

K+ dan Ca2+. Pembentukan zeolit alam ini terga ntung pada komposisi dari batuan induk, temperatur, tekanan, tekanan parsial dari air, pH dan aktifitas dari ion-ion terte ntu. b. Zeolit sintetik adalah suatu senyawa kimia yang mempunyai sifat fisik dan kimia yang sama dengan zeolit yang ada di alam, dibuat dari bahan lain dengan proses sintetis, dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menyerupai zeolit yang ada di alam. Mineral zeolit sintetis yang dibuat tidak dapat persis sama dengan mineral zeolit alam, walaupun zeolit sintetis mempunyai sifat fisis yang jauh lebih baik. Beberapa ahli menamakan zeolit sintetis sama dengan nama mineral zeolit alam dengan menambahkan kata sintetis di belakangnya, dalam dunia perdagangan muncul nama zeolit sintetis seperti zeolit A, zeolit K-C dll. Zeolit sintetis terbentuk ketika gel yang ada terkristalisasi pada temperatur dari temperatur kamar sampai dengan 200C pada tekanan atmosferik ataupun autogenous. Metode ini sangat baik diterap kan pada logam alkali untuk menyiapkan campuran gel yang reaktif dan homogen (Breck, 1974; Breck & Flanigen, 1968 dalam Lefond, 1983). Struktur gel terbentuk karena polimerisasi anion aluminat dan silikat. Komposisi dan struktur gel hidrat ini ditentukan oleh ukuran dan struktur dari jenis polimerisasi. Zeolit dibentuk dalam kondisi hidrothermal, bahan utama pembentuknya adalah aluminat silikat (gel) dan berbagai logam sebagai kation. Komposisi gel, sifat fisik dan kimia reaktan, serta jenis kation dan kondisi kristalisasi sangat menentukan struktur yang diperoleh. Berikut adalah beberapa contoh jenis mineral zeolit beserta rumus kimianya:

Tabel 2.4. Jenis-Jenis Mineral Zeolit Beserta Rumus Kimianya

22

Nama Mineral

Rumus Kimia

Gambar

Analsim

Na16(Al16Si32O96). 16H2O

Kabasit

(Na2,Ca)6(Al12Si24O72). 40H2O

Klipnoptolotit

(Na4K4)(Al8Si40O96). 24H2O

Ferrierit

(Na2Mg2)(Al6Si30O72). 18H2O

Heulandit

Ca4(Al8Si28O72). 24H2O

Laumonit

Ca(Al8Si16O48). 16H2O

Mordenit

Na8(Al8Si40O96). 24H2O

23

Filipsit

(Na,K)10(Al10Si22O64). 20H2O

Natrolit

Na4(Al4Si6O20). 4H2O

2.5.2 Sifat Fisika & Kimia Mineral Zeolit Mineral zeolit adalah kelompok mineral alumunium silikat terhidrasi Lm Alx Siy Oz nH2O, dari logam alkali dan alkali tanah (terutama Ca, dan Na), m, x, y, dan z merupakan bilangan 2 hingga 10, n koefisien dari H2 O, serta L logam. Zeolit secara empiris ditulis (M+, M2+ )Al2 O3gSiO2 zH2 O, M+ berupa Na atau K dan M2+ berupa Mg, Ca, atau Fe. Li, Sr atau Ba dalam jumlah kecil dapat menggantikan M+ atau M2+, g dan z bilangan koefisien. Beberapa specimen zeolite berwarna putih, kebiruan, kemerahan, coklat, dll., karena hadirnya oksida besi atau logam lainnya. Densitas zeolit antara 2,02,3 g/cm3, dengan bentuk halus dan lunak. Kilap yang dimiliki bermacam-macam. Struktur zeolit dapat dibedakan dalam tiga komponen yaitu rangka aluminosilikat, ruang kosong saling berhubungan yang berisi kation logam, dan molekul air dalam fase occluded (Flanigen, 1981 dalam Harben & Kuzvart, 1996). Sifat-sifat unik zolit meliputi dehidrasi, adsorben dan penyaring molekul, katalisator dan penukar ion dan katalis. Penjabarannya adalah sebagai berikut: 2.5.2.1. SIFAT FISIKA A. Morfologi 24

a. b. c. d. e. f. g. a. b. sieve).

Mineral zeolit yang terdapat di batu-batuan dapat berupa Dense pollycrystalline aggregate; tahan dengan segala

kristal tunggal (single crystal) dengan ukuran beberapa mm. perubahan cuaca. Zeolit yang terpisah dikenal sebagai serpihan. Mineral zeolit ditemukan pada batuan sedimen. Kristal berbutiran halus (fine grain). Sulit diindetifikasi dari sifat-sifat optisnya dan baru dapat

diamati setelah ditemukan XRD untuk powder . Zeolit sintesis Umumnya berbentuk polikristalin. Jumlah tetrahedra (Si / Al penyusun cincin): 4MR, 8MR,12MR. Selektif berdasarkan ukuran pori (size selective _molecular Sifat zeolit sebagai adsorben dan penyaring molekul B. Ukuran pori

dimungkinkan karena struktur zeolit yang berongga, sehingga zeolit mampu menyerap sejumlah besar molekul yang berukuran lebih kecil atau sesuai dengan ukuran rongganya. Selain itu kristal zeolit yang telah terdehidrasi merupakan adsorben efektivitas adsorpsi yang tinggi. C. Densitas/Kerapatan a. Kerapatan zeolit cukup rendah, berkisar antara 1,9 2,3 g/ml. b. Dipengaruhi oleh keterbukaan kerangka dan jenis kation. c. Meningkat bila dilakukan pertukaran kation dengan ion logam yang berat BaZeolit 2,8 g/ml . d. Diamond . yang selektif dan mempunyai

D. Warna a. Pada keadaan murni (pure state), mineral zeolit tidak berwarna Colourless. b. Berwarna (bila ada pengotor logam-logam transisi). c. Besi berwarna pink pada Chabazite. 25

d. Bubuk dari zeolit sintesis: Putih (umumnya). e. Pertukaran kation: Golongan IA atau IIA ditukar dengan logam transisi dapat memberikan warna pada zeolit yang bergantung dari tingkat hidrasi dari kation tersebut. f. Ni-zeolite: lilac (terhidrasi) berwarna light green (dehidrasi). g. Co-zeolite: pink (terhidrasi) dan biru (dehidrasi). h. Perubahan warna pada zeolite dapat digunakan sebagai indikator adanya uap air . E. Daya hantar listrik a. Dipengaruhi oleh kehadiran kation dan molekul air dalam rongga (cavities). b. Hantaran listrik pada zeolit bersifat ionik, disebabkan oleh perpindahan kation-kation. 2.5.2.2. SIFAT KIMIA A. Air dalam zeolit Zeolit mempunyai beberapa sifat antara lain mudah melepas air akibat pemanasan, tetapi juga mudah mengikat kembali molekul air dalam udara lembab. Pada umumnya struktur kerangka zeolit akan menyusut. Tetapi kerangka dasarnya tidak mengalami perubahan secara nyata. Disini molekul H2O seolah-olah mempunyai posisi yang spesifik dan dapat dikeluarkan secara reversibel. Bila merupakan bagian dari pembentuk kerangka berikatan hidrogen dengan O atau Si-OH: a. Bila dipanaskan secara mendadak dapat meyebabkan kerangka rusak. b.Proses hidrasi/dehidrasi kadang irreversible. Bila bukan merupakan bagian dari pembentuk kerangka: a.Ikatan dengan kerangka lemah membentuk ikatan Van der Waals. b.Bila dipanaskan dapat terusir seluruhnya. c.Proses reversible: air keluar = air masuk. B. Pengaruh pertukaran kation 26

Keberadaan

atom

aluminium

ini

secara

keseluruhan

akan

menyebababkan zeolit memiliki muatan negatif. Muatan negatif inilah yang menyebabkan zeolit mampu mengikat kation. Sifat zeolit sebagai penukar ion karena adanya kation logam alkali dan alkali tanah. Kation tersebut dapat bergerak bebas di dalam rongga dan dapat dipertukarkan dengan kation logam lain dengan jumlah yang sama. Akibat struktur zeolit berongga, anion atau molekul berukuran lebih kecil atau sama dengan rongga dapat masuk dan terjebak. Pertukaran kation biasanya diikuti dengan perubahan yang dramatis pada kestabilan termal, sifat adsorpsi, selektivitas dan aktivitas katalisis. Contoh pertukaran kation, yaitu: Pertukaran kation untuk memperoleh H-zeolit a. b. c. zeolit a. b. c. d. e. Kation: jenis, ukuran (terhidrat / anhidrat). Suhu mempengaruhi kinetika reaksi. Konsentrasi kation dalam larutan. Anion yang berpasangan dengan kation tersebut dalam larutan. Pelarut (sebagian besar pertukaran ion dilakukan dalam Na, K Zeolite + NH4+ NH4 Zeolite + Na+, K+ NH4- Zeolite H - Zeolite (dilakukan pada T tinggi, terjadi NH4- Zeolite H - Zeolite + NH3(g)

thermolysis/ penguraian NH3). Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat pertukaran kation pada

pelarut air, aqueous) C. Kemampuan sebagai katalis Kemampuan zeolit sebagai katalis berkaitan dengan tersedianya pusat-pusat aktif dalam saluran antar zeolit. Pusat-pusat aktif tersebut terbentuk karena adanya gugus fungsi asam tipe Bronsted maupun kedua jenis asam ini tergantung pada proses Lewis. Perbandingan

aktivasi zeolit dan kondisi reaksi. Pusat-pusat aktif yang bersifat asam ini selanjutnya dapat mengikat molekul-molekul basa secara kimiawi. Sifat katalitis zeolit disebabkan kation pada atom Al zeolit yang dapat dipertukarkan dengan ion H dan aktif sebagai katalisis reaksi. 27

2.6. Pembentukan Mineral Zeolit Secara geologi, zeolit ditemukan dalam batuan tufa dari reaksi antara batuan tufa asam berbutir halus dan bersifat riolitik dengan air pori atau air meteoric (air hujan). Zeolit terbentuk dari hasil sedimentasi debu vulkanik yang telah proses alterasi. Ada empat proses sebagai gambaran awal mengalami

terbentuknya zeolit, yaitu proses sedimentasi debu vulkanik pada lingkungan danau yang bersifat alkali, proses alterasi, proses diagenesis dan proses hidrotermal. 1. Proses sedimentasi Pada tahap ini, terbentuk karena proses sedimentasi, yakni meliputi pelapukan, dapat berupa pelapukan fisik maupun pelapukan kimia. Erosi dan transportasi terutama dilakukan oleh media air. Proses pengendapan terjadi jika energi transport sudah tidak mampu mengangkut detritus tersebut. Kerangka tektonik pada suatu proses sedimentasi adalah sebagai kombinasi antara adanya penurunan (subsiding), keadaan stabil dan pengangkatan (rising) dari elemen-elemen tektonik di daerah batuan asal dan daerah pengendapan.
2. Alterasi

Alterasi merupakan perubahan komposisi mineralogi batuan (dalam keadaan padat) karena pengaruh suhu dan tekanan yang tinggi, dan tidak dalam kondisi isokimia menghasilkan mineral lempung, kuarsa, oksida atau sulfida logam. Proses alterasi merupakan peristiwa sekunder pembentukan batuan. Alterasi terjadi pada intrusi batuan beku yang mengalami pemanasan dan pada struktur tertentu yang memungkinkan masuknya air meteoric untuk dapat mengubah komposisi mineralogi batuan.

28

Gambar 2.6. Proses Alterasi

3. Proses Diagenesis Diagenesis merupakan proses fisika, kimia dan biologi yang secara umummengubah sedimen menjadi batuan sedimen. Diagenesis kemungkinan berlanjut bekerja setelah sedimen menjadi batuan, mengubah tekstur dan mineraloginya. Proses diagenesis material organik yang diakibatkan oleh proses biologis lebih dominan terjadi dalam sedimen yang baru terendapkan (recently deposited) dan biasa terjadi pada kedalaman hingga 2 km serta temperatur maksimal 75oC. Proses diagenesis, antara lain: a.Kompaksi 29

Kompaksi adalah proses yang menyebabkan volume sedimen berkurang. Ini dihasilkan oleh tekanan penutup (overburden), yang diakibatkan oleh berat dari sedimen dan batuan di atasnya. Tekanan ini mengakibatkan penyusunan kembali butiran dan pengeluaran fluida, hal ini menghasilkan pengurangan porositas batuan sedimen. Kemungkinan tingkat kompaksi merupakan fungsi dari ukuran butir, bentuk butir, pemilahan, porositas awal dan jumlah fluida yang terdapat dalam sedimen. b. Rekristalisasi dan pelarutan adalah proses dimana kembali kondisi fisika dan kimia butir pengorientasian kristal lattice pada Rekristalisasi menyebabkan

mineral. Rekristalisasi bekerja melalui pelarutan dan presipitasi dari fase mineral yang terdapat pada batuan. Ketika fluida melewati batuan atau sedimen, komponen pada sedimen yang tidak stabil karena tekanan, pH, dan temperatur akan mengalami pelarutan. Kemudian material yang terlarut itu akan mengalami transportasi dan akan terpresipitasi pada pori-pori sedimen yang memiliki kondisi yang berbeda. c.Sementasi Sementasi adalah proses di mana terjadi presipitasi kimia pada pembentukan kristal baru, terbentuk didalam pori-pori sedimen atau batuan yang mengikat satu butir dengan butir lainnya. Semen yang umum yaitu kuarsa, kalsit dan hematit. d. Autigenisasi Autigenesis (neocrystalitation) adalah proses saat fase mineral baru mengalami kristalisasi di dalam sedimen atau batuan selama proses diagenesis maupun setelahnya. Mineral baru terbentuk melalui reaksi di dalam fase yang terdapat dalam sedimen atau batuan, dan juga muncul karena presipitasi dari material yang masuk melalui fase fluida, atau dihasilkan dari kombinasi sedimen primer dan material yang masuk. Beberapa yang tergolong dalam fase autogenesis, silikat seperti kuarsa, carbonat seperti kalsit dan dolomite, evaporate mineral seperti gypsum dan oksida seperti hematite. e.Replacement 30

Replacement yaitu proses ketika mieral baru menggantikan (secara kimia dan fisika) kondisi dalam pada endapan mineral. Replacement mungkin bersifat: a) neomorphic, yang mana butiran yang baru memiliki fase yang sama dengan asalnya atau polimorpisme dari fase asalnya. b) Pseudomorfic yang mana fase baru merupakan tiruan dari bentuk eksternal dari fase yang digantikan tetapi fasenya berbeda. c) Allomorphic yaitu replacement dalam bentuk fase baru yang biasanya berbeda bentuk kristalnya dan menggantikan sepenuhnya fase sediment asal. Fase replacement sama

beragamnya dengan fase autigenesis, tetapi fase replacement yang penting yaitu dolomite, opal, kuarsa dan ilite. f. Bioturbasi Bioturbasi adalah aktifitas biologis yang terjadi dekat permukaan, termasuk burrowing, boring dan pencampuran sedimen oleh organisme. Pada beberapa kasus proses ini dapat meningkatkan

kompaksi, menghancurkan laminasi dan perlapisan. Selama proses bioturbasi beberapa organisme mempresipitasikan material yang berfungsi sebagai semen. 4. Proses hidrotermal Produk akhir dari proses diferensiasi magmatik adalah suatu larutan yang disebut larutan magmatik yang mungkin dapat mengandung konsentrasi logam-logam logam yang dahulunya berada dalam magma. Larutan yang berasal dari magma, yang sedang membeku dan magmatik ini yang juga disebut larutan hidrotermal banyak mengandung diendapkan di tempat-tempat sekitar magma yang sedang membeku tadi. Larutan yang makin jauh dari magma, akan makin kehilangan panasnya. Dalam perjalanan menerobos batuan, larutan hidrotermal akan mendepositkan mineral-mineral yang dikandungnya di rongga-rongga batuan dan membentuk deposit celah (cavity filling deposit) atau melalui proses metasomatik membentuk deposit). 31 deposit pergantian (replacement

Berikut adalah penjelasan umum tentang macam macam deposit: a. Deposit hipotermal Secara umum deposit hipotermal atau deposit replasemen terjadi pada kondisi suhu dan tekanan tinggi, pada daerah lebih dekat dengan batuan intrusifnya.

b.

Deposit epitermal deposit celah adalah deposit yang lebih

Deposit epitermal atau

banyak terjadi di daerah dengan suhu dan tekanan rendah yang terletak agak jauh dari batuan intrusifnya. 2.7. Perbedaan Zeolit Alam & Zeolit Sintesis Zeolit alam sudah banyak dimanfaatkan sehingga jumlahnya semakin berkurang. Selain itu mineral zeolit alam sulit dipisahkan dari batuan induknya. Mengingat begitu pentingnya peranan zeolit dalam kehidupan, maka perlu dilakukan usaha untuk mendapatkan zeolit dengan daya guna yang lebih sebanding zeolit alam. Untuk mengatasai semakin berkurangnya zeolit alam, maka telah dikembangkan zeolite sintetik yang memiliki kemampuan yang sama dengan zeolit alam. Zeolit sintetis adalah suatu senyawa kimia yang mempunyai sifat fisik dan kimia yang sama dengan zeolit yang ada di alam. Zeolit sintetis ini dibuat dari bahan lain dengan proses sintetis, yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai zeolit yang ada di alam. Perbedaan terbesar antara zeolit sintesis dengan zeolit alam adalah: 1. 2. 3. Zeolit sintetis dibuat dari bahan kimia dan bahan-bahan alam yang kemudian diproses dari tubuh bijih alam. Zeolit sintetis memiliki perbandingan silika dan alumina yaitu 1:1 dan sedangkan pada zeolit alam hingga 5:1. Zeolit alam tidak terpisah dalam lingkungan asam seperti halnya zeolit sintetis.

32

Zeolit sintetik sudah banyak digunakan di industri. Namun di Indonesia belum banyak diproduksi dan umumnya diperoleh dari impor. Untuk memenuhi kebutuhan zeolit ini, maka para ahli melakukan penelitian sehingga didapatkan berbagai macam zeolit sintetik. Indonesia banyak membutuhkan zeolit sintetik untuk proses-proses kimia di industri kimia seperti sebagai katalis, ion exchanger, dan adsorbent dalam pengolahan limbah. Untuk itu dibutuhkan zeolit sintetik yang mempunyai kemurnian tinggi dan kualitas baik. Bahan baku pembuatan zeolit adalah bahan yang mengandung silika dan alumunium. Kedua bahan baku ini jika diambil dari alam dan bahan logam tentunya mahal, namun dalam bentuk senyawa banyak diperoleh dan harganya murah. Silika dapat diperoleh dari bahan gelas/water glass, dan alumunium dapat diperoleh dari tawas, dan masih banyak bahan yang dapat digunakan untuk pembuatan zeolit sintetik. 2.7.1 Pembuatan dan penggunaan zeolite sintesis Proses pembuatan. dengan Salah satu pembuatan zeolit sintetis adalah 1983). Alumina trihidrat Al2 proses hidro- gel (Lefond,

O3 3H2 O, diuraikan dalam suhu terte ntu dan dicampur dengan sodium silikat dalam suatu tangki pembuat gel hingga terbentuk suatu gel yang homogen. Gel ini kemudian dipompakan pada suatu tangki yang lain, sesudah itu dikristalisasikan setelah beberapa jam pada suhu 200 dapat dibuat

diikuti dengan difraksi oleh sinar X (Lefond, 1983). Zeolit sintetis juga dengan proses clay conversion, proses ini menghasilkan yang kemudian menghasilkan zeolit dalam matriks bubuk yang memiliki tingkat kemurnian rendah tinggi yang tidak saling terikat lempung. Penggunaan. Zeolit sintetis memiliki sifat yang lebih baik dibanding dengan zeolit alam. Perbedaan terbesar antara zeolit sinteis dengan zeolit alam adalah: (1) Zeolit sintetis dibuat dari bahan kima dan bahan-bahan alam yang kemudian diproses dari tubuh bijih alam. (2) Zeolit sintetis memiliki perbandingan silika dan alumina yaitu 1:1 dan sedangkan pada zeolit alam hingga 5:1. 33

(3) Zeolit alam tidak terpisah dalam lingkungan asam seperti halnya zeolit sintetis.

Tabel 2. 5. Proses-proses dalam pembuatan zeolit sintetis (Lefond, 1983)

Proses Hydrogel

Reaktan Reactive oxides, soluble silicates, soluble aluminates, caustic Raw kaolin, meta-kaolin, calcined kaolin, acid treated clay, soluble silicates, caustic, sodium chloride Natural SiO2, amorphous mine rals, volkanic glass, caustic, Al2O33H2 O

Produk High purity powder Gel preform Zeolite in matrix Low to high purity powder Binderlss, high purity preform Zeolite in clay-derved matrix Low to high purity powder Zeolite on ceramic support Binderless preform

Clay conversion

Other

Tabel 2.6. Contoh penggunaan zeolit sintetis

Jenis zeolit Zeolit X Zeolit Y Zeolit US-Y Zeolit A Zeolit ZSM-5 Linde Zeolite-A

Kegunaan catalytic cracking (FCC) dan hidrocracking, mereduksi NO, NO 2 dan CO2 removal, pemisah fruktosa-glu kosa, pemisah N2 di udara, bahan pendingin kering memisahkan monosakarida pengkonsentrasi alkohol, pengering olifin, bahan gas alam padat, pembersih CO2 dari udara dewaxing, produksi synfuel, mensintesis ethylbenzene bubuk pembersih untuk memindah kan ion Ca dan Mg

2.8. Pengolahan dan Pemanfaatan Mineral Zeolit 2.8.1. Pengolahan Mineral Zeolit

34

Sedangkan pemrosesan merupakan kegiatan memisahkan mineral


Zeolit (minimal 30 % klinoptit atau 60 % zeolit berukuran 15 cm)

Mesin pemecah batu/dengan palu - Ukuran menyatu dengan mineral berharga dari partikel partikel lain yang 3 cm

tersebut dengan tujuan meningkatkan mutu dan kualitas zeolit. Mesin giling Pada prinsipnya pengolahan dilakukan dengan 2 tahap yaitu tahap preparasi dan tahap aktifasi.
Pengayakan tenaga manusia aliran bawah aliran bawah Diagram 2.1 Pengolahan Mineral Zeolit Fraksi fraksi ukuran zeolit Siklun -siklun aliran atas penambangan

Tahap preparasi
pengaktifan Dengan mempertimbangkan zeolit mempunyai tingkat kekrasan yang

rendah maka preparasi dengan menggunakan mesin giling (mill) yang mampu memproduksi sampai ukuran lebih kecil dari kimia mesh dan Pereaksi 100
(oven)

menkombinasikan Pemanasan siklun dengan

(alat

NaOH dan untuk sentrifugasi) HSO

dapat

mengelompokkan fraksinya. Umpan untuk mesin giling ini dapat berupa hasil pemecahan secara manual yang berukuran 3 cm ataupun Pengantongan siap
dipasarkan dapat dilakukan dengan mesin pemecah. Ketidak mampuan siklun dalam

memisahkan pengolahan air menjadi fraksi Perikanan 2. Proses aktifasi

menyebabkan pengolahan air peternakan masih diperlukannya


Pertanian

pengayakan. Jika berhasil maka dapat dilakukan aktifasi.

Proses ini dilakukan dengan pemanasan atau dengan pereaksi zat yang digunakan sebagai pereaksi adalah NaOH dan H2SO4 selanjutnya siap diaplikasikan sesuai dengan keinginan. Contoh gambar ekplorasi zeolit:
Lokasi Endapan

35

Singkapan zeolit di daerah Kab. Tasikmalaya

2.8.2. Pemanfaatan Mineral Zeolit Zeolit merupakan suatu kelompok mineral yang dihasilkan dari basa. Mineral ini biasanya proses hidrotermal pada batua beku

dijumpai mengisi celah-celah ataupun rekahan dari batuan tersebut. Selain itu zeolit juga merupakan endapan dari aktivitas volkanik yang banyak mengandung unsur silika. Pada saat ini penggunaan mineral zeolit semakin meningkat, dari penggunaan dalam industri kecil hingga dalam industri berskala besar. Di negara maju seperti Amerika Serikat, zeolit sudah benar-benar dimanfaat kan dalam industri. Karena sifat-sifat yang dimiliki oleh zeolit, maka mineral ini dapat dimanfaat kan dalam berbagai bidang, seperti dalam bidang industri yaitu sebagai bahan yang dapat digu- nakan untuk membantu pengolahan limbah pabrik. Masalah limbah industri semakin meresahkan masyarakat, sehingga banyak dilakukan usaha-usaha untuk mengatasi pencemaran limbah ini, baik itu dengan mengurangi volume limbah yang terbuang tersebut. Zeolit sintetis adalah suatu senyawa kimia yang mempunyai sifat fisik dan kimia yang sama dengan zeolit alam. Zeolit ini dibuat dari bahan lain dengan proses sintetis. Karena secara umum zeolit mampu menyerap, menukar ion dan menjadi katalis, membuat zeolit sintetis ini dapat dikembangkan untuk keperluan alternatif pengolah limbah. Secara umum zeolit alam maupun zeolit sintetis memiliki nilai ekonomi yang bisa dikatakan tinggi, hal ini mengingat dari mineral zeolit yang jika diolah lebih lanjut akan dapat dimanfaatkan secara optimum. Zeolit mempunyai banyak kegunaan, dimana setiap kegunaan yang dimiliki tentunya tidak terlepas dari sifat-sifat unik yang dimilikinya, sifat-sifat unik tersebut meliputi dehidrasi, adsorben, penyaring molekul, katalisator dan penukar ion. Adapun kegunaan dari zeolit adalah, untuk peningkatan unsur hara tanah, penjernih air, pembersih limbah pabrik, pakan ternak, dll. Berikut ini disajikan ulasan tentang pemanfaatan zeolit di berbagai bidang. 36 ataupun dengan mendaur ulang kembali limbah

1. Bidang pertanian dan perkebunan Berdasarkan kepada Kapasitas Pertukaran Kation dan retensivitas terhadap air yang tinggi, zeolit sekarang ini telah banyak digunakan untuk memperbaiki sifat tanah atau untuk efisiensi unsur hara pada pupuk ataupun pada tanah itu sendiri, misalnya saja pada tanah latosol. Berdasarkan kriteria penilaian sifat kimia tanah, tanah latosol mempunyai pH sangat masam (4.44), KTK tanah termasuk rendah, kejenuhan basa sangat rendah, C organik sedang, N total sangat rendah dan kejenuhan alumunium tinggi. Secara keseluruhan tanah ini mempunyai tingkat kesuburan rendah. Padahal kita ketahui bahwa tanaman darat dapat tumbuh baik pada tanah yang gembur dan subur, maka agar tanaman dapat tumbuh baik pada tanah latosol, perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan kesuburan tanah. Salah satu usaha yang dilakukan antara lain dengan penambahan bahan amelioran seperti zeolit. Penambahan zeolit dapat meningkatkan jumlah unsur K, Ca, Mg dan Na serta meningkatkan KTK tanah. Hal ini bisa terjadi karena zeolit memiliki kemampuan mempertukarkan kationkation. Prinsipnya adalah, kation kation yang dimiliki berupa alkali dan alkali tanah pada struktur zeolit dapat bergerak bebas, sehingga dengan adanya dorongan keluar oleh ion H+, kation seperti K, Ca, Mg dan Na dapat berpindah dari zeolit ke medium tanah yang dapat menyebabkan suplai basabasa. Selain itu zeolit mengandung unsur-unsur hara makro dan mikro yang dapat disumbangkan ke dalam tanah. Penambahan zeolit dapat memperbaiki agregasi tanah sehingga meningkatkan pori-pori udara tanah yang berakibat merangsang pertumbuhan akar tanaman. Luas permukaan akar tanaman menjadi bertambah yang berakibat meningkatnya jumlah unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Untuk memperoleh manfaat tersebut zeolit dapat digunakan dengan pupuk bebagai cara, di antaranya adalah dengan cara ditebarkan untuk meningkatkan efisiensinya, atau dapat juga langsung ke tanah sebagai bahan pembenah tanah, dicampur dengan dicampurkan langsung pada media tumbuh tanaman. 37

Gambar 2.7. Proses Zeoponik

Gambar 2.8. Pengaruh penggunaan zeolit dalam bidang pertanian dan perkebunan

2. Bidang Peternakan Dalam bidang ini, zeolit telah digunakan secara komersial , terutama di negara-negara Eropa dan Jepang. Di Indonesia zeolit telah digunakan sebagai tambahan dalam makanan ternak domba dan sapi hingga sekarang ini masih dalam tahap penelitian. Penggunaan zeolit dalam bidang peternakan didasarkan kepada dua sifat zeolit yang penting, yaitu kapasitas pengikat ion NH4+yang 38

berasal dari ammonia sangat besar dan afinitas zeolit terhadap ion-ion yang bersifat racun. Sifat zeolit sebagai penukar ion masih berperan dalam kegunaannya di bidang ini. Selain itu mineral zeolit yang banyak mengandung Ca, K, Mg dan Na juga baik bagi tubuh hewan dengan kadar tertentu. Tambahan zeolit pada pakan ternak hewan hewan ruminensia juga diketahui dapat mereduksi penyakit lembuhg yang dideritanya. 3. Bidang Perikanan Zeolit disini berfungsi sebagai pengontrol kandungan ion NH4+di dalam air. Kandungan amonia yang tinggi dalam kolam bisa jadi berasal dari kotoran ikan, bakas pakan ikan yang membusuk, atau karena sirkulasi air kolam yang kurang baik. Tingginya kadar amonia dalam kolam akan sangat tidak baik bagi ikan ataupun hewan tambak lainnya. Oleh karena kemampuannya sebagai penukar kation, zeolit dapat dimanfaatkan untuk mengikat kation NH4+, cara yang digunakan biasanya hanya dengan menebarkan serbuk zeolit ke dalam kolam. Reaksi antara zeolit dengan ion amonium sebagai berikut : NH4++ Na, K Zeolit Sehingga ion amonium yang telah NH4 Zeolit terikat dengan zeolit akan

terperangkap di dalam rongga yang dimiliki zeolit, dan air kolam kondisinya akan semakin baik karena kadar amoniumnya berkurang. Zeolite adalah sebuah mineral dari alam yang berbahan dasar kelompok senyawa aluminium silikat yang terhidrasi oleh logam alkali dan alkali tanah. Di dalam budidaya tambak, zeolite dapat berguna untuk membantu mengendalikan kualitas tanah dasar tambak. Tepung zeolite juga berfungsi untuk menjaga kualitas air tambak agar nilainya selalu sesuai dengan syarat hidup ikan. Berikut ini adalah beberapa kegunaan tepung zeolite:

39

1.

Mampu meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air (DO), khususnya elemen SiO2 dan Al2O3. Pada tahap ini, peningkatan kadar DO secara tidak langsung terjadi akibat pengikatan amoniak yang bersifat mereduksi. 2. Mampu menjaga derajat keasaman (pH) dalam tambak melalui daya tukar ion yang terkandung di dalamnya. 3. Mampu menjaga kesadahan air (hardness) dalam tambak melalui daya tukar ion yang terkandung didalamnya. 4. Mempunyai daya absorbsi terhadap gas-gas dalam wujud pakan yang tersisa (tidak termakan) maupun yang berasal dari metabolisme organisme lain yang hidup didasar tambak. 5. Mampu mengikat logam-logam berat, seperti Pb, Fe, Hg, Sn, Bi dan As, yang terdapat didalam air maupun tanah dasar tambak, yang dapat mengancam kelangsungan hidup ikan. 6. Mampu mengembalikan kesuburan tanah dasar tambak, dikarenakan mineral yang terdapat didalam zeolite dapat mengembalikan mineral tanah dasar tambak yang hilang selama masa operasional produksi. 7. Membantu tumbuh dan berkembangnya fitoplankton di tambak, sehingga ketersediaan pakan alami untuk udang selalu terjaga. 8. Membantu udang terhindar dari penyakit kulit lembek dikarenakan tepung zeolite mengandung kalsium dalam jumlah banyak. 9. Dapat memperbaiki nilai konversi pakan ikan. 10. Mampu menjaga kestabilan suhu air tambak dan suhu dilingkungan tambak. Meskipun mempunyai banyak kegunaan, dalam setiap

penggunaannya, harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya: 1. Dosis tepat guna. Selain mencegah membengkaknya biaya produksi, penggunaan zeolite secara berlebihan dapat menyebabkan terjadinya blooming plankton. Blooming plankton ini dapat menyebabkan naiknya derajat keasaman (pH) air 40

tambak yang pada akhirnya nanti dapat membahayakan hidup ikan. 2. Zeolit berkualitas tinggi. Tepung Zeolit yang dipilih (dibeli) adalah zeolite yang telah mendapat rekomendasi mutu dari Ditjen Pertambangan Umum Bagian Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. 4. Bidang pengolahan air Pada bidang pengolahan air, zeolit bisa dimanfaatkan untuk penghilangan kesadahan air. Dalam hal ini zeolit dimanfaatkan sebagai media filter dan media adsorpsi. Air sadah adalah air yang banyak mengandung mineral kalsium atau magnesium di dalamnya. Air sadah sukar digunakan untuk mencuci karena senyawa kalsium dan magnesium bereaksi dengan sabun membentuk endapan dan mencegah terjadinya busa dalam air. Oleh karena senyawa-senyawa kalsium dan magnesium relatif sukar larut dalam air, maka senyawa-senyawa itu cenderung untuk memisah dari larutan dalam bentuk endapan atau presipitat yang akhirnya menjadi kerak. Untuk memperoleh air bersih yang layak dikonsumsi diperlukan suatu cara untuk mengatasi kasadahan air tersebut. Salah satu cara yang bisa adigunakan adalah filtrasi, dan dengan sifat yang dimiliki zeolit dapat berperan baik sebagai penyaring air sadah untuk memperoleh air bersih. Tidak semua zeolit bisa digunakan, dipilih zeolit yang kationnya bukan merupakan penyebab kesadahan air, untuk hal ini zeolit jenis klinoptilolit yang kationnya adalah Na dapat digunakan. Zeolit yang diletakkan sebagai filter dan akaa dileati oleh air sadah akan bereaksi kontinu sesuai persamaan reaksi berikut : Na Zeolit + CaCl2 dipertukarkan. Ca Zeolit + 2NaCl Dari reaksi di atas terliihat bahwa antara kation Ca dan Na

41

5. Penambahan zeolit terhadap kualitas pelet Mentah uo2 Tujuan akhir penambahan zeolit ialah untuk mengurangi pembebasan gas hasil fisi (fission gas release- FGR) bahan bakar nuklir saat diiradiasi dalam teras reaktor nuklir. FGR menjadi signifikan jika derajat bakar ditingkatkan menjadi di atas 50 GWd/ton. Daya kungkung gas hasil fisi bahan bakar dapat ditingkatkan dengan pembesaran butir melalui penambahan aditif oksida niobia, titania, dan gadolinia. Tetapi aditif ini diketahui mempercepat difusi gas hasil fisi. Alternatif yang lain melalui penambahan aditif mineral alumino silikat, titania silikat, kaolinit, dan bentonit, yang terbukti mengurangi FGR dan penggelembungan batas butir. Zeolit yang mengandung alumina silikat seharusnya mampu berfungsi sebagai aditif tersebut. Fabrikasi bahan bakar uranium dioksida melibatkan proses peletisasi. Proses ini melalui tiga tahap utama yaitu pencampuran (mixing), pengepresan (pressing), dan pemanggangan (sintering). Hasil pengompakan ialah pelet mentah (green pellet) yang harus memenuhi kriteria sebagai berikut: kuat atau keras, tidak cacat, densitas minimum 50%, dan homogen. Pelet mentah dapat dibentuk dengan pengepresan uniaksial. Pada prose ini diperlukan bahan pengikat (binder) dan pelumas (lubricant). Pengikat dimaksudkan untuk menambah daya ikat antar partikel sehingga tidak terjadi keretakan dan laminasi. Pelumas diimaksudkan untuk mengurangi keausan dinding die dan meningkatkan daya geser partikel. Pelumas yang digunakan dalam peletisasi uranium dioksida ialah seng stearat dan tidak digunakan senyawa pengikat lain. Aditif zeolit mengandung oksida alumina dan silikat, dan oksida ini juga berfungsi sebagai pelumas, dan selain itu dalam kesatuan struktur mineral juga berfungsi sebagai pengikat. Sehingga zeolit diharapkan dapat kompatibel dengan uranium dioksida dan seng stearat. Jika asumsi ini benar maka pelet mentah hasil kompaksi mempunyai densitas tinggi (lebih besar 50%), kuat atau keras, tidak cacat dan homogen. 6. Zeolit sebagai adsorben untuk kemurnian bioetanol 42

Proses pemisahan menjadi kendala utama dalam industriindustri kimia, salah satunya pada industri etanol. Pemisahan etanol dengan distilasi konvensional tidak dapat dihasilkan etanol dengan kemurnian tinggi, karena etanol memiliki titik azeotrop, sedangkan pemisahan dengan distilasi ekstraktif membutuhkan biaya tinggi. Dengan berkembangnya teknologi membran, pemisahan larutan yang memiliki titik azeorop dapat dilakukan dengan mudah. Membran PVA dapat digunakan untuk memisahkan etanol-air secara pervaporasi. Pervaporasi adalah salah satu proses pemisahan menggunakan membran yang merupakan alternatif pemisahan

senyawa organik dari larutan organik dari larutan akuatik atau dehidrasi pelarut skala industrial dengan kebutuhan energi rendah. Prinsip pemisahan pada pervaporasi adalah dengan memanfaatkan perbedaan solubilitas dan difusifitas komponen. Unjuk kerja proses pervaporasi diukur dengan selektivitas pemisahan dan fluks permeate (Gambar 2.9). Kualitas pemisahan akan semakin baik dengan meningkatnya selektivitas. Di umumnya berbanding terbalik sisi lain, peningkatan dengan fluks yang selektivitas

dihasilkan sehingga diperlukan suatu optimasi. Unjuk kerja proses pervaporasi ditentukan oleh membran yang digunakan dan kondisi operasi yang optimum.

Gambar 2.9. Skematik proses pervaporasi

Karakteristik dari proses pervaporasi : 1. Konsumsi energi rendah 43

2. Tidak ada kontaminasi 3. Permeate harus mudah menguap pada kondisi operasi 4. Fungsi kesetimbangan uap/air bebas Membran PVA merupakan membran polimer berkinerja tinggi, sifat kimia dan sifat mekanik baik, afinitas terhadap air baik, serta permeabilitas tinggi. Untuk menambah selektivitas membran dapat dilakukan beberapa proses, antara lain : crosslinking, blending, dan grafting. Proses crosslinking dengan PVA dapat dilakukan dengan penambahan crosslinking agent, seperti formaldehid, glutaraldehid, asam oksalat, asam maleat, dianhidrid, dan sebagainya. (Moerniati,1991). Pengaruh crosslinking memiliki dua aspek, yaitu : 1. Pembentukan struktur tiga dimensi yang berpengaruh pada swelling dan mobility selectivity 2. Perubahan Penambahan struktur kimia yang berhubungan dengan zat aditif dan seperti zeolit sebagai filler dapat kinerja membran. Zeolit solubility selectivity memperbaiki karakteristik meningkatkan

merupakan kristal mikroporous yang mengandung Si-O dan Al-O yang lebih dikenal dengan aluminosilikat. Penelitian menunjukkan bahwa membran polimer yang diisi silika dapat mencapai fluks dan selektivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan membran polimer sendiri dalam pervaporasi pemisahan alkohol dan air. Untuk proses pervaporasi, membran pengisi zeolit mempunyai dua area nyata, yaitu : fase membran dan fase zeolit. Molekul terlarut berada pada fase membran dan proses sorpsi mengikuti hukum Henry. Fase zeolit memberikan bagian adsorpsi dari difusi molekul. a. Metoda Pembuatan Membran Zeolit Untuk menghasilkan membrane zeolit, zeolit alam di hancurkan

menggunakan ball mill atau bisa digerus secara manual (kira-kira 3 x 3 cm), selanjutnya dilakukan proses penyaringan, untuk memudahkan saat dilakukan aktifasi. Penyaringan dilakukan selama 30 menit menggunal molecular siever sampai dengan ukuran 10m. Hasilnya dipanaskan
o

agar

terjadi
o

aktifasi. Pemanasan dapat dilakukan

pada suhu 200

C hingga

900 C pada kondisi tekanan 1 atm. Material 44

hasil aktifasi

tersebut

dapat

diaktifasi

untuk

meningkatkan luas permukaan dan kemampuan adsorpsinya. b. Adsorpsi Oleh Membran Zeolit Dalam keadaan normal maka ruang hampa dalam kristal zeolit terisi oleh molekul air bebas yang membentuk bulatan di sekitas kation. Bila kristal tersebut dipanaskan selama beberapa jam, biasanya pada temperatur 250-900
o

C, maka kristal zeolit yang bersnagkutan berfungsi menyerap gas atau cairan.

Daya serap (absorbansi) zeolit tergantung dari jumlah ruang hampa dan luas permukaan. Biasanya mineral zeolit mempunyai luas permukaan beberapa ratus meter persegi untuk setiap gram berat. Beberapa jenis mineral zeolit mampu menyerap gas sebanyak 30% dari beratnya dalam keadaan kering. Pengeringan zeolit biasanya dilakukan dalam ruang hampa dengan menggunakan gas atau udara kering nitrogen atau methana dengan maksud mengurangi tekanan uap ari terhadap zeolit itu sendiri. Keuntungan lain dari penggunaan mineral zeolit sebagai bahan penyaring adalah pemilahan molekul zat yang terserap, disamping penyerapan berdasarkan ukuran garis tengah molekul ruang hampa. Apabila ada dua molekul atau lebih yang dapat melintas, tetapi karena adanya pengaruh kutub atau hubungan antara molekul zeolit itu sendiri dengan molekul zat yang diserap, maka hanya sebuah saja yang diloloskan, sedang yang lain ditahan atau ditolak. Molekul yang berkutub lebih atau tidak jenuh akan lebih diterima daripada yang tidak berkutub atau yang jenuh. Air dalam etanol dapat teradsorbsi karena gaya tarik dari permukaan membran zeolit lebih besar dari pada gaya tarik yang menahan air tersebut untuk tetap larut dalam etanol. Dengan memanfaatkan sifat fisik dan kimia zeolit tersebut yaitu sifat hidrofilik dan ukuran pori < 0.44 nm sehingga air dalam etanol dapat diserap secara sempurna dan pada akhirnya kemurniannya meningkat. Absorpsi tersebut merupakan fenomena permukaan yang terjadi pada saat molekul adsorbate tertarik dan menempel pada permukaan dari adsorbent. Gaya tarik tersebut disebabkan oleh gugus-gugus hidroksil yang berada di permukaan pori dari membran zeolit. Adsorpsi terjadi pada permukaan pori membran. Partikel zeolit 45

memiliki tiga tipe pori, yaitu macropore dan micropore (masing-masing dengan ukuran >50nm dan <2nm). Di antara keduanya terdapat mesopore. Macropore merupakan jalan masuk ke dalam partikel menuju micropore. Macropore tidak berkontribusi terhadap besarnya luas permukaan membran zeolit. Sebaliknya, micropore adalah penyebab besarnya luas permukaan membran zeolit. Micropore tersebut sebagian besar terbentuk selama proses aktifasi. Pada micropore inilah sebagian besar peristiwa adsorpsi terjadi. Proses adsorpsi terjadi melalui tiga tahap, yaitu: 1. macro transport: pergerakan macropore membran zeolit. material organik melalui sistem

2. micro transport: pergerakan material organik melalui sistem mesopore dan micropore dari membran zeolit. 2. sorption: melekatnya material organik pada permukaan membran zeolit, yaitu di permukaan macropore, mesopore dan micropore. c. Kemurnian Etanol Etanol (C2H5OH) diperoleh dari proses fermentasi gula oleh ragi (Saccharomyces sp.) yang juga menghasilkan produk sampingan berupa gas karbon monoksida. Dalam pembuatan gasohol etanol merupakan High Octane Mogas Component (HOMC) dengan angka oktan rata-rata 104; pada campuran dengan bensin 118. Proses denaturasi pada gasohol yaitu pembubuhan/ penambahan suatu zat ke dalam etanol produk pabrik sehingga etanol tersebut tidak dijadikan bahan minuman. Sebuah azeotrope adalah campuran dua atau lebih senyawa kimia dalam rasio tertentu dan komposisi tersebut tidak dapat dirubah oleh distilasi sederhana. Ini dikarenakan ketika azeotrop dipanaskan, hasil penguapan mempunyai ratio yang sama sesuai campuran cairan awal. Karena komposisi tidak dapat dirubah dengan pemanasan, maka azeotrop dikenal juga sebagai constant boiling mixtures. Tiap azeotrop mempunyai sebuah karakteristik titik didih. Titik didih dari sebuah azeotrop dengan titik didih dibawah titik didih komponen-komponen penyusunnya (positive azeotrop) sedangkan apabila berada diatas titik didih komponen-komponen penyusunnya (negative
o

azeotrop). Sebuah contoh positive azeotrop yang cukup dikenal yaitu etanol 95.6% dan air 4.4% (persen berat). Etanol mendidih pada suhu 78.4 C, air 46

pada 100 C tapi

azeotrop

mendidih

pada

78.1 C, yang
o

mana

lebih

kecil dari unsur penyusunnya. Tentu saja 78.1 C merupakan temperatur minimum solution ethano/air dapat dipanaskan. Positive azeotrop dikenal juga dengan istilah minimum boiling mixtures. Berdasarkan ketentuan etanol institute, etanol yang dapat dipergunakan untuk octane enhancer dalam bensin harus memiliki kemurnian diatas 99% wt. Sehingga diharapkan dapat dijadikan sebagai pengganti MTBE, campuran bensin dan etanol dari E-10 sampai dengan E-85. Kemurnian etanol yang diperoleh proses fermentasi sangat ditentukan pada hilir pembuatan gasohol, yaitu pada distillation column yang terjadi dehydration etanol dari ~90% menjadi ~99% agar dapat dipergunakan sebagai bahan bakar alternatif yang sustainable. Dengan ketentuan minimal 7%-volume etanol dari broth fermentasi untuk menunjang kualitas produk yang dihasilkan. Adanya absorben berperan sangat penting dalam rangka mencapai tujuan kita memperoleh kemurnian etanol yang sesuai untuk pembuatan E-10. d. Filtrasi dengan membran zeolit Komponen yang harus dihilangkan dalam larutan etanol adalah air dan komponen terlarut lain. Pada proses filtrasi, dalam air yang lebih besar dari pori membran akan tertahan, dengan sifat fisik tersebut dapat ditunjang sifat kimiawi yang hidrofilik sehingga proses pemisahan semakin sempurna. e. Pengujian Katalitik Membran zeolit Efektivitas membran membran zeolit dapat dilihat dari pengurangan konsentrasi kontaminan di dalam air setelah melewati membran. Salah satu parameter fisika yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan dari membran zeolit. Penggunaan membran yang telah diperoleh, dujicobakan secara langsung pada alkohol dengan kadar tertentu. Selanjutnya hasilnya dianalisis dan diuji sesuai non-destructive testing. Hasil uji diperbandingkan dengan sampel yang tidak diuji sehingga terlihat penurunan kadar air dalam etanol. Untuk mempelajari dan memperkirakan komposisi dari air dan alkohol di dalam larutan fermentasi etanol. Metode yang digunakan metode akustik yaitu gelombang berfrekuensi tinggi (ultrasonik). 47

Parameter mengukur kecepatan gelombang dan koefisien atenuasi dilakukan percobaan-percobaan pada berbagai sampel larutan yang diambil mempunyai komposisi glukosa dan alkohol yang berbeda sehingga sifat-sifat akustiknyapun berbeda. selama proses fermentasi berlangsung. Diharapkan sampel-sampel larutan ini

Sampel

Ultrasonic FlawDetector

OsiloskopDigital

komputer
Gambar 2.10. Diagram blok sistem pengukuran ultrasonic

Diagram blok dari sistem pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini ditunjukkan pada gambar 2.10 yang terdiri dari Ultrasonic Flaw sebagai pemancar maupun sebagai penerima. Detector, osiloskop digital dan komputer pribadi. Ultrasonic Flaw Detector akan bertindak baik sinyal-sinyal yang Osiloskop digital akan bertindak sebagai alat peraga untuk mengamati terjadi sedangkan komputer pribadi akan bertindak sebagai pemroses data. Sampel larutan ditempatkan pada suatu wadah plastik yang di sebelah kiri dan kanannya terdapat sepasang transduser ultrasonik. f. Pembuatan Powder Membran Zeolit Alam - Preparasi 48

Pada tahapan ini alat dan bahan yang digunakan antara lain zeolit alam, alat penggerus, ball-mill, dan saringan powder. Preparasi terdiri dari tahap peremukan (crushing), sampai penggerusan (grinding). Sebelum dilakukan proses aktivasi, ZA digerus dan dihancurkan menjadi ukuran yang lebih kecil (kira-kira 3 x 3 cm) untuk memudahkan saat dilakukan aktifasi. Setelah proses penggerusan dan ball-mill selama 24jam, selanjutnya ZA tersebut disaring menggunakan molecular siever (Compact Vibrating Shaker VSS-50) buatan Ogawa-Seiki sampai ukuran < 10m. Larutan PVA 90% dibuat dari PVA=27.77gr dan 250ml air distilasi diaduk menggunakan stirrer selama satu jam dengan arus 0.2A dan 2Volt (~200rpm), hal ini juga dilakukan untuk pembuataan NaOH 0.3M. Untuk tubullar support dibuat dengan panjang 5cm sembilan buah direndam dalam larutan HNO3 selama satu jam dengan stirrer ultrasonic. Untuk menghilangkan pengotor dipermukaan bagian dalam dan luar permukaan SS. - Aktifasi Ada dua cara yang umum digunakan dalam proses aktifasi zeolit, yaitu pemanasan selama 2-3 jam, dan kimia dengan menggunakan pereaksi NaOH atau H2SO4. Aktifasi dilakukan pada suhu 200 C-900 C dengan
o o

menggunakan jenis tungku berbentuk silinder dengan diameter 7 cm dan panjang 30 cm. Variasi dilakukan terhadap lamanya pembakaran antara lain 1 jam, 2 jam, dan 3 jam dan juga variasi temperatur (250 C, 300 C, dan 800
o o o

C). Hasil pembakaran yang optimal selanjutnya diolah telah siap menjadi Selanjutnya didinginkan dalam udara terbuka. Tahap ini bertujuan

powder. untuk memperoleh ukuran produk yang sesuai dengan tujuan penggunaan. Pembuatan powder terdiri dari tahap peremukan (crushing), sampai dan penggerusan (grinding). Proses ini bertujuan untuk meningkatkan sifat-sifat khusus zeolit dengan cara menghilangkan unsur-unsur pengotor menguapkan air yang terperangkap dalam pori kristal zeolit.

49

Zeolit Alam

Crushing and grinding

Molecular siever

250 oC/ 1 jam

Aktivasi 300 oC/ 1 jam

800 oC/ 1 jam

Silika

Powder

NaOH+air

Pencampuran

PVA Pencetakan

Crosslinking agent

Drying

Uji Katalitik

XRD. SEM Uji kemurnian Karakterisasi

Uji efektivitas membran

Gambar 2.11. Bagan pengujian

50

g. Pencetakan (forming) Metoda pencetakan yang digunakan adalah metoda semi-dry pressing dan slip casting. Alat dan bahan yang digunakan antara lain powder ZA, air biodestilasi, silika, PVA 90%, larutan HCl 5M, asam oksalat, NaOH 0.3M, catalyst, gelas kimia, pipet, pengaduk elektronik, timbangan elektronik dengan ketelitian 0.1 gram (Precisa 8000D-PAG Oerlikon AG), termometer, mesin pres dengan tekanan maksimum 20 kN dan tubullar support SS. Pada metoda pencetakan, zeolit alam, asam oksalat, PVA dan dicampurkan dan ditambahkan air dengan komposisi 50 % dari berat total bahan. Campuran kemudian diaduk dengan pengaduk elekronik hingga zeolit alam terdispersi secara merata dalam air. Setelah itu campuran tersebut dituangkan ke dalam cetakan SS (stainless steel) dan dibiarkan mengering secara alami selama kurang lebih 24 jam. Setelah kering sampel dikeluarkan dari cetakan. Sampel (AA, AB, dan AC) yang dicetak tadi hasil aktivasi di pres sampai tekanan ~20 kN, yang dicampur dengan polystyrene sebagai additive (nucleation agent) sebagai template. Semi dry pressing dimulai dengan terakhir ditambahkan larutan mencampurkan zeolit alam dengan asam oksalat dan NaOH. Campuran diaduk secara manual dan PVA dan catalyst. Pengadukan dilakukan lebih merata dan sampai powder berubah menjadi larutan sol yang dan 2 Volt (~150 rpm) selama satu jam. Selanjutnya campuran tersebut dimasukkan ke dalam cetakan dan ditekan secara manual dengan bantuan mesin press. Setelah itu sampel dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan selama sekitar 24 jam agar terjadi pengeringan secara alami. Terdapat tubullar support yang digunakan yaitu terbuat dari SS dengan pori ~500nm dengan ketebalan 1mm (i.d. 8.5mm dan o.d. 9.5mm) dengan berat 7.6 gr.

terdistribusi dengan ukuran yang hampir sama satu sama lain dengan arus 0.1A

h. Drying 51

Drying dilakukan

dengan

dua metoda. Metoda

pertama dengan

menggunakan oven dan yang kedua menggunakan microwave. Pada metoda pertama, dilakukan uji coba perlakuan panas di dalam oven . Pengujian dilakukan sekali pada suhu 80 C selama 18jam. i. Pengujian - Pengujian massa jenis Sampel tebalnya dengan - Pengujian porositas Sampel berbentuk balok sebelumnya ditimbang dalam keadaan kering. Data tersebut kemudian disebut berat kering (Wd). Sampel kemudian direndam dalam air pada wadah kaca tertutup dan divakum selama kurang lebih 2 jam hingga tidak lagi muncul gelembung udara dari dalam sampel. Setelah itu sampel dikeluarkan dan air yang berlebih pada permukaannya dihilangkan dengan di lap. Setelah - Pengujian Membran Untuk menguji efektifitas membran dalam mengurangi kadar air di dalam larutan etanol-air, digunakan sampel yang berbentuk silinder (gambar 3.3). Etanol yang digunakan adalah etanol teknis yang berasal dari toko bahan-bahan kimia Bratachem. Alasan digunakannya air keran karena membran yang akan dibuat akan diaplikasikan pada tingkat akhir proses fermentasi, salah satunya keran pada wastafel. Hasilnya dibandingkan dengan kadar zat padat terlarut dalam air yang belum disaring. itu sampel ditimbang. Data yang diperoleh kemudian disebut sebagai berat basah (Ww). yang berbentuk silinder jangka diukur sorong. jari-jari, Setelah tinggi itu dan menggunakan sampel
o

ditimbang dengan timbangan elektronik.

52

Gambar 2.12. Skematik pengujian membran dalam proses pervaporasi

Pada metoda dip coating, zeolit alam, sodium silikat, PVA dan PEG dicampurkan dan ditambahkan air dengan komposisi 50 % dari berat total bahan. Campuran kemudian diaduk dengan pengaduk elekronik hingga zeolit alam terdispersi secara merata dalam air.. Setelah terbentuk sol, substrat alumina dan stainless steel dengan panjang 5cm, 10 cm, dan 15 cm dicelupkan ke dalam larutan sol tersebut kemudian diangkat dan dikeringkan di udara terbuka selam 24 jam. Pembuatan gel dimulai dengan mencampurkan zeolit alam dengan sodium silikat dan PEG. Campuran diaduk secara manual dan terakhir ditambahkan larutan PVA. Proses modifikasi tersebut. dimaksudkan untuk mengubah sifat permukaan zeolit alam dengan cara melapiskan polimer organic (sintesis dan alamiah) pada zeolit Penentuan luas permukaan zeolit alam dilakukan dengan alat surface areameter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zeolit yang diimpregnasi dengan logam yang disertai oksidasi dan reduksi mempunyai luas permukaan yang lebih besar, dibanding dengan zeolit alam, zeolit aktif dan zeolit aktif yang diimpregnasi dengan pembakaran. - Karakterisasi Membran Dibawah ini merupakan hasil XRD dari zeolit yang telah mengalami proses pertama, dengan hasil ini dapat diketahui kemiripan peak tertinggi dengan zeolit komersial hasil dari sintesis, dimaksudkan diperoleh temperatur 53

optimal hasil dari exstrapolasi antara hasil suhu 200-900 C. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui properties dan karakter apakah material yang kita hasilkan sesuai yang menggunakan SEM diharapkan. Metode karakterisasi dengan (Scanning Electron Microscope) dan XRD (X-ray

Diffractometer). XRD yang dipergunakan Philips Analytical X-Ray B.V. dengan maximum intensity: 954.8100 untuk hasil sampel pertama dan maximum intensity: 492.8400 pada sampel kedua (kalsinasi) serta panjang gelombang alfa =1.54056 Angstrom. Hasil karakterisasi ini untuk memperlihatkan properties dari material yang dihasilkan dari proses reaksi kimia, dimana karakteristik material tentu berbeda dengan bahan baku 5. Bidang pengolahan limbah Zeolit yang telah diaktifkan baik secara fisika dengan pemanasan maupun secara kimia dengan penambahan asam atau basa mampu meredam/ menurunkan kandungan logam Fe, Mn, Zn, dan Pb yang terdapat dalam air tanah. Selain itu juga mampu menurunkan kandungan amoniak dalam air buangan. Zeolit yang telah diaktifkan atau didehidrasi sehingga kehilangan molekul airnya menyebabkan rongga yang ada akan lebih efektif untuk menjerap logamlogam berat yang ada pada limbah. 6. Bidang Lingkungan Dalam masalah lingkungan terutama masalah polusi udara zeolit juga pernah ditaburkan dari pesawat terbang diatas reaktorChernobil untuk maksud menyerap hasil fisi yang terdapat dalam jatuhan debu radioaktif (Fall out) akibat kebakaran reaktor sovyet tahun 1985. Zeolit digunakan dalam proses penyerapan gas seperti : Gas mulia antara lain Ar,Kr dan gas He Gas rumah kaca (NH3, CO2, SO2, SO3 dan NO3) Gas organik CS2, CH4, CH3CN, CH3, OH, termasuk pirogas dan fraksi etanan/etilen. Pemurnian udara bersih mengandung O2 . Penyerapan gas N2 dari udara sehingga meningkatkan kemurnian O2 di udara.

54

Gambar 2.13. Penggunaan zeolit dalam kehidupan sehari-hari

Gambar 2.14. Perkembangan Penggunaan Zeolit di dunia

55

2.9

Potensi Zeolit Alam Di Indonesia Mineral alam zeolit tersebar di berbagai belahan di Indonesia seperti

Bayah,Banten,Cikalong, Tasikmalaya, Cikembar, Sukabumi, Nanggung, Bogor, dan Lampung dalam jumlah besar dengan bentuk hampir murni dan harga murah. Mineral zeolit mempunyai struktur framework tiga dimensi dan menunjukkan sifat penukar ion, sorpsi molecular sieving dankatalis sehingga memungkinkan digunakan dalam pengolahan limbah industri dan limbah nuklir.

Gambar 2.15. Sebaran zeolit alam di Indonesia dan komposisi mineralnya

BAB III 56

PENUTUP 3.1. Kesimpulan Zeolit merupakan senyawa alumino-silikat hidrat terhidrasi dengan unsur utama yang terdiri dari kation alkali dan alkali tanah terutama Ca, K dan Na, dengan rumus umum (LmAlx Sig O2nH2O) dimana L adalah logam. Sifat umum dari zeolit adalah kristal yang agak lunak dengan warna putih coklat atau kebiru-biruan. Mineral zeolit terbentuk melalui beberapa proses, yaitu: 1. Proses sedimentasi
2. Alterasi

3. Proses Diagenesis Proses diagenesis, antara lain: a. Kompaksi b. Rekristalisasi dan pelarutan c. Sementasi d. Autigenisasi e. Replacement f. Bioturbasi 4. Proses hidrotermal Pada prinsipnya pengolahan mineral zeolit dilakukan dengan 2 tahap yaitu: 11. Tahap preparasi 12. Proses aktifasi Mineral zeolit dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang seperti: 1. 2. 3. 4. 5. Bidang pertanian dan perkebunan. Bidang Peternakan. Bidang Perikanan. Bidang pengolahan air. Bidang pengolahan limbah

57

3.2. Saran Mineral zeolit memiliki manfaat baik itu dalam bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pegolahan air, maupun dalam bidang pengolahan limbah. Untuk itu pegolahan mineral zeolit, harus dilakukan dengan baik, sehingga mineral ini dapat menjadi mineral yang lebih bernilai ekonomis.

58

DAFTAR PUSTAKA Bell, R.G., 2001, Promoting The Science of Nanoporous Materials, British Zeolite Association Publications, London Christine Elizabeth Kaharmen. 2008. http://kuningtelorasin.wordpress.com/batuanmacam-dan-pembentukannya/ Flanigen, E.M., 1991, Zeolite and Molecular Sieves An Historical Perspective, Elsevier Science Publishers B.V., New York Geofact, 2010. http://www.geofacts.co.cc/2008/11/provenance-proses-dandiagenesis.html Kusumaningtyas, Ayu Endarti. 2003. Pemanfaatan Zeolit Sebagai Adsorben Untuk Mengolah Limbah Industri dan Radioaktif. Malang : Universitas Negeri Malang. Saputra, R. 2006. Pemanfaatan Zeolit Sintesis Sebagai Alternatif Pengolahan Limbah Industri.(http://pdf-search-engine.com/katalis) Sukandarrumidi, 2004. Bahan Galian Industri. Yogyakarta : UGM Press. Sutarti, M dan Rachmawati,M. 1994. Zeolit Tinjauan Literatur, Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI: Jakarta. Ulfah, Eli Maria, Fani Alifia Yasnur, dan Istadi. 2006. Optimasi Pembuatan Katalis Zeolit X dari Tawas, NaOH dan Water Glass Dengan Response Surface Methodology. Semarang : Universitas Diponegoro http://iqmal.staff.ugm.ac.id/wp-content/2004-ijc-iqmal-4-2-04-10-132-138dwiretno.pdf http://mputantular.tripod.com/pra.html http://darsono-sigit.um.ac.id/wpcontent/uploads/2009/04/zeolit1.pdf http://openpdf.com/ebook/sifat-kimia-zeolit-

59

pdf.html http://openpdf.com/ebook/pengolahan-zeolit-pdf.html http://www.dim.esdm.go.id/index.php? option=com_content&view=article&id=493 &Itemid=395 http://www.nesmd.com/shtml/33181.shtml http://www.dim.esdm.go.id/index.php? option=com_content&view=article&id=199 &Itemid=236

60