Anda di halaman 1dari 10

BEDAH MINOR

Bedah minor (operasi kecil) dipakai untuk tindakan operasi yang ringan, biasanya dikerjakan dengan anestesi lokal. Sebagai contohnya adalah pengangkatan tumor-tumor jinak atau kista pada kulit, ekstraksi kuku, penanganan luka, dll. Prinsip dasar : 1. Asepsis dan antisepsis Asepsis adalah tindakan yang dimaksudkan untuk menjauhkan mikroorganisme penyebab infeksi ke medan operasi. Antisepsis adalah tindakan untuk membunuh mikroorganisme dengan bahan kimia untuk mencegah sepsis. Bahan-bahan kimia yang sering dipakai yaitu iodine tincture 3-5%, alkohol 70%, hibiscrub, savlon, hibitane, betadine, atau pisohex. Assepsis dan antisepsis ini dilakukan untuk alat dan ruangan operasi, orang-orang yang berada di ruang operasi baik pasien, tim operator maupun observer. 2. Sterilisasi Adalah suatu usaha untuk membuat suatu benda atau ruangan menjadi bebas kuman, yaitu dengan membunuh kuman maupun spora yang menempel pada benda atau ruang operasi tersebut. Ada 3 cara sterilisasi yang sering digunakan, yaitu : a. Pemanasan - Dengan tekanan, digunakan autoklaf yaitu suatu bejana tertutup yang berisi uap panas dengan tekanan tinggi (750 mmHg, suhu 121 C selama 10-15 menit). Cara ini dapat membunuh kuman beserta spora yang ada. - Tanpa tekanan Perebusan, cara ini dipakai untuk mensterilkan instrumen bedah minor jika tidak ada autklaf. Cara ini kurang baik karena spora tidak ikut mati. Diperlukan minimal 30 menit setelah air mendidih. Waktu ini dapat dikurangi dengan menambahkan alkali yang bersifat bakterisidal. Pemanasan kering menggunakan oven dengan temperatur 160 - 180 C dalam waktu 1-2 jam. Flamber/ pembakaran dilakukan dengan alkohol 90% atau spirtus. Bahan bakar harus cukup untuk nyala minimum 5 menit. Alat yang dibakar harus dalam keadaan bersih, kering, dan diletakkan pada wadah aluminium atau wadah tahan karat. b. Kimiawi - Tablet formalin - Gas etilan oksida c. Radiasi Dilakukan dengan menggunakan daya radiasi sinar X, sinar ultraviolet (UV), atau sinar gamma berdaya tinggi.

3. Instrumen(GAMBAR?) a. Pemegang jarum/needle holder Alat ini biasanya dilengkapi dengan pengunci di bagian belakang. Ukurannya bermacam-macam, yaitu pendek, sedang, dan panjang. Pemegang jarum yang di gunakan disesuaikan dengan ukuran jarum yang ajkan di pakai.

Gambar 1a. needle holder

Gambar 1b. cara memegang needle holder

b. Pinset anatomis dan Pinset chirurgis Berguna untuk memegang dan menahan jaringan pada waktu diseksi atau menjahit. Pinset bergigi tajam, yang dapat dipaki untuk memegang jaringan yang hanya memerlukan tekanan minimal misalnya : subkutis, otot, fascia, tetapi tidak digunakan untuk struktur yang mudah berlubang seperti pleura dan peritoneum. Pinset anatomis digunakan untuk memegang jaringan saat menjahit.

Gambar 2a. macam-macam pinset

Gambar 2b. cara memegang pinset(kiri)

c. Scalpel/bistouri Skalpel adalah pisau tajam yang digunakan untuk operasi atau diseksi anatomi. Skalpel dapat di pakai berulang bila pisau yang di gunakan dapat dilepas dengan gagangnya. Bila terpisah pisaunya dinamakan blade.

Gambar 3a. macam-macam scalpel

Gambar 3b. cara memegang scalpel

d. Gunting praerer e. Guntung preparasi metzenbaum f. Gunting benang

Gambar 4. Alat-alat minor set ( macam-macam gunting)

g. Desinfeksi klem dan duk klem h. Klem pean bengkok dan lurus i. Klem mosquito j. Kait penahan luka/retractor

Gambar 5. Alat-alat minor set ( macam-macam klem )

Gambar 6. Alat-alat minor set yang sering digunakan

k. Benang Terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu : - Absorbable (dapat diserap oleh jaringan tubuh), contoh : catgut dan vicryl. Benang ini umumnya digunakan untuk menjahit jaringan yang letaknya profunda. - non absorbable (tidak dapat diserap jaringan tubuh), contoh : nylon, dacron, dan teflon. Benang ini umumnya digunakan untuk menjahit kulit.

Gambar 8. Benang absorbable (cat gut plain) dan non absorbable (silk) l. Jarum Jarum yang digunakan dalam bedah minor bentuknya melengkung dengan ukuran yang berbeda-beda. Menurut lengkungnya, dikenal jarum yang berarti lengkung jarum tersebut sebesar lingkaran. Ukuran yang lain 3/8, , dan seterusnya maksimal 5/8. Menurut panjangnya (daam mm) dikenal jarum 12 yang artinya panjang jarum tersebut 12 mm. Sehingga jika jarum berukuran - 6 maka jarum tersebut berlengkung lingkaranm dengan panjang dari ujung ke ujung 6 mm.

Gambar 7. Macam-macam jenis ukuran jarum.

4. Anestesi
Ada 2 macam anestesi yaitu anestesi umum dan local. Anestesi local dibedakan lagi menurut tempat diberikan obat anestesi, yaitu anestesi spinal, epidural, paravertebral, blok cabang saraf, infiltrasi, dan permukaan kulit (topical). Setiap anestesi harus memenuhi 2 syarat yaitu:menghilangkan reflex dan melemaskan otot, sedang pada naestesi umum diperlukan untuk menghilangkan kesadaran. Untuk bedah minor yang dipakai adalah anestesi local. Anestesi blok Obat anestesi langsung disuntikkan di sekitar saraf atau ke pangkal saraf. Misalnya apabila hendak mengoperasi daerah lengan, maka dapat dilakukan anestesi blok pada plexus brachialis. Anestesi infiltrat Obat anestesi disuntikkan langsung ke ujung-ujung saraf di bawa kulit. Untuk menguangi perdarahan dapat dicampur dengan adrenalin sebab adrenalin menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah. Campuran dengan adrenalin tidak boleh dipakai untuk operasi daerah yang mempunyai end artery seperti jari-jari, penis dan sebagainya. Field block Anestesi disuntikkan mengelilingi daerah tindakan, misalnya pada pengagkatan kista di kulit, tumor-tumor di kulit Anestesi topical Obat anestesi disemprotkan atau dioleskan ke permukaan kulit atau selaput lender, sehingga ujungujung saraf di bawahnya menjadi mati rasa, contoh:chlor etil Macam-macam obat anestesi local: 1. Prokain Obat anestesi local yang dipakai saat ini. Untuk anestesi infiltrat dipakai larutan - 1%, anestesi blok 2%, anestesi lumbal 4%, jumlah prokain yang masih aman dipakai adalah 2mg. daya mati rasanya cukup tinggi. 2. Lidokain Bekerja lebih cepat dan daya mati rasanya lebih lama dibandingkan dengan prokain 3. Kokain Untk anestesi topical, tidak untuk disuntikkan karena bersifat toksik 4. Tetrakain Lebih toksik dari kokain dan terutama dipenuhi sebagai anestesi lumbal. Mati rasanya dapat bertahan sampai 2 jam.

5. Jenis tindakan a. Insisi Dimulai dengan membuat sayatan lurus pada massa tumor misalnya pada abses. Arahnya sejajar dengan garis langer, sehingga akan terbentuk jaringan parut yang halus karena kolagen kulit terarah dengan baik. b. Eksisi

Merupakan tindakan pengangkatan massa tumor. Indikasinya antara lain untuk kista epidermoid (klavus) dan kista dermoid. Klavus merupakan tumor jinak yang keras, biasanya tumbuh pada kulit telapak kaki maupun tangan. Biasanya timbul karena tusukan benda asing yang menyebabkan epitel kulit masuk ke bawah epidermis atau sisa sel yang berasal dari embrio. Klavus tampak seperti benjolan keras dan sakit bila ditekan atau dipijakkan. Ekisisi dilakukan dengan membuat sayatan berbentuk elips dengan sumbu panjang sesuai dengan arah ketegangan kulit. c. Ekstirpasi
Tindakan pengangkatan seluruh masa tumor beserta kapsulnya. Indikasi:ateroma, fibroma, lipoma Ateroma Benjolan kecil yang terjadi karena saluran sebasea tersumbat sehingga lemak yang dikeluarkan kelenjar itu tertimbun dan bercampur dengan sel-sel. Akibatnya, secara perlahan-lahan timbullah pembesaran kelenjar rambut tersebut. Isi ateroma seperti bubur kebiruan yang mengental. Pada puncak benjolan ateroma terlihat suatu titik kebiru-biruan yang sebenarnya adalah lubang saluran kelenjar yang tersumbat. Lipoma Tumor jinak yang berasal dari jaringan lemak dan garis tengahnya antara berapa mm sampai puluhan cm. Lipoma srg ditemukan si pundak, lengan atas, punggung dan pantat. Fibroma Tumor yang berasal dari jaringan ikat tubuh. Teknik pengambilan ateroma: Siapkan dalam keadaan steril 2 buah pinset anatomis, 2 buah pinset chirurgis, 1 buah scalpel dan amatanya, 2 buah klem bengkok, 4 buah lem arteri, 1 gunting ujung lancip, 1 gunting lurus, naald volder, jarum oto dan jarum kulit, spuit 5 ml dengan jarum untu anestesi, zde, cat gut, doek dan sarung tangan. Juga beberapa ampul, prokin dan lidokain Kulit dibersihkan dengan antiseptic (iodine) lalu alcohol 70% Tutup daerah op dengan duk lubang di sekitar ateroma disuntik dengan prokain 1% Tunggu beberapa saat sampai daerah yang akan dioperasi akan terasa kebal. Buat dengan hati-hati 2 insisi lengkung, sehingga titik ateroma terletak di tengah-tengah Setelah sayatan kulit tepat berada di atas pembungkus aeroma, lepaskan kulit dan jaringan yang berada di sekitar kapsul ateroma dengan gunting yang tajam bengkok. Dengan cara memisahkan jaringan kapsul dan sekitarnya, tumor diangkat, Usahakan ateroma tidak pecah, bila pecah usahakan agar kapsul dapat diangkat semua. Setelah semua ateroma terangkat, bila lubang yang ditimbulkan itu besar, jaringan lemak dijahit dengan cat gut, sedangkan bila lubangnya kecil kulit dapat langsung dijahit dengan benang sutra. Jarak 1 jahitan dengan lainnya dibuat kira2 1 cm. Sebelum dijahit, luka diolesi dengan betadhine Luka jahitan ditutup dengan kasa steril yang telah ditetesi lar.betadine

6. Macam-macam jahitan(GAMBAR?) a. Simpul tunggal - Lakukan penusukan dari jarak -1 cm di tepi masing-masing luka dan sekaligus mengambil sebagian jaringan subkutan dengan teknik penusukan jarum yang tegak lurus pada arah atau garis luka. - Simpul diletakkan di tepi salah satu tempat tusukan di sebelah tepi luka - Benang dipotong kira-kira sepanjang 0,5-1 cm.

Gambar 11. Langkah-langkah menjahit luka

b. Donati Jahitan ini memungkinkan adaptasi yang lebih baik dari tepi luka.

c. Intrakutan Dilakukan untuk mengurangi kejadian bekas luka terutama digunakan pada anakanak atau luka pada daerah wajah (alasan kosmetika). Umumnya jahitan intrakutan menggunakan benang atramatik dengan bahan dari nilon sehingga mudah ditarik. Penggunaan benang absorbable memungkinkan, tetapi perlu diwaspadai reaksi abrobsi tersebut dapat menimbulkan keloid. d. Kontinyu Dipakai dengan tujuan yang sama seperti pada jahitan intrakutan. e. Kontinyu biasa Jarang digunakan karena jika terbentuk pus harus membongkar semua jahitan. f. Kontinyu festoon Biasanya digunakan untuk penutupan peritoneum atau penutupan kulit. 7. Komplikasi pascabedah a. Perdarahan Perdarahan bisa terjadi saat operasi berlangsung atau beberapa waktu setelah operasi usai. Hal ini disebabkan karena tekanan darah yang turun selama operasi, beberapa jam setelah operasi normal kembali, sehingga sumbatan darah terlepas, sehingga menyebabkan terjadinya perdarahan. Perdarahan ini juga dapat disebabkan oleh lepasnya ikatan benang pada pembuluh darah karena ikatan kurang kuat atau terjadi infeksi pada jahitan tersebut. b. Syok Merupakan komplikasi pasca bedah yang gawat dan dapat menyebabkan kematian. Semua syok, apapun penyebabnya menimbulkan gangguan peredaran darah seperti kulit menjadi pucat, akral dingin, bibir membiru (tanda sianosis), nadi cepat dan lemah, pernafasan cepat dan dangkal, suhu tubuh menurun, dan tekanan sistolik turun di bawah 90mmHg sedangkan diastolic di bawah 60 mmHg. Penyebab syok dapat berupa : - Kehilangan darah telampau banyak (syok hipovolemik) - Syok neurogenik - Gangguan fungsi jantung - Syok vasogenik karena pelebaran pembuluh darah kapiler, syok anafilaktik sering bersifat vasogenik - Syok sepsis atau toksik - Syok psikis, dapat terjadi pada pasien yang ketakutan, kesakitan hebat, atau keadaan emosi yang hebat. 8. Perawatan luka operasi Luka perlu ditutup dengan kasa steril, sehingga sisa darah dapat diserap oleh kasa tersebut, mencegah kontaminasi mikroorganisme, tersenggol, dan memberikan rasa aman pada pasien. Setelah dilakukan operasi, luka yang timbul biasanya ditutup dengan kasa steril selagi masih di ruang operasi dan tidak perlu diganti sampai diangkat jahitannya, kecuali jika terjadi perdarahan sampai darah menembus kasa,

sewaktu mengganti kasa perlu diperhatikan pengerjaannya harus dilakukan secara asepsis supaya tidak terjadi infeksi. Jahitan luka biasanya dibuka setelah hari kelima. Plester harus dilepaskan sejajar dengan kulit, jangan diangkat tegak lurus agar pasien tidak merasa sakit. Perlengkapan untuk mengganti perban terdiri dari : pinset anatomis, gunting tumpul, gunting perban, kasa steril, perban steril, plester, dan cairan antiseptik. Bila telah tiba waktunya untuk melepas jahitan, bersihkanlah luka dan kulit di sekitarnya dengan cairan antiseptik, pegang ujung benang, dengan pinset anatomis steril, lalu guntinglah benang itu tepat di bawah ikatan, sehingga benang yang berada di luar tidak masuk kembali ke dalam jaringan tubuh ketika benang diangkat.