Anda di halaman 1dari 12

BETON MEMADAT MANDIRI Oleh : Dr. Eng. Ir. Sholihin As'ad, MT.

Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 12 Agustus 2012

Seiring dengan perkembangan zaman, kreativitas manusia semakin maju. Banyak ide kreatif dan unik yang diaplikasikan pada desain konstruksi, khususnya pada konstruksi beton bertulang. Konstruksi unik ini memunculkan masalah karena pengerjaannya lebih sulit dibandingkan konstruksi biasa. Bentuk kontruksi yang kompleks dan tulangan rapat menimbulkan pekerjaan beton yang tidak semestinya, diantaranya yang berkaitan dengan masalah penuangan/ pengecoran beton pada bekisting. Pengecoran yang tidak baik akan menghasilkan beton jadi yang berkualitas jelek, seperti beton keropos/porous, permeabilitas tinggi, atau beton mengalami pemisahan material. Beton yang berkualitas baik adalah beton yang memiliki kuat tekan tinggi, kedap air dan tidak keropos/porous. Tingkat porousitas dan permeabilitas yang tinggi menyebabkan keawetan beton menjadi rendah sehingga beton tidak dapat digunakan sesuai dengan masa layannya. Beton yang porous rentan akan tempat yang agresif, zat-zat mudah masuk ke dalam beton dan mengkorosi tulangan-tulangan yang ada di dalam beton. Tulangan yang terkorosi dapat mengakibatkan lemahnya tulangan sehingga tidak dapat berfungsi secara maksimal dan merusak beton di sekelilingnya (spalling). Oleh sebab itu diperlukan teknologi dan metode baru yang memungkinkan pengecoran dapat dilakukan dengan merata dan terjaga homogenitas campuran beton. Dan salah satu solusinya adalah dengan penggunaan beton yang dapat memadat mendiri (self compacting concrete- SCC). Beton memadat mandiri, biasa disebut dengan SCC, adalah campuran beton yang mampu memadat sendiri tanpa menggunakan alat pemadat atau mesin penggetar (vibrator). SCC pertama kali diperkenalkan oleh Okamura pada tahun 1990-an, sebagai upaya mengatasi persoalan pengecoran di Jepang. Campuran SCC segar ini lebih cair daripada campuran beton konvensional. Campuran ini dapat mengalir dan memadat ke setiap sudut struktur bangunan yang sulit dijangkau oleh pekerja dan mengisi tinggi permukaan yang diinginkan dengan rata (self leveling) tanpa mengalami bleeding. Selain itu campuran ini mampu mengalir melalui celah-celah antar besi tulangan tanpa terjadi segregasi atau pemisahan materialnya. Walaupun sifatnya lebih cair daripada beton konvesional, porositas SCC cenderung lebih kecil daripada beton konvensional pada umumnya karena SCC menggunakan bahan tambah (admixture) berupa superplasticizer. Fungsi bahan tambah ini adalah menambah

tingkat workability campuran beton tanpa harus menambah nilai faktor air semen (fas) campuran beton. Nilai fas ini mempengaruhi porositas beton, semakin kecil nilai fas maka tingkat porositas beton akan cenderung semakin kecil. Tingkat porositas beton inilah yang mempengaruhi nilai kuat tekan dan permeabilitas beton. Selain itu, komposisi agregat pada SCC berbeda dengan beton konvensional. Komponen halus pada SCC cenderung lebih banyak daripada beton konvensional karena SCC memanfaatkan perilaku pasta yang dapat membantu mengalirkan beton segar. Beton konvesional menggunakan agregat kasar sebesar 70%-75% dari volume beton. Selain itu ukuran agregat kasar pada SCC lebih kecil daripada beton konvensional. Ukuran agregat kasar yang digunakan pada SCC sekitar 5 mm-20 mm. Komposisi agregat inilah yang dapat mengurangi tingkat permeabilitas dan porositas pada SCC sehingga beton lebih kedap air dan cenderung lebih awet dari pada beton konvensional.**

PENDAHULUAN Tujuan Setelah akhir pelajaran mahasiswa diharapkan dapat : 1. Menerangkan pengertian dari beton 2. Menerangkan sejarang perkembangan beton 3. Menerangkan jenis beton 4. Menyebutkan keuntungan dan kerugian dari beton sebgai bahan konstruksi PENGERTIAN BETON Beton adalah campuran dari aggregate (kasar dan halus) + semen + air + bahan admixture jika di perlukan. Bahan bahan tersebut di campur hingga homogeny dengan perbandingan tertentu. Karena hydrasi semen oleh air, maka semen + air dapat melekatkan butiran butiran aggregate hingga membentuk massa yang kuat (mengeras) seperti batu. Susunan bahan yang terdapat dalam beton pada umumnya terdiri dari : 1. 3 Udara 2. 8 Air 3. 15 4. 374 Semen Aggregat

Beton setelah mengeras mempunyai sifat mampu menahan gaya tekan, sampai batas yang di tentukan, sebaliknya tidak mampu menahan gaya tarik. Oleh sebab itu untuk mengatasi sifat yang tidak baik ini maka dipasang tulangan di dalam beton sehingga beton mampu menahan gaya tekan dan gaya tarik. Penggabungan dua bahan ini disebut beton bertulang.

SEJARAH PERKEMBANGAN BETON Beton sebagai bahan banguynan sudah dikenal sejak zaman kuno : yaitu oleh bangsa mesir. Pada tahun 70 SM, bangsa Romawi telah dapat membuat saluran air dari beton sepanjang 90 km dari Eifel ke Keulen, yang sampai sekarang masih menunjukan kekedapan yang tinggi. Beton yang dipakai ketika itu ialah beton tumbuk dan sebagai bahan pengikat dibuat dari campuran kapur + semem romawi. Semen Romawi dibuat dari kapur di bakar ditambahkan tanah pozzolana. Perkembangan beti ini bertambah pesat, setelah diketemukan semen Portland oleh Yosef Aspdin, yaitu dengan diketemukannya hal-hal bari seperti : 1. Tahun 1861, Yosef Monier (Bangsa Perancis) menerapkan pemakaian tulangan dalam beton. 2. Tahun 1885, Prof. Bauschinger dan Ways ( Bangsa Jerman) berhasil mengungkapkan prinsif perinsif hubungan antar tulangan dan beton, yang antara lain :

Besi dan beton memiliki daya lekat yang cukup kuat. Kesamaan koefisien muai dari kedua bahan tersebut, sehingga tidak timbul teganganb Pada pembuatan beton yang baik tulangan di dalam beton tidak akan berkarat. 1. Tahun 1892, Henneque (Bangsa Prancis) menerapkan pemakaian tulangan serong dan sengkang sengkang (beugel) 2. Tahun 1920-1924 Prof. Duft Abrams (Bangsa Amerika) dapat merumuskan bahwa kekuatan beton sangat di pengaruhi oleh kasar air. (Faktor air Semen)

perlawanan yang dapat melepaskan ikatan keduannya.

Di Indonesia perkembangan beton terlihat setelah tahun 1960 dengan memakai standard beton tahun 1955 yang di buat berdasarkan standard Belanda. Mengingat perkembangan teknologi beton sangat besar maka peraturan beton 1955 diganti dengan peraturan beton yang baru dikenal dengan PBI 1971 (N 1-2). Dan PBI 1971 inipun telag diganti dengan SNI 1991 atau sering disebut PBI 1991. Dewasa ini perkembangan beton masih terus berlanjut, yang mana banyajk terlihat dari bangunan mempergunakan beton sebagai bahan bangunan. Sehingga boleh dikatakan beton merupakan bahan bangunan yang paling penting dan popular di era saat ini. JENIS BETON Beton terdiri dari beberpa jenis dan untuk menentukan jenisnya dilihat berdasarkan : Berat Volume : BEratnya beton ditentukan oleh agregat yang di pakai seperti 1. Beton Berat Beton ini mempunyai berat volume > 2,8 ton/m3, di pakai unutuk masa yang berat dan pelindung sinar Gamma (untuk reactor). Aggregat yang dipakai antara lain : butir besi, barito, magnetic dan lain-lain. 1. Beton Normal Dipakai untuk konstruksi bangunan tempat tinggaln (biasa) dengan volume dari beton adalah 1,8 2,8 ton/m3. Jenis aggregate antara lain : pasir, kerikil, batu pecah dan lain-lain.

1. Beton Ringan Berat volume beton ini 0,6 1,8 ton/m3, dipakai untuk pembuatan lapis penyekat suara atau bangunan yang memikul beban ringan. Jenis agregat yang dipakai antara lain : expand clay batu apung, vermikulit dan lain lain. TEKNIK PEMBUATAN 1. Beton biasa Beton ini langsung dibuat dalam keadaan plastis, cara pembuatannya beton ini didasarkan atas : 1. Beton siap pakai (ready Mix concrete) 2. Beton in situ ( beton dibuat dilapangan) 3. Beton Precast Beton ini dibuat dalam bentuk elemen-elemen yang merupakan rangka dari konstruksi yang di buat. Jadi beton ini di pasang dalam keadaan mengeras. 1. Beton Prestress Beton ini dibuat dengan member tegangan dalam pada beton sebelum beton mendapat beban luar (kecuali beban sendiri) KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN DARI BETON SEBAGAI BAHAN KONSTRUKSI Keuntungan 1. Bisa dibuat dalam segala bentuk konstruksi 2. Mampu memikul beban yang berat 3. Tahan terhadap temperature yang tinggi 4. Biaya pemeliharaan yang kecil 5. Dapat dibuat tahan dengan bahan kimia tertentu 6. Dan lain-lain Kerugian 1. Bentuk yang telah dibuat sulit untuk dirubah 2. Pelaksanaan pengerjaannya membutuhkan ketelitian yang tinggi 3. Berat sendiri yang besar 4. Daya pantul suara yang besar 5. Biaya yang besar 6. Dan lain lain BAHAN BAHAN BETON Tujuan Setelah Akhir pelajaran siswa diharafkan dapat : 1. Menerangkan spesifikasi bahan-bahan untuk adukan beton secara singkat. SEMEN

Semen merupakan bahan yang berfungsi untuk mengikat agregat jika ditambah air, dalam membentuk satu kesatuan masa beton. JENIS SEMEN Semen mempunyai beberapa macam jenis tetapi yang umum dipakai untuk beton adalah semen Portland, type semen berdasarkan mutu ASTM ialah : 1. Type I yaitu semen Portland normal 2. Type II yaitu semen Portland untuk ketahanan sulfat dan panas yang sedang 3. Type V yaitu semen Portland untuk ketahanan sulfat tinggi TAMBAHAN 1. Bobot isi semen = 1,25 2. Berat jenis = > 3 pada umumnya = 3,15 AGGREGAT Aggregat adalah butiran batuan yang mempunyai susunan butir halus dan kasar. KArena 60 % 80% dari beton adalah aggregate , maka aggregate disebut bahan pengisi beton. JENIS AGGREGAT Berdasarkan besar butirnya, aggregate dibagi dalam dua golongan : AGGREGAT HALUS Aggregat yang mempunyai besar butiran tidak melebihi 5 mm. Adapun yang termasuk jenis ini adalah : 1. Pasir alam 2. Pasir buatan (artificial light weight aggregate) 3. Pasir laut, setelah melalui pemeriksaan kadar garam. AGGREGAT KASAR Aggregat yang mempunyai besar butirannya lebih dari 5 mm, adapun yang termasuk jenis ini adalah : 1. Kerikil 2. Batu pecah 3. Batu apung alam 4. Batu buatan (artificial light weight aggregate) PERSYARATAN DARI AGGREGAT AGGREGAT HALUS 1. Mempunyai butir yang tajam dank eras 2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% apabila melebihi harus dicuci 3. Tidak boleh mengandung zat organic yang dapat mengurangi mutu beton. AGGREGAT KASAR 1. Mempunyai butir yang keras dan tidak berpori

2. Aggregat yang berbentuk pipih tidak boleh melebihi 20% dari pemakaian aggregate beton. 3. Tidak boleh lumpur lebih dari 1% dan tidak mengandung zat yang merusak beton 4. Besar butir maximum tidak boleh melebihi 1/5 jarak terkecil antara bidang-bidang samping cetakan 1/3 tebal pelat atau jarak bersih minimum antara batang-batang atau berkas-berkas tulangan. AIR Dalam adukan beton, air berfungsi sebagai perantara terjadinya reaksi persenyawaan antara semen dan aggregate , dalam pembentukan suatu masa yang kokoh seperti batu. PERSYARATAN AIR Air yang diperlukan untuk pembentukan beton tidak boleh mengandung lumpur atau zat-zat yang dapat merusak/mengurangi mutu beton, seperti : 1. Garam 2. Asam sulfat 3. Minyak 4. Diterjen/sabun 5. Dll JAdi sebaiknya air bersih dan tawar serta dapat diminum. SUMBAER AIR KEmurnian air merupakan penunjang kerapatan dan kepadatan beton, untuk mendapatkan air seperti itu didapat dari : 1. Air ledeng 2. Air Pompa/sumur 3. Air sungai atau danau yang bersih 4. Air laut, dapat dipakai apabila terpaksa dengan ketenttuan bahwa sebelumnya telah ada persetujuan dari tim pemeriksa, dan telah melalui pemeriksaan di LAboratorium dan pengujian atas campuran beton terlebih dahulu. BAJA TULANGAN Baja tulangan yang seperti telah diuraikan pada bagian permulaan, bahwa baja tulangan dalam beton adalah berfungsi untuk menahan beban/gaya tarik didalam beton. MACAM BAJA TULANGAN Menurut bentuknya baja tulangan pada konstruksi beton di dagi dalam : BATANG POLOS YAitu batang prismatic berpenamp[ang bulat, persegi lonjong dan sebagainya dan mempunyai permukaan yang licin/halus. PAda umumnya baja tulangan polos yang dipakai di Indonesia berbentuk bulat. BATANG YANG DIPROFILKAN/ULIR

Yaitu batang prismatic/dipuntir permukaanya diberi rusuk-rusuk terpasang tegal lurus/miring terhadap sumbu batang dengan jarak antara rusuk tidak lebih dari 0,7 garis tengah pengenal tulangan. UKURAN BAJA TULANGAN Berdasarkan normalisasi, baja tulangan bulat mempunyai ukuran garis tengah : 6, 8, 10, 12, 14, 16, MUTU U 22U 24 U 32 U 39 U 48 SEBUTAN Baja LunakBaja Lunak Baja Sedang Baja Keras Baja Keras au 2200 kg/cm22400 kg/cm2 3200 kg/cm2 3900 kg/cm2 4800 kg/cm2

19,22, 25, 28, 32, 36, 40, 45, 50 mm dengan panjang 12 meter. MUTU BAJA TULANGAN ADMIXTURE Tujuan dari pemakaian admixture adalah untuk memodifikasi atau memperbaiki sifat dari beton. PENGGOLONGAN ADMIXTURE 1. Water Reducer (Plasticizer) Bahan ini di rancang untuk : memperbaiki workability, mempertinggi kuat tekan, menstabilisasi keawetan. 1. Accelator Bahan ini di rancang untuk mempercepat proses hidrasi semen dengan demikian pengerasan beton dapat di percepat/mempercepat pengerasan beton. 1. Retarder Bahan ini dirancang untuk memperlambat proses hidrasi semen, perlambatan ini dapat berlangsung 1 3 jam baru setelah itu dapat mengeras. 1. Super Plasticer Bahan ini dirancang untuk meningkatkan sifat dan karakteristik beton yaitu : menambah workability beton (slump dapat mencapai 20 cm), membuat beton yang mampu memadat sendiri ( self compacting concrete), mempertinggi kuat tekan (sebagai pengurangan pemakaian air) 1. Air Entraining agents BAhan ini dirancang untuk : mengontrol kadar udara dalam beton, menambah keaweatan beton, mencegah segregasi dan bleeding, serta menambah kerapatan air. 1. Pigmen

Bahan ini dirancang untuk : member warna pada beton 1. Dll. Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum memutuskan untuk menggunakan admixture di dalam beton :

Admixture beton adalah sekedar zat penolong untuk menambah supaya sifat beton itu Jangan memakai admixture jika tidak mengerti atau mengetahui dengan baik tujuan Suatu admixture dapat berubah lebih dari satu sifat beton Pengawasan terhadap bahan ini dilakukan dengan seksama baik penyimpanan maupun

lebih baik, tetapi admixture bukan zat yang membuat beton buruk bias menjadi baik. yang di inginkan.

pengaruhnya terhadap beton, sebaiknya sebelum digunakan harus dilakukan percobaan di laboratorium terlebih dahulu sebelum diputuskan untuk di pakai. KLASIFIKASI BETON Tujuan Setelah akhir pelajaran ini diharapkan dapat : 1. Menyebutkan macam-macam kelas dan mutu beton 2. Menerangkan tujuan pemakaian dari mutu beton 3. Menerangkan bentuk pengawasan dari pembuatan beton MUTU DAN BELAS BETON Berdasarkan peraturan beton Indonesia 1971, beton untuk konstruksi bangunan dibagi dalam beberapa mutu dan kelas ( Table.1) Table.1. Kelas dan Mutu beton bm Kelas mutu 1. Bo 1. B1 K125 K175 K225 1. K225 K250 225250 300425 StrukturStruktur KetatKetat KontinuKontinu bk (kg/cm2) (kg/cm2)dg. S=46 -125 175 225 -200 250 300 nonstruktur Tujuan Pengawasan terhadap Mutu Aggregat Kekuatan Tekan ringan Tanpa TanpaKontinu Kontinu Kontinu

StrukturStruktur KetatKetat Struktur Struktur Ketat Ketat

Keterangan :

1. Konstruksi nonstruktur adalah konstruksi yang hanya memikul beban sendiri dan beban luar ringan (tanpa memikul beban bangunan), contoh beton rabat, lantai kerja, lantai selasar/K5 2. Konstruksi struktur adalh konstruksi yang memikul beban sendiri dan beban luar (secara langsung memikul beban bangunan), contoh kolom, balok, lantai atas.

Self Compacting Concrete 4082009 Beton memadat mandiri (self compacting concrete, SCC) adalah beton yang mampu mengalir sendiri yang dapat dicetak pada bekisting dengan tingkat penggunaan alat pemadat yang sangat sedikit atau bahkan tidak dipadatkan sama sekali.Beton ini dicampur memanfaatkan pengaturan ukuran agregat, porsi agregat dan van admixture superplastiziser untuk mencapai kekentalan khusus yang memungkinkannya mengalir sendiri tanpa bantuan alat pemadat.Sekali dituang ke dalam cetakan, beton ini akan mengalir sendiri mengisi semua ruang mengikuti prinsip grafitasi,termasuk pada pengecoran beton dengan tulangan pembesian yang Sangat rapat.Beton ini aka mengalir ke semua celah di tempat pengecoran dengan memanfaatkan berat sendiri campuran beton Ladwing, II M.,Woise,F.,Hemrich, W . and Ehrlich, N . (2001).

Beton memadat mandiri pertama kali dikembangkan di jepang pada tahun 1990an sebagai upaya untuk mengatasi persoalan pengecoran komponen gedung artistik dengan bentuk geometri tergolong rumit bila dilakukan pengecoran beton normal.Riset temtang beton memadat mandiri masih terus dilakukan hingga sekarang dengan banyak aspek kajian, misalnya ketahanan (durability),permeabilitas dan kuat tekan (compressive strength).Kekuatan tekan beton kering 102 Mpa sudah dapat dicapai karena penggunaan admixture superplastiziser yang memungkinkan npenuruna rasio air-semen (w/c) hingga nilai w/c = 0,3 atau lebih kecil.Juvas (2004). Mekanisme Pengaliran Beton Memadat Mandiri

Menurut Hela dan Hubertova (2006) kemampuan mengalir dengan tingkat ketahanan terhadap segregasi yang tinggi pada beton memadat mandiri disebabkan oleh dua resep kunci sebagai berikut : a. Penggunaan superplastiziser yang memadai dengan sangat ketat mengatur komposisi agregat pada campuran. b. Rasio air-semen (w/c-ratio) yang rendah dengan mengendalikan volume agregat yang dikombinasikan denhan agregat pengisi 0,125 mm menyebabkan campuran beton ini tidak mudah mengalami segregasi. Pada komposisi campuran beton, perbedaan utama beton memadat mandiridenganbeton konvensional adalah penggunaan porsi bahan pengisi yang cukup besar, sekitar 40 % dari volume total campuran beton.Bahan pengisi ini adalah pasir butiran halus dengan ukuran butiran maksimum (dmax ) 0,125 mm.Porsibesar bahan pengisi ini menyebabkan campuran beton cenderung berprilaku sebagai pasta.Penggunaan superplastiziser yang memadai, biasanya berbahan polycarboxylate, memungkinkan penggunaan air pada campuran dapat dikurangi, namun pengurangan pengerjaan (workability) dan kemampuan pengaliran (flowability) campuran beton dapat dijaga. Bahan pengisi tambahan lain yang digunakan dalam penbuatan beton memadat mandiri adalah abu terbang , silica fume, terak (blastfurnace slag), metakaolin dan lain-lain.Hela dan Hubertova (2006).

Beton Memadat Mandiri untuk Pembuatan Komponen Bangunan Pracetak Kemudahan dalam hal pencetakan tidak memerlukan penggetar menjadikan beton memadat mandiri banyak dimanfaatkan dalam industri komponen pracetak.Rise, G.and Skarendahl, A. (1999).Beberapa artikel tentang penggunaan beton memadat mandiri untuk bahan beton pracetak panel dinding dan lantai bangunan ditulis oleh Tegar, Rudolf (2001),perancangan dan penbangunan gedung The Phaeno Science Center di Wolfsburg,Meyer dan Bahrie (2004),pengalaman produsen beton pracetak Consolis di Eropa menggunakan bahan beton memadatmandiri, Juvas (2004).

Menurut Rise,Grand Skarendahl, A. (1999),pada pekerjaan pembetonan struktur beton pracetak, Penggunaan beton memadat mandiri sangat berkontribusi pada penggunaan item pekerjaan dan peningkatan kecepatan kerja.Penggunaan beton memadat mandiri akan memperpendek siklus waktu pencetakan.Hal ini berarti bahwa dengan waktu kerja tertentu, tingkat produktifits dalam bentuk jumlah hasil produk akan lebih tinggi dibandingkan capaian pada sistem pembetonan normal.Keuntungan lain adalah penghematan energi yang digunakan untuk penggetar dan penghilangan suara bising yang memungkinkan perbaikan suasana lingkungan pekerjaan proyek. Serat Meningkatkan Kinerja Beton Penambahan serat kedalam beton akan meningkatkan kuat tarik beton yang umumnya sangat rendah.Pertambahan kuat tarik akan memperbaiki kinerja komposit beton serat dengan kualitas yang lebih bagus dibandingkan dengan beton konvensional. Lebih rinci, keuntungan penambahan serat pada beton adalah: pertama,serat terdistribusi secara acak di dalam beton pada jarak yang relatif sangat dekat satu dengan yang lainnya.Hal ini akan memberi tahanan terhadap tegangan berimbang ke segala arah dan memberi keuntungan material struktur yang disiapkan untuk menahan beban dari berbagai arah.Kedua, perbaikan perilaku deformasi seperti ketahanan terhadap impak, daktilitas yang lebih besar, kuat lentur dan kapasitas torsi yang lebih baik.Ketiga,serat meningkatkan ketahanan beton terhadap formasi dan pembentukan retak.Keempat,peningkatan ketahanan pengelupasan {spalling}dan retak pada selimut beton akan membantu pada penghambatan korosi besi tulangan dari serangan kondisi lingkungan yang berpotensi korosi.Penggunaan serat sintetik akan meningkatkan ketahanan material beton terhadap bahan api.Secara umum semua keuntungan tersebut akan berarti peningkatan ketahanan struktur bangunan.Imam,M {1997}. Jenis Serat

Sejumlah laporan riset dan penggunan praktis beton serat menunjukkan bahwa untuk peningkatan kemampuan kontruksi umumnya digunakan serat baja berukuran makro dengan panjang sekitar 2 cm atau lebih.Penggunana serat baja

modern dengan berbagai bentuk ;permukaan kasar ujung berangkuar,bergelombang dan beberapa bentuk lain terbukti sangat efektif meningkatkan kemampuan lentur,duktilitas ketahanan menahan retak,ketahanan torsi dan ketahanan lelah (fatigue resistance),Maidl,R B(1995) dan Ding,Y (2003).Dosis penggunaan yang umum adalah 0,25-2% takaran volume atau sekitar 20-50 kg serat baja per meter kubik produksi beton. Serat sintetik adalah serat buatan yang diperoleh dari pengembangan produk petrokimia dan industri tekstil.Material ini di kenal dalam banyak jenis sepertiacrylic,aramid,carbon,nylon,polyethilene,polypropylene.Serat sintetik umumnya cocok digunakan untuk ketahaan terhadap retak,khususnya di umur dini ,Braunch,J et.al{2002}.Dosis penggunaan serat sintetik beragam dari 0.1% hingga 0,8% takaran volume. Serat kaca (glass fibre) banyak juga digunakan pada pekerjaan beton pada pencampuran biasa atau beton semprot (shotcrete).Serat kaca banyak dimanfaatkan untuk pembuatan pipa ,lembaran asbes dan sejumlah produk beton pracetak.Keunggulan serat gelas adalah sifat alkali resistent yang terksdang menjadi persoalan pada serat baja.Dosis penggunaan serat kaca adalah sekitar maksimum 5 % takaran volume atau sekitar 1-1,5 kg serat kaca per meter kubik beton. Selain itu ,serat alami yang diperoleh dari tumbuhan atau hewan.Jenis yang biasa dikenal adalah ijuk,sabut kelapa, tempurung kelapa ,bambu,jute,kayu,bulu binatang dll.Jenis serat ini banyak digunakandi negara berkembang karena harganya murah. Muh. Syarif, Muh. Agus F. & Kunto A.