Anda di halaman 1dari 21

PENDAHULUAN

Latar Belakang Persamaan keadaan adalah persamaan termodinamika yang menggambarkan keadaan materi di bawah seperangkat kondisi fisika. (wikipedia, 2013: 1) Persamaan keadaan adalah sebuah persamaan konstitutif yang menyediakan hubungan matematik antara dua atau lebih fungsi keadaan yang berhubungan dengan materi, seperti temperatur, tekanan, volume dan energi dalam. Persamaan keadaan berguna dalam menggambarkan sifat-sifat fluida, campuran fluida, padatan, dan bahkan bagian dalam bintang. Menurut (wikipedia, 2013: 1), Penggunaan paling umum dari sebuah persamaan keadaan adalah dalam memprediksi keadaan gas dan cairan. Salah satu persamaan keadaan paling sederhana dalam penggunaan ini adalah hukum gas ideal, yang cukup akurat dalam memprediksi keadaan gas pada tekanan rendah dan temperatur tinggi. Tetapi persamaan ini menjadi semakin tidak akurat pada tekanan yang makin tinggi dan temperatur yang makin rendah, dan gagal dalam memprediksi kondensasi dari gas menjadi cairan. Sejauh ini kita baru meninjau hubungan antara suhu, volume dan tekanan gas. Massa gas masih diabaikan. Setiap zat atau materi, termasuk zat gas terdiri dari atom-atom atau molekul-molekul. Karena atom atau molekul mempunyai massa maka tentu saja gas juga mempunyai massa. Kalau dirimu bingung, silahkan pelajari lagi materi Teori atom dan Teori kinetik. (Oza, 2009) Tanpa disadari banyak hal yang berhubungan dengan persamaan keadaan yang kita lakukan di dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika meniup balon, semakin banyak udara yang dimasukkan, semakin kembung balon tersebut. Dengan kata lain, semakin besar massa gas, semakin besar volume balon. Akan tetapi, kita belum menyadari bahwa hal-hal tersebut berhubungan dengan persamaan keadaan gas ideal. Dengan adanya makalah yang membahas secara rinci mengenai persamaan keadaan, diharapkan pembaca dapat memahami secara mendalam mengenai hukum persamaan keadaan. Maka dari itu perlu dibahas dengan jelas dan mendalam mengenai Persamaan Keadaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Persamaan Keadaan Persamaan keadaan adalah persamaan termodinamika yang menggambarkan keadaan materi dibawah seperangkat kondisi fisika. Persamaan keadaan banyak berhubungan dengan materi seperti temperatur, tekanan, dan volume. Apabila volume (V), suhu (T), dan massa (m) di atur dengan nilai tertentu, maka nilai tekanan (P) tidak bisa sembarang. Adapun hubungan antara besaran-besaran ini adalah :

Sistem Dan Persamaan Keadaannya Keadaan seimbang mekanis adalah sistem berada dalam keadaan seimbang mekanis, apabila resultan semua gaya (luar maupun dalam) adalah nol. Keadaan seimbang kimiawi adalah sistem berada dalam keadaan seimbang kimiawi, apabila didalamnya tidak terjadi perpindahan zat dari bagian yang satu ke bagian yang lain (difusi) dan tidak terjadi reaksi-reaksi kimiawi yang dapat mengubah jumlah partikel semulanya; tidak terjadi pelarutan atau kondensasi. Sistem itu tetap komposisi maupun konsentrasnya. Keadaan seimbang termal adalah sistem berada dalam keadaan seimabng termal dengna lingkungannya, apbiala koordinat-koordinatnya tidak berubah, meskipun sistem berkontak dengan lingkungannnya melalui dinding diatermik. Besar/nilai koordinat sistem tidak berubah dengan perubahan waktu. Keadaan keseimbangan termodinamika adalah sistem berada dalam keadaan seimbang termodinamika, apabila ketiga syarat keseimbangan di atas terpenuhi. Dalam keadan demikian keadaan koordinat sistem maupun lingkungan cenderung tidak berubah sepanjang massa. Termodinamika hanya mempelajari sistem-sistem dalam keadaan demikian. Dalam keadaan seimbang termodinamika setiap sistem tertutup (yang mempunyai massa atau jumlah partikel tetap misalnya n mole atau m kg) ternyata dapat digambarkan oleh tiga koordinat dan semua eksperimen menunjukkan bahwa dalam keadaan seimbang termodinamika, antara

ketiga koordinat itu terdapat hubungan tertentu : f(x,y,z) = 0 dengan kata lain : dalam keadan seimbang termodinamis, hanya dua di antara ketiga koordinat sistem merupakan variabel bebas. Suatu gas disebut gas ideal bila memenuhi hukum gas ideal, yaitu hukum Boyle, Gay Lussac, dan Charles dengan persamaan P.V = n.R.T. Akan tetapi, pada kenyataannya gas yang ada tidak dapat benar-benar mengikuti hukum gas ideal tersebut. Hal ini dikarenakan gas tersebut memiliki deviasi (penyimpangan) yang berbeda dengan gas ideal. Semakin rendah tekanan gas pada temperatur tetap, nilai deviasinya akan semakin kecil dari hasil yang didapat dari eksperimen dan hasilnya akan mendekati kondisi gas ideal. Namun bila tekanan gas tesebut semakin bertambah dalam temperatur tetap, maka nilai deviasi semakin besar sehingga hal ini menandakan bahwa hukum gas ideal kurang sesuai untuk diaplikasikan pada gas secara umum yaitu pada gas nyata atau gas riil. Gas ideal memiliki deviasi (penyimpangan) yang lebih besar terhadap hasil eksperimen dibanding gas nyata dikarenakan beberapa perbedaan pada persamaan yang digunakan sebagai berikut: Jenis gas
Tekanan gas

Ketika jarak antar molekul menjadi semakin kecil, terjadi interaksi antar molekul dimana tekanan gas ideal lebih besar dibanding tekanan gas nyata (Pnyata < Pideal) Volume gas Dalam gas ideal, volume gas diasumsikan sama dengan volume wadah karena gas selalu menempati ruang. Namun dalam perhitungan gas nyata, volume molekul gas tersebut juga turut diperhitungkan, yaitu: Vriil = Vwadah Vmolekul Maka dari itu, perbedaan persamaan pada gas ideal dengan gas nyata dinyatakan dalam faktor daya mampat atau faktor kompresibilitas (Z) yang mana menghasilkan persamaan untuk gas nyata yaitu:

Beberapa asumsi dan eksperimen telah dikembangkan untuk membuat persamaan yang menyatakan hubungan yang lebih akurat antara P, V, dan T dalam gas nyata. Beberapa persamaan gas nyata yang cukup luas digunakan yaitu
3

persamaan van der Waals, persamaan Kammerligh Onnes, persamaan Berthelot, dan persamaan Beattie-Bridgeman. Persamaan keadaan gas ideal dan diagram P-V-T Dari hasil eksperimen, nilai sama lain. besaran-besaran termodinamika bergantung satu

Volume dikecilkan tekanan naik

Suhu dinaikkan panjang bertambah

Apabila volume (V), suhu (T) dan massa (m) diatur dengan nilai tertentu, maka nilai tekanan (P) tidak bisa sebarang. Ada hubungan antara besaran-besaran ini sebagai berikut: f(P, V, T, m) = 0 Hubungan ini disebut persamaan keadaan. Biasanya persamaan keadaan dituliskan berdasarkan sifat-sifat alam bukan berapa banyak material berada, sehingga besaran ekstensif diganti dengan nilai spesifiknya. Seperti V menjadi v = V / m, sehingga persamaan keadaan menjadi: f(P, v, T) = 0 Persamaan ini bervariasi dari satu zat ke zat yang lain. Hubungan antar satu sama lain biasanya tidak sederhana. Untuk mempermudah, sering dipakai ilustrasi grafik. Contoh eksperimen untuk 1 mole gas karbon dioksida: Plot antara Pv/T vs. P untuk tiga temperatur yang berbeda.

Ilustrasi grafik tersebut menunjukkan: Tampak bahwa nilai Pv/T tidak konstan Pada tekanan rendah ketiga kurva menyatu pada nilai Pv/T = R dengan R merupakan konstanta gas universal. Pada suhu tinggi, kurva mendekati garis lurus Pada tekanan yang cukup rendah, untuk semua gas: Pv/T = R atau Pv = RT Oleh karena itu seringkali digunakan pendekatan gas ideal yang mengasumsikan bahwa rasio Pv/T selalu sama dengan R untuk semua tekanan dan temperatur. Kita tahu bahwa di alam tidak ada gas ideal semacam itu, gas yang mendekati gas ideal terjadi pada tekanan rendah dan suhu tinggi, namun studi tentang gas ideal sangat bermanfaat sebagai salah satu pendekatan untuk mengetahui sifatsifat gas sesungguhnya. Persamaan gas ideal: Pv = RT karena v = n /V maka persamaan gas ideal juga dapat ditulis

PV = nRT

Pendekatan Persamaan Keadaan Gas Real Gas yang mengikuti hukum Boyle dan hokum Charles, disebut gas ideal. Namun, didapatkan, bahwa gas yang kita jumpai, yakni gas nyata, tidak secara ketat mengikuti hukum gas ideal. Semakin rendah tekanan gas pada temperatur tetap, semakin kecil deviasinya dari perilaku ideal. Semakin tinggi tekanan gas, atau dengan dengan kata lain, semakin kecil jarak intermolekulnya, semakin besar deviasinya. Paling tidak, ada dua alasan yang menjelaskan hal ini. Pertama, definisi temperatur absolut didasarkan asumsi bahwa volume gas real sangat kecil sehingga bisa diabaikan.Molekul gas pasti memiliki volume nyata walaupun mungkin sangat kecil. Selain itu, ketika jarak antarmolekul semakin kecil, beberapa jenis interaksi antarmolekul akan muncul. Fisikawan Belanda Johannes Diderik van der Waals (1837-1923) mengusulkan persamaan keadaan gas nyata, yang dinyatakan sebagai persamaan keadaan van der Waals atau persamaan van der Waals. Ia memodifikasi persamaan gas ideal dengan cara sebagai berikut: dengan menambahkan koreksi pada p untuk mengkompensasi interaksi antarmolekul; mengurango dari suku V yang menjelaskan volume real molekul gas. Persamaan van der Waals didasarkan pada tiga perbedaan yang telah disebutkan diatas dengan memodifikasi persamaan gas ideal yang sudah berlaku secara umum. Pertama, van der Waals menambahkan koreksi pada P dengan mengasumsikan bahwa jika terdapat interaksi antara molekul gas dalam suatu wadah, maka tekanan riil akan berkurang dari tekanan ideal (Pi) sebesar nilai P. Nilai P merupakan hasil kali tetapan besar daya tarik molekul pada suatu jenis jenis gas (a) dan kuadrat jumlah mol gas yang berbanding terbalik terhadap volume gas tersebut, yaitu:

Kedua, van der Waals mengurangi volume total suatu gas dengan volume molekul gas tersebut, yang mana volume molekul gas dapat diartikan sebagai perkalian antara jumlah mol gas dengan tetapan volume molar gas tersebut yang berbeda untuk masing-masing gas (V nb).

Dalam persamaan gas ideal (PV = nRT), P (tekanan) yang tertera dalam persamaan tersebut bermakna tekanan gas ideal (Pi), sedangkan V (volume) merupakan volume gas tersebut sehingga dapat disimpulkan bahwa persamaan van der Waals untuk gas nyata adalah: Dengan mensubtitusikan nilai P, maka persamaan total van der Waals akan menjadi:

Nilai a dan b didapat dari eksperimen dan disebut juga dengan tetapan van der Waals. Semakin kecil nilai a dan b menunjukkan bahwa kondisi gas semakin mendekati kondisi gas ideal. Besarnya nilai tetapan ini juga berhubungan dengan kemampuan gas tersebut untuk dicairkan. Berikut adalah contoh nilai a dan b pada beberapa gas. a (L2 atm mol-2) b (10-2 L mol-1) H2 0.244 2.661 O2 1.36 3.183 NH3 4.17 3.707 C6H6 18.24 11.54 Daftar nilai tetapan van der Waals secara lengkap dapat dilihat dalam buku Fundamentals of Physical Chemistry oleh Samuel Maron dan Jerome Lando pada tabel 1-2 halaman 20. Pada persamaan van der Waals, nilai Z (faktor kompresibilitas):

Untuk memperoleh hubungan antara P dan V dalam bentuk kurva pada persamaan van der Waals terlebih dahulu persamaan ini diubah menjadi persamaan derajat tiga (persamaan kubik) dengan menyamakan penyebut pada ruas kanan dan kalikan dengan V2 (V - nb), kemudian kedua ruas dibagi dengan P, maka diperoleh:

0.006 0.004 0.002 f(V) 0 0 -0.002 -0.004 -0.006 0.1

Kurva P terhadap V dalam persamaan van der Waals

0.2

0.3

0.4

0.5

V (L/mol)

Apabila volume spesifik, v, sangat besar (secara fisis berarti total mole gas kecil sekali sehingga tidak ada interaksi antar molekul) maka persamaan van der Waals menjadi gas ideal. suku a / v2 dapat diabaikan terhadap P, dan juga suku b diabaikan terhadap v, hal ini membuat

Persamaan keadaan Lain pada Gas Real a. Persamaan Kamerlingh Onnes Pada persamaan ini, PV didefinisikan sebagai deret geometri penjumlahan koefisien pada temperature tertentu, yang memiliki rasio P (tekanan) dan Vm (volume molar), yaitu sebagai berikut: Nilai A, B, C, dan D disebut juga dengan koefisien virial yang nilai dapat dilihat dalam buku Fundamentals of Physical Chemistry oleh Samuel Maron dan Jerome Lando Pada tekanan rendah, hanya koefisien A saja yang akurat, namun semakin tinggi tekanan suatu gas, maka koefisien B, C, D, dan seterusnya pun akan lebih akurat sehingga dapat disimpulkan bahwa persamaan Kamerlingh akan memberikan hasil yang semakin akurat bila tekanan semakin bertambah.

10

b. Persamaan Berthelot

Persamaan ini berlaku pada gas dengan temperatur rendah ( 1 atm), yaitu:

Pc = tekanan kritis (tekanan pada titik kritis) dan Tc = temperatur kritis (temperatur pada titik kritis). P, V, n, R, T adalah besaran yang sama seperti pada hukum gas ideal biasa. Persamaan ini bermanfaat untuk menghitung massa molekul suatu gas. c. Persamaan Beattie-Bridgeman Dalam persamaan ini terdapat lima konstanta. Persamaan Beattie-Bridgeman ini terdiri atas dua persamaan, persamaan pertama untuk mencari nilai tekanan (P), sedangkan persamaan kedua untuk mencari nilai volume molar (Vm).

Dimana:

Nilai Ao, Bo, a, b, dan c merupakan konstanta gas yang nilainya berbeda pada setiap gas. Daftar nilai Ao, Bo, a, b, dan c dapat dilihat dalam buku Fundamentals of Physical Chemistry oleh Samuel Maron dan Jerome Lando pada tabel 1-5 halaman 23. Persamaan ini memberikan hasil perhitungan yang sangat akurat dengan deviasi yang sangat kecil terhadap hasil yang didapat melalui eksperimen sehingga persamaan ini mampu diaplikasikan dalam kisaran suhu dan tekanan yang luas. Sifat-sifat gas dapat dipelajari dari segi eksprimen dan dari segi teori. Hukum-hukum berikut diperoleh dari hasil-hasil eksperimen, yaitu:

11

Hukum Boyle Volume dari sejumlah tertentu gas pada temperature,tetap berbanding terbalik dengan tekanannya.Secara sistematis dapat ditunjukkan : V = K1/ P Dimana: V = Volume gas. P = Tekanan gas. K1 = Tetapan yang besarnya tergantung temperatur, berat gas, jens gas dan satuan P dan V Hukum Charles Dalam termodinamika dan kimia fisik, hukum Charles adalah hukum gas ideal pada tekanan tetap yang menyatakan bahwa pada tekanan tetap, volume gas ideal bermassa tertentu berbanding lurus terhadap temperaturnya (dalam Kelvin). Secara matematis, hukum Charles dapat ditulis sebagai:

dengan V: volume gas (m3), T: temperatur gas (K), dan k: konstanta. Hukum ini pertama kali dipublikasikan oleh Joseph Louis Gay-Lussac pada tahun 1802, namun dalam publikasi tersebut Gay-Lussac mengutip karya Jacques Charles dari sekitar tahun 1787 yang tidak dipublikasikan. Hal ini membuat hukum tersebut dinamai hukum Charles. Hukum Boyle, hukum Charles, dan hukum Gay-Lussac merupakan hukum gas gabungan. Ketiga hukum gas tersebut bersama dengan hukum Avogadro dapat digeneralisasikan oleh hukum gas ideal. Volume suatu gas pada tekanan tetap, bertambah secara linear dengan naiknya suhu. Hubungan volume gas dengan suhunya pada tekanan tetap, secara sistematis dapat ditulis: V = b.T Dimana: T b V = suhu dalam Kelvin = tetapan = volume gas

12

Hukum Avogadro Avogadro mengamati bahwa gas-gas yang mempunyai volume yang sama. Karena jumlah partikel yang sama terdapat dalam jumlah mol yang sama, maka hukum Avogadro sering dinyatakan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama (konstan),gas-gas dengan volume yang sama mempunyai jumlah mol yang sama. V=A.n Dimana: V A n = volume gas pada suhu dan tekanan tertentu = tetapan = jumlah mol

2.3. Ekspansi dan Kompresibilitas Sebagaimana koefisien muai linear/volume, secara umum dapat didefinisikan koefisien ekspansi volume:

Perubahan volume terhadap kenaikan temperatur persatuan volume pada tekanan tetap. Koefisien ekspansi volume menunjukkan seberapa jauh material berkembang terhadap agitasi termal. Untuk gas ideal:

2.4. Konstanta Kritis Gas Van der Waals Meskipun pendekatan gas van der Waals cukup sederhana, gas ini menunjukkan adanya titik kritis dan berkorespondensi dengan daerah cair-uap pada gas real.
13

2.5. Hubungan Derivasi Parsial dan Diferensial Eksak

14

15

Apabila dP dan dT mendekati nol maka terjadi turunan dua tahap: Perhatikan suku sebelah kiri diturunkan ke T dahulu, lalu ke P Perhatikan suku sebelah kanan diturunkan ke P dahulu, lalu ke T

Turunan parsial campuran tidak tergantung pada urutan. Perbedaan dV untuk semua proses adalah sama disebut diferensiasi eksak. Pada kenyataannya diferensial dari semua sifat-sifat sistem (volume, tekanan, suhu, magnetisasi etc.) adalah eksak. Energi pertukaran (interchange) antara sistem dan sekelilingnya merupakan satu contoh besaran diferensial tidak eksak. Sejalan dengan hal tersebut secara matematik

Kita telah melihat bahwa hasil dari ekspansi Joule (berlaku untuk gas ideal) menunjukkan eksperimen bahwa untuk gas ideal,

16

(1) (1) Ini akan menguntungkan untuk dapat menghitung jumlah ini dari persamaan PVT. Ada persamaan yang akan dibuktikan nanti, yang disebut persamaan termodinamika. Hal ini memungkinkan kita untuk menghitung turunan dalam persamaan (1). Persamaan adalah,

(2) (2) Untuk gas ideal,

Sehingga,

Kemudian,

Kita juga dapat melihat apa persamaan termodinamika yang diberikan untuk gas van der Waals. Untuk gas van der Waals kita menemukan,

sehingga

dan

17

Kita tahu bahwa a bernilai kecil dan n tekanan sangat tinggi (kepadatan).

/V

akan menjadi kecil, kecuali pada

(Hasil di atas dapat dipahami berdasarkan apa yang terjadi di dalam gas Ketika gas memuai pada temperatur konstan menyerap panas dari sekitarnya dan tidak bekerja pada lingkungan. Jika gas ideal panas dan bekerja persis keseimbangan sehingga tidak ada perubahan dalam energi internal gas. Dalam gas van der Waals -dan gas nyata- ekspansi juga harus mengatasi gaya antarmolekul sehingga bagian dari panas yang diserap dari sekitarnya pergi untuk mengatasi gaya antarmolekul. Jika memperluas gas van der Waals kita akan melihat bahwa bagian dari pekerjaan yang sebanding dengan adalah positif sehingga pekerjaan ini dilakukan pada sistem - menaikkan energi internal sistem). Dalam kasus yang paling masih cukup kecil, bahkan untuk gas van der Waals.

Ada pendamping untuk Persamaan (2),

(3) (3) Persamaan ini dapat diturunkan (tanpa hukum kedua) dari Persamaan (2) sehingga jika Persamaan (2) adalah benar, begitu juga Persamaan (3). Hubungan Antara C p dan C V C
p

dan C

terkait satu sama lain dan perbedaan mereka dapat dihitung dari

persamaan keadaan. Kami ingin membuktikan bahwa

(8d) (8d) Dimulai dengan definisi C p dan H,

18

(4a, b, c) (4a, b, c) Istilah kedua dalam (4c) adalah dalam bentuk yang dapat diterima, tetapi istilah pertama tidak. (Variabel yang salah adalah konstan.) Untuk mengatasi hal U pertama sebagai U = U (T, V). Kemudian,

(5) (5) Sekarang membagi Persamaan (5) oleh dT dan tahan p konstan. Diperoleh,

(6) (6) Sekarang kita mengganti Persamaan (6) untuk istilah yang tepat dalam Persamaan (4c) untuk mendapatkan,

(7,ab) (7, ab) Tapi

(2) (2) Dengan mensubstitusi persamaan (2) dalam untuk ( U / T) V dalam Persamaan (7b) memberikan

19

(8a, b, c, d) (8a, b, c, d) Dengan menggunakan rantai hubungan Euler dan definisi dan , bahwa hubungan ini dapat ditulis kembali sebagai

(9) (9) Istilah kedua di sebelah kanan Persamaan (9) adalah selalu positif karena selalu positif bisa negatif (air dekat 0o C). Jadi C p> C V. Untuk padatan dan cairan istilah kedua di sebelah kanan Persamaan (9) biasanya kecil. Untuk gas itu bisa besar. Untuk gas ideal kami menemukan sebelumnya bahwa = 1 / T dan = 1 / p sehingga

PENUTUP
3.1 Kesimpulan 1. Persamaan keadaan adalah sebuah persamaan konstitutif yang menyediakan hubungan matematik antara dua atau lebih fungsi keadaan yang berhubungan dengan materi, seperti temperatur, tekanan, volume dan energi dalam. 2. Apabila volume (V), suhu (T) dan massa (m) diatur dengan nilai tertentu, maka nilai tekanan (P) tidak bisa sebarang. Ada hubungan antara besaran-besaran ini sebagai berikut: f(P, V, T, m) = 0 Hubungan ini disebut persamaan keadaan.
3. Persamaan van der Waals

20

4. Persamaan Kamerlingh Onnes

5. Persamaan Berhelot

6. Persamaan Beattie-Bridgeman

Dimana:

7.

Persamaan keadaan Redlich-Kwong

p =

RT A 1/2 (v B ) T v (v + B )

1.2 Saran Semoga dengan dibuatnya makalah ini, penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua mahasiswa khususnya bagi mahasiswa program studi kimia, dalam mempelajari materi mengenai sistem termodinamika. Selain itu, penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat juga untuk pendidik maupun peserta didik.

21