Anda di halaman 1dari 7

SNI 03-3448-1994

TATA CARA PENYAMBUNGAN TIANG PANCANG BETON PRACETAK PENAMPANG PERSEGI DENGAN SISTEM MONOLIT BAHAN EPOXY

1.1. Maksud dan Tujuan 1.1.1. Maksud Tata cara ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan untuk melaksanakan penyambungan tiang pancang beton pracetak tipe monolit dengan menggunakan bahan epoxy. 1.1.2. Tujuan Tujuan tata cari ini adalah untuk memperoleh keseragaman cara dalam pelaksanaan penyambungan tiang pancang beton pracetak serta mendapatkan mutu sambungan yang bersifat monolit. 1.2. Ruang Lingkup Tata cara ini meliputi persyaratan bahan epoxy, persyaratan baja penyambung, persyaratan struktur sambungan, dan cara penyambungan tiang pancang beton pracetak untuk pondasi jembatan yang seluruhnya terbenam ke dalam tanah.. 1.3. Pengertian Yang dimaksud dengan : 1) jembatan adalah bangunan pelengkap jalan yang berfungsi sebagai penyambung suatu ruas jalan yang terputus akibat adanya hambatan berupa sungai, lembah, saluran, persilangan atas, dan lain-lain. 2) kepala jembatan adalah bangunan bawah yang terletak pada kedua ujung jembatan, berfungsi sebagai pemikul seluruh beban pada ujung luar bentang pinggir dan gaya-gaya lainnya, serta melimpahkannya ke pondasi. 3) pilar jembatan adalah bangunan bawah yang terletak di antara kedua kepala jembatan, berfungsi sebagai pemikul seluruh beban pada ujung-ujung bentang dan gaya-gaya lainnya, serta melimpahkannya ke pondasi. 4) pondasi adalah bagian dari struktur yang berfungsi memikul seluruh beban yang bekerja pada pilar atau kepala jembatan dan gaya-gaya lainnya serta melimpahkannya ke lapisan tanah pendukung. 5) pondasi tiang adalah salah satu jenis pondasi, yang untuk melimpahkan seluruh beban yang bekerja pada pilar atau kepala jembatan dan gaya-gaya lainnya ke lapisan tanah pendukung menggunakan struktur tiang. 6) tiang adalah komponen bangunan yang berbentuk silinder atau prisma, dimana ratio panjang dibagi lebar atau diameter lebih besar dari 10. 7) tiang pancang beton pracetak adalah tiang beton yang dibuat di pabrik atau di lokasi jembatan, mempunyai dimensi dan mutu tertentu yang pemasangannya dilakukan dengan alat penumbuk, atau alat penekan. 8) sambungan tiang pancang beton pracetak adalah struktur sambungan dua komponen tiang beton pracetak yang mempunyai bentuk dan ukuran penampang yang sama. 9) epoxy adalah bahan perekat untuk menyambung struktur beton yang mempunyai kekuatan lebih besar dari kekuatan beton. 1

SNI 03-3448-1994

BAB II PERSYARATAN-PERSYRATAN

2.1. Jenis sambungan tiang pancang beton pracetak dengan tipe struktur monolit hanya dapat digunakan dengan persyaratan sebagai berikut : 1) kedua komponen tiang pancang beton pracetak yang akan disambung mempunyai bentuk dan ukuran penampang yang sama. 2) ujung-ujung komponen yang akan disambung telah disiapkan pada waktu pelaksanaan pembuatn tiang pancang, sesuai dengan spesifikasi yang berlaku 3) kedua komponen tiang yang akan disambung mempunyai mutu beton dan baja tulangan yang sama 4) kedua komponen tiang yang akan disambung harus dalam keadaan lurus dan bengkok 2.2. Struktur sambungan tiang pancang beton pracetak harus dilaksanakan, sehingga dalam komponen menjadi satu komponen yang bersifat : 1) monolit 2) sentris 3) lurus

BAB III KETENTUAN-KETENTUAN

3.1. Umum 1) struktur sambungan tiang pancang beton pracetak tipe monolit harus kuat memikul beban dan gaya-gaya, baik dalam arah vertikal maupun lateral akibat : (1) beban dan gaya-gaya yang bekerja pada pilar atau kepala jembatan. (2) pemancangan (3) deformasi lateral dan vertikal (4) gaya lateral akibat timbunan pada oprit (5) gaya gesek negatif 2) mutu beton sesuai dengan SNI 03-1974-1990 dan baja tulangan harus menjamin keawetannya, terutama pada lingkungan korosif. 3.2. Bahan Bahan yang digunakan terdiri dari : 1) Beton (1) mutu beton yang digunakan untuk tiang pancang beton harus mempunyai kekuatan fc = 35 Mpa (K-300), sesuai dengan SNI 03-1974-1990. (2) setiap pembuatan tiang harus didasarkan kepada rencana campuran dengan menggunakan komponen bahan yang memenuhi komponen yang berlaku dan selama pelaksanaan pengecoran harus diikuti dengan pengendalian mutu. 2

SNI 03-3448-1994 2) Baja (1) baja tulangan untuk sambungan tiang pancang beton pracetak harus mempunyai tegangan leleh minimum 400 Mpa (Bj-40), bebas dari korosi dan kotoran yang menempel pada baja. (2) selubung untuk sambungan tiang dibuat dari baja yang mempunyai tegangan leleh minimum 300 Mpa (BJ-30). (3) untuk menjamin tercapainya mutu baja yang disyaratkan, sebelum digunakan harus dilakukan pengujian mutu sesuai dengan SK SNI M-104-1990-03 oleh laboratorium yang telah diakreditasi. 3) Epoxy (1) untuk menjamin kuat ikat antara beton dan epoxy serta baja dan epoxy, epoxy yang digunakan harus mempunyai ketentuan yang berlaku; (2) sebelum dipindahkan harus dilakukan pengujian mutu epoxy. 3.3. Struktur 1) Konstruksi sambungan tiang harus diperkuat dengan tulangan penyambung dan selubung baja. 2) Tulangan penyambung : (1) (2) tulangan penyambung harus dibuat dari baja tulangan ulir yang mempunyai tegangan leleh sama dengan tegangan leleh tulangan utama panjang tulangan penyambung adalah sebagai berikut : a) sepanjang 11 = 25 d, masuk ke ujung tiang yang dipasang diatas. b) sepanjang 12 = 25 d, masuk ke ujung tiang yang dipasang dibawah. tulangan penyambung diletakan pada jarak 0,25 d dari sisi tiang diameter penyambung tergantung dari ukuran penampang tiang, D, yaitu : a) ukuran tiang 30 x 30 cm2 25 mm b) ukuran tiang 35 x 35 cm2 28 mm (5) c) ukuran tiang 40 x 40 cm2 32 mm ukuran tulangan penyambung untuk penampang tiang persegi tercantum pada tabel 1. Tabel 1 Ukuran Tulangan Penyambung Ukuran Tiang Cm2 30 x 30 35 x 35 40 x 40 3) Selubung baja (1) selubung baja dibuat dari pelat baja tebal 10 mm, mempunayi bentuk penampang persegi yang sudut-sudutnya dilas listrik. (2) rongga bagian dalam selubung mempunyai lebar D 20 mm, dengan panjang 2 kali lebar tiang (2D). (3) pada bagian tengah dipasang kait dari pelat baja tebal 4 mm, lebar 15 mm yang dilas sekeliling bagian dalam selubung. 3 Tulangan Penyambung 12 Diameter 11 Jumlah mm mm mm 25 625 625 4 28 700 700 4 32 800 800 4

(3) (4)

SNI 03-3448-1994 (4) dimensi selubung baja untuk tiang penampang persegi tercantum pada tabel 2. (5) baja yang digunakan untuk selubung harus mempunyai tegangan leleh minimum 300 Mpa (Bj-30). Tabel 2 Dimensi Selubung Baja Ukuran Tiang Cm2 30 x 30 35 x 35 40 x 40 Ukuran Selubung Panjang Rongga dalam mm mm 11 12 280 x 280 300 300 330 x 330 350 350 380 x 380 400 400

4) Ujung-ujung tiang yang disambung. (1) pada kedua ujung tiang yang akan disambung harus sudah disiapkan pada waktu pelaksanaan pembuatan tiang : a) masing-masing 4 buah lubang untuk menempatkan tulangan penyambung dengan ukuran seperti tercantum pada tabel 3. b) Satu alur pada ke empat sisi ujung tiang masing-masing dengan ukuran (10 x 30) mm2+ lubang tempat tulangan harus dibuat lurus, sehingga setelah dipasang tulangan penyambung dalam posisi aksial. Tabel 3 Ukuran Lubang Untuk Tulangan Ukuran Tiang Cm2 30 x 30 35 x 35 40 x 40 5) Epoxy (1) bahan epoxy harus memenuhi ketentuan yang berlaku. (2) harus dibuktikan dengan hasil pengujian yang dilakukan oleh laboratorium yang sudah diakreditasi. Ukuran Lubang mm Diameter Panjang 27 627 30 702 34 802

(2)

SNI 03-3448-1994

BAB IV CARA PENGUJIAN

4.1. Sebelum pelaksanaan pekerjaan pemancangan tiang dimulai, lakukan hal-hal sebagai berikut : 1) periksa kondisi tiang yang akan disambung dan tiang penyambung, meliputi : (1) mutu tiang harus memenuhi persyartan yang ditentukan. (2) tiang dalm keaadan lurus, tidak boleh melengkung. (3) posisi dan dimensi lubang untuk penulangan penyambung harus tepat seperti yang telah ditentukan. 2) periksa kondisi selubung baja, meliputi : (1) dimensi harus tepat sesuai ketentuan. (2) las penyambung pada sudut-sudutnya harus baik dan memenuhi ketentuan (3) selubung baja harus lurus dan rongga bagian dalam mempunyai celah sebesar 5 mm di sekeliling tiang. 3) periksa bahan epoxy yang akan digunakan, apakah telah memenuhi spesifikasi sesuai ketentuan yang berlaku, dan hal ini harus dibuktikan dari hasil pengujian. 4) Periksa tulangan penyambung. Tulangan penyambung harus memenuhi dimensi dan mutu sesuai yang telah ditentukan. 4.2. Masukan tiang pancang yang akan disambung ke dalam tanah pada lokasi yang telah ditetapkan, dengan cara dipancang atau ditekan sesuai ketentuan yang berlaku. 1) sisakan bagian atas tiang menonjol diatas permukaan tanah sepanjang sambungan ditambah 20 cm. 2) kasarkan dan keringkan permukaan beton yang akan disambung dan dibersihkan lubang tempat tulangan penyambung untuk menjamin epoxy dapat menyambung dengan kuat. 4.3. Lakukan penyambungan dengan urutan kerja sebagai berikut : 1) olesi secara merata seluruh permukaan beton kepala tiang, bagian dalam selubung baja dan tulangan penyambung dengan epoxy dengan ketebalan 1,0 1,5 mm. 2) pasang selubung baja dikepala tiang, celah antara bagian dalam selubung baja dan permukaan tiang harus sepenuhnya terisi epoxy. 3) olesi secara merata di seluruh permukaan beton pada ujung tiang penyambung serta lubang-lubang tempat tulangan sambungan dengan epoxy setebal 1,0 1,5. 4) angkat tiang penyambung sesuai prosedur yang berlaku, kemudian ujung bawah tiang dimasukan kedalam selubung baja dengan memperhatikan : a) posisi tiang harus sentris terhadap tiang yang disambung. b) masukan tulang penyambung ke dalam lubang-lubang. c) epoxy harus dapat menutup celah antara bagian dalam. d) tambahkan epoxy jika masih terdapat rongga, dan dimasukan ke dalam selubung melalui celah pada ke empat sisinya. 5

SNI 03-3448-1994 e) tutup bagian bawah seluruh baja dengan penjepit baja yang dapat dibuka kembali setelah epoxy mengeras, agar epoxy tidak meleleh keluar. 5) Rawat epoxy dengan cara : a) alamiah pada suhu udara dan dijaga dari pengaruh air selama 24 jam. b) Lakukan pemanasan dengan uap pada suhu 1000 C untuk mempercepat pengerasan; selama pemanasan dengan uap, selubung harus ditutup rapat untuk menghindari dari pengaruh lembab yang dapat mengurangi kelekatan epoxy. 4.4. Lanjutkan pemancangan atau penekanan tiang, setelah epoxy mengeras dengan sempurna.

LAMPIRAN A DAFTAR ISTILAH

Keadaan batas ultimit Persilangan atas

: :

Ultimate limit state fly over

SNI 03-3448-1994

LAMPIRAN B