Anda di halaman 1dari 17

SAMBUNGAN DAN HUBUNGAN KAYU Kayu merupakan bahan bangunan alam, maka dari pohonnya kayu dapat dibentuk

berbagai macam ukuran yang berupa balok dan papan. Ukuran kayu umumnya yang ada dipasaran sudah ditentu, antara lain : 1. 6/12, 6/10, 8/12, 10/10, 15/15 2. 2/15, 2/20, 3/25, 3/30, 4/40 3. 4/6, 5/7 4. 2/3, 5. 1/3, 1/4, 1/6 = disebut balok = disebut papan = disebut usuk atau kaso = disebut reng = disebut plepet

Karena keterbatasan panjang kayu yang ada dipasaran, maka untuk suatu konstruksi kayu yang panjang diperlukan adanya sambungan kayu. A. Sambungan Kayu Sambungan Kayu Adalah sebuah konstruksi untuk menyatukan dua atau lebih batang kayu untuk memenuhi kebutuhan panjang, lebar atau tinggi tertentu dengan bentuk konstruksi yang sesuai dengan gaya-gaya yang akan bekerja pada batang kayu tersebut sesuai penggunaan konstruksi kayu tersebut. B. Hubungan Kayu Adalah dua batang kayu atau lebih yang dihubunghubungkan menjadi satu benda atau satu bagian konstruksi dalam satu bidang berdemensi dua maupun dalam satu ruang berdemensi tiga. C. Syarat Sambungan Sebuah sambungan pada suatu konstruksi bangunan baik itu dari beton, baja maupun dari kayu merupakan suatu titik terlemah pada konstruksi tersebut. Oleh sebab itu dalam melaksanakan penyambungan harus memperhatikan syarat-syarat ukuran sambungan dan gaya-gaya yang akan bekerja pada sambungan tersebut. Untuk memenuhi syarat kekokohan sambungan danhubungan kayu maka sambungan dan hubungan kayu harus memenuhi syarat sebagai berikut : a. Sambungan harus sederhana dan kuat. Harus dihindari takikan besar dan dalam.

b. Harus memperhatikan sifat-sifat kayu terutama sifat menyusut, mengembang dan menarik. c. Bentuk sambungan dari hubungan harus tahan terhadap gaya-gaya yang bekerja.

Syarat-syarat ukuran sambungan dapat dilihat pada contoh gambar sambungan Sedangkan gaya-gaya yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. Gaya Tarik Bila yang bekerja gaya tarik, maka sambungan kedua batang kayu tersebut harus saling mengait agar tidak mudah lepas, misalnya memakai sambungan bibir miring berkait.

2. Gaya Desak (Tekan) Bila yang bekerja gaya desak, maka sambungan kedua batang kayu diusahakan agar permukaan batang yang akan disambung saling menempel rapat. Misalnya memakai sambungan lurus tekan.

3. Gaya Lintang dan Momen Bila yang bekerja gaya lintang dan momen, maka gaya lintang akan menyebabkan sambungan akan saling bergeser sedang momen akan menyebabkan suatu lenturan. Maka dalam hal ni sambungan harus kuat dan kaku misalnya memakai sambungan pengunci.

4. Gaya Puntir Bila sambungan atau hubungan ada gaya puntir, maka sambungan kedua batang kayu harus saling mencengkeram agar tidak mudah terjungkit lepas misalnya memakai sambungan tarikan lurus rangkap untuk sambungan tiang dan hubungan pen dan lubang untuk hubungan sudut. Untuk mendapatkan sambungan yang awet dan kuat, maka cara mengerjakan sambungan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Cara mengerjakan sambungan kayu tidak boleh sampai merusak kayunya, misalnya: kayu tidak boleh dipukul langsung tetapi harus diberi bantalan pelindung, salah bor akan mterjadi lubang yang siasia dan lubang ini

merupakan awal pelapukan, salah gergaji akan mengurangi luas penampang kayu. b. Kayu yang akan disambung harus merupakan pasangan yang pas, maksudnya tidak boleh terlalu longgar karena akan mudah lepas atau bergeser, dan juga tidak boleh terlalu k encang (Jw. sesak) karen akalau dipaksakan akan ada bagian yang rusak atau pecah. c. Sebelum kedua kayu yang akan disambung disatukan, lebih dahulu bidang bidang sambungannya diberi cairan pengawet agar tidak mudah lapuk, sebab biasanya daerah sambungan mudah dimasuki air dan air yang tertinggal ini menyebabkan pelapukan. d. Sambungan kayu diusahakan agar terlihat dari luar, karena untuk

memudahkan kontrol dan perbaikan. D. Jenis-jenis Sambungan Pada prinsipnya sambungan kayu dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu : 1. Sambungan kayu ke arah memanjang. 2. Sambungan kayu ke arah melebar. 3. Sambungan kayu ke arah menyudut Selain tiga macam sambungan kayu tersebut di atas, masih ada dua sambungan lain yaitu sambungan bersusun dan sambungan dengan pengunci. 1. Sambungan Kayu Memanjang : Adalah sebuah konstruksi untuk menyatukan dua batang atau lebih balok kayu atau papan kayu untuk memenuhi panjang tertentu yang dibutuhkan Sambungan kayu ke arah memanjang ada dua macam yaitu memanjang ke arah mendatar, dan ke arah tegak. a. Memanjang arah mendatar ( misalnya sambungan bibir lurus, sambungan bibir lurus berkait, sambungan bibir miring, sambungan bibir miring berkait)

1. Sambungan Bibir Lurus

2. Sambungan Bibir Lurus Berkait

3. Sambungan Bibir Miring

4. Sambungan Bibir Miring Berkait

b. Memanjang arah tegak ( misalnya sambungan takikan lurus, sambungan mulut ikan, sambungan takikan lurus rangkap, sambungan purus lurus).

1. Sambungan Takikan Lurus

2. Sambungan Mulut Ikan

3. Sambungan Takikan Lurus Rangkap

4. Sambungan Purus Lurus

2.

Sambungan kayu arah melebar.

Sambungan kayu melebar ada dua macam yaitu: a. Melebar arah horizontal (kebanyakan digunakan konstruksi lantai) b. melebar arah vertikal (yang sebagaian besar digunakan pada konstruksi dinding). Ada beberapa macam sambungan kayu melebar, yaitu : 1. Sambungan lidah dan alur. 2. Sambungan lidah lepas dan alur. 3. Sambungan lidah bersponing dan alur. 4. Sambungan lidah miring. 5. Sambungan papan melebar arah tegak

a. Sambungan melebar arah horizontal (kebanyakan digunakan konstruksi lantai)

b. Melebar arah vertikal (yang sebagaian besar digunakan pada konstruksi dinding).

3. Sambungan Kayu Menyudut. Sambungan kayu menyudut, yaitu sudut siku dan kedua yang membentuk sudut miring. Bentuk sambungan kayu menyudut ada tiga macam yaitu sambungan sudut, sambungan pertemuan, dan sambungan persilangan. Beberapa macam sambungan kayu menyudut yaitu : a. Sambungan takikan lurus, b. sambungan purus dan lubang terbuka, c. sambungan purus dan lubang dengan spatpen purus alur. d. Sambungan takikan lurus ekor burung, e. sambungan purus dan lubang terbuka, f. sambungan purus dan lubang tertutup,

g. sambungan purus dan lubang dengan gigi garis bagi, h. i. sambungan takikan lurus ekor burung, sambungan raveling ekor burung.Sambungan voor loef.

SAMBUNGAN KAYU
KONSTRUKSI KAYU

DISUSUN OLEH : LUKIYONO 11-22-201-005 SEMESTER IV TEKNIK SIPIL

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG 2013