Anda di halaman 1dari 8

BAB 20 PAJAK YANG DITANGGUHKAN

LABA KENA PAJAK LAWAN LABA YANG DILAPORKAN Perbedaan utama antara lana kena pajak dan laba yang dilaporkan pada pemegang saham dapat digolongkan dalam dua judul utama: 1. Perbedaan permanen (permanent differences) yang timbul dari kelonggaran atau pembatas khusus legislatif yamg diizinkan atau disyaratkan untuk alasan ekonomi, politik, atau administrasi yang tidak ada hubungannga dengan perhitungan laba bersih akuntansi 2. Perbedaan sementara (temporary differences) yang dihasilkan dari a. Perbedaan dalam waktu pembebanan dan kredit ke laba, juga disebut perbedaan antar periode b. Perbedaan yang timbul dari dasar-dasar pengukuran alternatif dalam keuangan dan akuntansi pajak yang disebut juga perbedaan penilaian Apabila perbedaan antara laba kena pajak dan laba akuntansi disebabkan oleh perbedaan sementara, pencatatan beban pajak (beban efek ekivalen pada laba) didasarkan pada laba dilaporkan sebelum pajak memerlukan alokasi antar periode. Prinsip dasar alokasi antar periode adalah untuk membiarkan pajak mengikuti laba yang menjadi dasarnya. Laba yang kena pajak dalam periode berjalan tetapi diakui atau dilaporkan dalam periode selanjutnya memerlukan penangguhan beban pajak ; laba yang diakui untuk tujuan akuntansi dan dilaporkan dalam periode berjalan tetapi kena pajak dalam selanjutnya memerlukan akrual atas beban pajak. Denga kata lain: Laba Beban pajak : - Ditangguhkan - Diakrualkan Kena Pajak Tahun ini Tahun depan Dilaporkan Tahun depan Tahun ini

Melaporkan pembebanan langsung ke laba ditahan atau ke laba ditahan atau keuntungan atau jerugian luar biasa dan pos pos bukan operasi yang serupa netto sesudah pajak menghasillkan prosedur yang disebut alokasi intraperiode dimana total beban pajak dialokasikan ke berbagai bagian laporan laba rugi dan laporan perubahan modal. Ada penentangan pada prosedur ini karena hanya laporan laba rugi dan laba ditahan pada periode bersangkutan yang berubah, bukan periode lainnya. 1. Perbedaan Permanen

Mencerminkan perhitungan total pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan selama jangka waktu umurnya. Perbedaan permanen hanya mempengaruhi total pajak, tidak menimbulkan masalah dalam alokasi pajak. Oleh karena itu tidak menimbulkan masalah teoritis dalam akuntansi. Selanjutnya diasumsikan bahwa perbedaan permanen telah disesuaikan diluar laba buku sebelum pajak, dan sebelum perbedaan sementara diterapkan. Meski kekurangan kepentingan teoritis, perbedaan permanen secara praktis sangat penting karena itu merupakan kesenjangan utama antara apa yang dipercaya masyarakat untuk dibayarkan, apa yang dibayarkan masyarakat sebagai pajak. 2. Perbedaan Sementara Perbedaan sementara membentuk inti teori akuntansi berkenaan dengan akuntansi untuk pajak penghasilan karena akuntan memiliki sejumlah kendali mengenai bagaimana hal ini ditangani. Hal ini dapat menyebabkan kesenjangan laba antara yang dipercaya masyarakat untuk dibayarkan, dan apa yang dibayrakan masyarakat sebagai pajak tetapi hanya oada periode tertentu, yang artinya tidaklah permanen. Berikut beberapa jenis perbedaan sementara a. Perbedaan Waktu. Terdapat situasi yang memungkinkan : i. Suatu pengurangan dilakukan untuk tujuan pajak tetapi ditangguhkan dalam laporan akuntansi. Contoh: penggunaan penyusutan untuk tujuan pajak tetapi digunakan metode garis lurus untuk perusahaan. ii. Pedapatan dicatat saat ini padahal dalam tujuan pajak diakui pada waktu yang lebih lama. Contoh: perbedaan penggunaan dasar untuk cicilan untuk pajak dan akuntansi. iii. Laba ditangguhkan untuk kepentingan pajak tetapi diakrualkan untuk tujuan akuntansi. Contoh: Sewa diterima dimuka dianggap sebagai pendapatan jika jasa telah diberikan menurut tujuan akuntansi. iv. Beban dikurangkan untuk tujuan akuntansi tetapi seharusnya dikurangkan pada periode mendatang. Contoh: beban yang digunakan untuk kepentingan pajak adalah beban yang dibayarkan. Kasus 1 dan 2 memerlukan akun penggunaan kewajiban pajak pennghasilan atau akun kredit lain, karena beban pajak yang ada lebih kecil dari pajak yang harus dibayar. Sedangkan kasus 3 dan 4 memerlukan pajak dibayar dimuka atau akun debit lainnya karena jumlah pajak yang dibayarkan lebih besar dari jumlah pajak yang dilaporkan. b. Perbedaan Nilai. Conoth contoh perbedaaan sementara yang kurang sering dikutip, sebagian karena hal itu tidak mempengaruhi pajak yang ditangguhkan menurut APB 11. Mencakup: i. Suatu pengurangan dalam dasar pajak dari aktiva yang dapat disusutkan karena kredit pajak. Satu sumber dari perbedaan ini adalah Tax Equity and Financial Responsibility Act 1982, yang memberikan pilihan bagi pembayar pajak untuk mengambil jumlah penuh

pengurangan Pemulihan Biaya Dipercepat (ACRS) dan kredit pajak yang berkurang atau mengambil kredit pajak yang penuh dan jumlah pengurangan ACRS yang berkurang. ii. Kegiatan luar negeri dimana mata uang pelaporannya adalah mata uang fungsional. Menurut SFAS 52, setelah adanya suatu perubahan dalam kurs valuta, dasar pajak luar negeri dan aktiva dan kewajiban tertentu dapat berbeda dengan biaya historisnya yang ekuivalen dollar AS. iii. Suatu kenaikan dalam dasar pajak dari aktiva karena pengindeksan untuk inflasi. Hukum pajak tertentu dapat mewajibkan pengindeksan aktiva aktiva tertentu untuk tujuan pajak yang akan menyebabkan dasar dasar mereka berbeda dengan biaya historis yang ada dalama laporan keuangan. iv. Penggabungan usaha yang diperhitungkan berdasarkan pada metode pembelian. Seringkali ada perbedaan dalam jumlah yang dibebankan ke aktiva gabungan dan dasar pajaknya yang berkaitan(bagi banyak perusahaan, ini adalah perbedaan permanen menurut APB 11) 3. Pendekatan Neraca Suatu pendekatan alternatif pada salah satu yang digunakan diatas untuk menghitung perbedaan sementara berpijak pada pernyataan bahwa, dengan adanya pernyataan yang jelas, semua transaksi yang menimbulkan perbedaan sementara meninggalkan jejak pada neraca. Maka pendekatan neraca menambah suatu alat perhitungan kedua, tetapi tidak menambah sesuatupun pada tingkatan teoritis. KASUS YANG MENDUKUNG DAN MENENTANG ALOKASI 1. Kasus untuk Alokasi Menyeluruh Berikut argumen argumen yang mendukung praktik alokasi pajak antar periode pada waktu waktu yang berbeda: a. Penandingan (Matching). Penandingan langsung berpendapat bahwa beban dialokasikan sesuai dengan pengaruhnya terhadap pendapatan. Penerapan konsep penandingan untuk akuntansi pajak diulas dalam APB 11 diaman dewan merekomendasikan bahwa beban pajak penghasilan yang dilaporkan untuk suatu periode haruslah mencakup pengaruh pajakdari semua transaksi pendapatan dan beban yang tercakup dari pengukuran beban sebelum pajak. Pendapatan ini juga disebut alokasi pajak menyeluruh (Comprehensive). Pengaruh pajak dilaporkan dengan ayat jurnal saat perbedaan waktu timbul dan dilakukan jurnal pembalik saat perbedaan hilang. Diantara kedua waktu itu, APB merekomendasikan bahwa perbedaan itu timbul sebagai beban yang ditangguhkanatau kredit yang ditangguhkan. Tarif pajak yang digunakan pun adalah tarif saat pelaporan perbedaan awal sehingga tidak ada penyesuaian.

APB dikritik tajam karena hal ini. Pertama, penandingan dilakukan bukan dengan pendapatan tetapi dengan laba sebelum pajak. Kedua, beban yang ditangguhkan dan kredit yang ditangguhkan tidak dimaksudkan untuk untuk mewakili aktiva, dan kewajiban ataupun ekuitas. b. Perusahaan Bersinambung. Ini dimulai dari ketegasan bahwa konsekuensi pajakdari suatu kejadian melekat pada kejadian itu. Pembayaran pajak itu sendiri mengenai bilamana pajak akan dibayar, bukan dibayar atau tidak. Jika pajak yang dibayarkan pada periode tersebut kurang dari jumah pajak yang melekat maka akun yang berkaitan dengan beban pajak adalah utang pajak penghasilan. Dan jika sebaliknya maka disebutkan pajak dibayar di muka. c. Praktek Manajerial. Argumen yang menentang palaporan pajak penghasilan yang dibayarkan semata sebagai beban dari periode bersangkutan adalah bahwa merupakan praktik umum untuk mendefinisikan pajak sebagai beban dari menjalankan bisnis. Demikian pula manajemen manajemen umumnya membuat keputusan berdasarkan laba bersih yang diharapkan sebagai pajak. Sebagai tambahan, pajak harus dipertimbangkan dalam keputusan investasi dan dividen. Akan tetapi praktiknya tidak menentukan logika dari klasifikasi itu. Klasifikasi beban tidak mempunyai definisi yang jelas selain dari pada yang dipilih akuntan. Argumen bahwa alokasi pajak adalah tepat karena pajak diperlakukan sebagai beban, dengan demikian sulit didukung. 2. Kasus yang Menentang Alokasi Banyak argumen yang menentang alokasi pajak antar periode, walaupun tidak cukup untuk menggesernya dari standar, berikut argumennya: a. Kurangnya Pengertian. Ada keluhan bahwa pelaporan beban pajak yang tidak sama dengan pajak sebenarnya yang dibayarkan membingungkan publik. b. Suatu Distribusi, Bukan Beban. Pajak adalah sama seperti dividen dan, oleh karenanya adalah, merupakan pendistribusian dari laba. Pendukung pandangan ini mengemukakan bahwa seperti dividen dan tidak seperti pembayaran upah dan perlengkapan, pajak hanya dibayar hanya jika diperoleh laba. Pada masa mendatang akan menjadi terutang hanya jika laba diperoleh di masa mendatang, yang menyiratkan suatu asumsi tentang kejadian yang belum terjadi. c. Kurangnya Relevansi. Kritik dari informasi berjalan berjalkan bahwa pajak yang dipungut setiap tahun lebih relevan bagi insvestor dan kreditur daripada beban pajak yang dialokasikan secara buatan. d. Ketidakpaastian.

Alokasi pajak juga ditentang atas dasar bahwa ketidakpastian dalam perhitungan taksiran kewajiban pajak masa mendatang terlalu besar untuk membuat alokasi jadi berguna. 3. Kasus untuk Alokasi Sebagian Pendukung pandangan ini menunjukan bahwa tingkat agregat akun pajak yang ditangguhkan hanya bergulir terus (roll over). Argumen ini didasarkan pada pengamatan yang benar bahwa, sepanjang perusahaan bertumbuh, piutang dan utnagnya akan terus bertumbuh. Sekali perusahaan berpindah ke keadaan yang stabil maka utang dan piutangnya akan stabil pula. Maka laba bersihnya pun akan stabil begitu pula jenis akuntansi yang digunakan. Dalam kondisi ini baik menggunakan dasar kas ataupun akrual. Jumlah beban pajak akan tetap sama. 4. Kasus untuk Pendiskontoan Suatu argumen akhir yang menentang penyajian penuh kewajiban pajak atau pajak dibayar dimuka adalah bahwa, karena kewajiban itu akan dibayarkan dan keuntungan pajak hanya akan diterima pada suatu waktu dimasa mendatang, hal itu harus didiskontokan pada sukubunga yang positif. Jika periodenya oanjang dan tidak terbatas maka nilai sekarang akan mendekati nol. Tetapi terdapat kesulitan seperti penentuan tingkat suku bunga dan tahun pajak tersebut dapat terbayar, yang malah menambah kompleksitas dalam akuntansi pajak. FASB memutuskan untuk tidak membahas hal ini dalam SFAS 96. 5. Studi Empiris Studi empiris sampai sekarang belum mendukung dengan kuat alokasi pajak. Beaver dan Dukes menyimpulkan bahwa alokasi pajak dapat digunakan bila alokasi pajak dapat digunakan jika seseorang menerima alokasi pasar. Akan tetapi dalam studi selanjutnya, mereka menyimpulkan bahwa dasar pemikiran yang mendasari alokasi pajak tetap menjadi pertanyaan yang serius dan bahwa prosedur alokasi pajak sekarang tidak harus optimal. Kurangnya teori yang mendukung dan banyaknya komplikasiterlibat dalam proses alokasi pajak, membuat hal itu meragukan sebagai prosedur yang relevan. PAJAK YANG DITANGGUHKAN DAN KERANGKA KERJA KONSEPTUAL Setelah membandingkan berbagai metode untuk menghitung kewajiban pajak yang ditangguhkan. FASB memilih apa yang disebut metode aktiva/kewajiban dari alokasi pajak antar periode berdasarkan hal bahwa hal itu yang paling sesuai dengan kerangka dasar konseptual, bahwa hal itu menghasilkan informasi yang paling berguna dan dapat dimengerti, dan metode tersebut tidak lebih kompleks daripada metode metode lain. Berikut perbedaan, metode aktiva/ kewajiban dengan metode ditangguhkan antara lain: 1. Ia menjauhkan analisis itu dari penandingan, dan menggantikannya dengan definisi aktiva dan kewajiban dari SFAS 6 untuk membenarkan alokasi pajak antar periode.

2. Ia mewjibkan perusahaan untuk memperkirakan pengaruh perbedaan sementara di masa mendatang daripada menggunakan hasil masa lalu yang diketahui. Dalam praktiknya, perusahaan melalui tidakan tindakan mereka dalam tahun tahun tertentu menghasilkan arus laba dan rugi yang diharapkan dimasa mendatang. Kerugian dalam arus ini bisa di offset terhadap laba sejauh yang diperbolehklan oleh peraturan pajak dalam perlakuannya atas rugi bersih operasi. Peraturan pajak saat ini mengizinkan rugi operasi dikompensasi ke belakang 3 tahun dan ke muka 15 tahun. Perbedaan antara akun pajak yang dtangguhkan pada awal dan akhir tahun menghasilkan debet atau kredit pajak yang ditangguhkan, untuk tahun bersangkutan. SFAS 96 menambahkan suatu kenyataan tambahan yang tidak harus menjadi bagian yang penting dari metode aktiva/kewajiban, tetapi merupakan suatu perubahan penting dari persyaratan GAAP lama. Pernyataan ini mendasarkan pengaruh yang bersangkutan pajak pada semua kejadian yang telah terjadi, dan mengesampingkan semua kejadian yang belum terjadi. Dewan menggunakan pernyataan ini untuk mencakup penggunaan semua tarif pajak yang dibuat sebelumnya, bahkan bila itu melibatkan perubahan 0- perubahan dalam periode mendatang.pernyataan ini juga digunakan untuk mengesampingkan asumsi laba masa mendatang untuk menyeimbangkan kerugian pajak yang dihasilkan oleh pembalikan perbedaan perbedaan pajak. 1. Rugi Operasi Bersih Peraturan pajak yang berlaku sekarang memperbolehkan kerugian pajak dikompensasi ke belakang dan kemuka untuk mengurangi total utang pajak perusahaan. Prinsip alokasinya sama baik untuk kompensasi ke belakang atau ke muka, tetapi lebih tidak pasti berkenaan dengan keuntungan pajak yang muncul dalam kasus belakangan. Apabila kerugian pajak dapat dari dikompensasi kebelakang untuk mengurangi pajak yang dibayarkan dalam tahun tahun sebelumnya, tuntutan untuk pengembalian segera muncul, meskipun itu harus disetujui oleh Internal revenue Service pada tanggal belakangan. 2. Apakah Ini Aktiva dan Kewajiban? Pendekatan aktiva atau kewajiban yang digunakan oleh dewan dalam SFAS 96 ditentangkan secara keras atas dasar bahwa pajak yang ditangguhkan tidak mempunyai karakteristik aktiva dan kewajiban yang biasa. Sebagai contoh, beberapa menyatakan bahwa aktiva pajak yang ditangguhkan, yang menunjukan pajak dibayar dimuka yang timbul dari alokasi pajak penghasilan bukanlah hak tanpa kondisi untuk manfaat masa mendatang. Namun ada keadaan dimana dalam pengharapan yang normal atas laba perusahaan masa datang dan berlanjutnya peraturan pajak penghasilan berjalan, pos itu dapat mempunyai banyak karakteristik aktiva yang normal.

Utang pajak yang ditangguhkan, yang menunjukan utang pajak penghasilan di masa mendatang yang timbul dari alokasi pajak demikian juga dianggap hanya memiliki sedikti karakteristik kewajiban yang normal. Namun dalam beberapa keadaan ada kewajiban untuk membayar pajak dimasa mendatang berdasarkan kegiatan masa lalu atau sekarang PERBANDINGAN SFAS 96 DAN APB 11 Dari penggunaan APB 11 dengan metode ditangguhkannya, SFAS 96 dengan metode aktiva/kewajibannya. Satu satunya perubahan nyata yang terjadi apabila seseorang memperthitungkan perubahan tarif yang sebenarnya independen terhadap pemilihan antara kedua metode. Alasan untuk kedua metode terletak pada sifat perbedaan sementara yang, per definisi, yang sendirinya membalik selama jangka waktunya. Dengan kata lain, jumlah perbedaan sementara sepanjang jangka waktunya adalah nol. Sekarang, jika serangkaian jumlah menuju nol dipecah pada titik mana pun selamajangka waktunya, jumlah mutlak sampai pemecahan harus sama dengan jumlah mutlak setelah pemecahan. Ada dua cara untuk menjumlahkan perbedaan sementara. Kita dapat menjumlahkannya dari muka ke awal pemecahan (metode ditangguhkan). Atau kita bisa menjumlahkannya ke belakang ke akhir pemecahan (metode aktiva/kewajiban). APB menitik beratkan pada perbedaan sementara yang telah terjadi, sementara SFAS menitik beratkan pada perbedaan yang akan terjadi. Menurut APB 11, beban pajak dihitung dengan menerapkan tarif pajak ke laba sebelum pajak, utang pajak dihitung dengan menetapkan tarif pajak yang sama ke laba kenaa pajak. Perbedaan antara keduanya adalah kredit, atau debet ke akun pajak yang ditangguhkan. SFAS mulai dengan neraca. Lebih khusus, ia mulai dengan perbedaan dimasa yang akan datang. Satu pengecualian pada peraturan kesamaan umum ini adalah berubahnya tarif pajak. Pengecualian lain terletak pada perlakuan sementara asimtrik atas perbedaan sementara negatif antara APB 11 dan SFAS 96. Kesimpulannya adalah bahwa metode penangguhan dan metode aktiva/kewajiban masing masing akan menghasilkan beban pajak yang sama asalkan: 1. Perubahan dalam tarif pajak diperlakukan secara sebanding. 2. Tidak ada aktiiva pajak yang ditangguhkan yang tidak diakui dalam catatn kaki menurut metode aktiva/ kewajiban. PENYAJIAN HASIL

Yang masih tersisa adalah membahas nagaimana menyajikan berbagai akun laporan laba rugi dan neraca yang berkaitan dengan pajak. Bahan mencakup tiga bidang: alokasi pajak intraperiode,metode alokasi pajak antar periode bersih sesudah pajak yang benar benar bersangkutan dengan masalah penyajian, dan persyaratan penyajian saat ini menurut SFAS 96. ALOKASI PAJAK INTRAPERIODE Jika konsep laba all-incusive diterima sepenuhnyam, alokasi pajak antara laporan rugi laba dan laba ditahan tidak perlu dilakukan. Tetapi menurut APB 9. Keuntungan dan kerugian luar biasa harus dilaporkan secara terpisah dalam laporan rugi laba. Menurut SFAS 16, beberapa penyesuaian periode sebelumnya harus dilaporkan sebagai penyesuaian atas laba ditahan. Dalam kasus ini, dan yang sejenis, alokasi intraperiode didalam laporan rugi laba ataupun laba ditahan dapat membuat laba bersih yang dilaporkan sebelum pos luar biasa menjadi berarti. Argumen untuk alokasi intraperiode terutama bersandar pada kegunaan jumlah laba bersih yang dilaporkan sebelum pos luar biasa. Namun lebih jauh lagi argumen ini mengasumsikan bahwa laba akuntansi dapat diprediksi. Argumen yang lebih sederhana menyatakan bahwa alokasi menyebabkan kerincian pada akun akun terkait, yang berarti lebih banyak pengungkapan dan informasi yang lebih baik. Metode Bersih Sesudah Pajak Suatu alternatif pelaporan aktiva dan kewajiban pajak yang ditangguhkan sebagai akun independen, yang disebut metode bersih sesudah pajak, adalah memperlakukan hal itu dalam hubungan yang erat dengan pos pos yang menyebabkan keberadaannya. Jadil, pajak dibayar dimuka dapat dianggap akun penilaian pada kewajiban yang bersangkutan, dan utang pajak dimasa depan dapat dianggap akun aktiva kontra, atau aktiva dan kewajiban dapat dikurangi secara langsung. Metode bersih sesudah pajak didasarkan pada asumsi bahwa penyesuian biaya historis dari suatu aktiva untuk pengeruh pajak dapat menghasilkan penilaian saat ini untuk aktiva itu. Kesulitan dalam asumsi ini bersifat dua arah. Pertama, banyak faktor lain harus diperhatikan darus diperhatikan dalam mengukur nilai perusahaan bagi investor. Kedua, dipertnyakan apakah tujuan dari akuntansi adalah untuk mengukur dan melaporkan nilai dari setiap aktiva, atau kewajiban. Masalah ketiga dengan metode ini adalah bahwa beberapa perbedaan sementara tidak dapat diidentifikasikan dengan aktiva dan kewajiban tertentu. FASB, setelah mempertimbangkan dan menolak penggunaannya menyatakana keyakinan bahwa metode aktiva/kewajiban menyediakan perangkat informasi yang lebih baik daripada menggabungkan pengaruh pajak dengan aktiva dan kewajiban lain. Akan tetapi, mereka setuju mengikuti arah metode bersih sesudah pajak saat mereka memutuskan bahwa pajak yang ditangguhkan harus mengikuti klasifikasi penangguhan lancar/tak lancar dari kejadian yang mendasari.