Anda di halaman 1dari 9

NAMA

RMK Akuntansi Keuangan II

: ZULKIFLI

FACHRI

AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN

A. DEFINISI
Pajak Penghasilan adalah pajak yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan

dan pajak ini dikenakan atas penghasilan kena pajak perusahaan.


Pajak Penghasilan Final adalah pajak penghasilan yang bersifat final, yaitu bahwa
setelah pelunasannya, kewajiban pajak telah selesai dan penghasilan yang
dikenakan pajak penghasilan final tidak digabungkan dengan jenis penghasilan lain
yang terkena pajak penghasilan yang bersifat tidak final. Pajak jenis ini dapat

dikenakan terhadap jenis penghasilan, transaksi, atau usaha tertentu.


Laba akuntansi adalah laba atau rugi bersih selama satu periode sebelum

dikurangi beban pajak.


Penghasilan kena paiak atau laba fiskal (taxable profit) atau rugi pajak (tax loss)
adalah laba atau rugi selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan

perpajakan dan yang menjadi dasar penghitungan pajak penghasilan.


Beban paiak (tax expense) atau penghasilan pajak (tax income) adalah jumlah
agregat pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax) yang

diperhitungkan dalam penghitungan laba atau rugi pada satu periode.


Pajak kini (current tax) adalah jumlah pajak penghasilan terutang (payable) atas

penghasilan kena pajak pada satu periode


Kewajiban pajak tanguhan (deferred tax liabilities) adalah jumlah pajak
penghasilan terutang (payable) untuk periode mendatang sebagai akibat adanya

perbedaan temporer kena pajak


Aset pajak tangguhan (deferred tax assets) adalah jumlah pajak penghasilan
terpulihkan (recoverable) pada periode mendatang sebaga; akibat adanya :
(a) perbedaan temporer yang boleh dikurangkan, dan
(b) sisa kompensasi kerugian

B. PERBEDAAN PERMANEN/TETAP
Perbedaan permanen/tetap terjadi apabila terdapat transaksi yang diakui oleh Wajib
Pajak sebagai penghasilan atau sebagai biaya dalam akuntansi secara komersial yang
diatur dalam SAK. Tetapi, berdasarkan ketentuan peraturan perpajakan, atas transaksi
tersebut bukan merupakan penghasilan atau bukan merupakan biaya, atau sebagian
merupakan penghasilan atau sebagian merupakan biaya. Hal ini menyebabkan adanya
perbedaan laba total selama masa eksistensi perusahaan yang dihitung menurut
ketentuan perpajakan dan prinsip akuntansi.
Perbedaan permanen positif (laba komersial lebih besar dari laba fiskal) terjadi apabila
ada laba akuntansi yang tidak diakui berdasarkan ketentuan perpajakan. Sebaliknya,
perbedaan permanen negatif (laba komersil lebih rendah dari laba fiskal) terjadi apabila
Zulkifli Fachri

RMK Akuntansi Keuangan II


terdapat pengeluaran sebagai beban laba pembukuan yang tidak diakui menurut
ketentuan perpajakan
C. PERBEDAAN TEMPORER/WAKTU
Perbedaan waktu/temporer terjadi karena adanya perbedaan pengakuan besarnya
waktu secara akuntansi komersial dibandingkan secara fiskal, misalnya dalam
ketentuan masa manfaat dari aset yang akan dilakukan penyusutan atau amortisasi,
metode penilaian persediaan, penyisihan piutang tak tertagih, atau rugi laba selisih kurs.
Perbedaan waktu menyebabkan penghitungan pajak atas jumlah laba yang berbeda
dengan laba menurut pembukuan. Namun, perbedaan itu akan terkoreksi secara
otomatis dikemudian hari. Jadi, tidak ada perbedaan total laba fiskal dan laba komersial.
Perbedaan waktu positif terjadi apabila pengakuan beban untuk tujuan pajak lebih cepat
dari pengakuan beban untuk akuntansi atau pengakuan penghasilan untuk tujuan pajak
lebih lambat dari pengakuan penghasilan untuk tujuan akuntansi. Sedangkan
perbedaan waktu negatif terjadi jika ketentuan perpajakan mengakui beban lebih lambat
dari pengakuan beban menurut praktik akuntansi dan mengakui penghasilan lebih cepat
dari pengakuan penghasilan menurut praktik akuntansi.
D. PENGAKUAN DALAM PSAK NO. 46
1. Pengakuan Aset Pajak Kini dan Liabilitas Pajak Kini
Jumlah pajak kini yang belum dibayar harus diakui sebagai liabilitas. Apabila jumlah
pajak yang telah dibayar untuk periode berjalan dan periode-periode sebelumnya
melebihi jumlah pajak yang terutang untuk periode-periode tersebut, maka
selisihnya, diakui sebagai aset.
2. Pengakuan Aset dan Liabilitas Pajak Tangguhan
Pengakuan aset pajak tangguhan dan liabilitas pajak tangguhan memiliki hal-hal
yang perlu diperhatikan secara cermat. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
2.1 Perbedaan temporer kena pajak
Semua perbedaan temporer kena pajak diakui sebagai liabilitas pajak
tangguhan, kecuali jika timbul perbedaan temporer kena pajak:
a. dari pengakuan awal goodwill; atau
b. pada saat pengakuan awal aset atau liabilitas dari suatu transaksi yang:
bukan transaksi penggabungan usaha; dan
pada saat transaksi, tidak mempengaruhi laba akuntansi dan laba fiskal.
2.2 Perbedaan temporer yang boleh dikurangkan
Aset pajak tangguhan (deferred tax assets) diakui untuk seluruh perbedaan
temporer yang boleh dikurangkan, sepanjang besar kemungkinan perbedaan
temporer

yang

boleh

dikurangkan

tersebut

dapat

dimanfaatkan

untuk

mengurangi laba fiskal pada masa yang akan datang, kecuali aset pajak
tangguhan yang timbul dari:
a. Bukan dari transaksi kombinasi bisnis; dan

Zulkifli Fachri

RMK Akuntansi Keuangan II


b. Pada saat transaksi, tidak mempengaruhi baik laba akuntansi maupun laba
kena pajak (rugi pajak)
Perbedaan temporer dapat dikurangkan dihubungkan dengan investasi entitas
anak, cabang, dan entitas asosiasi, serta bagian partisipasi dalam ventura
bersama, maka aset pajak tangguhan harus diakui.
2.3 Rugi pajak belum dikompensasi dan kredit pajak belum dimanfaatkan
(unused tax credits)
Aset pajak tangguhan diakui untuk akumulasi rugi pajak yang belum
dikompensasi dan kredit pajak yang belum dimanfaatkan apabila besar
kemungkinan laba kena pajak masa depan akan memadai untuk dimanfaatkan
dengan rugi pajak yang belum dikompensasi dan kredit pajak yang belum
dimanfaatkan. Berikut ini adalah hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam
menentukan apakah laba kena pajak akan memadai untuk dimanfaatkan dengan
rugi pajak belum dikompensasi atau kredit pajak belum dimanfaatkan:
a. Apakah entitas memiliki perbedaan temporer kena pajak yang cukup
berkaitan pada otoritas perpajakan yang sama dan entitas kena pajak yang
sama, yang akan menghasilkan jumlah kena pajak sehingga rugi pajak
belum dikompensasi atau kredit pajak belum dimanfaatkan dapat digunakan
sebelum masa berlakunya daluwarsa;
b. Apakah memungkinkan bahwa entitas akan mendapat laba kena pajak
sebelum rugi pajak belum dikompensasi atau kredit pajak belum
dimanfaatkan daluwarsa;
c. Apakah rugi pajak dapat dikompensasi timbul dari kasus-kasus yang
teridentifikasi yang hampir tidak mungkin berulang; dan
d. Apakah kesempatan perencanaan pajak tersedia pada entitas yang akan
menghasilkan laba kena pajak pada periode tersebut saat rugi pajak belum
dikompensasi atau kredit pajak belum dimanfaatkan dapat digunakan.
2.4 Penilaian kembali aset pajak tangguhan tidak diakui
Entitas menilai kembali aset pajak tangguhan yang tidak diakui pada setiap
periode berjalan. Entitas mengakui aset pajak tangguhan yang tidak diakui
sebelumnya apabila kemungkinan besar laba kena pajak masa depan akan
tersedia untuk dipulihkan. Sebagai contoh, perbaikan kondisi perekonomian
meningkatkan kemampuan entitas untuk menghasilkan laba kena pajak dalam
jumlah yang memadai pada periode masa depan sehingga aset pajak
tangguhan yang sebelumnya tidak diakui menjadi memenuhi kriteria pengakuan.
2.5 Investasi pada entitas anak, cabang dan entitas asosiasi dan bagian
partisipasi dalam ventura bersama

Zulkifli Fachri

RMK Akuntansi Keuangan II


Perbedaan temporer timbul apabila jumlah tercatat investasi pada entitas anak,
cabang dan entitas asosiasi atau bagian partisipasi dalam ventura bersama
(yaitu entitas induk atau saham aset neto para investor entitas anak, cabang,
entitas asosiasi atau investee termasuk jumlah tercatat goodwill) berbeda
dengan dasar pengenaan pajak (terkadang sesuai dengan harga perolehannya)
atas modal investasi atau bunga. Perbedaan demikian dapat timbul pada
kondisi-kondisi, misalnya:
a. Adanya laba entitas anak, cabang, entitas asosiasi dan ventura bersama
yang tidak didistribusikan;
b. Perubahan nilai tukar mata uang asing apabila entitas induk dan entitas
anak berada pada negara yang berbeda; dan
c. Pengurangan jumlah tercatat investasi pada entitas asosiasi menjadi jumlah
yang dapat dipulihkan.
3. Dasar Pengenaan Pajak
Dasar pengenaan pajak (DPP) aset menurut PSAK No. 46 adalah jumlah yang
dapat dikurangkan, untuk tujuan fiskal, terhadap setiap manfaat ekonomi
(penghasilan) kena pajak yang akan diterima perusahaan pada saat memulihkan
nilai tercatat aset tersebut. Apabila manfaat ekonomi (penghasilan) tersebut tidak
akan dikenakan pajak maka DPP aset adalah sama dengan nilai tercatat aset. DPP
liabilitas seperti yang dinyatakan dalam PSAK No. 46 adalah nilai tercatat liabilitas
dikurangi dengan setiap jumlah yang dapat dikurangkan pada masa mendatang.
4. Pengakuan Pajak Kini dan Pajak Tangguhan
Perlakuan akuntansi untuk pengaruh pajak kini dan pajak tangguhan yang berasal
dari suatu transaksi atau kejadian harus selaras dengan perlakuan akuntansi untuk
transaksi atau kejadian itu sendiri.

4.1 Pos-pos yang diakui dalam laporan laba rugi


Pajak kini dan pajak tangguhan diakui sebagai penghasilan atau beban pada
laporan laba rugi untuk periode, kecuali apabila pajak penghasilan yang berasal
dari:
a. Suatu transaksi atau kejadian yang diakui, pada periode yang sama atau
berbeda, di luar laporan laba rugi baik dalam pendapatan komprehensif lain
maupun secara langsung dalam ekuitas; atau
b. Kombinasi bisnis
4.2 Pos-pos yang diakui di luar laporan laba rugi
Pajak kini dan pajak tangguhan diakui di luar laporan laba rugi apabila pajak
terkait pada pos-pos tersebut pada periode yang sama atau berbeda, diakui di
Zulkifli Fachri

RMK Akuntansi Keuangan II


luar laporan laba rugi. Oleh karena itu, pada periode yang sama atau berbeda,
pajak kini dan pajak tangguhan terkait dengan pos-pos yang diakui:
a. dalam pendapatan komprehensif lain, harus diakui pada pendapatan
komprehensif lain
b. langsung ke ekuitas, harus diakui langsung pada ekuitas
4.3 Pajak tangguhan yang berasal dari kombinasi bisnis
Perbedaan temporer mungkin timbul dari kombinasi bisnis. Sesuai PSAK No. 22
(revisi 2010) tentang kombinasi bisnis, entitas mengakui setiap aset pajak
tangguhan (apabila memenuhi kriteria pengakuan) atau liabilitas pajak
tangguhan sebagai aset dan liabilitas teridentifikasi pada tanggal akuisisi. Oleh
karena itu, aset dan liabilitas pajak tangguhan tersebut mempengaruhi jumlah
goodwill atau keuntungan dari pembelian dengan diskon yang diakui entitas.
Namun, entitas tidak mengakui liabilitas pajak tangguhan yang ditimbulkan dari
pengakuan awal goodwill.
4.4 Pajak kini dan pajak tangguhan yang berasal dari transaksi pembayaran
berbasis saham
Entitas yang menerima pengurangan pajak (misalnya jumlah yang dapat
dikurangkan dalam penghitungan laba kena pajak) terkait dengan remunerasi
yang dibayarkan dengan saham, opsi saham atau instrumen ekuitas lain, maka
jumlah pengurangan pajak tersebut dapat berbeda dari beban remunerasi
kumulatif terkait dan mungkin muncul pada periode akuntansi selanjutnya.
Misalnya, dalam hal entitas mengakui beban atas pemakaian jasa pekerja yang
diterima sebagai pembayaran atas opsi saham yang dihibahkan sesuai dengan
PSAK No. 53 (revisi 2010) tentang Pembayaran Berbasis Saham, dan tidak
menerima

pengurangan

pajak

hingga

opsi

saham

dieksekusi

dengan

pengukuran pengurangan pajak berdasarkan harga saham entitas pada tanggal


eksekusi.
E. PENYAJIAN MENURUT PSAK NO. 46
PSAK No. 46 menyatakan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyajian dalam
laporan keuangan, yaitu:
1. Saling menghapuskan (offset)
Entitas melakuan saling hapus atas aset pajak kini dan liabilitas pajak kini jika dan
hanya jika:
a. Entitas memiliki hak secara hukum untuk melakukan saling hapus jumlah
yang diakui; dan
b. Entitas berniat untuk menyelesaikan dengan dasar neto, atau merealisasikan
aset dan menyelesaikan liabilitas secara bersamaan.

Zulkifli Fachri

RMK Akuntansi Keuangan II


Entitas melakukan saling hapus aset pajak tangguhan dan liabilitas pajak
tangguhan jika dan hanya jika:
a. Entitas memiliki hak secara hukum untuk saling hapus aset pajak kini
terhadap liabilitas pajak kini; dan
b. Aset pajak tangguhan dan liabilitas pajak tangguhan terkait dengan pajak
penghasilan yang dikenakan oleh otoritas perpajakan atas:

Entitas kena pajak yang sama; atau

Entitas kena pajak berbeda yang bermaksud untuk memulihkan aset dan
liabilitas pajak kini dengan dasar neto, atau merealisasikan aset dan
menyelesaikan liabilitas secara bersamaan, pada setiap periode masa
depan yang mana jumlah signifikan atas aset atau liabilitas pajak
tangguhan diharapkan diselesaikan atau dipulihkan.

2. Beban/penghasilan pajak terkait dengan laba rugi dari aktivitas normal


Beban/penghasilan pajak terkait dengan laba rugi dari aktifitas normal disajikan
tersendiri pada laporan laba rugi komprehensif. Jika entitas menyajikan komponen
laba rugi pada laporan laba rugi secara terpisah seperti dijelaskan dalam PSAK No.
1 (revisi 2009) tentang penyajian laporan keuangan paragraf 81, maka
beban/penghasilan pajak terkait dengan laba rugi dari aktivitas normal pada laporan
keuangan disajikan terpisah.
3. Selisih kurs dari penjabaran aset atau liabilitas pajak tangguhan yang berasal
dari luar negeri
PSAK No. 10 (revisi 2010) tentang pengaruh perubahan kurs valuta asing
mensyaratkan

selisih

kurs

(exchange

difference)

tertentu

diakui

sebagai

pendapatan atau beban. Namun, pernyataan tersebut tidak mengatur spesifik


apakah selisih kurs harus disajikan pada laporan laba rugi komprehensif. Oleh
karena itu, selisih kurs dari penjabaran aset atau liabilitas pajak tangguhan yang
berasal dari penjabaran laporan keuangan entitas asing boleh dikelompokkan ke
beban/penghasilan pajak tangguhan, jika penyajian seperti itu dianggap paling
bermanfaat untuk pengguna laporan keuangan.
F. PENGUNGKAPAN DALAM PSAK NO. 46
Unsur-unsur beban/penghasilan pajak menurut PSAk No. 46 mencakup:
1. Beban/penghasilan pajak kini;
2. Penyesuaian yang diakui pada periode berjalan atas pajak kini yang berasal dari
periode sebelumnya;
3. Jumlah beban/penghasilan pajak tangguhan baik yang berasal dari timbulnya
perbedaan temporer maupun dari realisasinya;
4. Jumlah beban/penghasilan pajak tangguhan yang berasal dari perubahan tarif
pajak atau penerapan peraturan perpajakan yang baru;

Zulkifli Fachri

RMK Akuntansi Keuangan II


5. Jumlah manfaat dari rugi pajak atau perbedaan temporer periode sebelumnya yang
belum diakui, yang digunakan sebagai pengurang beban pajak kini;
6. Jumlah manfaat dari rugi pajak atau perbedaan temporer periode sebelumnya yang
belum diakui, yang digunakan sebagai pengurang beban pajak tangguhan; dan
7. Beban pajak tangguhan yang berasal dari penurunan (write-down), atau
penyesuaian kembali (reversal) penurunan periode sebelumnya, dari aset pajak
tangguhan.
Berikut ini merupakan hal-hal yang juga diungkapkan secara terpisah:
1. Agregat pajak kini dan pajak tangguhan berkaitan dengan transaksi-transaksi yang
langsung dibebankan atau dikreditkan langsung ke ekuitas;
2. Jumlah pajak penghasilan berkaitan dengan setiap komponen pendapatan
komprehensif lain;
3. Penjelasan hubungan antara beban/penghasilan pajak dengan laba akuntansi satu
sama lain atau kedua bentuk berikut ini:
a. Rekonsiliasi angka antara beban/penghasilan pajak dengan hasil perkalian
laba akuntansi dan tarif pajak yang berlaku, dengan mengungkapkan dasar
penghitungan tarif pajak yang berlaku; atau
b. Rekonsiliasi angka antara tarif pajak efektif rata-rata dan tarif pajak yang
berlaku, dengan mengungkapkan dasar penghitungan tarif pajak yang berlaku
pada periode akuntansi sebelumnya;
4. Penjelasan mengenai perubahan tarif pajak yang berlaku dan perbandingan
dengan tarif pajak yang berlaku pada periode akuntansi sebelumnya;
5. Jumlah dan batas waktu penggunaan perbedaan temporer yang boleh dikurangkan,
rugi pajak belum dikompensasi dan kredit pajak belum dimanfaatkan yang tidak
diakui sebagai aset pajak tangguhan pada laporan keuangan;
6. Jumlah agregat perbedaan temporer yang dihubungkan dengan investasi pada
entitas anak, cabang dan perusahaan asosiasi dan bagian partisipasi dalam
ventura bersama atas liabilitas pajak tangguhan yang belum diakui;
7. Berkenaan dengan setiap tipe perbedaan temporer, dan berkenaan dengan setiap
tipe rugi pajak belum dikompensasi dan kredit pajak belum dimanfaatkan:
a. Jumlah aset dan liabilitas pajak tangguhan yang diakui pada laporan posisi
keuangan selama periode penyajian;
b. Jumlah beban/penghasilan pajak tangguhan yang diakui pada laba rugi,
apabila jumlah tersebut tidak terlihat dari perubahan jumlah aset atau liabilitas
pajak tangguhan yang diakui pada laporan posisi keuangan; dan
8. Berkenaan dengan operasi yang dihentikan, beban pajak terkait pada:
a. Keuntungan atau kerugian atas penghentian operasi; dan
Zulkifli Fachri

RMK Akuntansi Keuangan II


b. Laba atau rugi dari aktivitas normal atas operasi yang dihentikan untuk
periode, bersamaan dengan jumlah periode akuntansi sebelumnya yang
disajikan pada laporan keuangan;
9. Jumlah konsekuensi pajak penghasilan atas dividen pada pemegang saham entitas
yang diusulkan atau diumumkan sebelum laporan keuangan diotorisasi untuk
diterbitkan tapi tidak diakui sebagai liabilitas dalam laporan keuangan;
10. Jumlah perubahan jika suatu kombinasi bisnis di mana entitas adalah pihak
pengakuisisi yang menyebabkan perubahan pada jumlah diakui untuk aset pajak
tangguhan praakuisisi; dan
11. Jika manfaat pajak tangguhan yang diperoleh dalam suatu kombinasi bisnis tidak
diakui pada tanggal akuisisi tetapi diakui setelah tanggal akuisisi uraian kejadian
atau perubahaan keadaan yang menyebabkan manfaat pajak tangguhan harus
diakui.
G. KOREKSI FISKAL
Wajib Pajak orang pribadi yang hanya memperoleh penghasilan dari pemberi kerja dan
penghasilan lainnya yang bukan usaha atau pekerjaan bebas, tidak memerlukan untuk
membuat laporan keuangan (financial statement) sehingga tidak memerlukan
rekonsiliasi fiskal. Namun, Wajib Pajak orang pribadi, badan usaha, dan nonusaha yang
melakukan usaha/pekerjaan bebas

harus membuat laporan keuangan, sehingga

sebelum menghitung pajaknya harus melakukan koreksi fiskal terlebih dahulu.


1. Pengertian Koreksi Fiskal
Koreksi fiskal merupakan koreksi perhitungan pajak yang diakibatkan oleh adanya
perbedaan pengakuan metode, masa manfaat, dan umur dalam menghitung laba
secara komersial dengan cara fiskal. Koreksi fiskal terbagi atas dua, yaitu:
a. Koreksi Positif, adalah koreksi yang mengkibatkan pengurangan biaya yang
diakui dalam laporan rugi laba komersial menjadi semakin kecil, atau yang
berakibat adanya penambahan Penghasilan Kena Pajak. Berikut ini adalah
beberapa transaksi yang dapat mengakibatkan koreksi positif, yaitu:
Biaya yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan usaha perusahaan

untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara pendapatan.


Biaya yang tidak diperkenankan sebagai pengurang Penghasilan Kena
Pajak, seperti berikut:
i.
Biaya untuk kepentingan pemegang saham.
ii.
Pembentukan dana cadangan.
iii.
Imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan.
iv.
Pembayaran kepada pihak pemegang saham atau pihak yang
mempunyai hubungan istimewa sehubungan dengan pekerjaan yang
v.

Zulkifli Fachri

melebihi kewajaran.
Sumbangan.
8

RMK Akuntansi Keuangan II


vi.

Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan yang tidak terbagi

atas saham.
Biaya yang diakui lebih kecil. Terdapat berbagai jenis biaya yang
pengakuannya berbeda secara komersial dan pajak, antara lain sebagai

berikut:
i.
Penyusutan menurut Wajib Pajak lebih tinggi
ii.
Amortisasi menurut Wajib Pajak lebih tinggi
iii.
Biaya yang ditangguhkan pengakuannya
Biaya yang didapat dari penghasilan yang bukan merupakan objek pajak.
Biaya yang didapat dari penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final.
b. Koreksi Negatif, adalah koreksi fiskal yang berakibat dengan adanya
penambahan biaya yang telah diakui dalam laporan laba rugi komersial menjadi
semakin besar, atau yang berakibat dengan adanya pengurangan Penghasilan
Kena Pajak. Transaksi-transaksi yang mengakibatkan terjadinya koreksi fiskal
negatif antara lain seperti berikut:
Biaya yang diakui lebih besar, antara lain terjadi pada kegiatan-kegiatan
berikut:
i.
Penyusutan menurut Wajib Pajak lebih rendah
ii.
Selisih Amortisasi karena amortisasi komersial lebih kecil daripada

penyusutan fiskal
iii.
Penghasilan yang ditanggukan pengakuannya
Penghasilan yang didapat dari penghasilan yang bukan merupakan objek

pajak
Penghasilan yang didapat dari penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final

Zulkifli Fachri