Hasil Diskusi

Workshop Pemetaan Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik UC UGM, 13 Juni 2009

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Disusun oleh Tim: Prodi Rekam Medis UGM

Program Studi D3 Rekam Medis Universitas Gadjah Mada FMIPA UGM, Sekip Unit III Yogyakarta. Telp. 0274-7101249, Fax. 0274-546194

1

PRAKATA

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah mengijinkan kami menyelesaikan dokumen ini sebagai tindak lanjut dari diskusi tentang Pemetaan Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik pada tanggal 13 Juni 2009 lalu yang bertempat di Gedung Pertemuan University Centre Universitas Gadjah Mada. Kami merasa perlu melakukan kegiatan tersebut mengingat, kami sebagai penyelenggara pendidikan perekam medis, memiliki kewajiban ikut serta dalam menyumbangkan saran, ide, pendapat, pengetahuan serta melakukan kegiatan aktif yang bermanfaat secara keilmuan, khususnya perihal rekam kesehatan elektronik. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah mendukung, memberi masukan serta kerjasamanya dalam mensukseskan kegiatan tersebut di atas : 1. Dekan FMIPA UGM 2. Kaprodi Ilmu Komputer FMIPA UGM 3. Ketua dan Pengurus DPD PORMIKI DIY 4. Pengelola Program S2 SIMKES FK UGM 5. Pengelola Program Magister Hukum Kesehatan UGM 6. Kepala Biro Hukum dan Koordinasi Depkes RI 7. Pimpinan dan Staf Dinas Kesehatan Prov. DIY 8. Kepala Instalasi Catatan Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta 9. Kepala Bidang Rekam Medis RS Bethesda Yogyakarta 10. Keperawatan RSU Banyumas 11. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo 12. Kepala Puskesmas Bayan, Purworejo 13. Staf dan Pengelola Prodi D3 Rekam Medis UGM 14. Mahasiswa Prodi D3 Rekam Medis UGM 15. Puskom UGM 16. University Center UGM Tidak lupa juga kami mengucapkan beribu terima kasih atas kehadiran, masukan serta dukungan secara personal dari : 1. Prof. dr. Budi Sampurna, SH 2. DR. Dra. Gemala Hatta, M.Kes 3. dr. Sunartini Hapsara, SpA(K), PhD (tidak bisa hadir karena berada di Korea) 4. dr. Rano Indradi Sudra, M.Kes 5. dr. Tridjoko Hadianto, DTM&H, M.Kes 6. dr. Kinik Darsono 7. Drs. Jazi Eko Istiyanto, MSc, PhD

ii 2

Semoga hasil diskusi ini dapat bermanfaat dalam pengembangan rekam kesehatan elektronik, khususnya dalam penyusunan peraturan tentang penyelenggaraan rekam kesehatan elektronik di Indonesia. Dalam hal ini dokumen hasil diskusi ini kami sampaikan kepada Biro Hukum dan Koordinasi Depkes RI untuk segera ditindaklanjuti dan kami mewakili penyelenggara pendidikan tenaga perekam medis akan selalu terbuka dan mendukung upaya peningkatan pengetahuan dan implementasinya di lapangan, baik dalam berupa pemikiran maupun teknis kegiatan. Demikian prakata ini kami sampaikan. Semoga apa yang menjadi maksud dan tujuan kami di sini dapat menjadi inspirasi positif dan disambut baik oleh semua pihak yang berminat akan pengembangan bidang rekam kesehatan elektronik. Terima kasih.

Yogyakarta, September 2009 Pengelola Prodi Rekam Medis UGM

iii 3

..................... ................................................. i ii iv 1 3 3 6 7 22 30 31 .................................................. ................ KEGIATAN ...................... KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KESEPAKATAN HASIL DISKUSI ....................................................................................................................... 4 iv ......................................DAFTAR ISI JUDUL SAMPUL PRAKATA DAFTAR ISI ........... PELAKSANAAN KEGIATAN LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN CATATAN DISKUSI ................................................................................................................................................................... ............................................................................................................................................................ .................... PENDAHULUAN ............... LAMPIRAN ............................................................................................................. .....

PENDAHULUAN Rekam kesehatan elektronik (RKE) merupakan pengelolaan informasi kesehatan yang berbasis komputer terhadap status kesehatan dan pelayanan kesehatan sepanjang hidup seorang individu. perlu dipikirkan bagaimana regulasi yang harus dipenuhi agar tercipta koridor yang tepat untuk berjalannya arah perkembangan rekam kesehatan elektronik di Indonesia. maka Program Studi Rekam Medis Universitas Gadjah Mada. Penggunaan Teknologi informasi pada segala aspek kehidupan akan mempengaruhi bentuk layanan di dalam rekam medis. Selain itu. sebagai penyelenggara pendidikan tenaga perekam medis merasa sangat perlu mendukung dan ikut berperan dalam perkembangan RKE di Indonesia. di samping kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi. Hal ini diwujudkan dengan memfasilitasi pertemuan dalam rangka mengidentifikasi kondisi aktual penerapan RKE di 1 . Oleh karena itu perlu adanya pemetaan kondisi aktual penerapan RKE agar pemanfaatan dan perkembangan Rekam Kesehatan Elektronik lebih optimal. baik oleh fasilitas pelayanan kesehatan sendiri maupun masyarakat karena pelaksanaan rekam kesehatan elektronik terkesan dipaksakan. Hal yang sangat penting dipikirkan. Mengingat pentingnya hal tersebut di atas. namun dampak manfaatnya belum dapat dirasakan. maka sejauh mana penerapannya memberikan kontribusi yang lebih baik pada layanan rekam medis. jika RKE perlu diterapkan. tidak sesuai dengan kondisi ya ng ada. yang merupakan generasi terkini penyelenggaraan rekam medis disesuaikan dengan perkembangan teknologi. yang sekarang semakin marak.

maka juga dihadirkan dari pihak Departemen Kesehatan RI. khususnya Biro Hukum dan Organisasi (Hukor). 2 . Ag ar hasil pertemuan ini dapat ditindaklanjuti dengan nyata. khususnya dalam hal regulasi untuk pelaksanaan RKE di sarana pelayanan kesehatan.lapangan dengan mengundang pelaku pelayanan kesehatan yang telah menggunakan dan memiliki perhatian terhadap perkembangan RKE ini.

M. SpA(K).Kes. oleh karena itu pertemuan ini disusun dalam bentuk diskusi agar tujuan tersebut tercapai secara maksimal dan hasil-hasil pembicaraan dalam diskusi akan dirumuskan menjadi suatu rekomendasi.Si. dr. DEA. Rano Indradi Sudra. Sunartini Hapsara. S. Diharapkan hasil workshop ini akan saling memberikan masukan dari dan untuk masing-masing pihak yang hadir.KEGIATAN Pertemuan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap masalah RKE ini diwujudkan dalam bentuk workshop yang ditujukan untuk menjaring masukan tentang kebutuhan infrastruktur dalam penerapan RKE dan hal-hal apa saja yang dapat dilakukan para peminat ataupun yang terlibat dalam perihal RKE di Indonesia. dr. PELAKSANAAN KEGIATAN Kegiatan ini diselenggarakan oleh Program Studi D3 Rekam Medis Universitas Gadjah Mada yang bekerjasama dengan organisasi profesi perekam medis yaitu DPD PORMIKI DIY. Tridjoko Hadianto. Wahyudi Istiono.Kes. Program S2 SIMKES FK UGM serta Magister Hukum Kesehatan UGM dan mendapatkan perhatian khusus dari para individu pemerhati masalah RKE yaitu dr. dr. Adapun pelaksanaan kegiatan ini dapat disampaikan sebagai berikut: Nama Kegiatan : Workshop “Pemetaan Materi Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik” 3 . M. Arida Oetami. PhD.Kes. M. DTM&H. M.Kom. dr. khususnya kepada pihak Biro Hukor Depkes guna menindaklanjuti penyusunan regulasi RKE. M. Nur Rokhman.Kes. Anis Fuad. didukung oleh Program Ilmu Komputer FMIPA UGM.

Kes (Pakar Rekam Medis) 3. Gemala Hatta. drg. SH. dr. M.00) : Meeting Room.F.MdPerKes. Cynthiawati Wijono (Kepala Puskesmas Bayan.Kes (Pemerhati RKE/Rano Center) 5. drg. Purworejo) Pemandu Diskusi Topik Bahasan : dr.Kes. dr. Soetomo Nawawi. M.Jadwal Tempat : Sabtu. A. DIY) 9. dr. SKM (mewakili Pusat Data dan Informasi Dinas Kesehatan Prov. Drs. Bulaksumur. A. 13 Juni 2009 (jam 13.KP (Biro Hukor Depkes RI) 2.Kes (FK UGM) 12. Drs. Rano Indradi Sudra. Arida Oetami. M.. Jazi Eko Istiyanto.Perio(K) (Magister Hukum Kesehatan UGM) 11. dr. Sis Wuryanto. DR. : I : Ruang Lingkup Pelaksanaan RKE di Sarana Pelayanan Kesehatan 4 . M. M.00 – 17. M. M. Prof. S. Tridjoko Hadiyanto. dr. MRA. SH. Eddy Kristiyono. DIY) 8. PhD (FMIPA UGM) 4. SKM (Ketua DPD PORMIKI DIY) 7. Suryono. SKM (Praktisi Rekam Medis RS Bethesda Yogyakarta) 6. Sp.MdPerKes.Si.Kep (mewakili RSUD Banyumas) 16. Yogyakarta Peserta Hadir : 1. Nur Rokhman. PhD (Magister Hukum Kesehatan UGM) 10. S. Budi Sampurna. M.Sc. Sp. Jason. DTMH.Kom (Ketua Prodi Ilmu Komputer FMIPA UGM) 13. DPH Dent.Kom (Prodi Rekam Medis UGM) 14. Gadjah Mada University Club. Sardjito Yogyakarta) 15. Medi. Dra.Kes (Kepala Instalasi Catatan Medis RS DR. M.Kes (mewakili Dinas Kesehatan Prov. dr. Wahyudi Istiono. Sp. Harno. Endang Suparniati.

aplikasi software. Topik bahasan ketiga : Arah perkembangan RKE pada pelayanan kesehatan di Indonesia. dsb) dalam organisasi?. Manajemen. Apa saja infrastruktur yang diperlukan dalam penerapan sistem tersebut baik kualitas maupun kuantitas.II : Kebutuhan Infrastruktur untuk Penerapan RKE III : Arah Perkembangan RKE Panduan Diskusi A. finansial. Bagaimana peran aspek sosial (kesiapan organisasi dan struktur. Bagaimana peran lembaga pemerintah dan asosiasi profesi dalam perkembangan RKE. User. 1. Apa saja kendala dan hambatan yang masih harus diatasi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan dengan RKE?. SDM. dsb) yang diperlukan? Diskusi 25’ 25’ 25’ D. 3. regulasi internal. Apa kebutuhan aspek teknis (perangkat komputer. Diskusi 25’ 25’ 25’ C. Topik bahasan kedua : Kebutuhan infrastruktur untuk penerapan Rekam Kesehatan Elektronik dari aspek : Organisasi. Pembuka : Materi Pembahasan Durasi 5’ B. Diskusi 25’ 25’ 5’ 25’ 25’ E. 2. knowledge management. khususnya regulasi eksternal pelaksanaan RKE di Indonesia? 4. Topik bahasan pertama : Ruang lingkup perkembangan Rekam Kesehatan Elektronik (RKE) pada fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia. leadership. Penutup 5 . Sudah sejauh manakah implementasi RKE saat ini? Apa saja fungsi RKE di organisasi dan bagaimana peran rekam kesehatan yang berbasis kertas dengan adanya penerapan RKE? 3. jaringan. 3. 1. Apa rencana provider kesehatan dalam beberapa tahun ke depan untuk memelihara dan meningkatkan implementasi RKE yang mereka jalankan?. 2. Regulasi serta aspek Teknis. 1. 2.

Md. A. Sekip Unit III Yogyakarta.Md. Agung Dwi Saputro. Ibnu Mardiyoko.Md. Sugeng. 6 . SKM (D3 Rekam Medis UGM) 4. Bokari. Hasil dari workshop ini disusun dalam bentuk berkas dan akan dikirim kepada masing-masing peserta untuk menjadi dokumen (arsip).Md (PORMIKI) 8.Far (D3 Rekam Medis UGM) 3. A. Dra.Tim Pelaksana Teknis : 1. Telpon (0274) 7101249 / Email : d3rekammedisugm@yahoo.Md (D3 Rekam Medis UGM) 5. Gedung FMIPA UGM (Selatan). A. A.com LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN Secara umum pelaksanaan workshop RKE ini berjalan dengan baik dan lancar.Md (PORMIKI) 9. juga berjalan dengan efisien karena diskusi benar-benar dipandu pada permasalahan yang terfokus. S. Savitri Citra Budi. A. A. Nuryati. khususnya diskusi yang berkembang telah memberikan masukan-masukan yang bagus dan penting. SKM (PORMIKI) 7. Rawi Miharti (D3 Rekam Medis UGM) 2. Dari segi waktu. Susanto (D3 Rekam Medis UGM) 6. Mahasiswa D3 Rekam Medis UGM Alamat Sekretariat Penyelenggara : Sekretariat D3 Rekam Medis UGM.

terjadi reorganisasi di Depkes RI. lalu diperluas lagi dibahas pada forum yang besar. pendapat. DR.CATATAN DISKUSI Notulen Diskusi Workshop Pemetaan Materi Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik bertempat di Gedung University Center UGM Yogyakarta pada hari Sabtu 13 Juni 2009 : Pemandu Diskusi: Tujuan diskusi adalah menjaring saran. Bahan ini bisa menjadi pedoman dalam membicarakan apa saja yang harus ada dalam aturan tentang RKE. 7 . sehingga dapat dibuat menjadi suatu norma dalam bentuk Permenkes. lalu mengundang bapak /ibu untuk membahasnya pada tahap kedua dengan mengadakan pertemuan di Jakarta. walaupun kita sudah mengetahui bahwa RKE ini juga harus gayut (berkaitan) dengan UU ITE dan Permenkes 269/2008. Pada aturan tersebut sudah disebutkan tentang RKE. Budi Sampurna (Depkes RI): Dari sisi Depkes harapan dari pertemuan ini adalah ingin memperoleh persyaratanpersyaratan apa yang seharusnya dibutuhkan dalam penerapan RKE. Akan ada draft dan dibahas lagi diantara kita. tetapi belum jelas benar. sehingga pembahasan tentang hal tersebut terhenti. kemudian akan dibuatkan normanya. Prof. dan kita perlu untuk aturannya. Pemandu: Hari ini kita menjaring. Gemala Hatta (KKI): Bahan tersebut baru berupa preambul (belum tuntas selesai benar) mengingat pada setelah tahun 2004. Ini ada bahan dari Subdit Keterapian Fisik (bahan berupa naskah/buku : Draft Rancangan Rekam Kesehatan Elektronik (RKE) yang dikeluarkan oleh SubDit Keterapian Fisik Direktorat Keperawatan dan Keteknisian Medik. pandangan serta pengalaman dalam penerapan RKE guna memberikan masukan kepada Depkes guna merumuskan peraturan mengenai RKE di Indonesia. Dirjen Yan Medik. Depkes RI) Tetapi ini rancangannya. Ini yang harus dipikirkan dalam forum sekarang ini. Selain itu juga diharapkan mendapat banyak masukan tentang apa saja teknis yang diperlukan.

diayomi dengan standar profesi RKE. SDM itu harus mengerti ini RKE mau menuju kemana. namun sistemnya belum bisa bejalan. sistem yang mana yang perlu dibuat. yaitu : 1. oleh karena itu peran pendidikan yang harus membentuk kompetensi mereka agar siap menghadapi perkembangan RKE ini. kita simak dari rumah sakit dan puskesmas yang wakilnya telah hadir di forum ini. Selain itu. Sekarang RKE ini ada begitu banyak paparannya. Bagaimana pendapat dari mereka. hati-hati dalam membuat peraturan. SDM harus mengerti ini. apa yang terlebih dahulu akan dibahas ditentukan. akan aneh bila kita membuat peraturannya. Dalam penerapan RKE banyak pihak yang terlibat. 9. Dasar podoman klinik Kemampuan Pelaporan Standar Laporan Klinis Pengawasan dan Akses Pelatihan dan implementasi Dalam penerapan RKE di lapangan. sehingga di lapangan menjadi sulit. 3. Isi rekaman Format rekaman Sistem kinerja 24 jam Keterkaitan dengan SIM RS Kecerdasan komputer 6. 4.Yang penting disini. 2. benahi terlebih dahulu di lapangan. Oleh karena itu. Di keperawatan bisa berjalan. Pemandu: Pada kenyataannya sekarang ini di lapangan sudah ada rumah sakit maupun puskesmas yang menerapkan RKE. Bila ini belum diketahui oleh SDM di lapangan. maka SDM harus disiapkan terlebih dulu. 8. Jadi ini kerja besar. Jason. Dalam draft rancangan RKE tersebut disampaikan 10 point persyaratan format RKE yang harus dibuat.Kep (RSU Banyumas): Penerapan RKE di Banyumas yang sudah diterapkan dan sudah berjalan baik adalah di keperawatan. instansi kesehatan. dengan modal nekad karena ada 8 . dan juga belum ada aturan dari Depkes. bahwa dalam membuat suatu konsep (RKE). 10. SDM yg melalukannya. atau untuk Depkes dalam melindungi berbagai pihak. harus jelas terlebih dulu itu aturan untuk siapa? Untuk masyarakat. orang tidak mengerti harus membuat apa. dan untuk siapa? Sistem yang bagaimana? Sistem untuk praktisi-kah? Untuk negara-kah? Untuk para pengambil kebijakan-kah? Dengan demikian. S. Maka draf tersebut mengawali kerja besar ini. di Indonesia belum ada rumah sakit yang sudah pas dalam mengimplementasi RKE. dan lain sebagainya begitu luas. baru kemudian membuat aturannya. untuk yang rekam medis meskipun sudah 4 kali revisi. Sepuluh hal di atas harus dibicarakan bersama dalam rangka membentuk fondasi untuk penerapan RKE. 7. 5. dalam merumuskan suatu peraturan. ada pasien. Oleh karena itu. sehingga jelas apa yang harus dibuat.

diskripsi tentang RKE juga termasuk domain dokumentasi keperawatan. Ketiga. Jadi meskipun belum masuk ke wilayah medis. tidak hanya perekam medis. fakultas kedokteran harus mempersiapkan lulusan dokter yang lebih apresiatif terhadap RKE. Misalnya. adanya kondisi di lapangan yang bervariasi. Misalnya puskesmas dengan single komputer yang stand-alone. walaupun ada yaitu bila dalam suatu kasus maka hal tersebut hanya sebagai data pendukung. sehingga kami berani mengaplikasikan RKE itu. tetapi komponen RKE tidak hanya diagnosis. mengingat RKE dibuat berbasis teknologi yang sifatnya cepat dan terus berubah. standar memang penting. dan peran siapa SDM yang lain yang kuat. tenaga kesehatan lainnya. rekam medis dan tenaga kesehatan lainnya. tidak bisa kemudian dibawa ke tempat lain dan langsung bisa jadi dan jalan. Tiga tahun lalu ada HL7 (standar data medis. yang dimaksud dengan SDM harus seluruh pihak. Sangat bagus bila sekarang ada pertemuan untuk membahas mengenai bagaimana kita mengadopsi terminologi medis yang sudah ada di National Laboratorium of Medicine. siapa kepala puskesmasnya. kegiatannya adalah memasukkan data ke komputer tersebut. sehingga bisa mengakomodasi bagi siapa saja yang akan mengembangkan RKE hanya untuk perawat saja. Karena apa? standar terus berubah. tetapi ini sudah bisa disebut RKE. tetapi juga sign. perihal standar dalam peraturan. di Purworejo yang sudah jalan. disebutkan saja standar apa saja yang bisa digunakan. pertukaran data elektronik). Anis Fuad. ada inovator yang kuat di lapangan dan RKE bisa berjalan justru karena merasa inferior terhadap dokter.kesadaran bahwa profesi perawat belum banyak diperhitungkan. artinya melihat inputnya seperti apa. Oleh karena itu. dan ini terkait pada pendidikan tenaga kesehatan. Implikasinya. Selanjutnya. Oleh karena itu. kiranya kita perlu berorientasi pada proses. tentu tidak sendirian. Kedua. jadi yang berkaitan dengan terminologi medis ini bisa diperluas sehingga kita tahu cakupannya. Spt negara tetangga kita sudah menggunakan SNOWMED. Jadi. tetapi tidak perlu secara teknis masuk ke dalam peraturan. Untuk bagian lain juga sudah dibuat. simptom. tetapi belum bisa sepenuhnya berjalan. masalah pengembangan kemampuan SDM. Isu yang penting justru tentang terminologi medis. Kita menggunakan ICD sebagai kodefikasi diagnosis. Selain itu. tapi juga dokter. Prosesnya jangka panjang tidak langsung jadi. DEA (S2 SIMKES FK UGM): Pertama. seperti di RSU Banyumas. siapa “orang gila”nya. tetapi sekarang G oogle sudah menggunakan CCR (continuity of care record) dan sudah banyak yg mengadopsi. juga sekolah perawat. tapi implementasi praktis di lapangan akan terlalu jauh untuk peraturan sampai ke standar. NICNOC yg dipakai di keperawatan. Ini bisa 9 . perawat. Ada inputnya yang perlu dilihat dan berbeda di setiap tempat seperti faktor leadership. kita membuat klasifikasi RKE. setuju bahwa pengembangan RKE memerlukan suatu proses sangat panjang.

Rata-rata kunjungan sebulan 2400-2600 pasien (termasuk mobile unit. Data untuk laporan-laporan rutin untuk manajemen. apa saja data yang dimasukkan. bila harus membeli juga tidak mungkin. sehubungan dengan penerapan INA DRGs di RS Sardjito. Dr. tetapi ada kendala yaitu belum ada kesamaan pandangan antara vendor dan dokter/tenaga kesehatan. M. hingga level yang tinggi seperti personal health records. ruang KIA. Yang dilakukan baru tahap entry-data (identitas pasien. Komputer antar ruangan ini online karena diharapkan tidak ada data yang hilang. Sardjito): Saat ini RS Sardjito belum sampai pada RKE sebagaimana telah dibicarakan tadi. Puskesmas Bayan tidak memiliki petugas entry khusus. dan untuk penelitian juga bisa diakses dari situ walau hanya print-outnya atau secara manual. Dr. ini merupakan klasifikasi apa. ruang periksa gigi. Pihak Direksi menyiapkan untuk ini. Namun sudah dapat digunakan untuk pembuatan laporan rutin RL yang sudah bisa mengambil data langsung dari situ. walaupun masih ragu karena sistem ini masih banyak kendalanya. seperti listrik mati atau erorr. Rata-rata sudah memiliki >4 komputer online. Selain itu juga sudah menggunakan sistem itu untuk klaim jamkesmas. sehingga tidak mengandalkan satu orang. pihak eksternal. 10 . Dua puluh puskesmas (80%) sudah menjalankan RKE dengan kondisi variatif dari berjalan cepat hingga stagnan. namun kendalanya apabila listrik mati. Untuk infrastruktur seperti hardware dan software. Tahun 2009 merupakan pilot projek di dua unit itu dan 2010 harapannya sudah semua poli menggunakan. Untuk RKE baru akan mulai dikembangkan di dua poli yaitu Obsgyn dan Kulit&Kelamin karena para dokternya sudah punya semangat untuk membangun ini. Dari sisi SDM IT yang berjumlah 10 orang. ruang kepala dan ruang TU yang bisa dipakai bersama-sama. puskesmas yang seperti apa. Puskesmas Bayan memiliki 7 komputer online yang berada di masing-masing ruangan di loket. Selain itu pihak dokter juga masih ragu akan keamanan dan kerahasiaan data. ruang periksa umum. Bila tidak ada kendala.disebut RKE walaupun datanya adalah diagnosis sederhana. ruang obat. juga masih ada pertanyaan bagaimana dengan hak patennya bila dijiplak oleh rumah sakit lain. PKB) sehingga RKE ini sangat terbantu. morbiditas. ini diklasifikasikan apa.Kes (RSUP DR. Endang Suparniati. semua pelayanan bisa paperless. Bila di back-up dengan sistem manual register. dan laporan-laporan). Lalu juga puskesmas yang sudah mulai menjalankan sistem LAN. maka akan banyak data yang menumpuk tidak bisa di-entry. sehingga diputuskan menggunakan KSO. RS Sardjito belum memungkinkan untuk mengembangkan sendiri. kami melakukan KSO mengingat pihak manajemen lebih fokus pada pelayanan kepada pasien. dan untuk IT yang bukan corebusiness tapi sangat mendukung akan berhubungan dengan biaya. prinsipnya semua staf harus bisa entry data. Nah. Cynthiawati (Puskesmas Bayan): Di Purworejo ada 27 puskesmas. maka sistem ini malah merepotkan. Kami berusaha meninggalkan sistem manual/kertas. pustu. Klasifikasi ini keterkaitannya dengan infrastruktur.

MdPerKes. Dr. Data kuantitas pada pendaftaran.Ini sudah dijalankan selama >1 tahun. namun setelah makin banyak data yang masuk. dengan yang lain. Bila komputer hilang. Eddy Kristiyono. ada yang setengah hati. Kuncinya adalah komitmen dari kapus. Di Dinas Kesehatan sendiri sistem pelaporan dari rumah sakit masih manual dan ke depan akan dibuat sistem yang terkomputerisasi agar lebih cepat-mudah dalam menyususn atau menerima pelaporan dari rumah sakit. baru untuk entry resep. Ada yang komitmen tinggi. pada awalnya lancar. maka berbeda cara dan jalannya. A. Lalu masalah leadership. Namun masih harus banyak berbenah mengingat kendala masih sering terjadi. SKM (Yan infokes . M. penyiapan SDM dari berbagai profesi kesehatan yang diperlukan dalam pengembangan RKE. RS swasta. termasuk di Dinas Kesehatan. analisa SWOT perlu dilakukan. Oleh karena itu. biling. Kendala hardware juga masih banyak terjadi. Keuntugan penerapan RKE di puskesmas adalah menghindari salah baca dan pelayanan pasien bisa lebih cepat. Sekarang sudah banyak yang menerapkan secara sendiri-sendiri mengingat beberapa pihak sudah sangat ingin (perlu) menggunakan RKE ini.MdPerKes. dan pelaporan2. Kendalanya adalah soal attitude (perilaku) yaitu adanya perbedaan persepsi antara user: dokter-perawat. fondasi perlu diperkuat. (menayangkan peta tentang kebutuhan “kesepakatan” untuk pengembangan RKE) 11 . apakah RKE sudah waktunya untuk dipakai. Kendala juga terjadi saat ada penggantian tenaga baru yang harus mempelajari terlebih dahulu sistem yang digunakan. Hal penting dalam penerapan RKE adalah sistem pengaman data. A. bila ganti kepala puskesmas. jaringan menjadi lambat. Maka perlu dipikirkan tentang keamanan data. Rano Indradi Sudra. SDM yang mengusai sistem juga masih kurang. Harno.Kes : Saya lebih menekankan pada kata “kesepakatan” daripada “peraturan”. SKM (RS Bethesda Yogyakarta): RSB belum menerapkan RKE. Yang berjalan baru di RSUD Sleman yangmana dari masing-masing poli sudah online dengan jaringan. DIY): RKE di Provinsi DIY ini masih dalam uji coba dalam hal pelaporan dari rumah sakit. Sis Wuryanto. RKE belum bisa diterapkan di RSB karena belum menemukan format RKE yang pas.Untuk yang medis. SKM (DPD PORMIKI DIY): Harapan PORMIKI. baru mulai dengan sistem online utk bangsal dan poliklinik bulan Pebruari kemarin. maka datanya juga hilang.Dinkes Prov. antar dokter.

item pekerjaan diisi : PNS. Sebaiknya pakai yang original agar kita tetap menghargai HAKI. kode obat. misalnya ada peringatan bahwa pasien alergi obat tertentu. Fitur reminder dan alert sebagaimana telah dijelaskan tadi adalah untuk warning tentang alergi obat. ini kita kaitkan dengan RKE. ini tentu bisa menimbulkan kesalahan informasi atau kesalahan order. ada saatnya sistem harus down (terhenti sementara) kemudian sistem lockoff yaitu jika vakum maka sistem otomatis terkunci sehingga komputer tidak di(salah)gunakan oleh orang lain pada saat ditinggal sementara oleh si empunya. maka tidak bisa di-save sehingga mewajibkan item tersebut diisi. Fitur knowledge based link adalah sistem dapat memberikan informasi pelengkap. dsb. maka sistem tidak bisa di-save. Bila ada item yang tidak diisi. dan Depkes sudah mengeluarkan. misalnya umur 2 tahun. yang pertama RKE harus menjadikan datanya komplit dan akurat. kode alat. Ini juga harus dipikirkan. Juga perlu disepakati kode-kode untuk kode dokter. Fitur penunjang RKE. kode area. Lalu dari sistem ini juga dokter bisa mengetahui ada hasil lab pasien yang sudah bisa dilihat. baik untuk penggunaan sekarang maupun ke depan.Untuk operating system nanti silahkan ditentukan apakah memakai windows atau yang lain. peristilahan dan singkatansingkatan yang di lapangan masih simpangsiur. 12 . rasanya ini perlu kita bicarakan dan mungkin kita tidak perlu lagi membuat kode-kode yang baru. atau tinggi badan pasien : 999cm. Selain itu ada sistem downtime. baik manual maupun elektronik. Untuk kerahasiaan perlu adanya Smart internal check yaitu sistem warning (peringatan) agar lebih akurat. Selain komplit juga akurat. Juga harus dipikirkan bagaimana akses untuk pasien. Inilah perlunya smart system internal check sehingga data bisa tersimpan secara komplit dan akurat. Yang penting untuk segi originalitas dan legalitas OS baik opensource ataupun tidak/ free harus juga dipikirkan. Karena pasien juga punya hak akses tentang data kesehatannya. Hal lain yang perlu disepakati adalah tentang simbol-simbol.

tidak akan bisa dibuka. video. back-up data akan sia-sia. dsb. infrared. Bagaimana bila HP/PDA-nya hilang. bagaimana keamanan datanya. pasien. gempa. integriti sampai sistem back-up data. tetapi secara aturan kiranya kita perlu pikirkan dan sepakatkan. tetapi lupa membangun basis manajemennya yaitu membuat kesepakatan-kesepakatan dengan petugas yang ditunjuk. rumah sakit “berlomba lomba” membangun RKE. tetapi mengarahkan mana yang disarankan. otorisasi. Lingkup RKE di sini dari perekaman data. 2002) 13 . Secara teknologi mungkin data hasil lab bisa langsung disampaikan melalui sms kepada dokternya. seperti pengirman fax yang berisi hasil lab. kita perlu sepakati perihal otentikasi. tetapi secara aturan bagaimana? Ini berkaitan dengan penggunaan informasi dalam RKE. ini perlu diatur dan dipikirkan bersama. bagaimana kerahasiaan datanya. RKE juga bisa terkena bencana (banjir. juga bisa menggunakan dengan yang sudah ada sekarang seperti USB. form-formnya. Misalnya dalam aturan perlu disampaikan bahwa wajib melakukan back-up data yang disimpan secara terpisah (di tempat lain atau di gedung lain) sehingga bila terjadi sesuatu seperti kebakaran. Gemala Hatta: Data RKE meliputi dokumen tulisan. dsb. bluetooth. Untuk keamanan data. Jadi. tidak semuanya musnah. konsultasi. penyimpanan data sampai pemusnahan dokumen. rasanya kita tidak perlu melarang. dsb) maka juga harus dipikirkan bagaimana bila hal ini terjadi. rekaman suara. data presentasi. Lalu sistem komunikasi data. mati lampu. lalu pengiriman mms atau sms ke HP/PDA dokter. dicuri. tersambar petir. gambar. Aspek yang sering terlupa adalah aspek manajemen dari RKE. tenaga kesehatan. siapa yang mengambil data. sehingga jelas siapa yang memasukkan data. dsb. DR. dicuri. data suara. bagaimana nanti bila dengan RKE.Lalu format data juga perlu disepakati. vendor. dsb (menayangkan gambar “EHR data types and their sources” Deborah Kohn. tentang data teks. Bila mengcopy file dengan format yang berbeda atau tidak kompetibel. Selain kesepakatan-kesepakatan tadi juga perlu dibuat kebijakan dan protap untuk menjalankan RKE. apa yang harus dilakukan? perlu juga dibuat aturan yang merupakan kesepakatan bersama untuk menanganinya. Saat inipun yang sudah dilakukan merupakan komunikasi data elektronik. dsb. ini dalam bentuk seperti apa. walaupun secara teknis bisa dilakukan. data movie. pihak asuransi.

Kita lihat bagan lagi. dan begitu banyaknya formulir yang harus ditulis mengakibatkan habisnya waktu tenaga kesehatan hanya untuk melengkapi berkas. Dari seorang pasien bisa didapat banyak sekali informasi yang dihasilkan. 14 . titik tengahnya adalah pasien. semua itu merupakan rekaman yang penting. Kendala kekurangan tenaga. Jadi dari satu sumber seorang pasien makin lama dunia ini makin banyak membuat klasifikasi. bisa juga data bentuk descrete dan data terstruktur. Jadi harus terisi lengkap. dan informasi itu dalam bentuk tulisan (note/catatan). tetapi sekarang rekaman itu perlu. Salah satu sebabnya tidak ada waktu untuk mengisinya. dan ini hanya bisa diterapkan bila ada dana dan kebutuhan. dari penelitian berkas rekam medis. banyak item yang tidak diisi. Akibatnya yang diisi hanya yang dianggap penting saja. Misalnya kasus TKW atau Manohara yang melapor dianiaya. proyektil yang ditemukan juga merupakan bukti.14 Petikan dari buku Deborah Kohn yaitu tipe data RKE dan sumber-sumbernya. Tetapi yang terjadi sekarang ini. Bahkan bila ada seseorang tertembak. data sound. jadi data itu diambil dari pasien. tentu informasinya menjadi tidak lengkap. Data yang banyak sekali ini bersumber dari isian item yang ditulis oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya. baru informasi itu lengkap. Untuk rumah sakit pendidikan. data video. hal ini tidak boleh terjadi mengingat data atau informasi apapun sangat diperlukan dalam kegiatan pendidikan dan penelitian. dsb. yang diambil dari pasien ada data gambar. maka yang menjadi bukti adalah rekaman foto luka-luka atau memar-memar yang ada pada anggota badannya. Tidak hanya data lab atau forensik.

pemicunya adalah pertemuan di Jogja ini. Anis Fuad. sementara konsep itu dibuat tahun 2002. Hal ini akan kita sampaikan kepada pihak Depkes untuk mengadvokasi ke Depkominfo ke arah ini. Nanti untuk sertifikasi RKE dibuatkan PP karena sudah ada payung hukumnya yaitu UU ITE. lalu siapa pemilik datanya. Masalah KSO. UU ITE penjelasan pasal 10 menyebutkan tentang sertifikasi yaitu bukti keandalan tentang produk. sms gateway dengan quickcount sehingga provider tidak memiliki datanya. dan ini akan terus berkembang. Depkes tidak bisa membuat sertifikasi. memang profesi mengharuskan. agar isi Permenkes tidak hanya untuk orang yang tahu MIK (Manajemen Informasi Kesehatan) tetapi juga oleh para direktur rumah sakit dan orang-orang yang terlibat di dalam RKE nantinya. Jika paket radiologi yang diberikan kepada RS Sardjito. rasanya ini bukan urusannya Depkes tetapi Depkominfo. Sekarang ini tahun 2009. syaratnya harus ini-itu. Untuk ini PP-nya belum ada. ini dapat diangkat menjadi seminar nasional. Contoh CCHIT yaitu lembaga independen Amerika yang membuat sertifikasi khusus untuk RKE. dibawa ke pusat (Depkes) dan juga melibatkan para profesi kesehatan lainnya. Saya kira hasil diskusi ini bisa jadi masukan bahwa UU ITE harus membuat sertifikasi untuk RKE. Oleh karena itu perlu dibicarakan mana saja yang masuk dalam Permenkes. mana yang Depkes. siapapun yang melakukan rekaman harus melakukan hal ini dan misalnya bisa di-back-up dengan Permenkes. Saya menjelaskan konsep (bagan) ini menambahkan konsep yang telah disampaikan oleh pak Rano. Jadi bila vendor menjual barang dengan macam-macam spek yang harus dipilih. Oleh karena itu kita harus sangat hati-hati. tetapi tidak hadir. Jazi Eko Istiyanto. karena sertifikasi adalah wewenangnya Depkominfo. bisa berubah. Memang sebaiknya semua yang mencatat rekaman harus dilibatkan dalam pembicaraan seperti ini.Jadi semua tipe data pada bagan tersebut merupakan tugas rekaman yang harus ada pada RKE. Lalu untuk membuat Permenkes berdasarkan apa? Bila menurut bagan ini. Dr Kinik Darsono (RSU Sragen): 15 . Saya juga sepakat adanya standar layanan (berdasarkan tipe rumah sakit). DEA : Tentang tugas Depkominfo tadi. sehingga bisa tahu apa yang menjadi prioritas untuk dilakukan. ini betul tugasnya Depkes karena di Depkes ada instalasi pelayanan kesehatan. Pemandu : Setuju. Bila menggunakan sms. Harapan saya. PhD : Yang menarik tadi adalah end-user computing. Pemandu : Disini sebenarnya kita juga mengundang IDI. Tetapi ada aturan-aturannya. rasanya bila dibuat oleh dokter sendiri hasilnya lebih sukses daripada dibuatkan karena sesuai dengan apa yang diinginkan. mana yang menjadi tugasnya Depkominfo.

Jadi bila pasien tidak mengijinkan. M.Kes (Prodi Rekam Medis UGM): Menanggapi dr Kinik. Suryono. maka sistem tidak bisa dibuka.RSUD Sragen untuk telemedis sudah jalan. yang penting adalah hukum atau aturan yang akan kita buat ini pada tahap awal sebagai pendorong dilakukannya RKE. SH. eksekutif tidak diperkenankan mengatakan bahwa sesuatu hal tidak boleh dilakukan karena tidak ada aturan yang mengaturnya. malah harusnya mempermudah dan menjamin. bila perlu akreditasi atau pengajuan SIP minimal harus sudah melakukan RKE tahap awal. PhD (Magister Hukum Kesehatan UGM): Dari aspek hukum. Oleh karena itu mohon aturan untuk hal ini. Standar penggunaan RKE perlu tetapi jangan sampai membatasi. Jadi harus ada ranah ke pendidikan. berdasarkan azas legalitas. Ini merupakan peran eksekutif/pemerintah (Depkes) untuk memfasilitasi membuat kebijakan yang terkait dengan RKE. yaitu menggunakan sistem dual dimana harus seijin dokter dan pasien. Dengan sistem biometrik. ada tahapan dalam penerapan RKE sesuai dengan tingkat pelayanan. 20 rekaman terakhir bisa dibaca setelah membukanya dengan pin dari pasien. dimana di negara kita menggunakan sistem kontinental. kemana saja seseorang selama masih di Kab Sragen. tidak mempersulit. tetapi takut untuk berpindah dari masa jaman dulu ke masa sekarang. Drg. bagaimana jika salah satu meninggal. yaitu penelitian epidemiologi. Isu penting di sini adalah remote & mobile. Dr Wahyudi Istiono. tidak menakut-nakuti. Jadi standar tidak membatasi. data itu masih diperlukan walaupun populasi berubah. Sistem keamanaan berfokus pada user yang memasukkan. yang penting di lapangan menggunakan dulu. Oleh karena itu. tentang dual persetujuan. bisa dilihat rekam medisnya. Jadi saya rasa hukum itu sedikit agak memaksa. persoalannya ketika akan membangun rekam medis elektronik. tapi ke depan sudah menggunakan HP. kita perlu ada multilevel penerapan RKE. kita mengharapkan kepada pihak pemerintah sesegera 16 . diperkenankan bagi eksekutif untuk membuat regulasi terhadap suatu fenomena yang berkembang di masyarakat. takut disalahkan. yang mendorong untuk pelaksanaan RKE. praktek pribadi berbeda dengan rumah sakit. maka penting sekali adanya payung hukum. harus bisa ditelusuri. apakah seluruh data tentang pasien itu otomatis hilang? Karena dalam bidang pendidikan. pengembangan ilmu pengetahuan. Kami sudah ekspos ke Bupati bahwa nanti rekam medis akan tersipman di KTP. Karena di lapangan keinginan menggunakan RKE sudah banyak. terhambat karena kami takut apakah hal itu sudah ada payung hukumnya? Justru menurut saya. Misalnya pasiennya meninggal. Sekarang kita masih berkutat pada jaringan laptop dan desktop. Hubungannya dengan sekuriti. Dalam hukum tata negara kita. Dengan sistem ini rasanya sudah sangat banyak mencegah terjadinya “kenakalan” dalam manipulasi data.

Kinik Darsono HASIL DISKUSI Grup II (dr. Sutomo Nawawi 3. Arida Oetami 4. Endang Suparniati 6. Wahyudi Istiono 7. dr. Kinik Darsono): Hasil diskusi grup II (menayangkan beberapa point seperti di bawah ini) 17 . dr. Ibnu Mardiyoko 6. Bahkan sudah terlewat satu step. Sis Wuryanto 8. dr. Masing-masing grup membahas hal yang sama yaitu : Aspek apa saja yang harus masuk dalam aturan yang akan dibuat oleh Depkes. Harno 8. DISKUSI Grup I: 1. Jazi Eko 3. Cynthia 7. Rano Indradi Sudra 2.mungkin mengeluarkan regulasi yang berkenaan dengan RKE. dr. sekarang sudah ada telemedicine yang lebih kompleks daripada RKE. forum ini dibentuk menjadi dua grup. Jason 5. Anis Fuad 4. Eddy Kristiyono Grup II: 1. drg. dr. Pemandu : Untuk diskusi lebih lanjut. drg. Suryono 2. dr. Nur Rokhman 5.

lalu yang paling penting sekuriti yaitu mengatur lalulintas informasi. Pertukaran informasi juga tidak masalah. dsb) yang lebih rumit. Grup I (dr. Lalu lintas informasi RKE Otorisasi penggunaan RKE (security) Aspek4. Point yang diusulkan adalah ada prototipe. Sebaiknya. boleh diadopsi. diadaptasi. misalnya untuk para dokter diberikan platform itu. bila 2015 harus link ke seluruhnya. maka boleh saja mengakses data tersebut. yang penting sama yang digunakan ini. peraturan KKI. Aturan ini bertahap. dan untuk selanjutnya melihat perkembangan berikutnya. misalnya Dinas Kesehatan ingin mengetahui semua data rekam medis pasien.Pemikiran :  Mendorong untuk menggunakan RKE  Melalui perijinan... lima tahun pertama adalah mendorong penggunaan RKE pada semua pelayanan kesehatan. Rano Indradi): 18 . Copy rekam medis namanya nanti. pemerintah menyediakan prototipe minimal.yang menurut kami perlu dimasukkan dalam UU/permenkes atau entah apa 5. Hal seperti ini harus jelas tanggungjawab siapa. akreditasi  Menampung aturan yang berlaku dan diatur pada profesi (UUPK. tetapi tanpa nama (anoname). registrasi online. Mendorong untuk nakes menggunakan 3. tetapi anoname (tanpa nama pasien). Model / prototipe RKE 2. dan profesi lain) permenkes 269/2008  security??? Hukum yang tidak terlalu mengikat. yang penting filosofinya mendorong untuk menggunakan RKE.permenkes Point yang diusulkan: 1. belum sampai pada tahapan aspek hukum (sanksi. dengan cara dipersyaratkan misalnya untuk perpanjangan SIP.

email. dll. dst. sms. Kedua. 19 . jangan sampai ada data yang aneh. yaitu dalam aspek manajemen. Lalu diusulkan juga ada aturan tentang persiapan lembaga yang akan mengembangkan RKE. 2. dll. perlu dipikirkan tentang pengaturan komunikasi data dan pelepasan informasi kesehatan antar lembaga pelayanan kesehatan. maka harus ditentukan mana yang asli. aspek pendanaan. Juga ada tipe-tipe RKE yang disusun berdasarkan kontennya. adanya acuan tentang proses pengembangan RKE. untuk melaksanakan register penyakit-penyakit tertentu. Perlu ada peraturan tentang minimal-content dalam RKE yang berkaitan dengan kebutuhan RKE tersebut: 1.Aspek-aspek yang masuk dalam peraturan:  Acuan tentang proses pengembangan RKE : o KSO o Membangun sendiri o Membeli  Keamanan data  Minimal content RKE: o Patient safety o Kebutuhan surveilans o Tipe sesuai tahapan  Persiapan lembaga untuk pengembangan RKE  Komunikasi data dan pelepasan informasi kesehatan  Kepemilikan data dalam informasi kesehatan  Standar data yang digunakan  Prinsip interoperabilitas Hal-hal yang diusulkan tercantum dalam Permenkes adalah :  Sertifikasi/akreditasi Pertama. demikian pula tipe dua. Pada prinsipnya adalah kerahasiaan informasi kesehatan yang berlaku pada rekam medis manual tetap berlaku pada RKE. RKE yang dibangun walaupun patient safety. 3. sekuriti dan integriti RKE bisa dilakukan oleh pihak institusi (rumah sakit. tetapi juga harus mendukung kegiatan surveilans dan penelitian. Bahwa proses pengembangan  Menjamin aspek privasi. juga untuk kebutuhan pembayaran dan reimbusment serta memenuhi permintaan pasien itu sendiri. seperti data dosis obat. RKE tetap menjaga aspek patient safety. Berkaitan dengan komunikasi data dan pelepasan informasi kesehatan. untuk surveilans. aspek ketersediaan SDM. Juga diatur mengenai sarana atau saluran pelepasan data seperti fax. sehingga perlu disusun tentang definisi RKE yang jelas agar tidak simpangsiur/bias apa yang dimaksud dengan RKE itu sendiri. apalagi membahayakan kondisi pasien. Tentang kepemilikan informasi kesehatan. tentang keamanan data. mms. juga diatur apakah sifat kepemilikan sama dengan sistem manual? Bila copy file lebih dari satu. misalnya tipe satu RKE berisi apa saja. dsb) baik secara KSO atau membangun sendiri sesuai kemampuannya atau membeli apa adanya dan menggunakannya.

untuk tindakan medis digunakan ICD-9-CM. akreditasi. profesi. demikian pula standar data untuk obat. Tidak ada kewajiban bahwa saryankes harus melaksanakan RKE. karena kontennya. menggunakan telemedis harus ijin. Oleh karena itu. Di Malaysia. Dalam hal ini kami upayakan paling tidak mendorong untuk tetap terjaga aspek-aspek ini. lucu juga. Jangan sampai kita terjebak membeli barang yang di bawah standar (original. ini minimal sekuritas yang terjaga terhadap “fisik” sistem. Dalam Permen lebih ke arah memedomani (tidak mengancam) tetapi memberi panduan tanpa adanya sanksi atau jikapun ada maka minimal sanksi administratif. Juga disarankan adanya sertifikasi/ akreditasi. 20 . Akreditasi akan diberikan misalnya bila sudah bagus urutannya. dsb.mana yang salinan. tetapi misalnya disebutkan bahwa yang berlaku sekarang apa. atau semua salinan. RKE dululah. melakukan telemedis jika tanpa ijin. hal ini tetap dibutuhkan dan melibatkan berbagai pihak seperti institusi pendidikan. Tidak harus disebutkan secara spesifik. juga menjaga aspek sekuriti. Padalah internet belum tentu aman. alat. Di sisi lain kita juga membuat tentang pengaturan yang isinya norma-norma yang harus diatur. maka 5 tahun penjara. Komentar Prof. ada perijinan saryankes yang menggunakan RKE. misalnya untuk standar diagnosis digunakan ICD-10. RKE yang dibangun hendaknya tetap menjaga aspek privasi. lokasi. sehingga memiliki sudut pandang yang sama terhadap RKE. legal). Jadi. tapi penting juga ada sertifikasi untuk produknya. praktisi. Juga perlu disepakati prinsip interoperabilitas sehingga tidak merumitkan pengembangan RKE jika sudah lintas institusi atau lintas wilayah. tadi ada yang takut masuk RKE tapi berani melaksanakan telemedicine. Budi Sampurna terhadap hasil diskusi: Hasil pertemuan kali ini adalah membahas rincian teknis yang harus dibahas tersendiri dan nanti keluar sebagai pedoman teknis untuk pelaksa yang juga bisa dilambari oleh Kepmenkes. minimal ada otentikasi dan prinsip “need to know” dilaksanakan. Mohon nanti diuraikan juga apakah sebelum dipakai suatu software harus memperoleh sertifikasi terlebih dulu. karena resiko berbahaya. maka telemedicine juga tidak aman. yaitu originalitas data dalam informasi kesehatan tetap terjaga. Bisa jadi semua asli. Selain itu disarankan bahwa RKE yang dibangun menggunakan standar data yang berlaku dan disepakati. Untuk komunikasi data. Penggunaan telemedicine sudah masuk wilayah sendiri. Kemudian soal perijinan : registrasi. Hal-hal ini perlu disepakati untuk menjadi aturan. dan menjaga aspek integriti.

sehingga pasien ingin menggunakan. minimal sekuriti yang gampang dulu. RKE merupakan potongan dari rekam medis elektronik. Apakah RKE artinya informasi milik pasien yang bisa diakses oleh pihak lain. jadi untuk pengertiannya harus betul-betul jelas. RKE adalah milik semua pasien. definisi RKE harus disepakati bersama: apakah harus sama dengan literatur asing. 21 . jadi setiap tahap tetap pakai sekuriti. boleh saja. Rekam medis elektronik adalah yang dipakai saryankes. soal sekuriti jangan ditakutkan. Semua pengertian ini berbeda. Lalu. juga dibuatkan norma.Untuk komunikasi.

Namun ada hal-hal yang membatasi penggunaan elektronik ini yaitu banyak yang mengintervensi.MdPerKes. Dengan adanya lembaga yang memikirkan hal itu. Budi Sampurna : Dr. PORMIKI dan Dinkes DIY akan membangun wadah komunikasi antar institusi pendidikan rekam medis.Pertanyaan dan pendapat tentang komentar Prof. M. Wahyudi Istiono. Arida Oetami. binkesmas. Budi tentang akreditasi. pengguna). Budi. profesi. DEA: Apakah Kepmenkes bisa untuk pedoman vendor? Sehingga bisa menjadi acuan untuk pembuatan produk oleh vendor (jawaban Prof. ada prototipe yang elektronik. maksud dari Pak Anis tadi tentang akreditasi adalah bagaimana sebuah software sebelum di-launching ke pihak user. Hal itu nantinya bisa diakomodasikan. sehingga format tidak sama dan menjadi kesulitan. dari pusdatin. bisa). Pemandu : Demikian diskusi ini telah kita laksanakan bersama. depkominfo. M.Kes: Juga untuk penting disampaikan tentang pembinaan berkelanjutan dari Depkes untuk pengembangan RKE di tingkat pusat dan daerah. Nur Rokhman.Kom (Prodi Ilmu Komputer UGM): Meluruskan komentar Prof. Juga untuk penyelenggara pendidikan rekam medis. mudah-mudahan produk yang dijual tersebut dapat dipahami oleh semua pihak. Dalam hal ini diharapkan ada semacam lembaga yang menampung bagaimana kebutuhan yang sesuai dengan masing-masing saryankes. M. DIY): Pelayanan informasi kesehatan harus di-back-up dari pendidikan dan saryankes.Kes (Dinas Kesehatan Prov. Dr. Ini penting untuk berjalannya pengembangan RKE. mulai dari praktek dokter sampai rumah sakit. terima kasih atas segalanya dan semoga ini bisa bermanfaat untuk pengembangan RKE selanjutnya. Kaitannya dengan RKE adanya continuing learning (kerjasama dengan profesi). Eddy Kristiyono. Di Jogja sudah dikembangkan ke elektronik. Untuk profesi dan pihak pendidikan agar meningkatkan kemampuan teman-teman yang ada di lapangan termasuk mahasiswa dan alumni. 22 . diusulkan RKE masuk dalam kurikulum dan PORMIKI memikirkan bersama Pusdiknakes. SKM: Dalam waktu dekat ini. A. Anis Fuad. dinilai terlebih dulu dalam sertifikasi produk (belum sampai sertifikasi SDM) oleh sekumpulan tim (akademisi.

maka penting sekali adanya payung hukum dalam menerapkan RKE ini. Budi Sampurna. profesi kesehatan serta institusi pendidikan. pengguna. komunikasi data. Segera menyelenggarakan pertemuan antar berbagai pihak yang tugasnya membahas dan menyepakati bersama hal-hal yang perlu disampaikan dalam peraturan atau pedoman teknis pelaksanaan RKE. Proses pengembangan RKE di saryankes b. tepat waktu dan berjalan lancar. yaitu : 1. 23 . Rumusan minimal-content RKE c. Indonesia yang menganut sistem hukum kontinental mendasarkan pada azas legalitas atas perbuatan yang dilakukan. penyajian data serta pemusnahan data. bahwa dalam norma-norma yang harus diatur. Fitur dasar dan penunjang RKE h. Dari masukan tersebut dapat disimpulkan beberapa hal pokok yang disepakati bersama. Prinsip interoperabilitas antar instansi atau wilayah e. 3. 4. saran dan usulan yang semuanya merupakan masukan sebagaimana tujuan diskusi ini. Banyak dari peserta berbagi pengalaman. penyimpanan data. kondisi di lapangan juga diperhatikan. dalam hal ini SDM harus dipersiapkan dengan baik. Persiapan organisasi saryankes untuk pengembangan RKE d. pengolahan data. Aspek yang dibahas adalah sebagai berikut: a. demikian juga peran pendidik untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tentang RKE bagi mahasiswa dan para lulusannya. Selain itu. 2. Standarisasi g. pendapat. tetapi justru mendorong digunakannya RKE. keamanan data. Penerapan RKE segera dilaksanakan meskipun masih dalam tahap sangat sederhana. Langkah ini bisa dilakukan bila ada kolaborasi antara pihak Depkes (Pusdiknakes). tidak ada kewajiban saryankes harus melaksanakan RKE. Potensi saryankes sendiri diberdayakan. Mengutip apa yang dikatakan oleh Prof. Peraturan dibuat lebih ke arah memberi pedoman atau panduan bukan untuk melakukan hukuman. Lingkup RKE yang meliputi rekaman data. Sertifikasi dan akreditasi produk RKE f. Segera dibuat peraturan untuk pelaksanaan RKE. Hal ini diusulkan mengingat aturan yang akan dibuat nanti bukan untuk membatasi.KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Diskusi berlangsung dengan sangat baik. Ini harus dilakukan secara bertahap dengan pendekatan proses.

c. Dalam membicarakan perihal RKE. Hasil Diskusi Workshop Pemetaan Materi Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik 13 Juni 2009. PP No. 11/2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik f. khususnya Biro Hukum dan Koordinasi. Buku Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di Sarana Pelayanan Kesehatan (Gemala Hatta. 32/1996 tentang Tenaga Kesehatan i. Permenkes No. Rano Indradi) e. bidan dan perawat). 23/1992 tentang Kesehatan b. 2008) 3. Dalam menyusun rekomendasi ini. 24 . Dinas Kesehatan : yaitu pihak dinas kesehatan di daerah. a. Materi Seminar RKE dalam rangkaian acara Serenade Prodi Rekam Medis UGM tanggal 13 Juni 2009 d. Di bawah ini merupakan pihak-pihak yang saling terkait dalam pengembangan RKE dan sangat penting kepesertaan mereka dalam membahas aspek-aspek yang harus masuk dalam peraturan RKE.Dari hasil diskusi tersebut. baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. 377/2007 tentang Standar Profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan l. c. PP No. PP No. b. UU No. b. aspek hukum yang perlu diperhatikan antara lain adalah : a. Permenkes No. referensi yang digunakan adalah : a. UU No. Saryankes : rumah sakit. puskesmas. 844/2006 tentang Kodefikasi Data k. Mapping Kebutuhan Kesepakatan dalam Pengembangan RKE (dr. 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan j. dapat disampaikan beberapa hal di bawah ini untuk menjadi rekomendasi kepada pihak Departemen Kesehatan. Depkes : yang dimaksud dengan pihak Departemen Kesehatan RI ini khususnya Biro Hukum dan Koordinator (Hukor) dan bagian lainnya seperti Pusdiknakes sesuai materi yang dibicarakan. 1. 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik g. 10/1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran h. klinik. 269/2008 tentang Rekam Medis 2. Draft Rancangan Rekam Kesehatan Elektronik (RKE) dari SubDit Keterapian Fisik Depkes RI. Pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengembangan RKE di Indonesia. maka perlu ditentukan dan disepakati apa saja materi yang dibahas dan siapa saja yang membahas. UU No. 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan e. sebagai bahan pertimbangan dalam menindaklanjuti kesimpulan dari diskusi ini. balai pengobatan. UU No. Permenkes No. UU No. 29/2004 tentang Praktik Kedokteran c. UU No. praktek swasta (dokter. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah d. Untuk pembahasan dan kesepakatan bersama tentang aspek-aspek yang harus disampaikan pada peraturan yang akan dibuat.

g. PPNI. Dinas Kesehatan. Profesi Kesehatan : PORMIKI. pakar SIMKES. perlu dilakukan kerjasama antar berbagai pihak. 25 . Pembahasan Aspek Penting dalam Penyusunan Peraturan. Sosialisasi juga dilakukan dengan menyelenggarakan berbagai macam kegiatan (seminar. organisasi) e. workshop. Pemda/Pemkot : pejabat yang berwenang dalam pemerintahan daerah atau pemerintahan kota (note: beberapa istilah di atas disesuaikan dengan peraturan yang sudah berlaku sebelumnya) 4. Pemda/Pemkot serta peminat masalah RKE (masyarakat umum). bidan. 5. Pakar Simkes : personal yang ahli dalam bidang sistem informasi kesehatan j. Pakar Teknologi Informasi (TI) : personal yang ahli dalam bidang teknologi informasi baik konsep maupun keteknisan i. Pengguna : yaitu saryankes yang kini telah menjalankan RKE (SDM. laborat. farmasis. Institusi Pendidikan : penyelenggara pendidikan tenaga kesehatan l. perawat. manajemen. dalam hal ini adalah penyediaan biaya dan fasilitas. k. pakar TI. dokter gigi. studi lapangan. secara khusus pihak Biro Hukor sedapat-mungkin memfasilitasi untuk mengadakan pertemuan yang membahas kesepakatan dalam berbagai materi serta aspek-aspek yang penting dipikirkan dalam rangka menyusun peraturan tentang RKE. dsb) yang membahas berbagai hal tentang RKE. mohon kepada pihak Depkes memberikan dukungan baik moril maupun materiil. perekam medis. Hal ini bisa dilakukan secara berkoordinasi dengan berbagai pihak yang telah disebutkan pada point 3 di atas. lokakarya. f. Untuk meningkatkan kemampuan teknis tenaga pelaksana serta manajemen knowledge di saryankes. asosiasi profesi kesehatan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dan secara koordinatif bersama Dinas Kesehatan Provinsi. Dalam mempersiapkan SDM di saryankes. terapis. Provider : penyedia aplikasi sistem RKE h. Pakar Kesehatan Masyarakat : personal yang ahli di bidang surveilans dan penelitian kesehatan. baik secara kualitas maupun kuantitas. IDI. profesi kesehatan. Tenaga Kesehatan : dokter. Secara umum semua pihak yang berkepentingan terhadap pengembangan RKE dapat melakukan kegiatan sosialisasi sebagaimana tersebut di atas. Guna pelaksanaan persiapan SDM dalam menghadapi implementasi RKE. Kegiatan ini diselenggarakan dan/atau dihadiri oleh pihak Depkes. IBI. PORMIKI dan Pusdiknakes merumuskan kurikulum RKE dan intitusi pendidikan menyampaikan materi tentang RKE kepada mahasiswa dan alumninya. Persiapan SDM dalam Pelaksanaan RKE. institusi pendidikan.d.

Peran konsultan RKE Pihak kepesertaan : Depkes. Pengertian patient-safety dan implikasinya di lapangan c. Kualitas dan pengolahan data f. atau dengan cara membeli sistem yang sudah jadi. Profesi Kesehatan. Sumber biaya saryankes b. Jenis dan tipe saryankes g. Pemda/Pemkot. Surveilans dan penelitian d. Pembahasan materi mengenai proses pengembangan RKE meliputi bagaimana melakukan proses awal sistem RKE diterapkan di saryankes. Disamping itu juga dibahas bagaimana dengan peran konsultan dalam menentukan suatu organisasi pengguna RKE. Pakar Simkes. Dinas Kesehatan. Tujuan pembahasan ini adalah membuat berbagai tipe pengembangan RKE. Definisi RKE yang disepakati b. dibuat sendiri oleh SDM setempat. Proses Pengembangan RKE. Pembahasan untuk menyusun konten minimal RKE tidak lepas dari menekankan pada kebutuhan dari RKE itu sendiri. khususnya persyaratan minimal dalam saryankes yang boleh/bisa menerapkan sistem RKE. Prosedur proses pengembangan RKE e. b) membuat sendiri (swakarya). Dalam hal ini. Konsep patient safety serta keperluan surveilans menjadi fokus pembahasan. Materi bahasan : a. Format dan standar koding i. Kamus data berdasarkan standar perbendaharaan 26 . Tipe dan jenis pelayanan saryankes d. memberi arahan dalam memutuskan apakah sistem RKE tersebut dilakukan secara KSO. Mutu pelayanan e. c) membeli. Keseragaman data inti h. Materi bahasan : a. Penyusunan Minimal Content RKE. 2. Saryankes. Pembahasan juga menyangkut masalah ketersediaan biaya dalam pengembangan RKE di saryankes setempat. Pengguna.Berikut point-point dalam pembahasan aspek penting dalam penyusunan peraturan tentang pelaksanaan RKE : 1. Struktur organisasi saryankes c. pakar TI. Tujuan point ini adalah menentukan persyaratan apa saja yang harus dipenuhi dalam menentukan pengembangan RKE di saryankes dalam hal ini ada tiga tipe (atau bisa lebih) yaitu a) secara KSO.

Pengguna. Tujuan : kesepakatan tentang standar-standar yang digunakan dalam koneksi data. suara Pihak kepesertaan: Depkes. Tujuan : menyusun aspek-aspek organisasi yang perlu disiapkan dalam menerapkan sistem RKE di saryankes serta bagaimana teknis mempersiapkan organisasi secara keseluruhan. Tipe saryankes c. Isi diskusi meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kondisi lembaga yang akan mengembangkan RKE. aspek teknis dan aspek manajemen. Format File d. pelatihan aplikasi) i. penelusuran. Penelusuran Kebutuhan b. baik antar instansi maupun antar wilayah. Pakar Kesehatan Masyarakat (surveilans dan penelitian kesehatan). Provider 4. Pengguna. Struktur organisasi d. Komitmen SDM e. Profesi Kesehatan. Ini termasuk aspek SDM. Prosedur dan kebijakan k. SDM. Peran Leadership h. Dinas Kesehatan. Profesi Kesehatan. tertib catatan keuangan) g. institusi Pendidikan. Informasi hasil pelayanan dan status fungsinya k. Standar Terminologi b.j. Manajemen knowledge j. Materi : a. Tenaga Kesehatan. Prinsip Interoperabilitas Pembahasan ini juga menyangkut point pembahasan tentang Standar Terminologi dan Kodefikasi. Persiapan Organisasi untuk Pengembangan RKE. biaya/dana. Standar Kodefikasi c. Materi bahasan: a. Manajemen sumber daya (sarana-prasarana. Komunikasi data & informasi 27 . pakar Simkes. Saryankes (pendidikan). 3. Kondisi SDM (kuantitatif dan kualitatif) f. Saryankes (Top Manajer). Pencitraan. video. Kesiapan Biaya (besaran dana. Aspek teknis (infrastruktur) Kepesertaan : Depkes. Pakar TI (data).

kode dokter. Standar terminologi medis (penyakit. serta format data dan informasi.e. Dinas Kesehatan. Kode wilayah. sign. sedangkan pihak Depkes membuat apa persyaratan-persyaratan untuk konten produk tersebut. pakar Simkes. Dalam hal ini. Format data berupa teks. (usulan : utk mengadakan pertemuan yang membahas tentang bagaimana mengadopsi terminologi medis yang sudah ada di NLM seperti SNOWMED. kodefikasi. Pemda/Pemkot 5. Provider 6. simbol. Tenaga Kesehatan. Pengguna. Profesi Kesehatan. simptom) c. Ahli MIK. Ahli Simkes. Saryankes. gambar bergerak. Saryankes. Oleh karena itu. kode obat. suara. Pakar TI. Pengertian standarisasi b. Standarisasi Terminologi dan Kodefikasi Membahas tentang bagaimana menyepakati terminologi. Fitur Dasar dan Fitur Penunjang RKE 28 . Dinas Kesehatan. Tujuan : kesepakatan tentang terminologi medis. Profesi Kesehatan. Provider. Peserta : Depkes. Materi : a. Profesi Kesehatan. kodefikasi serta format data dan informasi yang digunakan dalam pengembangan RKE. NICNOC) 7. Istilah. di sini ditentukan persyaratan-persyaratan bahwa suatu produk aplikasi software RKE harus sudah disertifikasi sebelum dipasarkan. Ahli TI. singkatan yang digunakan dalam bidang pelayanan kesehatan e. perlu adanya advokasi kepada pihak Depkominfo untuk membuat sertifikasi pelaksanaan RKE. Tujuan : kesepakatan tentang lingkup dari sertifikasi produk aplikasi RKE Materi : a. Prosedur Pelaksanaan Sertifikasi/Akreditasi RKE Kepesertaan : Depkes. Standar kodefikasi d. Sertifikasi dan Akreditasi Produk Aplikasi RKE Pembahasan menyangkut masalah legalitas dari suatu sistem RKE yang digunakan. Pengertian Produk Aplikasi RKE c. kode penyakit yang digunakan dalam pelayanan kesehatan f. Pengertian Sertifikasi dan Akreditasi b. Aksesabilitas Psertaan : Depkes.

Profesi Kesehatan 8. scan) c. kualitas data serta kemudahan. Konteks data (video. Materi : a. Tujuan : Kesepakatan tentang pelaksanaan pengolahan data serta pelaksanaan komunikasi data dan informasi dalam penerapan RKE. Ahli TI. Downtime. Tujuan : menentukan operating system yang digunakan serta fitur-fitur aplikasi sistem RKE yang mendukung keamanan data. Pakar Simkes. Pembahasan meliputi prosedur pengolahan data serta komunikasi data/informasi yang juga menyangkut terminologi medis. scan. Hal akses pasien d. Clinical Reminder &Alert system f. Clinical & Managerial DSS g. Dinas Kesehatan. Konten data (data administratif dan data klinis) d. Operating System (Windows atau open source) b. foto.Lingkup pembahasan tentang bagaimana menentukan fitur yang digunakan dalam sistem RKE. Materi: a. Provider. Tenaga Kesehatan. Tipe input data (ketikan. Akurasi dan Kelengkapan Isian e. Retensi data (in-aktif file. Media penyimpanan data (CD. idle-time c. Auto log-off. Pengguna. Input data. Materi : a. pemusnahan data) Peserta : Depkes. kodefikasi. Pengguna. Provider. Smart Internal-Check. HD. Pengolahan Data dan Komunikasi Data/Informasi. sumber data. Perekaman dan Penyimpanan Data. keleluasaan serta kenyamanan menggunakan aplikasi RKE. Peserta : Depkes. gambar) e. Profesi Kesehatan. re-type. Membahas tentang input serta output data dalam bentuk elektronik serta bagaimana sistem penyimpanan data tersebut agar dapat digunakan kembali menjadi suatu informasi penting dalam menunjang pelayanan. Tenaga Kesehatan 9. gambar) b. suara. Related data & Knowledge based link. Pakar TI. microfilm. Tujuan : Kesepakatan tentang lingkup RKE dalam hal perekaman dan penyimpanan data. output data 29 . ahli Simkes. flashcard. format data serta sarana pelepasan data.

Pengamanan data dari kesalahan program. manipulasi i. Provider. blutooth. Intergriti (audit trail. yaitu segi otentikasi. Format file c. Pakar TI. Tujuan : Kesepakatan dalam aspek penyajian data serta keamanan data elektronik. Dinas Kesehatan. gempa h. Materi : a. infrared) Peserta : Depkes. Oleh karena itu perlu juga dibicarakan tentang keamanan data. Kebutuhan data elektronik (output) b. kecurian. Sarana komunikasi data (e-mail. IR. Provider 30 . sms. Penyajian Data dan Keamanan Data. serangan virus. Profesi Kesehatan. banjir. Pengguna. RS-232. dalam hal ini perlu diingat aspek kerahasiaan data pasien. Saluran komunikasi (USB. Pengamanan data dari bahaya petir/listrik mati. movie. kehilangan. Terminologi. otorisasi. standar format data (teks. intergiti.b. mms) d. meta data. Otentikasi secara biometrik dan e-sign e. Sistem penyimpanan data Peserta : Depkes. Pakar Simkes. Profesi Kesehatan. bahaya bencana serta penyimpanan data. presentasi) c. Tenaga Kesehatan 10. Otorisasi dan penanggungjawab f. Dinas Kesehatan. Pakar TI. pakar Simeks. suara. trace. fax. gambar/grafis. kodefikasi. Pembahasan meliputi tentang bagaimana data disajikan. Pengguna. enskipsi) g. apa saja yang harus diatur dalam pelepasan informasi.

Cynthiawati Wijono 12. Suryono. SKM 8. dr. Tridjoko Hadianto. Eddy Kristiyono. DEA 17.Si. MSc.Kep 11. DR. SKM 10. Dra. drg. M.Kes 9. Drs.Kes Ketua Penyelenggara 31 .Kes 18. dr. Anis Fuad. Sis Wuryanto. M. drg. Gemala Hatta.MdPerKes. Jason.MdPerKes. A. M. PhD 5. Arida Oetami. M. Kinik Darsono 13. SKM 6.Kom 16. Wahyudi Istiono. Endang Suparniati. Soetomo Nawawi. M. dr. dr. M. Perio(K) 15. PhD 14. Sp. DPH Dent.Kes 7. Prof. Nur Rokhman. M. dr. SH. Dr. dr. dr.Kes 4.KESEPAKATAN KESIMPULAN DISKUSI DAN REKOMENDASI Kesimpulan dan Rekomendasi ini dibuat berdasarkan hasil diskusi Workshop Pemetaaan Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik pada 13 Juni 2009 yang bertempat di Gedung Pertemuan UC UGM Yogyakarta dan diikuti oleh para pihak di bawah ini : 1.Kes 3. DTM&H. Harno. Budi Sampurna. A. Jazi Eko Istiyanto. SH 2. S. Rano Indradi Sudra. S.

Medi. M.Kom) 32 .(Drs.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful