Hasil Diskusi

Workshop Pemetaan Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik UC UGM, 13 Juni 2009

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Disusun oleh Tim: Prodi Rekam Medis UGM

Program Studi D3 Rekam Medis Universitas Gadjah Mada FMIPA UGM, Sekip Unit III Yogyakarta. Telp. 0274-7101249, Fax. 0274-546194

1

PRAKATA

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah mengijinkan kami menyelesaikan dokumen ini sebagai tindak lanjut dari diskusi tentang Pemetaan Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik pada tanggal 13 Juni 2009 lalu yang bertempat di Gedung Pertemuan University Centre Universitas Gadjah Mada. Kami merasa perlu melakukan kegiatan tersebut mengingat, kami sebagai penyelenggara pendidikan perekam medis, memiliki kewajiban ikut serta dalam menyumbangkan saran, ide, pendapat, pengetahuan serta melakukan kegiatan aktif yang bermanfaat secara keilmuan, khususnya perihal rekam kesehatan elektronik. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah mendukung, memberi masukan serta kerjasamanya dalam mensukseskan kegiatan tersebut di atas : 1. Dekan FMIPA UGM 2. Kaprodi Ilmu Komputer FMIPA UGM 3. Ketua dan Pengurus DPD PORMIKI DIY 4. Pengelola Program S2 SIMKES FK UGM 5. Pengelola Program Magister Hukum Kesehatan UGM 6. Kepala Biro Hukum dan Koordinasi Depkes RI 7. Pimpinan dan Staf Dinas Kesehatan Prov. DIY 8. Kepala Instalasi Catatan Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta 9. Kepala Bidang Rekam Medis RS Bethesda Yogyakarta 10. Keperawatan RSU Banyumas 11. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo 12. Kepala Puskesmas Bayan, Purworejo 13. Staf dan Pengelola Prodi D3 Rekam Medis UGM 14. Mahasiswa Prodi D3 Rekam Medis UGM 15. Puskom UGM 16. University Center UGM Tidak lupa juga kami mengucapkan beribu terima kasih atas kehadiran, masukan serta dukungan secara personal dari : 1. Prof. dr. Budi Sampurna, SH 2. DR. Dra. Gemala Hatta, M.Kes 3. dr. Sunartini Hapsara, SpA(K), PhD (tidak bisa hadir karena berada di Korea) 4. dr. Rano Indradi Sudra, M.Kes 5. dr. Tridjoko Hadianto, DTM&H, M.Kes 6. dr. Kinik Darsono 7. Drs. Jazi Eko Istiyanto, MSc, PhD

ii 2

Semoga hasil diskusi ini dapat bermanfaat dalam pengembangan rekam kesehatan elektronik, khususnya dalam penyusunan peraturan tentang penyelenggaraan rekam kesehatan elektronik di Indonesia. Dalam hal ini dokumen hasil diskusi ini kami sampaikan kepada Biro Hukum dan Koordinasi Depkes RI untuk segera ditindaklanjuti dan kami mewakili penyelenggara pendidikan tenaga perekam medis akan selalu terbuka dan mendukung upaya peningkatan pengetahuan dan implementasinya di lapangan, baik dalam berupa pemikiran maupun teknis kegiatan. Demikian prakata ini kami sampaikan. Semoga apa yang menjadi maksud dan tujuan kami di sini dapat menjadi inspirasi positif dan disambut baik oleh semua pihak yang berminat akan pengembangan bidang rekam kesehatan elektronik. Terima kasih.

Yogyakarta, September 2009 Pengelola Prodi Rekam Medis UGM

iii 3

................................................................................................................... ................................................................. ................................ KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KESEPAKATAN HASIL DISKUSI .................................................... i ii iv 1 3 3 6 7 22 30 31 ........................................................................................................................................................... ............................................................................. PENDAHULUAN .............................................................................................................................. ................... ....................... LAMPIRAN ............. KEGIATAN ....................... 4 iv ...........................................................DAFTAR ISI JUDUL SAMPUL PRAKATA DAFTAR ISI . PELAKSANAAN KEGIATAN LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN CATATAN DISKUSI ..................................

Hal yang sangat penting dipikirkan. perlu dipikirkan bagaimana regulasi yang harus dipenuhi agar tercipta koridor yang tepat untuk berjalannya arah perkembangan rekam kesehatan elektronik di Indonesia. Penggunaan Teknologi informasi pada segala aspek kehidupan akan mempengaruhi bentuk layanan di dalam rekam medis. Selain itu. maka sejauh mana penerapannya memberikan kontribusi yang lebih baik pada layanan rekam medis. Hal ini diwujudkan dengan memfasilitasi pertemuan dalam rangka mengidentifikasi kondisi aktual penerapan RKE di 1 . maka Program Studi Rekam Medis Universitas Gadjah Mada. yang sekarang semakin marak. Oleh karena itu perlu adanya pemetaan kondisi aktual penerapan RKE agar pemanfaatan dan perkembangan Rekam Kesehatan Elektronik lebih optimal. baik oleh fasilitas pelayanan kesehatan sendiri maupun masyarakat karena pelaksanaan rekam kesehatan elektronik terkesan dipaksakan. jika RKE perlu diterapkan. di samping kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi. tidak sesuai dengan kondisi ya ng ada. sebagai penyelenggara pendidikan tenaga perekam medis merasa sangat perlu mendukung dan ikut berperan dalam perkembangan RKE di Indonesia.PENDAHULUAN Rekam kesehatan elektronik (RKE) merupakan pengelolaan informasi kesehatan yang berbasis komputer terhadap status kesehatan dan pelayanan kesehatan sepanjang hidup seorang individu. namun dampak manfaatnya belum dapat dirasakan. yang merupakan generasi terkini penyelenggaraan rekam medis disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Mengingat pentingnya hal tersebut di atas.

Ag ar hasil pertemuan ini dapat ditindaklanjuti dengan nyata.lapangan dengan mengundang pelaku pelayanan kesehatan yang telah menggunakan dan memiliki perhatian terhadap perkembangan RKE ini. khususnya Biro Hukum dan Organisasi (Hukor). 2 . khususnya dalam hal regulasi untuk pelaksanaan RKE di sarana pelayanan kesehatan. maka juga dihadirkan dari pihak Departemen Kesehatan RI.

Anis Fuad. khususnya kepada pihak Biro Hukor Depkes guna menindaklanjuti penyusunan regulasi RKE. M. didukung oleh Program Ilmu Komputer FMIPA UGM.Kes. Program S2 SIMKES FK UGM serta Magister Hukum Kesehatan UGM dan mendapatkan perhatian khusus dari para individu pemerhati masalah RKE yaitu dr. dr. M. Tridjoko Hadianto.Kes. M. DTM&H. Arida Oetami. S. PELAKSANAAN KEGIATAN Kegiatan ini diselenggarakan oleh Program Studi D3 Rekam Medis Universitas Gadjah Mada yang bekerjasama dengan organisasi profesi perekam medis yaitu DPD PORMIKI DIY. dr. dr.Si. oleh karena itu pertemuan ini disusun dalam bentuk diskusi agar tujuan tersebut tercapai secara maksimal dan hasil-hasil pembicaraan dalam diskusi akan dirumuskan menjadi suatu rekomendasi. SpA(K). Nur Rokhman.KEGIATAN Pertemuan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap masalah RKE ini diwujudkan dalam bentuk workshop yang ditujukan untuk menjaring masukan tentang kebutuhan infrastruktur dalam penerapan RKE dan hal-hal apa saja yang dapat dilakukan para peminat ataupun yang terlibat dalam perihal RKE di Indonesia. Rano Indradi Sudra. Wahyudi Istiono.Kes.Kom. DEA.Kes. Diharapkan hasil workshop ini akan saling memberikan masukan dari dan untuk masing-masing pihak yang hadir. M. Adapun pelaksanaan kegiatan ini dapat disampaikan sebagai berikut: Nama Kegiatan : Workshop “Pemetaan Materi Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik” 3 . M. dr. Sunartini Hapsara. PhD.

Sp.Sc. SH. Harno. DIY) 8. M. Gemala Hatta. Nur Rokhman.MdPerKes. DPH Dent. dr. DTMH. Prof. Gadjah Mada University Club.Kom (Prodi Rekam Medis UGM) 14. Sis Wuryanto. Endang Suparniati. M.Si. M. MRA. Soetomo Nawawi. Dra. PhD (Magister Hukum Kesehatan UGM) 10. Cynthiawati Wijono (Kepala Puskesmas Bayan. Sp. dr.MdPerKes. Yogyakarta Peserta Hadir : 1. Wahyudi Istiono. Drs. M. Rano Indradi Sudra. A. PhD (FMIPA UGM) 4. M. Suryono.. dr.Kep (mewakili RSUD Banyumas) 16. Arida Oetami.00 – 17. dr. dr. DR. Bulaksumur. SKM (Ketua DPD PORMIKI DIY) 7. 13 Juni 2009 (jam 13.Kes (FK UGM) 12. SKM (Praktisi Rekam Medis RS Bethesda Yogyakarta) 6. dr.Kes (Pemerhati RKE/Rano Center) 5. Drs. Jazi Eko Istiyanto. S. Medi. SKM (mewakili Pusat Data dan Informasi Dinas Kesehatan Prov.Kes (mewakili Dinas Kesehatan Prov. SH. : I : Ruang Lingkup Pelaksanaan RKE di Sarana Pelayanan Kesehatan 4 . Purworejo) Pemandu Diskusi Topik Bahasan : dr.Kes (Pakar Rekam Medis) 3. DIY) 9. M.Kes. M.Kes (Kepala Instalasi Catatan Medis RS DR. Sp.F. A. Sardjito Yogyakarta) 15. Eddy Kristiyono. Jason. Tridjoko Hadiyanto. M. Budi Sampurna.00) : Meeting Room. drg. drg.Jadwal Tempat : Sabtu.Kom (Ketua Prodi Ilmu Komputer FMIPA UGM) 13.Perio(K) (Magister Hukum Kesehatan UGM) 11. M. S.KP (Biro Hukor Depkes RI) 2.

3. jaringan. Penutup 5 . Manajemen. Regulasi serta aspek Teknis. Topik bahasan pertama : Ruang lingkup perkembangan Rekam Kesehatan Elektronik (RKE) pada fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Diskusi 25’ 25’ 5’ 25’ 25’ E. dsb) yang diperlukan? Diskusi 25’ 25’ 25’ D. khususnya regulasi eksternal pelaksanaan RKE di Indonesia? 4. SDM. knowledge management. 1. Diskusi 25’ 25’ 25’ C. Apa saja infrastruktur yang diperlukan dalam penerapan sistem tersebut baik kualitas maupun kuantitas.II : Kebutuhan Infrastruktur untuk Penerapan RKE III : Arah Perkembangan RKE Panduan Diskusi A. Sudah sejauh manakah implementasi RKE saat ini? Apa saja fungsi RKE di organisasi dan bagaimana peran rekam kesehatan yang berbasis kertas dengan adanya penerapan RKE? 3. Topik bahasan ketiga : Arah perkembangan RKE pada pelayanan kesehatan di Indonesia. 1. leadership. Apa saja kendala dan hambatan yang masih harus diatasi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan dengan RKE?. 2. User. Topik bahasan kedua : Kebutuhan infrastruktur untuk penerapan Rekam Kesehatan Elektronik dari aspek : Organisasi. Bagaimana peran aspek sosial (kesiapan organisasi dan struktur. finansial. aplikasi software. 3. Pembuka : Materi Pembahasan Durasi 5’ B. Bagaimana peran lembaga pemerintah dan asosiasi profesi dalam perkembangan RKE. 1. 2. dsb) dalam organisasi?. Apa kebutuhan aspek teknis (perangkat komputer. 2. Apa rencana provider kesehatan dalam beberapa tahun ke depan untuk memelihara dan meningkatkan implementasi RKE yang mereka jalankan?. regulasi internal.

A. Dari segi waktu. A. A.Tim Pelaksana Teknis : 1. Sugeng.Md. juga berjalan dengan efisien karena diskusi benar-benar dipandu pada permasalahan yang terfokus. 6 . Telpon (0274) 7101249 / Email : d3rekammedisugm@yahoo. Sekip Unit III Yogyakarta.Md (PORMIKI) 9. Mahasiswa D3 Rekam Medis UGM Alamat Sekretariat Penyelenggara : Sekretariat D3 Rekam Medis UGM. A. Bokari.Far (D3 Rekam Medis UGM) 3. A. A. Savitri Citra Budi. S.Md (D3 Rekam Medis UGM) 5. Susanto (D3 Rekam Medis UGM) 6. Gedung FMIPA UGM (Selatan).com LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN Secara umum pelaksanaan workshop RKE ini berjalan dengan baik dan lancar.Md. Hasil dari workshop ini disusun dalam bentuk berkas dan akan dikirim kepada masing-masing peserta untuk menjadi dokumen (arsip). SKM (PORMIKI) 7. Ibnu Mardiyoko.Md (PORMIKI) 8.Md. Rawi Miharti (D3 Rekam Medis UGM) 2. Agung Dwi Saputro. Nuryati. khususnya diskusi yang berkembang telah memberikan masukan-masukan yang bagus dan penting. Dra. SKM (D3 Rekam Medis UGM) 4.

kemudian akan dibuatkan normanya. DR. Akan ada draft dan dibahas lagi diantara kita. Depkes RI) Tetapi ini rancangannya. 7 . sehingga pembahasan tentang hal tersebut terhenti. pendapat. tetapi belum jelas benar. Ini yang harus dipikirkan dalam forum sekarang ini. Dirjen Yan Medik. lalu diperluas lagi dibahas pada forum yang besar. Pemandu: Hari ini kita menjaring. pandangan serta pengalaman dalam penerapan RKE guna memberikan masukan kepada Depkes guna merumuskan peraturan mengenai RKE di Indonesia. Ini ada bahan dari Subdit Keterapian Fisik (bahan berupa naskah/buku : Draft Rancangan Rekam Kesehatan Elektronik (RKE) yang dikeluarkan oleh SubDit Keterapian Fisik Direktorat Keperawatan dan Keteknisian Medik. walaupun kita sudah mengetahui bahwa RKE ini juga harus gayut (berkaitan) dengan UU ITE dan Permenkes 269/2008. Gemala Hatta (KKI): Bahan tersebut baru berupa preambul (belum tuntas selesai benar) mengingat pada setelah tahun 2004. sehingga dapat dibuat menjadi suatu norma dalam bentuk Permenkes. lalu mengundang bapak /ibu untuk membahasnya pada tahap kedua dengan mengadakan pertemuan di Jakarta. Selain itu juga diharapkan mendapat banyak masukan tentang apa saja teknis yang diperlukan. Bahan ini bisa menjadi pedoman dalam membicarakan apa saja yang harus ada dalam aturan tentang RKE. Budi Sampurna (Depkes RI): Dari sisi Depkes harapan dari pertemuan ini adalah ingin memperoleh persyaratanpersyaratan apa yang seharusnya dibutuhkan dalam penerapan RKE. Prof. terjadi reorganisasi di Depkes RI. dan kita perlu untuk aturannya. Pada aturan tersebut sudah disebutkan tentang RKE.CATATAN DISKUSI Notulen Diskusi Workshop Pemetaan Materi Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik bertempat di Gedung University Center UGM Yogyakarta pada hari Sabtu 13 Juni 2009 : Pemandu Diskusi: Tujuan diskusi adalah menjaring saran.

maka SDM harus disiapkan terlebih dulu. instansi kesehatan. benahi terlebih dahulu di lapangan.Yang penting disini. SDM yg melalukannya.Kep (RSU Banyumas): Penerapan RKE di Banyumas yang sudah diterapkan dan sudah berjalan baik adalah di keperawatan. Oleh karena itu. oleh karena itu peran pendidikan yang harus membentuk kompetensi mereka agar siap menghadapi perkembangan RKE ini. 4. kita simak dari rumah sakit dan puskesmas yang wakilnya telah hadir di forum ini. Isi rekaman Format rekaman Sistem kinerja 24 jam Keterkaitan dengan SIM RS Kecerdasan komputer 6. ada pasien. apa yang terlebih dahulu akan dibahas ditentukan. S. 7. Jason. namun sistemnya belum bisa bejalan. 9. dengan modal nekad karena ada 8 . Bagaimana pendapat dari mereka. orang tidak mengerti harus membuat apa. di Indonesia belum ada rumah sakit yang sudah pas dalam mengimplementasi RKE. diayomi dengan standar profesi RKE. Bila ini belum diketahui oleh SDM di lapangan. bahwa dalam membuat suatu konsep (RKE). 3. Dalam penerapan RKE banyak pihak yang terlibat. Dasar podoman klinik Kemampuan Pelaporan Standar Laporan Klinis Pengawasan dan Akses Pelatihan dan implementasi Dalam penerapan RKE di lapangan. baru kemudian membuat aturannya. sehingga di lapangan menjadi sulit. Pemandu: Pada kenyataannya sekarang ini di lapangan sudah ada rumah sakit maupun puskesmas yang menerapkan RKE. Dalam draft rancangan RKE tersebut disampaikan 10 point persyaratan format RKE yang harus dibuat. dan juga belum ada aturan dari Depkes. 8. sehingga jelas apa yang harus dibuat. Di keperawatan bisa berjalan. 5. dan untuk siapa? Sistem yang bagaimana? Sistem untuk praktisi-kah? Untuk negara-kah? Untuk para pengambil kebijakan-kah? Dengan demikian. untuk yang rekam medis meskipun sudah 4 kali revisi. SDM harus mengerti ini. akan aneh bila kita membuat peraturannya. 2. sistem yang mana yang perlu dibuat. Selain itu. atau untuk Depkes dalam melindungi berbagai pihak. harus jelas terlebih dulu itu aturan untuk siapa? Untuk masyarakat. Maka draf tersebut mengawali kerja besar ini. dalam merumuskan suatu peraturan. Jadi ini kerja besar. dan lain sebagainya begitu luas. SDM itu harus mengerti ini RKE mau menuju kemana. Sekarang RKE ini ada begitu banyak paparannya. Sepuluh hal di atas harus dibicarakan bersama dalam rangka membentuk fondasi untuk penerapan RKE. 10. hati-hati dalam membuat peraturan. yaitu : 1. Oleh karena itu.

Anis Fuad. siapa kepala puskesmasnya. walaupun ada yaitu bila dalam suatu kasus maka hal tersebut hanya sebagai data pendukung. Tiga tahun lalu ada HL7 (standar data medis. setuju bahwa pengembangan RKE memerlukan suatu proses sangat panjang. kita membuat klasifikasi RKE. seperti di RSU Banyumas. Ada inputnya yang perlu dilihat dan berbeda di setiap tempat seperti faktor leadership. pertukaran data elektronik). dan peran siapa SDM yang lain yang kuat. yang dimaksud dengan SDM harus seluruh pihak. Selain itu. tenaga kesehatan lainnya. Ketiga. simptom. disebutkan saja standar apa saja yang bisa digunakan. sehingga kami berani mengaplikasikan RKE itu. tidak hanya perekam medis. Isu yang penting justru tentang terminologi medis. tapi juga dokter. sehingga bisa mengakomodasi bagi siapa saja yang akan mengembangkan RKE hanya untuk perawat saja. masalah pengembangan kemampuan SDM. Ini bisa 9 . diskripsi tentang RKE juga termasuk domain dokumentasi keperawatan. tentu tidak sendirian. tetapi komponen RKE tidak hanya diagnosis. fakultas kedokteran harus mempersiapkan lulusan dokter yang lebih apresiatif terhadap RKE. dan ini terkait pada pendidikan tenaga kesehatan. jadi yang berkaitan dengan terminologi medis ini bisa diperluas sehingga kita tahu cakupannya. tetapi ini sudah bisa disebut RKE. Sangat bagus bila sekarang ada pertemuan untuk membahas mengenai bagaimana kita mengadopsi terminologi medis yang sudah ada di National Laboratorium of Medicine. DEA (S2 SIMKES FK UGM): Pertama. Misalnya. Misalnya puskesmas dengan single komputer yang stand-alone. Selanjutnya. Oleh karena itu. tidak bisa kemudian dibawa ke tempat lain dan langsung bisa jadi dan jalan. tetapi belum bisa sepenuhnya berjalan. Untuk bagian lain juga sudah dibuat. Kita menggunakan ICD sebagai kodefikasi diagnosis. perihal standar dalam peraturan. mengingat RKE dibuat berbasis teknologi yang sifatnya cepat dan terus berubah. rekam medis dan tenaga kesehatan lainnya. Karena apa? standar terus berubah. tapi implementasi praktis di lapangan akan terlalu jauh untuk peraturan sampai ke standar. artinya melihat inputnya seperti apa. Prosesnya jangka panjang tidak langsung jadi. siapa “orang gila”nya. kiranya kita perlu berorientasi pada proses. adanya kondisi di lapangan yang bervariasi. tetapi tidak perlu secara teknis masuk ke dalam peraturan. Kedua. Spt negara tetangga kita sudah menggunakan SNOWMED. di Purworejo yang sudah jalan. Oleh karena itu. Jadi. juga sekolah perawat. tetapi juga sign. tetapi sekarang G oogle sudah menggunakan CCR (continuity of care record) dan sudah banyak yg mengadopsi. perawat. Jadi meskipun belum masuk ke wilayah medis. kegiatannya adalah memasukkan data ke komputer tersebut.kesadaran bahwa profesi perawat belum banyak diperhitungkan. Implikasinya. NICNOC yg dipakai di keperawatan. ada inovator yang kuat di lapangan dan RKE bisa berjalan justru karena merasa inferior terhadap dokter. standar memang penting.

Selain itu pihak dokter juga masih ragu akan keamanan dan kerahasiaan data. kami melakukan KSO mengingat pihak manajemen lebih fokus pada pelayanan kepada pasien. Sardjito): Saat ini RS Sardjito belum sampai pada RKE sebagaimana telah dibicarakan tadi. sehingga diputuskan menggunakan KSO. Rata-rata sudah memiliki >4 komputer online. Cynthiawati (Puskesmas Bayan): Di Purworejo ada 27 puskesmas. Rata-rata kunjungan sebulan 2400-2600 pasien (termasuk mobile unit. bila harus membeli juga tidak mungkin. Lalu juga puskesmas yang sudah mulai menjalankan sistem LAN. ruang periksa gigi. juga masih ada pertanyaan bagaimana dengan hak patennya bila dijiplak oleh rumah sakit lain. ini diklasifikasikan apa. Kami berusaha meninggalkan sistem manual/kertas. Komputer antar ruangan ini online karena diharapkan tidak ada data yang hilang. Bila tidak ada kendala. dan laporan-laporan).disebut RKE walaupun datanya adalah diagnosis sederhana. puskesmas yang seperti apa. PKB) sehingga RKE ini sangat terbantu. prinsipnya semua staf harus bisa entry data. 10 . Nah. Dari sisi SDM IT yang berjumlah 10 orang. tetapi ada kendala yaitu belum ada kesamaan pandangan antara vendor dan dokter/tenaga kesehatan. dan untuk penelitian juga bisa diakses dari situ walau hanya print-outnya atau secara manual. semua pelayanan bisa paperless. Dr. namun kendalanya apabila listrik mati. ini merupakan klasifikasi apa.Kes (RSUP DR. ruang KIA. Untuk infrastruktur seperti hardware dan software. morbiditas. pustu. Selain itu juga sudah menggunakan sistem itu untuk klaim jamkesmas. maka sistem ini malah merepotkan. Puskesmas Bayan memiliki 7 komputer online yang berada di masing-masing ruangan di loket. hingga level yang tinggi seperti personal health records. Puskesmas Bayan tidak memiliki petugas entry khusus. Yang dilakukan baru tahap entry-data (identitas pasien. ruang periksa umum. apa saja data yang dimasukkan. maka akan banyak data yang menumpuk tidak bisa di-entry. Namun sudah dapat digunakan untuk pembuatan laporan rutin RL yang sudah bisa mengambil data langsung dari situ. dan untuk IT yang bukan corebusiness tapi sangat mendukung akan berhubungan dengan biaya. RS Sardjito belum memungkinkan untuk mengembangkan sendiri. Data untuk laporan-laporan rutin untuk manajemen. ruang kepala dan ruang TU yang bisa dipakai bersama-sama. Untuk RKE baru akan mulai dikembangkan di dua poli yaitu Obsgyn dan Kulit&Kelamin karena para dokternya sudah punya semangat untuk membangun ini. Tahun 2009 merupakan pilot projek di dua unit itu dan 2010 harapannya sudah semua poli menggunakan. Endang Suparniati. Bila di back-up dengan sistem manual register. Dr. Dua puluh puskesmas (80%) sudah menjalankan RKE dengan kondisi variatif dari berjalan cepat hingga stagnan. ruang obat. M. walaupun masih ragu karena sistem ini masih banyak kendalanya. Klasifikasi ini keterkaitannya dengan infrastruktur. pihak eksternal. sehubungan dengan penerapan INA DRGs di RS Sardjito. sehingga tidak mengandalkan satu orang. seperti listrik mati atau erorr. Pihak Direksi menyiapkan untuk ini.

Bila komputer hilang. Sekarang sudah banyak yang menerapkan secara sendiri-sendiri mengingat beberapa pihak sudah sangat ingin (perlu) menggunakan RKE ini. termasuk di Dinas Kesehatan. maka datanya juga hilang. Hal penting dalam penerapan RKE adalah sistem pengaman data. RKE belum bisa diterapkan di RSB karena belum menemukan format RKE yang pas. Di Dinas Kesehatan sendiri sistem pelaporan dari rumah sakit masih manual dan ke depan akan dibuat sistem yang terkomputerisasi agar lebih cepat-mudah dalam menyususn atau menerima pelaporan dari rumah sakit. DIY): RKE di Provinsi DIY ini masih dalam uji coba dalam hal pelaporan dari rumah sakit.MdPerKes. antar dokter. SKM (RS Bethesda Yogyakarta): RSB belum menerapkan RKE. penyiapan SDM dari berbagai profesi kesehatan yang diperlukan dalam pengembangan RKE. Rano Indradi Sudra. Oleh karena itu. fondasi perlu diperkuat. ada yang setengah hati. Ada yang komitmen tinggi. RS swasta. Kendala hardware juga masih banyak terjadi. dan pelaporan2. Maka perlu dipikirkan tentang keamanan data. Lalu masalah leadership. apakah RKE sudah waktunya untuk dipakai. jaringan menjadi lambat. biling. dengan yang lain. maka berbeda cara dan jalannya. baru mulai dengan sistem online utk bangsal dan poliklinik bulan Pebruari kemarin.Dinkes Prov. Yang berjalan baru di RSUD Sleman yangmana dari masing-masing poli sudah online dengan jaringan.Untuk yang medis. M. analisa SWOT perlu dilakukan. SKM (DPD PORMIKI DIY): Harapan PORMIKI. A. bila ganti kepala puskesmas. namun setelah makin banyak data yang masuk. baru untuk entry resep. Kendala juga terjadi saat ada penggantian tenaga baru yang harus mempelajari terlebih dahulu sistem yang digunakan. pada awalnya lancar. Namun masih harus banyak berbenah mengingat kendala masih sering terjadi. Sis Wuryanto. Kendalanya adalah soal attitude (perilaku) yaitu adanya perbedaan persepsi antara user: dokter-perawat. (menayangkan peta tentang kebutuhan “kesepakatan” untuk pengembangan RKE) 11 .Ini sudah dijalankan selama >1 tahun. Harno. Eddy Kristiyono. Data kuantitas pada pendaftaran.Kes : Saya lebih menekankan pada kata “kesepakatan” daripada “peraturan”. Dr. SDM yang mengusai sistem juga masih kurang. A. Kuncinya adalah komitmen dari kapus. SKM (Yan infokes . Keuntugan penerapan RKE di puskesmas adalah menghindari salah baca dan pelayanan pasien bisa lebih cepat.MdPerKes.

ini tentu bisa menimbulkan kesalahan informasi atau kesalahan order. Sebaiknya pakai yang original agar kita tetap menghargai HAKI. Hal lain yang perlu disepakati adalah tentang simbol-simbol. peristilahan dan singkatansingkatan yang di lapangan masih simpangsiur. item pekerjaan diisi : PNS. Untuk kerahasiaan perlu adanya Smart internal check yaitu sistem warning (peringatan) agar lebih akurat. Yang penting untuk segi originalitas dan legalitas OS baik opensource ataupun tidak/ free harus juga dipikirkan. maka sistem tidak bisa di-save. atau tinggi badan pasien : 999cm. Selain komplit juga akurat. Juga perlu disepakati kode-kode untuk kode dokter. kode area. baik manual maupun elektronik. Lalu dari sistem ini juga dokter bisa mengetahui ada hasil lab pasien yang sudah bisa dilihat. Ini juga harus dipikirkan.Untuk operating system nanti silahkan ditentukan apakah memakai windows atau yang lain. Fitur knowledge based link adalah sistem dapat memberikan informasi pelengkap. ada saatnya sistem harus down (terhenti sementara) kemudian sistem lockoff yaitu jika vakum maka sistem otomatis terkunci sehingga komputer tidak di(salah)gunakan oleh orang lain pada saat ditinggal sementara oleh si empunya. misalnya umur 2 tahun. Bila ada item yang tidak diisi. 12 . maka tidak bisa di-save sehingga mewajibkan item tersebut diisi. dsb. dan Depkes sudah mengeluarkan. Karena pasien juga punya hak akses tentang data kesehatannya. Fitur reminder dan alert sebagaimana telah dijelaskan tadi adalah untuk warning tentang alergi obat. Inilah perlunya smart system internal check sehingga data bisa tersimpan secara komplit dan akurat. kode alat. Juga harus dipikirkan bagaimana akses untuk pasien. rasanya ini perlu kita bicarakan dan mungkin kita tidak perlu lagi membuat kode-kode yang baru. Selain itu ada sistem downtime. Fitur penunjang RKE. misalnya ada peringatan bahwa pasien alergi obat tertentu. yang pertama RKE harus menjadikan datanya komplit dan akurat. ini kita kaitkan dengan RKE. baik untuk penggunaan sekarang maupun ke depan. kode obat.

form-formnya. pasien. RKE juga bisa terkena bencana (banjir. tetapi secara aturan kiranya kita perlu pikirkan dan sepakatkan. Lalu sistem komunikasi data. dicuri. video. dsb. tetapi secara aturan bagaimana? Ini berkaitan dengan penggunaan informasi dalam RKE.Lalu format data juga perlu disepakati. dsb. rekaman suara. lalu pengiriman mms atau sms ke HP/PDA dokter. walaupun secara teknis bisa dilakukan. dsb (menayangkan gambar “EHR data types and their sources” Deborah Kohn. Untuk keamanan data. gambar. Jadi. Lingkup RKE di sini dari perekaman data. infrared. bagaimana kerahasiaan datanya. bluetooth. vendor. siapa yang mengambil data. dicuri. ini perlu diatur dan dipikirkan bersama. Selain kesepakatan-kesepakatan tadi juga perlu dibuat kebijakan dan protap untuk menjalankan RKE. konsultasi. gempa. data movie. Aspek yang sering terlupa adalah aspek manajemen dari RKE. Secara teknologi mungkin data hasil lab bisa langsung disampaikan melalui sms kepada dokternya. tentang data teks. DR. tidak semuanya musnah. dsb) maka juga harus dipikirkan bagaimana bila hal ini terjadi. tersambar petir. Bagaimana bila HP/PDA-nya hilang. dsb. tenaga kesehatan. dsb. apa yang harus dilakukan? perlu juga dibuat aturan yang merupakan kesepakatan bersama untuk menanganinya. pihak asuransi. bagaimana keamanan datanya. penyimpanan data sampai pemusnahan dokumen. mati lampu. integriti sampai sistem back-up data. tetapi lupa membangun basis manajemennya yaitu membuat kesepakatan-kesepakatan dengan petugas yang ditunjuk. kita perlu sepakati perihal otentikasi. juga bisa menggunakan dengan yang sudah ada sekarang seperti USB. rumah sakit “berlomba lomba” membangun RKE. data presentasi. ini dalam bentuk seperti apa. rasanya kita tidak perlu melarang. bagaimana nanti bila dengan RKE. Bila mengcopy file dengan format yang berbeda atau tidak kompetibel. 2002) 13 . Misalnya dalam aturan perlu disampaikan bahwa wajib melakukan back-up data yang disimpan secara terpisah (di tempat lain atau di gedung lain) sehingga bila terjadi sesuatu seperti kebakaran. Saat inipun yang sudah dilakukan merupakan komunikasi data elektronik. otorisasi. seperti pengirman fax yang berisi hasil lab. tidak akan bisa dibuka. data suara. sehingga jelas siapa yang memasukkan data. back-up data akan sia-sia. Gemala Hatta: Data RKE meliputi dokumen tulisan. tetapi mengarahkan mana yang disarankan.

tetapi sekarang rekaman itu perlu. Untuk rumah sakit pendidikan. dan informasi itu dalam bentuk tulisan (note/catatan). jadi data itu diambil dari pasien. Akibatnya yang diisi hanya yang dianggap penting saja. dari penelitian berkas rekam medis. Kita lihat bagan lagi. Jadi harus terisi lengkap. Jadi dari satu sumber seorang pasien makin lama dunia ini makin banyak membuat klasifikasi. Tetapi yang terjadi sekarang ini. dan begitu banyaknya formulir yang harus ditulis mengakibatkan habisnya waktu tenaga kesehatan hanya untuk melengkapi berkas. data sound. hal ini tidak boleh terjadi mengingat data atau informasi apapun sangat diperlukan dalam kegiatan pendidikan dan penelitian. bisa juga data bentuk descrete dan data terstruktur. proyektil yang ditemukan juga merupakan bukti. semua itu merupakan rekaman yang penting. Data yang banyak sekali ini bersumber dari isian item yang ditulis oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Tidak hanya data lab atau forensik.14 Petikan dari buku Deborah Kohn yaitu tipe data RKE dan sumber-sumbernya. Dari seorang pasien bisa didapat banyak sekali informasi yang dihasilkan. 14 . data video. Bahkan bila ada seseorang tertembak. Kendala kekurangan tenaga. Salah satu sebabnya tidak ada waktu untuk mengisinya. maka yang menjadi bukti adalah rekaman foto luka-luka atau memar-memar yang ada pada anggota badannya. baru informasi itu lengkap. banyak item yang tidak diisi. titik tengahnya adalah pasien. yang diambil dari pasien ada data gambar. tentu informasinya menjadi tidak lengkap. dsb. Misalnya kasus TKW atau Manohara yang melapor dianiaya. dan ini hanya bisa diterapkan bila ada dana dan kebutuhan.

Sekarang ini tahun 2009. Contoh CCHIT yaitu lembaga independen Amerika yang membuat sertifikasi khusus untuk RKE. memang profesi mengharuskan. Memang sebaiknya semua yang mencatat rekaman harus dilibatkan dalam pembicaraan seperti ini. Jazi Eko Istiyanto. dan ini akan terus berkembang. Untuk ini PP-nya belum ada. Saya menjelaskan konsep (bagan) ini menambahkan konsep yang telah disampaikan oleh pak Rano. dibawa ke pusat (Depkes) dan juga melibatkan para profesi kesehatan lainnya. Bila menggunakan sms. Masalah KSO. Saya kira hasil diskusi ini bisa jadi masukan bahwa UU ITE harus membuat sertifikasi untuk RKE. karena sertifikasi adalah wewenangnya Depkominfo. lalu siapa pemilik datanya. PhD : Yang menarik tadi adalah end-user computing. Harapan saya. sementara konsep itu dibuat tahun 2002. pemicunya adalah pertemuan di Jogja ini. rasanya bila dibuat oleh dokter sendiri hasilnya lebih sukses daripada dibuatkan karena sesuai dengan apa yang diinginkan. Anis Fuad. Lalu untuk membuat Permenkes berdasarkan apa? Bila menurut bagan ini. Dr Kinik Darsono (RSU Sragen): 15 .Jadi semua tipe data pada bagan tersebut merupakan tugas rekaman yang harus ada pada RKE. rasanya ini bukan urusannya Depkes tetapi Depkominfo. Oleh karena itu kita harus sangat hati-hati. Tetapi ada aturan-aturannya. Oleh karena itu perlu dibicarakan mana saja yang masuk dalam Permenkes. sehingga bisa tahu apa yang menjadi prioritas untuk dilakukan. ini betul tugasnya Depkes karena di Depkes ada instalasi pelayanan kesehatan. sms gateway dengan quickcount sehingga provider tidak memiliki datanya. bisa berubah. UU ITE penjelasan pasal 10 menyebutkan tentang sertifikasi yaitu bukti keandalan tentang produk. Saya juga sepakat adanya standar layanan (berdasarkan tipe rumah sakit). Hal ini akan kita sampaikan kepada pihak Depkes untuk mengadvokasi ke Depkominfo ke arah ini. agar isi Permenkes tidak hanya untuk orang yang tahu MIK (Manajemen Informasi Kesehatan) tetapi juga oleh para direktur rumah sakit dan orang-orang yang terlibat di dalam RKE nantinya. ini dapat diangkat menjadi seminar nasional. Jadi bila vendor menjual barang dengan macam-macam spek yang harus dipilih. Pemandu : Disini sebenarnya kita juga mengundang IDI. mana yang menjadi tugasnya Depkominfo. Jika paket radiologi yang diberikan kepada RS Sardjito. Nanti untuk sertifikasi RKE dibuatkan PP karena sudah ada payung hukumnya yaitu UU ITE. tetapi tidak hadir. siapapun yang melakukan rekaman harus melakukan hal ini dan misalnya bisa di-back-up dengan Permenkes. Depkes tidak bisa membuat sertifikasi. syaratnya harus ini-itu. DEA : Tentang tugas Depkominfo tadi. mana yang Depkes. Pemandu : Setuju.

Drg. kita mengharapkan kepada pihak pemerintah sesegera 16 . dimana di negara kita menggunakan sistem kontinental. tidak mempersulit. yaitu penelitian epidemiologi. harus bisa ditelusuri. kita perlu ada multilevel penerapan RKE. tapi ke depan sudah menggunakan HP. Jadi standar tidak membatasi. apakah seluruh data tentang pasien itu otomatis hilang? Karena dalam bidang pendidikan. Dr Wahyudi Istiono. takut disalahkan. Oleh karena itu. Dengan sistem ini rasanya sudah sangat banyak mencegah terjadinya “kenakalan” dalam manipulasi data. Hubungannya dengan sekuriti. data itu masih diperlukan walaupun populasi berubah.Kes (Prodi Rekam Medis UGM): Menanggapi dr Kinik. Sistem keamanaan berfokus pada user yang memasukkan. maka penting sekali adanya payung hukum. tetapi takut untuk berpindah dari masa jaman dulu ke masa sekarang. Jadi saya rasa hukum itu sedikit agak memaksa. pengembangan ilmu pengetahuan. bila perlu akreditasi atau pengajuan SIP minimal harus sudah melakukan RKE tahap awal. Karena di lapangan keinginan menggunakan RKE sudah banyak. ada tahapan dalam penerapan RKE sesuai dengan tingkat pelayanan. Dalam hukum tata negara kita. diperkenankan bagi eksekutif untuk membuat regulasi terhadap suatu fenomena yang berkembang di masyarakat. yaitu menggunakan sistem dual dimana harus seijin dokter dan pasien. malah harusnya mempermudah dan menjamin. bagaimana jika salah satu meninggal. Suryono. persoalannya ketika akan membangun rekam medis elektronik. maka sistem tidak bisa dibuka. yang penting adalah hukum atau aturan yang akan kita buat ini pada tahap awal sebagai pendorong dilakukannya RKE. tentang dual persetujuan. PhD (Magister Hukum Kesehatan UGM): Dari aspek hukum. Oleh karena itu mohon aturan untuk hal ini. Kami sudah ekspos ke Bupati bahwa nanti rekam medis akan tersipman di KTP. Isu penting di sini adalah remote & mobile. Jadi harus ada ranah ke pendidikan. SH. Sekarang kita masih berkutat pada jaringan laptop dan desktop. kemana saja seseorang selama masih di Kab Sragen. tidak menakut-nakuti. praktek pribadi berbeda dengan rumah sakit. terhambat karena kami takut apakah hal itu sudah ada payung hukumnya? Justru menurut saya. yang mendorong untuk pelaksanaan RKE. Dengan sistem biometrik. Misalnya pasiennya meninggal. Jadi bila pasien tidak mengijinkan.RSUD Sragen untuk telemedis sudah jalan. yang penting di lapangan menggunakan dulu. Ini merupakan peran eksekutif/pemerintah (Depkes) untuk memfasilitasi membuat kebijakan yang terkait dengan RKE. Standar penggunaan RKE perlu tetapi jangan sampai membatasi. bisa dilihat rekam medisnya. 20 rekaman terakhir bisa dibaca setelah membukanya dengan pin dari pasien. eksekutif tidak diperkenankan mengatakan bahwa sesuatu hal tidak boleh dilakukan karena tidak ada aturan yang mengaturnya. M. berdasarkan azas legalitas.

Jason 5. Masing-masing grup membahas hal yang sama yaitu : Aspek apa saja yang harus masuk dalam aturan yang akan dibuat oleh Depkes. Sis Wuryanto 8. forum ini dibentuk menjadi dua grup. Sutomo Nawawi 3. Ibnu Mardiyoko 6. Jazi Eko 3. DISKUSI Grup I: 1. Kinik Darsono): Hasil diskusi grup II (menayangkan beberapa point seperti di bawah ini) 17 . Endang Suparniati 6. dr. Suryono 2. Wahyudi Istiono 7. Eddy Kristiyono Grup II: 1. dr. Cynthia 7. Anis Fuad 4. dr. Kinik Darsono HASIL DISKUSI Grup II (dr. drg. Harno 8. Pemandu : Untuk diskusi lebih lanjut. dr. Rano Indradi Sudra 2. Bahkan sudah terlewat satu step. Arida Oetami 4.mungkin mengeluarkan regulasi yang berkenaan dengan RKE. sekarang sudah ada telemedicine yang lebih kompleks daripada RKE. drg. dr. Nur Rokhman 5. dr.

Mendorong untuk nakes menggunakan 3. yang penting sama yang digunakan ini. Grup I (dr. registrasi online. Pertukaran informasi juga tidak masalah. Point yang diusulkan adalah ada prototipe.. dsb) yang lebih rumit. bila 2015 harus link ke seluruhnya..permenkes Point yang diusulkan: 1. maka boleh saja mengakses data tersebut. lalu yang paling penting sekuriti yaitu mengatur lalulintas informasi. misalnya Dinas Kesehatan ingin mengetahui semua data rekam medis pasien. dan profesi lain) permenkes 269/2008  security??? Hukum yang tidak terlalu mengikat. pemerintah menyediakan prototipe minimal.Pemikiran :  Mendorong untuk menggunakan RKE  Melalui perijinan.yang menurut kami perlu dimasukkan dalam UU/permenkes atau entah apa 5. boleh diadopsi. tetapi tanpa nama (anoname). Rano Indradi): 18 . Sebaiknya. diadaptasi. misalnya untuk para dokter diberikan platform itu. akreditasi  Menampung aturan yang berlaku dan diatur pada profesi (UUPK. Lalu lintas informasi RKE Otorisasi penggunaan RKE (security) Aspek4. peraturan KKI. Hal seperti ini harus jelas tanggungjawab siapa. tetapi anoname (tanpa nama pasien). belum sampai pada tahapan aspek hukum (sanksi. lima tahun pertama adalah mendorong penggunaan RKE pada semua pelayanan kesehatan. Model / prototipe RKE 2. Copy rekam medis namanya nanti. dan untuk selanjutnya melihat perkembangan berikutnya. dengan cara dipersyaratkan misalnya untuk perpanjangan SIP. yang penting filosofinya mendorong untuk menggunakan RKE. Aturan ini bertahap.

Juga ada tipe-tipe RKE yang disusun berdasarkan kontennya. 19 . Bahwa proses pengembangan  Menjamin aspek privasi. juga diatur apakah sifat kepemilikan sama dengan sistem manual? Bila copy file lebih dari satu. tetapi juga harus mendukung kegiatan surveilans dan penelitian. RKE yang dibangun walaupun patient safety. adanya acuan tentang proses pengembangan RKE. Lalu diusulkan juga ada aturan tentang persiapan lembaga yang akan mengembangkan RKE. Pada prinsipnya adalah kerahasiaan informasi kesehatan yang berlaku pada rekam medis manual tetap berlaku pada RKE. untuk surveilans. aspek pendanaan. Juga diatur mengenai sarana atau saluran pelepasan data seperti fax. sehingga perlu disusun tentang definisi RKE yang jelas agar tidak simpangsiur/bias apa yang dimaksud dengan RKE itu sendiri. seperti data dosis obat. Kedua. dll. yaitu dalam aspek manajemen. untuk melaksanakan register penyakit-penyakit tertentu. juga untuk kebutuhan pembayaran dan reimbusment serta memenuhi permintaan pasien itu sendiri. aspek ketersediaan SDM. maka harus ditentukan mana yang asli.Aspek-aspek yang masuk dalam peraturan:  Acuan tentang proses pengembangan RKE : o KSO o Membangun sendiri o Membeli  Keamanan data  Minimal content RKE: o Patient safety o Kebutuhan surveilans o Tipe sesuai tahapan  Persiapan lembaga untuk pengembangan RKE  Komunikasi data dan pelepasan informasi kesehatan  Kepemilikan data dalam informasi kesehatan  Standar data yang digunakan  Prinsip interoperabilitas Hal-hal yang diusulkan tercantum dalam Permenkes adalah :  Sertifikasi/akreditasi Pertama. email. 2. 3. Berkaitan dengan komunikasi data dan pelepasan informasi kesehatan. demikian pula tipe dua. apalagi membahayakan kondisi pasien. dsb) baik secara KSO atau membangun sendiri sesuai kemampuannya atau membeli apa adanya dan menggunakannya. mms. sekuriti dan integriti RKE bisa dilakukan oleh pihak institusi (rumah sakit. tentang keamanan data. dll. sms. dst. jangan sampai ada data yang aneh. Tentang kepemilikan informasi kesehatan. perlu dipikirkan tentang pengaturan komunikasi data dan pelepasan informasi kesehatan antar lembaga pelayanan kesehatan. Perlu ada peraturan tentang minimal-content dalam RKE yang berkaitan dengan kebutuhan RKE tersebut: 1. RKE tetap menjaga aspek patient safety. misalnya tipe satu RKE berisi apa saja.

20 . Hal-hal ini perlu disepakati untuk menjadi aturan. Selain itu disarankan bahwa RKE yang dibangun menggunakan standar data yang berlaku dan disepakati. lokasi. karena resiko berbahaya. Jangan sampai kita terjebak membeli barang yang di bawah standar (original. tetapi misalnya disebutkan bahwa yang berlaku sekarang apa. maka telemedicine juga tidak aman. Juga perlu disepakati prinsip interoperabilitas sehingga tidak merumitkan pengembangan RKE jika sudah lintas institusi atau lintas wilayah. tapi penting juga ada sertifikasi untuk produknya. ada perijinan saryankes yang menggunakan RKE. yaitu originalitas data dalam informasi kesehatan tetap terjaga. melakukan telemedis jika tanpa ijin. Di Malaysia. legal). tadi ada yang takut masuk RKE tapi berani melaksanakan telemedicine. Tidak harus disebutkan secara spesifik. atau semua salinan. dsb. Penggunaan telemedicine sudah masuk wilayah sendiri. Dalam Permen lebih ke arah memedomani (tidak mengancam) tetapi memberi panduan tanpa adanya sanksi atau jikapun ada maka minimal sanksi administratif. alat. Akreditasi akan diberikan misalnya bila sudah bagus urutannya. Jadi. maka 5 tahun penjara. Padalah internet belum tentu aman. demikian pula standar data untuk obat. ini minimal sekuritas yang terjaga terhadap “fisik” sistem. hal ini tetap dibutuhkan dan melibatkan berbagai pihak seperti institusi pendidikan. profesi. juga menjaga aspek sekuriti. Kemudian soal perijinan : registrasi. lucu juga. Budi Sampurna terhadap hasil diskusi: Hasil pertemuan kali ini adalah membahas rincian teknis yang harus dibahas tersendiri dan nanti keluar sebagai pedoman teknis untuk pelaksa yang juga bisa dilambari oleh Kepmenkes. minimal ada otentikasi dan prinsip “need to know” dilaksanakan. Bisa jadi semua asli. menggunakan telemedis harus ijin. Mohon nanti diuraikan juga apakah sebelum dipakai suatu software harus memperoleh sertifikasi terlebih dulu. Dalam hal ini kami upayakan paling tidak mendorong untuk tetap terjaga aspek-aspek ini. akreditasi. Komentar Prof.mana yang salinan. RKE dululah. Untuk komunikasi data. Di sisi lain kita juga membuat tentang pengaturan yang isinya norma-norma yang harus diatur. misalnya untuk standar diagnosis digunakan ICD-10. Oleh karena itu. Tidak ada kewajiban bahwa saryankes harus melaksanakan RKE. dan menjaga aspek integriti. untuk tindakan medis digunakan ICD-9-CM. praktisi. RKE yang dibangun hendaknya tetap menjaga aspek privasi. karena kontennya. sehingga memiliki sudut pandang yang sama terhadap RKE. Juga disarankan adanya sertifikasi/ akreditasi.

RKE merupakan potongan dari rekam medis elektronik. juga dibuatkan norma. jadi setiap tahap tetap pakai sekuriti. Lalu. minimal sekuriti yang gampang dulu. sehingga pasien ingin menggunakan. 21 . soal sekuriti jangan ditakutkan. Rekam medis elektronik adalah yang dipakai saryankes. Semua pengertian ini berbeda. jadi untuk pengertiannya harus betul-betul jelas. RKE adalah milik semua pasien. definisi RKE harus disepakati bersama: apakah harus sama dengan literatur asing. Apakah RKE artinya informasi milik pasien yang bisa diakses oleh pihak lain.Untuk komunikasi. boleh saja.

DEA: Apakah Kepmenkes bisa untuk pedoman vendor? Sehingga bisa menjadi acuan untuk pembuatan produk oleh vendor (jawaban Prof. A. dari pusdatin.Kes (Dinas Kesehatan Prov. Nur Rokhman. binkesmas. bisa). Hal itu nantinya bisa diakomodasikan. Dengan adanya lembaga yang memikirkan hal itu. Budi Sampurna : Dr. Eddy Kristiyono. mudah-mudahan produk yang dijual tersebut dapat dipahami oleh semua pihak. M.Pertanyaan dan pendapat tentang komentar Prof. Juga untuk penyelenggara pendidikan rekam medis. Pemandu : Demikian diskusi ini telah kita laksanakan bersama. Anis Fuad. depkominfo. Di Jogja sudah dikembangkan ke elektronik. terima kasih atas segalanya dan semoga ini bisa bermanfaat untuk pengembangan RKE selanjutnya. SKM: Dalam waktu dekat ini.Kes: Juga untuk penting disampaikan tentang pembinaan berkelanjutan dari Depkes untuk pengembangan RKE di tingkat pusat dan daerah. Budi tentang akreditasi. M. pengguna). M. Dr. Wahyudi Istiono. DIY): Pelayanan informasi kesehatan harus di-back-up dari pendidikan dan saryankes. Kaitannya dengan RKE adanya continuing learning (kerjasama dengan profesi). PORMIKI dan Dinkes DIY akan membangun wadah komunikasi antar institusi pendidikan rekam medis. Ini penting untuk berjalannya pengembangan RKE. Namun ada hal-hal yang membatasi penggunaan elektronik ini yaitu banyak yang mengintervensi. Untuk profesi dan pihak pendidikan agar meningkatkan kemampuan teman-teman yang ada di lapangan termasuk mahasiswa dan alumni. diusulkan RKE masuk dalam kurikulum dan PORMIKI memikirkan bersama Pusdiknakes. ada prototipe yang elektronik. Dalam hal ini diharapkan ada semacam lembaga yang menampung bagaimana kebutuhan yang sesuai dengan masing-masing saryankes. mulai dari praktek dokter sampai rumah sakit.MdPerKes. Budi.Kom (Prodi Ilmu Komputer UGM): Meluruskan komentar Prof. 22 . Arida Oetami. sehingga format tidak sama dan menjadi kesulitan. profesi. dinilai terlebih dulu dalam sertifikasi produk (belum sampai sertifikasi SDM) oleh sekumpulan tim (akademisi. maksud dari Pak Anis tadi tentang akreditasi adalah bagaimana sebuah software sebelum di-launching ke pihak user.

pengolahan data. Lingkup RKE yang meliputi rekaman data. Standarisasi g. 3. Budi Sampurna. Persiapan organisasi saryankes untuk pengembangan RKE d. Segera dibuat peraturan untuk pelaksanaan RKE. tepat waktu dan berjalan lancar.KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Diskusi berlangsung dengan sangat baik. Rumusan minimal-content RKE c. 2. Potensi saryankes sendiri diberdayakan. Penerapan RKE segera dilaksanakan meskipun masih dalam tahap sangat sederhana. Indonesia yang menganut sistem hukum kontinental mendasarkan pada azas legalitas atas perbuatan yang dilakukan. Dari masukan tersebut dapat disimpulkan beberapa hal pokok yang disepakati bersama. tidak ada kewajiban saryankes harus melaksanakan RKE. saran dan usulan yang semuanya merupakan masukan sebagaimana tujuan diskusi ini. bahwa dalam norma-norma yang harus diatur. Ini harus dilakukan secara bertahap dengan pendekatan proses. Sertifikasi dan akreditasi produk RKE f. keamanan data. dalam hal ini SDM harus dipersiapkan dengan baik. Banyak dari peserta berbagi pengalaman. 4. demikian juga peran pendidik untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tentang RKE bagi mahasiswa dan para lulusannya. kondisi di lapangan juga diperhatikan. 23 . pengguna. Langkah ini bisa dilakukan bila ada kolaborasi antara pihak Depkes (Pusdiknakes). pendapat. profesi kesehatan serta institusi pendidikan. Proses pengembangan RKE di saryankes b. Hal ini diusulkan mengingat aturan yang akan dibuat nanti bukan untuk membatasi. komunikasi data. Mengutip apa yang dikatakan oleh Prof. yaitu : 1. Fitur dasar dan penunjang RKE h. Selain itu. Segera menyelenggarakan pertemuan antar berbagai pihak yang tugasnya membahas dan menyepakati bersama hal-hal yang perlu disampaikan dalam peraturan atau pedoman teknis pelaksanaan RKE. Aspek yang dibahas adalah sebagai berikut: a. tetapi justru mendorong digunakannya RKE. Prinsip interoperabilitas antar instansi atau wilayah e. maka penting sekali adanya payung hukum dalam menerapkan RKE ini. Peraturan dibuat lebih ke arah memberi pedoman atau panduan bukan untuk melakukan hukuman. penyajian data serta pemusnahan data. penyimpanan data.

khususnya Biro Hukum dan Koordinasi. balai pengobatan. referensi yang digunakan adalah : a. 2008) 3. Dalam menyusun rekomendasi ini. UU No. aspek hukum yang perlu diperhatikan antara lain adalah : a. Di bawah ini merupakan pihak-pihak yang saling terkait dalam pengembangan RKE dan sangat penting kepesertaan mereka dalam membahas aspek-aspek yang harus masuk dalam peraturan RKE. bidan dan perawat). UU No. UU No. c. puskesmas. UU No. PP No. Untuk pembahasan dan kesepakatan bersama tentang aspek-aspek yang harus disampaikan pada peraturan yang akan dibuat. 23/1992 tentang Kesehatan b. UU No. 29/2004 tentang Praktik Kedokteran c. b. Depkes : yang dimaksud dengan pihak Departemen Kesehatan RI ini khususnya Biro Hukum dan Koordinator (Hukor) dan bagian lainnya seperti Pusdiknakes sesuai materi yang dibicarakan. dapat disampaikan beberapa hal di bawah ini untuk menjadi rekomendasi kepada pihak Departemen Kesehatan. 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik g. 24 . c. Materi Seminar RKE dalam rangkaian acara Serenade Prodi Rekam Medis UGM tanggal 13 Juni 2009 d. Saryankes : rumah sakit. 10/1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran h. Draft Rancangan Rekam Kesehatan Elektronik (RKE) dari SubDit Keterapian Fisik Depkes RI. 844/2006 tentang Kodefikasi Data k. Buku Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di Sarana Pelayanan Kesehatan (Gemala Hatta. PP No. Pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengembangan RKE di Indonesia. 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan e. maka perlu ditentukan dan disepakati apa saja materi yang dibahas dan siapa saja yang membahas. 1. Permenkes No. UU No. b. 32/1996 tentang Tenaga Kesehatan i. praktek swasta (dokter. a. baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Permenkes No. PP No. Dalam membicarakan perihal RKE. Mapping Kebutuhan Kesepakatan dalam Pengembangan RKE (dr. klinik. 377/2007 tentang Standar Profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan l. Dinas Kesehatan : yaitu pihak dinas kesehatan di daerah. 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan j. Rano Indradi) e. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah d. Permenkes No. 269/2008 tentang Rekam Medis 2. sebagai bahan pertimbangan dalam menindaklanjuti kesimpulan dari diskusi ini.Dari hasil diskusi tersebut. 11/2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik f. Hasil Diskusi Workshop Pemetaan Materi Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik 13 Juni 2009.

dsb) yang membahas berbagai hal tentang RKE. lokakarya. dalam hal ini adalah penyediaan biaya dan fasilitas. bidan. Persiapan SDM dalam Pelaksanaan RKE. institusi pendidikan. organisasi) e. profesi kesehatan. Hal ini bisa dilakukan secara berkoordinasi dengan berbagai pihak yang telah disebutkan pada point 3 di atas. pakar TI. Tenaga Kesehatan : dokter. Kegiatan ini diselenggarakan dan/atau dihadiri oleh pihak Depkes. Pembahasan Aspek Penting dalam Penyusunan Peraturan. Pemda/Pemkot : pejabat yang berwenang dalam pemerintahan daerah atau pemerintahan kota (note: beberapa istilah di atas disesuaikan dengan peraturan yang sudah berlaku sebelumnya) 4. Dinas Kesehatan. IBI. baik secara kualitas maupun kuantitas. manajemen.d. Dalam mempersiapkan SDM di saryankes. f. studi lapangan. workshop. g. laborat. dokter gigi. Provider : penyedia aplikasi sistem RKE h. Profesi Kesehatan : PORMIKI. Institusi Pendidikan : penyelenggara pendidikan tenaga kesehatan l. mohon kepada pihak Depkes memberikan dukungan baik moril maupun materiil. 25 . PPNI. Pemda/Pemkot serta peminat masalah RKE (masyarakat umum). pakar SIMKES. perawat. Pakar Simkes : personal yang ahli dalam bidang sistem informasi kesehatan j. PORMIKI dan Pusdiknakes merumuskan kurikulum RKE dan intitusi pendidikan menyampaikan materi tentang RKE kepada mahasiswa dan alumninya. farmasis. k. Guna pelaksanaan persiapan SDM dalam menghadapi implementasi RKE. perlu dilakukan kerjasama antar berbagai pihak. Untuk meningkatkan kemampuan teknis tenaga pelaksana serta manajemen knowledge di saryankes. Pakar Kesehatan Masyarakat : personal yang ahli di bidang surveilans dan penelitian kesehatan. terapis. secara khusus pihak Biro Hukor sedapat-mungkin memfasilitasi untuk mengadakan pertemuan yang membahas kesepakatan dalam berbagai materi serta aspek-aspek yang penting dipikirkan dalam rangka menyusun peraturan tentang RKE. IDI. asosiasi profesi kesehatan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dan secara koordinatif bersama Dinas Kesehatan Provinsi. 5. Sosialisasi juga dilakukan dengan menyelenggarakan berbagai macam kegiatan (seminar. Pengguna : yaitu saryankes yang kini telah menjalankan RKE (SDM. perekam medis. Secara umum semua pihak yang berkepentingan terhadap pengembangan RKE dapat melakukan kegiatan sosialisasi sebagaimana tersebut di atas. Pakar Teknologi Informasi (TI) : personal yang ahli dalam bidang teknologi informasi baik konsep maupun keteknisan i.

atau dengan cara membeli sistem yang sudah jadi. Pakar Simkes. Materi bahasan : a. Definisi RKE yang disepakati b. Konsep patient safety serta keperluan surveilans menjadi fokus pembahasan. khususnya persyaratan minimal dalam saryankes yang boleh/bisa menerapkan sistem RKE. Profesi Kesehatan.Berikut point-point dalam pembahasan aspek penting dalam penyusunan peraturan tentang pelaksanaan RKE : 1. Jenis dan tipe saryankes g. Tipe dan jenis pelayanan saryankes d. Pengertian patient-safety dan implikasinya di lapangan c. Struktur organisasi saryankes c. Dinas Kesehatan. memberi arahan dalam memutuskan apakah sistem RKE tersebut dilakukan secara KSO. Surveilans dan penelitian d. Sumber biaya saryankes b. Penyusunan Minimal Content RKE. c) membeli. dibuat sendiri oleh SDM setempat. pakar TI. Saryankes. Disamping itu juga dibahas bagaimana dengan peran konsultan dalam menentukan suatu organisasi pengguna RKE. Prosedur proses pengembangan RKE e. Materi bahasan : a. Tujuan pembahasan ini adalah membuat berbagai tipe pengembangan RKE. Mutu pelayanan e. Kamus data berdasarkan standar perbendaharaan 26 . Pengguna. Tujuan point ini adalah menentukan persyaratan apa saja yang harus dipenuhi dalam menentukan pengembangan RKE di saryankes dalam hal ini ada tiga tipe (atau bisa lebih) yaitu a) secara KSO. b) membuat sendiri (swakarya). 2. Pemda/Pemkot. Pembahasan untuk menyusun konten minimal RKE tidak lepas dari menekankan pada kebutuhan dari RKE itu sendiri. Peran konsultan RKE Pihak kepesertaan : Depkes. Kualitas dan pengolahan data f. Pembahasan juga menyangkut masalah ketersediaan biaya dalam pengembangan RKE di saryankes setempat. Pembahasan materi mengenai proses pengembangan RKE meliputi bagaimana melakukan proses awal sistem RKE diterapkan di saryankes. Dalam hal ini. Proses Pengembangan RKE. Format dan standar koding i. Keseragaman data inti h.

Profesi Kesehatan. tertib catatan keuangan) g. SDM. Pakar Kesehatan Masyarakat (surveilans dan penelitian kesehatan). suara Pihak kepesertaan: Depkes. institusi Pendidikan. Standar Kodefikasi c. biaya/dana. Peran Leadership h. Saryankes (pendidikan). Manajemen knowledge j. Prosedur dan kebijakan k. Saryankes (Top Manajer).j. Penelusuran Kebutuhan b. pakar Simkes. Materi : a. pelatihan aplikasi) i. Tujuan : menyusun aspek-aspek organisasi yang perlu disiapkan dalam menerapkan sistem RKE di saryankes serta bagaimana teknis mempersiapkan organisasi secara keseluruhan. Pengguna. Kondisi SDM (kuantitatif dan kualitatif) f. Kesiapan Biaya (besaran dana. Tipe saryankes c. Struktur organisasi d. baik antar instansi maupun antar wilayah. Isi diskusi meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kondisi lembaga yang akan mengembangkan RKE. Format File d. Pencitraan. Tujuan : kesepakatan tentang standar-standar yang digunakan dalam koneksi data. penelusuran. Prinsip Interoperabilitas Pembahasan ini juga menyangkut point pembahasan tentang Standar Terminologi dan Kodefikasi. Komitmen SDM e. Profesi Kesehatan. Komunikasi data & informasi 27 . 3. Materi bahasan: a. Dinas Kesehatan. video. Tenaga Kesehatan. Pakar TI (data). Standar Terminologi b. Manajemen sumber daya (sarana-prasarana. Persiapan Organisasi untuk Pengembangan RKE. Pengguna. aspek teknis dan aspek manajemen. Ini termasuk aspek SDM. Aspek teknis (infrastruktur) Kepesertaan : Depkes. Informasi hasil pelayanan dan status fungsinya k. Provider 4.

Pengertian Produk Aplikasi RKE c. Ahli MIK. simptom) c. simbol. Ahli Simkes. sign. Aksesabilitas Psertaan : Depkes. Profesi Kesehatan. kodefikasi serta format data dan informasi yang digunakan dalam pengembangan RKE. kodefikasi. singkatan yang digunakan dalam bidang pelayanan kesehatan e. Pengguna. kode obat. suara. Saryankes. perlu adanya advokasi kepada pihak Depkominfo untuk membuat sertifikasi pelaksanaan RKE. kode dokter. Provider. Ahli TI. Standar kodefikasi d. Fitur Dasar dan Fitur Penunjang RKE 28 . Pakar TI. Dinas Kesehatan. kode penyakit yang digunakan dalam pelayanan kesehatan f. Prosedur Pelaksanaan Sertifikasi/Akreditasi RKE Kepesertaan : Depkes. Tujuan : kesepakatan tentang terminologi medis. Pemda/Pemkot 5. Pengertian standarisasi b. serta format data dan informasi. Peserta : Depkes. Profesi Kesehatan. Pengertian Sertifikasi dan Akreditasi b. Profesi Kesehatan. (usulan : utk mengadakan pertemuan yang membahas tentang bagaimana mengadopsi terminologi medis yang sudah ada di NLM seperti SNOWMED. Sertifikasi dan Akreditasi Produk Aplikasi RKE Pembahasan menyangkut masalah legalitas dari suatu sistem RKE yang digunakan. Provider 6. Tenaga Kesehatan. Istilah. Kode wilayah. pakar Simkes. Materi : a. gambar bergerak. Dalam hal ini. Standarisasi Terminologi dan Kodefikasi Membahas tentang bagaimana menyepakati terminologi. Format data berupa teks.e. NICNOC) 7. sedangkan pihak Depkes membuat apa persyaratan-persyaratan untuk konten produk tersebut. di sini ditentukan persyaratan-persyaratan bahwa suatu produk aplikasi software RKE harus sudah disertifikasi sebelum dipasarkan. Oleh karena itu. Dinas Kesehatan. Tujuan : kesepakatan tentang lingkup dari sertifikasi produk aplikasi RKE Materi : a. Saryankes. Standar terminologi medis (penyakit.

Konten data (data administratif dan data klinis) d. Profesi Kesehatan. Operating System (Windows atau open source) b. Pembahasan meliputi prosedur pengolahan data serta komunikasi data/informasi yang juga menyangkut terminologi medis. idle-time c. Ahli TI. Tujuan : Kesepakatan tentang lingkup RKE dalam hal perekaman dan penyimpanan data. kodefikasi. Auto log-off. Retensi data (in-aktif file. flashcard. Materi: a. Profesi Kesehatan 8. scan) c. Konteks data (video. gambar) e. Pengguna. Dinas Kesehatan. Tujuan : Kesepakatan tentang pelaksanaan pengolahan data serta pelaksanaan komunikasi data dan informasi dalam penerapan RKE. gambar) b. pemusnahan data) Peserta : Depkes. HD. Materi : a. Smart Internal-Check. Tujuan : menentukan operating system yang digunakan serta fitur-fitur aplikasi sistem RKE yang mendukung keamanan data. kualitas data serta kemudahan. Pengolahan Data dan Komunikasi Data/Informasi. Tenaga Kesehatan. Membahas tentang input serta output data dalam bentuk elektronik serta bagaimana sistem penyimpanan data tersebut agar dapat digunakan kembali menjadi suatu informasi penting dalam menunjang pelayanan. Pakar TI. Input data. scan. output data 29 . Pakar Simkes.Lingkup pembahasan tentang bagaimana menentukan fitur yang digunakan dalam sistem RKE. foto. Tenaga Kesehatan 9. Clinical & Managerial DSS g. ahli Simkes. Tipe input data (ketikan. Provider. Clinical Reminder &Alert system f. Downtime. microfilm. Pengguna. Provider. keleluasaan serta kenyamanan menggunakan aplikasi RKE. Perekaman dan Penyimpanan Data. suara. Hal akses pasien d. Akurasi dan Kelengkapan Isian e. sumber data. Materi : a. Media penyimpanan data (CD. Related data & Knowledge based link. Peserta : Depkes. format data serta sarana pelepasan data. re-type.

Sistem penyimpanan data Peserta : Depkes. Provider. serangan virus. Otorisasi dan penanggungjawab f. manipulasi i. suara. Intergriti (audit trail. Otentikasi secara biometrik dan e-sign e. dalam hal ini perlu diingat aspek kerahasiaan data pasien. standar format data (teks. gambar/grafis. intergiti.b. meta data. kecurian. infrared) Peserta : Depkes. bahaya bencana serta penyimpanan data. pakar Simeks. Sarana komunikasi data (e-mail. presentasi) c. Profesi Kesehatan. Oleh karena itu perlu juga dibicarakan tentang keamanan data. Pakar TI. Pengamanan data dari bahaya petir/listrik mati. mms) d. Materi : a. enskipsi) g. Kebutuhan data elektronik (output) b. Pengguna. yaitu segi otentikasi. Tujuan : Kesepakatan dalam aspek penyajian data serta keamanan data elektronik. Penyajian Data dan Keamanan Data. RS-232. Tenaga Kesehatan 10. banjir. Pengamanan data dari kesalahan program. apa saja yang harus diatur dalam pelepasan informasi. Pakar Simkes. Dinas Kesehatan. Provider 30 . fax. Profesi Kesehatan. Pembahasan meliputi tentang bagaimana data disajikan. kodefikasi. trace. sms. Dinas Kesehatan. Saluran komunikasi (USB. Terminologi. Format file c. gempa h. blutooth. Pengguna. kehilangan. otorisasi. IR. movie. Pakar TI.

Si. Nur Rokhman. Gemala Hatta. Anis Fuad. MSc.Kes 4. M. DEA 17. DR.Kes Ketua Penyelenggara 31 . DPH Dent.Kes 9. SKM 10. Budi Sampurna. Wahyudi Istiono. Rano Indradi Sudra. dr. Tridjoko Hadianto. S. dr.Kes 18. Arida Oetami. Suryono. drg. Prof. Dra. Drs. M. Cynthiawati Wijono 12. Perio(K) 15. Jazi Eko Istiyanto. Kinik Darsono 13. M.Kes 7. Sis Wuryanto. DTM&H. dr. Dr. SH 2. dr. Soetomo Nawawi. SKM 8. dr. PhD 14. M.Kes 3.Kom 16. A. Jason. Eddy Kristiyono.Kep 11. M. A.MdPerKes. dr. M. drg. M.MdPerKes. S. Harno. Sp. Endang Suparniati. SKM 6.KESEPAKATAN KESIMPULAN DISKUSI DAN REKOMENDASI Kesimpulan dan Rekomendasi ini dibuat berdasarkan hasil diskusi Workshop Pemetaaan Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik pada 13 Juni 2009 yang bertempat di Gedung Pertemuan UC UGM Yogyakarta dan diikuti oleh para pihak di bawah ini : 1. PhD 5. SH. dr.

Kom) 32 . M.(Drs. Medi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful