Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENGENDALIAN INTERN DAN AKUTANSI UNTUK KAS

A. PENGENDALIAN INTERN Sistem pengendalian intern yang dirancang dengan baik akan dapat mendorong ditetapkannya kebijakan manajemen. Selain itu juga mendorong terciptanya efisiensi operasi : 1. Melindungi aktiva perusahaan dari pemborosan 2. Kecurangan 3. Pencurian 4. Menjamin terciptanya data akuntansi yang tepat dan bisa dipercaya. Prosedur-prosedur pengendalian intern berbeda-beda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya dan bergantung pada beberapa factor seperti sifat operasi dan besarnya perusahaan. Tujuh buah prinsip pengendalian intern yang pokok meliputi : Penetapan tanggung jawab secara jelas Penyelenggaraan pencatatan yang memadai Pengasuransian kekayaan dan karyawan perusahaan Pemisahan pencatatan dan penyimpanan aktiva Pemisahan tanggung jawab atas transaksi yang berkaitan Pemakaian peralatan mekanis (bila memungkinkan) Pelaksanaan pemeriksaan secara independen

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

B. PENGENDALIAN INTERN TERHADAP KAS Pengendalian intern yang baik terhadap kas memerlukan prosedur-prosedur yang memadai untuk melindungi penerimaan kas maupun pengeluaran kas. Dalam merancang prosedur-prosedur tersebut hendaknya diperhatikan tiga prinsip pokok pengendalian : 1. Terdapat pemisahan tugas secara tepat, sehingga petugas yang bertanggungjawab menangani transaksi kas dan menyimpan kas tidak merangkap sebagai petugas pencatatan transaksi kas 2. Semua penerimaan kas hendaknya disetorkan seluruhnya ke bank secara harian 3. Semua pengeluaran kas hendaknya dilakukan dengan menggunakan cek; kecuali untuk pengeluaran yang kecil jumlahnya dimungkinkan untuk menggunakan uang tunai, yaitu melalui kas kecil Prosedur-prosedur yang digunakan untuk mengawasi kas, bisa berbeda-beda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya. Hal ini tergantung pada berbagai factor, seperti besarnya perusahaan, jumlah karyawan, sumber-sumber kas, dan sebagainya. Penerimaan kas yang berasal dari hasil penjualan tunai sebaiknya dilakukan dengan melalui kas register pada saat transaksi penjualan terjadi. Pengawasan atas penerimaan kas yang berasal dari penjualan tunai dan penerimaan kas melalui kas, merupkan hal yang penting akan tetapi kecurangan atau penyelewengan biasanya jarang terjadi melalui transaksi penerimaan kas, melainkan melalui pengeluaran kas atau dengan menggunakan faktur fiktif (palsu). Oleh karena itu pengawasan atas pengeluarn kas sama pentingnya atau bahkan kadang-kadang lebih penting daripada penerimaan kas Untuk mengawasi pengeluaran kas, maka semua pengeluaran kas harus dilakukan dengan menggunakan cek, kecuali untuk pengaturan yang jumlahnya kecil dapat dilakukan melalui kas kecil. Jika kewenangan unuk menandatangani cek didelegasikan kepada seorang pegawai yang ditunjuk, maka pegawai tersebut tidak diperkenankan untuk melakukan pencatatan transaksi kas. Hal ini untuk mencegah adanya kecurangan dalam pengeluaran kas yang tidak nampak dalam catatan Laporan bank pada akhir bulan, bank biasanya mengirimkan laporan bank bulanan kepada pemegang giro. Laporan tersebut berisi saldo awal dan saldo akhir bulan, serta daftar transaksi yang terjadi selama bulan yang bersangkutan. Transaksi tersebut meliputi penyetoran dan penarikan cek (pengambilan), serta penambahan dan pengurangan lain yang dilakukan bank atas rekening giro.

Setoran didaftar menurut tanggal penyetorannya dan sedangkan cek didaftar menurut tanggal pembayarannya oleh bank Rekonsiliasi bank apabila perusahaan membuka rekening giro di bank, maka perusahaan akan mempunyai dua catatan mengenai kas yang dimilikinya, yaitu : rekening kas yang terdapat dalam pembukuan perusahaan dan laporan bank yang diteriima perusahaan secara periodic dari bank. Saldo kas yang ditunjukkan dalam rekening kas biasanya jarang sama jumlahnya dengan saldo yang terdapat dalam laporan bank. Beberapa penyebab perbedaan antara saldo menurut pembukuan perusahaan dengan laporan bank adalah sebagai berikut : 1. a. b. Bank belum mencatat transaksi tertentu : Setoran dalam perjalanan, perusahaan telah mencatat setoran ke bank, tetapi bank belum mencatatnya Cek dalam perjalanan (cek masih beredar), cek yang ditarik dan telah dibukukan oleh perusahaan, tetapi bank belum mencatatnya Perusahaan belum mencatat transaksi tertentu : Penerimaan kas melalui bank, bank kadang-kadang melakukan penerimaan kas untuk dibukukan ke dalam rekening giro perusahaan Biaya administrasi bank, bank biasanya membebankan sejumlah biaya untuk menangani transaksitransaksi yang dilakukan pemegang giro Pendapatan bunga atau jasa giro, bank memberikan bunga atas saldo giro yang dihitung atas dasar persentase tertentu dari saldo giro rata-rata per bulan Cek kosong dari konsumen atau debitur, perusahaan sering menerima pembayaran dari para konsumen atau debitur dalam bentuk cek yang diperlakukan sama dengan uang tunai. Cek tersebut bersama-sama dengan uang tunai disetorkan tiap hari ke bank yang diterima menggunakan bank yang sama dengan bank perusahaan, maka cek bisa langsung diuangkan dan langsung dibukukan ke rekening giro perusahaan. Cek kosong adalah cek yang tidak cukup dananya (jumlah rupiah dalam cek lebih besar dari saldo giro si pemegang giro di bank pada saat ia menarik cek tersebut) Cek dikembalikan kepada penyetor karena alas an lain (bukan cek kosong), bank kadang-kadang mengembaliikan cek kepada penyetor karena alas an-alasan berikut :

2. a. b. c. d.

e.

1) 2)

3) 4) 3.

Rekening penarik cek telah ditutup Cek telah kedaluwarsa (cek tertentu kadang-kadang hanya dapat diuangkan dalam jangka waktu tertentu, apabila selama jangka waktu tersebut tidak diuangkan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, apabila selama jangka waktu tersebut tdak diuangkan, maka cek menjadi tidak berlaku lagi) Tandatangan yang tercantum pada cek tidak sah Terdapat kesalahan dalam penulisan cek Bank atau perusahaan (atau kedua-duanya) telah melakukan kesalahan pencatatan Tahap-Tahap Penyusunan Rekonsiliasi Bank Tahap-tahap penyusunan rekonsiliasi bank adalah sebagai berikut : Mulailah dengan saldo yang tercantum dalam laporan bank dan saldo yang tercantum dalam rekening kas perusahaan (disebut juga saldo buku). Kedua angka tersebut mungkin tidak sama karena adanya perbedaan saat pembukuan dank arena sebab-sebab lain yang telah diterangkan diatas

1.

2. a.

b.

Tambahkan atau kurangkan pada saldo per bank, hal-hal yang tercantum dalam pembukuan perusahaan tetapi tidak tercantum dalam laporan bank Tambahkan setoran dalam perjalanan pada saldo per bank. Setoran dalam perjalanan dapat diketahui dengan cara membandingkan antara setoran-setoran yang tercantum dalam laporan bank dengan daftar penerimaan kas yang terdapat dalam pembukuan perusahaan. Setoran dalam perjalanan adalah setoran yang tercantum dalam pembukuan perusahaan, tetapi tidak tercantum sebagai setoran dalam laporan bank pada bulan yang bersangkutan Kurangkan cek dalam perjalanan dari saldo per bank. Cek dalam perjalanan dapat diketahui dengan cara membandingkan antara cek-cek yang diuangkan di bank seperti tercantum dalam laporan bank dengan cek-cek yang dikluarkan perusahaan seperti tercantum dalam pengeluaran kas. Cek dalam perjalanan adalah cek yang telah dikeluarkan perusahaan tetapi tidak Nampak dalam laporan bank

Tambahkan atau kurangkan pada saldo per buku, hal-hal yang tercantum dalam laporan bank tetapi tidak tercatat dalam pembukuan perusahaan : a. Tambahkan pada saldo per buku : 1) Penerimaan-penerimaan kas langsung melalui bank 2) Pendapatan bunga atas saldo giro di bank. Kedua hal tersebut akan dapat diketahui dengan cara membandingkan antara setoran-setoran yang tercantum dalam laporan bank dengan penerimaan kas yang terdapat dalam pembukuan perusahaan b. 1) 2) 3) Kurangkan dari saldo per buku : Biaya administrasi bank Biaya pencetakan cek Pengurangan yang telah dilakukan oleh bank lainnya (misalnya pengurangan karena adanya pengembalian cek kosong atau cek yang telah lewat waktu) Hal-hal tersebut akan dapat diketahui dengan cara membandingkan pengurangan-pengurangan yang terdapat dalam laporan bank dengan catatan perusahaan dalam jurnal pengeluaran kas Hitunglah saldo per bank yang telah disesuaikan dan saldo per buku yang telah disesuaikan. Kedua saldo tersebut harus sama Buatlah jurnal untuk setiap hal yang terdapat pada butir 3 diatas, yaitu hal-hal yang tercantum pada sisi per buku (perusahaan) dalam rekonsiliasi bank Contoh Pembuatan Rekonsiliasi Bank Misalkan PT Nusantara memiliki rekening giro di Bank Niaga. Pada akhir bulan Januari PT Nusantara menerima laporan dari Bank Niaga yang telah berisi informasi mengenai saldo awal bulan, pertambahan dan pengurangan yang telah dilakukan bank selama bulan Januari atas rekening giro PT Nusantara, dan saldo per 31 Januari adalah Rp 5.388.480,00 menurut pembukuan PT Nusantara, saldo rekening giro di Bank Niaga adalah Rp 3.294.210,00 setelah dilakukan pembandingan sesuai dengan prosedur yang telah diuraikan diatas, ditemukan hal-hal sebagai berikut : 1. 2. 3. Setoran tanggal 30 Januari sebesar Rp 1.591.630,00 tidak tercantum dalam laporan bank Bank telah melakukan kesalahan pembukuan, yaitu cek yang ditarik oleh PT Antara sebesar Rp 100.000,00 (nomor cek 656) telah dikurangkan pada rekening giro PT Nusantara Lima lembar cek yang ditarik pada akhir bulan Januari dan telah dicatat dalam jurnal pengeluaran kas oleh PT Nusantara, belum dibayar oleh bank : No. Cek Tanggal Jumlah 337 338 339 340 341 27 28 28 29 30 Jan Jan Jan Jan Jan 286.000,00 319.470,00 83.000,00 203.140,00 458.530,00

3.

4.

5.

4. 5. 6. 7. 8.

Bank telah menerima pelunasan selembar wesel tagih milik PT Nusantara sebesar Rp 2.114.000,00 (termasuk di dalamnya pendapatan bunga sebesar Rp 214.000,00) penerimaan pelunasan wesel ini belum dicatat dalam jurnal penerimaan kas oleh PT Nusantara Laporan bank menunjukkan bahwa bank telah memberi bunga pada PT Nusantara sebesar Rp 28.010,00 Cek nomor 333 sebesar Rp 150.000,00 yang dibayarkan pada PT Bromo telah dicatat dalam jurnal pengeluaran kas oleh PT Nusantara dengan jumlah Rp 510.000,00 sehingga saldo per buku menjadi terlalu rendah Rp 360.000,00 Biaya administrasi bank bulan Januari adalah Rp 14.250,00 Laporan bank menunjukkan adanya pengembalian cek yang tidak cukup dananya (cek kosong) sebesar Rp 52.000,00 Cek tersebut berasal dari PT Rosalina Berdasarkan data di atas PT Nusantara menyusun laporan rekonsiliasi bank seperti terlihat pada gambar 1-6 Berdasarkan rekonsiliasi bank diatas, PT Nusantara perlu membuat jurnal penyesuaian berikut (jurnalurnal ini diberi tanggal 31 Januari untuk mengoreksi saldo rekening kas pada tanggal tersebut) : Jan 31 Kas 2.114.000,00 Piutang wesel 1.900.000,00 Pendapatan bunga 214.000,00 (penerimaan wesel melalui bank) Jan 31 Kas Pendapatan bunga (pendapatan bunga atas saldo giro) Kas Utang dagang (koreksi kesalahan cek no : 333) Macam-macam biaya Kas (biaya administrasi bank) Piutang dagang Kas (cek kosong yang dikembalikan oleh bank) 28.010,00 28.010,00

Jan

31

360.000,00

360.000,00

Jan

31

14.250,00 14.250,00

Jan

31

52.000,00 52.000,00

Per Bank : Saldo 31 Jan Tambah : 1. Setoran dalam perjalanan 30 Jan 2. Koreksi kesalahan bank Cek PT Antara telah didebet ke rekening perusahaan

Gambar 1-6 Bank Rekonsiliasi PT NUSANTARA Laporan Rekonsiliasi Bank 31 Januari 20008 Per Buku : Saldo 31 Jan 5.388.480,00 Tambah : 4. Penerimaan wesel melalui bank termasuk pendapatan bunga Rp 214.000,00 1.591.630,00 5. Pendapatan bunga bank 6. Kesalahan pembukuan cek nomor 333 dibukukan terlalu 100.000,00 tinggi

3.294.210,00

2.114.000,00 28.010,00

7.080.110,00

360.000,00 5.796.220,00

Kurangi : 3. Cek dalam perjalanan : No. 337 . Rp 286.000,00 No. 338 . Rp 319.470,00 No. 339 . Rp 83.000,00 No. 340 . Rp 203.140,00 No. 341 . Rp 458.530,00

Kurangi : 7. Biaya administrasi bank Rp 14.250,00 8. Cek kosong . Rp 52.000,00

Saldo per bank stl disesuaikan

(1.350.140,00) 5.729.970,00

Saldo per buku stl disesuaikan

(66.250,00) 5.729.970,00

Soal. 1-5 Berikut ini informasi yang berhubungan dengan kas PT Brantas pada tanggal 31 Oktober 2000. Saldo rekening kas menurut laporan bank adalah Rp 18.642.280,00 Rekening kas perusahaan pada tanggal yang sama menunjukkan saldo sebesar Rp 16.469.140,00 Sebuah setoran sebesar Rp 2.612.450,00 belum dicatat oleh bank sampai dengan tanggal 2 November 2000. Biaya administrasi bank sebesar Rp 11.400,00 belum dicatat oleh perusahaan Sebuah cek yang diterima dari Tuan Arjuna (seorang pelanggan) senilai Rp 319.000.00,00 dan sudah disetor oleh perusahaan, dikembalikan oleh bank karena tidak ada dananya. Cek yang ditarik dan belum diuangkan ke bank sampai tanggal 31 Oktober 2000 adalah : Cek nomor 234 Rp 320.180,00 Cek nomor 345 617.240,00 Cek nomor 456 455.000,00 Cek nomor 567 964.570,00 Cek nomor 553 senilai Rp 178.000,00 keliru dicatat dalam pembukuan perusahaan sebesar Rp 187.000,00 Cek ini digunakan untuk membayar biaya reparasi peralatan kantor. Bank telah menagihkan piutang wesel sebesar Rp 3.100.000,00 termasuk di dalamnya biaya bunga sebesar Rp 100.000,00,- Transaksi ini belum dicatat oleh perusahaan. Bank keliru membebankan cek PT Berantas ke rekening Pt Brantas sebesar Rp 350.000,00 Diminta : 1. Buatlah rekonsiliasi bank tanggal 31 Oktober 2000 ! 2. Buatlah jurnal yang diperlukan !

a. b. c. d. e. f.

g. h. i.

Soal 1-8 Berikut ini informasi untuk penyusunan rekonsiliasi bank PT Barito tanggal 30 April 2000. Saldo rekening kas perusahaan berjumlah Rp 1.974.400,00 Saldo kas menurut laporan bank berjumlah Rp 2.184.200,.00 Cek-cek yang ditarik namun belum diuangkan sampai dengan tanggal 30 April 2000 adalah : Nomor 357 Rp 15.300,00 Nomor 364 192.800,00 Nomor 369 451.600,00 Setoran sebesar Rp 510.000,00 belum nampak dalam laporan bank. Bank membebani rekening perusahaan dengan biaya administrasi bank sebesar Rp 11.200,00 Transaksi ini belum dicatat oleh perusahaan. Cek yang ditarik untuk CV Utomo sebesar Rp 831.200,00 keliru dicatat oleh petugas pembukuan perusahaan sebesar Rp 813.200,00 Pada tanggal 29 April, seorang pelanggan meminta kembali cek yang telah dibayarkan kepada perusahaan pada tanggal 28 April. Cek senilai Rp 77.700,00 ini sudah disetorkan ke bank dan dicatat pada tanggal 28 April. (diperlakukan seperti cek kosong ) Bank telah mengalihkan piutang wesel perusahaan senilai Rp 175.000,00 Transaksi ini belum dicatat oelh perusahaan. Laporan bank menunjukkan pengurangan sebesar Rp 88.800,00 untuk cek nomor 360 yang bernilai Rp 80.800,00 Diminta : 1. Buatlah rekonsiliasi bank tanggal 30 April 2000 2. Buatlah jurnal yang diperlukan !

a. b. c.

d. e. f. g. h. i.

PENDAHULUAN Kasus kecurangan dan ketidakjujuran dalam hal keuangan di dunia kerja akhir-akhir ini marak terjadi. Kecurangan tersebut bisa merugikan perusahaan, baik dalam jumlah besar maupun kecil. Kecurangan ini tidak bisa ditolerir karena efek yang ditimbulkan bisa sangat merugikan. Kecurangan atau penyelewengan keuangan ini bisa menyebabkan kebangkrutan jika terus menerus dilakukan tanpa adanya upaya pengendalian. Aset yang paling rawan terjadinya kecurangan adalah kas, karena sifatnya yang mudah dipindahtangankan. Kas merupakan aset yang paling likuid sehingga berpengaruh terhadap operasional perusahaan. Karena sifatnya dan kerawanan terjadinya penyelewengan pada kas, sehingga sistem pengendalian internal harus diterapkan sebaik-baiknya. Dalam makalah berjudul Penerapan Pengendalian Internal atas Kas pada Perusahaan di Indonesia, penulis memaparkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian internal. Makalah ini membahas tentang kecurangan yang terjadi pada keuangan di perusahaan, pengendalian internal, keterbatasan pengendalian internal, dan penerapan pengendalian internal pada perusahaan di Indonesia. Tujuan penulis membuat makalah berkaitan dengan pengendalian internal adalah untuk menambah pengetahuan kita tentang sistem pengendalian internal. Selain itu juga untuk menilai sejauh mana sistem pengendalian internal diterapkan pada perusahaan di Indonesia. Dengan begitu, diharapkan kita mampu menganalisis bagaimana sistem pengendalian internal diterapkan. Manfaat yang didapatkan dengan ditulisnya makalah ini agar kita dapat lebih memahami tentang sistem pengendalian internal dan juga penerapannya dalam operasional perusahaan. Dengan demikian pemahaman kita pada sistem pengendalian internal dan penerapannya pada perusahaan akan semakin meningkat. Selain itu, kita juga mampu menganalisis bagaimana penerapannya pada perusahaan di Indonesia. Dengan ditulisnya makalah ini, diharapkan pengetahuan dan wawasan kita akan semakin bertambah luas, sehingga kita mampu berpikir kritis dalam menghadapi tantangan di masa mendatang. Di era globalisasi ini, kita dituntut untuk mampu mengikuti perkembangan jaman yang semakin pesat dengan berbagai kecanggihan teknologi yang ada. Sehingga, kita harus terus menambah wawasan dan pengetahuan kita serta menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. PEMBAHASAN 1. Kecurangan pada keuangan. Kecurangan dan ketidakjujuran dalam keuangan di dunia kerja, terutama pada perusahaan di Indonesia, semakin marak terjadi. Hal ini jelas merugikan bagi perusahaan dan bukan tidak mungkin akan membawa perusahaan pada kebangkrutan. Sehingga, kecurangan yang terjadi di perusahaan harus diatasi atau lebih baik lagi jika dicegah sebelum terjadi. Kecurangan dan penyalahgunaan keuangan dapat terjadi karena beberapa faktor. Terdapat tiga faktor yang paling sering menyebabkan terjadinya kecurangan dalam perusahaan. Faktor pertama adalah kesempatan. Karyawan bisa melakukan penyelewengan karena adanya

kesempatan untuk memperoleh uang lebih banyak dari gaji atau upah yang diperoleh dari perusahaan. Kesempatan terjadi ketika kurangnya pengendalian di tempat kerja. Pengawasan terhadap karyawan yang kurang memberi kesempatan pada karyawan untuk berbuat curang karena mereka percaya perbuatannya tidak akan diketahui. Faktor kedua yang menyebabkan terjadinya penyelewengan keuangan adalah tekanan keuangan yang dialami. Karyawan terkadang melakukan penyelewengan karena masalah keuangan yang disebabkan terlalu banyak memiliki utang. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh gaya hidup yang berlebihan, sehingga gaji yang mereka terima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dari gaya hidup yang mereka jalani. Sedangkan faktor ketiga adalah penalaran yang masuk akal. Maksud dari penalaran yang masuk akal adalah karyawan berpikir masuk akal jika dia melakukan kecurangan karena merasa bahwa dia dibayar terlalu rendah sementara pemilik perusahaan memperoleh laba yang besar. Karyawan merasa benar dalam mencuri uang perusahaan karena percaya mereka berhak untuk dibayar lebih tinggi dari yang mereka terima. Kecurangan paling mudah terjadi pada kas, karena sifat kas yang mudah dipindahtangankan, tidak mempunyai identitas kepemilikan, bentuknya kecil membuat kas menjadi aktiva yang paling rawan terhadap penyelewengan. Kas adalah aktiva yang paling likuid dan sangat mempengaruhi kelancaran kegiatan operasional perusahaan. Kekurangan kas dapat mengakibatkan terganggunya kegiatan operasional perusahaan, sedangkan kelebihan kas dapat menyebabkan ketidakefisienan bila kas berlebih tersebut tidak dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan perusahaan atau diinvestasikan ke sasaran yang tepat. Kas merupakan hal yang penting dalam setiap transaksi perusahaan, untuk itu diperlukan suatu sistem yang mengatur penerimaan dan pengeluaran kas, sehingga setiap arus transaksi yang berhubungan dengan kas dapat dicatat dengan baik. Kas sebagai suatu alat pembayaran yang likuid harus dikelola dengan baik untuk menghindarkan penyalahgunaan atas kas tersebut. Sehingga perlu adanya pengendalian untuk mencegah bertambah luasnya kecurangan yang berdampak pada bertambah banyaknya kerugian yang akan dialami oleh perusahaan. Pengendalian ini dikenal dengan pengendalian internal. 2. Sistem pengendalian internal Sistem pengendalian internal merupakan suatu cara yang ditempuh perusahaan untuk mengendalikan usahanya yang meliputi struktur organisasi, cara-cara, metode serta alat-alat yang dikoordinasikan guna mencapai tujuan perusahaan Sistem Pengendalian Intern pada dasarnya bertujuan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen. Tujuan diadakannya pengendalian internal adalah: 1. Melindungi aset dari pencurian, perampokan, dan penyalahgunaan oleh karyawan. 2. Meningkatkan keakuratan dan kebenaran pencatatan akuntansi. 3. Meningkatkan efisiensi operasional. 4. Menjamin ketaatan terhadap hukum dan peraturan. Sistem pengendalian internal memilki lima komponen utama, yaitu: 1. Lingkungan pengedalian. Hal ini merupakan tanggung jawab dari manajemen puncak untuk menjelaskan bahwa

perusahaan menghargai integritas dan perilaku yang tidak beretika tidak dapat ditoleransi. 2. Penilaian risiko. Perusahaan harus mengidentifikasi dan menganalisa berbagai faktor yang dapat member risiko pada bisnis dan memutuskan bagaimana mengatasi risiko tersebut. 3. Aktivitas pengendalian. Untuk mengurangi terjadinya kecurangan, manajemen harus merancang kebijakan dan prosedur untuk mengatasi risiko yang dihadapi perusahaan. 4. Informasi dan komunikasi. Sistem pengendalian internl harus merangkap dan menginformasikan semua informasi yang berkaitan dengan perusahaan, sebagaimana menginformasikan kepada pidak luar. 5. Pengawasan. Sistem pengendalian internal harus mengawasi secara berkala. Kekurangan yang signifikan harus dilaporkan kepada manajemen puncak atau dewan direktur. Dalam menerapkan pengendalian internal, terdapat enam prinsip antara lain: 1. Pembentukan tanggung jawab. Prinsip pengendalian internal yang mutlak adalah untuk memeberikan tanggung jawab kepada karyawan tertentu. Pengendalian lebih efektif jika hanya satu orang yng bertanggung jawab untuk tugas yang diberikan. Jika ada lebih dari satu yang diberi tanggung jawab, akan sulit menentukan siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi kesalahan. Prinsip pengendalian internal ini diterapkan dalam penerimaan kas dengan cara hanya orang yang ditunjuk yang mempunyai hak untuk menangani penerimaan kas (kasir). Sedangkan untuk pengeluaran kas adalah dengan cara hanya orang yang ditunjuk saja yang berwenang menandatangani cek (bendahara) dan menyetujuinya. 2.Pemisahan pekerjaan. Terdapat dua penggunaan yang umum untuk prinsip ini, yaitu: a. Individu yang berbeda harus bertanggung jawab untuk aktivitas terkait. Menyerahkan tanggung jawab pada satu orang untuk aktivitas terkait akan meningkatkan potensi terjadinya kesalahan dan penyelewengan. b. Tanggung jawab untuk penyimpanan pencatatan sebuah aset harus dipisahkan dari penjagaan fisik aset tersebut. Penjagaan atas aset tidak mungkin untuk mengubah aset untuk penggunaan pribadi saat satu karyawan mempertahankan pencatatan aset, dan seorang karyawan telah menjaga fisik aset. Penalaran dari prinsip ini adalah pekerjaan seorang karyawan harus, tanpa duplikasi usaha, menyediakan dasar yang dapat diandalkan untuk mengevaluasi pekerjaan karyawan lain. Penerapannya prinsip pemisahan pekerjaan dalam penerimaan kas adalah dengan membedakan individu yang menerima kas, mencatat penerimaan kas, dan menyimpan kas tersebut. Untuk pengeluaran kas dengan cara membedakan individu yang menyetujui dan melakukan pembayaran, orang yang menandatangani cek tidak boleh mencatat pengeluaran. 3. Prosedur dokumentasi. Perusahaan harus mendokumentasikan transaksi yang terjadi. Pertama, perusahaan harus menggunakan penomoran dokumen, dan semua dokumen harus dihitung. Penomoran mencegah transaksi dicatat lebih dari sekali atau bahkan tidak dicatat sama sekali. Kedua, sistem pengendalian mewajibkan karyawan segera menyampaikan sumber dokumen unuk penghitungan pembukuan kepada departemen penghitungan. Hal ini menjamin ketepatan waktu pencatatan transaksi untuk keakuratan dan kejujuran pencatatan akuntansi. Penerapan prinsip prosedur dokumentasi dalam penerimaan kas adalah dengan menggunakan rekomendasi setoran (surat masuk), rekaman register kas, dan slip simpanan. Sedangkan untuk pengeluaran kas dengan menggunakan penomoran cek dan akun agar berurutan, setiap cek harus memiliki faktur persetujuan, mengharuskan karyawan menggunakan kartu kredit

perusahaan untuk beban penggantian, mengecap faktur dengan cap LUNAS. 4. Pengendalian fisik, mekanik, dan elektronik. Penggunaan prinsip ini adalah mutlak. Pengendalian fisik, mekanik dan elektronik bertujuan untuk mengamankan aset dan meningkatkan keakuratan dan kejujuran pencatatan akuntansi. Penerapannya dalam penerimaan kas adalah dengan menyimpan kas di tempat yang aman dan brankas bank, membatasi akses ke tempat penyimpanan, dan menggunakan daftar kas. Sedangkan untuk pengeluaran kas dengan cara menyimpan blanko cek in tempat yang aman dengan akses yang terbatas dan mencetak jumlah cek dengan tinta permanen. 5. Verifikasi internal independen. Prinsip ini melibatkan bahasan data yang disiapkan oleh karyawan. Untuk memproleh keuntungan maksimal dari prinsip ini adalah dengan cara: a. Perusahaan harus memverifikasi pencatatan secara berkala. b. Seorang karyawan yang mandiri bertanggung jawab secara pribadi untuk informasi harus membuat verifikasi. c. Ketidaksesuaian dan pengecualian harus di laporkan kepada manajemen tingkat yang dapat mengambil langkah yang tepat. Prinsip ini berguna untuk membandingkan pencatatan dengan aset yang ada. Perusahaan besar umumnya menugaskan auditor eksternal untuk melaksanakan prinsip ini. Penerapannya dalam penerimaan kas adalah pengawas menghitung penerimaan kas setiap hari, bendahara membandingkan total penerimaan dengan simpanan bank setiap hari. Sedangkan untuk pengeluaran kas adalah dengan membandingkan cek dan faktur serta merekonsiliasi laporan bank setiap bulan. 6. Pengendalian sumber daya manusia. Pengendalian sumber daya manusia dalam penerapannya untuk penerimaan dan pengeluaran kas meliputi: a. Menanggung karyawan yang menangani kas. Tanggungan melibatkan perolehan perlindungan asuransi terhadap pencurian oleh karyawan. b. Menggilir tugas karyawan dan mewajibkan karyawan mengambil cuti. Hal ini untuk mencegah karyawan berupaya mencuri karena mereka tidak mungkin selamanya menyembunyikan tindakan kotor mereka. c. Memeriksa latar belakang secara lengkap. Beberapa percaya bahwa takaran bisnis yang paling penting dan murah yang dapat diambil untuk mengurangi pencurian oleh karyawan dan penyelewengan adalah bagi departemen sumber daya manusia untuk memeriksa latar belakang secara lengkap. 3. Keterbatasan pengendalian internal. Pengendalian internal pasti dirancang sebaik mungkin oleh perusahaan. Namun dalam praktiknya, pengendalian internal yang diterapkan perusahaan tidak bisa berhasil sempurna. Ada beberapa faktor yang membatasi keberhasilan penerapan pengendalian internal pada perusahaan. Terdapat tiga faktor yang paling sering membatasi keberhasilan penerapan pengendalian internal yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menerapkan pengendalian internal tidak boleh melebihi manfaat yang diharapkan, faktor manusia, dan ukuran bisnis yang dijalankan. Penerapan pengendalian internal membutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu, perusahaan berupaya agar biaya yang dikeluarkan untuk menerapkan pengendalian internal tidak melebihi manfaat yang diharapkan sehingga perusahaan tetap mendapatkan keuntungan, bukan malah mengalami kerugian. Faktor manusia merupakan kendala yang paling sering dijumpai. Sifat manusia yang serakah dan kebutuhan yang semakin meningkat mendorongnya untuk memperoleh uang lebih

banyak walau dengan cara-cara yang tidak dibenarkan. Sebaik apapun system yang diterapkan tidak akan efektif jika personilnya tidak menjalankannya dengan baik. Bisa juga terjadi kolusi antar karyawan yang dapat mengurangi efektivitas system yang diterapkan. Ukuran bisnis yang dijalankan juga membatasi efektivitas pengendalian internal. Perusahaan kecil akan kesulitan memisahkan pekerjaan karena kekurangan karyawan atau untuk menyediakan verifikasi internal independen. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada pengendalian internal yang sempurna. Segala sesuatu di dunia ini pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Tidak terkecuali dengan sistem pengendalian internal yang merupakan buatan manusia. Sistem ini tidak akan bisa dijalankan dengan baik jika individunya tidak peduli dan tidak mau melaksanakan aturan yang telah dibuat dan disepakati untuk kepentingan bersama. Oleh karena itu, diperlukan adanya kesadaran dari masing-masing individu untuk menjalankan dan melaksanakan aturan yang berlaku agar tidak merugikan satu sama lain. Dengan menjalankan aturan tersebut dengan baik, maka sistem pengendalian internal yang sudah dirancang tidak akan sia-sia dan hasilnya dapat memuaskan bagi semua pihak. Dengan adanya pengendalian internal yang memuaskan untuk kas, maka hal-hal yang merugikan perusahaan bisa dihindarkan atau sekurang-kurangnya dapat dibatasi seminimal mungkin. Selain itu, pengendalian juga perlu diterapkan agar semua individu dapat bekerja dengan jujur dan menghindari kecurangan dalam melaksanakan pekerjaan. Dengan begitu, perusahaan dapat terus beroperasi tanpa adanya gangguan berupa penyelewengan. 4. Penerapan pengendalian internal pada perusahaan. Perusahaan di Indonesia sudah banyak yang menerapkan sistem pengendalian internal. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari adanya kecurangan dan penyelewengan yang dilakukan oleh karyawan. Namun tidak seratus persen sistem pengendalian internal yang mereka terapkan dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Hal ini disebabkan karena tidak ada sistem yang benar-benar sempurna. Dari hasil penelitian pada beberapa perusahaan di Indonesia yang penulis kutip dari berbagai sumber di internet, dapat dikatakan bahwa perusahaan di Indonesia telah cukup baik dalam menerapkan sistem pengendalian internal pada kas. Perusahaan di Indonesia menerapkan pengendalian internal pada perusahaannya sejak awal penerimaan karyawan. Saat sudah bekerja pun, karyawan tetap diawasi dengan ketat agar tidak mempunyai kesempatan berbuatan curang. Prinsip-prinsip yang ada pada pengendalian internal berusaha untuk dijalankan dengan baik agar hasil yang didapatkan bisa maksimal dan memuaskan bagi semua pihak. Perusahaan di Indonesia berupaya untuk tetap konsisten dalam melaksanakan pengendalian internal terutama pada kas yang dianggap paling rawan untuk diselewengkan. Dengan adanya sistem pengendalian internal yang baik, perusahaan akan terhindar dari kecurangan yang dilakukan karyawan yang berpotensi merugikan perusahaan. Hal ini jelas merupakan awal yang baik untuk dapat meningkatkan pengawasan dan pengendalian internal agar ke depannya perusahaan di Indonesia akan semakin berkembang. Dengan pengendalian internal yang baik, maka perusahaan dapat meminimalisasi kerugian karena penyelewengan oleh karyawan.

Dengan adanya kesadaran dari perusahaan di Indonesia yang cukup besar untuk menerapkan dengan baik sistem pengendalian internal, diharapkan ke depannya kecurangan dan penyalahgunaan wewenang atas kas dapat diminimalisasi sehingga perusahaan tidak akan mengalami kerugian yang bisa berdampak pada kebangkrutan perusahaan yang bersangkutan. SIMPULAN Kecurangan dan penyelewengan banyak terjadi pada perusahaan, terutama pada kas. Sehingga perlu adanya suatu sistem pengendalian internal untuk meminimalisasi kerugian yang akan terjadi. Dengan menerapkan komponen dan prinsip-prinsip pengendalian internal pada perusahaan, diharapkan kecurangan yang terjadi akan berkurang dan perusahaan terhindar dari kerugian dan kebangkrutan. Sebagian besar perusahaan di Indonesia telah menerapkan pengendalian internal terutama pada kas yang merupakan aset yang paling rawan disalahgunakan. Perusahaan tersebut menerapkan pengendalian internal agar perusahaan tidak mengalami kerugian apalagi kebangkrutan karena kecurangan yang dilakukan oleh karyawan. Perusahaan memulai penerapan pengendalian internal sejak saat menerima karyawan untuk bekerja pada perusahaan. Pada saat sudah menjadi karyawan pun, perusahaan mengawasi denga ketat aktivitas-aktivitas karyawan terutama yang berhubungan dengan kas peusahaan. Hal ini untuk mencegah terjadinya penyelewengan yang dapat merugikan perusahaan. Penulis menyarankan kepada pemilik perusahaan khususnya perusahaan di Indonesia agar konsisten dalam menerapkan sistem pengendalian internal terutama pada kas. Selain untuk menghindarkan perusahaan dari kemungkinan mengalami kerugian dan kebangkrutan, pengendalian internal juga perlu diterapkan agar dapat menciptakan individu-individu yang menjunjung tinggi kejujuran dalam mealaksanakan pekerjaan.