Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan karuniaNyalah, maka penulis dapat menyelesaikan makalah Sistem Pelumasan pada Motor Bensin dan Diesel ini tepat pada batas waktunya. Makalah tugas ini dibuat dari berbagai sumber atau referensi. Pada makalah tugas ini, penulis berusaha menyusun dalam bentuk paparan yang akan mempermudah para pembaca untuk dapat belajar lebih baik, karena didalamnya terdapat ringkasan materi yang penulis buat secara sederhana sehingga mudah dipahami. Penulis menyadari makalah tugas ini jauh dari sempurna, hal ini mengingat kemampuan pengetahuan dan kepustakaan yang penulis miliki sangat terbatas, Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaannya agar makalah tugas ini dapat digunakan sebaik mungkin. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyelesaian makalah Sistem Pelumasan pada Motor Bensin dan Diesel ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Wassalam.

Palangka Raya,

Desember 2010

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan Penulisan BAB II. PEMBAHASAN 2.1. Fungsi Sistem Pelumasan 2.2. Cara Kerja Umum Sistem Pelumasan 2.3. Komponen-Komponen Sistem Pelumasan 2.4 Jenis Pelumas 2.5. Kekentalan (Viskositas) 2.5. Klaisifikasi minyak pelumas BAB III. PENUTUP 3.1. Kesimpulan REFERENSI

BAB I. PENDAHULUAN

1.3. Latar Belakang Tidak bisa dipungkiri - pelumas - atau yang lebih popular disebut oli - merupakan bagian tak terpisahkan dari kendaraan bermotor. Tanpa pelumas, mobil secanggih apapun dipastikan tidak akan bisa bekerja. Pada manusia, pelumas adalah darah. Pelumas sangat menentukan kemampuan kerja sebuah mesin, baik otomotif maupun industri. Salah memilih pelumas bisa berakibat fatal. Bila mutu pelumas jelek dan tercemar, mesin bisa rontok dalam waktu dekat. Pemilihan dan penggunaan pelumas yang tepat akan sangat membantu kelancaran kerja dan keawetan sebuah mesin. Oleh karena itu, disini penulis akan menjelaskan secara rinci tentang sistem pelumasan pada motor bensin dan diesel agar para pembaca dapat mengetahui prinsip kerja pelumasan pada motor bensin dan diesel sehingga pembaca dapat memilih pelumas yang tepat bagi mesin kendaraannya agar dapat awet dan tahan lama.

1.4. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. Dapat mengetahui pengertian pelumasan serta fungsi pelumasan tersebut bagi mesin bensin dan diesel. 2. Mengetahui sistem kerja pelumasan pada motor bensin dan diesel. 3. Mengetahui jenis-jenis pelumas dan klasifikasi minyak pelumas.

BAB II. PEMBAHASAN

Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang diberikan diantara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Pelumas berfungsi sebagai lapisan pelindung yang memisahkan dua permukaan yang berhubungan. Umumnya pelumas terdiri dari 90% minyak dasar dan 10% zat tambahan. Salah satu penggunaan pelumas paling utama adalah oli mesin yang dipakai pada mesin pembakaran dalam.

2.1. Fungsi Sistem Pelumasan Sistem pelumasan merupakan bagian yang penting pada mesin yang didalamnya terdapat komponen-komonn yang bergerak dan bergesekan. Oleh karena itu, pelumasan sangat diperlukan agar kontak langsung antara dua permuakaan benda yang saling bergerak dapat dihindarkan. Sistem pelumasan berfungsinya sebagai : 1. Anti Gesekan Oli mencegah hubungan langsung antara dua metal/part yang bergesekan sehingga dapat mencegah keausan dengan membentuk laipsan (Oil Film) pada permukaan logam/part.

2. Pendingin Oli membawa panas yang terjadi dari gesekan yang ditimbulkan atau akibat pembakaran (pada cylinder block & piston). Pada mesin-mesin dengan kecepatan putaran tinggi, panas akan timbul pada bantalan-bantalan sebagai akibat dari adanya gesekan yang banyak. Dalam hal ini pelumas berfungsi sebagai penghantar panas dari bantalan untuk mencegah peningkatan temperatur atau suhu mesin.

3. Pembersih Oli membawa partikel-partikel metal debu, oxidasi dan hydrocarbon. Saat membuka tutup oli pada mesin, biasanya terlihat.

4. Perapat/sealing Oli juga berfungsi sebagai seal/perapat kompresi pada piston. Akan ikut terbawa pada saat kompresi dan ikut keluar pada saat expansi.

5. Anti karat/korosi. Melindungi permukaan part/metal dari hubungan langsung dengan air dan udara.

6. Baffer / bantalan Meneruskan tekanan secara terpencar dan meredam benturan. Biasanya terjadi jika dua buah gear saling bertemu/berbenturan, sehingga tumbukan/benturan tidak terjadi secara paksa/kasar.

Untuk beberapa keperluan tertentu, aplikasi khusus pada fungsi tertentu, oli dituntut memiliki sejumlah fungsi-fungsi tambahan. Mesin diesel misalnya, secara normal beroperasi pada kecepatan rendah tetapi memiliki temperatur yang lebih tinggi dibandingkan dengan Mesin bensin. Mesin diesel juga memiliki kondisi kondusif yang lebih besar yang dapat menimbulkan oksidasi oli, penumpukan deposit dan perkaratan logam-logam bearing.

2.2. Cara Kerja Umum Sistem Pelumasan Cara kerja sistem pelumasan adalah menyalurkan oli mesin ke komponen yang berputar dan bergeser agar mesin dapat bekerja dengan normal dan juga berperan penting sebagai pendingin. Bagian-bagian yang perlu diberi pelumasan adalah : Dinding silinder, torak, cicin torak, dan pena torak Poros engkol beserta bantalannya Poros nok dan bantal;annya Meanisme katup Rantai timing dan poros pompa

Dalam sistem pelumasan yang biasa digunakan pada kendaraan bermotor adalah : a. Sistem tekan Sistem ini digunakan pada mesin besar dan mesin kendaraan. Dimana minyak pelumasnya berada dalam keadaan lebih dingin dari pada bagian mesin lainnya. Minyak ditekan dan dialirkan melalui berbagai saluran dengan pompa kesemua

bagian yang membutuhkan seperti beberapa bantalan, poros, batang penggerak, pipa di dalam kerangka mesin, dan bagian lain yang akan dilumasi. b. Sistem percikan Sistem ini digunakan pada mesin kecil yang berdaya rendah karena proses dan kontruksinya sederhana. Setiap kali pangkal batang penggerak (big end) mencebur kedalam mangkok pelumas, memercikan keatas ke dinding silinder dan bantalanbantalan atau bagian-bagian lain yang harus dilumasi. Aplikasi sistem pelumasan percik banyak dijumpai pada kendaraan dua langkah yang kuno seperti pada vespa dan pada L2 Super. Sistem pelumasan percik hanya diterapkan pada engine yang mempunyai rpm dan daya rendah serta pada engine yang memiliki konstruksi katup-katup samping. Selain itu sistem ini hanya diaplikasikan pada kendaraan satu silinder dan bentuk engine yang relatif kecil. Pada engine multi silinder sudah menggunakan sistem paksa dan sistem rendam yang diterapkan pada transmisi dan differensial. Sekarang ini juga masih ada engine yang menggunakan sistem percik seperti pada motor bensin 5,5 HP yang banyak digunakan pada mesin penggerak kompresor. c. Sistem kombinasi Sistem ini digunakan untukmenjaga agar sistem pelumasan agar tetap bekerja dengan baik jika pompa mengalami gangguan. Pada sistem ini pompa minyak pelumas memompakan minyak pelumas dari bak minyak pelumas kedalam mangkok minyak pelumas dan pangkal batang penggerak bertugas memercikan minayk pelumas ke bagian-bagian yang perlu dilumasi.

2.3. Komponen-Komponen Sistem Pelumasan a. Pompa pelumas Pompa oli merupakan komponen penting dimana oli yang terkumpul dalam oli dan dihisap kedalam pompa oli melalui saringan dan pipa hisap yang kemudian dialirkan keseluruh komponen yang membutuhkan pelumasan. Pompa pelumas yang banyak digunakan pada kendaraan bermotor ada tiga jenis diantarnya : 1. Pompa pelumas jenis roda gigi. Pompa ini terdiri atas roda gigi penggerak (drive gear) dan roda gigi yang bergerak dan digerakkan oli camshaft. Jenis ini banyak digunakan pada motor yang menggunakan prinsip kerja 4 langkah. 2. Pompa pelumas jenis sentrifugal (pompa rotor/trikoida). Banyak digunakan pada kendaraan bermotor dan motor diesel putaran tinggi, keistimewaan jenis ini

adalah ringan dan tidak memakan banyak tempat serta sederhana. Pompa ini memiliki dua buah rotor yang porosnya tidak simetris yang apabila bergerak maka kedua rotor akan terjadi perubahan volume ruangan yang mangakibatkan trjadinya pemompaan. 3. Pompa pelumas jenis plunyer. Pompa ini umumnya dipakai pada motor 2 langkah sebagai pompa pelumas silinder dengan menggunakan oli samping. Pompa plunyer mempunyai komponen sebagi berikut : a. Roda pompa b. Roda gigi penggerak c. Distribitor d. Plunyer e. Pengatur langkah plunyer

b. Saringan minyak pelumas Saringan oli digunakAn untuk menyaring kotoran pada minyak pelumas yang akan beredar keseluruh komponen yang bergerak dan juga untuk menghindari dari kerusakan.

c. Ventilasi ruang engkol Berfungsi untuk menjaga kekentalan minyak pelumas atau mencegah terjadinya kerusakan minyak pelumas yang ada di dalam ruang engkol dari reaksi kimia yang terjadi akibat bercampurnya minyak pelumas dengan blow by gas (campuran bahan bakar da udara yang bocor dari silinder yang tidak ikut terbakar). Jenisnya dibedakan menjadi dua, diantranya : ventilasi terbuka dan ventilasi tertutup.

d. Penunjuk tekanan minyak pelumas Penunjuk tekanan minyak pelumas ada dua macam yaitu jenis mekanik dan menggunakan arus listrik, sedangan yang paling banyak digunakan adalah penunjuk tekanan minyak pelumas yang menggunakan arus listrik yang berjenis kontak tekan dan kumparan elektromagnetik.

e. Pendingin oli (oli cooler) Pendingin oli yang banyak digunakan adalah pendingin air yang ditempatkan dibawah radiator dan untuk menghindari dari penyumbatan maka dilengkapi dengan bypass ketika terjadi penyumbatan maka dapat langsung dialirkan melalui katup bypass.

2.4

Jenis Pelumas Oli Mineral Oli mineral terbuat dari oli dasar (base oil) yang diambil dari minyak bumi yang telah diolah dan disempurnakan dan ditambah dengan zat - zat aditif untuk meningkatkan kemampuan dan fungsinya. Beberapa pakar mesin memberikan saran agar jika telah biasa menggunakan oli mineral selama bertahun-tahun maka jangan langsung menggantinya dengan oli sintetis dikarenakan oli sintetis umumnya mengikis deposit (sisa) yang ditinggalkan oli mineral sehingga deposit tadi terangkat dari tempatnya dan mengalir ke celah-celah mesin sehingga mengganggu pemakaian mesin. Oli Sintetis Oli Sintetis biasanya terdiri atas Polyalphaolifins yang datang dari bagian terbersih dari pemilahan dari oli mineral, yakni gas. Senyawa ini kemudian dicampur dengan oli mineral. Inilah mengapa oli sintetis bisa dicampur dengan oli mineral dan sebaliknya. Basis yang paling stabil adalah polyol-ester (bukan bahan baju polyester), yang paling sedikit bereaksi bila dicampur dengan bahan lain. Oli sintetis cenderung tidak mengandung bahan karbon reaktif, senyawa yang sangat tidak bagus untuk oli karena cenderung bergabung dengan oksigen sehingga menghasilkan acid (asam). Pada dasarnya, oli sintetis didesain untuk menghasilkan kinerja yang lebih efektif dibandingkan dengan oli mineral.

Sistem pelumasan tidak hanya sebatas oli, masih ada beberapa hal yang berhubungan dengan pelumasan, seperti Grease atau bahasa bengkelnya "gemuk". Grease ini berbentuk semi-solid (seperti margarim makanan) yang berfungsi hampir sama dengan oli, dengan dasar sebagai pelumas. Grease ini juga di design untuk beberapa faktor tertentu seperti ketahanan terhadap suhu/temperatur dan air.

Grease ini memiliki karakter : - Pada temperatur normal ke bawah (nol) akan tetap berbentuk semi-solid - Pada temperatur tinggi atau mencapai suhu leleh/cair pada saat mesin bekerja akan mencair dan melumasi bagian permesinan.

Berdasarkan tipe grease terdapat 2 macam yaitu 1. Lithium Grease, grease ini memiliki kharakter tahan terhadapa panas tinggi dan tahan pada putaran tinggi 2. Calcium Grease, grease yang ini lebih tahan terhadap air dibandingkan Lithium Grease

2.5. Kekentalan (Viskositas) Kekentalan merupakan salah satu unsur kandungan oli paling rawan karena berkaitan dengan ketebalan oli atau seberapa besar resistensinya untuk mengalir. Kekentalan oli langsung berkaitan dengan sejauh mana oli berfungsi sebagai pelumas sekaligus pelindung benturan antar permukaan logam. Oli harus mengalir ketika suhu mesin atau temperatur ambient. Mengalir secara cukup agar terjamin pasokannya ke komponen-komponen yang bergerak. Semakin kental oli, maka lapisan yang ditimbulkan menjadi lebih kental. Lapisan halus pada oli kental memberi kemampuan ekstra menyapu atau membersihkan permukaan logam yang terlumasi. Sebaliknya oli yang terlalu tebal akan memberi resitensi berlebih mengalirkan oli pada temperatur rendah sehingga mengganggu jalannya pelumasan ke komponen yang dibutuhkan. Untuk itu, oli harus memiliki kekentalan lebih tepat pada temperatur tertinggi atau temperatur terendah ketika mesin dioperasikan. Dengan demikian, oli memiliki grade (derajat) tersendiri yang diatur oleh Society of Automotive Engineers (SAE). Bila pada kemasan oli tersebut tertera angka SAE 5W-30 berarti 5W (Winter) menunjukkan pada suhu dingin oli bekerja pada kekentalan 5 dan pada suhu terpanas akan bekerja pada kekentalan 30. Tetapi yang terbaik adalah mengikuti viskositas sesuai permintaan mesin. Umumnya, mobil sekarang punya kekentalan lebih rendah dari 5W-30 . Karena mesin belakangan lebih sophisticated sehingga kerapatan antar komponen makin tipis dan juga banyak celah-celah kecil yang hanya bisa dilalui oleh oli encer. Tak baik menggunakan oli kental (20W-50) pada mesin seperti ini karena akan mengganggu debit aliran oli pada mesin dan butuh semprotan lebih tinggi.

Untuk mesin lebih tua, clearance bearing lebih besar sehingga mengizinkan pemakaian oli kental untuk menjaga tekanan oli normal dan menyediakan lapisan film cukup untuk bearing.

2.6. Klaisifikasi minyak pelumas Minyak pelumas dapat diklasifikasikan denagn standar American Petroleum Institute (API) dan dites sesuai dengan standarnya. Klasifikasi API juga menambah tingkat SAE nya.

Klasifikasi minyak pelumas untuk mesin bensin : SA : Minyak murni tanpa bahan tambahan (additive) SB : Untuk mesin ringan yang mengandung sedikit anti axidant SC : Yang mengandung detergen, dispersent, anti oxident dll SD : Untuk mesin yang beropersi dengan temperature tinggi, mengandung

resisting,agent, anti aoxidant dll SE : Untuk mesin sedang mengandung resisting,agent, anti aoxidant yang banyak SF : Tingkat aliran tinggi dengan pemakaian resistane dan daya tahan yang lebih rendah

Klasifikasi minyak pelumas untuk mesin diesel CA : Untuk mesin diesel operasi beban ringan CB : Untuk mesin diesel operasi sedang CC : Untuk mesin diesel memakai turbo charge, dan temperature sedang CD : Untuk mesin diesel memakai turbo charge dengan kandungan sulfur pada bahan sedikit

Klasifikasi minyak peluams untuk roda gigi. GL1 : Mineral murni tapi jarang dipakai (roda gigi) GL2 : Minyak hewani dan tumbuhan (worm gear) GL3 : Mengandug bahan tambah extreme pressure resisting (tranmisi manual dan stering gear) GL4 : Mengandug bahan extreme pressure resisting lebih banyak dari GL3 (hypoid gear)

GL5 : Kandungan extreme pressure resisting lebih banyak dari GL4,-dan kondisi lebih berat (differensial dilengkapi hypoid gear )

Dibedakannya pelumasan antara motor bensin dan diesel adalah karena: 1. Diesel mempunya tekanan kompresi yang lebih tinggi dengan suhu kompresi yang tinggi sehingga memudahkan oksidasi. 2. Kadar sulfur bahan bakar lebih besar, dapat terjadi pembentukan asam yang lebih kuat.

BAB III. PENUTUP

3.1. Kesimpulan Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang diberikan diantara dua benda bergerak, dan fungsi utamanya adalah untuk mengurangi gaya gesek. Cara kerja sistem pelumasan adalah menyalurkan oli mesin ke komponen yang berputar dan bergeser agar mesin dapat bekerja dengan normal dan juga berperan penting sebagai pendingin. Jenis-jenis pelumas yaitu oli mineral, oli sintetis, dan grease (gemuk). Minyak pelumas diklasifikasikan dengan standar American Petroleum Institute (API) dan dites sesuai dengan standarnya dimana klasifikasi minyak pelumas untuk mesin bensin adalah SA, SB, SC, SD, SE, dan SF; sedangkan klasifikasi minyak pelumas untuk mesin diesel adalah CA, CB, CC, dan CD.

REFERENSI

http://id.wikipedia.org/wiki/Oli_mesin http://id.wikipedia.org/wiki/Pelumas http://www.lumasmultisarana.com/index.php/blog/Bagaimana-cara-menentukan-ataumemilih-pelumas-.html http://www.lumasmultisarana.com/index.php/blog/Pengertian-Pelumas-.html http://www.lumasmultisarana.com/index.php/blog/Penggunaan-pelumas-.html http://www.taxidoinfo.co.cc/2010/04/penggunaan-dan-pemeliharaan-system.html http://www.tiger-revolution.org/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=11 http://www.tiger-revolution.org/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=12