Anda di halaman 1dari 29

regangan linear.

Sedangkan letak garis netral tergantung pada jumlah tulangan baja tarik yang dipasang dalam suatu penampang sedemikian sehingga blok tegangan tekan beton mempunyai kedalaman cukup agar dapat tercapai keseimbangan gaya-gaya, di mana re-

PD

FC

an bston terlampaui, maka akan berlangsung keruntuhan dengan beton hancur secara mendadak tanpa diawali dengan gejala-gejala peringatan terlebih dahulu. Sedangkan +attila suatu penampang balok beton bertulang mengandung jumlah tulangan baja tarik hrang dari yang diperlukan untuk mencapai keseimbangan regangan, penampang demikifl disebul bertulangan kurang (underreinforced). Letak garis netrat akan lebih naik se-

Apabila penampang balok beton bertulang mengandung jumlah tulangan baja tarik lebih banyak dariyang diperlukan untuk mencaFai t<eseimbangan regangan, penampang balok demikian disebut bertulangan lebih (overreinforced). Berlebihnya tulangan baja tarik mengakibatkan garis netral bergeser ke bawah, lihat Gambar 2.8. Hal yang demikian pada gilirannya akan berakibat beton mendahului mencapai regangan maksimum -0,003 sebelum tulangan baja tariknya luluh. Apabili penampang balok tersebut dibeblrii iromen lebih besar lagi, yang berarti regangannya semakin besar sehingga kemampuan regang-

ww r w.n ea ua te nce ! 5 .co T m ria


Gambar 2.8. Variasi letak garis netral

pada posisi di mana akan terjadi secara bersamaan regangan luluh pada bala tarik dan regangan beton tekan maksimum O,OO3, maka penampang disebut bertulangan seimbang. Kondisi keseimbangan regangan menempati posisipenting karena merupakan pembatas antara dua keadaan penampang balok beton bertulang yang berbeda cara hancurnya.

sultante tegangan tekan seimbang dengan resultante tegangan tarik () H o). Apabila = pada penampang tersebut luas tulangan baja tariknya ditambah, kedalamaru'blok tegangan beton tekan akan bertambah pula, dan oleh karenanya letak garis netral akan bergeser ke bawah tagi. Apabila jumlah tulangan baja tarik sedemikian sehingga letak garis netral

dikit daripada keadaan seimbang, lihat Gambar 2.8, dan tulangan baia tarik akan mendahu' lui mencapai regangan luluhnya (tegangan luluhnya) sebelum beton mencapai regangan maksimum 0,003. Pada tingkat keadaan ini, bertambahnya beban akan mengakibatkan tu' langan baja mulur (memanjang) cukup banyak sesuai dengan perilaku bahan baia (lihat diagram f-e baja), dan berarti bahwa baik regangan beton maupun baja terus bertambah tetapi gaya tarik yang bekerja pada tulangan baja tidak bertambah besar. Dengan demikian berdasarkan keseimbangan gaya-gaya horisontal 2 H=O, gaya beton tekan tidak mungkin

PEMBATASAN PENULANGAN TARIK

berikan tanda-tanda keruntuhan, sedangkan bentuk kehancuran dengan diawali han' curnya beton tekan terjadi secara mendadak tanpa sempat memberikan peringatan. Tentu
saja cara hancur pertama yang lebih disukai karena dengan adanya tanda peringatan, resiko akibatnya dapat diperkecil. Untuk itu, standar SK SNI T-15-1991 -03 menetapkan pem batasan penulangan yang perlu diperhatikan. Pada pasal 3.3.3 ditetapkan bahwa jumlah tulangan baia tarik tidak boleh melebihi 0,75 darijumlah tulangan baja tarik yang diperlukan untuk mencapai keseimbangan regangan,

PD FC

ww

Apabila jumlah batas penulangan tersebut dapat dipenuhi akan memberikan jaminan bah' wa kehancuran daktail dapat berlangsung dengan diawali meluluhnya tulangan baja tarik terlebih dahulu dan tidak akan terjadi kehancuran getas yang lebih bersilat mendadak. Ungkapan pembatasan jumlah penulangan tersebut dapat pula dihubungkan dalam kaitannya dengan rasio penulangan (p) atau kadang-kadang disebilt rreio baia, per' bandingan antara jumlah luas penampang tulangan baja tarik (A") terhadap luas elektif penampang (lebar bx tinggi efektif d),

nu
Ass0,75

Dengan demikian adadua macam cara hancur, yang pertama kehancuran diawali meluluhnya tulangan baja tarik berlangsung secara perlahan dan bertahap sehingga sempat mem'

r w. ea

2..6

t an e!
As6

ningkat taiam sehingga dapat merupakan tanda awal dari kehancuran. Meskipun tulangan baia berperilaku daktail (liat), tidak akan tertarik lepas dari beton sekalipun pada waktu terja' di kehancuran.

ce. 5 com T

bertambah sedangkan tegangan tekannya terus meningkat berusaha mengimbangi be' ban, sehingga mengakibatkan luas daerah tekan beton pada penampang menyusut (berkurang) yang berarti posisi garis netral akan berubah bergerak naik. Proses tersebut di atas terus berlanjut sampai suatu saa't daerah beton tekan yang terus berkurang tidak mampu lagi menahan gaya tekan dan hancur sebagai efek sekunder. Cara hancur demikian, yang sangat dipengaruhi oleh peristiwa meluluhnya tulangan baja tarik berlangsung meningkat secara bertahap. Segera setelah baja mencapaititik luluh, lendutan balok me-

ria

p=+ bd
Apabila pembatasan dibedakukan, di mana rasio penulangan maksimum yang diijinkan dibatasi dengan 0,75 kali rasio penulangan keadaan seimbang (p6 ), sehingga : Pmaks= 0,75 p6

t-ffiuk menentukan rasio penulangan keadaan seimbang (nJ dapat diuraikan berdasarkan pada Gambar 2.9 sebagai bedkut: Letak garis netral pada keadaan seimbang dapal ditentukan dengan menggunakan segi tiga sebanding dari diagram regangan. 0,003

(o'*.4)
200.000 MPa, maka: (d) o, oo3

Dengan memasukkan nilai


3__

E"-

"' -- -..-)-iooo+f,
^-

e.c
r----n
9,6 t"',

600 {d)

te! c
nu
Gambar 2.9.

=(o.oog*-t-) 200000i \

5 o T

m
(z-t)

^"' -

(0,85 f"'l1rb

Aso--

ww

FC
P&d
b

PD

ffi

drag,am,eganga" offJ:iijffiXXn;i,jff
Keadaan Seimbang Regangan

an
a=0,Gt .H

dan, karena 2H=Q dan Np6= N74, mdka (O,8Sf",lB1c6b= A"ofy A"ofY

r w. ea

ria

co=d

p6bdfy
{{0,85 fc')pp

pu d fy_ co=@

(z-z)

Dengan menggunakan persamaan

(2-l)

6,B,) ^ Po=Ti*r""i
(o,as
600

dan

(2-2ldapat dicarip6

(z-s)

qglfoh*2j?

Penyelesaian.

t an e!
nu
Gambar 2.10. Sketsa Contoh 2.2

5 co T
ri,

m
t.i

Pada contoh 2.r, tentukan jumtah turangan baja tarik yang dipertukan untuk mencapai keadaan seimbang, di mana d 570 b __ 2SO = {,= O,ooz Dengan mengacu kepada definisi keadaan keseimbangan, ^l*, di"gr"^ regangan harustah seperti ditunjukkan padaGambar2.t0.
.J.Lt t'-{= r . Ait -\:\',, tt;. lry=\tt;\

0,002 c6= 0,003(570 - c6) 0,OO2 c6+ 0,003 c6= 1,71

PD

ww
diagram legangan dan kopet mornen dalarn

FC

r w. ea

"o =@-") 0,003O,OO2

ce.

ria l
C,t = --'i-

Dari persamaan terakhir tersebut di atas, untuk mendapatkan nilai p6dapat "'digunakan daf tar yang dibuat berdasarkan berbagai kombinasi nilai t"',

d,if-

fEs

c, =6liE= 342mm
do = ft co= 0,85(3421= 2go,7 mm Noo = (0,95 t",) a6b

1,71

= 0,85(30X290,7X2501 Nro = A"afy


Nrn = Noo maka tulangan yang diperlukan,

0-s

= 1853,2 kN

_1853,2 (10)3

l['i-=4633

nm2

5 co T
*

Dengan membandingkan luas tulangan baja yang diperlukan untuk mencapai keadaan seimbang dengan ruas turangan tersedia pada penampang barok (g,,2s= o* pat disimpulkan penampang tersebul bertutangan kurang,

ria
(naik 100olo)

PD

2946(M) a t =1eaa - -- o^85i6ffii = I u4'u th


(1

Mn = 0,85(30)

ww

FC

Hallersebut dapat oijllaskan P:la bahwa untuk balok dengan dimensi tertentu, pertambahan A" akan disertai dengan berkurangnya panjang lengan momen pada kopet momen dalam (z = d _ na). Agar didapat gambaran yang jelas kita tinjau ulang permasalahan pada Contoh 2.1 terdahulu dengan A" digandakan dua kali dan kemudian dihitung nilai Mn untuk dibandingkan hasilnya, sebagai berikut:

A"

= 2(1473) = 2946 mmz

s4s)

1zsol(szo_T)r,0,.

Padahal sprti didapat dari Contoh 2.1, Mr=g0g,54 kNm, hanya ada kenaikan sebesar

ce.

9?1ry1{!ruk barok y?ns e_q!t?, p.enqtqlsan rinsan rerl:-l*t+[t{.oip:l'+an lellh eJ9!e'n-d,b3!d!Ig,fan de0gan penulangan berat.

r w.n ea ua te n !
x10Oh=82/o

ngan meluluhnya tulangan baja tarik. Pemeriksaan apakah_persyaratan balok tipe daktail terpenuhidilakukan sebagai berikut: //.'O,75 Asa= 0,75(4633) mmz = S47S mm2> 14TS mmz

di mana hancurnya diawali de-

= 562,7 kNm
:

F6e7 -308,54)

(3Oq#)

Contoh 2.3
Femeiksaan ulang daffiilitas pada permasalahan contoh 2.r dengan menggunakan 0.75 p6sebagai pembatas, menggunakan TabetA_6
Apendiks A.

l
t+is,rli

Not 1^-_Nm vs ty _ fy

Penyelesaian.

As 1473 p=fr= 250(5?0)

= o,o1o3

DariTabel A-6 Apendiks A, untuk fy= 4O0 MPa dan f"'= 30 MPa, didapat:
Pmaks= 0,75 P6= 0,0244 > 0,0'103 peraturan Persyaratan dapat juga diungkapkan dalam prsanaan Aslmaksl= O,7S Ash d. manaAsDsudah dihitung pada Contoh 2.2. As(maks)= 0'75(4633) = 3466 mm2> 1473 mmz Tabel A-6 pada Apendiks A memberikan nilai 0,75 podan pyang dbarankan untuk berbagai kombinasitegangan luluh baja dan kuat beton, untuk komponen balok dan plat. Tabel tersebut digunakan sebagai acuan prahis untuk menentukan agar balok memenuhi persyaratan daktilitas yang ditetapkan. Dengan demikian konsep dan kriteria pnampang Seimbang berguna sebagai acuan atau palokan, baik untuk perencanaan ataupun analisis dalam menentukan cara hancur yang sesuai dengan peraturan. Apabila jumlah tulangan baia tarik melebihitulangan baja tarik yang diperlukan untuk mencapai keadaan seimbang, akan terjadi hancur getas, sedangkan di lain pihak bila jumlah luas tulangan baja tarik kurang daritulangan baja tarik yang diperlukan untuk mencapai keadaan seimbang, terjadi

r w.n ea
\
\, I

hancur daktail. SK SNIT-15-1991'03 pasal3.3.5. persamaan (3.3-3) juga memberikan batas mini'rttfic mum rasio penulangan sebagai berikut: _ ,'i

t e n !
ua
-.,- -f, ,Pmtntmumr,+

ce. 5 com T
=*

PD

Batas minimum penulangan lebih menjarnin tidak terjadinya hancur secara tiba'tiba seperti yang terjadi pada balok tanpa tulangan. Karena bagaimanapun, balok beton dengan penulangan tarik yang sedikit sekalipun harus mempunyai kuat momen yang lebih besardari bihk tanpa tqlangan, dtmgn.a ygng lgrakhir tg-r-sebut dtperbi_t!ruIan leEglgkanmodulus p9ahnya. ftmbarasan minimum sepertidi atas tidak berlakuintuk pfffiisU{!!n kelebhlan tetap dan plat dari batok T yang rerrarik. penutangan minimum plat harus mempeihitungkan kebutuhan memenuhipersyaratan tulangan susutdansuhusepertiyangtelahdiaturdalamSKSNlT.15.1991.03pasal3.16.12.

ww

FC

ria l
{!'z4l
)_qn
)1-f ,
11

p,, = "4 -_ c oo5dl


6 o.x,lz"l,.)

-r 2.7 PERSYARATAN KEKUATAN

.. "]

. Jt

.: _' - 0+f.i ; ' (-r1Yt':' -:t 6'q7'tr{{t


-

i,(

Penerapan laktor keamanan dalam struktur bangunan di satu pihak bertujr*.=th*?"ngendalikan kemungkinan terjadinya runtuh yang membahayakan bagi penghuni, di lain pihak harus juga memperhitungkan laktor ekonomi bangunan. Sehingga untuk mendapatkan lahor keamanan yang sesuai, perlu ditetapkan kebutuhan relatif yang inOin dicapai

/.

trtt*

dilakai sebagai dasar konsep laktor keamanan tersebut. Struktur bangunan dan

tr

trsrponen-komponennya harus direncanakan untuk mampu memikul beban lebih di atas bban yang diharapkan bekerja. Kapasitas lebih tersebut disediakan untuk memperhiurtgkan dua keadaan, yaitu kemungkinan terdapatnya beban kerja yang lebih besar dari yang ditetapkan dan kemungkinan terjadinya penyimpangan kekuatan komponen strukakibat bahan dasar ataupun pengerjaan yang tidak memenuhi syarat. Kriteria dasar kuat rencana dapat diungkapkan sebagai berikut:

Kekuatan yang tersedia

Kekuatan yang dibutuhkan

nasi pembebanannya terdapat dalam sK sNl r-15-1 991 -03 pasal s.2.2 ayat 2,3, dan 4.

Sebagaicontoh beban rencana adalah wu= 1,2ws1+ 1,6w4, sedangkan momen perlu atau momen rsncana untuk beban mati dan hidup adalah Mu= 1,2Mp1+ 1,6M1y. Pengqunaan laktor beban adalah usaha untuk memperkirakan kemungkinan terdapat beban keria yang lebih besar dari yang ditetapkan, perubahan penggunaan, ataupun urutan dan metoda pelaksanaan yang berbeda. Seperti diketahui, kenyataan di dalam prahek terdapat beban hidup tertentu yang cenderung timbul lebih besar dari perkiraan awal. Lain halnya dengan beban mati yang sebagian besar darinya berupa berat sendiri, se-' hingga fahor beban dapat ditentukan lebih kecil. Untuk memperhitungkan berat struktur, berat satuan belon bertulang rata-rata ditetapkan sebesar 2400 kgf/ma 23 kN/ms dan = penyimpangannya tergantung pada jumlah kandungan ba;E-rufahgannya. Kuat ultimit kornponen struktur harus memperhitungkan seluruh beban kerja yang bekerja dan masiqrma-sing dikalikan dengan laktor beban yang sesuai . ,,, Pasal3.2.3 memberikan ketentuan konsep keamanan lapis kedu4,ldah reduksi kap6fas teoretik komponen struhur dengan menggunakan laktor reduksi kekuatan (f)

PD FC ww r w.n ea ua te n !

geser, dan gaya-gaya lain yang berhubungan dengan beban rencana. Beban rencana atau beban terfaktor didapatkan dari mengalikan beban keria dengan faktor beban, dan kemudian digunakan subskrip u sebagai penunjuknya. Dengan demikian, apabila digunakan kata sifat rencana alau rancanganmenunjukkan bahwa beban sudah terfahor. Untuk beban matidan hidup SK SNIT-15-1991-03 pasal 3.2.2 ayal l menetapkan bahwa beban rencana, gaya geser rencana, dan momen rncana ditetapkan hubungannya dengan beban kerja arau beban guna melalui persamaan sebagaiberikut: U= 1,2D+ 1,6L persaraan (3.2-l ) SK SNt T-15-1991 -09 dimana Uadalah kuat rsncana (kuat perlu), D adalah beban mati, dan I adalah beban hidrp. Faktor beban berbeda untuk beban mati, beban hidup, beban angin, ataupun beban gempa. Ketentuan laktor beban untuk jenis pembebanan lainnya, tergantung kombi-

ce.

5 com T ria

Kekuatan setiap penampang komponen struktur harus diperhitungkan dengan menggunakan kriteria dasar tersebut. Kqkuatan yang dibutuhkan, atau disebut kuat perlumenurut sKSNlr-15-1991-03, dapat diungkapkan sebagai beban rencana ataupun momen, gaya

dalam menentukan kuat rencananya. Pemakaian laktor 0 d.lmaksudkan untuk memperhitungkan kemungkinan penyimpangan terhadap kekuatan bahan, pengeriaan, ketidak tepatan ukuran, pengendalian dan pngawasan pelaksanaan, yang sekalipun masing'ma' sing laktor mungkin masih dalam toleransi persyaratan tetapi kombinasinya memberikan kapasitas lebih rendah oerrgen-den!!!qn,-ap-?g!9"BlS9lE !!!.4ikan de19. a1kyat iQg-ql-!eo--

kepcnlinggl' gsrta--tr-[9Iglllpgledisudah letnas,uKm{nRe$itunglel -linsKaldektilitas, kekuatannya dapa! dihingga sedemikian fal-lt l.9p n g-\gran.S.Ugtu kgmpongn itruktur tentukan. - ""'SiinOar pasal ayal2 memberikan laktor reduksi keku-

ggggl! a" Ptttir

{ffi, =*--Z---o'oo-,

(beban mati + beban hidup + beban angin atau gempa), sementara untuk tulangan baia tidak dibedakan. Koelisien bahan untuk beton maupun baja didasarkan pada tingkat penyimpangan pelaksanaan pekerjaan, berlaku baik untuk keadaan beban tetap maupun beban sementara. Dengan demikian, laktor keamanan suatu komponen struktur beton yang t&' bertulang tidak jelas karena nilainya merupakan gabungan dari beton dan bdia, gantung pada variasi komposisinya. Sedangkan koefisien beban, secara global clibedakan antara beban tetap dan beban sementara, berlaku baik untuk beton maupun baia' Beban tetap terdiri dari beban mati,termasuk berat komponen sendiri, dan beban hidup. Sedangkan beban sementara merupakan gabungan beban tetap dengan pengaruh-peng"run angin dan gempa. Dengan demikian, besar laktor keamanan untuk masing+nasing jenis beban (beban mati, beban hidup, beban angin, atau beban gempa) tidak dikepnamtahui proporsinya. Dengan demikian pula, analisis dan perencanaan untuk setifu pang harus dihitung dua kali, masing-masing untuk kondisi beban tetap dan beban semenlara. Dari kedua perhitungan tersebut diambil yang paling aman, sehingga tidak ia'
rang keputusan akhir didasarkan pada nilai yang terlalu konservatif.

PD FC

ww

r w. ea

nu

(2-41 Ms=S Mp Konsep keamanan seperti di atas, berbeda dengan apa yang telah kila kenaldalam PBI 1971. Dalam PBI 1g71, faktor atau koefisien keamanan terdiri dari koelisien pemakaian (Ip), bahan (ym), dan beban (y"). Koefisien pemakaian beton hanya dibedakan untuk te' gdngan tekan lentur pada beban tetap (beban mati+ beban hidup) dan beban sementara

t an e!

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kuat momen yang digunakan Ms (kapasitas momen) sama dengan kuat momn ideal Mndikalikan dengan laktor f,

TumPuan Pada

beton

= 0,70

ce. 5 com T

Tarik aksial, tanpa dan Oengiildniirr Tekan aksial, tanpa dan dengan lentur (sengkang) Tekan aksia l, tanpa dan dengan lentur (spiral)

ria
= 0,80 = 0,65

l
= 0,70

atan

2.2.3 SK SNtT-1S-1991-03 untuk berbagai mekanisme, antara lain s-ebagaiberikut: t/'Lentuitanpa beban aksid

2.8

ANALISIS BALOK TERLEHTUR


BERTULANGAN TARIK SAJA

feryi pggnpgts"Gr-o!.

ygt'g bglLlr,djlelehui elqr, rlerrghltunsirrr"i

Menentukan Mr:

FC

Penyelesaian.
A"=

PD

.^_A"_ 'P =fi =

ww

o -

P$QQ

r w. ea

hidup merata = 12 kN/m, Beban hidup terpusat 54 kN (di terryah bentang). Mutu = bahan ! fr,= gg 11trp", ty= 400 MPa. Pembufiian ditakukan dengan cara membandingkan kuat momen pra6is Mpdengan momen rencana yang ditimbutkan oteh beban rencana (beban brtafuor) Mu. Jika M p > M u maka batok akan memenuhi pasyratan
beban

p62

2600 0,01s8 I66'i4sot=


kN

nu

tr

t an e!
Oabl A-2)

Buktikan bahwa balok pada Gambar 2.11 tdah atkup memenuhi persyaratan SK SN, 15-1991-03. Beban mati merata = 12 kN/m (di tuar berat sendiri),

Contoh 2.4

5 co T
ce.
ffi
3m
pnampang

langan t-eli! 4g]c-m p_e.lrgnp-artg berlasasan nutu bahan dan jenis pembebanan yang sudah ditentukan. Penting sekali untuk meng$d perbedaan dua pekerjaan dan permasalahan tersebut dengan baik, masing-masrng memilikilangkah penyelesaian berbeda.

ria l

Analisis penampang balok terlentur dilakukan denEan terlebih dahulu mengetahui dimensi unsur-unsur penampang balok yarg tar*i dai:irnlah dan ukuran tulangan baja tarik (A"), lebar balok (b), tinggi elektif (d), tingEi tdaj (fi), f"', dan /n sedangkan yang dicari adalah kekuatan balok ataupun manilestrci khrdan dalam bentuk yang lain, misalnya menghitung Mn, alau memeriksa kehanddil dfrnensi penampang balok tertentu terhadap beban yang bekeria, atau menghitunE jrrr*dr beban yang dapat dipikul balok. Djlg1' E!ak' Uoses Pglgl-c?laan balok tedsntur dd*r menentukin satu atau lebjh unsur di-

r;i",rn"i *-

7--

-.8

{
(,=6.0 n
pdongn A-A
dlagram tgangan dan kopl momn dalam

Gambar 2.11

Sketsa Contoh 2.4

...1J[-14<on

e=

| -> Sebagat pagevra da,t fi-fy - 1-9 )( % 2'(0588 Q fu'/+o) anaz BALOK aa PERSEGI DAN

1s1'--ffi

roag*bf-_" -f-ABgU
z

PLAT BERTULANGAN TAFIK SAJA

U',rt*

Tiflongo

n -lwrw^!.

a3

ww r w.n ea ua te nce ! 5 .co T m ria


:

o,n=f #=0, 2600('to0) .-i' *q Gl6ffi;= tt@i65.t = 35e nm :S.pgt4r,F-, "=-H-:a'kAJior'[isr =(o-l)= +so-13Es=382Jnm Berdasarka2padatulangan baja , ,-,
1

Dai Tabl 4-6 didapat:0,75p6= 0,0244 <o,o244,Oapat oipastikan turangan baja tarik sudah meruruh. oo3s < o,o1eg =

l
{:l il,
I

,!!l-a ='4" f, z= 251gg14gox g82,1)lo{ = 39,Sg kNm { - \r'/ '..UR= QMr= O,8(Sg7,gg) 317,91 kNm --\ =
Menghitung

Mr:

''\

i ='-' ;j

PD FC
Mu

Berat sendiri balok= O,SO(O,3OX23) = 3,45 kN/m Beban 12 kN/m = Totalbeban mat i merata = 15,45 kN/m Beban mati merata terfahor = 15,45(1,2.= 1g,54 kN/m Beban hidup merata terfaktor = 12(1,6) = 19,20 kN/ m Beban hidup terpusat terfaktor 54(1,6) g6,4 kN = = w u = 19,54 + 19,2O 37,74 kN/m = Pu = 86,4 kN

tr

.''. i !.'

mati

=lwutz+leur
1

=i@7,7a|G1'+f 1aoa1(6)=2e9lg

kNm

< 31Zel

kNm

Terbukti bahwa balok tersebut memenuhi syarat.

tulangan bajatarik 0'75 p6' Atau.dengan kata lain, pendekatan dilakulan dengan mengabaikan kekuatan baia di luar jumlah 75o/o darijumlah tulangan tarik yang diperlukan untuk mencapai keadaan seimbang' untuk lebih jelasnya, contoh 2.5 berikut akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai hal tersebui

Analisis dapat pula diterapkan untuk suatu komponen struktur yang pada masa laru direncanakan berdasarkan pada metoda tegangan kerja (cara-n seperti diketahui, ). pada metode perencanaan tegangan (beban) kerja mungkin tidak menggunakan pembatasan rasio penutangan sehingga penurangan barok Meskipun har de_ mikian tidak sesuai dengan lilosofipeiaturan """1;;r;;;"ri"-o,n"n. yang diberlakukan sekarang, bagaimanapun balok'balok tersebut nyatanya sampai saat ini dilunakan uan ulterla, sehingga anal66 kapasitas milmennya secara rasional dilakukan
oengan hanya mempernitungkan

lah rata-rata. Dengan demikian, cara menyebut jumlah tulangan baja untuk plat berbeda dengan yang digunakan untuk komponen struhur lainnya. Kecuali diameter tulangan juga disebutkan jarak spasi pusat ke pusat (p.k.p) batang tulangan. Tabel A-5 memberikan
kemudahan untuk penetapan tulangan pokok baja tarik untuk plat. Sebagai misal, apabila plat diberi penulangan beila D22 (As = 380 mm z) dengan jarak pusat ke pusat 400 mm,. maka setiap pias satu meter lebar plat, luas tulangan baja rata-rata 2,50 x S80 gS0,3 mm2, = dan penulangan disebut: D22-4O0 atau A"= g50,3 mm2/m'. Standar SK SNI T-1 5-1 991'03 pasal 3. 1 6. 12 menetapkan bahwa untuk plat lantai serta atap strukturalyang hanya menggunakan tulangan pokok lentur satu arah, selain penulangan pokok harus dipasang juga tulangan susut dan suhu dengan arah tegak lurus terhadap tulangan pokoknya. Peraturan lebih jauh menetapkan bahwa apabila digunakan tulangan baja deformasian (BJTD) mutu 30 untuk tulangan susut berlaku syarat minimum As = 0,0020 bh, sedangkan untuk mutu 40 berlaku syarat minimum As 0,001g bh, di = mana b dan h adalah lebar satuan dan tebal plat. Di samplng itu juga berlaku ketentuan bahwa plat struhural dengan tebaltetap, jumlah luas tulangan baja searah dengan bentangan (tulangan pokok) tidak boleh kurang dari tulangan susut dan suhu yang diperlukan. Jarak dari pusat ke pusat tulangan pokok tidak boleh lebitr dari tiga katitebal plat atau
50O mm, sedangkan jarak tulangan susut dan suhu tidak boleh lebih dari lima kali tebal

PD

ww

FC

Qen!g-L_2_.O Suatu Ftat psntltrttn satu arah untuk struktur interioti penampangnya sepertitampak pada gambar, bentangannya 4 m. Digunakan tutangan baja dengan fv 300 Mpa, se= dangkan kuat beton 20 MPa, selimut beton pelindung tulangan baja 20 mm. Tentukan beban hidup yang dapat didukung oleh plat tersebut. Dari Gambar 2.14, tulangan baja Dl6 dengan jarak p.k.p. 180 mm dengan arah tegak lurus terhadap dukungan.

r w. ea

nu

Gambar 2.14. Sketsa Contoh 2.6

ce.

#j!.

atau 500 mm.

t an e!

Z. -<

5 com T ria

Penyelesaian
As= 11jl mm 4ny'

ftabelA-5)

' =o" b d 1000(134

d =165- zo-l9 2 1117 o

.;,,,'

:i

r.C

,{ ;
=o.oo8s

.:i".

dariTabel A-6, prrL"= 0,75 p6= 0,0241 l{d mhimum A".untuk plat adalah yang diperlukan untuk tulangan susut dan suhu. Ltsrtuk itu perlu dilakukan pemeriksaan nilai minimum dengan memeriksa A"o'ln.

a - =,

A"

Z =d -!=137-19'7 -1 27.1smm 22

hidup (yang akan dihitung). Notasi M, digunakan untuk momen yang dihasilkan dari beban terlaktor yang diperhitungkan.

wot
Mp

Cre
|{re

Mu(otl=16,e wolz)
M u(DLt

PD F

lan!

Mu(ttl =f (f,O wttt2)=22,98 =8.(?2'El -218


1,6 (4)-

ww

tersedia untuk msnahan beban hidup : 32,1-9,12 = 22,98 kNm


kNm

wtt

Sehingga dapat disimpulkan, prosedur menghitung Mp plat terlentur satu arah menggunakan cara yang sama dengan balok persegi.

2.11 PERENCANAAN BALOK TERLENTUR


BERTULANGAN TARIK SAJA'\.
Dalam proses perencanaan balok penampang persegiterlentur untuk frdan f"'tertentu, yang harus ditetapkan lebih lanjut adalah dimensi lebar balok, tinggi balok, dan luas pe..,i \

w.n

= beratplat =16,5(100)(23)(10)-a=3,80 t} = = e,1 2 kNm 1s,ao) (+)

a ua te
kN /m

nce
kN

.co m

Mn = A"tyz= 1117(gOOl(127,15)l0-6= 42,61 kNm (per meter lebar) Mp - O,8 Mn= O,8(42,61) - 34,1 kNm Selaniutnya menghitung beban hidup yang masih dapat didukung oleh plat. Perlu diingat bahwa beban yang harus didukung oleh plat adalah beban mati (berat sendiri) dan beban

!5

Tri
/nP

(0,85

fc,)b

mm - o, s5(20)(1ooo) =19.7 '

1117(3m)

al

As mtnrmum= O,OO2Obh= 0,0020(1000X165) = 330

fY,

mmz/m'(A"=

1117 mmz/m'

.9.2
--Hampir

KECIL KEKUATAN KOLOM EKSENTRISITAS

beban.aksial tekan secara konsentidak pernah diiumpai kolom yang menopang jarang ditemui' ei<sen'trisitas kecil sangat tr {ris, bahkan kombinasi b"b";';;i;i;;;gan perilaku kolom pada waktu meuntuk memperoleh dasar pengertian - -nahan pertama'tama akan dibahas kolom debeban dan timbulnya momen pada kolom' Apabila beban tekan P berimpit dengan sumngun U"Oan aksial tekan eksentrisitas kecil perhitungan teoretis mnghasilkan tebu memanlang kolom, berarti tanpa eksentrisitas' lintangnya' Sedangkan apabila gaya gangan tekan merala pada p"it'f""n penampang e lerhadap-sumbu memaniang' kolom tekan tersebut bekeria di suatu tsmpat borjarak jengan'timbulnya momen.M= fle)' Jarak a dinamakan.ekti.d.:rung melontur seiring ,r"in",i". pada keladian beban sumurixotom. Tidak sama halnya seperti n"v" pada seluruh permukaan pe"rrradap 'lanpa eksentrisitas, tgangan tokan yang terladitidak merata

'

;",lp""g ia"pi

'

PD

il:ffi;;;;,kian

timtul teuin nesar pada satu sisi terhadap sisi lainnya' "t<an yang merupakan keadaan khusus' kuat Kondisi pembebanan tanpa eksentrisitas

FC ww r w.n ea ua te n !
t?or;tis=T!il,:,!tit:T:,il
t-

beban aksiar nominar arau

apabila diuraikan lebih lanjut'akari dida-patlan:

ce. 5 com T
*''*''
;T"1n"'

' nsaku pada ranska bansunan

u""n

iO"**""

si*s,

pud"gutlv1^q:?:!"H::L"""-i:f1-:1"#ff:;

ria l

pngapasal 3'3'10 mensyaratkan poninjauan Solanjutnya SK SNI T-15-1991-03 penting di dalam perencanaan ko,langsingan kolom sebagai bahan pertimbangan meng-ingar semakin langsing atau smakin <iranya hal demikian o"p"t oit""!"tti limp"n"rnp-"ngny" akan berkurang brsamaan dengan ,r ing suatu kolom, kekuaran olgh ditentukan ketJniuhan kolgm langsing lebih I rya masalah tekuk yang Oinlaapi' Berdasarkan :1jln"i"","*r* \oucnini 1 laterai daripada kuat lentur penampangnya' (besar) dibandingkan roto. nJon ,mumnya bersilat lebih massal lebih kaku oengan demixian secarastruktural menjadi ,' peruntuk kolom beton bertulang' Hasil )on permasalahan kelangsingan-'Jan b-erkurang bertulang Uanwa teUin dari 907" kolom beton kiraan molalui pengamatan t"n'njufX"n qa{ 40% untuk porlallanpa pountur portat dengan pengaku' dan.!9!D

i '

:iJl"" j"r',ornu,

ffi;'ffiffi;il;;d"s"';;;

Po= Aslo,85lc' 1. - psl + ly psJ Po= As\o,85li+ pe (ty- 0,85tc')i Sdangkan poraluran membrikan ketentuan hubungan dasar anlara beban dengan kedi

Pu< 0 Pn kuatan sebagai berikut: mana, As = luas kotor penampang lintang kolom (mm2) A"r = luas lotal penampang penulangan memaniang (mm2)

pc

'

ngikat sengkang direduksi 2Oh dan unluk kolom dengan pengikat spiral direduksil5To. Ketenluan tersebut di atas akan memberikan rumus kuat bsban aksial maksimum seperti berikut: lJnluk kolom dengan penulangan spiral: '.'. :):.-.'1 Pers. SK SNI T-15-1991-03 (3.3-1) QP n6a*4= 0'850{0'85tc' (Ae - A") +

FC ww r w. ea

-..

PD

Beban aksial bekria dalam arah seiaiar sumbu memanjang dan titik kerianya tidak harus di pusat berat kolom, berada di dalam penampang melinlang, atau pusat geomstrik. Dalam mmperhilungkan kual kolom terhadap beban aksial eksentrisitas kcil digunakan d?$ar anggapan bahwa akibat bekerjanya beban balas (ultimit), beton akan mengalamilgangan sampi nilai 0,85L'dan tulangan bajanya mencapai tegangan luluh ty. Sehingga uniuk setiap penampang kolom, kuat beban aksial nominal dengan eksentrisitas kecii dapal dihllug .lang.sung dengan menjumlahkan gayagaya dalam dari beton dan iulangan baja pada waktu mengalami tegangan pada tingkat kuat maksimum lersobut. Selaniutnya, sewaktu ler,adi pecah lepas di bagian luar (slimut beton) di kdua makolom torsebut, berarti batas kekuatannya tlah terlampaui. Untuk itu, SK SNI T-15cam

untuk kolom dengan Wnulangan sengkang: '. O Pn(nakq-- 0,80010,851"' (Ao- A") + IrA"] '- ,.a,, ., :tl:r,.: -1):' ,-.: - , -i

nu

ttA"}

1991-03 pasal 3.2.3 ayat 2, di dalam ketentuannya menganggap bahwa kolom dengan

ce.
-.-,-.-r..^.

Maka s6bagai tambahan faktor reduksi kskuatan untuk memperhilungkan eksentrisitas millm m, poraluran 'Demberikan kolntuan bahwa kekuatan nominal kolom dengan pe-

t an e!

Sehingga apabila memang terjadi, pada kasus beban tanpa eksentrisitas, P, akan meniadi sama dengan Po Sungguhpun demikian, SK SNI T-15-1991-03 msnentukan bahwa di dalam praktek tak akan ada kolom yang dibebani lanpa eksentrisitas. Eksentrisitas bsban dapat ter.iadi akibat timbulnya momen yang antara lain disebabkan oleh kekangan pada ujung-uiung kolom yang dicetak secara monolit dengan komponen lain, pelaksanaan pemasangan yang kurang smpurna, ataupun penggunaan mulu bahan yang tidak msrata.

5 com T ria

Ast -;.,s

Prs. SK SNI T-15-1991-03 (3.3-2)

Po = kuat beban aksial nominal atau tsorotis tanpa ksentrisitas P, = kuat beban aksial nominal atau loortis dengan eksentrisitas lrtentu Pu = beban aksial terfaktor dengan eksentrisitas

akan berkurang.

9.3

PERSYARATAN DETAIL PENULANGAN KOLOM

Khusus untuk struktur bangunan berlantai banyak, kadang-kadang penulangan kolom dapat mencapai 4%, namun disarankan untuk tidak menggunakan nilai lebih dari 4% agar penulangan lidak berdesakan terutama pada titik pertemuan balok-balok, plat, dengan kolom. Sesuai dengan SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.3.9, pnulangan pokok memaniang kolom berpongikat spiral minimal terdiri dari 6 batang, sedangkan untuk kolom berpengikal sengkang bentuk segi empat atau lingkaran trdiri dari 4 batang, dan untuk kolom dengan pngikat sengkang berbntuk segitiga minimal terdiri dari 3 batang tulangan. SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.16.6 menetapkan bahwa iarak bersih anlara batang tulangan pokok memanlang kolom bsrpengikat sengkang alau spiral tidak boleh kurang dari 1,5 d6 atau 40 mm. Persyaratan jarak tersebut juga harus dipertahankan di tmpattempat sambungan lewatan batang tulangan. Tabel A-40 pada Apendiks A dapat digunakan untuk penetapan jumlah batang tulangan baia yang dapat dipasang dalam salu baris, baik untuk kolom persegi maupun bulat. Tebal minimum solimut beton pelindung tulangan pokok mmaniang untuk kolom berpengikat spiral maupun sengkang dalam SK SNIT-15-1991-03 pasal 3.16.7. ayal I ditetapkan tidak boleh kurang dari 40 mm.

PD

FC

Pembatasan jumlah tulangan komponen balok agar ponampang berprilaku daktail dapat dilakukan dngan mudah, sedangkan untuk kolom agak sukar karena beban aksial tekan lebih dominan sehingga keruntuhan tokan sulil dihindari. Jumlah luas penampang tulangan pokok memaniang kolom dibatasi dengan rasio penulangan ps anlata 0,01 dan 0,08. Penulangan yang lazim dilakukan di antara 1,5% sampai 3% dari luas penampang kolom.

ww r w.n ea ua te nce ! 5 .co T m ria

pengikat spiral masih lbih ulet sehingga diberikan laklor reduksi kekuatan 0 = 0,70 sedangkan kolom dengan pengikat sengkang 0,65. Faldor keamairan yang lbih tinggi dF berikan untuk kolom berpengikat sengkang dalam rangka mompethitungkan kcenderungan runluh secara mendadak dan terbalasnya kemampuan menyerap enrii pada kolom tersebul. Akan tetapi, apabila diambil keputusan untuk msnggunakan kolom berpangikat spiral dengan berdasarkan pada perlimbangan nilai kekuatan dan ekonomi (di luar psrtimbangan kotahanan dahail), harap diperhatikan bahwa peningkatan kokuatan yang diperoleh adalah 0,70/0,65 = 1,08 atau hanya 8% saja. Ungkapan lersobut memberikan gambaran mengenai kuat beban aksial maksimum yang dapat disediakan oleh kolom sebarang penampang dengan eksonlrisitas minimum. Seperli yang akan dibahas lebih lanjut pada Bab 9.9, dan dalam bentuk analisis pada Bab 9.11, untuk eksentrisilas (dengan momen yang menyertainya) yang semakin besar, 0P,

4 batang

6 balang

6 batang

8 balang

r w.n ea ua te n !
12 balang

12 batanc

5 co T
ce.

m
l4 balang
nakdmum 150 mm

Prsyaratan dtail sngkang scara rinci trcantum di dalam pasal 3.16.10 ayat S. Semua batang tulangan pokok harus dilingkup dengan sdngkang dan kait pengikat lateral, paling sodikit dengan batang D10. Batasan minimum tersebut dibrlakukan unluk kolom dengan lulangan pokok memaniang batang D32 atau lebih kecil, sedangkan untuk dF ameter tulangan pokok lebih besar lainnya, umumnya sengkang lidak kurang dari batang D12, dan untuk kesemuanya tidak menggunakan ukuran yang lebih besar dari batang D16 (lihatTabel A-40). Jarak spasitulangan sengkang p.k.p. tidak lebih dari 16 kali diametor tulangan pokok memaniang, 48 kali diameter lulangan sengkang, dan dimensi lateral terkecil (lebar) kolom. Selanlutnya disyaratkan bahwa tulangan sengkang atau kait pengikat harus dipasang dan diatur sedemikian rupa sehingga sudut-sudutnya tidak dibengkok dengan sudut lebih besar dari 135". Sengkang dan kait pengikat harus cukup kokoh unluk menopang batang tulangan pokok memaniang, baik yang letaknya di pojok maupun di sepanjang sisi ke arah lateral. Untuk itu batang lulangan pokok memanjang harus di-

PD

ww

FC

Gambar 9.3. Susunan penulangan kolom tipikal

ria

ps minimum = 0, ,15

(t\,

di mana

akan mmberikan

9'2)' kokuatan pada saat teriadi pecah lepas beton lapis teduar (lihat Gambar penulangan spiral akDari dslinisi ps terssbut dapat diksmbangkan perkiraan rasio kolom'. Ditentukan tual yang lebih priiis dikaitkan dengan silat fisik ponampang linlang diamotsr spiDs adalah spiral), tepi terluar bahwa Dl adalah diameter inti kolom (dari topi ke tulangan spiral' ral dari pusat ke pusal (p.k.p.), dan Aspadalah luas penampang baiang Selaniutnya ungkapan psdapat disusun sobagai berikut:

PD FC ww r w. ea
s i

volum tulanqan spiral salu putaran volume inti kolom setinggis = jarak spasi tulangan spiral p k p (pitch) A, = luas penampang lintang kotor dari kolom A"= luas penampang lintang inti kolom ( lepi luar k tepi luar spiral) tl00 MPa = tegangan luluh tulangan bala spiral, tidak lebih dari di atas secara teorelis Jumlah spiral yang didapal berdasarkan rasio penulangan tersebut spiral yang mampu mmperbaiki keadaan sewaklu tsriadi kehilangan
,

nu

Apabila perbedaan kecil antara Dc dan D" diabaikan, sehingga D" but di atas meniadi:

an te! ce. 5 com T ria


4onD" p"='67

gepaniang sisi kolom agar pasang dengan iarak brsih antaranya tidak lebih dari 150 mm di penga-turan Ourun!- lateral dapat berlangsung dengan baik' Gambar 9'3 memberikan pengikat' kait batang tulangan pokok memaniang, sengkang' dan pasal eeiyaratan detail penulangan spiral tercantum dalam SK SNI T-15-1991-03 D1o' dan umumnya tidak meng3.16.10 ay;t 4, dimana diameter minimum batang adalah boleh lebih dari 80 mm gunakan Lbih besar dari batang D16. Jarak spasi bersih spiraltidak spiral harus ditambahlan tidak kurang dari 25 mm' Pada setiap uiung kesatuan tulangan pnyambungan' harus dixan panlang penlangkaran 1,50 kali liliran' Apabila memerlukan kali diametsr dan tidak boleh kurang lakukan-deigan sambungan lewatan sepanlang penulangan spiral hadari 300 mm, bila perlu diperkuat dongan penglasan' Ksseluruhan mm' yang dicor menyalu derus dilindungi dngan selimut bton paling tidak setebal 40 lempatnya' dan bengan beton bagian inti' Lilitan tulangan sphal harus diikat kokoh.pada vertikal' tri-b"tut t"rl"t"l pada garisnya dengan menggunakan psngatur iarak ini: persamaan berikut Rasio penulangin spiral p"tidak boleh kurang dari

p"r"J*g-

(SK SNI T-15 -1991-03 pasal 3.3.9.3)

-Z-(s)
D"' maka rumus terso-

4 k=w

Aso

9.4

ANALISIS KOLOM PENDEK EKSENTRISITAS KECIL

adalah pomeriksaan terhadap kekuatan maksimum bahan yang rersedia dan berbagai d-e. tail rencana psnulangannya.

Anajisis kolom pendek yang menopang beban aksial eksenrrisiras kecil pada hakekatnya

kangnya.

Penyeleialan

Periksa rasio penul angan memanjang,

A-, ec=i=

52A4

*Ot=0'033

baia sudah sesuai.

Menghitung kuat
Q

PD FC
kol
t1

maksimum

ww

Pn@"@= 0,80C{0,85fc' (As - A") +

r w. ea
:

0'01 < Pr= 0,033 < 0,08 Dengan menggunakan Tabsl A-40, untuk l6bar inri 920 mm (lebar kolom dikurangi selimut beton di kedua sisi) dan dengan menggunakan batang tulangan baja memaniang D29, jumlah maksimum batang tulangan adalah 8. Dengan demikian jumlah batang tuiangan

= 0,80(0,65X0,85(30X160000 = 3151 kN

Pemariksaan pengikat sengkang : Penulangan sengkang menggunakan batang lulangan D10 umumnya dapat diterima un_ luk penggunaan batang lulangan pokok memaniang sampai dengan D32. Jarak spasitulangan sengkang tidak boloh lebih besar dari nilai yang terkocil berikul ini: 48 kalidiameter batang tulangan sengkang = 48(10) = 480 mm 16 kali diametgr batang tulangan memanjang = 16(29) 464 mm = lbar kolom = 400 mm Dengan demikian jarak spasi tulangan sengkang /m0 mm tolah memnuhi syarat. Susunan lulangan sengkang ditetapkan dengan cara msmeriksa jarak bersih antara batang-batang tulangan pokok memanlang, sssuai dengan persyaratan ridak boleh lsbih besai dari

nu te an ! ce. 5 com T ria


f, A"}

9.1 . Tentukan kekaatan beban aksiar maksimum yang tersedia pada kotom persegi dengan pengikat sengkang, dimensi 400x4OO mnp, tulangan pokok BD2g, sengXanj OtO,1e_ limul beton 40 mm (bersih), berupa kotom pndek, fc'= ZS Mpa, mutu bajaf, 4(fi l11lpg = baik untuk tulangan memanjang maupun sengkang. periksatah juga keiuatan seng-

Contoh

sza4l + ll00(5284)i(10)-g

150 mm. Apabila iarak bersih tersebut rebih besar dari r50 mm, sengkang memrrukan batang pngikat tambahan untuk memprkokoh kedudukan tulangan pokok sesuai dengan klentuan SK SNIT-15-1991-Og pasal 0.16.10. ayat S.g. Jarak brsih= 1/2{rlo0 - 2(40) _ 2(10) _ 3(29)} = 121 mm < 150 mm Maka tidak diprlukan tulangan pengikat lambahan untuk kolom ini.

Contoh 9.2.
Perhitungkan apakah korom dengan wnampang tintang seperri rergambar pada Gambar 9.4 cukup kuat untuk menopang beban aksial rencana p"= 2400 kN dengan eksentrisitre kecil, L'= 30 MPa, fv= ztQ| MPa, perikalah tulangan sengkangnya.

Penyelesaian
luas penampang lintang kotor dari kolom Maka,
3

Ir=

Pc=

43 6.1

1.41-1=

0,0303

Kuat kolom maksimum:

Pngnaxsl

PD

Pemeriksaan pengikat spiral : Dengan sK sNl r-i5-1991-03 pasar 3.16.10 ayar 4.2 dan Taber A-zro, dapat disimpurkan bahwa menggunakan batang tulangan D.l0 untuk spiral telah memenuhi syarat.

ww w

= 2zA6 kN ternyata kuat kolom masih lebih besar dari beban aksial yang bekerja.

FC

Gambar 9.4. Sketsa Contoh 9.2

nu

= 0,85f{0,85fc, (A o_ A") + f, A"} = 0,85(0, 70X0,8s(30X11 04 11 _ 34s6, 1 ) + 400(s496, 1 )Xl o)_3

r e . a

t an e!

0,01 < Pr= 0,0303 < 0,08 Dari Daltar A-rto, untuk diamster inti korom 300 mm pnggunaan 7 batang turangan baja D25 cukup memenuhi syarat.

ce. 5 com T
113411 mm2.

Dafi Tabel A-4 didapal Asr = 3436,1 mm2 dan unluk diameler kolom bulat gBO mm didapat

ria

Dengan menggunakan Tabel A-40, dihitung pr6 untuk nilai Ac sebagai brikui:

e"@b,)=o,4s(!^:-')#
p" aktuat

=r* (-|ffi
=o

-r)fi

=ooeo+

=i&=

ffi

oror >o,ozo4

Jarak bersih spiral tidak boleh lebih besar dari 80 mm dan tidak kurang dari 25 mm. Jarak bersih = 50 mm - 10 mm = 40 mm Maka, kolom yang sesuai dengan kondisi yang ditentukan t6lah mmenuhi syarat.

9.5

r w. ea
ec=4
A.,

nu

t an e!
(

Perencanaan kolom beton bertulang pada hakskatnya menentukan dimensi serta ukuran-ukuran baik beton maupun batang tulangan baia, sejak dad mnentukan ukuran dan bentuk penampang kolom, menghitung kebutuhan penulangannya sampai dengan memilih lulangan sengkang atau spiral sehingga didapat ukuran dan iarak spasi yang tepat. Karena rasio luas penulangan terhadap beton po harus berada dalam daerah batas nilai 0,01 < pr< 0,08, maka persamaan kuat perlu yang diberikan pada Bab 9.2 dimodifikasi untuk dapat memenuhi syarat tersebul. Unluk kolom dengan pengikat sengkang,

sehingga

Karena, Pu< C Pr(r,aks) maka dapat disusun ungkapan Ao perluberdasarkan pada kuat kolom Prdan rasio penulangan po, sebagai berikut:

Untuk kolom dengan Wngikat sengkang,


Ao perlu "g

PD

Untuk kolom dengan pengikat sphal,


A ^^-1,,__ 'u "c'-"0,85 olo,as4'(r-

ww

didapal, maka,

FC

0 Pn@"x")= 0,800{0,85fc'(As-

Ad = psAs QP4nax4 = 0,800 {0,B5fc' An- po Aol + l, po A} = 0,80fAcio,85[' (t - po) + ty oo']

'-"- --;--4-o8o olo,es4'(t- po1+treol


=

ce.

5 co T
41+troo|

PERENCANAAN KOLOM PENDEK EKSENTRISITAS KECIL

A")+ly (A"))

ria

Dengan dmikian dapat disimpulkan bahwa untuk menentukan bentuk dan ukuran kolom brdasarkan rumus di atas, banyak kemungkinan serta pilihan sahih yang dapat memenuhi syarat kekuatan untuk mnopang sembarang beban Pu. Untuk nilai p, yang lebih kecil mmberikan hasil Ao lebih bosar, demikian pula sebaliknya. Banyak pertimbangan dan laktor lain yang borpengaruh pada pemilihan bsntuk dan ukuran kolom, di antaranya ialah pertimbangan dan persyaratan arsitektural alau pelaksanaan pembangunan yang mnghendaki dimensi slruktur seragam untuk setiap lanlai agar menghemal aiuan kolom dan perancahnya.

Penyelesaian

Kuat bahan dan perkiraan prtelah ditentukan. Beban rencana terlaklor adalah: Pr= 1,6(850) + 1,2(12100) = 30zl0 kN Luas kotor ponampang kolom yang diperlukan adalah: Ao Perlu =

Ukuran kolom bujur sangkar yang diperlukan menjadi: y'(159144) = 399 mm Telapkan ukuran z1O0 mm, yang dengan demikian mengakibatkan nilai p, akan kurang sedikil dari yang dilentukan po= 9,63. Ae aktual= (400)2 = 160000 mmz Nilai perkiraan beban yang dapat disangga oleh daerah beton (karena p, berubah): Beban pada daerah beton = 0,800(0,85/c')As (1 - ps)

PD FC
AgPerlu =

= 2058 kN Dngan demikian, beban yang harus disangga.oleh batang tulangan baia adalah: 3040 - 2058 = 982 kN Kekuatan maksimum yang disediakan oleh batang iulangan baia adalah 0,80C As| ty, maka luas penampang batang tulangan baja yang diperlukan dapat dihitung sebagai berikut: As, Perru=6;Eo-i63ffi66i =4721 ^r..,

ww r w.n ea ua te nce ! 5 .co T m


30,n (10)3 0,80(0,65){0,s5(30) (r - o,os)+ 4m (0,03)}
1591214 mm2.

Rencanakan kolom berbentuk buju sangkar dgngan pengikat sengkang untuk menopang beban kerja aksial, yang terdi dari beban mati 1400 kN dan beban hidup 850 kN, kolom pendek, t"'= 30 MPa, ft= 400 MPa gunakan pn= 0,03.

= 0,80(0,65X0,8sX30X160000X1

9821t-

*, rmz

ria l
0,03X10)-

Contoh 9.3.

Gambar 9.5. Sketsa perencanaan Soal g.g

Digunakan satu macam ukuran batang tulangan bala dan dipasang mrata di sepaniang keliling sengkang, unluk itu dipilih batang tulangan sedmikian rupa sghingga iumlahnya

Merencanakan tulangan sengkang

DariTabel A-40, pilih batang tulangan b4a D10 untuk sengkang. Jarak spasi tidak boleh lebih besar dari: ,18 kali diamoter batang tulangan sengkang = (10) = 480 mm 16 kali diameter batang tulangan memaniang = 16(29) = 464 mm Ukuran kolom arah lorkecil (lebar)= 400 mm Gunakan batang tulangan baja D10 unluk sengkang, dngan jarak spasi p.k.p. 400 mm. Periksa susunan tulangan pokok dan sengkang dengan mengacu pada Gambar 9.7. Jarak bersih batang tulangan pokok bersebelahan pada sisi kolom adalah: 14400-80-20-3(29))=106,5 mm < 150 mm Dengan demikian tidak perlu tambahan batang pengikat tulangan pokok kolom sebagaF mana yang ditonlukan dalam SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.16.10 ayat 5.3. Sketsa perencanaan seperti lerlihat pada Gambar 9.5.

Contoh 9.4.
Rancang ulang kolom yang dipersoalkan pada Conloh 9.3, sebagai kolom bulat dengan pengikat spiral.

Penyelesaian
Gunakan fo'= 30 MPa, fr= 400 MPa, dan perkiraan ps= 0,03. Seperti halnya pada Contoh 9.3: Pu= 3040 kN

PD

FC ww r w.n ea ua te n !
i

ce. 5 com T

msrupakan kelipatan empat. Gunakan 8 batang tulangan baia D29 (/43, = 5284 mm2). Dari Tabel A-4O didapatkan ketenluan bahwa penggunaan I batang lulangan baja D29 memberikan lebar diameter inli maksimum 320 mm, dengan demikian pnulangan yang direncanakan tersebul momenuhi syarat.

ria l

Ao Perlu =

AsPerlu = 139084 mm2


Ttapkan diamelr kolom 430 mm, As aktual = 145220 t'J'm2 Beban pada daerah beton = 0,850(0,85tc')Ae (1

pe)

= 0,85(0,70X0,85X30X145220X1

0,03)(10){= 2137 kN

.e,,

p",r,=944=,*"--ttrh=

Gunakan 7 batang tulangan baja D29 (Asr= 4623,7 mm2l DariTabel A-40 didapatkan batasan maksimal penggunaan 8 batang tulangan baja D32 untuk diameter inti kolom bulat maksimum 350 mm, dengan demikian penulangan yang direncanakan memnuhi syarat' Merencanakan lulangan spiral : Dari Dattar A-,10, tsntukan Ac dan memilih batang tulangan baja D13 untuk penulangan spiral, dengan penentuan iarak spasi didasarkan pada nilai po.

r w. ea
(& - r)t *,
sehinssa

FC

o"

t,*

t = o,ns

Jarak spasi maksimum diperoleh dengan cara memberikan nilai

nu te an ! ce. 5 com T ria


4oo1 nm2

Beban yang harus disangga oleh batang tulangan baia adalah: 3040 - 2137 = 903 kN

*(ffi-') fi

= o, or

ww

PD

n" at<tuar

=ff

l
zz
p"1oxr,)

unluk

Ps,

".*"=ffi=ffifffty=
40 mm

tt,r

mm

Gambar 9,6. Sketsa perencanaan Contoh 9.4

gunakan spiral dengan iarak spasi 80 mm, iarak spasi bersih lilitan spiraltidak lsbih dari 80 mm dan kurang dari 25 mm, Jarak spasi bersih = 80 - 13 = 67 mm Sketsa perencanaan spsrti tampak pqda Gambar 9.6. Dari pombahasan di atas dapatlah disusun ikhtisar baik unluk analisis dan perencanaan kolom pendek eksentrisitas kecil sebagai berikut: Analisb
:

1) Pemeriksaan apakah psmasih


0,01 s po< 0,08

di dalam batas yang memenuhi syarat,

2) 3) 4)

Perencanaan . 1) Mensntukan kekuatan bahan-bahan yang dipakai. Tentukan rasio pnulangan psyang
direncanakan apabila diinginkan.

6) 7)

9-6

Untuk menielaskan kesepadanan statika antara beban aksial oksenlris dngan kombinasi b6ban aksial-momen digunakan Gambar 9.7. Apabila gaya dari boban P, bekerja pada pe-

nampang kolom berjarak o lerhadap sumbu sprti terlihat pada Gambar 9.7.a, akibal

yang ditimbulkan akan sama dengan apabila suatu pasangan yang terdiri dari gaya beban

PD FC

HUBUNGAN BEBAN AKSIAL DAN MOMEN

ww

2) Msnentukan beban rencana ter{aktor Pu. 3) Menentukan luas kotor pnampang kolom yang diperlukan As. 4) Memilih bsntuk dan ukuran ponampang kolom, gunakan bilangan bulal. 5) Monghitung beban yang dapal didukung oleh beton dan batang tulangan pokok

memanjang. Tenlukan luas penampang batang tulangan baia memaniang yang diperlukan, kemudian pilih batang tulangan yang akan dipakai. Msrancang tulangan pengikat, dapat berupa tulangan sengkang atau spiral. Buat sketsa rancangannya.

r w. ea

nu

t an e!

ce.

5 co T

Pemeriksaan jumlah tulangan pokok memanjang untuk mendapatkan iarak bersih antara batang tulangan (lihat Tabel A-40). Untuk kolom berpengikat sengkang paling sedikit 4 batang, dan kolom bsrpsngikat sphal minimum 6 batang tulangan mmaniang. Menghitung kual beban aksial maksimum CPr(na,(s,), lihat Bab 9.2. Pemeriksaan penulangan latsral (tulangan pengika0. Untuk pengikat sengkang, periksa dimensi baiang tulangannya, jarak spasi, dan susunan pnampang dalam hubungannya dengan batang tulangan memanjang. Untuk pengikat spiral, diperiksa dimonsi batang tulangannya, rasio pnulangan ps, dan iarak spasi brsih antara spasi.

ria

aksid P,, pada sumbu dan momen'

p"f p"a" O"tU"t J"

apabila suatu pasang9.7.c. Dngan demikian dapat disimpulkan bahwa terlakior P" bke4a brcanaana paan momen rencanaterlaKor Mudan beban rencana sbagai berikut: komponen struktur tekan' hubungannya dapat dituliskan

Mu =Pue' bekeria serntak

"r",,

SNlT.l5.lggl.o3,mengsnaibatasmaksimumkualbebanaksialkolom,Pnl^x").

g.7

dalam praktsk perencanaan koSeperti yang disaiikan dalam cp.ltoh-conioh terdahulu, di pada kedua sisi yang bm umJmnya digunakan pnulangan simetris, di mana psnulangan ksalahan atau kekeliruan peberhadapansam-a jumlahnya. Tuiuan ulamanya mencegah

""rp"ti"

PD

diperhitungkan terhaDngan demikian kekuatan suatu penampang kolom dapal Kual lentur p6momen' dan O"p U"nV"i kemungkinan kombinasi pasangan beban aksial kuat beban aksial nampang kolom dapat direncanakan untuk beberapa ksmungkinan tersendiri' momsn yang be-rbeCa, dengan masing-masing mempunyai pasangan kuat dengan ktentuan SK Namun demikian, mokanism tsrsebut ttap harus menyesuaikan

PENAMPANG KOLOM BERTULANGAN SEIMBANG

apabila ada fulangan yang dipasang. Penulangan simetris iuga diperlukan

ww

FC

nilai sedomikian rupa sehingga jumlah pengurangan Pu yang d Pu dan momen Pre. sudah barang tentu, besar atau perlukan sebanding dengan peningkatan besarnya eksentrisitas'

r w. ea

di alas bernilai konstan dan memUntuk suatu penampang tertentu, hubungan lrsebut banyak cara' Apabila dikebrikan variasi kombinasi beban lentur dan beban aksial dalam berkurang sampai suatu harus Pu hendaki eksentrisitas yang ssmakin besar, beban aksial kolom tetap mampu menopang kdua beban' beban aksi-

t an e!
nu

M, a=i

ce. c

5 om Tr ia

brsama'sama sepertitam-

l
di'

Conloh diagram-diagram yang dimaksud disajikan pada Gambar 9.14. Pada contoh diagram-diagram tersebut digunakan definisi-definisi sbagai berikut:
Ps

= -;ng
yang tertera pada sudut atds tiap diagram, nilai banding jarak antar-pusat berat tulangan larik terluar terhadap tebal atau tinggi potongan melintang kolom arah lenturan.

Ast

h = ukuran kolom arah tegak-lurus pada sumbu lentur, lihat sketsa penampang

lai p, yang sesuai. Umumnya batang tulangan baja dipasang simlri sama pada masing-ma-

Contoh 9.6.

Dengan menggunakan diagram-diagram dan bedasarkan peraturcn SK SNI T-15-199103, dapatkan kuat beban aksial 0 Pnuntuk kolom dngan potongan melintang seperti tampak pada Gambar 9.15 dengan eksentrisitas 120 mm, f"'= 30 MPa, fr= 4gg 1111p".

Penyelesaian
Pertama-tama tentukan diagram mana yang akan dipakai ssuai dengan ienis potongan melinlang kolom, kekuatan bahan, dan laktor y.

PD FC
yh =3@mm

Kdua diagram pada Gambar 9.14 masing-masing untuk nilai = 0,75 (diagram (b)).

= 3ffil5OO = O'72

ww

sing sisi, atau r/4daritotal untuk sstiap sisi. Faktor reduksi kekuatan 0 yang sesuai SK SNI T-15-1991-03 sudah diperhitungkan di dalam diagram sehingga tidak perlu disertakan lagi dalam perhitungan. Unluk kolom dengan bentuk pnampang bulat iuga dapat dibuatkan diagramnya- Agar didapalkan gambaran cara penggunaan yang lebih jelas, berikut diberikan contoh-conloh prhitungan dengan menggunakan diagram-diagram tersebut.

r w. ea

9.14 menggunakan bilangan-bilangan lanpa dimensi. Diagram d(Tunakan untuk menentukan kuat beban aksial kolom dan sekaligus kuat momen yang sesuai. Dengan demikian fungsi diagram adalah sebagai alal bantu analisis, sedangkan dalam prencanaan unluk membantu langkah coba-coba. Diagram-diagram dibuat untuk polongan malintang kolom dengan b, h, dan y lertentu, dan hanya diperuntukkan untuk mutu dan kekualan bahan yang ditentukan. Dengan sendirinya harap dicatat bahwa unluk mutu beton dengan f"'> 30 MPa, maka sesuai dengan ketontuan SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.3.2 ayal 7 harus dilakukan modilikasi ni-

nu te an ! ce. 5 com T ria


I

Skala sumbu vertikal (beban aksial) dan horisontal (momen) adalah merupakan bilangan-bilangan yang terkait dengan nilai C Pn. Dalam hal ini, contoh diagrarn pada Gambar

= 0,70 (diagram (a)) dan

DIAGFAII II{IERAKSI KOLOII

;if rl " f{,.

ffi

rT^r

FC ww r w. ea
o,1o o.2o o,3o
o.4o

PD

1,m

'lt

.t::

1,',|0 1,00

nu
o7o 0'80 090

an

ce.

te!
I
o,o5

0,30 o,/o 0,50 0,60


PU

t;Ae
(d

5 co T
0,70

OIAGRAI' IT'ITERAKSI KOLOTI

m
1.00

p,o,so .0,60
(b)

I0.e6t;^,^;
Gambal 9.14. Diagram lnteraksi untuk perencanaan kolom

ria

Penyelesaian kasus Contoh 9.6 ini monggunakan diagram (a), bukan interpolasi antara
kodua diagram.

A., 3963 pc=A =5oop6o)


i=

0,01 < Po= 0'0220 < 0,08 12O O'Z+

Berdasarkan atas hasil-hasil tersbut kmudian dilentukan prpolongan antara nilai-nilai psdan elh pada diagram (a), sporti tampak pada Gambar 9. t 4. Dari titik prpotongan tersebut ditarik garis horisonlal sehingga memolong sumbu vsrtikal di sblah kiri, komudian dibaca nilai yang didapal, yaitu:

-SOO=

kemudian diporolh:

Pu= $ P n= 0,763(0,6sX0,85)(30X 1 80000X1 03) = 2276 kN selanjutnya, kuat momon pasangannya dapat pula ditontukan: P,(el=Q Pne= (2276X0,121= 273,17 kNm

Apabila digunakan nilai-nilai intorpolasi antara diagram untuk 7 = Q,/Q dan }, =0,75 akan diproleh hasil yang lebih tpat lagi. Untuk mencari kuat beban dan momen untuk eksentrisitas yang berbeda pada kolom yang sama dongan menggunakan diagram, bukan lagi merupakan kesulitan karena p, nilainya tetap.

Contoh 9.7Dengan metpgunakan diagtan (b) dafi Gambar 9.14, tentukan nilai gaya aksial, momen, dan (Pnlr1rlx"l untuk kolom da Contoh 9.5.c dengan a = 125 mm,

PD F

ffi,=o'tes

ww Cr w.n ea ua te nce ! 5 .co T m ria


cambar 9.1S. Skeba Conloh 9.6

=o'o220

P..

Penyeleeaian
Dari Contoh 9.5 didapatkan ps= 0,0226. Dongan menggunakan kurva inlerpolasi antara nildt pn = o,Q2 dan 0,03 yang berpotongan dengan garis ( e/h), diagram (b) Gambar 9.14, kmudian lilik polong tersebut diproyoksikan pada sumbu legak akan didapatkan:

ffi=o'zt
sehingga,
0 Pn = 0,77(0,651(0,85X30X175000X10-3) = 2233, kN Proyeksiliiik potong kurva gdengan garis (e/h) pada sumbu mendatar mendapatkan:

E'

sshingga,

PuG) =0 Pn@)= 0,192s(0,65X0,85X30X175000X500X1c)

= 279,185 kNm Sedangkan nilai 0Pn6a*s1 didapat dengan cara mencari prpotongan anlara sumbu tegak dengan kurva interpolasi pg yang sesuai, didapatkan:
P,,

oaes4'4-=taat
shingga,
oPnbsks)

= 1,067(0,65X0,85)(30X175000X10F3)

Harap diprhatikan bahwa pada diagram-diagram tsrsebut, garis horisontal yang mewakili sebagainilai ( Pnlnaxsl memotong kurva kekuatan yang sesuai kurang lebih pada posisi elh = 0,10. Hal ini menuniukkan suatu knyataan bahwa persamaan keseimbangan gayagaya akan memberikan nilai kuat maksimum yang kira-kira sama apabila persyaralan eksentrisitas minimum dipenuhi. Dari kedua contoh tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan diagram secara gralis ternyala memberikan alternatif penyelesaian yang lebih praktis, lebih-lebih untuk digunakan dalam pross analisis. Sedangkan dalam perencanaan diagram lersebut

dapat digunakan untuk acuan dalam mlakukan coba-coba, yang dengan demikian akan mempersingkat perhitungan.

9.10

Untuk dapat merencanakan keserasian regangan-regangan tenlunya harus menghitung terlebih dahulu regangan (dan legangan) pada beton dan tulangan baja, yang umumnya
dilakukan dengan cara coba-coba berdasarkan anggapan-anggapan terlentu. Bagian perhitungan trsbut pada umumnya merupakan bagian awal yang sangat menntukan panjang alau singkatnya seluruh proses. Untuk mndapatkan arah langkah perhitungan yang

PD FC

METODE PENDEKATAN EMPIRIS

ww

r w. ea

nu te an ! ce. 5 com T ria


=

7iffi;-x;=o'tses

l
3095 kN

P,,