Anda di halaman 1dari 26

BAB I Pendahuluan

Indonesia merupakan Negara dengan pertumbuhan penduduk terbesar. Untuk mengatasi peledakan penduduk yang tak terkendali pemerintah mencetuskan program keluarga berencana. . Esensi tugas program keluarga berencana (KB) dalam hal ini telah jelas, yaitu menurunkan fertilitas agar dapat mengurangi beban pembangunan demi terwujudnya kebahagian dan kesejahteraan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Alat kontrasepsi sangat berperan penting dalam program KB. Namun tidak semua para ibu cocok menggunakan masing-masing dari alat kontrasepsi. Untuk itu, setiap pribadi harus bisa memilih alat kontrasepsi yang cocok untuk dirinya. Pelayanan kontrasepsi (PK) adalah salah satu jenis pelayanan KB yang tersedia. Sebagian besar akseptor KB memilih dan membayar sendiri berbagai macam metode kontrasepsi yang tersedia. Faktor yang mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi antara lain faktor pasangan (umur, gaya hidup, jumlah keluarga yang diinginkan, pengalaman dengan metode kontrasepsi yang lalu), faktor kesehatan (status kesehatan, riwayat haid, riwayat keluarga, pemeriksaan fisik, pemeriksaan panggul), faktor metode kontrasepsi (efektivitas, efek samping, biaya), tingkat pendidikan, pengetahuan, kesejahteraan keluarga, agama, dan dukungan dari suami/istri. Faktor-faktor ini nantinya juga akan mempengaruhi keberhasilan program KB. Hal ini dikarenakan setiap metode atau alat kontrasepsi yang dipilih memiliki efektivitas yang berbeda-beda. program KB menurut UU No. 10 tahun 1992 (tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Program KB adalah bagian yang terpadu dalam program pembangunan nasional dan

bertujuan untuk menciptakan kesjahteraan ekonomi, spiritual, dan social budaya penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi nasional.

Tujuan umum untuk lima tahun kedepan mewujudkan visi dan misi program KB yaitu membangun kembali dan melestarikan pondasi yang kokoh bagi pelaksana program Kb di masa pendatang untuk mencapai keluarga berkualitas tahun 2015.

Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu : 1. Mengetahui alat kontrasepsi coitus interuptus dan simpto thermal 2. Mengetahui cara kerja, kelebihan, kelemahan, dan kontra indikasi coitus interuptus dan simpto thermal 3. Mengetahui cara kerja, dan penggunaan atau pemasangan yang berkaitan dengan coitus interuptus dan simpto thermal 4. Mengetahui siapa saja yang boleh dan tidak boleh memakai coitus interuptus dan simpto thermal 5. Dan mengetahui tentang dokumentasi pelayanan KB

BAB II Isi
Coitus Interuptus
A. pengertian Nama lain dari coitus interuptus adalah senggama terputus atau ekspulsi pra ejakulasi atau pancaran ekstra vaginal atau withdrawal methods atau pull-out method. Dalam bahasa latin disebut juga interrupted intercourse. Coitus interuptus atau senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional/alamiah, di mana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum mencapai ejakulasi. Ejakulasi terjadi jauh dari genitalia.

B. CaraKerja Alat kelamin (penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk ke dalam vagina, maka tidak ada pertemuan antara sperma dan ovum, dan kehamilan dapat dicegah. Ejakulasi di luar vagina untuk mengurangi kemungkinan air mani mencapai rahim. C. Efektifitas Metode coitus interuptus akan efektif apabila dilakukan dengan benar dan konsisten. Angka kegagalan 4-27 kehamilan per 100 perempuan per tahun. Pasangan yang mempunyai pengendalian diri yang besar, pengalaman dan kepercayaan dapat
3

menggunakan metode ini menjadi lebih efektif. Namun, efektifitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24 jam sejak ejakulasi masih melekat pada penis.

D. Keuntungan metode coitus interuptus Keuntungan utama coitus interuptus adalah tidak memerlukan alat mekanisme atau hormone,selalu dapat dilakukan oleh pasangan yang bersangkutan. Akan tetapi Coitus interuptus juga memberikan keuntungan baik secara kontrasepsi maupun non kontrasepsi. Keuntungan kontrasepsi 1. Alamiah. 2. Efektif bila dilakukan dengan benar.
3. Tidak mengganggu produksi ASI.

4. Tidak ada efek samping. 5. Tidak membutuhkan biaya. 6. Tidak memerlukan persiapan khusus.
7. Dapat dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.

8. Dapat digunakan setiap waktu. keuntungan non kontrasepsi


1. Adanya peran serta suami dalam keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. 2. Menanamkan sifat saling pengertian.

3. Tanggung jawab bersama dalam ber-KB. 4. Meningkatkan keterlibatan suami dalam keluarga berencana 5. Untuk pasangan memungkinkan hubungan lebih dekat dan pengertian sangat dalam
4

E. Keterbatasan

Metode coitus interuptus ini mempunyai kekurangan utamanya adalah angka kegagalannya yang relative tinggi : biasanya pemakai mengalami angka kegagalan tahun pertama sebesar 18%. Namun, coitus interuptus juga mempunyai keterbatasan, antara lain:
1. Sangat tergantung dari pihak pria dalam mengontrol ejakulasi dan tumpahan sperma

selama senggama.
2. Memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual (orgasme). 3. Sulit mengontrol tumpahan sperma selama penetrasi, sesaat dan setelah interupsi

coitus.
4. Tidak melindungi dari penyakit menular seksual. 5. Kurang efektif untuk mencegah kehamilan.

6. Efektivitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24 jam sejak ejakulasi masih melekat pada penis. F. Indikasi coitus interuptus a. Dapat dipakai pada suami yang ingin berpartisipasi aktif dalam keluarga berencana. b. Pasangan yang taat beragama atau mempunyai alas an filosofi untuk tidak memakai metode kontrasepsi lain. c. Pasangan yang memerlukan alat kontrasepsi dengan segera. d. Pasangan yang memerlukan metode kontrasepsi sementara, sambil menunggu metode kontrasepsi yang lain. e. Pasangan yang melakukan hubungan seksual tidak teratu

G. kontraindikasi coitus interuptus. a. Ejakulasi premature pada pria b. Suami yang sulit melakukan senggama terputus
5

c. Suami yang memiliki kelainan fisik atau psikologis d. Suami yang sulit untuk bekerjasama e. Pasangan yang kurang dapat saling berkomunikasi f. Pasangan yang tidak bersedia melakukan senggama terputus

H. Penilaian Klien Klien atau akseptor yang menggunakan metode kontrasepsi coitus interuptus tidak memerlukan anamnesis atau pemeriksaan khusus, tetapi diberikan penjelasan atau KIE baik lisan maupun tertulis. Kondisi yang perlu dipertimbangkan bagi pengguna kontrasepsi ini adalah:

Coitus Interuptus Sesuai untuk Tidak sesuai untuk Suami yang tidak mempunyai Suami dengan ejakulasi dini. masalah dengan interupsi pra orgasmik. Pasangan yang tidak mau metode kontrasepsi lain. Suami yang ingin berpartisipasi aktif dalam keluarga berencana. Pasangan yang memerlukan kontrasepsi segera. Pasangan yang memerlukan metode sementara, sambil menunggu metode lain. Pasangan yang membutuhkan metode pendukung. Pasangan yang melakukan hubungan seksual tidak teratur. Pasangan yang tidak bersedia melakukan senggama terputus. Suami yang sulit melakukan senggama terputus
6

Suami yang tidak dapat mengontrol interupsi pra orgasmik. Suami dengan kelainan fisik/psikologis. Pasangan yang tidak dapat bekerjasama. Pasangan yang tidak komunikatif.

Menyukai senggama yang dapat dilakukan kapan saja/tanpa rencana.

I. Cara menggunakan Coitus Interuptus 1. Sebelum melakukan hubungan seksual, pasangan harus saling membangun kerjasama

dan pengertian terlebih dahulu. Keduanya harus mendiskusikan dan sepakat untuk menggunakan metode senggama terputus.
2. Sebelum melakukan hubungan seksual, suami harus mengosongkan kandung kemih

dan membersihkan ujung penis untuk menghilangkan sperma dari ejakulasi sebelumnya.
3. Apabila merasa akan ejakulasi, suami segera mengeluarkan penisnya dari vagina

pasangannya dan mengeluarkan sperma di luar vagina.


4. Pastikan tidak ada tumpahan sperma selama senggama.

5. Pastikan suami tidak terlambat melaksanakannya. 6. Senggama tidak dilakukan pada masa subur

SIMPTO THERMAL

A. Pengertian Metode simptothermal merupakan metode keluarga berencana alamiah (KBA) yang mengidentifikasi masa subur dari siklus menstruasi wanita. Metode simptothermal mengkombinasikan metode suhu basal tubuh dan mukosa serviks. Tetapi ada teori lain yang menyatakan bahwa metode ini mengamati tiga indikator kesuburan yaitu perubahan suhu basal tubuh, perubahan mukosa/lendir serviks dan perhitungan masa subur melalui metode kalender. Metode simptothermal akan lebih akurat memprediksikan hari aman pada wanita daripada menggunakan salah satu metode saja. Ketika menggunakan metode ini bersamasama, maka tanda-tanda dari satu dengan yang lainnya akan saling melengkapi.
B. keuntungan

Metode simptothermal memiliki manfaat sebagai alat kontrasepsi maupun konsepsi.

keuntungan Kontrasepsi Metode simptothermal digunakan sebagai alat kontrasepsi atau menghindari kehamilan dengan tidak melakukan hubungan seksual ketika berpotensi subur (pantang saat masa subur).

keuntungan Konsepsi Metode simptothermal digunakan sebagai konsepsi atau menginginkan kehamilan dengan melakukan hubungan seksual ketika berpotensi subur.

C. Efektifitas Angka kegagalan dari penggunaan metode simptothermal adalah 10-20 wanita akan hamil
8

dari 100 pasangan setiap tahunnya. Hal ini disebabkan kesalahan dalam belajar, saran atau tidak ada kerjasama pasangan. Namun, studi lain juga menyatakan angka kegagalan dari metode simptothermal mempunyai angka kegagalan hanya 3 persen apabila di bawah pengawasan yang ketat.

D. Hal yang Mempengaruhi Metode Simptothermal Menjadi Efektif

Metode simptothermal akan menjadi efektif apabila: 1. Pencatatan dilakukan secara konsisten dan akurat.
2. Tidak menggunakan kontrasepsi hormonal, karena dapat mengubah siklus menstruasi

dan pola kesuburan.


3. Penggunaan metode barier dianjurkan untuk mencegah kehamilan.

Kerja sama dengan pasangan adalah perlu, karena ia harus bersedia untuk membantu untuk menghindari kehamilan baik dengan tidak melakukan hubungan seksual atau menggunakan beberapa metode penghalang selama hari-hari paling subur. E. Hal yang Mempengaruhi Metode Simptothermal Tidak Efektif Metode simptothermal dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:
1. Wanita yang mempunyai bayi, sehingga harus bangun pada malam hari. 2. Wanita yang mempunyai penyakit.

3. Pasca perjalanan.
4. Konsumsi alkohol.

Hal-hal tersebut di atas dapat mempengaruhi pembacaan suhu basal tubuh menjadi kurang akurat. F. Pola Grafik Kesuburan pada Metode Simptothermal Pola grafik kesuburan tidak sesuai digunakan wanita pada kasus sebagai berikut:
1. Wanita yang memiliki pasangan seksual lebih dari satu. 9

2. Tidak ada komitmen antara pasangan suami istri untuk menggunakan metode simptothermal.
3. Wanita yang tidak dapat mengamati hari suburnya karena sifat wanita itu sendiri atau

alasan lain.
4. Wanita yang ragu apakah dia mampu tidak melakukan hubungan seksual tanpa alat

kontrasepsi barier minimal 10 hari setiap bulan atau menerapkan metode kontrasepsi lain di hari tidak amannya.
5. Wanita yang mempunyai resiko kesehatan/medis tertentu yang membahayakan jika

dia hamil.
6. Wanita yang mengkonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat mempengaruhi suhu

basal tubuh, keteraturan menstruasi maupun produksi lendir serviks.


G. Keuntungan

Metode simptothermal mempunyai keuntungan antara lain: 1. Tidak ada efek fisik seperti obat-obatan, alat, bahan kimia atau operasi yang dibutuhkan.
2. Aman.

3. Ekonomis. 4. Meningkatkan hubungan kerjasama antar pasangan.


5. Dapat langsung dihentikan apabila pasangan menginginkan kehamilan. 6. Tidak memerlukan tindak lanjut atau alat kontrasepsi lain setelah belajar metode

simptothermal dengan benar. 7. Dapat digabungkan dengan metode-metode alat kontrasepsi lain, misalnya metode barrier.
H. Keterbatasan

Metode simptothermal mempunyai keterbatasan antara lain:

10

1. Tidak cocok digunakan oleh wanita yang mempunyai bayi, berpenyakit, pasca perjalanan maupun konsumsi alkohol.
2. Metode simptothermal kurang efektif karena pengguna harus mengamati dan mencatat

suhu basal tubuh maupun perubahan lendir serviks.


3. Metode simptothermal memerlukan kerjasama antara pasangan suami istri.

Pengguna harus mendapatkan pelatihan atau instruksi yang benar.

I. Kontra indikasi metode symto termal Umumnya merupakan kontra indikasi yang relative a. Siklus haid yang tidak teratur b. Riwayat siklus haid yang tidak teratur c. Kurve suhu badan yang tidak teratur

J. Efek samping dan komplikasi metode symto thermal

Efek samping dan komplikasi langsungtidak ada. Persoalan timbul bila terjadi kegagalan/ kehamilan, karena ada data-data yang menunjukan timbulnya kelainankelainan janin sehubungan dengan terjadinya fertilisasi oleh spermatozoa dan ovum yang berumur tua / terlalu matang (overaged / overripe)

11

K. Petunjuk bagi Pengguna Metode Simptothermal Pengguna/klien metode simptothermal harus mendapat instruksi atau petunjuk tentang metode lendir serviks, metode suhu basal tubuh maupun metode kalender. Hal ini bertujuan agar pengguna dapat menentukan masa subur dengan mengamati perubahan suhu basal tubuh maupun lendir serviks.
1. Klien dapat melakukan hubungan seksual hingga dua hari berikutnya setelah haid

berhenti (periode tidak subur sebelum ovulasi).


2. Ovulasi terjadi setelah periode tidak subur awal yang ditandai dengan mulai keluarnya

lendir dan rasa basah pada vagina sama dengan metode lendir serviks. Lakukan pantang senggama karena ini menandakan periode subur sedang berlangsung.
3. Pantang senggama dilakukan mulai ada kenaikan suhu basal 3 hari berurutan dan hari

puncak lendir subur. 4. Apabila dua gejala ini tidak menentukan periode tidak subur awal, periode subur, periode tak subur akhir maka ikuti perhitungan periode subur yang terpanjang dimana masa pantang senggama harus dilakukan.

12

L. Contoh Pengamatan dan Pencatatan Grafik Simptothermal Di bawah ini merupakan contoh pengamatan dan pencatatan pada grafik simpto thermal.

13

3. Apakah grafik ini dari seorang wanita dalam keadaan khusus? 4. Menafsirkan grafik suhu (panjang siklus, pergantian hari, penerapan aturan Three

over Six, mengenali hari pertama masa tidak subur setelah ovulasi).
5. Menafsirkan pola lendir serviks (mengenali perubahan lendir serviks pertama kali,

menafsirkan pola lendir serviks berdasarkan petunjuk, mengenali lendir pada hari puncak subur, mengenali masa tidak subur sebelum dan setelah ovulasi, periksa lendir dengan suhu).
6. Menafsirkan perubahan pada serviks (pilihan), antara lain: perubahan serviks rendah,

kaku, tertutup, serviks saat tidak subur dan perubahan serviks tinggi, lunak, terbuka, serviks saat subur. 7. Menerapkan perhitungan siklus sedikitnya 6 kali siklus (siklus terpendek dikurangi 20 untuk mengenali hari subur terakhir).
8. Amati perubahan yang terjadi. 9. Periksa bila terjadi hal yang mempengaruhi grafik seperti: gangguan, faktor stres,

penyakit ataupun obat.


10. Terapkan petunjuk metode simptothermal ini dengan tepat (untuk merencanakan

kehamilan atau mencegah kehamilan). Kode Warna Grafik Pewarnaan pada grafik metode simptothermal dapat membantu menafsirkan arti grafik. Contoh untuk menekankan fase siklus antara lain:

Merah untuk periode menstruasi. Kuning untuk periode subur. Hijau untuk periode tidak subur.

Dokumentasi Pelayanan KB
14

A. Pengertian Dokumentasi asuhan kebidanan pada ibu/akseptor keluarga berencana (KB) merupakan suatu bentuk kegiatan pencatatan dari asuhan kebinan yang diberikan pda ibu yang akan melaksanakan pemakaian KB atau calon akseptor KB seperti pil, suntik, implant, IUD, metode operasi pri (MOP) , dan lain sebagainya.

B. Tujuan

1. Tujuan umum Diperoleh dari data dan informasi tentang kegiatan dan hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi secara cepat, tepat, lengkap, dipercaya yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan, serta dalam kegiatan perencanaan, pengendalian dan penilaian program Keluarga Berencana Nasional. 2. Tujuan khusus Diperoleh dari data dan informasi tentang : a. Kegiatan pelayanan kontrasepsi b. Hasil kegiatan pelayanan kontrasepsi yang dilakukan oleh klinik KB dan dokter/bidan praktek swasta. c. Pencatatan keadaan alat-alat kontrasepsi (persediaan, penerimaan dan

pengeluaran) di Klinik KB.

C. Beberapa teknik penulisan dalam dokumentasi asuhan kebidanan asuhan kebidanan pada akseptor KB antara lain : 1. Mengumpulkan data
15

Data yang dikumpulkan pada akseptor antara lain identitas pasien, keluhan utama tentang keinginan menjadi akseptor, riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat menstruasi (bagi akseptor wanita), riwayat perkawinan KB, riwayat obstetric, keadaan psikologis, pola kebiasaan seharihari, riwayat social, budsys dsn ekonomi ; pemeriksaan fisik dan penunjang.

2. Melakukan intepretasi data dasar Intepretasi data dasar yang akan dilakukan adalah berasal dari beberapa data yang ditemukan pada saat pengkajian ibu/akseptor KB. 3. Melakukan identifikasi diagnosis atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya Beberapa hasil intepretasi data dasar dapat digunakan dalam mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial kemungkinan sehingga ditemukan beberapa diagnosis atau masalh potensial ibu/akseptor KB seperti ibu ingin menjadi akseptor KB Pil dengan antisipasi masalah potensial seperti potensial terjadinya peningkatan berat badan, potensial fluor albus meningkat, obesitas, mual dan pusing. 4. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakn segera atau masalah potensial pada ibu/akseptor KB Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dan melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan kesehatan lain berdasarkan kondisi pasien sepertikenutuhan KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) 5. Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh Rencana asuhan menyeluruh pada ibu/akseptor KB yang dilakukan sebagaimana contoh berikut: apabila ibu adalah akseptor KB pil maka jelaskan tentang pengertian dan keuntungan KB Pil, anjurkan menggunakan pil secara teratur dan anjurkan untuk periksa secara dini bila ada keluhan. 6. Melaksanakan perencanaan
16

Pada tahap ini dilakukan rencana asuhan kebidanan menyeluruh yang dibatasi oleh standar asuhan kebidanan pada ibu/akseptor KB. 7. Evaluasi Evaluasi pada ibu/akseptor KB dapat menggunakan bentuk SOAP sebagai berikut. S: data subyektif

Berisi tentang data dari pasien melalui anamnesis (wawancara) yang merupakan ungkapan langsung tentang keluhan atau masalah KB

O:

data objektif

Data yang didapat dari hasil observasi melalui pemeriksaan fisik sebelum atau selama pemakaian KB. A: analisis dan intepretasi Berdasarkan data yang terkumpul kemudian dibuat kesimpulan meliputi diagnosis, antisipasi diagnosis atau masalah potensial, serta perlu tidaknya tindakan segera. P: perencanaan Merupakan rencana dari tindakan yang akan diberikan termasuk asuhan mandiri, kolaborasi, tes diagnosis atau laboratorium, serta konseling untuk tindak lanjut.

D. Monitoring dan evaluasi system pencatatan dan pelaporan pelayanan KB Dalam melaksanakan monitoring dan evaluasi bidsistem pencatatan dan pelaporan pelayanan KB, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
17

1. Cakupan laporan Meliputi jumlah, ketepatan pengisian, dan ketepatan waktu data yang dilaporkan, mulai dari tingkat klinik lapangan sampai pusat. 2. Kualitas data Mengenai masukan laporan, baik laporan bulanan maupun laporan tahunan serta bagaimana informasi yang disajikan setiap bulan atau tahun. 3. Tenaga Ketersediaan / jumlah tenaga dan kualitas tenaga 4. Sarana a. Ketersediaan formulir dan kartu b. Ketersediaan buku petunjuk teknis pencatatan dan pelaporan pelayanan kontrasepsi c. Ketersediaan faksimil untuk seluruh kabupaten / kota untuk kecepatan laporan d. Ketersediaan computer sampai dengan tingkat kabupaten / kota 5. Penyediaan dana operasional Dalam mengevaluasi dan operasional perlu dilakukan inventarisasi apakah tersedianya anggaran untuk kegiatan operasional petugas registrasi klinik dan biaya pembinaan petugas baik yang bersumber dari APBN atau dari luar APBN.

E. Contoh format asuhan kebidanan pada ibu/akseptor KB

18

Asuhan kebidanan pada ibu /akseptor kb Tanggal pengkajian : jam : . No. rekam medic: ..

19

I.

identitas 1. Identitas klien Nama pasien : Nama suami Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat : Umur : Agama : pendidikan : pekerjaan : alamat : : : : : .... : :

Suku/ bangsa : suku/bangsa

II. Keluhan utama III. Riwayat kesehatan sekarang .. IV. Riwayat kesehatan dahulu .. V. Riwayat kesehatan keluarga ..
20

VI. VII. VIII. No

Riwayat menstruasi Menarche : disminore Siklus : .. fluor albus

:.. :..

Lama : .. . haid terakhir tanggal : Status pernikahan Umur pernikahan : . Lama : Jumlah istri : Riwayat obstetri keha persalinan anak milan umur Kom plika si jenis pen kom Jenis olo ng plik asi kelamin umur BB/ PB

nifas Lakta si kb kom plika si

IX.

Riwayat kb Jenis kb : Kapan berhenti : .. Lama : alasan berhenti : ..

Mulai kb : .. X. Keadaan psikologis .. XI. Pola kebiasaan sehari-hari a. Nutrisi Makan : frekuensi : /hari, komposisi : ..porsi : Minum : per hari

b. Eliminasi
21

BAK : . BAB : ..

c. Istirahat/tidur : . d. Aktivitas sehari-hari : .. e. Personal hygiene : . XII. Riwayat social ekonomi XIII. Riwayat social budaya .. XIV. Pemeriksaan umum Keadaan umum : .. XV. Kesadaran : Tekanan darah : . Nadi : .. Pernafasan : .. Suhu : . Berat badan : . Tinggi badan : . Pemeriksaan fisik Kepala : .. Mata : .. Telinga : .. Hidung : .. Mulut : . Leher : .. Dada : ... Abdomen :
22

XVI.

Ekstremitas atas : . Ekstremitas bawah : Lain-lain, jelaskan : .. Pemeriksaan penunjang Plano test : .. Pemerisaan hb : .. Pap smear : . Lain-lain, jelaskan : .

23

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Dalam metode kontrasepsi sederhana seperti simpto thermal dan coitus interuptus pada dasarnya akan meningkatkah pengetahuan system reproduksi dari pasangan, tanpa resiko kesehatan. Sehingga tidak ada efek samping sistem, namun dalam penggunaannya dibutuhkan latihan, dan keterlibatan dari pasangan. Terdapat perbedaan dalam metode kontrasepsi simpto thermal dengan coitus interuptus, yaitu pada metode kontrasepsi sympto thermal tidak diperbolehkan bagi wanita yang mempunyai bayi ataupun masih dalam pemberian ASI terhadap bayinya. Sedangkan pada metode coitus interuptus, kontrasepsi ini tidak mengganggu dalam pemberian ASI dan diperbolehkan untuk wanita yang mempunyai bayi. Dan untuk dokumentasi pelayanan Kontrasepsi itu merupakan suatu kegiatan mencatat dan melaporkan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi yang dilakukan oleh bidan klinik KB dan dokter/bidan praktek swasta. Seorang bidan diharapkan mampu melakukan pencatatan dan pelaporan pelayanan KB dengan baik sehingga dapat mengetahui seberapa besar keberhasilan KB sekaligus sebagai alat untuk monitoring dan evaluasi dari pelayanan yang telah diberikan kepada klien.

24

Daftar Pustaka
BKKBN. 1992. Buku Pegangan Kader KB. Jakarta Kusumaningrum, Radita. 2009. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Kontrasepsi yang Digunakan pada Pasangan Usia Subur BKKBN. 1994. Informasi Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta Riono Notodiharjo. 2002. Repoduksi, Kontrasepsi, dan Keluarga Berencana.Yogyakarta Susan Klien, Fiona Thomson. 2008. Panduan Lengkap Kebidanan. Palmall Yogyakarta Sri Handayani, S.Si.T. 2010. Buku Ajar Pelayanan KB. Pustaka Rihama Yogyakarta BKKBN. 1996. Informasi Pelayanan Kontrasepsi KB edisi ke-5

25

26