Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pasta gigi merupakan salah satu bahan yang sangat dekat dengan dunia kedokteran gigi. Pasta gigi merupakan sebuah bahan yang membantu proses pembersihan gigi. Pada umumnya pasta gigi mengandung bahan abrasif, pelembab, pengikat, perasa, pengawet, deterjen, dan bahan terapetik. Deterjen di sini berfungsi sebagai penurun tegangan
permukaan gigi sehingga memudahkan pembersihan plak dan debris pada permukaan gigi. Seiring berjalannya waktu, ditemukan bahwa deterjen dapat merusak kualitas saliva dan dapat menyebabkan penurunan rasa sehingga muncul produk pasta gigi tanpa deterjen. Namuan pasta

gigi non deterjen merupakan jenis pasta gigi yang tidak mengandung Sodium Lauryl Sulfat (SLS) atau deterjen sehingga tidak menghasilkan busa. Sedangkan masyarakat masih beranggapan bahwa iika menyikat gigi belum sampai muncul busa maka kurang bersih menyikat giginya. Beranjak dari anggapan tersebut maka dalam kesempatan ini akan dibahas mengenai pasta gigi non deterjen dalam kemampuannya membantu proses pembersihan gigi. Terdapat berbagai komponen pasta gigi non deterjen yang sangat membantu dalam pembersihan gigi. Namun pada makalah ini akan dibahas mengenai pasta gigi non deterjen, khususnya komposisi berbagai enzim di dalamnya. Pembahasannya meliputi cara kerja enzim hingga hal-hal yang membedakan pasta gigi deterjen dengan non deterjen. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian pasta gigi non deterjen? 2. Apa saja komposisi yang terdapat pada pasta gigi non deterjen? 3. Apa fungsi dan mekanisme kerja dari masing-masing kandungan enzim yang terdapat pada pasta gigi non deterjen? 4. Apa perbedaan pasta gigi deterjen dan non deterjen? 1.3 Tujuan 1. Mengetahui definisi pasta gigi non deterjen. 2. Mengetahui komposisi pasta gigi non deterjen, khususnya dari segi enzim.
1

3. Mengetahui mekanisme kerja berbagai enzim pada pasta gigi non deterjen. 4. Mengetahui perbedaan pasta gigi dengan deterjen dan tanpa deterjen.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Pasta Gigi Non Deterjen berbasis Enzim Pasta gigi non deterjen merupakan pasta gigi yang tidak mengandung komponen sodium lauryl sulfat yang bertindak sebagai deterjen. Salah satu jenis pasta gigi non deterjen adalah pasta gigi non deterjen berbasis enzim. Pasta gigi non deterjen berbasis enzim yaitu pasta gigi yang tidak mengandung deterjen (sodium lauryl sulfat) dan antiseptik, tapi mengandung enzim yang bernama amiloglucosidase dan glucoseoxidase yang berguna untuk memperbaiki fungsi & kualitas air ludah. Ditambah dengan lisozim, laktoferrin & laktoperoxidase yang berguna untuk memperkuat fungsi daya tangkal terhadap mikroorganisme (Anonim, 2009). 2.2 Komposisi Pasta Gigi Non Deterjen Bahan dasar pasta gigi mempunyai sifat antimikroba terhadap plak gigi. Pasta gigi disusun dari berbagai jenis bahan, dimana setiap bahan mempunyai fungsi yang spesifik. Pasta gigi non detergent adalah pasta gigi yang tidak mengandung detergent dalam komposisinya. Bahan-bahan dalam pasta gigi non detergent antara lain: 1. Colloidal binding agent Misalnya sodium alginat atau metilseslulosa, karboksimetilselulose. Fungsinya adalah untuk mencegah pemisahan fase padat dan cair selama dalam penyimpanan (Phillips, 1991). 2. Humectans Misalnya gliserol, Gliserin, sorbitol, propilen glikol. Gliserin dan sorbitol mempunyai rasa manis. Cairan glikol dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Fungsinya adalah untuk mempertahankan kelembaban bahan sewaktu terbuka agar pasta tidak mengeras (Phillips, 1991). 3. Preservatives Fungsinya adalah untuk menghambat pertumbuhan bakteri di dalam material.

4. Flavoring agent / bahan penyedap Misal spearmint, peppermint, wintergreen dan cinnamon (Craig, 2002). 5. Abrasive Misal kalsium pirophosphat (Ca2P2O7), dikalsium phosphat, sodium bikarbonat, hidrat silika, kalsium karbonat, dibasic kalsium phosphat, sodium metaphosphat, aluminium hidrat. Fungsinya adalah untuk: a. Menghilangkan sisa makanan, stain, plak dari permukaan gigi b. Menghaluskan permukaan gigi Bahan abrasive yang baik adalah yang mempunyai kemampuan membersihkan gigi maksimal dengan abrasi minimal, sehingga tidak merusak permukaan atau struktur gigi. Bahan abrasif harus berikatan secara fisika dan kimia dengan bahan lain pada pasta gigi tersebut. (Combe, 1992) 6. Bahan terapeutik Misalnya material yang mengandung fluorida, misalnya NaF, SnF, sodium monofluorophosphat (Na2PO3F). Fungsinya: a. Mencegah atau mengurangi insidensi pembentukan karies gigi b. Mencegah atau memulihkan penyakit gingival
(Limmer, 2009)

7. Bahan kimia lainnya a. Triclosan (2,4,4-trikloro-2-hidroksi-phenil eter) = cloxifenol Merupakan bahan phenolik antibakteri nonkationik. Apabila ditambahkan pada pasta gigi yang mengandung 1% zink sitrat akan meningkatkan efektivitas anti plak. Penggabungan ini lebih efektif dibanding dengan hanya tunggal.

b. Zink Merupakan kation logam golongan IIB, sebagai bahan antibakteri anorganik yang mempunyai sifat mempresipitasi protein dengan cara berinteraksi dengan enzim dari bakteri sehingga terlambat fungsinya. Pasta gigi menggunakan persenyawaan zink klorida dan zink sitrat, sebagai agent antimikroba. Interaksi elektorstatik dengan protein permukaan sel yang bermuatan negatif menyebabkan adsorpsi ion Zn
2+

oleh bakteri plak. Ion ini melekat ada dinding sel sehingga

terjadi perubahan permeabilitas membran sel yang berupa kebocoran komponen intraseluler, keseimbangan osmotik hilang. Akibatnya membran sitoplasma mengkerut membentuk vesikel sehingga terjadi pengendapan dan koagulasi sitoplasma bakteri. Pengendapan ini menghambat perbaikan dinding sel, kemudian sel akan hancur dan bakteri mati. Pengaruh ion Zn2+ terhadap bakteri secara tidak langsung terjadi karena interaksinya dengan enzim yang bertanggung jawab pada metabolisme karbohidrat di dalam tubuh bakteri, yaitu fosfotransferase, aldolase, gliseraldehid

dehidrogenase dan glukosil transferase. Gugus sulfidril (-SH) dioksidasi menjadi disulfid (S-S) sehingga enzim tidak aktif. Ini akan menghalangi pengambilan glukosa, glikolisis dan pembentukan glukan oleh S.mutans. pertumbuhan bakteri dan pembentukan plak akan dihalangi. (Tim Pengajar Biomaterial, 2004) 8. Enzim Pada pasta gigi non deterjen, khususnya yang berbasis enzim, terdapat berbagai jenis enzim di dalam komposisinya. Beberapa enzim yang terdapat pada pasata gigi non deterjen adalah lisozim, laktoperoksidase, amiloglukosidase dan glukosa-oksidase. (Tim Pengajar Biomaterial, 2004)

BAB III PEMBAHASAN


3.1 Fungsi Dan Mekanisme Kerja Komponen Pasta Gigi Non Deterjen berbasis Enzim ENZIM A. Lisozim Lisozim adalah enzim yang yang terdapat di dalam cairan sekresi eksokrin, seperti air susu ibu, air mata, keringat, mukus hidung dan cairan mulut. Enzim ini dapat merusak dinding sel bakteri sehingga berlubang dan kehilangan cairan intraselnya lalu akhirnya mati. Lisozim adalah suatu protein kecil yang dibangun dari 129 asam amino dengan massa molekul 14600 dalton. Lisozim dapat menghidrolisis komponenkomponen dinding sel mikroorganisme Gram-positif tertentu, misalnya

Micrococcus lysodeikticus yang paling peka. Akan tetapi, bakteri Gram-negatif pada umumnya jauh kurang peka terhadap lisozim karena kandungan murein (gabungan dari asam muramin dan glukosamin) pada dinding selnya hanya 10%, sedangkan pada Gram-positif sebanyak 50%. Oleh karena mampu melisiskan mikroorganisme dan mematikan bakteri, lisozim bersifat bakterisid. Lisozim mampu menghidrolisis ikatan antara asam muramin dan glukosamin sehingga terjadi pori-pori kecil di dalam dinding sel. Oleh karenanya nama lain lisozim adalah muramidase atau muraminidase. (Amrogen, 1998) B. Laktoperoksidase Laktoperoksidase merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi peroksidase yang sama. Laktoperoksidase mempunyai aktivitas antibakterial yang dapat memperlambat pertumbuhan berbagai mikroorganisme. Sistem laktoperoksidase-tiosianat-H2O2 Laktoperoksidase dalam kombinasi dengan tiosianat sebagai kosubstrat (dari saliva dan potassium tiosianat) dan H2O2 dari bakteri memberi hambatan efektif pertukaran zat dan pertumbuhan bakteri tertentu, misalnya Lactobacilli, Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans, dan Escherichia coli. Sekitar 60% mikroorganisme flora mulut dapat memproduksi dan mensekresi H2O2.

Tiosianat dengan pengaruh laktoperoksidase dioksidasi oleh H2O2 menjadi antara lain hipotiosianit (OSCN-): SCN- + H2O2 OSCN- + H2O

OSCN- yang terbentuk tidak mutagen dan tidak mengoksidasi DNA. Oleh karena OSCN- tidak toksik, sistem peroksidase melindungi berbagai tipe sel-sel jaringan mulut terhadap efek toksik H2O2. Hipotiosianit dapat menembus sel bakteri untuk kemudian menghambat glikolisis dengan menghambat beberapa enzim heksokinase, aldolase, enolase, dan piruvat kinase. Selain itu hipotiosianit juga menghambat enzim G6PD (glukosa-6-fosfat-dehidrogenase) sehingga pembuatan gula ribosa dan deoksiribosa dihambat untuk masing-masing RNA dan DNA. (Amrogen, 1998)

C. Amiloglukosidase dan Glukosa-oksidase Baik laktoperoksidase maupun SCN- hampir selalu ditemukan di dalam saliva dalam jumlah cukup. Oleh sebab itu hambatan pertumbuhan bakteri oleh saliva yang kurang memadai dapat disebabkan karena relatif kekurangan H2O2. Dosis H2O2 sangat penting karena pada kekurangan H2O2 bakteri mampu mengurangi OSCN- lagi, sedangkan pada kelebihan H2O2, oleh penguraian OSCNhilang lagi. Ini karena penambahan berlebihan H2O2 akan mengoksidasi OSCNmenjadi O2SCN- yang tidak dapat bekerja. Jadi pembentukan H2O2 dengan perlahan-lahan penting untuk mengaktifkan kembali sistem laktoperoksidase yang terdapat di dalam saliva. Ini mungkin dapat dicapai dengan menggunakan sistem enzim yang membentuk H2O2. Untuk tujuan tersebut dan untuk menaikkan penolakan bakterial secara alamiah melalui laktoperoksidase, pada pasta gigi nondeterjen ditambahkan dua enzim berikut: 1. Amilogukosidase Enzim ini terlibat dalam reaksi: maltosa 2 glukosa.

Karena reaksi tersebut, jumlah monosakarida di dalam saliva dinaikkan, ini dapat dioksidasi oleh enzim kedua dengan membentuk H2O2. 2. Glukosa-oksidase

Enzim ini bekerja dalam reaksi : glukosa + O2 glukonolakton + H2O2. Karena kenaikan H2O2 ini, oksidasi SCN- di dalam saliva menjadi OSCN- di bawah pengaruh laktoperoksidase dapat berlangsung lebih cepat sehingga penghambatan pertumbuhan mikroorganisme mulut menjadi lebih kuat. (Amrogen, 1998) NON-ENZIM A. Laktoferin Secara biokimiawi laktoferin menyerupai transferin, suatu serum glikoprotein yang berguna untuk pengikatan dan pengangkutan ion-ion Fe3+. Laktoferin mempunyai massa molekul 76000 dalton dan terdiri atas satu rantai protein dengan dua rantai hidrat arang. Tiap molekul laktoferin mengikat dua ion Fe3+ dan pada waktu yang sama dua ion bikarbonat (HCO3-). Pengaruh bakteriostatik laktoferin berdasarkan pada ikatan zat besi ini. Pertumbuhan dari misalnya Candida albicans, Escherichia coli, dan Streptococcus mutans dihambat karena ion Fe3+ yang diperlukan untuk pertumbuhan diikat oleh laktoferin. Mungkin laktoferin dapat digunakan sebagai bagian dari penolakan sekunder, yaitu bila tidak ada sIgA atau bila sIgA tidak mampu mengikat diri pada bakteri atau bila sIgA sebagian putus oleh enzim proteinase. (Amrogen, 1998)

B. Hydrated silica Hydrated silica merupakan salah satu contoh bahan abrasif yang digunakan pada pasta gigi untuk membantu menghilangkan plak, stain, dan kalkulus. (Craig and Powers, 2002)

C. Sorbitol Sorbitol merupakan salah satu contoh agen perasa (flavoring agent) dalam pasta gigi. (Schmalz and Arenholt-Bindslev, 2009)

D. Titanium dioksida Titanium dioksida merupakan salah satu contoh pewarna (colorant) yang digunakan dalam pasta gigi. (Scmalz and Arenholt-Bindslev, 2009) E. Sodium fluoride
8

Sodium fluoride termasuk agen terapeutik dalam pasta gigi yang bertugas melepaskan fluoride. (Craig and Powers, 2002; Schmalz and Arenholt-Bindslev, 2009) 3.2 Perbedaan Pasta Gigi Deterjen dan Non Deterjen Menurut komposisinya, jelas bahwa perbedaan paling mendasar kedua jenis pasta gigi tersebut ada pada keberadaan deterjen. Namun, perbedaan ini akan mengakibatkan suatu sifat dan cara kerja yang berbeda pula. Fungsi deterjen dalam pasta gigi adalah untuk menurunkan tegangan permukaan (Craig and Powers, 2002). Komponen yang khas dari deterjen di dalam pasta gigi adalah sodium lauryl sulfate. Sodium laurly sulfate merupakan molekul amfipatik yang dapat berikatan dengan komponen hidrofilik dan hidrofobik. Dari sifat tersebut, deterjen dapat bekerja melarutkan membran sel pada bakteri. Ujung hidrofobik dari deterjen akan berikatan dengan komponen lipid dari membran sel bakteri sedangkan ujung hidrofiliknya berikatan dengan air sebagai pelarut. Dengan adanya ikatan antara komponen deterjen dengan bakteri maka bakteri akan lebih mudah lepas dari gigi (Newby, et al., 2005).

(Newby, et al., 2005) Dalam pasta gigi non detergent fungsi ini tidak dilaksanakan oleh deterjen, namun dilaksanakan oleh enzim, contohnya laktoperoksidase dan SCN-, dengan proses yang cukup berbeda. Proses tersebut lebih kepada membantu proses fisiologis dalam saliva untuk membunuh bakteri dengan memproduksi H2O2. Selain itu, H2O2 juga memiliki efek untuk penghambatan pertumbuhan mikroorganisme. Pada pasta gigi non deterjen juga terdapat laktoferin yang dapat mencegah agregasi bakteri seperti halnya sIgA pada saliva. (Amrogen, 1998). Pasta gigi deterjen maupun non deterjen memiliki tujuan yang sama dalam membantu membersihkan rongga mulut. Namun keduanya memiliki cara kerja bahan
9

aktif yang berbeda. Hal tersebut mengakibatkan masing-masing pasta gigi memiliki efek sampingnya masing-masing. Pasta gigi yang mengandung deterjen (sodium lauryl sulphate) akan memiliki efek samping menurunkan kerja enzim laktoperoksidase (Rochmawati, dkk, 2008). Sedangkan pada pasta gigi yang tidak mengandung deterjen akan meningkatkan kerja enzim yang sama sehingga pasta gigi ini lebih bekerja sesuai dengan fungsi penolakan baik secara enzimatik maupun secara non-enzimatik dalam rongga mulut manusia (Amrogen, 1998). Selain itu, kandungan sodium laury sulfat dalam pasta gigi non deterjen memiliki efek samping yang salah satunya yaitu meningkatkan insidensi kambuhnya rekuren stomatitis aftosa. Sodium laury sulfat mendenaturasi lapisan musin mukosa. Musin berfungsi sebagai proteksi non imun yang melindungi mukosa. Ketika lapisan musin mukosa terdenaturasi maka epitel mukosa lebih mudah teriritasi sehingga rekuren stomatitis aftosa mudah terpicu untuk muncul kembali. (Herlofson and Barkvoll, 1994) Di samping mendenaturasi lapisan musin mukosa, sodium lauryl sulfat juga dapat mengiritasi reseptor pengecapan pada dorsum lidah sehingga akan mengganggu pengecapan. Sodium lauryl sulfat yang menurunkan tegangan permukaan saliva, menyebabkan menurunnya kelarutan saliva sehingga mukosa rongga mulut menjadi kering dan menyebabkan rasa tajam pada lidah. Selain itu, terjadi denaturasi rantai polipeptida protein transmembran pada reseptor pengecapan sehingga mengganggu indra pengecapan. (Roslan, dkk., 2009) 3.3 Contoh Pasta Gigi Non Deterjen Di Pasaran 1. Enzim

Komposisi : Hydrated silica Sorbitol sol Glycerin


10

Ethoxylate Stearyl Fatty Acid FressMint Amyloglucosidase Carrageenan Titanium Dioxide Disodium Phosphate Sodium Benzoate Sodium Fluoride Citric Acid Sodium Saccharine Glucose Oxidase Potassium Thiocyanate Lysozime Lactoferrine Lactoperoxidase

2. Parodontax

Komposisi : Sodium bicarbonate Rhatany tincture Expressed juice of Echinacea Chamomile tincture Myrrh tincture Sage oil
11

3. HPA Herbs Dent

Komposisi : Bubuk kayu siwak Ekstrak cengkeh Ekstrak daun mint Sorbitol Silica

12

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan Pasta gigi non deterjen berbasis enzim bekerja efektif melawan bakteri penyusun plak dan mekanismenya mendukung fungsi fisiologis saliva. 4.2 Saran Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai efek samping yang mungkin timbul akibat mekanisme kerja dari pasta gigi non deterjen sehingga dapat lebih diketahui perbandingan antara pasta gigi deterjen dan non deterjen sebagai acuan masyarakat untuk memilih pasta gigi yang tepat.

13

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Kunjungan ke pabrik pasta gigi enzim.

http://inspirasikukeni.blogspot.com/2009/02/kunjungan-ke-pabrik-pasta-gigi-enzim.html, diakses tanggal 25 Maret 2012 pukul 10.15 WIB Amrogen AVN, 1998, Ludah dan Kelenjar Ludah: Arti Bagi Kesehatan Gigi, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Craig RG and Powers JM, 2002, Restorative Dental Materials, Eleventh Edition, St. Louis: Mosby Combe EC. 1981. Notes on Dental Materials. 9th ed. Edinburgh: Churcill Livingstone. Herlofson BB and Barkvoll P. 1994. Sodium lauryl sufate and recurrent apthous ulcers : a preliminary study. Acta Odontol Scand 52 : 257-9 Limmer, Bryan & Josh Kristiansen. 2009. Harvard School Of Dental Medicine Student guide to Clinic : How to Excel In 3 rd Year. Harvard University. Newby EE, Middleton AM, Butler A, Bradshaw DJ, Bosma ML. 2005. 2662 : Limited antimicrobial activity of triclosan on bactery immediately after brushing. Journal of pharmacy and pharmaceutical science (8) : 143-163 Phillips RW. 1991. Science of Dental Materials. 9th ed. Philadelphia: WB Saunders Co. Rochmawati M, Irmawati A, Sunariani J, 2008, Perbedaan Derajat Keasaman (pH) Saliva akibat Pemakaian Jangka Panjang Pasta Gigi Berdeterjen Sodium Lauryl Sulphate 5% dengan Pasta Gigi Nondeterjen, Majalah Ilmu Faal Indonesia, 1 (8) Roslan ANB, Sunariani J, Irmawati A. 2009. Penurunan sensitivitas rasa manis akibat pemakaian pasta gigi yang mengandung sodium lauryl sulphate 5%. Jurnal PDGI 58 (2) : 103 Schmalz, G. and Arenholt-Bindslev, D., 2009, Biocompatibility of Dental Materials, Springer, Berlin Tim Pengajar Biomaterial. 2004. Buku Bahan Ajar Biomaterial III. Yogyakarta: FKG UGM.

14