Anda di halaman 1dari 36

BAMBANG SUTIKNO (0707120212) DESIANA KOMALASARI (0707112514) M. SODIQ (0707120271) MELDA JULIANTI ( 0707120236 ) Y.A.

ANDIKA DESPARESI ( 0707120207)

Pendahuluan
Sabun adalah senyawa kimia yang dihasilkan dari reaksi lemak atau minyak dengan Alkali. Asam lemak ini terdapat di dalam minyak nabati dan lemak hewan. Reaksi dari minyak nabati dan lemak hewan dengan alkali disebut dengan reaksi saponifikasi. Selain berasal dari minyak atau lemak, sabun juga dibuat dari minyak bumi dan gas alam maupun langsung dari tanaman.

1.Tallow (Lemak Hewan) adalah lemak padat pada temperatur kamar dan merupakan hasil pencampuran Asam Oleat (0-40%), Palmitat (2530%), stearat (15-20%). Sabun yang berasal dari Tallow digunakan dalam industri sutra dan industri sabun mandi. Pada indsutri sabun mandi, tallow biasanya dicampurkan dengan minyak kelapa dengan perbandingan 80% tallow dan 20% minyak kelapa. 2. Minyak Kelapa merupakan komponen penting dalam pembuatan sabun, kerena harga minyak kelapa cukup mahal, maka tidak digunakan untuk membuat sabun cuci. Minyak kelapa ini berasal dari kopra yang berisikan lemak putih dan dileburkan pada suhu 15oC.

Bahan Dasar Pembuat Sabun

3. Minyak Inti Sawit Memiliki karekteristik umum, seperti minyak kelapa dan dapat dijadikan sebagai substituen dari minyak kelapa di dalam pembuatan sabun mandi. Dengan warna minyak yang terang, minyak inti sawit dapat digunakan langsung untuk membuat sabun tanpa perlakuan pendahuluan terlebih dahulu.

4. Minyak Sawit (Palm Oil) Minyak sawit dapat digunakan dalam berbagai macam bentuk, seperti Crude Palm Oil, RBD Palm Oil (minyak sawit yang telah dibleaching dan dideorisasi), Crude Palm falty Acid dan asam lemak sawit yang telah didestilasi. Crude Plam Oil yang telah dibleaching digunakan untuk membuat sabun cuci dan sabun mandi, RBD Palm Oil dapat digunakan tanpa melalui Pre-Treatment terlebih dahulu.

Sifat Sifat Sabun


a. Sabun bersifat basa. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa. CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + NaO b. Sabun menghasilkan buih atau busa. Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap. CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2

c. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat organic sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air.

Sifat Fisik Sabun


1. Aqueous sistem sabun sodium dan pottasium dari asam lemak ada dalam bentuk yang bervariasi. Fasa sabun cair diwakili oleh sabun murni, niger dan sabun didih yang diakui sejak dimulainya pembuatan sabun. 2. Fasa kelakuan sabun padat fasa ini menunjukkan semua sabun komersil terdiri dari struktur serat padat dari larutan sabun. Absorpsi air oleh sabun padatan berisikan uap lembab rendah yang diikuti dengan perubahan panas yang menyebabkan pembakaran spontan pada chips dalam jangka waktu yang cukup lama.

Sifat-sifat fisika
Viskositas Setelah minyak atau lemak disaponifikasi dengan alkali, maka akan dihasilkan sabun yang memiliki viskositas yang lebih besar dari pada minyak atau alkali. Pada suhu di atas 75o C viskositas sabun tidak dapat meningkat secara signifikan, tapi di bawah suhu 75o C viskositasnya dapat meningkatkan secara cepat. Viskositas sabun tergantung pada temperature sabun dan komposisi lemak atau minyak yang dicampurkan. Panas Jenis Panas jenis sabun adalah 0,56 Kal/g Densitas Densitas sabun murni berada pada range 0,96 0,99g

Miscellaneous
Terdiri dari : 1. Pendidihan sabun menggunakan resin 2. Waktu yang diperlukan untuk pendidihan, persiapan untuk sabun memerlukan 4- 8 jam, untuk pengendapan 4-16 jam. 3. Pemutihan dalam ketel dengan sodium hipoklorit.pemutihan itu dilakukan setelah penambahan air pada larutan sabun. 4. Pemurnian niger, impurities pada proses pembuatan sabun dalam ketel cenderung di akumulasi dalam niger.

Reaksi Pembuatan Sabun


1. Saponifikasi Pembuatan sabun tergantung pada reaksi kimia organik, yaitu saponifikasi. Lemak direaksi dengan alkali untuk menghasilkan sabun dan gliserin. Persamaan reaksi dari saponifikasi adalah: 3RCO2Na + C3H5(OH)3 Sabun Sadium Gliserin

C3H5(O2CR)3 + 3NaOH Lemak Alkali

2. Hidarolisa Lemak dan Penetralan 3. Pembuatan sabun melalui reaksi hidrolisa lemak tidak langsung menghasilkan sabun. Minyak atau lemak diubah terlebih dahulu menjadi asam lemak melalui proses Splitting (hidrolisis) dengan menggunakan air, selanjutnya asam lemak yang dihasilkan dari reaksi hidrolisis tersebut akan dinetralkan dengan alkali sehingga akan dihasilkan sabun. Hidrolisa ini merupakan kelanjutan dari proses saponifikasi. Secara kimia rekasi pembuatan sabunnya adalah : C3H5(O2CR)3 + 2H2O 3RCO2H + C3H5(OH)3

Air yang digunakan pada proses hidrolisis dapat berupa air dingin, panas atau dalam bentuk uap air panas (steam). Pada proses hidrolisa lemak, air yang digunakan berada pada tekanan dan temperatur yang tinggi, supaya reaksi hidrolisa dapat terjadi dengan cepat. Pada hidrolisa lemak ini terjadi netralisasi dengan memakai NaOH, dimana reaksinya: 3RCO2H + NaOH 3RCO2Na + 3H2O

Proses Pembuatan Sabun


Proses Batch

Lemak atau minyak yang dipanaskan di dalam reaktor batch dengan menambahakn NaOH, lemak tersebut dipanaskan sampai bau NaOH tersebut hilang. Setelah terbentuk endapan lalu didinginkan kemudian endapan dimurnikan dengan menggunakan air dan diendapkan lagi dengan garam, kemudian endapan tersebut direbus dengan air sehingga terbentuk campuran halus yang membentuk lapisan homogen yang mengapung.

Proses Kontinue

Lemak atau minyak dimasukkan kedalam reaktor kontinue kemudian dihidrolisis dengan menggunakan katalis sehingga menghasilkan asam lemak dengan gliserin. Kemudian dilakukan peyulingan terhadap asam lemak dengan menambahakna NaOH sehingga terbentuk sabun. Proses kontinue terdiri atas 4 kategori yaitu: 1. Proses dasar pada Kontinue saponifikasi lemak, terdiri dari: a. Sharples process merupakan proses dasar tradisional pada ketel,yaitu: saponifikasi, pencucian dan fitting. Terlihat pada gambar 1 berikut ini.

gambar 1. Sharples process

b. DeLaval process Prosesnya sama dengan sharples process. Ini merupakan proses sentrifugal pada sistem tertutup, yang mana operasi pencucian dan fitting manggunakan kontrol otomatis. Terlihat pada gambar 2. c. Monsavon Process Proses ini sama dengan sharples process, tetapi menggunakan koloid mill untuk proses saponifikasi dan separasi/pemisahan. d.Mechaniche Moderne process Merupakan proses lanjutan akhir dari sharples proses. e. Mazzoni SCN-LR process Dapat terlihat pada gambar 3.

Gambar 2. DeLaval Centripure process

Gambar 3. Mazzoni continuous saponification plant (SCN-LR)

2. Proses dasar pada continue splitting lemak menjadi asam lemak, yang terdiri dari : The mills process Merupakan suatu proses yang menghasilkan sabun menjadi sebuah operasi skala besar yang dikenalkan oleh Procter dan Gamble yang dipatenkan oleh Mill. Terlihat pada gambar 4. The Mazzoni SC process Merupakan proses dasar dari netralisasi asam Lemak dengan sodium hidroksida atau dengan sodium Karbonat. Terlihat pada gambar 5. The Armour process Merupakan proses variasi lain dari pemecahan lemak, destilasi asam lemak dan proses netralisasi, ditunjukkan pada gambar 6.

Gambar 4. The Mills process

Gambar 5. The Mazzoni SC process

Gambar 6. The Armour process

Parameter
Suhu ( oC ) Tekanan ( Mpa ) Katalis 150 175 5,2 10,0

Batch autoclave
240 2,9 3,1 Tanpa Katalis 250 5,61

Continous Countereurrent

Zn, Ca, Mg, Oksida , 1 - 2%

Opsional (Batch autoclave atau Twichel)

Waktu ( Jam ) Model Operasi Perolehan Keuntungan

5- 10 Batch 85-98% Suhu dan tekanan sedang

2-4 Kontinue 97-99% Tidak butuh ruangan luas Kualitas produk seragam Perolehan lebih tinggi Konsentrasi gliserin tinggi

Dapat diadaptasikan untuk skala kecil Biaya investasi awal lebih murah dari proses kontinue

Kelemahan Investasi awal agak tinggi Penanganan katalis Waktu reaksi lebih lambat dari proses continue Biaya tenaga kerja tinggi Perlu lebih satu tahap untuk mendapatkan perolehan yang lebih baik

Biaya operasi lebih murah


Pengendalian lebih akurat Investasi awal tinggi Suhu dan tekanan tinggi Perlu tingkat keahlian penanganan yang tinggi

Proses Pembuatan Sabun


1. Proses Pendidihan Penuh pada dasarnya sama dengan proses batch yaitu lemak atau miyak dipanaskan di dalam ketel (batch) dengan menambahakan NaOH yang telah dipanaskan. Selanjutnya campuran tersebut dipanaskan sampai terbentuk pasta kira-kira setelah 3-4 jam pemanasan. Setelah terbentuk pasta tambahakn NaCl (10-12%) maka terbentuklah sabun dan alkali, lalu keduanya dipisahkan dengan menggunakan air panas sehingga dihasilkan produksi utama berupa sabun dan produksi sampiongan berupa gliserin.

2. Proses semi pendidihan Semua bahan yaitu lemak atau minyak dan alkali langsung bercampur kemudian dipanaskan secara bersama-sama. Terjadilah reaksi saponifikasi. Setelah reaksi saponifikasi sempurna, maka dapat ditambahkan sodium siklikat dan sabun yang dihasilkan berwarna gelap.

3. Proses Dingin Pada proses dingin semua bahan yaitu minyak, alkali dan alkohol dibiarkan di dalam suatu tempat tanpa dipanaskan pada temperatur kamar, reaksi antara NaOH dengan uap air (H2O) merupakan reaksi eksoterm, sehingga dapat menghasilkan panas dan panas tersebut digunakan untuk mereaksikan alkohol dengan minyak, proses dingin memerlukan waktu selama 24 jam dan

Syarat sayarat proses pendinginan adalah :


Lemak dan minyak harus murni

Konsentrasi NaOH harus terukur dengan teliti


Temperatur harus terkontrol dengan baik Menggunakan minyak kelapa

4.Penetralan Lemak atau minyak ditambahakn NaOH sehingga terjadi reaksi saponifikasi dan dihasilkan sabun dan gliserin. Sabun yang dihasilkan tidak bersifat betral sehingga tidak dapat menghasilkan busa yag banyak oleh karena itu perlu dilakukan penetralan yaitu dengna menambahkan Na2CO3.

Proses Bahan Baku

Cold-made Soap Lebih banyak digunakan fatty acid daripada lemak.

Semi-boiled Soap Fatty acid ( dari minyak kelapa atau minyak marine).

Continous Proses Bisa digunakan pada lemak atau minyak dan fatty acid.

Produk

Produk bermutu rendah.

Sabun Lunak ( sabun

Produk sabun murni (neat

potash), secara umum


produk bermutu rendah. Keunggulan Bisa digunakan untuk skala kecil Operasi tidak membutuhkan recovery gliserin Untuk perancangan skala kecil relative lebih murah Operasi tidak membutuhkan recovery gliserin

soap dan bar soap)

Waktu reaksi lebih singkat (23 jam) Produk lebih mudah dikeluarkan Keseragaman dan kontinitas produk terjaga Gliserin yang dapat di recovery lebih banyak

Kelemahan

Butuh beberapahari untuk menyempurnakan reaksi Proses rumit Produk sulit dikeluarkan Kualitas produk tidak seragam

Butuh beberapa hari untuk menyempurnakan reaksi Proses rumit Produk sulit dikeluarkan Kualitas produk tidak seragam

Butuh banyak alat Diperlukan pengontrolan yang akurat Kondisi operasi pada suhu dan tekanan vakum

Glycerin Recovery
Gliserin itu sangat penting untuk memproduksi sabun alkali dan berasal dari pemecahan lemak dengan tekanan tinggi. Maka dapat disimpulkan bahwa glyserin ini merupakan bahan yang dapat digunakan kembali sebagai bahan dasar yang dapat manghasilkan produk lain.

5. Finishing a. Crutching Jika sabun murni yang berasal dari ketel atau proses lainnya akan dicampurkan dengan menggunakan bahan lain, maka sebelum dibentuk atau dikeringkan, dilakukan pencampuran terlebih dahulu. Campuran itu dilarutkan di dalam mesin crutcher dahulu. Crutcher adalah bejana yang berbentuk silindris dengan ukuran kecil, kapasitasnya 680-2279 dan dilengkapi dengan pengaduk. Crutcher juga digunakan di dalam pencampuran alkali dengan lemak di dalam pembuatan sabun dengan proses pendinginan.

b. Framming Metode yang digunakan untuk mengubah sabun murni atau cairan sabun panas menjadi padatan yang mudah dibentuk menjadi batangan atau disebut dengan framming. Framming dilakukan pada cairan sabun yang berada pada suhu 57-62oC didalam suatu frame yang memiliki berat 454 545 kg berbentuk persegi. Untuk memadatkan sabun murni diperlukan waktu 3-7 hari. Sabun yang telah dicetak dapat dipotong menjadi bagian kecil. Penambahan zat adiktif sepert antioksidan stabilizer dan parfum dilakukan pada saar crutching sebelum framming.

c. Drying Berbagai macam metoda pembuatan sabun dengan menggunakan reaksi saponifikasi yang menghasilkan sabun murni mengandung air sekitar 30-35%. Sabun murni tersebut diubah menjadi sabun chip dengan kandungan 5-15% air. Proses pengeringan yang sederhana dikenal dengan spray drying proses. Sabun yang mengandung air dilewatkan melalui spary nozzles. Partikel-partikel kecil ini dikeluarkan oleh spray nozzles dalam bentuk kering. Pengeringan juga daapt dilakukan pada vakum atau di dalam atmospherik flash drying.

Kegunaan Sabun
Bahan pencuci Dalam industri kosmetik sabun memiliki kegunaan tergantung pada komposisi yang terkandung di dalam sabun itu sendiri. Asam lemak seperti asam stearat atau asam aleat sebagian besar dikonversi menjadi sabun dengan mereaksikannya dengan alkali (NaOH, KOH) maupun dengan alkalominida. Asam lemak banyak digunakan di dalam pembuatan cream cukur, cream wajah, hand body lotion, dan pewarna rambut. Sabun stearat digunakan sebagai pengemulsi antara mineral minyak, lemak ester dan air di dalam pembuatan hand and body lotion.

Berdasarkan Penggunaannya, Sabun dapat Diklasifikasi Menjadi Tiga Jenis, yaitu:


1. Laundry Soap yaitu untuk sabun cuci. 2. Toilet soap yaitu yang digunakan untuk mandi dan perawatan kulit, termasuk juga disini medicine soap. 3. Textile soap yaitu yang digunakan untuk pada proses scouring textile, proses degumming sutera dll.

Kekurangan atau Kelemahan dari Sabun yaitu :


Kurang stabil terhadap asam Kurang stabil terhadap basa Kurang stabil terhadap logam berat Kurang stabil terhadap air sadah

Sumber
Hui, Y. H. Baileys Industrial Oil and Fat Products, fifth

edition. 1996. New York: John Willey & Sons Inc www.google.com/http:id. http://id.wikipedia.org/wiki/Sabun http://wapedia.mobi/ms/Sabun http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=2008 0925015947AAR3lcd