Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PROYEK ANATOMI DAN FISIOLOGI (BI 2103) HEMATOLOGI

Tanggal Praktikum : 18 September 2013 Tanggal Pengumpulan : 25 September 2013 Disusun oleh : Nabila Gea Saraya 10612065 Kelompok 5 Nama Asisten : Teguh Rachmanto 10609051

PROGRAM STUDI BIOLOGI SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG BANDUNG 2013

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Sistem peredaran darah pada setiap organisme sangat penting. Karena berfungsi untuk menyalurkan nutrisi dan juga oksigen yang dibutuhkan oleh sel. Jantung adalah organ yang bekerja pada system ini. Ruang jantung pada semua hewan vertebrata sama, yaitu terdapat bilik dan serambi. Namun berbeda-beda tergantung dari tingkatan hewan itu sendiri. Sistem peredaran darah tersusun dari sel-sel darah yang dibuat di sumsum tulang belakang, dan juga plasma darah. Unsur-unsur yang terdapat pada darah memliki nilai normal berbedabeda setiap spesiesnya. Nilai normal dari setiap unsur darah disebut parameterparameter hematologi. jika parameter-parameter pada suatu organisme sudah diketahui,hal tersebut akan mempermudah dalam pendiagnosaan penyakit yang diderita oleh suatu organisme. 1.2 Tujuan Dari latar belakang diatas, dapat dikatakan tujuan dilakukannya praktikum ini adalah : 1. 2. Menentukan fisiologis mencit berdasarkan parameter hematologi yang diukur Menentukan lapisan-lapisan histologi penyusun pembuluh darah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komponen-Komponen Pengukuran Paramaeter Hematologi 2.1.1 Hematokrit Hematokrit adalah salah satu pengukuran yang dilakukan untuk menghitung eritrosit dalam tubuh. Pengukuran hematokrit dilakukan pada suatu organisme untuk mengukur perbandingan volume eritrosit terhadap plasma darah dengan persen sebagai besarannya. Hasil yang didapat dari perhitungan hematokrit dapat mengindikasikan penyakit-penyakit yang terjadi pada suatu organisme tergantung dari besar atau rendahnya jumlah eritrosit (Keogh, 2009). 2.1.2 Hemoglobin Hemoglobin adalah protein yang terdapat pada sel eritrosit. Hemoglobin berfungsi untuk mengikat oksigen dan membawanya dari jantung ke seluruh tubuh dan mengikat karbon dioksida dari jaringan ke jantung untuk dikeluarkan (Anonim, 2010). Hemoglobin terdiri dari dua unsur, yaitu heme (yang memberi warna sel darah) dan globin. Heme adalah porphyrin dengan zat besi (Fe) di tengahnya, sedangkan globin adalah protein yang mengelilingi heme. Pada satu molekul hemoglobin terdapat empat unit heme dan juga empat unit globin (Anonim, 2013). Pengukuran hemoglobin untuk menghitung jumlah hemoglobin yang ada pada darah. Sama seperti hematokrit, hasil yang didapat dari perhitungan hematokrit dapat mengindikasikan penyakit-penyakit yang terjadi pada suatu organisme tergantung dari besar atau rendahnya jumlah eritrosit (Keogh, 2009).

2.1.3 Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) MCH adalah pengukuran rata-rata hemoglobin yang ada pada satu eritrosit. Pengukuran MCH dapat salah jika organisme percobaan mengalami hyperlipidemia yang akan meningkatkan rata-rata hemoglobin yang terukur dikarena meningkatnya kekeruhan plasma sehingga pengukuran hemoglobin menjadi meningkat. Hal ini dapat dicegah dengan melakukan sentrifugasi dan penghitungan manual (Greer, 2009). 2.1.4 Mean Cospuscular Volume (MCV) MCV adalah adalah niali rata-rata dari volume eritrosit dan merupakan parameter yang berguna dalam mengklasifikasikan anemia dan memberikan informasi mengenai patofisiologi dari penyakit-penyakit pada eritrosit. Pengukuran MCV dapat salah jika organisme percobaan mempunyai penyakit yang menyebabkan penggumpalan sel atau mengalami hyperglycemia yang menyebabkan nilai MCV meningkat (Greer, 2009) . 2.1.5 Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) MCHC adalah nilai rata-rata dari konsentrasi hemoglobin terhadap hemaotkrit yang diberikan. Setelah MCHC diketahui, rasio perbandingan massa hemoglobin dengan hematokrit akan diketahui. Keakuratan dari nilai MCHC dipengaruhi oleh factor-faktor yang mempengaruhi pengukuran dari hemoglobin atau hematocrit (Greer,2009). 2.16 Kadar Gula Kadar gula dalam tubuh seseorang diukur dengan menggunakan glukometer. Glukometer memiliki banyak variasi, ada yang dibuat untuk oemakai yang susah melihat, ada glukometer yang dibuat dengan memori, ada pula glikometer yang akan mengukur kadar gula setiap beberapa menit. Kadar gula yang diukur dengan glikometer akurat, namun cara pemakaian lah yang sering salah dan membuat hasil yang terukur tidak akurat (Anatomi, 2013).

2.2 Komponen-Komponen Darah 2.2.1 Eritrosit Eritrosit adalah sel yang paling banyak ada dalam darah dengan presentase 40%-45% dari volume darah. Berbentuk bulatan bikonkaf dengan tengah sel yang rata. Eritrosit tidak memiliki nukelus yang berguna untuk mempermudah perubahan bentuk pada saat melewati pembuluh darah namun juga menyebabkan umur pendek pada eritrosit yaitu selama 120 hari. Warna merah pada eritrosit disebabkan oleh adanya hemoglobin (terdapat unsur Fe) yang berguna untuk mengikat oksigen dan karbon dioksida (Anonim, 2010). Pada masa awal pembentukan eritrosit, calon sel eritrosit (eritroblas) memiliki sitoplasma basofil yang menyelubungi nukleus. Namun, seiring bertambahnya sintesis hemoglobin, eritroblas kehilangan sitoplasma basofilnya dan menyisakan nukleus yang kemudian mengalami perubahan struktural. Setelah dilepasnya nukleus, eritrosit muda masih terdapat organel-organel sisa seperti ribosom dan eritrosit muda ini kemudian dinamakan sebagai retikulosit (Heilmeyer, 2011). Retikulosit kemudian mengalami pematangan dengan perubahan ulang membran plasma dan menjadikan membrannya menjadi tahan lama dan menjadi highly deformable selayaknya membran dari sel eritrosit (Lee, 2004). 2.2.2 Leukosit Leukosit pada tubuh memiliki jumlah yang jauh lebih sedikit dari sel eritrosit yaitu sebesar 1% dari volume darah. Leukosit memiliki fungsi untuk melindungi tubuh dari infeksi yang masuk (Anonim, 2010). Leukosit dibagi menjadi dua bagian, yaitu Granulosit(sitoplasma terdapat granula) dan Agranulosit (sitplasma tidak ada granula). Pada granulosit terdapat tiga jenis granulosit yaitu neutrofil, eusinofil dan basofil. Neutrofil adalah jenis leukosit yang paling banyak ada yaitu sebesar 55% sampai 60% dari total leukosit. Pada

nukleousnya terdapat tiga sampai empat lobus. Ukuran normal dari neutrofil adalah 10 sampai 15 m (Cashen, 2010). Eusinofil jarang ditemukan pada darah karena dari total semua leukosit, banyaknya eusinofil hanya 0,5% sampai 4%. Eusinofil memiliki ukuran yang sama dengan neutrofil yaitu 10 sampai 15 m. Granula yang berada pada sitoplasma berwarna merah atau jingga dengan dua lobus pada nukelus. Basofil adalah jenis leukosit yang sangat jarang karena hanya terdapat sebesar 0,01% hingga 0,03% saja dari total leukosit. Ukuran yang dimiliki sama dengan eusinofil dan neutrofil. Pada sitoplasma terdapat granula berwarna biru gelap dengan dua lobus pada nukleus (Cashen, 2010). Pada Agranulosit dibagi menjadi dua jenis, yaitu limfosit dan monosit. Limfosit banyak tersebar pada darah dengan presentase sebesar 25% sampai 35% dari total leukosit. Ukuran leukosit normal adalah sebesar 7 sampai 18m. Perbedaan dari limfosit T dan B cukup sulit dibedakan. Limfosit memiliki nukleus menggumpal dan berwarna gelap dengan pinggiran pada sitoplasma sedikit biru. Monosit terdapat sebanyak 4% sampai 8% dari total leukosit dan merupakan sel leukosit terbesar dengan ukuran sebesar 12 hingga 20m. Sitoplasma berwarna biru dengan nukleus berbentuk huruf U. Monosit berfungsi sebagai fagosit (Cashen, 2010). 2.2.3 Trombosit Berbeda dari eritrosit dan leukosit, trombosit merupakan pecahanpecahan kecil dari sel. Trombosit berfungsi dalam proses penyembuhan dengan berkumpul di tempat terjadinya luka, berjajar pada pembuluh yang luka dan kemudian membentuk benang-benang fibrin untuk menutup luka dan mencegah darah untuk keluar (Anonim, 2010). Trombosit dihasilkan dari sel pada sumsum tulang belakangan yaitu megakariosit. Trombosit memiliki diameter sebesar 1 sampai 2m, tidak memiliki nkleus, berwarna keunguan yang terdapat pada sitoplasma dan mengandung granula berwarna merah atau biru (Cashen, 2010) 2.2.4 Plasma Darah

Plasma darah adalah cairan yang terdapat pada darah yang berfungsi untuk mentransfer sel-sel darah ke seluruh tubuh bersama dengan nutrisi, antibodi, hormon, dsb (Anonim, 2010). Plasma darah mengandung protein plasma, air dan zat terlarut lainnya. Pada protein plasma terkandung proteinprotein yang larut yaitu, albumin, globulin dan fibrinogen. Protein plasma yang terkandung dalam plasma darah ada sebanyak 99%, sisa 1% adalah hormon, enzim dan prohormon. Albumin berfungsi dalam transpor fatty acid, hormon tiroid, dan beberapa hormon steroid. Globulin berguna dalam mengikat zat besi, hormon atau senyawa lain yang akan dibuang melalui ginjal. Sedangkan fibrinogen berfungsi dalam proses penyembuhan luka (Martini 2012). 2.3 Penyakit Darah yang Berhubungan Dengan Parameter yang Terukur 2.3.1 Hypochromic Anemia Hypochromic anemia adalah jenis anemia yang paling umum terjadi. Anemia jenis ini muncul jika terdapat gangguan dalam sintesis hemoglobin pada eritrosit karena kurangnya zat besi (Fe) dan mengakibatkan kurangnya pengikatan oksigen. Kurangnya zat besi dapat disebabkan karena beberapa hal seperti kurangnya asupan zat besi, hilangnya darah secara kronis, dan gangguan pada penyerapan zat besi. Penyakit ini dapat menyebabkan organisme penderitanya mengalami kelelahan atau bahkan menyebabkan penyakit lain seperti koilonychia atau spoon nails (Heilmeyer, 2011). 2.3.2 Hemolytic Anemia Hemolytic anemia adalah jenis anemia yang disebabkan oleh pemendekan dari sikulus hidup eritrosit yang seharusnya adalah 120 hari. Namun anemia ini hanya akan tejadi jika sumsum tulang belakang tidak dapat menghasilkan eritrosit yang lebih banyak untuk dapat mengimbangi cepatnya eritrosit hancur. Cara untuk waktu hidup dari eritrosit ini adalah dengan chromium radiolabeling cells menggunakan 51Cr. Selain itu, cara ini juga dapat menentukan lokasi-lokasi tempat penghancuran eritrosit (Heilmeyer, 2011.

Penyakit ini dapat menimbulkan masalah lainnya seperti detak jantung yang tidak normal, kelelahan, dan juga gagal jantung (Gibbons, 2011). 2.3.3 Leukimia Leukimia adalah kanker pada darah atau pada sumsum tulang belakang. Penderita dari penyakit ini memiliki leukosit yang banyak disebabkan karena produksi sel darah yang tidak normal. Leukimia dibagi menjadi empat tipe yaitu, Acute Lymphocytic Leukemia (ALL), Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL), Acute Myelogenous Leukemia (AML), dan Chronic Myelogenous Leukemia (CML). ALL adalah tipe leukemia yang terjadi pada sumsum tulang yang menghasilkan sel darah putih dan akut. Biasanya penyakit ini diderita oleh anak-anak dan terkadan orang dewasa berumur diatas 65 tahun. CLL adalah tipe leukemia yang terjadi sama seperti ALL namun kronis. Leukimia jenis inilah yang paling sering diderita oleh orang dewasa dengan umur diatas 55 tahun. AML adalah tipe leukemia akut yang terjadi di sumsum tulang penghasil sel darah selain leukosit. Leukimia tipe ini lebih serind diderita oleh orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak. Dari hasil penelitian tahun 2012 oleh Memorial Sloan-Kettering Cancer Center, pada penderita AML ini ditemukan beberapa mutasi gen. CML adalah tipe leukemia yang terjadi di tempat yang sama dengan AML namun kronis. CML mayoritas diderita oleh orang dewasa dan dapat bertahan lebih dari lima tahun.(Anonim, 2009). 2.2.4 Diabetes Diabetes adalah penyakit dimana hilangnya kemampuan tubuh untuk merubah glukosa menjadi energi. Glukosa merupakan hasil dari dicernanya karbohidrat dalam tubuh. Setelah glukosa dihasilkan, glukosa di transfer kedalam darah dan didifusikan ke dalam sel untuk dirubah menjadi energi. Agar difusi glukosa dapat terjadi, diperlukan bantuan dari hormone insulin yang dihasilkan di beta sel pada pancreas. Pada penderita diabetes, pembentukan hormone insulin ini terganggu dan menyebabkan kurangnya produksi insulin (DRWF, 2010). Terdapat dua tipe diabetes, yaitu Tipe 1 dan Tipe 2. Diabetes

tipe 1 berpengaruh pada unsur gen, sehingga jika orangtua terkena diabetes tipe 1, ada kemungkinan untuk keturunannya terkena diabetes tipe 1. Pada tipe ini, produksi insulin cacat sehingga tidak dapat mendifusikan glukosa ke sel tubuh. Kebanyakan penderitanya adalah anak-anak dan remaja namun juga dapat diderita oleh semua umur. Diabetes tipe 2 adalah jenis diabetes yang paling umum. Penderita diabetes tipe ini adalah orang dewasa namun sekarang anakanak telah ada yang menderita diabetes tipe ini dan kemungkinannya akan lebih besar jika aktivitas sehari-hari kurang dan mengalami obesitas (DRWF, 2010).

BAB III

METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

Tabel 3.1 Alat dan Bahan

Alat Pipet khusus eritrosit Pipet khusus leukosit Hemocytometer Kaca penutup Pipet Tabung Sahli Alat ukur Sahli Pengaduk Sentrifuga Tabung Kapiler Preparat Mikroskop Darah mencit HCL 1 N Larutan Hayem Larutan Turk Aquades Porselin

Bahan

3.2 Cara Kerja 3.2.1 Penghitungan Jumlah Sel Darah Darah dihisap dengan pipet khusus eritrosit sampai skala 0,5 dan dilanjutkan dengan larutan Hayem dihisap dengan pipet yang sama sampai skala 101. Setelah itu darah dan larutan Hayem dicampur dengan cara dibolak-balik agar darah dan larutan Hayem menjadi homogen. Kemudian campuran tersebut dibaung beberapa tetes hingga skala 1. Setelah itu campuran diteteskan beberapa tetes pada sisi kaca penutup Hemocytometer (larutan hindari masuk ke parit kiri dan

10

kanan ruang hitung) dan eritrosit dihitung pada lima ruang persegi (R) di bawah mikroskop. 3.2.2 Perhitungan Jumlah Leukosit Darah dihisap dengan pipiet khusus leukosit sampai skala 1 dilanjutkan dengan larutan Turk dihisap dengan pipet yang sama hingga skala 11. Setelah itu darah dan larutan Turk dicampur dengan cara dibolak-balik agar darah dan larutan menjadi homogen. Kemudian campuran tersebut dibuang beberapa tetes hingga skala 1. Setelah itu campuran diteteskan beberapa tetes pada sisi kaca penutup Hemocytometer (larutan hindari masuk ke parit kiri dan kanan ruang hitung) dan leukosit dihitung pada empat ruang persegi (W) di bawah mikroskop. 3.2.3 Pengukuran Konsentrasi Hemoglobin Darah dihisap dengan pipet hingga batas 20l, diteteskan dalam tabung pada alat ukur sahli dan ditambahkan HCl 1 N. Kemudian diaduk sampai homogen dan dibandingkan warna larutan dengan warna larutan hemoglobin standar. Larutan ditetesi dengan aquades dan diaduk agar homogen sampai warna larutan sebanding dengan warna larutan standar. Setelah sama skala pada tabung sampel diamati untuk ditentukannya konsenstrasi hemoglobin. 3.2.4 Pengukuran Volume Hematokrit Tabung kapiler yang sudah mengandung antikoagulan diisi dengan darah dan salah satu ujungnya ditutup dengan porselin. Kemudian tabung diletakkan pada sentrifuga dan sidentrifuga selama 2-5 menit dengan kecepatan 1000015000 rpm. Volume hematokritn ditenutkan dengan skala Wintrobe. Bagian dasar tabugn diletakkan digaris paling bawah skala.

BAB IV

11

PENGOLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengolahan Data 4.1.1 Perhitungan Parameter Hematologi Perhitungan jumlah eritrosit

pengenceran =

jumlah eritrosit/mm3 darah = volume masing-masing ruang hitung = 0,2 X 0,2 X 0,1 mm3 jumlah eritrosit /mm3= eritrosit yang terhitung adalah 584 dan 632. Rata-ratanya adalah 613 oleh karena itu, jumlah eritrosit adalah = 50000x613=30.650.000/mm3

Perhitungan jumlah leukosit = 100

pengenceran =

jumlah leukosit /

= leukosit yang terhitung adalah 9 dan 13. Rata-ratanya adalah 11 oleh karena itu, jumlah leukosit adalah= 11 x 100/ 4x0,1x1x1=2750/mm3 Pengukuran konstentrasi hemoglobin

12

konsentrasi hemoglobin yang terhitung ada 14,1 dan 12,8. Rata-rata adalah 13,45 oleh karena itu, konsentrasi hemoglobin adalah 13,45 g/dL Pengukuran volume hematokrit

dari perhitungan yang dilakukan, volume hematocrit ada sebnyak 38 % Perhitungan MCV

=3830,65= 1,2398 m3

Perhitungan MCH

= 13,45 x 10 30,65 = 4,38 pg Perhitungn MCHC

13,45 x 100 38 = 35, 39 % Pengukuran kadar gula

Dari kadar gula yang diukur, hasil yang didapat adalah 75 mg 4.1.2 Tabel Foto Pengamatan Histologi Foto Literatur

13

1. Aorta

(Dokumen Pribadi) 40x (Martini, 2012) Aorta

(Dokumen Pribadi) 100x

(Pistorio, 2007) 100x

14

Vena Cava

(Dokumen Pribadi) 400x 2. Vena cava (Gallik, 2011) 400x Arteri Penyebar

(Wolexik, 2011) 100x (Dokumen Pribadi) 40x

15

(Dokumen Pribadi) 100x

(Dokumen Pribadi) 400x

16

3. Aorta penyebaran

(Dokumen Pribadi) 40x

(Dokumen Pribadi)100x

4.2 Pembahasan Pada percobaan yang dilakukan ada beberapa reagen yang digunakan untuk membantu dalam pengukuran. Reagen-reagen tersebut adalah Larutan Hayem, Larutan Turk, dan HCl. HCl befungsi untuk memecah sel eritrosit agar hemoglobin dalam eritrosit keluar dan bereaksi dengan HCl dan berubah warna menjadi coklat (Tian,2010). Larutan Hayem berfungsi untuk mencairkan sel darah merah untuk dihitung jumlahnya, sedangkan larutan Turk berfungsi untuk

17

mencairkan sel darah putih untuk dihitung jumlahnya. Komposisi dari larutan Hayem sendiri adalah sodium klorida sebanyak 0,5 mg, sodium sulfat sebanyak 2,5 mg, merkuri klorida sebanyak 0,25 mg, dan air suling sebanyak 100 ml. Dan komposisi larutan Turk adalah gentian violet(1%) sebanyak 1 ml, glacial acteic acid sebanyak 2 ml dan air suling sebanyak 97 ml (Sachdev, 2000). Dari hasil perhitungan, jumlah eritrosit pada mencit jauh lebih besar dari jumlah normal yaitu 7-10,1 106/L. Kemudian jumlah leukosit, MCV dan MCH yang didapat jauh lebih kecil dari jumlah normal. Konsentrasi hemoglobin dan MCHC dari mencit normal. Dari (Anonim, 2013). Dari berbagai penyakit yang dapat diderita oleh mencit, ada kesamaan penyakit yang didapat bila kekurangan leukosit dan kelebihan eritrsoit, yaitu mencit mengalami ketergantungan dengan alcohol (Koegh, 2009). Lapisan-lapisan yang menyusun pembuluh darah adalah tunika adventitia, tunika media dan tunika intima. Lapisan tunika adventitia adalah lapisan terluar dari pembuluh darah dan melekat bersama jaringan ikat. Lapisan tunika media adalah lapisan tengah pada pembuluh darah. Lapisan ini tersusun dari otot polos, serabut elastin, lamella elastin, kolagen, dan lamina elastika eksterna. Lapisan tunika intima yang merupakan lapisan terdalam pada pembuluh disusun oleh endotelia, subendotelia, dan lamina elastika interna (Pistorio, 2007). Perbedaan antar pembuluh berbeda dari tebal tipis dan ada atau tidaknya lapisan. Dari hasil pengamatan, aorta berbentuk bulat dan masih memiliki semua lapisan pada pembuluh darah dan tunika media sangat tebal. Berbeda dari aorta, vena cava bernentuk tidak bulat (tidak teratur), memiliki tunika media yag tipis , tidak terdapat lamina elastika eksterna dan interna, dan terdapat banyak lamella elastin. Arteri penyebar berbentuk bulat seperti aorta namun memiliki diameter yang lebi kecil. Tunika adventitia yang dimiliki lebih tipis dari aorta. Hasil pengamatan dengan literature dapat dikatakan sama.

BAB V

18

KESIMPULAN

1.

Dari perbandingan parameter hemtaologi dengan literatur, dapat diketahui bahwa mencit mengalami ketergantungan pada alkohol.

DAFTAR PUSTAKA

19

Anonim.2009.

What

Is

Leukemia?

What

Causes

Leukemia?

dari

http://www.medicalnewstoday.com/articles/142595.php. Diakses tanggal 25 September 2013 Anonim.2010.Blood Basics dari hematology.org/patients/blood-basics /5222.aspx.American Society of Hematology Anonim.2013.Experiment 10 :Blood and Hemoglobin.Indiana University Bloomington Anonim.2013.13-Appendix dari http://shodhganga.inflibnet.ac.in /.../ 13/13_ appendi
x.pdf. Diakses tanggal 25 September 2013

Cashen, Amanda F.,& Tine, Brian Van.2010.The Washington Manual of Hematology & Oncology Subspecialty Consult 3rd edition.Lippincott Williams & Wilkins DRWF.2010.What is Diabetes?.Washington D.C. Gallik,Steve.2011. Chapter 10. Histology of Blood Vessels dari

http://stevegallik.org/sites/histologyolm.stevegallik.org/htmlpages/HOL M_Chapter10_Page06.html. Diakses tanggal 25 September 2013 Gibbons, Gary H.2011.What is Hemolytic Anemia? dari http://www.nhlbi.nih. gov/health/health-topics/topics/ha/. Diakses tanggal 25 September 2013 Greer, John P.2009. Wintrobe's Clinical Hematology Vol.1 12th edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins Heilmeyer, L., & Begemann, H.2011.Atlas of Clinical Hematology 6th edition.Springer Keogh, James.2009.Nursing Laboratory & Diagnostic Tests Demystified.McGraw-Hill Professional Lee, James C.M., et al.2004.Mechanism of protein sorting during erythroblast enucleation: role of cytoskeletal connectivity.Blood, Vol.13 : 5.USA Martini, Frederic H., Nath, Judi L., Bartholomew, Edwin F.2012. Fundamentals

20

of Anatomy and Physiology 9th edition. Pistorio, Ashley L.2007. Chapter Five: Cardiovascular System dari http://www.medicalhistology.us/twiki/bin/view/Main/CardiovascularSyst emAtlas05. Diakses tanggal 25 September 2013 Tian, Yuting, et al.2010. Effects of Cell Lysis Treatments on the Yield of Coenzyme Q10 Following Agrobacterium tumefaciens Fermentation.