Anda di halaman 1dari 9

Gangguan Sistem Hematologi Hematologi berkaitan dengan darah dan jaringan pembentuk darah.

Sistem hematologik juga mencakup sistem makrofag-monosit (fagosit mononuklear), yang berasal dari sistem retikuloendotel (R S), yang terdapat di seluruh tubuh, terutama di llimpa, hati, kelenjar getah bening, dan sumsum tulang. Sistem makrofag-monosit ini akan memfagosit bahan-bahan mulai dari mikroorganisme asing sampai eritrosit mati dari darah dan jaringan tubuh. Gangguan-gangguan yang timbul dari sistem ini, disebut diskrasia darah, berkisar dari penyakit yang ringan sampai yang berkembang cepat dan mematikan. Gangguan Sel !arah "erah Gangguan pada sel darah merah disebabkan karena kelaianan pada produksi sel darah merah. #erubahan massa sel darah merah dapat menimbulkan dua keadaan yang berbeda. $ika jumlah sel darah merah kurang disebut anemia, sebaliknya jika jumlah sel darah merah terlalu banyak disebut polisitemia. %. &nemia "enurut definisi, anemia adalah berkurangnya hingga di ba'ah nilai normal jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan (olume hematokrit per %)) ml darah. !engan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan suatu cerminan perubahan patofisiologik yang mendasar yang diuraikan melalui anamnesis yang seksama, pemeriksaan fisik dan konfirmasi laboratorium. *arena semua sistem organ dapat terkena, maka pada anemia dapat menimbulkan manifestasi klinis yang luas, bergantung pada (%) kecepatan timbulnya anemia, (+) usia indi(idu, (,) mekanisme kompensasi, (-) tingkat akti(itasnya, (.) keadaan penyakit yang mendasarinya, dan (/) beratnya anemia. *arena jumlah efektif sel darah merah berkurang, maka pengiriman oksigen ke jaringan menurun. *ehilangan darah yang mendadak, seperti pada perdarahan mengakibatkan timbulnya gejala-gejala hipo(olemia dan hipoksemia, termasuk kegelisahan, diaforesis (keringat dingin), takikardi, napas pendek, dan berkembang cepat menjadi kolaps sirkulasi atau syok. 0amun, berkurangnya massa sel darah merah dalam 'aktu beberapa bulan (bahkan sampai .)1) memungkinkan mekanisme kompensasi tubuh untuk beradaptasi, dan pasien biasanya asimtomatik, kecuali pada kerja fisik berat. 2ubuh beradaptasi dengan, meningkatkan curah jantung dan pernapasan, oleh karena itu meningkatkan pengiriman oksigen ke jaringan-jaringanoleh sel darah merah, meningkatkan pelepasan soksigen oleh

hemoglobin, mengembangkan (oleme plasma dengan menarik cairan dari sela-sela jaringan dan redistribusi aliran darah ke organ-orhgan (ital. Salah satu tanda yang paling sering dikaitkan dengan anemia adalah pucat. *eadaan ini umumnya diakibatkan dari berkurangnya (olume darah, berkurangnya hemoglobin, dan (asokonstriksi untuk memaksimalkan pengiriman oksigen ke organ-organ (ital. 3arna kulit bukan merupakan indeks yang dapat dipercaya untuk pucat karena dipengaruhi pigmentasi, suhu, dan kedalaman serta distribusi bantalan kapiler. 4antalan kuku, telapak tangan, dan membran mukosa mulut serta konjungti(a merupakan indikator yang lebih baikuntuk menilai pucat. $ika lipatan tangan tidak ber'arna merah muda, hemoglobin biasany kurang dari 5 gram. 2akikardia dan bising jantung (suara disebabkan oleh peningkatan kecepatan aliran darah) mencerminkan beban jantung dan curah jantung meningkat. &ngina (nyeri dada), khususnya pada orang tua dengan stenosis koroner, dapat disebabkan oleh iskemia miokardium. #ada anemia berat, gagal jantung kongestif dapat terjadi karena otot jantung yang anoksik tidak dapat beradaptasi terhadap beban kerja jantung yang meningkat. !ispnea ( kesulitan bernapas), napas pendek, dan cepat lelah 'aktu melakukan akti(itas jasmani merupakan menifestasi berkurangnya pengiriman oksigen. Sakit kepala, pusing, pingsan, tinitus (telinga berdengung) dapat mencerminkan berkurangnya oksigenasi pada sistem saraf pusat. #ada anemia yang berat dapat juga timbul gejala-gejal saluran cerna seperti anoreksia, mual, konstipasi atau diare, dan stomatitis (nyeri pada lidah dan membran mukosa mulut)6 gejala-gejala umumnya disebabkan defisiensi, seperti defisiensi 7at besi. *lasifikasi &nemia &nemia dapat diklasifikasikan menurut (%) morfologi sel darah merah sdan indeks serta (+) etiologi. #ada klasifikasi morfologik anemia, mikro- atau makro- menunjukkan ukuran sel darah merah dan kromik untuk menunjukkan 'arnanya. #ertama, anemia normokromik normositik, sel darah merah memiliki ukuran dan bentuk normal serta mengandung jumlah hemoglobin normal. #enyebab-penyebab anemia jenis ini adalah kehilangan darah akut, hemolisis, penyakit kronis yang meliputi infeksi, gangguan endokrin, gangguan ginjal, kegagalan sumsum tulang, dan penyakit-penyakit infiltratif metastatik pada sumsum tulang. *ategori utama yang kedua adalah anemia normokromik makrositik, yang memiliki sel darah merah lebih besar dari normal tapi normokromik karena konsentrasi hemoglobin normal. *eadaan ini disebabkan oleh terganggunya atau terhentinya sintesis !0& seperti ditemukan pada defisiensi 4%+ atau asam folat atau keduanya. &nemia normokromik dapat juga terjadi pada kemoterapi kanker karena agen-agen menngganggu sintesis !0&.

*etegori ketiga adalah anemia hipokromik mikrositik. "ikrositik berarti sel kecil, dan hipokromik berarti pe'arnaan yang berkurang. *arena 'arna berasal dari hemoglobin, selsel ini mengandung hemoglobin dalam jumlah yang kurang dari jumlah normal. *eadaan ini umumnya mencerminkan insufisiensi sintesis heme atau kekurangan 7at besi, seperti pada anemia defisiensi besi, atau gangguan sintesis globin, seperti pada thalasemia. 2halasemia menyangkut ketidaksesuaian jumlah rantai alfa dan beta yang disintesis, dengsn demikian tidak dapat terbentuk molekul hemoglobin tetramer normal. &nemia dapat juga diklasifikasikan menurut etiologi. #enyebab utama yang dipikirkan adalah (%) peningkatan hilangnya sel darah merah dan (+) penurunan atau kelainan pembentukan sel. "eningkatnya kehilangansel darah merah dapat disebabkan oleh perdarahan atau penghancuran sel. #erdarahan dapat diakibatkan dari trauma atau ulkus atau akibat perdarahan kronis karena polip di kolon, keganasan, hemoroid atau menstruasi. #enghancuran sel darah merah di dalam sirkulasi dikenal sebagai hemolisis, teerjadi jika gangguan pada sel darah merah itu sendiri memperpendek siklus hidupnya (kelainan intrinsik). *eadaan-keadaan yang sel darah merah itu sendiri mengalami kelainan adalah8 %. Hemoglobinopati atau hemoglobin abnormal yang di'ariskan, seperti penyakit sel sabit. +. Gangguan sintesis globin, seperti thalasemia. ,. *elainan membran sel darah merah, seperti sferositosis herediter dan elipsositosis. -. !efisiensi en7im, seperti defisiensi glukosa /-fosfat dehidrogenase (G/#!) dan defisiensi piru(at kinase. Gangguan yang disebut diatas bersifat herediter. 0amun hemolisis dapat juga disebabkan oleh masal-masalah lingkungan sel darah merah, yang sering memerlukan respon imun. Respon isoimun yang mengenai indi(idu-indi(idu berbeda dalam spesies yang sama dan disebabkan oleh transfusi darah yang tiddak cocok. Respon autoimun terdiri atas produk antibodi terhadap sel-sel darah merah tubuh sendiri. &nemia hemolitik autoimun dapat terjadi tanpa diketahui penyebabnya setelah pemberian obat-obatan tertentu seperti alfa-metildopa, 9uinin, sulfonamid, atau :-dopa, atau pada keadaan penyakit-penyakit lain seperti limfoma, leukemia limfositik kronik, lupus eritematosus, artritis reumatoid, dan infeksi (irus. &nemia hemolitik autoimun diklasifikasikan menurut suhu saat antibodi bereaksi dengan sel-sel darah merah;antibodi tipe hangat atau antibodi tipe dingin. "alaria merupakan penyakit parasit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang terinfeksi. "alaria mengakibatkan anemia hemolitik berat ketika sel darah merah diinfestasi oleh parasit

plasmodium, yang menyebabkan kelainan sehingga permukaan sel darah merah menjadi tidak teratur. *emudian sel darah merah yang mengalami kelainan segera dikeluarkan dari sirkulasi oleh limpa. Hepersplenisme (pembesaran limpa) dapat juga menyebabkan hemolisis akibat peningkatan nyata sel darah merah yang terperangkap dan hancur. *arena limpa yang membesar mengisolasi semua jenis sel darah, seorang pasien dengan hipersplenia akan mem perlihatkan adanya pansitopenia dan sumsum tulang yang normal atau hiperseluler. :uka bakar berat, terutama saat bantalan kapiler pecah dapat menyebabkan hemolisis. *atup jantung buatan juga menyebabkan hemolisis oleh destruksi mekanis. *lasifikasi etiologik utama adalah berkurangnya atau terganggunya produksi sel darah merah. Setiap keadaan yang mempengaruhi fungsi sumsum tulang termasuk di dalam kategori ini. 2ermasuk di dalam kelompok ini adalah (%) keganasan jaringan padat metastatik, leukemia limfoma, dan mieloma multipel6 pajanan terhadap obat-obat dan 7at kimia toksik6 serta radiasi dapat mengurangi produksi efektif sel darah merah6 dan (+) penyakit-penyakit kronis yang mengenai ginjal dan hati serta infeksi dan defisiensi endokrin. *ekurangan (itamin-(itamin penting seperti 4%+, asam folat, (itamin <, dan 7at besi dapat mengakibatkan pembentukan sel darah merah tidak efektik, menimbulkan anemia. =ntuk menentukan jenis anemia baik apertimbangan morfologik dan etiologik harus digabungkan. +. #olisitemia #olisitemia berarti kelebihan (poli-) semua jenis sel (-sitemia), tetapi umumnya nama tersebut digunakan untuk keadaan-keadaan yang (olume sel darah merahnya melebihi normal. *eadaan ini mengakibatkan peningkatan (iskositas dan (olume darah. #olisitemia primer atau (era adalah ganggua mieloproliferatif, yaitu sel induk pluripoten abnormal. #olisitemia sekunder terjadi jika (olume plasma dalam sirkulasi berkurang (mengalami hemokonsentrasi) tetapi (olume total sel darah merah di dalam sirkulasi normal. Gangguan Sel !arah #utih dan Sel #lasma Gangguan sel darah putih dapat mengenai setiap lapisan sel atau semua lapisan sel dan umumnya disertai gangguan pembentukan atau penghancuran diri. :eukositosis menunjukkan peningkatan leukosit yang umumnya melebihi %).)))>mm,. Granulositosis menujukkan peningkatan granulosit , tapi sering digunakan hanya untuk menyatakan peningkatan neutrofil6 jadi sebenarnya, neutrofilia merupakan istilah yang lebih tepat.

:eukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme. 2erhadap respon infeksi atau radang akut, neutrofil meninggalkan kelompok marginal dan memasuki daerah infeksi6 sumsum tulang melepaskan sumber cadangannya dan menimbulkan peningkatan granulopoiesis. *arena permintaan yang meningkat ini, bentuk neutrofil imatur, yaitu yang dinamakan neutrofil batang, yang memasuki sirkulasi meingkat, proses ini dinamakan pergeseran ke kiri. 4ila infeksi mereda, maka neutrofil berkurang dan monosit meningkat (monositosis). #ada resolusi yang progresif, monosit berkurang dan terjadi limfositosis (limfosit bertambah) ringan, serta eusinofilia (eusinofil bertambah). Reaksi leukemoid menyatakan keadaan leukosit meningkat disertai peningkatan bentuk imatur yang mencapai %)).)))>mm,. ?ni akibat respons terhadap infeksi, toksik, dan peradangan serta terjadi juga pada keganasan, terutama payudara, ginjal, paru, dan karsinoma metastatik. Gangguan dengan terjadinya peningkatan umum dalam sel-sel pembentukan darah dinamakan gangguan mieloproliferatif. %. 0eutrofilia 0eutrofilia juga terjadi sesudah keadaan stres, seperti kerja fisik berat atau penyuntikan epinefrin. ?ni adalah @pseudoleukositosisA karena granulopoiesis dalam sumsum tulang tidak ditambah dan jumlah jumlah granulosit dalam tubuh sebenarnya meningkat. Granulosit dilepaskan dari kelompok marginal sehingga jumlah granulosit yang dapat ditarik ke dalam alat penentuan sampel bertambah. #engobatan dengan kortikosteroid juga mengakibatkan pseudaleukositosis. *ortikosteroid diduga meningkatan pelepasan granulosit dari cadangan sumsum serta menghalangi marginasi granulosit, yang mengakibatkan leukosit dalam sirkulasi bertambah. osinofilia terjadi pada gangguan kulit seperti mikosis fungoides dan eksema6 keadaan alergi seperti asma dan hay fe(er6 reaksi obat dan infestasi parasit. osinofilia juga ditemukan pada keganasan dan gangguan mieloproliferatif, seperti pada basofilia. "onositosis ditemukan pada fase penyembuhan infeksi dan pada penyakit granuloma kronok seperti tuberkolosis dan sarkoidosis. :imfositosis menunjukkan jumlah limfosit meningkat. :imfosit yang diaktifkan oleh rangsang (irus atau antigen diubah bentuknya menjadi limfosit atipik yang lebih besar. Sel-sel ini terdapat dalam jumlah besar pada mononukleosis infeksiosa, campak, parotitis, beberapa reaksi alergi (misalnya, serum sickness, sensiti(itas obat), ddan limfoma maligna. Selain limfositosis, pasien ini sering menunjukkan pembesaran hati, lien, dan kelenjar getah bening, yang semuanya merupakan tempat pembentukan limfosit.

:eukopenia

menunjukkan

jumlah

leukosit

yang

menurun,

dan

neutropenia

menunjukkan penurunan jumlah absolut neutrofil. *arena peran neutrofil pada pertahanan pejamu, maka jumlah neutrofil absolut yang kurang dari %)))>mm , merupakan predisposisi terkena infeksi6 jumlah di ba'ah .))>mm, merupakan predisposisi terhadap infeksi yang mengancam kehidupan yang sangat berbahaya. 0eutropenia dapat disebabkan oleh pembentukan neutrofil, yang ditemukan pada anemia hipoplastik atau aplastik, yang disebabkan oleh obat sitotksik, 7a-7at toksik, dan infeksi (irus6 kelaparan6 dan penggantian sumsum tulang normal oleh se-sel ganas, seperti pada leukemia. &granulositosis adalhkeadaan yang sangat serius dan ditandai dengan jumlah leukosit yang sangat rendah dan tidak adanya neutrofil. &gen penyebab umumnya adalah obat yang mengganggu pembentukan sel atau meningkatkan penghancuran sel. Bbat-obat yang sering dikaitkan adalan agen-agen kemoterapi miolosupresif (menekan sumsum tulang) yang digunakan pada pengobatan keganasan hematologi dan keganasan lainnya. Bbat yang makin banyak dan sering digunakan seperti analgetik, antibiotika, dan antihistamin, diketahui mampu menyebabkan neutropenia atau agranulositosis berat. Respon terhadap obat-obatan ini berkaitan dengan dosis atau reaksi indosinkrasi. #erubahan kromosom rekuren terjadi pada lebih dari separuh kasus leukemia, dan terjadi hanya pada sel hematopoietik ganas. Gejala agranulositosis yang sering dijumpai adalah infeksi, rasa malaise umum (rasa tidak enak, kelemahan, pusing, dan sakit otot) diikuti oleh terjadinya tukak pada membran mukosa, demam ,dan takikardia. $ika agranulositosis tidak diobati, dapat terjadi sepsis dan kematian. "enghilangkan agen penyebab sering menghambat dan menyembuhkan proses tersebut disertai peningkatan pembentukan neutrofil dan unsur-unsur sumsum normal lainnya. +. :eukemia :eukemia mula-mula dijelaskan oleh Circho' pada tahun %5-D sebagai @darah putihA , adalah penyakit neoplastik yang ditandai dengan diferensiasi dan proliferasi sel induk hematopoietik yang secara maligna melakukan tranformasi, yang menyebabkan penekanan dan penggantian unsur sumsum yang normal. *lasifikasi leukemia yang palinga banyak digunakan adalah klasifikasi dari Erench-&merican-4ritish (E&4). *lasifikasi ini klasifikasi morfologik dan didasarkan pada diferensiasi dan maturasi sel leukemia yang dominan dalam sumsum tulang, serta pada penelitian sitokomia. !engan meningkatnya sitogenetika, biologi molekuler dan imunologi telah terjadi dampak yanhg nyata dalam membedakan sel hematopoietik normal dengan klon maligna. 2eknologi imunologi telah meningkatkan klasifikasi dengan mengidentifikasi klon maligna

sebagai mieloid, limfoid 4, limfoid 2, atau biofenotipik (mempunyai ciri khas sel mieloid dan limfoid). &nalisis sitogenik menghasilkan banyak pengetahuan mengenai aberasi kromosomal yang terdapat pada pasien dengan leukemia. #erubahan kromosom dapat meliputi perubahan angka, yang menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan struktur, yang termasuk translokasi, delesi, in(ersi, dan insersi. #ada situasi ini, dua atau lebih kromosom mengubah bahan genetik, dengan perkembangan gen yang berubah dianggap menyebabkan mulainy proliferasi sel abnormal. *romosom philadelpia (#h) merupakan contoh perubahan sitogenetik yang ditemukan pada 5.1 pasien leukemia mieloid kronik dan pada beberapa pasien pasien dengan leukemia limfoid atau mieloid akut. &ksi ini adalah translokasi kromosom F dan ++, diidentifikasi sebagai t(F6++). Studi molekuler yang mendeteksi perubahan setingkat !0& lebih lanjut telah menggambarkan kromosom #h dan (ariasi berbagai jenis leukemia. :ebih dari F)1 anak dengan leukemia limfositik akut memperlihatkan mengalami satu atau lebih aberasi kromosom. 4anyak aberasi kromosom telah diidentifikasi dan merupakan diagnostik untuk jenis leukemia tertentu. ?dentifikasi perubahan ini untuk memprediksi perjalanan klinis, prognosis, dan pencapaian remisi atau relaps. Gambaran ini mempunyai dampak yang hebat pada modalitas pengobatan dan seluruh prognosis. 3alaupun menyerang kedua jenis kelamin, tetapi laki-laki terserang sedikit lebih banyak daripada perempuan. :eukemia granulositik atau mielositik akut ditemukan pada orang de'asa semua umur, dan akan meningkay setelah berumur -) tahun. =mur rata-rata adalah /) tahun. :eukemia limfositik akut lebih sering pada anak-anak diba'ah umur %. tahun, dengan puncaknya antara umur + dan - tahun6 keadaan ini juga terdapat pada orang de'asasemua umur, dengan peningkatan bertahap pada umur /) tahun. :eukemia granulositik atau mielositik kronik paling sering ditemukan pada pasien berusia pertengahan dengan umur rata-rata /) tahun, tetapi dapat terjadi pada tiap kelompok umur. :eukemia limfositik kronik biasanya ditemukan pada indi(idu yang lebih tua. 3alaupun penyebab dasar leukemia tida diketahui predisposisi genetik maupun faktorfaktor lingkungan kelihatannya memainkan peranan. $arang ditemukan leukemia familial, tetapi kelihatannya terdapat insiden leukemia lebih tinggi dari saudara kandung anak-anak yang terserang, dengan insiden yang meningkat sampai +)1 pada kembar mono7igot. ?ndi(idu dengan kelainan kromosom, seperti sindrom do'n, kelihatannya mempunyai insiden leukemia akut dua puluh kali lipat. Eaktor lingkungan berupa pajanan dengan radiasi pergion dosis tinggi disertai manifestasi leukemia yang timbul bertahun-tahun kemudian. Gat-7at kimia (misal, ben7ena,

arsen, pestisida, kloramfenikol, fenilbuta7on, dan agen antineoplastik) dikaitkan dengan frekuensi yang meningkat, khususnya agen-agen alkil. *emungkinan leukemia meningkat pada penderita yang diobati baik dengan radiasi atau kemoterapi. Setiap keadaan sumsum tulang hipopastik kelihatannya merupakan predisposisi terhadap leukemia. #asien dengan sindrom mielodisplastik (gangguan sel induk dengan manifestasi adanya blas dan pansitopenia yang ditemukan pada orang de'asa tua) sering berkembang menjadi leukemia nonlimfositik akut. 2erapi ditujukan pada eliminasi garis sel abnormal6 /.1 pasien, dengan mulainya lagi hematopoiesis normal, mencapai remisi penyakit. #encapaian remisi molekuler lengkap dengan pembalikan semua abnormalitas sitogenetik penting untuk penyembuhan atau remisi jangka panjang. &gen kemoterapi yang dipilih menghancurkan sel dengan berbagai mekanisme, seperti mengganggu maturasi dan metabolisme sel. "anifestasi klinis yang sama pada pansitopenia yang menyertai penyakit aktif timbul setelah kemoterapi. ?nfeksi tetap merupakan penyebab kematian pada pasien dengan leukemia akut. #era'atan suportif merupakan kunci untuk meningkatkan angka harapan hidup pasien ini. #era'atan harus mencakup perhatian yang penuh mela'an infeksi dan perdarahan. 2erapi antimikroba yang agresif haru dimulai pada tanda pertama infeksi, bersama dengan profilaksis antifungus. #enggunaan terapi komponen darah yang bijaksana (misal, trombisit dan sel darah merah) akan melindungi pasien dari perdarahan. ,. :imfoma :imfoma keganasan sistem limfatik. #enyebab tidak diketahui, tetapi faktor resiko yang diidentifikasi mencakup keadaan imunodefisiensi (kongenital dan didapat), serta pajanan dengan herbisida, pestisida, dan pelarut organik seperti ben7ena. #eningkatan insiden &?!S dihubungkan dengan limfoma derajat tinggiu yang menunjukkan imunosupresi sebagai faktor penyebab. Cirus telah implikasikan, terutama (irus mungkin. #embentukan tumor a'al adalah pada jaringan limfatik sekunder (misa, kelenjar getah bening atau lien) tempat limfosit abnormal menggantikan struktur normal. !ua kategori besar limfoma dilakukan atas dasar histopatologik mikroskopik dari kelenjar getah bening yang terlibat. *ategori tersebut adalah limfoma pennyakit Hodgkin dan non-Hodgkin. 3alaupun tanda dan gejala penyakit limfoma saling menutupi, pengobatan dan prognosis berbagai limfoma tetap berlainan. !engan demikian adalah suatu keharusan untuk pstein-4arr ditemukan pada limfoma 4urkitt dan yang lebih mutkhir diimplikasikan pada patogenesis penyakit Hodgkin yang

menegakkan diagnosis secara tepat. =ntuk tujuan ini diambil sebuah kelenjar getah bening atau lebih untuk diperiksa secara mikroskopis. :imfoma non-Godgkin dan penyakit Hodgkin dibedakan berdasarkan jenis sel yang mencolok yang terdapat dalam kelenjar getah bening, serta penyebarannya. Sel-sel tersebut dapat tersebar dalam bentuk nodular atau difus. Sel-sel ini meusak arsitektur normal kelenjar getah bening. #erkembangan mutakhir dalam biologi gnetik dan molekuler untuk mengidentifikasi penanda fenotipik (genetik) dan translokasi kromosomal, bersama gambaran klinis penyakit, membedakan limfoma agresif dengan indolen dan menuntun pengobatan serta perkembangan. :imfoma sel 4 diperhatikan lebih indolen dengan harapan hidup bebasrelaps panjang, sedangkan limfoma sel 2 dengan jenis histologi yang sama memiliki angka relaps lebih tinggi dengan harapan hidup bebas-relaps yang lebih singkat. -. !iskrasia Sel #lasma !iskrasia sel plasma merupakan sekelompok gangguan yang bermanifestasi proliferasi sel plasma dalam sumsum tulang atau darah tepi atau keduanya. Sel plasma berasal dari limfoid (limfosit 4) dan secara normal berperan dalam sintesis imunoglobulin. :ima golongan utama imunoglobulin adalah ?g&, ?g!, ?g , ?gG, dan ?g". #ada diskrasia sel plasma, sel plasma mensintesis dan menyekresi imunoglobulin yang secara struktural homogen, disebut komponen ". #rotein ini ditemukan dalam serum atau urine pasien yang terserang. "ieloma multipel merupakan diskrasia sel plasma neoplastik yang berasal dari satu klon sel plasma, manifestasinnya adalah proliferasi sel plasma matur dan imatur yang tidak terkontrol pada sumsum tulang. "akroglobulinemia 3aldenstrm adalah diskrasia sel plasma yang kurang sering terjadi dan terutama menyerang laki-laki berusia lebih dari .) tahun.