Anda di halaman 1dari 7

KELOMPOK 4 PENDIDIKAN KIMIA REGULER 2012

Agisna Nur Fala 3315122087

Aini Rizka 3315122110

Aldy Kelvianto 3315120232

Halo, nama saya delima kiswanti. teman-teman memanggil saya kis (dengan satu s). Rumah saya di puncak sebuah bukit di selatan kota semarang. Saya lahir di Bantul, Yogyakarta, 4 Desember 1963. Saya ibu dua anak dan sekarang saya tinggal di Desa Lebak Wangi, salah satu desa di kecamatan Parung, Bogor, Jawa Barat. Nama suami saya Ngatimin, beliau sangat bersahaja dan mendukung yang saya lakukan

GO TO VIDEO

Kenapa kami memilih Kiswanti sebagai bahasan kami? Kiswanti yang hanya tamatan SD mampu memajukan Indonesia dengan membuka perpustakaan gratis dan belajar gratis. Pada tahun 1987 ia merantau ke Jakarta, bekerja jadi pembantu agar bisa beli buku dan majikannya kebetulan memiliki koleksi buku yang banyak. Kis sempat mengajukan untuk tak digaji dengan uang, melainkan dengan buku. Itu karena dia ingin menambah koleksi buku yang waktu itu sudah mencapai 1500 buku. Tetapi, majikannya menolak dan tetap menggajinya dengan uang. Tiga bulan kemudian, Kiswanti pun menerima gaji. Sebagaimana niat awal kerja untuk menambah koleksi buku maka hasil kerja 3 bulan sebesar 120.000 ia belikan buku 95.000. Ia mendapat 45 judul buku. Kini, lebih kurang 2000 koleksi buku yang terdiri dari buku bacaan anak, komik, majalah, dan beberapa bentuk mainan anak-anak, bisa dinikmati oleh warga Parung. Sebidang ruangan pun jadi Taman Bacaan yang diberi nama Warabal. Taman bacaan yang dirintis Kiswanti ini pun tidak hanya jadi tempat anak-anak dan warga untuk meminjam buku, melainkan juga sekaligus jadi tempat belajar. Karena keterbatasan ruang sedang animo masyarakat yang tak terbendung, tempat belajar pun kurang memadai. Bahkan ibu Kiswanti merelakan ruang tamunya untuk menjadi tempat belajar komputer. Selain rak di ruang dalam, buku-buku bertumpuk di kardus-kardus, keranjang-keranjang di sudut ruangan, dan di teras, bahkan di bekas kulkas tua dan karatan di belakang rumah. Kulkas itu sengaja ia beli dari seorang tukang loak, khusus untuk menyimpan koran-koran tua. Semangat dan kerja keras Kiswanti yang berkobar menjadi panutan yang baik bagi bangsa ini.