Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Greenhouse atau yang dikenal dengan rumah kaca saat ini bukanlah barang baru bagi pelaku agribisnis, terutama agribisnis hortikultura seperti sayuran dan tanaman hias. Meskipun demikian, hal itu tidak menjamin bahwa semua petani Indonesia mengerti dan mengetahui tentang greenhouse ini. Jangankan tahu manfaatnya, bahkan mungkin melihatnya saja belum pernah. Berdasarkan pertimbangan tersebut,dalam bahasan ini akan diulas gambaran umum mengenai apa sebenarnya dan manfaat dari green house sebagai penunjang agribisnis kita. Sejalan dengan bertambahnya waktu dan tingginya serapan tekhnologi pertanian, peranan greenhouse bagi dunia pertanian kita semakin lama semakin dibutuhkan. Dengan semakin maraknya pembangunan perumahan maupun kawasan industri akhir-akhir ini membuat lahan pertanian makin berkurang. Padahal kebutuhan akan pangan di dalam negeri semakin lama semakin besar dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan pemikiran itulah penggunaan greenhouse untuk kegiatan bisnis pertanian semakin diperlukan. Pemikiran pengembangan greenhouse untuk agribisnis hortikultura yang didasari pada keinginan pemenuhan kebutuhan produk pertanian yang kontinyu tanpa kenal musim. Untuk jangka panjang pembudidayaan tanaman dengan greenhouse sangat menguntungkan khususnya untuk bisnis fresh market hortikultura karena kita mampu berproduksi sepanjang masa tidak tergantung pada cuaca atau musim bahkan kualitas produk yang dihasilkan dapat terjamin atau lebih baik dari tehnik budidaya dialam bebas.

1.2

Rumusan Masalah Terkait makalah yang akan disajikan oleh kelompok kami, maka rumusan masalah yang akan dikembangkan adalah sebagai berikut:

1. Apa definisi greenhouse? 2. Bagaimana sejarah greenhouse? 3. Apa saja tujuan dan manfaat dari greenhouse? 4. Apa saja jenis dan tipe greenhouse? 5. Bagaimana pembuatan greenhouse? 6. Bagaimana peluang hortikultura dalam greenhouse? 7. Apa saja kelemahan greenhouse?

1.3

Tujuan Penulisan Pembuatan makalah ini memiliki beberapa tujuan sebagai berikut: A. Tujuan Umum Mahasiswa dapat meningkatkan pemahamannya mengenai greenhouse management sebagai salah satu cabang dari hortikultura di era pertanian modern. B. Tujuan Khusus 1. Mengetahui teknik budidaya tanaman dengan greenhouse. 2. Mampu membaca peluang hortikultura dengan teknik pertanian modern. 3. Mengetahui kelebihan dan kelemahan dari greenhouse.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Definisi Greenhouse Green arsitektur atau greenhouse ialah sebuah konsep arsitektur yang

berusaha meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia dan menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yang dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber energi dan sumber daya alam secara efisien dan optimal. Rumah kaca atau greenhouse pada prinsipnya adalah sebuah bangunan yang terdiri atau terbuat dari bahan kaca atau plastik yang sangat tebal dan menutup diseluruh pemukaan bangunan, baik atap maupun dindingnya. Didalamnya dilengkapi juga dengan peralatan pengatur temperatur dan kelembaban udara serta distribusi air maupun pupuk. Bangunan ini tergolong bangunan yang sangat langka dan mahal karena tidak semua tempat yang kita jumpai dapat ditemukan bangunan semacam ini. Greenhouse biasanya hanya dimiliki oleh Perguruan Tinggi atau Lembaga Pendidikan, Balai Penelitian dan perusahaan yang bergerak dibidang bisnis perbenihan, bunga dan fresh market hortikultura. Namun di negara-negara pertanian yang sudah maju seperti USA, Australia, Jepang dan negara-negara Eropa sebagian besar tanaman hortikulturanya ditanam di rumah kaca. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan greenhouse di manca negara sudah umum dilakukan.

2.2

Sejarah Greenhouse Sejarah greenhouse sendiri berasal dari rumah-rumah yang berada pada

tingkatan tradisional. Tradisional sendiri bisa diartikan terhadap kesederhanaan dan dari titik sederhana itu kita dapat memahami sejarah di balik kata greenhouse tersebut. Rumah kaca telah jauh datang sejak kayatrofa dan Amerika menggunakannya untuk tumbuhan jeruk dan nanas dalam struktur kaca, dikenal sebagai orang eries dan penetres. Struktur ini menjadi symbol status serta cara praktis untuk tumbuh

buah-buahan dan sayuran dan tanaman eksotis. Salah satu rumah kaca paling awal dibangun sekitar 30 AD untuk Kaisar Tiberius Romawi. Mengingat kaca belum ditemukan sehingga Specularium itu dengan susah payah dibuat dari lembaran tembus kecil mika. Semua itu dilakukan untuk memenuhi cravingstiberus untuk ketimun di luar musim. Tidak sampai 1599 bahwa rumah kaca praktis pertama dibuat oleh jules carles seorang ahli botani asal prancis dibangun di belanda dan digunakan terutama untuk tumbuh tanaman tropis obat. Ruangan kaca yang tertutup dari rumah kaca mempunyai kebutuhan yang unik dibandingkan dengan produksi luar ruangan. Hama penyakit dan panas tinggi serta kelembapan harus dikontrol dan irigasi untuk penyediaan air. Kaca yang digunakan untuk rumah kerja, bekerja sebagai medium transmisi yang dapat memilih frekuensi spectral yang berbeda-beda dan efeknya adalah untuk menangkap energy di dalam rumah kaca. Yang memanaskan udara di dekat tanah dan udara ini di cegah naik keatas dan mengalir keluar. Oleh karena itu, rumah kaca bekerja dengan menangkap radiasi elektromagnetik dan mencegah konjeksi.

2.3

Tujuan dan Manfaat Greenhouse 2.3.1 Tujuan Greenhouse

Greenhouse merupakan tempat pembudidayaan beberapa jenis tanaman dimana didalam tempat tersebut tercipta suasana yang ekstrim, entah itu dari segi temperature suhu ataupun dari iklim yang tercipta. Ada beberapa tujuan dari greenhose itu sendiri yaitu: 1. Menciptakan tanaman budidaya yang unggul dan memiliki daya tahan kuat terhadap lingkungan yang ekstrem 2. 3. 4. 5. 6. Untuk menghindari terpaan air hujan yang dapat merusak tanaman Untuk menghindarkan lahan dari kondisi becek Untuk mencegah masuknya air hujan ke dalam media tumbuhan Untuk mengurangi tingkat penyerapan hama/GPT Agar fotosintesis lebih sempurna Adapun misi program greenhouse ini secara umum adalah agar diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan dasar masyarakat guna membantu

tanaman pangan, program ini juga dikembangkan guna untuk menanggulangi krisis pangan yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Rumah kaca menjadi penting untuk melindungi tanaman dari panas dan dingin yang berlebihan dan melindungi tanaman dari badai debu dan bizzard dan juga menolong mencegah hama. Pengontrol cahaya dan suhu dapat mengubah tanah tak subur menjadi subur. Rumah kaca dapat memberikan Negara kelaparan, persediaan makanan. Dimana tanaman tak dapat tumbuh karena keganasan lingkungan. Hidroponik dapat digunakan dalam rumah kaca untuk menggunakan ruang secara efektif 2.3.2 Manfaat Greenhouse Manfaat apa saja yang didapat jika menggunakan green house, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Pengaturan jadwal produksi Dunia pertanian kita masih demikian tergantungnya pada keadaan cuaca, bila terjadi perubahan musim, apalagi bila tidak terprediksi akan menyebabkan sulitnya menentukan jenis tanaman yang akan diproduksi. Jika musim hujan terlalu panjang akan menyebabkan banyaknya penyakit termasuk pembusukan akar. Jika musim terlalu kering akan menyebabkan tanaman kekurangan air, hama juga akan menyerang yang dapat menimbulkan kerugian. Demikian pula pada saat tertentu suatu komoditas sulit ditemui mengakibatkan harganya demikian tinggi, sementara pada waktu lain kebanjiran produk menyebabkan harga anjlok, sehingga kerugian segera tiba. Untuk itu perlu sekali mengurangi ketergantungan pada lingkungan luar menggantikan dengan mikroklimat yang diatur. Dengan demikian dapat dijadwalkan produksi secara mandiri dan berkesinambungan. Sehingga konsumen tidak perlu kehilangan komoditas yang dibutuhkan, juga kita tidak perlu membanjiri pasar denganb jenis komoditas yang sama yang menyebabkan harga anjlok. 2. Meningkatkan hasil produksi Pada luasan areal yang sama tingkat produksi budidaya di dalam green house lebih tinggi dibandingkan di luar green house. Karena

budidaya di dalam green house kondisi lingkungan dan pemberian hara dikendalikan sesuai kebutuhan tanaman. Gejala hilangnya hara yang biasa terjadi pada areal terbuka seperti pencucian dan fiksasi, di dalam green house diminimalisir. Budidaya tanaman seperti ini dikenal sebagai hidroponik. Kondisi areal yang beratap dan lebih tertata menyebabkan pengawasan dapat lebih intensif dilakukan. Bila terjadi gangguan terhadap tanaman baik karena hama, penyakit ataupun gangguan fisiologis, dapat dengan segera diketahui untuk diatasi . 3. Meningkatkan kualitas produksi Ekses radiasi matahari seperti sinar UV, kelebihan temperatur, air hujan, debu, polutan dan residu pestisida akan mempengaruhi penampilan visual, ukuran dan kebersihan hasil produksi. Dengan kondisi lingkungan yang terlindungi dan pemberian nutrisi akurat dan tepat waktu, maka hasil produksi tanaman akan berkwalitas. Pemasakan berlangsung lebih serentak, sehingga pada saat panen diperoleh hasil yang lebih seragam, baik ukuran maupun bentuk visual produk. 4. Meminimalisasi pestisida Green house yang baik selain dirancang untuk memberikan kondisi mikroklimat ideal bagi tanaman, juga memberikan perlindungan tanaman terhadap hama dan penyakit. Perlindungan yang umum dilakukan adalah dengan memasang insect screen pada dinding dan bukaan ventilasi di bagian atap. Insect screen yang baik tidak dapat dilewati oleh hama seperti kutu daun. Pada beberapa green house bagian pintu masuknya tidak berhubungan langsung dengan lingkungan luar. Ada ruang kecil, semacam teras transisi yang dibuat untuk menahan hama atau patogen yang terbawa oleh manusia. Pada lantai ruang ini juga terdapat bak berisi cairan pencuci hama dan patogen. Untuk pintu dapat ditambahkan lembaran PVC sheet. 5. Aset dan performance

Saat ini sangat biasa orang membangun green house dengan sistem knock down. Dengan cara ini gren house bukanlah aset mati, manakala karena suatu hal ada perubahan kebijakan, maka struktur green house tersebut dapat dipindahkan atau mungkin dijual ke pihak lain yang memerlukan dengan harga yang proporsional. Dengan adanya green house maka kesan usaha akan terlihat lebih modern dan padat teknologi. Hal ini tentunya akan meningkatkan performance petani atau perusahaan yang menggunakannya. 6. Sarana agrowisata Green house banyak juga digunakan sebagai ruang koleksi berbagai jenis tanaman bernilai tinggi. Di dalam green house pengunjung dapat melihat berbagai jenis tanaman yang menarik, bahkan langka, sehingga dapat menjadi daya tarik. Ada yang khusus mengkoleksi kaktus, anggrek atau berbagai jenis tanaman dengan suasana dibuat seperti di alam bebas. Di Indonesia green house seperti ini banyak ditemukan di berbagai kebun raya dan tempat agrowisata.

2.4

Jenis dan Tipe Greenhouse 2.4.1 Jenis Greenhouse Yang dimaksud dengan jenis green house adalah pembedaan ragam green house berdasarkan material dominan yang digunakan. Pembedaan ini akan membawa kita pada perbedaan biaya pembangunan dan umur pakai green house. Semakin kuat dan awet material yang digunakan, akan semakin besar biayanya tetapi umur green house akan lebih lama. Untuk negara kita, green house yang biasa digunakan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu green house bambu, green house kayu dan green house besi. A. Greenhouse Bambu Green house jenis ini umumnya dipakai sebagai green house produksi. Green house ini secara umum adalah jenis green house yang paling murah biaya pembuatannya dan banyak dipakai oleh kalangan petani kita sebagai sarana produksi.

Namun kelemahan dari green house ini adalah umurnya yang relatif pendek dan bahan materialnya dapat menjadi media timbulnya hama. Karena kekuatan struktur dan juga masalah biaya, maka green house bambu atapnya terbatas menggunakan plastik UV. B. Greenhouse Kayu Lebih baik dari green house bambu adalah gren house dengan material kayu, terutama jenis kayu yang tahan air, seperti ulin dan bengkirai. Dibanding green house bambu umur pakai green house kayu biasanya lebih panjang dan kondisi sanitasi lingkungan lebih baik.

Beberapa jenis green house kayu, bagian dinding bawah dibuat dari pasangan bata yang diplester. Jenis green house ini bahan atapnya sudah lebih bervariasi bisa plastik, polykarbonat, PVC ataupun kaca. C. Greenhouse Besi Dari segi umur pakai dan kwalitas, maka yang terbaik adalah green house yang menggunakan struktur besi, terlebih besi yang telah di treatment hot dipped galvanis. Struktur yang baik akan mengurangi frekuensi perawatan; sehingga tidak terjadi stagnan kegiatan., walaupun pada keadaan tertentu perlu dilakukan sanitasi, tetapi sanitasi yang terjadwal.

Dengan struktur yang kuat, maka berbagai jenis tambahan peralatan / optional dapat dipasangkan pada jenis green house besi, sehingga penggunaan green house dapat dilakukan secara optimal. 2.4.2 Tipe Greenhouse

Tipe greenhouse dibedakan berdasarkan bentuk bangunan atau desainnya. Bentuk atau desain ini selain berpengaruh pada kekuatan struktur juga sangat berpengaruh pada kondisi mikroklimat di dalam greenhouse. Secara umum desain greenhouse uintuk daerah tropis berbeda dengan desain di daerah empat musim maupun sub tropis. Kecuali desain greenhouse yang memang dibuat khusus seperti untuk penanaman planlet, induksi akar atau pembuatan stek.

Desain greenhouse daerah tropis ditandai dengan banyaknya bukaan ventilasi. Karena problem utama dari green house di wilayah tropis adalah suhu udara yang terlalu tinggi akibat radiasi sinar infra merah. Sebaliknya pada daerah sub tropis maupun daerah empat musim desain greenhouse lebih tertutup. Bukaan yang minimal ini dibuituhkan karena pada saat musim dingin udara hangat akibar radiasi infra merah dipertahankan tidak keluar. Jadi desain sebuah greenhouse sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Bagaimana sebuah greenhouse dapat memberikan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan tanaman terletak pada desainnya. Pada dasarnya green house dapat dibagi ke dalam 3 tipe, yaitu : 1. Tipe Tunnel Tipe ini dari depan tampak seperti lorong setengah lingkaran. Kelebihannya adalah memiliki struktur sangat kuat. Atapnya yang berbentuk melengkung kebawah merupakan bentuk yang sangat ideal dalam menghadapi terpaan angin. Sementara struktur busur dengan kedua kaki terpendam ketanah memegang bangunan lebih kuat.

Kelemahan dari tipe ini adalah minimnya system ventilasi. Jika digunakan pada daerah tropis dibutuhkan alat tambahan berupa exhaust fan atau cooling system untuk mengalirkan dan menurunkan suhu udara di dalam greenhouse.

10

2. Tipe Piggy Back Green house tipe ini banyak digunakan di daerah tropis, dapat dikatakan tipe ini adalah tropical greenhouse. Keunggulan tipe ini pada ventilasi udara yang sangat baik. Banyak memiliki struktur bukaan, sehingga memberikan lingkungan mikroklimat yang kondusif bagi pertrumbuhan tanaman.

Selain memiliki keunggulan, banyaknya struktur bukaan juga merupakan kelemahan dari tipe ini. Pada daerah dengan tiupan angin yang kuat green house tipe piggy back kurang disarankan. Karena dengan banyaknya struktur terbuka menyebabkan struktur rentan terhadap terpaan angin. Selain itu dari segi biaya dengan penggunaan material atap sama, greeenhouse type ini relatif lebih mahal dibanding type lain karena penggunaan material struktur lebih banyak. 3 . Tipe Multispan Desain tipe ini boleh dikatakan adalah campuran antara tipe tunnel dengan tipe piggy back. Dari desainnya terlihat tampak, bahwa tipe ini seakan-akan paduan (hybrid) antara tipe tunnel dengan tipe piggy back. Karena itu, maka tipe greenhouse ini memeliki kelebihan dari tipe tunnel dan tipe piggy back, yaitu strukturnya kuat tetapi tetap memiliki ventilasi yang maksimal.

11

Kelebihan lain dari tipe ini adalah beberapa unit greenhouse (Single Span) dapat disatukan menjadi satu blok greenhouse besar (Multispan) dimana hal ini sulit dilakukan pada greenhouse tipe tunnel. Dibandingkan tipe piggy back, selain struktur lebih kuat biaya pembuatan tipe campuran ini lebih hemat. Sehingga pada bidang kegiatan yang membutuhkan greenhouse luas, maka tipe multispan adalah tipe yang paling sesuai.

2.5

Pembuatan Greenhouse 2.5.1 Persyaratan

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi bila kita bermaksud mendirikan greenhouse. Hal ini sangat erat kaintannya dengan investasi, pertimbangan pemasaran, pengadaan sarana produksi, infrastruktur serta industri pengolahan dan pemasarannya. Sehingga pembuatan greenhouse ini tidak bisa dilakukan sembarangan tanpa pertimbangan. Adapun beberapa lokasi ideal yang dapat dijadikan tempat greenhouse harus memenuhi beberapa kriteria diantaranya : (1) intensitas cahaya matahari yang cukup tinggi pada musim hujan, (2) suhu yang cukup dan mendukung, dalam arti tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin, (3) dekat dengan pusat keramaian/pasar, (4) dekat sumber air yang baik dan cukup sepanjang tahun, (5) dekat dengan instalasi listrik, (6) tempatnya harus datar tidak boleh mempunyai kemiringan (7) tanah yang digunakan merupakan tanah yang tidak bergerak dan terakhir (8) dekat

12

dengan sarana penunjang seperti kantor, laboratorium, jalan besar (mudah dijangkau kendaraan) untuk mempermudah pengawasan dan

penggunaannya. Selain itu ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan diantaranya : batasan kekuatan muatan, penetrasi cahaya dalam green house dan biaya. Meskipun di Indonesia hanya mengenal dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau namun perlu diperhatikan pula kekuatan atap dan bangunannya. Baik atap maupun bangunan harus kokoh dan kuat dari terpaan angin maupun hujan deras. Kemiringan atap pun minimal harus 28. Tanpa mengesampingkan aspek kekokohannya, struktur konstruksi bangunan greenhouse haruslah bisa menjaga agar penetrasi (cahaya yang masuk) tetap maksimal. Agar penetrasi cahaya sesuai dengan kebutuhan tanaman, sebaiknya atap penutup haruslah terbuat dari bahan yang sangat transparan. Selain itu pilar-pilar penyokong sebaiknya dicat dengan warna yang dapat memantulkan cahaya. 2.5.2 Bahan Penutup

Perlu diketahui pula bahwa sebagian besar tanaman yang dibudidayakan pada greenhouse membutuhkan cahaya dengan panjang gelombang sekitar 400 700 nanometer (Photosynthetically Active Radiation). Hampir semua bahan penutup greenhouse mampu menampung cahaya tersebut sesuai dengan panjang gelombang yang diinginkan tanaman. Bahan yang terbuat dari Polyethylene dan fiberglass cenderung membuat cahaya menjadi tersebar, sementara bahan yang terbuat dari acrylic dan polycarbonate lebih cenderung meneruskan cahaya yang masuk secara langsung. Cahaya yang sifatnya menyebar tersebut memberikan keuntungan tersendiri bagi tanaman, dimana dia bisa mengurangi kelebihan cahaya pada daun-daun tanaman bagian atas dan memantulkannya pada daun-daun yang ada di bagian bawah sehingga penyebaran cahaya menjadi lebih merata. Sebenarnya bentuk-bentuk greenhouse tersebut bermacam-macam mulai dari bentuk sederhana dengan bahan yang paling murah sampai bentuk komplek yang dibentuk dari bahan penutup yang mahal. Adapun bahan penutup atap dapat menggunakan kaca maupun plastik. Bahan yang terbuat

13

dari plastik juga tidak kalah dengan kaca dimana mempunyai kelebihan antara lain: tahan pecah, bentuknya bisa disesuaikan dengan bermacam design, dan sangat mudah digunakan. Beberapa tipe plastik yang biasa digunakan sebagai penutup green house antara lain: 1. Acrylic Acrylic sangat tahan terhadap perubahan cuaca , tahan pecah serta sangat transparan. Penyerapan sinar ultra violet yang berasal dari matahari lebih tinggi dibandingkan dengan bahan yang terbuat dari kaca. Penggunaan acrylic sebanyak dua lapis mampu menghantarkan sekitar 83 % cahaya dan mengurangi kehilangan panas sekitar 20-40% dibandingkan penggunaan 1 lapis. Bahan ini tidak akan menguning walaupun digunakan dalam waktu yang lama. Namun kekurangan dari bahan acrylic adalah mudah terbakar, sangat mahal, dan sangat mudah tergores/tidak tahan gores. 2. Polycarbonate Polycarbonate memiliki ciri-ciri: lebih tahan, lebih fleksibel, lebih tipis, serta lebih murah dibandingkan acrylic. Penggunaan dua lapis polycarbonate mampu menghantarkan cahaya sekitar 75-80 % dan mengurangi kehilangan panas sekitar 40% dibandingkan satu lapis. Namun bahan ini sangat mudah tergores, mudah memuai, gampang menguning, dan akan membuat lapisan kurang transparan dalam waktu satu tahun (meskipun kini hadir jenis baru yang tidak cepat menguning). 3. Fiberglass Reinforced Polyester Bahan ini memiliki sifat-sifat: lebih tahan lama, penampilannya menarik, harganya terjangkau dibandingkan kaca, serta FRP ini lebih tahan pengaruh perubahan cuaca. Bahan plastik ini mudah sekali dibentuk menjadi bentuk bergelombang maupun berupa lempengan. Meskipun demikian kekurangannya adalah bahan ini mudah memuai. 4. Polyethylene film Bahan ini sangat murah dibandingkan dengan bahan lainnya namun sifatnya hanya sementara (kurang tahan lama), bentuknya kurang menarik, serta membutuhkan penanganan maupun perawatan yang lebih

14

intensif . Selain itu, bahan ini juga mudah sekali rusak oleh sengatan cahaya matahari, walaupun mampu bertahan minimal 1 2 tahun dengan perawatan lebih intensif. Dikarenakan bahan ini berupa lembaran lebar sehingga tidak membutuhkan kerangka yang lebih banyak dan bisa menghantarkan cahaya paling besar. 5. Polyvinyl cholride film Bahan ini mempunyai sifat penghantar emisi yang sangat besar untuk cahaya dengan panjang gelombang yang besar, dimana bahan ini mampu menciptakan temperatur udara yang cukup tinggi pada malam hari dan bisa berfungsi sebagai penghalang sinar ultra violet. Bahan ini lebih mahal dibandingkan polyethylene film dan cenderung mudah kotor, yang mana harus terus dilakukan pembersihan agar didapatkan penghantaran cahaya yang lebih baik. Untuk model atap ada yang berbentuk melengkung dan ada yang berbentuk lancip. Tinggi dinding yang baik mencapai 6 sampai 9 meter, tergantung crop yang akan diproduksi atau tergantung pada tujuannya. Bahan dinding beserta atapnya dapat dari kaca maupun plastik yang tebal yang tidak mudah sobek dan cara pemasanganya dimulai dari atapnya dulu, kalau sudah selesai baru dinding. Pintu dari green house harus dibuat serapat mungkin sehingga tidak memberikan kesempatan bagi udara luar untuk masuk kedalam green house. Setelah dinding dan atap terpasang kaca atau plastik, kita dapat memasang sistem irigasi dengan menggunakan pipa secara sistematis yang dapat kita kendalikan, serta diberi bak pengontrol untuk mengontrol masuk dan keluarnya air dari dalam dan keluar dari green house. Untuk bagian dalam green house ada 2 jenis, yaitu diplester dengan semen, ini hanya untuk green house yang penanamannya menggunakan media pot atau plastik polybag atau percobaan hydroponik tetapi ada juga yang dalamnya berupa tanah seperti yang ada dilahan persawahan, hal ini bertujuan untuk budidaya sayuran, buah-buahan dan bunga yang akan dibuat petakan atau bedengan. Bahkan bedengan ini ada juga yang diberi mulsa sama seperti tehnik budidaya tanaman pada umumnya. Tetapi dengan green house

15

pengawasan terhadap tanaman baik temperature, kelembaban, kebutuhan air, kebutuhan hara bahkan pengendalian hama dan penyakitnya dapat dikontrol dengan sebaik-baiknya. Untuk jangka panjang pembudidayaan tanaman dengan green house sangat menguntungkan khususnya untuk bisnis fresh market hortikultura karena kita mampu berproduksi sepanjang masa tidak tergantung pada cuaca atau musim bahkan kualitas produk yang dihasilkan dapat terjamin atau lebih baik dari tehnik budidaya dialam bebas.

2.6

Peluang Hortikultura dalam Greenhouse Peluang usaha bidang pertanian ini dapat diterapkan juga pada peluang usaha

hidroponik dan pertanian lainnya. Pengembangan pertanian menggunakan teknologi greenhouse menjadi semakin penting jika dikaitkan dengan upaya peningkatan daya saing produk agribisnis nasional secara berkelanjutan untuk memenuhi tuntutan pasar global, disamping aman dikonsumsi (food safety attributes), punya kandungan nutrisi tinggi (nutrional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes), juga pasar membutuhkan produksi sepanjang tahun tanpa permasalahan iklim menjadikan kendala. Pertanian didalam greenhouse adalah sistem produksi pertanian yang mengabungkan pemanfaatan perlindungan tanaman dari intensitas hujan, sinar matahari dan iklim mikro, yang mengoptimalkan pemeliharaan tanaman, pemupukan dan irigasi mikro, sehingga mampu meningkatkan produksi sayuran, buah dan bunga yang berkualitas tanpa tergantung dengan musim. Pengembangan pertanian di dalam greenhouse dengan cara, antara lain: 1. Membangun greenhouse produksi dan perlengkapnnya 2. Membangun tempat pembibitan (nursery) 3. Membuat sistem irigasi mikro untuk greenhouse 4. Membuat Water Storage untuk keperluan sistem irigasi 5. Pelatihan produksi pertanian dengan teknologi greenhouse secara on farm (learning by doing).

16

Sejumlah keuntungan yang dapat dipetik dari pengembangan greenhouse untuk pertanian antara lain adalah: 1. Mengenalkan teknologi pertanian alternatif yang bisa dilakukan oleh pelaku usah pertanian untuk usaha tani yang menguntungkan dan terkesan pertanian modern yang berbahan lokal. 2. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, karena: (1) Harga jual hasil produksi pertanian didalam greenhouse seringkali lebih mahal; (3) Mendekatkan pasar global dengan hasil kepastian produksi pertanian yang berkualitas dan kepastian suplai (4) Pengembangan pertanian dengan teknologi greenhouse berarti mendorong (memacu) daya saing produk agribisnis Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar internasional terhadap produk pertanian yang berkualitas dan kontinyu yang terus meningkat. Ini berarti akan mendatangkan devisa bagi pemerintah dan pemerintah daerah, yang pada akhirnya akan/dapat meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri; 3. Meminimalkan semua bentuk penggunann bahan kimi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian konvensional. Karena kegiatan pertanian di dalam greenhouse: Menerapkan Pengelolaan Hama Terpadu; 4. Kegiatan pertanian didalam greenhouse selain menciptakan lapangan kerja baru juga dapat meningkatkan perolehan teknologi pertanian di perdesaan. Pertanian teknologi greenhouse akan menciptakan hadirnya peluang pasar lain yang berarti adanya lapangan kerja baru bagi masyarakat perdesaan. Disamping itu, penerapan pertanian dengan greenhouse juga akan mendorong terciptanya kerjasama kemitraan antara petani-pasar-penyedia input. 5. Dengan demikian, nampak bahwa kegiatan pertanian dengan mengunakan greenhouse merupakan suatu sistem pertanian yang terintegrasi, ekonomis, berkualitas, produksi sepanjang musim dan dapat meningkatkan nilai tambah masyarakat. Untuk merealisasikan usaha pertanian dengan greenhouse ini, dibutuhkan kegiatan pengembangan langsung kepada masyarakat dalam bentuk kegiatan pengembangan greenhouse pertanian di lapangan. Kegiatan pengembangan usaha produksi pertanian dengan

17

greenhouse ini dapat dilakukan melalui intensifikasi lahan usaha dan/atau lahan transmigrasi, sehingga mempunyai daya produksi sebagai sentra pertanian berbagai sayuran.

2.7

Jenis Tanaman yang Diusahakan dengan Greenhouse Tanaman yang diusahakan dengan greenhouse ini meliputi golongan bunga,

sayur-sayuran,

dan

buah-buahan.

Adapun

jenis

tanaman

yang

lazim

dibudidayakan dengan greenhouse secara terperinci disajikan dalam tabel berikut: Jenis Tanaman No Nama Ilmiah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Acalypha hispida Aglaonema sp. Aloe sp. Amaranthus sp. Asparagus densiflorus Bougainvillea spp. Brassica sp. Capsicum sp. Capsicum annuum var Grossum Chrysanthemum x grandiflorum Chlorophytum comosum Citrus sinensis Cucumis melo Dracaena spp. Euphorbia milii Euphorbia pulcherrima Fragaria vesca Hibiscus rosa-sinensis Lycopersicon esculentum Maranta leuconeura Orchidaceae, Various genera Passiflora sp. Randia spinosa Sedum morganianum Vitis vinifera Nama Indonesia Ekor Kucing Aglaonema Lidah Buaya Bayam Ekor Tupai Bogenvil/Kembang Kertas Sawi Cabai Paprika Bunga Krisan (Seruni) Lili Paris Jeruk Melon Bambu China Euphorbia Euphorbia Stroberi Mawar Tomat Maranta/Daun Lumut Anggrek Markisa Timun Ekor Keledai Anggur

2.8

Kelemahan Greenhouse Greenhouse dengan segala kelebihannya tidak serta merta sempurna.

Greenhouse memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut: 1. Biaya investasi tinggi (overhead cost)

18

2. Menuntut ekstra perhatian dan perawatan sehingga sumberdaya manusia yang trampil 3. Menjadi salah satu penyebab pemanasan global (global warming) akibat dari efek rumah kaca.

19

BAB III PENUTUP

3.1

Simpulan Dari pemaparan pada poin pembahasan, maka dapat ditarik simpulan berkenaan dengan greenhouse: Rumah kaca atau greenhouse pada prinsipnya adalah sebuah bangunan yang terdiri atau terbuat dari bahan kaca atau plastik yang sangat tebal dan menutup diseluruh pemukaan bangunan, baik atap maupun dindingnya. Greenhouse merupakan tempat pembudidayaan beberapa jenis tanaman dimana didalam tempat tersebut tercipta suasana yang ekstrim, entah itu dari segi temperature suhu ataupun dari iklim yang tercipta. Dengan demikian kondisi ini akan membantu petani dalam pengaturan jadwal produksi, meningkatkan hasil produksi, meningkatkan hasil produksi, dan meminimalisasi pestisida. Greenhouse berdasarkan material yang dipakai dibedakan menjadi greenhouse bambu, greenhouse kayu, dan greenhouse besi. Sedangkan berdasarkan desainnya ada greenhouse tipe tunnel, piggy back, dan multispan. Pembuatan greenhouse hendaknya memperthatikan topografi lahan, intensitas cahaya, suhu, pengairan, dan daya keterjangkauan terhadap sarana dan prasarana. Bahan untuk atapnya pun bermacam-macam, tergantung dari kebutuhan dan kemampuan pembiayaan. Untuk jangka panjang pembudidayaan tanaman dengan greenhouse sangat menguntungkan karena kita mampu berproduksi sepanjang masa tidak tergantung pada cuaca atau musim. Tanaman yang dapat diusahakan dengan greenhouse meliputi golongan sayur-sayuran, buah-buahan, dan bunga.

20

Kelemahan greenhouse adalah pada pembiayaan yang tinggi, kebutuhan akan tenaga kerja yang terampil, dan merupakan salah satu penyebab global warming.

3.2

Saran Budidaya tanaman hortikultura dengan greenhouse sangat menjanjikan. Oleh karenanya keterampilan dalam pengelolaan greenhouse harus lebih ditingkatkan agar petani Indonesia menjadi lebih maju. Namun perlu diingat pula bahwa greenhouse memiliki beberapa kelemahan. Oleh karenanya, hendaklah kita menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.

21