Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

HIDROPONIK SELADA DI INDONESIA DAN LUAR NEGERI


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah produksi sayuran lanjutan

Oleh :
Fatatin Nihaiyah

( A42140200 )

Dewi Iraniyah

( A42140209 )

Rizal Ari Rismanto

( A42140236 )

Indah Nurjannah

( A42140237 )

Nor Azzura Rokhani ( A42140277 )


Indriani Safitri

( A42140299 )

Nadiyah Milata Hakiki ( A42140309 )


Dwi Nurfida

( A42140310 )

Teguh Iman Sampurno ( A42140311 )


Moch. Irfan Kusairi

( A42140356 )

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN PANGAN


JURUSAN PRODUKSI PERTANIAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2016

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hidroponik adalah suatu cara budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai
media pertumbuhan. Jadi media tanah diganti dengan arang sekam/pasir. Karena media yang
digunakan bukan tanah, nutrisi yang diperlukan tanaman berbentuk larutan. Tidak seperti
media tanah yang memiliki unsur hara yang berupa zat-zat penting bagi tumbuhan.
Hidroponik memiliki keunggulan yaitu tidak memerlukan lahan yang luas. Jadi tidak perlu
berkeliling ladang yang luas untuk perawatan dan panen. Hidroponik merupakan salah satu
alternatif bagi petani yang tidak memiliki lahan yang cukup untuk becocok tanam.
Pada dasarnya semua tanaman bias diterapkan hidroponik. Tapi pada akhir-akhir ini
tanaman yang paling banyak dihidroponikkan adalah tanaman buah dan sayur karena dilihat
dari segi ekonomis, tanaman buah dan sayur dapat menghasilkan keuntungan yang cukup
tinggi. Selain itu, kualitas dan kuantitas produksi / hasil panen lebih tinggi dibanding dengan
menggunakan media tanah.
Tanaman selada (Lactuca sativa L.) termasuk famili compositae dari genus Lactuca.
Selada adalah tanaman semusim polimorf (memiliki banyak bentuk), khususnya dalam hal
bentuk daunnya. Ada empat jenis selada yang dikenal, yaitu selada telor, selada daun, selada
rapuh dan selada batang. Jenis yang banyak diusahakan didataran rendah adalah selada daun.
Selada umumnya dimakan mentah (lalap), dibuat salad atau disajikan dalam berbagai bentuk
masakan Eropa maupun Cina. Jarang sekali selada disayur masak, karena rasanya menjadi
kurang enak. Selada mengandung gizi cukup tinggi terutama kandungan mineralnya
Meskipun semua varietas selada memiliki kalori rendah, namun memiliki kandungan
gizi yang berbeda. Selada sebagai sumber baik kolin. Selada Romain yang paling padat
nutrisi dari semua varietas dan merupakan sumber vitamin A, B1, B2 dan C, asam folat,
mangan dan kromium. Selada merah mendapat warna merah dari pigmen yang disebut
antosianin. Pigmen ini berfungsi sebagai antioksidan, menghilangkan radikal bebas yang
merusak sel. Beberapa peneliti menemukan berbagai selada merah mengandung flavonoid,
yang merupakan antioksidan kuat.
Selada dapat dibudidayakan secara hidroponik dengan menggunakan beberapa model
hidroponik yang sudah ada, atau dengan inovasi-inovasi baru yang dapat meningkatkan
produksi selada. Sehingga disusun makalah ini agar mahasiswa mengetahui teknologi inovasi
bar dalam berbudiaya selada secara hidroponik.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah sistem hidroponik untuk tanaman selada yang diterapkan di Indonesia
dan di luar negeri?
2. Bagaimanakah sistem hidroponik yang diterapkan dapat meningkatkan produktivitas
selada?
3. Bagaimanakah pengendalian hama dan penyakit dalam sistem hidroponik yang
diterapkan di Indonesia dan di luar negeri?
1.2 Tujuan dan Manfaat
Diharapkan dengan dibuatnya makalah ini mahasiswa dapat mengetahui tata cara atau
teknis penanaman sayuran selada dalam hidroponik serta produktivitas tanaman selada
dengan teknologi hidroponik baik yang dilakukan di Indonesia maupun luar negeri.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hidroponik
Dalam upaya memproduksi tanaman atau makanan secara hidroponik, diperlukan
beberapa peralatan dasar agar tanaman dapat tumbuh dengan baik seperti daerah perakaran
harus memperoleh cukup udara, air dan unsur hara/nutrisi, sehingga dapat menghasilkan
tanaman dan makanan yang berkualitas (Falah, 2004). Yang menurut Ir. Hj. Mimin Rukmini
Pakih (2002), seperti makhluk hidup yang lain, tanaman juga tidak dapat tumbuh dan
berkembang bila tidak ada pemasukan berupa zat gizi dalam bentuk makanan atau nutrisi.
Pemberian nutrisi yang lengkap dan teratur dapat menjamin pertumbuhan yang sempurna.
Nutrien yang dibutuhkan tanaman dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu unsur makro dan
unsur mikro. Unsur makro tersebut adalah hara yang diperlukan dalam jumlah yang banyak
seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur. Unsur mikro adalah hara
yang diperlukan sedikit antara lain mangan, cuprum, molibden, seng, dan ferrum. Unsurunsur tersebut memiliki kegunaan yang berbeda. Oleh karena itu, nutrien yang diberikan
harus mampu memenuhi semua unsur yang dibutuhkan tanaman..
Nitrogen berguna untuk merangsang pembentukan daun dan pertumbuhan batang
serta cabang. Fosfor berguna untuk merangsang pertumbuhan akar, mempercepat
pertumbuhan, dan pemasakan biji serta buah. Kalium membantu dalam menyerap hasil
fotosintesis dan menguatkan tanaman. Kalsium mempercepat pertumbuhan akar, batang, dan
mempermudah penyerapan kalium. Serta magnesium ikut dalam pembentukan klorofil dan
sulfur membantu kerja fosfor (Mimin R, 2002).
Hidroponik mempunyai banyak kelebihan berbanding dengan bertani secara
konvensional. Beberapa kelebihan sistem hidroponik dibanding dengan media tanah adalah
kebersihan lebih mudah terjaga, tidak memerlukan pengelolaan tanah, penggunaan pupuk dan
air lebih efisien, tidak tergantung musim, tingkat produktivitas dan kualitas cukup tinggi dan
seragam, tanaman dapat dikontrol dengan baik, dapat diusahakan di tempat yang tidak terlalu
luas ataupun dipergunakan sebagai bisnis dengan luasan yang cukup, dapat mengurangi
jumlah tenaga kerja, kenyamanan kerja dapat ditingkatkan secara ergonomis, dan diferensiasi
produk dapat dilakukan (Suejusoh, 2006).
Untuk memenuhi kebutuhan akan nutrisi pada tanaman yang di tanam pada media
hidroponik dapat dilakukan dengan system pengaliran air yang melarutkan berbagai nutrisi
tanaman yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Pengairan nutrisi pada tanaman dengan
sistim hidroponik dikenal dua sistem pengairan, yaitu sistem genangan air dan sistem
pengaliran air.

Macam macam sistem hidroponik


1. Wick Sistem
Wick system merupakan teknik yang paling sederhana dan populer digunakan oleh para
pemula. Sistem ini termasuk pasif dan nutrisi mengalir ke dalam media pertumbuhan dari
dalam wadah menggunakan sejenis sumbu. Wick sistem hidroponik bekerja dengan baik
untuk tanaman dan tumbuhan kecil. Sistem hidroponik ini tidak bekerja dengan baik untuk
tanaman yang membutuhkan banyak air.
2. Ebb & Flow System
Sebuah media tumbuh ditempatkan di dalam sebuah wadah yang kemudian diisi oleh
larutan nutrisi. Kemudian nutrisi dikembalikan ke dalam penampungan, dan begitu
seterusnya. Sistem ini memerlukan pompa yang dikoneksikan ke timer. Pastikan Anda
menggunakan wadah yang cukup besar dan atur jarak antar tanaman agar pertumbuhan
tanaman tidak saling mengganggu.
3. NFT (Nutrient Film Technique) System
Sistem ini merupakan cara yang paling populer dalam istilah hidroponik. Konsepnya
sederhana dengan menempatkan tanaman dalam sebuah wadah atau tabung dimana akarnya
dibiarkan menggantung dalam larutan nutrisi. Sistem ini dapat terus menerus mengalirkan
nutrisi yang terlarut dalam air sehingga tidak memerlukan timer untuk pompanya. NFT
cocok diterapkan pada jenis tanaman berdaun seperti selada. Nutrient film technique (NFT)
merupakan salah satu tipe spesial dalam hidroponik yang dikembangkan pertama kali oleh
Dr. A.J Cooper di Glasshouse Crops Research Institute, Littlehampton, Inggris pada akhir
tahun 1960-an dan berkembang pada awal 1970-an secara komersial. Konsep dasar NFT ini
adalah suatu metode budidaya tanaman dengan akar tanaman tumbuh pada lapisan nutrisi
yang dangkal dan tersirkulasi sehingga tanaman dapat memperoleh cukup air, nutrisi dan
oksigen. Tanaman tumbuh dalam lapisan polyethylene dengan akar tanaman terendam dalam
air yang berisi larutan nutrisi yang disirkulasikan secara terus menerus dengan pompa.
Daerah perakaran dalam larutan nutrisi dapat berkembang dan tumbuh dalam larutan
nutrisi yang dangkal sehingga bagian atas akar tanaman berada di permukaan antara larutan
nutrisi dan styrofoam, adanya bagian akar dalam udara ini memungkinkan oksigen masih
bisa terpenuhi dan mencukupi untuk pertumbuhan secara normal. Beberapa keuntungan
pemakaian NFT antara lain : dapat memudahkan pengendalian daerah perakaran tanaman,
kebutuhan air dapat terpenuhi dengan baik dan mudah, keseragaman nutrisi dan tingkat
konsentrasi larutan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dapat disesuaikan dengan umur
dan jenis tanaman, tanaman dapat diusahakan beberapa kali dengan periode tanam yang

pendek, sangat baik untuk pelaksanaan penelitian dan eksperimen dengan variabel yang
dapat terkontrol dan memungkinkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman dengan high
planting density. Namun NFT mempunyai beberapa kelemahan seperti investasi dan biaya
perawatan yang mahal, sangat tergantung terhadap energi listrik dan penyakit yang
menjangkiti tanaman akan dengan cepat menular ke tanaman lain.
Pada sistem NFT, kebutuhan dasar yang harus terpenuhi adalah : Bed (talang), tangki
penampung dan pompa. Bed NFT di beberapa negara maju sudah diproduksi secara massal
dan disediakan oleh beberapa perusahaan supplier greenhouse dan pertanian, di Jepang
terbuat dari styrofoam, namun di Indonesia belum diproduksi sehingga banyak petani
Indonesia memakai talang rumah tangga (lebar 13-17 cm dan panjang 4 meter). Tangki
penampung dapat memanfaatkan tempat atau tandon air. Pompa berfungsi untuk mengalirkan
larutan nutrisi dari tangki penampung ke bed NFT dengan bantuan jaringan atau selang
distribusi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam NFT adalah : kemiringan talang (15%) untuk pengaliran larutan nutrisi, kecepatan aliran masuk tidak boleh terlalu cepat (dapat
diatur oleh pembukaan kran berkisar 0.3-0.75 L/menit) dan lebar talang yang memadai untuk
menghindari terbendungnya larutan nutrisi (Falah, 2004).
Keuntungan dengan sistem media ini kita tidak perlu repot mengganti media setiap kali
menanam, begitu tanaman dipanen di pagi hari, talang atau pot sebagai wadahnya dibersihkan
dapat langsung disikat atau dicuci, usai dicuci NFT dapat diisi dengan bibit baru (Siti, 2008).
4. Aeroponic System
Kecanggihan sistem ini memungkinkan Anda memperoleh hasil yang baik dan tercepat
dibandingkan sistem hidroponik lainnya. Hal ini disebabkan oleh larutan nutrisi yang
diberikan berbentuk kabut langsung masuk ke akar, sehingga tanaman lebih mudah
menyerap nutrisi yang banyak mengandung oksigen.
5. Drip System
Selain wick system, sistem tetes (drip system) merupakan cara yang populer yang
digunakan dalam berkebun hidroponik. Sistem ini menggunakan timer mengontrol pompa,
sehingga pada saat pompa dihidupkan, pompa akan meneteskan nutrisi ke masing-masing
tanaman.

6. Water Culture System


Dalam sistem hidroponik ini, akar tanaman yang tersuspensi dalam air yang kaya nutrisi
dan udara diberikan langsung ke akar. Tanaman dapat ditempatkan di rakit dan mengapung di

air nutrisi juga. Dengan sistem hidroponik ini, akar tanaman terendam dalam air dan udara
diberikan kepada akar tanaman melalui pompa akuarium dan diffuser udara. Semakin
gelembung yang lebih baik, tanaman akar akan tumbuh dengan cepat untuk mengambil air
nutrisi.

2.2. Tanaman Selada


2.2.1 Sistematika dan Morfologi Selada
Sistematika selada sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)


Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Asterales

Famili

: Asteraceae

Genus

: Lactuca

Spesies
: Lactuca sativa L.
Sistem perakaran tanaman selada memiliki akar tunggang dan cabang-cabang akar
menyebar keseluruh arah pada kedalaman 25-30 cm. Batang tanaman selada berbuku-buku
sebagai tempat kedudukan daun. Bunganya berwarna kuning terletak pada rangkaian yang
lebat. Selain itu daun selada berbentuk bulat dengan panjang mencapai 25 cm dan lebar 15
cm. Selada memiliki warna daun yang beragam yaitu hijau segar, hijau muda, hijau tua dan
pada kultifar tertentu ada yang berwarna merah. Daunnya berjumlah banyak dan biasanya
berposisi duduk (Sunardjono, 2005).
Tanaman selada dikembangbiakkan dengan bijinya. Sebelum dikembangbiakkan
biasanya disemaikan dulu di persemaian. Biji selada dapat dibeli di toko-toko pertanian,
namun dapat juga disiapkan sendiri dengan memilih biji yang tua dan sehat (Barmin, 2010).
2.2.2 Syarat Tumbuh Selada
Selada merupakan tanaman hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Tanaman ini dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Suhu optimum
bagi pertumbuhan selada ialah antara 15-250 C. dalam kondisi seperti ini selada akan
mengalami pertumbuhan yang sempurna (Aini et al., 2010).
Tanaman selada dapat ditanam pada berbagai macam tanah. Namun, pertumbuhannya
yang baik akan diperoleh bila tanaman pada tanah liat berpasir yang cukup mengandung
bahan organik, gembur, remah, dan tidak mudah tergenang air. Selada tumbuh baik dengan
pH 6,0-6,8 atau idealnya 6,5. Bila pH terlalu rendah perlu dilakukan pengapuran. Daerah
yang cocok untuk penanaman selada sekitar ketinggian 500-2.000 m dpl (Pracaya, 2004).

Lingga & Marsono (2007) berpendapat bahwa struktur tanah yang dikehendaki oleh
tanaman selada adalah struktur remah yang didalamnya terdapat ruang pori-pori yang dapat
diisi oleh air dan udara. Tanah remah juga sangat penting bagi pertumbuhan akar tanaman.
Struktur yang gembur ini akan mengakibatkan udara dan air berjalan lancar, temperatur
stabil, artinya dapat memacu pertumbuhan mikroba yang memegang peran penting dalam
proses pelapukan atau perombakan bahan organik.
2.2.3 Kandungan Gizi Selada
Selada termasuk tanaman semusim yang banyak mengandung air. Selada umumnya
dikonsumsi dalam bentuk mentah atau lalap, selain itu selada memiliki kandungan gizi yang
cukup tinggi, komposisi yang terkandung dalam 100 g berat basah selada adalah: protein 1,2
g, lemak 8,2 g, KH 2,9 g, Ca 22 mg, Vitamin B 0,04 mg, dan Vitamin C 8,0 mg (Haryanto et
al., 1995). Muhlisah & Hening (1996) menambahkan bahwa tanaman selada mempunyai
manfaat untuk obat-obatan di antaranya adalah demam, sakit kepala, muntaber, radang kulit,
wasir, dan lain-lainnya.
Komponen Gizi
Protein
Lemak
KH
Ca
Vitamin B
Vitamin C

Kandungan dalam 100 gram


1,2 gram
8,2 gram
2,9 gram
22 gram
0,004 gram
8,0 gram

2.2.4 Tipe Selada


Haryanto et al. (1995), menyatakan tanaman selada yang umum dibudidayakan dapat
dikelompokkan menjadi 4 macam tipe yaitu:
a.

Selada kepala atau selada telur


Selada jenis ini mempunyai krop bulat dengan daun saling merapat menyerupai telur.
Daunnya ada yang berwarna hijau terang dan ada juga berwarna agak gelap. Batangnya

sangat pendek dan hampir tidak terlihat. Selada ini rasanya lunak dan renyah.
b. Selada rapuh
Selada rapuh mempunyai krop yang lonjong dengan pertumbuhan yang meninggi
cenderung menyerupaai petsai. Daunnya lebih tegak dibandingkan dengan selada umum
lainnya yang daunnya menjuntai kebawah. Ukurannya besar dan warnanya hijau tua agak
c.

gelap. Jenis selada ini tergolong lambat pertumbuhannya.


Selada daun

Nama internasional untuk jenis ini adalah leaf lettuce atau cutting lettuce. Selada ini
helaian daunnya lepas dan tepiannya berombak/bergerigi serta berwarna hijau atau
merah. Ciri khas lainnya tidak membentuk krop. Selada daun umumnya genjah dan
toleran terhadap kondisi dingin. Apabila daunnya dipanen dengan cara satu persatu atau
tidak dicabut sekaligus, maka pemanenan tanaman akan dapat dilakukan beberapa kali,
namun pada umumnya selada ini dipanen sekaligus (seluruh tanamannya dipanen) sama
seperti jenis selada lainnya.
d. Selada batang
Selada batang mempunyai daun yang berukuran besar. Selada ini mendapat julukan
selada batang karena daunnya berlepasan tidak dapat membentuk krop. Varietas jenis ini
yang terkenal adalah celtuse. Jenis selada ini dibilang hampir semuanya introduksi dari
luar negeri karena benihnya kebanyakan masih impor.

BAB 3. PEMBAHASAN
Grandpa Dome Hidroponik Di Jepang
Peneliti Jepang telah memperkenalkan teknologi pertanian hidroponik canggih yang
diyakini akan menjadi model pertanian masa depan. Berada di sebuah kubah putih berukuran
raksasa, teknologi, yang diberi nama Granpa Dome ini menjadi tempat pengembangan
berbagai jenis tanaman dengan sangat efisien dan hemat tenaga kerja. bangunan berbentuk
kubah yang dirancang khusus untuk tumbuh produknya. Masing-masing sekitar 30 meter di
seberang dan dilengkapi dengan tangki air hidroponik yang berputar otomatis serta sistem
komputer yang mempertahankan suhu dan kelembaban pada tingkat optimal.
Kubah yang disebut Grandpa Dome ini dirancang untuk menggunakan sinar matahari
secara efisien. Karena penggunaan sinar matahari ini maka dampak lainnya adalah panas

yang dihasilkan. Untuk mengatasi hal tersebut maka rancangan kubah ini juga dilengkapi
dengan sensor panas serta ensor kelembapan udara. Sensor-sensor tersebut akan bekerja
secara otomatis untuk menjalankan kipas untuk memutar udara di dalam serta membuka
ventilasi untuk menyerap udara segar dari luar bila diperlukan. Selain itu juga terdapat
perlengkapan penyembur uap air dingin (nozzle) yang ditempatkan pada lokasi lokasi
tertentu.

Gambar 1. Hidroponik Grandpa Dome di Jepang


Teknologi ini sangat tepat untuk menjawab semakin sulitnya tenaga kerja di sektor
pertanian serta mengatasi keterbatasan lahan pertanian. Yang menarik, seluruh sistem berjalan
melingkar secara mekanis berporos pada satu titik di tengah. Benih sayuran ditanam
berurutan dari tengah melingkar sesuai alur yang telah ditentukan. Seluruh lingkaran berputar
secara otomatis sehingga mendorong sayuran yang sudah siap panen bergerak ke arah baris
terluar. Gerak rotasi lingkaran diatur secara mekanis dengan pusat kontrol di luar garis
lingkaran. Kondisi lingkungan dalam kubah juga diatur ketat, terutama suhu dan kelembaban
serta durasi sinar matahari. Setiap hari bibit ditanam di tengah lingkaran, 30 hari kemudian
selada telah berada di ujung lingkaran dan siap untuk dipanen.
Lahan tanam dibangun dalam bentuk lingkaran dengan menggunakan 250 lembar
lempengan tipis berbentuk segitiga dengan panjang masing-masing 10 meter. Lempengan
tersebut disusun membentuk lingkaran yang berputar secara perlahan, dengan kecepatan 60
menit dalam 24 jam. Setiap kali lempengan bergerak memutar, maka baris atau lajur tempat
menanam akan terdorong maju keluar oleh rel yang terpasang di bawah lempengan.
Proses penyemaian bibit sayuran berawal dari bangunan terpisah, dalam ruangan
khusus yang steril selama dua hari sebelum dipindahkan ke dalam kubah. Setelah dibiarkan
tumbuh selama kurang lebih 2 minggu, tanaman-tanaman muda tersebut siap dipindahkan
kelahan tanam mereka. Setiap bibit tanaman diletakkan di dalam wadah plastik khusus ( net
plot/planter), mulai dari saat mereka disemai sampai masa panen nanti. Untuk mencapai
ketengah lingkaran lahn tanam, pekerja harus berjalan menyebrang jembatan yang telah
disiapkan. Proses menanam juga sangat mudah dan tidak membutuhkan pengalaman apapun.

Wadah plastik tanaman hanya butuh ditancapkan pada celah lempengan lahan tanam yang
telah dirancang dan disiapkan untk itu.
Semua tanaman atau sayuran ditanam secara hidroponik. Air yang telah dicampur
dengan pupuk yang berupa larutan nutrisi akan ditambahkan secara otomatis dan dipompa
mengalir dan berputar. Sayuran dan struktur lempengan lahan tanam akan mengapung diatas
kolam air dangkal yang telah dicampur larutan nutrisi, sedangkan akar sayuran akan
terendam dalam larutan nutrisi.
Kelebihan dari teknik ini adalah sayuran yang dihasilkan semuanya memiliki ukuran
dan bentuk yang sama. hal ini disebabkan karena semua tanaman mendapat asupan nutrisi
dalam jumlah yang sama.

Sistem Hidroponik Model Pencelupan Berputar


Sistem hidroponik yang dilakukan di Jepang dengan cara selada ditanam pada satu
tempat kotak seperti kolam yang berisi air beserta nutrisi. Sistem ini sudah diterapkan
beberapa tahun yang lalu di Jepang. Satu kolam tersebut terdiri dari beberapa baris papan
yang dapat berputar. Satu baris papan berisi 25 tanaman selada. Selada ditanam berselangseling dengan sawi, dua baris tanaman selada dan satu tanaman sawi.

Gambar 2. Sistem Hidroponik Pencelupan Berputar di Jepang


Setelah siap untuk dilakukan transplanting, yaitu kira-kira dua minggu setelah semai
tanaman dipindah pada kolam yang lebih luas. Pencelupan selada dilakukan selama beberapa
menit. Setelah beberapa menit air seperti terserap ke bawah oleh sistem sehingga selada tidak
tergenangi oleh air lagi. Dalam sistem hidroponik celup ini, selada dapat berputar otomatis

(sistem rotary) dari posisi awal terapung diatas air kemudian secara bergantian tercelup di
dalam air dan berputar kembali ke atas permukaan air.
Keunggulan sistem ini lebih efisien penyerapan nutrisi karena tanaman ketika tercelup
di dalam air maka lebih banyak organ yang menyerap nutrisi yaitu daun dan akar, pada
hidroponik umumnya nutrisi hanya diserap melalui akar. Cara ini merupakan inovasi baru
dalam bertanam secar hidroponik. Untuk pengendalian hama dan penyakit tidak
menggunakan pestisida karena dilakukan di dalam screenhouse.
Di Amerika pembibitan selada hidroponik dilakukan hingga dua minggu setelah semai
pada tray yang terbuat dari rockwool. Satu tray berisi 276 lubang tanam dan setelah satu hari
setelah semai, langsung disemprot dari atas dengan air yang mengandung pupuk atau biasa
disebut dengan sistem fertigasi. Benih ditumbuhkan terapung dalam kolam dengan
kedalaman air 40 cm. Pada hari kedua setelah semai benih mulai muncul dan pada hari
keempat dilakukan penyiraman dengan fertigasi kembali. Hal tersebut yang menjadi kunci
dari kemungkinan pertumbuhan tanaman yang cepat melalui sistem hidroponik.
Fertigasi berasal dari dua bahasa Ingris yaitu fertilization dan irrigation Fertigasi
sendiri merupakan singkatan dari fertilisasi (pemupukan) dan irigasi. Dengan teknik fertigasi
biaya tenaga kerja untuk pemupukan dapat dikurangi, karena pupuk diberikan bersamaan
dengan penyiraman. Keuntungan lain adalah peningkatan efisiensi penggunaan unsur hara
karena pupuk diberikan dalam jumlah sedikit tetapi kontinyu; serta mengurangi kehilangan
unsur hara (khususnya nitrogen) akibat leaching atau pencucian dan denitrifikasi
(kehilangan nitrogen akibat perubahan menjadi gas).
Kelebihan sistem fertigasi yaitu pemberian nutrisi hidroponik sesuai dengan ukuran
kedewasaan tanaman, menjamin kebersihan dan menghindari dari penyakit, meningkatkan
hasil pendapatan, mnedapatkan kualitas hasil pertanian yang lebih baik karena penggunaan
nutrisi/pupuk yang tepat sehingga hasil yang lebih banyak. Kelemahan sistem fertigasi yaitu
modal awal yang relatif tinggi, memerlukan pengetahuan yang mendalam perihal tanaman,
pengurusan ladang yang berkelanjutan, kerusakan sistem pengairan berpengaruh terhadap
hasil pertanian.
Budidaya selada yang dilakukan di Amerika dengan Deep Floating Syste, setelah siap
pindah tanam kemudian selada ditumbuhkan pada kolam dengan tetap menggunakan tray
yang terbuat dari plastik, dalam satu tray terdiri dari 21 tanaman selada yang siap dipanen.
Hasil produksi selada yaitu 500 tanaman per meter persegi.
Sistem Hidroponik di Indonesia

Budidaya selada dengan sistem hidroponik di Indonesia sendiri masih menggunakan


sistem hidroponik NFT dan Flow Wick umum dan masih minimnya inovasi dalam budidaya
hidroponik, jika dibandingkan dengan inovasi hidroponik yang dilakukan Jepang dan
Amerika, kita masih kalah inovasi teknologi dengan negara tersebut. Sistem hidroponik
dengan sistem DFT yang menggunakan teknologi yang lebih modern dengan memanipulasi
media sehingga tanaman tumbuh dengan optimum sehingga hasil produksi selada dari negara
tersebut pun lebih potensial dari produksi dalam negeri.
Hydroponic NFT (Nutrient Film Technique) merupakan model budidaya dengan
meletakkan akar tanaman pada lapisan air yang dangkal. Air tersebut tersikulasi dan
mengandung nutrisi sesuai kebutuhan tanaman. Perakaran dapat berkembang didalam larutan
nutrisi, karena disekitar perakaran terdapat selapis larutan nutrisi maka sistem dikenal dengan
nama NFT. Kelebihan air akan mengurangi jumlah oksigen, oleh sebab itu lapisan nutrisi
dalam system NFT dibuat maksimal tinggi larutan 3 mm, sehingga kebutuhan air (nutrisi) dan
oksigen dapat terpenuhi.
Ada juga di Indonesia menggunakan sistem yang mudah diaplikasikan masyarakat
yaitu bertanam hidroponik dengan sistem wick. Sistem ini menggunakan sumbu yang
digunakan bisa dari sumbu kompor, kapas atau kain bekas. Akar tanaman tidak dicelupkan
langsung ke dalam air, melainkan, mereka tumbuh dalam beberapa bahan penahan air seperti
rockwool atau sabut kelapa. Cara bertanam hidroponik sistem sumbu adalah pasif, tidak ada
energi atau listrik yang digunakan untuk memberikan solusi nutrisi hidroponik pada
tanaman. Ujung sumbu ditempatkan dalam reservoir yang berisi larutan nutrisi. Ujung lain
dari sumbu ditempatkan dalam media tanam, lebih dekat ke akar tanaman, untuk lebih
jelasnya silahkan lihat gambar. Karena tanaman membutuhkan lebih banyak air dan nutrisi,
maka disusun sumbu dan ke penahan air media tanam oleh tindakan kapiler. Dengan
demikian tanaman mengambil larutan nutrisi dari ujung-ujung sumbu dan media tanam yang
terlewati oleh sumbu menjadi lembab. Pada Hidroponik, ada kebutuhan besar untuk aerasi
yang baik. Dalam sistem sumbu hidroponik udara tersedot oleh akar tanaman bersama
dengan larutan nutrisi. Sebuah media tumbuh yang memadai juga membantu untuk
memastikan bahwa tanaman menerima cukup udara.
Dengan sistem hidroponik sumbu, sebagai reservoir akan habis, dapat diisi lagi dengan
manual. Hal ini tidak perlu menggunakan pompa seperti yang dilakukan dalam sistem
hidroponik lainya. dan untuk tempat media tanam anda bisa menggunakan ember atau botol
bekas yang sudah tidak terpakai yang menjadikan nilai lebih dari bertanam hidroponik. Cara

bertanam hidroponik sistem wick atau sumbu ini sangat mudah diterapkan terutama untuk
tanaman hidroponik sayur seperti kangkung, sawi, seledri, pakcoy dan lain-lain.

BAB 4. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil sebagai berikut:
1. Sistem penanaman selada hidroponik di Jepang disebut hidroponik Grandpa Dome, yaitu
seluruh sistem berjalan melingkar secara mekanis yang berporos pada satu titik di tengah.
Benih sayuran ditanam berurutan dari tengah melingkar sesuai alur yang telah ditentukan.
Seluruh lingkaran berputar secara otomatis sehingga mendorong sayuran yang sudah siap
panen bergerak ke arah baris terluar.
2. Sitem hidroponik yang digunakan di Jepang yaitu hidroponik pencelupan berputar yaitu
selada dapat berputar otomatis (sistem rotary) dari posisi awal terapung diatas air
kemudian secara bergantian tercelup di dalam air dan berputar kembali ke atas permukaan
air, dengan pencelupan maka penyerapan nutrisi akan efisien karena tanaman ketika
tercelup di dalam air maka lebih banyak organ yang menyerap nutrisi yaitu daun dan akar.
3. Budidaya selada yang dilakukan di Amerika dengan model Deep Floating System, yaitu
selada ditumbuhkan pada kolam (wadah penampungan air) dengan menggunakan tray
yang terbuat dari plastik, dalam satu tray terdiri dari 21 tanaman selada yang siap
dipanen. Hasil produksi selada yaitu 500 tanaman per meter persegi.
4. Budidaya selada dengan sistem hidroponik di Indonesia umumnya menggunakan sistem
hidroponik NFT dan Flow Wick serta masih minimnya inovasi teknologi yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.plantamor.com/index.php?plant=75 , (diakses tanggal 16 Mei 2016)


http://tabloidsahabatpetani.com/grandpa-dome-hidropnik-masa-depan/
tanggal 14 Mei 2016 )

(diakses

https://www.youtube.com/watch?v=F_WuJ9P1u-k (diakses tanggal 14 Mei 2016 )


https://wibowo19.wordpress.com/2009/10/28/hidroponik/.(diakses tanggal 16 Mei
2016)
https://www.youtube.com/watch?v=7bJrjClnnSI, Pertanian Modern Jepang (Selada
Hidroponik), (diakses tanggal 15 Mei 2016)
http://marktambunan.blogspot.co.id/2011/11/laporan-hidroponik.html (diakses tanggal
16 Mei 2016)
http://rambe-comunity.blogspot.co.id/2012/03/proposal-selada.html. (diakses tanggal
16 Mei 2016)
http://gandaa.blogspot.co.id/2013/04/hidroponik-nft.html\ (diakses tanggal 16 Mei
2016)
http://hidroponiq.com/2014/08/grandpa-dome-pertanian-hidroponik-masa-depan/
(diakses tanggal 14 Mei 2016 )