Anda di halaman 1dari 11

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Evaporator Evaporator juga disebut: Boiler, freezing unit, low side, cooling unit atau nama lainnya yang menggambarkan fungsinya atau lokasinya. Fungsi dari evaporator adalah untuk menyerap panas dari udara atau benda di dalam ruangan yang didinginkan. Kemudian membuang kalor tersebut melalui kondensor di ruang yang tidak didinginkan. Kompresor yang sedang bekerja menghisap refrigeran gas dari evaporator, sehingga tekanan di dalam evaporator menjadi rendah. Evaporator fungsinya kebalikan dari kondensor. Tidak untuk membuang panas ke udara di sekitarnya, tetapi untuk mengambil panas dari udara di dekatnya. Kondensor ditempatkan di luar ruangan yang sedang didinginkan, sedangkan evaporator ditempatkan di dalam ruangan yang sedang didinginkan. Kondensor tempatnya diantara kompresor dan alat ekspansi, jadi pada sisi tekanan tinggi dari sistem. Evaporator tempatnya diantara alat ekspansi dan kompresor, jadi pada sisi tekanan rendah dari sistem. Evaporator dibuat dari bermacam-macam logam, tergantung dari refrigeran yang dipakai dan pemakaian dari evaporator sendiri. Logam yang banyak dipakai: besi, baja, tembaga, kuningan dan aluminium. Syarat-syarat yang harus dimiliki sebuah evaporator yaitu: 1. Efektif dalam penguapan refrigerant dengan penurunan tekanan yang sangat kecil 2. Efektif dalam penyerapan panas dari media yang didinginkan B. Jenis-Jenis Evaporator Evaporator dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu berdasarkan

konstruksinya, metode pemasokan refrigerannya, sirkulasi udaranya, fluida yang didinginkan, dan sistem kontak refrigerannya. 1. Jenis Evaporator Berdasarkan Konstruksinya a. Bare Tube Evaporator Evaporator jenis bare tube pada gambar di bawah ini, terbuat dari pipa baja atau pipa tembaga. Penggunaan pipa baja biasanya

untuk evaporator berkapasitas besar yang menggunakan refrigerant ammonia. Pipa tembaga biasa digunakan untuk evaporator berkapasitas rendah dengan refrigeran selain ammonia.

b. Finned Tube Evaporator Evaporator jenis finned tube pada gambar di bawah ini adalah evaporator bare tube tetapi dilengkapi dengan sirip-sirip yang terbuat dari plat tipis alumunium yang dipasang di sepanjang pipa untuk menambah luas permukaan perpindahan panas. Sirip-sirip alumunium ini berfungsi sebagai permukaan transfer panas sekunder. Jarak antar sirip disesuaikan dengan kapasitas evaporator, biasanya berkisar antara 40 sampai 500 buah sirip per meter. Evaporator untuk keperluan suhu rendah, jarak siripnya berkisar 80 sampai 200 sirip per meter. Untuk keperluan suhu tinggi, seperti room AC, jarak fin berkisar 1,8 mm.

c. Plate Surface Evaporator Evaporator permukaan plat atau plate surface pada gambar di bawah ini, dirancang dengan berbagai jenis. Beberapa diantaranya dibuat dengan menggunakan dua plat tipis yang dipres dan dilas sedemikian sehingga membentuk alur untuk mengalirkan refrigeran. Cara lainnya, menggunakan pipa yang dipasang diantara dua plat tipis kemudian dipress dan dilas.

2. Jenis Evaporator Berdasarkan Metode Pemasokan Refrigerannya a. Dry Expansion Evaporator Pada jenis expansi kering ditunjukkan oleh gambar di bawah ini, cairan refrigerant yang diexpansikan melalui katup expansi, pada waktu masuk ke dalam evaporator sudah dalam keadaan campuran cair dan uap, sehingga keluar dari evaporator dalam keadaan uap kering. Oleh sebagian besar dari evaporator terisi oleh uap refrigerant, maka perpindahan kalor yang terjadi tidak begitu besar, jika dibandingkan dengan keadaan dimana evaporator terisi oleh refrigerant cair. Akan tetapi, evaporator jenis expansi kering tidak memerlukan refrigerant dalam jumlah yang besar. Disamping itu, jumlah minyak pelumas yang tertinggal di dalam evaporator sangat kecil.

b. Flooded Evaporator Pada evaporator tipe banjir ditunjukkan oleh gambar di bawah ini, gelembung refrigerant yang terjadi karena pemanasan akan naik kemudian pecah pada cair atau terlepas dari permukaannya. Sebagian refrigeran kemudian masuk ke dalam akumulator yang memisahkan uap dari cairan maka refrigerant yang ada dalam bentuk uap sajalah yang masuk ke dalam kompresor. Bagian refrigerant cair yang dipisahkan di dalam akumulator akan masuk kembali ke dalam evaporator, bersamasama dengan refrigerant (cair) yang berasal dari kondensor. Jadi tabung

evaporator terisi oleh cairan refrigeran. Cairan refrigeran menyerap kalor dari fluida yang hendak digunakan (air larutan garam, dsb), yang mengalir di dalam pipa uap refrigeran yang terjadi dikumpulkan di bagian atas dari evaporator sebelum masuk ke kompresor.

3. Jenis Evaporator Berdasarkan Sirkulasi Udaranya a. Natural Convection Evaporator Natural convection evaporator adalah evaporator yang aliran udaranya mengalir secara alami tanpa adanya dorongan atau paksaan dari kipas atau blower. Pada evaporator jenis ini udara yang telah didinginkan akan jatuh ke bawah karena massa jenisnya yang lebih berat dari udara yang lebih panas.

b. Forced Convection Evaporator Pada Forced convection evaporator ditunjukkan oleh gambar di bawah ini, udara yang mengalir melalui evaporator dihembuskan secara paksa menggunakan kipas atau blower. Sehingga sirkulasi udara

berlangsung secara cepat dan lebih efektif. Pada beberapa jenis sistem refrijerasi dan tata udara, kecepatan aliran udara dapat diatur dengan mengatur hembusan dari kipas atau blower tersebut.

4. Jenis Evaporator Berdasarkan Fluida yang Didinginkan a. Air Cooling Evaporator Evaporator jenis air cooling, adalah evaporator yang

mendinginkan produk dengan udara dingin yang telah melawati evaporator tersebut, udara yang telah didinginkan didistribusikan untuk mendinginkan benda atau udara yang akan dikondisikan, penggunaan evaporator jenis ini biasanya seperti AC split, Cold storage room dan lemari es. b. Liquid Chilling Evaporator Liquid chilling evaporator mendinginkan fluida cair biasanya berupa air atau larutan ari dengan garam. Air yang telah didinginkan nantinya akan didistribusikan pada wadah yang dinamakan AHU (khusus untuk AC) untuk mendinginkan ruangan, atau didistribusikan ke dalam pipa ganda yang memiliki dua lubang untuk mendinginkan produk cair seperti susu. Penggunaan liquid chilling evaporator biasanya pada AC central, pabrik susu dan pabrik es komersial. Liquid chilling evaporator ada beberapa jenis yaitu: 1) Double Pipe Cooler (Tube In Tube Cooler) Tube in tube cooler seperti pada gambar di bawah ini

adalah evaporator yang pipanya terdiri dari dua lubang yang salurannya berbeda, saluran yang satu biasanya adalah untuk saluran refrigeran, sedangkan saluran yang satunya lagi

biasanya untuk fluida yang akan didinginkan, biasanya air. Selain

itu, pada tube in tube cooler saluran pertama biasanya untuk aliran air dingin dan saluran yang satunya lagi untuk produk yang akan didinginkan seperti susu. Aliran kedua fluida yang mengalir biasanya berlawanan arah supaya perpindahan kalor menjadi lebih efektif.

2) Baudelot Cooler (Falling Film Surface) Pada baudelot cooler yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini, air diguyurkan melalui pipa-pipa evaporator. Sehingga, pada lapisan pipa tersebut membentuk lapisa es yang tipis, kemudian air yang jatuh ditampung pada panampungan air dan selanjutnya didistribusikan untuk mendinginkan benda atau ruangan.

3) Shell And Coil Evaporator Shell and coil evaporator pada gambar di bawah ini, terbuat dari sebuah tabung yang besar. Pada bagian dalam tabung tersebut terdapat pipa yang berbentuk seperti lilitan atau coil. Pada coil

tersebut dialirkan refrigeran, sedangkan pada bagian tabung/shell dialirkan air.

4) Shell And Tube Evaporator Shell and tube evaporator yang pada gambar di bawah ini, terdiri dari sebuah tabung besar yang di dalamnya dipasang pipapipa. Pada pipa-pipa tersebut dialirkan air yang akan didinginkan, selanjutnya air tersebut digunakan untuk mendinginkan ruangan atau benda. Penggunaan shell and tube evaporator biasanya pada chiller.

5. Jenis Evaporator Berdasarkan Sistem Kontak Refrigerannya a. Direct System Direct system adalah jenis evaporator yang proses

pendinginannya langsung mendinginkan produk atau ruangan yang akan dikondisikan, refrigeran yang menguap pada evaporator langsung mengambil kalor dari produk atau ruangan yang akan dikondisikan. b. Indirect System Pada indirect system, uap refrigeran yang menguap mengambil kalor dari fluida yang didinginkan, fluida tersebut biasanya disebut dengan secondary refrigerant. Refrigeran sekunder tersebut nantinya

akan mendinginkan ruangan atau produk yang akan dikondisikan. Sistem yang biasanya menggunakan indirect system adalah water chiller dan pabrik es komersial. C. Metode Operasi Evaporator 1. Single-effect evaporators

Diagram sederhana dari single effect evaporators dijelaskan sebagai berikut : Umpan masuk pada TF Uap jenuh pada TS memasuki bagian heat-exchange. Uap kental meninggalkan sebagai kondensat atau tetesan. Larutan dalam evaporator diasumsikan menjadi tercampur. Oleh karena itu, produk terkonsentrasi dan larutan dalam evaporator memiliki komposisi yang sama. Suhu T1 adalah titik didih larutan. Suhu uap juga T1, karena berada dalam kesetimbangan dengan larutan mendidih. Tekanan adalah P1, yang merupakan tekanan uap larutan pada T1. Jika uap diasumsikan menjadi encer dan seperti air, maka 1 kg dari kondensasi uap akan menguap sekitar 1 kg uap (jika masuk umpan memiliki TF yang dekat titik didih) Konsep koefisien perpindahan panas keseluruhan yang digunakan dalam perhitungan laju perpindahan panas dalam evaporator Persamaan umum dapat ditulis :

Dimana : q adalah laju perpindahan panas dalam W (btu / h), U adalah keseluruhan koefisien perpindahan panas dalam W/m2. K (btu/h ft oF), A adalah luas perpindahan panas dalam m2 (ft2), TS adalah suhu uap kondensasi dalam K (F), T1 adalah titik didih cairan dalam K (F). Single Effect Evaporators sering digunakan bila kapasitas operasi relatif kecil dan atau biaya uap relatif murah dibandingkan dengan biaya evaporator. Namun, untuk operasi berkapasitas besar, menggunakan lebih dari satu efek ternyata akan mengurangi biaya uap. 2. Secara keseluruhan Koefisien Perpindahan Panas dalam Evaporator Keseluruhan koefisien perpindahan panas U dalam evaporator terdiri dari: a. koefisiensisi Uap kondensasi, yang memiliki nilai sekitar 5700 W/m2.K (1000 btu / h ft2 F.); koefisien sisi Uap kondensasi luar tabung dapat diperkirakan dengan menggunakan Pers. (4,8-20) melalui (4,8-26). b. Dinding logam, yang memiliki konduktivitas panas yang tinggi dan biasanya resistensi diabaikan; c. Hambatan dari skala di sisi cair, dan koefisien film cairan, yang biasanya dalam tabung.

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Refrigerasi adalah metode pengkondisian temperatur ruangan agar tetap berada di bawah temperatur lingkungan. Evaporator juga disebut: Boiler, freezing unit, low side, cooling unit atau nama lainnya yang menggambarkan fungsinya atau lokasinya. Fungsi dari evaporator adalah untuk menyerap panas dari udara atau benda di dalam ruangan yang didinginkan. Evaporator fungsinya kebalikan dari kondensor. Tidak untuk membuang panas ke udara di sekitarnya, tetapi untuk mengambil panas dari udara di dekatnya. Evaporator dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu berdasarkan konstruksinya, metode pemasokan refrigerannya, sirkulasi udaranya, fluida yang didinginkan, dan sistem kontak refrigerannya.

DAFTAR PUSTAKA Prawiro, Bambang. (2002). Teknik Pendingin. Surakarta: UNS Press. Taqwali Berman, Ega. (2013). Modul PLPG Teknik Pendingin. Diperoleh 24 Desember 2013, dari http://sergu.unimed.ac.id/konten/download/2013 download/modulplpg2013/22_Modul%20Teknik%20Pendingin%202013. pdf http://eprints.undip.ac.id/34060/6/1919_CHAPTER_III.pdf https://www.google.com/search?q=rumus+perhitungan+evaporator&oq=ru mus+perhitungan+evaporator&aqs=chrome..69i57.12145j0j4&sourceid=c hrome&espv=210&es_sm=122&ie=UTF8#es_sm=122&espv=210&q=rumus+perhitungan+evaporator&start=10