Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

Mungkin sampai saat ini belum bayak orang yang mengenal siapa Julia Fransiska Makatey sebelum kasus dokter ayu ini bergulir, Julia Fransiska Makatey yang biasa dipanggil siska merupakan korban meninggal malpraktek yang melibatkan tiga orang dokter yang saat ini dijatuhi hukuman 10 bulan oleh MA. Siska adalah seorang perawat di kota Wisor Papua, meskipun menjadi perawat di Papua, siskan memutuskan melahirkan di Manado dimana kota tersebut merupakan kota tempat tinggal orang tuanya. Cerita mengenai sosok Siska ini diungkapkan oleh Jull Takaliuang yang merupakan pendamping keluarga korban dan juga sebagai Ketua Komisi Daerah Perlindungan Anak Sulawesi Utara. Almarhumah itu sosok perempuan yang patuh dan sayang orangtua. Selain itu, ia juga ulet dan pekerja keras. Untuk mencari tambahan uang buat kuliahnya dulu, ia rela mengojek. Kebetulan orangtuanya punya usaha sewaan sound system, kata Jull seperti dilansir dari Liputan6.com, Senin (25/11/2013). Selain pekerja keras, Siska juga sering membantu ayahnya memikul soundsystem dan juga biasa melakukan pekerjaan merakit kabel, dia juga terkenal sebagai perempuan yang tomboy. Di Wasior, ia dikenal memiliki hubungan yang baik dengan semua dokter disana. Tak tanggung-tanggung, bila ada yang sakit, ia sering mengantar pasien dengan motor besarnya. Maka itu tidak heran bila warga juga mengenalnya dengan baik. Bahkan sampai ia meninggal pun banyak kerabat dokter yang mengunjunginya, jelasnya. Almarhumah Siska meninggal karena adanya emboli udara yang menurut pandangan MA hal ini terjadi karena kelalaian tiga dokter yang menanganinya saat melakukan operasi caesar anak keduanya, dimana operasi ini ditangani oleh dr Ayu bersama dr Hendy Siagian SpOG dan dr Hendry Simanjuntak SpOG.

BAB II PEMBAHASAN

VERSI KELUARGA KORBAN Yulin Mahengkeng, ibu Julia Fransiska Makatey, membeberkan cerita versinya soal dugaan malpraktik dr Ayu. Ada proses pembiaran terhadap anaknya yang sudah dalam keadaan gawat dan harus segera dioperasi. Yulin kemudian menceritakan kembali kejadian yang berawal pada tanggal 9 April 2010 lalu. Saat itu anaknya, masuk ke Puskesmas di Bahu Kecamatan Malalayang jelang melahirkan. Tanda-tanda melahirkan terlihat pukul 04.00 WITA, keesokan harinya, setelah pecah air ketuban dengan pembukaan 8 hingga 9 centimeter. Tapi dokter Puskemas merujuk ke RS Prof dr Kandou, Malalayang karena Fransiska mempunyai riwayat melahirkan dengan cara divakum pada anak pertamanya. "Kami tiba pukul 07.00 WITA, lalu dimasukkan ke ruangan Irdo," kata Yulin kepada detikcom, Senin (25/11/2013) malam. Karena hasil pemeriksaan terjadi penurunan pembukaan hingga 6 cm, pagi itu Fransiska lalu diarahkan ke ruang bersalin. Yulin lalu mengatakan, saat itulah seakan terjadi pembiaran terhadap anaknya, karena terkesan mengulur waktu menunggu persalinan normal. Hingga malam hari sekitar pukul 20.00 WITA, tindakan melakukan operasi baru dilakukan dr Ayu dan dua rekannya. Keluarga pun bolak-balik ruang operasi dan apotek untuk membeli obat. Dengan kondisi tidak membawa uang cukup, tawar-menawar obat dan peralatan terjadi "Bahkan saya coba menjamin kalung emas yang saya pakai, sambil menunggu uang yang masih dalam perjalanan, tapi tetap tidak dihiraukan. Operasi pun akhirnya mengalami penundaan," beber Yulin. Lanjutnya, pada pukul 22.00 WITA, uang dari adiknya pun tiba. Jumlahnya pun tidak mencukupi seperti permintaan pihak rumah sakit. Setelah bermohon berulang kali, operasi kemudian dilaksanakan. 15 menit kemudian, dokter keluar membawa bayi dan memberi kabar anaknya dalam keadaan sehat. Tapi hanya berselang 20 sampai 30 menit kemudian, dokter bawa kabar lagi kalau anaknya sudah meninggal dunia.

"Kami kecewa terjadi pembiaran selama 15 jam terhadap anak saya. Kenapa tindakan operasi baru dilakukan setelah kondisi anak saya sudah menderita dan tidak berdaya?" tandasnya. "Ini jelas ada kesalahan yang dilakukan dokter, itu makanya kami keluarga melaporkan ke polisi," tambah Yulin. Jika dicermati dari pemberitaan media masa tentang vonis kasasi MA No.365.K/Pid/2012, setidaknya ada enam hal mengapa dr. Ayu dan dua rekannya dinyatakan bersalah telah melakukan malpraktek. Pertama. Konsentrasi kita tidak hanya berkaitan dengan persoalan medis emboli semata atau memang ada proses penangan prosedural yang tidak maksimal Menarik pertimbangan MA sebelum memutuskan perkaranya. Berdasarkan kronologis, masuknya korban ke RS Dr Kandau Manado pukul 09.00 wita dan lambatnya penanganan korban pada pukul 18.00 wita merupakan salah satu pintu untuk membuka misteri kematian korban. Padahal Dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani sudah melaporkan ketuban pasien/korban sudah dipecahkan di Puskesmas dan jika ketuban sudah pecah berarti air ketuban sudah keluar semua. Dr ayu sebagai ketua residen yang bertanggung jawab saat itu tidak mengikuti seluruh tindakan medis beserta rekam medis termasuk tidak mengetahui tentang pemasangan infus yang telah dilakukan terhadap korban. Nah. Fakta inilah yang menurut MA mengakibatkan terjadinya kelalaian dari Dr. Dewa Ayu. Kedua. Setelah pukul 18.30 WITA tidak terdapat kemajuan persalinan pada korban, Dr Ayu melakukan konsul dengan konsulen jaga dan setelah mendapat anjuran, Dr Dewa Ayu mengambil tindakan untuk dilakukan Operasi Cesar (CITO SECSIO SESARIA), kemudian dr Ayu menginstruksikan kepada saksi dr. Helmi untuk membuat surat konsul ke bagian anestesi dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap dan setelah mendapat jawaban konsul dari saksi dr. Hermanus Jakobus Lalenoh, Sp.An. yang menyatakan bahwa pada prinsipnya setuju untuk dilaksanakan pembedahan dengan anestesi resiko tinggi. Oleh karena ini adalah operasi darurat maka mohon dijelaskan kepada keluarga resiko yang bisa terjadi sebelum operasi atau usai operasi.

Dr. Hendy Siagian menerima tugas dari dr Ayu untuk memberitahukan kepada keluarga pasien/ korban tetapi ternyata hal tersebut tidak dilakukan dr Henry. Dr. Hendy Siagian menyerahkan "informed consent"/ lembar persetujuan tindakan kedokteran tersebut kepada korban yang sedang dalam posisi tidur miring ke kiri dan dalam keadaan kesakitan dengan dilihat oleh dr. Ayu bahkan juga diketahui oleh Dr Helmi. Kemudian Jaksa Penuntut Umum berhasil memaparkan fakta ternyata tanda tangan yang tertera di dalam lembar persetujuan tersebut adalah Tanda tangan Siska dalam surat persetujuan tersebut berbeda dengan tanda tangan korban yang berada di dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Askes kemudian setelah dilakukan pemeriksaan oleh Laboratorium Forensik Cabang Makassar dan berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratoris Kriminalistik pada tanggal 09 Juni 2010 NO.LAB. : 509/DTF/2011, yang dilakukan oleh masing-masing lelaki Drs. Samir S.St. Mk., lelaki Ardhani Adhis S. Amd dan lelaki Marendra Yudi L. Dengan demikian maka dokumen bukti adalah tanda tangan karangan/ "Spurious Signature". Ini adalah fakta kedua yang dilakukan sehingga, adanya tanda tangan karangan, membuktikan dokter tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya Ketiga. Selanjutnya korban dibawa ke kamar operasi pada waktu kurang lebih pukul 20.15 WITA dalam keadaan sudah terpasang infus dan pada pukul 20.55 WITA dr Ayu sebagai operator mulai melaksanakan operasi terhadap korban dengan dibantu oleh dr Hendry Simanjuntak sebagai asisten operator I (satu) dan dr. Hendy Siagian sebagai asisten operator II (dua). Bahwa selama pelaksanaan operasi kondisi nadi korban 160 (seratus enam puluh) x per menit dan saat sayatan pertama mengeluarkan darah hitam sampai dengan selesai pelaksanaan operasi, kemudian pada pukul 22.00 WITA setelah operasi selesai dilaksanakan kondisi nadi korban 180 (seratus delapan puluh) x per menit dan setelah selesai operasi baru dilakukan pemeriksaan EKG/ periksa jantung oleh bagian penyakit dalam. Berdasarkan fakta kemudian 30 menit sebelum pelaksanaan operasi sudah terdapat 35 cc udara di dalam tubuh korban. Kemudian berdasarkan hasil Visum et Repertum disebutkan bahwa udara yang ditemukan pada bilik kanan jantung korban, masuk melalui pembuluh darah balik yang terbuka pada saat korban masih hidup.

Pembuluh darah balik yang terbuka pada korban terjadi pada pemberian cairan obatobatan atau infus, dan dapat terjadi akibat komplikasi dari persalinan itu sendiri. Sebab kematian si korban adalah akibat masuknya udara ke dalam bilik kanan jantung yang menghambat darah masuk ke paru-paru sehingga terjadi kegagalan fungsi paru dan selanjutnya mengakibatkan kegagalan fungsi jantung Dengan demikian, persoalan emboli merupakan kelalaian dari para dokter yang kemudian menyebabkan kematian kepada si korban. Keempat. Dengan fakta-fakta yang dipertimbangkan oleh MA, MA kemudian menyatakan terdakwa lalai untuk melakukan sesuatu tindakan atau untuk tidak melakukan sesuatu tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada situasi dan kondisi yang tertentu. Berdasarkan salinan putusan nomor 365 K/Pid/2012, dr Ayu dkk saat melakukan Cito Secsio Sesaria tidak memberitahukan resiko operasi tersebut kepada keluarga Siska. "Bahwa pada saat sebelum operasi Cito Secsio Sesaria terhadap korban dilakukan, Para Terdakwa tidak pernah menyampaikan kepada pihak keluarga korban. Tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk termasuk kematian yang dapat terjadi terhadap diri korban jika operasi Cito Secsio Sesaria tersebut dilakukan terhadap diri korban," demikian putusan majelis kasasi seperti dikutip Tribunnews, Jakarta, Rabu (27/11/2013). Kelima. Dengan fakta-fakta itulah, didalam pertimbangan MA, MA merumuskan Terdakwa telah melakukan penyimpangan kewajiban. Terdakwa telah menimbulkan kerugian dengan tindakan kedokteran yang telah dilakukan oleh terdakwa terhadap korban. Terdakwa telah menimbulkan suatu hubungan sebab akibat yang nyata yaitu terdapatnya tindakan kedokteran dari Para Terdakwa dengan suatu keadaan korban yang dikatakan darurat sejak tidak terdapat kemajuan persalinan pada pukul 18.30 WITA. Tetapi yang seharusnya sejak korban datang dengan surat rujukan dari Puskesmas dan masuk ke ruang Instalasi Rawat Darurat Obstetrik keadaan korban sudah dapat dikatakan darurat. Kemudian sejak diketahuinya ketuban dari korban yang telah pecah sejak di Puskesmas, rekam medis yang tidak dibuat sepenuhnya dalam setiap tindakan medis yang dilakukan, pemasangan infus dengan jenis obat yang tidak 5

diketahui oleh para terdakwa sampai dengan dikeluarkannya resep obat secara berulang kali hingga ditolak oleh pihak apotik. Tidak terdapatnya koordinasi yang baik di dalam tim melakukan tindakan medis, terdapatnya "25 informed consent"/ lembar persetujuan tindakan kedokteran. Tidak adanya tindakan persiapan jika korban secara tiba-tiba mengalami keadaan darurat seperti EKG/ pemeriksaan jantung baru dilakukan setelah korban selesai dioperasi dengan kondisi gawat, yang seharusnya seluruh tindakan medis dan tindakan kedokteran yang dilakukan oleh terdakwa. Keenam Terdakwa tidak memiliki kompetensi melakukan tindakan medis operasi caesar. Seperti diberitakan dimedia, ternyata sewaktu melakukan operasi tersebut, ketiga dokter masih berstatus residen atau mahasiswa yang menempuh pendidikan spesialis di salah satu perguruan tinggi di Manado. Berarti ketiga dokter yang melakukan operasi tersebut, ketiga dokter belum berstatus spesialis atau belum bergelar Sp.OG. Tindakan tersebut merupakan pelanggaran fatal, dokter tersebut belum memiliki kompetensi melakukan bedah caesar, dan hal ini dapat disebabkan dua kemungkinan, yaitu sebagai tindakan coba-coba atau latihan atau pada waktu tidak ada dokter spesialis yang siap melakukan tindakan operasi. KRONOLOGI KASUS MALPRAKTIK DR AYU 1. Tanggal 10 April 2010 Korban, Julia Fransiska Makatey (25) merupakan wanita yang sedang hamil anak keduanya. Ia masuk ke RS Dr Kandau Manado atas rujukan puskesmas. Pada waktu itu, ia didiagnosis sudah dalam tahap persalinan pembukaan dua. Namun setelah delapan jam masuk tahap persalinan, tidak ada kemajuan dan justru malah muncul tanda-tanda gawat janin, sehingga ketika itu diputuskan untuk dilakukan operasi caesar darurat. Saat itu terlihat tanda tanda gawat janin, terjadi mekonium atau bayi mengeluarkan feses saat persalinan sehingga diputuskan melakukan bedah sesar, ujarnya.

Tapi yang terjadi menurut dr Nurdadi, pada waktu sayatan pertama dimulai, pasien mengeluarkan darah yang berwarna kehitaman. Dokter menyatakan, itu adalah tanda bahwa pasien kurang oksigen. Tapi setelah itu bayi berhasil dikeluarkan, namun pasca operasi kondisi pasien semakin memburuk dan sekitar 20 menit kemudian, ia dinyatakan meninggal dunia, ungkap Nurdadi, seperti ditulis Senin (18/11/2013). 2. Tanggal 15 September 2011 Atas kasus ini, tim dokter yang terdiri atas dr Ayu, dr Hendi Siagian dan dr Hendry Simanjuntak, dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) hukuman 10 bulan penjara karena laporan malpraktik keluarga korban. Namun Pengadilan Negeri (PN) Manado menyatakan ketiga terdakwa tidak bersalah dan bebas murni. Dari hasil otopsi ditemukan bahwa sebab kematiannya adalah karena adanya emboli udara, sehingga mengganggu peredaran darah yang sebelumnya tidak diketahui oleh dokter. Emboli udara atau gelembung udara ini ada pada bilik kanan jantung pasien. Dengan bukti ini PN Manado memutuskan bebas murni, tutur dr Nurdadi. Tapi ternyata kasus ini masih bergulir karena jaksa mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung yang kemudian dikabulkan. 3. 18 September 2012 Dr. Dewa Ayu dan dua dokter lainnya yakni dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy Siagian akhirnya masuk daftar pencarian orang (DPO). 4. 11 Februari 2013 Keberatan atas keputusan tersebut, PB POGI melayangkan surat ke Mahkamah Agung dan dinyatakan akan diajukan upaya Peninjauan Kembali (PK). Dalam surat keberatan tersebut, POGI menyatakan bahwa putusan PN Manado menyebutkan ketiga terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan kalau ketiga dokter tidak bersalah melakukan tindak pidana. Sementara itu, Majelis Kehormatan dan Etika Profesi Kedokteran (MKEK) menyatakan tidak ditemukan adanya kesalahan atau kelalaian para terdakwa dalam melakukan operasi pada pasien.

5. 8 November 2013 Dr Dewa Ayu Sasiary Prawan (38), satu diantara terpidana kasus malapraktik akhirnya diputuskan bersalah oleh Mahkamah Agung dengan putusan 10 bulan penjara. Ia diciduk di tempat praktiknya di Rumah Sakit Ibu dan Anak Permata Hati, Balikpapan Kalimantan Timur (Kaltim) oleh tim dari Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Kejari Manado sekitar pukul 11.04 Wita. KRONOLOGI MENURUT YULIN MAHENGKENG, IBU JULIA FRANSISKA MAKATEY SEPERTI DILANSIR DARI DETIK Saat itu anaknya, masuk ke Puskesmas di Bahu Kecamatan Malalayang jelang melahirkan. Tanda-tanda melahirkan terlihat pukul 04.00 WITA, keesokan harinya, setelah pecah air ketuban dengan pembukaan 8 hingga 9 Centimeter. Tapi dokter Puskemas merujuk ke RS Prof dr Kandou Malalayang karena Fransiska mempunyai riwayat melahirkan dengan cara divakum pada anak pertamanya. Kami tiba pukul 07.00 WITA, lalu dimasukkan ke ruangan Irdo, kata Yulin kepada detikcom, Senin (25/11/2013) malam. Karena hasil pemeriksaan terjadi penurunan pembukaan hingga 6 cm, pagi itu Fransiska lalu diarahkan ke ruang bersalin. Yulin lalu mengatakan, saat itulah seakan terjadi pembiaran terhadap anaknya, karena terkesan mengulur waktu menunggu persalinan normal. Padahal anak saya harus dioperasi karena air ketuban sudah pecah dan kondisinya sudah lemah, terangnya. Hingga malam hari sekitar pukul 20.00 WITA, tindakan melakukan operasi baru dilakukan dr Ayu dan dua rekannya. Keluarga pun bolak-balik ruang operasi dan apotek untuk membeli obat. Dengan kondisi tidak membawa uang cukup, tawar-menawar obat dan peralatan terjadi. Bahkan saya coba menjamin kalung emas yang saya pakai, sambil menunggu uang yang masih dalam perjalanan, tapi tetap tidak dihiraukan. Operasi pun akhirnya mengalami penundaan, beber Yulin. Lanjutnya, pada pukul 22.00 WITA, uang dari adiknya pun tiba. Jumlahnya pun tidak mencukupi seperti permintaan pihak rumah sakit. Setelah bermohon berulang kali, operasi kemudian dilaksanakan. 15 menit kemudian, dokter keluar membawa bayi

dan memberi kabar anaknya dalam keadaan sehat. Tapi hanya berselang 20 sampai 30 menit kemudian, dokter bawa kabar lagi kalau anaknya sudah meninggal dunia. Kami kecewa terjadi pembiaran selama 15 jam terhadap anak saya. Kenapa tindakan operasi baru dilakukan setelah kondisi anak saya sudah menderita dan tidak berdaya? tandasnya. Ini jelas ada kesalahan yang dilakukan dokter, itu makanya kami keluarga melaporkan ke polisi, tambah Yulin. Menurutnya, kejadian itu sudah beberapa kali diceritakannya ke berbagai pihak untuk membuktikan adanya pembiaran yang dilakukan para dokter yang menangani anaknya. Makanya saya menangis saat dengar, putusan bebas Pengadilan Negeri Manado. Tapi Tuhan dengar doa kami, karena kasasi kami dan Kejaksaan diterima Mahkamah Agung dan mengabulkan tuntutan 10 bulan penjara, tutupnya.

BAB III PENUTUP

Berdasarkan kasus yang telah dikaji maka dapat disimpulkan sebagai tenaga medis yang profesional harus dibutuhkan adanya penanaman moral dan penghayatan terhadap standar operasional prosedur (SOP), kode etik profesi, dan undang-undang yang berlaku serta menjunjung tinggi kejujuran dan dan tanggung jawab sehingga dalam penerapan keprofesian dapat dijalankan dengan sebaik mungkin tanpa adanya pihak yang dirugikan. Dalam hal ini kasus dr. Ayu dan kawan-kawan terbukti jelas melakukan malpraktik dan harus diadili sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

10