Anda di halaman 1dari 14

RSNI T- 14 - 2004

Tabel 11
Panjang bagian lengkung minimum
Panjang tikungan minimum
(m)

VR (km/h)
100

170

90

155

80

135

70

120

60

105

50

85

40

70

30

55

5.8.3 Superelevasi
1. Superelevasi harus dibuat pada semua tikungan kecuali tikungan yang memiliki radius
yang lebih besar dari Rmin tanpa superelevasi. Besarnya superelevasi harus
direncanakan sesuai dengan VR.
2. Superelevasi berlaku pada jalur lalu lintas dan bahu jalan.
3. Nilai superelevasi maksimum ditetapkan 6%. Tabel 13, menunjukkan hubungan
parameter perencanaan lengkung horisontal dengan kecepatan rencana.
4. Harus diperhatikan masalah drainasi pada pencapaian kemiringan.
Pada jalan perkotaan untuk kecepatan rendah bila keadaan tidak memungkinkan,
misalnya (akses lahan, persimpangan, tanggung jawab, perbedan elevasi).
Superelevasi ditikungan boleh ditiadakan sehingga kemiringan melintang tetap normal.
5. Jika kondisi tidak memungkinkan, superelevasi dapat ditiadakan.
5.8.3.1 Jari-jari tikungan
1. Jari-jari tikungan minimum (Rmin) ditetapkan sebagai berikut:
2

R min =

VR
127 ( e + f
max

max

dengan pengertian :
Rmin adalah jari-jari tikungan minimum (m)
VR
adalah kecepatan rencana (km/h)
emax adalah superelevasi maksimum (%)
fmax adalah koefisien gesek untuk perkerasan aspal
f = 0,012 - 0,017

27 dari 46

RSNI T- 14 - 2004

2.

Tabel 12 dapat dipakai untuk menetapkan Rmin dengan ketentuan-ketentuan sebagai


berikut :
a. Untuk memenuhi kenyamanan, sebaiknya tidak digunakan Rmin. Pemilihan Rmin
atau tikungan dengan emax untuk suatu tikungan kurang memberikan kenyamanan.
Di samping itu, kecepatan kendaraan menikung bervariasi. Dengan demikian,
penggunaan Rmin hanya untuk kondisi terrain yang sulit dan keterbatasan dana,
sehingga disarankan digunakan R yang lebih besar dari pada Rmin.
b. Pada tikungan dengan R yang panjang dapat digunakan R min untuk tikungan tanpa
superelevasi.
Tabel 12
Jari-jari tikungan minimum, Rmin (m)
(emax = 6 %)
VR
(km/h)

100

90

80

70

60

50

40

30

fmax

0,12

0,13

0,14

0,14

0,15

0,16

0,17

0,17

Rmin
(m)

435

335

250

195

135

90

55

30

28 dari 46

RSNI T- 14 - 2004

Tabel 13
Hubungan parameter perencanaan lengkung horisontal dengan kecepatan rencana

VR = 30 km/ h
R
(m)
7000
5000
3000
2500
2000
1500
1400
1300
1200
1000
900
800
700
600
500
400
300
250
200
175
150
140
130
120
110
100
90
80
70
60
50
40
30
20

Lr (m)
e
2
4
(%)
Ljr
Ljr
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
RC
10
14
RC
10
14
2,3
11
17
2,6
13
20
3,0
14
22
3,3
16
24
3,5
17
25
3,6
17
26
3,8
18
27
3,9
19
28
4,1
20
30
4,2
20
30
4,5
22
32
4,7
23
34
5,0
24
36
5,4
26
39
5,8
28
42
6,0
29
43
Rmin = 30

VR = 40 km/ h
Lr (m)
e
2
4
(%)
Ljr
Ljr
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
RC
10
15
RC
10
15
2,1
11
16
2,5
13
19
3,1
16
24
3,5
18
27
3,9
20
30
4,1
21
32
4,4
23
34
4,5
23
35
4,6
24
35
4,8
25
37
5,0
26
39
5,2
27
40
5,4
28
42
5,6
29
43
5,8
30
45
6,0
31
46
Rmin = 55

VR = 50 km/ h
Lr (m)
e
2
4
(%)
Ljr
Ljr
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
RC
11
17
RC
11
17
RC
11
17
2,1
12
17
2,4
13
20
2,8
15
23
3,3
18
27
3,9
22
32
4,2
23
35
4,7
26
39
5,0
28
42
5,3
29
44
5,4
30
45
5,6
31
47
5,7
32
47
5,8
32
48
6,0
33
50
6,0
33
50
Rmin = 90

VR = 60 km/ h
Lr (m)
e
2
4
(%)
Ljr
Ljr
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
RC
12
18
RC
12
18
2,1
13
19
2,3
14
21
2,5
15
23
2,8
17
25
3,1
19
28
3,5
21
32
4,0
24
36
4,6
28
41
5,0
30
45
5,5
33
50
5,8
35
52
6,0
36
54
6,0
36
54
Rmin = 135

VR = 70 km/ h
Lr (m)
e
2
4
(%)
Ljr
Ljr
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
RC
13
20
RC
13
20
2,1
14
21
2,2
14
22
2,6
17
26
2,8
18
27
3,1
20
30
3,4
22
33
3,8
25
37
4,2
27
41
4,7
31
46
5,4
35
53
5,8
38
57
6,0
39
59
Rmin = 195

e max =
R
=
VR
=
e
=
Lr
=
NC
RC

29 dari 46

=
=

VR = 80 km/ h
Lr (m)
e
2
4
(%)
Ljr
Ljr
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
RC
14
22
2,2
16
24
2,4
17
26
2,6
18
27
2,7
19
29
3,1
22
33
3,4
24
37
3,5
26
39
4,0
29
43
4,3
31
46
4,8
35
52
5,3
38
57
5,9
42
64
6,0
43
65
Rmin = 250

VR = 90 km/ h
Lr (m)
e
2
4
(%)
Ljr
Ljr
NC
0
0
NC
0
0
NC
0
0
RC
15
23
2,1
16
24
2,7
21
31
2,8
21
32
3,0
23
34
3,2
25
37
3,6
28
41
3,9
30
45
4,2
32
48
4,6
35
53
5,0
38
57
5,4
41
62
5,9
45
66
Rmin = 335

VR = 100 km/ h
Lr (m)
e
2
4
(%)
Ljr
Ljr
NC
0
0
NC
0
0
RC
16
25
RC
16
25
2,5
20
31
3,1
25
38
3,3
27
41
3,5
29
43
3,7
30
45
4,2
34
52
4,5
37
55
4,9
40
60
5,2
43
64
5,6
46
69
5,9
48
72
Rmin = 435

Superelevasi maksimum 6 %
Jari-Jari lengkung
Asumsi kecepatan rencana
Tingkat superelevasi
Panjang minimum pencapaian superelevasi run off
(tidak termasuk panjang pencapaian superelevasi run out)
Lereng normal
Lereng luar diputar sehingga perkerasan mendapat
kemiringan melintang sebesar lereng normal

RSNI T- 14 - 2004

5.8.3.2 Lengkung peralihan


Lengkung peralihan berfungsi untuk memberikan kesempatan kepada pengemudi untuk
mengantisipasi perubahan alinyemen jalan dari bentuk lurus ( R tak hingga ) sampai bagian
lengkung jalan berjari-jari tetap R. Dengan demikian, gaya sentrifugal yang bekerja pada
kendaraan saat melintasi tikungan berubah secara berangsur-angsur, baik ketika kendaraan
mendekati tikungan maupun meninggalkan tikungan. Ketentuan lengkung peralihan adalah
sebagai berikut :
a)
b)

bentuk lengkung peralihan yang digunakan adalah bentuk Spiral (Clothoide).


panjang lengkung peralihan ( LS ) ditetapkan atas pertimbangan-pertimbangan sebagai
berikut :
1.

Waktu perjalanan melintasi lengkung peralihan perlu dibatasi untuk menghindarkan


kesan perubahan alinyemen yang mendadak, ditetapkan minimum 2 detik ( pada
kecepatan VR ). Kriteria ini dapat dihitung dengan rumus :

L =
s

VR
3,
6

dengan pengertian :

T waktu tempuh pada lengkung peralihan,


ditetapkan 2 detik.
VR kecepatan rencana (km/h)

atau digunakan Tabel 14 berikut ini :


Tabel 14
Panjang minimum lengkung peralihan, LS (m)

2.

VR
(km/h)

100

90

80

70

60

50

40

30

Ls - min

56

50

44

39

33

28

22

17

Tingkat perubahan kelandaian melintang jalan ( ) dari bentuk kelandaian normal


ke kelandaian superelevasi penuh tidak boleh melampaui
maksimum yang
ditetapkan seperti pada Tabel 15.
Tabel 15
Tingkat perubahan kelandaian melintang maksimum,

(m/m)

VR
(km/h)

100

90

80

70

60

50

40

30

(m/m)

1/227

1/213

1/200

1/182

1/167

1/150

1/143

1/133

30 dari 46

RSNI T- 14 - 2004

Panjang pencapaian perubahan kelandaian dari kelandaian normal sampai ke


kelandaian penuh superelevasi (Ls) dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
LS = W.-1. (ed + eNC)
dengan pengertian :
tingkat perubahan kelandaian melintang maksimum, (%) W
lebar satu lajur lalu lintas , (m) (tipikal 3,6 m)
eNC kemiringan melintang normal, (%)
ed tingkat superelevasi rencana, (%)
Ls panjang minimum pencapaian superelevasi, (m)
3.

Ls ditentukan yang memenuhi kedua kriteria tersebut di atas, sehingga dipilih nilai
Ls yang terpanjang.

4.

Tikungan yang memiliki R lebih besar atau sama dengan yang ditunjukkan pada
Tabel 16, tidak memerlukan lengkung peralihan.

Diagram pencapaian superelevasi dapat dilihat pada Gambar 17.


Tabel 16
Jari-jari tikungan yang tidak memerlukan lengkung peralihan

5.

VR
(km/h)

100

90

80

70

60

50

40

30

Rmin (m) tanpa


lengkung
peralihan

5000

3000

2500

2000

1500

1200

800

500

Jika lengkung peralihan digunakan, maka posisi lintasan tikungan bergeser dari bagian
jalan yang lurus ke arah sebelah dalam (lihat Gambar 15) sebesar p.

Apabila nilai p kurang dari 0,20 m, maka lengkung peralihan tidak diperlukan, sehingga tipe
tikungan menjadi FC.

31 dari 46

RSNI T- 14 - 2004

Lereng normal

Superelevasi run out

Superelevasi run off

Superelevasi penuh

Tepi luar perkerasan jalan

Sumbu jalan

Tepi dalam perkerasan jalan

Kontrol penampang
Sumbu jalan

A. Lereng normal - diagram superelevasi dengan sumbu jalan sebagai sumbu putar

Lereng normal

Superelevasi run out

Superelevasi run off

Superelevasi penuh

Tepi luar perkerasan jalan

Sumbu jalan penampang sebenarnya


Sumbu jalan penampang teoritis
Tepi dalam perkerasan jalan
Kontrol penampang
Tepi dalam perkerasan jalan

A
B.

Lereng normal - diagram superelevasi dengan tepi dalam perkerasan sebagai sumbu putar

Gambar 17 Diagram yang memperlihatkan metoda pencapaian superelevasi untuk


tikungan ke kanan
5.8.3.3 Diagram superelevasi
a)

Superelevasi dicapai secara bertahap dari kemiringan melintang normal pada bagian
jalan yang lurus sampai ke superelevasi penuh pada bagian lengkung.
b) Pada tikungan tipe SCS, pencapaian superelevasi dilakukan secara linear, diawali dari
bentuk normal pada titik TS, kemudian meningkat secara berangsur-angsur sampai
mencapai superelevasi penuh pada titik SC (lihat Gambar 18).

32 dari 46

RSNI T- 14 - 2004

c) Pada tikungan tipe FC, bila diperlukan pencapaian superelevasi dilakukan secara linear
(lihat Gambar 19), diawali dari bagian lurus sepanjang 2/3 LS dan dilanjutkan pada
bagian lingkaran penuh sepanjang 1/3 bagian panjang LS.

BAGIAN
LENGKUNG
PERALIHAN

BAGIAN LURUS

Ls

TS

BAGIAN
LENGKUNG
PERALIHAN

BAGIAN LINGKARAN

Lc

SC

SISI KIRI TIKUNGAN


e penuh

Ls

CS

BAGIAN LURUS

ST

e=0%

NORMAL

SISI KANAN TIKUNGAN

en

en

en

en

e=0%
en
e

e=0%

en
e penuh

Gambar 18

en

e penuh

Pencapaian superelevasi pada tikungan tipe SCS

BAGIAN
LURUS

BAGIAN
LURUS

BAGIAN LINGKARAN

TC

1/3 Ls

Lc

SISI KANAN TIKUNGAN

2/3 Ls

CT

penuh

e=0%

e
SISI KIRI TIKUNGAN

en

en

en
en

en

=0%
en
e penuh

en
e penuh
Ls

Ls

Gambar 19

Pencapaian superelevasi pada tikungan tipe FC


33 dari 46

en
e=0%

NORMAL

RSNI T- 14 - 2004

Keterangan :
PI
Titik perpotongan sumbu jalan
TS Titik tangen spiral
Sle Titik permulaan pencapaian superelevasi
SC Titik peralihan spiral ke lengkungan lingkaran Ls
Panjang spiral, TS ke SC (m)
n
Superelevasi manual (%)
e
Superelevasi
Gambar 20

Metoda pencapaian superelevasi pada tikungan tipe SCS dengan


bentuk tiga dimensi
34 dari 46

RSNI T- 14 - 2004

5.8.4 Pelebaran jalur lalu lintas di tikungan


Pelebaran pada tikungan dimaksudkan untuk mempertahankan kondisi pelayanan
operasional lalu lintas di bagian tikungan, sehingga sama dengan pelayanan operasional di
bagian jalan yang lurus.
Pelebaran (lihat Tabel 17 dan 18), yang nilainya lebih kecil dari 0,60 m dapat diabaikan.
Untuk jalan 2-jalur-6-lajur-terbagi, nilai Wc harus dikali 1,5. Untuk jalan 2-jalur-8-lajur terbagi,
nilai Wc harus dikali 2.
W = WC - Wn
dengan pengertian :
W
WC
Wn

Pelebaran jalan pada tikungan (m)


Lebar jalan pada tikungan (m)
Lebar jalan pada jalan lurus (m)

35 dari 46

RSNI T- 14 - 2004

Tabel 17
Nilai Perhitungan & Perencanaan untuk Pelebaran Jalan pada Jari-jari Jalan
(2 jalur 2 lajur, 1 lajur atau 2 lajur) untuk kendaraan rencana truk as tunggal (SU)
Jari-jari
Lingkaran
(m)
3,000
2,500
2,000
1,500
1,000
900
800
700
600
500
400
300
250
200
150
140
130
120
110
100
90
80
70

50
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.2
0.3
0.3
0.3
0.4
0.4
0.5
0.6
0.7

Lebar Jalan = 7,2 m


Kec. Rencana (km/h)
60
70
80
90
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.3
0.4
0.4
0.4
0.5
0.5

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.2
0.4

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.1
0.2
0.4

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.2
0.2

100

50

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.2

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.0
0.1
0.2
0.2
0.2
0.3
0.5
0.6
0.6
0.6
0.7
0.7
0.8
0.9
1.0

Lebar Jalan = 6,6 m


Kec. Rencana (km/h)
60
70
80
90
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.1
0.1
0.1
0.2
0.3
0.3
0.4
0.6
0.7
0.7
0.7
0.8
0.8

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.1
0.1
0.1
0.2
0.3
0.3
0.4
0.5
0.7

0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.1
0.1
0.2
0.1
0.2
0.3
0.4
0.4
0.5
0.7

36 dari 46

0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.1
0.2
0.2
0.2
0.3
0.4
0.5
0.5

100
0.0
0.0
0.1
0.0
0.1
0.2
0.2
0.3
0.2
0.3
0.4
0.5

Lebar Jalan = 6,0 m


Kec. Rencana (km/h)
50
60 70 80 90 100
0.2
0.2
0.3
0.2
0.3
0.3
0.3
0.4
0.3
0.4
0.5
0.5
0.5
0.6
0.8
0.9
0.9
0.9
1.0
1.0
1.1
1.2
1.3

0.2
0.3
0.3
0.2
0.3
0.3
0.4
0.4
0.4
0.4
0.5
0.6
0.6
0.7
0.9
1.0
1.0
1.0
1.1
1.1

0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.4
0.4
0.4
0.4
0.5
0.6
0.6
0.7
0.8
1.0

0.3
0.3
0.3
0.3
0.4
0.4
0.5
0.5
0.5
0.6
0.8
0.8
0.9
1.1

0.3
0.3
0.3
0.3
0.4
0.4
0.5
0.5
0.5
0.6
0.7
0.8
0.8

0.3
0.3
0.4
0.3
0.4
0.5
0.5
0.6
0.5
0.6
0.7
0.8

RSNI T- 14 - 2004

Tabel 18
Nilai Perhitungan dan Perencanaan untuk Pelebaran Jalan pada Jari-jari Jalan
(2 jalur 2 lajur, 1 lajur atau 2 lajur) untuk kendaraan rencana truk semi trailer kombinasi sedang (WB-12)
Jari-jari
Lingkaran
(m)
3,000
2,500
2,000
1,500
1,000
900
800
700
600
500
400
300
250
200
150
140
130
120
110
100
90
80
70

50
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.2
0.4
0.5
0.6
0.6
0.7
0.7
0.9
1.0
1.2

Lebar Jalan = 7,2 m


Kec. Rencana (km/h)
60
70
80
90
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.2
0.3
0.5
0.6
0.7
0.7
0.8
0.8

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.1
0.3
0.4
0.6

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.6

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.2
0.3
0.4

100

50

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.2
0.3

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.1
0.2
0.3
0.3
0.4
0.5
0.7
0.8
0.9
0.9
1.0
1.0
1.2
1.3
1.5

Lebar Jalan = 6,6 m


Kec. Rencana (km/h)
60
70
80
90
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.1
0.1
0.2
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.8
0.9
1.0
1.0
1.1
1.1

0.0
0.0
0.0
0.1
0.0
0.1
0.1
0.1
0.2
0.3
0.4
0.4
0.6
0.7
0.9

0.0
0.0
0.0
0.1
0.1
0.1
0.1
0.2
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.9

37 dari 46

0.0
0.0
0.0
0.1
0.1
0.1
0.2
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7

100

50

0.0
0.0
0.1
0.1
0.1
0.2
0.2
0.3
0.3
0.4
0.5
0.6

0.2
0.2
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.4
0.4
0.5
0.6
0.6
0.7
0.8
1.0
1.1
1.2
1.2
1.3
1.3
1.5
1.6
1.8

Lebar Jalan = 6,0 m


Kec. Rencana (km/h)
60
70
80
90
0.2
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.4
0.4
0.5
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1.1
1.2
1.3
1.3
1.4
1.4

0.3
0.3
0.3
0.4
0.3
0.4
0.4
0.4
0.5
0.6
0.7
0.7
0.9
1.0
1.2

0.3
0.3
0.3
0.4
0.4
0.4
0.5
0.5
0.6
0.7
0.9
0.9
1.1
1.3

0.3
0.3
0.3
0.4
0.4
0.4
0.5
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1.0

100
0.3
0.3
0.4
0.4
0.4
0.5
0.5
0.6
0.6
0.7
0.8
0.9

RSNI T- 14 - 2004

5.8.5 Tikungan majemuk


1) Ada dua macam tikungan majemuk :
a)

tikungan majemuk searah; yaitu dua atau lebih tikungan dengan arah belokan yang
sama tetapi dengan jari-jari yang berbeda.
b) tikungan majemuk balik-arah; yaitu dua atau lebih tikungan dengan arah belokan
yang berbeda.
2) Penggunaan tikungan majemuk (Gambar 21 - 24), dipertimbangkan berdasarkan
perbandingan R1 dan R2, dimana diasumsikan bahwa R1 adalah jari-jari tikungan yang
lebih besar. Ketentuan untuk tikungan majemuk adalah sebagai berikut :
a) Setiap tikungan majemuk harus disisipi bagian lurus yang memiliki kemiringan normal
dengan ketentuan sebagai berikut :
- Pada tikungan majemuk searah, panjang bagian lurus paling tidak
(lihat Gambar 22).
- Pada tikungan majemuk balik-arah panjang bagian lurus paling tidak
(lihat Gambar 24).
b)

Jika

Jika

20 m
30 m

R2 2
, maka tikungan majemuk searah harus dihindarkan (Gambar 21), dan
R 1> 3
R
2

<
1

2
, maka tikungan majemuk balik arah harus disisipi bagian lurus atau
3
bagian spiral /clothoide (lihat Gambar 24).

R1>R2
R1

Gambar 21

Tikungan majemuk searah yang harus dihindarkan

38 dari 46

RSNI T- 14 - 2004

R1>R2
R1

> 20m

Gambar 22

Tikungan majemuk searah dengan sisipan bagian lurus minimum


sepanjang 20 meter

R1>R2
R1

R2

Gambar 23

Tikungan majemuk balik arah yang harus dihindarkan

39 dari 46

RSNI T- 14 - 2004

R1>R2
R1

BAGIAN LURUS
YANG DISISIPKAN

> 30 m

R2

Gambar 24

5.9

Tikungan majemuk balik arah dengan sisipan bagian lurus minimum


sepanjang 30 meter

Alinyemen vertikal

5.9.1 Umum
a) Alinyemen vertikal terdiri atas bagian lurus dan bagian lengkung ;
b) Ditinjau dari titik awal perencanaan, bagian lurus dapat berupa landai positif (tanjakan),
atau landai negatif (turunan), atau landai nol (datar). Bagian lengkung vertikal dapat
berupa lengkung cekung atau lengkung cembung;
a) Kemungkinan pelaksanaan pembangunan secara bertahap harus dipertimbangkan,
misalnya peningkatan perkerasan, penambahan lajur, dan dapat dilaksanakan dengan
biaya yang efisien. Sekalipun demikian, perubahan alinyemen vertikal dimasa yang akan
datang sebaiknya dihindarkan.
5.9.2 Kelandaian maksimum
Pembatasan kelandaian (maksimum) dimaksudkan untuk memungkinkan kendaraan
bergerak terus tanpa harus kehilangan kecepatan yang berarti.
Kelandaian maksimum yang sesuai dengan VR, ditetapkan sesuai Tabel 19.

40 dari 46